Anda di halaman 1dari 8

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL ( SPO )

PENANGANAN KASUS KEGAWATDARURATAN


TERTIMPA RERUNTUHAN DI TEMPAT WISATA

OLEH :

I PUTU YOAN SUGIANTARA


(P07120217026)
TINGKAT III S.Tr KEPERAWATAN SEMESTER VI

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2020
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL ( SPO )
PENANGANAN KASUS KEGAWATDARURATAN
TERTIMPA RERUNTUHAN DI TEMPAT WISATA

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL ( SPO )


PENANGANAN KASUS KEGAWATDARURATAN
TERTIMPA RERUNTUHAN DI TEMPAT WISATA
POLTEKKES DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN

PENGERTIAN Tertimpa reruntuhan adalah keadaan atau kejadian


dimana seseorang terkena jatuhan benda, objek, maupun
sepihan yang memiliki massa dari sesuatu yang
berukuran lebih tinggi ataupun terletak diatas tempat
seorang itu berpijak. Kejadian runtuhnya objek tersebut
dapat diakibatkan oleh tidak kuatnya pondasi dalam
menampung beban maupun faktor alam itu sendiri seperti
gempa bumi maupun angin kencang. Benda benda atau
objek yang sering sekali mengakibatkan seseorang
tertimpa reruntuhan atau dengan kata lain berpotensi
runtuh karna faktor diatas antara lain : Bagunan atau
gedung tinggi, benda yang berbentuk tinggi besar,
pepohonan tinggi, dataran tinggi, gua dan terowongan
alami.
TUJUAN 1. Mengurangi rasa nyeri akibat terkena reruntuhan
dengan jangka waktu yang cukup lama.
2. Menolong klien dari kemungkinan cacat permanen
(karna vulnus, fraktur ,dll)
3. Meminimalkan risiko kematian dan meningkatkan
harapan hidup klien (akibat sulit bernafas, henti nafas,
henti jantung, dll)
4. Menyelamatkan dari kemungkinan runtuhan susulan.
INDIKASI 1. Klien yang mengalami kejadian tertimpa reruntuhan.
2. Klien yang tidak sadarkan diri.
KONTRAINDIKASI Klien dengan keadaan sehat dan tidak mengalami
kejadian tertimpa reruntuhan
PETUGAS BNPP/SAR, Perawat yang berkompetensi, Petugas di
wilayah pariwisata yang telah memiliki kompetensi
tentang pertolongan pertama.
TINDAKAN Tindakan pertama kita lakukan adalah membantu terlepas
atau mengeluarkan klien dari reruntuhan yang telah
menimpanya kemudian dilanjutkan dengan tindakan
penilaian kesadaran seperti apakah masih adanya denyut
nadi dan hembusan napas kemudian penilaian keadaan
seperti apakah adanya fraktur, luka dll. Kita dapat
melakukan tindakan bantuan hidup dasar, pembidaian
dan perawatan luka.
PERSIAPAN (PRA Tindakan pengeluaran dari keadaan tertimpa reruntuhan
INTERAKSI) 1. APD (Sarung Tangan, Masker dll)
2. Petugas terlatih dengan jumlah banyak untuk
membantu pengangkat teruntuhan yang masih
mungkin diangkat
3. Mobil pengangkat barang (jika sulit dipindahkan
dengan manual)
4. Air minum
5. Pulpen
6. Buku catatan
Alat untuk tindakan yang bersifat insidental
1. Tidak ada denyut nadi dan suara napas
a. APD (jika perlu)
b. Amu Bag (untuk ventilasi)
c. AED (Automated External Defibrillator)
d. Tabung Oksigen
2. Fraktur dan Luka
a. Bidai
b. Mitela
c. Elastic Banded
d. Kasa Steril
e. Nacl 0,9%
f. Betadine
KERJA 1. Lakukan tindakan penyelamaatan atau pengeluaran
pasien dari reruntuhan
2. Pastikan penolong aman. penolong bisa menggunakan
sarung tangan untuk membantu proses evakuasi klien
3. Jika penolong dapat menemukan dan melihat pasien
(pasien tertimpa reruntuhan yang tidak menutupi
seluruh tubuh, misalnya tertimpa pohon kepala
tumbang), lakukan pertolongan dengan mengangkat
reruntuhan secara perlahan lahan dengan bantuan
massa ataupun mobil pengangkat.
4. Jika penolong tidak dapat menemukan dan melihat
pasien (pasien tertimbun di reruntuhan yang menutupi
seluruh tubuh, misalnya tertimpa tembok tinggi),
lakukan teriakan untuk memanggil klien. Jika ada
suara maupun pergerakan reruntuhan yang sekiranya
menandakan adanya klien, lakukan pengangkatan
reruntuhan secara perlahan lahan dengan bantuan
massa ataupun mobil pengangkat.
5. Ketika melakukan pertolongan, usahakan kita tidak
menginjak reruntuhan yang menimpa klien agar tidak
menambah tekanan yang berpotensi meningkatkan
cedera.
6. Lakukan pertolongan dengan cepat dan tepat.
7. Setelah klien berhasil ditolong ataupun dikeluarkan
dari reruntuhan, bawa klien untuk ketempat yang
aman untuk melakukan penilaian kondisi dan keadaan
pasien.
8. Lakukan pemeriksaan kondisi klien dengan dengan
cepat dan cermat
9. Jika pasien tampak sadar tanpa keluhan serius maka
berikan air minum agar lebih releks.
10. Jika klien tidak sadar, seperti tidak teraba nadi dan
pernafasan, maka lakukan kegiatan Resusitasi Jantung
Paru atau Cardio Pulmonary Resuscitation untuk
mengaktifkan kelistrikan jantung. Sebelumnya
lakukan prinsip Bantuan Hidup Dasar D-R-S-C-A-
yakni sebelumnya lakukan pengamanan dan cek
repon, jika tidak berespon maka bisa dilakukan RJP
atau CPR tadi. Lankahnya kurang lebih sebagai
berikut :
a. D : Danger, lakukanlah prinsip 3 A yakni aman
penolong, aman lingkungan, dan aman pasien
sebelum melakukan pengecekan respon.
b. Setelah memastikan semuanya aman lakukukan
penilaian R : Respon. Cek respon klien apakah ia
merespon, jika tidak lakukan dengan cara
memanggil dengan suara, jika tidak rangsang
nyeri, atau tidak berespon.
c. Jika klien tidak berespon maka lakukan S : Shout
for help atau meminta bantuan seseorang atau
crew untuk menghubungi ambulans untuk
tindakan medis yang lebih lengkap.
d. Sambil menunggu ambulans datang lakukan
RJP/CPR jika tidak ada denyut nadi yang dapat
dicek di leher (nadi karotis) dan suara napas
ketika dicek kurang dari 10 detik, maka C :
Circulation atau lanjutkan dengan pijat jantung
dengan memberikan penekanan kuat cepat dan
berirama pada setengah bawah sternum atau 2 jari
diatas prosesus xipoideus.
e. Untuk dewasa lakukan kompresi 30 kali dan 2
kali ventilasi dengan kedalaman 5-6 cm dengan
penempatan posisi kedua tangan. Untuk anak
anak lakukan kompresi 30 kali dan 2 kali ventilasi
dengan kedalaman sepertiga diameter anterior
posterior dada (5 cm) dengan penempatan posisi
kedua tangan (tergantung postur anak). Untuk
bayi lakukan kompresi 30 kali dan 2 kali ventilasi
dengan kedalaman sepertiga diameter anterior
posterior dada (4 cm) menggunakan 2 jari di
tengah dada (sejajar putting susu) atau dengan ibu
jari yang menggerak melingkar di tengah dada
f. Kemudian A : Airway atau periksa jalan napas
dengan melakukan head tilt dan chin lift (angkat
dagu tekan dahi) atau jika dicurigai ada cedera
servical maka lakukan jaw trust tanpa menggeser
tulang leher dan kepala.
g. Setelah itu lakukan B : Breathing atau cek
pernapasan dalam mempertahankan ventilasi
oksigenasi paru adekuat lihat dengar dan rasakan.
h. Jika pasien mulai menunjukan respon seperti ada
nasi dan napas, maka lakukan Recovery position
untuk menjaga keadekuatan nadi dan napas.
i. Jika terdapat AED, maka kita bisa memasang
AED ketika mendapati tidak adanya nadi dan
napas sambil melakukan CPR mengikut arahan
AED.
j. RJP dihentikan ketika DNR, ada tanda
kematian( misal, kaku mayat, lebam mayat,dll),
trauma yang tidak mungkin diselamatkan (misal,
leher terpenggal,dll), irama EKG flat, ketika 15
menit diberi pertolongan etap tidak berespon,
petugas medis datang.
11. Jika terdapat luka maka lakukan perawatan luka
sesuai dengan prosedur yang tepat. Luka yang
mungkin terjadi ketika tertimpa reruntuhan adalah
luka lecet, luka robek, dan memar. Untuk luka lecet
dan robek lakukan pembersihan luka dengan NaCl
dan berikan antiseptic seperti betadine dalam
penyembuhannya dapat dibalut menggunakan kasa
steril dan perban. Untuk memar maka lakukan
pertolongan pertama dengan kompres dingin.
12. Jika terdapat fraktur maka lakukan pembidaian di
daerah yang tersebut. Jika fraktur di daerah sendi
maka lakukan pembidaian diantara 2 tulang. Jika
terjadi fraktur terdapat di bagian tulang, maka harus
melewati 2 sendi. Gunakan mitela untuk menfiksasi
dan mengikat mitela agar tidak goyang. Jika ada luka
terbuka, maka bersihkan luka dengan NaCl dan
lakukan penekanan atau tutup dengan elastic banded
dan hubungi ambulans untuk mendapatkan
penanganan yang lebih intensif di rumah sakit.
TERMINASI 1. Menanyakan perasaan klien setelah diberikan
tindakan
2. Melakukan evaluasi subyektif dan obyektif dengan
bertanya dan mengamati klien
HASIL Evaluasi respon klien setelah tindakan
DOKUMENTASI 1. Catat identitas klien
2. Catat kejadian yang dialami pasien
3. Catat tindakan yang diberikan
4. Catat perasaan klien setelah diberikan tindakan
5. Tanda tangan dan nama terang perawat sebagai
pengesahan atas tindakan.
Denpasar, Maret 2020
Yang Menyusun SPO

I Putu Yoan Sugiantara


NIM.P07120217026