Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Chronic Kidney Disease adalah kondisi ireversibel di mana fungsi
ginjal menurun dari waktu ke waktu. CKD biasanya berkembang secara
perlahan dan progresif, kadang sampai bertahun-tahun, dengan pasien sering
tidak menyadari bahwa kondisi mereka telah parah.
Kondisi fungsi ginjal memburuk, kemampuan untuk memproduksi
erythropoietin yang memadai terganggu, sehingga terjadi penurunan
produksi baru sel-sel darah merah dan akhirnya terjadi anemia. Dengan
demikian, anemia merupakan komplikasi yang sering terjadi pada CKD, dan
sekitar 47% pasien dengan CKD anemia.
Diseluruh dunia menurut National Kidney Foundation, 26 juta orang
dewasa Amerika telah mengalami CKD, dan jutaan orang lain beresiko
terkena CKD. Perhimpunan nefrologi indonesia menunjukkan 12,5 persen
dari penduduk indonesia mengalami penurunan fungsi ginjal, itu berarti
secara kasar lebih dari 25 juta penduduk mengalami CKD.
Chronic Kidney Disease merupakan gangguan fungsi renal yang
progresif dan irreversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk
mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit
sehingga terjadi uremia.
Diperkirakan hingga tahun 2015 Data WHO dengan kenaikan dan
tingkat persentase dari tahun 2009 sampai sekarang 2011. Sebanyak 36 juta
orang warga dunia meninggal dunia akibat penyakit Chronic Kidney
Disease (CKD). Prevalensi CKD terutama tinggi pada orang dewasa yang
lebih tua, dan ini pasien sering pada peningkatan risiko hipertensi.
Kebanyakan pasien dengan hipertensi akan memerlukan dua atau lebih
antihipertensi obat untuk mencapai tujuan tekanan darah untuk pasien
dengan CKD.

1
Hipertensi adalah umum pada pasien dengan CKD, dan prevalensi telah
terbukti meningkat sebagai GFR pasien menurun. Prevalensi hipertensi
meningkat dari 65% sampai 95% sebagai GFR menurun 85-
15ml/min/1.73m2. Penurunan GFR dapat ditunda ketika proteinuria
menurun melalui penggunaan terapi antihipertensi. Penanganannya seperti
pemantauan ketat tekanan darah, dan kontrol kadar gula darah.
Kardiovaskular (CVD) adalah penyebab utama kematian pada pasien
dengan CKD.
Penyakit CKD merupakan penyakit yang memerlukan perawatan dan
penanganan seumur hidup. Fenomena yang terjadi banyak klien yang keluar
masuk Rumah Sakit untuk melakukan pengobatan dan dialisis. Oleh karena
itu peran perawat sangat penting dalam melakukan asuhan keperawatan
pada pasien CKD, serta diharapkan tidak hanya terhadap keadaan fisik klien
tetapi juga psikologis klien.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa pengertian dari CKD?
1.2.2 Bagaimanakah Anatomi Fisiologi Ginjal?
1.2.3 Bagaimanakah Etiologi CKD?
1.2.4 Bagaimanakah Patofisiologi CKD?
1.2.5 Bagaimanakah Klasifikasi Stadium CKD?
1.2.6 Bagaimanakah Gambaran Klinis CKD?
1.2.7 Bagaimanakah Pemeriksaan Penunjang CKD?
1.2.8 Bagaimanakah Penatalaksanaan CKD?
1.2.9 Apa saja Komplikasi CKD?
1.2.10 Bagaimanakah Resume Asuhan Keperawatan Pasien CKD?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan Umum untuk membuat makalah ini, yaitu:
1.3.1 Sebagai salah satu tugas Praktik Klinik Mahasiswa VI.
1.3.2 Untuk mengetahui materi tentang CKD.
Tujuan Khusus untuk membuat makalah ini, yaitu:
1.3.3 Untuk mengetahui pengertian CKD.

2
1.3.4 Untuk mengetahui Anatomi Fisiologi Ginjal.
1.3.5 Untuk mengetahui Etiologi CKD.
1.3.6 Untuk mengetahui Patofisiologi CKD.
1.3.7 Untuk mengetahui Klasifikasi Stadium CKD.
1.3.8 Untuk mengetahui Gambaran Klinis CKD.
1.3.9 Untuk mengetahui Pemeriksaan Penunjang CKD.
1.3.10 Untuk mengetahui Penatalaksanaan CKD.
1.3.11 Untuk mengetahui Komplikasi CKD.
1.3.12 Untuk mengetahui Resume Asuhan Keperawatan Pasien CKD.
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat yang diperoleh dari pembuatan makalah ini, yaitu:
1.4.1 Mahasiswa jadi mengetahui pengertian pengertian CKD.
1.4.2 Mahasiswa jadi mengetahui Anatomi Fisiologi Ginjal.
1.4.3 Mahasiswa jadi mengetahui Etiologi CKD.
1.4.4 Mahasiswa jadi mengetahui Patofisiologi CKD.
1.4.5 Mahasiswa jadi mengetahui Klasifikasi Stadium CKD.
1.4.6 Mahasiswa jadi mengetahui Gambaran Klinis CKD.
1.4.7 Mahasiswa jadi mengetahui Pemeriksaan Penunjang CKD.
1.4.8 Mahasiswa jadi mengetahui Penatalaksanaan CKD.
1.4.9 Mahasiswa jadi mengetahui Komplikasi CKD.
1.4.10 Mahasiswa jadi mengetahui Resume Asuhan Keperawatan Pasien
CKD.
1.5 Sistematika Penulisan
Pada makalah ini, penulis akan menjelaskan bagaimana sistematika
penulisan, yang dimulai dengan Bab pertama. Bab ini berisi latar belakang,
rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, sistematika
penulisan, dan metode penulisan. Bab kedua yang berisi tentang tinjauan
teoritis mengenai materi CKD. Bab ketiga, yaitu merupakan isi dari Resume
Asuhan Keperawatan Pasien CKD. Dan yang terakhir adalah bab keempat,
yaitu merupakan bab penutup dalam makalah ini. Pada bagian ini penulis
menyimpulkan dan memberi saran mengenai materi CKD.

3
1.6 Metode Penulisan
Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan, penulis
memakai teknik berbasis buku dan media massa elektronik, yaitu melalui
internet.

4
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Pengertian CKD


Chronic Kidney Disease (CKD) adalah suatu kerusakan pada struktur
atau fungsi ginjal yang berlangsung ≥ 3 bulan, dengan atau tanpa disertai
penurunan glomerular filtration rate (GFR). Selain itu, CKD dapat pula
didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana GFR < 60 mL/menit/1,73 m2
selama ≥ 3 bulan dengan atau tanpa disertai kerusakan ginjal.
CKD dapat didefinisikan sebagai kondisi dimana ginjal mengalami
penurunan fungsi secara lambat, progresif, irreversibel, dan samar
(insidius), dimana kemampuan tubuh gagal dalam mempertahankan
metabolisme, cairan, dan keseimbangan elektrolit, sehingga terjadi uremia
atau azotemia.
CKD merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat
pada setiap nefron (biasanya berlangsung beberapa tahun dan tidak
reversible).
2.2 Anatomi Fisiologi Ginjal
Ginjal adalah sepasang organ saluran kemih yang terletak di rongga
peritoneal bagian atas. Bentuknya menyerupai kacang dengan sisi
cekungnya menghadap ke medial. Pada sisi ini, terdapat hilus ginjal, yaitu
tempat struktur-sturuktur pembuluh darah, sistem limfatik, sistem saraf, dan
ureter menuju dan meninggalkan ginjal.
Besar dan berat ginjal sangat bervariasi tergantung pada jenis kelamin,
umur, serta ada tidaknya ginjal pada sisi lain. Ukuran ginjal rata-rata adalah
11,5 cm (panjang) x 6 cm (lebar) x 3,5 cm (tebal). Beratnya bervariasi
sekitar 120-170 gram. Ginjal dibungkus oleh jaringan fibrous tipis dan
berkilau yang disebut true capsule (kapsul fibrosa) ginjal dan di luar kapsul
ini terdapat jaringan lemak peri renal.
Di sebelah kranial terdapat kelenjar anak ginjal atau glandula
adrenal/suprarenal yang berwarna kuning. Kelenjar adrenal bersama-sama

5
ginjal dan jaringan lemak perineal dibungkus oleh fasia gerota. Fasia ini
berfungsi sebagai barier yang menghambat meluasnya perdarahan dari
parenkim ginjal serta mencegah ekstravasasi urin pada saat terjadi trauma
ginjal. Selain itu, fasia gerota dapat pula berfungsi sebagai barier dalam
menghambat metastasis tumor ginjal ke organ sekitarnya. Di luar fasia
gerota terdapat jaringan lemak retroperitoneal atau disebut jarinagn lemak
pararenal.

Gambar 1. Anatomi Ginjal (Aziz dkk. 2008)

Gambar 1. Struktur Ginjal


Di sebelah posterior, ginjal dilindungi oleh otot-otot punggung yang
tebal serta tulang rusuk ke XI dan XII, sedangkan di sebelah anterior
dilindungi oleh organ-organ intraperitoneal. Ginjal kanan dikelilingi oleh
hepar, kolon, dan duodenum, sedangkan ginjal kiri dikelilingi oleh lien,
lambung, pankreas, jejunum, dan kolon. Ginjal kanan tingginya sekitar 1 cm
di atas ginjal kiri.
Secara anatomik ginjal terbagi dalam dua bagian, yaitu korteks dan
medula ginjal. Di dalam korteks terdapat berjuta-juta nefron, sedangkan di
dalam medula banyak terdapat duktuli ginjal. Nefron adalah unit fungsional
terkecil dari ginjal yang terdiri atas glomeruli dan tubuli ginjal.
Darah yang membawa sisa-sisa hasil metabolisme tubuh difiltrasi di
dalam glomeruli kemudian di tubuli ginjal beberapa zat yang masih

6
diperlukan tubuh mengalami reabsorbsi dan zat-zat hasil sisa metabolisme
tubuh disekresi bersama air dalam bentuk urin.

Gambar 2. Sistem Nefron Ginjal


Urin yang terbentuk di dalam nefron disalurkan melalui piramida ke
sistem pelvikalises ginjal untuk disalurkan ke dalam ureter. Sistem
pelvikalises ginjal terdiri atas kaliks minor, infundibulum, kaliks mayor, dan
pielum/pelvis renalis. Mukosa sistem pelvikalises terdiri atas epitel
transisional dan dindingnya terdiri otot polos yang mampu berkontraksi
untuk mengalirkan urin sampai ureter.
Ginjal bekerja untuk menyaring darah sebanyak kurang lebih 200 liter
tiap harinya dan juga membuang sisa-sisa metabolisme serta kelebihan
cairan tubuh melalui urin. Selain membuang sisa-sisa metabolisme tubuh
melalui urin, ginjal berfungsi juga dalam:
1. Melakukan kontrol terhadap sekresi hormon-hormon aldostreon dan
Anti Diuretik Hormon (ADH).
2. Mengatur metbolisme ion kalsium dan vitamin D.
3. Menghasilkan hormon, antara lain: eritropoetin yang berperan dalam
pembentukan sel darah merah, renin yang berperan dalam pengaturan
tekanan darah, kalsitriol atau vitamin D3, yaitu bentuk aktif dari
vitamin D yang berfungsi mengatur tekanan darah dengan cara
mengatur keseimbangan kadar kalsium, dan hormon prostaglandin.

7
2.3 Etiologi
Penyebab tersering terjadinya CKD adalah diabetes dan tekanan darah
tinggi, yaitu sekitar dua pertiga dari seluruh kasus (National Kidney
Foundation, 2015). Keadaan lain yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal
diantaranya adalah penyakit peradangan seperti glomerulonefritis, penyakit
ginjal polikistik, malformasi saat perkembangan janin dalam rahim ibu,
lupus, obstruksi akibat batu ginjal, tumor atau pembesaran kelenjar prostat,
dan infeksi saluran kemih yang berulang.
2.4 Patofisiologi
Patofisiologi CKD pada awalnya dilihat dari penyakit yang mendasari,
namun perkembangan proses selanjutnya kurang lebih sama. Penyakit ini
menyebabkan berkurangnya massa ginjal. Sebagai upaya kompensasi,
terjadilah hipertrofi struktural dan fungsional nefron yang masih tersisa
yang diperantarai oleh molekul vasoaktif seperti sitokin dan growth factor.
Akibatnya, terjadi hiperfiltrasi yang diikuti peningkatan tekanan kapiler dan
aliran darah glomerulus. Proses adaptasi ini berlangsung singkat, hingga
pada akhirnya terjadi suatu proses mal-adaptasi berupa sklerosis nefron
yang masih tersisa. Sklerosis nefron ini diikuti dengan penurunan fungsi
nefron progresif, walaupun penyakit yang mendasarinya sudah tidak aktif
lagi.

Gambar 3. Piramid Iskemik dan Sklerosis Arteri dan Arteriol pada


Potongan Lintang Ginjal

8
Diabetes melitus (DM) menyerang struktur dan fungsi ginjal dalam
berbagai bentuk. Nefropati diabetik merupakan istilah yang mencakup
semua lesi yang terjadi di ginjal pada DM. Mekanisme peningkatan GFR
yang terjadi pada keadaan ini masih belum jelas benar, tetapi kemungkinan
disebabkan oleh dilatasi arteriol aferen oleh efek yang tergantung glukosa,
yang diperantarai oleh hormon vasoaktif, Insuline-like Growth Factor
(IGF)-1, nitric oxide, prostaglandin dan glukagon.
Hiperglikemia kronik dapat menyebabkan terjadinya glikasi
nonenzimatik asam amino dan protein. Proses ini terus berlanjut sampai
terjadi ekspansi mesangium dan pembentukan nodul serta fibrosis
tubulointerstisialis.
Hipertensi juga memiliki kaitan yang erat dengan gagal ginjal.
Hipertensi yang berlangsung lama dapat mengakibatkan perubahan-
perubahan struktur pada arteriol di seluruh tubuh, ditandai dengan fibrosis
dan hialinisasi (sklerosis) dinding pembuluh darah. Salah satu organ sasaran
dari keadaan ini adalah ginjal. Ketika terjadi tekanan darah tinggi, maka
sebagai kompensasi, pembuluh darah akan melebar.
Namun di sisi lain, pelebaran ini juga menyebabkan pembuluh darah
menjadi lemah dan akhirnya tidak dapat bekerja dengan baik untuk
membuang kelebihan air serta zat sisa dari dalam tubuh. Kelebihan cairan
yang terjadi di dalam tubuh kemudian dapat menyebabkan tekanan darah
menjadi lebih meningkat, sehingga keadaan ini membentuk suatu siklus
yang berbahaya (National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney
Disease, 2014).
2.5 Klasifikasi Stadium
Penyakit ini didefinisikan dari ada atau tidaknya kerusakan ginjal dan
kemampuan ginjal dalam menjalankan fungsinya. Klasifikasi ini ditujukan
untuk memfasilitasi penerapan pedoman praktik klinis, pengukuran kinerja
klinis dan peningkatan kualitas pada evaluasi, dan juga manajemen CKD
(National Kidney Foundation, 2002). Berikut adalah klasifikasi stadium
CKD, yaitu:

9
GFR
Stadium Deskripsi
(mL/menit/1.73 m2)
1 Fungsi ginjal normal, ≥ 90
tetapi temuan urin,
abnormalitas struktur
atau ciri genetik
menunjukkan adanya
penyakit ginjal.
2 Penurunan ringan 60-89
fungsi ginjal, dan
temuan lain (seperti
pada stadium 1),
menunjukkan adanya
penyakit ginjal.
3a Penurunan sedang 45-59
fungsi ginjal.
3b Penurunan sedang 30-44
fungsi ginjal.
4 Penurunan berat fungsi 15-29
ginjal.
5 Gagal ginjal. <15

Tabel 1. Stadium CKD


Sumber: (The Renal Association, 2013)
Nilai GFR menunjukkan seberapa besar fungsi ginjal yang dimiliki oleh
pasien sekaligus sebagai dasar penentuan terapi oleh dokter. Semakin parah
CKD yang dialami, maka nilai GFR nya akan semakin kecil (National
Kidney Foundation, 2010).
Chronic Kidney Disease stadium 5 disebut dengan gagal ginjal.
Perjalanan klinisnya dapat ditinjau dengan melihat hubungan antara
bersihan kreatinin dengan GFR sebagai presentase dari keadaan normal,
terhadap kreatinin serum dan kadar blood urea nitrogen (BUN).
Perjalanan klinis gagal ginjal dibagi menjadi tiga stadium. Stadium
pertama merupakan stadium penurunan cadangan ginjal dimana pasien tidak

10
menunjukkan gejala dan kreatinin serum serta kadar BUN normal.
Gangguan pada fungsi ginjal baru dapat terdeteksi dengan pemberian beban
kerja yang berat seperti tes pemekatan urin yang lama atau melakukan tes
GFR yang teliti. Stadium kedua disebut dengan insufisiensi ginjal. Pada
stadium ini, ginjal sudah mengalami kehilangan fungsinya sebesar 75%.
Kadar BUN dan kreatinin serum mulai meningkat melebihi nilai normal,
namun masih ringan. Pasien dengan insufisiensi ginjal ini menunjukkan
beberapa gejala seperti nokturia dan poliuria akibat gangguan kemampuan
pemekatan.
Tetapi biasanya pasien tidak menyadari dan memperhatikan gejala ini,
sehingga diperlukan pertanyaan-pertanyaan yang teliti. Stadium akhir dari
gagal ginjal disebut juga dengan end-stage renal disease (ESRD). Stadium
ini terjadi apabila sekitar 90% masa nefron telah hancur, atau hanya tinggal
200.000 nefron yang masih utuh. Peningkatan kadar BUN dan kreatinin
serum sangat mencolok.
Bersihan kreatinin mungkin sebesar 5-10 mL per menit atau bahkan
kurang. Pasien merasakan gejala yang cukup berat dikarenakan ginjal yang
sudah tidak dapat lagi bekerja mempertahankan homeostasis cairan dan
elektrolit. Pada berat jenis yang tetap sebesar 1,010, urin menjadi isoosmotis
dengan plasma. Pasien biasanya mengalami oliguria (pengeluran urin
<500mL/hari). Sindrom uremik yang terjadi akan mempengaruhi setiap
sistem dalam tubuh dan dapat menyebabkan kematian bila tidak dilakukan.
2.6 Gambaran Klinis
Gambaran klinis pasien CKD meliputi gambaran yang sesuai dengan
penyakit yang mendasari, sindrom uremia dan gejala kompikasi. Pada
stadium dini, terjadi kehilangan daya cadang ginjal dimana GFR masih
normal atau justru meningkat. Kemudian terjadi penurunan fungsi nefron
yang progresif yang ditandai dengan peningkatan kadar urea dan kreatinin
serum. Sampai pada GFR sebesar 60%, pasien masih belum merasakan
keluhan.

11
Ketika GFR sebesar 30%, barulah terasa keluhan seperti nokturia,
badan lemah, mual, nafsu makan kurang, dan penurunan berat badan.
Sampai pada GFR di bawah 30%, pasien menunjukkan gejala uremia yang
nyata seperti anemia, peningkatan tekanan darah, gangguan metabolisme
fosfor dan kalsium, pruritus, mual, muntah dan lain sebagainya. Pasien juga
mudah terserang infeksi, terjadi gangguan keseimbangan elektrolit dan air.
Pada GFR di bawah 15%, maka timbul gejala dan komplikasi serius dan
pasien membutuhkan RRT.
2.7 Pemeriksaan Penunjang
Kerusakan ginjal dapat dideteksi secara langsung maupun tidak
langsung. Bukti langsung kerusakan ginjal dapat ditemukan pada pencitraan
atau pemeriksaan histopatologi biopsi ginjal. Pencitraan meliputi
ultrasonografi, computed tomography (CT), magnetic resonance imaging
(MRI), dan isotope scanning dapat mendeteksi beberapa kelainan struktural
pada ginjal. Histopatologi biopsi renal sangat berguna untuk menentukan
penyakit glomerular yang mendasari.
Bukti tidak langsung pada kerusakan ginjal dapat disimpulkan dari
urinalisis. Inflamasi atau abnormalitas fungsi glomerulus menyebabkan
kebocoran sel darah merah atau protein. Hal ini dideteksi dengan adanya
hematuria atau proteinuria.
Penurunan fungsi ginjal ditandai dengan peningkatan kadar ureum dan
kreatinin serum. Penurunan GFR dapat dihitung dengan mempergunakan
rumus Cockcroft-Gault. Penggunaan rumus ini dibedakan berdasarkan jenis
kelamin.
Pengukuran GFR dapat juga dilakukan dengan menggunakan rumus
lain, salah satunya adalah CKD-EPI creatinine equation (National Kidney
Foundation, 2015).
Selain itu fungsi ginjal juga dapat dilihat melalui pengukuran Cystatin
C. Cystatin C merupakan protein berat molekul rendah (13kD) yang
disintesis oleh semua sel berinti dan ditemukan diberbagai cairan tubuh

12
manusia. Kadarnya dalam darah dapat menggambarkan GFR sehingga
Cystatin C merupakan penanda endogen yang ideal.
2.8 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien CKD disesuaikan dengan
stadium penyakit pasien tersebut (National Kidney Foundation, 2010).
Perencanaan tatalaksana pasien CKD dapat dilihat pada tabel berikut ini,
yaitu:
GFR Rencana
Stadium
(mL/menit/1.73 m2) Tatalaksana
1 ≥ 90 Observasi, dan kontrol
tekanan darah.
2 60-89 Observasi, kontrol
tekanan darah dan
faktor resiko.
3a 45-59 Observasi, kontrol
tekanan darah dan
faktor resiko.
3b 30-44 Observasi, kontrol
tekanan darah dan
faktor resiko.
4 15-29 Persiapan untuk RRT.
5 <15 RRT.

Tabel 2. Tatalaksana CKD


Sumber: (The Renal Association, 2013)
Terapi spesifik terhadap penyakit dasarnya paling tepat diberikan
sebelum terjadinya penurunan GFR sehingga tidak terjadi perburukan fungsi
ginjal. Selain itu, perlu juga dilakukan pencegahan dan terapi terhadap
kondisi komorbid dengan mengikuti dan mencatat penurunan GFR yang
terjadi. Perburukan fungsi ginjal dapat dicegah dengan mengurangi
hiperfiltrasi glomerulus, yaitu melalui pembatasan asupan protein dan terapi
farmakologis guna mengurangi hipertensi intraglomerulus.

13
Pencegahan dan terapi terhadap penyakit kardiovaskular merupakan hal
yang penting mengingat 40-45 % kematian pada CKD disebabkan oleh
penyakit kardiovaskular ini. Pencegahan dan terapi penyakit kardiovaskular
dapat dilakukan dengan pengendalian diabetes, pengendalian hipertensi,
pengendalian dislipidemia dan sebagainya. Selain itu, perlu dilakukan
pencegahan dan terapi terhadap komplikasi yang mungkin muncul seperti
anemia dan osteodistrofi renal.
2.9 Komplikasi
No
Komplikasi Penyebab
.
1 Demam Bakteri atau zat penyebab demam (pirogen) di
dalam darah dan dialisat terlalu panas.
2 Reaksi Alergi terhadap zat di dalam mesin dan
anafilaksis yg tekanan darah rendah.
berakibat fatal
(anafilaksis)
3 Tekanan darah Terlalu banyak cairan yang dibuang.
rendah
4 Gangguan irama Kadar kalium dan zat lainnya yang abnormal
jantung dalam darah.
5 Emboli udara Udara memasuki darah di dalam mesin.
6 Perdarahan usus, Penggunaan heparin di dalam mesin untuk
otak, mata atau mencegah pembekuan.
perut

Tabel 3. Komplikasi CKD

BAB III
RESUME ASUHAN KEPERAWATAN CKD

3.1 Pengkajian
1. Biodata
a. Identitas klien

14
Nama : Ny. T
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 35 Tahun
Alamat : Jln. Puri Celancang Rt/Rw: 04/07 Ds.
Purwawinangun Kec. Suranenggala, Kabupaten Cirebon
Pekerjaan : Pedagang
Tgl. Pengkajian : 03-03-2020
b. Identitas Penanggung jawab
Nama : Tn. R
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 35 Tahun
Alamat : Jln. Puri Celancang Rt/Rw: 04/07 Ds.
Purwawinangun Kec. Suranenggala, Kabupaten Cirebon
Pekerjaan : Pedagang
Hubungan dengan Klien : Suami
2. Keluhan Utama
Bengkak pada kedua kaki.
3. Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien mengatakan mudah lelah saat melakukan aktivitas, bengkak pada
keduan kakinya. Klien mengatakan mempunyai riwayat penyakit ginjal
sejak tiga tahun lalu. BAK tidak lancar dan kencing sedikit.
4. Riwayat Kesehatan Yang Lalu
Klien mempunyai riwayat penyakit ginjal sejak tiga tahun yang lalu dan
mempunyai riwayat hipertensi.

5. Riwayat Kesehatan Keluarga


Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang menderita penyaki yang
sama dengan dirinya dan tidak ada anggota keluarga yang menderita
penyakit menular dan riwayat penyakit keturunan.
6. Riwayat Alergi
Klien mengatakan tidak ada riwayat alergi makanan atau obat-obatan.

15
7. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala : Bentuk simetris, dan tidak ada benjolan.
b. Mata : Bentuk dan letak simetris.
c. Hidung : Bentuk simetris, dan bersih.
d. Telinga : Letak dan bentuk simetris.
e. Mulut : Letak dan bentuk simetris.
f. Dada : Letak dan bentuk simetris, tidak ada benjolan.
g. Abdomen : Letak dan bentuk simetris, tidak ada benjolan.
h. Genitalia : Letak dan bentuk simetris.
i. Ekstremitas atas : Letak dan bentuk simetris, tidak ada benjolan.
j. Ekstremitas bawah : Letak dan bentuk simetris, dan terdapat edema.
8. Pemeriksaan Penunjang
a. Ureum : 84 mg/dl
b. Creatinin : 6,8 mg/dl
c. Hb : 10 g/dl
9. Analisa Data
No. Data Fokus Etiologi Masalah
Keperawatan
1 DS : Gangguan pada ginjal Ketidakseimbangan
Klien mengatakan (glomerulonefritis nutrisi kurang dari
bengkak pada kaki nya, sindrom, nefrotik, kebutuhan tubuh.
dan klien mengatakan GGK)
memiliki riwayat
penyakit ginjal sejak 3 Tidak dapat berfungsi
tahun yang lalu, BAK sebagai pengatur
tidak lancar, dan air hemodinamika
kencing sedikit.
DO : Aliran darah ginjal
Tampak edema pada turun
ekstremitas bawah.
TD : 140/90 mmHg RAA turun

16
N : 80 x/menit
R : 20 x/menit Retensi Na dan H2O
Ureum : 84 mg/dl
Creatinin : 6,8 mg/dl Kelebihan volume
BB pre HD : 70 kg cairan
BB post HD : 67 kg
2 DS : Metaboli pada Intoleransi
Klien mengatakan mudah jaringan otot Aktivitas.
lelah saat beraktivitas.
DO : Keram otot
Aktivitas klien tampak
dibantu oleh Kelemahan fisik
keluarganya. respon nyeri
Hb : 10 g/dl
Nyeri gangguan ADL

Intoleransi aktivitas

3.2 Diagnosa Keperawatan


1. Kelebihan volume cairan b.d penurunan laju filtrasi glomerulus,
disfungsi ginjal dan retensi natrium d.d klien mengatakan bengkak pada
kedua kakinya, klien memiliki riwayat penyakit ginjal sejak 3 tahun
yang lalu, BAK tidak lancar, air kencing sedikit, tampak edema pada
ekstremitas bawah, TD : 140/90 mmHg, N : 80 x/menit, R : 20 x/menit,
Ureum : 84 mg/dl, Creatinin : 6,8 mg/dl, BB pre HD : 70 kg, BB post
HD : 67 kg.
2. Intoleransi aktivitas b.d keletihan, anemia, retensi produk sampah d.d
klien mengatakan mudah lelah saat beraktivitas, aktivitas klien tampak
dibantu oleh keluarganya, Hb : 10 g/dl.
3.3 Intervensi Keperawatan
No. Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
Keperawatan

17
1 Kelebihan Tupan: - Kaji status - Untuk
volume cairan Setelah cairan dengan mengetahui
b.d penurunan dilakukan menimbang BB keseimbangan
laju filtrasi tindakan per hari, input dan output
glomerulus, keperawatan 1 keseimbangan cairan.
disfungsi x 10 jam masukan dan - Pembatasan
ginjal dan diharapkan haluaran, turgor cairan akan
retensi natrium dapat kulit dan adanya menentukan BB,
d.d klien mempertahank edema. haluaran urin dan
mengatakan an BB tanpa - Batasi respon terhadap
bengkak pada kelebihan masukan cairan. terapi.
kedua cairan. - Jelaskan pada - Pemahaman
kakinya, klien Tupen: klien dan meningkatkan
memiliki Setelah keluarga klien kerjasama antara
riwayat dilakukan tentang perawatan
penyakit ginjal tindakan pembatasan dengan klien.
sejak 3 tahun keperawatan 1 cairan. - Suatu proses
yang lalu, x 5 jam - Kolaborasi yang digunakan
BAK tidak diharapkan BB penatalakasanaa untuk
lancar, air tanpa n hemodialisa mengeluarkan
kencing kelebihan dan pemberian cairan dan produk
sedikit, cairan. diuretik. limbah dari
tampak edema Kriteria hasil: - Berikan dalam tubuh
pada - Hasil lab makanan dalam ketika ginjal tidak
ekstremitas menunjukkan porsi kecil tetapi mampu
bawah, TD : dalam batas sering. melaksanakan
140/90 normal. - Kolaborasi fungsi tersebut. -
mmHg, N : 80 - TTV dalam pemberian obat Diuretik untuk
x/menit, R : 20 batas normal. anti emetik. menambah
x/menit, kecepatan
Ureum : 84 pembentukan

18
mg/dl, urine.
Creatinin : 6,8 - Obat anti
mg/dl, BB pre emetik bertujuan
HD : 70 kg, untuk mengatasi
BB post HD : mual dan muntah.
67 kg.

2 Intoleransi Tupan: - Kaji kebutuhan - Untuk memberi


aktivitas b.d Setelah pasien dalam panduan dalam
keletihan, dilakukan beraktifitas dan penentuan
anemia, retensi tindakan penuhi pemberian
produk sampah keperawatan kebutuhan ADL. bantuan dalam
d.d klien selama 2 x 4 - Kaji tingkat pemenuhan ADL.
mengatakan jam, kelelahan. - Untuk
mudah lelah diharapkan - Identifikasi menentukan
saat intoleransi faktor derajat dan efek
beraktivitas, aktivitas dapat stress/psikologis ketidakmampun.-
aktivitas klien teratasi. yang dapat Untuk
tampak Tupen: memperberat. mengetahui efek
dibantu oleh Setelah - Ciptakan akumulasi
keluarganya, dilakukan lingkungan yang (sepanjang faktor
Hb : 10 g/dl. tindakan tengan dan psikologis) yang
keperawatan 2 periode istirahat dapat diturunkan
x 8 jam, tanpa gangguan. bila ada masalah
diharapkan - Bantu aktifitas dan takut untuk
intoleransi perawatan diri diketahui.
aktivitas dapat yang diperlukan. - Untuk
teratasi. menghemat
Kriteria hasil: energi untuk
- Klien aktivitas
mampu perawatan diri

19
melakukan yang diperlukan.
aktivitas - Memungkinkan
dengan baik. berlanjutnya
aktivitas yang
dibutuhkan dan
memberikan rasa
aman bagi klien.

3.4 Implementasi Keperawatan

No. Diagnosa Hari/Tanggal Jam Implementasi Ttd &


Keperawatan Respon, atau Nama
Hasil Perawat
Tindakan
1 Kelebihan Mengkaji
Senin, 03 09.30
volume cairan status cairan
Februari 2020 WIB
b.d penurunan dengan
laju filtrasi menimbang
glomerulus, BB per hari,
disfungsi keseimbangan
ginjal dan masukan dan
retensi natrium haluaran,
d.d klien turgor kulit
mengatakan dan adanya
bengkak pada edema.
kedua Membatasi
kakinya, klien masukan
memiliki cairan.
riwayat - Menjelaskan
penyakit ginjal pada klien dan
sejak 3 tahun keluarga klien
yang lalu, tentang

20
BAK tidak pembatasan
lancar, air cairan.
kencing -
sedikit, Mengkolabora
tampak edema si
pada penatalakasana
ekstremitas an hemodialisa
bawah, TD : dan pemberian
140/90 diuretik.
mmHg, N : 80 - Memberikan
x/menit, R : 20 makanan
x/menit, dalam porsi
Ureum : 84 kecil tetapi
mg/dl, sering.
Creatinin : 6,8 -
mg/dl, BB pre Mengkolabora
HD : 70 kg, si pemberian
BB post HD : obat anti
67 kg. emetik.

Intoleransi Mengkaji
2. Senin, 03 11.00
aktivitas b.d kebutuhan
Februari 2020 WIB
keletihan, pasien dalam
anemia, retensi beraktifitas
produk sampah dan penuhi
d.d klien kebutuhan
mengatakan ADL.
mudah lelah - Mengkaji
saat tingkat
beraktivitas, kelelahan.

21
aktivitas klien -
tampak Mengidentifika
dibantu oleh si faktor
keluarganya, stress/psikolog
Hb : 10 g/dl. is yang dapat
memperberat.
- Menciptakan
lingkungan
yang tengan
dan periode
istirahat tanpa
gangguan.
- Membantu
aktifitas
perawatan diri
yang
diperlukan.

3.5 Analisis Pemecahan Masalah Prinsip Legal Etis dalam Pelayanan


Menurut kelompok kami dari hasil jurnal penelitian yang berjudul
“Faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit ginjal kronik pada
penderita hipertensi di Indonesia” terdapat prinsip-prinsip legal etis dalam
pelayanan keperawatan yang terdiri, yaitu:
1. Beneficience (Berbuat Baik)
Perawat disini selalu memberikan pelayanan atau tindakan keperawatan
sesuai dengan SPO atau Standar Operasional Prosedur pada pasien.
2. Justice (Keadilan)
Perawat disini memberikan pelayanan atau tindakan kepada pasien
secara adil dan tidak ada perbedaan dari pasien lainnya contohnya: Segi
agama, segi suku dan ekonomi pasien.

22
3. Veracity (Kejujuran)
Perawat disini memperlakukan pasien dengan baik dan jujur tidak ada
kerahasiaan tentang tindakan ataupun penyakit yang diderita oleh
pasien.
4. Informed Consent
Perawat disini selalu melakukan tindakan komunikasi terapeutik pada
pasien atau pun keluarga pasien hal ini guna untuk membangun
hubungan saling percaya antara satu sama lain.
3.6 Analisis Penerapan Fungsi Advokasi dalam Pelayanan
Menurut kelompok kami penerapan fungsi advokasi dalam pelayanan
keperawatan dari jurnal tersebut perawat dapat melakukan pemeriksaan
fungsi ginjal, hal ini sangat penting dilakukan untuk mengidentifikasi
adanya penyakit ginjal sedini mungkin agar penatalaksanaan yang efektif
dapat diberikan untuk mengetahui penurunan fungsi ginjal sejak dini. Hal
ini dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah dan urine.

BAB IV
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Chronic Kidney Disease (CKD) adalah suatu kerusakan pada struktur
atau fungsi ginjal yang berlangsung ≥ 3 bulan, dengan atau tanpa disertai
penurunan glomerular filtration rate (GFR). Selain itu, CKD dapat pula
didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana GFR < 60 mL/menit/1,73 m2
selama ≥ 3 bulan dengan atau tanpa disertai kerusakan ginjal.

23
CKD dapat didefinisikan sebagai kondisi dimana ginjal mengalami
penurunan fungsi secara lambat, progresif, irreversibel, dan samar
(insidius), dimana kemampuan tubuh gagal dalam mempertahankan
metabolisme, cairan, dan keseimbangan elektrolit, sehingga terjadi uremia
atau azotemia.
Penyebab tersering terjadinya CKD adalah diabetes dan tekanan darah
tinggi, yaitu sekitar dua pertiga dari seluruh kasus (National Kidney
Foundation, 2015). Keadaan lain yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal
diantaranya adalah penyakit peradangan seperti glomerulonefritis, penyakit
ginjal polikistik, malformasi saat perkembangan janin dalam rahim ibu,
lupus, obstruksi akibat batu ginjal, tumor atau pembesaran kelenjar prostat,
dan infeksi saluran kemih yang berulang.
3.2 Saran
Sebagai tindakan pencegahan sebaiknya kita banyak melakukan
olahraga, menjaga asupan nutrisi yang adekuat serta istirahat yang teratur.
Semoga dengan pembelajaran ini kita sebagai mahasiswa keperawatan, akan
lebih mudah mengetahui seluk beluk penyakit Gagal Ginjal Kronik,
bagaimana gejala hingga komplikasinya, sehingga kita mampu memberikan
asuhan keperawatan yang tepat untuk pasien penderita gagal ginjal kronik.

DAFTAR PUSTAKA

Alam, Syamsir dan Hadibroto, Iwan. 2007. Gagal Ginjal. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
 
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease. 2014. High
Blood Pressure and Kidney Disease. Diakses dari:

24
http://kidney.niddk.nih.gov/kudiseases/pubs/highblood/. Diunduh pada 05 Maret
2020.

National Kidney Foundation. 2002. K/DOQI Clinical Practice Guidelines for


Chronic Kidney Disease: Evaluation, Clasification and Stratification. Diakses
dari: http://doi.org/10.1634/theoncologist.2011-S2-45. Diunduh pada 05 Maret
2020.

National Kidney Foundation. 2015. About Chronic Kidney Disease. Diakses dari:
https://www.kidney.org/kidneydisease/aboutckd. Diunduh pada 05 Maret 2020.

National Kidney Foundation. 2015. CKD-EPI Creatinine Equation. Diakses dari:


www.kidney.org/content/ckd-epi-creatinine-equation-2009. Diunduh pada 05
Maret 2020.

Rahardjo, P., Susalit, E., Suhardjono. 2009. Hemodialisis. Jakarta: Interna


Publishing.

Suwitra, K. 2009. Penyakit Ginjal Kronik. Jakarta: Interna Publishing.

Wilson, L.M. 2005. Gagal Ginjal Kronik. Jakarta: EGC.

25

Anda mungkin juga menyukai