Anda di halaman 1dari 12

TUGAS KECIL 7

EKUITAS PADA PT INTEGRA INDOCABINET TBK

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Teori Akuntansi dengan dosen:
Deni Syachrudin, SE, MS.Ak, Akt

Disusun oleh:
Neri Aristanti Hardhany (43218120122)

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MERCU BUANA
JAKARTA
2020

PT INTEGRA INDOCABINET TBK

I. DEFINISI
I.1 EKUITAS
I.1.1. Definisi Secara Umum
Istilah ekuitas berasal dari kata equity atau equity of ownership yang berarti
kekayaan bersih perusahaan. Secara sederhana, ia diformulasikan sebagai total
aktiva dikurangi total pasiva. Pengertian ekuitas menurut PSAK, yakni Hak
residual atas aktiva perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban.
Ekuitas merupakan salah satu unsur penting dalam laporan neraca. Dalam teori
dasar akuntansi, Ekuitas memiliki rumus dasar:
aset = kewajiban + ekuitas
Jadi, ekuitas ini jika dalam jurnal memiliki saldo normal pada kredit. Karena
terletak pada kanan tanda sama dengan, hal ini berarti jika ekuitas pemilik
bertambah maka masuk sisi kredit pada posting ayat jurnal. Ekuitas ini adalah
modal pemilik yang menjadi modal awal perusahaan. Dalam teori akuntansi
ekuitas adalah hal residual atas aset perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban.
Jika di kembalikan pada rumus dasar tersebut di atas, aset adalah kewajiban
ditambah ekuitas, maka, ekuitas adalah aset dikurangi kewajiban. Di laporan
keuangan sendiri ada sebuah draf laporan perubahan ekuitas pemilik yang
merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari rentetan laporan
keuangan yang harus dilaporkan dalam setiap periode pencatatan perusahaan.
Dalam sebuah perusahaan komponen ekuitas terdiri dari saham, laba ditahan dan
agio saham yang semuanya merupakan milik perusahaan itu sendiri. Dalam
beberapa hal atau dalam kaitannya dengan kebutuhan modal untuk ekspansi,
ekuitas sering juga diartikan sebagai modal kepemilikan (equity of capital). Artinya
jika perusahaan membutuhkan dana untuk pengembangan usaha maka salah satu
alternatif sumbernya bisa berasal dari modal sendiri. Dalam hal ini perusahaan bisa
menerbitkan saham baru dan menjualnya kepada pihak lain, atau pemegang saham
yang ada. Pihak lain disini bisa investor perorangan ataupun investor lembaga
seperti bank investasi (invesment banking).
I.1.2. Jenis-Jenis Ekuitas dan Sumber Perubahan
Ekuitas pemilik dibagi menjadi 4 akun induk dalam pelaporan akuntansi
berdasarkan penambah atau pengurang ekuitas itu sendiri:
1. Akun penambah ekuitas
Akun penambah ekuitas ini terbagi menjadi 2 macam yaitu modal disetor dan
laba ditahan. Nantinya kedua akun ini jika di sajikan dalam laporan perubahan
ekuitas merupakan unsur penambah ekuitas tersebut.
2. Akun pengurang ekuitas
Dalam akun pengurang ekuitas juga terdapat 2 akun yang memiliki kebalikan
dari 2 akun penambah ekuitas. Dua akun tersebut yaitu pengambilan pribadi
dan biaya. Dua akun ini dalam laporan perubahan ekuitas nantinya akan di
nyatakan sebagai pengurang ekuitas dengan saldo normal di sisi debit.
I.2 Modal Disetor
Modal/capital merupakan modal awal perusahaan yang disetorkan murni dari
pemilik. Jika tidak diketahui data modal awal dapat menghitung dengan jumlah
ekuitas keseluruhan ditambah laba dan dikurangi kerugian bersih dan pengambilan
pribadi. Maka dari beberapa data yang ada dapat ditentukan jumlah modal di setor.
Untuk modal disetor ini sebuah perusahaan biasanya menerbitkan saham yang
nantinya digunakan untuk bukti kepemilikan perusahaan. Suatu perusahaan
biasanya mengeluarkan beberapa lembar saham dan tiap lembar saham memiliki
nilai nominal..
II. PENGAKUAN DAN PENGUKURAN
Terdapat beberapa bentuk perusahaan yaitu perusahaan perorangan, persekutuan dan
perseroan terbatas serta koperasi. Walaupun secara hukum perusahaan perseorangan
tidak diakui sebagai entitas yang terpisah dengan pemiliknya, namun menurut pandangan
akuntansi perusahaan perorangan terpisah dari pemiliknya. Perseroan terbatas menurut
pandangan hukum merupakan entitas yang dapat melakukan kegiatan seperti manusia
sehingga dapat dikatakan bahwa PT merupakan entitas buatan (artificial entity).
Jika dilihat dari sudut pandang akuntansi, PT adalah suatu perusahaan yang
kepemilikannya diwujudkan dengan saham. Saham merupakan sertifikat yang
dikeluarkan oleh perseroan. Seseorang atau lembaga yang ikut serta menyerahkan
sumber daya (harta) ke perseroan akan diberikan saham yang kemudian disebut
pemegang saham. Perseroan adalah bentuk perusahaan yang kepemilikannya terbagi atas
sejumlah saham. Dengan demikian pemilik dari usaha perseroan adalah lebih dari satu
dengan jumlah kepemilikan tercermin pada jumlah saham yang dipegangnya. Perseroan
dapat diklasifikasikan dari segi kepemilikannya sebagai berikut:
1. Perseroan sektor masyarakat/public perseroan jenis ini saham-sahamnya dimiliki oleh
unit-unit pemerintah atau operasi bisnis yang dimiliki unit-unit pemerintah.
2. Perseroan sektor swasta:
a. Bukan saham
Perseroan jenis ini adalah perseroan yang bersifat nirlaba dan tidak menerbitkan
saham. Contoh dari bentuk ini adalah yayasan sosial, sekolah, dll.
b. Saham
Merupakan perseroan yang menerbitkan saham untuk menunjukkan
kepemilikan. Jadi perseroan berbentuk saham, kepemilikan pada perusahaan
tercermin dalam jumlah saham yang dipegangnya. Jenis perseroan bentuk ini
terbagi menjadi dua yaitu:
i. Perseroan Tertutup (non-publik): yaitu perseroan yang sahamnya dipegang
oleh beberapa pemegang saham (mungkin satu keluarga) dan tidak tersedia
untuk pembelian umum).
ii. Perseroan terbuka (perusahaan publik): perseroan yang kepemilikannya
berbentuk saham dan saham perseroan ini diperdagangkan pada suatu pasar
yang disebut dengan pasar modal. Pemilik atau pemegang saham jenis
perseroan bentuk ini bisa berubah-ubah setiap saat, tergantung penjualan dan
pembelian saham di bursa efek untuk perusahaan yang berbentuk perseroan.
Terdapat dua bentuk saham sebagai tanda hak milik pada perusahaan yaitu:
i. Saham biasa (common stock) adalah saham dimana pemegangnya memiliki
hak perseroan secara umum dan pemegangnya menanggung risiko terbatas
atas kerugian dan menerima manfaat bila terjadi keuntungan. Saham ini tidak
dijamin akan menerima dividen atau tidak dijamin atas pembagian aset bila
perusahaan dilikuidasi. Namun pemegang saham ini memiliki hak suara
terkait dengan penentuan kebijakan operasional perusahaan.
ii. Saham preferen (preferred stock) adalah saham dimana pemegangnya
memiliki hak-hak istimewa di perusahaan terutama berkaitan dengan
pembagian dividen dan pembagian aset saat perusahaan dilikuidasi.
Pemegang saham preferen akan selalu mendapatkan dividen sebesar
prosentase tertentu (tercantum dalam lembar saham preferen) dari nilai pari
atau nilai nominalnya. Namun pemegang saham preferen ini tidak memiliki
hak suara dalam hal penentuan kebijakan operasi perusahaan.
Untuk memperlihatkan informasi penerbitan saham pada nilaipari/nilai nominal,
akun-akun berikut harus dipertahankan untuk masing-masing saham sebagai
berikut:
i. Saham preferen atau saham biasa
Akun ini memperlihatkan jenis saham yang diterbitkan dengan nilai parinya.
Akun ini dikredit ketika saham pertama kali diterbitkan, dan tidak ada
penambahan ayat jurnal pada akun ini kecuali ada penambahan saham yang
diterbitkan atau adanya penarikan saham.
ii. Tambahan modal disetor
Akun ini menunjukkan kelebihan modal disetor di atas nilai pari
saham.tambahan modal disetor ini meliputi agio saham atau disagio saham.
Dua perkiraan baru digunakan apabila saham dijual atas dasar pesanan,yaitu (1)
saham biasa atau preferen yang dipesan menunjukkan kewajiban perseroan untuk
menerbitkan saham setelah pembayaran akhir saldo pesanan oleh mereka yang
telah memesan saham, (2) piutang pesanan, menunjukkan jumlah yang harus
ditagih sebelum saham pesanan akan diterbitkan. Kontroversi terjadi sehubungan
dengan penyajian piutang pesanan saham dineraca. Beberapa orang
mengemukakan bahwa piutang pesanan sebaiknya dilaporkan pada seksi aset
lancar. Piutang dagang muncul dari transaksi penjualan pada kegiatan bisnis
seperti yang biasa sedangkan piutang pesanan berhubungan dengan penerbitan
saham sendiri dan merupakan kontribusi modal yang belum dibayarkan kepada
perseroan.
Ekuitas badan usaha bukan PT harus dilaporkan sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku untuk badan usaha tersebut dan standar akuntansi
keuangan yang berlaku khusus untuk industri yang bersangkutan, misalnya
koperasi.
Untuk badan usaha PT modal saham meliputi saham preferen, saham biasa dan
akun tambahan modal disetor. Pos modal lainnya seperti modal yang berasal dari
sumbangan dapat disajikan sebagai bagian dari tambahan modal disetor. Berikut
ini merupakan unsur-unsur penambahan modal disetor PT; Akun tambahan modal
disetor terdiri dari berbagai macam unsur penambah modal, seperti; agio saham,
tambahan modal dari perolehan kembali saham dengan harga yang lebih rendah
dari pada jumlah yang diterima pada saat pengeluaran, tambahan modal dari
penjualan saham yang diperoleh kembali dengan harga di atas jumlah yang
dibayarkan pada saat perolehannya, tambahan modal dari perbedaan kurs modal
disetor dan lain sebagainya. Akun tambahan modal disetor tidak boleh didebit
atau dikredit dengan pos laba/rugi usaha maupun laba/rugi luar biasa.
Untuk pencatatannya, penambahan modal disetor dicatat berdasarkan hal-hal
berikut ini:
i. Jumlah uang yang diterima.
ii. Setoran saham dalam bentuk uang, sesuai transaksi nyata. Untuk jenis saham
yang diatur dalam bentuk rupiah dalam akta pendirian, setoran saham tunai
dalam bentuk mata uang asing dinilai dengan kurs berlaku tanggal setoran.
Untuk jenis saham yang diatur dalam mata uang asing dalam akta
pendiriannya, setoran tunai baik rupiah atau mata uang asing lain harus
dikonversi ke mata uang asing dalam akta pendirian sesuai kurs resmi yang
berlaku pada tanggal setoran, kecuali akta pendirian atau keputusan
pemerintah menentukan kurs tetap. Selisih kurs mata uang asing yang timbul
sehubungan dengan transaksi modal harus dibukukan sebagai bagian
darimodal dalam akunselisih kurs atas modal disetor dan bukan merupakan
unsur laba rugi.
iii. Besarnya tagihan yang timbul atau hutang yang dikonversi menjadi modal.
iv. Setoran saham dalam dividen saham dilakukan dengan harga wajar saham,
yaitu harga pasar tanggal transaksi untuk PT yang sahamnya terdaftar dibursa
efek, atau nilai wajar yang disepakati rapat umum pemegang saham untuk
saham yang tidak ada harga pasarnya.
v. Nilai wajar aktiva bukan kas yang diterima.
vi. Setoran saham dalam bentuk barang (inbreng), menggunakan nilai wajar
aktiva bukan kas yang diserahkan, yaitu nilai appraisal tanggal transaksi yang
disetujui dewan komisaris untuk PT yang sahamnya terdaftar di bursa efek,
atau nilai kesepakatan dewan komisaris dan penyetor bentuk barang.
Untuk pengurangan modal disetor lazimnya dicatat berdasarkan hal-hal berikut
ini:
i. Jumlah uang yang dibayarkan; atau
ii. Besarnya hutang yang timbul; atau
iii. Nilai wajar aktiva bukan kas yang diserahkan.
Pengeluaran saham dicatat sebesar nilai nominal yang bersangkutan. Bila jumlah
yang diterima dari pengeluaran saham tersebut lebih besar dari pada nilai
nominalnya, selisih yang terjadi dibukukan pada akun agio saham. Bila ketentuan
hukum yang ada memungkinkan penarikan kembali saham yang telah
dikeluarkan, maka pencatatan transaksi ini dilakukan dengan mendebet akun
modal saham dan mengkredit modal saham yang diperoleh kembali sebesar
jumlah yang dibukukan pada saat perolehan kembali saham yang bersangkutan.
Saham yang dikeluarkan sehubungan dengan penyertaan modal dalam bentuk
penyerahan aktiva bukan kas atau pemberian jasa umumnya dinilai sebesar nilai
wajar aktiva/jasa tersebut atau nilai wajar saham yang bersangkutan, tergantung
mana yang lebih jelas.
Jika perusahaan memperoleh kembali saham yang telah dikeluarkan, selisih
antara jumlah yang dibayarkan pada saat perolehan kembali dengan jumlah yang
diterima pada saat pengeluaran saham tidak diakui sebagai laba atau rugi
perusahaan. Perolehan kembali saham yang telah dikeluarkan dapat dicatat
dengan menggunakan cost atau par value method. Dengan cost method, saham
yang diperoleh kembali dicatat sebesar harga perolehan kembali dan disajikan
sebagai pengurang atas jumlah modal. Saham yang dibeli kembali dicatat sesuai
harga perolehan kembali, disajikan sebagai pengurang akun modal saham, untuk
saham sejenis, disajikan dalam jumlah lembar dan nilai nominal. Kemudian,
selisih harga perolehan kembali dengan nilai nominal disajikan sebagai
pengurang atau penambah akun agio saham, disajikan per jenis saham dan rupiah,
dengan judul tambahan (pengurang) agio modal dari perolehan kembali saham.
Apabila agio saham menjadi defisit (disagio) karena transaksi perolehan kembali,
defisit tersebut dibebankan pada saldo laba.
Metode nilai nominal atau par value method lazimnya digunakan dalam hal
saham yang diperoleh kembali tersebut akan dikeluarkan lagi dikemudian hari.
Dengan metode nilai nominal (par value method), saham yang diperoleh kembali
dicatat sebesar nilai nominal saham yang bersangkutan dan disajikan sebagai
pengurang akun modal saham. Apabila saham yang diperoleh kembali tersebut
semula dikeluarkan dengan harga di atas pari, akun agio saham akan didebit
dengan agio saham yang bersangkutan. Dalam hal jumlah yang dibayarkan lebih
besar dari pada jumlah yang diterima pada saat pengeluarannya, selisih tersebut
dibukukan dengan mendebet akun saldo laba, .sebaliknya bila jumlah yang
dibayarkan lebih kecil, selisihnya dianggap sebagai unsur penambah modal dan
dibukukan dengan mengkredit akun tambahan modal dari perolehan kembali
saham. Metode ini lazimnya digunakan bila perolehan kembali dilakukan dalam
rangka penarikan saham.
Saham yang diperoleh kembali dari sumbangan lazimnya dicatat sebesar jumlah
yang diterima pada saat pengeluarannya dengan mendebet akun modal saham
yang diperoleh kembali dan mengkredit akun modal yang berasal dari
sumbangan. Pada saat saham tersebut dijual kembali, selisih antara jumlah yang
tercatat dengan harga jualnya ditambahkan pada akun modal yang berasal dari
sumbangan Dividen Perseroan Terbatas.
Kewajiban perusahaan untuk membagi dividen timbul pada saat deklarasi
dividen, dan dengan demikian pada saat tersebut saldo laba akan dibebani dengan
jumlah dividen termaksud. Kewajiban yang timbul lazimnya disajikan dalam
kelompok kewajiban lancar. Bila dividen dibagikan dalam bentuk aktiva bukan
kas, maka saldo laba akan didebit sebesar nilai wajar aktiva yang diserahkan.
Dasar pencatatan untuk pembagian dividen dalam bentuk aktiva bukan kas dan
saham harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
Pembagian dividen termasuk dividen saham berasal dari saldo laba. Pembagian
dividen saham adalah pembagian saldo laba kepada pemegang saham, yang
diinvestasikan kembali oleh mereka dalam bentuk modal disetor. Pembagian
dividen saham dicatat berdasarkan nilai wajar saham. Termasuk dalam pengertian
nilai wajar adalah harga pasar saham PT yang sahamnya terdaftar di bursa efek
atau harga sesuai peraturan dalam akta pendirian PT yang sahamnya tidak
terdaftar dibursa efek, dengan syarat telah disetujui rapat umum pemegang saham
serta tak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Konversi agio menjadi saham digolongkan sebagai modal disetor sebesar nilai
nominal. Konversi agio menjadi saham tak boleh digolongkan sebagai pembagian
dividen.

III. PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN


Penyajian modal dalam neraca harus dilakukan sesuai dengan ketentuan pada akta
pendirian perusahaan dan peraturan yang berlaku serta menggambarkan hubungan
keuangan yang ada. Modal dasar, modal yang ditempatkan dan modal yang disetor, nilai
nominal dan banyaknya saham untuk setiap jenis saham harus dinyatakan dalam neraca.
Bila terdapat lebih dari satu jenis saham, hak preferen dari suatu golongan saham atas
dividen dan pelunasan modal pada saat likuidasi harus dicantumkan dalam laporan
keuangan. Dalam hal terdapat tunggakan dividen atas saham preferen dengan hak
dividen kumulatif, jumlah tunggakan tiap saham dan jumlah keseluruhan dividen periode
sebelumnya harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Perubahan atas
modal yang ditanam dalam tahun berjalan harus diungkapkan dalam catatan atas laporan
keuangan. Modal disajikan dalam neraca setelah kewajiban. Bentuk penyajiannya sesuai
akta pendirian badan usaha tersebut, misalnya: saham adalah penyertaan modal dalam
kepemilikan perseroan terbatas. Pada perusahaan yang terdaftar pada bursa efek, saham
dapat ditempatkan dengan dasar pesanan. Dengan dasar ini saham hanya akan
dikeluarkan jika pemesan telah membayar penuh harga saham yang bersangkutan.
Pesanan saham dicatat dengan mendebet akun piutang kepada pemesan saham dan
mengkreditakun modal saham yang dipesan. Akun modal saham yang dipesan disajikan
dalam kelompok modal di bawah akun modal saham. Akun piutang kepada pemesan
saham sebesar sisa harga saham yang belum dilunasi dalam transaksi semacam ini
lazimnya disajikan dalam kelompok aktiva lancar. Apabila piutang ini tidak
dimaksudkan untuk ditagih dalam waktu dekat, akun ini dapat disajikan dalam kelompok
mengurangi akun modal saham yang dipesan. Pada saat harga saham sudah dibayar
penuh, akun modal saham yang dipesan akan didebit dan akun modal saham dikredit.
Dalam hal pemesan gagal melunasi sisa pembayarannya, maka tergantung pada
kebijakan perusahaan dan dilandaskan pada peraturan hukum yang berlaku, perusahaan
dapat mengambil salah satu tindakan dibawah ini:
1. Mengembalikan jumlah pembayaran yang telah dilakukan.
2. Mengembalikan jumlah pembayaran yang telah dilakukan dikurangi dengan jumlah
tertentu.
3. Jumlah pembayaran yang telah dilakukan diakui sebagai unsur penambahmodal dan
disajikan sebagai tambahan modal dari pembatalan penjualansaham
4. Mengeluarkan saham yang sebanding dengan jumlah pembayaran yang telah
dilakukan.

Saldo laba menunjukkan akumulasi hasil usaha periodik setelah memperhitungkan


pembagian dividen dan koreksi laba-rugi periode lalu. Akun ini harus dinyatakan
terpisah dari akun Modal saham. Seluruh saldo laba dianggap bebas untuk dibagikan
sebagai dividen, kecuali jika diberikan indikasi mengenai pembatasan terhadap saldo
laba, misalnya; dicadangkan untuk perluasan pabrik, atau untuk memenuhi
ketentuan undang-undang maupun ikatan tertentu. Saldo laba yang tidak tersedia
untuk dibagikan sebagai dividen karena pembatasan-pembatasan tersebut,
dilaporkan dalam akun tersendiri yang menggambarkan tujuan pencadangan
termaksud; pembatasan-pembatasan yang ada harus diungkapkan dalam catatan atas
laporan keuangan. Saldo laba tidak boleh dibebani atau dikredit dengan pos-pos
yang seharusnya diperhitungkan pada laporan laba rugi tahun berjalan.
Pengungkapan saldo laba harus meliputi:
1. Pengungkapan penjatahan (apropriasi) dan pemisahan saldo laba, menjelaskan
jenis penjatahan dan pemisahan, tujuan penjatahan danpemisahan saldo laba,
serta jumlahnya. Perubahan akun-akun penjatahan atau pemisahan saldo laba,
harus pula diungkapkan.
2. Peraturan, perikatan, batasan dan jumlah batasan di sekitar saldo laba, harus
diungkapkan. Misalnya, selama perjanjian kredit berlangsung, perusahaan tak
diizinkan membagi saldo laba tanpa seijin kreditur.
3. Perubahan saldo laba karena penggabungan usaha dengan metode penyatuan
kepentingan (pooling of interests).
4. Koreksi masa lalu, baik bruto maupun netosetelah pajak. Pengungkapan harus
dilakukan dengan penjelasan bentuk kesalahan laporan keuangan terdahulu,
dampak koreksi terhadap laba usaha, laba bersih dan nilai saham perlembar.
5. Pengungkapan jumlah dividen dan dividen per lembar saham,
pengungkapanketerbatasan saldo laba tersedia bagi dividen.
6. Tunggakan dividen, baik jumlah maupun tunggakan perlembar saham.
7. Pengungkapan deklarasi dividen setelah tanggal neraca, sebelum tanggal
penerbitan laporan keuangan.
8. Pengungkapan dividen saham dan pecah-saham, pengungkapan jumlah yang
dikapitalisasi dan saji ulang laba persaham (eps) agar laporan keuangan berdaya
bandings.
III.1 Ekuitas Pada Laporan Keuangan PT Integra Indocabinet Tbk
2018
EKUITAS
Ekuitas yang dapat
diatribusikan kepada
pemilik entitas induk
Modal saham – nilai nominal
Rp 100 per saham
Modal dasar –
20.000.000.000 saham
Modal ditempatkan dan
disetor penuh – 6.306.250.000
saham pada tahun 2018
dan 6.250.000.000 saham
pada tahun 2017 630,625,000,000
Tambahan modal disetor 226,788,468,642
Selisih kurs karena penjabaran
laporan keuangan 141,425,224,187
Selisih transaksi nilai ekuitas
dengan pihak non-pengendali 5,268,543,595

Penghasilan komprehensif lain 895,431,479,041


Saldo laba 540,240,524,764

Sub-jumlah 2,439,779,240,229
Kepentingan non-pengendali 10,260,274,523

JUMLAH EKUITAS 2,450,039,514,752


IV. CONTOH TRANSAKSI
PT. Integra Indocabinet, Tbk., Pada tanggal 21 Juni 2017, Perusahaan mencatatkan
1.250.000.000 lembar sahamnya dari modal ditempatkan dan disetor penuh dengan nilai
nominal Rp 100 per saham di Bursa Efek Indonesia. Jurnal untuk mencatat transaksi
penempatan saham tangal 21 Juni 2017, sebagai berikut :

21 Juni 2017 Kas 125.000.000.000


Modal Saham 125.000.000.000

V. Hubungan Akun Ekuitas dengan Jurnal dan Laporan Keuangan


Laporan laba/rugi, laporan perubahan modal, dan neraca mencerminkan hubungan
artikulatif. Laba/rugi yang tersaji di laporan laba/rugi menjadi bagian di laporan
perubahan ekuitas. Selanjutnya, saldo akun ekuitas yang tersaji di laporan perubahan
ekuitas tercantum di neraca, khususnya di elemen ekuitas. Sedangkan laporan arus kas
terkait dengan salah satu yang terdapat di neraca, yaitu akun Kas.
1. Elemen-elemen asset, utang, dan ekuitas disajikan di neraca
2. Elemen-elemen pendapatan dan biaya disajikan dilaporan laba/rugi
3. Elemen pengembalian ekuitas dan ekuitas disajikan di laporan perubahan ekuitas
4. Salah satu elemen asset, yaitu kas, disajikan dilaporan arus kas

komponen modal ekuitas pemegang saham dan pos-pos yang mempengaruhinya (sumber
perubahan)

Ekuitas Pemegang Saham

Modal Setoran Modal Bentukan Lain-lain

Modal Yuridis Modal Setoran


Lain

• Penerbitan saham • Premium modal • Laba atau rugi dari


baru saham statemen L/R
• Kapitalisasi laba • Penjualan saham • Dividen
ditahan treasuri • Rekapitalisasi
• Dividen saham • Penyerapan defisit • Defisit
• Konversi obligasi • Deklarasi dividen • Koreksi
• Perubahan akuntansi
atau saham terkonversi likuidasi

Anda mungkin juga menyukai