Anda di halaman 1dari 23

2.

5 Struktur Beton Bertulang


Beton bertulang adalah merupakan gabungan logis dari dua jenis bahan: beton polos yang
memiliki kekuatan tekan yang tinggi akan tetapi kekuatan tarik yang rendah dan batang-batang
baja yang
ditanamkan didalam beton dapat memberikan kekuatan tarik yang diperlukan. Struktur beton
bertulang banyak digunakan untuk struktur bangunan tingkat rendah, tingkat menengah sampai
bangunan tingkat tinggi. Struktur beton bertulang merupakan struktur yang paling banyak
digunakan atau dibangun orang dibandingkan dengan jenis struktur yang lainya. Struktur beton
bertulang lebih murah dan lebih monolit dibandingkan dengan struktur baja maupun struktur
komposit. Karena elemen-elemen dari struktur beton bersifat monolit, maka struktur ini
mempunyai perilaku yang baik dalam memikul beban gempa. Di dalam perancangan struktur
beton bertulang tahan gempa, perlu diperhatikan adanya detail penulangan yang baik dan benar.
Beton tidak dapat menahan gaya tarik melebihi nilai tertentu tanpa mengalami retak-retak. Untuk
itu, agar beton dapat bekerja dengan baik dalam suatu sistem struktur, perlu dibantu dengan
memberinya perkuatan penulangan yang terutama akan mengemban tugas menahan gaya tarik
yang bakal timbul didalam sistem.
Banyak kelebihan dari beton sebagai struktur bangunan
diantaranya adalah:
1. Beton memiliki kuat tekan lebih tinggi dibandingkan dengan
kebanyakan bahan lain;
2. Beton bertulang mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap
api dan air, bahkan merupakan bahan struktur terbaik untuk
bangunan yang banyak bersentuhan dengan air. Pada peristiwa
kebakaran dengan intensitas rata-rata, batang-batang struktur
dengan ketebalan penutup beton yang memadai sebagai
pelindung tulangan hanya mengalami kerusakan pada
permukaanya saja tanpa mengalami keruntuhan;
3. Beton bertulang tidak memerlukan biaya pemeliharaan yang
tinggi;

4. Beton biasanya merupakan satu-satunya bahan yang ekonomis


untuk pondasi telapak, dinding basement, dan tiang tumpuan
jembatan;
5. Salah satu ciri khas beton adalah kemampuanya untuk dicetak
menjadi bentuk yang beragam, mulai dari pelat, balok, kolom
yang sederhana sampai atap kubah dan cangkang besar;
6. Di bagian besar daerah, beton terbuat dari bahan-bahan lokal
yang murah (pasir, kerikil, dan air) dan relatif hanya
membutuhkan sedikit semen dan tulangan baja, yang mungkin
saja harus didatangkan dari daerah lain.
kekurangan dari penggunaan beton sebagai suatu bahan
struktur yaitu:
1. Beton memiliki kuat tarik yang sangat rendah, sehingga
memerlukan penggunaan tulangan tarik;
2. Beton bertulang memerlukan bekisting untuk menahan beton
tetap ditempatnya sampai beton tersebut mengeras;
3. Rendahnya kekuatan per satuan berat dari beton
mengakibatkan beton bertulang menjadi berat. Ini akan sangat
berpengaruh pada struktur bentang panjang dimana berat beban
mati beton yang besar akan sangat mempengaruhi momen
lentur;
4. Rendahnya kekuatan per satuan volume mengakibatkan beton
akan berukuran relatif besar, hal penting yang harus
13
dipertimbangkan untuk bangunan-bangunan tinggi dan
struktur-struktur berbentang panjang;
5. Sifat-sifat beton sangat bervariasi karena bervariasinya
proporsi campuran dan pengadukannya. Selain itu, penuangan
dan perawatan beton tidak bisa ditangani seteliti seperti yang
dilakukan pada proses produksi material lain seperti baja dan
kayu lapis.
Dalam perencanaan struktur beton bertulang, beton
diasumsikan tidak memiliki kekuatan tarik sehingga diperlukan
material lain untuk menanggung gaya tarik yang bekerja. Material
yang digunakan umumnya berupa batang-batang baja yang disebut
tulangan.
Untuk meningkatkan kekuatan lekat antara tulangan dengan
beton di sekelilingnya telah dikembangkan jenis tulangan uliran
pada permukaan tulangan, yang selanjutnya disebut sebagai baja
tulangan deform atau ulir.
Berdasarkan SNI 03-2847-2013, untuk melindungi tulangan
terhadap bahaya korosi maka di sebelah tulangan luar harus diberi
selimut beton. Untuk beton bertulang, tebal selimut beton minimum
yang harus disediakan untuk tulangan harus memenuhi ketentuan
berikut:
14
Tabel 2.1 Batasan Selimut Beton

2.5.1 Kolom
Kolom adalah elemen vertikal dari rangka (frame) struktural yang memikul beban dari balok.
Kolom dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk dan susunan tulangan, posisi beban pada
penampang dan panjang kolom dalam hubungannya dengan dimensi lateral. Menurut SNI
2847:2013, kolom merupakan komponen struktur dengan rasio tinggi terhadap dimensi lateral
terkecil melampaui 3 yang digunakan terutama untuk menumpu beban tekan aksial. Kegagalan
kolom akan berakibat langsung runtuhnya komponen struktur lain yang berhubungan dengannya,
atau bahkan merupakan batas runtuh total keseluruhan struktur bangunan. Oleh karena itu dalam
perencanaan struktur kolom diberikan cadangan kekuatan lebih tinggi dari komponen struktur
yang lain. Pada prakteknya, kolom tidak hanya menahan beban aksial vertikal, tetapi juga
menahan kombinasi beban aksial dan momen lentur. Atau dengan kata lain, kolom harus
diperhitungkan untuk menyangga beban aksial tekan dengan eksentrisitas tertentu.
2.5.2 Balok
Balok adalah elemen struktur yang menahan beban lentur dan menyalurkan beban-beban dari
slab lantai ke kolom penyangga yang vertikal. Pada umumnya elemen balok dicor secara monolit
dengan slab dan secara struktural ditulangi di bagian bawah atau di bagian atas. Balok juga
berfungsi sebagai pengekang dari struktur kolom.
Pada balok berlaku pula panjang bentang teoritis l harus dianggap sama dengan bentang bersih L
ditambah dengan setengah panjang perletakan yang telah ditetapkan.
Tata cara untuk perencanaan penampang minimum balok non prategang telah diatur berdasarkan
SNI 2847:2013, tabel 9.5(a).
Halaman 70, Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan
Gedung seperti pada tabel 2.1 yaitu untuk perencanaan tebal
minimum dari balok.
Tabel 2.2 Perencanaan tebal minimum dari balok.

2.5.3 Plat
Pelat lantai merupakan salah satu komponen struktur konstruksi baik pada gedung maupun
jembatan dan biasanya dibangun dengan konstruksi beton bertulang. Pelat lantai sangat
dipengaruhi oleh momen lentur dan gaya geser yang terjadi. Sisi tarik pada pelat terlentur
ditahan oleh tulangan baja, sedangkan gaya geser pada pelat lantai ditahan oleh beton yang
menyusun pelat
lantai itu sendiri. Berdasarkan perilaku pelat lantai dalam menahan beban yang bekerja, pelat
lantai dibagi menjadi dua yaitu pelat satu arah (one-way slab) dan pelat dua arah (twoway slab).
Tabel 2.3 Tebal minimum pelat tanpa balok interior

2.8 Ketentuan Perencanaan Pembebanan


Perencanaan pembebanan ini digunakan beberapa acuan
standar sebagai berikut:
1. Persyaratan Beton Struktural Untuk Bangunan Gedung (SNI
2847:2013);
2. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur
Bangunan Gedung dan Non Gedung (SNI 1726-2012);
3. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983
2.8.1 Analisa Pembebanan
Beban dan macam beban yang bekerja pada struktur
sangat tergantung dari jenis struktur. Berikut ini akan disajikan
jenis-jenis beban, data beban serta faktor-faktor dan kombinasi
pembebanan sebagai dasar acuan bagi perhitungan struktur.
22
Jenis-jenis beban yang biasa diperhitungkan dalam
perencanaan struktur bangunan gedung adalah sebagai berikut:
1. Beban mati (dead load/DL)
Beban mati adalah berat seluruh bahan konstruksi
bangunan gedung yang terpasang, termasuk dinding, lantai,
atap plafon, tangga, dinding partisi tetap, finishing, klading
gedung dan komponen arsitektural dan struktural lainnya serta
peralatan layan terpasang lain termasuk berat keran. Beban
mati merupakan beban yang bekerja akibat gravitasi yang
bekerja tetap pada posisinya secara terus menerus dengan arah
ke bumi tempat struktur didirikan. Jenis beban mati adalah
sebagai berikut :
a. Berat jenis beton : 2400 kg/m3
b. Adukan semen (per-cm tebal) : 21 kg/m2
c. Plafond/ langit-langit : 11 kg/m2
d. Penggantung langit-langit dari kayu : 7 kg/m2
e. Tembok batu bata (1/2 batu) : 250 kg/m2
2. Beban hidup (live load/LL)
Beban hidup adalah beban yang diakibatkan oleh
pengguna dan penghuni bangunan gedung atau struktur lain
yang tidak termasuk beban konstruksi dan beban lingkungan,
23
seperti beban angin, beban hujan, beban gempa, beban banjir
dan beban mati. Jenis beban hidup adalah sebagai berikut :
a. Lantai sekolah, ruang kuliah, kantor, toko, toserba,
restoran, hotel, asrama dan rumah sakit : 250 kg/m2
b. Tangga, bordes tangga dari lantai sekolah, ruang kuliah,
kantor, toserba, restoran, hotel, asrama, dan rumah sakit,
toko : 300 kg/m2
c. Lantai untuk : pabrik, bengkel, gudang, perpustakaan,
ruang arsip, toko buku, toko besi, ruang alat-alat dan
ruang mesin, harus direncanakan sendiri terhadap beban
hidup yang ditentukan minimum : 400 kg/m2
3. Beban Gempa (Earthquake Load/EL)
Beban gempa apabila ditinjau dari desain gempa, maka
harus diperhatikan mengenai strategi bagaimanakah yang
terbaik untuk desain gedung pada daerah yang mempunyai
potensi gempa.
a. Perhitungan Berat Bangunan (Wt)
Berat dari bangunan dapat berupa beban mati yang terdiri
dari berat sendiri material-material konstruksi dan
elemen-elemen struktur, serta beban hidup yang diakibatkan
oleh hunian atau penggunaan bangunan. Berdasarkan standar
pembebanan yang berlaku di Indonesia, untuk
memperhitungkan pengaruh beban gempa pada struktur
bangunan gedung, beban hidup yang bekerja dapat dikalikan
dengan faktor reduksi sebesar 0,3.
b. Perioda Getar Fundamental Struktur (T)
Karena besarnya beban gempa belum diketahui, maka
waktu getar dari struktur belum dapat ditentukan secara pasti.
Untuk perencanaan awal, waktu getar dari bangunan gedung
pada arah X (Tx) dan arah Y (Ty) dihitung dengan
menggunakan rumus empiris:
Tx = Ty = 0,06 . H 0,75 (dalam detik)
c. Faktor Keutamaan Struktur (I)
Menurut SNI Gempa 2012, pengaruh Gempa Rencana harus
dikalikan dengan suatu Faktor Keutamaan (I).
..……………………(2.3)
25
Tabel 2.4 Kategori Risiko Bangunan Gedung dan Non Gedung untuk beban gempa

Tabel 2.5 Faktor Keutamaan Gempa


d. Klasifikasi Situs
Menurut SNI Gempa 2012, tipe kelas situs harus
ditetapkan sesuai definisi dari tabel 2.5 sebagai berikut :
Tabel 2.6 Klasifikasi Situs

e. Spektrum Respon Desain (S)


Setelah dihitung waktu getar dari struktur bangunan pada
arah-X (Tx) dan arah-Y (Ty), maka harga dari Faktor Respon
Gempa C dapat ditentukan dari Diagram Spektrum Respon
Gempa Rencana.

f. Beban Geser Dasar Nominal Akibat Gempa


Beban geser dasar nominal horisontal akibat gempa
yang bekerja pada struktur bangunan gedung, dapat
ditentukan dari rumus :
Wt
R
CI
v.
.

Dimana :
V adalah gaya geser dasar rencana total, N
R adalah faktor modifikasi respons
Wt adalah berat total struktur, N
I adalah Faktor keutamaan gedung
C adalah Nilai Faktor Respons Gempa yang
didapat dari Spektrum Respons Gempa
…………..………(2.4)
Rencana untuk waktu getar alami fundamental
dari struktur gedung.
Beban Geser Dasar Nominal (V) harus
didistribusikan di sepanjang tinggi struktur bangunan
gedung menjadi beban-beban gempa statik ekuivalen
yang bekerja pada pusat massa lantai-lantai tingkat.
Besarnya beban statik ekuivalen Fi pada lantai tingkat
ke-I dari bangunan dihitung dengan rumus :
𝐹𝑖 =
𝑊𝑖𝑧𝑖
Σ 𝑊𝑖𝑧𝑖 𝑛𝑖
=1
𝑉
Dimana Wi adalah berat lantai tingkat ke-i,
termasuk beban hidup yang sesuai (direduksi), zi adalah
ketinggian lantai tingkat kei diukur dari taraf penjepitan
lateral struktur bangunan, dan n adalah nomor lantai
tingkat paling atas.
g. Periode fundamental pendekatan
Periode fundamental struktur T, dalam arah yang
ditinjau harus diperoleh menggunakan property struktur
dan karakteristik deformasi elemen penahan dalam
analisis yang teruji. Periode fundamental struktur T, tidak
boleh melebihi hasil koefisien untuk batasan atas pada
periode yang dihitung (Cu) dari tabel 2.7 dan periode
fundamental pendekatan Ta. Sebagai alternative pada
pelaksanaan analisis untuk menentukan peride
………….……(2.5)
29
fundamental struktur T, diijinkan secara langsung
menggunakan periode bangunan pendekatan Ta. Periode
fundamental pendekatan (Ta) dalam detik harus
ditentukan dari persamaan berikut :
𝑇𝑎 = 𝐶𝑡. ℎ𝑛
𝑥
Hn adalah ketinggian struktur dalam (m), di atas
dasar sampai tingkat tertinggi struktur dan koefisien Ct
dan x ditentukan dari tabel 2.8
Tabel 2.7 Koefisien untuk Batas Atas pada Periode yang Dihitung

Tabel 2.8 Nilai Parameter Periode Pendekatan Ct dan x

2.8.2 Kombinasi Pembebanan


Berdasarkan SNI 1727:2013 pasal 2.3.2 , mengatur
tentang kombinasi pembebanan yang akan dipakai untuk
perencanaan gedung.
1. 1,4D
2. 1,2D + 1,6L+ 0,5 (L atua S atau R)
3. 1,2D + 1,6(L atua S atau R)+(L atau 0,5W)
4. 1,2D + 1,0W + L + 0,5 (L atua S atau R)
5. 1,2D + 1,0E + L + 0,2S
6. 0,9D + 1,0W
7. 0,9D + 1,0E
31
Dimana :
D = Beban Mati
L = Beban Hidup
E = Beban Gempa
2.9 Wilayah Gempa Bumi di Indonesia
Pada SNI 1726-2012, peta wilayah gempa ditetapkan
berdasarkan parameter Ss (percepatan batuan dasar pada perioda
pendek 0,2 detik) dan parameter S1 (percepatan batuan dasar pada
perioda 1 detik) seperti yang terlihat pada Gambar 2.3 dan Gambar
2.4 berikut ini:
Gambar 2.3 Peta wilayah gempa menurut SNI 1726-2012 berdasarkan
parameter Ss
32
Gambar 2.4 Peta wilayah gempa menurut SNI 1726-2012 berdasarkan
parameter Sl

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tahapan Pelaksanaan dalam Tugas Akhir
Berikut tahapan yang dilakukan dalam pengerjaan tugas akhir ini :
1. Persiapan Literatur
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan informasi atau
referensi yang berkaitan dan mengacu kepada tugas akhir yang
akan dikerjakan. Literatur ini yang akan digunakan sebagai
acuan dan panduan dalam pengerjaan. Hal ini dilakukan agar
hasil akhir dari pngerjaan tugas akhir ini mengasilkan disain
yang memiliki dasar yang tepat dan dapat
dipertanggungjawabkan.
2. Preliminary Design
Preliminary Design adalah disain awal dimensi serta
material yang akan digunakan untuk membentuk struktur.
Preliminary Design merupakan spesifikasi struktur yang akan
dimodelkan dalam software.
54
3. Permodelan Struktur
Memodelkan struktur gedung perkantoran dengan
menggunkan software ETABS 9.7.1. Data struktur yang
digunakan berdasarkan dengan Preliminary Design.
4. Analisis Pembebanan
Pembebaban yang dilakukan yaitu beban mati, beban
hidup dan beban gempa. Beban hidup diperhitungkan
berdasarkan fungsi ruangan sedangkan beban gempa
diperhitungan berdasarkan fungsi gedung, daerah gempa serta
kondisi tanah.
5. Hasil dan Pembahasan
Setalah dilakukan pembebanan terhadap model struktur
tadi, maka dilakukan analisis pada software tersebut untuk
mengetahui gaya-gaya dalam yang bekerja pada struktur
tersebut. Setelah itu dilakukan perhitungan tulangan struktur atas
yaitu balok, kolom. plat lantai dan dinding geser.
6. Kesimpulan
Berupa hasil yang didapatkan dari analisis dan disain yang
dilakukan.
3.3 Data Bangunan
Data bangunan yang akan didesain bukan data yang rill, karena
tugas ini dibuat untuk akademik saja. Data bangunan ditentukan oleh
penulis berdasarkan saran dari pembimbing. Data tersebut adalah:
1. Fungsi bangunan : Gedung Perkantoran
2. Jenis struktur : Struktur beton bertulang
3. Jumlah lantai : 8 lantai
4. Tinggi lantai : @ 4 meter
5. Penutup atap : Dak beton
6. Lokasi : Padang
7. Jenis tanah : Tanah sedang

3.4 Layout dan Model Geometri Bangunan


3.5 Spesifikasi Material
Kekuatan tekan beton (fc’) : 30 MPa
Modulus Elastisitas Beton (Ec) : 25.743 MPa
Kekuatan leleh baja (fy) : 390 Mpa
Tulangan utama : 390 MPa
Tulangan geser : 240 MPa
Modulus Elastisitas Baja (Es) : 200.000 MPa

3.6 Jenis Struktur


Dalam suatu perencanaan struktur gedung, hal yang pertama
dilakukan yaitu penentuan jenis struktur yang akan kita gunakan,
karena ini akan berpengaruh kepada beban gempa dan dimensi
struktur yang akan kita dapatkan nanti. Untuk pemilihan jenis
struktur, maka terlebih dahulu harus diketahui kategori desain
seismik tempat yang akan direncanakan. Langkah awal yang harus
dilakukan yaitu kita harus mengetahui jenis tanah yang berada di
lokasi yang akan kita rencanakan. Setelah itu kita perlu data SDS
dan SD1 yang didapat dari situs Puskim PU.

Masukkan nama kota ataupun koordinat tempat yang kita


rencanakan. Maka didapat nilai SDS = 0,932 g pada perioda 0,2
detik dan nilai SD1 = 0,4 g pada perioda 1 detik. Berdasarkan SNI
1726:2012 tabel 1, fungsi gedung perkantoran memiliki kategori
resiko II. Dan berdasarkan Berdasarkan SNI 1726:2012 tabel 6 dan
7, untuk SDS > 0,5, SD1 > 0,2 dan kategori risiko bangunan II maka
62
didapat kategori desain seismik adalah KDS D. Berdasarkan SNI
2847:2013, Tabel 21.1.1 untuk KDS D maka tipe struktur yang akan
digunakan adalah sistem rangka pemikul momen khusus (SRPMK).

3.7 Preliminary Design


Dalam suatu perencanaan struktur gedung, kita harus
melakukan preliminary design terlebih dahulu. Preliminary design
adalah suatu tahapan perhitungan dimana kita merencanakan
dimensi awal dari suatu elemen struktur. Untuk SRPMK telah
ditetapkan oleh SNI 2847:2013 tentang batasan dimensi balok dan
kolom yang digunakan dan juga material yang digunakan berupa
mutu beton dan juga mutu baja yang digunakan.
3.7.1 Balok
Dalam mendesain balok untuk SRPMK nilai lebar balok (b)
dibatasi oleh SNI 2847:2013 yaitu tidak boleh kurang dari 0,3h
63
dan 250 mm. Penentuan tinggi balok minimum ( hmin ) dihitung
berdasarkan SNI 2847:2013 Tabel 9.5(a) untuk mutu fy = 420
Mpa:
h .l
18.5
1
min 
Sedangkan untuk lebarnya :
h bw h
3
2
2
1

Dimana :
bw = lebar balok
h = tinggi balok
L = panjang balok
fy = mutu tulangan baja
Dimensi balok utama dengan bentang L = 5 m
h = 500 mm
b = 300 mm
Dimensi balok anak dengan bentang L = 5 m
h = 350 mm
b = 200 mm
…………………(3.1)
…………………(3.2)
64
Untuk perhitungan dapat dilihat di Lampiran 1.
3.7.2 Plat
Perencanaan tebal pelat minimum untuk satu arah dan dua
arah menggunakan persyaratan SNI 2847:2013. Perencanaan
pelat dua arah dapat dilakukan dengan mengikuti SNI 2837:2013
pasal 9.5.3.3.
a. Untuk αm yang sama atau lebih kecil dari 0,2 harus
menggunakan pasal 9.5.3.2
b. Untuk αm lebih besar dari 0,2 tapi tidak lebih dari 2,0 , h
tidak boleh kurang dari :
hf = Ln.
(0.8 +
fy
1400
)
36 + 5. 𝛽(𝛼𝑚 − 0,2)
dan tidak boleh kurang dari 125 mm;
c. Untuk αm lebih besar dari 2,0 , ketebalan pelat minimum
tidak boleh kurang dari :
hf = Ln.
(0.8 +
fy
1400
)
36 + 9. 𝛽
dan tidak boleh kurang dari 90 mm.
Dimana :
Ln = panjang bentang bersih dalam arah memanjang pelat
…………(3.3)
…………(3.4)
65
β = rasio bentang bersih dalam arah panjang terhadap
pendek balok
αm = rasio kekakuan pelat
Selain itu SNI 2847:2013 juga mengatur lebar flens pada
balok , lihat pasal 8.12.2 dan pasal 8.12.3 :
d. Balok Tengah
Gambar 3.10 Gambar Balok Tengah
e. Balok Tepi
Gambar 3.11 Gambar Balok Tepi
Berdasarkan perhitungan kekakuan pelat didapatkan nilai
kekakuan pelat αm = 4,82, berarti tebal pelat harus lebih tebal
dari rumus SNI 2847:2013 pasal 9.5.3.3.(c) dan lebih tebal dari
90 mm. Setelah semua syarat lebar flens berdasarkan SNI
66
2847:2013 pasal 8.12.2 dan pasal 8.12.3 terpenuhi maka diambil
tebal pelat hf = 150 mm.
Untuk perhitungannya dapat dilihat di Lampiran 1.
3.7.3 Kolom
Berdasarkan SNI 2847:2013 pasal 21.6.1 Penampang kolom
harus lebih besar dari 300 mm dan perbandingan antara ukuran
terkecil penampang terhadap ukuran dalam arah tegak lurusnya
tidak kurang dari 0,4. Dengan menggunakan perencanaan kolom
berdasarkan metoda pembebanan, maka didapatkan dimensi
kolom :
1. Kolom 1,2 dan 3 : ( 600 x 600 ) mm
2. Kolom 4,5 dan 6 : ( 500 x 500 ) mm
3. Kolom 7 dan 8 : ( 400 x 400 ) mm
Untuk perhitungannya dapat dilihat di Lampiran 1.
3.7.4 Dinding geser
Pada tugas akhir ini tebal dinding geser direncanakan setebal
250 mm.
67
3.8 Permodelan Struktur
Setelah didapatkan data dimensi berdasarkan preliminary
desain diatas , maka selanjutnya kita akan melakukan permodelan
struktur 3D dengan menggunakan software Etabs 9.71.
Langkah-langkah permodelan srukturnya yaitu :
1. Input data material berdasarkan mutu yang direncanakan ,
yaitu fc’ = 30 MPa dan fy = 390 MPa untuk tulangan utama dan
fy = 240 MPa untuk tulangan geser.
Gambar 3.12 Input data mutu material
2. Inputkan dimensi kolom, balok dan pelat lantai berdasarkan
preliminary design yang telah dilakukan.
68
Gambar 3.13 Input dimensi balok
Gambar 3.14 Input dimensi kolom
69
Gambar 3.15 Input tebal Plat
Gambar 3.16 Input tebal dinding geser
70
3. Setelah dilakukan pendifinisian dimensi kolom, balok, pelat
lantai dan dinding geser maka dilakukan penggambaran
berdasarkan grid-grid yang telah dibuat.
Gambar 3.17 Permodelan Struktur Gedung
3.9 Pemebebanan
3.9.1 Beban Mati
Beban mati adalah berat semua bagian dari gedung yang tak
terpisahkan dan bersifat tetap. Beban mati diambil dari berat
sendiri dari bahan bangunan dan komponen gedung. Beban mati
mengacu pada Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung
71
1983 (PPIUG 1983) serta Beban minimum untuk perancangan
bangunan gedung dan struktur lain (SNI 1727:2013). Beban mati
ini yang akan nantinya dimasukkan ke permodelan ETABS 9.71
sebagai fungsi Dead Load.
Beban-beban mati yang diperhitungkan adalah :
Tabel 3.1 Beban mati yang bekerja pada struktur bangunan

mbar 3.18 Input Beban Mati Struktur Gedung


3.9.2 Beban Hidup
Beban hidup adalah semua beban akibat penggunaan dan
penghunian dari suatu bangunan dan beban pada lantai yang
dapat berpindah yang mengakibatkan perubahan pembebanan.
Beban hidup pada gedung mengacu pada Peraturan Pembebanan
Indonesia untuk Gedung 1983 (PPIUG 1983), serta Beban
minimum untuk perancangan bangunan gedung dan struktur lain
(SNI 1727:2013). Beban hidup ini yang akan nantinya
dimasukkan ke permodelan ETABS 9.71 sebagai fungsi Live
Load.
73
Perincian pembebanan dapat dilihat pada Lampiran 1.
Beban-beban hidup yang diperhitungkan adalah :
Tabel 3.2 Beban hidup yang bekerja pada struktur bangunan

Dalam penginputan beban hidup dalam etabs 9.71 yang


diambil adalah beban maksimum perlantainya.

3.9.3 Beban Gempa Dinamik Respon Spektrum


Dalam analisis beban gempa dinamik, respon spektrum
disusun berdasarkan respons terhadap percepatan tanah hasil
rekaman gempa. Desain spektrum merupakan representasi
gerakan tanah akibat getaran gempa yang pernah terjadi di suatu
lokasi. Pada tugas akhir ini data respon spektrum didapatkan dari
situs Puskim PU, berdasarkan kondisi tanah dan wilayah yg akan
didesain.
75
Lokasi kita berada di Padang dengan Kondisi tanah sedang.
Maka didapat data respon sebagai berikut :

Tabel 3.3 Data Respon Spektrum Tanah Sedang


Setelah didapat data respon spektrum maka inputkan di
permodelan ETABS 9.71 yang telah dibuat.

Dimana :
G = Gravitasi
I = Faktor Keutamaan Gedung (SNI 1726:2012, Tabel 2)
R = Koefisien Modifikasi Respon (SNI 1726:2012,Tabel 9)

.9.4 Kombinasi Pembebanan


Berdasarkan SNI 1726:2012 halaman 15-16, mengatur
tentang kombinasi pembebanan yang akan dipakai untuk
perencanaan gedung. Kemudian kombinasi tadi dijabarkan sesuai
SNI 1727:2013 pasal 2.3.2 sehingga didapatkan kombinasi
sebagai berikut :
1. 1,4D
2. 1,2D + 1,6L+ 0,5 (L atua S atau R)
3. 1,2D + 1,6(L atua S atau R)+(L atau 0,5W)
4. 1,2D + 1,0W + L + 0,5 (L atua S atau R)
5. 1,2D + 1,0E + L + 0,2S
6. 0,9D + 1,0W
7. 0,9D + 1,0E
Dimana :
D = Beban Mati
L = Beban Hidup
E = Beban Gempa