Anda di halaman 1dari 30

Dicetak pada tanggal 2020-04-29

Id Doc: 589c896781944d3210494127

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

1.1 Etnomatematika

1.1.1 Pengertian Etnomatematika

Istilah ethnomathematics yang selanjutnya disebut etnomatematika

diperkenalkan oleh D’Ambrosio, seorang matematikawan Brasil pada tahun 1977.

Definisi etnomatematika menurut D’Ambrosio adalah :

The prefix ethno is today accepted as a very broad term that refers to

the socialcultural context and therefore includes language, jargon, and

codes of behavior, myths, and simbols. The derivation of mathema is

difficult, but tends to mean to explain, to know, to understand, and to do

activities such as ciphering, measuring, classifying, inferring, and

modeling. The suffix tics is derived from techne, and has the same root

as technique (Rosa & Orey, 2011:35)

Secara bahasa, awalan “ethno” diartikan sebagai sesuatu yang sangat luas

yang mengacu pada konteks sosial budaya, termasuk bahasa, jargon, kode perilaku,

mitos, dan simbol. Kata dasar “mathema” cenderung berarti menjelaskan,

mengetahui, memahami, dan melakukan kegiatan seperti pengkodean, mengukur,

mengklasifikasi, menyimpulkan, dan pemodelan. Akhiran “tics” berasal dari techne,

dan bermakna sama seperti teknik. Jadi etnomatematika memiliki pengertian lebih

luas dari hanya sekedar ethno (etnik) maka secara bahasa etnomatematika dapat

9
Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 10

didefinisikan sebagai antropologi budaya (culture antropologi of mathematics) dari

matematika dan pendidikan matematika.

Sejalan dengan pendapat di atas ada juga pendapat Powel (1997:16) yang

menyatakan bahwa “The mathematics which is practiced among identifiable cultural

groups such as national-tribe societies, labour groups, children of certain age

brackets and professional classes”. Jadi pendapat Powel dan Orey hampir mirip.

Namun ada tambahan dari Powel yang menyatakan bahwa matematika yang

dipraktekkan diantara kelompok budaya diidentifikasi seperti masyarakat nasional

suku, kelompok buruh, anak-anak dari kelompok usia tertentu dan kelompok

professional.

Definisi ini kemudian disempurnakan oleh D’Ambrosio (1999:146) yang

menyatakan bahwa “I have using the word ethnomathematics as modes, styles, and

techniques (tics) of explanation of understanding, and of coping with the natural and

cultural environment (mathema) in distinct cultural systems (ethnos)”. Dapat kita

simpulkan bahwa etnomatematika dapat digunakan sebagai mode, gaya, dan teknik

(tics) menjelaskan, memahami, dan menghadapi lingkungan alam dan budaya

(mathema) dalam system budaya yang berbeda(ethnos).

Dari definisi tersebut etnomatematika dapat diartikan sebagai matematika

yang dipraktikkan oleh kelompok budaya, seperti masyarakat perkotaan dan

pedesaan, kelompok buruh, anak-anak dari kelompok usia tertentu, masyarakat adat,

dan lainnya. Adapun tujuan dari adanya etnomatematika adalah untuk mengakui

bahwa ada cara-cara berbeda dalam melakukan matematika dengan

mempertimbangkan pengetahuan matematika akademik yang dikembangkan oleh


Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 11

berbagai sektor masyarakat serta dengan mempertimbangan modus yang berbeda

dimana budaya yang berbeda merundingkan praktek matematika mereka (cara

mengelompokkan, berhitung, mengukur, merancang bangunan atau alat, bermain dan

lainnya).

Dengan demikian, sebagai hasil dari sejarah budaya matematika dapat

memiliki bentuk yang berbeda-beda dan berkembang sesuai dengan perkembangan

masyarakat pemakainya. Etnomatematika menggunakan konsep matematika secara

luas yang terkait dengan berbagai aktivitas matematika, meliputi aktivitas membilang,

aktivitas mengukur, aktivitas menjelaskan, dan lain sebagainya.

1.1.2 Aktifitas pada Etnomatematika

Menurut Sirate (2011: 125-130) ada beberapa aktifitas Etnomatematika,

aktifitas tersebut ialah aktifitas membilang, mengukur,aktifitas membuat rancang

bangun,aktifitas menentukan lokasi,aktititas bermain, dan aktifitas menjelaskan.

1.) Aktfitas Membilang

Aktifitas membilang berkaitan dengan pertanyaan “berapa banyak”. Unsur

pembentuk aktifitas membilang seperti medianya batu,daun,atau bahan alam

lainnya. Aktifitas membilang umumnya menunjukkan aktifitas penggunaan

dan pemahaman bilangan ganjil dan genap serta lainnya.

2.) Aktifitas Mengukur

Aktifitas mengukur berkaitan dengan pertanyaan “berapa”. Pada

etnomatematika akan sangat sering ditemui alat ukur tradisional seperti

potongan bambu dan ranting pohon. Namun umumnya


Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 12

masyarakattradisional menggunakan tangannya sebagai alat ukur paling

praktis dan efektif.

3.) Aktifitas Menentukan Lokasi

Banyak konsep dasar geometri yang diawali dengan menentukan lokasi

yang digunakan untuk rute perjalanan, menentukan arah tujuan atau jalan

pulang dengan tepat dan cepat. Penentuan lokasi berfungsi untuk

menentukan titik daerah tertentu. Umumnya masyarakat tradisional

menggunakan batas alam sebagai batas lahan, penggunaan tanaman tahunan

masih sering digunakan sebagai batas lahan.

4.) Aktifitas Membuat Rancang Bangun

Gagasan lain dari Etnomatematika yang bersifat universal dan penting

adalah kegiatan membuat rancang bangun yang telah diterapkan oleh semua

jenis budaya yang ada. Jika kegiatan menentukan letak berhubungan dengan

posisi dan orientasi seseorang didalam lingkungan alam, maka kegiatan

merancang bangun berhubungan dengan semua benda-benda pabrik dan

perkakas yang dihasilkan budaya untuk keperluan rumah tinggal,

perdagangan, perhiasan, peperangan, permainan, dan tujuan keagamaan.

5.) Aktifitas Bermain

Aktifitas bermain yang dipelajari dalam etnomatematika adalah kegiatan

yang menyenangkan dengan alur yang mempunyai pola tertentu serta

mempunyai alat dan bahan yang mempunyai keterkaitan dengan

matematika.
Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 13

6.) Aktifitas Menjelaskan

Membuat penjelasan merupakan kegiatan yang mengangkat pemahaman

manusia yang berkaitan dengan pengalaman yang diperoleh dari

lingkungannya yang berkenaan dengan kepekaan seseorang dalam membaca

gejala alam. Dengan demikian aktifitas lingkungan yang ada senantiasa

menggunakan bilangan. Dalam matematika, penjelasan berkaitan dengan

“mengapa” bentuk geometri itu sama atau simetri, mengapa keberhasilan

yang satu merupakan kunci keberhasilan yang lain, dan beberapa gejala

alam di jagad raya ini mengikuti hukum matematika. Dalam menjawab

pertanyaan ini digunakan simbolisasi, misalnya dengan bukti nyata.

1.2 Suku Anak Dalam

1.2.1 Sejarah asal usul Suku Anak Dalam

Menurut tradisi lisan suku anak dalam merupakan orang maalau sesat, yang

lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam,taman nasional Bukit Duabelas, mereka

kemudian dinamakan moyang Segayo. Tradisi lain menyebutkan mereka berasal dari

Pagaruyung, yang mengungsi ke Jambi. Ini diperkuat kenyataan adat suku anak

dalam punya kesamaan bahasa dan adat dengan suku Minangkabau, seperti sistem

matrilineal.

Sumber dari Muchlas (1975) yang menelusuri asal usul anak dalam menyatakan

bahwa asal usul Anak Dalam berasal dari sejumlah cerita yang dituturkan secara lisan

dan berkembang di provinsi Jambi. Beberapa cerita itu adalah cerita buah gelumpang,

tambo anak dalam (Minangkabau), cerita orang kayu hitam, cerita seri sumatera
Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 14

tengah, cerita perang Jambi dengan Belanda, cerita tambo Sriwijaya, cerita turunan

Ulu Besar dan Bayat, cerita tentang orang Kubu.

Kesimpulan Muchlas dari cerita tersebut adalah anak dalam berasal dari tiga

keturunan yaitu:

1. Keturunan dari Sumatera Selatan, umumnya tinggal di wilayah kabupaten

Batanghari.

2. Keturunan dari Minangkabau umumnya di kabupaten Bungo Tebo sebagian

Mersam.

3. Keturunan dari Jambi asli ialah Kubu Air Hitam kabupaten Sarolangun Bangko.

Lebih jauh Muchlas mengatakan bahwa asal usul anak dalam berasal dari cerita

tentang perang Jambi dengan Belanda yang berakhir pada tahun 1904, pihak pasukan

Jambi yang dibela oleh Anak-Dalam yang dipimpin oleh Raden Perang. Raden

Perang adalah cucu Raden Nagasari. Dalam perang gerilya maka terkenallah anak-

dalam dengan sebutan orang kubu artinya orang yang tak mau menyerah pada

penjajah Belanda yang membawa penyakit jauh senjata api. Orang Belanda disebut

orang kayo putih sebagai lawan Raja Jambi (Orang Kayo Hitam).

Beberapa sumber lain yang membahas mengenai sejarah asal usul anak dalam

yaitu disertasi Muntholib Soetomo yang memaparkan mengenai asal usul suku anak

dalam berawal dari cerita seorang yang gagah berani bernama Bujang Perantau.
Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 15

Selain itu berdasarkan Dirjen Bina Masyarakat Terasing Depsos RI, 1998 :55-

56, secara mitologi, suku anak dalam masih menganggap satu keturunan dengan

Puyang Lebar Telapak yang berasal dari desa Cambai, Muara Enim.

Menurut departemen sosial dalam data dan informasi Depsos RI (1990)

menyebutkan asal usul suku anak dalam yaitu sejak tahun 1624, kesultanan

Palembang dan kerajaan Jambi yang sebenarnya masih satu rumpun memang terus

menerus bersitegang dan pertempuran di air hitam akhirnya pecah pada tahun 1629.

Versi ini menunjukkan mengapa saat ini ada dua kelompok masyarakat anak dalam

dengan bahasa, bentuk fisik, tempat tinggal dan adat istiadat yang berbeda. Mereka

yang menempati belantara Musi Rawas (Sumatera Selatan) berbahasa melayu,

berkulit kuning dengan postur tubuh ras Mongoloid seperti orang Palembang

sekarang mereka ini keturunan pasukan palembang. Kelompok lainnya tinggal di

kawasan hutan Jambi berkulit sawo matang, rambut ikal, mata menjorok ke dalam.

Mereka tergolong ras wedoid (campuran wedda dan negrito).

1.2.2 Penyebutan Orang Rimba / Orang Kubu

Ada tiga sebutan yang mengandung makna yang berbeda, yaitu:

a) Kubu, merupakan sebutan yang paling populer digunakan oleh terutama orang

melayu dan masyarakat internasional. Kubu dalam bahasa melayu memiliki

makna peyorasi seperti primitif, bodoh, kafir, kotor dan menjijikan. Sebutan

Kubu telah terlanjur populer terutama oleh berbagai tulisan pegawai kolonial

dan etnografer pada awal abad ini.


Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 16

b) Suku anak dalam, sebutan ini digunakan oleh pemerintah melalui

Departemen Sosial. Anak dalam memiliki makna orang terbelakang yang

tinggal di pedalaman. Karena itulah dalam perspektif pemerintah mereka

harus dimodernisasikan dengan mengeluarkan mereka dari hutan dan

dimukimkan melalui program pemukiman kembali masyarakat terasing

(PKMT).

c) Orang Rimba, adalah sebutan yang digunakan oleh etnik ini untuk menyebut

dirinya. Makna sebutan ini adalah menunjukkan jati diri mereka sebagai etnis

yang mengembangkan kebudayaannya yang tidak bisa lepas dari hutan.

2.2.3 Wilayah pemukiman

Secara garis besar di Jambi suku anak dalam hidup di 3 wilayah ekologis yang

berbeda, yaitu orang kubu yang di utara Provinsi Jambi (sekitaran Taman Nasional

Bukit 30), Taman Nasional Bukit 12, dan wilayah selatan provinsi Jambi (sepanjang

jalan lintas sumatra). Mereka hidup secara nomaden dan mendasarkan hidupnya pada

berburu dan meramu, walaupun banyak dari mereka sekarang telah memiliki lahan

karet dan pertanian lainnya.

2.2.4 Sistem kepercayaan dan Adat istiadat

a) Sistem Kepercayaan

Mayoritas suku kubu menganut kepercayaan animisme, yaitu percaya kepada

dewa dan roh nenek moyang, kepercayaan suku anak dalam terhadap dewa dan roh

nenek moyang terlihat dari aktifitas perkawinan,kematian, serta kegiatan


Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 17

ekonomi.sebagian besar masyarakat suku anak dalam mhingga saat ini masih

menganut kepercayaan tersebut, tetapi ada juga beberapa puluh keluarga suku kubu

yang pindah ke agama Islam.

b) Adat istiadat

Suku anak dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya diatur dengan aturan,

norma dan adat istiadat yang berlaku sesuai dengan budayanya. Dalam lingkungan

kehidupannya dikenal istilah kelompok keluarga dan kekerabatan, seperti keluarga

kecil dan keluarga besar. Keluarga kecil terdiri dari suami istri dan anak yang belum

menikah. Keluarga besar terdiri dari beberapa keluarga kecil yang berasal dari pihak

kerabat istri. Anak laki-laki yang sudah kawin harus bertempat tinggal dilingkungan

kerabat istrinya. Mereka merupakan satu kesatuan sosial dan tinggal dalam satu

lingkungan pekarangan. Setiap keluarga kecil tinggal dipondok masing-masing secara

berdekatan, yaitu sekitar dua atau tiga pondok dalam satu kelompok.

2.2.5 Cara bertahan hidup

Untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, suku anak anak dalam

biasanya melakukan kegiatan berburu atau meramu, menangkap ikan, dan

memanfaatkan buah-buahan yang ada di dalam hutan namun dengan perkembangan

zaman dan adanya akulturasi budaya dari masyarakat luar, kini beberapa suku anak

dalam telah mulai mengenal penegtahuan tentang pertanian dan perkebunan.


Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 18

Kehidupan mereka sangat mengenaskan seiring dengan hilangnya sumber

daya hutan yang ada di Jambi dan Sumatera Selatan, dan proses-proses marginalisasi

yang dilakukan oleh pemerintah dan suku bangsa dominan (orang melayu) yang ada

di Jambi dan Sumatera Selatan.

1.2.6 Aktifitas budaya Besale, Melangun, dan Manumbai

Ada banyak aktifitas budaya yang dimiliki oleh masyarakat suku anak dalam

dan beberapa diantaranya masih sangat kental terasa dikalangan masyarakat suku

anak dalam propinsi Jambi, diantara aktifitas tersebut ialah bersale, melangun, dan

manumbai.

a) Bersale

Suku anak dalam memiliki kepercayaan animisme dan memuja roh nenek

moyang. Kepercayaan suku anak dalam tersebut terwujud dalam kehidupan

sehari-hari. Suku anak dalam percaya bahwa jika ada anggota keluarga

mereka menderita suatu penyakit, mereka percaya bahwa jika ada anggota

keluarga mereka menderita suatu penyakit, mereka percaya bahwa para

dewa,roh,serta mahluk haluslah yang mengganggu manusia. Oleh sebab itu,

untuk mengobati orang sakit mereka akan melakukan tradisi pengobatan.

Tradisi pengobatan suku anak dalam bertujuan untuk membersihkan atau

mengusir roh jahat yang bersemayam dalam tubuh orang sakit, dalam

Bahasa kubu, tradisi pengobatan itu disebut basale. Basale dilakukan

dengan cara membaringkan orang yang sakit pada sebuah balai, yang

mereka sebut angkat semang. Suku anak dalam percaya bahwa roh nenek
Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 19

moyang mereka bersemayam di balai angkat semang. Dalam melakukan

tradisi basale, dukun basale (malin) harus memakai pakaian serba putih.

Selanjutnya, dukun basale menyanyikan mantra yang diiringi bunyi redab.

Redab merupakan alat musik pukul, yang dimainkan dengan cara ditabuh,

redab ditabuh oleh malin pembantu yang berjumlah ganjil. Redab terbuat

dari bahan kulit kambing. Alat ini digunakan untuk mengiringi tarian dan

mantra dukun sale, suara redab diyakini oleh suku anak dalam akan

memanggil roh-roh leluhur.

Suku anak dalam percaya bahwa alat music redab bukan sekedar alat music,

tetapi digunakan juga sebagai alat komunikasi antara dukun sale dan para

dewa. Penabuhan redab silakukan agar para dewa menerima doa yang

dibacakan oleh malim. Hal ini dapat membantu penyembuhan orang yang

sakit. Sambil menyanyikan mantra dan menari, dukun basale mengelilingi

orang sakit tersebut dan menetekan air jampi-jampi ke mata orang sakit. Air

jampi-japi diteteskan ke mata orang yang sakit dengan cara mencelupkan

ujung kain putih, yang disebut pera, ke dalam mangkuk yang berisi air

jampi-jampi. Biasanya, dalam proses pengobatan, malim akan mengalami

kerasukan roh nenek moyang.

b) Melangun

Melangun merupakan tradisi suku anak dalam yang berkaitan dengan tradisi

menjauhi tempat tinggal semula untuk menghilangkan rasa sedih akibat

ditiinggal mati oleh sanak saudara mereka. Tradisi melangun diawali dengan

meratap dan menghempaskan bada ke tanah selama sepekan. Hal itu


Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 20

dilakukan karena suku anak dalam berharap nyawa yang telah hilang akan

kembali ke tubuh jenazah. Sebelum melakukan melangun, jenazah ditutup

kain dan dibaringkan di pasoron. Pasoron adalah pondok berukuran 2x2

yang beratap daun dan digunakan untuk membaringkan orang yang sudah

meninggal. Suku anak dalam tidak mau mengubur jenazah karena mereka

percaya bahwa orang yang telah meninggal bisa hidup kembali. Tradisi

melangun inilah yang menyebabkan suku anak dalam tidak bisa hidup

menetap pada suatu tempat. Mereka melakukan melangun selama beberapa

tahun. Setelah rasa sedih hilang, mereka kembali ke tempat semula.

c) Manumbai

suku anak dalam memiliki tradisi yang berkaitan dengan pengambilan

madu, tradisi pengambilan madu itu mereka sebut dengan Manumbai.

Tradisi manumbai adalah tradisi pengambilan madu dengan cara juagan-

orang yang memanjat pohon sialang untuk mengambil madu-membacakan

mantra untuk melakukan puja-pujian terhadap lebah. Sambil membakar

kemenyan, juagan mengasapi lebah dengan membakar tunon-kulit kayu dan

sabut yang dibentuk memanjang-agar lebah pindah ke pohon lain. Hal itu

dilakukan agar juagan tidak disengat oleh lebah. Kemudian madu yang

berhasil diambil oleh juagan akan diturunkan dengan menggunakan

sangkorot, yakni tali tebuat dari rotan yang digunakan oleh suku anak dalam

untuk menurunkan madu dari pohon sialang. Tradisi pengambilan madu

yang disebut manumbai oleh suku anak dalam menyandikan budaya suku

anak dalam yang bertalian dengan keyakinan mereka terhadap dewa atau
Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 21

roh nenek moyang. Hal ini terungkap dalam proses pengambilan madu,

yakni adanya pembacaan mantra dan pembakaran kemenyan dalam proses

pengambilan madu. Pembacaan mantra merupakan budaya puji-pujian

terhadap dewa dan pembakaran kemenyan meruakan budaya yang berkaitan

dengan pemanggilan roh nenek moyang melalui asap kemenyan.

Tradisi dan kehidupan sehari-hari suku anak dalam sangat banyak yang

mempunyai keterkaitan dari segi keilmuan terutama ilmu matematika, yang dalam hal

ini disebut etno matematika. Masyarakat suku anak dalam terbilang terbelakang dari

segi pendidikan namun sejatinya dalam kehidupan social pasti mempunyai aturan dan

kebiasaan tertentu yang mengandung pengetahuan yang dibutuhkan dalam

pendidikan, maka etno matematika pada suku anak dalam sangat mungkin untuk di

konsruksikan sebagai variasi pembalajaran kedepannya.

1.2.7 Pembelajaran Matematika pada konteks Manumbai

Tradisi mengambil madu merupakan tradisi Indonesia dikarenakan banyak

daerah di Indonesia mempunyai ragam tradisi pengambilan madu yang masih kental

dengan adat kebudayaan yang berlaku didaerah tersebut, manumbai merupakan salah

satu bentuk tradisi pengambilan madu yang masih ada di Indonesia. Tradisi

manumbai merupakan tradisi pengambilan madu yang dilakukan oleh suku terpencil

di propinsi Jambi yaitu masyarakat suku anak dalam.

Pada tradisi manumbai terdapat tiga tahapan pelaksanaan yaitu tahapan

persiapan, tahap pemanenan, serta tahap pembagian. Pada tahapan persiapan

dilakukan penyiapan alat dan bahan yang nantinya digunakan untuk memanen, selain
Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 22

itu juga siapa saja yang akan bertugas memanjat dan menjaga telah ditentukan pada

tahapan ini. Selanjutnya yang menjadi pokok dari tradisi manumbai adalah tahap

pemanenan dikarenakan pada tahapan tersebut masih sangat terlihat kekentalan dari

kebudayaan masyarakat suku anak dalam. Tahapan terakhir adalah pembagian hasil

berdasarkan etika masyarakat suku anak dalam.

Menurut Barton (1996: 195) tujuan dari studi etnomatematika adalah untuk

menyatukan pemahaman dari berbagai perspektif yang berbeda dengan

memungkinkan untuk mengambil beberapa subjek yang mempunyai keterkaitan

dengan matematika sehingga dengan melihat dari perbedaan aktifitas sosial dari

budaya yang alami yang memungkinkan dapat dideskripsikan lebih lajut.

Pada tahapan-tahapan tradisi manumbai, peneliti sangat yakin terdapat banyak

nilai-nilai etnomatematika yang dapat dipelajari. Hal ini terlihat dari berbagai alat dan

bahan serta waktu pemanenan sampai pembagian hasil, kagiatan tersebut sangat

terkait dengan aktivitas etnomatematika, meliputi aktivitas membilang, aktivitas

mengukur, aktivitas menjelaskan, dan lainnya.

Dengan demikian, sebagai hasil dari sejarah budaya matematika dapat

memiliki bentuk yang berbeda-beda dan berkembang sesuai dengan perkembangan

masyarakat pemakainya. Etnomatematika menggunakan konsep matematika secara

luas yang terkait dengan berbagai aktivitas etnomatematika. Peran etnomatematika

panen madu dalam pembelajaran matematika adalah untuk mengakui bahwa ada cara-

cara berbeda dalam melakukan matematika dengan mempertimbangkan pengetahuan

akademik yang dikembangkan oleh berbagai sektor masyarakat serta dengan


Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 23

mempertimbangkan modus yang berbeda dimana budaya dari masyarakat suku anak

dalam ketika mempraktikkan matematika pada tradisi panen madu.

2.3 Pemanfaatan Madu

2.3.1 Pengertian Madu

Madu adalah suatu cairan kental berasa manis dan lezat, berwarna kuning terang atau

kuning keemasan yang dihasilkan oleh hewan jenis serangga yang disebut lebah atau

tawon. Lebah penghasil madu ini termasuk dalam famili “apidae” dan yang paling

banyak dibudidaya di Indonesia maupun diseluruh dunia adalah jenis lebah Apis

Mallifera. Madu alami umumnya terbuat dari nektar yakni cairan manis yang terdapat

di dalam mahkota bunga yang biasa diserap oleh lebah atau tawon, yang kemudian

dikumpulkan dan disimpan di dalam sarangnya untuk diolah menjadi bahan

persediaan makanan utama bagi mereka, seisi penghuni sarangnya (Purbaya, 2007).

2.3.2 Jenis-jenis Madu

Jenis-jenis madu yangdihasilkan oleh lebah atau tawon memang cukup banyak.

Terlebih lagi bila ditinjau dari sari bunga atau nektar yang dimakan atau dibawa oleh

lebah. Antara lain dikenal dengan sebutan: Madu bunga sepatu, calluna, linden,

calliandra dan banyak lagi. Bila ditinjau dari sumbernya, jenis-jenis madu antara lain:

a. Madu Flora

Madu flora atau madu bunga adalah madu murni yang dihasilkan dari nectar bunga.

Madu ini umumnya terdiri dari dua jenis:

1). Madu Monoflora yang dihasilkan dari nectar yang bersumber satu jenis bunga

saja.
Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 24

2). Madu Porliflora atau madu yang dihasilkan dihasilkan dari nektar yang bersumber

lebih dari satu macam bunga atau dari aneka macam bunga.

b. Madu Embun (honey dew) adalah madu yang dihasilkan lebah dari sekresi

serangga tertentu yang sering terdapat pada tumbuh-tumbuhan atau kelopak-kelopak

bunga.

c. Madu Ekstraflora yaitu madu yang dihasilkan dari nectar non flora atau yang bukan

berasal dari bunga.

2.3.3 Kandungan Madu

Menurut penelitian para ahli, madu alami mengandung banyak mineral serta tujuh

jenis vitamin B kompleks, juga terdapat vitamin C, dekstrin, pigmen tumbuhan,

aminoacid (asam amino), protein, serta ester (yang berfungsi untuk membentuk

enzim), dan komponen aromatik yaitu zat-zat atau unsur yang berfungsi sebagai

pengharum. Beberapa kandungan mineral dalam madu adalah Belerang (S), Kalsium

(Ca), Tembaga (Cu), Mangan (Mn), Besi (Fe), Fosfor (P), Klor (Cl), Kalium (K),

Magnesium (Mg), Yodium (I), Seng (Zn), Silikon (Si), Natrium (Na), Molibdenum

(Mo) dan Aluminium (Al). Kandungan mineral yang ada dalam madu alami,

tergantung dari sari bunga yang dihisap. Kegunaan kalsium dan fosfor dalam madu

sangat berguna bagi pertumbuhan tulang dan gigi (Rostita, 2007).

Madu juga mengadung senyawa Lysozyn yang memiliki daya antibakteri, termasuk

senyawa Inhibine, yang dapat bekerja sebagai desinfektan. Hal itulah yang

menyebabkan madu alami dapat digunakan sebagai penyembuh luka (Purbaya, 2007).

Menurut Purbaya (2007) madu mengandung tujuh enzim yang tidak ternilaikan

pula nilai serta manfaatnya. Enzim-enzim tersebut adalah:


Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 25

a. Enzim Invertase, yang dikenal dapat mengubah sukrose menjadi dekstrose dan

levulose.

b. Enzim Diastase yang dikenal dapat mengubah tepung manjadi maltose.

c. Enzim Katalase yang dapat mendemposisi hydrogen peroksidan (menguraikan

hydrogen peroksidan menjadi bentuk yang lebih sederhana).

d. Enzim Inulase yang dapat mengubah insulin menjadi levulose.

e. Enzim dari zat-zat aromatic, antara lain: Terpenes, Aldehid, Ester.

f. Enzim dari zat-zat lain seperti misalnya: Manitol, Dulcitol.

g. Enzim Maltose yang dapat membantu membangkitkan energi atau tenaga yang

jarang sekali bisa terjadi.

2.3.4 Manfaat Madu

Manfaat madu terhadap kesehatan tubuh manusia dan kesehatan gigi dan mulut,

antara lain :

a. Manfaat madu sebagai obat penyakit lambung atau alat pencernaan. Kandungan zat

mangan yang terdapat dalam madu sangat efektif untuk membantu proses pencernaan

dan penyerapan bahan pangan. Selain itu juga dapat mengurangi derajat keasaman

(pH), serta membantu mencegah terjadi perdarahan pada lambung ataupun usus

(Purbaya, 2007).

b. Manfaat madu sebagai obat antibiotik. Madu mempunyai daya anti bakteri yang

baik untuk mengobati luka baru maupun lama, karena madu mempunyai daya

pembunuh bakteri dalam spektrum atau jangkauan luas. Selain itu juga di dalam

madu terdapat zat yang berfungsi sebagai barrier (penghalang atau pencegah),

sehingga bakteri tidak dapat menembus ke dalam luka (Purbaya, 2007).


Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 26

c. Madu sangat efektif untuk mencegah kerusakan gigi. Madu tidak hanya mampu

menghentikan bakteri di dalam mulut yang menyebabkan penebalan lapisan plak saja,

namun juga dapat mengurangi kadar asam di dalam mulut (Hamad,2007).

d. Madu dapat digunakan sebagai obat penenang dan anestesi yang aman bagi bayi

pada masa pertumbuhan giginya (Rostita,2007).

e. Madu memiliki efek sedaktif sehingga dapat menyebabkan tidur nyenyak. Di

dalam tubuh, madu dimetabolosir seperti halnya gula sehingga menyebabkan kadar

sinotonin (suatu senyawa yang dapat meredakan aktivitas otak) dalam otak meninggi

yang menginduksi pada relaksasi dan keinginan untuk tidur ( Sarwono, 2001).

Madu Bersifat Antibakteri, Bahan anti bakteri yang terdapat dalam madu berguna

sekali untuk membantu fungsi-fungsi tubuh di dalam mengatasi bakteri (kuman

penyakit). Hal itu karena didalam madu terdapat senyawa hidrogen peroksidan dan

fitonitrisi. Madu juga mengandung senyawa lysozine yang memiliki daya antibakteri,

termasuk juga senyawa inhibine yang dapat bekerja sebagai desinfektan (Purbaya,

2007).

Cara kerja madu sebagai anti bakteri adalah madu mengikat air sehingga bakteri

kekurangan air untuk menggandakan diri. Water activity madu menghambat

pertumbuhan bakteri, dan pH madu yang berkisar 3,2-4,5 cukup rendah untuk

menghambat pertumbuhan bakteri secara umum. Aktivitas antibakteri utama di madu

adalah terkait dengan hidrogen peroksida yang terbentuk secara enzimatis. Tingkat

hidrogen peroksida yang diproduksi bersifat antibakteri, namun tidak membahayakan

jaringan tubuh. Berkumur madu encer (+ 15%) dapat menyembuhkan radang rongga

mulut (Sarwono, 2001)


Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 27

2.3.5 Madu Bagi Suku Anak Dalam

Pohon penghasil madu biasanya disbeut dengan pohon sialang atau sialong

dalam bahasa rimba adalah semua jenis pohon yang bisa dijadikan rumah oleh lebah

madu. Jenis-jenis pohon sialang tersebut misalnya kedudung, kruing, pulai, kayu

kawon, dan pari. Pohon sialang yang utama adalah pohon kedudung, berupa pohon

besar dengan cabang-cabang yang banyak dan kokoh tempat lebah madu biasanya

membangun sarangnya. Dalam satu pohon bisa mencapai ratusan sarang (KKI

WARSI, 2013:19).

Sialang merupakan pohon yang dikeramatkan oleh suku anak dalam. Mereka

percaya bahwa pohon sialang dihuni oleh makhluk-makhluk halus yang dihormati.

Menebang pohon sialang merupakan kejahatan besar dalam hukum adat orang rimba

dan hukumnya adalah hukum bengun, atau setara dengan menghilangkan nyawa

orang dendanya adalah 300 keping kain (KKI WARSI, 2013:19).

Madu didalam rimba berasal dari sarang madu yang bergantungan didahan

pohon sialang. Dalam pohon sialang bisa tergantung beberapa sarang madu

sekaligus. Pohon sialang adalah istilah untuk jenis-jenis pohon yang bisa dihinggapi

lebah madu untuk bersarang. Setidaknya ada beberapa jenis pohon yang

dikategorikan pohon sialang, yakni pohon kedondong, kruing, pulai, pari, dan kayu

kawon. Menurut orang rimba madu yang paling enak adalah madu dari lebah yang

bersarang di pohon kedondong (Mendatu, 2005:53).


Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 28

Madu hutan adalah hasil hutan yang sangat dibanggakan oleh suku anak dalam. Suku

anak dalam sangat senang mengkonsumsi madu. Tidak hanya madu yang mereka

konsumsi sarang yang berisi calon lebah, yakni rapa juga mereka makan. Selain

untuk konsumsi madu yang diperoleh juga dijual pada penduduk desa sekitar

(Zainudin, 2009:27).

Musim buah atau petahunon terkait erat dengan musim madu karena

keberadaan madu berhubungan dengan bunga-bungaan penghasil manisan madu.

Suku anak dalam percaya bahwa musim madu dibawah kuasa dewa orang dirappa.

Musim madu dan buah-buahan merupakan bagian penting dalam aktifitas mata

pencaharian suku anak dalam baik untuk dikonsumsi maupun dijual (Aritonang,

2010:16).

Menurut Mendatu (2005:53). Sarang lebah akan bergantungan dipohon

sialang apabila bunga-bunga dihutan mulai bermekaran. Lebah akan mengambil sari

makanan dari bunga-bunga, oleh karena itu selain sebagai penghasil madu lebah juga

berfungsi sebagai pembantu penyerbukan bunga-bunga dihutan. Tanpa keberadaan

lebah madu penyerbukan bunga dihutan tidak akan berjalan baik hal ini bisa

menyebabkan musim buah dihutan terganggu.

Pohon sialang biasanya ketinggiannya bisa mencapai 50 meter dengan

diameter batang lebih kurang 2 meter. Pohon ini sebenarnya tempat bersarangnya

madu hutan. Dengan menjaga kelestariannya sialang menjadi pohon bertuah yang

dapat meningkatkan pendapatan masyarakat (Surana, 2010:35).


Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 29

Indonesia memiliki beberapa jenis lebah penghasil madu, diantaranya Apis

Cerana, Apis Dorsata, dan lainnya. Jenis lebah yang paling banyak dimanfaatkan

adalah Apis Dorsata (lebah hutan), yang menyebar si Sumatra Utara, Sumatra Barat,

Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara

Barat (Menhut, 2012:2).

2.4 Teori Konstruktivisme

2.4.1 Pengertian Teori Belajar Konstruktivisme

Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan,

kontruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya

modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran

kontekstual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit,

yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Pengetahuan bukanlah

seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat.

Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui

pengalaman nyata.

Teori belajar kontruktivisme ini bertitik tolak daripada teori pembelajaran

behaviorisme yang didukung oleh Skinner yang mementingkan perubahan tingkah

laku pada pelajar. Pembelajaran dianggap berlaku apabila terdapat perubahan tingkah

laku kepada pelajar, contohnya dari tidak tahu menjadi tahu. Hal ini, kemudian

beralih kepada teori pembelajaran kognitivisme yang diperkenalkan oleh Jean Piaget

dimana ide utama pandangan ini adalah mental. Semua dalam diri individu diwakili

melalui struktur mental dikenal sebagai skema yang akan menentukan bagaimana
Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 30

data dan informasi yang diterima, dipahami oleh manusia. Jika ide tersebut sesuai

dengan skema, ide ini akan diterima begitu juga sebaliknya dan seterusnya lahirlah

teori pembelajaran konstruktivisme yang merupakan pandangan terbaru dimana

pengetahuan akan dibangun sendiri oleh pelajar berdasarkan pengetahuan yang ada

pada mereka. Makna pengetahuan, sifat-sifat pengetahuan dan bagaimana seseorang

menjadi tahu dan berpengetahuan, menjadi perhatian penting bagi aliran

konstruktivisme.

Pada dasarnya perspektif ini mempunyai asumsi bahwa pengetahuan lebih

bersifat kontekstual daripada absolut, yang memungkinkan adanya penafsiran jamak

(multiple perspektives) bukan hanya satu perspektif saja. Hal ini berarti bahwa

pengetahuan dibentuk menjadi pemahaman individual melalui interaksi dengan

lingkungan dan orang lain. Peranan kontribusi siswa terhadap makna, pemahaman,

dan proses belajar melalui kegiatan individual dan social menjadi sangat penting.

Perspektif konstruktivisme mempunyai pemahaman tentang belajar yang lebih

menekankan proses daripada hasil. Hasil belajar sebagai tujuan dinilai penting, tetapi

proses yang melibatkan cara dan strategi dalam belajar juga dinilai penting. Dalam

proses belajar, hasil belajar, cara belajar, dan strategi belajar akan mempengaruhi

perkembangan tata pikir dan skema berpikir seseorang sebagai upaya memperoleh

pemahaman atau pengetahuan yang bersifat subyektif.

Jadi, kontruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat

generative, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari.

Kontruktivisme lebih memahami belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau

menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya sesuai


Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 31

dengan pengalamannya. Kontruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan ang

baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan

pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai

pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.

Menurut paham konstruktivisme, ilmu pengetahuan sekolah tidak dipindahkan

dari guru kepada murid dalam bentuk yang serba sempurna. Murid perlu membina

sesuatu pengetahuan mengikuti pengalaman masing-masing. Pembelajaran adalah

hasil daripada usaha murid itu sendiri dan guru tidak boleh belajar untuk murid

(Ayuni, 2014).

2.4.2 Ciri-Ciri Teori Belajar Konstruktivisme

Ada beberapa ciri-ciri dalam pembelajaran konstruktivisme, yaitu:

a) Mencari tahu dan mengahargai titik pandang/pendapat siswa.

b) Pembelajaran dilakukan atas dasar pengetahuan awal siswa.

c) Memunculkan masalah yang relevan dengan siswa.

d) Menyusun pembelajaran yang menantang dugaan siswa.

e) Menilai hasil pembelajaran dalam konteks pembelajaran sehari-hari.

f) Siswa lebih aktif dalam proses belajar karena fokus belajar mereka pada proses

pengintegrasian pengetahuan baru yang diperoleh dengan

pengalaman/pengetahuan lama yang mereka miliki.

g) Setiap pandangan sangat dihargai dan diperlukan. Siswa didorong untuk

menemukan berbagai kemungkinan dan mensintesiskan secara terintegrasi.


Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 32

h) Proses belajar harus mendorong adanya kerjasama, tapi bukan untuk bersaing.

Proses belajar melalui kerjasama memungkinkan siswa untuk mengingat

pelajaran lebih lama.

i) Kontrol kecepatan, dan focus pembelajaran ada pada siswa.

j) Pendekatan konstruktivis memberikan pengalaman belajar yang tidak terlepas

dengan apa yang dialami langsung oleh siswa (Ayuni, 2014).

2.4.3 Prinsip Teori Belajar Konstruktivisme

Secara garis besar, prinsip-orinsip konstruktivisme yang diterapkan dalam

belajar mengajar adalah sebagai berikut:

a) Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri.

b) Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya

dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.

c) Murid aktif mengkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi

perubahan konsep ilmiah.

d) Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi

berjalan lancar.

e) Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa.

f) Struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan.

g) Mencari dan menilai pendapat siswa.

h) Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.

Dari semua itu hanya ada satu prinsip yang paling penting adalah guru tidak

boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus

membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri. Seorang guru dapat membantu


Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 33

proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat

bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada

siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa

agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru

dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan

dapat membantu mereka mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi. Tetapi

harus diupayakan agar siswa itu sendiri yang memanjatnya (Ayuni, 2014).

2.4.4 Proses Teori Belajar Konstruktivisme

Proses belajar konstruktivisme adalah pemberian makna oleh siswa kepada

pegalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada

pemutakhiran struktur kognitifnya. Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi

prosesnya daripada segi perolehan pengetahuan dari fakta-fakta yang terlepas-lepas.

Oleh sebab itu pengelolaan pembelajaran harus diutamakan pada pengelolaan siswa

dalam memproses gagasannya, bukan semata-mata pada pengelolaan siswa dan

lingkungan belajarnya bahkan pada unjuk kerja atau prestasi belajarnya dikaitkan

dengan sistem penghargaan dari luar seperti nilai, ijazah, dan sebagainya.

a) Peran siswa

Siswa harus aktif dalam melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep,

dan memberi makna tentang hal-hal yang dipelajari. Guru harusnya dapat

memberikan peluang optimal bagi terjadinya proses belajar. Namun, yang

menentukan terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa sendiri. Paradigma

konstruktivistik memandang siswa sudah memiliki kemampuan awal sebelum

mempelajari sesuatu. Kemampuan awal tersebut adalah menjadi dasar dalam


Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 34

mengkonstruksi pengetahuan yang baru. Oleh sebab itu, meskkipun kemampuan awal

tersebut masih sangat sederhana atau tidak sesuai dengan pendapat guru, sebaiknya

diterima dan dijadikan dasar pembelajaran dan pembimbingan.

b) Peran guru

Guru membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Guru

dituntut memahami jalan pikiran siswa dalam belajar guru tidak dapat mengklaim

c) Sarana belajar

Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas

lainnya disediakan untuk membantu pembentukan sisw dalam mengkonstruksikan

pengetahuan sendiri. Siswa diberi kezbebasan untuk mengungkapkan pendapat dan

pemikirannya tentang sesuatu yang dihadapinya. Dengan demikian siswa akan

terbiasa dan terlatih untuk berpikir sendiri, memecahkan masalah yang dihadapinya,

mandiri, kritis, dan mampu mempertanggungjawabkan pemikirannya secara rasional.

d) Evaluasi belajar

Lingkungan belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan

interpretasi terhadap realitas, konstruksi pengetahuan, serta aktivitas-aktivitas lain

yang didasarkan pada pengelaman. Pandangan konstruktivistik mengemukakan

bahwa realitas ada pada pikiran seseorang. Manusia mengkonstruksi dan

menginterpretasikannya berdasarkan pengalamannya (Ayuni, 2014)

2.4.5 Kelebihan dan kekurangan teori konstruktivisme

a) Kelebihan teori belajar konstruktivisme

Teori konstruktivisme memiliki beberapa kelebihan, diantaranya:


Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 35

1) Dalam aspek berfikir yakni pada proses membina pengetahuan baru,

murid berpikir untuk menyelesaikan masalah, menggali ide, dan membuat

keputusan.

2) Dalam aspek kepahaman seorang murid terlibat secara langsung dalm

membina pengetahuan baru, mereka akan lebih paham dan mampu

mengaplikasikannya dalam senua situasi.

3) Dalam aspek mengingat yakni murid terlibat secara langsung dengan

aktif, mereka akan mengingat lebih lama konsep melalui pendektan ini

murid dapat meningkatkan kepahaman mereka.

4) Dalam aspek kemahiran sosial yakni kemahiran sosial diperoleh apabila

seorang murid berinteraksi dengan teman, kelompok kerja maupun

dengan guru dalam proses mendapatkan ilmu pengetahuan maupun

wawasan baru.

b) Kekurangan teori belajar konstruktivisme

Teori konstruktivisme memiliki beberapa kekurangan atau kelemahan, yakni:

1) Siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, tidak jarang bahwa hasil

konstruksi siswa tidak cocok dengan hasil konstruksi sesuai dengan

kaidah ilmu pengetahuan sehingga menyebabkan miskonsepsi.

2) Konstruktivisme menanamkan agar siswa membangun pengetahuannya

sendiri, hal ini pasti membutuhkan waktu yang lama dan setiap siswa

memerlukan penanganan yang berbeda-beda.


Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 36

3) Situasi dan kondisi tiap sekolah tidak sama, karena tidak semua sekolah

memiliki srana dan prasarana yang dapat membantu keaktifan dan

kreativitas siswa.

4) Meskipun guru hanya menjadi pemotivasi dan memediasi jalnnya proses

belajar, tetapi guru disamping memiliki kompetensi dibidang itu harus

memiliki perilaku yang elegan dan arif sebagai spirit bagi anak sehingga

dibutuhkan pengajaran yang sesungguhnya mengapresiasi nilai-nilai

kemanusiaan.

5) Dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu

sepertinya kurang begitu mendukung, siswa berbeda persepsi satu dengan

yang lainnya (Ayuni, 2014).

2.5. Hubungan Etnomatematika dengan teori belajar konstruktivisme

Etnomatematika dapat diartikan sebagai matematika yang dipraktikkan oleh

kelompok budaya, seperti masyarakat perkotaan dan pedesaan, kelompok buruh,

anak-anak dari kelompok usia tertentu, masyarakat adat, dan lainnya. Sehingga

hubungan etnomatematika dengan teori belajar konstruktivisme adalah melalui

pembalajaran yang berbasis budaya.

Pembelajaran berbasis budaya merupakan salah satu cara yang dipersepsikan

dapat:

1. Menjadikan pembelajaran bermakna dan kontekstual yang sangat terkait dengan

komunitas budaya, dimana suatu bidang ilmu dipelajari dan akan diterapkan

nantinya, dan dengan komunitas budaya dari mana anda berasal. Proses
Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 37

konstruksi yang dapat dihadirkan adalah bagaimana masyarakat suku anak dalam

menyiapkan peralatan panen, tahap persiapan ini jika dikaitkan dengan

pembelajaran yang berbasis konstruktivis adalah ketika peserta didik menyiapkan

segala keperluan dalam memulai pembeljaran di kelas seperti alat tulis, ruangan

kelas, dan persipan diri baik pemahaman atau kenyamanan;

2. Menjadi pembelajaran menarik dan menyenangkan. Kondisi belajar yang

memungkinkan terjadinya penciptaan makna secara kontekstual berdasarkan pada

pengalaman sebagai seorang anggota suatu masyarakat budaya merupakan salah

satu prinsip dasar dari teori konstruktivisme. Dengan menjadikan pembelajaran

yang menarik maka penyampaian informasi kepada peserta didik juga akan

semakin efektif, contoh kegiatan mengambil madu yang mengarah kepada

kegiatan yang menyenangkan adalah ketika menghadirkan selokoh dan juga

pembagian tugas dalam pembuatan peralatan panen antara wanita dan laki-laki.

3. Salah satu hal terpenting dalam konstruktivisme adalah metode inquiri

(menemukan). Dalam kegiatan mengambil madu suku anak dalam ini juga akan

banyak aktifitas yang berkaitan dengan aktifitas menemukan baik menemukan

lokasi panen maupun bahan dan peralatan.

Teori konstruktivisme dalam pendidikan terutama berkembang dari hasil

pemikiran Vygotsky yang menyimpulkan bahwa siswa mengkontruksikan

pengetahuan atau menciptakan makna sebagai hasil dari pemikiran dan berinteraksi

dalam suatu konteks sosial. Konstruktivisme juga dikembangkan oleh piaget yang

menyatakan bahwa setiap individu menciptakan makna dan pengertian baru,


Dicetak pada tanggal 2020-04-29
Id Doc: 589c896781944d3210494127 38

berdasarkan interaksi antara apa yang telah dimiliki, diketahui, dan dipercayai dengan

fenomena ide atau informasi baru yang dipelajari.

Aplikasi pembelajaran berbasis budaya, berdasarkan pada keunggulannya

untuk membelajarkan tentang bidang ilmu bersamaan dengan membelajarkan siswa

tentang budaya dari komunitasnya telah diaplikasikan antara lain :

1. Program SUAVE yang dilakukan di California, AS, yaitu program untuk

membantu guru menggunakan benda-benda seni untuk mengajarkan bidang

ilmu seperti, Matematika, IPS, IPA dan Bahasa.

2. Etnomatematika di Filipina yang dilaksanakan oleh UP College of Baguino,

yaitu Discipline of Mathematics.

3. Pembelajaran Science, Environment, Technology and Society (SETS), yaitu

pembelajaran terpadu yang membelajarkan siswa untuk memiliki kemampuan

memandang sesuatu secara terintegratif antara sains, lingkungan, teknologi

dan masyarakat.