Anda di halaman 1dari 29

PENGARUH MODEL PEMBELJARAN TEAG GEAMES TURNAMEN DAN

TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZED TERHADAP HASIL BELAJAR


MATEMATIKA SISWA DI KELAS VIII SMP NEGRI 1 MEDAN
AJARAN 2019/2020

Dosen Pengampuh:
Drs. Asrul Daulay, M.Si

PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat untuk
Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) dalam Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Oleh:
MEUTIA SILVI
0305171065

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
1
BAB

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pendidikan berarti tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan (seperti sekolah
dan madrasah) yang dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu
dalam menguasai pengetahuan, kebiasaan, sikap dan sebagainya. Pendidikan dapat
berlangsung secara formal dan nonformal, bahkan menurut definisi di atas, pendidikan
juga dapat berlangsung dengan cara mengajar diri sendiri (self-instruction). Tujuan
utama pendidikan ialah menciptakan sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas.

Dalam proses pembelajaran terdapat sistem pelaksanaan program bahan kajian


pembelajaran yang merupakan ketentuan pokok dari kurikulum. Kurikulum adalah
seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara
yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Matematika adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang berperan penting
dalam usaha menciptakan (SDM) yang berkualitas. Banyak .

Dibawah ini disajikan beberapa definisi atau pengertian tentang matematika;

a. Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan


terorganisir secara sistematik
b. Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan
kalkulasi.
c. Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan
berhubungan dengan bilangan.
d. Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta
kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk.
e. Matematika adalah pengetahuan tentang sruktur-stuktur yang
logik
f. Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat.

2
James dan James dalam strategi pembelajaran matematika kontemporer
mengatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk susunan,
besaran dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah
yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis dan geometri.
Sementara itu dalam buku yang sama pula Johnson dan Rising mengatakan bahwa
matematika adalah pola berfikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logik,
matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan
cermat, jelas dan akurat, representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa
simbol mengenai ide daripada mengenai bunyi. Matematika tumbuh dan berkembang
karena proses berfikir, oleh karena itu logika adalah dasar untuk terbentuknya
matematika.

Sampai saat ini belum ada kesepakatan yang bulat diantara para matematikawan,
apa yang disebut matematika itu. sasaran penelaahan matematika tidaklah konkri, tetapi
abstrak. Dengan mengetahui sasaran penelaahan matematika, kita dapat mengetahui
hakikat matematika yang sekaligus dapat kita ketahui juga cara berfikir matematika itu.

Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang masuk dalam UAS. Ketidak
sukaan siswa pada matematika, membuat pelajaran ini nilainya selalu lebih rendah
dibandingkan dengan pelajaran UAS yang lainnya.Bahkan matematika jugalah yang
sering membuat anak-anak tidak lulus UAS. Ini dikarenakan nilai matematika yang di
peroleh dibawah standar yang ditetapkan oleh pemerintah.

Padahal pada semua jenjang pendidikan, matematika memiliki porsi waktu yang
lebih banyak dibanding pelajaran yang lain. Tetapi dalam kenyataannya, matematika
dianggap sebagai monster yang menakutkan. Hal seperti ini akan memicu siswa untuk
malas belajar matematika.

Selain itu pembelajaran matematika di sekolah biasanya hanya berorientasi pada


proses transfer dari guru ke siswa. Matematika dipandang sebagai barang jadi yang
dapat dipindahkan dari seseorang ke orang lain.

Mengaktifkan belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran merupakan salah satu


cara menghidupkan dan melatih memori siswa agar bekerja dan berkembang secara
optimal. Berikan kesempatan kepada siswa untuk mengoptimalkan memorinya bekerja

3
secara maksimal dengan memberikan kesempatan mengungkapkan dengan bahasanya
dan melakukan dengan kreatifitasnya sendiri. Jangan dibatasi selama kreatifitas siswa
masih dalam kerangka menunjang pencapaia kompetensinya

Cara lain mengaktifkan belajar siswa adalah dengan memberikan berbagai


pengalaman belajar bermakna yang bermanfaat bagi kehidupan siswa dengan
memberikan rangsangan tugas, tantangan, memecahkan masalah, atau mengembangkan
pembiasaan agar dalam dirinya tumbuh kesadaran bahwa belajar menjadi kebutuhan
hidupnya dan oleh karena itu perliu diklakukan sepanjanghayat.

Alasan lain mengaktifkan belajar siswa adalah setiap siswa memiliki gaya belajar
yang berbeda-beda. Karena itu, setiap siswa perlu memperoleh layanan bimbingan
belajar yang berbeda pula sehingga seluruh siswa dapat berkembang sesuai dengan
tingkat kemampuanya. Begitu pula tidak semua siswa berasal dari latar belakang sosial
yang memiliki kesadaran dan budaya belajar sehingga tugas guru adalah menumbuhkan
kesadaran dan mengembangkan pembiasaan agar setiap siswa merasa butuh, mau, dan
senang belajar.

Dengan beberapa alasan di atas, dalam penelitian ini penulis ingin meningkatkan
prestasi belajar siswa dengan pembelajaran kooperatif di dalam kegiatan belajar
mengajar matematika. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model
pembelajaran yang terstruktur dan sistematis, dimana kelompok-kelompok kecil bekerja
sama untuk mencapai tujuan–tujuan bersama.

Dalam metode pembelajaran kooperatif ini penulis ingin meningkatkan prestasi


belajar siswa model TGT (Teams – Games – Tournaments) pada pembelajaran
matematika.

Model TGT adalah suatu model pembelajaran yang didahului dengan penyajian
materi pembelajaran oleh guru dan diakhiri dengan memberikan sejumlah pertanyaan
kepada siswa. Dalam pembelajaran TGT terdiri dari beberapa tahapan, yaitu persiapan
pembelajaran, penyajian materi, belajar kelompok, presentasi dikelas dan Turnamen.

a. Persiapan pembelajaran
a) Materi

4
Materi pembelajaran dalam belajar kooperatif dengan menggunakan
model TGT dirancang sedemikian rupa untuk pembelajaran secara
kelompok.

b) Menempatkan siswa kedalam kelompok


Menempatkan siswa dalam kelompok yang masing-masing
kelompok terdiri dari empat orang dengan cara mengurutkan siswa dari atas
kebawah berdasarkan kemampuan akademiknya.

c) Penyajian materi
Penyajian materi ini dilakukan oleh guru.

d) Belajar kelompok
Dalam belajar kelompok guru menyiapkan lembar kegiatan, lembar
tugas, dan kunci jawaban.Untuk kunci jwaban, ini diserahkan setelah
kegiatan kelompok selesai.

e) Presentasi kelompok didepan kelas.


Presentasi kelompok di depan kelas diwakili oleh salah satu
perwakilan kelompok.

f) Turnamen
Dalam pembelajaran TGT tidak terdapat tes individu, sebagai
gantinya setiap akhir pecan diadakan turnamen. Turnamem adalah sebuah
sruktur dimana game berlangsung.

Keunggulan pembelajaran ini dibandingkan dengan pembelajaran


lain adalah adanya turnamen, sehingga pembelajaran akan berlangsung
secara menyenangkan.

Sesuai uraian di atas maka peneliti ingin menulis tentang “Upaya


peningkatan hasil belajar siswa melalui penggunaan model TGT pada materi
operasi hitung bilangan bulat di kelas IV MI Darussalam Blimbing
Rejotangan Tulungagung tahun pelajaran 2009/2010.

B.Fokus Penelitian

5
1. Bagaimana perencanaan pembelajaran dengan menggunakan model TGT pada
materi operasi hitung bilangan bulat di kelas IV MI Darussalam Blimbing
Rejotangan Tulungagung?
2. Bagaimana pelaksanaan kegiatan pebelajaran dengan menggunakan model TGT
pada materi operasi hitung bilangan bulat di kelas IV MI Darussalam Blimbing
Rejotangan Tulungagung?
3. Bagaimana meningkatkan hasil evaluasi belaja siswa dengan model TGT pada
materi operasi hitung bilangan bulat di kelas IV MI Darussalam Blimbing
Rejotangan Tulungagung?

C.Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui perencanaan pembelajaran dengan menggunakan


model TGT pada materi operasi hitung bilangan bulat di kelas IV MI Darussalam
Blimbing Rejotangan Tulungagung.
2. Untuk pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model
TGT pada materi operasi hitung bilangan bulat di kelas IV MI Darussalam
Blimbing Rejotangan Tulungagung.
3. Untuk meningkatkan hasil evaluasi belajar siswa dengan model TGT
pada materi operasi hitung bilangan bulat di kelas IV MI Darussalam Blimbing
Rejotangan Tulumgagung.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:

1. Penulis
Untuk menambah wawasan dan pemahaman dari obyek yang diteliti guna
menyempurnakan dan bekal di masa berikutnya.

2. Guru
Sebagai alternatif pendekatan pembelajaran matematika guna meningkatkan
hasil belajar siswa.

6
3. Siswa
Untuk meningkatkan kreatifitas siswa dan pengembangan keterampilan social
siswa.

4. Sekolah
Sebagai masukan untuk menentukan haluan kebijakan dalam membantu
meningkatkan kreatfitias siswa.

E. Penegasan Istilah

Agar tidak terjadi kesalahan penafsiran tentang istilah yang digunakan


dalam penelitian ini, maka perlu diberikan pembatasan istilah sebagai berikut:

A. Penegasan Konseptual
1) Pembelajaran kooperatif adalah strategi belajar dengan sejumlah
siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya
berbeda.1
2) Hasil belajar adalah prestasi yang telah dicapai siswa melalui suatu kegiatan
belajar.2
3) TGT (team geam tournament) adalah suatu model pembelajaran yang
didahului dengan penyajian materi pembelajaran oleh guru dan diakhiri
dengan memberikan sejumlah pertanyaan kepada siswa. 3
2. Penegasan Secara Operasional

Penelitian dengan judu“Upaya meningkatkan hasil belajar siswa melalui


penggunaan model TGT pada materi operasi hitung bilangan bulat di kelas IV
MI Darussalam Blimbing Rejotangan” ini diharapkan mampu meningkatkan
kreatifitas siswa dan sebagai wahana bagi siswa untuk mengembangkan
ketrampilan sosial. Keterampilan sosial siswa di sini dapat terciptakan karena
siswa belajar dengan bekerja sama dengan kolaborasi.

F Sistematika Pembahasan

7
Dalam sebuah karya ilmiah adanya sistematika merupakan bantuan yang
dapat digunakan untuk mempermudah mengetahui urutan sistematis dari isi karya
ilmiah tersebut. Adapun dalam penelitian ini adalah berisi Bab I sampai dengan Bab
V.

Bab I Pendahuluan: membahas tentang latar belakang masalah, rumusan


masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah dan sistematika.

Bab II Kajian Pustaka: operasi hitung bilangan bulat, pembelajaran


kooperatif tipe TGT, dan proses pembelajaran opeasi hitung bilangan bulat
dengan pembelajaran kooperatif tipe TGT

Bab III Metode Penelitian: membahas jenis penelitian, lokasi penelitian,


kehadiran peneliti, sumber data, prosedur pengumpulan data, teknik analisis data,
pengecekan keabsahan data dan tahap-tahap penelitian.

Bab IV Laporan Hasil Penelitian membahas tentang paparan data, temuan


penelitian dan pembahasan.

Bab V adalah Penutup yang membahas tentang kesimpulan dan saran-


saran.

8
BAB II
KAJIAN TEORI

A.Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT)


Belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif
memungkinkan siswa dapat belajar lebih santai disamping menumbuhkan tanggung
jawab, kejujuran, persaingan sehat dan keterlibatan belajar. TGT digunakan dalam
berbagai macam mata pelajaran dari Matematika, Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan
Alam , yang telah digunakan dari kelas dua sekolah dasar sampai pergurun tinggi.

TGT paling cocok untuk mengajarkan materi pembelajaran yang dirumuskan


dengan jelas, misalnya pada bidang studi matematika, penggunaan bahasa,
geografi,keterampilan membaca peta, dan fakta-fakta serta konsep IPA. Pembelajaran
didahului dengan penyajian materi pelajaran oleh guru, dan dilanjutkan dengan
memberikan sejumlah pertanyaan kepada siswa berupa lembar kerja siswa (LKS).
Kemudian siswa mendiskusikan dan menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan di dalam
kelompok masing-masing. Setelah siap berdiskusi, wakil dari masing-masing kelompok
melaporkan hasil kerjanya ke 8 depan kelas. Kemudian siswa ditempatkan pada meja
tournament untuk melakukan permainan akademik.
Model TGT tidak menggunakan tes individual, tetapi menggantikannya dengan
tournament yang dilakukan terlebih dahulu dengan membentuk kelompok baru.
Pembentukan ini dilakukan dengan cara mengelompokkan siswa yang
berkemampuan sama dan setiap kelompok dikumpulkan ke dalam satu kelompok
baru. Anggota kelompok baru kemudian menempati meja tournament dan
selanjutnya memulai permainan akademik.

TGT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan


siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 4 orang siswa yang

9
memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku atau ras yang berbeda. Guru menyajikan
materi dan siswa bekerja dalam kelompok mereka masing-masing. Dalam kerja
kelompok guru memberikan LKS kepada setiap kelompok. Tugas yang diberikan
dikerjakan bersama-sama dengan anggota kelompoknya. Apabila ada dari anggota
kelompok yang tidak mengerti dengan tugas yang diberikan, maka anggota kelompok
lain bertanggung jawab memberikan jawaban, atau mengerjakannya, sebelum
mengajukan pertanyaan tersebut kepada guru. Akhirnya untuk memastikan bahwa
seluruh anggota kelompok telah menguasai pelajaran, maka seluruh siswa akan
diberikan permainan akademik. Dalam permainan akademik siswa-siswa akan dibagi
dalam meja-meja tournament, dimana setiap meja tournament terdiri dari setiap 5
orang yang merupakan wakil dari kelompoknya masing-masing. Dalam setiap meja
tournament atau meja

permainan diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal dari kelompok yang
sama. Siswa yang dikelompokkan dalam satu meja tournament secara homogen
dari segi kemampuan akademik, artinya dalam satu meja tournament kemampuan
setiap peserta diusahakan agar setara. Hal ini dapat ditentukan dengan melihat nilai
yang mereka peroleh pada saat tes dilaksanakan. Skor yang diperoleh dengan
menjumlahkan skor-skor yang diperoleh anggota suatu kelompok, kemudian dibagi
banyaknya anggota kelompok tersebut. Skor kelompok ini digunakan untuk
memberikan penghargaan tim berupa hadiah atau sertifikat.
Model pembelajaran TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang
mudah diterapkan, melibatkan seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status. Tipe
inimelibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya, mengandung unsur permainan yang
bisa menggairahkan semangat belajar. Belajar dengan permainan yang dirancang dalam
pembelajaran model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih santai disamping
menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan
belajar.
Menurut (Wartono, 2004:16) Menjelaskan dalam Team Games Tournament
atau pertandingan permainan tim,siswa memainkan pengacakan kartu dengan
anggotaanggota tim lain untuk memperoleh poin pada skor tim mereka.Permainan ini
berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditulis pada kartu-kartu yang diberi

10
angka.Pertanyaan-pertanyaan yang dimaksud adalah pertanyaan-pertanyan yang relevan
dengan materi pelajaran yang dirancang untuk mengetes kemampuan siswa dari
penyampaian pelajaran kepada siswa di kelas. Setiap wakil kelompok akan mengambil
sebuah kartu yang diberi angka dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai
tersebut, Permainan ini dimainkan pada meja-meja turnamen.

Alberti dalam Slavin, (2009), pembelajaran TGT membawa peningkatan yang


signifikan terhadap hasil belajar. Menurut Johnson dkk dalam Slavin, (2009) bahwa
TGT memberikan pengaruh positif yaitu perolehan yang signifikan terhadap hasil
akademik kelompok lebih besar dibandingkan secara individu.
Langkah-langkah pembelajaran TGT adalah sebagai berikut:

a. Siswa dibagi dalam kelompok beranggotakan 5-6 siswa secara heterogen.


b. Guru menyajikan materi.
c. Guru memberikan lembar kerja kelompok (LKK) dan siswa bekerja dalam
kelompok masing-masing, apabila ada dari anggota kelompok yang tidak
mengerti dengan tugas yang diberikan, maka anggota kelompok yang lain
bertanggung jawab untuk memberikan jawaban atau menjelaskannya.
d. Guru memberikan permainan akademik untuk memastikan seluruh anggota
kelompok telah menguasai pelajaran.
e. Dalam permainan akademik siswa dibagi dalam meja-meja tournament,
dimana setiap meja tournament merupakan wakil dari kelompok
masingmasing.
f. Dalam setiap meja games tournament diusahakan agar tidak ada peserta yang
berasal dari kelompok yang sama.
g. Siswa dikelompokkan dalam satu meja tournament secara homogen dari segi
kemampuan akademik, artinya dalam satu meja tournament kemampuan
setiap peserta diusahakan agar setara.

Permainan pada meja tiap tournament dilakukan dengan aturan sebagai berikut:

11
a. Setiap pemain dalam tiap meja menentukan pembaca soal dan pemain yang
pertama. Pemain yang menang undian mengambil kartu undian yang berisi
nomor soal dan diberikan kepada pembaca soal.
b. Pembaca soal membacakan soal sesuai dengan nomor undian yang diambil oleh
pemain.
c. Soal dikerjakan secara mandiri oleh pemain dan penantang sesuai dengan waktu
yang telah ditentukan dalam soal.
d. Setelah waktu untuk mengerjakan soal selesai, maka pemain akan membacakan
hasil pekerjaannya yang akan ditanggapi oleh penantang searah jarum jam.
e. Skor hanya diberikan kepada pemain yang menjawab benar dan berhak
mendapat kartu jawaban. Jika semua pemain menjawab salah maka kartu
dibiarkan saja. Permainan dilanjutkan pada kartu soal berikutnya sampai semua
soal habis dibacakan, setiap peserta dalam satu meja tournament dapat berperan
sebagai pembaca soal, pemain, dan penantang.
f. Selanjutnya pemain kembali ke kelompok asal dan menghitung skor yang
diperoleh masing-masing pemain.
g. Ketua kelompok memasukkan poin yang diperoleh anggota kelompoknya pada
tabel yang telah disediakan.

Kelebihan dan kekurangan metode Teams Games Tournamest (TGT) adalah:


a. Kelebihan metode Teams Games Tournament, antara lain:
1) Dapat memperluas wawasan siswa.
2) Dapat merangsang kreativitas siswa dalam memunculkan ide dalam
memecahkan suatu masalah.
3) Dapat mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain dan bekerja
sama.
4) Dapat menumbuhkanpartisipasi siswa menjadi lebih aktif.

b. Kekurangan metode Teams Games Tournament (TGT) yaitu :


1) Kemungkin besar permainan akan dikuasai oleh siswa yang suka berbicara atau
ingin menonjolkan diri.
2) Tidak dapat dipakai pada kelompok yang besar

12
3) Peserta mendapat informasi yang terbatas.
4) Menyerap waktu yang cukup banyak.
5) Tidak semua guru memahami cara siswa melakukan permainan.
6) Ruangan kelas menjadi ramai dan mengganggu ruangan lain.

B. Belajar
Belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh seorang secara sadar untuk
mencapai suatu perubahan yang sebelumnya belum mengerti menjadi mengerti.
Perubahan yang dicapai karena adanya proses belajar yang disebut dengan perubahan
hasil belajar tersebut seperti penambahan pengetahuan baru. Penambahan pengalaman
dan keterampilan dan sejenisnya yang mencakup kepada aspek kognitif, afektif dan
Psikomotorik dengan menggunakan belajar kelompok.
Menurut pendapat Sudirman (1965 : 23) : “Belajar adalah sebagai rangkaian
jiwa psikofisik untuk memenuhi perkembangan pribadi manusia seutuhnya yang berarti
bagi masyarakat unsur cipta rasa dan karsa, rana, kognitif, efektif dan fisiko motorik.
Proses pembelajaran akan berlangsung dalam situasi yang sadar dan direncanakan serta
dengan tujuan yang jelas. Proses belajar tidak hanya sekedar menghafal, tetapi siswa
harus mengkonstruksikan pengetahuan dibenak siswa mereka sendiri. Proses tersebut
melibatkan interaksi antara guru dengan siswa secara emosional. Ikatan emosional yang
terjalin baikakan sangat mendukung kepada tercapainya hasil belajar yang baik pula.
Oleh sebab itu proses pembelajaran peran guru sebagai fasilator, administrator,
motivator sangat ditentukan”.
Menurut Hamalik, (1975 : 28), belajar adalah “Bentuk pertumbuhan atau
perubahan pada diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang
baru berkat pengalaman dan latihan”. Di dalam proses belajar dan mengajar, guru
sebagai pengajar dan siswa sebagai subyek belajar, dituntut adanya profil kualifikasi
tertentu dalam hal pengetahuan, kemampuan, sikap dan tata nilai serta sifat-sifat pribadi,
agar proses itu dapat berlangsung dengan efektif dan efisien. Sardiman AM (2004:19)
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa, melalui
pengajaran dan latihan, siswa diupanyakan memiliki pengalaman yang baik terhadap
diri dan gurunya yang didukung dengan terjadinya perubahan dalam dirinya kearahyang

13
positif. Selain itu dalam proses belajar juga terjadi proses bimbingan dari guru kepada
siswa dalam penguasaan materi dan bahan pelajaran agar tercapai hasil yang optimal.

C.Hasil Belajar

Sebelum dijelaskan pengertian mengenai hasil belajar, terlebih dahulu akan


dikemukakan tentang pengertian prestasi. Prestasi adalah hasil yang telah dicapai.
Dengan demikian bahwa prestasi merupakan hasil yang telah dicapai oleh seseorang
setelah melakukan sesuatu pekerjaan tertentu. Jadi prestasi adalah hasil yang telah
dicapai oleh karena itu semua individu dengan adanya belajar hasilnya dapat dicapai.
Setiap individu belajar menginginkan hasil yang yang sebaik mungkin. Oleh karena itu
setiap individu harus belajar dengan sebaik-baiknya supaya prestasinya berhasil dengan
baik. Sedangkan pengertian prestasi juga ada yang mengatakan prestasi adalah
kemampuan. Kemampuan disini berarti yang dilampaui individu dalam mengerjakan
sesuatu.
Hasil belajar dibagi menjadi tiga macam hasil belajar yaitu :
1. Keterampilan dan kebiasaan.
2. Pengetahuan dan pengertian.
3. Sikap dan cita-cita, yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan
yang ada pada kurikulum sekolah.
Pada dasarnya dengan belajar diharapkan kemampuan siswa bisa meningkat.
Ranah kognitif, afektif dan psikomotor siswa semakin berfungsi. memberikan ilustrasi
bahwa ranah kognitif, siswa dapat memiliki pengetahuan, pemahaman, dapat
menerapkan, melakukan analisis, sintesis, dan mengevaluasi. Pada ranah afektif, siswa
dapat melakukan penerimaan, partisipasi, menentukan sikap, mengorganisasi dan
membentuk pola
hidup.
Pada ranah psikomotor, siswa dapat mempersepsi, bersiap diri, membuat
gerakan-gerakan sederhana dan kompleks, membuat penyesuaian pola gerak dan

14
menciptakan gerakan-gerakan baru. Menurut Ahmadi (1991:72), hasil belajar yang
dicapai dalam suatu usaha belajar dalam hal ini usaha belajar dalam mewujudkan nilai
atau hasil belajar siswa dapat dilihat pada hasil atau nilai yang diperoleh dalam
mengikuti tes. Prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai siswa yang dinyatakan
dalam bentuk nilai.

Menurut Slamento (2003:54), prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor
utama yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Yang menjadi faktor intern adalah faktor
yang ada dalam diri siswa yang mempengaruhi prestasi belajar, seperti minat, semangat,
dan motivasi. Adapun faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar diri siswa dan bisa
mempengaruhi prestasi belajar, seperti lingkungan, teman, guru, orang tua, dan fasilitas
yang ada.
Dari hal-hal tersebut maka guru hendaknya dapat membangkitkan semangat,
motivasi siswa, serta dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung aktivitas
belajar siswa dengan menciptakan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa, antara
lain dengan memaksimalkan pengunaan alat peraga juga penerapan model diskusi
sehingga siswa akan lebih mudah memahami yang diajarkan juga supaya siswa semakin
punya rasa setia kawan. Dari uraian di atas jelas bahwa suatu proses pembelajaran pada
akhirnya akan menghasilkan kemampuan manusia berupa pengetahuan, sikap, dan
keterampilan. Perubahan kemampuan merupakan indikator untuk menunjukkan hasil
belajar siswa. Perubahan perilaku yang harus dicapai tertuang dalam tujuan
pembelajaran dan dapat diukur dengan menggunakan tes dan non-tes.

D. Penelitian yang Relevan


Peneliti mengutip salah satu contoh penelitian yang dilakukan dengan model
pembelajaran Kooperatif Teams Games Tournament (TGT) yang bersumber dari
Aminatun Khasanah, (2011). Peningkatan motivasi belajar dengan menggunakan model
pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) Terhadap Hasil Belajar Matematika
Siswa Kelas VIII Semester 2 di SMP N1 MEDAN. Dari hasil penelitiannya bahwa
dengan belajar menggunakan model pembelajaran yang variatif dapat meningkatan
motivasi belajar siswa. Dengan pembelajaran Teams Games Tournament dapat
meningkatkan hasil belajar yang

15
optimal.
E. . Kerangka Pikir
Hasil belajar Matematika melalui model pembelajaran Teams Games Tournament pada
siswa kelas VIII, lebih efektif dan meningkat dibandingkan dengan menggunakan
metode ceramah, karena siswa hanya duduk, diam, mendengarkan, menghafal dan
mencatat buku sampai habis sehingga proses pembelajaran dikelas menjadi monoton
atau kurang menarik bagi siswa.
Berikut ini digambarkan diagram kerangka pikir dalam penelitian sebagai berikut:

F. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan alasan-alasan di atas, maka dapat dikemukakan hipotesis tindakan
yaitu ”Jika model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dilakukan

dengan langkah-langkah yang benar, maka dapat meningkatkan hasil belajar siswa
kelas V SD Negeri 1 Purwodadi Dalam Kecamatan Tanjung Sari”.

16
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode dan Desain Penelitian

A. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen


(Experimental Research) merupakan penelitian yang bertujuan untuk
mengetahui/menilai suatu pengaruh dari suatu perlakuan/tindakan pendidikan terhadap
perilaku siswa atau menguji hipotesis tentang ada tidaknya pengaruh tindakan itu bila
dibandingkan dengan tindakan yang lain. Desain penelitian eksperimen yang akan
digunakan untuk meneliti masalah efisiensi pembelajaran matematika dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament ditinjau
dari hasil prestasi belajar siswa adalah Randomized Pretest-Posttest Control Group
Design.

Randomized Pretest-Posttest Control Group Design merupakan desain penelitian


eksperimental yang didasarkan pada hasil pretest dan posttest serta pemilihan obyek
penelitian yang diambil secara acak. Desain penelitian tingkat kesetaraan kelompok
turut diperhitungkan karena adanya pretest. Pretest dalam desain penelitian ini juga
dapat digunakan untuk pengontrolan secara statistik (statistical control) serta dapat
digunakan untuk melihat pengaruh perlakuan terhadap capaian skor (gain score)

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian

17
Variabel penelitian ini adalah berupa hasil pretest dan posttest dari subyek penelitian,
yaitu siswa kelas VIII SMP Negeri 1 MEDAN. Pretest dan posttest tersebut diberikan
kepada siswa pada dua kelas eksperimen.

C. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri 2 Depok kelas VIII yang
terbagi dalam 4 kelas yaitu kelas VIII A, VIII B, VIII C, dan VIII D, sedangkan sampel
dari penelitian adalah 2 kelas/kelompok yang dipilih secara acak. Kedua kelas sampel
tersebut kemudian diberikan dua perlakuan yang berbeda. Kelas yang pertama (kelas
VIII A) dijadikan sebagai kelas eksperimen yaitu kelas yang diberikan perlakuan
pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran TGT, sedangkan kelas kedua
(kelas VIII B) dijadikan sebagai kelas eksperimen yang diberi perlakuan pembelajaran
dengan menggunakan model pembelajaran ceramah.

D. Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui metode observasi dan
tes. Teknik observasi adalah observasi keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan
untuk mengetahui tingkat keterlaksanaan pembelajaran, sedangkan tes digunakan untuk
mendapat data prestasi belajar siswa. Menurut Suharsimi Arikunto (2010: 266), tes
dapat digunakan untuk mengukur kemampuan dasar dan pencapaian atau prestasi. Tes
digunakan untuk mengetahui implikasi dari tindakan yang telah dilakukan terhadap
tingkat penguasaan konsep pada mata pelajaran matematika. Tes dilakukan sebanyak
2 kali, yaitu: tes kemampuan awal dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal, dan
tes kemampuan akhir untuk mengetahui capaian konsep akhir. Tes dilakukan untuk
memperoleh data mengenai hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika
sebelum dan sesudah pembelajaran kooperatif tipe TGT.

Instrumen yang digunakan pada proses pengumpulan data penelitian adalah


instrumen dengan bentuk tes. Tes yang dilakukan peneliti adalah bentuk tes tertulis
yaitu tes objektif dengan bentuk tes pilihan ganda (multiple choice item). Instrumen ini
untuk mengetahui tingkat pemahaman dan peningkatan penguasaan konsep materi
pelajaran matematika. Materi yang digunakan pada saat tes tertulis disesuaikan dengan
materi pembelajaran pada saat pelaksanaan perlakuan. Perlakuan dilakukan selama 4

18
kali pertemuan. Standar kompetensi pada saat pelaksanaan perlakuan adalah
“Menentukan unsur, bagian lingkaran serta ukurannya” dengan kompetensi dasar
“Menghitung panjang garis singgung persekutuan dua lingkaran”. Kisi kisi instrumen
tes yang digunakan adalah sebagai berikut. Pada suatu penelitian, instrumen atau alat
ukur harus memenuhi kriteria sebagai instrumen yang valid. Pada penelitian ini,
pembakuan validitas instrumen dilakukan berdasarkan pendapat ahli (expert
judgement). Hal ini dilakukan dengan mengkonsultasikan instrumen penelitian dengan
dosen yang menjadi validator sampai dengan instrumen penelitian dinyatakan valid
oleh validator tersebut.

E. Teknik Analisis Data

Setelah memperoleh data pretest dan posttest dari kedua kelompok, maka dilakukan
analisis data penelitian. Adapun tahap-tahap analisis data yang telah terkumpul meliputi
(1) analisis deskriptif, (2) pengujian asumsi analisis, dan (3) pengujian hipotesis. Tahap-
tahap analisis data adalah sebagai berikut.

1. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan data. Data yang dideskripsika


adalah hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran dan tes prestasi belajar.

a. Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran

Data hasil observasi merupakan data yang diperoleh dari hasil observasi keterlaksaan
pembelajaran matematika di kelas eksperimen berdasarkan lembar observasi. Data dari
hasil observasi akan dianalisis dengan ketentuan skor 1 untuk pilihan jawaban “ya”

dan skor 0 untuk pilihan jawaban “tidak”. Cara menghitung persentase skornya adalah
sebagai berikut.

jumlah skor pencapai per indikator


p= x 100 %
jumlah skor maksimal per indikator

b. Prestasi Belajar

Data prestasi belajar diperoleh dari pretest dan posttest. Untuk mendeskripsikan data
prestasi belajar siswa terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan model

19
pembelajaran kooperatif tipe TGT digunakan teknik statistik yang meliputi nilai
minimum, maksimum, rata-rata dan simpangan baku dengan bantuan program SPSS

2. Uji Prasyarat Analisis

Pada uji prasyarat analisis yang akan dilakukan meliputi uji normalitas dan uji
homogenitas.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sampel berasal dari populasi
yang berdistribusi normal atau tidak. Untuk uji normalitas ini digunakan uji
Kolmogorov-Smirnov dengan taraf signifikan . Uji ini dilakukan dengan bantuan SPSS
16. Hipotesis statistik yang digunakan pada uji normalitas sebagai berikut.

H0: data berasal dari populasi berdistribusi normal

Ha: data berasal dari populasi tidak berdistribusi normal

Kriteria uji yang digunakan H0 ditolak jika signifikansi (p) lebih kecil dari α =¿ 0,05

b. Uji Homogenitas

Uji homogenitas digunakan untuk menguji kesamaan varian dari dua kelompok
yang dibandingkan. Untuk mengetahui apakah data tersebut homogen atau tidak yaitu
dengan menggunakan uji F dengan taraf signifikan . Uji ini dilakukan dengan bantuan
SPSS 16 dengan uji Levene Statistics. Hipotesis statistik yang digunakan pada uji
homogenitas sebagai berikut. atau dengan kata lain sampel tersebut berasal dari
populasi yang homogen dan atau dengan kata lain sampel tersebut berasal dari populasi
yang tidak homogen Kriteria uji yang digunakan ditolak apabila taraf signifikansi (p)
kurang dari α =¿0,05

3. Uji Hipotesis

Setelah uji normalitas dan uji homogenitas dilakukan maka dilanjutkan dengan
pengujian hipotesis.

a. Pengujian Terhadap Pencapaian Skor

20
1) Kelas Eksperimen TGT

Pengujian ini digunakan untuk mengetahui keefektifan model pembelajaran kooperatif


tipe TGT ditinjau dari hasil prestasi belajar siswa. Pengujian ini menggunakan bantuan

program SPSS 16 dengan menggunakan Paired Sample t-Test . Uji t berpasangan


(paired sample t-test) adalah salah satu metode pengujian hipotesis dimana data yang
digunakan tidak bebas (berpasangan). Hipotesis yang diajukan adalah sebagai

berikut.

H0 : μ2 ≥ μ 1(Model Pembelajaran kooperatif tipe TGT tidak efektif)

H0 : μ2 ¿ μ1 (Model Pembelajaran kooperatif tipe TGT efektif)

Dengan:

μ1 : rata-rata pretest siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe


TGT

μ2 : rata-rata posttest siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe


TGT

Taraf signifikansi : 0.05

Statistik Uji:


D
t=
SD
√n

dengan

SD = √ var

n
21 2
Var (s ) =
n−1 ∑ ¿¿- x)
i=1

t = nilai hitung

21

D = rata-rata selisih pretest dan posttest

SD = standart deviasi pretest dan posttes

n = jumlah sampel

Kriteria keputusan : ditolak jika H0 > thitung atau p value

(sig.) > α = 0.005

2) Kelas Eksperimen TAI

Pengujian pada kelas eksperimen TAI sama seperti pengujian pada kelas eksperimen
TGT dengan menggunakan bantuan program SPSS 16. Pengujian ini digunakan untuk
mengetahui keefektifan model pembelajaran kooperatif tipe TAI ditinjau dari hasil
prestasi belajar siswa. Hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut. \

H0 : μ2 ≥ μ 1(Model Pembelajaran kooperatif tipe TGT tidak efektif)

H0 : μ2 ¿ μ1 (Model Pembelajaran kooperatif tipe TGT efektif)

Dengan:

μ1 : rata-rata pretest siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe


TGT

μ2 : rata-rata posttest siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe


TGT

Taraf signifikansi : 0.05

Statistik Uji:


D
t=
SD
√n

dengan

22
SD = √ var

n
2 1 2
Var (s ) =
n−1 ∑ ¿¿- x)
i=1

t = nilai hitung


D = rata-rata selisih pretest dan posttest

SD = standart deviasi pretest dan posttes

n = jumlah sampel

Kriteria keputusan : ditolak jika H0 > thitung atau p value

(sig.) > α = 0.005

b. Pengujian Hipotesis Hubungan

Analisis data yang akan dilakukan dengan menggunakan uji-t untuk mengetahui ada
tidaknya perbedaan efektivitas pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
TGT dengan model pembelajaran TAI didasarkan pada hasil prestasi belajar matematika

siswa pada materi lingkaran. Sebelum dilakukan pengujian data, dilihat terlebih dahulu

apakah terdapat perbedaan rata-rata dari kedua eksperimen. Perlu diadakan pengujian
menggunakan uji t untuk membandingkan skor selisih posttes dan pretest. Selisih skor
ini dinamakan gain score . Pengujian ini dengan hipotesis sebagai berikut.

H0 μTGT =μTAI ( rata-rata kenaikan nilai model pembelajaran kooperatif tipe TGT
sama dengan model pembelajaran kooperatif tipe TAI )

H0 μTGT ≠ μTAI (terdapat perbedaan rata-rata kenaikan nilai model pembelajaran


kooperatif tipe TGT dengan model pembelajaran kooperatif tipe TAI)

Apabila hasil yang diperoleh H0 μTGT ≠ μTAI maka penelitian dilanjutkan untuk
mengetahui kelas eksperimen yang manakah yang memiliki kenaikan rata-rata lebih

23
tinggi atau dengan kata lain model pembelajaran manakah yang lebih efektif diantara
keduanya. Pengolahan data selanjutnya menggunakan teknik statistic Independent
sampel t-test dengan bantuan program SPSS 16. Uji ini untuk mengetahui perbedaan
rata-rata dua populasi/kelompok data yang independen. Tujuan dari pengujian ini adalah
untuk verifikasi

kebenaran/kesalahan hipotesis, atau dengan kata lain menentukan menerima atau


menolak hipotesis yang telah dibuat. Hipotesis yang

diajukan adalah sebagai berikut.

H0 μ1 ≤ μ2 (Model pembelajaran kooperatif tipe TGT tidak lebih efektif


dibandingkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe TAI atau keduanya memiliki
efektivitas yang sama)

H0 μ1 > μ2 (Model pembelajaran kooperatif tipe TGT lebih efektif


dibandingkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe TAI

Taraf Signifikansi: α =0,005

Statistik Uji:

M 1−M 2
t=
ss 1 +ss 2 1 1
√ +
0 n1−n2−2 n1 n2

M 1 = rata-rata posttest kelompok TGT

M 2 = rata-rata posttest kelompok TAI

ss1 = sum of square kelompok TGT

ss2 = sum of square kelompok TAI

n1 = jumlah sampel kelompok TGT

24
n2 = jumlah sampel kelompok TAI

Kriteria keputusannya adalah H0 ditolak jikaSebelumnya dilakukan uji distribusi


normal pada masingmasing kelas dan uji homogenitas varians dari kedua kelompok
kelas. Kedua pengujian yaitu uji distribusi normal dan uji homogenitas varians
dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS. Menurut Triton (2005: 79)
keputusan kenormalan data dapat ditentukan dari taraf signifikansi atau probabilitas (p).
Jika taraf signifikansi (p) lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima, sedangkan jika taraf
signifikansi (p) kurang dari 0,05 maka Ho ditolak sedangkan untuk uji homogenitas
dengan menggunakan uji-F menurut Triton (2006: 175), uji-F sampel penelitian dapat
dikatakan berasal dari populasi yang homogen apabila harga probabilitas perhitungan
lebih besar dari 0,05.

F. Tahap Penelitian

Tahap penelitian merupakan langkah atau tahap yang dilakukan dalam


penelitian. Tahap yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari tahap pra eksperimen,
eksperimen, dan pasca eksperimen. Adapun tahap pelaksanaannya sebagai berikut:

1. Tahap Pra Eksperimen

a. Mengurus ijin untuk melakukan penelitian.


b. Melakukan observasi pembelajaran ketika guru melaksanakan Kegiatan
Belajar Mengajar (KBM).
c. Menentukan kelas eksperimen.
d. Menyusun kisi-kisi soal tes.
e. Menyusun pedoman observasi yang disesuaikan dengan kisi-kisi
yang telah dibuat.
f. Menyusun instrumen tes dan Rencana Pelasanaan Pembelajaran (RPP),
kemudian divalidasi oleh dosen ahli Jurusan Pendidikan Matematika.

2. Tahap Eksperimen

Tahap eksperimen terdiri dari pemberian pretest, perlakuan , posttest.

25
a. Pemberian pretest
Pretest diberikan pada kedua kelas eksperimen. Pretest ini bertujuan
untuk mengetahui prestasi awal siswa sebelum diberikan perlakuan.
b. Pemberian perlakuan
Pada tahap ini kelas eksperimen diberi perlakuan dengan menggunakan
model pembelajaran TGT dan TAI. Selama proses pembelajaran
berlangsung dilakukan pencatatan keaktifan belajar siswa pada lembar
obervasi sesuai dengan pedoman observasi.
c. Pemberian posttest
Posttest ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar
siswa sesudah diberi perlakuan.

3. Pasca Eksperimen

Tahap ini merupakan akhir eksperimen. Dalam tahap ini, data pretest dan
posttest dianalisis dengan perhitungan statistik. Hasil perhitungan tersebut digunakan
untuk menjawab hipotesis apakah diterima atau ditolak.

26
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan TAI ini, siswa belajar
secara berkelompok dan guru memberikan materi untuk dipahami siswa, setelah itu
guru memberikan kartu masalah kemudian siswa membacakan masalah sementara
anggota kelompok lain memikirkan cara penyelesaiannya, mendiskusikannya kemudian
dipresentasikan di depan kelas. Dengan menerapkan model pembelajaran TGT dan TAI,
suasana belajar yang ditimbulkan akan lebih terasa menyenangkan karena siswa belajar
dan saling bertukar pikiran dengan temannya sendiri. Selain itu diharapkan juga siswa
berpikir kreatif melalui interaksi dengan teman sehingga dapat menyelesaikan masalah
dengan sistematis. Dengan demikian tingkat kemampuan pemecahan masalah siswa
akan semakin baik.
B. Saran
Adapun saran – saran yang dapat diajukan dari penelitian ini adalah:

1. Kepada guru matematika dalam mengajarkan materi pembelajaran matematika


disarankan guru menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan
TAI sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan pemecahan
masalah siswa.
2. Kepada siswa SMP Negeri1 Percut MEDAN khususnya siswa yang
berkemampuan pemecahan masalah matematika rendah agar lebih banyak
berlatih, membaca dan tidak sungkan-sungkan untuk melakukan pemecahan
masalah matematikanya baik secara lisan maupun tulisan dalam pembelajaran
matematika.

27
Daftar Pustaka
Abdurrahman, M., (2009), Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Rineka Cipta,
Jakarta.

, (2012), Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Rineka Cipta,


Jakarta.

Arifin, Z., (2011), Evaluasi Pembelajaran, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Arikunto, S., (2006), Dasar–Dasar Evaluasi Pendidikan Edisi Revisi, Bumi Aksara,
Jakarta.

Arikunto, S., dkk., (2006), Penelitian Tindakan Kelas, Bumi Aksara, Jakarta.

Aunurrahman, (2012), Belajar dan Pembelajaran, Alfabeta, Bandung.

Dahar, R.W., (1991), Teori-teori Belajar, Erlangga, Jakarta

Depdikbud, 1995, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta.

Depdiknas, 2006. Permendiknas No. 22 Tahun 2006 Tentang Standar isi. Depdiknas,
Jakarta.

Erman, S., (2001), Strategi Pembelajaran Matematika, Universitas Pendidikan


Indonesia JICA, Bandung.

Hasanah, M., dan Edy S., (2017), Differences in the Abilities of Creative Thinking and
Problem Solving of Students in Mathematics by Using Cooperative Learning

28
and Learning of Problem Solving, International Journal of Sciences: Basic
and Applied Research (IJSBAR), Volume 34, No 1 : 286-299.

Hudojo, H., (1988), Mengajar Belajar Matematika, Depdikbud Direktur Jenderal


Pendidikan Tinggi Proyek pengembangan Lembaga Pengembangan Pendidikan
Tenaga Kependidikan, Jakarta.

, (2005), Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika, UM


Press, IKIP Malang, Malang.

Ibrahim, M.H., dkk., (2010), Pembelajaran Kooperatif, Universitas Negeri Surabaya,


University Press, Surabaya.
Inayah, N., (2007), Kefektifan Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC
(Cooperative Integrative Reading And Composition) Terhadap Kemampuan
Pemecahan Masalah Pada Pokok Bahasan Segiempat Siswa Kelas VII SMP
Negeri 13 Semarang Tahun Ajaran 2006/2007, Skripsi FMIPA UNNES,
Semarang.

29