Anda di halaman 1dari 4

Nama : Monika Anjeliani Deleris Banurea

NIM : 41633410

Tugas Rutin

1. Tuliskan sejarah lahirnya PGRI dan Kode Etik guru ?


2. Berikan contoh penerapan kode etik guru ?

JAWABAN:

1. Beriukut adalah sejarah lahirnya PGRI dan awalnya kode etik guru ada :
 PGRI lahir pada 25 November 1945, setelah 100 hari proklamasi kemerdekaan
Indonesia. Cikal bakal organisasi PGRI adalah diawali dengan nama Persatuan Guru
Hindia Belanda (PGHB) tahun 1912, kemudian berubah nama menjadi Persatuan
Guru Indonesia (PGI) tahun 1932.
 Organisasi perjuangan guru-guru pribumi pada zaman Belanda berdiri tahun 1912
dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB). Organisasi ini bersifat
unitaristik yang anggotanya terdiri dari para Guru Bantu, Guru Desa, Kepala Sekolah,
dan Penilik Sekolah. Dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda mereka
umumnya bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua.
 Sejalan dengan keadaan itu maka disamping PGHB berkembang pula organisasi guru
bercorak keagamaan, kebangsaan, dan yang lainnya. Kesadaran kebangsaan dan
semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh mendorong para guru pribumi
memperjuangkan persamaan hak dan posisi dengan pihak Belanda. Hasilnya antara
lain adalah Kepala HIS yang dulu selalu dijabat orang Belanda, satu per satu pindah
ke tangan orang Indonesia. Semangat perjuangan ini makin berkobar dan memuncak
pada kesadaran dan cita-cita kesadaran. Perjuangan guru tidak lagi perjuangan
perbaikan nasib, tidak lagi perjuangan kesamaan hak dan posisi dengan Belanda,
tetapi telah memuncak menjadi perjuangan nasional dengan teriak “merdeka.”
 Pada tahun 1932 nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) diubah menjadi
Persatuan Guru Indonesia (PGI). Perubahan ini mengejutkan pemerintah Belanda,
karena kata “Indonesia” yang mencerminkan semangat kebangsaan sangat tidak
disenangi oleh Belanda. Sebaliknya, kata “Indonesia” ini sangat didambakan oleh
guru dan bangsa Indonesia.
 Pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, Persatuan
Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas. Semangat proklamasi 17
Agustus 1945 menjiwai penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24 –
25 November 1945 di Surakarta. Melalaui kongres ini, segala organisasi dan
kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan,
lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat dihapuskan.  Mereka adalah –
guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan yang aktif berjuang, dan pegawai
pendidikan  Republik Indonesia yang baru dibentuk. Mereka bersatu untuk Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Di dalam kongres inilah, pada tanggal 25 November
1945 – seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia – Persatuan
Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan.
 Dengan semangat pekik “merdeka” yang bertalu-talu, di tangan bau mesiu pemboman
oleh tentara Inggris atas studio RRI Surakarta, mereka serentak bersatu untuk mengisi
kemerdekaan dengan tiga tujuan :
o Memepertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia.
o Mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar-dasar
kerakyatan.
o Membela hak dan nasib buruh umumnya, guru pada khususnya.
 Sejak Kongres Guru Indonesia itulah, semua guru Indonesia menyatakan dirinya
bersatu di dalam wadah  Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Jiwa
pengabdian, tekad perjuangan dan semangat persatuan dan kesatuan PGRI yang
dimiliki secara historis terus dipupuk dalam mempertahankan dan mengisi
kemerdekaan negara kesatuan republik Indonesia. Dalam rona dan dinamika politik
yang sangat dinamis, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tetap setia dalam
pengabdiannya sebagai organisasi perjuangan, organisasi profesi, dan organisasi
ketenagakerjaan, yang bersifat unitaristik, independen, dan tidak berpolitik praktis.

Untuk itulah, sebagai penghormatan kepada guru, pemerintah Republik Indonesia


dengan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, menetapkan hari lahir PGRI tanggal
25 November sebagai Hari Guru Nasional, dan diperingati setiap tahun.

Adapun rumusan kode etik guru yang merupakan kerangka pedoman guru dalam
melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya itu sesuai dengan hasil kongres PGRI XIII
pada 21-25 Nopember 1973 di jakarta, yang terdiri dari Sembilan item berikut:
 Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia
pembangunan yang ber-Pancasila.
 Guru memiliki kejujuran professional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan
kebutuhan anak didik masing-masing
 Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang anak
didik, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan.
 Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan
orang tua murid sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik.
 Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat di sekitar sekolahnya maupun
masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan.
 Guru secara sendiri dan/atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan
meningkatkan mutu profesinya.
 Guru menciptakan dan memelihara hubungan antarsesama guru baik berdasarkan
lingkungan kerja maupun di dalam hubungan keseluruhan.
 Guru secara bersama-sama memelihara, membina dan meningkatkan mutu organisasi
guru professional sebagai sarana pengabdiannya.
 Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah
dalam bidang pendidikan.

2. Berikut ini adalah uraian penerapan kode etik di indonesia di dalam pelaksanaan
tugasnya sesuai dengan AD/ART PGRI 1994.
a. Guru berbakti membimbimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia
yang berjiwa pancasila. Dalam memainkan perannya ketika mengadakan proses
pembelajaran, guru senantiasa membimbing peserta didik menjadi manusia
seutuhnnya yang berjiwa pancasila. Profil manusia itu dilandasi oleh nilai-nilai luhur
falsafah pancasila. Artinya, seorang guru harus mengembangkan potensi peserta
didiknya secara utuh dengan berlandaskan pada nilai-nilai luhur pancasila.
b. Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional. Pada saat guru membimbing
peserta didiknya dalam pembelajaran ia harus berpegang teguh pada kejujuran
profesional, yaitu suatu pengakuan atas batas-batas kemampuan profesionalannya.
Guru harus mempunyai pribadi yang jujur, tidak melakukan hal-hal yang berada
diluar batas kemampuannya, dan tidak pula melakukan pekerjaan yang ada didalam
koridor kewenangan profesi lain, serta terbuka untuk menerima masukan yang lebih
baik dari pendidikan dan pihak lainnya.
c. Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik. Proses pembelajaran
amat memerlukan informasi tentang peserta didik yang berkaitan dengan minat, bakat,
kemampuan, hobi, kebiasaan, kelompok sejawatnya dalam belajar dan sebagainya.
d. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya untuk menunjang berhasilnya
proses pembelajaran. Dalam melaksanakan tugasnya guru berupaya menciptakan
suasana sekolah dengan sebaik-baiknya untuk menunjang berhasilnya proses belajar
mengajar.
e. Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat
Pendidikan bukan merupakan semata-mata tugas dan tanggung jawab pihak sekoalah
karena pada hakikatnya pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara
sekolah, masyarakat dan keluarga.
f. Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu
serta martabat profesinya. Dalam menjalankan tugasnya, guru diharapkan senantiasa
mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya, baik secara
pribadi maupun bersama-sama. Pengembangan dan peningkatan mutu ini mengacu
pada kualitas profesional berupa peningkatan dan pengembangan keterampilan khusus
dalam bidang pendidikan.
g. Guru memelihara hubungan sejawat keprofesian, semangat kekeluargaan dan
kesetiakawanan sosial. Dalam mengerjakan tugasnya, guru senantiasa memelihara
hubungna sejawat keprofesian, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial.
Artinya, ia mengadakan dan memelihara hubungan dengan guru lainnya, baik dengan
guru yang berlatar keahlian sama maupun berbeda. Dengan hubungan tersebut
diharapkan terjadi semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial dengan
demikian guru saling membantu menghadapi kesulitan