Anda di halaman 1dari 4

Nama : Ianci Putra Sitohang

Nim : 1183151017

Kelas : BK Reguler C 2018

Mata Kuliah : Model-Model Konseling

Ujian Tengah Semester!

Buatlah 1 kasus dengan upaya penyelesaian menggunakan 2 model konseling!

Kasus Bullying Siswi SMP Di Purworejo Jawa tengah


Video seorang siswi dipukul dan ditendang tiga siswa beredar di media sosial sejak
beberapa hari lalu. Peristiwa terjadi di salah satu SMP di Purworejo, Jawa Tengah.
Dalam video terlihat seorang siswa tengah duduk di kursi di kelas. Dia berada di
pojok dan terdengar menangis ketika tiga siswa memukuli dan menendangnya
berkali-kali.
Sejauh ini, tiga siswa yang terlihat memukul siswa dalam video sudah ditangkap oleh
Polres Purworejo. Kepolisian juga telah memeriksa sejumlah saksi dan juga
mengundang orang tua korban.

 Upaya penyelesaian kasus

A. Model Konseling Behavioristik

Selama ini beberapa upaya telah dilakukan oleh sekolah bagi pelaku pelaku
bullying, yaitu pemberian hukuman sanksi dan panggilan orang tua ke sekolah untuk
bekerja sama memberikan penanganan. Sejauh ini hasil yang dicapai belum
maksimal, karena perubahan sikap dan perilaku pelaku bullying hanya sementara.

Alternatif solusi untuk mengatasi masalah kasus bullying salah satunya


dengan konseling behavioral. Konseling behavioral adalah suatu proses membantu
orang untuk belajar memecahkan masalah interpersonal, emosional dan kepentingan
tertentu”. Penekanan istilah belajar dalam pengertian ini ialah atas pertimbangan
bahwa konselor membantu orang (konseli) belajar atau mengubah perilaku. Konselor
berperan membantu dalam proses belajar menciptakan konvisi yang sedemikian rupa
sehingga klien dapat mengubah perilakunya serta memecahkan masalahnya.

Penggunaan konseling behavioral sebagai alternatif pemecahan masalah yaitu


mengingat konseling behavioral memiliki konsep-konsep dasar sebagai berikut : a)
Manusia adalah makhluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor
dari luar. Manusia memulai kehidupan dengan memberikan reaksi terhadap
lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian
membentuk kepribadian. b) Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan
macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya; c) Tingkah laku
dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukum-hukum
belajar (pembiasaan klasik, pembiasaan operan dan peniruan); d) Tingkah laku
tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidakpuasan yang
diperolehnya; e) Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan
merupakan hasil belajar, sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan
mengkreasi kondisi- kondisi pembentuk tingkah laku. Dengan melihat keunggulan
konseling behavioral tersebut diatas, penulis berharap dapat meminimalisir pelaku
bullying di institusi sekolah, sehingga sekolah dapat menjadi tempat belajar yang
aman, menyenangkan, merangsang keinginan untuk belajar, bersosialisasi dan
mengembangkan semua potensi siswa baik akademik, sosial maupun emosional.

Maka, upaya penyelasaian kasus bullying dengan model konseling


behavioristik yaitu konselor hendaknya menjadi model dan acuan dalam
meningkatkan peran, dalam pelaksanaan strategi untuk mengatasi perilaku bullying,
serta meningkatkan pengawasan terhadap siswa dan kerja sama dengan orangtua
siswa untuk melakukan control terhadap siswanya. Contoh: Guru melakukan
pengawasan didalam lingkup sekolah agar tidak terjadi perilaku bullying, namun juga
melakukan pengawasan melalui media social ketika siswa berada diluar sekolah agar
tidak terjadi tindakan bullying ataupun cyberbullying. Konselor juga harus
menunjukkan perilaku yang baik di sekolah ataupun didalam media social.

B. Model Konseling Terapeutik

Dari contoh kasus diatas seorang siswi tersebut pasti akan mengalami
gangguan pada mentalnya. Konselor mempunyai cara menyelesaikan kasus yaitu
dengan Komunikasi Terapeutik.

Menurut Carl Rogers Komunikasi Terapeutik adalah komunikasi yang


mendorong proses penyembuhan pada diri klien atau proses yang digunakan oleh para
perawat dengan memakai pendekatan yang direncanakan secara sadar dan
kegiatannya terpusat pada diri pasien.

Di dalam Komunikasi Terapeutik konselor sangat berperan untuk membantu


memotivasi klien agar klien tidak down, misalnya konselor harus melakukan
pendekatan kepada klien dengan mendengarkan, memberi tanggapan, dan
menawarkan informasi kepada klien dengan tujuan untuk menumbuhkan sikap yang
optimis dan kemajuan terhadap diri kllien.

Dalam pelaksanaannya Komunikasi Terapeutik terdiri dari 4 tahapan yaitu:

 Persiapan (pra interaksi) : Konselor menggali perasaan, mengidentifikasi


kelebihan dan kekurangannya. Konselor mencari informasi tentang diri klien dan
kemudian merancang strategi apa yang digunakan untuk pertemuan pertama
dengan klien.
 Perkenalan (orientasi) : Membina rasa saling percaya, merumuskan kontrak
bersama klien menggali pikiran dan merumuskan tujuan.
 Kerja : Konselor dan klien bekerja sama untuk mengatasi masalah yang dihapadi
klien (eksplorasi, refleksi, berbagi persepsi, memfokuskan dan selanjutnya
menyimpulkan).
 Termiasi (sementara atau akhir) : Evaluasi, tindak lanjut terhadap interaksi,
memuat kontrak untuk pertemuan selanjutnya).

Dalam hal ini seorang konselor harus paham terhadap karakteristik yang dapat
menumbuhkan hubungan Terapeutik, seperti sikap jujur, sabar, bersikap positif,
menjadi pendengar yang baik dan bersikap empati kepada klien, serta tidak
membingungkan klien.

Jadi untuk menyelesaikan masalah mental seperti yang dihadapi siswa seperti
dijelaskan diatas dengan menggunakan Konseling Terapeutik dengan baik. Tidak
lupa dekungan dari orang tua sangat penting terhadap anaknya supaya tetap optimis
dalam menghadapi masalah yang sedang diderita.