Anda di halaman 1dari 54

MAKALAH

ZOOLOGI VERTEBRATA TENTANG PISCES


“CHONDRICHTHYES”
(Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Zoologi Vertebrata)

Dosen Pembimbing :

DR. Jefry Jack Mamangkey M.si


IR. Stella Taulu M.si

Disusun Oleh

Josua Mahendra Gigir ( 18 507 049)


UNIVERSITAS NEGERI MANADO
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
2020

KATA PENGANTAR

Syaloom, salam sejahtera bagi kita semua.


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan kami kemudahan,sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Zoologi Vertebrata
dengan topik Pisces yang berjudul “Chondrichthyes” dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan
Tuhan tentunya kami tidak dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini kiranya
juga tak akan selesai tanpa bantuan dari beberapa pihak yang terus memberi dorongan kepada
kelompok untuk menyelesaikannya.

Terima kasih kelompok haturkan kepada Bapak DR. Jefry Jack Mamangkey ,M.si beserta
Ibu IR Stella Taulu, M.si yang senantiasa membimbing kelompok didalam kelas dan cara yang
benar dalam penyusunan makalah.Tanpa adanya bimbingan dari beliau,kelompok kiranya tidak
akan mampu menyelesaikan makalah ini.

Apabila ada kesalahan yang terdapat dalam penyusunan makalah ini, izinkan kelompok
menyampaikan permohonan maaf. Karena kelompok sadari masih ada kekurangan dalam
penyusunan makalah ini. Sebab, kami dari kelompok masih dalam tahap proses belajar dalam
penyusunan suatu makalah.

Harapan kami kelompok dikemudian hari, makalah ini bisa menjadi referensi dan bahan
pembelajaran bagi siapa saja yang membaca, khususnya bagi mahasiswa yang akan menjadi
seorang guru untuk dapat mengerti serta memahami pentingnya materi zoologi vertebrata.

Tondano, 27 April 2020

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................................... i
DAFTAR ISI ...........................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................................................
B. Rumusan Masalah ...................................................................................................
C. Tujuan .....................................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN

A. Karakteristik Chondrichthyes ......................................................................................


B. Struktur Chondrichthyes.................................................................................

C. Fisiologi Chondrichthyes................................................................................
D. Klasifikasi Chondrichthyes .................................................................
E. Ekologi Chondrichthyes ..................................................................................
F. Peranan Chondrichthyes …………………………………..

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan .................................................................................................................
B. Saran ..........................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ...................................................


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pisces adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah dingin) yang hidup di air dan
bernapas dengan insang. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling beraneka ragam
dengan jumlah spesies lebih dari 27,000 di seluruh dunia, biasanya ikan dibagi menjadi ikan
tanpa rahang (kelas Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan ikan hag), ikan bertulang rawan
(kelas Chondrichthyes, 800 spesies termasuk hiu dan pari), dan sisanya tergolong ikan bertulang
keras (kelas Osteichthyes). Ikan memiliki bermacam ukuran, mulai dari hiu paus yang berukuran
14 meter (45 ft) hingga stout infantfish yang hanya berukuran 7 mm (kira-kira ¼ inci). Pisces
adalah mahluk hidup vertebrata dan merupakan yang paling sukses di habitat perairan di seluruh
dunia. Superkelas Pisces dibagi menjadi dua subkelas yaitu Agnatha (vertebrata tanpa rahang)
dan Gnathostoma (vertebrata yang memiliki rahang). Semua superclass Agnatha adalah tidak
berahang dan beberapa superclass Gnathostoma (vertebrata berahang) yaitu Kelas Acanthodia,
Kelas Placodermi, Kelas Osteichthyes ( Ikan Bertulang), Kelas Chondrichtyes atau ikan
bertulang rawan. Menurut Helfman et al., tahun 2009 menyatakan ada sekitar 28.000 spesies
ikan hidup dengan jumlah sekitar 1000 bersifat cartilaginous (hiu, skates, pari), 108 jenis ikan
tidak berahang (hagfish, lamprey), dan 26.000 sisanya adalah ikan bertulang. Nenek moyang
ikan berasal dari 500 juta tahun yang lalu yang dibuktikan dengan adanya fosil.

Pisces dapat ditemukan di hampir semua “genangan” air yang berukuran besar baik air
tawar, air payau maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari dekat permukaan hingga
beberapa ribu meter di bawah permukaan. Namun, danau yang terlalu asin seperti Great Salt
Lake tidak bisa menghidupi ikan. Ada beberapa spesies ikan dibudidayakan untuk dipelihara
untuk dipamerkan dalam akuarium. Ikan adalah sumber makanan yang penting. Hewan air lain,
seperti moluska dan krustasea kadang dianggap pula sebagai ikan ketika digunakan sebagai
sumber makanan. Pisces adalah sebutan umum yang dipakai untuk ikan atau sebagai nama super
kelas, dan nama ini diambil dari bahasa latin. Ichtyes juga berarti ikan berasal dari bahasa
Yunani dan ini dipakai dalam Ichtyoplogy yang berarti ilmu yang mempelajari tentang ikan. Ikan
itu vertebrata aquatis dan bernafas dengan insang (beberapa jenis ikan bernafas dengan alat
tambahan berupa modifikasi gelembung renang/ gelembung udara). Mempunyai otak yang
terbagi menjadi regio-regio. Otak itu dibungkus dalam kranium (tulang keras) yang berupa
kartilago (tulang rawan) atau tulang menulang.

Dikenal 4 kelas ikan dan vertebrata sejenis ikan, antara lain kelas Agnatha atau vertebrata
tidak berahang yang diwakili Ostrachodermi (punah) dan yang masih ada adalah Cyclostomata
(lamprey dan hag fishes), ikan purba berahang keras Placodermi (punah), kelas Chondrichthyes
atau ikan tulang rawan (ikan hiu, pari dan chimaera) dan kelas Osteichthyes atau ikan tulang
sejati. Dua kelas terakhir dikelompokkan dalam superkelas pisces.

Perbedaan pokok secara morfologi luar antara ikan bertulang sejati (osteichthyes) dengan
ikan bertulang rawan (chondrichthyes) antara lain ada tidaknya tutup insang. Bila terdapat tutup
insang termasuk ke dalam ikan bertulang sejati, bila tidak ada tutup insang dan hanya berupa
celah insang termasuk ke dalam ikan bertulang rawan. Pada ikan bertulang rawan berdasarkan
bentuk badan dan letak celah insang, dibedakan menjadi ikan dengan bentuk badan pipih
dorsiventral dan celah insang dibagian ventral termasuk ke dalam jenis ikan pari (Rajiformes)
sedangkan ikan dengan bentuk gilig dengan celah insang di samping kanan dan kiri kepala
termasuk ke dalam jenis hiu (Squaliformes).

Pada ikan bertulang rawan (chondrichthyes) kulitnya tegar dan diliputi oleh sisik placoid
dengan banyak kelenjar mukosa, mulut terlatak sebelah ventral dari kepala. Juga merupakan
vertebrata rendah yang memiliki columna vertebralis sempurna yang terpisah satu sama lain
sehingga mudah membengkokkan tubuhnya. Kecuali itu telah memiliki tulang rahang dan
beberapa pasang appendage berupa pina (sirip). Hampir semuanya predacious, hidup di laut.
Nenek moyangnya dikenal dari fosil-fosil  yang berupa sisa-sisa tulang gigi, tulang jari sirip dan
sisik.
Chondrichthyes modern meliputi ikan hiu dan pari. Endoskeleton ikan tersebut tersusun
oleh tulang rawan. Menurut Kimball (1999) pada ikan bertulang rawan (chondrichthyes) kulitnya
tegar dan diliputi oleh sisik placoid dengan banyak kelenjar mukosa, mulut terlatak sebelah
ventral dari kepala. Juga merupakan vertebrata rendah yang memiliki columna vertebralis
sempurna yang terpisah satu sama lain sehingga mudah membengkokkan tubuhnya. Kecuali itu
telah memiliki tulang rahang dan beberapa pasang appendage berupa pina (sirip). Hampir
semuanya predacious, hidup di laut. Nenek moyangnya dikenal dari fosil-fosil  yang berupa sisa-
sisa tulang gigi, tulang jari sirip dan sisik.

Chondrichthyes atau  ikan bertulang rawan adalah ikan berahang, mempunyai sirip


berpasangan, lubang hidung berpasangan, sisik, jantung beruang dua, dan rangka yang terdiri
atas tulang rawan bukan tulang sejati. Mereka dibagi menjadi dua subkelas: Elasmobranchii (hiu,
pari dan skate) and Holocephali (kimera, kadang-kadang disebut hiu hantu, dan kadang
dipisahkan menjadi kelas tersendiri). Rangkanya bertulang rawan. Notokorda, yang ada pada
yang muda, lambat laun digantikan oleh tulang rawan. Chondrichthyes juga tidak punya rusuk,
maka jika mereka keluar dari air, berat tubuh dari spesies besar dapat menghancurkan organ
dalam mereka sendiri lama sebelum mereka lemas (Keeton et al, 1986).

Berdasarkan uraian di atas, maka diperlukan pembahasan lebih lanjut mengenai spesies
dari Chondrichthyes agar kita mampu membedakan ikan bertulang rawan dengan ikan yang
lainnya serta spesifikasi mengenai hewan chondricthyes ini.

A. Rumusan Masalah

1. Apa Saja yang Menjadi Karakteristik dari Chondrichthyes?


2. Bagaimana Struktur Tubuh dari Chondrichthyes?
3. Bagaimana Fisiologi dari Chondrichthyes?
4. Apa Saja Klasifikasi pada kelas Chondrichthyes beserta contohnya?
5. Bagaimana Ekologi dari Chondrichthyes?
6. Apa Saja Peranan Chondrichthyes terhadap kehidupan manusia?

B. Tujuan

1. Mendefinisikan karakteristik dari Chondrichthyes


2. Menjelaskan struktur dari Chondrichthyes
3. Menjelaskan fisiologi dari Chondrichthyes
4. Menguraikan penggolongan pada kelas Chondrichthyes beserta contohnya
5. Menjelaskan ekologi dari Chondrichthyes
6. Menjelaskan peranan Chondrichthyes terhadap kehidupan manusia
BAB II
PEMBAHASAN

A. Karakteristik Chondrichthyes

Chondrichthyes berasal dari bahasa latin yaitu (chondros = tulang rawan; ichtyes=ikan),
yang artinya ikan bertulang rawan. Kelas ini merupakan vetebrata rendah. Ikan adalah anggota
vertebrata poikilotermik (berdarah dingin ) yang hidup di air dan bernafas dengan insang. Ikan
bertulang rawan adalah ikan berahang, mempunyai sirip berpasangan, lubang hidung
berpasangan, sisik, jantung beruang dua, dan rangka yang terdiri atas tulang rawan bukan tulang
sejati. Mereka dibagi menjadi dua subkelas: Elasmobranchii (hiu, pari dan skate) and
Holocephali (kimera, kadang-kadang disebut hiu hantu, dan kadang dipisahkan menjadi kelas
tersendiri).

Chondrichthyes memiliki tulang kartilago cranium sempurna, organ pembau dan kapsul
otik tergabung menjadi satu. Kartilago palate-quadrat dan kartilago Meckel adalah tulang rawan
yang akan membentuk rahang atas dan rahang bawah. Kelas Chondrichthyes yaitu ikan-ikan
yang kerangkanya berupa tulang rawan dan sesungguhnya tulang rawan ini bukan menunjukkan
keprimitifannya melainkan merupakan ciri sekunder.

Vertebrata kelas Condrichtyes, hiu dan kerabatnya disebut ikan bertulang rawan karena
mereka memiliki endoskeleton yang relatif lentur yang terbuat dari tulang rawan dan bukan dari
tulang keras. Namun demikian, pada sebagian besar spesies, beberapa bagian kerangka diperkuat
oleh butiran berkalsium. Terdapat sekitar 750 spesies yang masih hidup dalam kelas ini. Rahang
dan sirip berpasanagan berkembang dengan baik pada ikan bertulang rawan. Subkelas yang
paling besar dan paling beraneka ragam terdiri dari hiu dan ikan pari.

Chondrichthyes seperti dijelaskan diatas memiliki rangka yang terdiri dari tulang rawan.
Notokorda, yang ada pada hewan yang muda lambat laun akan digantikan oleh tulang rawan.
Chondrichthyes juga tidak punya rusuk, maka jika mereka keluar dari air, berat tubuh dari
spesies besar dapat menghancurkan organ dalam mereka sendiri lama sebelum mereka lemas.
Mulut Chondrichthyes terletak di bagian bawah (ventral) dengan lidah dan rahang. Rahang
tertutup oleh gigi. Kulit tubuhnya rertutup oleh sisik-sisik plakoid yang kasar, berisi dentin
(mesodermal) dan dilapisi dengan email (ektodermal). Otot-otot tubuh memiliki segmen
(miotom). Ciri tubuhnya berbeda dengan ikan bertulang sejati, yaitu mereka tidak memiliki
kelenjar renang. Kelenjar renang ini penting untuk membantu ikan mengapung. Karena ikan
bertulang rawan tidak memilikinya, maka ia harus terus bergerak agar dapat mengapung.
Chondrichthyes memiliki dua pasang sirip dengan sirip ekor yang pada umumnya hereroserkal
(lobus dorsal lebih besar). Chondrichthyes merupakan salah satu hewan yang paling purba yang
sebagian besar tubuhnya tidak mengalami evolusi. Alat pencernaan pada chondrichthyes lengkap
mulai dari mulut, faring, esofagus, lambung, usus, rektum, dan kloaka. Kloaka merupakan
lubang keluar dari sistem pencernaan, sistem ekskresi, dan sistem reproduksi. Lubang hidung
berpasangan dan berfungsi untuk indra penciuman. Alat kelamin terpisah dan fertilisasi terjadi
secara eksternal atau internal. Chondrichthyes bersifat ovipar atau ovovivipar. Karena tidak
memiliki sumsum tulang, sel darah merah diproduksi di limpa dan jaringan khusus di
kelaminnya. Mereka juga menghasilkan organ yang disebut Organ Leydig yang hanya ditemukan
pada ikan bertulang rawan, meski beberapa tidak memilikinya. Organ unik lain adalah organ
epigonal yang mungkin berperan dalam sistem kekebalan. Subkelas Holocephali, grup yang
sangat terspesialisasi, tidak mempunyai kedua organ ini. Salah satu spesies Chondrichthyes yang
paling dikenal adalah Hiu. Hiu memiliki penglihatan yang tajam, tetapi tidak dapat membedakan
warna. Lubang hidung berfungsi sebagai indra penciuman, bukan untuk proses pernapasan. Hiu
merupakan hewan ovovivipar. Telur dibuahi secara internal dan tetap berada di dalam oviduk
(saluran telur). Embrio di dalam telur mendapatkan makanan dari kuning telur dan berkembang
menjadi anak hiu. Telur kemudian menetas di dalam uterus dan lahirlah anak hiu. Hiu jantan
memiliki alat kopulasi yang disebut klasper. Klasper berupa sepasang penjepit pada sirip pelvis
untuk memindahkan sperma ke dalam saluran reproduksi betina.

Ciri-ciri umum dari Chondrichthyes diantaranya yaitu (Simatupang, H., 2010) :

1.      Rangka tulang rawan ; Kerangka bertulang rawan pada ikan-ikan kelas ini adalah
karakteristik yang diperoleh, bukan karakteristik primitif. Hal itu disebabkan leluhur
Chondrichthyes ternyata memiliki kerangka bertulang keras dan kerangka bertulang rawan yang
merupakan karakteristik kelas itu berkembang setelahnya. Selama perkembangan sebagian besar
vertebrata, mula-mula kerangka tersusun atas tulang rawan, kemudian menjadi tulang keras
(mengeras) seiring dengan mulai digantinya matrik tulang rawan yag lunak dengan matrik
kalsium fosfat yang keras (Neil A. Campbell, 2003)
2.      Ada yang bersisik dan ada pula yang tidak
3.      Celah insang ada satu pasang, lima pasang dan tujuh pasang
4.      Letak celah insang lateral dan ventral
5.      Mulut terletak pada sisi ventral
6.      Ada yang mempunyai spirakulum dan ada yang tidak
7.      Sirip berpasangan
8.      Tidak memiliki gelembung udara
9.      Lubang hidung sepasang
10.  Seks terpisah, fertilisasi (pembuahan) terjadi di dalam tubuh; ovipar, vivipara, dan
ovovivipar

Ciri-ciri Khusus dari Chondrichthyes :

a. Kulit keras, dengan sisik plakoid kecil dan banyak kelenjar mukosa, terdapat sirip median
dan sisrip berpasangan, semua ditopang oleh jejari sirip, sirip pelvic dengan klasper pada
jantan.
b. Mulut ventral, dengan banyak gigi yang terlapisi email, kantung olfaktori berjumlah 2
(atau 1), tidak terhubung dengan rongga mulut, dengan rahang bawah dan atas, usus
dengan katup spiral.
c. Kerangka bertulang rawan, tidak ada tulang yang berpasangan, cranium bergabung dengan
kapsul indra yang berpasangan, notokorda bertahan, tulang belakang banyak, lengkap, dan
terpisah.
d. Jantung beruang dua (1 atrium, 1 ventrikal), dengan sinus venosus dan konus arteriosus,
hanya mengandung darah vena, beberapa pasang lengkung aorta, sel darah merah berinti
dan berbentuk oval.
e. Respirasi dengan menggunakan 5 atau 7 pasang insang, masing-masing terdapat pada
belahan yang terpisah ( 3 pasang pada chimaera ).
f. Sepuluh pasang sarap cranial, setiap organ auditori dengan tiga kanalis semisirkularis.
g. Suhu tubuh bervariasi ( poikiloterm).
Jenis kelamin terpisah, gonad berpasangan secara khas, saluran reproduksi melepaskan
isinya ke kloaka, fertilisasi internal, ovipar atau ovovivipar, telur besar, dengan banyak
kuning telur, segmentasi meroblastik, tidak ada membran embrionik, perkembangan
langsung, tidak mengalami metamorphosis. Contoh Pari, Hiu.

Chondrichthyes berasal dari kata chondros atau cartilage yang berarti tulang rawan dan
Ichthyes yang berarti ikan. Jadi, chondrichtyes atau ikan bertulang rawan adalah ikan berahang,
mempunyai dua pasang sirip dan sirip caudal kebanyakan heteroserkal (lobus dorsal lebih besar),
lubang hidung berpasangan, celah insang berjumlah lima, lengkung insang berupa tulang rawan
dan di tengah-tengahnya mengandung arteri dari saraf dan dihubungkan oleh jaringan pengikat,
habitat di laut, dan rangka yang terdiri atas tulang rawan bukan tulang sejati.

B. Struktur Chondrichthyes
Morfologi pada kelas Chondichtyes dideskripsikan berdasarkan perwakilan kelas yaitu
ikan hiu. Hiu memiliki sirip ekor heterocercal yang di gunakan untuk berenang, celah insang
lateral, terdapat spirakel di belakang mata, sirip terdiri atas sepasang sirip dada (pectoral) dan
sirip perut (pelvic), satu atau dua sirip punggung (dorsal), satu sirip ekor, kadang-kadang
terdapat sepasang sirip dubur (anal). Hiu adalah sekelompok ikan dengan kerangka tulang rawan
yang lengkap dan tubuh yang ramping. Mereka bernapas dengan menggunakan lima liang insang
(kadang-kadang enam, tujuh tergantung pada spesiesnya). Hiu mempunyai tubuh yang dilapisi
kulit dermal denticles untuk melindungi kulit mereka dari kerusakan, dari parasit dan untuk
menambah dinamika air. Hiu mempunyai beberapa deret gigi yang dapat di gantikan. Selain ikan
hiu, ada pula ikan pari yang mempunyai ciri khas yaitu memiliki sirip pada dada yang lebar
mirip sayap. Hewan ini memiliki sengatan listrik hingga 300 volt yang dapat digunakan untuk
menangkap mangsa. Anggota ikan bertulang rawan (850 spesies) memiliki skeleton berupa
tulang rawan sebagai pengganti tulang keras. Pada kedua sisi faring terdapat lima hingga tujuh
celah insang dan tidak mempunyai tutup insang (operculum). Ikan bertulang rawan memiliki
dua tipe sisik, yaitu plakoid dan ganoid. Bagian dalam sisik plakoid disusun oleh bahan tulang
dan bagian luarnya disusun oleh bahan email (mirip email gigi manusia). Karena jika dilihat dari
dekat, bentuknya seperti gigi-gigi kecil (dermal denticles). Kulit pari sama dengan hiu, ditutupi
oleh sisik plakoid atau denticles dermal. Kulit mereka akan terasa mirip ampelas. Ikan hiu dan
ikan pari rahangnya bersendi pada tulang posterior atau pada elemen hiomandibula dari lengkung
insang ke-2. Secara embriologis, celah insang tumbuh sebagai hasil dari serentetan evaginasi
faring yang tumbuh keluar dan bertemu dengan invaginasi dari luar. Ikan hiu dan ikan pari
memiliki 5-7 pasang celah insang ditambah pasangan celah anterior non respirasi yang disebut
spirakel. Ikan hiu ataupun ikan bertulang rawan pada umumnya, tidak ditemukan struktur yang
mirip paru-paru.

Kelas Chondrichthyes memiliki anggota yang tubuhnya ditutupi dengan sisik kecil dan
dilengkapi dengan kelenjar lendir. Mulut berada pada bagian ventral, dilengkapi gigi yang kuat.
Lubang hidung terdiri atas dua buah atau sebuah, tidak behubungan dengan rongga mulut.
Chondrichthyes dilengkapi dengan rahang yang kokoh, Jantung terdiri atas satu ruang atrium dan
satu ruang ventrikel. Jantung dilengkapi dengan sinus venosus dan conus arteriosus yang berisi
darah.
Rangkanya bertulang rawan. Notokorda, yang ada pada yang muda, lambat laun
digantikan oleh tulang rawan. Chondrichthyes juga tidak punya rusuk, maka jika mereka keluar
dari air, berat tubuh dari spesies besar dapat menghancurkan organ dalam mereka sendiri lama
sebelum mereka lemas.

Karena tidak memiliki sumsum tulang, sel darah merah diproduksi di limpa dan jaringan
khusus di kelaminnya. mereka juga menghasilkan organ yang disebut Organ Leydig yang hanya
ditemukan pada ikan bertulang rawan, meski beberapa tidak memilikinya. Organ unik lain adalah
organ epigonal yang mungkin berperan dalam sistem kekebalan. Subkelas Holocephali, grup
yang sangat terspesialisasi, tidak mempunyai kedua organ ini.

Respirasi pada Chondrichthyes menggunakan 5 sampai 7 pasang insang. Temperatur


tubuh bersifat poikilothermal artinya temperatur sesuai dengan lingkunganya. Hewan ini
memiliki 10 pasang saraf kranial dan telinga dilengkapi tipa saluran semisirkuler. Contoh hewan
ini adalah Squalus acanthias (Ikan hiu).

Chondrichthyes memiliki skala toothlike disebut dentikel atau skala placoid. Dentikel
menyediakan dua fungsi, perlindungan, dan dalam kebanyakan kasus perampingan. Kulitnya liat,
dilindungi oleh sisik plakoid atau tanpa sisik yang kecil dan mempunyai banyak kelenjar mucus.
Memiliki sirip median dan sirip yang berpasangan. Mulut pada sisi ventral kepala, dengan gigi-
gigi yang dilapisi email, memiliki 2 atau 1 lekuk hidung yang tidak berhubungan dengan rongga
mulut, memiliki rahang atas dan rahang bawah intestinum dengan spiral valve. Hal ini
diasumsikan bahwa gigi lisan mereka berevolusi dari dentikel kulit yang bermigrasi ke dalam
mulut, tetapi bisa sebaliknya sebagai teleost ikan bertulang clupeoides Denticeps memiliki
sebagian besar kepalanya tertutup oleh kulit gigi (seperti halnya, mungkin, Atherion elymus ,
lain ikan bertulang). Ini adalah kemungkinan besar karakteristik berevolusi sekunder yang berarti
ada tidak selalu merupakan hubungan antara gigi dan timbangan dermal asli. Placoderms tidak
memiliki gigi sama sekali, tetapi terdapat lempeng tulang yang tajam dalam mulut mereka.
Dengan demikian, tidak diketahui mana gigi dermal atau lisan berevolusi pertama.

Kelas Chondrichthyes memiliki endoskeleton yang seluruhnya terdiri atas cartilago


dengan sedikit calsificasi, tetapi tulang sebenarnya tidak ada. Eksoskeleton yang terdiri atas sisik
placoid tractus digestivus, apparatus respiratorium, sistem radio vaskulator dan banyak lainnya
(Radiopoetra, 1993: h. 2). Sebagian besar hiu tubuhnya berbentuk spindle shape yang melancip
di kedua ujungnya. Ekornya heterocercal yang digunakan untuk berenang. Celah insang lateralal,
terdapat spirakel di belakang mata. Mempunyai hati yang di penuhi oleh minyak, sirir terdiri atas
sepasang sirip dada (pectoral) dan sirip perut (pelvic). Satu atau dua sirip punggung (dorsal), satu
sirip ekor, kadang-kadang terdapat sepasang sirip dubur (anal). Hiu adalah sekelompok sub ordo
Selachimorpha ikan dengan kerangka tulang rawan yang lengkap dan tubuh yang rramping
(Aimirawati, 2011). Ikan hiu dan pari terbesar adalah para pemakan-suspensi yang memangsa
plankton. Namun demikian, sebagian besar hiu adalah karnivora yang menelan mangsanya
secara utuh atau menggunakan rahang dan geliginya yang sangat tajam untuk menyobek daging
dari hewan yang terlalu besar untuk ditelan sekaligus. Geligi hiu mungkin berkembang dari sisik
yang bergerigi yang menutupi kulit kasarnya. Saluran pencernaan pada banyak hiu memiliki
proporsi yang lebih pendek dibandingkan dengan saluran pencernaan banyak vertebrata lain. Di
dalam usus halus hiu terdapat suatu katup spiral (spiral valve), yaitu penonjolan berbentuk
pembuka botol yang meningkatkan luas permukaan dan memperlema aliran makanan di
sepanjang saluran pencernaannya yang pendek.

Kulit keras mereka ditutupi dengan gigi dermal (lagi dengan Holocephali sebagai
pengecualian sebagai gigi hilang pada orang dewasa, hanya disimpan pada organ menggenggam
terlihat di depan laki-laki kepala), juga disebut skala placoid atau dentikel kulit , sehingga merasa
seperti amplas. Pada sebagian besar spesies, semua dentikel dermal berorientasi pada satu arah,
membuat kulit terasa sangat halus bila digosok dalam satu arah dan sangat kasar jika digosok
dengan arah yang lain. Kecuali Torpediniformes, yang memiliki tubuh yang tebal dan lembek,
dengan lembut, kulit longgar tanpa dentikel kulit dan duri. Awalnya girdle dada dan panggul,
yang tidak mengandung unsur kulit, tidak terhubung. Kemudian setiap pasangan sirip perut
menjadi tersambung di tengah ketika berevolusi. Dalam sinar , sirip dada telah tersambung ke
kepala dan sangat fleksibel. Salah satu karakteristik utama yang ada di kebanyakan hiu adalah
ekor heterocercal, yang membantu dalam memperoleh tenaga. Chondrichtyes tidak mempunyai
rusuk, maka jika mereka keluar dari air, berat tubuh dari spesies besar dapat menghancurkan
organ dalam mereka sendiri lama sebelum mereka lemas. Karena tidak memiliki sumsum tulang,
sel darah merah diproduksi di limfa dan jaringan khusus di kelaminnya. Mereka juga
menghasilkan organ yang disebut Organ Leydig yang hanya ditemukan pada ikan bertulang
rawan, meski beberapa tidak memilikinya. Organ unik lain adalah organ epigonal yang mungkin
berperan dalam sistem kekebalan. Subkelas Holocephali, grup yang sangat terspesialisasi, tidak
mempunyai kedua organ ini.

a)    Gigi
Gigi ikan hiu berkembang baik yang membuatnya ditakuti organisme lain. Gigi pada hiu
yang berada di gusi tidak menempel di rahang secara langsung dan gigi tersebut bisa diganti
setiap waktu. Di beberapa baris gigi pengganti tumbuh jalur di bagian dalam rahang dan terus
bergerak maju seperti ikat pinggang. Beberapa hiu dapat kehilangan sekitar 30.000 lebih gigi
semasa hidupnya. Tingkat pergantian gigi bervariasi dari sekali setiap 7-8 hari sampai beberapa
bulan. Pada sebagian besar spesies gigi yang diganti satu persatu, kecuali hiu cookiecutter yang
mengganti seluruh barisan gigi sekaligus.
Bentuk gigi hiu dipengaruhi pada pola makan. Misalnya hiu yang memakan moluska dan
crustasea memiliki gigi yang rata dan padat yang berguna untuk menghancurkan, hiu yang
memakan ikan-ikan memiliki gigi yang seperti jarum yang berguna untuk mencengkeram, dan
mereka yang memakan mangsa yang lebih besar seperti mamalia memiliki gigi yang lebih
rendah untuk mencengkeram dengan gigi atas berbentuk segitiga dengan tepi bergerigi untuk
memotong. Gigi pemakan plankton seperti Hiu basking dan hiu paus lebih kecil dan non-
fungsional. Bentuk gigi ikan pari dan chimaera, seperti lempengan yang berbentuk kerucut yang
berguna untuk menghancurkan molusca dan organisme bercangkang yang hidup di dasar laut.

b)        Kerangka
Hiu dan pari memiliki kerangka yang berbeda dengan ikan dan vertebrata daratan. Hiu
dan pari memiliki kerangka yg terbuat dari tulang rawan dan jaringan konektif, karena itu
keduanya memang tergolong pada kelas Chondrichthyes atau ikan bertulang rawan. Ikan
memiliki kerangka tulang sejati, sama dengan tulang yang dimiliki semua vertebrata daratan.
Tulang rawan atau cartilago merupakan kerangka yang lentur yang memiliki kepadatan setengah
dari tulang. Hal ini dapat mengurangi bobot kerangka, sehingga dapat menghemat energi
Chondrichthyes juga tidak punya rusuk, maka jika mereka keluar dari air, berat tubuh dari
spesies besar dapat menghancurkan organ dalam mereka sendiri lama sebelum mereka lemas.

c)        Rahang
Rahang hiu tidak melekat pada kranium. Permukaan rahang hiu dan lengkungan tulang
insangnya membutuhkan penopangan ekstra karena paparan yang berat untuk fisik hiu serta
butuh kekuatan yang besar. Bagian ini mengandung lapisan heksagonal piring kecil yang disebut
“tesserae”, yang merupakan blok Kristal garam kalsium yang diatur menjadi mosaik. Hal ini
memberikan banyak kekuatan pada daerah-daerah tertentu, yang juga sama seperti hewan lain.
Umumnya hiu hanya memiliki satu lapisan tesserae, tapi untuk spesies yang besar seperti hiu
banteng,hiu harimau, dan hiu putih besar, terdapat dua sampai tiga lapisan bahkan lebih,
tergantung ukuran tubuhnya. Khusus hiu putih besar, rahangnya dapat mencapai lima lapisan.
Pada moncongnya, tulang rawannya memiliki kemampuan spons dan fleksibel untuk menyerap
kekuatan tekanan.

d)      Ekor
Bentuk ekor hiu dipengaruhi lingkungan sehingga bentuknya bervariasi dari satu jenis
dengan jenis lainnya. Ekor berguna dalam memberi dorongan, memberi kecepatan dan
percepatan tergantung bentuk ekornya. Hiu memiliki sirip ekor heterocercal di mana bagian
punggungnya biasanya terasa lebih besar dibandingkan bagian ventral. Hal ini disebabkan ruas
tulang belakang hiu meluas ke bagian dalam punggung sehingga memberikan area permukaan
yang lebih besar untuk lampiran otot. Hal ini memungkinkan gerak yang lebih efisien pada ikan
bertulang rawan apung negatif. Sebaliknya, ikan memiliki tulang yang paling menyerupai sirip
caudal homocercal. Ekor hiu harimau memiliki lobus atas yang besar yang memberikan daya
maksimum untuk penjelajahan lambat atau ledakan kecepatan mendadak. Hiu harimau mampu
memutar dan mengubah arah di dalam air dengan mudah ketika berburu untuk mendukungnya
mendapat makanan, sedangkan porbeagle, yang berburu ikan bergerombolan seperti makarel dan
herring memiliki lobus yang lebih besar dan rendah untuk membantu mengimbangi kecepatan
renang mangsanya.

e)      Kepala
Terdapat reseptor medan elektromagnetik (disebut ampullae of Lorenzini) dan gerak
mendeteksi kanal di kepala hiu. Mereka berjumlah ratusan hingga ribuan. Hiu menggunakan
disebut ampullae of Lorenzini untuk mendeteksi medan elektromagnetik dimana semua makhluk
hidup menghasilkan. Ini membantu hiu (terutama hiu martil) mencari mangsa. Hiu ini memiliki
sensitivitas listrik terbesar binatang. Hiu mencari mangsa tersembunyi di pasir dengan
mendeteksi medan listrik yang mereka hasilkan. Arus laut bergerak dalam medan magnet Bumi
juga menghasilkan medan listrik yang digunakan oleh ikan hiu untuk orientasi dan navigasi.
Hiu memiliki indra penciuman yang tajam, yang terletak di saluran pendek (yang tidak menyatu,
tidak seperti ikan bertulang) antara bukaan hidung anterior dan posterior, dengan beberapa
spesies mampu mendeteksi sesedikit satu bagian per juta dari darah dalam air laut.

C. Fisiologi Chondrichthyes

Struktur internal tubuh hiu berbeda dengan ikan yang memiliki tulang sejati (tulang
keras). Salah satu perbedaan utama adalah bahwa semua hiu memiliki kerangka kartilago.
Penyayatan perut dari panggul sirip ke sirip dada organ pertama ditemui adalah hati. Hati
menempati sebagian besar rongga tubuh hiu. Hati hiu berukuran besar, lembut dan berminyak.
Organ ini terdiri dari hingga 25% dari total berat badan.

Hati hiu memiliki dua fungsi. Yang pertama adalah sebagai penyimpan energi karena
semua cadangan lemak disimpan di sini. Fungsi kedua hati adalah untuk organ hidrostatik.
Pelumas yang lebih ringan dari air disimpan dalam hati. Hal ini mengurangi kepadatan sehingga
memberikan daya apung tubuh untuk mencegah tenggelamnya hiu. Selain hati, lambung dapat
dilihat di dalam rongga tubuh. Di dalam perut hiu sering ditemukan isi makanan terakhir.

Perut hiu sendiri berakhir pada penyempitan yang disebut pilorus, yang mengarah pada
duodenum dan kemudian ke katup spiral usus. Katup spiral usus adalah organ yang digulung
secara internal berfungsi meningkatkan luas bidang permukaan untuk membantu penyerapan
nutrisi. Katup spiral usus bermuara di rektum dan anus yang pada gilirannya akan bermuara di
kloaka. Kloaka adalah ruang tempat saluran pencernaan, saluran kemih dan saluran kelamin yang
terbuka ke luar. Lambung, usus, dan organ dalam yang lain terdapat pada rongga tubuh yang
besar (selom). Selom dilapisi oleh membrane halus yang mengkilat yang disebut peritoneum,
yang juga melapisi organ-organ.organ0organ yang ditopang dari dinding middorsal selom oleh
mesenterium tipis, juga salah satui bentuk peritoneum. Septum transversal memisahkan selom
dari rongga yang mengandung jantung.

Di dalam rongga tubuh juga terdapat pankreas yang merupakan kelenjar pencernaan
dengan dua lobus merah muda. Selan itu terdapat dua organ lain yang tidak termasuk dalam
sistem pencernaan. Yang pertama adalah limpa, yang merupakan organ gelap di dekat perut yang
dimiliki oleh sistem limfatik. Yang kedua adalah kelenjar dubur, organ kecil yang terbuka oleh
saluran ke dalam anus. Karena berfungsi sebagai kelenjar garam, membuang kelebihan natrium
klorida (garam) dari darah.

1. Sistem Rangka

Chondrichthyes memiliki tulang kartilago cranium sempurna, organ pembau dan kapsul
otik tergabung menjadi satu. Kartilago palate-quadrat dan kartilago Meckel adalah tulang rawan
yang akan membentuk rahang atas dan rahang bawah. Kelas Chondrichthyes yaitu ikan-ikan
yang kerangkanya berupa tulang rawan dan sesungguhnya tulang rawan ini bukan menunjukkan
keprimitifannya melainkan merupakan ciri sekunder. Hiu dan pari memiliki kerangka yang
berbeda dengan ikan dan vertebrata daratan. Hiu dan pari memiliki kerangka yg terbuat dari
tulang rawan dan jaringan konektif, karena itu keduanya memang tergolong pada kelas
Chondrichthyes atau ikan bertulang rawan. Ikan memiliki kerangka tulang sejati, sama dengan
tulang yang dimiliki semua vertebrata daratan. Tulang rawan atau cartilago merupakan kerangka
yang lentur yang memiliki kepadatan setengah dari tulang. Hal ini dapat mengurangi bobot
kerangka, sehingga dapat menghemat energy. Chondrichthyes juga tidak punya rusuk, maka jika
mereka keluar dari air, berat tubuh dari spesies besar dapat menghancurkan organ dalam mereka
sendiri lama sebelum mereka lemas. Otak dan organ-organ sensori dibungkus dan dilindungi
oleh kondrokranium. Di bawahnya ada skeleton visceral yang terdiri dari rahang bawah dan
lengkung-lengkung insang.
Vertebrae 2 macam : batang dan ekor, masing-masing dengan lengkung-lengkung neural. Hanya
vertebra kaudal yang berisi lengkung-lengkung haemal. Sirip-sirip disokong oleh tulang rawan,
dan bagian distal diperkuat dengan jari-jari keratin. Ada sabuk-sabuk pectoral dan pelvic yang
berturut-turut menyokong sirip-sirip pectoral dan pelvic.

Ikan hiu dan ikan pari rahangnya bersendi pada tulang posterior atau pada elemen
hiomandibula dari lengkung insang ke-2. Umumnya struktur appendages (alat gerak) depan lebih
rumit daripada belakang. Alat gerak pada ikan berupa sirip. Tulang di bagian ventral dari pusat
sirip ikan hiu disebut korakoid, sedangkan yang memanjang kearah dorsal dibagian tepi sirip
disebut skapula. Tulang gigi kelompok ikan hiu ini berasal dari dermal. Sirip pada ikan pari
merupakan modifikasi dari beberapa tulang gigi yang hilang. Tulang-tulang bagian panggul pada
ikan lebih sederhana daripada bagian gelang bahu dan hampir melekat pada kolumna vertebralis.

2. Sistem Otot

Otot tubuh dan ekor merupakan karakter segmental dan berfungsi untuk menghasilkan
undulasi lateral batang tubuh dan ekor yang dibutuhkan untuk berenang. Otot yang lebih
terspesialisasi melayani sirip yang berpasangan, daerah insang, dan struktur kepala.
Fungsi utama sistem otot adalah untuk berbagai variasi gerak dari organ tubuh. Gerak otot yang
disengaja oleh ikan antara lain yaitu:
1.    menggerakan mata
2.    membuka dan menutup mulut
3.    membuka dan menutup insang
4.    menggerakan sirip ke atas atau ke samping
5.    melawan arus air

Jika dipotong tegak lurus dengan punggung, akan tampak otot-otot tersusun menurut
lingkaran lingkaran konsentris. Potongan otot yang melingkar ini tersusun dari arah kranial ke
kaudal berbentuk muskuli (berbentuk kerucut). Otot tersebut disebut miomer yang tersusun
segmental. Masing-masing miomer dibungkus dan dipisahkan oleh jaringan ikat miocommata.
(Sukiya, 2005). Pada ikan bertulang rawan dan sejati, otot aksial dipisahkan oleh septum lateral
(septrum horizontal) menjadi epaksial di bagian dorsal dan otot hipaksial dibagian ventral. Otot
epaksial diinervensi oleh percabangan dorsal saraf spinal sedangkan otot hipaksial diinervensi
oleh percabangan ventral saraf spinal. (Sukiya, 2005).

Otot-otot brankial berfungsi untuk menutup dan membuka lubang insang dan mulut,
terutama otot konstriktor (dorsal dan ventral) dan elevator. Otot ini diinervensi oleh saraf spinal.
Kelompok lain adalah otot hipobrankial yang memanjang di ventroanterior insang mulai dari
daerah korakoid sampai rahang dan bagian ventral arkus brankialis. Otot tersebut adalah otot
aksial yang berasal dari daerah brankiomerik, diinervasi oleh saraf spinal. Otot sirip pada ikan
yang paling banyak adalah berupa otot ektensor dorsal dan fleksor ventral. (Sukiya, 2005).
Otot-otot diseluruh tubuh secara teratur bersegmen (metamerik) disebut miotom. Otot-otot itu
bermodifikasi di kepala dan di apendiks.

3. Sistem Pencernaan

Sistem pencernaan pada Chondrichthyes terdiri dari mulut, faring, oesofagus yang pendek,
lambung, usus dan bermuara ke anus. Mulut yang lebar dibatasi oleh barisan transversal gigi
yang meruncing tajam; gigi ini tertanam di dalam daging pada rahang dan secara berkala
digantikan oleh barisan gigi baru dari belakang. Lidah yang rata menempel ke lantai mulut. Di
sisi faring yang lebar terdapat lubang yang mengarah ke celah insang dan spirakel yang terpisah.
Esofagus yang pendek mengarah ke lambung yang berbentuk J, yang berujung di otot sfringter
sirkular, katuk polarik. Usus mengikuti dan berhubungan langsung dengan kloaka serta anus. Di
usus terdapat sekat yang tersusun spiral, dilapisi dengan membrane mukosa, yang menunda
masuknya makanan dan menyediakan daerah absorbsi yang besar.

Hati yang besar terdiri atas dua lobus panjang, melekat di ujung anterior rongga tubuh.
Empedu dari hati mengumpul di kandung empedu yang kehijau-hijauan dan kemudian melintas
melalui saluran empedu ke bagian anterior usus. Pankreas terdapat di antara lambung dan usus,
salurannya bergabung dengan usus tepat di bawah saluran empedu. Kelenjar rektal yang
ramping, fungsinya tidak diketahui, melekat di dorsal penghubung antara usus dan kloaka.

Ikan hiu tidak memiliki gelembung renang tetapi mempunyai hati yang sangat besar
dengan kadar minyak yang sangat tinggi. Minyak ini disamping mengurangi kepadatan jaringan
juga merupakan persediaan energi yang penting.

4. Sistem Pernapasan atau Respirasi

Insang ikan bertulang rawan tidak mempunyai tutup insang (operkulum) misalnya pada
ikan hiu. Masuk dan keluarnya udara dari rongga mulut, disebabkan oleh perubahan tekanan
pada rongga mulut yang ditimbulkan oleh perubahan volume rongga mulut akibat gerakan naik
turun rongga mulut. Bila dasar mulut bergerak ke bawah, volume rongga mulut bertambah,
sehingga tekanannya lebih kecil dari tekanan air di sekitarnya. Akibatnya, air mengalir ke rongga
mulut melalui celah mulut yang pada akhirnya terjadilah proses inspirasi. Bila dasar mulut
bergerak ke atas, volume rongga mulut mengecil, tekanannya naik, celah mulut
tertutup, sehingga air mengalir ke luar melalui celah insang dan terjadilah proses ekspirasi CO2.
Pada saat inilah terjadi pertukaran gas O2 dan CO2.

Chondrichthyes bernapas melalui 5-7 insang , masing-masing berada di dalam celah yang
terpisah tergantung pada spesies. Secara umum, spesies pelagis harus tetap berenang untuk
menyimpan air beroksigen [bergerak melalui insang mereka sementara spesies demersal aktif
dapat memompa air di melalui spirakel mereka dan keluar melalui insang mereka. Spirakel
adalah lubang kecil ditemukan di balik setiap mata. Ini dapat mengecil dan melingkar, seperti
ditemukan di Nurse Shark (Ginglymostoma cirratum), dapat diperpanjang dan bercelah seperti,
seperti ditemukan di Wobbegongs (Orectolobidae). Banyak yang lebih besar, spesies pelagis
seperti Hiu Makarel (Lamnidae) dan Hiu Perontok (Alopiidae) tidak lagi memiliki spirakel.

Terdapat variasi perlengkapan insang pada berbagai ikan. Ikan hiu memiliki 5-7 pasang
celah insang ditambah pasangan celah anterior non respirasi yang disebut spirakel. Hemibrankhia
dipisahkan satu dengan lain oleh septum interbrankia yang tersusun dari lengkung kartilago.
Masing-masing septa brankhialis ini menutup bagian yang terbuka dari insang berikutnya kearah
posterior. Celah insang yang terakhir mengandung semibranch (setengah insang) pada dinding
anterior. Celah-celah insang lainnya baik di dinding anterior maupun posterior mempunyai
setengah insang. Jadi pada tiap sisi faring ada 9 buah setengah insang.
Disamping itu ada sisa insang (insang vestigial) yang disebut pseudobranch pada tiap
spirakulum. Pseudobranch adalah sepasang celah insang pertama dari 6 pasang celah insang pada
waktu embrio. Air masuk melalui mulut, melewati faring, lalu keluar melewati celah-celah
insang.

Ikan pari melakukan respirasi dengan membuka dan menghalau air ke dalam mulut dan
menekan keluar dengan kekuatan menutup mulut melalui celah insang dan spiracle, insangnya
terdiri atas filamen yang banyak mengandung pembuluh darah, meliputi Archus branchia,
Filamen branchia, Gill rakers.

5. Sistem Sirkulasi

Jantung terdapat di bawah daerah insang, dalam sebuah kantung perikardium; kantung
tersebut terdiri atas:
     

Sinus venosus, berdinding tipis yang menerima darah dari berbagai vena, diikuti oleh Atrium;
Ventrikel, berdinding tebal; dan Konus arteriorus, dari sini darah melintas secara anterior ke
aorta ventral , dari aorta ini lima pasang arteri brankial aferen terdistribusi ke kapiler insang
untuk aerasi, empat pasang arteri brankial aferen kemudian mengumpulkan darah ke aorta dorsal,
yang memanjang di sepanjang dinding middorsal selom.

Arteri utama terdiri atas:


Sepasang karotis eksternal dan internal di kepala;
Sepasang subklavia ke sirip pektoral;
Seliaka ke lambung, hati, dan usus;
Mesenterika anterior ke limpa besar yang meruncing dan bagian belakang usus;
Mesenterika posterior ke kelenjar rektal;
Beberapa renalis dan gonadika (ovarika atau spermatika) ke ginjal dan organ reproduksi; serta
Sepasang iliaka ke sirip pelvik. Di luar sirip pelvik terdapat aorta kaudal yang menyambung ke
ekor.

Pada sistem vena, darah di vena kaudal pada ekor diteruskan ke:
  Sepasang vena porta renalis ke ginjal. Darah yang lain dari daerah posterior melintas ke depan
dalam
  Sepasang vena postkardinal yang parallel dengan jantung dan pada
  Pasangan vena abdominal lateral di setiap sisi rongga tubuh
  Pasangan vena jugularis dan vena cardinal anterior mengembalikan darah dari daerah kepala
semua vena ini masuk ke dalam sinus besar yang terhubung ke sinuis venosus. Darah dari
saluran pencernaan mengalir dalam
  Vena porta hepatika untuk disaring melalui sinosuid seperti kapiler di hati kemudian di
kumpulkan di
  Vena hepatika yang bergabung dengan sinus venosus. Darah melinta melalui jantung, tetapi
hanya sekali setiap lintasan tubuh, seperti pada cylostomata serta sebagian besar ikan, dan darah
jantung semua tidak mengandung oksigen.

Dengan membuka dan menutup mulut, hiu memasukan air kedalam dan mendorong air
keluar melalui belahan insang dan spirakel. Insang yang melapisi lima pasang belahan terpisah
(dan spirakel) tersusun atas banyak filamen parallel ramping yang mengandung kapiler. Darah
dari aorta ventral melintas melalui kapiler ini, mengeluarkan karbondioksida dan mengabsorbsi
oksigen terlarut di air, dan kemudian berlanjut ke aorta  dorsal.

Jantung hanya mempunyai 1 atrium dorsal (aurikel) yang menerima darah dari sinus
venosus, dan satu ventrikel ventral yang memompa darah ke konus arteriosus. Dari konus itu
darah selanjutnya menuju aorta ventral yang lalu bercabang-cabang menjadi 5 buah arteri
brankial aferen, terus masuk ke dalam insang. Dalam insang terdapat kapiler-kapiler. Kapiler-
kapiler lalu bersatu membentuk aorta dorsalis, dan dari sini darah masuk kedalam seluruh tubuh.
Darah vena lalu kembali melalui 2 buah saluran Cuvier (yaitu vena cardinal umum) dan masuk
ke dalam sinus venosus. Saluran Cuvier itu bermuara dalam sinus venosus melalui vena cardinal
anterior dan vena cardinal posterior. Darah dari dinding saluran pencernaan masuk kedalam hati
melalui vena porta hepatis lalu ke sinus venosus melalui sinus-sinus hati. Vena porta renalis
membawa darah dari ujung posterior ke kapiler-kapiler mesonefros, dan dari ginjal ini darah
masuk ke vena cardinal posterior.

6. Sistem Ekskresi

Ikan hiu ataupun ikan bertulang rawan pada umumnya, tidak ditemukan struktur yang
mirip paru-paru. Sistem ekskresi ikan seperti juga vertebrata lain yang mempunyai banyak fungsi
antara lain untuk regulasi kadar air tubuh, menjaga keseimbangan garam dan mengeliminasi sisa
nitrogen hasil dari metabolism protein. Untuk itu berkembang tiga tipe ginjal yaitu pronefros,
mesonefros dan metanefros. Pada ikan hiu fungsi duktus gonad dan ginjal telah berkembang
dilengkapi dengan duktus urinaria. Ginjal ikan harus berperan besar untuk menjaga
keseimbangan garam tubuh. Dua ginjal yang ramping terdapat tepat dibawah selom di sepanjang
aorta dorsal. Urine dikumpulkan dalam tubulus segmental yang bergabung dengan saluran
longitudinal.

Vertebrata laut lainnya memecahkan masalah hidup didalam suatu lingkungan


hiperosmotik dengan cara berlainan. Ikan hiu menghasilkan ureasebagai limbah nitrogen dan
menahannya didalam cairan tubuh interna dalam konsentrasiyang begitu tinggi sehingga daya
tarik osmotik air kedalam berada dalam keseimbangan dengan difusi keluar, akibat kadar garam
luar yang lebih tinggi. Insangnya tidak permeabel terhadap urea seperti halnya pada insang
sebagian besar ikan lainnya.konsentrasi urea dalam cairan tubuh ikan hiu dapat mencapai 100
kali kadar pada mammalia, suatu tingkat yang jauh melebihi toleransi vertebrata lainnya. Garam
yang berakumulasi baik melalui makanan yang masuk maupun melalui difusi ke dalam melewati
permukaan seperti insang, dikeluarkan oleh ginjal dan oleh suatu kelinear khusus yang
mengekskresi garam yang terdapat dibagian kaudal usus hiu.

7. Sistem Saraf dan Indera

Sistem saraf pada hiu terdiri dari:


a). Systema nervossum central (SNC)yang terdiri dari otak dan medulla spinalis
b). Systema Nervossum Peripherium (SMP)yang terdiri dari 10 pasang nervus cranialis dan
nervus spinalis
c). Systema Nervus Otonom yang terdiri dari nervus sympaticus dan nervus parasympaticus yang
bekerja antagonis.

Sistem indera terdiri dari sacous olfactorius atau cekungan hidung, organon vesus atau mata,
organon auditorius yang berfungsi untuk mendengar, dan gurat sisi. Fungsi Alat Indra Ikan Hiu
Seperti halnya manusia, ikan hiu juga memiliki beberapa alat indra yang berguna untuk
pertumbuhannya, adapun alat indra tersebut memiliki fungsi sebagai:
1. Menghindar dari musuh
2. Berburu mangsa
3. Reproduksi / perkembang biakan

1. Indra Penglihatan (Mata Ikan Hiu)


Fakta yang terjadi dalam mata ikan hiu yaitu mereka dapat melihat 10 kali lipat lebih
tajam dibandingkan manusia. Ikan hiu dapat melihat dengan mata mereka pada siang dan malam
hari. Mata ikan hiu memiliki lapisan seperti pada mata kucing yaitu tapetum lucidum, dimana ini
adalah lapisan yang berfungsi untuk mengatur sistem pencahayaan di retina ikan hiu.
Ikan hiu dapat melihat meskipun pada pencahayaan minim di malam hari, hal ini dikarenakan
karena adanya proses pembesaran pupil pada mata hiu yang berguna untuk mengendalikan
cahaya. Indra penglihatan yang tajam membuat beberapa ikan hiu dapat melihat warna pada
malam hari. Letak posisi mata ikan hiu yang berada di samping kanan dan kiri membuat
jangakauan penglihatan ikan hiu lebih luas. Ada juga yang memiliki mata diatas kepala, hiu ini
biasanya hidup di dasar laut. Dan fakta membuktikan bahawa ikan hiu yang memiliki mata
disamping (mengejar mangsa) lebih tajam dari pada mata ikan hiu yang hidup di dasar
(menyergap mangsa). Terdapat kelopak mata ikan hiu yang tidak daapt bergerak, namuna ada
pula kelopak mata hiu yang dapat berkedip menurut jenisnya masing-masing, contohnya pada
jenis Carcharhinidae. Kelopak ini berfungsi juga sebagai pelindung mata ketika mereka sedang
memangsa.

2. Indra Penciuman / Bau (Hidung Hiu)


Ikan hiu memiliki kekuatan mencium yang istemewa, mereka dapat mencium bau bahkan
yang tidak menyengat sekalipun. Ikan hiu dapat mencium satu tetes darah yang sudah terbawa
arus hampir 2 mil jaraknya. Dari deteksi darah ini, hiu dapat mengetahui darah siapakah itu,
apakah ikan atau penyu. Hiu memiliki lubang hidung yang digunakan hanya untuk penciuman
bau dan bukan untuk bernafas. Ikan hiu akan mencari mangsa dengan gerakan dan bau untuk
mendeteksi lokasi mangsanya, namun ketika telah mendekati mangsanya ikan hiu menggunakan
indra penglihatannya untuk menangkap mangsa tersebut.
Tambahan: Ikan hiu akan menggunakan indra penciuman bau untuk menuju mangsa, ketika
ingin mencoba mangsa tersebut ikan hiu akan menggigitnya, namun jika tidak cocok maka akan
dimuntahkannya kembali.

3. Indra Perasa (Mulut Hiu)


Ikan hiu memiliki indra perasa yang bai, mereka dapat menentukan mana makanan yang
enak dan tidak menurut mereka. Jika mereka merasakan hal yang tidak enak, maka ikan hiu tidak
akan memakannya. Bagaimana jika ada botol, kaleng, plastik dalam perut hiu? Sangat sedikit
perut hiu yang berisikan barang tersebut, ini membuktikan hal itu hanya kebetulan saja.
Ikan hiu juga memiliki indra perasa di sekitar mulut hiu berupa bintik-bintik. Kehebatannya
adalah hiu dapat merasakan rasa dari benda tersebut hanya dengan mengesekan terlebih dahulu.
Jadi ada beberapa hiu yang sudah mendekat dan menempelkan mulutnya namun tidak menggit
benda itu, ini membuktikan bahwa ia dapat mengetahui rasa sebelum ia menggigitnya.

4. Indra Sentuhan (Kulit Hiu)


Ikan hiu dapat merasakan sentuhan dengan sangat sensitif, hal ini dikarenakan garis
lateral tulang rusuk ikan hiu. Ikan hiu memiliki sel yang berada di garis lateral tulang rusuk
kemudian yang menjalar di seluruh bagian tubuhnya. Indra sentuhan ini bukan memiliki funsi
lebih untuk mengetahui ukuran suhu, arus, dan aliran listrik yang terdapat di sekitar perairan
tersebut. Hal inilah yang membuat ikan hiu dapat dengan mudah mendeteksi gerakan listrik dari
hewan lain disekitarny, misalnya ia mengetahui gerakan ikan yang dapat menjadi mangsanya.
Selain berguna untuk memangsa, indra sentuhan pada kulit ikan hiu ini juga dapat mendeteksi
adanya ancaman dan kebutuhan reproduksinya yaitu menemukan pasangan disekitar mereka.

5. Indra Pendengaran (Telinga)


Ikan hiu ternyata memiliki telinga yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia. Karena
ikan hiu tidak memiliki daun telinga, hanya saja telinga ikan hiu berada di dalam kepala lebih
tepatnya di samping otak yang terhubungkan dengan garis lateral tulang rusuk.
Pendengaran ikan hiu sangat tajam, sehingga mampu mendengarkan rasa sakit ikan, ikan terjatuh
yang mungkin akan menjadi calon mangsanya. Terkadang ikan hiu menggunakan indra
pendengarannya untuk mencari mangsa, hal ini dikarenakan dalam air laju suara lebih cepat dan
luas dibandingakan didarat / atas air. Ikan hiu dapat mendengarkan denyutan dari ikan yang
sekarat, dan inilah mungkin yang akan menjadi mangsa dari ikan hiu. Penelitian membuktikan
bahwa ikan hiu senang dengan suara berfrekuensi 25-100 Hz, dan dapat mendengarkannya dari
jarak hingga 250 meter / 820 ft.

6. Indra Elektroreseptif (Sekitar Kepala Hiu)


Ikan hiu memiliki indra keenam yang mungkin jarang diketahui banyak orang. Indra
keenam tersebut adalah mengenai gerakan dorongan listrik tingkat kecil.
Banyak hewan yang mengeluarkan senyal listrik, dan inilah yang digunakan untuk ikan hiu
mendeteksi pergerakan dan lokasi mangsanya meskipun dari jarak yang jauh.
Indra ini adalah organ elektroreseptif yang disebut sebagai ampullae lorenzini. Ampullae
lorenzini tersebut berisikan jelly dan berbentuk lubang pori-pori. Pori-pori terbsebut berada
diarea kepala dan mulut bagian atas ikan hiu. Pori-pori indra listrik ini terhubung dengan ujung
saraf menuju otak.
Pada dasarnya setiap makluk dapat mengeluarkan medan listrik, dan hebatnya ikan hiu dapat
mendeteksi hal tersebut.
Ikan hiu terkadang memakan logam, hal ini dikarenakan logam dalam air laut akan
mengeluarkan listrik yang dapat membingungkan ikan hiu apakah itu mangsa atau bukan.

8. Sistem Reproduksi dan Perkembangan


Hiu secara seksual dimorfik dimana ada perbedaan visual antara jantan dan betina. Hiu
jantan memiliki panggul yang dimodifikasi menjadi claspers sirip pelvis yang digunakan untuk
pengiriman sperma. Gulungan Claspers terbentuk dari tulang rawan. Hiu jantan juga telah
memiliki testis. Testis internal terletak di ujung anterior tubuh di dalam rongga organ epigonal.
Kantung kemih dan saluran reproduksi bergabung bersama untuk membentuk sinus urogenital.
Dari sinus urogenitak ini akhirnya sperma dilepaskan ke dalam alur dari claspers dan kemudian
disampaikan ke betina selama kopulasi. Pada hiu betina memiliki ovarium internal yang
ditemukan di anterior dalam rongga tubuh dan berpasangan. Ovarium kiri sering lisis atau tidak
ada telur. Sekali telur dilepaskan dan dibuahi, sebuah horny shell atau membran dikeluarkan
disekitar membran ketika telur melewati kelenjar. Beberapa hiu menghasilkan sebuah shell yang
tangguh dan dapat melindungi anaknya. Dalam spesies lain telur berkenbang dan menetas
didalam rahim betina. Telur yang dihasilkan oleh tiap spesies sangat bervariasi. Ukuran diameter
telur hiu sekitar 60 atau 70 mm dan terbungkus dalam kulit hingga diameter keseluruhannya
dapat mencapai 300 mm. Selama sanggama hiu jantan dan betina berhadapan. Hiu jantan
memasukkan salah satu claspers ke dalam kloaka betina. Sperma terkandung dalam paket sperma
yang disebut spermatophores. Sperma ini kemudian disalurkan ke hiu betina melalui saluran
clasper. Perbedaan lain antara hiu jantan dan betina dari beberapa spesies ikan hiu adalah
ketebalan kulit mereka. Kulit hiu biru betina hampir dua kali lebih tebal dibandingkan hiu jantan.
Hal ini diyakini karena kekejaman perkawinan. Jantan akan sering menggigit betina selama
kopulasi sehingga meninggalkan hiu betina dengan keadaan luka. Tanpa ketebalan ekstra betina
kulit bisa terluka parah. Fertilisasi terjadi secara internal. Ikan hiu jantan mempunyai alat
kopulasi yang disebut klasper (penjepit). Yang betina mempunyai 2 ovarium di dekat ujung
anterior cavum abdominal. Telur yang masak melepaskan diri, menembus selaput ovarium, dan
masuk kedalam selom. Telur itu lalu ditarik masuk ke dalam ostium yang berbentuk corong,
kemudian masuk oviduk (ada dua). Ujung posterior oviduk itu masing-masing membesar
menjadi uterus. Dalam uterus embrio berkembang di dalam perut betina dan diberi makan
melalui plasenta, seperti pada mamalia sampai menjadi ikan hiu yang dapat berenang. Masa
kehamilan 10 sampai 12 bulan. Setelah anak hiu dilahirkan induk mereka tidak tinggal bersama
dan mereka ditinggalkan untuk mengurus diri mereka sendiri.

Hiu jantan mempunyai 2 testis. Spermatozoa mencapai saluran Wolff melalui vas eferen
yang banyak jumlahnya. Ikan hiu memiliki tingkat pertumbuhan yang sangat lamban / tumbuh
menjadi besar membutuhkan waktu sangat lama hingga bertahun-tahun, maka dari itu untuk
menjadi ikan hiu dewasa / ikan hiu matang yang siap untuk melakukan reproduksi juga sangat
lama. Siklus reproduksi yang umum bagi kebanyakan hiu adalah 1-2 tahun, mungkin bisa lebih.
Jadi ikan hiu akan hamil selama 1-2 tahun sekali, namun untuk ukuran yang besar akan lebih
lama lagi dari 2 tahun. Mungkin hanya 2 atau lebih bayi hiu untuk sekali reproduksi. Proses
reproduksi ikan hiu sendiri tidak jauh berbeda dengan mamalia dan manusia, intinya alat
reproduksi jantan yang bernama claspers akan dimasukan dalam alat reproduksi betina yang
bernama cloaca. Kemudian sperma dari hiu jantan akan masuk mencari sel telur dan terjadi
pembuahan dalam tubuh hiu betina. Proses Reproduksi pada hiu kebanyakan secara seksual
namun ada beberapa jenis yang bereproduksi secara aseksual.

1. Reproduksi Seksual
Tidak seperti kebanyakan ikan bertulang sejati, hiu melakukan fertilisasi/pembuahan
secara internal. Bagian belakang sirip perut hiu jantan termodifikasi menjadi sepasang organ
kopulasi yg disebut clasper, fungsinya mirip dengan penis pada mamalia, yang digunakan untuk
mentransfer sperma kedalam tubuh betina. Saat kawin, mereka akan bercumbu dengan saling
“berpelukan”, sementara pejantannya memasukkan clasper ke dalam oviduk betina. Betina yang
kebanyakkan lebih besar dari jantan memiliki tanda tanda bekas gigitan di tubuhnya, hasil dari
pegangan hiu jantan yang ingin mempertahanan posisinya ketika kawin. Tanda gigitan ini juga
bisa terjadi saat mereka “pacaran”, pejantannya akan menggigit betina untuk menunjukkan
ketertarikannya. Pada beberapa jenis, kulit hiu betina telah berkembang menjadi tebal sehingga
memungkinkan tidak terluka ketika digigit.

2. Reproduksi Aseksual

Ada beberapa peristiwa yang di dokumentasikan di mana hiu betina yang sama sekali
tidak pernah kontak dengan hiu jantan artinya hiu betina yang masih perawan namun telah
memiliki anak di dalam kandungannya. Para ilmuwan menyatakan bahwa reproduksi aseksual
hiu di alam liar sangat jarang dan belum diketahui secara jelas. Mungkin aseksual merupakan
jalan terakhir ketika pasangannya tidak ada, agar spesies itu tidak punah. Hiu yang pernah
ditemukan “virgin birth” ini adalah hiu bambu bertutul putih (Chiloscyllium plagiosum), hiu
bonnethead (Sphyrna tiburo) yang merupakan spesies terkecil dari hiu kepala martil, hiu blacktip
Atlantik (Carcharhinus limbatus), dan hiu biru (Prionace glauca).

Ada tiga model reproduksi dalam hiu yang dapat dilakukan melalui Vivipar (beranak),
Ovovivipar (bertelur dan beranak dalam tubuh), dan Ovipar (bertelur dan menetas diluar tubuh)
Secara umum kebanyakan hiu bersifat ovovivivar, namun ada beberapa hiu yang bertelur.
Bentuk yang paling maju disebut viviparity. Hal ini terjadi ketika hiu betina menyediakan
makanan bagi embrio yang ada dalam tubuhnya. Makanan ini disebut sebagai sekresi susu uterus
atau melalui koneksi plasenta.

1. Reproduksi Vivipar

Pada hiu vivipar, batang yolk berganti menjadi sebuah tali pusar panjang yang
menghubungkan embrio dan kantung yolk, dimana kantung yolk ini disebut juga kantung
plasenta yolk atau plasenta saja. Plasenta membantu transfer nutrisi dan oksigen melalui aliran
darah induknya dan juga mentransfer zat buangan dari bayi ke ke ibunya untuk dibuang. Embrio
dapat memenuhi semua kebutuhan nutrisi dari transfer induknya ada dua cara:
° Memperoleh nutrisi langsung melalui jaringan induknya ke jaringan embrio.
° Dinding uterus induk mengeluarkan “susu uterus”. Tali pusar embrio menyerap cairan itu. Ini
terjadi pada hiu yang tidak memiliki plasenta.

Embrio tetap menempel pada dinding rahim untuk berkembang dalam tubuh induk hiu.
Terdapat plasenta, yang memberikan nutrisi dan oksigen dari induk hiu ke embrio. Embrio akan
menerima nutrisi dari darah induk hiu melalui tali pusar yang terhubung ke embrio. Anak ikan
hiu akan keluar dimulai awal ekor dahulu dari cloaca / alat kelamin hiu betina. Setelah keluar,
maka bayi hiu kecil tersebut akan berenang dan hidup mandiri berpisah dari induk sesegera
mungkin. Contoh hiu vivipar adalah hiu banteng (Carcharhinus leucas), hiu karang whitetip
(Triaenodon obesus), hiu lemon (Negaprion brevirostris), hiu biru (Prionace glauca), hiu salmon
(Lamna ditropis), hiu silvertip (Carcharhinus albimarginatus), dan hiu kepala martil (Sphyrna
sp).

2. Reproduksi Ovovivipar

Reproduksi yang kedua disebut ovoviviparity. Kebanyakan ikan hiu berkembang biak
secara ovovivivar. Hewan ovovivipar menyimpan telurnya di suatu tempat ditubuhnya yang juga
merupakan tempat berlangsungnya pembuahan, sekaligus tempat berkembangnya embrio. Pada
hewan ini, makanan yang diperlukan untuk perkembangan embrio sepenuhnya diperoleh dari
telur (tidak dari tubuh induk), sekalipun embrio berkembang dalam tubuh induk. Apabila sudah
mencapai perkembangan yang memadai, hewan muda akan dikeluarkan dari tubuh induk, seperti
yang tampak pada hewan vivipar. Hal ini mirip dengan viviparity karena telur dibuahi, menetas
dan berkembang di dalam tubuh hiu betina kemudian anak di lahirkan. Dalam hal ini embrio
tidak menerima makanan langsung dari ibunya melainkan dari cadangan makanan dari sel telur.

Embrio terbentuk di dalam telur dan di dalam rahim. Tidak ada plasenta untuk
memelihara mereka dan mereka mendapatkan makanan dari cairan yang disebut “kuning telur”
yang disimpan dalamnya. Pada proses ini terjadi kanibalisme ketika kuning telur habis dan anak
hiu yang kuat akan memakan anak hiu yang lemah. Kemudian sama halnya dengan vivipar yaitu
hiu akan melahirkan melalui cloaca mulai dari bagian ekor terlebih dahulu. Contoh hiu
ovovivipar sejauh ini yang diketahui dan paling terkenal adalah hiu macan pasir (Carcharias
taurus).

3. Reproduksi Ovipar

Cara reproduksi terakhir adalah oviparity. Beberapa spesies hiu adalah ovipar seperti ikan
pada umumnya, mereka bertelur didalam air. Hiu ovipar memiliki cangkang telur keras atau
berupa membran kasar untuk perlindungan untuk perkembangan embrio. Telur akan dikeluarkan
dari cloaca oleh induk betina dan ditempatkan pada lokasi yang aman dan banyak makanan.
Kemudian induk hiu pergi menggalkan telur tersebut. Telur hiu (disebut juga “mermaid purses”)
akan menetas jika tidak dimakan oleh hewan lain, karena sang induk tidak akan menjaga telur-
telurnya. Bentuk telur mereka ada yang seperi kantung sampai berbentuk sekrup (seperti hiu Port
Jackson dan hiu bertanduk). Beberapa telur seperti telur hiu kucing memiliki tendril yang
memungkinkan telur menempel pada suatu benda di dasar laut. Hiu yang bertelur lainya
termasuk hiu zebra, (Stegostoma fasciatum) swellshark (Cephaloscyllium ventriosum), hiu
karpet berkalung (Parascyllium variolatum), hiu bertanduk (Heterodontus francisci), dan hiu
epaulette (Hemiscyllium ocellatum). Telur hiu diletakkan di ganggang atau koral. Setelah telur
aman telur tidak menerima perlindungan atau makanan dari induknya.

Proses Perkembangbiakan Ikan Hiu


Pada spesies yang bersifat ovovivipar, telurnya hanya dilapisi dengan kulit yang sangat
tipis oleh kelenjar kulit telurnya dan kemudian diteruskan ke rahim sampai menetas, serta
melanjutkan perkembangannya dan kemudian baru dilahirkan. Akan tetapi, pada sebagian
spesies, anaknya tetap dipertahankan didalam rahim lebih lama dari pada persediaan kuning
telurnya dan berbagai cara digunakan untuk memberi makan anaknya. Pada sebagian spesies
lainnya, embrio itu diberi makan dengan bahan yang dikeluarkan dari rahim (air susu rahim)
sedangkan beberapa spesies yang lainnya lagi, sebuah tali pusar berkembang dari embrio
kekantung kuning telurnya dan yang kemudian menempel ke dinding rahim hingga membentuk
ari-ari (plasenta) yang serupa dengan yang dijumpai pada mamalia. Cara lainnya untuk memberi
makan embrio adalah dengan kuning telur dari telur-telurnya. Hiu secara seksual dimorfik
dimana ada perbedaan visual antara jantan dan betina.

Pada jantan memiliki panggul yang dimodifikasi menjadi claspers sirip pelvis yang
digunakan untuk pengiriman sperma. Gulungan Claspers terbentuk dari tulang rawan. Hiu jantan
juga telah memiliki testis. Testis internal terletak di ujung anterior tubuh di dalam rongga organ
epigonal. Kantung kemih dan saluran reproduksi bergabung bersama untuk membentuk sinus
urogenital. Dari sinus urogenital ini akhirnya sperma dilepaskan ke dalam alur dari claspers dan
kemudian disampaikan ke betina selama kopulasi.

Pada betina memiliki ovarium internal yang ditemukan di anterior dalam rongga tubuh
dan berpasangan. Ovarium kiri sering lisis atau tidak ada telur. Sekali telur dilepaskan dan
dibuahi, sebuah horny shell atau membran dikeluarkan disekitar membran ketika telur melewati
kelenjar. Beberapa hiu menghasilkan sebuah shell yang tangguh dan dapat melindungi anaknya.
Dalam spesies lain telur berkembang dan menetas didalam rahim betina. Telur yang dihasilkan
oleh tiap spesies sangat bervariasi. Ukuran diameter telur hiu sekitar 60 atau 70 mm dan
terbungkus dalam kulit hingga diameter keseluruhannya dapat mencapai 300 mm.

Sedangkan pada sepupunya ikan pari seks terpisah, alat kelamin jantan berupa sepasang
testis dan beberapa vasa eferensia yang menuju vasa deferensia. Saluran itu terbentang di bawah
ginjal dan berakhir pada papilae urogenitalia. Alat kelamin betina terdiri dari sebuah ovarium
yang menggantung di sebelah dorsal dengan satu membran dan dua buah oviduk yang menjulur
disepanjang tubuh. Ikan pari merupakan dioecious. Ikan pari jantan dilengkapi sepasang alat
kelamin, disebut klasper (clasper) yang terletak di pangkal ekor. Ikan pari betina tidak dilengkapi
klasper, tetapi lubang kelaminnya mudah dilihat. Ikan pari berkembang biak secara ovovivivar
dengan jumlah anak sekitar 5-6 ekor. Seperti ikan pada umumnya, pertumbuhan ikan pari
dipengaruhi oleh dua faktor; faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam dapat berupa genetik,
umur atau ukuran, ketahanan terhadap penyakit, dan kemampuan memanfaatkan makanan.
Faktor luar berupa pengaruh lingkungan meliputi sifat fisika kimia perairan serta komponen
hayati seperti ketersediaan makanan dan kompetisi. Di musim kawin, sejumlah besar manta akan
berkumpul untuk mencari pasangan kawin. Beberapa manta jantan bisa saling bersaing untuk
mendapatkan manta betina pasangannya. Manta jantan yang berhasil mendapatkan manta betina
akan berpegangan pada sirip pasangannya menggunakan giginya dan merapatkan perutnya, lalu
memulai perkawinan dengan cara memasukkan alat kelaminnya ke dalam lubang kelamin betina.
Perkawinan berlangsung selama kurang lebih 90 detik.
Pari manta adalah ovovivipar di mana telur menetas saat masih berada di dalam tubuh
induknya. Seekor manta betina bisa membawa 2 bayi manta sekaligus dalam tubuhnya. Periode
“kehamilan” manta sendiri belum diketahui secara pasti, namun kemungkinan bisa berlangsung
antara 9-12 bulan. Bayi manta yang baru menetas lalu keluar dari tubuh induknya dengan
kondisisirip yang masih terlipat. Bayi manta mulai aktif segera setelah ia mengembangkan
siripnya dan bisa langsung mulai berenang. Seekor bayi manta yang baru lahir diketahui bisa
berukuran selebar 1,2 meter dan seberat 45 kg. Bayi manta bisa tumbuh sangat cepat karena
dalam waktu satu tahun, lebar tubuh mereka sudah mencapai hampir 2 kali lebarnya saat pertama
kali lahir. Usia maksimal pari manta sendiri yang diketahui mencapai 20 tahun.

9. Struktur Lainnya (Bioluminesen dan Organ Listrik)

Ada beberapa ikan hiu dan ikan pari yang mempunyai organ Bioluminesen.
Bioluminesen adalah pancaran sinar oleh organisme, sebagai hasil oksidasi dari berbagai substrat
dalam memproduksi enzim. Susunan substratnya disebut lusiferin dan enzim yang sangat
sensitive sebagai katalisator oksidasi disebut lusiferase. Organ luminesen (organ yang mampu
menghasilkan sinar) ditemukan pada beberapa ikan hiu, ikan pari berlistrik (Benthobatis
moresbyi) dan beberapa ikan tulang keras khususnya yang tinggal di laut dalam. Adanya organ
yang memproduksi sinar ini dapat digunakan untuk menaksir kedalaman laut, dimana ikan
tersebut tinggal. Hal ini dimaksudkan juga bahwa ikan tersebut memproduksi sinar untuk
mendapatkan makanan, mengacaukan musuh, menerangi lingkungan ataupun menarik perhatian
lawan jenisnya. Semua ini masih dugaan, akan tetapi pada prinsipnya berfungsi untuk
mendapatkan penghargaan antar individu dalam satu jenis. Bioluminesen diproduksi oleh
bakteri, jamur ataupun binatang invertebrate.

Ikan memproduksi bioluminesen dengan 2 cara, yaitu oleh pori-pori yang bercahaya
ataupun organ bersimbiose dengan bakteri pengahasil sinar. Intensitas bioluminesen mungkin
bertambah atau berkurang. Cara lain dalam memproduksi sinar bergantung pada ekspansi dan
kontraksi kromatofora pada permukaan kulit. Bioluminesen dimiliki oleh beberapa jenis hiu,pari
dan holocephali yang berhabitat dilaut dalam.

Organ Listrik

Mengapa ikan listrik tidak menyengat dirinya sendiri, hal tersebut sulit untuk dipahami
meskipun ada dua penjelasan, yaitu bahwa system saraf ikan selalu diseliputi oleh lemak dan
arus listrik mengalir selalu tegak lurus. Organ ini dimiliki oleh beberapa spesies pari , biasanya
terdapat diekornya. Pada beberapa ikan pari juga ada yang mempunyai struktur tubuh hewan
vertebrata yang unik adalah organ listrik. Aliran listrik ini ada yang diproduksi sangat lemah tetai
ada yang sangat kuat. Organ elektrik disusun oleh elektroplates dan elektroplaxes yang
merupakan kumpulan sel berbentuk cakram sehingga nampak searah. Arah arus listrik berbeda-
beda untuk setiap jenis ikan.

Ikan pari mempunyai arah arus listrik yang mengalir pada permukaan tubuh mulai dari
ventral kearah dorsal. Organ elektrik mempunyai beberapa fungsi, misalnya untuk memproduksi
sinar tidak terlalu terang untuk maksud orientasi. Benda yang tidak jauh, yang mempunyai
konduktivitas arus berbeda dengan lingkungannya membuat ikan mengubah pola arus listrik
untuk dapat mengenali.

D. Klasifikasi Chondrichthyes

Chondrichthyes terbagi atas dua subkelas, yaitu Elasmobranchii dan Holocephali.


Elasmobranchi yang dibedakan atas ordo Squaliformes dan ordo Rajiformes, serta subkelas
Holecephali. Ordo Squaliformes mencakup semua jenis ikan hiu sedangkan ordo Rajiformes
mencakup jenis-jenis ikan pari. Terdapat beberapa perbedaan antara ikan hiu dan ikan pari yaitu
dalam hal letak celah insang, perlekatan sirip dada dan wujud dari ekornya. Subkelas
Holocephali mencakup jenis ikan langka yang disebut ikan tikus atau ikan chimaera atau hiu
hantu. Ikan ini tidak mirip dengan ikan hiu ataupun ikan pari dalam hal bentuk tubuh dan jumlah
celah insangnya.

a. Elasmobranchii

Elasmobranchii merupakan sebkelas dengan spesies yang banyak dan

beranekaragam dibandingkan dengan subkelas holocephali. Elasmobranchii

memiliki ciri-ciri tidak memiliki 5-7 celah insang, kepala besar, sirip pectoral besar, 2 sirip

dorsal, dan memiliki kloaka. Sub kelas Elasmobranchii mencakup dua ordo, yaitu :

-          Ordo Squaliformes, mencakup semua jenis ikan hiu

-          Ordo Rajiformes, mencakup semua jenis - jenis ikan pari.

Terdapat beberapa perbedaan antara ikan hiu dan ikan pari yaitu dalam hal letak celah insang,
perlekatan sirip dada dan wujud dari ekornya.

1. Ordo Squaliformes
Ordo Squaliformes memilikiciri-ciri,yaitu celah insang pada sisi lateral
kepala,tepi anterior sirip dada tidak melekat pada sisi tubuh.Ordo ini
mencakup
13 famili. Hiu adalah ikan bertulang rawan yang
memiliki suatu keturunan yang sangat primitif. Mereka diketahui di Laut Devonian lebih dari
350 juta tahun lalu. Semua suku hiu mempunyai marga-marga yang dikenal dari fosil-fosil dalam
batu-batuan dari zaman kapur atau bahkan dari zaman jura. Sedangkan hiu zaman sekarang
menunjukkan perbedaan yang sangat besar, baik dalam bentuk maupun kebiasaannya. Meskipun
jauh ketinggalan jika dibandingkan dengan ikan-ikan bertulang yang
lebih maju, tetapi hiu masih tercatat sebagai kelompok ikan yang berhasil . Ikan hiu termasuk
dalam ordo PLEUROTREMATA yang terdiri dari 20 suku
dan ratusan jenis. Dikatakan ada sekitar 250 -300 jenis hiu telah diketahui, dimana 29 jenis
diantaranya diketahui terdapat di Indonesia (SUHARSONO, 1981), tetapi HALSTEAD
(1959) dan ALLEN (1997) menegaskan bahwa ikan hiu yang telah diketahui sekarang ini
adalah sebanyak 350 jenis yang tersebar di seluruh perairan, mulai dari Samudera Atlantik, Indo
-Pasifik sampai perairan Indonesia pada berbagai kedalaman. Ikan ini menjadi terkenal tidak
hanya karena kegunaannya yang besar sehingga selalu diburu dan dibunuh, melainkan
sebaliknya dapat membunuh manusia. Dari 350 jenis tersebut ternyata hanya 27 jenis saja yang
diketahui telah menyerang manusia ikan hiu yang sangat berbahaya dari semuanya adalah ikan
hiu putih besar (Charcharodon carcharias). Serangannya terjadi kebanyakan di laut terbuka,
tapi sering juga di perairan pantai. Ikan hiu hidup di perairan laut, payau dan air tawar dengan
ukuran panjang tubuhnya ada yang kurang 30 cm seperti hiu air.tengah (Squaliolus laticandus)
dan ada yang mencapai lebih dari 13,5 m seperti hiu paus (Rhincodon typus) yang terdapat di
perairan beriklim sedang dan perairan tropis. Makanan hiu adalah berbagai jenis ikan, moluska,
krustasea dan plankton serta berbagai jenis sampah dan bangkai.
Ikan hiu hidup di samudera dan lautan di seluruh dunia dan beberapa spesies tumbuh dalam air
tawar. Mereka tinggal di sebagian besar semua dan suhu kedalaman laut. Ikan hiu mempunyai
tubuh yang dilapisi kulit dermal denticles untuk melindungi kulit mereka dari kerusakan, dari
parasit dan untuk menambah dinamika air.

Ikan hiu biasanya memiliki dua sirip dorsal tetapi pada beberapa spesies mereduksi
tinggal satu dan ada sebuah sirip anal. Ekor ikan hiu umumnya heteroserkal, tersusun oleh dorsal
flange yang besar, melebar kearah distal dari skeleton aksial dan sebuah ventral flange kecil.
Sirip kaudal dan pelvik berperan penting dalam lokomosi, dan kenyataan adanya struktur siri
tersebut untuk menopang tubuh. Sirip pektoral berfungsi untuk pengendali, sirip pelvik (juga
sirip dorsal dan anal) berfungsi menjaga keseimbangan dan mempertahankan tubuh agar tetap di
dalam air. Tulang di bagian ventral dari pusat sirip ikan hiu disebut korakoid, sedangkan yang
memanjang kearah dorsal dibagian tepi sirip disebut skapula. Pada yang jantan, sirip caudal itu
berubah menjadi klasper sebagai alat untuk memindahkan sperma kepada hewan betina. Mulut
ventral, lubang hidung dua buah yang terletak disebelah ventral kepala. Celah insang lima buah
dan terletak dibelakang mata. Di sebelah dorsal depan mata ada spirakulum, yaitu peninggalan
celah insang. Lubang kloaka di antara sirip pelvic. Tubuh tertutup oleh sisik.
Sisik adalah bagian tubuh luar dan merupakan ciri sangat penting baik untuk ikan tulang keras
maupun ikan tulang rawan. Sisik umumnya sebagai pelindung dan penutup tubuh. Berdasarkan
asal, struktur dan fungsi sedemikian bervariasi sehingga sisik merupakan hal yang penting dalam
klasifikasi. Kulit ikan hiu atau ikan karang terasa seperti amplas (amril) karena banyak sisik-sisik
kecil yang tertanam pada kulit. Sisik ini dikenal sebagai sisik bertipe plakoid dan strukturnya
sama dengan struktur gigi. Setiap sisik tersusun dari lempengan tulang di bagian basal, menuju
ke atas menembus kulit kemudian mengarah ke belakang membentuk tonjolan seperti duri yang
tersusun dari dentin. Seperti pada gigi, disana ada lubang pusat (pulpa), dimana terdapat banyak
saluran darah. Spina ditutupi oleh lapisan yang lebih keras, dipercayai terbuat dari bahan sama
dengan email gigi tidak ada perbedaan prinsip antara sisik dan gigi ikan hiu, kecuali pada ukuran
gigi lebih besar, keduanya adalah barang yang bias hilang dan diganti. Gigi ikan hiu berkembang
baik yang membuatnya ditakuti organisme lain. Tulang gigi kelompok ikan hiu ini berasal dari
dermal.

Pada kelompok hiu, terdapat berbagai tipe gigi yang berbeda. Namun, pada umumnya
gigi pada rahang bawah merupakan gigi untuk mempertahankan posisi makanan, sedangkan gigi
rahang atas berguna untuk mencabik daging mangsa vertebrata laut lainnya memecahkan
masalah hidup didalam suatu lingkungan hiperosmotik dengan cara berlainan. Ikan hiu
menghasilkan ureasebagai limbah nitrogen dan menahannya didalam cairan tubuh interna dalam
konsentrasiyang begitu tinggi sehingga daya tarik osmotik air kedalam berada dalam
keseimbangan dengan difusi keluar, akibat kadar garam luar yang lebih tinggi.
Insangnya tidak permeabel terhadap urea seperti halnya pada insang sebagian besar ikan
lainnya.konsentrasi urea dalam cairan tubuh ikan hiu dapat mencapai 100 kali kadar pada
mammalia, suatu tingkat yang jauh melebihi toleransi vertebrata lainnya. Garam yang
berakumulasi baik melalui makanan yang masuk maupun melalui difusi ke dalam melewati
permukaan seperti insang, dikeluarkan oleh ginjal dan oleh suatu kelinear khusus yang
mengekskresi garam yang terdapat dibagian kaudal usus hiu.
Ikan hiu tidak memiliki gelembung renang tetapi mempunyai hati yang sangat besar dengan
kadar minyak yang sangat tinggi. Minyak ini disamping mengurangi kepadatan jaringan juga
merupakan persediaan energi yang penting.
Tidak ada perbedaan prinsip antara mata ikan dan vertebrata lain, kecuali hanya ada cara
akomodasi atau adaptasi spesial akibat cara hidup. Akomodasi atau kemampuan mata untuk
mengatur dengan sendirinya atau mengatur secara otomatis untuk melihat dekat atau jauh, pada
ikan dilengkapi dengan gerakan lensa mata ke samping atau ke muka belakang sehingga dapat
merubah jarak retina yang paling sensitif.ikan hiu yang merupakan predator, selalu memiliki
jarak pandang dan selalu menggerakkan lensa matanya ke depan atau menjauhi retina untuk
melihat obyek agar tampak lebih besar.

2. Ordo Rajiformes (Hypotremata)

Ordo Rajiformes memiliki ciri yaitu celah insang pada sisi ventral
kepala,
Tepi anterior sirip dada berlekatan dengan sisi-sisi kepala dan badan. Ordo
ini
mencakup 7 famili. Berdasarkan teori evolusi, ikan pari adalah cabang dari ikan hiu yang
telahberadaptasi dengan kehidupan di dasar laut. Tekanan air di dasar laut merupakan faktor
utama yang merangsang dan mengarahkan arus revolusi ikan pari. Bergesernya celah insang ke
sisi bawah tubuh tidak hanya memungkinkan mampu lepas landas dengan "daya dorong
semburan", tetapi juga memungkinkan sirip dadanya dapat terbentang di sekitar kepala sehingga
terciptalah ikan pari zaman modern dengan sirip dada mirip sayap . Lebar tubuhnya dari ujung
sirip dada ke ujung sirip Lainnya mencapai hampir 7 meter. Bobot terberat ikan pari sendiri yang
pernah diukur mencapai 3 ton. Ikan pari dapat ditemukan di lautan tropis di seluruh dunia,
kurang lebih antara 35o lintang utara hingga 35o lintang selatan. Persebarannya yang luas dan
penampilannya yang unik menyebabkan ikan ini memiliki banyak nama mulai dari “manta
Pasifik”, “manta Atlantik”, “devil fish”, hingga “sea devil”. Di Indonesia sendiri, ikan pari
memiliki aneka nama lokal seperti cawang kalung, serta plampangan.
Ikan pari belakangan dikategorikan sebagai “dekat dengan ancaman” (near threatened) oleh
IUCN karena walaupun jumlahnya belum masuk kategori terancam punah, namun di masa depan
diperkirakan populasinya akan menyusut hingga akhirnya terancam punah. Populasi ikan pari
dianggap dekat dengan bahaya karena tingginya kegiatan perikanan dan kondisi laut yang
semakin terpolusi, namun rasio kelahiran mereka rendah. .

Ikan pari memiliki fisik yang secara umum memiliki dada yang lebar serta ekor kecil
seperti cambuk. Sirip dadanya yang lebar membuat tubuhnya terlihat pipih. Ikan pari bergerak
memakai sirip dadanya dengan cara mengombakkannya dari bagian dekat kepala hingga ke
belakang tubuh sehingga saat dilihat, ikan pari seolah-olah sedang terbang di dalam laut. Kulit
ikan pari juga diselubungi lapisan lendir. Lapisan lendir ini diduga ada hubungannya untuk
melindungi kulitnya yang rentan. Ikan
Pari juga memiliki ukuran otak yang lebih besar dibandingkan hiu kerabatnya sehingga mereka
dianggap lebih cerdas dibandingkan kerabatnya yang lain.
Ciri khas ikan pari adalah sepasang “tanduk” di dekat mulutnya. “Tanduk” ini sebenarnya adalah
sepasang sirip sefala (kepala) yang membantu memasukkan air laut yang mengandung plankton
makanannya dan bisa ditekuk ke dalam mulut. Di dalam mulutnya juga terdapat 300 gigi kecil
berbentuk pasak dan nyaris tersembunyi di bawah kulit. Gigi ini tidak digunakan untuk makan,
namun gigi ini berguna saat ikan pari melakukan perkawinan. Ikan pari juga memiliki lima
pasang celah insang di bagian bawah tubuhnya untuk mengeluarkan air yang masuk melalui
mulutnya. Di bagian dalam celah insangnya terdapat tapis insang atau piringan penyaring (filter
plate) yang berfungsi untuk menangkap plankton yang masuk Bersama dengan air laut.
Ikan pari memiliki warna yang bervariasi, mulai dari hitam, biru keabu-abuan, cokelat, hingga
nyaris putih. Pola warna pada tubuh ikan pari juga bervariasi di mana pada pari manta yang
ditemukan di Pasifik timur bagian bawah tubuhnya berwarna dominan hitam, sementara pada
jenis pari manta yang ditemukan di Pasifik barat, warna bagian bawah tubuhnya pucat. Belum
diketahui apa fungsi dan penyebab dari pewarnaan bervariasi ini, namun warnanya yang
bervariasi memudahkan para ilmuwan untuk membedakan ikan pari dari wilayah yang satu
dengan wilayah lainnya. Hal unik lain seputar pewarnaan ikan pari adalah mereka memiliki
semacam pola di bagian bahu serta bawah tubuhnya dan pola-pola ini berbeda pada setiap
individu ikan pari sehingga dianggap mirip dengan sidik jari pada manusia.

Kelompok ikan sejenis pari, sirip pektoralnya sangat membesar dan menempel sepanjang
tubuh mulai dari bagian belakang kepala sampai didepan sirip pelvik. Bahkan pada ikan elektrik
ray sirip tersebut menyatu pada ujungnya sebagai alat untuk memancarkan cahaya. Ikan pari
umumnya memiliki dua sirip median dorsal yang letaknya jauh dari ekor, tetapi tidak ada pada
ikan pari berduri (sting ray). Sirip anal jelas tidak ada. Meski sirip ekor tidak ditemukan pada
kebanyakan ikan pari, tetapi berkembang sangat baik pada ikan pari elektrik. Bagian dalam dari
sirip pelvic ikan hiu jantan dan ikan pari jantan berubah menjadi klasper sebagai alat untuk
memindahkan sperma kepada hewan betina. Ikan pari duri (ray-finned) diripnya disokong oleh
duri lembut yang mudah terlihat, selamanya tidak tertutup oleh kulit keras seperti pada
Elasmobranchii. Beberapa mempunyai sirip adipose tanpa peyokong didalamnya. Ikan pari
berenang dengan gerakan mengelombang sirip pectoral yang lebar.warna punggung dari ikan
pari mirip dengan warna dasar sekitar, dan beberapa jenis mempunyai duri beracun atau organ
elektrik yang juga merupakan alat pelindung diri. Ikan pari adalah hewan yang secara umum
memiliki perilaku yang tenang. Ia juga menunjukkan perilaku bersahabat dengan para penyelam
sehingga penyelam yang kebetulan berada di dekatnya bisa memegang dan bahkan
menungganginya. Ia juga biasa terlihat di dekat permukaan laut dan di sekitar terumbu karang.
Ikan pari bisa dijumpai dalam jumlah cukup besar di wilayah-wilayah yang kaya akan plankton,
namun ikan pari diketahui tidak menunjukkan tanda-tanda interaksi sosial satu sama lain maupun
membentuk kelompok.

Ikan pari dikenal sebagai salah satu ikan besar yang memakan plankton (filter feeder). Ia
makan dengan cara membuka mulutnya sambil berenang sehingga plankton yang berada dalam
air masuk ke dalam mulutnya. Ia juga bisa menggunakan sepasang sirip kepalanya yang mirip
tanduk itu untuk mengarahkan plankton agar masuk ke mulutnya. Dengan cara ini ia dianggap
berburu secara pasif karena ia tidak mengejar mangsanya untuk makan. Ikan pari juga diketahui
memakan hewan-hewan kecil seperti udang dan anak ikan.
Di musim kawin, sejumlah besar ikan pari akan berkumpul untuk mencari pasangan kawin.
Beberapa pari jantan bisa saling bersaing untuk mendapatkan pari betina pasangannya. Pari
jantan yang berhasil mendapatkan pari betina akan berpegangan pada sirip pasangannya
menggunakan giginya dan merapatkan perutnya, lalu memulai perkawinan dengan cara
memasukkan alat kelaminnya ke dalam lubang kelamin betina. Perkawinan berlangsung selama
kurang lebih 90 detik. Ikan pari adalah ovovivipar di mana telur menetas saat masih berada di
dalam tubuh induknya. Seekor pari betina bisa membawa 2 bayi ikan pari sekaligus dalam
tubuhnya. Periode “kehamilan” ikan pari sendiri belum diketahui secara pasti, namun
kemungkinan bisa berlangsung antara 9-12 bulan. Bayi ikan pari yang baru menetas lalu keluar
dari tubuh induknya dengan kondisi sirip yang masih terlipat. Bayi ikan pari mulai aktif segera
setelah ia mengembangkan siripnya dan bisa langsung mulai berenang. Seekor bayi ikan pari
yang baru lahir diketahui bisa berukuran selebar 1,2 meter dan seberat 45 kg. Bayi ikan pari bisa
tumbuh sangat cepat karena dalam waktu satu tahun, lebar tubuh mereka sudah mencapai hampir
2 kali lebarnya saat pertama kali lahir. Usia maksimal ikan pari sendiri yang diketahui mencapai
20 tahun. Ikan pari terkenal karena ia bisa melompat keluar dari air dan karena ukuran tubuhnya
yang besar, ia selalu menarik perhatian saat sedang melakukan lompatan. Ada beberapa teori
mengenai sebab mereka melompat dari air. Mereka mungkin melakukan itu untuk melarikan diri
dari pemangsanya atau untuk melepas parasit yang menempel pada tubuhnya. Teori lainnya, ikan
pari menggunakan itu untuk berkomunikasi satu sama lain. Ikan pari juga diperkirakan melompat
keluar air untuk menunjukkan kekuatannya saat sedang mencari pasangan.
Ikan-ikan kecil diketahui sering berada di dekat ikan pari. Salah satu spesies ikan laut yang
paling sering diketahui suka berada di dekat ikan pari adalah ikan remora (Echeneida sp.). Ikan
ini biasa ditemukan menempel pada bagian bawah tubuh ikan pari memakai semacam penghisap
pada bagian atas tubuhnya. Remora mendapat keuntungan dengan menempel pada ikan pari
karena ia terlindung dari pemangsa.

Kelas Chondricthyes terbagi atas dua super ordo (Jasin, M., 1991) :

a.       Super Ordo Selachii (bertubuh torpedo), terbagi menjadi 4 ordo yaitu (Jasin, M.,

1991) :

-          Ordo heterodontida (ikan hiu berkepala bison)

-          Ordo hexanchida (ikan hiu sapi)

-          Ordo lamnida; merupakan ikan hiu berkepala palu contohnya Sphirna tudes

-          Ordo squalida; merupakan ikan hiu berkepala anjing, contohnya Squalus

acanthias

b.      Super Ordo Hypotrematica, terdiri atas (Jasin, M., 1991) :

-          Ordo Rajida; memiliki tubuh dorso ventral, contohnya Ikan hiu pipih Dasyatus

Sabina
Super Ordo Selachii

1.      Ordo Heterodontida (ikan hiu berkepala bison)

Satu famili ditemukan dalam ordo ini yaitu family heterodontidae. Mereka sering disebut

sebagai macan, atau hiu tanduk. Mereka memiliki berbagai gigi yang memungkinkan mereka

untuk memahami dan kemudian menghancurkan shellfishes. Hiu macan Heterodontus

portusjacksoni adalah salah satu spesies darii ordo heterodontifores (Froese, dkk, 2006).

Contoh Klasifikasi Ordo Heterodontida

Klasifikasi Hiu macan Heterodontus portusjacksoni

Kingdom   : Animalia

Filum         : Chordata

Class          : Chondrichthyes

Sub Ordo  : Selachii

Ordo          : Heterodontida

Familia      : Heterodontidae

Genus        : Heterodontus

Spesies      : Heterodontus portusjacksoni

2.      Ordo Hexanchida

Dua famili ditemukan dalam ordo ini. Spesies pada ordo hexanchida dibedakan dari hiu

lainnya dengan memiliki celah insang tambahan (baik enam atau tujuh). Contoh dari kelompok
ini termasuk hiu sapi, hiu yang berjumbai dan bahkan hiu yang terlihat pada pemeriksaan

pertama menjadi ular laut (Sepkoski, Jack, 2002).

Ordo Hexanchida terdiri dari 2 famili yaitu (Sepkoski, Jack, 2002) :

 Famili Chlamydoselachidae, contohnya Chlamydoselachus anguineus, dan

Chlamydoselachus Africana

 Famili Hexanchidae ( hiu sapi ) contohnya Heptranchias perlo, dan Cepedianus

notorynchus

contoh Klasifikasi Ordo Hexanchida

Klasifikasi Hiu berjumbai Chlamydoselachus anguineus

Kingdom   : Animalia

Filum         : Chordata

Class          : Chondrichthyes

Sub Ordo  : Selachii

Ordo          : Hexanchida

Familia      : Chlamydoselachidae

Genus        : Chlamydoselachus

Spesies      : Chlamydoselachus anguineus

3.      Ordo Lamnida

Lamnida adalah kelompok hiu yang umumnya dikenal sebagai hiu tenggiri. Tujuh famili

ditemukan dalam ordo ini. Mereka umumnya disebut sebagai hiu makarel. Mereka termasuk hiu
goblin, berjemur hiu, megamouth, perontok, hiu mako dan hiu putih yang besar. Mereka

dibedakan oleh rahang besar dan reproduksi ovoviviparous. Para Lamnida berisi Megalodon

punah Carcharodon megalodon,  yang seperti kebanyakan hiu punah ini hanya diketahui oleh

gigi (tulang hanya ditemukan dalam ikan bertulang rawan, dan oleh karena itu sering hanya fosil

diproduksi) (Froese, dkk, 2009).

Anggota ordo ini dibedakan dengan memiliki dua sirip punggung, sebuah sirip dubur,

lima celah insang, mata tanpa selaput nictitating, dan mulut memperluas belakang mata (Froese,

dkk, 2009).

Famili dari Ordo lamnida terdiri dari (Froese, dkk, 2009) :

a.       Famili Alopiidae (hiu thresher)

Spesies, Alopias pelagicus, Superciliosus alopias, Vulpinus alopias                      

                              
                                                Alopias pelagicus 

b.     Famili Cetorhinidae c. Famili Lamnidae

Spesies, Hiu putih besar Carcharodon

carcharias, Carcharodon Megalodon (telah punah)

Spesies, Cetorhinus maximus

                                   
Spesies, Hiu basking Cetorhinus maximus Hiu putih besar (Carcharodon carcharias)

d.      Famili Megachasmidae

Genus Megachasma, Spesies Megamouth hiu Pelagios megachasma

e.       Famili Mitsukurinidae

Genus Mitsukurina, Spesies Goblin hiu , Mitsukurina owstoni        

      
f.       Famili Odontaspididae (Raggedtooths)

Genus Carcharias, Spesies Harimau hiu pasir , Carcharias taurus 

g.      Famili Pseudocarchariidae

Genus Pseudocarcharias, spesies Buaya hiu , Pseudocarcharias kamoharai

Contoh Klasifikasi Ordo Lamnida


Klasifikasi hiu putih besar Carcharodon carcharias

Kingdom   : Animalia

Filum         : Chordata

Class          : Chondrichthyes
Sub Ordo  : Selachii

Ordo          : Lamnida

Familia      : Lamnidae

Genus        : Carcharodon

Spesies      : Carcharodon carcharias

4.      Ordo Squalida

Ordo ini memiliki satu famili yaitu squatinidae. Ciri yang dimiliki oleh ordo squalida

yaitu celah insang di sepanjang sisi kepala seperti semua hiu lainnya, memiliki sirip ekor (ekor)

dengan bagian bawah yang lebih lama panjang dari atas, dan sering disebut sebagai hiu malaikat

Squatina squatina (Bourdon, J., 2009).

Contoh Klasifikasi Ordo squalida

Klasifikasi hiu malaikat Squatina squatina

Kingdom   : Animalia

Filum         : Chordata

Class          : Chondrichthyes

Sub Ordo  : Selachii

Ordo          : Squalida

Familia      : Squantinidae
Genus        : Squatina

Spesies      : Squatina squatina

Super Ordo Hypotrematica

1.      Ordo Rajida

Rajida adalah salah satu ordo dari super ordo Hypotrematica. Rajida dibedakan dengan adanya

sirip dada yang besar, yang mencapai besarnya sisi kepala, dengan rata tubuh secara umum.

Mata dan spirakel terletak di atas permukaan tubuh, dan celah insang di bagian bawah. Sebagian

besar reproduksinya dengan cara ovipar maupun vivipar (Froese, dkk, 2006).

Famili dari ordo ini terdiri dari : -  Famili Rajidae, spesies Pari sepatu luncur Dipturus laevis

Famili Rhinidae (guitarfishes bowmouth)

Famili Rhinobatidae (guitarfishes)

Famili Rhynchobatidae (wedgefishes)

Contoh Klasifikasi Ordo Rajida


Klasifikasi hiu putih besar Rajiformes Raja erinacea

Kingdom   : Animalia

Filum         : Chordata

Class          : Chondrichthyes

Sub Ordo  : Hypotrematica

Ordo          : Rajida

Familia      : Rajidae

Genus        :   Raja

Spesies      : Raja erinacea

b. Holocephali

Subkelas ini Mencakup jenis ikan langka yang disebut ikan tikus atau biasa disebut hiu

hantu atau chimaera. Chimaera dikatakan langka karena mereka berhabitat di dasar laut hingga

kedalamam 2.600 meter ( 8.500 kaki ) yang mendalam, dengan sedikit yang terdapat pada

kedalaman dangkal dari 200 meter ( 660 kaki ). Kecuali yang termasuk anggota genus

Callorhinchus , rat fish dan ratfish tutul , yang lokal / berkala dapat ditemukan pada kedalaman

yang relatif dangkal. Ikan ini tidak mirip dengan ikan hiu ataupun ikan pari dalam hal bentuk

tubuh dan jumlah celah insangnya.

Kelompok ini memiliki ciri-ciri,yaitu insang 4pasang terletak pada sisi-


sisi
Kepala tertutup oleh tutup insang, dengan celah insang satu pasang,tanpa
sisik,
Tanpa spirakulum,tanpa kloaka,tepian terior sirip dada tidak melekat pada
tubuh.
Contohnya yaitu Chimaera monstrosa (Simatupang, H., 2010).

Karena tempat hidupnya di dasar laut yang gelap, jauh dari permukaan air laut. Pada
kedalaman 2.000 sampai 2.600 meter di bawah permukaan laut, maka bisa dikatakan ikan ini
jarang bertemu manusia. Chimaera termasuk dalam keluarga ikan laut dalam yang tubuhnya
tidak ditopang oleh tulang keras, melainkan oleh tulang rawan. Hewan ini memiliki ciri mata
yang besar, sirip seperti sayap burung, dan gigi pipih untuk menggilas makanan.
Para ilmuwan memperkirakan ada hampir 50 spesies hiu hantu yang hidup di lautan seluruh
dunia. Sayangnya, hewan ini jarang terlihat karena kecenderungannya untuk hidup di laut dalam.
Meski sering disebut sebagai hiu hantu karena penampilan yang hampir serupa, chimaera
bukanlah hiu. Hewan ini telah mengalami penyimpangan evolusi dari leluhur yang sama dari hiu
jutaan tahun lalu. Chimaera adalah kerabat hiu yang hidup sangat jauh di kedalaman yak tak
dapat dijangkau oleh sinar matahari. Chimaera disebut-sebut hidup sejak 300 juta tahun lalu dan
lebih tua dari dinosaurus.

Mereka memiliki sepasang penggilingan pelat gigi pada rahang bawah dan dua pasang
penggilingan pelat gigi pada rahang atas mereka yang tetap keluar dari mulut mereka seperti gigi
kelinci ! Mereka memiliki tubuh tebal yang lancip ke , ekor tikus -seperti tipis panjang . jantan
memiliki tiga organ menggenggam . Mereka memiliki dua graspers pada panggul mereka yang
mereka gunakan ketika mereka kawin . Mereka memiliki satu orang tamak dengan hook di
atasnya di kepala mereka yang mereka gunakan untuk menangkap perempuan. Hiu hantu betina
memiliki penyok di kepala mereka bahwa hook cocok menjadi. Chimaeras memiliki dua sirip
punggung . Sirip punggung pertama memiliki tulang beracun. Sirip punggung kedua adalah
bertulang . Chimaeras ditemukan di dasar laut dan menggunakan piring mereka gigi grinding
untuk makan kerang , ikan , dan krustasea .

Subclass Holocephali didefinisikan dengan memiliki satu bukaan insang setiap sisi
kepala, piring gigi menyatu, dan sirip punggung pertama dengan memanjang tulang belakang.
Hal ini diwakili oleh tiga keluarga dari urutan Chimaeriformes: plownose chimera
(Callorhinchidae, 1 sp.), Shortnose chimera (Chimaeridae, 9 spp – 6 endemik.), Dan Longnose
chimera (Rhinochimaeridae, 3 spp.). Beberapa spesies kekurangan nama ilmiah meskipun
mereka cukup terkenal, yang mencerminkan kompleksitas taksonomi mereka. Beberapa spesies
(termasuk yang dideskripsikan) ditangkap secara komersial, beberapa sebagai bycatch dari trawl
air yang dalam dan satu, elephantfish Callorhinchus milii, ditargetkan di perairan pantai.
Subclass Holocephali adalah takson ikan bertulang rawan , dimana urutan Chimaeriformes
adalah satu-satunya kelompok yang masih hidup . Catatan fosil dari Holocephali dimulai selama
periode Devonian . Namun, kebanyakan adalah fosil gigi dan bentuk tubuh, banyak spesies yang
tidak diketahui , atau paling tidak, kurang dipahami . Beberapa ahli lebih lanjut
mengelompokkan Petalodontiformes , Iniopterygiformes , dan Eugeneodontida ke dalam takson
“ Paraselachimorpha “ , dan memperlakukannya sebagai kelompok saudara Chimaeriformes .
Namun, seperti hampir semua anggota Paraselachimorpha yang kurang dipahami , kebanyakan
ahli menduga takson ini menjadi salah paraphyletic atau takson keranjang sampah . Ini termasuk
rat fish ( misalnya , Chimaera) , rabbit fish ( misalnya , Hydrolagus ) dan elephant fish
( Callorhynchus ) . Saat ini mereka melestarikan beberapa fitur kehidupan elasmobranchi di masa
Paleaozoic , meskipun dalam hal lain mereka menyimpang . Mereka tinggal dekat dasar bawah
laut dan memakan moluska dan invertebrata lainnya . Ekor panjang dan tipis dan mereka
bergerak dengan gerakan menyapu sirip dada besar . Tulang di depan sirip punggung terkadang
beracun . Tidak ada perut ( yaitu, usus disederhanakan dan ‘ perut ‘ yang tergabung dengan
usus ) , dan mulutnya adalah bukaan kecil yang dikelilingi oleh bibir , bentuk penampilan kepala
membeo (bentuk seperti paruh beo) .
Ciri-ciri Subklas Holocephali
Secara umum Subkelas Holocephali memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Mempunyai empat pasang insang
2. Gill cleft 1 pasang
3. Tidak mempunyai spiracle
4. Tidak bersisik
5. Tidak mempunyai cloaca
6. Pada jantan sirip ventral dilengkapi clasper
7. Notochord seperti rantai manik
8. Mempunyai rahang

Memiliki dubur terpisah dan bukaan urogenital . Mereka tidak memilki gigi tajam yang
banyak dan memiliki lebih dari tiga pasang gigi penggilas permanen. Mereka memiliki tutup
insang atau operkulum seperti ikan bertulang keras. Mereka tumbuh hingga panjangnya
mencapai 150 cm ( 4,9 kaki), padahal ini termasuk panjang ekor yang ditemukan di beberapa
spesies . Pada banyak spesies , moncong dimodifikasi menjadi organ sensorik memanjang.
Seperti anggota lain dari kelas Chondrichthyes , Chimaera memiliki kerangka yang tersusun atas
tulang rawan . Kulit mereka halus dan sebagian besar ditutupi oleh sisik placoid, serta warna
mereka yang sedikit gelap dapat berkisar dari hitam menjadi abu-abu kecoklatan . Untuk
pertahanan , Chimaera memiliki duri berbisa yang terletak di depan sirip punggung .
Chimaera menyerupai hiu dalam beberapa hal : mereka menggunakan penjepit untuk fertilisasi
internal betina dan mereka bertelur dengan cangkang yang keras . Namun, tidak seperti hiu
umumnya , Chimaera jantan juga memiliki pelengkap seksual di depan kepalanya (sejenis
tentaculum) dan di depan sirip perut. Betina bertelur membentuk gelendong cangkang telur yang
kasar .

E. Ekologi Chondrichthyes
Chondrichthyes berhabitat di samudera dan lautan di seluruh dunia dan beberapa spesies
bisa tumbuh dan hidup dalam air tawar bahkan perairan kutub (hiu Greenland / Somniosus
microcephalus). Mereka tinggal di sebagian besar semua dan suhu kedalaman laut.
MacARTHUR & CONNELL (1970), menyatakan bahwa habitat suatu organisme adalah tempat
hidup atau tempat ditemukannya organisme tersebut. Komunitas, yang terdiri dari kesatuan-
kesatuan fisik dan biotik. Jadi habitat suatu organisme atau sekelompok organisme meliputi
organisme lain dan lingkungan abiotiknya. Banyak faktor yang yang berpengaruh dan saling
berinteraksi di dalam proses seleksi habitat suatu jenis organisme di laut. Seleksi habitat oleh
ikan hiu lebih diutamakan pada kondisi ekologi dan bentuk kehidupan organisme di dalamnya
daripada terhadap jenis organismenya itu sendiri. Ikan hiu adalah jenis ikan pelagis dan juga
demersal yang bersifat "euryhalin", derajat toleransinya lebar terhadap salinitas, sehingga dapat
hidup di perairan payau dan perairan tawar (sungai dan danau), selain laut sebagai habitat
utamanya. Dilaporkan bahwa habitat yang di-senangi ikan hiu, jika airnya jernih dengan
substratpasir, baru, kerikil atau terumbu karang. ALLEN (1997) mengatakan,ikan hiu terdapat di
semua laut, dari laut yang dangkal sampai laut lepas (oseanik) pada berbagai kedalaman, hingga
3000m dari permukaan.Tetapi kehidupan ikan hiu terpusat pada daerah neritik (dekat pantai) dan
oseanik sampai kedalaman 200 m yang kaya akan makanan. Daerah sebaran ikan hiu sangat luas,
yaitu di perairan tropis dan subtropis,sebagian besar populasi ikan ini terdapat di Samudera
Atlantik bagian utara dan Samudera Pasifik. Di kawasan Indo-Pasfik ikan ini tersebar mulai dari
laut Merah sampai New Caledonia, ke utara sampai Jepang bagian selatan terus ke Samudera
Hindia sampai Australia bagian utara dan Polynesia (ALLEN 1997; NELSON 1976). Di
Indonesia, ikan hiu tersebar di seluruh laut, mulai dari Selat Malaka, Laut Jawa, Laut Flores,
Laut Sulawesi, Laut Sunda sampai Laut Maluku dan Laut Arafura.

Hiu dapat ditemui di semua samudra lautan di dunia. Beberapa fakta menyebutkan bahwa
ikan hiu memiliki habitat yang berbeda-beda menyesuaikan spesies dan lingkungan asal.
Ada ikan hiu yang senang dengan udara dingin seperti di kutup, namun ada pula yang senang di
perairan hangat / tropis.
Ada ikan hiu yang senang dengan kedalaman / berada di dasar laut, namun ada pula yang senang
berada di perairan dangkal / berenang di permukaan air laut.
Ikan hiu yang senang berada di daerah permukaan air tidak jarang akan masuk ke perbatasan laut
dan sungai bahkan hiu tersebut dapat masuk kedalam aliran sungai dengan waktu yang tidak
lama. Ikan Hiu umumnya hidup hidup dilautan yang memiliki kedalaman 90 hingga 1,875 meter
dan berkarang dengan dasar yang tidak terlalu terjal. Ikan hiu dikenal sebagai pencari makan
dipembuangan sampah dikapal maupun pelabuhan. Ikan hiu mampu mendeteksi getaran hingga
30.000 kaki. Ikan hiu biasanya suka bermigrasi pada lautan lain pada malam hari dan akan
kembali ketempatnya pada malam hari.Hewan ini biasanya melakukan migrasi kebeberapa
tempat dengan melakukan perjalanan jauh, hal ini dilakukan untuk mencari mangsa dan
perkembangbiakannya. Beberapa spesies dijumpai di pantai dan beberapanya lagi senang
berhabitat diterumpu karang. Hiu mencakup spesies yang berukuran sebesar telapak tangan hiu
pigmi, Euprotomicrus bispinatus, sebuah spesies dari laut dalam yang panjangnya hanya 22 cm,
hingga hiu paus, Rhincodon typus, ikan terbesar, yang bertumbuh hingga sekitar 12 meter dan
yang, seperti ikan paus, hanya memakan plankton melalui alat penyaring di mulutnya. Hiu
banteng, Carcharhinus leucas, adalah yang paling terkenal dari beberapa spesies yang berenang
di air laut maupun air tawar (jenis ini ditemukan di Danau Nikaragua, di Amerika Tengah) dan di
delta-delta.

Hiu paus adalah hiu terbesar sekaligus ikan terbesar didunia saat ini dimana ukurannya
dapat mencapai 2 gajah besar dengan ukuran 2x4 lebar dan 2x6 panjang. Hiu putih / white shark
yang dapat mencapai 6 meter dengan berat hingga 7 ton, jika dibandingkan dengan gajah afrika
yaitu memiliki berat 6 ton, dan ini adalah ikan hiu yang berbahaya bagi semua yang
menjumpainya.
Hiu terkecil adalah lantern shark / hiu lentera yang dapat dipegang dengan telapak tangan
manusia dewasa.

Hiu umumnya adalah “apex predator” atau top predator pada ekosistem mereka karena
mereka hanya memiliki sedikit pemangsa alami. Sebagai top predator, Hiu memangsa hewan-
hewan dibawahnya pada jaring makanan, membantu mengatur dan menjaga keseimbangan
ekosistem lautan. Secara ekologis, hiu akan memangsa ikan lain yang sakit atau tua dan lemah.
Perilaku ini membuat fungsi keberadaan hiu di ekosistem perairan laut dan terumbu karang
menjadi vital. Hiu secara langsung membatasi populasi dari mangsanya, yang mengakibatkan
meregulasi spesies yang menjadi makanan mangsa hiu tersebut, dst. Makanan dari kebanyakan
pemangsa utama cukup beragam. Ini mengizinkan pemangsa utama untuk berganti mangsa saat
populasi mangsa tertentu rendah, sehingga mengizinkan spesies yang menjadi mangsa hiu tetap
ada. Hiu merupakan predator puncak dilautan. Beberapa spesies hanya memiliki sedikit predator
sedangkan hiu putih adalah predator puncak seutuhnya dan predator paling berbahaya dilautan
meskipun demikian hiu putih hanya memiliki 1 jenis predator yaitu paus pembunuh (Orcinus
orca). Makanan makanan kesukaan hiu diantaranya

1. Anjing Laut
Anjing laut adalah salah satu makanan kesukaan ikan hiu sekaligus menjadi makanan yang
paling sering dikonsumsi di lautan. Adapun sesekali ikan hiu berburu anjing laut hingga di
pinggir pantai yang dalam, meskipun untuk mendapatkan anjing laut sendiri tidaklah mudah
karena anjing laut sangatlah lincah apabila sudah berada di dalam lautan.

2. Penyu Laut
Meskipun penyu laut mempunyai cangkang yang sangat keras, akan tetapi di sisi bagian bawah
penyu tetaplah lunak dan sangat rawan. Oleh karena itu saat berada di lautan tidak jarang hewan
penyu laut ini kerap menjadi sasaran empuk sebagai makanan hiu laut. Adapun jenis ikan hiu
yang kerap memburu hewan penyu laut adalah ikan hiu putih.

3. Ikan-Ikan Kecil
Di lautan sana, pada dasarnya ikan hiu juga sangat suka memburu makanan berupa ikan-ikan
kecil lainnya yang berenang secara bergerombol. Akan tetapi tidak semua jenis ikan yang ada di
lautan bisa dimakan oleh ikan hiu melainkan hanya beberapa jenis ikan tertentu saja yang biasa
diburu oleh ikan hiu. Biasanya jenis ikan tersebut seperti ikan tongkol, ikan tuna, dan ikan bara
kuda yang menjadi makanan favorit karena mereka kebanyakan berenang secara bergerombol
untuk mengelabuhi musuhnya.

4. Gurita
Jadi gurita ini juga sering dijadikan sebagai makanan dari ikan hiu saat di dasar lautan karena
pergerakan gurita cenderung lebih lambat jika dibandingkan dengan jenis ikan lainnya, walaupun
kecerdikan gurita dalam berlindung di bebatuan kerap menyulitkan para predatornya. Tapi ada
beberapa kasus di mana ikan hiu yang masih kecil gagal memakan gurita, sehingga justru
menjadi mangsa dari gurita.

5. Hewan Lainnya yang ada di Laut


Selain memakan jenis hewan yang telah disebutkan di atas, ikan hiu pada dasarnya juga
memakan hampir semua jenis hewan kecil yang ada di lautan seperti contohnya kepiting, lobster,
sotong, dan lain sebagainya yang ada di dasar laut. Sebab tidak jarang hiu berada di dasar laut
dan mencoba berkamungflase untuk menjebak mangsanya. Ikan hiu sendiri tergolong ikan yang
rakus dan memakan makanan dalam jumlah yang banyak sekaligus. Bahkan terhitung dalam
sehari ikan hiu bisa mengonsumsi ikan dalam jumlah 200 Kg. bahkan hiu macan (Galeocerdo
cuvier) bisa memakan benda benda seperti kamera penyelam dan benda benda yang hanyut
dilaut.

Hiu paus merupakan spesies ikan terbesar yang memakan plankton sebagai makanan
utamanya. Dinamakan hiu paus karena karena ukuran tubuhnya yang besar dan kebiasaan
makannya dengan menyaring air laut menyerupai kebanyakan jenis paus. Berdasarkan
pengamatan melalui pemeriksaan isi perut oleh peneliti, makanan utama hiu paus berupa
plankton dan ikan teri. Selain itu, copepod, cacing panah, larva kepiting, moluska, krustasea,
telur karang dan telur ikan. Ada juga hiu paus yang memangsa cumi-cumi kecil dan ikan kecil.
Hiu lainnya yang memekan plankton adalah hiu basking dan hiu Greenland. Hiu putih bisa
dibilang hiu terbesar yang dikenal di dunia dan merupakan salah satu predator utama untuk
mamalia laut. Selain itu, ia juga memangsa berbagai hewan laut lainnya, termasuk ikan,
pinnipeds, dan juga burung laut.

Hiu banteng merupakan satu satunya spesies yang mempunyai keunikan. Mereka bisa
berenang sampai ke sungai air tawar. Padahal, kebanyakan hiu tidak bisa melakukan hal itu.
Menurut peneliti, hiu banteng sudah melakukan adaptasi khusus pada ginjal dan kelenjar khusus
di dekat ekornya. Karena itulah, mereka bisa berenang di air tawar.
Habitat asli hiu banteng berada di laut. Namun karena sistem sirkulasi tubuhnya bisa berubah-
ubah sesuai. Dengan kadar keasinan di sekitarnya, hiu banteng bisa hidup di perairan laut
maupun tawar sama baiknya. Itulah sebabnya hiu banteng kerap terlihat di bagian hilir Sungai
Amazon yang kebetulan memang berukuran besar.
Berkat kemampuannya hidup di air sungai sekaligus air asin, hiu banteng bisa mencari makan di
Sungai Amazon dengan pesaing yang lebih sedikit. Hiu banteng yang masih kecil juga
memanfaatkan kemampuan tersebut untuk hidup di Sungai Amazon tanpa harus khawatir bakal
diserang oleh hiu-hiu lain yang berukuran
jauh lebih besar Selain di Sungai Amazon, hiu banteng juga dapat ditemukan di lautan dangkal
seluruh dunia yang bersuhu hangat.
Dan karena habitatnya berada di lokasi-lokasi yang dekat dengan pusat aktivitas manusia, hiu
banteng pun memiliki kecenderungan tinggi untuk menyerang manusia.
Sedangkan hiu Greenland adalah spesies yang berhabitat dilaut dingin yaitu di Greenland.
Hiu lentera dan hiu pemotong kue senang berhabitat di periran dalam, mereka biasanya memiliki
struktur yang disebut bioluminesen.
Sedangkan pada ikan pari habitat yang disenangi ikan pari adalah dasar perairan pantai
yang dangkal dengan substrat pasir dan Lumpur, dekat rataan terumbu karang (reef flat), laguna,
teluk, muara sungai dan air tawar. Ada beberapa jenis yang hidup di laut lepas dekat permukaan
sampai kedalaman lebih dari 2000 m. Terdapat beberapa jenis pari yang berhabitat di air tawar
misalnya Di perairan tropis Asia Tenggara (Thailand,Indonesia,Papua Nugini) dan
Amerika Selatan (Sungai Amazon).

Ikan pari terdapat di seluruh perairan tropis, subtropis dan daerah iklim sedang, dan dari
315 - 340 jenis yang telah diketahui, 10 jenis diantaranya adalah penghuni air tawar.
Penyebarannya di laut mulai dari daerah bentik perairan pantai sampai lepas pantai pada
kedalaman lebih dari 2000 m . Perairan pantai berpasir, Lumpur, laguna, teluk, reef flat (rataan
terumbu karang) dan muara sungai merupakan habitat yang disenangi oleh ikan pari. Menurut
VAN HOEVE (1992), karena tubuhnya yang sangat pipih dan sirip dadanya yang besar
memungkinkan ikan pari hidup di dasar air, diam tak bergerak tanpa diketahui atau menjelajah
hingga dekat permukaan air. Jenis ikan pari terbesar yang banyak tersebar di Samudera Pasifik,
Hindia dan Atlantik adalah Ikan pari hantu atau ikan pari manta (Manta birostris), lebar
tubuhnya sekitar 6,1 dengan berat lebih dari 1360 kg. Semua jenis ikan pari manta (diperkirakan
ada 10 jenis) merupakan ikan pari berukuran besar, hidup di dekat permukaan lautan terbuka.
Sedangkan diseluruh perairan pantai yang beriklim sedang dan panas tersebar 45 jenis ikan pari
gitar, diantaranya Rhina ancylostoma. Demikian pula ikan pari sangat, merupakan jenis yang
ditakuti, karena pada pangkal ekornya mempunyai duri yang berbisa; tersebar luas diseluruh
dunia. Jumlahnya telah diketahui yakni sekitar 90 jenis, diantaranya Dasyatis brevicaudata yang
banyak terdapat di perairan Australia dan In-donesia. Di Samudera Atlantik dan Laut Tengah
umumnya adalah jenis Dasyatis pastinaca. Sedangkan ikan pari air tawar yang sangat ditakuti
dan tersebar banyak di Amerika Selatan, Nigeria dan Laos, yaitu jenis-jenis ikan pari dari genus
Potamotrygon.

Ikan ini pada umumnya berenang disekitar dasar laut dengan mulut terbuka untuk mencari
makanan disekitarnya. Pari manta adalah pari terbesar didunia. Manta terkenal karena ia bisa
melompat keluar dari air dan karena ukuran tubuhnya yang besar, ia selalu menarik perhatian
saat sedang melakukan lompatan. Ada beberapa teori mengenai sebab mereka melompat dari air.
Mereka mungkin melakukan itu untuk melarikan diri dari pemangsanya atau untuk melepas
parasit yang menempel pada tubuhnya. Teori lainnya, manta menggunakan itu untuk
berkomunikasi satu sama lain. Manta juga diperkirakan melompat keluar air untuk menunjukkan
kekuatannya saat sedang mencari pasangan. Pari manta adalah hewan yang secara umum
memiliki perilaku yang tenang. Ia juga menunjukkan perilaku bersahabat dengan para penyelam
sehingga penyelam yang kebetulan berada di dekatnya bisa memegang dan bahkan
menungganginya. Ia juga biasa terlihat di dekat permukaan laut dan di sekitar terumbu karang.
Pari manta bisa dijumpai dalam jumlah cukup besar di wilayah-wilayah yang kaya akan
plankton, namun pari manta diketahui tidak menunjukkan tanda-tanda interaksi sosial satu sama
lain maupun membentuk kelompok.
Manta dikenal sebagai salah satu ikan besar yang memakan plankton (filter feeder). Ia makan
dengan cara membuka mulutnya sambil berenang sehingga plankton yang berada dalam air
masuk ke dalam mulutnya. Ia juga bisa menggunakan sepasang sirip kepalanya yang mirip
tanduk itu untuk mengarahkan plankton agar masuk ke mulutnya. Dengan cara ini ia dianggap
berburu secara pasif karena ia tidak mengejar mangsanya untuk makan. Manta juga diketahui
memakan hewan-hewan kecil seperti udang dan anak ikan.

Interaksi dengan hewan Lain

Ikan remora yang menempel pada perut manta dan perut hiu biru
Ikan-ikan kecil diketahui sering berada di dekat manta dan hiu. Salah satu spesies ikan laut yang
paling sering diketahui suka berada di dekat manta adalah ikan remora (Echeneida sp.). Ikan ini
biasa ditemukan menempel pada bagian bawah tubuh manta dan hiu memakai semacam
penghisap pada bagian atas tubuhnya. Remora mendapat keuntungan dengan menempel pada
manta dan hiu karena ia terlindung dari pemangsanya dan ia memperoleh “makanan gratis”
berupa parasit yang menempel pada kulit manta dan hiu.

Sedangkan Holocephali atau biasa disebut Chimaera dikatakan langka karena mereka
berhabitat di dasar laut hingga kedalamam 2.600 meter ( 8.500 kaki ) yang mendalam, dengan
sedikit yang terdapat pada kedalaman dangkal dari 200 meter ( 660 kaki ). Kecuali yang
termasuk anggota genus Callorhinchus , rat fish dan ratfish tutul , yang lokal / berkala dapat
ditemukan pada kedalaman yang relatif dangkal. Chimaera adalah ikan bergelar Hiu Hantu.
Karena tempat hidupnya di dasar laut yang gelap, jauh dari permukaan air laut. Pada kedalaman
2.000 sampai 2.600 meter di bawah permukaan laut, maka bisa dikatakan ikan ini jarang bertemu
manusia. Seperti halnya beberapa jenis hiu dan pari yang berhabitat dilaut dalam. Chimaera juga
memiliki struktur bioluminesen.

F. Peranan Chondrichthyes

Chondrichthyes memiliki banyak peranan dalam kehidupan dan ekosistem. Peran hewan
Chondrichthyes bagi manusia:

1. Sebagai bahan makanan

Ikan pari merupakan ikan yang banyak ditangkap di laut untuk menjadi bahan pangan.
Ikan ini dapat diolah dengan dibakar atau digoreng. Tulang dari ikan pari bersifat lunak, karena
terdiri dari tulang rawan, berbeda dengan ikan lainnya. Kandungan kalsium dan manfaat fosfor
pada ikan pari juga sangat baik untuk kesehatan gigi dan tulang sehingga baik gigi maupun
tulang dapat tumbuh sehat dan kuat. Terutama pada anak-anak yang sedang dalam masa
pertumbuhan dimana diperlukan asupan kalsium dan fosfor dalam jumlah cukup.
kornea mata ikan hiu ini sangat bermanfaat dalam membantu memulihkan kondisi mata manusia
setelah dioperasi. Ada sebuah protein yang dapat menurunkan gejala hipertensi yaitu minyak
ikan hiu, minyak tersebut dapat menurunkan gejala hipertensi.
Sirip ikan hiu sangat bermanfaat karena sirip hiu dapat mengobati kanker.
Jika anda mengalami luka bakar pada kulit anda, segeralah mengonsumsi ikan hiu, karena
kerangka tulang rawan yang ada pada hiu sangat membantu sekali dalam mengobati luka bakar.
Sirip ikan hiu merupakan organ yang dapat di olah menjadi makanan laut yang mempunyai nilai
jual yang sangat tinggi, seperi sup ataupun bahan campuran mie. Melihat betapa istimewanya
ikan hiu ini, dan juga kekuatannya yang cukup menakjubkan di banding dengan hewan lain yang
hidup di air sangat tidak heran jika ikan ini ternyata memiliki cita rasa yang cukup tinggi dan
menggugah selera. Manfaat Ikan Hiu sebagai Anti Koagulan, Anti koagulan adalah sebuah zat
yang mencegah terjadinya penggumpalan darah dengan cara mengikat kalsium atau dengan
menghambat pembentukan trombin, hal ini diperlukan untuk merubah fibrinogen menjadi fibrin
dalam proses pembekuan.

2. Sebagai bahan kerajinan

Beberapa suku di samudera Pasifik, seperti suku Maori di Selandia Baru, menggunakan
tulang ikan hiu untuk bahan kerajinan seperti untuk ukiran dan kail ikan.
Gigi ikan hiu juga dapat di jadikan bahan untuk membuat sebuah aksesoris. Gigi hiu mempunyai
tekstur yang sangat cocok untuk dijadikan aksesoris maupun cinderamata, seperti kalung dan
juga gantungan kunci.
Ikan hiu ternyata bermanfaat juga untuk membuat baju renang .Bagian yang digunakan untuk
pembuatan baju renang adalah bagian kulit pada ikan hiu, baju renang yang berbahan dasar kulit
hiu saat dipakai akan lentur dan sangat nyaman.

3. Sebagai atraksi wisata

Ikan-ikan bertulang rawan dapat berukuran raksasa, seperti hiu paus (Rhincodon typus)
dan pari manta (Manta birostris). Kedua spesies ini tidak menyerang manusiadan bahkan dapat
berenang bersama dengan penyelam. Kedua spesies ini merupakan atraksi wisata laut yang
banyak diminati.

4. Menjaga keseimbangan ekosistem

Ikan bertulang rawan banyak menjadi pemngsa puncak (aex predator) sehingga
populasinya sangat berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Karena itu ekploitasi yang
berlebihan seperti pemburuan ikan hiu untuk siripnya, dapat berbahaya bagi kelangsungan
ekosistem. Hiu merupakan hewan laut yang sangat dilindungi, karena mirisnya kini populasi hiu
semakin berkurang. Maraknya nelayan yang menangkap Hiu dan memanfaatkan siripnya yang
berharga mahal adalah salah satu faktor utama menipisnya populasi hiu. Padahal Hiu sangat
bermanfaat bagi kelangsungan ekosistem laut. Salah satu contohnya adalah Hiu yang merupakan
predator yang memangsa ikan pemakan kerang-kerangan seperti ikan pari. Penurunan spesies hiu
dilaut akan berakibat meningkatnya spesies ikan pemakan kerang-kerang dibawah laut.
Pergantian spesies ini tidak hanya berakibat terhadap hilangnya hiu sebagai top predator, tetapi
laut sebagai habitat juga akan berubah. Karena ikan pari akan memperluas perburuannya dan
akan menggangu habitat lain, seperti kerang-kerangan yang berfungsi sebagai biofilter di laut
yang berfungsi mejernihkan perairan laut. Sebagai top predator, Hiu memangsa hewan-hewan
dibawahnya pada jaring makanan, membantu mengatur dan menjaga keseimbangan ekosistem
lautan. Secara ekologis, hiu akan memangsa ikan lain yang sakit atau tua dan lemah. Perilaku ini
membuat fungsi keberadaan hiu di ekosistem perairan laut dan terumbu karang menjadi vital.
Di perairan laut, ikan pari mempunyai peran ekologis yang sangat penting, terutama sebagai
predator bentos.

Disamping itu ada beberapa spesies hiu dan pari yang berbahaya yang tentunya bisa
merugikan manusia. Untuk beberapa jenis hiu dan pari sangat berbahaya, sebab keagresifannya
dalam mencari mangsa dapat membunuh manusia ketika memasuki wilayah berburu mereka.
Sebagai contoh hiu putih besar,hiu kepala martil,hiu macan, dan hiu banteng. Keempat jenis hiu
ini bertanggung jawab atas kasus serangan serangan pada penyelam dan peselancar di seluruh
dunia.
Beberapa jenis pari memiliki ekor berduri yang mengandung racun yang berfungsi sebagai alat
untuk melumpuhkan dan membunuh mangsa sekaligus juga sebagai alat pertahanan diri dari
berbagai ancaman. Luka yang disebabkan oleh ikan pari berbisa umumnya karena injeksi racun
ke dalam tubuh korban dengan menggunakan duri yang sangat pendek, racun pari akan
mematikan jaringan tubuh yang berada dekat organ organ vital, hal tersebut bisa menimbulkan
kematian. Biasanya kasus tersebut terjadi ketika seseorang tidak sengaja menginjak bagian ekor
berduri milik pari ini. Pari juga dapat meneyebabkan sakit atau kematian bila daging atau
sebagian organ tubuhnya dimakan.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Chondrichthyes berasal dari bahasa Yunani yang berarti ikan bertulang rawan.
Dinamakan demikian karena Chondrichthyes memiliki kerangka yang berbahan dasar dari tulang
rawan, bukan tulang sejati. Mereka dibagi menjadi dua subkelas: Elasmobranchii (hiu dan pari)
and Holocephali (kimera, kadang-kadang disebut hiu hantu, dan kadang dipisahkan menjadi
kelas tersendiri).
Karakteristik Chondrichthyes yang umum diketahui adalah : kerangka berasal dari tulang
rawan, belum memiliki tutup insang dan hanya memiliki celah insang, tidak memilki gelembung
udara, ada yang memiliki sisik dan tidak memiliki sisik, jika memiliki sisik tipenya adalah
placoid. Ciri-ciri khusus : Kulit keras, Kerangka bertulang rawan, Jantung beruang dua, Respirasi
dengan menggunakan 5 atau 7 pasang insang, Jenis kelamin terpisah
Morfologi tubuh Chondrichthyes umumnya berbentuk pipih dorsiventral dan berbentuk
gilig, anatomi eksternal yang terdiri dari gigi, kerangka, rahang, dan ekor. Morfologi pada kelas
Chondichtyes dideskripsikan berdasarkan perwakilan kelas yaitu ikan hiu. Hiu memiliki sirip
ekor heterocercal yang di gunakan untuk berenang, celah insang lateral, terdapat spirakel di
belakang mata, sirip terdiri atas sepasang sirip dada (pectoral) dan sirip perut (pelvic), satu atau
dua sirip punggung (dorsal), satu sirip ekor, kadang-kadang terdapat sepasang sirip dubur (anal).
Kelas chondrichthyes mencakup 2 sub kelas yaitu :Sub kelas Elasmobranchii (Ordo

Squaliformes yang mencakup semua jenis hiu dan Ordo Rajiformes yang mencakup semua jenis

pari) dan Sub kelas Holecephali (Mencakup jenis ikan langka yang disebut chimaera).

Chondrichthyes berhabitat di samudera dan lautan di seluruh dunia dan beberapa spesies
bisa tumbuh dan hidup dalam air tawar bahkan perairan kutub (hiu Greenland / Somniosus
microcephalus). Sedangkan Holocephali atau biasa disebut Chimaera dikatakan langka karena
mereka berhabitat di dasar laut hingga kedalamam 2.600 meter ( 8.500 kaki ) yang mendalam di
dasar laut yang gelap, jauh dari permukaan air laut.
Chondrichthyes memiliki banyak peranan dalam kehidupan dan ekosistem. Peran hewan
Chondrichthyes bagi manusia:
- Sebagai bahan makanan
- Sebagai bahan kerajinan
- Sebagai atraksi wisata
- Menjaga keseimbangan ekosistem
Disamping itu ada beberapa spesies hiu dan pari yang berbahaya yang tentunya bisa merugikan
manusia. Untuk beberapa jenis hiu dan pari sangat berbahaya, sebab keagresifannya dalam
mencari mangsa dapat membunuh manusia ketika memasuki wilayah berburu mereka.
Sebagai contoh hiu putih besar,hiu kepala martil,hiu macan, dan hiu banteng. Keempat jenis hiu
ini bertanggung jawab atas kasus serangan serangan pada penyelam dan peselancar di seluruh
dunia. Beberapa jenis pari memiliki ekor berduri yang mengandung racun yang bisa membunuh
manusia.
B. Saran
Saran dan harapan kami, setelah mempelajari tentang kelas chondrichthyes pembaca
dapat lebih memahami tentang kelas tersebut baik dari segi karakteristik atau ciri ciri
umum,struktur atau anatomi,fisiologi & perkembangan,klasifikasi,ekologi & habitat beserta
perilakunya,serta peranannya dalam kehidupan.
dan dapat memanfaatkan ilmu pengetahuannya tentang chondrichthyes sebaik-baiknya.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N.A., J.B. Reece, & L.G. Mitchell. 2003. Biologi. Edisi Ke-5. Terjemahan.Dari:
Biology. 5th ed. Oleh Manalu, W. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Mader, S.S. 2004. Biology.Boston : McGraw-Hiil.

Romimohtarto, K., 2007. Biologi laut. Djambatan : Jakarta.

Jasin, Maskoeri. 1992. Zoologi Vertebrata. Jakarta : Sinar Wijaya.

Sukiya. 2001. Biologi Vertebrata. Yogyakarta : Fakultas MIPA Universitas Negeri Yogyakarta.

Mukayat, Djarubito. 1989. Zoologi Dasar. Jakarta : Erlangga.

Jasin, Maskoeri. 1984. Sistematika Hewan Invertebrata dan Vertebrata. Surabaya : Sinar Wijaya.

Latjompoh,M. 2006. Bahan Ajar Mata Kuliah Zoologi Vertebrata. Gorontalo :


Universitas Negeri Gorontalo.

Soesilo. 1987. Biosistematika. Jakarta : Karunika.

Kimball, Jhon W., Siti Tjitrosomo, dan Nawangsari Sugiri. 2009. Biologi Jilid 3 edisi ke 5.
Jakarta : Erlangga.
Campbell, N.A., J.B. Reece, & E.J. Simon. 2006. Essential Biology. Edisi ke-2. California :
Cumming Publishing Company.

Hutabarat, S.V. 2012. Taksonomi hewan Tingkat Tinggi. Medan : FMIPA Unimed.

Keeton, W.T. & James L.G. 1986. Biological Science. USA : Norton & Company Inc.

Kimball, J.W. 1999. Biologi. Jilid 3. Cetakan ke-3. Jakarta : Erlangga.

Lum, H.K. 2001. Biology. The Living Science. Singapore : Longman.

Radiopetra. Zoologi Dasar. 1993. Jakarta : Erlangga.

Villee, Claude A. 1999. Zoologi Umum. Jakarta : Erlangga

ALLEN, G. 1997. Marine Fishes of Tropical Australia and South - East Asia : A Field Guide
For Anglers And Divers. Western Australian Museum, 292 pp.

NELSON,J.S. 1976. Fishes of the world. John Wiley & Sons, Inc.Canada :416 pp.

Van HOEVE, W. 1992. Ensiklopedi Indonesia Seri Fauna Ikan. PT. Ichtiar Baru van Hoeve
Jakarta: 256 pp.