Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAAN

1.1 Latar belakang


Auditing adalah suatu proses dengan apa seseorang yang mampu dn
indipenden dapat menghimpun dan evaluasi bukti-bukti dari keterangan yang
terukur dari suatu kesatuaan ekonomi dengan tujuan untuk
mempertimbangkan dan melaporkan tingkat kesesuaian dari keterangan yang
terukur tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan untuk melaksanakan
suatu audit atau pemeriksaan, selalu diperlukan keterangan dalam bentuk yang
dapat dibuktikan dan standar-standar atau kriteria yng dapat dipakai oleh
auditor sebagai pegangan untuk mengevaluasi ketrangan tersebut.
Audit atau pemeriksaan dalam arti luas bermakna evaluasi terhadap suatu
organisai, proses, atau produk. Audit dilaksanakan oleh pihak yang kompeten,
objektif,dan tidak memihak, yang disebut auditor. Tujuannya adalah untuk
melakukan verifikasi bahwa subjek dari audit telah diselesaikan atau sesuai
dengan standar, regulasi dan praktik yang telah disetujui dan diterima.
Jumlah dan jenis bukti audit yang dibutuhkan oleh auditor untuk mendukung
pendapatnya memerlukan pertimbangan professional auditor setelah
mempelajari dengan teliti keadaan yang dihadapinya. Dalam banyak hal,
auditor independent lebih mengandalkan bukti yang bersifat pengarahan
(persuasive evidanve) daripada bukti yang bersifat menyakinkan (convincing
evidence)

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. BUKTI AUDIT

Sebagian besar pekerjaan auditor independen dalam rangka memberikan


pendapat atas laporan keuangan terdiri dari usaha untuk mendapatkan dan
mengevaluasi bukti audit. Ukuran keabsahan (validity) bukti tersebut untuk tujuan
audit tergantung pada pertimbangan auditor independen, dalam hal ini bukti audit
(audit evidence) berbeda dengan bukti hukum (legal evidence) yang diatur secara
tegas oleh peraturan yang ketat. Bukti audit sangat bervariasi pengaruhnya
terhadap kesimpulan yang ditarik oleh auditor independen dalam rangka
memberikan pendapat atas laporan keuangan auditan. Relevansi, objektivitas,
ketepatan waktu, dan keberadaan bukti audit lain yang menguatkan kesimpulan,
seluruhnya berpengaruh terhadap kompetensi bukti.

Sifat Asersi
Asersi (assertion) adalah pernyataan manajemen yang terkandung di dalam
komponen laporan keuangan. Pernyataan tersebut dapat bersifat implisit atau
eksplisit serta dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Keberadaan atau keterjadian (existence or occurrence).


Asersi tentang keberadaan atau keterjadian berhubungan dengan apakah aktiva
atau utang entitas ada pada tanggal tertentu dan apakah transaksi yang dicatat
telah terjadi selama periode tertentu. Sebagai contoh, manajemen membuat asersi
bahwa sediaan produk jadi yang tercantum dalam neraca adalah tersedia untuk

2
dijual. Begitu pula, manajemen membuat asersi bahwa penjualan dalam laporan
laba-rugi menunjukkan pertukaran barang atau jasa dengan kas atau aktiva bentuk
lain (misalnya piutang) dengan pelanggan.

2. Kelengkapan (completencess).
Asersi tentang kelengkapan berhubungan dengan apakah semua transaksi dan
akun yang seharusnya disajikan dalam laporan keuangan telah dicantumkan di
dalamnya. Sebagai contoh, manajemen membuat asersi bahwa seluruh pembelian
barang dan jasa dicatat dan dicantumkan dalam laporan keuangan. Demikian pula,
manajemen membuat asersi bahwa utang usaha di neraca telah mencakup semua
kewajiban entitas.

3. Hak dan kewajiban (right and obligation).


Asersi tentang hak dan kewajiban berhubungan dengan apakah aktiva
merupakan hak entitas dan utang merupakan kewajiban perusahaan pada tanggal
tertentu. Sebagai contoh, manajemen membuat asersi bahwa jumlah sewa guna
usaha (lease) yang dikapitalisasi di neraca mencerminkan nilai pemerolehan hak
entitas atas kekayaan yang disewaguna-usahakan (leased) dan utang sewa guna
usaha yang bersangkutan mencerminkan suatu kewajiban entitas.

4. Penilaian (valuation) atau alokasi


Asersi tentang penilaian atau alokasi berhubungan dengan apakah komponen-
komponen aktiva, kewajiban, pendapatan dan biaya sudah dicantumkan dalam
laporan keuangan pada jumlah yang semestinya. Sebagai contoh, manajemen
membuat asersi bahwa aktiva tetap dicatat berdasarkan harga pemerolehannya dan
pemerolehan semacam itu secara sistematik dialokasikan ke dalam periode-
periode akuntansi yang semestinya. Demikian pula, manajemen membuat asersi
bahwa piutang usaha yang tercantum di neraca dinyatakan berdasarkan nilai
bersih yang dapat direalisasikan.

5. Penyajian dan pengungkapan (presentation and disclosure)

3
Asersi tentang penyajian dan pengungkapan berhubungan dengan apakah
komponen-komponen tertentu laporan keuangan diklasifikasikan, dijelaskan, dan
diungkapkan semestinya. Misalnya, manajemen membuat asersi bahwa
kewajiban-kewajiban yang diklasifikasikan sebagai utang jangka panjang di
neraca tidak akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun. Demikian pula,
manajemen membuat asersi bahwa jumlah yang disajikan sebagai pos luar biasa
dalam laporan laba rugi diklasifikasikan dan diungkapkan semestinya.

Kesesuaian dan Kecukupan Bukti

Kecukupan bukti audit lebih berkaitan dengan kuantitas bukti audit. Faktor
yang mempengaruhi kecukupan bukti audit terdiri dari :
1. Materialitas
Auditor harus membuat pendapat pendahuluan atas tingkat materialitas
laporan keuangan. Ada hubungan terbalik antara tingkat materialitas dan
kuantitas bukti audit yang diperlukan. Semakin rendah tingkat materialitas,
semakin banyak kuantitas bukti yang diperlukan. Tingkat materialitas
yang ditentukan rendah berarti torelable missunderstatement rendah.
Rendahnya salah saji dapat ditoleransi menuntut auditor untuk
menghimpun lebih banyak bukti sehingga auditor yakin tidak ada salah
saji material yang terjadi.
2. Risiko audit
Ada hubungan terbalik antara risiko audit dengan jumlah bukti yang
diperlukan untuk mendukung pendapat auditor atas laporan keuangan.
Rendahnya risiko audit berarti tingginya tingkat kepastian yang diyakini
auditor mengenai ketepatan pendapatnya. Tingginya tingkat kepastian
tersebut menuntut auditor untuk menghimpun bukti yang lebih banyak.
Semakin rendah tingkat risiko audit yang dapat diterima auditor, semakin
banyak bukti audit yang diperlukan.
3. Faktor-Faktor Ekonomi

4
Auditor memilih keterbatasan sumber daya yang digunakan untuk
memperoleh bukti yang digunakan sebagai dasar yang memadai untuk
memberikan pendapat atas kewajaran laporan keuangan. Pelaksanaan audit
menghadapi kendala waktu dan biaya dalam menghimpun bukti. Auditor
harus memperhitungkan apakah setiap tambahan biaya dan waktu untuk
menghimpun bukti seimbang dengan keuntungan atau manfaat yang
diperoleh melalui kuantitas dan kuliatas bukti yang dihimpun.
4. Ukuran dan Karakteristik Populasi
Auditor tidak mungkin menghimpun dan mengevaluasi seluruh bukti yang
ada untuk mendukung pendapatnya. Hal tersebut sangat tidak efisien.
Pengumpulan bukti audit pemeriksaan terhadap bukti audit dilakukan atas
dasar sampling.

Ada hubungan searah antara besarnya populasi dengan besar sampling


yang harus diambil dari populasi tersebut. Semakin besar populasinya,
semakin besar jumlah sampel bukti audit yang harus diambil dari
populasinya.
Karakteristik populasi berkaitan dengan homogenitas atau variabilitas item
individual yang menjadi anggota populasi. Auditor memerlukan lebih
banyak sampel atau informasi yang lebih kuat atau mendukung atas
populasi yang bervariasi anggotanya daripada populasi yang seragam.

5. Kompetensi Bukti
Untuk dapat dikatakan kompeten, bukti audit, terlepas bentuknya, harus
sah dan relevan. Keabsahan sangat tergantung atas keadaan yang berkaitan
dengan pemerolehan bukti tersebut. Dengan demikian penarikan
kesimpulan secara umum mengenai dapat diandalkannya berbagai macam
bukti audit, tergantung pada pengecualian penting yang ada. Namun, jika
pengecualian yang penting dapat diketahui, anggapan berikut ini mengenai
keabsahan bukti audit dalam audit, meskipun satu sama lain tidak bersifat
saling meniadakan, dapat bermanfaat:

5
1. Apabila bukti dapat diperoleh dari pihak independen di luar
perusahaan, untuk tujuan audit auditor independen, bukti tersebut
memberikan jaminan keandalan yang lebih daripada bukti yang
diperoleh dari dalam perusahaan itu sendiri.
2. Semakin efektif pengendalian intern, semakin besar jaminan yang
diberikan mengenai keandalan data akuntansi dan laporan
keuangan.
3. Pengetahuan auditor secara pribadi dan langsung yang diperoleh
melalui inspeksi fisik, pengamatan, perhitungan, dan inspeksi lebih
bersifat menyimpulkan dibandingkan dengan yang diperoleh secara
tidak langsung.
Kompetensi atau reliabilitas bahan bukti yang berupa catatan akuntansi
berkaitan erat dengan efektivitas pengendalian internal klien. Semakin
efektif pengendalian intern klien, semakin kompeten catatan akuntansi
yang dihasilkan. 
Kompetensi bukti yang berupa informasi penguat tergantung pada
beberapa faktor, yaitu:
6. Relevansi
Bukti yang relevan adalah bukti yang tepat digunakan untuk suatu maksud
tertentu. Sebagai contoh pengamatan fisik persediaan yang di auditor
relevan digunakan untuk menentukan keberadaan persediaan. Namun,
pengamatan fisik persediaan tidak relevan digunakan untuk menentukan
apakah persediaan tersebut benar-benar dimiliki perusahaan.
7. Sumber
Bukti yang diperoleh auditor secara langsung dari pihak luar perusahaan
yang independen merupakan bukti yang paling dapat dipercaya. Bukti
semacam ini memberikan tingkat keyakinan keandalan yang lebih besar
daripada yang dihasilkan dan diperoleh dari dalam perusahaan.
8. Ketepatan waktu
Kriteria ini berhubungan dengan tanggal pemakaian bukti tersebut.
Ketepatan waktu sangat penting terutama dalam verifikasi aktiva lancar,

6
utang lancar, dan rekening laporan rugi laba terkait karena hasilnya
digunakan untuk mengetahui apakah cutoff telah dilakukan secara tepat.
9. Objektifitas
Bukti yang objektif lebih dapat dipercaya dan kompeten daripada bukti
subjektif. Dalam menelaah bukti subjektif, seperti estimasi manajemen,
auditor harus mempertimbangkan kualifikasi dan integritas individu
pembuat estimasi, dan menentukan ketepatan proses pembuatan keputusan
dalam membuat judgement.

Jenis Bukti Audit

Struktur Pengendalian Intern


Struktur pengendalian intern dapat digunakan untuk mengecek ketelitian dan
dapat dipercayainya data akuntansi. Kuat dan lemahnya struktur pengendalian
intern merupakan indikator utama untuk menentukan jumlah bukti yang harus
dikumpulkan. Oleh karena itu, struktur pengendalian intern merupakan bukti yang
kuat untuk menentukan dapat atau tidaknya informasi keuangan dipercaya.

Bukti Fisik
Bukti fisik banyak dipakai dalam verifikasi saldo berwujud terutama kas dan
persediaan. Bukti ini banyak diperoleh dalam perhitungan aktiva berwujud.
Pemeriksaan langsung auditor secara fisik terhadap aktiva merupakan cara yang
paling objektif dalam menentukan kualitas aktiva yang bersangkutan. Oleh karena
itu, bukti fisik merupakan jenis bukti yang paling bisa dipercaya.
Bukti fisik diperoleh melalui prosedur auditing yang berupa inspeksi,
penghitungan, dan observasi. Pada umumnya, biaya memperoleh bukti fisik
sangat tinggi. Bukti fisik berkaitan erat dengan asersi keberadaan dan keterjadian,
kelengkapan, dan penilaian atau alokasi.

Catatan Akuntansi

7
Catatan akuntansi seperti jurnal dan buku besar, merupakan sumber data untuk
membuat laporan keuangan. Oleh karena itu, bukti catatan akuntansi merupakan
objek yang diperiksa dalam audit laporan keuangan. Ini bukan berarti catatan
akuntansi merupakan objek audit. Objek audit adalah laporan keuangan. Tingkat
dapat dipercayainya catatan akuntansi tergantung kuat lemahnya struktur
pengendalian intern.

Konfirmasi
Konfirmasi merupakan proses pemerolehan dan penilaian suatu komunikasi
langsung dari pihak ketiga sebagai jawaban atas permintaan informasi tentang
unsur tertentu yang berdampak terhadap asersi laporan keuangan. Konfirmasi
merupakan bukti yang sangat tinggi reliabilitasnya karena berisi informasi yang
berasal dari pihak ketiga secara langsung dan tertulis. Konfirmasi sangat banyak
menghabiskan waktu dan biaya.
Ada tiga jenis konfirmasi yaitu:
1. Konfirmasi positif, merupakan konfirmasi yang respondennya diminta
untuk menyatakan persetujuan atau penolakan terhadap informasi yang
ditanyakan.
2. Blank confirmation, merupakan konfirmasi yang respondenya diminta
untuk mengisikan saldo atau informasi lain sebagai jawaban atas suatu hal
yang ditanyakan.
3. Konfirmasi negatif, merupakan konfirmasi yang respondenya diminta
untuk memberikan jawaban hanya jika ia menyatakan ketidaksetujuannya
terhadap informasi yang ditanyakan.

Bukti Dokumenter
Bukti dokumenter merupakan bukti yang penting dalam audit. Menurut sumber
dan tingkat kepercayaan bukti, bukti dokumenter dapat dikelompokkan sebagai
berikut:
1. Bukti dokumenter yang dibuat oleh pihak luar dan dikirim kepada auditor
secara langsung.

8
2. Bukti dokumenter yang dibuat pihak luar dan dikirim kepada auditor
melalui klien.
3. Bukti dokumenter yang dibuat dan disimpan oleh klien.
Bukti dokumenter antara lain meliputi notulen rapat, faktur penjualan, rekening
koran bank, dan bermacam-macam kontrak. Reliabilitas bukti dokumenter
tergantung sumber dokumen, cara memperoleh bukti, dan sifat dokumen itu
sendiri. Sifat dokumen mengacu tingkat kemungkinan terjadinya kesalahan atau
kekeliruan yang mengakibatkan kecacatan dokumen.

Bukti Surat Pernyataan Tertulis


Surat pernyataan tertulis merupakan pernyataan yang ditandatangani seorang
individu yang bertanggungjawab dan berpengatahuan mengenai rekening, kondisi,
atau kejadian tertentu. Bukti suatu pernyataan tertulis dapat berasal dari
manajemen atau organisasi klien maupun sumber eksternal termasuk bukti dari
spesialis. Representasi tertulis yang dibuat oleh manajemen merupakan bukti yang
berasal dari organisasi klien. Surat pernyataan konsultan hukum klien, ahli teknik
yang berkaitan dengan kegiatan teknik operasional organisasi klien merupakan
bukti yang berasal dari pihak ketiga.

Penghitungan Kembali sebagai Bukti Matematis


Bukti matematis diperoleh auditor melalui penghitungan kembali oleh auditor.
Penghitungan yang di auditor merupakan bukti audit yang bersifat kuantitatif dan
matematis. Bukti ini dapat digunakan untuk membuktikan ketelitian catatan
akuntansi klien.

Bukti Lisan
Auditor dalam melaksanakan tugasnya banyak berhubungan dengan manusia
sehingga ia mempunyai kesempatan untuk mengadakan pengajuan pertanyaan
lisan. Masalah yang dapat ditanyakan antara lain meliputi kebijakan akuntansi,
lokasi dokumen dan catatan, pelaksanaan prosedur akuntansi yang tidak lazim,
kemungkinan adanya utang bersyarat maupun piutang yang sudah lama tidak

9
ditagih. Jawaban atas pertanyaan yang dinyatakan merupakan bukti lisan. Bukti
lisan harus dicatat dalam kertas kerja audit.

Bukti Analitis dan Perbandingan


Bukti analitis mencakup penggunaan rasio dan perbandingan data klien dengan
anggaran atau standar prestasi, trend industri dan kondisi ekonomi umum. Bukti
analitis menghasilkan dasar untuk menentukan kewajaran suatu pos tertentu dalam
laporan keuangan. Keandalan bukti analitis sangat tergantung pada relevansi data
pembanding.
Bukti analitis meliputi juga perbandingan atas pos-pos tertentu antara laporan
keuangan tahun berjalan dengan laporan keuangan tahun-tahun sebelumnya.
Perbandingan ini dilakukan untuk meneliti adanya perubahan yang terjadi, dan
untuk menilai penyebabnya. Bukti-bukti ini dikumpulkan pada awal audit untuk
menentukan objek pemeriksaan yang memerlukan pemeriksaan yang lebih
mendalam.

Penilaian Bukti
Dalam menilai bukti audit, auditor harus mempertimbangkan apakah tujuan audit
tertentu telah tercapai. Auditor harus secara mendalam mencari bukti audit dan
tidak memihak (bias) dalam mengevaluasinya. Dalam merancang prosedur audit
untuk memperoleh bukti kompeten yang cukup, auditor harus memperhatikan
kemungkinan laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi
yang berlaku umum di Indonesia. Dalam merumuskan pendapatnya, auditor harus
mempertimbangkan relevansi bukti audit, terlepas apakah bukti audit tersebut
mendukung atau berlawanan dengan asersi dalam laporan keuangan. Bila auditor
masih tetap ragu-ragu untuk mempercayai suatu asersi yang material, maka ia
harus menangguhkan pemberian pendapatnya sampai ia mendapatkan bukti
kompeten yang cukup untuk menghilangkan keraguannya, atau ia harus
menyatakan pendapat wajar dengan pengecualian atau menolak memberikan
pendapat.

10
B. PROSEDUR DAN DOKUMENTASI AUDIT

1. Jenis Prosedur Substantif


Jika tingkat risiko deteksi yang dapat diterima rendah, maka auditor harus
menggunakan prosedur yang lebih efektif yang biasanya juga lebih mahal. Ada
tiga tipe pengujian substantif yang dapat digunakan, yaitu:

Pengujian rinci atau detail saldo


Metodologi yang digunakan oleh auditor untuk merancang pengujian
detail saldo akun beorientasi pada tujuan spesifik audit. Pengujian detail saldo
akun yang direncanakan harus memadai untuk memenuhi setiap tujuan spesifik
audit dengan memuaskan.
Metodologi perancangan pengujian detail saldo meliputi empat tahapan, yaitu:
a). Menilai materialitas dan risiko bawaan suatu akun.
b). Menetapkan risiko pengendalian.
c). Merancang pengujian transaksi dan prosedur analitis.
d). Merancang pengujian detail saldo untuk memenuhi setiap tujuan spesifik audit
secara memuaskan.
Metodologi yang digunakan untuk merancang pengujian detail saldo
tersebut, adalah sama untuk setiap akun dalam laporan keuangan. Perancangan
pengujian detail saldo pada umumnya merupakan bagian yang paling sulit
dilakukan. Hal ini disebabkan perancangan pengujian detail saldo memerlukan
pertimbangan profesional yang tinggi.
Bila diantara risiko deteksi yang ditentukan dihubungkan dengan pengujian rinci
saldo yang akan dilakukan maka akan jelas terlihat bahwa semakin rendah tingkat
risiko, semakin rinci dan teliti tindakan yang akan diambil.

Pengujian detail transaksi


Pengujian detail transaksi dilakukan untuk menentukan:
a) Ketepatan otorisasi transaksi akuntansi klien.

11
b) Kebenaran pencatatan dan peringkasan transaksi tersebut dalam jurnal.
c) Kebenaran pelaksanaan posting atas transaksi tersebut ke dalam buku
besar dan buku pembantu.
Apabila auditor mempunyai keyakinan bahwa transaksi tersebut telah dicatat dan
diposting secara tepat, maka auditor dapat meyakini bahwa saldo total buku besar
adalah benar.
Pengujian detail transaksi terutama dilakukan dengan tracing dan vouching. Pada
pengujian detail transaksi ini, auditor mengarahkan pengujiannya untuk
memperoleh temuan mengenai ada tidaknya kesalahan yang bersifat moneter.
Auditor tidak mengarahkan pengujian detail transaksi ini untuk memperoleh
temuan tentang penyimpangan atas kebijakan dan prosedur pengendalian.
Pada pengujian detail transaksi ini, auditor menggunakan bukti yang
diperoleh untuk mencapai suatu kesimpulan mengenai kewajaran saldo akun.
Auditor biasanya menggunakan dokumen yang tersedia pada file klien dalam
pengujian ini. Efektivitas pengujian detail transaksi tergantung pada prosedur dan
dokumen yang digunakan.
Pengujian detail transaksi pada umumnya lebih banyak menyita waktu daripada
prosedur analitis. Oleh karena itu, pengujian ini lebih banyak membutuhkan biaya
daripada prosedur analitis. Meskipun demikian, pengujian detail transaksi lebih
sedikit membutuhkan biaya daripada pengujian detail saldo.

Prosedur analitis
Prosedur analitik meliputi perbandingan jumlah-jumlah yang tercatat atau
ratio yang dihitung dari jumlah-jumlah yang tercatat, dibandingkan dengan
harapan yang dikembangkan oleh auditor. Prosedur analitik merupakan bagian
penting dalam proses audit dan terdiri dari evaluasi terhadap informasi keuangan
yang dibuat dengan mempelajari hubungan yang masuk akal antara data keuangan
yang satu dengan data keuangan lainnya, atau antara data keuangan dengan data
nonkeuangan. Prosedur analitik mencakup perbandingan yang paling sederhana
hingga model yang rumit yang mengaitkan berbagai hubungan dan unsur data.

12
Asumsi dasar penerapan prosedur analitik adalah bahwa hubungan yang
masuk akal di antara data dapat diharapkan tetap ada dan berlanjut, kecuali jika
timbul kondisi yang sebaliknya. Kondisi tertentu yang dapat menimbulkan
penyimpangan dalam hubungan ini mencakup antara lain, peristiwa atau transaksi
yang tidak biasa, perubahan akuntansi, perubahan usaha, fluktuasi acak, atau salah
saji.
Pemahaman hubungan keuangan adalah penting dalam merencanakan dan
mengevaluasi hasil prosedur analitik, dan secara umum juga menuntut dimilikinya
pengetahuan tentang klien dan industri yang menjadi tempat usaha klien.
Pemahaman atas tujuan prosedur analitik dan keterbatasannya juga penting. Oleh
karena itu, identifikasi hubungan dan jenis data yang digunakan, serta kesimpulan
yang diambil apabila membandingkan jumlah yang tercatat dengan yang
diharapkan, membutuhkan pertimbangan auditor.
Prosedur analitik digunakan dengan tujuan sebagai berikut:
a) Membantu auditor dalam merencanakan sifat, saat, dan lingkup prosedur
audit lainnya.
b) Sebagai pengujian substantif untuk memperoleh bukti tentang asersi
tertentu yang berhubungan dengan saldo akun atau jenis transaksi.
c) Sebagai review menyeluruh informasi keuangan pada tahap review akhir
audit.
Auditor mempertimbangkan tingkat keyakinan, jika ada, yang diinginkannya dari
pengujian substantif untuk suatu tujuan audit dan memutuskan, antara lain
prosedur yang mana, atau kombinasi prosedur mana, yang dapat memberikan
tingkat keyakinan tersebut. Untuk asersi tertentu, prosedur analitik cukup efektif
dalam memberikan tingkat keyakinan memadai. Namun, pada asersi lain,
prosedur analitik mungkin tidak seefektif atau seefisien pengujian rinci dalam
memberikan tingkat keyakinan yang diinginkan.
Efektivitas dan efisiensi yang diharapkan dari suatu prosedur analitik
dalam mengidentifikasikan kemungkinan salah saji tergantung atas, antara lain:
a) Sifat asersi.
b) Kelayakan dan kemampuan untuk memprediksikan suatu hubungan.

13
c) Ketersediaan dan keandalan data yang digunakan untuk mengembangkan
harapan.
d) Ketepatan harapan.

Prosedur Analitik dalam Perencanaan Audit


Tujuan prosedur analitik dalam perencanaan audit adalah untuk membantu dalam
perencanaan sifat, saat, dan lingkup prosedur audit yang akan digunakan untuk
memperoleh bukti saldo akun atau golongan transaksi tertentu. Untuk maksud ini,
prosedur analitik perencanaan audit harus ditujukan untuk:
a) Meningkatkan pemahaman auditor atas bisnis klien dan transaksi atau
peristiwa yang terjadi sejak tanggal audit terakhir dan,
b) Mengidentifikasi bidang yang kemungkinan mencerminkan risiko tertentu
yang bersangkutan dengan audit. Jadi, tujuan prosedur ini adalah untuk
mengidentifikasikan hal seperti adanya transaksi dan peristiwa yang tidak
biasa, dan jumlah, rasio serta trend yang dapat menunjukkan masalah yang
berhubungan dengan laporan keuangan dan perencanaan audit.
Prosedur analitik yang diterapkan dalam perencanaan audit umumnya
menggunakan data gabungan yang digunakan untuk pengambilan keputusan di
tingkat atas. Lebih lanjut kecanggihan, lingkup, dan saat audit, yang didasarkan
atas pertimbangan auditor dapat berbeda tergantung atas ukuran dan kerumitan
klien. Untuk beberapa entitas, prosedur analitik dapat terdiri dari review atas
perubahan saldo akun tahun sebelumnya dengan tahun berjalan, dengan
menggunakan buku besar atau daftar saldo (trial balance) tahap awal yang belum
disesuaikan. Sebaliknya, untuk entitas yang lain, prosedur analitik mungkin
meliputi analisis lapotan keuangan triwulan yang ekstensif.

2. Program Audit Substantif


Program audit adalah dokumen yang memuat pernyataan tujuan audit dan
rencana langkah-langkah audit (biasanya dalam bentuk kalimat perintah) untuk

14
mencapai tujuan audit tersebut. Contoh tujuan audit: untuk mengetahui
keberadaan barang inventaris. Langkah auditnya: Lakukan inventarisasi fisik
(stock opname) barang inventaris, hasilnya dituangkan dalam berita acara.
Penyusunan program audit dilakukan pada tahap persiapan dalam rangka
pengujian dan pengendalian dan pada tahap audit pendahuluan dalam rangka
pengujian transaksi atau saldo-saldo atau pengembangan temuan, sehingga dengan
demikian program audit dapat dikelompokkan menjadi:
a) Program audit untuk pengujian pengendalian, yaitu program audit untuk
menguji pengendalian intern (internal control) yang dijalankan manajemen
terkait dengan informasi/kegiatan yang akan diaudit.
b) Program audit untuk pengujian substantif (substative test). Secara
sederhana program audit ini dapat dijelaskan sebagai rencana kerja untuk
menguji kesesuaian informasi yang diuji dengan data pendukungnya.
Pada audit keuangan, program audit untuk pengujian substantif dan pengujian
pengendalian dapat disusun sekaligus, terutama karena standar penyajian pos-pos
laporan keuangan sudah baku sifatnya. Tetapi pada audit operasional dan audit
kepatuhan, program audit substantif biasanya baru bisa dibuat setelah pengujian
pengendalian selesai dilaksanakan, yaitu setelah auditor mengetahui kelemahan
pengendalian/temuan sementara yang perlu diperdalam.
Ada delapan prosedur untuk melaksanakan pengujian substantif, yaitu:
1) Pengajuan pertanyaan kepada para karyawan terkait dengan kinerja tugas
mereka.
2) Pengamatan atau observasi terhadap personel dalam melaksanakan tugas.
3) Menginspeksi dokumen dan catatan.
4) Melakukan penghitungan kembali atau reperforming.
5) Konfirmasi.
6) Analisis.
7) Tracing atau pengusutan.
8) Vouching atau penelusuran.

3. Dokumentasi Audit (Kertas Kerja Audit)

15
Fungsi dan Sifat Kertas Kerja
Kertas kerja adalah catatan-catatan yang diselenggarakan oleh auditor
tentang prosedur audit yang ditempuhnya, pengujian yang dilakukannya,
informasi yang diperolehnya, dan simpulan yang dibuatnya sehubungan dengan
auditnya. Contoh kertas kerja adalah program audit, analisis, memorandum, surat
konfirmasi, representasi, ikhtisar dari dokumen-dokumen perusahaan, dan daftar
atau komentar yang dibuat atau diperoleh auditor. Kertas kerja dapat pula berupa
data yang disimpan dalam pita magnetik, film, atau media yang lain.
Auditor harus membuat dan memelihara kertas kerja, yang isi maupun
bentuknya harus didesain untuk memenuhi keadaan-keadaan yang dihadapinya
dalam perikatan tertentu. Informasi yang tercantum dalam kertas kerja merupakan
catatan utama pekerjaan yang telah dilaksanakan oleh auditor dan simpulan-
simpulan yang dibuatnya mengenai masalah-masalah yang signifikan.
Kertas kerja terutama berfungsi untuk :
a) Menyediakan penunjang utama bagi laporan auditor, termasuk representasi
tentang pengamatan atas standar pekerjaan lapangan, yang tersirat
ditunjukkan dalam laporan auditor dengan disebutkannya frasa
“berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia”.
b) Membantu auditor dalam pelaksanaan dan supervisi audit.
Faktor yang mempengaruhi pertimbangan auditor mengenai kuantitas, bentuk, dan
isi kerta kerja untuk perikatan tertentu mencakup:
a) Sifat perikatan auditor.
b) Sifat laporan auditor.
c) Sifat laporan keuangan, daftar, dan keterangan yang perlu bagi auditor
dalam pembuatan laporan.
d) Sifat dan kondisi catatan klien.
e) Tingkat risiko pengendalian taksiran.
f) Kebutuhan dalam keadaan tertentu untuk mengadakan supervisi dan
review atas pekerjaan yang dilakukan para asisten.

Isi Kertas Kerja

16
Kuantitas, tipe, dan isi kertas kerja bervariasi dengan keadaan yang
dihadapi oleh auditor, namun harus cukup memperlihatkan bahwa catatan
akuntansi cocok dengan laporan keuangan atau informasi lain yang dilaporkan
serta standar pekerjaan lapangan yang dapat diterapkan telah diamati. Kertas kerja
biasanya harus berisi dokumentasi yang memperlihatkan:
a) Pekerjaan telah direncanakan dan disupervisi dengan baik, yang
menujukan diamatinya standar pekerjaan lapangan yang pertama.
b) Pemahaman memadai atas pengendalian intern telah diperoleh untuk
merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian
yang telah dilakukan.
c) Bukti audit yang telah diperoleh, prosedur audit yang telah diterapkan, dan
pengujian yang telah dilaksanakan, memberikan bukti kompeten yang
cukup sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan
keuangan auditan, yang menujukan diamatinya standar pekerjaan lapangan
ketiga.

Kepemilikan Dan Penyimpanan Kertas Kerja


Kertas kerja adalah milik auditor. Namun hak dan kepemilikan atas kertas
kerja masih tunduk pada pembatasan yang diatur dalam Aturan Etika
Kompartemen Akuntan Publik yang berkaitan dengan hubungan yang bersifat
rahasia dengan klien. Seringkali kertas kerja tertentu auditor dapat berfungsi
sebagai sumber acuan bagi kliennya, namun kertas kerja harus tidak dipandang
sebagai bagian dari, atau sebagai pengganti terhadap, catatan akuntansi klien.
Auditor harus menerapkan prosedur memadai untuk menjaga keamanan kertas
kerja dan harus menyimpannya dalam periode yang dapat memenuhi kebutuhan
praktiknya dan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku mengenai penyimpan
dokumen.

17
BAB III
KESIMPULAN

Bukti audit adalah segala informasi yang mendukung angka-angka atau informasi
lain yang disajikan dalam laporan keuangan, yang dapat digunakan oleh auditor
sebagai dasar yang layakuntuk menyatakan pendapat

18
DAFTAR PUSTAKA
https://id Wikipedia.org/wiki/bukti audit
http://putubudiayan.blogspot.com
http://stdln.blogspot.co.id/2011/02/jenis-jenis-audit-da-dokumentasi.18 html

19
International Journal of Business and Management
Invention ISSN (Online): 2319 – 8028, ISSN
(Print): 2319 – 801X www.ijbmi.org || Volume 6 Issue 6 ||
June. 2017 || PP—12-21

Determinant of Audit Delay: Evidance from Public


Companies in
Indonesia

Rediyanto Putra1, Sutrisno T2, Endang Mardiati2


1
(Master Program of Economic and Business Faculty, Brawijaya University, Indonesia)
2
(Economic and Business Faculty, Brawijaya University, Indonesia)

Abstract: The purpose of this study is to prove the influence of audit committee, internal
auditor, and independent auditor to audit delay and testing moderating effect from audit
complexity on the relationship of audit commite, intern auditor, and independent auditor
to audit delay. Sample of this study is consisted of 130 companies listed on the Stock
Exchange in Indonesia listed in Indonesia Stock Exchange in the year 2013 to 2015 and
meet certain criteria. The data of this study is Annual Report from the company. This
study used Partial Least Square (PLS). The result show that audit delay of 130 public
companies from 2013 until 2015 are between 6 days to 179 days. Hypothesis testing
results indicate that the audit committee and the internal auditor have negative effect on
audit delay, while the independent auditor does not affect the audit delay. The results of
this study also show that the complexity of the audit can be a moderating variable on the
relationship between internal auditors and audit delay, while the complexity of audit
can’t be a moderating variabel on the relationship between audit commite.
Keywords: Audit Delay, Audit Committee, Audit Complexity, Independent Auditor, Intern
Auditor

I. INTRODUCTION
Public companies have an obligation to submit their financial statements to the public.
Submission of the financial statements is the impact of an agency relationship between

20
corporate managers with the investors. Jamaan (2008) states that the financial
statements serve as a measuring tool, assessment as well as monitoring the
performance of agents in maximizing the welfare of the principal. The obligation to
submit the financial statements of public companies in Indonesia has been regulated by
the Regulation of BAPEPAM LK Number X.K.6 of 2006.

BAPEPAM LK Regulation No. X.K.6 of 2006 explains that the company's financial
statements that must be submitted to the public must meet the accounting standards
established by the Indonesian Institute of Accountants and must be audited by public
accountants. The regulation also explains that the company must be able to submit its
financial statements before the time limit specified in order not to get sanction as has
been arranged.

The company's obligation to publish audited financial statements poses a new problem
for the company in relation to the timeliness of the submission of the specified financial
statements and the time required to produce an independent auditor's report. This is
because the process of generating independent audit reports takes time. The time
required by an independent auditor to audit the financial statements ultimately leads to
a phenomenon called audit delay.

Audit delay is a phenomenon experienced by all public companies in Indonesia. The


delay audit is the time span required by the independent auditor to be able to complete
the audit report on the fairness of the company's financial statements from December
31 to date on the independent auditor's report (Rachmawati, 2008). Audit delay can be
a problem if the audit delay range that occurs in a company is too long which can
ultimately lead to delays in the delivery of financial statements. The phenomenon of
audit delay in Indonesia is also a problem for some public companies in Indonesia.

Information from the Economic Balance Sheet website (www.neraca.co.id) states that in
2013 there were 52 public companies that are late in the process of delivering financial
statements in 2012. Furthermore, in 2014 there were 49 public companies late reporting
financial statements for the year 2013 (www.kontan.co.id). Furthermore in 2015 there
are 52 companies late to submit 2014 financial statements (www.neraca.co.id) and by

2016 there are 63 public companies on the IDX that are late reporting financial
statements for 2015 (www.ipotnews.com). Delays in the delivery of financial statements
in the end make the company must accept the sanctions imposed by the IDX. Table 1
presents a summary of the number of companies late in presenting the financial
statements.

21
Table –I: Number of Companies Late to Submit Financial Statements

Year Amount of Late Number of Companies in IDX Presentation


2013 52 companies 467 companies 11,135%
2014 49 companies 530 companies 9,25%
2015 52 companies 547 companies 9,51%
2016 63 companies 581 companies 10,84%
Number of public companies in Indonesia late in submitting financial reports indicate a
high enough fairly serious problems related to the late submission of financial
statements of public companies in Indonesia. The delay in the delivery of these financial
statements is due to the delayed audit delay period in some companies. Range of audit
delay time occurring within a company can be suppressed by maximizing the role of the
parties directly related to the financial statement audit process like audit committees,
internal auditors and the independent auditor of the company.Therefore, this study
aims to re-examine the influence of audit committees, internal auditors, and
independent auditors on audit delay. This study also aims to examine the moderating
effects of complexity on audit committee relations, internal auditors, and independent
auditors of audit delay.

II. HYPOTESIS DEVELOPMENT


2.1. The Effect of the Audit Committee to Audit Delay
The audit committee is one of the internal mechanisms of Corporate Governance which
is generally under the authority of the company's board of commissioners. The decision
of the National Committee on Governance Policy (2006) states that the audit committee
is a group of individuals who have a responsibility in assisting the auditor in maintaining
its independence from management. Thus, the audit committee within the company can
improve the reliability of the company's financial statements because it is free of
possible manipulation by managers.

Reliable financial statements will result in the task of independent auditors in


conducting audits become easier and faster, so the audit delay time range to be short.
Hashim and Rahman (2011) stated that the independence and competence of the audit
committee affect the audit delay, while Apadore and Noor (2013) state that the audit
committee size, and Rianti and Sari (2014) state that the number of members,
competencies and gender proportions of the audit committee Negatively affect audit
delay. Based on the explanation, the first hypothesis of this research is as follows:

H1. The audit committee has a negative influence on audit delay

22
2.2. The Effect of the internal auditor to Audit Delay
The internal auditor is a part of the internal control form within the organization.
Bapepam-LK No. IX.I.7 (2008) states that the internal auditor is a unit that is responsible
for giving the confidence and the consultation process independently and objectively in
order to increase the value and the company's operations with a systematic approach.
Thus, the company's internal auditors can create an effective corporate operations.
Suharni et al (2013) states that the number of members and experience of the chairman
of internal auditors affect the timeliness. Timeliness of a company's financial statements
relates to the timing of the completion of the independent auditor's audit report on the
financial statements. Thus, the number of members and experience of the chief internal
auditor also affect the audit delay. Based on the explanation, the second hypothesis of
this research is as follows:

H2. The internal auditor has a negative influence on audit delay

2.3. The Effect of the independent auditor to Audit Delay


An independent auditor is an auditor from an external party company in charge of
auditing the company's financial statements. Mills (1990) states that an audit by an
independent auditor is a form of monitoring to reduce agency problems and increase
company value. Thus, the public company's financial statements should be audited to
avoid the impact of agency problems and may increase investor confidence.

An independent auditor who audits the financial statements should have good quality so
that the audit delay is not too long. The quality of the independent auditor can be
measured from the size of the Public Accounting Firm and the duration of the
engagement. Panjaitan et al (2013) states that large-sized public accounting firms will
have a wealth of skilled auditor resources and good audit work systems. The length of
the auditor's engagement with the company also affects the duration of an audit
process. Ashton et al (1987) states that the longer the Public Accounting Firm's
engagement with the company, the shorter the audit delay period that occurs. Based on
the description, then the third hypothesis for this research is as follows: H3. The
independent auditor has a negative influence on audit delay

2.4. Moderation Effects of Audit Complexity on Relationships between


Audit Committee, Internal Auditor, Independent Auditor, and Audit
Delay
Audit complexity including contingency variables that need to be considered in the
implementation of corporate control system. The complexity of an audit at a company
can be due to the complexity of transactions owned by a company. The complexity of a
company's transactions is based on the number and location of the operations unit

23
(branch) as well as the diversification of products and markets (Ariyani and Budiartha,
2014). Audit complexity can be due to the number of subsidiaries owned by a company.
Ahmad and Abidin (2008) explain that the number of client subsidiaries has an impact
on the timeliness of the delivery of financial statements, this is because auditors need
more time in performing its audit tasks at companies with more complex operations.
Audit complexity can also be due to firm size. Kurniawan (2011) states that the
operational complexity, variability and intensity of corporate transactions is influenced
by the size of the company.

The audit committee may be the party conducting the supervision related to the
financial information and the financial statements of the company. BAPEPAM Regulation
No. IX.I.5 of 2012 explains that the audit committee is responsible for conducting a
review of the company's financial information and audit implementation by internal
auditors, and complaints related to the company's accounting process. Audit
committees in companies with high complexity will have more complicated tasks than
audit committees in companies with low audit complexity. This is because audit
committees in companies with high audit complexity will conduct more complex
financial information and accounting processes.

The internal auditor is the party assisting the audit committee in conducting supervision
on the company's internal control. BAPEPAM Regulation No. IX.I.7 year 2008 explains
that internal auditor is a unit that conducts evaluation process to internal control
company independently to increase value and effectiveness of company in accounting,
finance. The high audit complexity of an enterprise will impact on the duties and
responsibilities of the company's internal auditors. This is because the system of control
and transactions in companies with high audit complexity will be more complicated than
companies with low audit complexity, so that internal auditors will take longer to
conduct the process of evaluation and supervision thoroughly against the control system
and corporate operations.

The independent auditor is a party directly related to the audit process of the company's
financial statements, so the company must be able to appropriately choose a reputable
independent auditor in order to provide benefits to the company. Mills (1990) states
that an independent auditor performs an audit process with the aim of reducing agency
and corporate value issues. The high audit complexity at the company affects not only
the audit committee and internal auditors of the company but also affects the
independent auditor. An independent auditor auditing a company with high audit
complexity will take longer to obtain sufficient information and knowledge to provide an
appropriate audit opinion. Thus, the timing of the audit completion process will become
longer.

24
The explanation indicates that the influence of audit committees, internal auditors, and
independent auditors is determined from the level of complexity of corporate audits.
Thus, the fourth hypothesis of this study is as follows:

H4a. Audit complexity moderates the influence of the audit committee on audit
delay.
H4b. Audit complexity moderates the influence of the internal auditor on audit
delay.
H4c. Audit complexity moderates the influence of the independent auditor on audit
delay.

Figure 1
Research Model
KA
KOA

AI AD

AIND

UMP
III. RESEARCH METHOD
3.1. Type of Research
The research approach used in this research is quantitative approach. This quantitative
approach is used in order to test statistically whether or not the influence of
independent variables on dependent variables is followed by the addition of moderating
variables. This research is a basic research research. Basic research begins with
hypothesis testing, deeper assessment, and conclusion (Jogiyanto, 2011: 7).

3.2. Population and Sample


The population used in this study is a public company listed on the Indonesia Stock
Exchange (IDX), while the research sample used is a company listed on the Indonesia
Stock Exchange (IDX) period 2013-2015. The technique used to determine the sample in
this study is purposive sampling. The criteria used for sample determination in this study
are among others:

1. Public companies are listed on the Indonesia Stock Exchange in a row from 2013 to
2015.
2. Annual reports and company financial statements are available and accessible on
the Indonesia Stock
Exchange website

25
3. In the company's annual report available data required research include data on the
audit committee, public accountant, internal audit, audit complexity, and audit
delay.

3.3. Research Data


The research data used in this research is secondary data, that is data in the form of
annual reports obtained from the official website of Indonesia Stock Exchange (IDX) is
www.idx.co.id. Data collection techniques used in this study is documentation.

3.4. Operational Definition of Variables

3.4.1. Audit Delay

Audit delay is measured by calculating the time between the closing date of December
31 fiscal year until the publication of the independent audit report on the number of
days (Rachmawati, 2008).

3.4.2. Committee Audit.


The audit committee variables in this study were measured using five indicators: audit
committee members (KOA1), audit committee financial expertise (KOA2), meeting
frequency (KOA3), audit committee independence (KOA4), and gender proportion
(KOA5). The selection of these five indicators is based on research from Hashim and
Rahman (2011), Apadore and Noor (2013), and Rianti and Sari (2013). KOA1 by counting
the number of members of the company's audit committee. KOA2 is measured by
calculating the percentage of audit committee members who have an accounting and
financial background. KOA3 is measured by counting the number of audit committee
meetings for a year. KOA4 is measured by calculating the percentage of independent
members of the audit committee. KOA5 is measured by calculating the percentage of
women on the audit committee.

3.4.3. Internal Auditor

Internal auditor variable is measured by using three indicators: number of internal


auditor member (AI1), education level of internal auditor unit chairman (AI2), and
experience level of internal auditor unit (AI3). Indicator indicators of internal auditors
are based on previous research (Suharni et al, 2013). AI1 is measured by counting the
number of members of the company's internal auditors. AI2 is measured using ordinal
scale ie 1 for associate’s degree, 2 for bachelor degree, 3 for master degree, and 4 for
doctoral. AI3 is measured by counting the number of years the experience of the

26
chairman of the internal auditor from the appointment year to the chairman of the
internal audit at the company until the year of study.

3.4.4. Independent Auditor

Independent auditor variables are measured using two indicators: the size of the Public
Accounting Firm (AIND1) and the length of the engagement (AIND2). The selection of
indicators from independent auditors is based on research by Rustiarini and Sugiarti
(2013). AIND1 is measured using a nominal scale of 0 for the Non Big Four Public
Accounting Firm and 1 for the Big Four Public Accounting Firm. AIND2 is measured by
calculating the year of the Public Accounting Firm's engagement with the company from
the year of commencement until the year of the study.

3.4.5. Audit Complexity

The moderation variable in this study is audit complexity. Variable complexity of the
audit in the study was measured using two indicators: the number of subsidiaries (KA1)
and the size of the company (KA2). The selection of both indicators of audit complexity
is based on Karang (2015) and Lestari (2015). KA1 is measured by calculating the number
of subsidiaries owned by the company directly. KA2 is measured using the natural
logarithm of the total assets of the firm.

3.4.6. Firm Age

The company age in this study is used as control variable. The variable of firm age in this
study was measured by calculating the difference between the year of research period
and the year the company started its operations (Apriyanti and Santosa, 2014).

3.5. Statistic Method


This research uses variance-based structural model (Partial Least Square). This research
uses the help of WarpPLS 5.0 program in performing data processing. The process of
testing phases of this hypothesis is based on the rules of Baron and Kenney (Jogiyanto,
2011: 101). The research hypothesis will be accepted if the value of p value ≤ 0.05 (5%)
and coefficient value correspond to the hypotesis direction for the one tailed test.

The equations in this study are as


follows: Equation H1-H3:

27
Equation H4a-H4c:

Information:

AD = Audit Delay
KOA = Committee
Audit
AI = Internal Auditor
AIND = Independent
Auditor
KA = Audit
Complexity
UMP = Firm Age
= Laten Variable Coefficient
= Manifest Variable Coefficient

IV. RESULT
4.1. Sample Description
Table-II: Number of Business being Research Samples

Information
Number of Companies Registered on IDX until 2016 5
3
9
Number of Unlisted Companies in IDX during 2013-2015 (
8
0
)

Number of Companies Registered in IDX for 2013-2015

459

Total Company Data are not Accessible

(57)

Number of Companies that Do Not Provide Complete Research Data

(266)

Number of Companies in Accordance with Sample Criteria

28
136

Number of Companies that Have Outlier Data

(6)

Number of Companies can be Used As Research Sample

130

The number of companies that are used in this study were as many as 130 companies
with a three-year study period, so the total number of observations made in this study
were 390 cases. Table 2 below presents the sampling process undertaken in this
study.The companies that were sampled in this study came from various industry
sectors. The sample of this research is more dominated by non financial service
company that is 100 company (76,92%) and the rest 30 company (23,08%) are financial
service company. Non-financial services companies are dominated by manufacturing
companies, while financial services companies are dominated by banking companies.

4.2. Variabel Description


The purpose of the variable description is to provide a brief overview of the research
variables. Description of research variables described using the minimum, maximum,
and mode of each variable. The minimum, maximum, and mode values of each variable
are based on data from 130 companies listed on the IDX during 2013-2015. Some of the
variables in this study were measured using more than one indicator based on previous
research and other relevant refrentions. Table 3 presents the results of research data
processing that results in minimal, maximum, and mode values of the research variables.

Table-III: Summary Description Research Variables


2013-2015

Min Max Mod

AD 6 179 83
KOA1 3 6 3
KOA2 0 1 1
KOA3 2 44 4
KOA4 0,6 1 1
KOA5 0 1 0

29
AI1 1 194 1
AI2 2 3 2
AI3 0,08 13,67 4
AIND1 0 1 1
AIND2 1 7 4
KA1 0 29 0
KA2 99 910.000 2.155
UMP 4 104 39

4.3. Outer Model testing


The outer model test consists of variable validity test and reliability test. Outer model
test begins by testing the validity of variables consisting of convergence and
convergence validity test discriminant validity. The first test of the outer model is the
convergence validity test. Convergence validity test aims to determine the level of
correlation indicators that form a variable (Jogiyanto, 2011: 70). Convergent validity test
is based on the loading factor value of each indicator that makes up a variable. Terms
used to measure an indicator passed the convergence validity test that is the loading
factor value of the indicator must be more than 0.7 and the value of p value less than
0.05. A variable indicator that has a loading factor value of less than 0.7 should be
omitted. Table 4 presents the loading factor values of each indicator.

Table-IV: Factor Loading Value

KOA AI AIND KA AD UMP p value


KOA1 0,833 <0,01
KOA2 0,009 0,429

KOA3 0,775 <0,01

KOA4 -0,522 <0,01

KOA5 -0,328 <0,01

AI1 0,742 <0,01

AI2 0,757 <0,01

AI3 -0,388 <0,01

AIND1 0,770 <0,01

AIND2 0,770 <0,01

KA1 0,809 <0,01

KA2 0,809 <0,01

AD 1,00 <0,01

UMP 1,00 <0,01

30
Indicators of KOA variables that have a factor loading value greater than 0.7 and p value
0.05 are just two indicators (KOA1 and KOA3). The indicator of the variable AI that has a
factor loading value over 0.7 and p value 0.05 is only two indicators (AI1 and AI2). The
indicators of the AIND variable all have a factor loading value over 0.7 and p value 0.05
(AIND1 and AIND2). Indicators of all KA variables have a factor loading value greater
than 0.7 and p value 0.05 (KA1 and KA2). Thus, the KOA2, KOA4, KOA5 indicators of the
KOA variable and the AI3 indicator of the AI variable are removed from each variable.
The result of value loading factor and p value of each indicator after eraser some
indicators that do not meet the requirement of convergent validity are presented in
table 5.

Table-V: Loading Factor after Removal some Indicator

KOA AI AIND KA AD UMP P value


KOA1 0,865 <0,01
KOA3 0,865 <0,01

AI1 0,786 <0,01

AI2 0,786 <0,01

AIND1 0,770 <0,01

AIND2 0,770 <0,01

KA1 0,809 <0,01

KA2 0,809 <0,01

AD 1,00 <0,01

UMP 1,00 <0,01

Test the validity of variables which further conducted is the test of discriminant validity.
The discriminant validity test is based on the comparison of AVE root values of each
variable with the correlation value of one variable with the other. AVE root value must
be greater than the correlation value between variables with each other. The AVE root
values of each variable are shown in table 6. The AVE root values show a larger value
than the correlation values between variables with each other on a single variable. Thus,
the six variables have passed the discriminant validity test. This shows that there is no
high correlation between variables with each other.

Table-VI: AVE Root Value of Research Variable

KOA AI AIND KA AD UMP


KOA (0,865) 0,430 0,216 0,384 -0,342 0,287
AI 0,430 (0,786) 0,213 0,337 0,293 0,302
AIND 0,216 0,203 (0,770) 0,297 0,102 0,095
KA 0,384 0,337 0,297 (0,809) -0,195 0,192

31
AD -0,342 -0,293 -0,102 -0,195 (1,000) -0,323
UMP 0,287 0,302 0,095 0,192 -0,323 (1,000)

The second test of the outer model testing process is the reliability test. This study
emphasizes the value of composite reliability compared with the value of croncbach
alpha. The value of composite realibility is considered better in the estimation of internal
consistency of a variable (Jogiyanto, 2011: 72). The value of composite realibility for
each variable is presented in table 7. Table 7 shows that all variables have composite
realibility values above 0.7. Thus, all variables have passed the reliability test. This
implies that the size of each variable has been accurate, consistent, and precise.

Table-VII: The Value of Composite Realibility


Variable CR
Audit Committee (KOA) 0,855
Internal Auditor (AI) 0,764
Independent Auditor (AIND) 0,745
Audit Complexity (KA) 0,791
Firm Age (UMP) 1,000
Audit Delay (AD) 1,000

4.4. Goodness of Fit


The second test after outer model test is goodness of fit model. The goodness of fit test
is based on the p value of APC, ARS, and AARS which should be less than 0.05 and the
AVIF and AFVIF values should be less than 5. Table 8 shows the p value of APC, ARS,
AARS and the value of AVIF and AFVIF which form the basis of fit model assessment.

Table-VIII: Goodness of Fit

Value p-value
Average Path Coefficient (APC) 0,123 0,004
Average R Square (ARS) 0,284 <0,001
Average Adjusted R Square (AARS) 0,269 <0,001
Average Variance Inflation Factor (AVIF) 1,516 -
Average Full Variance Inflation Factor (AFVIF) 1,574 -
Table 8 shows that the p value values of APC, ARS, and AARS are all less than 0.05,
respectively 0.004; <0.001; <0.001. Thus, the research model is appropriate or
supported (fit) with research data. The value of AVIF and AFVIF values are 1.516 and
1.574. The value of AVIF and AFVIF indicate that there is no multicollinearity in this
research model.

4.5. Inner Model testing


The inner test model is based on R squared (R2) and Q squared (Q2). The value of R
square (R2) for the inner equation of this research model is 0.284 which means that the
variation rate of the dependent variable variables can be explained by the independent
variables is 28.4%, while the rest is explained by other variables outside the proposed

32
model. The value of Q square (Q2) for the inner equation of this research model is 0.283
which is more than zero, so the research model has good predictive validity.

4.6. Hypotesis Testing


Hypothesis testing in this study follows the rules of Baron and Kenney. The result of
hypothesis testing has been done shows that there are three accepted hypothesis and
three rejected hypothesis. The accepted research hypothesis is H1, H2, and H4b. The
rejected research hypothesis is H3, H4a, and H4c. Table 9 presents the results of
hypothesis testing research that has been done as follows:

Table-IX: Result of Hypothesis Testing


Relationship Coefficient p-value
KOAAD -0,224 <0,001 One tailed
AIAD -0,109 0,0075 One tailed
AINDAD -0,056 0,066 One tailed
UMPAD -0,208 <0,001 -
KA*KOAAD 0,008 0,436 Two tailed
KA*AIAD -0,123 0,007 Two tailed
KA*AINDAD - - Two tailed
Table 9 shows that hypothesis H1 is accepted because it has coefficient value of -0.224
and p value less than 0.05 that is equal to <0.001. This indicates that the audit
committee proved to have a negative influence on audit delay. Thus, the better the audit
committee quality the shorter the audit delay period.

Table 9 shows that hypothesis H2 is accepted because it has coefficient value of -0.109
and p value less than 0.05 that is equal to 0.0075. This indicates that the internal auditor
proved to have a negative influence on audit delay. Thus, the better the quality of
internal auditors the shorter the audit delay time range.

Table 9 shows that H3 hypothesis is rejected because it has p value greater than 0.05 ie
0,066. This indicates that the independent auditor is not proven to have a negative
influence on audit delay.

Table 9 shows that H4a is rejected because it has a value of p value greater than 0.05
that is equal to 0.436. This indicates that the complexity of the audit is not proven to
have a moderating effect on the audit committee's influence on audit delay.

Table 9 shows that H4b is accepted because it has a value of p value less than 0.05 which
is 0.007 and the value of value coefficient is -0.123. This indicates that audit complexity
is shown to have a negative moderation effect on the influence of internal auditors on
audit delay. Thus, the higher the complexity of audit the smaller the influence of internal
auditors on audit delay.

33
Table 9 shows that independent auditor variables are not included in moderation testing
because independent auditor variables have no effect on audit delay. This is based on
the Baron and Kenny rules (Jogiyanto, 2011: 101) independent variables that have no
influence on the dependent variable can not be tested on moderation testing. Thus, the
hypothesis H4c is directly rejected. This indicates that there is no interaction between
audit complexity and the independent auditor in influencing audit delay. Based on the
results of hypothesis testing of this study, then the final equation of this study are as
follows:

V. DISCUSSION
5.1. The Effect of the Audit Committee to Audit Delay
The negative impact of the audit committee on audit delay can occur due to the agency
relationship between the investor and the company manager. The audit committee is a
party established with the aim of reducing the occurrence of agency problems between
the principal and the agent. Jensen and Meckling (1976) argue that agency problems
that occur in agency relations are information asymmetry (information asymmetry) and
conflict of interest (conflict of interest). Thus, the audit committee is formed to reduce
the existence of information asymmetry and the conflict of interest that occurs between
the principal and the agent.

Rule IX.1.5. The Decree of the Chairman of Bapepam in 2012 states that the audit
committee is responsible for assisting the board of commissioners in relation to internal
control, internal audit, external audit monitoring, and financial information reporting.
Thus, the application of a good audit committee to the company will be able to create
reliable financial statements. Reliable corporate financial statements will ultimately
facilitate and accelerate audits conducted by independent auditors. This is because the
opportunities of independent auditors in finding material misstatements will be smaller,
so the audit of financial statements will be shorter.

5.2. The Effect of the Internal Auditor to Audit Delay


Internal auditors have a negative influence on audit delay because the internal auditor's
role is important in reducing the chances of manipulation in the financial statements
due to the agency problem in the agency relationship through the evaluation and
control process. The agency issues that occur in agency relations are information
asymmetry and conflict of interest (Jensen and Meckling, 1976). The internal auditor is
responsible for providing independent and objective consultation and consultation
processes in order to improve the company's value and operations systematically,
through the process of evaluating and improving the effectiveness of internal control
and good corporate governance (BAPEPAM-LK Rule Number IX.I.7, 2008). Thus, the

34
process of evaluation and control by the internal auditor will result in the company's
activities free of deviation. The operational process of the company that has been free
from deviation will make the financial statement information generated by the company
increasingly in accordance with applicable accounting standards. The condition of the
financial report of the company that has been in accordance with the applicable
accounting standards will facilitate and accelerate the audit process conducted by the
independent auditor, thereby shortening the audit delay timeframe.

5.3. The Effect of the Independent Auditor to Audit Delay


The third hypothesis test results of this study did not prove empirically the argument
that the size of the public accounting firm of the Big Four requires a shorter time to
conduct audits more efficiently and flexibility that is higher (Gilling, 1997). The result of
the third hypothesis of this study also failed to demonstrate empirically the argument
that public accounting firm that has an engagement longer in a company will have
information and sufficient knowledge of the information, so that it will shorten the audit
process conducted (Panjaitan et al, 2013 ). The result of the third hypothesis is also
contrary to the explanation of agency theory that a link between problems in the agency
relationship and the audit by an independent auditor. Mills (1990) states that an audit
by an independent auditor is a form of monitoring to reduce the agency problem and
enhance shareholder value.

The results of the third hypothesis test of this study do not succeed in proving
empirically the argument of the linkage between independent auditors with audit delay
based on agency theory and arguments from some previous research can be caused by
several reasons. The first reason is the increase in competition between

Public Accounting Firm. Tighter competition nowadays makes all Big Four or Non Big
Four Public Accountants strive to provide services with a high level of professionalism
(Rustiarini and Sugiarti, 2013). Thus, the size of the Public Accounting Firm can not be
the only indicator to determine the quality of the independent auditor. The second
reason is the length of the Public Accounting Firm's engagement with the public
company that is being sampled for too long reaching the maximum length of
engagement that has been set in the PMK No. 17 of 2008. The assignment of the Public
Accountant Office or the same public accountant for a long time to reach the maximum
limit The specified engagement will cause the auditor to become less independent and
professional while performing his duties, so that the independent auditor can not
complete the task in a timely manner and extend the audit delay timeframe (Rustiarini
and Sugiarti, 2013).

35
5.4. Moderation Effects of Audit Complexity on Relationships between
Audit Committee, Internal Auditor, Independent Auditor, and Audit
Delay
The audit complexity is not proven to have a moderating effect on the audit committee's
impact on audit delay because the audit committee is not directly involved in the audit
process whether audited by an internal auditor or an audit conducted by an
independent auditor. Rule Number IX.I.5 of 2012 states that the audit committee is in
charge of assisting the board of commissioners to supervise internal audit and external
audit of the company. Thus, the number of subsidiaries and company sizes that may
affect the complexity of the audit will have no significant impact on the improvement of
the audit committee's duties.

The audit complexity variables have moderate effects on the influence of internal
auditors on audit delay because audit complexity is a contingency factor that needs to
be considered in the application of the company's internal control system. Fisher (1998)
states that the design of the company's control system depends on the organizational
context that exercises such control. Thus, the complexity of the audit can affect the
performance of internal auditors as one of the parties who have responsibilities related
to corporate control.

The audit complexity variables formed by firm size and number of subsidiaries proved to
have no moderating effect on the independent auditor's relationship to audit delay
because in this study the independent auditor variable has no effect on audit delay.
Thus, the 4c hypothesis of this study is directly rejected. Thus, the results of this study
indicate that there is no interaction between audit complexity and independent auditors
in affecting audit delay.

VI. SUMMARY & CONCLUSION


This study is aimed at testing and proving the influence of audit committee, internal
auditors, and independent auditors to audit delay. This study also aims to examine the
moderating effects of audit complexity on the influence of audit committees, internal
auditors, and independent auditors on audit delay. The study was conducted on 130
companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2013 until 2015, so the number of
observations made is 390 cases.

Audit delay range that occurs in 130 public companies listed on the Stock Exchange
during 2013-2015 is 6 days to 179 days. This indicates that the audit delay duration
experienced by public companies may result in delays in the delivery of financial
statements. Thus, the delay time of this audit delay should be of particular concern to
company managers.

36
The results show that only audit committee and internal auditor can influence the
company's audit delay range. The results of this study indicate that the better the quality
audit committee and internal auditor company, the shorter the audit delay time range.
The results did not succeed in proving that independent auditors could influence audit
delay ranges. The results also show that audit complexity only moderates the influence
of internal auditors on audit delay.

VII. RECOMMENDATION
Limitations of this study need to be considered as a basis for evaluation in the
development of the next research. The first limitation of this research is related to the
availability of information concerning internal auditors of public companies. Data on
internal auditor information from companies listed on the Indonesia Stock Exchange are
still very rarely found in the company's annual report. Thus, further research can
combine secondary data with primary data. The second limitation is related to the
decrease in the number of companies used as research samples because it has data
outliers. Number of companies that have data outlier is 6 companies from 136
companies that meet the criteria sampling or about 4.41%. Thus, further research is
suggested to use STATA software assistance to overcome outliers.

REFERENCES
[1]. Jamaan. 2008. Pengaruh Mekanisme Corporate Governance dan Kualitas Kantor Akuntan Publik terhadap Integritas Informasi
Laporan Keuangan. Universitas Diponegoro: Semarang.
[2]. Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor Kep-06/BL/2006 tentang Kewajiban
Penyampaian Laporan Keuangan Berkala.
[3]. Sistya Rachmawati,. 2008. Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal Perusahaan terhadap Audit Delay dan Timeliness. Jurnal
Akuntansi dan Keuangan, Vol 10 No. 1 : 1-10.
[4]. Ahmad Nabhani. 2013. BEI Rilis 52 Emiten Telat Laporan Keuangan. http://www.neraca.co.id ( accessed at November 1st 2016)
[5]. Amalia Putri Hasniawati 2014. 49 Emiten yang Kena Sanksi BEI. http://investasi.kontan.co.id/ (accessed at November 1st 2016)
[6]. Ahmad Nabhani. 2015. 52 Emiten Telat Laporkan Keuangan. http://www.neraca.co.id (accessed at November 1st 2016)
[7]. Indo Premier. 2016. Telat Sampaikan LK Ke BEI, 63 Emiten dapat Peringatan Tertulis. https://www.ipotnews.com/ (accessed at
November 1st 2016)
[8]. BAPEPAM-LK. 2006. Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia. Komite Nasional Kebijakan Governance.
[9]. Ummi Jumaidi Binti Hashim and Rashidah Binti Abdul Rahman. 2011. Audit Report lag and the effectiveness of audit committee.
International Bulletin of Business Administration. ISSN: 1451-243X. Issue 10 pp. 50-61.www.eourojournals.com
[10]. Kogilavani Apadore and Marjan Mohd Noor. 2013. Determinants of Audit Report Lag and Corporate Governance in
Malaysia.International Journal of Business and Management, Vol. 8 No. 15:151-163. www.ccsenet.org/ijbm
[11]. Ni Luh Putu Ayu Evryani Rianti dan Maria M. Ratna Sari. 2014. Karakteristik Komite Audit dan Audit Delay. E-Jurnal Akuntansi
Universitas Udayana, Vol. 6 No. 3:498-508
[12]. Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan No. KEP-496/BL/2008 (Peraturan No. IX.I.7) tentang
Pembentukan dan Pedoman Penyusunan Piagam Unit Audit Internal.
[13]. Siti Suharni, Syarifah Ratih Kartika Sari, dan Syahfitri Rezeki Wulandari. 2013. Pengaruh Karakteristik Audit Internal terhadap
Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan. Jurnal Ekomaks Vol. 2 No. 1: 90-102
[14]. Patti A. Mills. 1990. Agency, Auditing, and Unregulated Environment: Some Further Historical Evidance. Accounting, Auditing, &
Accountability Journal pp 54-66
[15]. Zooana Farida Panjaitan, Wahidahwati, dan Lailatul Amanah. 2013. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Audit Delay dan
Timeliness atas Penyampaian Laporan Keuangan. Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 2 No. 11:1-18
[16]. Robert H. Ashton, John J. Willingham and Robert K Elliott. 1987. An Empirical Analysis of Audit Delay. Journal of Accounting
Research,Vol 25 No. 2: 275-292
[17]. Ni Nyoman Trisna Dewi Ariyani dan I Ketut Budiartha, I.K. 2014. Pengaruh Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, Kompleksitas
Operasi Perusahaan dan Reputasi KAP Terhadap Audit Report Lag Pada Perusahaan Manufaktur. E-Jurnal Akuntansi Universitas

37
Udayana Vol 8. No 2: 217-230. ISSN:2302-8556
[18]. Ayoib Ce-Ahmad and Shamharir Abidin. 2008. Audit Delay of Listed Companies: A case of Malaysia, Inter-national Business
Research, Vol 1 No. 4: 32-39.
[19]. Dadieng Kurniawan. 2011. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Audit Delay (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang
Terdaftar di Bursa Efek Indonesia). Tesis. Universitas Brawijaya Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Magister Akuntansi
[20]. Keputusan Ketua Badan Pengawasan Pasar Modal dan Lembaga Keuangan No. KEP-643/BL/2012 (Peraturan No. IX.I.5) tanggal 7
Desember 2012 tentang Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit
[21]. Hartono M. Jogiyanto. 2011. Konsep dan Aplikasi Structural Equation Modeling Berbasis Varian dalam Penelitian Bisnis. UPP
STIM YKPN: Yogyakarta
[22]. Ni Made Dwi Umidyathi Karang. 2015. Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal Pada Audit Delay (Studi Empiris Pada
PerusahaanPerusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia). Tesis. Program Pascasarjana Universitas Udayana
[23]. Puji Lestari. 2015. Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Dan Kompleksitas Operasi terhadap Audit Delay pada
Perusahaan Perbankan di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2012. Tesis. Universitas Sebelas Maret Fakultas Ekonomi
[24]. Apriyanti dan Setyarini Santosa. 2014. Pengaruh Atribut Perusahaan dan Faktor Audit Terhadap Keterlambatan Audit pada
Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Malaysia. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Vol 16 No 2, November 2014
[25]. Michael C Jensen and William H. Meckling. 1976. Theory of The Firm: Managerial Behaviour, Agency Costs and Ownership
Stucture. Journal of Financial Economics (Online), Vol.3, No.4: 305-360
[26]. Donald M. Gilling. 1997. Timeliness in Corporate Reporting: Some Further Comment”. Accounting and Business Research8(29),
Winter:34-36
[27]. Menteri Keuangan. 2008. Peraturan Menteri Keuangan No 17 tentang Jasa Akuntan Publik.
[28]. Ni Wayan Rustiarini dan Ni Wayan Mita Sugiarti. 2013. Pengaruh Karakteristik Auditor,Opini Audit,Audit Tenure, Pergantian
Auditor Pada Audit Delay.Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Humanika Vol. 2 No. 2
[29]. Joshep G. Fisher. 1998. Contingency Theory, Management Control System and Firm Outcomes: Past Results and Future
Directions. Behavioural Research in Accounting Vol. 10. Supplement: 47-64

38