Anda di halaman 1dari 41

MAKALAH

Pembuatan Margarin Dengan Bahan Mentah Kelapa Sawit

Disusun Oleh : Kelompok III


• Eka Maharani (201578005)
• Marthafina Damaryanan (201578090)
• Virginia Berasa (201678029)
• Gabriel Lempang (201778013)

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2020
i

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
pernyertaan-Nya maka makalah ini dapat diselesaikan. Makalah yang diberi judul “Pembuatan
Margarin Dengan Bahan Mentah Kelapa Sawit” ini disusun dalam rangka menyelesaikan tugas
Kimia Industri.
Akhirnya, penyusun menyadari bahwa makalah ini belum sempurna, oleh karena itu
segala saran dan kritik dibutuhkan untuk kesempurnaannya. Semoga Makalah ini dapat
bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.

Ambon, 07 April 2020


Penyusun
ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …… i
DAFTAR ISI …... ii

BAB I PENDAHULUAN …... 1–2


1.1 Latar Belakang …... 2
1.2 Rumusan Masalah …… 2
1.3 Tujuan …… 2
1.4 Manfaat Penulisan …… 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA …… 3–6


2.1 Tanaman Kelapa Sawit …… 3
2.1.1 Klasifikasi Tanaman Kelapa Sawit …… 3
2.1.2 Varietas Tanaman Kelapa Sawit …… 4
2.2 Minyak Kelapa Sawit/Crude Palm Oil (CPO) …… 4
2.3 Margarin …… 5–6

BAB III PEMBAHASAN …… 7 – 27


3.1 Proses Produksi Minyak Kelapa Sawit …… 7 – 14
3.2 Proses Produksi Margarin Dari Minyak Kelapa Sawit (Crude
Palm Oil) …… 14 – 22
3.2.1 Pemurnian Dan Fraksinasi …… 14 – 18
3.2.2 Pembuatan Margarin …… 18 – 22
3.3 Pengolahan Limbah Kelapa Sawit …… 22 – 27
3.3.1 Jenis Limbah Kelapa Sawit …… 22 – 25
3.3.2 Pengolahan Limbah …… 25 – 27

BAB IV KESIMPULAN …… 28

DAFTAR PUSTAKA
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Industri adalah salah satu kegiatan ekonomi manusia yang penting yang menghasilkan
berbagai kebutuhan hidup manusia mulai dari makanan, minuman, pakaian, dan
perlengkapan rumah tangga sampai perumahan dan kebutuhan hidup lainnya.
Berdasarkan sifat bahan mentah dan sifat produksinya dibagi menjadi :
1. Industri Hulu, yaitu industi-indutri yang mengelola bahan mentah hasil produksi sector
primer baik pertanian, peternakan, perkebunan, ataupun pertambangan. Industri ini
umumnya berorientasi kepada bahan mentah dan di tempatkan di daerah sumber bahan
mentah
2. Industri Hilir, yaitu insdustri- 1ndustry yang mengolah lebih lanjut hasil-hasil industry
primer, bahan bakunya adalah bahan mentah atau bahan setengah jadi yang diproduksi
1ndustry lain. Umumnya industry ini ditempatkan berdekatan dengan industry- industry
yang menghasilkan bahan bakunya.
Indonesia memiliki hasil perkebunan yang cukup banyak, salah satunya hasil perkebunan
kelapa sawit yang mencapai 56,6 juta ton buah dan 12,26 juta ton minyak kelapa sawit. Kelapa
sawit merupakan tanaman yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Salah satu produk dari
kelapa sawit yang berharga adalah minyak kelapa sawit, dimana mengandung senyawa asam
lemak yang baik bagi tubuh manusia. Oleh sebab itu, minyak kelapa sawit dimanfaatkan untuk
membuat suatu produk yang memiliki nilai guna. Salah satunya pembuatan margarin dari minyak
kelapa sawit.
Kebutuhan margarin di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahun. Akan tetapi, produksi
margarin di Indonesia belum mencukupi kebutuhan tersebut sehingga mengimpor dari 1ndust
lain. Adapun, kebutuhan ekspor juga mengalami peningkatan setiap tahunnya. Oleh sebab itu,
pendirian pabrik margarin di Indonesia masih memiliki peluang yang cukup besar untuk
memenuhi kebutuhan pasar terhadap penggunaan margarin.
Oleh Sebab itu, perlu dilakukanya kajian mengenai proses produksi Margarin dari bahan
mentahnya yaitu Kelapa sawit menjadi Minyak kelapa sawit dan diolah lanjut menjadi margarin
serta melihat pengolahan dari limbah dari proses produksi untuk menguji kelayakan jika suatu
Industri seperti ini didirikan.
2

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah proses produksi (tahapan-tahapan) minyak kelapa sawit atau Crude Palm
Oil (CPO) dari kelapa sawit ?
2. Bagaimanakah proses produksi (tahapan- tahapan) margarin dari minyak kelapa sawit
atau Crude Palm Oil ?
3. Bagaimanakah pengolahan terhadap limbah yang dihasilkan selama proses produksi?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui proses produksi minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) dari kelapa
sawit.
2. Mengetahui proses produksi margarin dari minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil.
3. Mengetahui proses pengolahan terhadap limbah yang dihasilkan selama proses produksi?

1.4 Manfaat Penulisan


Sebagai sumber informasi mengenai proses industry secara hulu hilir dari pengolahan kelapa
sawit sampai menjadi produk akhir margarin dengan mengkaji proses kimia dan fisika yang
terjadi serta pengolahan limbahnya.
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

4.2 Tanaman Kelapa Sawit


Tanaman kelapa sawit (Elaeis Guineensis Jacq.) berasal dari Afrika Barat. Tetapi ada
sebagian berpendapat justru menyatakan bahwa kelapa sawit berasal dari kawasan Amerika
Selatan yaitu Brazil. Hal ini karena spesies kelapa sawit banyak ditemukan di daerah hutan
Brazil dibandingkan Amerika. Pada kenyatannya tanaman kelapa sawit hidup subur di luar
daerah asalnya, seperti 3ndustry, Indonesia, Thailand, dan Papua Nugini. Bahkan, mampu
memberikan hasil produksi perhektar yang lebih tinggi (Fauzi et al,. 2012).
Kelapa sawit pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah 3ndustry
Belanda pada tahun 1848. Ketika itu ada empat batang bibit kelapa sawit yang dibawa dari
Maritius dan Amsterdam untuk ditanam di Kebun Raya Bogor. Tanaman kelapa sawit mulai
diusahakan dan dibudidayakan secara komersial pada tahun 1911. Perintis usaha perkebunan
kelapa sawit di Indonesia adalah Adrien Haller, seorang berkebangsaan Belgia yang telah
belajar banyak tentang kelapa sawit di Afrika. Budidaya yang dilakukannya diikuti oleh K.
Schadt yang menandai lahirnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Sejak saat itu
perkebunan kelapa sawit di Indonesia mulai berkembang. Perkebunan kelapa sawit pertama
berlokasi di Pantai Timur Sumatra (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunannya saat itu
sebesar 5.123 ha. Indonesia mulai mengekspor minyak sawit pada tahun 1919 sebesar 576
ton ke negara Eropa, kemudian tahun 1923 mulai mengekspor minyak inti sawit sebesar 850
ton (Fauzi et al,. 2012).
4.2.1 Klasifikasi Tanaman Kelapa Sawit
Klasifikasi tanaman kelapa sawit menurut Pahan (2012), sebagai berikut:
Divisi : Embryophyta Siphonagama
Kelas : Angiospermae
Ordo : Monocotyledonae
Famili : Arecaceae (dahulu disebut Palmae)
Subfamili : Cocoideae
Genus : Elaeis
Spesies : Elaeis guineensis Jacq.
4

2.1.2 Varietas Kelapa Sawit


Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan tanaman monokotil yang
tergolong dalam palmae. Tanaman kelapa sawit digolongkan berdasarkan ketebalan
tempurung (cangkang) dan warna buah (Pahan, 2012).
Menurut Pahan (2012), berdasarkan ketebalan cangkang, tanaman kelapa sawit
dibagi menjadi tiga varietas, yaitu:
1. Varietas Dura, dengan ciri-ciri yaitu ketebalan cangkangnya 2-8 mm, dibagian luar
cangkang tidak terdapat lingkaran serabut, daging buahnya tipis, dan daging biji besar
dengan kandungan minyak yang rendah. Varietas ini biasanya digunakan sebagai induk
betina oleh para pemulia tanaman.
2. Varietas Pisifera, dengan ciri-ciri yaitu ketebalan cangkang yang sangat tipis (bahkan
tidak ada). Daging buah pissifera tebal dan daging biji sangat tipis. Pisifera tidak dapat
digunakan sebagai bahan baku untuk tanaman komersial, tetapi digunakan sebagai
induk jantan oleh para pemulia tanaman untuk menyerbuki bunga betina.
3. Varietas Tenera merupakan hasil persilangan antara dura dan pisifera. Varietas ini
memiliki ciri-ciri yaitu cangkang yang yang tipis dengan ketebalan 1,5 – 4 mm, terdapat
serabut melingkar disekeliling tempurung dan daging buah yang sangat tebal. Varietas
ini umumnya menghasilkan banyak tandan buah.
Berdasarkan warna buah, tanaman kelapa sawit terbagi menjadi 3 jenis yaitu:
1. Nigescens , dengan ciri-ciri yaitu buah mudanya berwarna ungu kehitamhitaman,
sedangkan buah yang telah masak berwarna jingga kehitam-hitaman.
2. Virescens, dengan ciri-ciri yaitu buah mudanya berwarna hijau, sedangkan buah yang
telah masak berwarna jingga kemerah-merahan dengan ujung buah tetap berwarna
hijau.
3. Albescens, dengan ciri-ciri yaitu buah mudanya berwarna keputih-putihan,
sedangkan buah yang telah masak berwarna kekuning-kuningan dengan ujung buah
berwarna ungu kehitaman (Adi, 2011).

2.2 Minyak Kelapa Sawit/ Crude Palm Oil (CPO)


CPO (Crude Palm Oil) adalah produk utama dalam pengolahan minyak sawit disamping
minyak inti sawit yang didapatkan dengan pengepresan buah kelapa sawit. CPO berupa
5

minyak yang agak kental berwarna kuning jingga kemerah-merahan, mengandung asam
lemak bebas ( free fatty acid /FFA) 5% dan mengandung banyak karotene atau pro vitamin
E 800-900 ppm dengan titik leleh berkisar antara 33-34 ˚ C (Sugito, 2001).
CPO berasal dari peng!lahan bagian serabut (mesoskarp) dari kelapa sawit. CPO dengan
teknologi pengolahan lanjut yaitu dengan fraksinasi dapat menghasilkan fraksi stearin (pada
suhu kamar berbentuk padat) dan fraksi olein (pada suhu kamar berbentuk cair).Pengolahan
olein menghasilkan minyak goreng, produk-produk lain seperti margarine, shortening, asam
lemak, gliserol atau gliserin.Sedangkan pengolahan stearin oleh industry hilir menghasilkan
produk margarin, sabun, lilin, coca butter substitution (pengganti lemak kakao), shortening
nabati, dan lain-lain.
Red palm oil merupakan produk lain dari pengolahan CPO, dimana kandungan karoten
pada red palm oil diusahakan tetap tinggi selama pengolahan. Biasanya sigunakan untuk
makanan, misalnya salad dressing. Pada CPO, komposisi terbesar asam lemak penyusunnya
adalah asam lemak palmitat sehingga sering disebut sebagai minyak palmitat. Warna jingga
kemerahan pada CPO antara lain diakibatkan dari zat warna alami yang terkandung pada
buah kelapa sawit yang juga merupakan nutrisi penting, yaitu beta karoten. Selain itu, warna
gelap juga dapat diakibatkan dari pr!ses pengolahan Tandan buah segar (TBS) menjadi
CPO, dan zat-zat lain yang terkandung di dalamnya. CPO merupakan minyak mentah yang
di dalamnya masih mengandung getah, dan bahan-bahan pencemar berupa kotoran maupun
flavor yang tidak diinginkan (Departemen Pertanian,2006)

2.3 Margarin
Produk margarin pertama kali diperkenalkan dalam sayembara tahun 1887 di perancis
yang diadakan oleh kaisar Napoleon III . margarin tersebut dibuat oleh Mege Mouris sebagai
salah satu peserta lomba.merge mouris mencoba membuat produk menyerupai mentega
dalam hal penampakan, bau, konsisitensi,rasa dan nilai gizi namun berasal dari bahan lain
yang lebih murah dan mudah di dapatkan ( Hasenhuetti dan Hartel,1997).
Margarin merupakan suatu produk terbentuk emulsi baik padat maupun cair yang
mengandung minyak tidak kurang dari 80% dan 15.000 IU vitamin A perponnya (VDA
dalam Hasenhuett dan hartel,1997) margarin dapat juga diartikan sebagai emulsi yang terdiri
dari fase iinternal berupa cairan yang diselubungi oleh eksternal berupa lemak yang bersifat
6

plastis. Komponen yang terkandung dalam margarin adalah lemak,garam,vitsmin


A,pengawet,pewarna dan emulsifier untuk menstabilkan emulsi yang terbentuk ( Hasehuett
dan Hartel,1997).
Komposisi standar dari margarin secara umum adalah( flack,1995)
• Fat ( lemak),minimal 80%
• Air,maksimum 16 %
• Komponen lain yang terdiri dari garam,protein,emulsifier,vitamin,bahan pewarna,bahan
penambah citarasa
Kandungan karoten yang tinggi tersebut menyebabkan minyak sawit berwarna,yang
merupakan sumber karoten terbesar dari bahan pangan alami .keistimewaan minyak sawit
adalah bahwa di dalamnya mengandung lemak jenuh dan tidak jenuh sekaligus namun sama
sekali tidak mengandung kolesterol atau asam lemak trans.
Komposisi kandungan lemak tersebut adalah
• Gliserol laurat 0,1 %( jenuh)
• Miristat 0,1 ( jenuh)
• Palmitat 44% ( jenuh)
• Stearate 5 % ( jenuh)
• Oleat 39 % ( tak jenuh,tunggal)
• Linoleat 10 % (tak jenuh,jamak)
7

BAB III
PEMBAHASAN

4.2 Proses Produksi Minyak Kelapa Sawit


1. Jembatan Timbang
Di Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit, jembatan timbang yang dipakai untuk mengukur
berat (tonase) semua Truk Pengangkut Tandan Buah Sawit (TBS) baik dari Perkebunan
Sawit Swasta, perkebunan rakyat (plasma) dan perkebunan pemerintah (PTPN).
Jembatan Timbang adalah salahsatu tahapan awal dalam proses pembuatan kelapa sawit
menjadi CPO. Prinsip kerja dari jembatan timbang yaitu kendaraan pengangkut Buah
Sawit melewati jembatan timbang lalu berhenti ± 5 menit, kemudian berat kendaraan
pengangkut buah sawit dicatat awal sebelum Tandan Buah Sawit dibongkar dan di sortir,
kemudian setelah dibongkar dari kendaraan pengangkut kembali ditimbang, lalu selisih
berat awal dan akhir adalah berat TBS yang diterima pabrik kelapa sawit.
2. Penyortiran Buah Sawit
Buah kelapa sawit yang masuk ke Pabrik Kelapa Sawit, kualitas & kematangannya
harus diperiksa dengan baik. Proses pemeriksaan buah sawit ini sering disebut sortir
buah. Jenis buah yang masuk ke Pabrik Sawit pada umumnya jenis Tenera atau jenis
Dura. Kriteria matang panen sangat penting dalam pemeriksaan kualitas buah sawit di
stasiun penerimaan Buah. Tingkat Pematangan buah sawit mempengaruhi terhadap
rendamen minyak dan ALB (Asam Lemak Buah/ FFA = Free Fatty Acid) yang dapat
dilihat pada tabel berikut :
kematangan buah Rendemen minyak (%) Kadar ALB (%)

Buah mentah 13 – 17 1,6 – 2,8

Setengah matang 18 – 24 1,7 – 3,3

Buah matang 25 – 31 1,8 – 4,4

Buah lewat matang 27 – 31 3,8 – 6,1

Setelah disortir, ditampung semua di tempat penampungan sebelum direbus.


8

3. Proses Perebusan (Sterilisizer)


Lori buah yang telah diisi Tandan Buah Segar dimasukan ke dalam sterilizer dengan
memakai capstan. Sterilizer saat ini ada berbagai model:
• Sterilizer Horizontal (konvensional)
• Vertical Sterilizer
• Continuous Sterilizer (CS) – Hak Paten CB-MODIPALM (Malaysia)
• Oblique Sterilizer
• Dll
Tujuan perebusan :
1. Mengurangi peningkatan asam lemak bebas (ALB/FFA)
2. Mempermudah proses pelepasam buah sawit pada 8ndustry
3. Menurunkan kadar air buah sawit
4. Melunakkan daging buah sawit, sehingga daging buah sawit mudah lepas dari biji
(nut)

Proses perebusan kelapa sawit


Bila poin ke-2 tercapai secara efektif, maka semua poin-poin yang lain akan tercapai
juga. Sterilizer horizontal (konvensional) memiliki bentuk panjang 26 m dan diameter
pintu 2,1 m. Dalam sterilizer dilapisi Wearing Plate dengan tebal 10 mm yang
mempunyai fungsi untuk menahan steam, dibawah sterilizer terdapat lubang yang
gunanya untuk proses membuang air kondesat agar proses pemanasan di dalam sterilizer
tetap seimbang. Dalam proses perebusan minyak yang terbuang ± 0,8 % . Dalam
9

melakukan proses perebusan diperlukan uap untuk memanaskan sterilizer yang


disalurkan dari boiler. Uap yang masuk ke sterilizer 2,7 -3 kg/cm2 , dengan suhu 140°
C dan direbus selama 90 menit.
4. Proses Penebahan (Threser)
Fungsi dari Thresing adalah untuk melepaskan buah sawit dari janjangannya (tandan
sawit) dengan cara mengangkat dan membantingnya serta mendorong janjang kosong
(tandan kosong sawit) ke empty bunch conveyor (konveyor tandan kosong sawit).

Threser
5. Proses Pengempaan ( Pressing )
Proses ini dimulai dari pengambilan minyak dari buah Kelapa Sawit dengan jalan
pelumatan (di mesin digester) dan pengempaan (di mesin screw press sawit). Baik
buruknya pengoperasian peralatan mempengarui efisiensi pengutipan minyak. Proses ini
terdiri dari :
• Digester
Setelah buah pisah dari janjangan (tandan sawit), lalu buah dikirim ke Digester
dengan cara buah masuk ke Conveyor Under Threser yang berfungsi untuk membawa
buah sawit ke Fruit Elevator yang fungsinya untuk mengangkat buah sawit keatas,
lalu masuk ke distribusi conveyor (distributing conveyor) yang kemudian
menyalurkan buah sawit masuk ke Digester. Di dalam digester tersebut buah atau
berondolan yang sudah terisi penuh, akan diputar atau diaduk dengan menggunakan
pisau pengaduk (stirring arm) yang terpasang pada bagian poros II, sedangkan pisau
bagian dasar sebagai pelempar atau mengeluarkan buah sawit dari digester ke screw
press.
10

Fungsi Digester :
1. Melumatkan daging buah sawit
2. Memisahkan daging buah sawit dengan biji (nut)
3. Mempersiapkan Feeding ke dalam mesin screw Press
4. Mempermudah proses pengepresan minyak di mesin screw Press PKS
5. Proses pemanasan / melembutkan buah sawit

Digester
• Screw Press
Fungsi dari Mesin Screw Press dalam proses produksi kelapa sawit
adalah untuk memeras berondolan buah sawit yang telah dicincang, dilumat di
digester untuk mendapatkan minyak kasar. Buah – buah sawit yang telah diaduk
secara bertahap dengan bantuan pisau – pisau pelempar dimasukkan kedalam feed
screw conveyor dan mendorongnya masuk ke dalam mesin kempa ulir sawit ( palm
oil twin screw press ). Oleh adanya tekanan screw yang ditahan oleh cone,
berondolan buah sawit tersebut diperas sehingga melalui lubang-lubang press
dipisahkan dari serabut dan biji. Selanjutnya minyak menuju statsiun klarifikasi (
clasrification station) ,sedangkan ampas (cake) dan biji ( nut) masuk ke statsiun
kernel.
11

Screw Press

Proses Pengempaan sampai dihasilkan Crude Oil Kasar


6. Tahap Klarifikasi (Clarification)
Setelah melewati proses screw press, maka didapatlah minyak kasar / Crude Oil dan
ampas press yang terdiri dari fiber. Kemudian Crude Palm Oil masuk ke stasiun
klarifikasi dimana proses pengolahannya sebagai berikut :
• Sand Trap Tank ( Tangki Pemisah Pasir)
Setelah di press (salah satu proses pabrik sawit) maka Crude Palm Oil yang
mengandung air, minyak, lumpur masuk ke Sand Trap Tank. Fungsi dari Sand Trap
12

Tank adalah untuk menampung pasir/manangkap pasir yang ada. Temperatur pada
sand trap mencapai 95 °C

.
Sand Trap Tank
• Vibro Separator / Vibrating Screen (Ayakan Getar)
Fungsi dari Vibro Separator adalah untuk menyaring Crude Oil dari serabut – serabut
(fiber) yang dapat mengganggu proses pemisahan minyak. Sistem kerja mesin
penyaringan itu sendiri dengan getaran – getaran (simetris) , dan pada Vibro separator
perlu penyetelan pada bantul yang di ikat supaya Getaran berkurang dan pemisahan
lebih efektif..

Vibrating separator
• Continuous Settling Tank (CST) / Vertical Clarifier Tank (VCT)
Fungsi dari Continuous Settling Tank (CST atau sering disebut juga Clarification
Settling Tank) adalah untuk memisahkan minyak, air dan kotoran (Non Oily Solid
13

/ NOS) secara gravitasi. Dimana minyak dengan berat jenis yang lebih kecil dari 1
akan berada pada lapisan atas dan air dengan berat jenis = 1 akan berada pada lapisan
tengah sedangkan Non Oily Solid (NOS ) dengan berat jenis lebih besar dari 1 akan
berada pada lapisan bawah. Fungsi Skimmer dalam CST adalah untuk membantu
mempercepat pemisahan minyak dengan cara mengaduk (stirring) dan memecahkan
padatan serta mendorong lapisan minyak yang mengandung lumpur (Sludge).
Temperatur yang cukup (95 °C) akan memudahkan proses pemisahan ini. Prinsip
kerja didalam CST dalam proses pengolahan pada pabrik kelapa sawit adalah dengan
menggunakan prinsip keseimbangan antara larutan yang berbeda berat jenis. Prinsip
bejana bertekanan diterapkan dalam mekanisme kerja di CST (continuous settling
tank) sesuai alur proses produksi pabrik kelapa sawit.

Tank VCT
• Oil Tank
Fungsi dari Oil Tank adalah sebagai tempat sementara Oil sebelum diolah
oleh Purifier. Proses Pemanasan dilakukan dengan menggunakan Steam Coil (koil
pemanas) untuk mendapatkan suhu yang diinginkan yakni 95° C. Kapasitas Oil Tank
bermacam macam tergantung kapasitas PKS.
7. Proses Pemurnian (Purification)
Proses pemurnian terbagi atas 2 proses pemurnian, antara lain :
• Oil Purifier (Pemurni Minyak)
14

Fungsi dari Oil Purifier (pemur minyak) adalah untuk mengurangi kadar air dalam
minyak sawit dengan prinsip kerja sentrifugal. Pada proses ini diperlukan suhu
sekitar 95˚ C.
• Vacuum Dryer
Fungsi dari Vacuum Dryer dalam proses produksi kelapa sawit menjadi cpo adalah
untuk mengurangi kadar air dalam minyak produksi. Cara kerjanya sendiri adalah
minyak disimpan dalam bejana melalui nozzle/ Nozel. Suatu jalur re-
sirkulasi dihubungkan dengan suatu pengapung didalam bejana supaya jikalau
ketinggian permukaan minyak menurun pengapung akan membuka dan men-sirkulasi
minyak kedalam bejana.
8. Proses Penyimpanan (Storage)
Minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) yang telah dimurnikan disimpan dalam
storage tank sampai akan digunakan untuk pengolahan selanjut

3.2 Proses Produksi Margarin Dari Minyak Kelapa Sawit (Crude Palm Oil)
4.2.1 Pemurnian Dan Fraksinasi
Minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil) yang telah dihaslkan tidak ddigunakan langsung
dalam proses pembuatan margarin. Perlu dilakukan pemurnian dan fraksinasi lebih lanjut
sampai mendapatkan fraksi stearin yang akan digunakan dalam pembuatan margarin dan
fraksi olein yang akan digunakan dalam proses pembuatan minyak 14ndust.
1. Pemurnian
Proses pemurnian terbagi atas empat (4) tahap, yaitu :
• Degumming
Degumming adalah proses pemisahan getah atau 14ndust (gum) yang terdiri dari
fosfatida, protein, residu, karbohidrat, air dan resin serta partikel halus tersuspensi
dalam CPO. Proses ini dilakukan dengan menambahkan H3PO4 sebanyak 0.05-
0.07%. Jumlah H3PO4 yang digunakan harus optimum dan berlebih,
kelebihannya dinetralkan dengan penambahan CaCO3. Dengan penambahan
H3PO4 ini maka fosfatida nonhydratable menjadi hydratable. Fosfatida
hydratable adalah partikel-partikel koloid zat terlarut dan akan mengalami
koagulasi karena berat jenisnya lebih besar dari minyak dan lemak sehingga
15

mudah dipisahkan. Setelah bahan pengotor terpisah dari minyak maka dilakukan
sentrifuse. Sentrifuse dilakukan pada suhu 32-50˚C agar kekentalan minyak
berkurang dang getah mudah dipisahkan

Fofolipid Asam Fosfat Gliserol Gum / Getah

• Netralisasi
Netralisasi adalah suatu proses untuk memisahkan asam lemak dari minyak atau
lemak dengan cara mereaksikan asam lemak bebas dengan basa ata pereaksi
lainnya sehingga membentuk sabun (soap stock). Netralisasi dengan kaustik soda
(NaOH) banyak dilakukan dalam skala industri, karena lebih efisien dan lebih
murah dibandingkan dengan cara netralisasi lainnya.
16

Reaksi Netralisasi

• Bleaching
Proses Pemucatan atau bleaching dimaksudkan untuk menghilangkan zat warna
pada minyak sawit yang bukan lain adalah karoten. Proses ini dapat berpengaruh
negative karena dapat merusak antioksidan alami dan komponen sinerginya
seperti tokoferol, karotenoid, dan fosfolipida yang dapat menurunkan stabilitas
minyak terhadap oksidasi. Pemucatan dapat dilakukan dengan cara oksidasi,
panas, maupun dengan cara reduksi. CPO merupakan baku minyak nabati yang
sulit proses pemucatannya karena mengandung kadar karoten yang cukup tinggi
yaitu berkisar 500-600 ppm. Warna merah kuning yang terdapat dalam CPO
adalah karoten yang merupakan provitamin A, akan tetapi pada saat dilakukan
proses pemucatan zat ini akan hilang terbuang pada saat bleached dan heat
bleached.
17

• Deodorisasi
Deodorisasi bertujuan untuk menghilangkan bau yang tidak dikehendaki, dan
menghilangkan asam lemak bebas. Cara yang digunakan adalah metode destilasi.
Minyak hasil proses pemucatan dimasukkan ke dalam ketel deodorisasi dan
dipanaskan pada suhu 200-250˚C pada tekanan 1 atm dan selanjutnya dialiri uap
panas selama 4-6 jam. Pemakaian suhu tinggi digunakan untuk menguapkan bau
sedangkan pengurangan tekanan bertujuan untuk mencegah hidrolisa oleh uap air.
18

2. Fraksinasi
Fraksinasi adalah proses pemisahan antara fraksi padat yaitu stearin dengan fraksi cair
yaitu olein. Proses ini dilakukan untuk memisahkan fraksi cair RBDPE dengan fraksi
padat RBDPS. RBDPS pada umumnya digunakan untuk bahan baku
margarin, shortening dan pastry sedangkan RBDPE digunakan terutama sebagai minyak
18ndust dan juga sebagai bahan baku campuran untuk produksi margarin, shortening dan
pastry. RBDPO diproses melalui fraksinasi kemudian di pisahkan melalui filter press
menjadi RBDPE dan RBDPS (Krisnamurthy 1996).
3.2.2 Pembuatan Margarin
Setelah mendapatkan fraksi stearin yang diperlukan untuk pembuatan margarin,
proses pembuatan margarin adalah sebagai berikut :
1. Blending
Blending dapat dilakukan dengan mencampur secara fisik dua jenis minyak atau
lebih. Tujuanya untuk meningkatkan titik cair dapat tercapai dengan menambahkan
minyak dengan titik cair lebih tinggi ke dalam campuran minyak.

Proses blending
2. Hidrogenasi
Hidrogenasi adalah proses pengolahan minyak atau lemak dengan jalan
menambahkan hydrogen pada ikatan rangkap dari asam lemak, sehingga akan
mengurangi ketidakjenuhan minyak atau lemak, dan membuat lemak berifat plastis.
Proses hidrogenasi bertujuan untuk menjenuhkan ikatan rangkap dari rantai karbon
asam lemak pada minyak atau lemak. Proses hidrogenasi dilakukan dengan
menggunakan hidrogen murni dan ditambahkan serbuk nikel sebagai katalisator.
19

Nikel merupakan katalis yang sering digunakan dalam proses hidrogenasi daripada
katalis yang lain (palladium, platina,copper,chromite). Hal ini karena nikel lebih
ekonomis dan lebih efisien daripada logam lainnya. Nikel juga mengandung sejumlah
kecil AL dan Cu yang berfungsi sebagai promoter dalam proses hidrogenasi minyak.

Proses Hidrogenasi

3. Emulsifikasi
Proses emulkasi ini bertujuan untuk mengemulsikan minyak dengan cara
penambahan emulsifier fase cair dan fase minyak pada suhu 80˚C dengan tekanan 1
atm. Terdapat dua tahap pada proses emulsifikasi yaitu :
1. Proses pencampuran emulsifier fase minyak
Emulsifier fase minyak merupakan bahan tambahan yang dapat larut dalam
minyak yang berguna untuk menghindari terpisahnya air dari emulsi air minyak
terutama dalam penyimpanan. Emulsifier ini contohnya lechitin sedangkan
penambahn b-karoten pada margarine sebagai zat warna serta vitamin A dan D
untuk menambah gizi

Proses emulsifier fase minyak


20

2. Proses pencampuran emulsifier fase air


Emulsifier fase cair merupakan bahan tambahan yang tidak larut dalam minyak
bahan tambahan ini dicampurkan ke dalam minyak bahan tambahan ini
dicampurkan ke dalam air yang akan di pakai untuk membuat emusi dengan
minyak. Emulsifier fase cair ini adalah: garam untuk memberikan rasa asin TBHQ
sebagai bahan antioksidan yang mencegah teroksidasinya minyak yang
mengakibatkan minyak menjadi rusak dan berbau tengik. Natrium benzoat
sebagai bahan pengawet . vitamin A dan D akan bertambah dalam minyak akan
berbentuk emulsi dengan air dan membentuk margarin. Beberapa bahan tambahan
seperti garam, antioksidan dan natrium benzoat juga akan teremulsi dalam
margarin dalam bentuk 20ndustry2020 fase cair.

Proses emulsifier fase air


4. Pengkristalan
Setelah selesai di campur kemudian dilewatkan melalui alat pendingin chilling unit
Perfector atau Kombinator dengan ammonia cair bertekanan tinggi. Bahan pendingin
yang dipergunakan adalah ammonia cair bertekanan tinggi kemudian dipompakan
melalui pipa ketabung chilling unit untuk mendinginkan dinding tabung, dan kemudian
campuran bahan baku margarin akan menerima suhu dingin sampai dibawah 00C pada
saat melalui tabung tersebut. Pada saat itulah terjadi perpindahan suhu dari ammonia ke
campuran minyak sehingga campuran bahan baku margarin akan membentuk kristal.
Kristal margarin yang terbentuk yaitu kristal bentuk alpha kemudian berubah menjadi
bentuk kristal beta dan terakhir menjadi kristal beta prime.
21

Chilling Unit Perfector


Proses kristalisasi terjadi melalui keempat tabung pendingan. Kristal yang diinginkan
adalah dalam bentuk beta prime, karena kristalnya lembut dan halus yang diinginkan
dalam setiap proses produksi maragarin. Kristal yang lembut dan halus akan memberikan
sensasi rasa enak dan lembut dalam mulut apabila margarin tersebut dimakan langsung,
dan apabila margarin tersebut digunakan sebagai bahan baku untuk pembutan roti atau
kue maka roti atau kue tersebut akan memberikan tekstur yang lembut dan rasa lembut
dimulut saat dimakan.

5. Pendinginan
Margarin yang dihasilkan kemudian didinginkan. Proses terakhir adalah proses
packaging dan margarin siap didistribusika
22

Manfaat dan keunggulan dari margarin:


1. Sebagai sumber energi
2. Sebagai penambah cita rasa dalam makanan
3. Bahan pembantu dalam industri makanan
4. Untuk kesehatan mata dan tulang

3.3 Pengolahan Limbah Kelapa Sawit


3.3.1 Jenis Limbah Kelapa Sawit
1. Limbah secara umum dan limbah padat
Jenis Limbah kelapa sawit pada generasi pertama adalah limbah padat yang terkandung
dari tandan kosong, pelepah, cangkang dan lain-lain. Sedangkan limbah cair yang terjadi
pada in house keeping. Limbah padat dan limbah cair pada generasi berikutnya dapat
dilihat pada gambar. Pada gambar tersebut terlihat bahwa limbah yang terjadi pada
generasi pertama dapat dimanfaatkan dan terjadi limbah berikutnya. Pada gambar 4 dan
table 1 terlihat potensi limbah yang dapat dimanfaatkan sehingga mempunyai nilai
ekonomi yang tidak sedikit. Salah satunya adalah potensi limbah dapat dimanfaatkan
sebagai unsur harayang menggantikan pupuk sintesis (Urea,TSP, dan lain-lain)
23

` Pada Proses Threse pada pembuatan minyak kelapa sawit, untuk melepakan kelapa sawit
dari tandannya. Setelah TBS terlepas dari tandannya, kemudian tandan buah kosong akan
digunakan kembali. Serat panjang di batang dapat digunakan untuk membuat kasur dan
bantal kursi mobil, sementara tandan buah kosong yang tersisa dikembalikan ke tanah
kebun untuk membantu menjaga kelembaban sebelum dijadikan pupuk ketika proses
pembusukan sudah terjadi. Sementara itu, ‘cake’ yakni Bungkil Inti Sawit (BIS) yang
terdiri dari campuran serat mesocarp dan cangkang yang tertinggal di mesin pemerasan
dimasukkan ke alat depericarper, yang memisahkan serat mesocarp dan biji.
Serat mesocarp digunakan sebagai biofuel atau bahan bakar hayati di boiler pabrik kelapa
sawit, yang menghasilkan uap yang menggerakkan turbin untuk memberi daya pada
pabrik.
Biji kelapa sawit yang tersisa, juga dikenal sebagai inti sawit atau kernel, dipecahkan dan
dipisahkan cangkangnya. Cangkang diambil untuk dijual sebagai bahan bakar hayati,
sementara kernel mengalami penghancuran lebih lanjut untuk menghasilkan minyak inti
sawit (PKO) dan Palm Kernel Expeller (PKE).
Selengkapnya dapat dilihat pada gambar berikut
24

Gambar pohon Industri Kelapa Sawit


25

Fraksionasi Hasil Pengolahan Tandan Buah Segar


3.3.2 Pengolahan Limbah
1. Pengolahan Sludge
• Sludge Tank (Tangki Lumpur)
Sludge yang keluar dari CST dialirkan ke sludge tank dan harus diolah untuk mengutip
minyak yang msih terdapat didalamya, dan disisni sludge akan mengalami pemanasan
oleh uap steam dengan suhu 980˚ C, selanjutnya sludge dialirkan ke self cleaning yang
memiliki saringan sampah dan sifat baja yang terus berputar untuk membersihkan
saringan sampah,sehingga sampah dan kotoran akan masuk, ke dalam decanter.
• Decantar (Pemisah Lumpur)
Sludge yang keluar dari sludge tank dipompa masuk ke dispatch tank. Pada sludge ini
lumpur diendapkan , sehingga lumpur yang lebih berat akan mengendap sedangkan
sludge yang lebih ringan akan keatas dan kemudian akan dialirkan ke decanter. Fungsi
dari decantar adalah untuk memisahkan minyak dengan air, sludge dan non solid yang
mempuyai berat jenis yang lebih besar digunakan membantu dalam pemisahan dengan
suhu 80˚ C.
• Fat Pit ( Pengutipan Minyak)
Fat Pit berfungsi untuk menampung cairan yang masih mengandung minyak yang
berasal dari air kondensat rebusan dan parit klarifikasi. Bak Fit Pit mempuyai empat
bagian, dimana pada bak keempat diusahakan minyak telah terkumpul banyak dan
minyak itu semdiri termasuk dari Deoling Pond. Minyak dari bak ini dipompa ke
26

dalam Oil Tank untuk diolah kembali. Dari proses pengutipan minyak terdapat limbah
yaitu sludge yang merupakan hasil sampingan dari proses pengolahan Tandan Buah
Segar menjadi Crude Palm Oil.
2. Pengolahan Limbah Cair
Pengolahan air limbah yaitu pengolaha limbah yang dihasilkan dari pabrik masih belum
pengolahan CPO dan Kernel sehingga perlu penanganan yang serius untuk tidak terjadi
pencemaran terhdap lingkungan. Air limbah yang telah dialirkan kekolam limbah akan
dilanjutkan ke bak fat pit yang berfungsi untuk mengutip minyak yang dilanjutkan dan
pompa ke stasiun klasifikasi minyak untuk di olah lebih lanjut, sedangkan kotoran dan
lumpur akan di alirkan ke kolam pendingin (Deoiling Pond).
• Deoiling Pond ( Kolam Pendingin)
Limbah yang berupa lumpur berasal dari Fat Pit disalurkan melalui parit untuk menuju
ke kolam deoiling pond yang tujuanya untuk mendinginkan suhu limbah dari 70o C
menjadi 40-45˚ C, sehingga bakteri yang digunakan dapat hidup untuk menghidrolisa
limbah.
• Prymarian Pond I
Dari kolam pendingin limbah dialirkan ke kolam Prymarian Pond I untuk membiarkan
bakteri anaerobic yang berkerja di dalamya. Pada koam ini limbah harus memiliki PH
antara 6,5 – 6,8 agar bakteri dapat berkembangbiak dengan sempurna. Apabia terjadi
penurunan PH maka ditambahkan kapur tohor pada kolam.
• Prymarian Pond II
Prymarian Pond II merupakan kolam lanjutan dari Prymarian Pond I yang bertujuan
untuk lebih mengaktifkan bakteri sehingga dapt menghidrolisa limbah, maka limbah
akan dipompa untuk disirkulasi ulang secara terus menerus ke kolam Prymarian Pond
I. Kolam Prymarian Pond II ini memiliki kedalaman dan kapasitas yang sama dengan
kolam Prymarian Pond I. Kolam ini memiliki suhu yang harus dijaga antara 35˚ C dan
Ph 6,9-7,2.
• Secondaryan Pond
Secondaryan Pond berguna untuk menyempurnakan aktifitas bakteri, maka dari itu pH
dinaikan sampai 7,7 dan suhu diturunkan menjadi 32˚C.
27

• Facultativ Pond
Limbah dari kolam secondaryan Pond dialirkan ke kolam Fakultativ Pond.
Di Kolam ini bakteri aerobik dengan bakteri anaerobik dicampur dengan bahan –
bahan organic yang tidak dapat dihidrolisa oleh kolam anaerobic secara biologis akan
dirombak pada kolam aerobic dengan bantuan oksigen ( O2 ).
• Algae Pond
Limbah cair yang berasal dari kolam Fakultatif dimasukan ke dalam kolam algae pond
untuk mengembangbiakan algae yang berguna sebagai bahwa limbah tersebut telah
dihidrolisa dan tidak mencemari lingkungan. Proses pengolahan limbah cair yang
terakhir pada algae pond yang selanjutnya akan dialirkan ke sungai dengan cara over
flow dengan suhu antara 28oC. Limbah yang telah melewati proses pengolahan
sebelum dibuang ke sungai diharapkan memenuhi standar mutu.

3.4 Perhitungan Neraca massa


Di dalam analisis neraca massa ini terdapat 10 kompartemen pada setiap stasiun
proses pengolahan kelapa sawit, Kompartemen tersebut adalah stasiun penerimaan
buah, perebusan, perontokan buah, pelumatan, pengempaan, dan pemurnian minyak yang
terdiri dari Sand trap tank, oil vibrating screen, crude oil tank, continous clarifier tank,
vacum dryer. Pada setiap stasiun akan menghasilkan produk dan waste/hasil samping yang
berbeda-beda.Analisis neraca massa ini dilakukan untuk mengetahui semua
bahan-bahan yang masuk, yang keluar, dan yang terbuang pada proses produksi
pengolahan CPO, analisis neraca massa ini juga digunakan untuk mendaptkan
kesetimbangan massa input dan output dari pabrik kelapa sawit agar tidak terjadi
ketimpangan dalam melaksanakan kegiatan produksi. Adanya analisis neraca massa pada
proses pengolahan CPO membantu perusahaan untuk mengetahui apakah efisiensi produksi
sudah dilakukan atau dijalankan dan apakah sudah mencapai hasil yang efisien dari
semua faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi produksi. Hasil Analisis Neraca Massa
di pabrik kelapa sawit PT. Alam Tri Abadi dapat dilihat pada gambar 2.
28

Gambar 2. Model neraca massa


(keterangan simbol pada tabel 2)

Tabel 2. Keterangan simbol pada Gambar 2

Persamaan efisiensi dengan kapasitas olah 30 ton TBS/jam :


• Kompartemen 1
Efisiensi pada penerimaan buah (a1) :
29

Di PKS PT. Alam Tri Abadi pada stasiun penerimaan buah jumlah TBS yang masuk ke
stasiun penerimaan buah sama dengan jumlah TBS yang keluar atau yang dihasilkan,
pada stasiun penerimaan buah ini tidak ada limbah yang dihasilkan. Jumlah TBS yang
masuk di stasiun penerimaan buah yaitu 340.293 kg (100%), dan jumlah TBS
yang dihasilkan pada stasiun penerimaan buah yaitu 340.293 kg (100%), sehingga
nilai a1 adalah 1 (100%).
• Kompartemen 2
Efisiensi pada perebusan buah (a2) :
30

Dari hasil perhitungan stasiun penerimaan buah didapat hasil sebesar 340.293 kg (100%),
steam uap yang diperlukan menurut Denny (2013), sebesar 203.940 kg yaitu 75% dari
semua jumlah steam uap yang dibutuhkan untuk proses produksi (Boiler
menghasilkan uap sebanyak 800 kg uap/jam. Pada pabrik yang berkapasitas 30
ton/jam akan menghasilkan uap sebanyak 30 ton x 800 kg uap/jam = 24.000 kg
uap/jam atau 24 ton/jam uap yang dihasilkan, rata-rata waktu jam olah pada proses
produksi selama 11,33 jam memerlukan steam uap sebesar 271.920 kg/hari). Pada stasiun
perebusan menghasilkan limbah cair kondensat, menurut Loebis & Tobing (1989),
limbah cair kondensat yang dihasilkan 150-175 kg/ton TBS, persentase yang saya
ambil adalah 175 kg/ton TBS dengan jumlah TBS olah sebesar 340,293 ton
TBS akan menghasilkan limbah cair kondensat sebesar 175 kg/340,293 ton TBS =
0,51 limbah cair kondensat yang dihasilkan sebesar 173.549 kg. Pada stasiun
perebusan juga menghasilkan limbah yaitu uap atau terjadi penguapan pada stasiun
ini, menururt Lacrosse (2004) jumlah uap yang dihasilkan pada stasiun ini sebesar
14,43% yaitu 49.105 kg dari jumlah TBS olah.
Dari hasil perhitungan stasiun penerimaan buah input yang masuk sebesar 340.293 kg
(100%), tandan buah rebus yang dihasilkan sebesar 321.579 kg. Sehingga nilai a2
adalah 0,59.
• Kompartemen 3
Efisiensi pada perontokan buah (a3):
31

Pada stasiun perontokkan buah berdasarkan data real PT. ATA produksi janjang
kosong/tandan kosong kelapa sawit sebesar 23% yaitu 75.337 kg. Janjang kosong
yang dihasilkan melebihi persentase komposisi TBS menurut Nasution et al., (2014)
untuk tandan kosong kelapa sawit persentasenya sebesar 22%. Sehingga bobot
brondolan yang didapat sebesar 77% yaitu 246.242 kg. Jadi nilai a3 adalah 0,77.
• Kompartemen 4
Efisiensi pada pelumatan buah (a4) :

Pada stasiun pelumatan buah juga menggunakan bahan tambahan steam uap, menurut
Denny (2013) kebutuhan steam uap untuk stasiun pelumatan : 40 kg/ton TBS (40kg/ton
TBS X 30 ton TBS/jam = 1.200 kg uap/jam). Rata-rata jam olah 11,33 jam, akan
memerlukan steam uap 1.200 kg uap/jam X 11,33 jam = 13.596 kg uap/hari steam uap
yang diperlukan untuk stasiun pelumatan buah. Pada stasiun ini tidak menghasilkan
limbah karena pada stasiun pelumatan buah hanya untuk memudahkan proses
selanjutnya atau stasiun pengempaaan dengan cara pengadukan dan pelumatan, TBS
yang masuk sama dengan TBS yang dihasilkan yaitu 259.838 kg. Sehingga nilai a4
adalah 1.
• Kompartemen 5
Efisiensi pada pengempaan buah (a5):
32

Pada stasiun pengempaan buah input yang masuk akan berbeda dengan produk yang
dihasilkan karena pada stasiun ini ada limbah yang dihasilkan sehingga minyak
kasar yang dihasilkan berkurang. Yangdihasilkan pada stasiun pengempaan buah
sebesar 77% yaitu 199.382 kg. Limbah yang dihasilkan pada stasiun ini ialah serabut,
cangkang, dan kernel. Pada stasiun ini limbah serabut sebesar 11% yaitu 28.580 kg,
limbah cangkang sebesar 6% yaitu 15.588 kg, persentase komposisi TBS menurut
Nasution et al., (2014). Untuk kernel yang dihasilkan menurut data real PT. ATA
sebesar 6% yaitu 16.267 kg, menurut Nasution et al., (2014) kernel atau inti yang
dihasilkan pada proses produksi sebesar 5%. Kernel yang dihasilkan dan menuru
persentase yang ditentukan kernel yang dihasilkan tidak berbeda nyata dengan
kernel yang sudah ditentukan hasilnya. Limbah yang dihasilkan pada stasiun ini sebesar
23% yaitu 60.435 kg. Sehingga nilai a5 adalah 0,77.
• Kompartemen 6
Efisiensi pada Sand trap tank (a6) :

Pada stasiun Sand trap tank minyak dan sludge yang masih menyatu
diendapkan pada stasiun ini untuk mengurangi jumlah padatan yang ada didalam
minyak seperti pasir dan sisa cangkang. Pada stasiun ini minyak yang dihasilkan
33

akan lebih sedikit dibanding minyak yang masuk karena ada limbah yang dihasilkan.
Minyak dan lumpur yang dihasilkan sebesar 95% yaitu 189.413 kg. Jumlah limbah
padatan seperti pasir dan sisa cangkang yang dihasilkan pada stasiun ini
menurut chavalparit et al., (2006), Lorestani (2006), Pleanjaiet al., (2004) dalam
Hermaslin (2015) sebesar 5-7% dari minyak dan sludge yang dihasilkan. Persentase
limbah yang saya ambil sebesar 5% yaitu 9.969. Sehingga nilai a6 adalah 0,95.
• Kompartemen 7
Efisiensi pada Oil vibrating screen (a7) :

Pada stasiun Oil vibrating screen memisahkan pasir dan sisa serabut dari minyak
dan sludge yang lolos dari stasiun Sand trap tank, pada stasiun ini minyak yang
dihasilkan akan lebih sedikit dibanding minyak yang masuk karena ada limbah yang
dihasilkan. Minyak yang dihasilkan sebesar 98,5% yaitu 186.569 kg. Dan limbah
padatan seperti pasir dan sisa serabut yang dihasilkan pada stasiun ini menurut
Widjaja (2002) sebesar 1,5% yaitu 2.841 kg. Sehingga nilai a7 adalah 0,985.
• Kompartemen 8
Efisiensi pada Crude oil tank (a8) :
34

Pada stasiun Crude oil tank menampung sementara cairan minyak dari Oil vibrating
screen, Pada stasiun ini input yang masuk sama dengan output yang dihasilkan karena
pada stasiun hanya menampung sementara minyak yang dihasilkan dari stasiun
sebelumnya sehingga tidak ada limbah yang dihasilkan. Minyak dan sludge yang
masuk dan yang dihasilkan sebesar 186.569 kg, sehingga nilai a8 adalah 1.
• Kompartemen 9
Efisiensi pada Continous clarifier tank (a9) :

Pada Continous clarifiertank memisahkan minyak dan sludge dengan cara pengendapan,
Pada stasiun ini minyak yang dihasilkan akan lebih sedikit dibanding minyak yang
masuk karena ada limbah yang dihasilkan. Minyak yang dihasilkan sebesar 38%
yaitu 71.640 kg, limbah cair yang dihasilkan pada stasiun ini sebesar 62% yaitu
35

114.929 kg. Di PKS PT. Alam Tri Abadi perhitungan limbah cair menggunkan
metode decanter dengan kapasitas limbah cair sebesar 0,3-0,4 ton/ton TBS dari
jumlah TBS olah. Pada stasiun ini limbah cair yang dihasilkan sesuai dengan
ketentuan atau metode yang digunakan, hasil limbah cair dari jumlah TBS yang
diolah sebesar 0,34 sedangkan limbah cair yang ditentukan kapasitasnya sebesar 0,3-
0,4. Sehingga nilai a9 adalah 0,38.
• Kompartemen 10
Efisiensi pada Vacum dryer (a10) :

Pada Vacum dryer kadar air yang terdapat pada minyak akan berkurang, Pada
stasiun ini minyak yang dihasilkan akan lebih sedikit dibanding minyak yang
masuk karena ada limbah yang dihasilkan. Minyak yang dihasilkan sebesar 95%
yaitu 68.002 kg. Dan limbah air yang dihasilkan pada stasiun ini menurut
Ridzky (2015) sebesar 5% yaitu 3.638 kg. Menurut Nasution et al.,(2014), persentase
yang ditentukan untuk hasil minyak sebesar 22% dari jumlah TBS olah, sedangkan
minyak yang dihasilkan di PKS PT. Alam Tri Abadi sebesar 20% dari jumlah TBS
olah. Minyak yang dihasilkan lebih sedikit dibandingkan dengan persentase minyak
yang ditentukan hal ini disebabkan karena bahan baku itu sendiri, TBS yang diolah
masih banyak buah mentahnya dan ada sebagian buah yang terlalu matang
36

sehingga CPO yang dihasilkan lebih sedikit dibandingkan dengan persentase yang
sudah ditentukan. Jadi nilai a10 adalah 0,95.
Berdasarkan uraian di atas, nilai faktor-faktor efisiensi dapat dilihat pada tabel
3.
Tabel 3. Faktor efisiensi pada model neraca massa pengolahan CPO
37

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulam

1) Proses pengolahan kelapa sawit menjadi minyak kelapa sawit terdiri dari beberapa
proses,antara lain : jembatan timbang,penyortiran, perebusan, penebahan,pengempaan,
klarifikasi dan pemurnian. Setiap proses memiliki system kerja dan tujuanya masing-
masing guna mendapatkan minyak kelapa sawit yang berkualitas
2) Proses pengolahan minyak kelapa sawit menjadi margarin diawali dengan proses
pemurnian dan fraksinasi untuk mendapatkan fraksi stearin. Selanjutnya dilakukan
blending, hidrogenasi, emulsifikasi, dan pendinginan sebelum dikemas sebagai suatu
produk margarin yang siap dikonsumsi oleh konsumen
3) Limbah pengolahan kelapa sawit sampai menjadi margarin diolah dengan memperhatikan
potensi tiap bagian yang terbuang untuk dimanfaatkan ulang ataupun menjadi bahan baku
untuk proses lain. Proses pengolahan dan limbah yang dihasilkan secara lengkap dapat
dilihat dari material balance dan pohon industri.

4.2 Saran

1) Industri pengolahan margarin di Indonesia perlu dikembangkan lagi mengingat proses


yang ramah lingkungan,pengolahan limbah yang efektif, serta manfaat yanag dihasilkan
dari margarin.
38

DAFTAR PUSTAKA

Subdit Pengelolaan Lingkungan.2016. Pedoman Pengelolaan Limbah Industri Kelapa Sawit.


Jakarta : Ditjen PPHP, Departemen Pertanian

Muchtadi,T. Andiranto,M. Wulandari N. 2015. Aplikasi Teknik Inaktivasi Enzim Lipase Pada
Pasca Panen Buah Kelapa Sawit untuk Meningkatkan Mutu Produk CPO. Institut
Pertanian Bogor. Bogor

http://www.ibrahimaghil.com/2013/02/teknologi-pengolahan-margarin-dari.html (disitasi pada


07 April 2020

http://arieyoedo.blogspot.com/2011/04/teknologi-pengolahan-kelapa-sawit.html (disitasi pada 07


April 2020

https://niagakita.id/2019/06/22/proses-pengolahan-kelapa-sawit-menjadi-cpo/ (disitasi pada 07


April 2020)

https://www.asianagri.com/id/media-id/faqs/bagaimana-minyak-kelapa-sawit-dibuat ( disitasi
pada 07 April 2020)

https://www.slideshare.net/fajrulM/margarin-dari-minyak-kelapa-sawit (disitasi pasa 07 April


2020)