Anda di halaman 1dari 18

STEP 7

1. Jelaskan poin dan tujuan dari SDGs?

Tujuan-tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs

TUJUAN 1. Mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk dimanapun


TUJUAN 2. Mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan nutrisi yang lebih
baik dan mendukung pertanian berkelanjutan
TUJUAN 3. Memastikan kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan bagi
semua untuk semua usia
TUJUAN 4. Memastikan pendidikan yang inklusif dan berkualitas setara, juga
mendukung kesempatan belajar seumur hidup bagi semua
TUJUAN 5. Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan
anak perempuan
TUJUAN 6. Memastikan ketersediaan dan manajemen air bersih yang berkelanjutan dan
sanitasi bagi semua
TUJUAN 7. Memastikan akses terhadap energi yang terjangkau, dapat diandalkan,
berkelanjutan dan modern bagi semua
TUJUAN 8. Mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, tenaga
kerja penuh dan produktif dan pekerjaan yang layak bagi semua
TUJUAN 9. Membangun infrastruktur yang tangguh, mendukung industrialisasi yang
inklusif dan berkelanjutan dan membantu perkembangan inovasi
TUJUAN 10. Mengurangi ketimpangan didalam dan antar negara
TUJUAN 11. Membangun kota dan pemukiman yang inklusif, aman, tangguh dan
berkelanjutan
TUJUAN 12. Memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan
TUJUAN 13. Mengambil aksi segera untuk memerangi perubahan iklim dan
dampaknya*
TUJUAN 14. Mengkonservasi dan memanfaatkan secara berkelanjutan sumber daya laut,
samudra dan maritim untuk pembangunan yang berkelanjutan
TUJUAN 15. Melindungi, memulihkan dan mendukung penggunaan yang berkelanjutan
terhadap ekosistem daratan, mengelola hutan secara berkelanjutan, memerangi
desertifikasi (penggurunan), dan menghambat dan membalikkan degradasi tanah dan
menghambat hilangnya keanekaragaman hayati
TUJUAN 16. Mendukung masyarakat yang damai dan inklusif untuk pembangunan
berkelanjutan, menyediakan akses terhadap keadilan bagi semua dan membangun
institusi-institusi yang efektif, akuntabel dan inklusif di semua level
TUJUAN 17. Menguatkan ukuran implementasi dan merevitalisasi kemitraan global
untuk pembangunan yang berkelanjutan
"The Global Goals For Sustainable Development". Global Goals. Diakses tanggal 28 april 2020

1. Memberantaskan kemiskinan dan kelaparan ekstrim


i. Target 1 : menurukan proposri penduduk yg pendapatannya 1 dollar per hari,
1990 – 2015
ii. Target 2 : menurukan proposri penduduk yg kelaparan menjadi setengahnya
antara 1990 -2015
2. Mewujudkan pendidika dasar secara universal
i. Target 3 : memastikan anak sekolah di pendidikan dasar
3. Mendorong kesetaraan gender dan pemberdaayaan perempuan
i. Target 4 : menghilangkan ketimpangan gender dan di taun 2015 di semua jenjang
pendidikan.
4. Menurunkan Angka Kematian Anak
i. Target 5 : menurunkan AK anak 2/3 balita di tahun 1990 - 2015
5. Meningkatkan kesehatan ibu
i. Target 6 : menurunkan AK ibu 3/4 balita di tahun 1990 - 2015
6. Memerangi HIV/AIDS dan penyakit lainnya
i. Target 7 : mengendalikan persebaran HIV dan menurunnya kasus baru di 2015
ii. Target 8 : penurunan kasus malaria
7. Memastikan kelestarian lingkungan
i. Target 9 : memadukan prinsip pembagunan berkelanjutan dan program nasional
ii. Target 10 : penurunan sebear separuh, proporsi penduduk tidak dapat air minum
yang aman dan berkelanjutan dan fasilitas dasar pada tahun 2015.
iii. Target 11 : mencapat perbaikan di pemukiman kumuh pada tahun 2020.
8. Mengembangkan kemitraan global
i. Belum ada target
1) Tanpa Kemiskinan. Tidak ada kemiskinan dalam bentuk apapun di seluruh penjuru dunia.
2) Tanpa Kelaparan. Tidak ada lagi kelaparan, mencapai ketahanan pangan, perbaikan nutrisi,
serta mendorong budidaya pertanian yang berkelanjutan.
3) Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan. Menjamin kehidupan yang sehat serta mendorong
kesejahteraan hidup untuk seluruh masyarakat di segala umur.
4) Pendidikan Berkualitas. Menjamin pemerataan pendidikan yang berkualitas dan
meningkatkan kesempatan belajar untuk semua orang, menjamin pendidikan yang inklusif dan
berkeadilan serta mendorong kesempatan belajar seumur hidup bagi semua orang.
5) Kesetaraan Gender. Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan kaum ibu dan
perempuan.
6) Air Bersih dan Sanitasi. Menjamin ketersediaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan
untuk semua orang.
7) Energi Bersih dan Terjangkau. Menjamin akses terhadap sumber energi yang terjangkau,
terpercaya,
berkelanjutan dan modern untuk semua orang.
8) Pertumbuhan Ekonomi dan Pekerjaan yang Layak. Mendukung perkembangan ekonomi yang
berkelanjutan dan inklusif, lapangan kerja yang penuh dan produktif, serta pekerjaan yang layak
untuk semua orang.
9) Industri, Inovasi dan Infrastruktur. Membangun infrastruktur yang berkualitas, mendorong
peningkatan industri yang inklusif dan berkelanjutan serta mendorong inovasi.
10) Mengurangi Kesenjangan. Mengurangi ketidaksetaraan baik di dalam sebuah negara
maupun di antara negara-negara di dunia.
11) Keberlanjutan Kota dan Komunitas. Membangun kota-kota serta pemukiman yang inklusif,
berkualitas, aman, berketahanan dan bekelanjutan.
12) Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab. Menjamin keberlangsungan konsumsi dan pola
produksi.
13) Aksi Terhadap Iklim. Bertindak cepat untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya.
14) Kehidupan Bawah Laut. Melestarikan dan menjaga keberlangsungan laut dan kehidupan
sumber daya laut untuk perkembangan pembangunan yang berkelanjutan.
15) Kehidupan di Darat. Melindungi, mengembalikan, dan meningkatkan keberlangsungan
pemakaian ekosistem darat, mengelola hutan secara berkelanjutan, mengurangi tanah
tandus serta tukar guling tanah, memerangi penggurunan, menghentikan dan memulihkan
degradasi tanah, serta menghentikan kerugian keanekaragaman hayati.
16) Institusi Peradilan yang Kuat dan Kedamaian. Meningkatkan perdamaian termasuk
masyarakat untuk pembangunan berkelanjutan, menyediakan akses untuk keadilan bagi
semua orang termasuk lembaga dan bertanggung jawab untuk seluruh kalangan, serta
membangun institusi yang efektif, akuntabel, dan inklusif di seluruh tingkatan.
17) Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Memperkuat implementasi dan menghidupkan
kembali kemitraan global untuk pembangunan yang berkelanjutan.

Sumber: SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) DAN PENGENTASAN KEMISKINAN OLEH: ISHARTONO1 &
SANTOSO TRI RAHARJO2
2. Apa saja faktor yang mempengaruhi mortalitas Sebutkan penyebab kematian yg dpt di
identifikasi?

Peristiwa hilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen, yang bisa terjadi setiap saat
setelah kelahiran hidup
Mantra, Ida Bagoes.2003. Demografi Umum. Pustaka Pelajar Offset, Yogyakarta.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kematian sebagai suatu peristiwa
menghilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen, yang bisa terjadi setiap saat
setelah kelahiran hidup.

Factor-faktor yang mempengaruhi mortalitas :


a. Status perkawinan
Mortalitas penduduk yang sudah menikah ternyata lebih rendah dibandingkan dengan yang
belum menikah, dan perbedaan untuk pria lebih besar daripada wanita. Hal ini sebagain
disebabkan oleh faktor bahwa perkawinan biasanya mensyaratkan orang-orang yang sehat,
maupun karena perbedaan kebiasaan dan kondisi hidup.
b. Tempat tinggal
Mortalitas di daerah pedesaan pada umumnya lebih rendah dibandingkan di daerah kota,
tetapi sekarang perbedaan tersebut sudah berkurang. Beberapa penyakit menyerang daerah
iklim panas, dan ada juga yang melanda tempat-tempat yang dingin; akibatnya perbedaan
iklim dapat juga menjadi faktor penyebab kematian. Atas dasar alasan ini juga di tempat
tinggal yang sama dapat terjadi fluktuasi mortalitas musiman.
c. Cara hidup
Pada umumnya apabila kondisi sosial semakin memuaskan ( diukur dari segi kualitas
perumahan, kebersihan, pelayanan kesehatan, dan lain-lain ), angka kematian akan menurun.
Kebiasaan hidup, misalnya merokok, makan dan minum, dapat juga mempengaruhi
mortalitas.
d. Faktor genetik
Beberapa penyakit ternyata dapat menular dari generasi yang satu ke generasi lain; dengan
demikian terdapat juga beberapa alasan tertentu mengapa para keluarga harus berusaha
memperpanjang masa kehidupan. Walaupun jumlah penyakit seperti itu tidak begitu banyak,
dan pengaruhnya terhadap mortalitas dirasakan tidak menentu. Dengan demikian dewasa ini
perbedaan keturunan secara komparatif dianggap tidak berarti.
Teknik Demografi, PT Bina Aksara

Faktor yang mempengaruhi Mortalitas


Faktor yang mempengaruhi kematian ada dua faktor, yaitu faktor dari dalam
individu atau faktor dari luar individu.International Classification of
Diseases (ICD) versi 10 tahun 2016 mengklasifikasi penyakit penyebab
kematian penduduk.Daftar sebab kematian dalam Klasifikasi Penyakit
Internasional (ICD) sangat terperinci dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
menggolongkan sebab-sebab ini ke dalam 22 kelompok.Adapun klasifikasi
penyakit penyebab kematian tersebut adalah :
1. Penyakit infeksi dan parasit tertentu
2. Neoplasma
3. Penyakit darah dan organ pembentuk darah dan gangguan tertentu yang
melibatkan mekanisme kekebalan tubuh
4. Endokrin, nutrisi dan penyakit metabolik
5. Gangguan mental dan perilaku
6. Penyakit pada sistem saraf
7. Penyakit mata dan adneksa
8. Penyakit pada telinga dan proses mastoid
9. Penyakit pada sistem peredaran darah
10. Penyakit pada sistem pernapasan
11. Penyakit pada sistem pencernaan
12. Penyakit pada kulit dan jaringan subkutan
13. Penyakit pada sistem muskuloskeletal dan jaringan ikat
14. Penyakit sistem genitourinari
15. Kehamilan, persalinan dan masa nifas
16. Kondisi tertentu yang berasal dari periode perinatal
17. Malformasi kongenital, deformasi dan kelainan kromosom
18. Gejala, tanda dan temuan klinis dan laboratorium yang abnormal, tidak
diklasifikasikan di tempat lain

Sumber: Fertilitas dan Mortalitas oleh Dra. Ita Mardiani Z, M.Kes. Dr. Nugroho Hari Purnomo, M.Si
3. Mengapa angka kematian di Negara berkembang lebih besar angkanya dibandingkan Negara
maju?

Mortalitas atau kematian merupakan salah satu dari tiga faktor demografis selain fertilitas
dan migrasi, yang dapat mempengaruhi jumlah penduduk dan struktur atau komposisi umur
penduduk. Mortalitas atau kematian penduduk pada suatu daerah erat kaitannya dengan
kualitas penduduk di daerah tersebut dalam hal derajat kesehatan masyarakat yang akan
turut mempengaruhi kualitas penduduk atau masyarakat sebagai subjek pembangunan.
Tingginya angka kematian ibu atau kematian maternal disebabkan oleh beberapa faktor,
baik faktor medis maupun faktor non medis seperti faktor ekonomi, sosial dan budaya.
Faktor sosial ekonomi seperti pengetahuan tentang kesehatan, gizi dan kesehatan
lingkungan serta kemiskinan merupakan faktor individu dan keluarga yang mempengaruhi
mortalitas dalam masyarakat. Faktor sosial ekonomi merupakan penyebab dasar (distal)
mortalitas atau kematian, mengingat keadaan sosial ekonomi sebagian masyarakat yang
masih berada digaris kemiskinan, fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan yang belum
tersebar secara merata tenaga kesehatan di seluruh wilayah Indonesia (SDKI 2012).
Sedangkan Burcheet (2009) berpendapat bahwa kemiskinan dapat menjadi sebab
rendahnya peran serta masyarakat pada upaya kesehatan.Faktor lainnya yang juga
mempengaruhi tinggi rendahnya angka kematian ibu yaitu ketersediaan jumlah fasilitas
kesehatan di suatu wilayah atau daerah. Dimana, semakin banyaknya jumlah fasilitas
kesehatan yang tersedia maka semakin terpenuhilah kebutuhan masyarakat akan layanan
kesehatan serta kemudahan keterjangkaun guna meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat tersebut yang juga turut berdampak pada indeks pembangunan manusia daerah
tersebut melalui angka harapan hidup.
Sumber: Analisis Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi terhadap Tingginya Mortalitas Penduduk oleh Riyani
Suryaningsih Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang

4. Apa hubungan kematian dengan factor sosial ekonomi?

5. Apa saja indikator dari mortalitas?

6. Apa saja metode perhitungan mortalitas?


A. Angka Kematian Kasar (AKK) atau Crude Death Rate (CDR)
Konsep Dasar
Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) adalah angka yang menunjukkan berapa
besarnya kematian yang terjadi pada suatu tahun tertentu untuk setiap 1000 penduduk. Angka
ini disebut kasar sebab belum memperhitungkan umur penduduk. Penduduk tua mempunyai
risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk yang masih muda.
Kegunaan
Angka Kematian Kasar adalah indikator sederhana yang tidak memperhitungkan
pengaruh umur penduduk. Tetapi jika tidak ada indikator kematian yang lain angka ini
berguna untuk memberikan gambaran mengenai keadaan kesejahteraan penduduk pada suatu
tahun yang bersangkutan. Apabila dikurangkan dari Angka kelahiran Kasar akan menjadi
dasar perhitungan pertumbuhan penduduk alamiah.
Definisi
Angka Kematian Kasar adalah angka yang menunjukkan banyaknya kematian per 1000
penduduk pada pertengahan tahun tertentu, di suatu wilayah tertentu.
Rumus :
D
CDR= ×K
P
CDR =Crude Death Rate ( Angka Kematian Kasar)
D = Jumlah kematian (death) pada tahun tertentu
P = Jumlah Penduduk pada pertengahan tahun tertentu
K = Bilangan konstan 1000

B. Angka Kematian Ibu (AKI)


, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan
karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dll (Budi, Utomo. 1985).
Definisi
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau
selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan,
yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab
lain, per 100.000 kelahiran hidup.
Kegunaan
Informasi mengenai tingginya MMR akan bermanfaat untuk pengembangan program
peningkatan kesehatan reproduksi, terutama pelayanan kehamilan dan membuat kehamilan
yang aman bebas risiko tinggi (making pregnancy safer), program peningkatan jumlah
kelahiran yang dibantu oleh tenaga kesehatan, penyiapan sistim rujukan dalam penanganan
komplikasi kehamilan, penyiapan keluarga dan suami siaga dalam menyongsong kelahiran,
yang semuanya bertujuan untuk mengurangi Angka Kematian Ibu dan meningkatkan derajat
kesehatan reproduksi.
Cara Menghitung
Kemudian kematian ibu dapat diubah menjadi rasio kematian ibu dan dinyatakan per 100.000
kelahiran hidup, dengan membagi angka kematian dengan angka fertilitas umum. Dengan
cara ini diperoleh rasio kematian ibu kematian maternal per 100.000 kelahiran
Rumus
Jumlah Kematian Ibu
AKI = ×K
Jumlah Kelahiran Hidup
Dimana:
 Jumlah Kematian Ibu yang dimaksud adalah banyaknya kematian ibu yang disebabkan
karena kehamilan, persalinan sampai 42 hari setelah melahirkan, pada tahun tertentu, di
daerah tertentu.
 Jumlah kelahiran Hidup adalah banyaknya bayi yang lahir hidup pada tahun tertentu, di
daerah tertentu.
 Konstanta =100.000 bayi lahir hidup.

C. Angka Kematian Bayi (AKB)


 Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi
belum berusia tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi.
Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen
dan eksogen.
 Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neonatal; adalah
kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan, dan umumnya
disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang
tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan.
 Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal, adalah kematian bayi yang terjadi
setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-
faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.
 Kegunaan Angka Kematian Bayi dan Balita
 Angka Kematian Bayi menggambarkan keadaan sosial ekonomi masyarakat dimana
angka kematian itu dihitung. Kegunaan Angka Kematian Bayi untuk pengembangan
perencanaan berbeda antara kematian neo-natal dan kematian bayi yang lain. Karena
kematian neo-natal disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan kehamilan
maka program-program untuk mengurangi angka kematian neo-natal adalah yang
bersangkutan dengan program pelayanan kesehatan Ibu hamil, misalnya program
pemberian pil besi dan suntikan anti tetanus.
 Sedangkan Angka Kematian Post-NeoNatal dan Angka Kematian Anak serta Kematian
Balita dapat berguna untuk mengembangkan program imunisasi, serta program-program
pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak, program penerangan tentang gisi
dan pemberian makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun.
Definisi
Angka Kematian Bayi (AKB) adalah banyaknya kematian bayi berusia dibawah satu tahun, per
1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu.
Cara Menghitung:
D 0 −¿ 1 th
AKB= ¿K
∑ Lahir Hidup
 AKB = Angka Kematian Bayi / Infant Mortality Rate (IMR)
 D 0-<1th = Jumlah Kematian Bayi (berumur kurang 1 tahun) pada satu tahun tertentu di
daerah tertentu.
 ∑lahir hidup = Jumlah Kelahiran Hidup pada satu tahun tertentu di daerah tertentu (lihat
modul fertilitas untuk definisi kelahiran hidup).
 K = 1000
Sumber Data
Data mengenai jumlah anak yang lahir jarang tersedia dari pencatatan atau registrasi
kependudukan, sehingga sering dibuat perhitungan/estimasi tidak langsung dengan program
"Mortpak 4". Program ini menghitung AKB berdasarkan data mengenai jumlah Anak yang
Lahirkan Hidup (ALH) atau Children Ever Born (CEB) dan Jumlah Anak Yang Masih Hidup (AMH)
atau Children Still Living (CSL) (catatan: lihat definisi di modul fertilitas).
D. Angka Kematian Neonatal (AKN) : Jumlah kematian bayi usia 0 – 1 bln.
Definisi
Angka Kematian Neo-Natal adalah kematian yang terjadi sebelum bayi berumur satu bulan atau
28 hari, per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu.
Rumus

Angka Kematian Neo−natal=


∑ D 0−¿ 1 bulan ×K
∑ LahirHidup
Keterangan :
 Angka Kematian Neo-Natal =Angka Kematian Bayi umur 0 - < 1bulan
 ∑ D 0-<1bulan = Jumlah Kematian Bayi umur 0 - kurang 1 bulan pada satu tahun tertentu di
daerah tertentu.
 ∑ lahir hidup = Jumlah Kelahiran hidup pada satu tahun tertentu di daerah tertentu
 K = 1000

E. Angka Kematian Postneonatal (AKP)


Definisi
Angka Kematian Post Neo-natal atau Post Neo-natal Death Rate adalah kematian yang terjadi
pada bayi yang berumur antara 1 bulan sampai dengan kurang 1 tahun per 1000 kelahiran hidup
pada satu tahun tertentu.
Rumus

Angka Kematian Post Neo−natal=


∑ D 1 bulan−¿ 1 tahun ×K
∑ Lahir Hidup
Keterangan :
 Angka Kematian Post Neo-Natal = angka kematian bayi berumur 1 bulan sampai dengan
kurang dari 1 tahun
 ∑ D1bulan-<1tahun = Jumlah kematian bayi berumur satu bulan sampai dengan kurang dari
1 tahun pada satu tahun tertentu & daerah tertentu
 ∑ lahir hidup = Jumlah kelahiran hidup pada satu tahun tertentu & daerah tertentu
 K = konstanta (1000)

F. Angka Kematian Anak (AKA)


 Yang dimaksud dengan anak (1-4 tahun) disini adalah penduduk yang berusia satu sampai
menjelang 5 tahun atau tepatnya 1 sampai dengan 4 tahun 11 bulan 29 hari.
 Angka Kematian Anak mencerminkan kondisi kesehatan lingkungan yang langsung
mempengaruhi tingkat kesehatan anak. Angka Kematian Anak akan tinggi bila terjadi
keadaan salah gizi atau gizi buruk, kebersihan diri dan kebersihan yang buruk, tingginya
prevalensi penyakit menular pada anak, atau kecelakaan yang terjadi di dalam atau di sekitar
rumah (Budi Utomo, 1985)
Definisi
Angka Kematian Anak adalah jumlah kematian anak berusia 1-4 tahun selama satu tahun tertentu
per 1000 anak umur yang sama pada pertengahan tahun itu. Jadi Angka Kematian Anak tidak
termasuk kematian bayi.

Rumus

Angka Kematian Anak (1-4 ) th =


∑ Kematian Anak (1-4 )th ×K
∑ Penduduk (1-4 ) th
Dimana:
 Jumlah kematian Anak (1-4)th =Banyaknya kematian anak berusia 1-4 th (yang belum tepat
berusia 5 tahun) pada satu tahun tertentu di daerah tertentu.
 Jumlah Penduduk (1-4) th =jumlah penduduk berusia 1-4 th pada pertengahan tahun tertentu
didaerah tertentu
 K = Konstanta, umumnya 1000.

G. Angka Kematian Balita (AKBa)


Balita atau bawah lima tahun adalah semua anak termasuk bayi yang baru lahir, yang berusia 0
sampai menjelang tepat 5 tahun (4 tahun, 11 bulan, 29 hari). Pada umumnya ditulis dengan notasi
0-4 tahun.
Definisi
Angka Kematian Balita adalah jumlah kematian anak berusia 0-4 tahun selama satu tahun tertentu
per 1000 anak umur yang sama pada pertengahan tahun itu (termasuk kematian bayi)
Cara Menghitung

Angka Kematian Balita ( 0-4) th =


∑ Kematian Balita ( 0-4 )th ×K
∑ Penduduk Balita ( 0-4 )th
Dimana :
 Jumlah Kematian Balita (0-4)th = Banyaknya kematian anak berusia 0-4 th pada satu tahun
tertentu di daerah tertentu
 Jumlah Penduduk Balita (0-4)th = jumlah penduduk berusia 0-4 th pada pertengahan tahun
tertentu di daerah tertentu
 K = Konstanta, umumnya 1000.

7. Jelaskan target AKI dan AKB berdasarkan RPJMN 2015-2019?


Pembangunan kesehatan dan gizi masyarakat bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan
dan gizi masyarakat pada seluruh siklus kehidupan baik pada tingkat individu, keluarga, maupun
masyarakat.

Akselerasi Pemenuhan Akses Pelayanan Kesehatan Ibu, Anak, Remaja, dan Lanjut Usia yang
Berkualitas melalui:

a. Peningkatan akses dan mutu continuum of care pelayanan ibu dan anak yang meliputi
kunjungan ibu hamil, dan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih di fasilitas
kesehatan serta penurunan kasus kematian ibu di rumah sakit;
b. Peningkatan pelayanan kesehatan reproduksi pada remaja;
c. Penguatan Upaya Kesehatan Sekolah (UKS);
d. Penguatan Pelayanan Kesehatan Kerja dan Olahraga;
e. Peningkatan pelayanan kesehatan penduduk usia produktif dan lanjut usia;
f. Peningkatan cakupan imunisasi tepat waktu pada bayi dan balita; dan
g. Peningkatan peran upaya kesehatan berbasis masyarakat termasuk posyandu dan
pelayanan terintegrasi lainnya

Sumber: PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH
NASIONAL (RPJMN) 2015-2019

8. Apa penyebab kematian ibu dan kematian bayi?

Penyebab langsung kematian ibu

Secara global, lima penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan, hipertensi dalam kehamilan
(HDK), infeksi, partus lama/macet dan abortus. Kematian ibu di Indonesia tetap didominasi oleh
tiga penyebab utama kematian yaitu perdarahan, hipertensi dalam kehamilan (HDK) dan infeksi.
Proporsi ketiga penyebab kematian ini telah berubah, dimana perdarahan dan infeksi semakin
menurun sedangkan HDK dalam kehamilan proporsinya semakin meningkat, hampir 30 %
kematian ibu di Indonesia pada tahun 2011 disebabkan oleh HDK .
Gambar 1: Penyebab kematian Ibu

 Penyebab tidak langsung (indirek) kematian ibu


Definisi kematian ibu mengindikasikan bahwa kematian ibu tidak hanya mencakup
kematian yang disebabkan oleh persalinan tetapi mencakup kematian yang disebabkan
oleh penyebab non-obstetri. Sebagai contoh adalah ibu hamil yang meninggal akibat
penyakit Tuberkulosis, Anemia, Malaria, Penyakit Jantung, dll. Penyakit-penyakit
tersebut dianggap dapat memperberat kehamilan meningkatkan resiko terjadinya
kesakitan dan kematian.

Proporsi kematian ibu indirek di Indonesia cukup signifikan yaitu sekitar 22% sehingga
pencegahan dan penanganannya perlu mendapatkan perhatian. Diperlukan koordinasi
dengan disiplin medis lainnya di RS atau antar RS, antara lain dengan Spesialis Penyakit
Dalam dan Bedah, dalam menangani kematian indirek.

Criteria terlambat :
 Terlambat memutuskan
 Terlambat mencapai tempat pelayanan kesehatan
 Terlambat mendapatkan fasilitas kesehatan
Criteria terlalu
 Terlalu muda (nikah muda)
 Terlalu tua
 Terlalu sering (sering hamil dan melahirkan)
 Terlalu dekat jarak kedua
Untuk ibu hamil :
 Kurangnya kesadaran dari ibunya
 Fasilitas pelayanan kesehatan
 Pendidikan ibu yg rendah
 Pendapatan perkapita
 Lifestyle
 Terdapat penyakit menular
 Kesediaan pangan
 Untuk kematian bayi :
 Endogen : faktor2 yg dibawa sejak lahir yg dibawa dari ibunya
 Eksogen : factor dari luar (higienis)

9. Masalah yang dapat muncul berkaitan dengan tingkat mortalitas?


Masalah yang muncul akibat tingkat mortalitas adalah :

 Semakin bertambahnya Angka Harapan Hidup itu berarti perlu adanya peran pemerintah di dalam
menyediakan fasilitas penampungan.
 Perlunya perhatian keluarga dan pemerintah didalam penyediaan gizi yang memadai bagi anak-anak
(Balita).
 Sebaliknya apabila tingkat mortalitas tinggi akan berdampak terhadap reputasi Indonesia dimata dunia

Sanusi, Sri Rahayu, and Mkes SKM. "Masalah Kependudukan di Negara Indonesia." Digited by USU Digial
Library  (2003).

Tingkat mortalitas penduduk dalam masa tertentu dapat mempengaruhi proses


pembangunan ekonomi di masa yang akan datang. Sedikitnya kuantitas serta
rendahnya kualitas sumberdaya manusia yang dimiliki suatu bangsa dapat
menjadi penghambat bagi bangsa itu sendiri dalam melaksanakan
pembangunan ekonomi. Selain itu, hubungan antara pembangunan ekonomi
dengan tingkat mortalitas penduduk sifatnya saling mempengaruhi (Arshia et’al,
2013). Menurut Sulaiman (2015) peran human capital dan teknologi dalam
menentukan pertumbuhan telah mengalami perdebatan untuk waktu yang lama,
dari dasar teoritis sampai pengujian empiris.

Tingkat mortalitas penduduk atau dalam hal ini tingkat kematian ibu memiliki pengaruh
terhadap pembangunan atau pertumbuhan ekonomi. Kematian atau mortalitas memiliki efek negatif
dan signifikan secara statistik pada pertumbuhan ekonomi, peningkatan satu standar deviasi pada
kematian memberikan pengaruh penurunan pertumbuhan ekonomi tahunan antara 0,8 dan 1,1 persen.
Tingkat kematian orang dewasa yang tinggi menginduksikan pelaku ekonomi untuk berinvestasi lebih
sedikit yang akan berdampak pada penurunan pertumbuhan ekonomi atau minimal tingkat kematian
orang dewasa yang tinggi telah menghambat pengembangan pertumbuhan ekonomi negara dan yang
paling buruk hubungan yang negatif antara kematian atau mortalitas dan pertumbuhan dapat
menyebabkan kemiskinan diri (Peter Lorentzen, John McMillan dan Romain Wacziarg, 2008). Yoses et’al
dalam Sede Igbaudumhe Peter dan Izilien Elizabeth I (2014) juga menyatakan bahwa angka kematian ibu
memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), yaitu kematian
ibu mengurangi PDB per kapita sebesar US $ 0,36 per tahun.
Sumber: Analisis Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi terhadap Tingginya Mortalitas Penduduk oleh Riyani
Suryaningsih Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang

10. Cara dan upaya untuk menanggulangi mortalitas?

Program Pembangunan Nasional. Selama ini upaya penurunan angka kematian bayi dan balita
merupakan salah satu prioritas dalam pembangunan kesehatan. Dalam dokumen Propenas 2000–
2004, upaya-upaya ini termasuk dalam tiga program kesehatan nasional, yaitu:
 Program Lingkungan Sehat, Perilaku Sehat dan Pemberdayaan Masyarakat;
 Program Upaya Kesehatan; serta
 Program Perbaikan Gizi Masyarakat.

Strategi dan usaha untuk mendukung upaya penurunan kematian bayi dan balita antara lain
adalah meningkatkan kebersihan (hygiene) dan sanitasi di tingkat individu, keluarga, dan
masyarakat melalui
 penyediaan air bersih,
 meningkatkan perilaku hidup sehat
 kepedulian terhadap kelangsungan dan perkembangan dini anak;
 pemberantasan penyakit menular,
 meningkatkan cakupan imunisasi
 meningkatkan pelayanan kesehatan reproduksi termasuk pelayanan kontrasepsi dan ibu,
 menanggulangi gizi buruk, kurang energi kronik dan anemi, serta promosi pemberian ASI
ekslusif dan pemantauan pertumbuhan.
 Jaring Pengaman Sosial antara lain dengan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan gratis bagi
ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi untuk keluarga miskin, serta bantuan pembangunan
sarana kesehatan.

Peraturan perundangan
Dengan ditetapkannya UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, kesempatan anak
Indonesia untuk hidup sehat, tumbuh, dan berkembang secara optimal menjadi semakin terbuka.
Dalam undang-undang itu dinyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pelayanan
kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental spiritual, dan sosial.
Program Nasional bagi Anak Indonesia. Merujuk pada kebijakan umum pembangunan kesehatan
nasional, upaya penurunan angka kematian bayi dan balita merupakan bagian penting dalam
Program Nasional Bagi Anak Indonesia (PNBAI) yang antara lain dijabarkan dalam Visi Anak
Indonesia 2015 untuk menuju anak Indonesia yang sehat. Strategi nasional bagi upaya penurunan
kematian bayi dan balita adalah
 pemberdayaan keluarga,
 pemberdayan masyarakat,
 meningkatkan kerja sama dan kordinasi lintas sektor, dan
 meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan anak yang komprehensif dan berkualitas
http://www.bappenas.go.id/index.php?
Adapun beberapa kebijakan pemerintah Indonesia untuk menurunkan angka mortalitas
sebagai berikut.
a. Kebijakan Sanitasi
Sanitasi adalah usaha dalam menciptakan suatu keadaan atau perilaku hidup sehat dengan
mengutamakan kebersihan dan kesadaran masyarakat dalam melakukan aktivitas maupun
perilaku yang mana untuk menghidarkan gangguan penyakit seperti diare. Sanitasi
lingkungan adalah status kesehatan suatu lingkungan yang mencakup perumahan,
pembuangan kotoran, penyediaan air bersih dan sebagainya.
Kebijakan sanitasi merupakan salah satu kebijakan dalam menurunkan angka
kematian khususnya bayi dan balita. Lingkungan dengan sanitasi yang buruk dapat
menjadi sumber berbagai penyakit yang dapat mengganggu kesehatan manusia seperti
diare dan berujung pada berkurangnya kesejahteraan manusia. Penyakit diare merupakan
salah satu penyakit utama yang menyebabkan kematian anak berusia dibawah 5
tahun, sehingga kebersihan memiliki peranan yang penting untuk dapat mengatasi
penyakit ini.

Adapun beberapa kebijakan menuju Universal Access yaitu :


1. Menjamin ketahanan air melalui peningkatan pengetahuan, perubahan sikap dan
perilaku dalam pemanfaatan air minum dan pengelolaan sanitasi.
2. Penyediaan infrastruktur produktif melalui penerapan manajemen aset baik di
perencanaan, penganggaran, dan investasi serta pemeliharaan dan pembaharuan
infrastruktur terbangun
3. Penyelenggaraan sinergi air minum dan sanitasi yang dilakukan di tingkat nasional,
provinsi, kabupaten/kota, dan masyarakat
4. Peningkatan efektifitas dan efisiensi pendanaan infrastruktur air minum dan sanitasi
melalui sinergi dan koordinasi antar pelaku program dan kegiatan

b. Kebijakan Vaksin
Vaksin adalah produk biologis yang terbuat dari kuman, komponen kuman yang telah
dilemahkan atau dimatikan yang berguna untuk merangsang timbulnya kekebalan
spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu. Semua vaksin merupakan produk biologis
yang rentan sehingga memerlukan penanganan khusus. Berselang suatu waktu, vaksin
akan kehilangan potensinya, yaitu kemampuan untuk memberikan perlindungan terhadap
suatu penyakit. Hal ini disebabkan oleh pengaruh suhu dan pengaruh matahari

c. Kebijakan Imunisasi
Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang
secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila terpapar dengan penyakit tersebut
tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan. Imunisasi secara umum terbagi
menjadi dua yaitu wajib dan pilihan. Selanjutnya, imunisasi wajib terbagi lagi menjadi
imunisasi rutin, tambahan dan khusus. Imunisasi rutin diimplementasikan menjadi
imunisasi dasar atau yang Lima Imunisasi dasar Lengkap (LIL) dan imunisasi lanjutan.