Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

AGAMA ISLAM

“AQIDAH DALAM AGAMA ISLAM”

Disusun Oleh:
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat allah Swt, yang atas rahmat-Nya maka penulis
dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Aqidah Dalam Agama
Islam” penulis makalah merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah
Agama Islam. Pendidikan Teknik Informatika, selama penulis membuat makalah ini
merasa masih banyak yang kurang baik pada teknik penulisan maupun materi,
mengingatkan kemampuan penulisi miliki untuk itu kritik dan saran dari semua pihak
sangat penting guna pembuatan makalah ini, dengan itu penulis mengucapkan
trimakasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang sudah membantu:

1.
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Aqidah adalah pokok-pokok keimanan yang telah ditetapkan oleh Allah,


dan kita sebagai manusia wajib meyakininya sehingga kita layak disebut sebagai
orang yang beriman (mu’min). namun bukan berarti bahwa keimanan itu
ditambahkan dalam diri seseorang secara dogmatis, sebab proses keimanan
harus sertaii dalil-dalil aqli. Akan tetapi, karena akal manusia terbatas maka tidak
semua hal yang harus diimani dapat diindra dan dijangkau oleh akal manusia.

Para ulama sepakat bahwa dalil-dalil aqli yang haq dapat menghasilkan
keyakinan dan keimanan yang kokoh. Sedangkan dalil-dali naqli yang dapat
memberikan keimanan yang di harapkan hanyalah dalil-dalil yang qath’I. Makalah
kecil ini menampilkan bebrapa bahasa yang bias membantu siapa saja yanga
ingin memahami aqidah.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang di maksud dengan aqidah ?
2. Apa landasan filosofis dan religiusnya?
3. Apa saja ruang lingkup aqidah?
4. Apa kaidah dari aqidah?
5. Apa fungsi dan peran aqidah?
6. Aliran Aqidah Islam?

1.3 Tujuan Makalah


1. Menjelaskan pengertian aqidah
2. Menjelaskan landasan filosofis dan religiusnya
3. Menerangkan tentang ruang lingkup aqidah
4. Memaparkan delapan kaidah aqidah
5. Menyampaikan fungsi dan peran aqidah
6. . mempaparkan prinsip Aqidah
BAB II

PEMBAHASAN

1.1. Pengertian Aqidah Islam

ُ ‫ ٍد مِنْ ر‬6‫رِّ ُق َبي َْن َأ َح‬6‫لِ ِه اَل ُن َف‬6‫ُس‬


‫الُوا‬6‫لِ ِه ۚ َو َق‬6‫ُس‬ َ ‫آ َم َن الرَّ سُو ُل ِب َما أ ُ ْن ِز َل إِلَ ْي ِه مِنْ َر ِّب ِه َو ْالم ُْؤ ِم ُن‬
ُ ‫ه َو ُك ُت ِب ِه َور‬6ِ ‫ون ۚ ُك ٌّل آ َم َن ِباهَّلل ِ َو َماَل ِئ َك ِت‬
‫ْك ْالمَصِ ي ُر‬ َ ‫َسمِعْ َنا َوأَ َطعْ َنا ۖ ُغ ْف َرا َن‬
َ ‫ك َر َّب َنا َوإِلَي‬

Terjemah Arti: Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan


kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya
beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-
Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara antara
seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-nya”, dan mereka mengatakan: “
kami dengar dan kami taat. (mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami
dan kepada engkaulah tempat kembali” (QS. Al-Baqarah (2) : 285)

Pengertian Dan Tujuan Akidah.  Akidah adalah Ilmu pengetahuan dalam memahami
perkara-perkara yang berkaitan keyakinan terhadap Allah swt dan sifat-sifat
kesempurnaanNya. Akidah yang benar adalah akidah yang berdasarkan pada al-Quran
dan As-Sunnah. Umat Islam wajib mempelajari dan mendalami ilmu akidah agar dapat
menghindari perkara-perkara yang membawa kepada penyelewengan akidah kepada
Allah SWT.

terminologis (isthilahan Secara), terdapat beberapa definisi (ta’rif) antara lain:

 Menurut Hasan al-Banna:

‫ه ريب‬66‫دك ال يمازج‬66‫ا عن‬66‫ون يقين‬66‫ك وتك‬66‫العقائد هي األمور التى يجب أن يصدق بها قلبك وتطمئن اليها نفس‬
‫واليخالطه شك‬

“Aqidah adalah beberapa perkara yang wajib diyakini keberadaannya oleh


hatimu, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak
bercampur sedikitpun dengan keragu-raguan”

 Munurut Abu Bakar Jabir al-Jazairy:


,‫ه‬66‫ان قلب‬66‫ا اإلنس‬66‫د عليه‬66‫ يعق‬,‫رة‬66‫مع والفط‬66‫ والس‬,‫العقيدة هي مجموعة من قضايا الحق البدهية المسلمة بالعقل‬
‫ قاطعا بوجودها وثبوتها اليرى خالفها أنه يصح أو يكون أبدا‬,‫ويثنى عليها صدره جازما بصحتها‬

“Aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum


(axioma) oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fithrah. (Kebenaran)
itu dipatrikan oleh manusia di dalam hati serta diyakini kesahihan dan
kebenarannya secara pasti dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan
dengan kebenaran itu”

1.2. landasan filosofis dan religiusnya

Pada hakikatnya filsafat dalam bahasan aqidah tetap bersumber pada Al-Qur’an
dan As-Sunnah. Allah mengutus (Rasul) yang membawa pesan dari-Nya untuk
disampaikan kepada seluruh umat manusia. Pesan Allah itu ditulis dalam Al-
Kitab (Al-Qur’an). Allah menganugerahkan kebijakan dan kecerdasan berfikir
kepada manusia untuk mengenal adanya Allah dengan memperhatikan alam
sebagai bukti hasil perbuatan-Nya Yang Maha Kuasa. Hasil perbuatan Allah itu
serba teratur, cermat dan berhati-hati. Yang menerima hikmah-hikmah atau
filosofi.

1.3. Ruang lingkup aqidah

Meminjam sistimatika Hasaln al-Banna maka ruang lingkup pembahasan aqidah


adalah:

1. llahiyat yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan


dengan llah (Tuhan Allah) seperti wujud allah nama-nama dan sifat-sifat
Allah af’al allah dan lainnya.

2. Nubuwat yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan


dengan Nabi dan Rasul termasuk tentang segalah kitab-kitab allah mu’jizat
kramat dan lain sebagainnya.

3. Ruhaniyat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan


dengan alam metafisik seperti Malaikat, Jin, Iblis, Syetan, Roh dan lain
sebagainya.
4. Sam’iyyat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa
diketahui lewat Sam’i (dalil naqli berupa Al-Qur’an dan Sunnah) seperti alam
barzakh, akhirat, azab kubur, tanda-tanda kiamat, surga neraka dan lain
sebagainy.

Di samping sistimatika di atas, pembahasan aqidah bisa juga mengikuti


sistimatika arkanul iman (rukun iman) yaitu:
1. Iman Kepada Allah Swt

2. Iman kepada Malaikat (termasuk juga makhluk ruhani lain seperti Jin,
Iblis dan Syetan).

3. Iman Kepada Kitab-Kitab Allah.

4. Iman Kepada Nabi dan Rasul

5. Iman Kepada Hari Akhir.

6.  Iman Kepada Takdir Allah

1.4. kaidah dari aqidah

 apa yang sauya dapat dengan indera saya, saya yakin adanya, kecualian
bila akal saya mengatakan “tidak” berdasarkan pengalaman masa lalu.
Misalnya, bila saya untuk pertama kali melihat sepotong kayu dalam gelas
berisi air putih kelihatan bengkok, atu melihat genangan air ditenga jalan
tentu saja saya akan memberikan hal itu.

 Keyakinan di samping diperoleh dengan menyaksikan langsung, juga bias


melalui berita yang diyakini kejujuran si pembawa berita.  Banyak hal yang
memang tidak atau belum kita saksikan sendiri tapi kita meyakini adanya.
Misalnya anda belum pernah ke Thailand, Afrika atau Yaman, tapi anda
meyakini bahwa negeri-negeri tersebut ada. Atau tentang fakta sejarah,
tentang Daulah Abbasiyah, Umayyah atau tentang kerajaan Majapahit,
dan lain-lain, anda meyakini kenyataan sejarah itu berdasarkan berita
yang anda terima dari sumber yang anda percaya.

 Anda tidak berhak memungkiri wujudnya sesuatu, hanya karena anda


tidak bisa menjangkaunya dengan indera anda. Kemampuan alat indera
memang sangat terbatas. Telinga tidak bisa mendengar suara semut dari
jarak dekat sekalipun, mata tidak bisa menyaksikan semut dari jarak jauh.
Oleh karena itu, seseorang tidak bisa memungkiri wujudnya sesuatu
hanya karena inderanya tidak bisa menyaksikannya.

 Seseorang hanya bisa menghayalkan sesuatu yang sudah pernah


dijangkau oleh inderanya. Khayal manusiapun terbatas. Anda tidak akan
bisa menghayalkan sesuatu yang baru sama sekali. Waktu anda
menghayalkan kecantikan seseorang secara fisik, anda akan
menggabungkan unsur-unsur kecantikan dari banyak orang yang sudah
pernah anda saksikan.

 Akal hanya bisa menjangkau hal-hal yang terikat dengan ruang dan
waktu.Tatkala mata mengatakan bahwa tiang-tiang listrik berjalan waktu
kita menyaksikannya lewat jendela kereta api akal dengan cepat
mengoreksinya. Tapi apakah akal bisa memahami dan menjangkau
segala sesuatu? Tidak. Karena kemampuan akalpun terbatas. Akal tidak
bisa menjangkau sesuatu yang tidak terikat dengan ruang dan waktu.

 Iman adalah fithrah setiap manusia. Setiap manusia memiliki fithrah


mengimani adanya Tuhan. Pada saat seseorang kehilangan harapan
untuk hidup, padahal dia masih ingin hidup, fithrahnya akan menuntun dia
untuk meminta kepada Tuhan. Misalnya bila anda masuk hutan, dan
terperosok ke dalam lubang, pada saat anda kehilangan harapan untuk
bisa keluar dari lubang tiu, anda akan berbisik “Oh Tuhan!”

 Kepuasan materil di dunia sangat terbatas. Manusi tidak akan pernah


puas secara materil. Seorang yang belum punya sepeda ingin punya
motor dan seterusnya sampai mobil, pesawat dan lain-lain. Bila keinginan
tecapai maka akan berubah menjadi suatu yang “biasa”, tidak ada rasa
kepuasan pada keinginan manusia itu ingin lebih dari apa yang sudah di
dapatnya secara materil.dan keinginan manusia akan dipuaskan secara
hakiki di alam sesudah duni ini.

  Keyakinan tentang hari akhir adalah konsekuensi logis dari keyakinan


tentang adanya Allah. Jika anda beriman kepada Allah, tentu anda
beriman dengan segala sifat-sifat Allah, termasuk sifat Allah Maha Adil.
Kalau tidak ada kehidupan lain di akhirat, bisakah keadilan Allah itu
terlaksana? Bukankah tidak semua penjahat menanggung akibat
kejahatannya di dunia ini? Bukankah tidak semua orang yang berbuat
baik merasakan hasil kebaikannya?. Bila anda menonton film, ceritanya
belum selesai tiba-tiba saja dilayar tertulis kalimat “Tamat”, bagaimana
komentar anda? Oleh sebab itu, iman anda dengan Allah menyebabkan
anda beriman dengan adanya alam lain sesudah alam dunia ini yaitu Hari
Akhir.

1.5. fungsi dan peran aqidah


Aqidah adalah dasar, fondasi untuk mendirikan bangunan. Semakin tinggi
bangunan yang akan didirikan harus semakin kokoh pula fondasi yang dibuat.
Kalau fondasinya lemah bangunan itu akan cepat ambruk. Kalau ajaran Islam
kita bagi dalam sistimatika Aqidah Ibadah Akhlak dan Mu’amalat, atau Aqidah
Syari’ah dan Akhlak, atau Iman Islam dan Ihsan, maka ketiga/keempat aspek
tersebut tidak bisa dipisahkan sama sekali. Satu sama lain saling terkait.
Seseorang yang memiliki aqidah yang kuat, pasti akan melaksanakan ibadah
dengan tertib, memiliki akhlak yang mulia dan bermu’amalat dengan baik. Ibadah
seseorang tidak akan diterima oleh Allah swt kalau tidak dilandasi dengan
aqidah. Misalnya orang nonmuslim memberi beras kepada seorang yang miskin,
amal ibadah orang itu nilainya NOL di hadapan Allah, Allah tidak menerima
ibadahnya karena orang itu tidak punya landasan aqidah.

1.6. Alirsn Aqidah Islam

Aliran Mu’tazilah lahir kurang lebih + 120 H.pada abad permulaan kedua hijriah
di kota Basyrah dan mampu bertahan sampai sekarang, karena paham ini
mampu menyusup ke dalam masyarakat Islam di Barat dan di Timur bahkan
sampai ke Indonesia.

Pokok-pokok pendirian mu’tazillah setiap orang yang memeluk aliran mu’tazillah


diharusan untuk memegang kepada lima ajaran :

a. Tauhid (Ke-Esaan)
b. Al-Adlu (Keadilan )
c. Wal-wal Wa’id (Janji dan Acaman)
d. Al-Manzilah Bainal Manziladaini (tempat diantara dua)
e. Amar Ma’rup Nahi Munkar (Menyuruh krbaikan dan melarang kejelekan)

Ahli sunnah dan jama’ah ini kelihatannya timbul sebagaireaksi terhadap paham-
paham glongan mu’tazilah yang telah dijelaskan sebelumnya dan terhadap sikap
mereka dalam menyiarkan ajaran-ajaran itu. Aliran ini terdiri dari beberapa
ajaran, diantaranya :
1. Ajaran-Jaran Al-asy’ariyah
2. Ajaran Maturi

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Demikian yang dapat penyusun paparkan mengenai materi yang menjadi


pokok bahasa dalam makalah ini, penyusun menyimpulkan masih banyak
kekurangan dan kelemahannya karena terbatasnya pengetahuan dan
kurangnya rujukan atau regenerasi yang ada hubungannya dengan judul
makalah ini. Dalam keseluruhan bangunan Islam, aqidah dapat diibaratkan
sebagai fondasi. Di mana seluruh komponen ajaran Islam tegak di atasnya.
Aqidah merupakan beberapa prinsip keyakinan. Dengan keyakinan itulah
seseorang termotivasi untuk menunaikan kewajiban-kewajiban agamanya.
Karena sifatnya keyakinan maka materi aqidah sepenuhnya adalah informasi
yang disampaikan oleh Allah Swt. melalui wahyu kepada nabi-Nya,
Muhammad Saw.

Pada hakikatnya filsafat dalam bahasan aqidah tetap bersumber pada Al-
Qur’an dan Sunnah. Allah menganugerahkan kebijakan dan kecerdasan
berfikir kepada manusia untuk mengenal adanya Allah dengan
memperhatikan alam sebagai bukti hasil perbuatan-Nya Yang Maha Kuasa.
Hasil perbuatan Allah itu serba teratur, cermat dan berhati-hati.

Sumber aqidah Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Akal pikiran tidaklah
menjadi sumber aqidah, tetapi hanya berfungsi memahami nash-nash yang
terdapat dalam kedua sumber tersebut dan mencoba –kalau diperlukan –
membuktikan secara ilmiah kebenaran yang disampaikan Al-Qur’an dan
Sunnah. Itupun harus didasari oleh suatu kesadaran bahwa kemampuan akal
sangat terbatas. Sesuatu yang terbatas/akal tidak akan mampu menggapai
suatu yang tidak terbatas. Jadi aqidah berfungsi sebagai ruh dari kehidupan
agama, tanpa ruh/aqidah maka syari’at/jasad kita tidak ada guna apa-apa.

DAFTAR PUSTAKA
https://www.academia.edu/5091277/Makalah_Agama_Islam_Corak_Akidah_Dalam_Kehidupan_Disusu
n_oleh

https://mananjumati.wordpress.com/2014/09/13/makalah-konsep-aqidah-dalam-islam/

http://seputarpengertian.blogspot.com/2014/08/pengertian-dan-tujuan-akidah.html

Buku membangun etika islam dalam kehidupan