Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM

GENETIKA

PERCOBAAN X

ISOLASI DNA

NAMA : FAISAL

NIM : H041 19 1020

HARI / TANGGAL : SELASA / 10 MARET 2020

KELOMPOK : II (DUA)

ASISTEN : NURINDAH REZKY

LABORATORIUM GENETIKA
DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2020
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Perkembangan ilmu pengetahuan sangat pesat dewasa ini, diantaranya

ilmu biologi molekuler yang memungkinkan diperolehnya suatu maka gen yang

mengendalikan karakter target perbaikan dalam program pemuliaan tanaman.

Penemuan teknik dalam memperoleh gen yang mengendalikan suatu karakter

sebagai penanda atau marker molekuler sangat membantu efektifitas maupun

efisiensi dari pelaksanaan proses seleksi yang akan dilakukan. Marka molekuler

berdasarkan polimorfisme yang terdeteksi pada tingkat makro molekul di

dalamsel (Syafaruddin, dkk., 2011).

Saat ini perkembangan bioteknologi molekuler cukup pesat besarnya

databasesequence biologi seperti DNA, RNA dan rangkaian protein tentu

memerlukan sistem penggalian data yang tepat dan terotomatisasi sehingga dapat

mengurangi biaya penelitian. Saat ini dapat ditemukan berbagai macammetode

ekstraksi DNA. Menurut (Epplen dan Lubjuhn, 1998), tahapan atau perlakuan

yang terlalu panjang dan terlalu kompleks sering meningkatkan resiko kegagalan,

terutama bagi pemula. Tahapan atau perlakuan dalam ekstraksi DNA juga

dipengaruhi asal sel atau jaringan target (Hairuddin, 2013).

Isolasi DNA merupakan langkah pertama dalam studi sekuen DNA dari

populasi DNA kompleks dan dalam analisis struktur genom dan ekspresi gen.

kuantitas, kualitas dan integritas DNA akan mempengaruhi hasil yang diperoleh

secara langsung (Yulianti, 2006). Berdasarkan hal tersebutlah maka dilakukan

percobaan isolasi DNA untuk mengetahui cara mengisolasi DNA.


I.2 Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah:

1. Untuk mengetahui cara atau metode yang benar untuk memisahkan atau

mengisolasi DNA dari buah-buahan

2. Mengetahui keefektifan deterjen dan buah yang dipakai untuk melakukan

percobaan isolasi DNA.

I.3 Waktu dan Tempat Praktikum

Percobaan Isolasi DNA ini dilaksanakan pada hari Selasa, 10 Maret 2020

pada pukul 14.00-17.00 WITA bertempat di Laboratorium Genetika Fakultas

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin Makassar.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Tinjauan Umum

Perkembangan biologi molekuler yangpesat sejak akhir abad ke-20 ikut

mendukung berkembangnya penelitian-penelitian dibidang biologi termasuk

biodiversitas dan sistematika tumbuhan. Penggunaan penanda molekuler,

misalnya DNA dalam berbagai penelitian biodiversitas dan sistematika tumbuhan

telah dilakukan secara intensif untuk mendukung data morfologi yang telah ada.

Penggunaan penanda molekuler memiliki beberapa keuntungan, yaitu hasil yang

konsisten dan dapat dideteksi pada semua jenis jaringan dengan berbagai tahap

perkembangan serta tidak dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Penelitian

biodiversitas dan sistematika tumbuhan yang menggunakan analisis dengan

penanda molekuler diawali dari ekstraksi DNA. Sampel untuk ekstraksi DNA

tumbuhan dapat berasal dari berbagai sumber, seperti jaringan segar, jaringan

yang dibekukan dengan nitrogen, jaringan yang dikeringkan dengan silika gel dan

jaringan herbarium (Nurkarmila dan Pharmawati, 2014).

Identifikasi molekuler memerlukan tahapan awal yaitu isolasi DNA

genom. Prinsip isolasi DNA adalah mendapatkan DNA murni yang tidak

bercampur dengan komponen sel lainnnya seperti protein dan karbohidrat. Isolasi

DNA genom dapat dilakukan dengan metode lisis sel secara fisik dan kimia.

Secara fisik sel dipecah dengan kekuatan mekanik yaitu secara freeze thaw, bead

mill homogenization dan resonansi misalnya dengan sonikasi. Sedangkan secara

kimia sel yang akan dirusak dengan mrnggunakan buffer lisis berisi senyawa

kimia yang dapat merusak integritas barrier dinding sel, misanya SDS (Sodium
Dedocyl Sulfate) dan CTAB (Cetyltrimethylammonium bromide) (Murtiyaningsih,

2017).

Isolasi DNA genommerupakan langkah awal dan sangat menentukan

dalam studi genetika dan molekuler suatu spesies. Proses tersebut membutuhkan

preparasi sampel untuk mendapatkan DNA dengan kualitas yang baik karena akan

digunakan untuk berbagai analisis molekuler maupun manipulasi genetik. Analisis

genom dilakukan untuk berbagai sampel dan untuk tiap sampel dibutuhkan

optimasi agar diperoleh DNA yang baik dalam jumlah besar. Isolasi atau

pengambilan DNA dari suatu makhluk hidup terbagi atas beberapa tahapan, yaitu

tahap penghancuran sel, tahap penghilangan RNA dan protein sertatahap

pemurnian dan pengendapan DNA (Ferniah dan Pujiyanto, 2013).

Kualitas DNA genom yang baik merupakan hal penting yang dibutuhkan

dalam aplikasi biologi molekuler. Aplikasi tersebut mencakup beberapa,

diantaranya adalah PCR (Polymerase Chain Reaction), RFLP (Restriction

Fragmemnt Length Polymorphism), RAPD (Random Amplified Polymorphic

DNA) dan analisis molekuler yang lain. Salah satu aplikasi biologi molekuler

yang sering digunakan adalah metode RAPD. RAPD merupakan teknik pengujian

polimorfisme DNA berdasarkan pada amplifikasi dari segmen-segmen DNA acak

menggunakan primer tunggal yang sekuen nukleotidanya ditentukan secara acak.

Teknik RAPD merupakan teknik penanda molekuler pengembangan teknik PCR

(Polymerase Chain Reaction) untuk mengetahui hubungan kekerabatan suatu

spesies maupun kekerabatan genetik antar spesies (Murtiyaningsih, 2017).

DNA kromosom yang benar-benar murni dan bebas kontaminasi sangat

dibutuhkan dalam teknologi rekayasa DNA. Kontaminan dapat menghambat

reaksi kimia pada tahap kerja teknologi DNA selanjutnya. Kontaminan dapat
berupa enzim, protein dan lipid. Metode pemurnian yang efisien dan efektif

sangat diperlukan untuk menghilangkan kontaminan tersebut. Pemurnian DNA

kromosomsecara konvensional seperti ekstraksi fenol kloroform dan sentrifugasi

gradien EtBr dan CsCl, membutuhkan waktu yang relatif lebih lama dan prosedur

yang begitu rumit (Ayu, dkk., 2011).

Sel tanaman dilindungi oleh membran sel dan dinding sel yang kuat.

Membran sel terdiri dari ikatan antara protein dan lemak, sedangkan dinding sel

tersusun atas polisakarida. Dinding sel dan membran sel harus dipecah untuk

mengeluarkan DNA dari dalam sel. Penghancuran sel dapat dilakukan dengan

cara mekanik, kimiawi dan enzimatik. Proses penghancuran sel dipengaruhi oleh

jumlah bahan tersedia (kuantitas), kondisi bahan (kualitas) dan proses

penghancuran itu sendiri (Ferniah dan Pujiyanto, 2013).

Keragaman genetik merupakanfaktor yang sangat berpengaruh dalam

menyusun strategi pemuliaan pohon. Karakter genetik suatu jenis pohon baik

yang terdapat dalam satu tempat tumbuh maupun yang berbeda provenansi dapat

berbeda, hal ini disebabkan karena perbedaan genetik. Hal ini akan menunjukkan

sifat dan kekhasan suatu tegakan. Sehingga tegakan atau provenansi yang

memiliki karakter genetik yang baik dapat menjadi sumber yang tepat untuk

kegiatan pemuliaan pohon. Keragaman genetik dapat diamati dengan pengamatan

karakter genetik, sifat yang diamati adalah DNA yang sulit dipengaruhi

lingkungan. Untuk mengetahui tingkat variasi bitti antar provenansi dan

dalamprovenansi dapat dilakukan denganmelihat karakter genetik. Selain itu,

keragaman genetik sangat penting dalamupaya menyediakan informasi

bagikegiatan pengembangan dan peningkatan hasil produksi serta upaya

konservasi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mempersingkat waktu

pemuliaan adalah menganalisis secara molekuler. Berdasarkan hal tersebut maka


penelitian tentang keragamanan genetis tegakan bitti dengan menggunakan

penanda molekuler dalam hal ini perlu untuk dilakukan (Langga, dkk., 2012).

II.2 Prinsip dan Metode Isolasi DNA

Pada prinsipnya isolasi DNA sel harus dipecah terlebih dahulu dengan

beberapa agensia, baik secara fisik kimia atau dengan mempergunakan enzim

tertentu. Pemecahan dengan cara fisik misalnya dengan menggunakan alat

sonikator, yaitu merupakan alatb yang menghasilkan suara ultra tinggi.

Pemecahan dengan alat ini biasanya cukup fektif untuk memecah sel bacteri,

tetapi kurang efektif untuk memecah sek eukaryote (Yuwono,2006).

Pemecahan sel juga dapat dilakukan dengan menggunakan enzim lisozim

yang dapat memecah dinding sel. Seringkali penggunaan enzim ini

dikombinasikan dengan perlakuan fisik, misalnya dengan pemansan sehingga sel

lebih mudah pecah. Senyawa lain yang sering digunakan untuk memecah sel

untuk isolasi DNA adalah CTAB (Cetyl Trimetyl Ammonium Bromide)

(Yuwono,2006).

Setelah sel pecah selanjunya akan dilakukan suatu isolasi dan pemurnian

DNA. Untuk mengisolasi suatu fragmen DNA tertentu, maka DNA genom

kemudian akan dipotong dengan menggunakan suatu enzin endonuclease restriksi,

enzim ini merupakan enzim yang dapat juga memotong molekul DNA di suatu

bagian tertentu. Hasil potongan dengan enzim tertentu tersebut akan

menghasilkan ujung-ujung DNA yang sama sesuai dengan titik potong oleh enzim

(Yuwono,2006).
Selain dengan menggunkan suatu enzin endonuclease restriksi, DNA genom

juga dapat dipotong-potong degan suatu cara mekanis, misalnya dengan

menggunakan suatu alat sonikator.Hasil potongan dengan alat mekanis adalah

molekul DNA yang ujungnya tidak nampak seperti benda yang bentuknya

beraturan (Yuwono,2006).

DNA memiliki struktur pilinan utas ganda yang anti paralel

dengan komponen-komponennya, yaitu gula pentosa

(deoksiribosa), gugus fosfat dan pasangan basa. Pasangan basa

pada DNA terdiri atas dua macam, yaitu basa purin dan pirimidin.

Basa purin terdiri atas adenin (A) danguanin (G) yang memiliki struktur

cincinganda,sedangkan basa pirimidin terdiriatas sitosin (C) dan timin (T)

yangmemiliki struktur cincin-tunggal. Ketikaguanin berikatan dengan sitosin,

makaakan terbentuk tiga ikatan hidrogen,sedangkan ketika adenin berikatan

dengantimin maka hanya akan terbentuk duaikatan hidrogen. Satu komponen

pembangun(building block) DNA terdiri atassatu gula pentosa, satu gugus fosfat

dan satupasang basa yang disebut nukleotida (Faatih, 2009).

Molekul DNA dalam suatu sel dapat diekstraksi atau diisolasi untuk

berbagai macam keperluan seperti amplifikasi dan analisis DNA melalui

elektroforesis. Isolasi DNA dilakukan dengan tujuan untuk memisahkan DNA

dari bahan lain seperti protein, lemak dan karbohidrat. Prinsip utama dalam isolasi

DNA ada tiga yakni penghancuran (lisis), ektraksi atau pemisahan DNA dari

bahan padat seperti selulosa dan protein serta pemurnian DNA. Ada beberapa hal

yang perlu diperhatikan dalam proses isolasi DNA antara lain harus menghasilkan

DNA tanpa adanya kontaminan seperti protein dan RNA, metodenya harus efektif

dan bisa dilakukan untuk semua spesies dan metode yang dilakukan tidak boleh
mengubah struktur dan fungsi molekul DNA dengan metode yang sederhana dan

cepat. Penggunaan teknik isolasi DNA dengan kit dan manual memiliki kelebihan

dan kekurangan. Metode konvensional memiliki kelebihan harga lebih murah dan

digunakan secara luas sementara kekurangannya membutuhkan waktu yang relatif

lama dan hasil yang diperoleh tergantung jenis sampel (Wijiastuti, 2016).

Pengambilan sampel sebagaimanayang telah dirancang sebelumnya

bertujuan untuk memilih marka yang polimorforfis diantara kelompok ternak.

Untuk melacak gen pertumbuhan digunakan PCR (Polimerase ChainReaction).

Primer yang digunakan kepada daerah promoter dan exons 9, fragmen DNA dari

gen pengendali meat tenderness diamplifikasi dari DNA genom yang diperoleh

dari 81 ekor sapi Bali dengan umur yang berbeda. Primer untuk gen pengendali

gen pengemdali meat tenderness yangdigunakan berturut-turut sebanyak 2 buah.

Jumlah ini merupakan hasilscreening yang telah dilakukan sebelumnya dari

jumlah sekitar 35 buah. Empat macam SNP pada gen CAPN1 sapi (Gen Bank

accession AF 248054 dan AF252504) dianalisis untuk genotipnya. Marka

CAOPN316 merupakanpoimorfisme cystidin/guanosin (C/G) pada exon 9 dari

gen yang menghasilkan sustitusi asam amino (alel C mengkodekan alanin dan G

untuk glisin, Marka CAPN530 merupakan polimorfisme adenosine/guanosin

(A/G) pada exon 14 dalam gen yang menghasilkan subtitusi asam amino (kode

alel A untuk isoleusin, alel G untuk valin). Marka CAPN4753 merupakan

polimorfisme adenosine/cystidin yang terletak pada interon/timidin (A/T) yang

terdapat pada interon 1 dari gen (Susilo, dkk., 2011).

Metode adsorpsi silika lebih banyak digunakan dalam pemurnian DNA.

Prinsip dari metode ini adalah pengikatan molekul air oleh denaturan dan adanya
ikatan hidrogen antara gugus silanol (SiOH) pada silika dengan atom oksigen

pada gugus fosfat DNA. Pemurnian DNA kromosommenggunakan silika tidak

membutuhkan waktu lama dan biaya tinggi serta tidak menggunakan pelarut

organik. Protein dan RNA dapat dihilangkan pada saat pencucian. Dapat

dihasilkan DNA kromosom dengan kemurnian tinggi karena metode silika dapat

menghasilkan residu fenol dan kloroform. Pemurnian DNA kromosom dengan

silika dapat dilakukan dengan kolom dan tanpa kolom (Ayu, dkk., 2011).

Polymerase Chain Reacton (PCR) adalah suatu teknik sintesis dan

amplifikasiDNA secara in vitro. Teknik ini pertama kali dikembangkan oleh

Karry Mullis pada tahun 1985. Teknik PCR dapat digunakan untuk

mengamplifikasi segmenDNA dalam jumlah jutaan kali hanya dalam beberapa

jam. Dengan diketemukannyateknik PCR di samping juga teknik-teknik lain

seperti sekuensing DNA, telahmerevolusi bidang sains dan teknologi khususnya

di bidang diagnosa penyakitgenetik, kedokteran forensik dan evolusi

molekular.PCR adalah suatu teknik yang melibatkan beberapa tahap yang

berulang(siklus) dan pada setiap siklus terjadi duplikasi jumlah target DNA untai

ganda. Untai ganda DNA templat (unamplified DNA) dipisahkan dengan

denaturasi termal dan kemudian didinginkan hingga mencapai suatu suhu tertentu

untuk memberi waktu pada primer menempel (anneal primers) pada daerah

tertentu dari target DNA. Polimerase DNA digunakan untuk memperpanjang

primer (extend primers) dengan adanya dNTPs (dATP, dCTP, dGTP dan dTTP)

dan buffer yang sesuai. Umumnya keadaan ini dilakukan antara 20–40 siklus.

Target DNA yang diinginkan (short ”target” product) akan meningkat secara
eksponensial setelah siklus keempat dan DNA non-target (long product) akan

meningkat secara linier (Handoyo dan Rudiretna, 2001).

Pemurnian DNA adalah salah satu bagian terpenting dalam penelitian

protein untuk memahami fungsi DNA itu sendiri. Diperlukan pemurnian DNA

untuk menentukan karakteristik unik, termasuk ukuran, muatan, bentuk dan

fungsi. Ekstraksi sel merupakan langkah awal untuk hampir semua pemurnian

DNA. DNA dapat diekstraksi dengan metode seperti lisis deterjen, gaya geser,

pemberian garam berionik rendah (salting out) dan perubahan tekana yang cepat,

yang bertujuan untuk melemahkan dan menghancurkan membran di sekitar sel

untuk memungkinkan DNA melarikan diri (Tan dan Yiap, 2009).


BAB III

METODE PERCOBAAN

III.1 Alat dan Bahan

III.1.1 Alat

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah wadah, blender, spatula,

tabung reaksi, pipet tetes, gelas ukur, rak tabung, gelas kimia dan timbangan

analitik.

III.1.2 Bahan

Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah kangkung Ipomea sp.,

kertas saring, deterjen (bubuk, cair dan krim), air, garam dapur, dan etanol 96%.

III.2 Prosedur Kerja

Adapun prosedur kerja pada percobaan ini yaitu:

1. Dilarutkan tiga jenis deterjen (bubuk, cair dan krim) sebanyak 5 gr ke dalam

50 mL air yang diaduk selama 15 menit.

2. Ditimbang 100 gr daun kangkung lalu dimasukkan kedalam blender.

3. Ditambah 100 mL air kemudian diblender sampai halus.

4. Disaring daun kangkung yang telah diblender tadi menggunakan kertas saring.

5. Dimasukkan 4 mL daun kangkung ke dalam 3 tabung reaksi dan dicampurkan

4 mL larutan detergen.

6. Ditambahkan 1 sendok garam dapur kedalam masing-masing tabung dan

dihomogenkan.

7. Ditambahkan etanol 96% sebanyak 5 mL ke dalam masing-masing tabung.

8. Diamkan dan amati DNA yang terbentuk.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil

a) Deterjen Bubuk

DNA

Supernatant

Natant

Pelet

b) Deterjen Cair

DNA

Supernatant

Natant
c) Deterjen Krim/Colek

DNA

Supernatant

Natant

IV.2 Pembahasan

Isolasi DNA adalah teknik memisahkan DNA untuk mendapatkan DNA

murni yang tidak tercampur dengan komponen sel lainnya seperti protein dan

karbohidrat. Isolasi DNA bertjuan untuk mendapatkan DNA dengan kualitas

yang baik untuk berbagai kegiatan seperti pemanfaatan marka molekuler,

pembuatan pustaka genom, hingga sekuensing. Dalam melakukan isolasi DNA

seringkali senyawa kontaminan muncul seperti senyawa polisakarida, polifenol,

protein, RNA dan senyawa metabolit sekunder.

Pada percobaan kali ini digunakan bahan yaitu daun kangkung. Adapun

deterjen yang digunakan yaitu deterjen bubuk, deterjen cair dan sabun colek.

Deterjen digunakan dalam isolasi DNA karena mengandung Sodium Dodecyl

Sulfate (SDS) yang dapat merusak membran sel. Digunakan pula etanol 96% yang

berfungsi membantu proses pengendapan terhadap organel-organel yang sudah

keluar dari sel atau memisahkan bagian-bagian yang terurai tersebut berdasarkan
berat molekul dan garam yang mengandung ionNa+ berfungsi untuk membentuk

ikatan dengan kutub negatif fosfat DNA, yaitu kutub yang bisa menyebabkan

molekul-molekul saling tolak menolak satu sama lain sehingga pada saat ion Na +

membentuk ikatan dengan kutub negatif dengan fosfat, DNA akan berkumpul.

Dalam percobaan ini prinsip yang digunakan untuk melakukan isolasi

DNA ada tiga, yaitu lisis, ekstraksi dan pemurnian. Pertama dilakukan lisis

(penghancuran) secara mekanik dan kimiawi. Menghancurkan sampel yang

digunakan (dalam hal ini buah naga) menggunakan blender merupakan

penghancuran secara mekanik, kemudian dilakukan penghancuran secara kimiawi

menggunakan deterjen. Setelah itu, dilakukan ekstraksi dan pemurnian dengan

menambahkan garam dan etanol kemudian diaduk secara perlahan. Kemudian

setelah diamati proses timbulnya DNA, meliputi waktu yang dperlukan, warna,

serta banyaknya DNA yang terbentuk.

Pada percobaan yang menggunakan deterjen bubuk, DNA yang terbentuk

sangat jelas dan terdapat banyak benang-benang putih. Pada percobaan

menggunakan deterjen cair, DNA yang terbentuk tidak begitu jelas dan bahkan

hampir tidak terlihat benang-benang putih. Sementara pada percoban

menggunakan deterjen colek, DNA yang terbentuk cukup jelas namun benang

putih yang terlihat tidak sebanyak yang ada pada deterjen bubuk.

Dari percobaan ini didapatkan yaitu larutan yang paling cepat membentuk

penggumpalan DNA adalah deterjen bubuk, hal ini terjadi karena deterjen bubuk

memiliki struktur yang lebih berserat sehinga lebih mudah memecahkan dinding

sel. Hal ini juga dimungkinkan karena dalam deterjen bubuk terdapat lauril sulfat

yang dapat berfungsi sama dengan dodesil sulfat dan disodium EDTA, serta

kandungan zat pewarna dan zat aktif pemutih.


BAB V

PENUTUP

V.1 Kesimpulan

Kesimpulan dari percobaan mengenai isolasi DNA ini adalah sebagai berikut:

1. Cara atau metode yang benar dalam mengisolasi DNA dari buah-buahan

dilakukan dengan mengikuti prosedur kerja yang telah dilakukan selama

praktikum dan tidak lupa untuk meminimalisir adanya kesalahan teknis.

2. Deterjen yang paling efektif untuk isolasi DNA yaitu deterjen bubuk karena

deterjen bubuk memiliki struktur yang lebih berserat.

V.2 Saran

V. 2.1 Saran untuk Laboratorium

Sebaiknya fasilitas di laboratorium diperbarui dan lebih ditingkatkan kualitas

dan kuantitasnya.

V. 2. 2 Saran untuk Asisten

Sebaiknya kakak asisten dapat mempertahankan keramahannya dan lebih

mempermudah para praktikan dalam melaksanakan praktikum dengan cara

memperjelas prosedur percobaan yang akan di lakukan.

V. 2. 3 Saran untuk Praktikum

Dari segi metode yang digunakan, praktikum yang telah dilaksanakan sudah

baik.
DAFTAR PUSTAKA

Ayu, B.P., dkk., 2011. Purifikasi DNA kromosom Geobacillus sp. dYTae-14
Menggunakan Kolom Silika Dengan Denaturan Urea. Jurnal Sains dan
Matematika. 19(4): 101-106.

Faatih, M., 2009. Isolasi dan Digesti DNA Kromosom. Jurusan Pendidikan
Biologi FKIP. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Handoyo, D., dan Rudiretna, A., 2001. General Principles and Implementation Of
Polymerase Chain Reaction. Pusat Studi Bioteknologi Universitas
Surabaya. 9(1): 17-29.

Langga, I.F., dkk., 2012. Optimalisasi Suhu Dan Lama Inkubasi Dalam Ekstraksi
DNA Tanaman Bitti (Vitex cofassus Reinw) Serta Analisis Keragaman
Genetik Dengan Teknik RAPD-PCR. Jurnal Sains dan Teknologi. 12(3):
265-276.

Susilo, A., dkk., 2011. Amplifikasi DNA Gen Meat Tenderness Pada Sapi Bali
(Bos sondaicus). Jurnal Ilmu Dan Teknologi Hasil Teknak. 6(2): 21-25.

Tan, S. C., dan B. C. Yiap, 2009. DNA, RNA, and Protein Extraction: The Past
and The Present. Journal of Biomedicine and Biotechnology. 1(1): 1-10.

Yulianti, Evy. 2006. Pengembangan Teknik Isolasi DNA Tumbuhan


Menggunakan Detergen Komersial. Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA
UNY.

Yuwono, Triwibowo., 2006. Bioteknolgi Pertanian. Gadjag Mada University


Press. Yogyakarta

Anda mungkin juga menyukai