Anda di halaman 1dari 11

Miza Adliawan

165020307111061
Ak. Forensik CB

BAB 13 AUDIT INVESTIGATIF DENGAN TEKNIK AUDIT

• Kunci keberhasilan teknik investigasi antara lain:


1.Mengerti dengan baik persoalan yang akan dipecahkan, apa yang akan diinvestigasi.
2.Kuasai dengan baik tehnik-tehnik investigasi
3.Cermat dalam menerapkan tehnik yang dipilih
4.Cermat dalam menarik kesimpulan dari hasil penerapan tehnik yang kita pilih.
• TEKNIK AUDIT INVESTIGASI
1.Memeriksa fisik merupakan penghitungan tunai, kertas berharga, persediaan barang,
aktiva tetap, dan barang berwujud lainnya.
2.Meminta konfirmasi adalah meminta pihak lain untuk menegaskan kebenaran atau
ketidak
benaran suatu informasi.
3.Memeriksa dokumen. Dokumen dalam arti luas termasuk informasi yang diolah,
disimpan
dan dipindahkan secara elektronis/digital
4.Reviu analitikal didasarkan atas perbandingan antara apa yang dihadapi dengan apa
yang
dihadapi dengan apa yang layaknya harus terjadi, dan berusaha menjawab sebabnya
terjadi kesenjangan.
5.Meminta informasi lisan atau tertulis dari auditan
6.Menghitung kembali merupakan mencek kebenaran perhitungan (kali, bagi, tambah,
kurang, dan lain-lain)
7.Mengamati
BAB 14 AUDIT INVESTIGATIF DENGAN TEKNIK PERPAJAKAN

• Ada 2 teknik audit investigasi yang digunakan untuk menentukan penghasilan kena
pajak yang belum dilaporkan oleh Wajib Pajak dalam SPT-nya. Kedua teknik ini antara
lain Net Worth Method dan Expenditure Method.
• Net Worth Method untuk audit investigatif pajak ingin membuktikan adanya PKP yang
belum dilaporkan oleh Wajib Pajak. Untuk organized crime yang ingin dibuktikan ialah
penghasilan yang tidak sah dan melawan hukum.
• Net Worth Method untuk perpajakan. Di Indonesia, wajib pajak diwajibkan melaporkan
penghasilannya secara lengkap dan benar dalam SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan,
dalam hal ini SPT PPh). Di awal tahun, pemeriksa pajak menetapkan Net Worth atau
kekayaan bersih seseorang. Cara sederhananya Net Worth = asset-liabilitas . Setelah
dihitung seharusnya kenaikan net worth antara tahun ke 1 dan ke 2 sama dengan PKP
tahun ke 2. Tahun 1 Tahun 2 Aset 1.000 Aset 3.000 (-) Liabilitas 200 (-) Liabilitas 250
Net Worth 800 Net Worth 2750 Net Worth tahun 1 800 Kenaikan Net Worth 1950 (+)
Non deductible Expense 1000 (-) Nontaxable income 400 Corrected taxable income
2550 (-) reported taxable income 1250 Unreported taxable income 1300

Keterangan Istilah :
1. Non Deductible Expense = biaya biaya yang tidak boleh dibebankan dalam
menghitung PKP. 2. Non Taxable Income = penghasilan seseorang (atau perusahan)
yang untuk kepentingan perpajakan bukan merupakan PKP.
3. Corrected Taxable Income = PKP sesungguhnya yang harus dilaporkan wajib pajak
berdasarkan perhitungan Net Worth Method
4. Unreported taxable income = PKP yang belum dilaporkan Wajib pajak. Informasi
inilah yang dihitung pemeriksa atau penyidik pajak.
• Net Worth Method untuk Organized Crime Dengan perhitungan yang hampir sama,
kita dapat menggunakan perhitungan tersebut untuk illegal income juga. Tahun 1 Tahun
2 Aset 1.000 Aset 3.000 (-) Liabilitas 200 (-) Liabilitas 250 Net Worth 800 Net Worth
2750 Net Worth tahun 1 800 Kenaikan Net Worth 1950 (+) Personal Expense 1000
Corrected Legal Income 2950 (-) legal income 1250 Illegal Income 1700

Catatan penting dalam menerapkan Net Worth Method :


1. Rekaman Makin banyak transaksi terekam, makin ampuh pula net worth method.
Seperti, penggunaan kartu kredit.
2. Penyimpanan uang tunai ada beberapa pelaku kejahatan yang menggunakan jasa
perbankan atau pasar modal dalam menyimpan bahkan menggandakan uang hasil
kejahatan mereka. Ada pula yang menyimpan uang dalam rumah dinas atau rumah
tempat tinggal mereka dalam jumlah yang besar, disebut juga Cash Hoarding.
3. Tambahan penghasilan kalau tambahan dari pembelian tanah atau warisan, masih
bisa ditelusuri. Yang menjadi perhatian bahkan KPK menetapkan aturan dalam hal ini
adalah gratifikasi.
4. Pembalikan beban pembuktian â membalikkan apa yang sudah dilaporkan ke
pemerintah dari yang bersangkutan.
5. Catatan pembukuan catatan yang seringkali tidak lengkap dan menjadi tantangan
bagi penyidik.
• Expenditure Method lebih cocok untuk wajib pajak yang tidak mengumpulkan harta
benda, tetapi mempunyai pengeluaran-pengeluaran mewah dalam jumlah besar. Jumlah
pengeluaran 10.000 (-) total nontaxable income 1.000 Adjusted gross income 9.250 (-)
itemized/ standard deduction 750 (-) exemptions 500 Corrected Taxable Income 8.000
Reported taxable income 3.000 Unreported taxable income 5.000

Keterangan istilah :
1. Itemized = pengurangan yang diperkenankan UU baik yang bersifat standar atau
dirinci satu per satu.
2. Exemption = pengecualian. Expenditure Method biasa digunakan atas kondisi
kondisi perpajkaan yang sangat kuat dan dominan, seperti:
a. Wajib pajak tidak menyelenggarakan pembukuan atau catatan
b. Pembukuan dan catatan wajib pajak tidak tersedia misalnya terbakar
c. Wajib pajak menyelenggarakan pembukuan tetapi tidak memadai.
d. Wajib pajak menyembunyikan pembukuannya
e. Wajib pajak tidak mempunyai asset yang terlihat atau dapat diidentifikasi.
• Expenditure Method biasa digunakan pada organized crime atas kondisi kondisi yang
sangat kuat dan dominan, seperti:
1. Tersangka keliahatannya tidak membeli asset seperti rumah, tanah, saham, mobil,
kapal
mewah dan lainnya.
2. Tersangka mempunyai gaya hidup mewah dan agak diluar kemampuan.
3. Tersangka diduga mengepalai jaringan kejahatan.
4. Illegal income ditentukan untuk menghitung denda (misalnya kejahatan
penebangan
hutan illegal), menghitung kerugian negara (dalam kasus korupsi) dan pungutan
negara lainnya.
REVIEW KASUS GAYUS

Berawal tudingan Mantan Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Susno Duadji tentang adanya
praktek mafia hukum di tubuh Polri dalam penanganan kasus money laundring oknum
pegawai pajak bernama Gayus Halomoan Tambunan yang merembet kepada Kejaksaan
Agung dan Tim Jaksa Peneliti, Tim Jaksa Peneliti akhirnya bersuara mengungkap kronologis
penanganan kasus Gayus H. Tambunan. Berikut ini kronologis penanganan kasus Gayus H.
Tambunan menurut Tim Peneliti Kejaksaan Agung.

Kasus bermula dari kecurigaan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK)
terhadap rekening milik Gayus H. Tambunan di Bank Panin. Polri kemudian melakukan
penyelidikan terhadap kasus ini. Tanggal 7 Oktober 2009 penyidik Bareskrim Mabes Polri
menetapkan Gayus H. Tambunan sebagai tersangka dengan mengirimkan Surat
Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP).

Dalam berkas yang dikirimkan penyidik Polri kepada kejaksaan, Gayus H. Tambunan dijerat
dengan tiga pasal berlapis yakni pasal korupsi, pencucian uang, dan penggelapan. Hal ini
karena Gayus H. Tambunan adalah seorang pegawai negeri dan memiliki dana Rp. 25 miliar
di Bank Panin.

Hasil penelitian jaksa menyebutkan bahwa hanya terdapat satu pasal yang terbukti terindikasi
kejahatan dan dapat dilimpahkan ke Pengadilan, yaitu penggelapan namun hal ini tidak
terkait dengan uang senilai Rp. 25 milliar yang diributkan PPATK dan Polri. Untuk korupsi
terkait dana Rp.25 milliar tidak dapat dibuktikan karena dalam penelitian ternyata uang
tersebut merupakan produk perjanjian Gayus dengan Andi Kosasih. Andi Kosasih adalah
pengusaha garmen asal Batam yang mengaku pemilik uang senilai hampir Rp. 25 miliar di
rekening Bank Panin milik Gayus H. Tambunan. Hal ini didukung dengan adanya perjanjian
tertulis antara terdakwa (Gayus H. Tambunan) dan Andi Kosasih yang ditandatangani tanggal
25 Mei 2008.
Menurut Cirrus Sinaga selaku anggota Tim Jaksa Peneliti kasus Gayus, Gayus H. Tambunan
dan Andi Kosasih awalnya berkenalan di pesawat. Kemudian keduanya berteman karena
merasa sama-sama besar, tinggal dan lahir di Jakarta Utara. Karena pertemanan keduanyalah
Andi Kosasih meminta Gayus H. Tambunan mencarikan tanah dua hektar untuk membangun
ruko di kawasan Jakarta Utara. Biaya yang dibutuhkan untuk pengadaan tanah tersebut
sebesar US$ 6 juta. Namun Andi Kosasih baru menyerahkan uang sebesar US$ 2.810.000.
Andi menyerahkan uang tersebut kepada Gayus melalui transaksi tunai di rumah orang tua
istri Gayus lengkap dengan kwitansinya, sebanyak enam kali yaitu pada tanggal 1 Juni 2008
sebesar US$ 900.000, tanggal 15 September 2008 sebesar US$ 650.000, tanggal 27 Oktober
2008 sebesar US$ 260.000, tanggal 10 November 2008 sebesar US$ 200.000, tanggal 10
Desember 2008 sebesar US$ 500.000, dan terakhir pada tanggal 16 Februari 2009 sebesar
US$ 300.000. Andi Kosasih menyerahkan uang tersebut karena dia percaya kepada Gayus H.
Tambunan.

Menurut Cirrus Sinaga, dugaan money laundring hanya tetap menjadi dugaan karena Pusat
Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) sama sekali tidak dapat membuktikan
uang senilai Rp. 25 milliar tersebut merupakan uang hasil kejahatan pencucian uang (money
laundring). PPATK telah dihadirkan dalam kasus tersebut sebagai saksi. Dalam proses
perkara, PPATK tidak bisa membuktikan transfer rekening yang diduga tindak pidana.

Dari perkembangan proses penyidikan kasus tersebut, ditemukan juga adanya aliran dana
senilai Rp 370 juta di rekening lainnya di Bank BCA milik Gayus H. Tambunan. Uang
tersebut diketahui berasal dari dua transaksi yaitu dari PT.Mega Cipta Jaya Garmindo. PT.
Mega Cipta Jaya Garmindo adalah perusahaan milik pengusaha Korea, Mr. Son dan bergerak
di bidang garmen. Transaksi dilakukan dalam dua tahap yaitu pada tanggal 1 September 2007
sebesar Rp. 170 juta dan 2 Agustus 2008 sebesar Rp. 200 juta.
Setelah diteliti dan disidik, uang senilai Rp.370 juta tersebut diketahui bukan merupakan
korupsi dan money laundring tetapi penggelapan pajak murni. Uang tersebut dimaksudkan
untuk membantu pengurusan pajak pendirian pabrik garmen di Sukabumi. Namun demikian,
setelah dicek, pemiliknya Mr Son, warga Korea, tidak diketahui berada di mana. Uang
tersebut masuk ke rekening Gayus H. Tambunan tetapi ternyata Gayus tidak urus pajaknya.
Uang tersebut tidak digunakan oleh Gayus dan tidak dikembalikan kepada Mr. Son sehingga
hanya diam di rekening Gayus. Berkas P-19 dengan petujuk jaksa untuk memblokir dan
kemudian menyita uang senilai Rp 370 juta tersebut. Dalam petunjuknya, jaksa peneliti juga
meminta penyidik Polri menguraikan di Berita Acara Pemeriksaan (BAP) keterangan tersebut
beserta keterangan tersangka (Gayus H. Tambunan).
Dugaan penggelapan yang dilakukan Gayus diungkapkan Cirrus Sinaga secara terpisah dan
berbeda dasar penanganannya dengan penanganan kasus money laundring, penggelapan dan
korupsi senilai Rp. 25 milliar yang semula dituduhkan kepada Gayus. Cirrus dan jaksa
peneliti lain tidak menyinggung soal Rp 25. milliar lainnya dari transaksi Roberto Santonius,
seorang konsultan pajak. Kejaksaan pun tak menyinggung apakah mereka pernah
memerintahkan penyidik Polri untuk memblokir dan menyita uang dari Roberto ke rekening
Gayus senilai Rp 25 milyar itu.

Sebelumnya, penyidik Polri melalui AKBP Margiani, dalam keterangan persnya


mengungkapkan bahwa jaksa peneliti dalam petunjuknya (P-19) berkas Gayus
memerintahkan penyidik untuk menyita besaran tiga transaksi mencurigakan di rekening
Gayus. Adapun tiga transaksi itu diketahui berasal dari dua pihak, yaitu Roberto Santonius
dan PT. Mega Jaya Citra Termindo. Transaksi yang berasal dari Roberto, yang diketahui
sebagai konsultan pajak bernilai Rp. 25 juta, sedangkan dari PT. Mega Jaya Citra Termindo
senilai Rp. 370 juta. Transaksi itu terjadi pada tanggal 18 Maret, 16 Juni dan 14 Agustus
2009. Uang senilai Rp. 395 juta tersebut disita berdasarkan petunjuk dari jaksa peneliti kasus
itu.

Berkas Gayus dilimpahkan ke pengadilan. Jaksa mengajukan tuntutan 1 (satu) tahun dan
masa percobaan 1 (satu) tahun. Dari pemeriksaan atas pegawai Direktorat Jenderal Pajak itu
sebelumnya, beredar kabar bahwa ada “guyuran” sejumlah uang kepada polisi, jaksa, hingga
hakim masing-masing Rp 5 miliar. Diduga gara-gara ‘guyuran’ uang tersebut Gayus terbebas
dari hukuman. Dalam sidang di Pengadilan Negeri Tangerang tanggal 12 Maret 2010, Gayus
yang hanya dituntut satu tahun percobaan, dijatuhi vonis bebas.

Menurut Yunus Husein, Ketua PPATK, “Mengalirnya uang belum kelihatan kepada aparat
negara atau kepada penegak hukum. Namun anehnya penggelapan ini tidak ada pihak
pengadunya, pasalnya perusahaan ini telah tutup. Sangkaan inilah yang kemudian maju ke
persidangan Pengadilan Negeri Tangerang. Di Pengadilan Negeri Tangerang, Gayus tidak
terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penggelapan.
Hasilnya, Gayus divonis bebas.”

Sosok Gayus dinilai amat berharga karena ia termasuk saksi kunci dalam kasus dugaan
makelar kasus serta dugaan adanya mafia pajak di Direktorat Jenderal Pajak. Belum diketahui
apakah Gayus melarikan diri lantaran takut atau ada tangan-tangan pihak tertentu yang
membantunya untuk kabur supaya kasus yang membelitnya tidak terbongkar sampai ke
akarnya. Satgas Pemberantasan Mafia Hukum meyakini kasus Gayus H. Tambunan bukan
hanya soal pidana pengelapan melainkan ada juga pidana korupsi dan pencucian uang.

Gayus diketahui berada di Singapura. Dia meninggalkan Indonesia pada Rabu 24 Maret 2010
melalui Bandara Soekarno-Hatta. Namun dia pernah memberikan keterangan kepada Satgas
kalau praktek yang dia lakukan melibatkan sekurang-kurangnya 10 rekannya. Imigrasi tidak
mengetahui posisi Gayus.

Satgas Pemberantasan Mafia Hukum mengatakan bahwa kasus markus pajak dengan aktor
utama Gayus H. Tambunan melibatkan sindikasi oknum polisi, jaksa, dan hakim. Satgas
menjamin oknum-oknum tersebut akan ditindak tegas oleh masing-masing institusinya,
koordinasi perkembangan ketiga lembaga tersebut terus dilakukan bersama Satgas. Ketiga
lembaga tersebut sudah berjanji akan melakukan proses internal. Kasus ini merupakan
sindikasi (jaringan) antar berbagai lembaga terkait.

Perkembangan selanjutnya kasus Gayus melibatkan Komjen Susno Duadji, Brigjen Edmond
Ilyas, Brigjen Raja Erisman. Setelah 3 kali menjalani pemeriksaan, Komjen Susno Duadji
menolak diperiksa Propam. Alasannya, dasar aturan pemeriksaan sesuai dengan Pasal 45, 46,
47, dan 48 UU No 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan,
Pasal 25 Perpres No. I Tahun 2007 tentang Pengesahan Pengundangan dan Penyebarluasan
Peraturan, harus diundangkan menteri dalam hal ini Menteri Hukum dan HAM.

Komisi III DPR menyatakan siap memberi perlindungan hukum untuk Komjen Susno Duadji.
Pada tanggal 30 Maret 2010, polisi telah berhasil mendeteksi posisi keberadaan Gayus di
negara Singapura dan menunggu koordinasi dengan pihak pemerintah Singapura untuk
memulangkan Gayus ke Indonesia. Polri mengaku tidak akan seenaknya melakukan tindakan
terhadap Gayus meski yang bersangkutan telah diketahui keberadaannya di Singapura.

Pada tanggal 31 Maret 2010, Tim Penyidik Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri
memeriksa tiga orang sekaligus. Selain Gayus H. Tambunan dan Brigjen Edmond Ilyas,
ternyata Brigjen Raja Erisman juga ikut diperiksa. Pemeriksaan

dilakukan oleh tiga tim berbeda. Tim pertama memeriksa berkas lanjutan pemeriksaan Andi
Kosasih, tim kedua memeriksa adanya keterlibatan anggota polri dalam pelanggaran kode
etik profesi, dan tim ketiga menyelidiki keberadaan dan tindak lanjut aliran dana rekening
Gayus.

Pada tanggal 7 April 2010, Komisi III DPR mengendus seorang jenderal bintang tiga di
Kepolisian diduga terlibat dalam kasus Gayus H. Tambunan dan seseorang bernama Syahrial
Johan ikut terlibat dalam kasus penggelapan pajak yang melibatkan Gayus H. Tambunan, dari
Rp. 24 milliar yang digelapkan Gayus, Rp. 11 milliar mengalir kepada pejabat kepolisian, Rp.
5 milliar kepada pejabat kejaksaan dan Rp. 4 milliar di lingkungan kehakiman, sedangkan
sisanya mengalir kepada para pengacara.

Analisis secara umum:

Berdasarkan kasus diatas, seharusnya Gayus selaku pegawai pajak melakukan


pertanggungjawaban sebagai profesional yang senantiasa menggunakan pertimbangan moral
dan profesional dalam setiap kegiatan yang dilakukannya. Selain itu seharusnya tidak
melanggar prinsip etika profesi yang kedua,yaitu kepentingan publik, yaitu dengan cara
menghormati kepercayaan publik. Kemudian tetap memelihara dan meningkatkan
kepercayaan publik sesuai dengan prinsip integritas. Seharusnya tidak melanggar juga prinsip
obyektivitas yaitu dimana setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari
benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.

Analisis secara khusus:

1. Tanggung Jawab Profesi,

Ketika melaksanakan tanggungjawabnya sebagai seorang profesional, setiap anggota harus


mempergunakan pertimbangan moral dan juga profesional didalam semua aktivitas/kegiatan
yang dilakukan. Berdasarkan kasus diatas, Gayus melanggar prinsip ini karena kegiatan
menyimpang yang dilakukan Gayus tidak didasari dengan pertimbangan moral dan tidak
profesional. Menerima suap dan mengatur kasus perpajakan adalah prilaku Gayus yang
melanggar prinsip kode etik tanggung jawab profesi ini.

2. Kepentingan Publik,
Setiap anggota harus senantiasa bertindak dalam krangka memberikan pelayanan
kepada publik, menghormati kepercayaan yang diberikan publik, serta menunjukkan
komitmennya sebagai profesional. Berdasarkan kasus diatas, Dengan Gayus menerima suap
dari perusahaan yang menginginkan pembayaran pajak mereka lebih kecil, maka otomatis
prinsip ini dilanggar. Karena jika Gayus menerima suap, maka jumlah pajak yang diterima
negara tidak sebesar seharusnya.

3. Integritas

Guna menjaga dan juga untuk meningkatkan kepercayaan publik, tiap tiap anggota wajib
memenuhi tanggungjawabnya sebagai profesional dengan tingkat integritas yang setinggi
mungkin. Bedasarkan kasus diatas, menunjukan bahwa Gayus melanggar prinsip kode etik
ini, Gayus telah mengutamakan kepentingan pribadinya dibandingkan kepentingan publik.

4. Obyektivitas

Tiap individu anggota berkeharusan untuk menjaga tingkat keobyektivitasnya dan terbebas
dari benturan-benturan kepentingan dalam menjalankan tugas kewajiban profesionalnya.
Berdasarkan kasus diatas, Gayus tidak bersikap objektif dalam menjalankan tugasnya.
Sebagai pegawai Dirjen Pajak seharusnya dia dapat bersikap objektif terhadap wajib pajak.
tetapi yang dilakukan malah membantu wajib pajak untuk menang dalam pengadilan pajak
dan menerima imbalan atas jasa tersebut.

5. Kompetensi dan sifat kehati hatian

Tiap anggota harus menjalankann jasa profesional dengan kehati hatian, kompetensi dan
ketekunan serta memiliki kewajiban memepertahankan keterampilan profesional pada
tingkatan yang dibutuhkan guna memastikan bahwa klien mendapatkan manfaat dari jasa
profesional yang diberikan dengan kompeten berdasar pada perkembangan praktek, legislasi
serta teknik yang mutahir. Dalam prinsip ini memang Gayus memperlakukan kliennya
dengan sangat baik. Akan tetapi Gayus melanggar satu hal yang sangat penting dalam prinsip
ini yaitu sikap hati-hati dan profesionalnya.
6. Perilaku Profesional

Tiap anggota wajib untuk berperilaku konsisten dengan reputasi jang baik dan menjauhi
kegiatan/tindakan yang bisa mendiskreditkan profesi. Hal ini yang dilanggar oleh Gayus,
Gayus telah melakukan tindakan yang membuat institusi dan pekerjaan sebagai pegawai
Dirjen Pajak sama seperti sarang korupsi.

7. Standar Teknis

Anggota harus menjalankan jasa profesional sesuai standar teknis dan standard proesional
yang berhubungan/relevan. tiap tiap anggota memiliki kewajiban melaksanakan penugasan
dari klien selama penugasan tersebut tidak berseberangan dengan prinsip integritas dan
prinsip objektivitas. Berdasarkan kasus diatas, Jelas terlihat bahwa prilaku Gayus sangat
menyimpang dari standar pekerjaan aparat Dirjen Pajak. Aparat Dirjen Pajak dilarang keras
menerima suap dari wajib pajak. Akan tetapi hal ini dilakukan oleh Gayus.