Anda di halaman 1dari 5

Pemanfaatan Unit Produksi Sebagai Alternatif Tempat Pelatihan

Lifeskill dan Enterpreuner Skill


ABD ROHMAN 5215087502
PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRONIKA (NR)
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
Unit Produksi di SMK merupakan alternatif tempat pelatihan siswa SMK. Untuk kecakapan hidup
perlu dikembangkan perangkat keras, dan perangkat lunaknya. Sedangkan kecakapan
berwirausaha lebih banyak ditekankan pada komponen lunak kepribadian. Unit produksi sekolah
dapat berperan sebagai tempat latihan siswa untuk mengembangkan kecakapan hidup dan
kecakapan berwirausaha.
Kata kunci : kecakapan hidup, kecakapan berwirausaha, dan unit produksi

bidang profesi yang akan digeluti dan


Latar Belakang diminati dan secara langsung dapat
membantu siswa menerapkan
Semakin sempitnya peluang kerja saat ketrampilan yang dimilikinya dalam
ini berdampak pada persaingan yang kehidupan sehari-hari, yang dikenal
kian ketat untuk mendapatkan pekerjaan dengan istilah kecakapan hidup
serta semakin meningkatnya angka (lifeskill).
pengangguran. Pengangguran terjadi
salah satunya terjadi karena kurikulum Keberhasilan sebuah kurikulum adalah
pendidikan yang ada dinilai kurang apabila kurikulum tersebut dapat
mampu membekali siswanya untuk mencapai tujuan pendidikan secara
mandiri dan mampu bekerja atau efektif dan efisien. Pada Kurikulum
menciptakan lapangan kerja dan tidak 2004, metode pembelajarannya
tergantung pada pekerjaan yang menggabungkan ketiga ranah (kognitif,
ditawarkan orang lain. Berbagai psikomotor adan afektif) secara
pendapat menyatakan bahwa sumber bersamaan untuk tiap pelatihannya.
permasalahan terletak pada kebijakan Selain itu,kurikulum ini membutuhkan
dan sistem pendidikan nasional yang fasilitas pendukung yang sama atau
kurang efektif. Mulai dari beban mendekati fasilitas di dunia keja. Untuk
kurikulum yang terlalu padat, metode mengatasi masalah kesenjangan
pembelajaran yang tidak efektif dan teknologi, Pihak SMK dapat
efisien, sampai kepada masalah memanfaatkan waktu PSG, dimana
relevansi kurikulum dengan kondisi siswa dapat mengenal industri dan dunia
lapangan kerja yang tidak tepat. kerja lebih dekat, baik dari aspek
peralatan maupun aspek sistem
Salah satu upaya untuk meningkatkan kerjanya.
relevansi dan efektifitas pendidikan
dengan kemampuan lulusan SMK untuk Masih terdapatnya kesenjangan antara
bekerja dan menciptakan lapangan pembelajaran di sekolah dengan
kerja, dalam bentuk kompetensi pembelajaran di dunia industri,
kecakapan hidup (lifeskill). Hal ini disebabkan oleh : (1) kesenjangan
terlihat pada kurikulum 2004. teknologi mesin dan alat sebagai sarana
Kurikulum yang mulai digunakan pada pembelajaran psikomotorik, (2)
tahun ajaran 2004/2005 ini kurangnya pengalaman guru di industri,
mengembangkan kompetensi yang lebih (3) kesenjangan aspek softkill
ditekankan pada kemampuan untuk menyangkut ranah adaptif. Konsep
menerapkan ketrampilan sesuai dengan keterampilan hidup yang merupakan
pengayaan dari KBK memberi

Pemanfaatan Unit Produksi Sebagai Alternatif Tempat Pelatihan Lifeskill dan Enterpreuner Skill 17
(ABD. ROHMAN)
penekanan pada efektifitas penerapan Keterampilan hidup dan
dan efisiensinya. Enterpreuner Skill
Pelatihan ketrampilan yang melihat Keterampilan hidup mengandung dua
ketercapaian kompetensi dari dua aspek unsur yang harus ditumbuhkan dalam
penilaian yaitu unsur pengetahuan dan diri siswa yaitu yang disebut perangkat
kemampuan menghasilkan suatu keras (hardskill), perangkat lunak
produk, ternyata tidak cukup untuk (softskill), dan Kecakapan
membekali siswa terjun ke masyarakat Berwirausaha.
dan bekerja. Masih dibutuhkan satu alat
ukur lagi yaitu bagaimana kompetensi
yang diberikan dapat diaplikasikan 1. Perangkat keras Kecakapan Hidup
dalam kehidupan. Lebih dari sekedar Perangkat keras merupakan kompetensi
pelatihan ketrampilan, kompetensi yang berupa fisik, terlihat dan terpakai
keterampilan hidup ini juga menuntut dan dapat ditingkatkan melalui
kemampuan untuk mengaplikasikan pengalaman yang dilatihkan secara
ketrampilan yang dimiliki dalam berulang-ulang. Komponen ini lebih
kehidupan sehari-hari. Pelatihan dikenal dengan istilah technical know
kompetensi kejuruan secara normatif how, umumnya merupakan ukuran dari
biasanya dilaksanakan di laboratorium, ketrampilan seseorang dalam ranah
dimana laboratorium adalah tempat psikomotor menggunakan tangannya
untuk melaksanakan praktek, yang (manual) dan alat (mechanical). Namun
dilengkapi dengan sarana dan peralatan ketrampilan kalkulasi biaya yang
untuk melatih ketrampilan. menggunakan kecakapan otak (kognitif)
Pendirian UP (Unit Produksi) di juga merupakan salah satu bentuk
sekolah-sekolah saat ini cenderung perangkat keras. Secara menyeluruh,
dimanfaatkan untuk tempat pelatihan perangkat keras meliputi : (a)
ketrampilan psikomotorik dan sumber Kecakapan menggunakan alat, (b)
pendapatan sekolah. Apakah unit ini Kecakapan Melaksanakan kalkulasi
dapat dikembangkan sebagai tempat biaya, (c) Kecakapan Pengendalian
pelatihan industri, kesiapan kerja, Mutu, dan (d) Kecakapan Mengevaluasi
keterampilan hidup atau kecakapan dan Melaporkan Hasil Kerja.
berwirausaha ? Bagaimana bentuk
pengembangan kreatif atau upaya
optimalisasi dalam mempersiapkan UP 2. Perangkat Lunak Kecakapan Hidup
sebagai tempat pelatihan keterampilan Perangkat lunak kecakapan hidup
hidup ? Bagaimana mengukur adalah kompetensi bekerja yang bersifat
keberhasilan program pelatihan non fisik, seperti sikap dan etos kerja
keterampilan hidup di UP? Manfaat apa yang termasuk dalam ranah afektif.
sajakah yang dapat diperoleh dengan Robert D. Brown (1980) memetakannya
menetapkan UP sebagai tempat dalam bentuk penghayatan terhadap
pelatihan keterampilan hidup ? Semua masalah : (a) kesehatan kerja (health);
itu perlu dikaji untuk menemukan solusi (b) lingkungan kerja (worthy home
bagi sekolah untuk meningkatkan mutu, membership); (c) peraturan kerja (civic
efektifitas dan efisiensi pendidikan and law education); (d) pemanfaatan
khususnya pendidikan kejuruan ? waktu luang (leisure); dan (e) etika
kerja (ethics). Secara rinci komponen
perangkat lunak ini meliputi kecakapan
penghayatan terhadap : (a) Kesehatan
dan Keselamatan Kerja (health and

18 Pevote, Vol.1, No. 1, September 2006 : 17-21


safety); (b) Hubungan industri tempat pelatihan, sebelum memasuki
(Industrial Relation), meliputi industri atau duna kerja, agar masa PKL
pemahaman sistem organisasi kerja, di industri dapat dipersingkat dalam
kerjasama dsb; (c) Etika Kerja antara upaya efisiensi. Sebagai pusat pelatihan
lain : kedisiplinan, dan sistem penilaian terdapat perbedaan antara metoda
prestasi; dan (d) Hak dan Kewajiban pelatihan ketrampilan di laboratorum
kerja : Hukum Perburuhan, Peraturan dengan pelatihan ketrampilan di UP.
Kerja. Pelatihan di UP menggunakan metode
yang meng-adopt kegiatan di industri
secara menyeluruh, sedangkan pelatihan
3. Kecakapan Berwirausaha di laboratorium umumnya hanya dalam
Kecakapan berwirausaha adalah bentuk perangkat keras.
kecakapan berwirausaha, yang dalam Robert D. Brown (1980) dalam bukunya
hal ini lebih banyak ditekankan pada Industrial Education Facilities,
soft component kepribadian seperti : (a) menyebutkan bahwa sebuah
kemandirian; (b) kepemimpinan; (c) laboratorium pendidikan industri yang
kejujuran; (d) rasa percaya diri; (e) disebutnya sebagai industrial art at
kemampuan untuk mengatasi masalah school perlu mempersiapkan program
(problem solving); dan (f) tidak mudah pelatihan ketrampilan fisik, pelatihan
putus asa. Hard component dari kedisipilinan dan etos kerja, dan tenaga
kecakapan ini adalah akuntansi dan edukatif terlatih. Berdasarkan
kalkulasi biaya. pandangan tersebut, UP yang akan
dikembangkan secara kreatif sebagai
tempat pelatihan memerlukan hal-hal
Unit Produksi Sebagai Tempat berikut :
Pelatihan
UP merupakan salah satu alternatif
tempat pelatihan bagi siswa, disamping 1. Program Pelatihan Perangkat keras
laboratorium dan industri mitra sekolah, Untuk melatih ketrampilan vokasional
karena dipandang dapat memberikan dibutuhkan fasilitas fisik, antara lain :
kontribusi yag nyata dalam melatih (a) ruang yang didesain dalam suasana
ketrampilan dan kecakapan di samping industri; (b) peralatan berskala industri
fungsi ekonomis yang dapat dengan jumlah sesuai kemampuan; (c)
diberikannya. rancangan program pelatihan
Manfaat pelatihan UP Sekolah antara ketrampilan menggunaan alat; (d)
lain : (1) dapat meminimalkan sumber belajar, seperti modul dan job
kesenjangan teknologi; (2) melatih instruction, dan (e) alat evaluasi.
perangkat keras dan perangkat lunak 2. Program Pelatihan Soft skill
sesuai dengan standart yag berlaku di
Mengacu kepada komponen non fisik
industri; (3) dapat menghemat waktu
yang harus dimiliki karyawan industri,
dan biaya pelatihan ke luar; (4) dapat
dimana seorang karyawan hendaknya
memberikan keuntungan secara
mengenal tentang : (a) disiplin kerja
ekonomis yang dapat digunakan untuk
(pemakaian seragam, peraturan); (b) hak
kesejahteraan siswa, karyawan, dan
dan kewajiban (upah, insentif, jam kerja
guru; (5) melatih kecakapan
dan lembur, prestasi kerja); (c)
berwirausaha; (6) melatih siswa
kesehatan dan keselamatan kerja
mengatasi masalah (problem solving).
(Jaminan kesehatan, keselamatan kerja,
UP sebagai miniatur industri di sekolah asuransi keselamatan); (d) hubungan
yang digunakan sebagai alternatif industri (promosi jabatan, organisasi

Pemanfaatan Unit Produksi Sebagai Alternatif Tempat Pelatihan Lifeskill dan Enterpreuner Skill 19
(ABD. ROHMAN)
kerja, psikologi kerja, kerjasama); (e) meminjam tenaga pelatih atau instruktur
orientasi dan jaminan mutu. Program dari industri.
pelatihan perangkat lunak juga 6. Akreditasi Unit Produksi
membutuhkan : (a) rancangan program
pelatihan dan indikatornya; dan (b) alat Penyelenggaraan pelatihan di UP
evaluasinya. hedaknya memenuhi standart kinerja
yang mutunya dapat dipertanggung-
3. Program Pelatihan Kecakapan jawabkan, selain itu benar-benar harus
berwirausaha efektif mencapai tujuan, dan
Pelatihan diarahkan pada penanaman berlangsung secara efisien, disamping
jiwa wirausaha yang ulet, pantang mendatangkan keuntungan. Untuk itu,
menyerah, jujur, percaya diri, tidak UP perlu dievaluasi kinerjanya sesuai
mudah putus asa, kepemimpinan, dengan standar kinerja di industri
bersama dengan pelatihan perangkat sejenis, dan sesuai dengan standart
lunak komponen keterampilan hidup. kurikulum nasional. Perlu ditetapkan
Indikator yang ada digunakan untuk suatu sistem akreditasi bagi UP yang
menentukan sistem evaluasi. Siswa mengembangkan pelatihan keterampilan
diberi modal kerja dan dilatih hidup, dimana penilaian akreditasi
melaksanakan usaha agar mendatangkan diberikan oleh industri sejenis bersama
keuntungan. Kompetensi kalkulasi dengan depdiknas atau direktorat
harga dan biaya juga menjadi bagian pembinaan SMK pada tingkat daerah,
pelatihan. atau bila memungkinkan pada tingkat
nasional.
4. Pelatihan Problem Solving
Dalam kegiatan UP tentu akan terjadi
berbagai masalah yang harus diatasi Mutu, Efektifitas, dan Efisiensi
secara cepat. Disini siswa dikonfrontasi Pelatihan
secara langsung dengan masalah yang Pelatihan keterampilan hidup di UP
ada dan dilibatkan dalam upaya-upaya dipandang cukup efektif manakala unit
mengatasinya. tersebut dapat mencapai tujuan yang
5. Instruktur Bersertifikasi Kompetensi ditetapkan. Efektifitas dapat dicapai
Industri bila UP siap dengan ketiga fasilitas
pendidikan industri seperti yang
Keberhasilan suatu pelatihan di industri
digambarkan Brown (1980), dan
sangat tergantung pada kemampuan
memanfaatkannya melalui
tenaga edukatif yang sesuai dan
penyelenggaraan yang terkendali,
berskala industri. Guru atau instruktur
dengan sistem manajemen yang andal
yang melaksanakan pelatihan
dan berorientasi mutu serta sesuai
kompetensi di UP harus memiliki
dengan standar yang berlaku di indsutri
kompetensi sebagai supervisor di
sejenis. Mutu kinerja manajemen UP
industri, agar dapat melatih ketrampilan
tersebut hendaknya memenuhi standar
simulatif yang sama dengan industri.
yang diakui oleh industri sejenis
Kompetensi guru dan instruktur tersebut
bersama depdiknas melalui direktorat
dapat diperoleh melalui magang di
pembinaan SMK, dengan sistem
industri untuk beberapa waktu, sehingga
penilaian akreditasi berskala regional
benar-benar memahami prinsip kerja di
ataupun nasional.
industri. Selain itu, kompetensi guru
tersebut hendaknya diujikan di industri Pelatihan dapat berlangsung efisien
dan di-legal-kan dengan Sertifikat apabila tujuan pelatihan dapat
Kompetensi dari industri. Alternatif dilaksanakan dengan memanfaatkan
lainnya adalah mengunakan atau sumberdaya seoptimal dan sehemat

20 Pevote, Vol.1, No. 1, September 2006 : 17-21


mungkin. Pemanfatan UP untuk dievaluasi melalui sistem akreditasi
pelatihan keterampilan hidup dapat yang dilaksanakan oleh industri sejenis
dikatakan sebagai langkah efisien, dan Depdiknas melalui Direktorat
mengingat bahwa unit tersebut dapat Pembinaan SMK baik dalam skala
memanfaatkan sumber daya sekolah, regional maupun nasional.
seperti mesin dan alat, guru, dengan
mengadop sistem yang berlaku di
industri. Efisiensi dalam segi waktu Daftar Pustaka
dapat dicapai mengingat pelatihan dapat
dilakukan seusai sekolah, sedangkan
dari segi biaya akan dapat mengurangi Rosida Syamwil, (2004). Optimalisasi
biaya transprotasi ke industri. Namun Unit Produksi dan Unit Usaha
perlu diingat bahwa sertifikasi sebagai Alternatif tempat
kompetensi di industri juga diperlukan Palatihan Keterampilan hidup dan
sebagai alat evaluasi apakah Enterpreunerial Skill, Proceedings
penyelenggaraan pelatihan keterampilan Konvensi Nasional Aptekinda II
hidup di UP tersebut sudah efektif dan Temu Larya XIII
dalam perspektif dunia kerja. FT/FPTK/JPTJK Universitas/IKIP
se-Indonesia Jakarta, 12-14
Februari 2004.
Kesimpulan Direktorat pembinaan SMK. (2003).
Pokok-pokok pemikiran di atas Draft Landasan, Program, dan
menunjukkan bahwa UP dapat Pengembangan Kurikulum 2004
digunakan sebagai alternatif pelatihan Craigh, R.L. (1987). Training and
kecakapan hidup (lifeskill), yang Development Handbook, New
mewakili pelatihan di industri secara York: Mc Graw Hill Book Co.
simulatif. Kegiatan pelatihan di unit
tersebut dapat pula disajikan sebagai Samuel, J.C. (1986). Curriculum
langkah persiapan awal sebelum siswa Planning and Development,
memasuki pelatihan yang sesungguhnya Boston: Allyn and Bacon, Inc
di industri atau dunia kerja. Berbeda DeVore P.W. (1980). Technology an
dengan bengkel biasa yang hanya Introduction, Worcester: Davis
melatih ketrampilan dalam bentuk Publication, Inc.
perangkat keras, UP merupakan bengkel
yang dapat melatihkan komponen hard Bower, G.H. and Hilgard, E.R. (1980).
dan perangkat lunak secara simultan. Theory of Learning. Englewood
Cliff: Prentice Hall, Inc
Kesiapan sekolah dalam mengem
bangkan UP sebagai laboratorium Brown, R.D. (1964). Industrial
Pendidikan Industri dan Keterampilan Eduacationnal Facilities. Boston:
hidup diukur dari kesiapan dalam : (1) Allyn and Bacon, Inc.
perangkat program pelatihan perangkat
keras; (2) perangkat program pelatihan
perangkat lunak; (3) fasilitas industri
dalam skala kecil; dan (4) guru
bersertifikasi kompetensi industri atau
instruktur langsung dari industri.
Selain itu UP hendaknya dapat
menjalankan fungsi manajemen yang
berorientasi mutu, yang kinerjanya

Pemanfaatan Unit Produksi Sebagai Alternatif Tempat Pelatihan Lifeskill dan Enterpreuner Skill 21
(ABD. ROHMAN)