Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH MANAGEMENT ASSET

“OUTSOURCING”

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 1 :

DAUD RENDEN R A031171004


AULIYA FEBRIANI A031171504
AZZA MEYRISQA A A031171334
GABRIEL P.H.C HUTASOIT A031171502

UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
KATA PENGANTAR

Pertama-tama penulis memanjatkan Puji syukur kehadirat ALLAH SWT


atas segala karunia-Nya, rahmat dan hidayah-Nyalah sehingga makalah ini dapat
diselesaikan dengan baik dan tepat waktu.

Adapun judul makalah ini adalah “Outsourcing”. Didalam menyelesaikan


makalah ini penulis banyak memperoleh bantuan baik berupa pengajaran,
bimbingan dan arahan dari berbagai pihak.

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yaitu


kepada kedua orang tua tercinta yang mendidik dengan penuh rasa kasih sayang,
menanamkan budi pekerti yang luhur serta Iman dan Takwa ALLAH SWT, dan
teman-teman di kampus yang tidak dapat saya sebutkan namanya satu persatu.
Semoga ALLAH SWT membalas jasa, amal, dan budi pekerti tersebut dengan
pahala yang berlipat ganda .

Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat memberi manfaat


dan menyampaikan permintaan yang tulus jika seandainya dalam penulisan ini,
terdapat kekurangan dan kekeliruan dalam makalah ini. Penulis menerima kritik
dan saran yang bertujuan serta bersifat membangun untuk menyempurnakan
penulisan makalah ini.

Makassar, 1 April 2020

Kelompok 1

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................i

DAFTAR ISI..........................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................1

1.1 Latar Belakang...............................................................................1

1.2 Rumusan Masalah..........................................................................4

1.3 Tujuan Penulisan............................................................................4

BAB II PEMBAHASAN.....................................................................................4

2.1 Pengertian Aset...............................................................................5

2.2 Pengertian Outsourcing..................................................................5

2.3 Syarat-syarat Menjadi Perusahaan Outsourcing........................7

2.4 Manfaat Outsourcing......................................................................9

2.5 Pelaksanaan Outsourcing.............................................................13

2.5 Hubungan antara Outsourcing dengan Aset..............................16

BAB III PENUTUPAN......................................................................................17

3.1 Kesimpulan...................................................................................17

3.2 Saran..............................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................18

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan ekonomi global dan kemajuan teknologi yang demikian


cepat membawa timbulnya dampak persaingan usaha yang begitu ketat dan terjadi
di semua lini. Persaingan bisnis global yang semakin ketat ini, menentukan
ketangguhan sebuah perusahaan dalam melaksanakan efisiensi agar dapat
bersaing dan mempertahankan kelangsungan hidupnya. Perusahaan yang dapat
bertahan dan berkembang di era globalisasi adalah perusahaan yang menerapkan
dua hal, yaitu : cost effective management dan mendayagunakan teknologi
informasi.
Untuk meningkatkan daya saingnya, perusahaan-perusahaan berusaha
mencari strategi baru agar apa yang dilakukannya efektif dan efisien. Dengan
melakukan efisiensi tanpa mengurangi kualitas, perusahaan akan mampu
meberikan nilai pelanggan (cutomer value) yang lebih baik daripada yang
diberikan oleh pesaingnya, sehingga dapat memberikan kepuasan pelanggan dan
mampu meningkatkan kesetiaan pelanggan.
Dalam mengembangkan usahanya, perusahaan memerlukan penambahan
kapasitas produksi, diantaranya melalui penambahan fasilitas produksi dan atau
tenaga kerja. Untuk melakukan penambahan tenaga kerja tersebut, diperlukan
perencanaan dan analisis yang tepat, karena akan berdampak terhadap adanya
investasi atas bertambahnya biaya produksi dan beban operasional. Kebijakan
penambahan tenaga kerja akan dihadapkan dengan masalah rekruitmen, pelatihan,
jaminan sosial, jaminan kecelakaan kerja, jaminan kesehatan, tunjangan-tunjangan
lainnya sampai dengan pemutusan hubungan kerja.
Seiring dengan perkembangan masalah penyediaan tenaga kerja tersebut,
sampai sekarang banyak perusahaan beralih menggunakan metode alternatif
dalam perkrutan tenaga kerja. Dari yang menggunakan sistem perekrutan yang
dikelola perusahaan sendiri (insourcing), kemudian berubah dengan strategi
mengalihkan salah satu fungsi manajemennya dalam penyediaan tenaga kerja
kepada tim profesional di luar perusahaan (eksternal). Sehingga pemilik
perusahaan yang tidak mempunyai banyak waktu untuk kegiatan pengembangan

1
manajemen SDM perusahaan (khususnya perekrutan tenaga kerja) dapat lebih
memfokuskan diri pada kompetensi intinya, yaitu perluasan jaringan bisnis atau
ide bisnisnya.
Kebijakan perusahaan model tersebut, dikenal dengan nama outsourcing.
Kebijakan outsourcing di Indonesia didasari dengan adanya UU No. 13 Tahun
2003 tentang ketenagakerjaan, yang pada pasal 64 menyebutkan bahwa
”outsourcing adalah suatu perjanjian kerja yang dibuat antara pengusaha dengan
tenaga kerja, dimana perusahaan tersebut dapat menyerahkan sebagian
pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lainnya melalui perjanjian
pemborongan pekerjaan yang dibuat secara tertulis”. Pada prakteknya outsourcing
dapat diartikan juga sebagai usaha untuk meningkatkan efisiensi perusahaan
dengan memanfaatkan sumber daya dari luar menggantikan sumber daya dari
dalam perusahaan untuk menyelesaikan tugas tertentu yang selama ini dianggap
kurang efisien. Namun, meski outsourcing tersebut dibolehkan, UU
Ketenagakerjaan mengaturnya secara terbatas. Misalnya, pelaksanaan outsourcing
harus dituangkan dalam sebuah perjanjian tertulis dan harus didaftarkan ke Dinas
Tenaga Kerja. Hal ini diatur dalam Pasal 64 UU Ketenagakerjaan dan Keputusan
Menteri Tenaga Kerja No 101 Tahun 2004 (Kepmen 101/2004).
Garis besar tujuan perusahaan melakukan outsourcing adalah agar
perusahaan dapat fokus pada kompetensi utamanya dalam bisnis sehingga dapat
berkompetisi dalam pasar, dimana hal-hal intern perusahaan yang bersifat
penunjang (supporting) dialihkan kepada pihak lain yang lebih profesional.
Tujuan ini baik adanya, namun pada pelaksanaannya, pengalihan ini menimbulkan
beberapa permasalahan terutama masalah ketenagakerjaan.
Problematika mengenai outsourcing (Alih Daya) memang cukup
bervariasi, tidak terkecuali di Indonesia. Hal ini dikarenakan penggunaan
outsourcing (Alih Daya) dalam dunia usaha di Indonesia kini semakin marak dan
telah menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda oleh pelaku usaha,
sementara regulasi yang ada belum terlalu memadai untuk mengatur tentang
outsourcing yang telah berjalan tersebut. Banyak perusahaan melakukan
outsourcing bukan atas dasar kebutuhan dan sesuai dengan aturan hukum yang
ada, melainkan hanya karena tidak mau repot dengan urusan-urusan

2
ketenagakerjaan. Perusahaan melakukan oursourcing karena tidak mau direpotkan
apabila nanti terjadi PHK, dan agar tidak perlu memberi pesangon kepada
karyawan yang di-PHK. Penghindaran kewajiban oleh perusahaan dalam
pembayaran upah yang layak dan memenuhi kesejahteraaan karyawannya dapat
dikatakan juga sebagai salah satu bentuk pelanggaran etika. Dalam melakukan
kegiatan bisnis, prinsip-prinsip bisnis yang beretika sudah sepatutnya dijalankan,
termasuk pula dalam melakukan outsourcing.
Di Indonesia sendiri terdapat peraturan perundang-undangan yang telah
ditetapkan untuk mengatur segala sesuatu tentang penggunaan outsourcing di
wilayah Indonesia, namun jika dilihat lebih jauh lagi, peraturan ini dirasa kurang
dapat mengakomodasi dan mengatasi permasalahan outsourcing di Indonesia.
Tentu saja ini akan sangat terkait pula dengan etika.
Oleh karena itu, berdasarkan pemaparan tersebut di atas, dalam penulis
makalah ini akan menyajikan dan membahas tentang outsourcing dan kaitannya
dengan Aset.

3
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud Aet ?

2. Apa yang dimaksud Outsourcing ?

3. Apa saja Syarat-syarat Menjadi Perusahaan Outsourcing ?

4. Apa saja Manfaat Outsourcing ?

5. Bagaimana Pelaksanaan Outsourcing ?

6. Bagaimana Hubungan antara Outsoucing dengan Aset ?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui Pengertian Aset.

2. Untuk mengetahui Pengertian Outsourcing.

3. Untuk mengetahui Syarat-syarat Menjadi Perusahaan Outsourcing.

4. Untuk mengetahui Apa saja Manfaat Outsourcing.

5. Untuk mengetahui Pelaksanaan Outsourcing.

6. Untuk mengetahui Hubungan antara Outsourcing dengan aset.

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Aset


The IASB (AASB) Framework for the Preparation and Presentation of
Financial Statements (para 49) defines an assets as follows: An assets is a
resource controlled by the entity as a result of past events and from which
future economic benefits are expected to flow to the entity.

Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (paragraf


49) mendefinisikan aset sebagai berikut: “Aset adalah sumber daya yang
dikendalikan oleh entitas sebagai akibat peristiwa masa lalu dan di mana ada
manfaat ekonomi masa depan yang diharapkan mengalir ke entitas”. Oleh karena
itu, terdapat tiga karakteristikpenting :
1. Manfaat ekonomi masa yang akan datang
2. kontrol oleh entitas
3. Peristiwa masa lalu

2.2 Pengertian Outsourcing

Dalam pengertian umum, istilah outsourcing diartikan sebagai contract


(work out). Menurut definisi Maurice Greaver, outsourcing dipandang sebagai
tindakan mengalihkan beberapa aktivitas perusahaan dan hak pengambilan
keputusaannya kepada pihak lain ( outside provider), di mana tindakan ini terkait
dalam suatu kontrak kerja sama. Dapat juga dikatakan outsourcing sebagai
penyerahan kegiatan perusahaan baik sebagian ataupun secara menyeluruh kepada
pihak lain yang tertuang dalam kontrak perjanjian.

Ada tiga unsur penting dalam outsourcing, yaitu:

1. Terdapat pemindahaan fungsi pengawasan,


2. Ada pendelegasian tanggung jawab/tugas suatu perusahaan,
3. Dititik beratkan hasil/output yang ingin dicapai oleh perusahaan.

5
Dari beberapa definisi yang dikemukakan diatas, terdapat persamaan dalam
memandang outsourcing, yaitu adanya penyerahan sebagai kegiataan perusahaan
pada pihak lain, yang diharapakan memberikan hasil berupa peningkatan kinerja
agar dapat lebih kompetitif dalam mengahdapi perkembangan ekonomi dan
teknologi global.

Secara umum pengertian outsourcing adalah:

- Penyerahan tanggung jawab kegiatan perusahaan kepada pihak ketiga


sebagai pengawas pelayanan yang telah disepakati.
- Penyerahaan kegiatan, tugas atau pun pelayanan pada pihak lain, dengan
tujuan untuk mendapatkan tenaga ahli serta meningkatkan efesiensi dan
efektivitas perusahaan.

Undang-Undang Hukum Perdata buku ketiga Bab 7a bagian keenam tentang


Pemborongan Kerja sebagai berikut:

1. Perjanjian Pemborongan Pekerja adalah suatu perjanjian di mana pihak


pertama (pemborong), mengikatkan diri untuk membuat suatu karya
tertentu bagi pihak yang lain yang memborongkan dengan menerima
bayaran tertentu dan di mana lain yang memborongkan mengikatkan diri
untuk memborongklan pekerja kepada pihak pemborong dengan bayaran
tertentu.
2. Dalam perjanjian tidak ada hubungan kerja antara perusahaan pembiring
dan perusahaan yang memborongkan dan karena itu dalam perjanjian
tersebut tidak ada unsur upah/gaji. Yang ada adalah harga borongan.
3. Dalam hal ini perusahaan pemborong menerima harga borongan bukan
upah/gaji dari perusahaan yang memborongkan.
4. Hubungan antara pemborong dan yang memborongkan adalah hubungan
perdata murni sehingga jika terjadi perselisihan maka secara perdata di
Pengadilan Negeri.
5. Perjanjian atau perikatan yang dibuat secara sah oleh pemborong dengan
yang memborongkan pekerjaan tunduk pada KUH Perdata pasal 1338 jo

6
pasal 1320 yaitu semua perjanjian yanng dibuat secara sah akan mengikat
bagi mereka yang membuatnya.
6. Agar sah, suatu perjanjian harus dipenuhi empat syarat, yaitu:
a. Mereka yang mengikatkan diri sepakat;
b. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
c. Suatu hal tertentu;
d. Suatu yang halal.
7. Dalam perjanjian pemborongan pekerjaan dapat diberlakukan:
a. Pemborong hanya untuk melakukan pekerjaan;
b. Pemborong juga menyediakan bahan dan peralatan.
8. Pemborong bertanggung jawab atas tindakan pekerja yang dipekerjakan

2.3 Syarat-syarat Menjadi Perusahaan Outsourcing

Sesuai dengan ketentuan dalam pasal 65, ayat (3) Undang-Undang


Ketenagakerjaan di atas, kegiatan outsourcing hanya bisa dilakukan oleh
perusahaan yang berbadan hukum.

Pasal 2

(1) Untuk dapat menjadi perusahaan penyedia jas pekerja/buruh perusahaan


wajib memiliki izin operasional dari instansi yang bertanggung jawab di
bidang di kabupaten/kota sesuai dengan domisili perusahaan penyadia
jasa/buruh.
(2) Untuk mendapatan izin operasional perusahaan penyedia jasa
pekerja/buruh perusahaan memnyampaikan permohonan dengan
melampirkan;
a. Copy pengesahan sebagai badab hukum berbentuk Perseroan Terbatas
atau Koperasi;
b. Copy anggaran dasar yang di dalamnya memuat kegiatan usaha
penyedia jasa pekerja/buruh;
c. Copy SIUP;
d. Copy wajib lapor ketenagakerjaan yang masih berlaku.

7
(3) Instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) harus sudah menerbitkan izin operasional
terhadap permohonan yang telah memenuhi kententuan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2) dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari
kerja sejak permohonan diterima.

Pasal 3

Izin operasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 berlaku di seluruh


Indonesia untuk jangka waktu yang sama. ( Isi Lengkap KEPMENKERTRANS
NO. KEP.101/MEN/VI/2004. LIHAT LAMPIRAN)

 Hubungan Ketenagakerjaan Outsourcing

Perlu ditekankan bahwa pekerja outsourcing hanya mempunyai hubungan kerja


dengan perusahaan outsourcing bukan perusahaan pemberi kerja.

Persyaratan yang harus dipenuhi untuk pelaksanaan perjanjian kerja waktu


tertentu seperti dimaksud dalam pasal 59 yaitu:

a. Pekerjaan yang sekali selesai dalam waktu tertentu,


b. Pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak
terlalu lama, dan paling lama 3 tahun,
c. Pekerjaan yang bersifat musiman, atau
d. Pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau
produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan.

 Pekerjaan yang Bisa Di-outsource

Pada dasarnya, pekerjaan yang bisa di-outsource adalah pekerjaan penunjang (non
core) dan bukan pekerjaan utama (core). “Pekerja/buruh dari perusahaan penyedia
jasa pekerja/buruh tidak boleh digunakan oleh pemberi kerja untuk melaksanakan
kegiatan pokok atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses
produksi, kecuali untuk kegiatan jasa penunjang atau kagiatan yang tidak
berhubungan langsung dengan proses produksi.”

8
2. 4 Manfaat Outsourcing

Manfaat bagi pemerintah:

- Dapat membantu mengembangkan dan mendorong pertumbuhan ekonomi


masyarakat dan perekonomian nasional.
- Sebagai pembinaan dan pengembangan kegiatan koperasi dan usaha kecil
karena perusahaan sebagaian pelaku outsource berbentuk koperasi maupun
usaha kecil.
- Mengurangi beban pemerintah dalam penyediaan fasilitas umum seperti
transportasi, listrik, air dan pelaksanaan ketertiban umum karena kegiatan
tersebut bisa dilakukan oleh perusahaan outsource.

Manfaat bagi masyarakat dan pekerja:

- Outsourcing akan mempercepat pertumbuhan industri yang pada


gilirannya akan mendorong ekonomi penunjang dilingkungan masyarakat
seperti adanya pasar, warung makan sarana transportasi dan sebagainya.
- Mengembangkan infrastruktur sosial masyarakat,budaya kerja, disiplin
dan peningkatan kemampuan ekonomi..
- Mengurangi pengangguran dan mencegah terjadinya urbanisasi.
- Meningkatkan kemampuan budaya perusahaan budaya perusahaan
dilingkungan masyarakat.
- Bagi fresh graduate outsourcing bisa menjadi jembatan untuk karir
sebelumnya.

Manfaat bagi perusahaan:

- Meningkatkan fokus perusahaan inti.


- Penghematan dana kapital.
- Efisiensi biaya operasional.
- Memperoleh SDM yang lebih propesional.

9
 Contoh Praktik Outsourcing yang salah

Pada dasarnya setiap sistem (termasuk outsourcing) dapat berjalan dengan


baik dan menguntungkan jika terdapat keterkaitan yang baik antara teori, norma,
dan pelaksanaan.

Praktik outsourcing yang salah yang pernah kami temui adalah sebagai
berikut:

 Kesalahan tipe perjanjian outsourcing yang diperjanjian


 Kesalahan dalam memilih mitra perusahaan outsourcing
 Perotasian pekerja/buruh outsource dengan tidak memperhatikan etika
bisnis.
 Kecurangan dalam pengupahan pekerja/buruh outsource.
 Kesalahan dalam penentuan kegiatan penunjang perusahaan yang di-
outsource-kan
 Satu tim kerja untuk melaksanakan pemenuhan permintaan tenaga kerja
dari klien yang saling berkompetisi
 Tidak adanya pelatihan kerja bagi pekerja/buruh outsource.
 Kurangnya perhatian atas kebutuhan, peforma dan jenjang karir
pekerja/buruh outsource.
 Kesalahan Tipe Perjanjian Outsourcing Yang Diperjanjikan

Pada asanya terdapat dua jenis tipe perjanjian outsourcing yaitu:

a. Tipe perjanjian Outsourcing SDM (OSDM) yang menyerahkan segala


urusan pengelolaan tenaga kerja kepada perusahaan outsoursing, misalnya
urusan pengupahan (pay roll), pengaturan jadwal kerja dan sebagainya.
b. Tipe perjanjian sales agency atau distributorship yang hanya
menitipberatkan pada hasil akhir yang dihasilkan oleh pekerja/buruh
outsource, jadi perusahaan outsourcing hanya akan dibayar berdasarkan
hasil yang dicapai oleh pekerja/buruh outsource-nya

10
 Kesalahan Dan Dalam Memilih Mitra Perusahaan Outsourcing

Banyaknya perusahaan-perusahaan outsourcing di indonesia saat ini telah


meningkatkan tingginya tingkat kesalahan pengguna outsourcing dalam memilih
mitra (perusahaan outsourcing) untuk menerapkan outsourcing di departemen
perusahaannya. Tidak jarang suatu perusahaan dari suatu perusahaan outsourcing
merupakan anak perusahaan dari suatu perusahaan non-outsourcing dimana
pembentukan perusahaan outsourcing tersebut pada mulanya hanya bertujuan
untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja perusahaan induknya.

Dampaknya dari kesalahan suatu perusahaan pengguna outsourcing


(perusahaan pemberi kerja) dalam memilih mitra perusahaan outsourcing dapat
berbentuk keterlambatan pemenuhan tenaga kerja dengan kialifikasi khusus yang
menunjukan rebdahnya tungkat kemampuan rekruitmen perusahaan outsourcing,
hingga terjadinya kecurangan yang di lakukan oleh pekerja/buruh yang
mengakibatkan kerugian finansial dan non finansial pihak perusahaan pengguna
outsourcing (perusahaan pemberi kerja).

 Perotasian Pekerja/Buruh Outsource Dengan Tidak Memperhatikan


Etika Bisnis

Praktik outsourcing yang salah yang juga marak terjadi adalah dalam hal
perotasian pekerja/buruh outsource dengan tidak memperhatikan etika bisnis yang
akhirnya mengakibatkan ketidak adilan bagi perusahaan pengguna jasa
outsourcing (perusahaan pemberi kerja).

 Kecurangan Dalam Pengupahan Pekerja/Buruh Outsource

Inilah bentuk dari praktik outsourcing yang salah yang banyak mendapat
sorotan dari para pekerja/buruh outsource yang akhirnya menyebabkan terjadinya
banyak unjuk rasa dari para pekerja/buruh outsource. Bentuk praktik outsourcing

11
yang salah ini biasanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan outsourcing yang
baru terdiri oleh perusahaan-perusahaan outsourcing yang bisa kita bilang serakah
karena menerapkan premanisme outsourcing pada para pekerja/buruh outsource-
nya.
Bentuk kecurangan dalam pengupahan pekerja/buruh outsource yang
sering kami jumpai adalah :

a. Adanya pekerja/buruh outsouce yang menerima upah yang besarnya


kurang dari upah minimum provinsi (UMP), melanggar ketentuan pasal 90
ayat 1 undang-undang nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan.
b. Adanya pekerja/buruh outsource yang menerima upah yang lebih kecil
dari pekerja/buruh tetap yang di antara keduanya melakukan pekerjaan dan
nilai yang sama di lokasi kerja yang sama, melanggar ketentuan pasal 3
peraturan pemerintah nomor 8 tahun 1981 tentang perlindungan upah.
Seharusnya status pekerja yang berada (satu karyawan kontrak , satu lagi
karyawan tetap) tetap boleh untuk pekerjaan yang sama. Hal ini
membuktikan kecemburuan sosial, karena karyawan kontrak biasanya
menerima upah dan tunjangan lain yang lebih kecil dari karyawan tetap.
c. Adanya pekerja/buruh yang tidak menerima kompensasi sanksi dari
pengusaha tidak atas keterlambatan pembayaran upah yang di alaminya,
melanggar ketentuan pasal 19 peraturan pemerintah nomor 8 tahun 1981
tentang perlindunga upah.

 Kesalahan Dalam Penentuan Kegiatan Penunjang Perusahaan


Yang Di-Outsourcing

Dalam penerapan outsourcing, di dalam suatu divisi yang di-outsourcing-


kan akan lebih baik pekerja-pekerja/buruh-buruh di dalam divisi itu semuanya
berstatus sebagai pekerja/buruh outsourcing.

12
 Satu Tim Kerja Untuk Melaksanakan Pemenuhan Permintaan
Tenaga Kerja Dari Klien-Klien Yang Saling Berkompetisi

Tidak jarang kami menemukan perusahaan outsourcing memiliki klien


yang saling berkompetisi (karena bergerak di bidang yang sama) dan juga
mendapatkan job profile yang sama pula dari klien-kliennya tersebut.

 Tidak Adanya Pelatihan Kerja Bagi Pekerja/Buruh Outsource

Praktik outsourcing yang juga salah dilakukan oleh perusahaan


outsourcing yang tidak mengadakan pelatihan bagi pekerja/buruh outsource-nya
dengan hanya didasarkan pada alasan penghematan biaya perusahaan.
Pekerja/buruh outsource yang kita miliki layaknya pohon buah-buahan yang harus
dipupuk dan akan mendapatkan buah-buahan yang segar dan memenuhi standar
untuk dijual.

 Kurangnya Perhatian Atas Kebutuhan, Performa Dan Jenjang Karir


Pekerja/Buruh Outsource

Kurangnya perhatian perusahaan outsourcing pada kebutuhan pekerja/buruh


outsource-nya dapat ,engakibatkan lunturnya integritas antara pekerja/buruh.

2.5 Pelaksanaan Outsourcing

Ada tiga tahapan penting yang harus dilakukan perusahaan yang akan melakukan
outsource agar kegiatan tersebut berhasil.

a) Tahapan Perencanaan

Tahapan ini mencakup beberapa hal seperti penentuan pekerjaan yang akan di-
outsource, pemilihan konsultan dan pemilihan perusahaan outsource.

 Penentuan Pekerjaan yang akan di-outsource

Penentuan pekerjaan yang akan di-outsource sangat terkait dengan visi dan misi
perusahaan. Misalnya sebuah perusahaan telekomunikasi ingin leading di
bidangnya.

13
Selain untuk menentukan kegiatan core dan non core pembuatan alur kegiatan
juga berfungsi:

- Sebagai dasar hukum bagi penetapan melakukan kegiatan outsourcing


- Memudahkan bagian operasional perusahaan dalam membuat Man Power
Planning
- Memudahkan dalam pembuatan budgeting untuk pekerjaan yang sudah
ditetapkan di-outsource secara permanen
- Menjadi acuan baik internal perusahaan maupun bagi pemerintah

Biasanya di jadikan pertimbangan perusahaan untuk menentukan kegiatan core


dan non core yaitu:

- Value added
- Tingkat resiko
- Arah pengembangan
- Kebiasaan industri

Contoh pekerjaan yang bisa di-outsource antara lain:

- Usaha pelayanan kebersihan


- Usaha penyediaan makanan
- Usaha tenaga pengamanan
- Usaha angkutan karyawan
- Usaha jasa penunjang di pertambangan dan perminyakan
- Usaha penunjang sektor perbankan
- Usaha jasa penunjang di sektor telekomunikasi
- Usaha bidang rekayasa
- Usaha bidang sdm
- Usaha bidang keuangan
- Usaha bidang komunikasi
- Usaha di bidang csr

Bank melakukan pengujian dengan menggunakan kreterian paling kurang sebagai


berikut:

14
1. Beresiko rendah
2. Tidak membutuhkan kualifikasi kopentensi yang tinggi di bidang
perbankkan
3. Tidak terkait langsung dengan proses pengambilan keputusan yang
mempengaruhi operasional bank
b) Penentuan Konsultan

Jika diperlukan, perusahaan dapat menggukan jasa konsultan dalam proses


pelaksanaan outsourcing ini.

Ada beberapa cara memilih konsultan yaitu:

- Berdasarkan referensi dari perusahaan lain yang sudah menggunakan jasa


konsultan tersebut
- Bertanya pada user atau perusahaan lain yang sudah menggunakan jasa
konsultan tersebut
- Mencari lewat internet
- Melalui asosiasi bisnis alih daya (ABADI)

Konsultan harus memahami arsitek hukum industrial termasuk outsourcing serta


hal-hal terkait core dan non core.

Adapun tugas konsultan antara lain:

- Membantu mengevaluasi pentingnya kerja sama anatara perusahaan


pengguna dan perusahaan outsource
- Menentukan bidang-bidang yang akan di-outsource
- Membantu memilih perusahaan outsource yang kredibel
- Menjajaki bonafiditas perusahaan oursource
- Memberi penjelasan mengenai dasar hukum kontrak kerja
- membrikan saran dalam penyusunan kontrak kerja
- memberikan penjelasan mengenai manejemen fee.

15
c) Memilih perusahaan outsourcing

Cara memilih perusahaan outsource adalah:

- berdasarkan saran atau referensi konsultan


- mencari lewat internet referensi dari perusahaan lain
- melalui asosiasi
- melalui majalah bisnis dan sdm
- melalui seminar

Setelah mengetahui beberapa perusahaan outsource yang kredibel perusahaan


akan memilih satu untuk dijadikan mitra outsource beberapa faktornya adalah:

- harga
- jangka waktu pembataran
- kapasitas pelayanan
- variasi produk
 Pelaksanaan Outsourcing yang baik

Hubungan antara pemberi pekerjaan (user) dan penerima pekerjaan (vendor) harus
berdasarkan pada:

1. Kesimbangan hak dan kewajiban antara pemberi pekerjaan dan penerima


pekerjaan
2. Keadilan
3. Hak asasi manusia
4. Keterbukaan
5. Transparansi

2.6 Hubungan antara Outsourcing dengan asset

Outsourcing adalah pendelegasiaan pekerjaan dimana tenaga kerja tersebut


terikat dengan sebuah kontrak yang dibuat dengan perusahaan. Dalam kaitannya
dengan akuntansi, Outsourcing tidak dapat dikatakan sebagai aset, karena
outsourcing terikat jangka waktu yang ada di dalam kontrak. Sehingga untuk
pencatatan akuntansinya outsourcing dicatat sebagai beban.

16
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Outsourcing pada mulanya diciptakan dalam rangka agar perusahaan dapat


berkonsentrasi pada core competencenya, dan untuk tujuan itu maka kegiatan-
kegiatan yang bukan merupakan core competence perusahaan dialihkan
pengerjaannya kepada pihak lain. Selain agar perusahaan dapat berkonsentrasi
pada core competencenya, kegiatan yang dialihkan tersebut diharapkan dapat
dikerjakan dengan hasil yang lebih baik oleh perusahaan lain yang menerima
pekerjaan outsourcing. Keuntungan lain yang didapatkan dengan melakukan
outsourcing adalah adanya penghematan biaya dikarenakan dengan outsourcing
terjadi efisiensi biaya produksi dalam perusahaan. Ini disebabkan karena
pekerjaan yang bukan merupakan keahlian perusahaan dialihkan kepada
perusahaan yang lebih mampu dalam mengerjakan pekerjaan tersebut.
Akan tatapi dalam perkembangannya yang terjadi adalah perusahaan
banyak menggunakan outsourcing sebagai sarana pemangkasan biaya secara besar
besaran dan melanggar etika dengan menghindari kewajiban kewajiban yang
harus dipenuhi terhadap karyawan yang merupakan hak hak yang seharusnya
diperoleh karyawan. Tindakan ini merupakan bentuk dari pelanggaran terhadap
etika yang dilakukan perusahaan terhadap karyawan dan lingkungannya.
Melakukan eksploitasi terhadap karyawan dan melanggar hak hak yang harus
diberikan dan kewajiban yang harus dipenuhi tentu saja bertentangan dengan
prinsip-prinsip etika.

3.2 SARAN

Makalah ini dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran untuk menambah


pengetahuan mengenai Outsourcing dan kaitannya dengan Aset.

17
DAFTAR PUSTAKA

GodFrey, jayne.dkk.2010. Accounting Theory 7th edition, Australia:Wiley

Indonesia. Undang Undang no. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

18