Anda di halaman 1dari 16

CRITICAL BOOK REVIEW

SISTEM SARAF

DOSEN PENGAMPU :

WIDYA NINGSIH, M.Pd

OLEH :

JESIKA VANNY L. R. SITANGGANG

4183341026

PENDIDIKAN BIOLOGI DIK D 2018

PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena berkat-Nya
saya dapat menyelesaikan critical book review ini tepat pada waktunya. Saya juga mengucapkan
terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Anatomi Fisiologi Manusia atas bimbingan
dan nasehatnya dalam menyelesaikan makalah ini.

Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan dan
masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, saya mengharapkan kritik, saran dan usulan demi
perbaikan yang akan saya buat di masa yang akan datang.

Akhir kata saya ucapkan terima kasih. Semoga makalah ini bermanfaat dan dapat
menambah ilmu pengetahuan bagi pembaca.

Medan, April 2020

Penulis
DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

Bab I : Pendahuluan
A. Latar Belakang.............................................................................................................
B. Tujuan..........................................................................................................................
C. Manfaat........................................................................................................................

Bab II : Pembahasan
A. Identitas Buku..............................................................................................................
B. Ringkasan Buku...........................................................................................................

Bab III : Penutup


A. Kelebihan Buku...........................................................................................................
B. Kelemahan Buku..........................................................................................................
C. Kesimpulan...................................................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Cara manusia bertindak dan bereaksi bergantung pada pemrosesan neuron yang rumit,
tersusun, dan diskret. Banyak dari pola neuron penunjang kehidupan dasar, misalnya pola yang
mengontrol respirasi dan sirkulasi, serupa pada semua orang. Namun, tentu ada perbedaan halus
dalam integrasi neuron antara seseorang yang merupakan komponis berbakat dan orang yang
tidak dapat bernyanyi, atau antara seorang pakar matematika dan orang yang kesulitan membagi
bilangan. Sebagian perbedaan pada sistem saraf individu disebabkan oleh factor genetik. Namun
sisanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan pengalaman. Ketika sistem saraf imatur
berkembang sesuai cetak-biru genetiknya, terbentuk neuron dan sinaps dalam jumlah berlebihan.
Bergantung pada rangsangan dari luar, dan tingkat pemakaiannya, sebagian dari jalur – jalur
saraf ini dipertahankan, dibentuk lebih pasti, dan bahkan meningkat, sementara yang lain
dieliminasi.

Sistem saraf merupakan salah satu bagian yang menyusun sistem koordinasi yang bertugas
menerima rangsangan, menghantarkan rangsangan ke seluruh bagian tubuh, serta memberikan
respons terhadap rangsangan tersebut. Pengaturan penerima rangsangan dilakukan oleh alat
indera. Pengolah rangsangan dilakukan oleh saraf pusat yang kemudian meneruskan untuk
menanggapi rangsangan yang datang dilakukan oleh sistem saraf dan alat indera.

B. TUJUAN
1. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah
2. Memahami materi mengenai Sistem Saraf

C. MANFAAT

Meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam hal berfikir kritis dan memahami materi
tentang Sistem Saraf.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Identitas Buku
Buku Utama
A. Judul : Bologi SMA
B. Penutis : Yusa Manickam Bala Subra Maniam
C. Edisi : Revisi 2016
D. Penerbit : grafindo Media Pratama
E. Tahun terbit : 2016
F. Tempat terbit : Bandung
G. Jumlah halaman: 276 Halaman
H. 1SBN : 978-602-04-4773-7

Buku Pembanding
A. Judul Buku : Neuroanatomi Susunan Saraf Pusat dan Saraf Kranial
B. Pengarang : dr. Poppy Kristina Sasmita, SpS,. M.Kes, PA
C. Penerbit : Universitas Indonesia Atma Jaya
D. Tahun Terbit : 2020
E. Kota Terbit : Jakarta
F. Tebal Buku : 144 Halaman
G. ISBN : 6237247009, 9786237247005
B. Ringkasan Isi Buku
1. Ringkasan Isi Buku Utama
Sistem regulasi (koordinasi) terdiri atas sistem saraf, alat indra, dan sistem endokrin
(hormon). Ketiga sistem tersebut berkaitan erat dalam mengatur kegiatan tubuh kita.

A. Sistem Saraf

Sistem Saraf mengontrol dengan mengubah impuls (rangsangan) menjadi muatan listrik
pada membran sel saraf (neuron). Pada manusia, sistem saraf mempunyai tiga fungsi penting,
yaitu

Merasakan perubahan-perubahan di dalam dan di luar tubuh.

Menginterpretasikan perubahan-perubahan tersebut, dan

Menjawab (merespons) terhadap perubahan tersebut dalam bentuk kontraksi otot atau sekresi
kelenjar.

Sistem saraf sangat kompleks, tetapi hanya terdiri atas dua jenis sel, yaitu

neuron berfungsi sebagai penghantar impuls atau rangsangan dan untuk melakukan fungsi-fungsi
khusus, seperti berpikir, mengonrol kontraksi otot, dan sekresi kelenjar.

Neuroglia berfungsi menyokong dan memproteksi sistem saraf, serta mengikat satu neuron
dengan neuron lainnya. Bersama pembuluh darah, neuroglia membentuk selubung mielin dan
memfagosit (memakan) jaringan yang rusak dan mikroba. Sel saraf (neuron) terdiri atas tiga
bagian, yaitu badan sel, dendrit, dan akson (neurit).

Informasi yang merambat pada serabut saraf disebut impuls. Rambatan ini dapat terjadi
karena adanya loncatan yang disebabkan adanya celah antara sel saraf satu dengan sel lainnya
yang disebut sinapsis.

Dengan mikroskop elektron, pada sinaps dapat dilihat adanya mitokondria dan gelembung-
gelembung sinapsis yang diduga berisi zat kimia tertentu yang disebut neurotransmitter atau
neurohumor yang memegang peranan penting dalam merambatkan impuls ke sel saraf lain.
Neurotransmitter ini berdifusi menyeberangi celah sinaps menuju membran possinapsis yang
terdapat pada sel saraf lain sehingga terjadi potensial kerja. Berkurangnya neurotransmitter
dopamin dapat menyebabkan penyakit parkinson.

Secara fungsional terdapat tiga macam saraf, yaitu sebagai berikut.

Saraf sensorik (saraf aferen), yaitu saraf yang membawa rangsang dari reseptor (alat penerima
rangsang). Misalnya, dari kulit, mata, telinga, dan alat dalam menuju ke saraf pusat (otak dan
sumsum tulang belakang). Saraf motorik (saraf eferen), yaitu saraf yang membawa rangsang dari
saraf pusat ke efektor. Misalnya, ke otot dan kelenjar. Saraf konektor (asosiasi/penghubung),
yaitu saraf yang menghubungkan sel saraf sensorik dengan sel saraf motorik. Sel saraf ini
terdapat pada otak dan sumsum belakang.

Sumber : Biologi
Sistem saraf manusia bisa jadi merupakan kumpulan materi yang diorganisasikan paling
rumit di Bumi ini. Satu sentimeter kubik otak manusia bisa mengandung 50 juta lebih sel saraf,
yang masing-masing bisa berkomunikasi dengan ribuan neuron lainnya dalam jaringan kerja
pengolahan informasi yang membuat computer paling rumit sekalipun paling primitive. Jalur-
jalur saraf ini mengontrol setiap persepsi dan pergerakan kita dan membuat kita mampu belajar,
mengingat, berpikir, dan menjadi sadar akan lingkungan kita sendiri dan lingkungan kita.

 Gambaran Umum Sistem Saraf

Sistem saraf analog dengan jaringan telepon, persambungan saraf yang rumit sama seperti
sistem kabel, dan otak berfungsi sebagai stasiun control pusat yang begitu kompleks. Dengan
mempelajari struktur sel dan fungsinya, makak banyak hal dapat dipelajari mengenai mekanisme
kerja sistem saraf. Dasar fungsional sistem saraf adalah kombinasi sinyal listrik dan kimiawi
yang membuat sel-sel saraf (neuron) mampu berkomunikasi dengan yang lain.

Sistem saraf mempunyai tiga fungsi yang saling tumpang-tindih, yaitu input sensoris,
integrasi, dan output motoris

Secara umum, sistem saraf mempunyai 3 fungsi yang saling tumpah-tindih : input sensoris
adalah penghantar atau konduksi sinyal dari reseptor sensoris, misalnya sel-sel pendeteksi cahaya
di mata, ke pusat integrasi. Integrasi adalah proses penerjemahan informasi yang berasal dari
stimulasi reseptor sensoris oleh lingkungan, kemudian dihubungkan dengan respon tubuh yang
sesuai. Sebagian besar integrasi dilakukan dalam sistem saraf pusat (SSP atau central nervous
system, CNS), yaitu otak dan sumsum tulang belakang (pada vertebrata). Output motoris adalah
penghantaran sinyal dari pusat integrasi, yaitu SSP ke sel-sel efektor (effector cells), sel-sel otot
atau sel kelenjar yang mengaktualisasikan respon tubuh terhadap stimulus tersebut. Sinyal
tersebut dihantarkan oleh saraf (verve), berkas mirip tali yang berasal dari penjuluran neuron
yang terbungkus ketat dalam jaringan ikat. Sinyal yang menghubungkan sinyal motoris dan
sensoris antara sistem saraf pusat dan bagian tubuh lain secara bersamaan disebut sistem saraf
tepi (SST atau peripheral nervous system, PNS). Dari reseptor ke efektor, informasi
dikomunikasikan dari reseptor ke efektor dalam satu saraf dari neuron ke neuron berikutnya
melalui kombinasi sinyal listrik dan sinyal kimiawi.

Sistem saraf merupakan sistem koordinasi atau sistem kontrol yang bertugas menerima
rangsangan, menghantarkan rangsangan ke semua bagian tubuh, dan sekaligus memberikan
tanggapan terhadap rangsangan tersebut. Rangsangan yang diterima oleh saraf dapat berasal dari
luar (eksteroseptor), misalnya bau, rasa, setuhan, cahaya, suhu, tekanan, atupun gaya berat.
Rangsangan dari luar tubuh (interoseptor) dapat berupa rasa kenyeng, lapar, haus, nyeri,
kelelahan.

Struktur dan fungsi sel saraf

Setiap sel saraf atau neuron terdiri atas tiga bagian utama sebagai berikut:

a) Dendrit adalah serabut saraf pendek yang bercabang-cabang dengan ukuran dan bentuk
yang berbeda-beda. Dendrit berfungsi untuk menerima impuls (rangsangan) dari ujung
akson neuron lain, kemudian impuls tersebut dibawa menuju badan sel. Misalnya, berupa
rasa nyeri dari reseptor tekanan pada kulit.
b) Badan sel merupakan bagian neuron yang berukuran besar. Didalam badan sel terdapat
nucleus, sitoplasma, ribosom, mitokondria, retikulum endoplasma, dan badan golgi.
Jumlah impuls yang berasal dari dendrit menentukan apakah rangsangan total akan
mendatangkan respons. Jika rangsangan total cukup kuat dan melebihi ambang resistensi,
impuls akan diteruskan ke akson.
c) Akson merupakan bagian neuron yang berukuran panjang dan berfungsi melanjutkan
penghantaran impuls dari badan sel menuju ke neuron lain atau ke otot atau kelenjar. Sel
schwann merupakan neuron. Sel schwann menghasilkan myelin. Selama perkembangan
sel schwann berasosiasi dengan akson membentuk selubung myelin. Selubung myelin
terdiri dari beberapa lapisan lemak dan membungkus akson, dan akson yang tidak
dibungkus oleh myelin sisebut nodus ranvier.

Macam-macam neuron

Berdasarkan fungsinya, sel saraf dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu neuron sensorik,
neuron motorik, dan neuron asosiasi atau interneuron.

a) Neuron sensorik (Neuron Aferen) adalah neuron yang berfungsi menghantarkan


impuls-impuls saraf dari reseptor sensorik ke sistem saraf pusat. Pada neuron
sensorik, dendrit berhubungan dengan reseptor (misalnya kulit) dan akson
berhubungan dengan dendrit neuron yang lain.
b) Neuron motorik (Neuron Efektor) adalah neuron yang berfungsi menghantarkan
impuls-impuls saraf berhubungan dengan akson neuron lain, sedangkan akson
berhubungan dengan efektor (otot dan kelenjar). Selanjutnya, efektor akan bereaksi
sebagai bentuk tanggapan terhadap perubahan-perubahan dalam lingkungan
(rangsangan).
c) Neuron asosiasi (Interneuron) adalah neuron yang berfungsi memadukan neuron
sensorik dan neuron motorik. Neuron asosiasi menerima input dari neuron sensorik
yang yang berasal dari sistem saraf pusat. Selanjutnya neuron asosiasi mengeluarkan
output ke neuron motorik. Berdasarkan tempatnya neuron asosiasi dibedakan
menjadi dua yaitu neuron konektor(penghubung antara neuron yang satu dan neuron
lain) dan neuron adjustor (pengubung antara neuron sensorik dan neuron motorik
yang terdapat dalam otak dan sumsum tulang belakang).

Susunan sistem saraf

Sistem saraf terdiri dari dua bagain yaitu sistem saraf pusat yang terdiri dari otak dan
sumsum tulang belakang dan sistem saraf tepi. Sistem saraf tepi terdiri dari semua saraf kecuali
otak dan sumsum tulang belakang. Pada manusia, sistem saraf tepi terdiri dari 12 pasang saraf
kranial yang menyampaikan dari otak menuju kepala dan tubuh bagian atas.

Selain saraf kranial, sitem saraf tepi terdiri dari 31 pasang saraf spinal yang bercabang
keluar dari sumsum tulang belakang menuju keseluruh tubuh. Neuron sensori pada sitem saraf
tepi membantu menjaga hemostasis melalui koordinasi fungsi organ dalam informasi sensori
pada sitem sara pusat. Neuron motoris pada sistem saraf tepi memungkinkan organisme
merespon lingkungan dengan kontraksi otot atau kelenjar.

Ringkasan Isi Buku Pembanding

Sumber : Neuroanatomi Susunan Saraf Pusat dan Saraf Kranial


 Susunan Sistem Saraf
Susunan sistem saraf terbagi secara anatomi yang terdiri dari saraf pusat (otak dan medula
spinalis) dan saraf tepi (saraf kranial dan spinal) dan secara fisiologi yaitu saraf otonom dan saraf
somatic.
Sistem Saraf Pusat
Susunan saraf pusat (SSP) yaitu otak (ensefalon) dan medula spinalis, yang merupakan pusat
integrasi dan kontrol seluruh aktifitas tubuh. Bagian fungsional pada susunan saraf pusat adalah
neuron akson sebagai penghubung dan transmisi elektrik antar neuron, serta dikelilingi oleh sel
glia yang menunjang secara mekanik dan metabolik.

Otak
Otak merupakan alat tubuh yang sangat penting dan sebagai pusat pengatur dari segala
kegiatan manusia yang terletak di dalam rongga tengkorak. Bagian utama otak adalah otak besar
(cerebrum), otak kecil (cereblum) dan otak tengah. Otak besar merupakan pusat pengendali
kegiatan tubuh yang disadari. Otak besar ini dibagi menjadi dua belahan, yaitu belahan kanan
dan kiri. Tiap belahan tersebut terbagi menjadi 4 lobus yaitu frontal, parietal, okspital, dan
temporal. Sedangkan disenfalon adalah bagian dari otak besar yang terdiri dari talamus,
hipotalamus, dan epitalamus. Otak belakang/ kecil terbagi menjadi dua subdivisi yaitu
metensefalon dan mielensefalon. Metensefalon berubah menjadi batang otak (pons) dan
cereblum. Sedangkan mielensefalon akan menjadi medulla oblongata. Otak tengah/ sistem limbic
terdiri dari hipokampus, hipotalamus, dan amigdala.
Pada otak terdapat suatu cairan yang dikenal dengan cairan serebrospinalis. Cairan
cerebrospinalis ini mengelilingi ruang sub araknoid disekitar otak dan medula spinalis. Cairan ini
juga mengisi ventrikel otak. Cairan ini menyerupai plasma darah dan cairan interstisial dan
dihasilkan oleh plesus koroid dan sekresi oleh sel-sel epindemal yang mengelilingi pembuluh
darah serebral dan melapisi kanal sentral medula spinalis. Fungsi cairan ini adalah sebagai
bantalan untuk pemeriksaan lunak otak dan medula spinalis, juga berperan sebagai media
pertukaran nutrien dan zat buangan antara darah dan otak serta medula spinalis.

Medula Spinalis (Sumsum tulang belakang)


Sumsum tulang belakang terletak memanjang di dalam rongga tulang belakang, mulai dari
ruas-ruas tulang leher sampai ruas-ruas tulang pinggang yang kedua. Sumsum tulang belakang
terbagi menjadi dua lapis yaitu lapisan luar berwarna putih (white area) dan lapisan dalam
berwarna kelabu (grey area). Lapisan luar mengandung serabut saraf dan lapisan dalam
mengandung badan saraf. Di dalam sumsum tulang belakang terdapat saraf sensorik, saraf
motorik dan saraf penghubung. Fungsinya adalah sebagai penghantar impuls dari otak dan ke
otak serta sebagai pusat pengatur gerak refleks
Sistem Saraf Tepi
Susunan saraf tepi (SST) yaitu saraf kranial dan saraf spinalis yang merupakan garis
komunikasi antara SSP dan tubuh . SST tersusun dari semua saraf yang membawa pesan dari dan
ke SSP. Berdasarkan fungsinya SST terbagi menjadi 2 bagian yaitu:
a) Sistem Saraf Somatik (SSS)
Sistem saraf somatik terdiri dari 12 pasang saraf kranial dan 31 pasang saraf spinal. Proses
pada saraf somatik dipengaruhi oleh kesadaran.
1. Saraf kranial
12 pasang saraf kranial muncul dari berbagai bagian batang otak. Beberapa dari saraf
tersebut hanya tersusun dari serabut sensorik, tetapi sebagian besar tersusun dari serabut
sensorik dan motorik. Kedua belas saraf tersebut dijelaskan pada.
2. Saraf spinal
Ada 31 pasang saraf spinal berawal dari korda melalui radiks dorsal (posterior) dan
ventral (anterior). Saraf spinal adalah saraf gabungan motorik dan sensorik, membawa
informasi ke korda melalui neuron aferen dan meninggalkan melalui eferen. Saraf spinal
diberi nama dan angka sesuai dengan regia kolumna vertebra tempat munculnya saraf
tersebut.

Sistem Saraf Otonom (SSO)


Sistem saraf otonom mengatur jaringan dan organ tubuh yang tidak disadari. Jaringan dan
organ tubuh yang diatur oleh sistem saraf otonom adalah pembuluh darah dan jantung. Sistem ini
terdiri atas sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik. Fungsi dari kedua sistem saraf
ini adalah saling berbalikan.
SST berdasarkan divisinya juga dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1. Divisi sensori (afferent) yaitu susunan saraf tepi dimulai dari receptor pada kulit atau
otot (effector) ke dalam pleksus, radiks, dan seterusnya kesusunan saraf pusat. Jadi
besifat ascendens.
2. Divisi motorik (efferent) yang menghubungkan impuls dari SSP ke effector (Muscle and
Glands) yang bersifat desendens untuk menjawab impuls yang diterima dari reseptor di
kulit dan otot dari lingkungan sekitar
BAB III
PENUTUP

A. Kelemahan

1.Buku Pertama (Biologi)


Adapun kelemahan dari buku “Biologi” yaitu terdapat kata-kata yang memiliki makna
yang ambigu dan beberapa kata penulisannya salah, juga cover depan buku terlihat tidak terlalu
menarik.

2.Buku Kedua (Neuroanatomi Susunan Saraf Pusat dan Saraf Kranial)


Adapun kelemahan yang terdapat di dalam buku ini yaitu, latihan soal yang terdapat pada
setiap bab jumlahnya sangat banyak. Alangkah lebih baik jika latihan soal yang disediakan pada
setiap bab tidak sebanyak itu, atau latihan yang disediakan dalam jumlah yang sesuai.

B. Keunggulan

1.Buku Pertama (Biologi)


Buku ini sangat bagus dan cocok untuk dijadikan buku referensi pembelajaran mahasiswa
di perguruan tinggi. Buku ini juga menyediakan soal pada setiap bab, sehingga lebih
memudahkan pemahaman materi yang telah dipelajari pada setiap bab. Di dalam buku ini juga
terdapat latihan soal yang terdapat pada setiap bab, sehingga latihan tersebut dapat mengasah
kemampuan mahasiswa dan dapat diajadikan sebagai tolak ukur sejauh mana mahasiswa tersebut
telah memahami materi yang telah dipelajari sebelumnya.

2.Buku Kedua (Neuroanatomi Susunan Saraf Pusat dan Saraf Kranial)


Kelebihan dari buku ini yaitu di dalam buku membahas tema/topik yang sangat penting
bagi mahasiswa. Tema atau topik yang dibahas di dalam buku ini sangat berguna bagi
mahasiswa untuk menulis dan membuat makalah serta proposal penelitian. Bahasa yang
digunakan adalah bahasa yang sederhana, tidak rumit dan tidak berbelit-belit sehingga sangat
mudah dipahami. Dalam setiap pembahasan atau penjelasan, tertera contoh soal yang semakin
memudahkan mahasiswa untuk mengerti tentang tema atau topik yang telah dijelaskan.
Penjelasan pada setiap tema atau topik sangat sederhana sehingga sangat mudah dipahami.
Dalam setiap bab terdapat lembar kegiatan atau lembar kerja mahasiswa untuk menjawab latihan
atau soal setelah pembelajaran satu bab selesai.Ukuran buku ini juga relatif kecil dan tidak besar
sehingga lebih memudahkan mahasiswa untuk membawa buku ini kemanapun.
C. Kesimpulan

Sistem saraf adalah suatu jaringan saraf yang kompleks, sangat khusus dan saling
berhubungan satu dengan lainnya. Sistem saraf mengkoordinasi, menafsirkan serta mengontrol
interaksi antara individu dengan lingkungan. Sistem tubuh yang penting ini juga mengatur
aktivitas sistem-sistem lainnya di dalam tubuh, sehingga terjalinlah komunikasi antar berbagai
sistem tubuh sehingga tubuh dapat berfungsi sebagai unit yang harmonis.

Sistem saraf terdiri dari jutaan sel saraf yang sering disebut dengan neuron. Neuron
dikhususkan untuk menghantarkan dan mengirimkan pesan (impuls) yang berupa rangsangan
atau tanggapan. Setiap satu sel saraf (neuron) terdiri atas bagian utama berupa badan sel saraf,
dendrit, dan akson.