Anda di halaman 1dari 1

Bentuk jamur Malassezia furfur yaitu oval-bulat atau seperti botol,

berukuran 3 – 8μm. Ragi ini mampu membentuk hifa (fase hifa) dan
bersifat invasif serta patogen. Pada fase hifa terbentuk hifa bersepta yang
mudah putus, sehingga nampak hifa-hifa pendek, berujung bulat aatu
tumpul. Koloni Malassezia furfur bersifat menyebar dan terlihat lembut
serta akan menjadi kering dan mengkerut seiring dengan waktu. Warna
yang khas pada Malassezia furfur yaitu krem kekuningan dan akan
menjadi kuning kemudian menjadi kecoklatan seiring dengan waktu
(Figueras, 2000).
Koloni Malassezia furfur akan tumbuh dengan baik pada media
Sabouraud Dextrose Agar yang mengandung minyak zaitun dengan masa
inkubasi 2-5 hari pada suhu 30-370C, namun akan kurang baik bila pada
suhu kamar karena pertumbuhannya akan berlangsung lambat.
Malassezia furfur dapat membentuk rantai asam lemak yang panjang
untuk pertumbuhannya, karena itu jamur ini akan sangat mudah tumbuh
pada media yang mengandung minyak zaitun (Figueras, 2000).
1. Proses Pengolahan simplisia
a. Sortasi basah
Dilakukan untuk memisahkan kotoran –kotoran atau bahan asing
lainnya dari daun nangka
b. Pencucian
Untuk menghilangkan tanah dan pengotor lainnya yang melekat pada
daun nangka dilakukan dengan menggunakan air yang mengalir.
c. Pengeringan
Untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga lebih
tahan lama dengan cara mengurangi kadar air dilakukan dengan cara
menjemur dibawah paparan sinar matahari dengan ditutupi kain hitam
untuk mencegah sinar uv secara langsung, sampai tingkat kerapuhan
yang sesuai.
d. Sortasi kering
Bertujuan untuk memisahkan benda-benda asing ataupun bagian
simplisia yang terlalu kering atau gosong.