Anda di halaman 1dari 80

PENGARUH FREE CASH FLOW, PROFITABILITAS, KEPEMILIKAN

INSTITUSIONAL DAN STRUKTUR ASET TERHADAP KEBIJAKAN


HUTANG

Usulan Penelitian Skripsi


Untuk memenuhi sebagai persyaratan
Mencapai derajat Sarjana S1
Program Studi Akuntansi

Disusun Oleh :
NILTA MANZILAH
Nim : 31401606496

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG


FAKULTAS EKONOMI PROGRAM STUDI AKUNTANSI
SEMARANG
2020
2

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perusahaan perlu memperkuat fundamental manajemennya untuk dapat

bersaing dengan perusahaan kompetitor di jaman yang semakin berkembang

menuju arah globalisasi. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah dengan

melakukan berbagai macam inovasi, perbaikan kinerja perusahaan serta

melakukan perluasan usaha sebagai cara untuk dapat bertahan dalam persaingan

bisnis sehingga kemakmuran yang dicapai perusahaan juga semakin meningkat

sesuai dengan tujuan perusahaan. Salah satu asset pendukung tujuan tesebut

adalah adanya sumber dana dalam perusahaan.

Setiap perusahaan mempunyai sumber dana yang berasal dari internal dan

eksternal. Sumber dana internal dapat diperoleh dari kegiatan operasi perusahaan

yang terdiri atas modal saham yang disetor, laba yang tidak dibagikan (retained

earning), modal saham biasa dan saham preferen yang disetor pemilik

perusahaan. Sedangkan sumber dana eksternal berasal dari pemilik yang

merupakan komponen modal sendiri dan dana hutang yang bersumber dari

pinjaman para kreditur.

Salah satu sumber pendaan eksternal perusahaan yang dapat dimanfaatkan

disebut sebagai kebijakan hutag. Kebijakan hutang menjadi salah satu sumber

dana alternatif sebagai sumber pendaaan yang berasal dari pihak eksternal yang

bertujuan untuk menimimalkan resiko yang ditanggung akibat dari penggunaan


hutang tersebut.salah satu kelebihan penggunaan hutang adalah perusahaan dapat

melakukan pengurangan pajak dan biaya yang muncul dari hutang relative

sehingga pihak shareholders tidak wajib membagikan keuntungan yang didapat

meskipun bisnis mereka sudah berjalan cukup baik. Namun kelemahan

penggunaan dana hutang adalah proporsi hutang yang terlalu tinggi secara

otomatis akan menambah beban atau risiko yang akan ditanggung oleh

perusahaan juga menjadi semakin tinggi. Kondisi ini dapat mengakibatkan

keuntungan yang diperoleh perusahaan menjadi menurun sehingga perusahaan

tidak dapat melakukan pembayaran beban bunga pada pihak shareholders yang

berakibat pada penurunan nilai perusahaan.

Fenomena yang terkait dengan kebijakan hutang di perusahaan indeks LQ45

pada PT Waskita Karya Tbk (WSKT), perusahaan ini mencatatkan peningkatan

jumlah hutang yang cukup signifikan pada akhir kuartal III 2016. Total hutang

perusahaan konstruksi ini meningkat 65,41% dari tahun lalu Rp 20,6 triliun

menjadi Rp 34,09 triliun. PT Waskita Karya Tbk (WSKT) mengalami

penambahan hutang yang merata baik pada hutang jangka panjang dan hutang

jangka pendek. Dana tersebut berasal dari bank pemerintah dan juga bank swasta

dengan bunga sekitar 9,5% sampai 10,5%.

Meskipun hutangnya bertambah, tetapi PT Waskita Karya Tbk juga

berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan di akhir September.

Pendapatan perusahaan tumbuh 88,22% dari Rp 7,44 triliun menjadi Rp 14,01

triliun sedangkan perolehan laba bersih tumbuh 133,46% dari Rp 400 miliar

menjadi Rp 934,52 miliar. Berdasarkan fenomena tersebut dapat disimpulkan


bahwa perusahaan memerlukan penambahan hutang guna membantu operasional

perusahaan dengan demikian kebijakan hutang menjadi sangat penting sebagai

kemampuan perusahaan dalam mengembalikan hutangnya kepada kreditor.

(Jakarta, Kompas.com)

Ahyuni, dkk., (2018) menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang

mempengaruhi kebijakan hutang diantaranya yaitu free cash flow yang dimiliki

oleh perusahaan, profitabilitas perusahaan dihitung menggunakan proksi Return

On Assets (ROA) yang digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah laba

yang dihasilkan oleh perusahaan dalam periode tertentu dan kepemilikan

institusional.

Kebijakan hutang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi free

cash flow. Free cash flow adalah kas lebih yang dimiliki perusahaan yang

didistribusikan pada pihak kreditor atau investor saham yang tidak diperlukan

sebagai modal kerja atau investasi pada aset, dengan kata lain free cash flow dapat

digunakan untuk membayar hutang yang dimiliki oleh perusahaan. Semakin besar

free cash flow yang tersedia maka semakin besar kemampuan perusahaan untuk

membayar hutangnya. Beberapa hasil penelitian yang menyatakan free cash flow

signifikan positif terhadap kebijakan hutang (Linda, dkk., 2017; Fitriyah &

Hidayat, 2011; Putra, 2017) yang menyatakan bahwa perusahaan dengan arus kas

yang semakin bebas akan meningkatkan kebutuhan pendanaan eksternal yang

digunakan untuk aktivitas operasionalnya. Berbeda dengan penelitian (Zuhria,

2016; Safitri & Asyik, 2015; Ramadhani & Barus, 2018) yang menyatakan bahwa

arus kas bebas (free cash flow) negative signifikan pada kebijakan hutang
perusahaan karena arus kas bebas yang besar maka perusahaan tidak perlu

menggunakan dana dari hutang.

Faktor kedua yang berpengaruh pada kebijakan hutang adalah profitabilitas.

Profitabilitas menunjukan kemampuan perusahaan mencari keuntungan dari

kegiatan penjualan pada periode tertentu. Profitabilitas juga mencerminkan

pertumbuhan perusahaan di masa mendatang sehingga dapat menarik minat

investor untuk menginvestasikan dana pada perusahaan. Profitabilitas perusahaan

yang tinggi dapat menarik minat investor untuk menanamkan saham di

perusahaan tersebut. Dengan demikian perolehan profitabilitas yang tinggi

membuat perusahaan tidak bergantung pada banuan dana dari pihak eksternal.

Menurut penelitian Mardiyati, dkk., (2014) menyatakan bahwa profitabilitas

negatif signifikan terhadap kebijakan hutang perusahaan karena perusahaan

dengan tingkat pengembalian aset yang tinggi tidak memerlukan pendanaan yang

bersumber dari pihak eksternal karena dana yang dimiliki oleh pihak internal

masih memadai, sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Putra (2017)

menyatakan bahwa profitabilitas dapat meningkatkan kebijakan hutang yang

artinya perusahaan dengan hasil pengembalian asset yang tinggi akan

meningkatkan hutang karena perusahaan memerlukan dana yang cukup besar dan

sehingga perusahaan tetap bergantung pada dana hutang khususnya dalam sumber

pendanaan yang dimiliki oleh perusahaan.

Faktor ketiga yang mempengaruhi kebijakan hutang adalah kepemilikan

institusional. Kepemilikan institusional merupakan proporsi saham yang dimiliki

pihak institusional pada akhir tahun dengan proksi persentase saham yang dimiliki
oleh investor institusional dalam suatu perusahaan. Kepemilikan institusional

dalam suatu perusahaan bertugas untuk melakukan pengawasan terhadap kinerja

manajemen perusahaan. Berkaitan dengan struktur kepimilikan dalam perusahaan

kepimilikan institusional memiliki pengaruh yang besar dalam menentukan

keputusan pendanaan. Hal ini dikarenakan pemilik institusional mempunyai

kepemilikan atas saham yang lebih besar dalam perusahaan, sehingga pemilik

institusional dapat ikut menentukan keputusan pendanaan terkait kebijakan hutang

yang dapat diambil oleh manajer.

Menurut penelitian (Fitriyah & Hidayat, 2011; Safitri & Asyik, 2015;

Narita, 2012) menyatakan bahwa kepemilikan institusional negatif terhadap

keputusan pengambilan kebijakan hutang. Berbeda dengan penelitian

(Trisnawati, dkk., 2017; Saraswaty & Hermanto, 2016) yang menyatakan bahwa

kepemilikan institusional positif signifikan terhadap kebijakan hutang yang ada

dalam perusahaan.

Berdasarkan pemaparan pada uraian diatas, menunjukan bahwa masih

terdapat hasil penelitian yang berbeda-beda, oleh karena itu penulis tertarik untuk

meneliti lebih lanjut mengenai pengaruh free cash flow, profitabilitas dan

kepemilikan institusional terhadap kebijakan hutang. Penelitian ini mengacu pada

penelitian yang dilakukan oleh Ahyuni, dkk., (2018) dengan menambah satu

variabel yaitu struktur aset sebagai variabel independen guna memprediksi

kebijakan hutang perusahaan.

Struktur aset adalah merupakan gambaran besaran asset tetap yang dimiliki

perusahaan yang menentukan besaran penggunaan hutang. Perusahaan dengan


asset tetap yang besar dapat menggunakan hutang dalam jumlah besar karena

perusahaan mempunyai asset jaminan atas pinjaman mereka. Menurut Puspitasari

& Manik (2016) struktur aset mempunyai pengaruh negatif terhadap kebijakan

hutang. Namun pendapat tersebut tidak sejalan dengan penelitian Linda, dkk.,

(2017) dimana struktur aset positif signifikan terhadap kebijakan hutang.

Penelitian ini dilakukan pada perusahaan yang masuk dalam indeks LQ-45,

karena saham saham emiten yang masuk dalam perhitungan indeks LQ-45

merupakan saham yang aktif dan unggulan (frekuensi, volume dan nilai

kapitalisasinya tinggi) dan masuk dalam kategori blue chips yang diminati oleh

investor dalam melakukan investasi saham di Bursa Efek Indonesia. Oleh karena

itu penulis tertarik untuk mengambil judul Analisis Pengaruh Free Cash Flow,

Profitabilitas, Kepemilikan Institusional dan Struktur Aset terhadap Kebijakan

Hutang pada perusahaan yang tergabung dalam indeks LQ-45 .

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan research gap antara penelitian satu dengan penelitian yang

lain, yang mana hasil penelitian dari Linda, dkk., (2017) menyatakan bahwa free

cash flow signifikan positif terhadap kebijakan hutang. Hasil penelitian ini

berbeda dengan penelitian Zuhria (2016) dimana free cash flow memiliki negatif

signifikan terhadap kebijakan hutang. Variabel profitabilitas dalam penelitian

Mardiyati, dkk., (2014) profitabilitas negatif signifikan pada pengambilan

kebijakan hutang perusahaan, penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Putra

(2017) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan profitabilitas

terhadap kebijakan hutang.


Variabel kepemilikan Institusional dalam penelitian Safitri & Asyik (2015)

menyatakan bahwa kepemilikan institusional negatif signifikan terhadap

kebijakan hutang. Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh

Saraswaty & Hermanto (2016) yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional

signifikan positif terhadap kebijakan hutang. Hasil penelitian dari Mardiyanti,

dkk., (2018) yang menyatakan bahwa struktur aset tidak berpengaruh terhadap

kebijakan hutang. Namun penelitian yang dilakukan Linda, dkk., (2017) didapati

struktur aset signifikan positif terhadap kebijakan hutang. Oleh karena itu,

masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : Bagaimana mengatasi

kesenjangan penelitian mengenai analisis free cash flow, profitabilitas,

kepemilikan institusional dan struktur asset terhadap kebijakan hutang? .

1.3. Pernyataan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut dibentuklah

pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Apakah free cash flow berpengaruh terhadap kebijakan hutang?

2. Apakah profitabilitas berpengaruh terhadap kebijakan hutang?

3. Apakah kepemilikan institusional berpengaruh terhadap kebijakan

hutang?

4. Apakah struktur aset berpengaruh terhadap kebijakan hutang?


1.4. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan diatas, maka tujuan

penelitian ini adalah:

1. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh free cash flow terhadap kebijakan

hutang.

2. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh profitabilitas terhadap kebijakan

hutang.

3. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh kepemilikan institusional terhadap

kebijakan hutang.

4. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh struktur aset terhadap kebijakan

hutang.

1.5. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk berbagai pihak,

diantaranya sebagai berikut :

1. Aspek Akademis (Teoritis)

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai wacana dalam

pengembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang akuntansi keuangan.

2. Aspek Praktis (Operasional)


Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai wacana dalam memberikan

masukan terhadap perusahaan dalam pengambilan keputusan pendanaan dan

untuk mengevaluasi kinerja.


11

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.1. Signaling Theory

Pengertian dari teori sinyal adalah cara yang diambil oleh pihak

manajemen perusahaan dalam memberikan sinyal kepada investor tentang

prospek perusahaan. perusahaan yang mempunyai masa depan yang

menguntungkan akan mengindarkan diri dari kegiatan penjualan sahan dan

menggunakan model baru untuk mendanai kegiatan operasionalnya seperti dengan

penggunaan hutang. Perusahaan yang mempunyai prospek kurang baik akan

mempunyai cenderung menjual saham yang dimilikinya.

Pengumuman yang diberikan emiten saham pada perusahaan dapat

menjadi suatu isyarat bahwa pihak manajemen perusahaan memandang bahwa

perusahaan tersebut mempunyai prospek yang suram karena perusahaan akan

menjual saham yang dimiliki lebih intens dari biasanya, sehingga mengakibatkan

harga saham mereka menjadi turun karena penerbitan saham baru menjadi isyarat

negatif yang akan menekan harga saham dan membuat masa depan perusahaan

menjadi menurun.

Model tentang penggunaan hutang yang dikemukakakn oleh Ross (1977)

merupakan sinyal yang diumumkan oleh manajer kepada pasar modal, apabila

manajer berkeyakinan perusahaan mempunyai prospek yang baik dan harga

saham perusahaan akan mengalami peningkatan maka perusahaan dapat


menyampaikan hal tersebut kepada pihak investor. Pihak manajer dapat

menggunakan hutang dengan lebih banyak sebagai isyarat perusahaan masih

dapat dipercaya. Perusahaan yang melakukan peningkatan hutang akan

dipandang sebagai perusahaan yang dapat dipercaya dan mempunyai prospek baik

dimasa depan. Dasar pertimbangan pihak manajemen penggunaan hutang akan

menyebabkan keterbatasan arus kas yang dapat meningkatkan beban biaya yang

dimiliki perusahaan sehingga pihak manajemen akan menerbitkan hutang baru

yang lebih banyak dengan keyakinan bahwa perusahaan dapat memenuhi

kewajibannya. Investor diharapkan dapat menangkap sinyal dimana perusahaan

akan mempunyai prospek yang lebih baik sehingga penggunaan hutang dapat

menjadi tanda / sinyal positif.

2.1.2. Agency Theory

Perkembangan Agency Theory menurut Jensen & Meckling (1976) tujuan

utama manajemen keuangan suatu perusahaan adalah dengan meningkatkan

kemakmuran pihak pemegang saham. Pihak pemegang saham (principal.)

menyerahkan kekayaanya kepada pihak manajemen yang dianggap profesional

mengelola dana perusahaan. Pihak profesional tersebut dalam perusahaan disebut

sebagai manajemen yang dalam teori keagenan disebut sebagai agent.

Permasalahan agensi tejadi karena pihak manajemen cenderung

mengutamakan kepentitingan pribadi sehinga timbul konflik yang berbeda saat

beraktivitas bersama, konflik keagenan antara principal dengan manajer bisa

terjadi saat perusahaan melakukan keputusan pendanaan dimana pemegang saham

menginginkan sumber pendanaan perusahaan berasal dari hutang dibandingkan


penerbitan saham baru karena hal terseut dapat mengurangi proporsi principal

dalam perusahaan. Sebaliknya, manajemen menginginkan pendanaan dengan

hutang karena penggunaan hutang dengan resiko tinggi. Dalam rangka mengrangi

konflik keagenan perlu ada mekanisme pengawasan yang bertujuan untuk

mensejajarkan kepentingan manajerdengan pihak pemegang saham. Pengawasan

tersebut memerlukan biaya kegaenen (agency cost) yang bertujuan memastikan

pihak manajer berperilaku sudah bertindak konsisten sesuai perjanjian kontrak

perusahaan pihak kreditur dan pemegang saham.

2.1.3. Pecking Order Theory

Pecking Order Theory pertama kali dikemukakan oleh Myers & Majluf

tahun 1984 yang menyatakan bahwa perusahaan lebih cenderung memilih

pendanaan yang berasal dari internal dari pada eksternal perusahaan. Teori ini

menetapkan suatu urutan keputusan pendanaan yang dalam hal ini para manajer

pertama kali akan memilih untuk menggunakan laba ditahan kemudian diikuti

dengan penerbitan ekuitas baru.

Pecking order theory merupakan hirarki pencarian dana perusahaan yang

dalam hal ini perusahaan lebih memilih menggunakan dana internal untuk

mengimplementasikannya sebagai peluang pertumbuhan. Bila perusahaan

membutuhkan dana eksternal maka perusahaan akan memilih hutang dibandingan

dengan penerbitan saham baru. Hal ini karena adanya pertimbangan biaya emisi

obligasi yang lebih murah bila dibandingkan dengan dari biaya emisi saham baru.

Selain itu pihak manajer khawatir dengan penerbitan saham baru akan menjadi

kabar buruk oleh investor sehingga mengakibatkan harga saham menurun. Hal ini
disebabkan adanya informasi asimetrik antara pihak manajemen dengan pihak

pemodal.

2.2. Variabel Penelitian

2.2.1. Kebijakan hutang

Menurut FASB dalam SFAC No.6 (1985) hutang adalah pengorbanan

manfaat ekonomi masa mendatang yang timbul karena kewajiban sekarang untuk

menyerahkan aset atau memberikan jasa kepada entitas lain dimasa mendatang

sebagai akibat dari transaksi masa lalu. Menurut pithaloka (2009) sumber

pendanaan perusahaan yang berasal dari kreditor dan menjadi kewajiban

perusahaan terhadap pihak kreditor yang harus dipenuhi. Hutang adalah sumber

dana eksternal yang digunakan perusahaan untuk kegiatan operasionalnya dan

dalam penggunaannya perusahaan perlu melakukan pertimbangan tentang besar

biaya bunga yang ditimbulkan. Hal ini dikarenakan peningkatan hutang akan

meningkatkan leverage keuangan perusahaan sehingga memicu tingkat

pengembalian deviden terhadap para pemegang saham menjadi tidak pasti

(Pithaloka, 2009).

Hutang perusahaan dapat dibedakan menjadi dua jenis

yaitu :

1. Hutang jangka pendek (short-term debt)

Hutang ini merupakan hutang perusahaan pelunasannya dalam jangka

waktu tidak lebih dari satu tahun atau satu siklus operasi normal perusahaan.

Hutang jangka pendek yang dapat dimiliki perusahaan meliputi: Hutang


dagang, Hutang wesel, Biaya yang masih harus dibayar, Hutang jangka,

Penghasilan yang diterima dimuka (deferred revenue).

2. Hutang jangka panjang (Long-term debt)

Hutang ini merupakan hutang perusahaan yang pelunasannya dalam

jangka waktu lebih dari 1 tahun sejak tanggal neraca dan sumber dana yang

dapa digunakan untuk melunasi hutang jangka panjang yang bukan

bersumber dari aset lancar. Hutang jangka panjang meliputi: Hutang obligasi,

Hutang Hipotik .

Penggunaan pembiayaan dengan hutang mempunyai

kelemahan dan kelebihan tersendiri. Keunggulan pembiayaan

dengan hutang adalah pembayaran hutang dipotong untuk

tujuan pajak sehingga biaya hutang menjadi lebih efektif. Kedua,

pihak pemegang hutang (debtholder) dapat melakukan

pengembalian yang tetap sehingga pemegang saham

(stockholder) tidak mengambil laba pada saat perusahaan dalam

kondisi tidak stabil.

Kebijakan hutang termasuk kebijakan pendanaan yang bersumber dari

eksternal. Menurut Indahningrum & Handayani (2009) kebijakan hutang adalah

merupakan jenis hutang perusahaan baik hutang jangka panjang maupun hutang

jangka pendek. Hardiningsih & Oktaviani (2012) menyatakan kebijakan hutang

merupakan keputusan perusahaan dalam memperoleh sumber pendanaan dari

pihak kreditor untuk berinvestasi di perusahaan mereka. Natasia & Wahidahwati

(2015) berpendapat bahwa kebijakan hutang merupakan kebijakan pendaaan


perusahaan yang bersumber dari pihak eksternal yang dipilih oleh pihak

manajemen dengan tujuan memperoleh dana pembiayaan kegiatan operasional

perusahaan. dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kebijakan hutang

merupakan kebijakan dan tindakan yang dilakukan oleh pihak manajemen

perusahaan untuk mendanai kegiatan operasional perusahaan dengan

menggunakan hutang dri pihak kreditor.

Adapun beberapa pengukuran yang digunakan dalam menghitung

kebijakan hutang yaitu:

1. Rasio Hutang Terhadap Aset (Debt to Asset Ratio/ DAR)

Rasio hutang terhadap aset adalah rasio yang digunakan untuk

mengukur seberapa besar perusahaan mengandalkan hutang untuk membiayai

asetnya. Rasio hutang terhadap aset dapat dirumuskan sebagai berikut :

Total h utang
Debt ¿ Asset Ratio(DAR)=
Total aset

Rasio hutang merupakan perbandingan antara total hutang terhadap

total aset. Semakin tinggi rasionya, semakin tinggi juga resiko yang terkait

dengan aset perusahaan yang dibiayai dengan hutang. Sedangkan rasio hutang

yang rendah maka hanya sebagian kecil aset perusahaan yang di biayai dari

hutang.

2. Rasio Hutang Terhadap Ekuitas (Debt to Equity Ratio/ DER)

Rasio hutang terhadap ekuitas adalah perbandingan antara jumlah

seluruh hutang baik jangka pendek maupun jangka panjang dengan jumlah

modal sendiri perusahaan. Rasio hutang terhadap ekuitas dapat dirumuskan

sebagai berikut :
Total h utang
Debt ¿ Equity Ratio( DER)=
Total ekuitas

Rasio hutang terhadap ekuitas perusahana merupakan perbandingan

total hutang dengan total ekuitas yang dimiliki perusahaan. Rasio ini dapat

menggambarkan seberapa besar hutang yang diambil perusahaan dilihat dari

ekuitas yang dimiliki perusahaan. Semakin tinggi rasio ini yang diambil pihak

manajemen untuk kegiatan operasional perusahaan dibandingkan total ekuitas

sehingga pihak manajemen harus memperhatikan total ekuitas yang dimiliki

perusahaan yang djadikan sebagai jaminan pengembalian hutang dimasa

mendatang.

2.2.2. Free Cash Flow

Free cash flow atau disebut dengan arus kas bebas merupakan sisa

perhitungan arus kas yang dihasilkan oleh suatu perusahaan di akhir suatu periode

keuangan (Jensen, 1986). Free cash flow merupakan sumber dana yang berasal

dari keuntungan kegiatan operasional dan menjadi pengembalian bagi penyedia

modal termasuk hutang. Free cash flow dapat dialokasikan pihak manajemen

perusahaan untuk membeli kembali saham, membayar hutang, membayarkan atau

menahan deviden sebagai kesempatan perusahaan bertumbuh dimasa depan. Free

cash flow dapat dijadikan sebagai inidikator untuk menilai pertumbuhan bisnis

dan pembiayaan kepada shareholders.

Arus kas yang dihasilkan perusahaan dibagi kedalam 3 kelompok utama

(Jensen, 1986) yaitu :

1. Arus kas dari kegiatan operasi


Arus kas dari kegiatan operasi merupakan arus kas dari kegiatan operasi

suatu perusahaan baik dalam bentuk pemasukan ataupun pengeluaran.

Kegiatan yang telah diklasifikasikan kedalam suatu kelompok ini akan

tercermin atau terlihat pada laporan laba rugi pada suatu perusahaan. Arus kas

dari kegiatan operasi terdiri atas : (1) pengumpulan kas berasal dari

konsumen, (2) pembayaran kepada pemasok untuk oembelian bahan baku, (3)

arus kas keluar dari kegiatan operasi lainnya, seperti beban pemasaran dan

administrasi, serta bunga dan (4) pembayaran tunai untuk pajak.

2. Arus kas dari kegiatan investasi

Arus kas dari yang bersumber dari pembayaran investasi yang

mencakup: penerimaan dari pengeluaran saham baru, pembayaran kembali

pokok pinjaman, peningkatan pinjaman, pembayaran deviden saham biasa.

3. Arus kas dari kegiatan pembiayaan

Arus kas pembiyaan merupakan kas yang diperoleh perusahaan selama

1 tahun berjalan karena adanya penerbitan hutang jangka panjang, hutang

jangka pendek, atau saham. Adanya deviden yang ditahan sebagai modal

atau kas dapat digunakan untuk membeli saham atau obligasi.

Free cash flow merupakan kelebihan yang diperlukan untuk mendanai

semua proyek yang memiliki net present value positif. Free cash flow dihitung

menggunakan rumus yang dirumuskan sebagai berikut :

FCFit= AKOit−PMit −NWCit

Dalam hal ini:

NWCit = Modal kerja Bersih perusahaan I pada tahun t


FCFit = Free cash flow

PMit = Pengeluaran Modal perusahaan I pada tahun t

AKOit = Aliran Kas Operasi perusahaan I pada tahun t

Pengeluaran modal perusahaan dihitung dari biaya pembelian

perlengkapan dan tanah yang bersumber dari laporan aliran kas, pembayaran

deviden kepada pemegang saham. Sedangkan Net working capital (NWC) atau

modal kerja bersih merupakan hasil perhitungan dari selisih total aset lancar

terhadap total hutang lancar. Jumlah free cash flow yang didapatkan kemudian

dibagi dengan total aset.

Berdasarkan rumus tersebut dapat diketahui bahwa adanya peningkatan

free cash flow merupakan pertanda adanya peningkatan pendapatan. Perusahaan

dengan free cash flow yang mengalami perlonjakan akibat peningkatan

pendapatan, pengurangan biaya, biaya efesiensi, distribusi deviden, pembelian

kembali saham, dan penghapusan piutang akan berakibat positif dimana

manajemen perusahaan akan mampu membagikan deviden pada investor.

Sebaliknya adanya penyusutan biaya free cash flow menjadi pertanda

bahwa pihak manajemen perusahaan tidak mampu mempertahankan pertumbuhan

pendapatan perusahaan mereka. Free cash flow yang tidak mampu mencukupi

pertumbuhan pendapatannya membuat pihak manajen perusahaan meningkatkan

hutang atau terjadi penurunan likuiditas bisnis.

2.2.3. Profitabilitas

Kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan dari kegiatan

penjualan, total aset maupun modal sendiri disebut profitabilitas (Pithaloka,


2009). Profitabilitas merupakan indikator yang dapat menjadi pertanda bahwa

perusahaan sudah mampu menghasilkan laba yang efektif dalam mengelola

kegiatan mengelola sumber-sumber yang dimilikinya.

Perusahaan yang mempunyai profitabilitas yang tinggi pada umumnya

mempunyai tingkat hutang yang lebih sedikit karena perusahaan mampu

memaksimalkan sumber dana internal dalam kegiatan operasional mereka. Rasio

perhitungan tingkat profitabilitas dalam suatu perusahaan terdiri dari Gross Profit

Margin (GPM), Net Profit Margin (NPM), Return On Investment (ROI), Return

On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Earning per Share (EPS) , Return on

Sales ( ROS) dan Return on Capital Employed ( ROCE )

1. Gross Profit Margin (GPM)

Gross profit margin merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur

efisiensi pengendalian harga pokok atau biaya produksinya, mengindikasikan

kemampuan perusahaan untuk berproduksi secara efisien. Gross profit

margin dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Penjualan−HPP
GPM=
Penjualan

Berdasarkan rumus tersebut dapat diketahui gross profit margin yang

semakin besar menunjukan semakin efesien kegiatan operasional yang dilakukan

oleh perusahaan sehingga harga pokok penjualan (HPP) lebih rendah

dibandingkan dengan penjualan, sedangkan bila semakin kecil perolehan gross

profit margin maka ha ltersebut menunjukan bahwa perusahaan kurang mampu

melakukan kegiatan operasional perusahaan yang efisien.

2. Net Profit Margin ( NPM )


Net Profit Margin digunakan untuk mengukur laba bersih setelah pajak

terhadap penjualan. Net Profit Margin dapat dihitung dengan menggunakan

rumus sebagai berikut :

Laba bersih setelah pajak


NPM=
Penjualan

Rasio Net Profit Margin mengukur jumlah rupiah laba bersih yang

dihasilkan oleh satu rupiah penjualan. Semakin tinggi rasionya semakin baik

karena menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang tinggi

pada tingkat penjualan.

3. Return On Investment (ROI)

Return On Investment merupakan rasio yang digunakan untuk

mengukur efesiensi investasi dalam perusahan dengan cara membandingkan

perolehan laba bersih bersih dengan total biaya/modal yang sudah

diinvestasikan. Return on investment berperan penting untuk memberikan

informasi mengenai ukuran keuntungan atau kerugian yang dihasilkan dari

investasi sehingga segala kegiatan operasional dapat dievaluasi tingkat

pengembalian investasinya. Return on investment dapat dihitung dengan

mengggunakan rumus sebagai berikut :

pendapatan penjualan−biaya investasi


ROI=
biayainvestasi

Berdsarkan rumus tersebut dapat diketahui bahwa semakin nikai

investasi Return on investment menunjukan nilai yang positif maka hal itu

menunjukan bahwa perusahaan mampu mengembalikan investasi dengan

cukup baik yang dihitung dari perolehan laba dari sisa biaya investasi,
sedangkan perolehan return on investment yang negatif menunjukan bahwa

nilai pendapatan yang diterima perusahaan tidak dapat menutupi biaya

investasi yang dilakukan perusahaan. Dengan demikian, dapat dikatakan

bahwa semakin tinggi tingkat pengembalian return on investment akan lebih

baik dari tingkat return on investment yang bernilai rendah.

4. Return On Asset (ROA)

Return On Asset merupakan rasio rentabilitas yang merupakan

perolehan laba yang didapat dari total aset perusahaan yang menggambarkan

kemampuan perusahaan dalam mengelola asset secara efektif. ROA juga

merupakan gambaran perputaran aset berdasarkan volume penjualan yang

menunjukan kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba keseluruhan.

Dengan demikian nilai profitabilitas yang semakin tinggi menunjukkan

perusahaan mempunyai kemampuan kinerja keuangan perusahaan yang

membaik. Proksi ROA secara matematis dirumuskan sebagai berikut:

Laba be rsi h setela h pajak


ROA=
Total aset

Dari rumus diatas dapat disimpulkan perolehan ROA yang semakin

menunjukan semakin besar pula keuntungan diperoleh perusahaan dan

semakin baik kemampuan dalam mengelola aset.

5. Return On Equity (ROE)

Return On Equity merupakan rasio laba bersih sesudah dikurangi

pajak dibandingkan dengan total ekuitas. ROE digunakan untuk mengukur

kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba yang bagi pihak

manajemen maupun bagi pihak stakeholder yang telah menginvestasikan


saham mereka dalam perusahaan. Profitabilitas dengan proksi ROE

dirumuskan sebagai berikut:

Laba bersi h setela h pajak


ROE=
Ekuitas

Berdasarkan rumus diatas dapat diketahui bahwa setiap satu rupiah dari

ekuitas pemegang saham dapat menghasilkan satu rupiah dari laba bersih.

Semakin tinggi rasio return on equity semakin tinggi pula nilai perusahaan,

hal ini merupakan daya tarik bagi investor untuk menanamkan modalnya di

perusahaan tersebut.

6. Earning Per Share ( EPS )

Earning per share merupakan rasio yang menilai tingkat kemampuan

perlembar saham dalam menghasilkan laba untuk perusahaan. Profitabilitas

dengan proksi EPS dirumuskan sebagai berikut:

Laba bersi h setela h pajak −Deviden sa h am preferen


EPS=
Jumla h sa h am yang beredar

Berdasarkan rumus diatas dapat diketahui bahwa semakin tinggi

earning per share berarti perusahaan mampu menghasilkan kenaikan laba

bersih sehingga investor akan memperoleh keuntungan laba per lembar saham

semakin besar.

7. Return on Sales ( ROS )

Return on sales merupakan rasio yang menunjukan kemampuan

perusahaan dalam meperoleh keuntungan setelah dikurangi dengan biaya-

biaya variable produksi seperti upah kerja, bahan baku dan biaya sejenis
lainnya sebelum dikurangkan dengan biaya pajak dan bunga. Profitabilitas

dengan proksi ROS dirumuskan sebagai berikut:

Laba Sebelum pajak dan bunga


ROS=
penjualan

Berdasarkan rumus diatas dapat diketahui bahwa rasio return on sales

meningkat, mengindikasikan kinerja perusahaan yang semakin efesien,

sedangkan rasio return on sales yang menurun dapat menandakan

kemungkinan akan terjadi permasalahan keuangan di perusahaan tersebut.

8. Return on Capital Employed ( ROCE )

Return on capital employed merupakan rasio profitabilitas yang

mengukur seberapa efesien suatu perusahaan dalam menghasilkan laba dari

modal kerjanya. Return on capital employed dapat menunjukan kepada

investor seberapa banyak keuntungan yang dihasilkan dari setiap rupiah yang

diinvestasikan. Profitabilitas dengan proksi ROCE dirumuskan sebagai

berikut:

Laba bersi h setela h pajak


ROCE=
Modal kerja

Berdasarkan rumus diatas laba bersih setelah pajak dibagi dengan

modal kerja, sedangkan untuk menghitung modal kerja ialah total asset

dikurangi kewajiban. Rasio return on capital employed menunjukan berapa

banyak laba yang dihasilkan setiap rupiah dari modal kerja. Rasio yang lebih

tinggi akan menguntungkan karena lebih banyak laba yang dihasilkan oleh

setiap rupiah modal kerja yang diinvestasikan.


2.2.4. Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional merupakan persentase saham yang dimilik oleh

pihak investor-investor institusional seperti bank, perusahaan investasi maupun

perusahaan dan lembaga keuangan lain. Pihak investor yang mempunyai

kepemilikan saham institusional berperan sebagai pihak yang memonitoring

kegiatan operasional perusahaan (Fitriyah & Hidayat, 2015). Kehadiran pihak

institusional akan mendorong adanya pengawasan yang lebih optimal pada kinerja

manajemen sehingga kegiatan manajemen akan maksimal dalam melakukan

pengambilan keputusan penting termasuk keputusan kebijakan hutang, pihak

institusional akan berperan juga dalam pengambilan keputusan tersebut. Selain

kepemilikan atas saham, investor institusional juga berperan penting dalam

sumbang suara di rapat umum pemegang saham (RUPS).

Semakin tinggi kepemilikan institusional dalam perusahaan menunjukan

adanya peningkatan pengawasan yang dilakukan pleh pihak investor institusional

sehingga pihak institusional dapat mengendalikan tindakan opportunistic yang

dilakukan oleh pihak principal serta akan menunrunkan tindakan penyelewengan

yang dilakukan pihak manajemen dalam pengurangan agency cost. Indikator

kepemilikan institusional diukur dengan persentase perbandingan jumlah saham

yang dimiliki oleh pihak institusional dengan seluruh modal saham perusahaan

yang beredar.

jumla h sa h am pi h ak institusional
Kepemilikan Institusional= x 100 %
total sa h amberedar
Berdasarkan rumusan diatas dapat diketahui bahwa semakin banyak saham

yang dimiliki oleh pihak institusional seperti bank, perusahaan investasi maupun

perusahaan dan lembaga lain. Maka pengawasan yang akan dilakukan pihak

institusional juga semakin ketat terhadap kinerja manajemen dalam berbagai

keputusan penting dalam perusahaan sehingga tidak ada penyelewengan-

penyelewengan yang dilakukan oleh pihak manajemen.

2.2.5. Struktur Aset

Susilawati, dkk., (2013) menyatakan bahwa struktur aset adalah

Perimbangan atau perbandingan antara aset tetap dan total aset , sedangkan

menurut Ernayani (2015) struktur aset adalah Penentuan berapa besar alokasi

dana untuk masing-masing komponen aset, baik dalam aset lancar maupun dalam

aset tetap . Kesimpulan dari beberapa pengertian tersebut tentang struktur aset

adalah perbandingan antara aset tetap dan total aset yang dapat menentukan

besarnya alokasi dana untuk masing-masing komponen aset.

Struktur aset terdiri dari dua jenis yaitu aset lancar dan aset tetap. Aset

lancar adalah harta perusahaan paling liquid yang dapat dijadikan uang dalam

waktu maksimal satu tahun. Terdapat beberapa komponen aset lancar yaitu kas,

investasi jangka pendek, wesel tagih, piutang dagang, penghasilan yang masih

akan diterima, persediaan barang, biaya yang dibayar dimuka. Sedangkan aset

tetap adalah aset berwujud yang dapat digunakan dalam jangka waktu lebih dari

satu tahun yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk mendukung kegiatan

operasionalnya. Komponen aset tetap antara lain tanah, tanah dan bangunan ,

mesin, kendaraan, perabotan, peralatan kantor. Aset tetap memiliki beragam jenis,
bentuk dan umur manfaat, ada aset tetap yang umumnya tidak terbatas serta aset

yang umurnya terbatas. Aset tetap yang umurnya terbatas seperti kendaraan,

sedangkan aset tetap yang umurnya tidak terbatas adalah tanah.

Struktur aset memiliki manfaat besar untuk perusahaan terutama pada aset

tetap berwujud yang dimiliki oleh perusahaan. Hal ini dikarenakan aset tetap

disebut sebagai the earning assets atau aset yang dapat menghasilkan pendapatan

bagi perusahaan karena jika perusahaan membutuhkan dana untuk ekspansi

perusahaan atau untuk operasional perusahaan maka aset tetap yang dimiliki oleh

perusahaan dapat dijadikan sebagai jaminan untuk memperoleh tambahan modal

dari luar perusahaan. Adapun formulasi dari struktur aset adalah sebagai berikut:

Aset Tetap
Struktur aset=
Total aset

Berdasarkan rumusan diatas dapat diketahui bahwa semakin banyak aset

tetap yang dimiliki oleh perusahaan maka semakin banyak juga permintaan akan

produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Disamping itu dengan banyaknya

aset tetap yang dimiliki perusahaan maka semakin mudah perusahaan itu untuk

melakukan ekspansi, hal tersebut dikarenakan aset tetap dapat dijadikan jaminan

untuk memperoleh tambahan modal dari luar perusahaan.

2.3. Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai hubungan free cash flow, profitabilitas, kepemilikan

institusional dan struktur aset terhadap kebijakan hutang pada perusahaan yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia telah dilakukan oleh berbagai penelitian


terdahulu. Berikut ini merupakan beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan

oleh peneliti sebelumnya antara lain :

1. Penelitian tentang pengaruh free cash flow terhadap kebijakan hutang

Hasil penelitian (Linda, dkk., 2017; Fitriyah & Hidayat, 2011; Putra,

2017) yang menyatakan bahwa free cash flow signifikan positif terhadap

kebijakan hutang. Namun penelitian ini berbeda dengan penelitian (Safitri &

Asyik, 2015; zuhria, 2016; Ramadhani & Barus, 2018) yang menyatakan

bahwa free cash flow negatif signifikan terhadap kebijakan hutang. Adapun

table hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 2.1
Free cash flow terhadap kebijakan hutang

2. Penelitian tentang pengaruh profitabilitas terhadap kebijakan hutang

Hasil penelitian (Husna & Wahyudi, 2016; Putra, 2017; Narita, 2012)

menyatakan bahwa profitabilitas signifikan positif terhadap kebijakan hutang.

Namun, penelitian tersebut berbeda dengan penelitian (Ratnaningsih, 2016;

Pradhana, dkk., 2014; Mardiyanti, dkk., 2014) negatif signifikan terhadap

kebijakan hutang. Adapun tabel hasil penelitian tersebut adalah sebagai

berikut :
Tabel 2.2
Profitabilitas terhadap kebijakan hutang

3. Pengaruh kepemilikan institusional terhadap kebijakan hutang

Hasil penelitian (Safitri & Asyik, 2015; Fitriyah & Hidayat, 2011;

Narita, 2012) menyatakan bahwa kepemilikan institusional terpengaruh

negatif terhadap kebijakan hutang. Namun, penelitian itu berbeda dengan

penelitian (Trisnawati, dkk., 2017; Saraswaty & Hermanto, 2016) yang

menyatakan bahwa kepemilikan institusional signifikan positif terhadap

kebijakan hutang. Adapun hasil penelitian tersebut dapat dilihat dari tabel

sebagai berikut :

Tabel 2.3
Kepemilikan Institusional terhadap kebijakan hutang
4. Penelitian tentang pengaruh Struktur aset terhadap kebijakan hutang

Hasil penelitian (Linda, dkk., 2017; Merna, 2017) yang menyatakan

bahwa struktur aset signifikan positif terhadap kebijakan hutang perusahaan,

dan di dapatkan hasil yang berbeda atas penelitian (Puspitasari & Manik,

2016; Prathiwi & Yadnya, 2017; Ratnaningsih, 2016) yang menyatakan

bahwa struktur aset negatif signifikan terhadap kebijakan hutang dan

penelitian Mardiyati, dkk., (2018) menyatakan bahwa struktur aset tidak

berpengaruh terhadap kebijakan hutang. Adapun tabel hasil penelitian

tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 2.4
Struktur Aset terhadap kebijakan hutang
2.4. Kerangka Pemikiran Teoritis dan pengembangan Hipotesis

2.4.1. Kerangka Pemikiran Teoritis

Kerangka pemikiran teoritis di bawah ini merupakan gambaran mengenai

pengaruh free cash flow, profitabilitas, kepemilikan institusional, dan struktur aset

terhadap kebijakan hutang perusahaan. Free cash flow merupakan kas lebih

perusahaan yang sudah tidak dipergunakan lagi untuk modal kerja atau investasi

tetap yang dapat di distribusikkan kepada kreditor atau pemegang saham, kas

perusahaan yang digunakan untuk membayar hutang perusahaan. Semakin besar

perolehan Free cash flow perusahaan menunjukan kemampuan perusahaan yang

baik dalam kegiatan aktivitas operasional dan kemampuannya dalam melakukan

kewajiban membayar hutang perusahaan.

Profitabilitas merupakan gambaran keberhasilan manajemen dalam

mencapai kinerja memaksimalkan kekayaan perusahaan yang dibuktikan dengan

perolehan laba bersih.

Profitabilitas yang diperoleh menunjukan pertumbuhan perusahaan dimasa

mendatang sehingga sinyal tersebut dapat membantu investor dalam menentukan

kebijakan investor yang akan dilakukannya dalam perusahaan, dengan perolehan

profitabilitas yang tinggi akan membuat menggunakan sumber dana eksternal

yang berasal dari dana hutang menjadi semakin kecil karena perusahaan sudah

mempunyai laba yang cukup tinggi dan dapat digunakan untuk biaya operasional

perusahaan.
Kepemilikan institusional merupakan persentase saham yang dimilik oleh

pihak investor-investor institusional seperti bank, perusahaan investasi maupun

perusahaan dan lembaga keuangan lain. Pihak investor yang mempunyai

kepemilikan saham institusional berperan sebagai pihak yang memonitoring

kegiatan operasional perusahaan. Semakin tinggi kepemilikan institusional dalam

perusahaan menunjukan adanya peningkatan pengawasan yang dilakukan pleh

pihak investor institusional sehingga pihak institusional dapat mengendalikan

tindakan opportunistic yang dilakukan oleh pihak principal serta akan

menunrunkan tindakan penyelewengan yang dilakukan pihak manajemen dalam

pengurangan agency cost.

Struktur aset adalah Penentuan berapa besar alokasi dana untuk masing-

masing komponen aset, baik dalam aset lancar maupun dalam aset tetap. Semakin

banyak aset tetap yang dimiliki oleh perusahaan maka semakin banyak juga

permintaan akan produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Disamping itu

dengan banyaknya aset tetap yang dimiliki perusahaan maka semakin mudah

perusahaan itu untuk melakukan ekspansi, hal tersebut dikarenakan aset tetap

dapat dijadikan jaminan untuk memperoleh tambahan modal dari luar perusahaan.
Berdasarkan uraian diatas maka kerangka konseptual dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut :

Free cash flow


(X1)

Profitabilitas
(X2) Kebijakan Hutang
(Y)
Kepemilikan
Institusional
(X3)

Struktur Aset
(X4)

Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran
2.4.2. Pengembangan Hipotesis

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh free cash flow,

profitabilitas, kepemilikan Institusional dan struktur aset terhadap kebijakan

hutang. Berdasarkan pemikiran tersebut maka hipotesis yang diajukan dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut :

1) Pengaruh Free Cash Flow terhadap Kebijakan Hutang

Free cash flow adalah arus kas yang benar – benar tersedia untuk dibayarkan

kepada investor (pemegang saham dan pemilik hutang) setelah perusahaan

melakukan investasi dalam aset tetap, produk baru dan modal kerja yang

dibutuhkan untuk mempertahankan operasi yang sedang berjalan. Free cash flow

mencerminkan keuntungan atau kembalian bagi para penyedia modal termasuk

hutang.

Theory agency menjelaskan bahwa adanya perbedaan kepentingan antara

pihak principale dengan agent merupakan sumber konfilk yang terjadi dalam

perusahaan karena adanya free cash flow berlebih. Pihak manajemen cenderung

mengivestasikan free cash flow dalam hal yang tidak ada hubungannya dengan

kepentingan utama perusahaan. Perbedaan kepentingan pemilik saham (principle)

dengan manajemen (agent) inilah yang membuat pihak manajemen cenderung

menyukai investasi dengan resiko tinggi dengan tingkat return yang tinggi,

sedangkan pemilik saham cenderung menyukai investasi dengan tingkat resiko

rendah dan manajerial lebih menyukai dana ditahan sebagai sumber dana internal

yang dapat digunakan sebagai investasi. dengan tujuan mengurangi biaya agensi

dari arus kas bebas.


Dari hasil penelitian Linda., dkk. (2017) menyatakan bahwa free cash flow

berpengaruh positif terhadap kebijakan hutang. Penelitian tersebut sejalan dengan

penelitian Putra (2017) bahwa free cash flow berpengaruh positif terhadap

kebijakan hutang. Dari uraian diatas, hipotesis yang diajukan adalah sebagai

berikut :

H1 :Free cash flow berpengaruh positif terhadap kebijakan hutang

2) Pengaruh Profitabilitas terhadap Kebijakan Hutang

Profitabilitas merupakan indikator yang dapat menjadi pertanda bahwa

perusahaan sudah mampu menghasilkan laba yang efektif dalam mengelola

kegiatan mengelola sumber-sumber yang dimilikinya. Perusahaan yang

mempunyai profitabilitas yang tinggi pada umumnya mempunyai tingkat hutang

yang lebih sedikit karena perusahaan mampu memaksimalkan sumber dana

internal dalam kegiatan operasional mereka. Teori pecking order menyatakan

bahwa perusahaan yang memprioritaskan pendanaan internal menunjukan bahwa

perusahaan memiliki profit yang tinggi sehingga perusahaan mempunyai

kemampuan dalam melakukan pemenuhan kebutuhan pendanaan internal yang

digunakan untuk biaya kegiatan operasionalnya.

Dari hasil penelitian Pradhana, dkk., (2014) menyatakan bahwa profitabilitas

negatif signifikan terhadap kebijakan hutang. Hasil ini sejalan dengan penelitian

Ratnaningsih (2016) bahwa profitabilitas negatif signifikan terhadap kebijakan

hutang. Berdasarkan uraian diatas, hipotesis yang akan diajukan adalah sebagai

berikut :

H2 : Profitabilitas negatif signifikan terhadap kebijakan hutang.


3) Pengaruh Kepemilikan Institusional Terhadap Kebijakan Hutang

Kepemilikan institusional merupakan persentase saham yang dimilik oleh

pihak investor-investor institusional seperti bank, perusahaan investasi maupun

perusahaan dan lembaga keuangan lain. Pihak investor yang mempunyai

kepemilikan saham institusional berperan sebagai pihak yang memonitoring

kegiatan operasional perusahaan (Fitriyah & Hidayat, 2015). Kehadiran pihak

institusional akan mendorong adanya pengawasan yang lebih optimal pada kinerja

manajemen sehingga kegiatan manajemen akan maksimal dalam melakukan

pengambilan keputusan penting termasuk keputusan kebijakan hutang, pihak

institusional akan berperan juga dalam pengambilan keputusan tersebut. Selain

kepemilikan atas saham, investor institusional juga berperan penting dalam

sumbang suara di rapat umum pemegang saham (RUPS).

Semakin tinggi kepemilikan institusional dalam perusahaan menunjukan

adanya peningkatan pengawasan yang dilakukan pleh pihak investor institusional

sehingga pihak institusional dapat mengendalikan tindakan opportunistic yang

dilakukan oleh pihak principal serta akan menunrunkan tindakan penyelewengan

yang dilakukan pihak manajemen dalam pengurangan agency cost

Menurut theory agency dalam kepemilikan institusional adalah hubungan

kerja antara pihak yang memberi wewenang (principle) yaitu pemilik atau

pemegang saham dengan pihak yang menerima wewenang (agent) yaitu manajer,

dalam bentuk kerjasama. Masalah keagenan muncul karena terdapat konflik

perbedaan pendapat atau kepentingan antara pemilik (principle) dengan


manajemen (agent). Manajer dalam menjalankan perusahaan sebagaimana

diamanahkan oleh pemilik (principle) yaitu meningkatkan kemakmuran principal

melalui peningkatan nilai perusahaan.

Dari hasil penelitian Trisnawati., dkk. (2017) menyatakan bahwa kepemilikan

institusional berpengaruh positif terhadap kebijakan hutang. Peneliatan ini sejalan

dengan penelitian Saraswaty & Hermanto (2016) bahwa kepemilikan institusional

berpengaruh positif terhadap kebijakan hutang. Berdasarkan uraian diatas,

hipotesis yang akan diajukan adalah sebagai berikut :

H3 : Kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap kebijakan hutang

4) Pengaruh Struktur Aset terhadap Kebijakan Hutang

Struktur aset merupakan penentuan berapa besar alokasi untuk masing

-masing komponen aset baik dalam aset lancar maupun dalam aset tetap. Aset

tetap adalah aset yang habis dalam satu kali perputaran dalam proses produksi dan

proses perputarannya dalam jangka waktu yang pendek atau kurang dari satu

tahun, sedangkan aset tetap adalah aset yang dimiliki perusahaan yang bersifat

permanen dan dapat habis dalam proses produksi yang memiliki jangka waktu

perputaran lebih dari satu tahun. Struktur aset berhubungan dengan kekayaan

perusahaan yang dapat dijadikan sebagai jaminan. Secara umum perusahaan yang

memiliki jaminan akan lebih mudah mendapatkan hutang dari pada perusahaan

yang tidak memiliki jaminan. Perusahaan yang mempunyai aset tetap yang lebih

besar akan menggunakan hutang yang lebih besar karena dinilai memiliki

securable asset (aset jaminnan) yang lebih baik.


Hal ini sesuai dengan Signalling theory yang menyatakan bahwa signal

adalah suatu tindakan yang diambil oleh manajemen perusahaan yang

memberikan petunjuk atau signal bagi investor tentang bagaimana manajemen

memandang prospek perusahaan. Perusahaan memberikan signal berupa

informasi seberapa besar aset yang dimiliki perusahaan yang dapat dijadikan

jaminan sehingga kreditur akan merasa lebih aman jika memberikan pinjaman

kepada perusahaan yang memiliki aset tetap dengan proporsi yang tinggi.

Dari hasil penelitian Linda, dkk., (2017) menyatakan bahwa struktur aset

berpengaruh positif terhadap kebijakan hutang. Penelitian ini sejalan dengan

penelitian Merna (2017) yang menyatakan bahwa struktur aset berpengaruh

positif terhadap kebijakan hutang. Berdasarkan uraian diatas, hipotesis yang

diajukan adalah sebagai berikut :

H4 : Struktur aset berpengaruh positif terhadap kebijakan hutang


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan metode penelitian yang berlandaskan

pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel

tertentu. Teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random,

pengumpulan data menggunakan menggunakan instrumen penelitian, analisis data

bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah

ditetapkan (Sugiyono, 2016). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan

dua variabel atau lebih dan penelitian ini mencari hubungan atau pengaruh sebab

akibat dari variabel independen terhadap variabel dependen. Penelitian ini

dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh free cash flow,

profitabilitas, kepemilikan institusional dan struktur aset terhadap kebijakan

hutang.

3.2. Populasi dan Sampel

3.2.1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan elemen, atau unit penelitian, atau unit

analisis yang memiliki ciri atau karakteristik tertentu yang dijadikan sebagai

obyek penelitian atau yang menjadi perhatian dalam suatu penelitian atau

pengamatan. Populasi yang menjadi obyek penelitian ini adalah perusahaan yang

40
masuk dalam indeks LQ-45 di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan yang masuk

dalam indeks LQ-45 adalah perusahaan dengan saham yang aktif dan unggulan

(frekuensi, volume dan nilai kapitalisasinya tinggi) hal tersebut didasarkan pada

pertimbangan bahwa saham-saham pada indeks LQ-45 mencakup 95% total

tahunan nilai transaksi saham di pasar reguler, meliputi 95% kapitalisasi pasar dan

merupakan urutan tertinggi yang mewakili sektornya dalam klasifikasi industri di

Bursa Efek Indonesia, serta urutan tertinggi berdasarkan frekuensi transaksi.

3.2.2. Sampel

Sampel adalah bagian kecil dari anggota populasi yang diambil menurut

prosedur tertentu sehingga dapat mewakili populasinya. Sampel dalam penelitian

ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia LQ-45

pada periode 2016-2018. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini

menggunakan teknik purposive sampling yaitu dengan mempertimbangkan

kriteria-kriteria tertentu yang telah dibuat terhadap objek yang sesuai dengan

tujuan penelitian. Adapun kriteria pengambilan sampel pada penelitian ini adalah

sebagai berikut :

1) Perusahaan manufaktur yang telah go public yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia LQ-45

2) Perusahaan yang mempublikasikan laporan keuangannya secara lengkap

dengan menggunakan mata uang rupiah

3) Memiliki kondisi keuangan, prospek pertumbuhan dan nilai transaksi yang

tinggi
4) Fokus pada saham-saham perusahaan yang muncul terus menerus selama

periode pengamatan.

3.3. Sumber dan Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data

sekunder adalah sumber data yang diperoleh peneliti secara tidak langsung

melalui media perantara berupa bukti, catatan atau laporan historis yang tersusun

dalam arsip baik dipublikasikan maupun tidak dipublikasikan. Data yang

berbentuk laporan keuangan lengkap yang bersumber dari website Bursa Efek

Indonesia (www.idx.co.id), kajian literatur dan pustaka yang berkaitan dengan

masalah penelitian, dan penelitian yang terdahulu.

3.4. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini metode yang digunakan untuk mengumpulan data

berupa dokumentansi. Pengumpulan data dengan metode ini dengan

mengumpulkan data dengan cara mengambil data dari catatan, dokumentasi, dan

pengamatan langsung yang sesuai dengan masalah yang diteliti. Laporan

keuangan perusahaan yang dibutuhkan sampel pada tahun 2016-2018 mengenai

variabel yang akan diteliti yaitu free cash flow, profitabilitas, kepemilikan

institusional dan struktur aset. Data yang diperoleh melalui situs resmi Bursa Efek

Indonesia (www.idx.co.id) serta berbagai situs website penyedia data dan

informasi yang terkait.


3.5. Variabel, Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

3.5.1. Variabel

1. Variabel Dependen (Y)

Variabel dependen atau variabel terkait adalah variabel yang

dipengaruhi oleh variabel lain (variabel independen). Variabel

dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kebijakan

Hutang.

2. Variabel Independen (X)

Variabel independen atau variabel bebas adalah variabel yang

mempengaruhi variabel lain (variabel dependen). Variabel independen

yang digunakan dalam penelitian ini adalah Free Cash Flow.

Profitabilitas, Kepemilikan Institusional dan Struktur Aset .

3.5.2. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

1) Variabel dependen

a. Kebijakan Hutang

Kebijakan hutang adalah sumber dana eksternal yang

digunakan perusahaan untuk kegiatan operasionalnya dan dalam

penggunaannya perusahaan perlu melakukan pertimbangan

tentang besar biaya bunga yang ditimbulkan yang memicu tingkat

pengembalian deviden terhadap para pemegang saham. Adapun

pengukuran yang digunakan dalam menghitung kebijakan hutang

perusahaan adalah sebagai berikut:

Total h utang
Debt ¿ Equity Ratio ( DER )=
Total ekuitas
Rasio hutang merupakan perbandingan antara total hutang

terhadap total aset. Semakin tinggi rasionya, semakin tinggi juga

resiko yang terkait dengan aset perusahaan yang dibiayai dengan

hutang. Sedangkan rasio hutang yang rendah maka hanya

sebagian kecil aset perusahaan yang di biayai dari hutang.

2) Variabel independen

a. Free Cash Flow

Free cash flow merupakan sumber dana yang berasal dari

keuntungan kegiatan operasional dan menjadi pengembalian bagi

penyedia modal termasuk hutang. Adapun rumus untuk

menghitung free cash flow adalah sebagai berikut :

FCFit= AKOit−PMit −NWCit

Dalam hal ini:

FCFit = Free cash flow

AKOit = Aliran Kas Operasi perusahaan I pada tahun t

PMit = Pengeluaran Modal perusahaan I pada tahun t

NWCit = Modal kerja Bersih perusahaan I pada tahun t

Pengeluaran modal perusahaan dihitung dari biaya

pembelian perlengkapan dan tanah yang bersumber dari laporan

aliran kas, pembayaran deviden kepada pemegang saham.

Sedangkan Net working capital (NWC) atau modal kerja bersih

merupakan hasil perhitungan dari selisih total aset lancar terhadap


total hutang lancer. Jumlah free cash flow yang didapatkan

kemudian dibagi dengan total aset.

b. Profitabilitas

Profitabilitas merupakan variabel independen kedua dalam

penelitian ini. Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan

dalam menghasilkan laba di masa mendatang yang hubungannya

dengan aset maupun tingkat penjualan. Profitabilitas diukur

menggunakan Return On Asset (ROA). Return on asset adalah

rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur seberapa efisien

perusahaan dalam mengelola aset atau penjualannya untuk

menghasilkan laba selama suatu periode. ROA diperoleh dari

perbandingan laba bersih setelah pajak dengan total aktiva (total

aset). Adapun rumus untuk menghitung return on asset adalah

sebagai berikut :

Laba B ersi h Setela h Pajak


ROA=
Total Aset

Efektivitas manajemen dalam menggunakan total aset bisa

tercermin dari return on asset (ROA) yang menggambarkan

kinerja keuangan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari

aset yang digunakan untuk operasional perusahaan. ROA

digunakan untuk mengetahui kinerja perusahaan berdasarkan

kemampuan perusahaan dalam menggunakan jumlah aset yang

dimilikinya. Semakin tinggi ROA menunjukkan semakin baik

kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.


c. Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional merupakan persentase saham

yang dimilik oleh pihak investor-investor institusional seperti

bank, perusahaan investasi maupun perusahaan dan lembaga

keuangan lain. Adapun rumus yang digunakan untuk mengukur

kepemilikan institusional adalah sebagai berikut :

jumla h sa h am pi h ak institusional
Kepemilikan Institusional= x 100 %
total saham beredar

Berdasarkan rumusan diatas dapat diketahui bahwa semakin

banyak saham yang dimiliki oleh pihak institusional seperti bank,

perusahaan investasi maupun perusahaan dan lembaga lain. Maka

pengawasan yang akan dilakukan pihak institusional juga

semakin ketat terhadap kinerja manajemen dalam berbagai

keputusan penting dalam perusahaan sehingga tidak ada

penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan oleh pihak

manajemen.

d. Struktur Aset

Struktur aset adalah kekayaan perusahaan

yang diharapkan dapat memberi manfaat di masa

yang akan datang. Struktur aset merupakan

perbandingan aset tetap dengan total aset.Aset

tetap sendiri adalah aset yang digunakan untuk

keperluan operasional perusahaan yang bersifat

jangka panjang dalam arti tidak habis dipakai dalam


jangka waktu satu tahun dan memiliki bentuk fisik

atau berwujud. Struktur aset dapat dihitung dengan

menggunakan rumus sebagai berikut :

Aset tetap
Struktur aset=
Total aset

Struktur aset memiliki manfaat besar untuk perusahaan

terutama pada aset tetap berwujud yang dimiliki oleh

perusahaan.Hal ini dikarenakan aset tetap disebut sebagai the

earning assets atau aset yang dapat menghasilkan pendapatan

bagi perusahaan. Jadi, jika perusahaan membutuhkan dana untuk

ekspansi perusahaan atau untuk operasional perusahaan maka aset

tetap yang dimiliki oleh perusahaan dapat dijadikan sebagai

jaminan untuk memperoleh tambahan modal dari luar perusahaan.

3.6. Teknik Analisis Data

3.6.1. Analisis Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan variabel-variabel

penelitian dan juga untuk memperoleh gambaran umum sampel data. Pendekatan

yang dapat dilakukan dalam statistik deskriptif ini antara lain adalah penyajian

data melalui tabel, grafik, diagram, perhitungan modus, median, mean, standar

deviasi, perhitungan presentase, serta perhitungan rumus panjang kelas untuk

menentukan interval kriteria (Sugiyono, 2016)


3.6.2. Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik harus dipenuhi untuk mengetahui bahwa metode analisis

regresi benar-benar menunjukkan hubungan yang signifikan dan representative,

untuk memenuhi semua asumsi klasik maka dilakukan beberapa pengujian yang

meliputi uji normalitas, uji multikolinieritas, uji autokorelasi dan uji

heteroskedastisitas dengan menggunakan alat analisis IBM SPSS 26.

3.6.2.1. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model

regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal

atau tidak. Model regresi yang baik adalah yang memiliki distribusi data

normal atau mendekati normal (Ghozali, 2018). Cara untuk mendeteksi

apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analisis

grafik dan uji statistik.

1. Analisis Grafik

Menurut Ghozali (2018) salah satu cara untuk melihat

normalitas residual adalah dengan menggunakan metode normal

probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dan

distribusi normal. Distribusi normal akan membentuk satu garis

lurus diagonal, dan ploting data residual akan dibandingkan dengan

garis diagonal. Dasar pengambilan keputusannya adalah:

a. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti

arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan

pola distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi


normalitas.

b. Jika data menyebar jauh dari diagonal dan/atau tidak

mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak

menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi tidak

memenuhi asumsinormalitas.

2. Uji Statistik

Uji statistik yang digunakan untuk menguji

normalitas adalah uji statistik Kolmogorov-Smirnov

(K-S). Pedoman dalam pengambilan keputusan normal

atau tidaknya data yang akan digunakan adalah

sebagai berikut:

a. Apabila hasil signifikansi lebih besar (>) dari 0,05 maka data

terdistribusi normal.

b. Apabila hasil signifikansi lebih kecil (<) dari 0,05 maka data

tersebut tidak terdistribusi secara normal

3.6.2.2. Uji Multikolenieritas

Uji multikolenieritas bertujuan untuk menguji apakah model

regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel bebas atau independen.

Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara

variabel independen. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka

variabel-variabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogal adalah variabel

independen yang nilai korelasi antar sesama variabel independen sama


dengan nol. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolonieritas di

dalam model regresi adalah sebagai berikut:

a. Nilai adjusted R2 yang dihasilkan oleh suatu entitas model regresi

empiris sangat tinggi, tetapi secara individual variabel variabel

independen banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel

independen.

b. Menganlisis matrik korelasi variabel-variabel independen. Jika antar

variabel independen ada korelasi yang cukup tinggi (umumnya

diatas 0.90) maka hal ini merupakan indikasi adanya

multikolonieritas.

c. Melihat nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF). Nilai

tolerance yang rendah sama dengan dengan nilai VIF tinggi (karena

VIF= 1/Tolerance). Nilai cut off yang umum dipakai untuk

menunjukkan adanya multikolonieritas adalah nilai tolerance ≤ 0.10

atau sama dengan nilai VIF ≥ 10 (Ghozali, 2018).

3.6.2.3. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu

model regresi linear terdapatkorelasi antara kesalahan pengganggu pada

periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya).

Jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi, ini

disebabkan karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan

satu sama lainya. Hal yang sering ditemukan pada data runtut waktu

(time series) karena gangguan pada individu atau kelompok yang sama
pada periode berikutnya. Pada data cross section (silang waktu) masalah

autokorelasi relatif jarang terjadi karena gangguan pada observasi yang

berbeda berasal dari individu atau kelompok yang berbeda. Model regresi

yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi (Ghozali, 2018).

Pendekatan yang digunakan untuk menguji ada atau tidaknya

autokorelasi adalah menggunakan uji Run Test. uji run test merupakan

bagian dari statistik non-paramatic yang dapat digunakan untuk menguji

apakah antar residual terdapat korelasi yang tinggi. Pengambilan

keputusan dengan melihat nilai Asymp.Sig (2-tailed) uji run test. Apabila

nilai Asymp.Sig (2-tailed) lebih besar dari tingkat signifikansi 0,05 maka

dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi (Ghozali, 2018).

3.6.2.4. Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam

model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan

ke pengamatan lain. Jika varians dari satu pengamatan ke pengamatan

yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas atau tidak terjadi

heteroskedastisitas dan jika varians berbeda maka disebut

heteroskedastisitas.

Ghozali (2018) menyatakan bahwa model regresi yang baik adalah

yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heterokedastisitas. Dalam

penelitian ini metode yang digunakan untuk mendeteksi adanya

heteroskedastisitas yaitu dengan Uji Park. Uji statistik park dipakai karena

lebih bisa menanggung keterpercayaan hasil daripada uji grafik plot yang
dapat menimbulkan bias. Uji park dilakukan dengan meregresikan nilai

residual dengan masing-masing variabel independen. Formula hipotesis

yang digunakan dalam pengujian hoteroskedastisitas adalah sebagai

berikut:

Ho : tidak ada hoteroskedastisitas

Ha : ada hoteroskedastisitas

Dasar pengambilan keputusan jika nilai signifikan variabel

independen lebih dari 0.05 maka tidak terjadi heterokedastisitas.

Sebaliknya, jika nilai signifikan variabel kurang dari 0.05 maka terjadi

heterokedastisitas.

3.6.3. Analisis Regresi Linier Berganda

Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda. Analisis

regresi linier berganda adalah analisis tentang hubungan antara satu variabel

dependen dengan dua atau lebih variabel independen. Analisis regresi linier

berganda yang baik adalah yang memenuhi kriteria asumsi klasik. Penelitian ini

melibatkan empat variabel independen yaitu Free Cash Flow, Profitabilitas,

Kepemilikan Institusional dan Struktur Aset.Serta variabel dependen yaitu

Kebijakan Hutang.

Model persamaan regresi linier berganda dalam penelitian ini dapat dirumuskan

sebagai berikut:

Y= a+β1X1+β2X2 + β3X3 + β4X4 +e


Sumber (Ghozali, 2018)

Y : Kebijakan hutang

a : Konstanta

β1-β4 : Koefisien regresi

X1 : Free cash flow

X2 : Profitabilitas

X3 : Kepemilikan institusional

X4 : Struktur aset

e : Eror
3.6.4. Uji Kebaikan Model

3.6.4.1. Uji Statistik F

Uji statistik F dilakukan untuk melihat apakah semua variabel

independen dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama

terhadap variabel dependen. Tingkat kepercayaan yang digunakan

adalah 95% atau taraf signifikan alfa sama dengan 5% (α= 0,05). Uji F

dihitung sebagai berikut :

1. Menentukan formulasi hipotesis

Ho: β1 = β2 = β3 = β4 = 0, artinya variabel secara independen (X1,

X2, X3, X4) secara simultan atau bersama-sama tidak berpengaruh

terhadap variabel dependen (Y).

Ha: tidak semua β bernilai nol, artinya variabel indenpen (X1, X2,

X3, X4) secara simultan atau bersama-sama berpengaruh terhadap

variabel dependen (Y).

2. Membuat kriteria pengujian

Secara spesifik kriteria pengambilan keputusan dalam uji F

dapat dituliskan:

 Jika hasil signifikansi > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak.

Artinya variabel independen secara bersama-sama tidak

berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen.

 Jika hasil signifikansi < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Artinya variabel independen secara bersama-sama berpengaruh

secara signifikan terhadap variabel dependen.


3.6.4.2. Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh

kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen.

Besarnya nilai koefisien determinasi adalah antara nol sampai dengan

satu. Nilai koefisien determinasi yang kecil berarti kemampuan variabel-

variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat

terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen

memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk

memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2018).

Ghozali (2018) juga menambahkan bahwa koefisien determinasi

hanyalah salah satu dan bukan satu-satunya kriteria dalam memilih

model yang baik dengan alasan apabila suatu estimasi regresi linier

menghasilkan koefisien determinasi yang tinggi tapi tidak konsisten

dengan teori yang dipilih oleh peneliti, atau tidak lolos dari uji asumsi

klasik maka model tersebut bukanlah model penelitian yang baik dan

seharusnya tidak dipilih menjadi model empiris dan menggantinya

dengan model lain.

3.6.5. Pengujian Hipotesis

Dalam penelitian ini, pengujian hipotesis menggunakan uji t. Dalam

pengujian hipotesis ini, peneliti menetapkan dengan menggunakan uji signifikan,

dengan penetapan hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif (Hα). Hipotesis nol

(H0) adalah suatu hipotesis yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh yang

signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen. Sedangkan


hipotesis alternatif (Hα) adalah hipotesis yang menyatakan bahwa adanya

pengaruh yang signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen.

3.6.5.1. Uji Parsial (Uji t)

Uji t dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh variabel

bebas (independen) berpengaruh secara signifikan atau tidak terhadap

variabel terikat (dependen). Hipotesis dirumuskan sebagai berikut:

1) Pengaruh free cash flow (X1) terhadap kebijakan hutang (Y).

Ho1 : β1 ≤ 0, artinya free cash flow tidak berpengaruh terhadap

kebijakan hutang

Ha1 : β1 > 0, artinya free cash flow berpengaruh positif terhadap

kebijakan hutang

2) Pengaruh profitabilitas (X2) terhadap kebijakan hutang (Y).

Ho2 : β2 ≥ 0, artinya profitabilitas tidak berpengaruh terhadap

kebijakan hutang

Ha2 : β2 < 0, artinya profitabilitas negatif signifikan terhadap

kebijakan hutang

3) Pengaruh kepemilikan institusional (X3) terhadap kebijakan hutang

(Y).

Ho3 : β3 ≤ 0, artinya kepemilikan institusional tidak berpengaruh

terhadap kebijakan hutang

Ha3 : β3 > 0, artinya kepemilikan institusional berpengaruh positif

terhadap kebijakan hutang

4) Pengaruh struktur aset (X4) terhadap kebijakan hutang (Y).


Ho4 : β4 ≤ 0, artinya struktur aset tidak berpengaruh terhadap

kebijakan hutang

Ha4 : β4 > 0, artinya struktur aset berpengaruh positif terhadap

kebijakan hutang

 Adapun ketentuan dalam pengujian ini adalah sebagai berikut :

Jika signifikan <5% maka Ho ditolak atau Ha diterima

jika signifikan >5% maka Ho diterima atau Ha ditolak


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan LQ-45 yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia (BEI). Pengambilan sampel pada penelitian ini

menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri dari perusahaan LQ-45 yang

terdaftar di BEI selama periode tahun 2016-2018. Selama periode penelitian

terdapat 60 perusahaan LQ-45 yang terdaftar di BEI. Berdasarkan kriteria

pengambilan sampel yang telah ditentukan, maka diperoleh sebanyak 28

perusahaan. Berikut ini disajikan dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 4.1
Kriteria Pengambilan Sampel
No Kriteria Jumlah
Perusahaan yang telah go public terdaftar pada LQ-
1. 45secara berturut-turut 60

Perusahaan yang tidak menerbitkan laporan tahunan


secara lengkap dengan menggunakan mata uang (12)
rupiah

Perusahaan yang telah menerbitkan laporan tahunan


2. secara lengkap dengan menggunakan mata uang 48
rupiah

Perusahaan yang tidak memiliki kondisi keuangan,


prospek pertumbuhan dan nilai transaksi yang tinggi. (3)

Perusahaan yang memiliki kondisi keuangan, prospek


3. pertumbuhan dan nilai transaksi yang tinggi 45

Perusahaan yang tidak muncul secara terus menerus (17)

58
4. Perusahaan yang muncul secara terus menerus 28

Total Sampel 3 tahun (28x3) 84


Sumber: Data sekunder yang diolah, 2020

Penjelasan seperti terlihat pada Tabel 4.1 di atas periode penelitian ini

selama tiga tahun yaitu selama tahun 2016 hingga 2018 menunjukkan bahwa dari

60 data perusahaan yang terdaftar pada LQ-45 diperoleh sebanyak 28 perusahaan

sehingga berjumlah 84 data obsevasi.

4.2 Deskripsi Variabel

Analisis statistik deskriptif dimaksudkan untuk mendeskripsikan atau

memberi gambaran mengenai karakteristik dari setiap variabel penelitian yang

dapat dilihat dari nilai minimum, maximum, mean, serta standard deviation yang

merupakan suatu gambaran atau deskripsi dari data (Ghozali, 2018). Berikut hasil

dari uji statistik deskriptif :

Tabel 4.2
Statistik Deskriptif

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Free Cash Flow 84 -0,733 0,583 -0,11911 0,232189

Profitabilitas 84 0,768 46,660 9,51652 9,879420

Kep.Institusional 84 0,175 0,850 0,59308 0,131267

Setruktur Aset 84 0,016 0,857 0,40313 0,236135

Kebijakan Hutang 84 0,153 11,065 2,14472 2,366138

Sumber: Data sekunder yang diolah , 2020


Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan bahwa n atau jumlah data pada setiap

variabel yaitu 84 data yang berasal dari sampel perusahaan yang terdaftar di LQ-

45 mulai tahun 2016 sampai dengan 2018. Masing-masing variabel akan

dijabarkan sesuai dengan tabel sebagai berikut :

Dari data kebijakan hutang yang diukur menggunakan Debt to Equity Ratio

(DER) dengan cara membagi total hutang dengan total ekuitas diperoleh nilai

minimum kebijakan hutang sebesar 0,153, nilai maksimum sebesar 11,065, nilai

rata-rata sebesar 2,14472 serta standar deviasi sebesar 2,366138. Data ini

menunjukkan bahwa rata-rata terjadinya kebijakan hutang dalam perusahaan yang

terdaftar di LQ-45 pereiode 2016-2018 yaitu sebesar 214,47%. Selain itu nilai

standar deviasi lebih besar dari nilai rata-rata sehingga menunjukkan persebaran

data yang tidak merata selama periode penelitian.

Free Cash Flow diukur dengan menggunakan aliran kas operasi dikurangi

pengeluaran modal dikurangi modal kerja bersih kemudian total tersebut dibagi

dengan total aset diperoleh nilai minimum sebesar -0,733 sedangkan untuk nilai

maksimum yaitu sebesar 0,583 dan untuk nilai rata-rata sebesar -0,11911 dengan

standar deviasi sebesar 0,232189. Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran

datanya tidak merata dikarenakan nilai standar deviasi lebih besar dari nilai rata-

rata .

Profitabilitas diukur dengan menggunakan Return On Asset (ROA) yakni

membagi laba bersih setelah pajak dengan total aset diperoleh nilai minimum

sebesar 0,768 sedangkan untuk nilai maksimum yaitu sebesar 46,660 dan untuk

nilai rata-rata sebesar 9,51652 dengan standar deviasi sebesar 9,879420. Hal ini
menunjukkan bahwa penyebaran datanya tidak merata dikarenakan nilai standar

deviasi lebih besar dari nilai rata-rata .

Kepemilikan institusional diukur dengan menggunakan jumlah saham pihak

institusional dibagi dengan total saham yang beredar, diperoleh nilai minimum

sebesar 0,175 sedangkan untuk nilai maksimum yaitu sebesar 0,850 dan untuk

nilai rata-rata sebesar 0,59308 dengan standar deviasi sebesar 0,131267. Hal ini

menunjukkan bahwa penyebaran datanya merata dikarenakan nilai standar deviasi

lebih kecil dari nilai rata-rata.

Struktur aset diukur dengan menggunakan jumlah aset tetap dibagi dengan

jumlah asset diperoleh nilai minimum sebesar 0,016 sedangkan untuk nilai

maksimum yaitu sebesar 0,857 dan untuk nilai rata-rata sebesar 0,40313 dengan

standar deviasi sebesar 0,236135. Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran

datanya merata dikarenakan nilai standar deviasi lebih kecil dari nilai rata-rata.

4.3 Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik dilakukan agar model regresi yang digunakan tidak bias

serta untuk mengetahui ada tidaknya penyimpangan yang terjadi guna

mendapatkan hasil regresi yang baik. Uji asumsi klasik dalam penelitian ini

adalah uji normalitas, multikolonieritas, autokorelasi dan heteroskedastisitas

4.3.1 Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,

variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Uji Normalitas

dapat dideteksi dengan menggunakan dua cara yaitu cara uji statistik non-
parametrik Kolmogrov-Smirnov (K-S) dan cara uji statistik grafik P-Plotter. Uji

normalitas data dengan menggunakan uji kolmogorov smirnov menunjukkan

distribusi normal apabila data memiliki nilai signifikansi lebih dari 0,05,

sedangkan dalam uji P-Plotter dikatakan distribusi normal apabila data menyebar

disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal. Berikut adalah uji

normalitas menggunakan kolmogorov smirnov dan P-Plotter. Adapun hasilnya

sebagai berikut:

Tabel 4.3
Uji Normalitas Sebelum Outlier
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardiz
ed Residual
N 84
a,b
Normal Parameters Mean .0000000
Std. .02540870
Deviation
Most Extreme Absolute .130
Differences Positive .122
Negative -.130
Test Statistic ,114
Asymp. Sig. (2-tailed) ,009c
Sumber: Datasekunder yang diolah, 2020

Berdasarkan tabel 4.3 diatas, pengujian menggunakan uji Kolmogorov-

Smirnov menunjukkan tingkat signifikansi sebesar 0,009 lebih kecil dari 0,05

sehingga data dapat dinyatakan belum berdistribusi normal sehingga dilakukan

outlier data.
Tabel 4.4
Uji Normalitas Sesudah Outlier
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardiz
ed Residual
N 74
a,b
Normal Parameters Mean -,0866989
Std. ,65281831
Deviation
Most Extreme Absolute ,084
Differences Positive ,062
Negative -,084
Test Statistic ,084
Asymp. Sig. (2-tailed) .200c,d
Sumber: Datasekunder yang diolah, 2020

Berdasarkan tabel 4.2 pengujian menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov

menunjukkan tingkat signifikansi sebesar 0,200 lebih besar dari 0,05 sehingga

dapat disimpulkan bahwa semua variabel penggangu atau residual tersebut

berdistribusi secara normal dan H0 diterima.


Gambar 2
P-Plotter
Sumber : Data Sekunder yang diolah, 2020

Berdasarkan gambar 4.1 menjelaskan bahwa P-Plot terlihat data menyebar

dan penyebarannya mendekati garis diagonalnya, sehingga model regresi dapat

dikatakan normal.

4.3.2 Uji Multikolonieritas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi

ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas atau tidak. Model regresi yang

baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel bebas. Pengujian ini

dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan nilai VIF (Variance Inflation

Factor). Nilai tolerance rendah sama dengan nilai VIF tinggi karena

(VIF=1/tolerance) dan hal ini menunjukkan adanya kolinearitas yang tinggi. Nilai

cut off yang biasanya dipakai adalah nilai tolerance 0,10 atau sama dengan nilai
VIF>10 maka bisa disimpulkan data bebas dari gejala multikolinearitas. Adapun

hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 4.5
Uji Multikolonieritas
Coefficientsa

Collinearity Statistics
Model
Tolerance VIF
(Constant)    
Free cash flow 0,519 1,926
Profitabilitas 0,563 1,776
Kep.Institusional 0,975 1,025
Struktur Aset 0,801 1,249
Sumber: Data sekunder yang diolah, 2020

Berdasarkan hasil data oleh SPSS versi 26 pada tabel 4.5 mempunyai nilai

VIF masing-masing variabel adalah < 10, hal ini menunjukkan bahwa untuk

semua variabel bebas tidak terjadi multikolonieritas terhadap variabel dependen

karena nilai VIF tidak melebihi nilai 10 dan untuk nilai tolerance mendekati

angka 1 (tolerance melebihi 0,1) dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak

mengalami gejala multikolonieritas.

4.3.3 Uji Autokorelasi

Uji Autokorelasi memiliki tujuan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi

antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada

periode t-1 (sebelumnya) dalam model regresi linier. Metode untuk menguji ada

tidaknya autokorelasi menggunakan Uji Run Test. Dalam uji run test, suatu model

regresi dapat dikatakan tidak ada autokorelasi jika nilai Asymp.Sig lebih besar dari

0,05. Berikut adalah hasil Uji run test untuk model regresi dalam penelitian ini :
Tabel 4.6
Hasil Uji Autokorelasi
Runs Test
Unstandardized
Residual
Test Valuea -0,02310
Cases < Test Value 37
Cases >= Test Value 37
Total Cases 74
Number of Runs 30
Z -1,873
Asymp.sig (2-tailed) 0,061
a. Median
Sumber : Data sekunder yang diolah, 2020

Berdasarkan hasil analisis tabel 4.6 uji yang telah dilakukan menunjukkan

bahwa nilai Asym.sig memiliki nilai 0,061 sehingga dapat disimpulkan bahwa

model regresi ini tidak mengalami autokorelasi karena nilai Asym.sig bernilai

lebih dari 0,05.

4.3.4 Uji Heterokedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah terjadi

ketidaksamaan variasi dari residual satu pengamat ke pengamat lain. Model

regresi yang baik yaitu model yang tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali,

2018), untuk menguji ada tidaknya heteroskedastisitas yaitu dengan menggunakan

metode Uji Park, jika dianalisis dengan uji park yaitu dengan melihat nilai

signifikansi antar variabel lebih dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa model

terhindar dari masalah heteroskedastisitas. Berikut hasil uji heteroskedastisitas

dengan metode Uji Park sebagai berikut:


Tabel 4.7
Uji Heterokedastisitas
Coefficientsa
Model B Std. Error Beta T Sig

1 (Constant) -0,965 1,455 -0,663 0,510


Free cash flow -1,738 1,657 -0,172 -1,049 0,298
Profitabilitas 0,022 0,038 0,090 0,574 0,568
Kep.Institusional -2,211 2,173 -0,122 -1,018 0,312
Struktur Aset -0,123 1,393 -0,012 -0,088 0,930
Sumber: Data sekunder yang diolah, 2020

Dari hasil uji park seperti tabel 4.8 diatas menunjukkan bahwa nilai

signifikan variabel free cash flow 0,298 lebih besar dari 0,05, profitabilitas 0,568

lebih besar dari 0,05, kepemilikan institusional 0,312 lebih besar dari 0,05 dan

struktur asset 0,930 lebih besar dari 0,05. Menurut hasil uji park tersebut empat

variabel telah menunjukkan nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 sehingga dapat

disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala heteroskedastisitas dalam penelitian ini.

4.3. Hasil Regresi

1.3.1 Model Regresi Linier Berganda

Model regresi linier berganda yang baik adalah yang memenuhi kriteria

asumsi klasik. Kriteria yang diterapkan yakni data harus normal, model bebas dari

multikolinearitas dan tidak terjadi heteroskedastisitas. Dari analisis sebelumnya

terbukti bahwa model dalam penelitian ini memenuhi kriteria asumsi klasik,

sehingga model dalam penelitian ini dianggap baik.


Tabel 4.8
Model Persamaan Regresi
Coefficientsa
Model B Std Error Beta T Sig

1 (Constant) 5,585 0,345 16,188 0,000


Free cash flow 5,813 0,393 14,797 0,000
Profitabilitas -0,101 0,009 0,784 -11,294 0,000
Kep.Institusional 1,555 0,515 -0,574 3,020 0,004
Struktur asset -7,008 0,330 0,117 -21,220 0,000
Sumber: Data sekunder yang diolah, 2020

Bahwa hasil persamaan regresi sebagai berikut:

Y = 5,585 + 5,813 X 1 - 0,101 X 2 + 1,555 X 3 -7,008 X 4 + ϵ

Persamaan model regresi ini dapat diinterprestasikan sebagai berikut:

1) Nilai konstanta adalah sebesar 5,585 menjelaskan bahwa free cash flow (X1)

profitabilitas (X2), kepemilikan institusional (X3), dan struktur aset (X4)

nilainya dianggap konstan atau tetap, maka nilai dari kebijakan hutang adalah

sebesar 5,585.

2) Nilai koefisien free cash flow (X1) adalah sebesar 5,813 bernilai positif,

artinya apabila free cash flow naik satu satuan maka akan menambahkan nilai

dari kebijakan hutang (Y) sebesar 5,813 dengan asumsi variabel independen

lainnya tetap.

3) Nilai koefisien profitabilitas (X2) adalah sebesar -0,101 bernilai negatif,

artinya apabila profitabilitas naik satu satuan maka akan menurunkan nilai

dari kebijakan hutang (Y) sebesar -0,101 dengan asumsi variabel independen

lainnya tetap.

4) Nilai koefisien kepemilikan institusional (X3) adalah sebesar 1,555 bernilai

positif, artinya apabila kepemilikan institusional naik satu satuan maka akan
menaikkan nilai dari kebijakan hutang (Y) sebesar 1,555 dengan asumsi

variabel independen lainnya tetap.

5) Nilai koefisien struktur aset (X4) adalah sebesar -7,008 bernilai negatif,

artinya apabila struktur aset naik satu satuan maka akan menurunkan nilai

dari kebijakan hutang (Y) sebesar -7,008 dengan asumsi variabel independen

lainnya tetap.

4.4. Uji Kelayakan Model

4.4.1 Uji Statistik F

Uji model dilakukan dengan menggunakan uji statistik F yaitu untuk

menguji apakah free cash flow, profitabilitas, kepemilikan institusional dan

struktur aset secara bersama-sama berpengaruh terhadap kebijakan hutang.

Berikut adalah hasil uji statistik F:

Tabel 4.9
Uji Statistik F
ANOVAa
Model
Sum of Mean
Squares Df Square F Sig.
1 Regression 213,747 4 53,437 154,454 0,000b
Residual 23,872 69 0,346
Total 237,619 73
Sumber: Data sekunder yang diolah, 2020

Berdasarkan tabel 4.9 hasil pengolahan data terlihat nilai F sebesar

154,454 dengan tingkat signifikansi 0,000. Hal ini berarti bahwa nilai

signifikansi lebih kecil dibandingkan 0,05 dengan demikian dapat disimpulkan

bahwa free cash flow, profitabilitas, kepemilikan institusional dan struktur aset

secara bersama-sama berpengaruh terhadap kebijakan hutang.


4.4.2 Koefisen Determinasi (R2)

Koefisien determinasi bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh free

cash flow, profitabilitas, kepemilikan institusional dan struktur aset terhadap

kebijakan hutang. Nilai koefisien determinasi ditunjukkan dengan nilai adjusted

R-Square. Berikut adalah hasil pengujian koefisien determinasi:

Tabel 4.10
Koefisien Determinasi
Model Summaryb
Adjusted R Std. Error of
Model R R Square Square the Estimate
a
1 0, 948 0, 900 0 ,894 0,588193
Sumber: Data sekunder yang diolah, 2020

Berdasarkan tabel 4.11 dapat diketahui bahwa nilai Adjusted R-Square

sebesar 0 ,894 atau sebesar 89,4%. Hal ini berarti bahwa variabel free cash flow,

profitabilitas, kepemilikan institusional dan struktur aset secara keseluruhan

berpengaruh terhadap kebijakan hutang sebesar 89,4%, sedangkan sebesar 10,6%

dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian.

4.5. Pengujian Hipotesis

4.5.1 Uji Parsial t (Uji t)

Uji Parsial t (Uji t) bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh free

cash flow, profitabilitas, kepemilikan institusional dan struktur aset terhadap

kebijakan hutang. Uji t dilakukan dengan cara membandingkan nilai signifikansi

dimana α = 0,05. Berikut adalah hasil Uji t .


Tabel 4.11
Uji t
Variabel B Sig Keterangan

Free cash flow 5,813 0,000 Diterima

Profitabilitas -0,101 0,000 Diterima

Kep.Institusional 1,555 0,004 Diterima

Struktur asset -7,008 0,000 Ditolak

Sumber: Data sekunder yang diolah, 2020

1. Pengaruh free cash flow terhadap kebijakan hutang

Pengujian hipotesis yang pertama adalah untuk menguji apakah free

cash flow signifikan positif terhadap kebijakan hutang. Hasil pengujian

diatas menunjukkan nilai koefisien sebesar 5,813 dengan arah positif dan

nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dibanding 0,05 sehingga dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa free cash flow signifikan positif terhadap

kebijakan hutang, oleh karena itu hipotesis pertama free cash flow signifikan

positif terhadap kebijakan hutang adalah diterima.

2. Pengaruh profitabilitas terhadap kebijakan hutang

Pengujian hipotesis kedua adalah untuk menguji apakah profitabilitas

negatif signifikan terhadap kebijakan hutang. . Hasil pengujian diatas

menunjukkan nilai koefisien sebesar 0,101 dengan arah negatif dan nilai

signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dibanding 0,05 sehingga dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa profitabilitas negatif signifikan terhadap

kebijakan hutang, oleh karena itu hipotesis kedua profitabilitas negatif

signifikan terhadap kebijakan hutang adalah diterima.

3. Pengaruh kepemilikan institusional terhadap kebijakan hutang


Pengujian hipotesis ketiga adalah untuk menguji apakah kepemilikan

institusional signifikan positif terhadap kebijakan hutang. Hasil pengujian

diatas menunjukkan nilai koefisien sebesar 1,555 dengan arah positif dan

nilai signifikansi sebesar 0,004 lebih kecil dibanding 0,05 sehingga dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa kepemilikan institusional signifikan

positif terhadap kebijakan hutang, oleh karena itu hipotesis ketiga

kepemilikan institusional signifikan positif terhadap kebijakan hutang adalah

diterima.

4. Pengaruh struktur aset terhadap kebijakan hutang

Pengujian hipotesis keempat adalah untuk menguji apakah struktur

aset signifikan positif terhadap kebijakan hutang. Hasil pengujian diatas

menunjukkan nilai koefisien sebesar 7,008 dengan arah negatif dan nilai

signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dibanding 0,05 sehingga dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa struktur aset negatif signifikan terhadap

kebijakan hutang, oleh karena itu hipotesis keempat struktur aset signifikan

positif terhadap kebijakan hutang adalah ditolak.


4.6. Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil pengujian penelitian diatas tentang pengaruh variabel

free cash flow, profitabilitas, kepemilikan institusional dan struktur aset terhadap

kebijakan hutang pada perusahaan yang terdaftar di LQ-45 pada tahun 2016-

2018, diperoleh hasil penelitian dengan pembahasan sebagai berikut:

1. Pengaruh free cash flow terhadap kebijakan hutang

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa free cash flow

terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan hutang.

Artinya free cash flow atau kas lebih perusahaan yang sudah tidak digunakan

lagi dapat digunakan untuk membayar hutang yang dimiliki oleh perusahaan

dan meningkatkan aktivitas operasional perusahaan.

Hubungan penelitian ini dengan teori agency sebagai landasan teori

yang digunakan, dimana konflik kepentingan antara principal dan agent salah

satunya dapat timbul karena kelebihan free cash flow. Kelebihan free cash

flow ini cenderung di investasikan dalam hal-hal yang tidak ada kaitannya

dengan kegiatan utama perusahaan, ini menyebabkan perbedaan kepentingan

karena manajer (agent) lebih menyukai investasi yang beresiko tinggi yang

juga menghasilkan return tinggi sedangkan pemegang saham (principal) lebih

memilih investasi dengan resiko yang rendah dan menginginkan dana ditahan

sebagai persediaan dana internal perusahaan yang dapat digunakan untuk

meningkatkan aktivitas operasionalnya dan membayar hutang perusahaan.


Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Linda, dkk., 2017; Putra,

2017) yang menunjukkan bahwa free cash flow berpengaruh positif dan

signifikan terhadap kebijakan hutang.

2. Pengaruh profitabilitas terhadap kebijakan hutang

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa profitabilitas

terbukti negatif signifikan dan signifikan terhadap kebijakan hutang, artinya

bahwa semakin tinggi tingkat profitabilitas yang dimiliki oleh perusahaan

maka akan menggunakan hutang yang relatif kecil karena laba yang dimiliki

oleh perusahaan tinggi cukup untuk membiayai kebutuhan pendanaan

perusahaan yang akan digunakan untuk membiayai kegiatan operasionalnya.

Hubungan penelitian ini dengan teori pecking order theory sebagai

landasan teori yang digunakan, dimana perusahaan lebih cenderung memilih

pendanaan yang berasal dari internal dari pada eksternal perusahaan karena

urutan pendanaan yang akan digunakan oleh perusahaan adalah laba ditahan,

hutang dan penerbitan saham sebagai pilihan yang terakhir. Perusahaan yang

memiliki laba yang tinggi berarti mempunyai kemampuan untuk memenuhi

pendanaan secara internal.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

(Pradhana, dkk., 2014; Ratnaningsih, 2016) bahwa profitabilitas negatif

signifikan dan signifikan terhadap kebijakan hutang.


3. Pengaruh kepemilikan institusional terhadap kebijakan hutang

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan

institusional terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan

hutang, artinya bahwa semakin besar persentase saham yang dimiliki oleh

pihak institusional maka akan mendorong peningkatan pengawasan yang

lebih optimal terhadap kinerja manajemen. Demikian proporsi kepemilikan

saham oleh pihak institusional akan mampu menekan dan mengurangi

perilaku opportunistic dari pihak manajer yang ingin mementingkan diri

sendiri dan dapat merugikan pemegang saham.

Hubungan penelitian ini dengan teori agency sebagai landasan teori

yang digunakan, dimana kepemilikan saham pihak institusional memiliki

peranan yang sangat penting dalam mengurangi konflik keagenan yang terjadi

antara pihak agent dan principal, konflik keagenan tersebut berupa adanya

asimetri informasi. Cara yang digunakan untuk mengurangi asimetri

informasi tersebut maka perlu adanya pengawasan oleh pihak institusional

sehingga manajer (agent) akan bertindak hati-hati dalam pengambilan

keputusan.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

(Trisnawati, dkk., 2017; Saraswaty & Hermanto, 2016) bahwa kepemilikan

institusional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan hutang.


4. Pengaruh struktur aset terhadap kebijakan hutang

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur aset tidak

terbukti berpengaruh terhadap kebijakan hutang, artinya bahwa aset yang

dimiliki perusahaan tidak menjadi tolak ukur perusahaan untuk dijaminkan

sebagai hutang. Perusahaan lebih memilih menjual aset yang dimilikinya

untuk penambahan pendanaan perusahaan dibanding harus menjaminkannya

kepada kreditur yang nantinya akan menimbulkan resiko yang besar kepada

perusahaan.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan signaling theory dimana

perusahaan memberikan signal berupa informasi seberapa besar aset yang

dimiliki perusahaan dengan proporsi yang tinggi dapat dijadikan sebagai

jaminan kepada kreditur. Hal ini dikarenakan bahwa meskipun perusahaan

mempunyai aset dengan proporsi yang tinggi tidak mencerminkan bahwa aset

tersebut dijaminkan kepada kreditur melainkan perusahaan akan menjual

asetnya untuk penambahaan pendanaan perusahaan sebelum aset tersebut

dijadikan jaminan, perusahaan lebih memilih menjual aset terlebih dahulu

karena perusahaan lebih menghindari resiko dimasa yang akan datang.

Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

(Linda, dkk., 2017; Merna, 2017) bahwa struktur aset signifikan positif

terhadap kebijakan hutang. Namun sejalan dengan Mardiyati, dkk., (2018)

yang menyatakan bahwa struktur aset tidak berpengaruh terhadap kebijakan

hutang.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh free cash flow,

profitabilitas, kepemilikan institusional dan struktur aset terhadap kebijakan

hutang studi pada perusahaan LQ-45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

(BEI) pada tahun 2016 hingga 2018. Berdasarkan analisis data yang telah

dilakukan terhadap 84 sampel selama periode waktu tiga tahun dengan

menggunakan analisis regresi linier berganda diperoleh hasil sebagai berikut :

1. Free cash flow terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan

hutang. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki free cash

flow yang tinggi maka dapat digunakan untuk membayar hutang yang

dimiliki oleh perusahaan dan dapat meningkatkan aktivitas operasional

perusahaan.

2. Profitabilitas terbukti negatif signifikan dan signifikan terhadap kebijakan

hutang. Hal ini dikarenakan semakin tinggi tingkat profitabilitas yang dimiliki

oleh perusahaan maka akan menggunakan hutang yang relatif kecil karena

laba yang dimiliki oleh perusahaan tinggi, cukup untuk membiayai kebutuhan

pendanaan perusahaan.

3. Kepemilikan institusional terbukti berpengaruh positif dan signifikan

terhadap kebijakan hutang. Hal ini dikarenakan semakin besar persentase

saham yang dimiliki oleh pihak institusional maka akan mendorong

peningkatan pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja manajemen.

77
Demikian proporsi kepemilikan saham oleh pihak institusional akan mampu

menekan dan mengurangi perilaku opportunistic dari pihak manajer yang

ingin mementingkan diri sendiri dan dapat merugikan pemegang saham.

4. Struktur aset tidak terbukti berpengaruh terhadap kebijakan hutang. Hal ini

dikarenakan bahwa aset yang dimiliki perusahaan tidak menjadi tolak ukur

perusahaan untuk dijaminkan sebagai hutang. Perusahaan lebih memilih

menjual aset yang dimilikinya untuk penambahan pendanaan perusahaan

dibanding harus menjaminkannya kepada kreditur yang nantinya akan

menimbulkan resiko yang besar kepada perusahaan.

5.2 Implikasi

1. Bagi Perusahaan

Kebijakan hutang merupakan keputusan yang sangat penting

dalam perusahaan, dimana kebijakan hutang merupakan salah satu

bagian dari kebijakan pendanaan perusahaan. Mekanisme yang optimal

dalam pengelolaan pendanaan akan menciptakan suatu kondisi

perusahaan yang baik, sehingga perusahaan dapat meningkatkan

kepercayaan kreditur dan menjadi daya tarik bagi investor untuk

menanamkan dananya ke perusahaan.

2. Bagi Investor

Bagi investor yang ingin menanamkan dananya ke suatu

perusahaan hendaknya lebih cermat dan teliti dalam mengawasi

perkembangan kondisi internal perusahaan dengan tidak mengabaikan


faktor eksternal perusahaan, sehingga tujuan utama perusahaan untuk

meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran

pemilik atau pemegang saham dapat tercapai.

5.3 Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang memerlukan perbaikan

dan pengembangan dalam penelitian selanjutnya. Keterbatasan tersebut antara lain

sebagai berikut:

1. Periode pengamatan masih terbatas hanya selama 3 tahun dari tahun 2016-

2018.

2. Penelitian ini hanya menggunakan sampel pada perusahaan LQ-45 yang

terdaftar di BEI sehingga tidak dapat mewakili seluruh perusahaan yang

terdaftar di BEI karena setiap perusahaan memiliki karakteristik yang berbeda.

3. Penelitian ini hanya menggunakan empat variabel independen yaitu free cash

flow, profitabilitas, kepemilikan institusional dan struktur aset.

5.4 Agenda Penelitian Mendatang

Berdasarkan pada keterbatasan-keterbatasan pada penelitian ini, maka saran

untuk penelitian selanjutnya adalah sebagai berikut:

1. Bagi penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah periode pengamatan

baik selama 4 tahun, 5 tahun, dan seterusnya

2. Bagi penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggunakan objek penelitian

yang lebih luas, tidak hanya menggunakan perusahaan LQ-45 saja tetapi
dapat menambah dengan perusahaan lainnya yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia.

3. Bagi penelitian selanjutnya diharapkan bisa mengembangkan variabel diluar

variabel penelitian untuk menghasilkan hasil yang berbeda.