Anda di halaman 1dari 35

TEKNOLOGI SEDIAAN FARMASI

“MAKALAH INJEKSI PHENOBARBITAL”

Dosen : Prof. Dr. Teti Indrawati, M.Si., Apt

Disusun Oleh :

Kelas E

(Kelompok 6)

Aditya Yulindra Agung Prabowo 19344147

Teguh Billy Santoso 19344148

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2020
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik
dan tepat pada waktunya. Dalam makalah ini kami membahas mengenai “INJEKSI
PHENOBARBITAL”.

Adapun penulisan dalam makalah ini, disusun secara sistematis dan berdasarkan
metode-metode yang ada, agar mudah dipelajari dan dipahami sehingga dapat menambah
wawasan pemikiran para pembaca.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini.
Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat
membangun makalah ini. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk
penyempurnaan makalah selanjutnya. 

Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita sekalian. 

Jakarta, April 2020

Penyusun
DAFTAR ISI

Contents
KATA PENGANTAR...............................................................................................................2
DAFTAR ISI..............................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................3
1.1 Latar Belakang...............................................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................................4
1.3 Tujuan.............................................................................................................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................................5
2.1 Injeksi.............................................................................................................................5
2.1 Tujuan dan Fungsi Injeksi...........................................................................................7
2.2 Keuntungan dan Kerugian Bentuk Sediaan Injeksi.....................................................7
2.3 Penggolongan Injeksi..................................................................................................7
2.4 Komponen injeksi........................................................................................................9
2.5 Syarat Injeksi.............................................................................................................14
2.6 Cara Sterilisasi Sediaan Injeksi.................................................................................15
2.7 Macam- macam Metode Pembuatan Injeksi.............................................................16
2.8 Pengemasan...............................................................................................................17
2.9 Evaluasi.....................................................................................................................19
2.10Penandaan..................................................................................................................21
2.11Phenobarbital Natrium...............................................................................................21
BAB III PEMBAHASAN........................................................................................................23
3.1 Data Praformulasi..........................................................................................................23
3.2 Formulasi.......................................................................................................................25
3.3 Design kemasan............................................................................................................30
3.4 Metode pembuatan injeksi phenobarbital.....................................................................30
3.5 Evaluasi Sediaan...........................................................................................................32
BAB IV PENUTUP.................................................................................................................33
4.1 Kesimpulan...................................................................................................................33
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................35
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi, atau serbuk yang
harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan secara parenteral,
disuntikan dengan cara menembus atau merobek jaringan ke dalam atau melalui kulit atau
selaput lendir.
Phenobarbital Natrium merupakan golongan obat pendepresi susunan syaraf pusat
(SPP). Efeknya bergantung pada dosis, mulai dari yang ringan yaitu menyebabkan
tenang/ kantuk, menidurkan hingga yang berat yaitu hilangnya kesadaran, keadaan
anastesi, koma dan mati.Pada dosis terapi, obat sedative menekan aktivitas mental,
menurunkan respon terhadap rangsangan emosi, sehingga menenangkan. Obat hipnotik
menyebabkan kantuk, dan mempermudah tidur serta memepertahankan tidur yang
menyerupai tidur fisiologis.
Phenobarbital Natrium ini selama beberapa waktu telah digunakan secara
ekstensif sebagai hipnotik dan sedatif. Namun sekarang selain untuk beberapa
penggunaan yang spesifik , golongan obat ini telah digantikan oleh benzodiazepin yang
lebih aman. Dosis yang digunakan untuk Antikonvulsi, intramuscular, intravena 1x =
200–320 mg, prn diulang/ 6jam; untuk Hipnotik intramuscular, intravena 1x=130mg–
200mg; dan untuk Sedativintramuscular, intravena 1x= 100mg-130mg , prn diulang/6jam.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana alur bahan, alur proses, alur produksi dan alur SDM pada sediaan injeksi
phenobarbital ?
2. Bagaimana komponen yang digunakan dalam sediaan injeksi phenobarbital ?
3. Bagaimana ruangan, metode dan alat yang digunakan dalam sediaan injeksi
Phenobarbital ?
4. Bagaimana evaluasi yang digunakan dalam sediaan injeksi Phenobarbital?
5. Bagaimana karakteristik yang digunakan dalam sediaan injeksi Phenobarbital ?
1.3 Tujuan
1. Untuk memahami alur bahan, alur proses, alur produksi dan alur SDM pada sediaan
injeksi phenobarbital.
2. Untuk memahami komponen yang digunakan dalam sediaan injeksi phenobarbital.
3. Untuk memahami ruangan, metode dan alat yang digunakan dalam sediaan injeksi
Phenobarbital.
4. Untuk memahami evaluasi yang digunakan dalam sediaan injeksi Phenobarbital.
5. Untuk memahami karakteristik yang digunakan dalam sediaan injeksi Phenobarbital.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Injeksi
Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, injeksi adalah sediaan steril berupa larutan,
emulsi, suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu
sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau
melalui kulit atau melalui selaput lendir. (FI.III.1979).
Sedangkan menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, injeksi adalah injeksi yang
dikemas dalam wadah 100ml atau kurang. Umumnya hanya larutan obat dalam air yang
bias diberikan secara intravena. Suspensi tidak bias diberikan karena berbahaya yang
dapat menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah kapiler (FI IV 1995)
Sediaan steril injeksi dapat berupa ampul, ataupun berupa vial. Injeksi vial adalah
salah satu bentuk sediaan steril yang umumnya digunakan pada dosis ganda dan memiliki
kapasitas atau volume 0,5 mL – 100 mL. Injeksi vial pun dapat berupa takaran tunggal
atau ganda dimana digunakan untuk mewadahi serbuk bahan obat, larutan atau suspensi
dengan volume sebanyak 5 mL atau pun lebih.
Sediaan steril injeksi dapat berupa ampul, ataupun berupa vial. Injeksi vial adalah
salah satu bentuk sediaan steril yang umumnya digunakan pada dosis ganda dan memiliki
kapasitas atau volume 0,5 mL – 100 mL. Injeksi vial pun dapat berupa takaran tunggal
atau ganda dimana digunakan untuk mewadahi serbuk bahan obat, larutan atau suspensi
dengan volume sebanyak 5 mL atau pun lebih.
Berdasarkan R.VOIGHT (hal 464), menyatakan bahwa botol injeksi vial ditutup
dengan sejenis logam yang dapat dirobek atau ditembus oleh jarum injeksi untuk
menghisap cairan injeksi. Injeksi intravena memberikan beberapa keuntungan :
1.      Efek terapi lebih cepat .
2.      Dapat memastikan obat sampai pada tempat yang diinginkan.
3.      Cocok untuk keadaan darurat.
4.      Untuk obat-obat yang rusak oleh cairan lambung.
Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menciptakan keadaan steril. Secara
tradisional keaadan steril adalah kondisi mutlak yang tercipta sebagai akibat
penghancuran dan penghilangan semua mikroorganisme hidup. Konsep ini menyatakan
bahwa steril adalah istilah yang mempunyai konotasi relative, dan kemungkinan
menciptakan kondisi mutlak bebas dari mikroorganisme hanya dapat diduga atas dapat
proyeksi kinetis angka kematian mikroba.(Lachman hal.1254).
Dari beberapa pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sediaan injeksi
adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan
atau disusupensikan terlebih dahulu sebelum digunakan secara perenteral, suntikan
dengan cara menembus, atau merobek jaringan kedalam atau melalui kulit atau selaput
lendir.
2.1 Tujuan dan Fungsi Injeksi
Tujuan obat dibuat steril (seperti injeksi) karena berhubungan langsung dengan darah
atau cairan tubuh dan jaringan tubuh lain dimana pertahanan terhadap zat asing tidak
selengkap yang berada di saluran cerna/gastrointestinal, misalnya hati yang dapat
berfungsi untuk menetralisir/menawarkan racun (detoksikasi=detoksifikasi).Pada
umumnya Injeksi dilakukan dengan tujuan untuk mempercepat proses penyerapan
(absorbsi) obat untuk mendapatkan efek obat yang cepat.
Sediaan farmasi yang perlu disterilkan adalah obat suntik/injeksi, tablet implant, tablet
hipodermik dan sediaan untuk mata seperti tetes mata/ guttae ophth, cuci mata/collyrium
dan salep mata/oculenta.
2.2 Keuntungan dan Kerugian Bentuk Sediaan Injeksi
Keuntungan :

a. Bekerja cepat, misalnya pada injeksi Adrenalin pada schock anfilaksis.


b. Dapat digunakanjika : obat rusak jika kena cairan lambung, merangsang jika ke
cairan lambung, tidak diabsorpsi secara baik oleh cairan lambung.
c. Kemurnian dan takaran zat khasiat lebih terjamin.
d. Dapat digunakan sebagai depo terapi.

Kerugian :

a. Karena bekerja cepat, jika terjadi kekeliruan sukar dilakukan pencegahan.


b. Cara pemberian lebih sukar, harus memakai tenaga khusus.
c. Kemungkinan terjadinya infeksi pada bekas suntikan.
d. Secara ekonomis lebih mahal dibanding dengan sediaan yang digunakan per oral,

2.3 Penggolongan Injeksi


1. Injeksi subkutan ( s.c )
Umumnya larutan isotonus, jumlah larutan yang disuntikkan tidak lebih dari 1 ml.
Disuntikkan ke dalam “alveola”, kulit mula-mula diusap dengan cairan desinfektan
(etanol 70%).
2. Injeksi intrakutan atau intradermal ( i.c )
Biasanya berupa larutan atau suspensi dalam air, volume yang disuntikkan sedikit (0,1
– 0,2 ml). Digunakan untuk tujuan diagnostik. Biasanya yang digunakan adalah
ekstrak alergenik
3. Injeksi intramuskulus ( i.m )
Merupakan larutan atau suspensi dalam air atau minyak atau emulsi. Disuntikkan
masuk ke dalam otot daging dan volume sedapat mungkin tidak lebih dari 4ml.
Penyuntikan volume besar dilakukan dengan perlahan-lahan untuk mencegah rasa
sakit, sedapat mungkin tidak lebih dari 4 ml.
4. Injeksi intravena ( i.v )
Merupakan larutan, dapat mengandung cairan yang tidak menimbulkan iritasi yang
dapat bercampur dengan air,volume 1 ml sampai 10ml. Larutan ini biasanya isotonus
atau hipertonus. Larutan injeksi intravena harus jernih betul, bebas dari endapan atau
partikel padat, karena dapat menyumbat kapiler dan menyebabkan kematian.
5. Injeksi intraarterium ( i.a )
Umumnya berupa larutan, dapat mengandung cairan non-iritan yang dapat bercampur
dengan air, volume yang disuntikkan 1 ml sampai 10 ml dan digunakan bila
diperlukan efek obat yang segera dalam daerah perifer. Tidak boleh mengandung
bakterisida
6. Intrakardial
Disuntikkan langsung ke dalam jantung, digunakan ketika kehidupan terancam dalam
keadaan darurat seperti gagal jantung.
7. Intraserebral
Injeksi ke dalam serebrum, digunakan khusus untuk aksi lokal sebagaimana
penggunaan fenol dalam pengobatan trigeminal neuroligia.
8. Intraspinal
Injeksi ke dalam kanal spinal menghasilkan konsentrasi tinggi dari obat dalam daerah
lokal. Untuk pengobatan penyakit neoplastik seperti leukemia.
9. Intraperitoneal dan intrapleural
Merupakan rute yang digunakan untuk pemberian berupa vaksin rabies. Rute inijuga
digunakan untuk pemberian larutan dialisis ginjal.
10. Intra-artikular
Injeksi yang digunakan untuk memasukkan bahan-bahan seperti obat antiinflamasi
secara langsung ke dalam sendi yang rusak atau teriritasi.
11. Intrasisternal dan peridual
Injeksi ke dalam sisterna intracranial dan durameter pada urat spinal. Keduanya
merupakan cara yang sulit dilakukan, dengan keadaan kritis untuk injeksi.
12. Intratekal
Larutan yang digunakan untuk menginduksi spinal atau anestesi lumbar oleh larutan
injeksi ke dalam ruang subarachnoid. Cairan serebrospinal biasanya diam pada
mulanya untuk mencegah peningkatan volume cairan dan pengaruh tekanan dalam
serabut saraf spinal. Volume 1-2 ml biasa digunakan. Berat jenis dari larutan dapat
diatur untuk membuat anestesi untuk bergerak atau turun dalam kanal spinal, sesuai
keadaan tubuh pasien.

2.4 Komponen injeksi


1. Bahan obat / zat berkhasiat
a. Memenuhi syarat yang tercantum sesuai monografinya masing-masing dalam
Farmakope Indonesia.
b. Pada etiketnya tercantum : p.i (pro injection)
c. Obat yang beretiket p.a ( pro analisa ) walaupun secara kimiawi terjamin
kualitasnya, tetapi belum tentu memenuhi syarat untuk injeksi.
2. Zat pembawa / pelarut
Dibedakan menjadi 2 bagian :
1) Zat pembawa berair
Umumnya digunakan air (aqua pro injeksi) untuk injeksi. Disamping itu dapat
pula digunakan injeksi NaCl, injeksi glukosa, injeksi NaCl compositus,
Sol.Petit. Menurut FI.ed.IV, zat pembawa mengandung air, menggunakan air
untuk injeksi, sebagai zat pembawa injeksi harus memenuhi syarat Uji pirogen
dan uji Endotoksin Bakteri. NaCl dapat ditambahkan untuk memperoleh
isotonik. Kecuali dinyatakan lain, Injeksi NaCl atau injeksi Ringer dapat
digunakan untuk pengganti air untuk injeksi.
Air untuk injeksi ( aqua pro injection ) dibuat dengan cara menyuling kembali
air suling segar dengan alat kaca netral atau wadah logam yang dilengkapi
dengan labu percik. Hasil sulingan pertama dibuang, sulingan selanjutnya
ditampung dalam wadah yang cocok dan segera digunakan. Jika dimaksudkan
sebagai pelarut serbuk untuk injeksi, harus disterilkan dengan cara Sterilisasi
A atau C segera setelah diwadahkan.
Air untuk injeksi bebas udara dibuat dengan mendidihkan air untuk injeksi
segar selama tidak kurang dari 10 menit sambil mencegah hubungan dengan
udara sesempurna mungkin, didinginkan dan segera digunakan. Jika
dimaksudkan sebagai pelarut serbuk untuk injeksi , harus disterilkan dengan
cara sterilisasi A, segera setelah diwadahkan.
2) Zat pembawa tidak berair
Umumnya digunakan minyak untuk injeksi (olea pro injection) misalnya Ol.
Sesami, Ol. Olivarum, Ol. Arachidis.
Pembawa tidak berair diperlukan apabila :
- Bahan obatnya sukar larut dalam air
- Bahan obatnya tidak stabil / terurai dalam air
- Dikehendaki efek depo terapi.

Syarat-syarat minyak untuk injeksi adalah :

- Harus jernih pada suhu 100


- Tidak berbau asing / tengik
- Bilangan asam 0,2 - 0,9
- Bilangan iodium 79 – 128
- Bilangan penyabunan 185 – 200
- Harus bebas minyak mineral
- Memenuhi syarat sebagai Olea Pinguia yaitu cairan jernih atau massa
padat yang menjadi jernih diatas suhu leburnya dan tidak berbau asing
atau tengik.
- Obat suntik dengan pembawa minyak, tidak boleh disuntikkan secara
i.v , hanya boleh secara i.m.
3) Bahan pembantu/ zat tambahan
Ditambahkan pada pembuatan injeksi dengan maksud :
- Untuk mendapatkan pH yang optimal
- Untuk mendapatkan larutan yang isotonis
- Untuk mendapatkan larutan isoioni
- Sebagai zat bakterisida
- Sebagai pemati rasa setempat ( anestetika lokal )
- Sebagai stabilisator.
Menurut FI.ed.IV, bahan tambahan untuk mempertinggi stabilitas dan
efektivitas harus memenuhi syarat antara lain tidak berbahaya dalam jumlah
yang digunakan, tidak mempengaruhi efek terapetik atau respon pada uji
penetapan kadar.

Tidak boleh ditambahkan bahan pewarna, jika hanya mewarnai sediaan akhir.
Pemilihan dan penggunaan bahan tambahan harus hati-hati untuk injeksi yang
diberikan lebih dari 5 ml.

Kecuali dinyatakan lain berlaku sebagai berikut :

- Zat yang mengandung raksa dan surfaktan kationik, tidak lebih dari
0,01
- Golongan Klorbutanol, kreosol dan fenol tidak lebih dari 0,5 %
- Belerang dioksida atau sejumlah setara dengan Kalium atau Natrium
Sulfit, bisulfit atau metabisulfit , tidak lebih dari 0,2 %
a. Untuk mendapatkan pH yang optimal
pH optimal untuk darah atau cairan tubuh yang lain adalah 7,4
dan disebut Isohidri. Karena tidak semua bahan obat stabil pada pH
cairan tubuh, sering injeksi dibuat di luar pH cairan tubuh dan
berdasarkan kestabilan bahan tersebut.Pengaturan pH larutan injeksi
diperlukan untuk :
- Menjamin stabilitas obat, misalnya perubahan warna, efek
terapi optimal obat, menghindari kemungkinan terjadinya
reaksi dari obat.
- Mencegah terjadinya rangsangan / rasa sakit waktu disuntikkan.
- Jika pH terlalu tinggi (lebih dari 9) dapat menyebabkan
nekrosis jaringan (jaringan menjadi mati), sedangkan pH yang
terlalu rendah (di bawah 3) menyebabkan rasa sakit jika
disuntikkan. misalnya beberapa obat yang stabil dalam
lingkungan asam : Adrenalin HCl, Vit.C, Vit.B1.
pH dapat diatur dengan cara :
- Penambahan zat tunggal , misalnya asam untuk alkaloida, basa
untuk golongan sulfa.
- Penambahan larutan dapar, misalnya dapar fosfat untuk injeksi,
dapar borat untuk obat tetes mata.
Yang perlu diperhatikan pada penambahan dapar adalah :
- Kecuali darah, cairan tubuh lainnya tidak mempunyai kapasitas
dapar.
- Pada umumnya larutan dapar menyebabkan larutan injeksi
menjadi hipertonis.
- Bahan obat akan diabsorpsi bila kapasitas dapar sudah hilang,
maka sebaiknya obat didapar pada pH yang tidak jauh dari
isohidri. Jika kestabilan obat pada pH yang jauh dari pH
isohidri, sebaiknya obat tidak usah didapar, karena perlu waktu
lama untuk meniadakan kapasitas dapar.
b. Untuk mendapatkan larutan yang isotonis
Larutan obat suntik dikatakan isotonis jika :
- Mempunyai tekanan osmotis sama dengan tekanan osmotis
cairan tubuh ( darah, cairan lumbal, air mata ) yang nilainya
sama dengan tekanan osmotis larutan NaCl 0,9 % b/v.
- Mempunyai titik beku sama dengan titik beku cairan tubuh,
yaitu - 0,520C. Jika larutan injeksi mempunyai tekanan osmotis
lebih besar dari larutan NaCl 0,9 % b/v, disebut " hipertonis ",
jika lebih kecil dari larutan NaCl 0,9 % b/v disebut "
hipotonis".

Jika larutan injeksi yang hipertonis disuntikkan, air dalam sel


akan ditarik keluar dari sel , sehingga sel akan mengkerut, tetapi
keadaan ini bersifat sementara dan tidak akan menyebabkan rusaknya
sel tersebut.

Jika larutan injeksi yang hipotonis disuntikkan, air dari larutan


injeksi akan diserap dan masuk ke dalam sel, akibatnya dia akan
mengembang dan menyebabkan pecahnya sel itu dan keadaan ini
bersifat tetap. Jika yang pecah itu sel darah merah, disebut "
Haemolisa ". Pecahnya sel ini akan dibawa aliran darah dan dapat
menyumbat pembuluh darah yang kecil.
Jadi sebaiknya larutan injeksi harus isotonis, kalau terpaksa
dapat sedikit hipertonis, tetapi jangan sampai hipotonis.Cairan tubuh
kita masih dapat menahan tekanan osmotis larutan injeksi yang sama
nilainya dengan larutan NaCl 0,6 - 2,0 % b/v.
Larutan injeksi dibuat isotonis terutama pada penyuntikan:
1. Subkutan : jika tidak isotonis dapat menimbulkan rasa sakit, sel-
sel sekitar penyuntikan dapat rusak, penyerapan bahan obat tidak
dapat lancar.
2. Intralumbal , jika terjadi perubahan tekanan osmotis pada cairan
lumbal, dapat menimbulkan perangsangan pada selaput otak.
3. Intravenus, terutama pada Infus intravena, dapat menimbulkan
haemolisa.
c. Untuk mendapatkan isoioni
Yang dimaksud isoioni a dalah larutan injeksi tersebut
mengandung ion-ion yang sama dengan ion-ion yang terdapat dalam
darah, yaitu : K+, Na+, Mg++, Ca++, Cl-. Isoioni diperlukan pada
penyuntikan dalam jumlah besar, misalnya pada infus intravena.
d. Sebagai zat bakterisida / bakteriostatik
Zat bakterisida perlu ditambahkan jika :
- Bahan obat tidak disterilkan, larutan injeksi dibuat secara
aseptik.
- Bila larutan injeksi disterilkan dengan cara penyaringan melalui
penyaring bakteri steril.
- Bila larutan injeksi disterilkan dengan cara pemanasan pada
suhu 98°-100° selama 30 menit.
- Bila larutan injeksi diberikan dalam wadah takaran berganda.

Zat bakterisida tidak perlu ditambahkan jika :

1. Sekali penyuntikan melebihi 15 ml.


2. Bila larutan injeksi tersebut sudah cukup daya bakteriostatikanya
( tetes mata Atropin Sulfat dalam pembawa asam borat, tak perlu
ditambah bakterisida, karena asam borat dapat berfungsi pula
sebagai antiseptik).
3. Pada penyuntikan : intralumbal, intratekal, peridural, intrasisternal,
intraarterium dan intrakor.
e. Sebagai zat pemati rasa setempat / anestetika local
Digunakan untuk mengurangi rasa sakit pada tempat dilakukan
penyuntikan , yang disebabkan larutan injeksi tersebut terlalu asam.
Misalnya Procain dalam injeksi Penicillin dalam minyak, Novocain
dalam injeksi Vit. B-compleks, Benzilalkohol dalam injeksi Luminal-
Na.
f. Sebagai Stabilisator
Digunakan untuk menjaga stabilitas larutan injeksi dalam
penyimpanan. Stabilisator digunakan untuk:
1) Mencegah terjadinya oksidasi oleh udara, dengan cara :
a. Mengganti udara di atas larutan injeksi dengan gas inert,
misalnya gas N2 atau gas CO2.
b. Menambah antioksidant untuk larutan injeksi yang tidak tahan
terhadap O2 dari udara. Contohnya : penambahan Na-
metabisulfit/Na-pirosulfit 0,1 % b/v pada larutan injeksi Vit.C,
Adrenalin dan Apomorfin.
2) Mencegah terjadinya endapan alkaloid oleh sifat alkalis dari gelas.
Untuk ini dapat dengan menambah chelating agent EDTA ( Etilen
Diamin Tetra Asetat ) untuk mengikat ion logam yang lepas dari
gelas/wadah kaca atau menambah HCl sehingga bersuasana asam.
3) Mencegah terjadinya perubahan pH dengan menambah larutan
dapar.
4) Menambah/menaikkan kelarutan bahan obat, misalnya injeksi
Luminal dalam Sol.Petit,penambahan Etilendiamin pada injeksi
Thiophyllin.

2.5 Syarat Injeksi


1. Harus aman dipakai, tidak boleh menyebabkan iritasi jaringan atau efek toksis.
Pelarut dan bahan penolong harus dicoba pada hewan dulu, untuk meyakinkan
keamanan pemakaian bagi manusia.
2. Jika berupa larutan harus jernih, bebas dari partikel-partikel padat, kecuali yang
berbentuk suspensi.
3. Sedapat mungkin lsohidris, yaitu mempunyai pH = 7,4, agar tidak terasa sakit dan
penyerapannya optimal.
4. Sedapat mungkin Isotonik, yaitu mempunyai tekanan osmose sama dengan tekanan
osmose darah / cairan tubuh, agar tidak terasa sakit dan tidak menimbulkan
haemolisa. Jika terpaksa dapat dibuat sedikit hipertonis, tetapi jangan hipotonis.
5. Harus steril, yaitu bebas dari mikroba hidup, baik yang patogen maupun yang
apatogen, baik dalam bentuk vegetatif maupun spora.
6. Bebas pirogen, untuk larutan injeksi yang mempunyai volume 10 ml atau lebih sekali
penyuntikan.
7. Tidak boleh berwarna kecuali memang zat berkhasiatnya berwarna.

2.6 Cara Sterilisasi Sediaan Injeksi


a. Kalor Basah
Dengan Otoklaf
Sediaan diisikan ke dalam wadah yang cocok dan ditutup kedap. Jika volume
tidak lebih dari 100 ml, dilakukan sterilisasi dengan uap jenuh pada suhu 115 °C –
116 °C selama 30 menit. Jika lebih dari 100 ml, maka sterilisasi dilakukan sampai
seluruh isi berada dalam suhu 115 °C – 116 °C selama 30 menit. Biasa digunakan
untuk mensterilkan gelas ukur, pipet ukur, corong gelas + kertas saring lipat yang
terpasang, kapas dan kassa yang dibungkus dengan alumunium foil.
Uap Air Mengalir
Sediaan dibuat engan melarutkan atau mensuspensikan bahan obat dalam air
untuk injeksi dengan penambahan klorkresol 0,2% b/v atau menggunakan larutan
bakterisida yang cocok, lalu diisikan dalam wadah tertutup kedap. Untuk volume
larutan tidak lebih dari 30 ml, dipanaskan pada suhu 98 sampai 100 °C selama 30
menit.
Digodok Dalam Air
Tutup vial karet, tutup infus karet, pipet karet digodok dalam air suling selama
30 menit.
Pasteurisasi
- Pada suhu 50° – 60 °C selama beberapa menit
- Pada suhu 62,8 °C selama 30 menit, lalu dinginkan.
- Pada suhu 70°C satu kali, mematikan bentuk vegetatif, khusus untuk susu murni.
b. Kalor Kering
Pemijaran
Dibakar dengan api Bunsen
Biasa digunakan untuk spatel, sendok logam, porselen, kaca arloji, pinset, batang
pengaduk, cawan uap.
Dibakar dengan etanol 96%
Biasanya digunakan untuk lumpang dan alu.
Udara Panas
Sterilisasi dengan menggunakan oven pada suhu 150°C selama 1 jam atau 250°C
selama 15 menit. Digunakan untuk alat gelas non presisi seperti erlenmeyer, gelas
piala (mulut ditutup dengan al. foil), dan untuk wadah seperti ampul, vial, botol tetes,
flakon.
Penyaringan
Larutan disaring melalui penyaring bakteri steril dan diisikan ke dalam wadah yang
steril dan ditutup kedap menurut teknik aseptik. Macam-macam bakteri filter yang
digunakan adalah membran selulosa asetat, nitrat, polyester, polivinil korida dengan
porositas 0,2 μm.
Sterilisasi Gas
Untuk bahan yang tidak tahan suhu tinggi
Gas etilen oksida, untuk antibiotik dan hormone
Penicilin, tetracycline, erythromycin, enzim, talk.
Teknik Aseptik
Digunakan dalam pembuatan injeksi yang obatnya tidak tahan pemanasan
Cara kerja untuk memperoleh sediaan steril dengan mencegah kontaminasi jasad renik
dalam sediaan.
Sediaan tidak disterilisasi akhir dalam otoklaf ataupun oven.
Sediaan dibuat secara aseptik “Bahan steril” atau “Bahan yang disterilisasi dengan
penyaringan sebelum diisi ke dalam wadah steril”.
2.7 Macam- macam Metode Pembuatan Injeksi
1. Injeksi Volume Kecil
a. Sterilisasi alat dan bahan
b. Penimbangan bahan aktif dan tambahan
c. Pembuatan API
d. Pelarutan bahan obat dan bahan tambahan dalam pembawa
e. Pengukuran volume I ( larutan obat )
f. Penyaringan
g. Pengukuran volume II ( Aqua Pro Injeksi )
h. Pengisian dengan buret
i. Ampul berisi larutan obat dialiri uap air untuk mencegah pengarangan dengan
gas N2
j. Pengemasan atau penutupan ampul
2. Injeksi Volume Besar
a. Sterilisasi alat dan bahan
b. Penimbangan bahan aktif dan tambahan
c. Pembuatan API
d. Pelarutan bahan obat dan bahan tambahan dalam pembawa
e. Penghilangan pyrogen
f. Penyaringan
g. Pengukuran volume ( ad kan dengan API bebas pirogen )
h. Pengisian dengan buret
i. Pengisian dan penutupan botol.
2.8 Pengemasan
Wadah untuk injeksi termasuk penutup tidak boleh berinteraksi melalui berbagai cara
baik secara fisik maupun kimiawi dengan sediaan yang dapat mengubah kekuatan, mutu
atau kemurnian diluar persyaratan resmi, dalam kondisi biasa pada waktu penanganan,
pengangkutan, penyimpanan, penjualan dan penggunaan.
Wadah terbuat dari bahan yang dapat mempermudah pengamatan terhadap isi. Tipe
kaca yang dianjurkan untuk setiap sediaan umumnya tertera dalam masing-masing
monografi.
Wadah dapat dibedakan menjadi :
  Wadah dosis tunggal (single dose)
Adalah wadah untuk sekali pakai yang harus digunakan setelah tutupnya dibuka.
Wadah dosis tunggal disebut juga ampul. Wadah ini ditutup dengan cara melebur
ujungnya dengan api sehingga tertutup kedap tanpa penutup karet.
Wadah dosis ganda (multiple dose)
Adalah wadah yang memungkinkan dapat diambilnya isinya beberapa kali tanpa
mengakibatkan perubahan kekuatan, mutu atau kemurnian sisa zat dalam wadah tersebut.
Wadah untuk beberapa kali penyuntikan.
Wadah dosis ganda disebut dengan vial (flacon), terdiri dari botol kaca dengan penutup
sumbat karet yang dilapisi dengan alumunium seal.

Dibedakan : wadah untuk injeksi dari kaca atau plastik.


Wadah Kaca
Syarat wadah kaca :
1.      Tidak boleh bereaksi dengan bahan obat
2.      Tidak boleh mempengaruhi khasiat obat.
3.       Tidak boleh memberikan zarah / partikel kecil ke dalam larutan injeksi.
4.      Harus dapat memungkinkan pemeriksaan isinya dengan mudah.
5.      Dapat ditutup kedap dengan cara yang cocok.
6.      Harus memenuhi syarat " Uji Wadah kaca untuk injeksi "

Wadah plastik
Wadah dari plastik contoh polietilen, polipropilen. Wadah plastik disterilkan dengan
cara sterilisasi gas dengan gas etilen oksida.
Keuntungan : netral secara kimiawi, tidak mudah pecah dan tidak terlalu berat hingga
mudah diangkut, tidak diperlukan penutup karet.
Kerugian : dapat ditembus uap air hingga kalau disimpan akan kehilangan air, juga dapat
ditembus gas CO2.

Tutup karet
Digunakan pada wadah dosis ganda yang terbuat dari gelas / kaca. Tutup karet dibuat
dari karet sintetis atau bahan lain yang cocok. Untuk injeksi minyak , tutup harus dibuat
dari bahan yang tahan minyak atau dilapisi bahan pelindung yang cocok.
Syarat tutup karet yang baik adalah bila direbus dalam otoklaf, maka :
Karet tidak lengket / lekat, dan jika ditusuk dengan jarum suntik, tidak
melepaskan pecahannya serta segera tertutup kembali setelah jarum suntik dicabut.
  Setelah dingin tidak boleh keruh.
Uapnya tidak menghitamkan kertas timbal asetat ( Pb-asetat ).
2.9 Evaluasi
Dilakukan setelah sediaan disterilkan dan sebelum wadah dipasang etiket dan dikemas
1. Evaluasi Fisika
- Penetapan pH .   (FI ed. IV, hal 1039-1040)
- Bahan Partikulat dalam Injeksi  ( FI ed IV, hal. 981-984).
- Penetapan Volume Injeksi Dalam Wadah (FI ed. IV Hal 1044).
- Uji Keseragaman Bobot dan Keseragaman Volume (FI ed III hal.   19)
- Uji Kejernihan Larutan  (FI ED. IV, hal 998)
- Uji Kebocoran   (Goeswin Agus, Larutan Parenteral)
 Pada pembuatan kecil-kecilan hal ini dapat dilakukan dengan mata tetapi
untuk produksi skala besar hal ini tidak mungkin dikerjakan.
 Wadah-wadah takaran tunggal yang masih panas setelah selesai disterilkan
dimasukkan kedalam larutan biru metilen 0,1%. Jika ada wadah-wadah yang
bocor maka larutan biru metilen akan dimasukkan kedalamnya karena
perbedaan tekanan di luar dan di dalam wadah tersebut. Cara ini tidak dapat
dilakukan untuk larutan-larutan yang sudah berwarna.
 Wadah-wadah takaran tunggal disterilkan terbalik, jika ada kebocoran maka
larutan ini akan keluar dari dalam wadah. Wadah-wadah yang tidak dapat
disterilkan, kebocorannya harus diperiksa dengan memasukkan wadah-wadah
tersebut ke dalam eksikator yang divakumkan. Jika ada kebocoran akan
diserap keluar.
- Uji Kejernihan dan Warna ( Goeswin Agus, Larutan Parenteral, HAL
201)Umumnya setiap larutan suntik harus jernih dan bebas dari kotoran-kotoran.
Uji ini sangat sulit dipenuhi bila dilakukan pemeriksaan yang sangat teliti karena
hampir tidak ada larutan jernih. Oleh sebab itu untuk uji ini kriterianya cukup jika
dilihat dengan mata biasa saja yaitu menyinari wadah dari samping dengan latar
belakang berwarna hitam dan putih. Latar belakang warna hitam dipakai untuk
menyelidiki kotoran-kotoran berwarna muda, sedangkan latar belakang putih
untuk menyelidiki kotoran-kotoran berwarna gelap.
2. Evaluasi Biologi
- Uji Efektivitas Pengawet Antimikroba (FI ed IV, HAL 854-855)
- Uji Sterilitas  (FI ed. IV, HAL 855-863)
- Uji Endotoksin Bakteri (FI ed. IV, HAL 905-907)
- Uji Pirogen(FI ed. IV, HAL. 908-909)
- Uji Kandungan Zat Antimikroba (FI ed. IV, HAL. 939-942)
3. Evaluasi Kimia
- Uji Identifikasi (Sesuai dengan monografi sediaan masing-masing.
- Penetapan Kadar (Sesuai dengan monografi sediaan masing-masing.
2.10 Penandaan
Pada etiket tertera nama sediaan, untuk sediaan cair tertera persentase atau jumlah
zat aktif dalam volume tertentu, cara pemberian, kondisi penyimpanan dan tanggal
kadaluarsa, nama pabrik pembuat dan atau pengimpor  serta nomor lot atau bets yang
menunjukkan identitas. Nomor lot dan nomor bets dapat memberikan informasi tentang
riwayat pembuatan lengkap meliputi seluruh proses pengolahan, sterilisasi, pengisian,
pengemasan, dan penandaan.
Bila dalam monografi tertera berbagai kadar zat aktif dalam sediaan parenteral 
volume besar, maka kadar masing-masing komponen disebut dengan nama umum
misalnya injeksi Dekstrosa 5% atau Injeksi Dekstrosa (5%).
Bila formula lengkap tidak tertera dalam masing-masing monografi, Penandaan
mencakup informasi berikut :
1. Untuk sediaan cair, persentase isi atau jumlah tiap komponen dalam volume
tertentu, kecuali bahan yang ditambahkan untuk penyesuaian pH atau untuk
membuat larutan isotonik, dapat dinyatakan nama dan efek bahan tersebut
2. Sediaan kering atau sediaan yang memerlukan pengenceran sebelum digunakan,
jumlah tiap komponen, komposisi pengencer yang dianjurkan, jumlah yang
diperlukan untuk mendapat konsentrasi tertentu zat aktif dan volume akhir larutan
yang diperoleh , uraian singkat pemerian larutan terkonstitusi, cara penyimpanan
dan tanggal kadualarsa.Pemberian etiket pada wadah sedemikian  rupa sehingga 
sebagian wadah tidak tertutup oleh etiket, untuk mempermudah pemeriksaan isi
secara visual.

2.11 Phenobarbital Natrium


Selama beberapa waktu telah digunakan secara ekstensif sebagai hipnotik dan sedatif.
Namun sekarang selain untuk beberapa penggunaan yang spesifik, golongan obat ini telah
digantikan oleh benzodiazepin yang lebih aman.

a. Farmakodinamika
- SSP, efek utamanya ialah depresi SSP, semua tingkat depresi dapat dicapai.
Barbiturat tidak dapat mengurangai rasa nyeri tanpa disertai hilangnya kesadaran.
Dosis kecil dapat meningkatkan reaksi terhadap rangsang nyeri.
- Efek pada tingkatan tidur. Efek hipnotik barbiturat meningkatkan totol lama tidur
dan mempengaruhi tingkatan tidur, bergantung pada dosis.
- Toleransi. Lebih berperan dalam penurunan efek dan berlangsung lebih lama
daripada toleransi farmakokinetik. Toleransi terhadap efek sedasi dan hipnotik
terjadi lebih segera dan lebih kuat daripada efek konvulsi (lanjutan toleransi
Luminal Na) dapat terjadi toleransi silang terhadap senyawa dengan efek
farmakologi yang berbeda seperti opium dan fensiklidin
b. Farmakokinetika
Barbiturat bentuk garam natriumnya diabsorbsi lebih cepat daripada bentuk
asam bebasnya, terutama bila diberikan sebagai sediaan cair secara iv digunakan
mengatasi status epilepsi dan menginduksi serta mempertahankan anastesi umum.
Barbiturat sangat larut dengan lemak , barbiturat akan ditimbun dijaringan lemak dan
otot, sehingga menyebabkan penurunan kadarnya dalam plasma dan otak secara cepat.
Ekskresi dapat ditingkatkan dengan diuresis osmotik. Eliminasi lebih cepat
berlangsung pada yang berusia dewasa, muda daripada yang tua dan anak-anak.
c. Efek Samping
Hang over/ after effects, berupa vertigo, mual, muntah, diare. Kadang timbul
kelainan emosional dan fobia jadi tambah hebat, eksitasi paradoksal,rasa nyeri
(myalgia, neuralgia, artrargia) , hipersensitivitas (alergi, dermatitis, erupsi, demam,
delirium/ kerusakan degeneratif hati).
d. Interaksi Obat
Kombinasi dengan etanol akan meningkatkan efek depresinya. Antihistamin,
INH, Metilfenidat, penghambat MAO juga dapat meningkatkan depresinya.
Menghambat metabolisme obat antidepresi trisiklik. Penggunaan absorbsi kumarol
dan griseovulvin.
e. Indikasi
Hipnotik sedativ, terapi darurat kejang (tetanus, eklamsia, status epilepsi,
perdarahan serebral, keracunan konvulsi), mengobati hiperbilirubin dan kenicterus
pada neunatus.
f. Kontra Indikasi
Pasien alergi barbiturat, penyakit hati dan ginjal, hipoksia, penyakit parkinson,
pasien psikoneuritik tertentu (Anonim,2007;148-152)
g. Dosis
Oral , i.m, i.v,
DM : 1x = 300mg, 1h= 600mg
DL : Antikonvulsi , im, iv 1x = 200 – 320 mg, prn diulang/ 6jam
Hipnotik im, iv 1x= 130mg – 200mg
Sedativ im, iv 1x= 100mg- 130mg , prn diulang/6jam
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Data Praformulasi


1. Phenobarbital (Luminal) BM 232,24
Phenobarbital mengandung tidak kurang dari 98% dan tidak lebih dari101,0%
C12H12N2O3, dihitung terhadap zat yang dikeringkan.
Pemerian : hablur kecil atau serbuk hablur putih berkilat, tidak berbau, tidak berasa,
dapat terjadi polimorfisme, stabil diudara, pH larutan jenuh kurang dari 5.
Kelarutan : sangat sukar larut dalam air, larut dalam etanol, dalam eter dan dalam
larutan alkalihidroksida, dan dalam alkali carbonat, agak sukar larut dalam
kloroform(Anonim,1995;659)
a. Phenobarbital Natrium (Luminal Na) BM 254,22
Mengandung tidak kurang dari 98,5% dan tidak lebih dari 101,0%
C12H11N1NAO3 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
Pemerian : hablur berlapis, atau hablur berbentuk granul, putih atau serbuk putih
higroskopis, tidak berbau, rasa pahit. Larutan bersifat basa terhadap fenolftalein
dan terurai bila dibiarkan.
Kelarutan : sangat mudah larut dalam air,larut dalam etanol, praktis tidak larut
dalam eter dankloroform(Anonim,1995;660).
b. Phenobarbital Natrii Injection
Adalah larutan steril Phenobarbital Natrium dalam pelarut yang sesuai. Untuk
mengatur pH , phenobarbital dapat diganti dengan sejumlah setara Phenobarbital
Natrium. Injeksi Phenobarbital Natrium mengandung Phenobarbital Natrium
C12H11N2NAO3 tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 105,0% dari
jumlah yang tertera pada etiket.
pH : 9,2 – 10,2
Wadah : dalam wadah dosis tunggal/ ganda dan kaca tipe I
Khasiat :Antikonvulsi, sedatif,hipnotik (Anonim,1995;651)
2. Natrium Klorida (the handbook of pharmaceutical excipients hal 637) / (FV hal 917)
Pemerian : Serbuk hablur putih/kristal tidak berwarna mempunyai rasa asin
Kelarutan : Sedikit larut dalam etanol, mudah larut dalam air
Stabilitas : Tahan panas hingga suhu 8040C, harus terlindung dari cahaya
Kegunaan : Sebagai pengisotonis
Kemasan : Terlindung dari cahaya, kering dan tertutup rapat
3. Etilmorfina Hidroklorida (FI III hal 73)
Pemerian : Serbuk hablur halus; putih; tidak berbau; pahit
Kelarutan : Larut dalam 12 bagian air, dalam 25 bagian etanol (95%) P, dalam 1
bagian etanol (95%) P hangat; sangat sukar larut dalam kloroform P
dan dalam eter P
Bobot Molekul : 385,84
Rotas Jenis : -102° sampai -105°; penetapan dilakukan menggunakan 2,0 b/v
Khasiat : antitusivum, narkotikum, analgetikum
Dosis : sekali 30mg, sehari 100mg
4. Dinatrium edetat (fi edisi iii hal.669)
Nama resmi : Dinatrium etilendiamin tetra asetat dihidrat
Pemerian : Serbuk hablur,putih tidak berbau,rasa agak asam
Kelarutan : Larut dalam 11 bagian air,sukar larut dalam etanol 95% p,praktis
tidak larut dalam kloroform dan dalam eter p
Khasiat : Pengkhelat
Ott : Stabil dalam bentuk padat, bentukgaram lebih stabil dari pada asam
Bebas, ott dengan zat pengoksidasi kuat dan basa kuat (excipient
Hal.176)
5. Propilenglykoli (FI Edisi III,Hal 534)
Pemerian : Cairan kental jernih,tidak berwarna,tidak berbau,rasa agak
manis,higroskopik.
Kelarutan : Dapat dicampur dengan air, dan dengan etanol 95% dan dengan
kloroform p,larut dalam 6 bagian eter p,tidak dapat dicampur dengan
eter minyak tanah P dan dengan minyak lemak.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat : Pelarut
6. Aqua Pro Injeksi (FI IV hal 112-113)
Pemerian : Air untuk injeksi yang disterilkan dan dikemas dengan cara
yangsesuai, tidak mengandung bahan antimikroba atau bahan
tambahan lain, cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau
Kelarutan : Bercampur dengan banyak pelarut polar
Stabilitas : Tahan panas hingga suhu 8040C, harus terlindung dari cahaya
3.2 Formulasi
Formulasi 1

Injeksi Fhenobarbital Natrium 10%


Dalam Farmakope Denmark :
R/ Fhenobarbital 3,0
Fhenobarbital natrium 6,72
Uretan 25,0
Spiritus 94% w/w 15,0
Gliserin steril 12,5
Air untuk injeksi ad 100 Ml
Pembuatan:
Memakai campuran gliserin dan alcohol untuk melarutkan ketiga zat
dan menambahkan air p.i.sedikit demi sedikit hingga larut sempurna .

Formulasi 2

Fornas hal.237 no.522


Phenobarbital Injection (injeksi fenobarbital)
komposisi : tiap ml mengandung
R/ Phenobarbitalum natrium 200 mg
Dinatrii edetas 200 µg
Propilenlikol solution 90% v/v ad 1 ml
Perhitungan:
Dosis :
1.Antikonvulsan 200-320 mg jika perlu diulang dalam 6 jam
2.Hipnotikum 130-200 mg
3.Sedativum 100-130 mg jika perlu diulang dalam 6 jam
catatan :
1) Propylenglycol solution dibuat menggunakan air untuk injeksi
2) Ph 10,0 sampai 11,0
3) Sterilkan dengan cara pemanasan pada suhu 98-100 c selama 30 menit.
4) Sediaan berkekuatan lain 75 mg;150 mg.
Tonisitas:
0,52± ( a 1 . c 1 ) + ( a2 . c 2) +(a 3 . c 3)
W=
0,576
0,52± ( 0,135 . 20 )+ ( 0,132. 0,002 ) +(0,25 .90)
W=
0,576
W = - 42,85 dalam 100ml
Pengambilan bahan :
Volume yang diminta 5ml, dilebihkan 10%
= 5ml + (10% x 5ml)
= 5,5 ml
Rumur = n.v’ + (2x3)
= 6 x 5,5 + 6 = 39 ml
Pengambilan Bahan
1. Luminal Na = 0,2/1 x 39mL = 7,8 g
2. Natrium EDTA = 0,2/1 x 39mL = 7,8mg
Pengenceran :
Timbang EDTA 50mg
Larutkan dalam 10mL
Hasil pengenceran = (7,8 mg)/50mg x 10mL = 1,56mL
3. Propilenglycol : 90/100 x 39mL = 35,1mL
4. Aqua Pro Injeksi ad 39mL
Cara kerja
1. Siapkan alat dan sterilkan sesuai dengan cara yang tertera dalam table
2. Timbang Natrium EDTA 50mg dan lakukan pengenceran (camp I)
3. Timbang Luminal Natrium dalam gelas arloji, masukan dalam erlen meyer dan
larutkan dengan Aqua P.I. tambahkan larutan propilenglycol dan aduk ad
homogen (camp II)
4. Campuran I dan II disatukan dalam erlen meyer dan tambahkan aqua p.i ad 39mL
5. Saring campuran di atas kemudian ukur pH.
6. Ambil larutan diatas masing-masing 5.1mL menggunakan spuit dan masukan
dalam wadah vial.
7. Tutup vial dan lakukan simpul sampagne
8. Disterilkan diautoklaf dengan posisi terbalik pada suhu 121℃selama 15 menit.
Cek pH
9. Keluarkan, beri etiket, brosur dan kemasan

Formulasi 3

R/ Na pheno1gr
Etil Morfin Hcl 0.5gr
Nacl 8.6 gr
Aqua dest ad1ℓ
Perhitungan Isotonis:
R/ Na Phenobarbital 1g E= 0.24 ∆ Tf 1%= 0.14
Etil Morfin HCL 0.5g E= 0.16 ∆ Tf 1%= 0.09
Aqua ad 1ℓ
Cara:
1g
∆ Tf Na = x 100 % = 0.1% → 0.14 x 0.1 = 0.014
1000 ml
0.5 g
∆ Tf Etil = x 100 % = 0.05% → 0.05 x 0.09 = 0.0045
1000 ml
∆ Tf Formula menjadi 0.014 + 0.0045 = 0.0185 < 0.52
→ hipotonis, perlu ditambah Nacl Hingga ∆ Tf Menjadi 0.52. ∆ Tf 1% Nacl 0.58 Nacl
yang diperlukan dalam 100ml
0.52−0.085
x 1 g = 0.86g dalam 100ml → 0.86 x 10 = 8.6g dalam 1000ml
0.58
Prosedur pembuatan :
1. Penyiapan ruangan : Ruangan disterilkan dengan penyinaran lampu uv
selama24jam
2. Alat yang dibutuhkan :
- Kaca arloji : oven, 1700C, 1 jam : dibungkus kertas perkamen
- Spatel: oven, 1700C, 1 jam : dibungkus kertas perkamen
- Pinset: oven, 1700C, 1 jam : dibungkus kertas perkamen
- Pipet : oven, 1700C, 1 jam : dibungkus kertas perkamen
- Batang pengaduk gelas : oven, 1700C, 1 jam : dibungkus
kertasperkamen
- Corong gelas : oven, 1700C, 1 jam : dibungkus kertas perkamen
- Gelas piala : autoklaf, 1210C, 15 menit : dibungkus kertas perkamen
- Gelas ukur : autoklaf, 1210C, 15 menit : dibungkus kertas perkamen
- Labu Erlenmeyer : autoklaf, 1210C, 15 menit : dibungkus
kertasperkamen
- Karet pipet : alcohol 70%, selama 24 jam : direndam

Cara pembuatan
1. Siapkan alat dan bahan
2. Tara wadah sediaan (dilakukan sebelum disterilkan)
3. Phenobarbital Na ditimbang dalam kaca arloji (Penimbangan dilebihkan
10%) dan etil morfina ditambahkan
4. Phenobarbital Na dimasukan kedalam gelas piala steril yang sudah
dikalibrasi sesuai dengan volume sediaan yang akan dibuat
5. Tuang aqua pro injeksi untuk melarutkan zat aktif dan untuk membilas
kaca arloji (begitu pula dengan zat tambahan) diaduk dengan batang
pengaduk gelas ad homogen
6. Panaskan larutan pada suhu 60-700C selama 15 menit (waktu dihitung
setelah dicapai suhu 60-700C) sambal diaduk, cek suhu dengan
thermometer
7. Siapkan Erlenmeyer steril bebas pyrogen, corong dn kertas saring rangkap
2 yang telah terlipat dan dibasahi dengan air bebas pyrogen
8. Saring larutan hangat-hangat kedalam Erlenmeyer
9. Tuang larutan kedalam kolom saringan dengan bantuan pompa penghisap
( pori-pori kertas whattman 0.45µm)
10. Filtrat dari kolom ditampung kedalam wadah steril yang telah ditara
11. Botol ditutup dengan flakon steril

3.3 Design kemasan


a) Kemasan Primer

A.KEMASAN PRIMER

Fenobarbital Fenobarbital Fenobarbital


injeksi injeksi injeksi 200mg/mL
200mg/mL 200mg/mL
No. Reg :
DKL06041 20804 A1
I.M PENYIMPANAN :
Simpan pada ruan gan ber AC
KOMPOSISI: (suhu dibawah 25ƒ C
Tiap mL berisi: ),hindarkan dari cahaya dan
Na.Phenobarbitalum kelm baban
setara dengan
Phenobarbital......
dalamlarutam No. Reg : DKL0604120804 A1
propilenglikol .....% No. Batch : 23250821
TglProduksi : 12november2014
INDIKASI,DOSIS,KONTAR Kadaluarsa : 25september 2015
A INDIKASI,EFEK
SAMPING,PERHATIAN K
HARUS DENGAN RESEP DOKTER
DAN INTRAKSI OBAT :
Keterangan lengkap lihat di
brosur

Diproduksi oleh :
PT.CML Tbk.
Kupang,Indonesia

b) Kemasan sekunder

B. KEMASAN SEKUNDER K

Fenobarbital Fenobarbital Fenobarbital Fenobarbital


injeksi injeksi injeksi injeksi
200mg/mL 200mg/mL 200mg/mL 200mg/mL

No. Reg : DKL0 60412080 4 A1


I.M
KOM POSISI: PENYIMPANAN:
TiapmLberisi: Simpanpadaruangan berAC
Na.Phenobarbitalumsetaradengan (suhu dibawah 25ƒ C
Phenobarbital......dalamlarutam ),hindarkan dari cahayadan
propilenglikol .....% kelmbaban

INDIKASI,DO SIS,KONTARA
INDIKASI,EFEKSAMPING ,PERHATIANDAN
INTRAKSI O BAT:
Keteranganlengkaplihatdi brosur
K No. Reg :DKL0604 120804 A1
No.Batch :23250 821
K
TglProduksi :12nov ember2014
Diproduksi oleh: Kadaluarsa:25september 20 15
PT.CMLTbk.
Kupang,Indonesia
HARUSDENGANRESEP DOKTER

3.4 Metode pembuatan injeksi phenobarbital


1. Cara aseptik
Digunakan kalau bahan obatnya tidak dapat disterilkan, karena akan rusak atau mengurai.caranya :
Zat pembawa, zat pembantu, wadah, alat-alat dari gelas untuk pembuatan, dan yang lainnya yang
diperlukan disterilkan sendiri-sendiri. Kemudian bahan obat, zat pembawa, zat pembantu dicampur
secara aseptic dalam ruangan aseptik hingga terbentuk larutan injeksi dan dikemas secara aseptik
Skema pembuatan secara aseptick.
2. Cara non-aseptik ( Nasteril )
Dilakukan sterilisasi akhir caranya : bahan obat dan zat pembantu dilarutkan ke dalam zat
pembawa dan dibuat larutan injeksi.Saring hingga jernih dan tidak boleh ada serat yang
terbawa ke dalam filtrat larutan.Masukkan ke dalam wadah dalam keadaan bersih dan sedapat
mungkin aseptik, setelah dikemas, hasilnya disterilkan dengan cara yang cocok.
3.5 Evaluasi Sediaan
a. Uji organoleptik : Ambil sedikit sediaan injeksi, lalu teteskan diatas plat tetes.
Kemudian amati bau, warna, bentuk dan rasa.
b. Uji pH : Dengan menggunakan pH meter, lalu diambil sedikit sediaan injeksi, dan
diberi kertas indikator universal. Kemudian diamati perubahan warna yang terjadi
pada kertas indikator universal.
c. Uji kejernihan : Ampul dikocok, lalu cepat dibalik, kemudian diletakkan sediaan pada
latar belakang hitam/ putih, kemudian disinari dari samping. Untuk memperjelas
gunakan kaca pembesar. Jika kotoran tidak terlihat, maka sediaan dinyatakan jernih
d. Uji sterilitas : Pindahkan cairan dari wadah uji dengan menggunakan pipet / jarum
suntik steril secara aseptik. Inokulasi sejumlah tertentu bahan dari tiap wadah uji
kedalam tabung media lalu campur cairan dengan media. Kemudian diinokulasi pada
media tertentu seperti pada prosedur umum pada media secara visual sesering
mungkin. Sekurang-kurangnya pada hari ke 3, 4 dan pada hari terakhir dari masa uji.
Syarat : Jika terjadi kekeruhan atau terdapat pertumbuhan pada media maka sediaan
tidak steril.
e. Uji keseragaman volume : Ambil 5 wadah/lebih dgn volume 3 ml / kurang. Lalu
diambil isi tiap wadah dengan alat suntik hipodermik kering berukuran dan dilengkapi
dengan jarum suntik no 2; pasang tidak kurang dari 2,5 cm. Seetelah itu, isi larutan
suntik dapat dipindahkan kedalam gelas piala kering yang telah ditara, vol dalam ml
diperoleh dari hasil perhitungan berat dalam g dibagi BJ cairan. Isi dari 2/lebih wadah
1ml / 2 ml dapat digabungkan utk mengukur dgn menggunakan jarum suntik kering
terpisah utk mengambil setiap wadah. Syarat : vol tdk krg dr vol yang tertera pada
wadah diuji satu persatu vo yang tertera pada penandaan 5,0 ml vol yang dianjurkan
adalah 0,50 ml
f. Uji kebocoran : Ampul di benamkan dalam larutan zat warna ( 0,5 – 1,0 % metilen
blue ), lalu diberikan tekanan atmosfer sehingga menyebabkan zat warna berpenetrasi
ke dalam lubang. Kemudian Cuci bagian luar ampul, lihat perubahan warna larutan
dalam ampul.Bila terjadi perubahan warna maka ampul bocor. Syaratnya: Ampul
yang tidak menyebabkan masuknya mikroorganisme atau kontaminan lain yang
berbahaya dan isinya tidak bocor.
BAB IV

PENUTUP
1.1 Kesimpulan

1. Alur bahan, alur proses, dan alur SDM:


- Alur bahan : barang datang, barang masuk ke tempat karantina, di simpan di
gudang, kemudian dibawa ke tempat produksi menjadi produk, produk di
karantina lagi baru kemudian masuk ke gudang untuk di simpan kemudian di
pasarkan.
- Alur produksi pada pembuatan sediaan injeksi phenobarbital dimulai dari
penimbangan bahan, pembuatan injeksi phenobarbital, pengemasan produk
dan penyimpanan produk di gudang.
- Alur SDM pembuatan injeksi phenobarbital sebelum melakuakn pekerjaan
di dalam ruangan produksi petugas terlebih dahulu mennggunakan APD di
ruang ganti, baru kemudian petugas dapat melakuakan produksi di rung
produksi.
2. Komponen dalam sediaan injeksi phenobarbital yaitu terdiri dari zat aktif ( Na
phenobarbital), zat pembawa/ pelarut ( NaCl, dan aqua pro injeksi ), pengawet
(propilenglikol dan metil paraben), antioksidan (Na-metabisulfit dan Na-
pirosulfit )
3. Ruangan, alat dan metode yang digunakan dalam pembuatan injeksi
phenobarbital :
- Ruangan yang digunakan untuk produksi injeksi fenobarbital adalah ruangan
Kelas A.
- Metode Produksi Injeksi Phenobarbital adalah metode sterilisasinya
menggunakan metode sterilisasi akhir dan aseptik.
- Alat yang dibutuhkan, kaca arloji, spatel, pinset,pipet Batang pengaduk
gelas, corong gelas, gelas piala, gelas ukur dan labu erlenmeyer.
4. Evaluasi dalam pembuatan injeksi phenobarbital adalah :
- Evaluasi fisika : Uji organoleptis, uji pH, uji keseragaman volume, uji
kebocoran.
- Evaluasi biologi : uji efektifitas pengawet antimikroba, uji sterilisasi, uji
pirogen
- Evaluasi kimia : uji identifikasi, penetapan kadar.
5. Karakteristik sediaan injeksi phenobarbital dalam pembuatan injeksi
phenobarbital
- Organoleptis : putih atau serbuk putih, higroskopis, tidak berbau, rasa
pahit
- pH : 9,2-10,2
- isotonis
- isohidris
- steril
- bebas pirogen
DAFTAR PUSTAKA

Farmakope Indonesia Edisi ketiga. 1979. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Farmakope Indonesia Edisi keempat. 1995. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Parfitt,K., (1994), Martindale The Complete Drug Reference, 32nd Edition, Pharmacy Press.

Kibbe,A.H., (1994) , Handbook of Pharmaceutical Excipient, The Pharmaceutical Press,


London.

Lachman, L.., Lieberman H. A., Kanig, J. L.., 1994., Teori dan Praktek Farmasi Industri,
diterjemahkan oleh Siti Suyatmi, edisi III, Universitas Indonesia, Jakarta, 760-779.