Anda di halaman 1dari 21

Nama : Nadhira Larasati

NPM : C10190116
Program Studi : S1 Akuntansi D
Mata Kuliah : Pengantar Ilmu Ekonomi Makro
Nama Dosen : Hj. Ening Wariningsih., Dra., M.Si.

Tugas Essei hal 199-200


1. Terangkan sirkulasi aliran pendapatan dalam perekonomian tiga sektor. Nyatakan
jenis-jenis suntikan dan bocoran dalam ekonomi tersebut. Apakah syarat yang harus
dipenuhi agar perekonomian tiga sektor mencapai keseimbangan?
Jawab :

GambarJ 5.1
Sirkulasi Aliran Pendapatan Perekonomian Tiga Sektor

Gaji dan upah, sewa, bunga, dan untung

Pajak Perusahaan Pajak Individu


PEMERINTAH

PERUSAHAAN RUMAH
Investasi TANGGA
Pengeluaran
Pemerintah

Tabungan
Konsumsi Rumah Tangga

PENANAM Pinjaman
LEMBAGA
MODAL KEUANGAN

Perekonomian tiga sektor adalah perekonomian yang terdiri dari sektor-sektor rumah tangga,
perusahaan, dan pemerintah.

 Aliran 1 : Perusahaan ingin memproduksi barang ABC. Untuk menghasilkan barang dan
jasa sektor perusahaan harus menggunakan faktor-faktor produksi. Seluruh faktor
produksi itu berasal dari sektor rumah tangga. Maka dari itu rumah tangga menawarkan
kepada perusahaan berupa label, land, capital dan skill untuk memenuhi faktor-faktor
produksi yang dibutuhkan. Setelah menerima tawaran rumah tangga maka perusahaan
mulai memproduksi barang ABC yang dibutuhkan. Setelah mendapatkan hasil produksi
barang ABC perusahaan pun memberikan balas jasa berupa gaji dan upah atas label, sewa
atas land, bunga atas capital dan laba atas skill. Nilai seluruh produksi sektor perusahaan
adalah sama dengan jumlah seluruh pendapatan yang diterima oleh faktor-faktor
produksi.
 Aliran 2 : Di samping sebagai penyedia faktor-faktor produksi, sektor rumah tangga
merupakan konsumen dari barang dan jasa yang di produksi oleh perusahaan. Setelah
mendapatkan pendapatan, rumah tangga menggunakan sebagai pengeluaran rumah
tangga ( konsumsi ). Rumah tangga akan melakukan pembelian atau perbelanjaan atas
barang dan jasa yang di produksi perusahaan. Maka nilai produksi perusahaan adalah
sama jumlah seluruh pendapatan yang diterima faktor-faktor produksi.
 Aliran 3 : Sebagian pendapatan sektor rumah tangga ditabung di Lembaga keuangan.
 Aliran 4 : Oleh Lembaga Keuangan tabungan dipinjamkan kepada para Penanam Modal
 Aliran 5 : Para Penanam modal ( Investor ) akan meminjam dan menggunakan tabungan
tersebut untuk membeli barang-barang modal dari sektor perusahaan.
 Aliran 6 : Pembayaran oleh sektor perusahaan sekarang tidak hanya pembayaran kepada
sektor rumah tangga sebagai pendapatan kepada faktor-faktor produksi . sektor
perusahaan juga membayar pembayaran pajak pendapatan perusahaan kepada
pemerintah.
 Aliran 7 : Pendapatan yang diterima rumah tangga sekarang berasal dari dua sumber :
dari pembayaran gaji dan upah,sewa,bunga dan untung dari sektor perusahaan dan dari
pembayaran gaji dan upah oleh pemerintah.
 Aliran 8 : Pendapatan yang diterima rumah tangga ( Y ) akan digunakan untuk memenuhi
tiga kebutuhan : membayar dan membiayai pengeluran konsumsi ( C ), disimpan sebagai
tabungan ( S ), dan membayar pajak pendapatan rumah tangga ( T ). Dalam persamaan :
Y = C+S+T.
 Aliran 9 : Pemerintah menerima pendapatan berupa pajak dari sektor perusahaan dan
rumah tangga. Pendapatan tersebut digunakan untuk membayar gaji dan upah para
pegawai dan membeli barang dan jasa.
 Aliran 10 : Pengeluaran Agrerat ( AE ) telah menjadi bertambah banyak jenisnya yaitu
disamping pengeluaran konsumsi ( C ) dan Investasi ( I ) sekarang termasuk pula
pengeluaran pemerintah ( G ), dalam persamaan AE = C+I+G.

Syarat Keseimbangan

 Suatu perekonomian dalam keseimbangan pendapatan nasional akan dicapai apabila:


penawaran agregat adalah sama dengan pengeluaran agregat. Dengan demikian
keadaan yang menciptakan keseimbangan dalam perekonomian tiga sektor adalah:
Penawaran Agregat = Pengeluaran Agregat (Y = AE), atau:
Y=C+I=G
Gambar 5.1 menunjukan bahwa pendapatan rumah tangga tersebut akan digunakan unruk tiga
tujuan: membiayai konsumsi (C), ditabung (S) dan membayar pajak (T). Dengan demikian,
berdasarkan aliran pendapatan yang wujud dalam perekonomian tiga sektor, berlaku persamaan
berikut:
Y=C+S+T

Uraian yang terdahulu telah menunjukan bahwa dalam keseimbangan berlaku persamaan berikut:
Y = C + I + G. Sedangkan pada setiap tingkat pendapatan nasional berlaku persamaan: Y = C +
S + T. Dengan demikian pada keseimbangan pendapatan nasional berlaku persamaan berikut:
C+I+G=C+S+T
Apabila dikurangi C dari setiap ruas maka:
I+G=S+T
Dalam perekonomian tiga sektor I dan G adalah suntikan ke dalam sirkulasi aliran pendapatan,
sedangkan S dan T adalah kebocoran. Dengan demikian, dalam keseimbangan ekonomi tiga
sektor juga berlaku keadaan: suntikan = bocoran. Kesimpulannya dirumuskan bahwa dalam
perekonomian tiga sektor yang mencapai keseimbangan akan berlaku keadaan yang berikut:

i. Y = C + I + G, dan
ii. I+G=S+T

2. A. Apakah pajak langsung ? Pajak tidak langsung ? Berdasarkan kepada proporsi


pajak ke atas pendapatan rumah tangga terangkan tiga jenis pajak yang anda ketahui

o Pajak langsung berarti jenis pungutan pemerintah yang secara langsung


dikumpulkan dari pihak yang wajib membayar pajak. Pajak yang dipungut dan
dikenakan ke atas pendapatan mereka dinamakan pajak langsung, yaitu pajak
yang secara langsung dipungut dari orang yang berkewajiban untuk membayar
pajak.

o Pajak tidak langsung adalah Pajak yang dipungut dari seseorang atau sesuatu
perusahaan tetapi bebannya boleh dipindahkan kepada pihak lain contoh pajak
penjualan.

3 Jenis Pajak berdasarkan proporsi pajak ke atas pendapatan rumah tangga


 Pajak Penghasilan (PPh)
PPh adalah pajak yang dikenakan kepada orang pribadi atau badan atas penghasilan yang
diterima atau diperoleh dalam suatu Tahun Pajak.
 Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
PPN adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi Barang Kena Pajak atau Jasa Kena
Pajak di dalam Daerah Pabean (dalam wilayah Indonesia).
 Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) tertentu
PBB adalah pajak yang dikenakan atas kepemilikan atau pemanfaatan tanah dan atau
bangunan. PBB merupakan Pajak Pusat namun demikian hampir seluruh realisasi
penerimaan PBB diserahkan kepada Pemerintah Daerah baik Propinsi maupun
Kabupaten/Kota.

B. Terangkan perbedaan diantara kecondongan mengkonsumsi marjinal disposebel


dan kecondongan mengkonsumsi marjinal pendapatan nasional.

Kecondongan mengkonsumsi marjinal pendapatan disposebel (MPC) adalah rasio di


antara pertambahan konsumsi dengan pertambahan pendapatan disposebel. Dalam
∆C
persamaan : MPC=
∆Yd

Kecondongan mengkonsumsi marjinal pendapatan nasional ( MPC y) adalah rasio di


antara pertambahan konsumsi dengan pertambahan pendapatan disposebel. Dalam
∆C
persamaan : MPC y =
∆Y

Pajak tetap
Perekonomian dua sektor dan tiga sektor ∆Y = ∆Yd, maka MPC = MPCy
Pajak proposional
Perekonomian tiga sektor di mana ∆Y > ∆Yd, maka MPC > MPCy
Apabila persentasi pajak diketahui dan nilai MPC juga diketahui, maka MPCy dapat dengan
mudah dihitung.misal : MPC = b
T = t.Y
∆C
MPC=
∆Yd

Karena pajak adalah t.∆Y, maka ∆Yd = ∆Y - t.∆Y = (1-t) ∆Y


∆C
MPC=
∆Yd

∆C
MPC=
(1−t) ∆ Y
∆C = (1 – t ) MPC . ∆Y
Karena MPC = b, maka: ∆C = MPCy = (1 – t ) b∆Y

3. A. Terangkan akibat pajak tetap ke atas fungsi konsumsi dan fungsi tabungan.
 Akibat pajak tetap terhadap konsumsi
C = a + b(Y - t)
C = a + By - tY
S = -a + (1 – b)Y
 Akibat pajak tetap terhadap tabungan
S = -a + (1 – b) (Y – t)
S = -a + (1 – b)Y – (1 – b)t
B. Terangkan akibat pajak proporsonal ke atas fungsi konsumsi dan fungsi
tabungan.

Bagaimanapun bentuk sistem pajak yaitu pajak tetap atau pajak proporsional,
pemungutan pajak akan mengakibatkan konsumsi dan tabungan rumah tangga berkurang
sebanyak yang ditentukan oleh persamaan berikut:
i. ∆ C = MPC x T
ii. ∆ S = MPS x T

Pajak proporsonal = Ty
Akibat pajak proporsonal terhadap konsumsi
C = a + b(Y – Ty)
C = a + (1 – t)By
Akibat pajak proporsonal terhadap tabungan
S = -a + (1 – b) (Y – tY)
S = -a + (1 – t) (1 – b)Y
C. Terangkan factor – factor yang menentukan pengeluaran pemerintah.
 Proyeksi jumlah pajak yang diterima. Dalam menyusun anggaran belanjanya
pemerintah harus terlebih dahulu membuat proyeksi mengenai jumlah pajak yang
akan diterimanya. Makin banyak jumlah pajak yang dikumpulkan, makin banyak
pula perbelanjaan pemerintah yang akan dilakukan.
 Tujuan – tujuan ekonomi yang ingin dicapai. Beberapa tujuan penting dari
kegiatan pemerintah adalah mengatasi pengangguran, menghindari inflasi dan
mempercepat pembangunan ekonomi dalam jangka panjang. Untuk memenuhi
tujuan-tujuan tersebut sering sekali pemerintah membelanjakan uang yang jauh
lebih besar dari pendapatan yang diperoleh dari pajak.
 Pertimbangan politik dan keamanan. Kekacauan politik, perselisihan diantara
berbagai golongan masyarakat dan daerah menyebabkan kenaikan perbelanjaan
pemerintah yang sangat besar, terutama apabila operasi militer perlu dilakukan.
Ancaman kestabilan dari Negara luar juga dapat menimbulkan kenaikan yang
besar dalam pengeluaran ketentaraan dan akan memaksa pemerintah
membelanjakan uang yang jauh lebih besar dari pendapatan pajak.

4. Dengan menggunakan pendekatan angka, grafik dan aljabar terangkan keseimbangan


pendapatan nasional dalam perekonomian tiga sector yang (i) menggunakan system
pajak tetap dan (ii) system pajak proporsonal

i. System pajak tetap


Keseimbangan secara angka

Dalam table diatas menunjukkan bahwa apabila pendapatan nasional adalah lebih kecil
dari Rp960 triliun, berlaku keadaan dimana: AE ¿ Y yaitu pengeluaran agregat lebih besar dari
pendapatan nasional. Kelebihan perbelanjaan agregat berlaku dan ini akan mendorong
dilakukannya ekspansi dalam kegiatan ekonomi. Sebaliknya, apabila pendapatan nasional lebih
besar dan Rp960 triliun, AE ¿Y . Berarti lebih banyak produksi nasional kalau dibandingkan
dengan perbelanjaan dalam perekonomian. Kenaikan stok barang berlaku dan akan mendorong
kepada kontraksi (penrunan) dalam kegiatan ekonomi. Ini berarti, keadaan dimana pendapatan
nasional adalah sama dengan pengeluaran agregat yaitu sebanyak Rp960 triliun.
Dalam keseimbangan ini keinginan perusahaan – perusahaan untuk memproduksi barang
dan jasa (ditunjukkan oleh nilai Y) adalah sama dengan perbelanjaan yang akan dilakukan dalam
ekonomi yaitu oleh rumah tangga, para penanam modal dan pemerintah (ditunjukkan oleh AE).
Keseimbangan secara grafik
Gambaran secara grafik dapat dibedakan menjadi 2 pendekatan, yaitu :
i. pendekatan penawaran agregat-pengeluaran agregat ( Y = AE )
ii. pendekatan suntikan-bocoran ( J = W )
Dengan menggunakan pendekatan penawaran agregat-pengeluaran agregat, keseimbangan
pendapatan nasional dicapai apabila fungsi pengeluaran agregat C + I + G memotong garis 45-
derajat (garis Y=AE), keseimbangan tercapai pada perpotongan fungsi suntikan (I+G) dan fungsi
bocoran (S+T)

Grafik (a) dalam Gambar 5.5


menunjukkan keseimbangan
pendapatan nasional menurut
pendekatan penawaran
agregat-pengeluaran agregat.
Fungsi konsumsi memotong
garis 45-derajat (yaitu dimana
Y = C) pada Y = 240 dan
fungsi perbelanjaan agregat
AE memotong garis 45-
derajat apabila pendapatan
nasional mencapai
keseimbangan pada E dan
pendapatan Negara adalah: Y
= 960.

Grafik (b) dalam Gambar 5.5


menunjukkan keseimbangan mengikut pendekatan suntikan-bocoran . Fungsi
suntikan adalah I + G = 120 + 60 = 180, dan fungsi bocoran adalah S + T = (-100
+ 0,25Y) + 40 = -60 + 0,25Y. Fungsi bocoran memotong sumbu datar pada Y =
240. Pada pendapatan nasional ini, Y = C + S + T akan dipotong oleh fungsi
bocoran W = S + T pada ketika pendapatan nasional mencapai keseimbangan,
yaitu pada pendapatan nasional = 960

Keseimbangan secara aljabar


Dalam pendekatan penawaran agregat-permintaan agregat, keseimbangan pendapatan nasional
dicapai apabila Y = C + I + G . Dalam contoh angka telah dimisalkan dan diterangkan bahwa

i. C = 60 + 0,75Y dan S = -100 + 0,25Y


ii. I = 120
iii. G = 60

Dengan demikian pendapatan nasional pada keseimbangan adalah (dalam triliun rupiah)
Y=C+I+G
Y = 60 + 0,75Y + 120 + 60
0,25Y = 240
Y = 960

Pendapatan nasional pada keseimbangan dapat juga dihitung dengan


menggunakan pendekatan suntikan-bocoran , yaitu :

I+G =S+T
120 + 60 = -100 + 0,25Y + 40
0,25Y = 240
Y = 960

ii. System pajak proposonal


Keseimbangan secara angka

Keseimbangan pendapatan nasional dicapai apabila Y = 1200 karena pada tingkat ini
pengeluaran agrerat sama dengan pendapatan nasional.
Keseimbangan secara Grafik
Grafik (a) dalam Gambar 5.6
Menunjukkan keseimbangan mengikut
pendekatan penawaran agregat-pengeluaran
agregat. Fungsi konsumsi adalah C = 90 +
0,60Y dan fungsi perbelanjaan agregat adalah
AE = 480 + 0,60Y. Fungsi konsumsi
memotong garis 45-derajat pada Y = 225
( yaitu pada ketika Y = C) dan fungsi
perbelanjaan agregat AE memotong garis 45-
derajat apabila pendapatan nasional mencapai
keseimbangan (Y=1200).
Grafik (b) dalam Gambar 5.6
Menunjukkan keseimbangan mengikut pendekatan suntikan dan bocoran. Fungsi
suntikan adalah I + G = 150 + 240 = 390 dan fungsi bocoran S + T = -90 + 0,20Y
= -90 + 0,40Y. Fungsi bocoran memotong sumbu datar pada Y = 255 (yaitu pada
pendapatan nasional dimana C = Y) dan memotong fungsi suntikan pada Y =
1200, yaitu pendekatan nasional yang dicapai pada tingkat keseimbangan.

Keseimbangan secara aljabar


Persamaan konsumsi dan tabungan adalah :

i. C = 90 + 0,60Y
ii. S = -90 + 0,20Y

sedangkan I = 150 sedangkan G = 240. Menurut pendekatan penawaran agregat-pengeluaran


agregat keseimbangan dicapai pada Y = C + I + g . Dengan demikian pendapatan nasional adalah
(dalam triliun rupiah) :

Y = 90 + 0,60Y + 150 + 240


0,40Y = 480
Y = 1200

Keseimbangan menurut pendekatan suntikan-bocoran dicapai apabila I + G = S + T


Dengan demikian pendapatan nasioanal adalah ( dalam triliun rupiah ):

I+G =S+T
150 + 240 = -90 + 0,20Y + 0,20Y
0,40Y = 480
Y = 1200

5. A. Terangkan perbedaan multiplier dalam perekonomian dua sektor dengan dalam


pereekonomian tiga sektor yang menggunkan sistem pajak proporsional. Gunakan
contoh angka untuk menerangkan jawaban anda.
Dengan contoh angka
Dalam contoh angka ini digambarkan dua keadaan, yaitu dalam perekonomian yang sistem
pajaknya adalah pajak tetap dan dalam perekonomian di mana sistem pajaknya adalah pajak
proporsional.

Di bagian 1 digambarkan proses multiplier dalam perekonomian dengan sistem pajak tetap,
dan di bagian 2 digambarkan proses multiplier yang akan berlaku dalam perekonomian
dengan sistem pajak proporsional.
Contoh angka pada bagian 1 menunjukan tambahan investasi sebanyak ∆ I = 20 pada
mulanya (pada tahap pertama proses multiplier) akan menambah pendapatan nasional
sebanyak ∆ Y 1 = 20. Pada akhir proses multiplier tersebut pendapatan nasional bertambah
sebanyak Rp 80 triliun,konsumsi sebanyak Rp 60 triliun dan tabungan sebanyak Rp 20
triliun. Contoh ini menunjukan pendapatan nasional bertambah 4 kali lipat dari pendapatan
investasi.

Contoh angka pada bagian 2 menggambarkan bagaimana pajak proporsional akan


mempengaruhi proses multiplier. Apabila proses multiplier ini terus berjalan, pada akhirnya
pendapatan nasional bertambah sebanyak Rp 50 triliun, sedangkan pajak, konsumsi dan
tabungan berturut-turut bertambah sebanyak Rp 10 triliun, Rp 30 triliun dan Rp 10 triliun.
Contoh ini menunjukan dalam perekonomian sistem pajak proporsional pendapatan nasional
bertambah hanya 2 ½ kali lipat dari pertambahan investasi yang mula-mula dilakukan.

Dapat disimpulkan bahwa, multiplier adalah lebih besar dalam sistem pajak tetap kalau
dibandingkan dengan sistem pajak proporsional.

B. Dalam perekonomian tiga sektor yang menggunakan sistem pajak tetap, apakah
yang akan berlaku ke atas keseimbangan pendapatan nasional apabila pemerintah
menaikkan pajak sebanyak Rp 10 Milyar dan seterusnya membelanjakan semua pajak
yang diterimanya tersebut?
Jika komponen investasi merupakan autonomos, maka pendapatan nasional akan berubah
sebesar perubahan pajak atau perubahan government spending karena balance budget
multiplier sama dengan 1. Jadi pendapatan nasional akan bertambah sebanyak 10 milyar.

6. A. Apakah penstabil otomatik? Terangkan jenis-jenis penstabil otomatik


Penstabil Automatik adalah ciri sistem perpajakan atau peraturan pemerintah lain yang
sedang berlaku dalam perekonomian yang ciri-cirinya cenderung mengurangi gerak
konjungtur kegiatan ekonomi ( mengurangi siklikal kegiatan ekonomi). Jenis – jenis
penstabil automatic yang utama adalah :
 Pajak proporsional dan pajak progresif
 Asuransi pengangguran
 Kebijakan harga minimum
B. “Dalam menghadapi masalah pengangguran yang serius kita tidak dapat
menggunakan penstabil otomatik. Kebijakan yang harus dijalankan adalah kebijakan
fiscal diskresioner”.
Terangkan maksud pernyataan ini. Dengan cara bagaimana kebijakan fiscal
diskresioner itu dijalan kan?
Kebijakan fiskal diskresioner dilakukan dengan menambah pengeluaran agrerat pada waktu
pengangguran, atau menguranginya pada waktu inflasi.

7. Secara grafik terangkan efek yang berikut :


i. Kebijakan Fiskal untuk menghadapi pengangguran

Grafik ( a ) menunjukkan efek kebiiakan fiskal apabila pengangguran berlaku dalam


perekonomian dan pertambahan pengeluaran pemerintah sebesar ΔG dilakukan untuk
mengatasi masalah tersebut. Sedangkan gambar ( b ) menunjukkan efek kebijakan fiskal
apabila perubahan itu dilakukan melalui penurunan pajak di mana ΔT = ΔG.
- Pemerintah menaikan pajak yang dipungutnya.
- Kekayaan masyarakat mendadak bertambah.

ii. Pemerintah menaikan pajak yang di pungutnya


Kebijakan Fiskal kontraktif adalah kebijakan pemerintah dengan cara menurunkan anggaran
belanja Negara dan menaikan tingkat pajak. Kebijakan ini bertujuan untuk menurunkan
daya beli masyarakat dan mengatasi inflasi, kebijakan pemerintah untuk membuat
pemasukannya lebih besar daripada pengeluarannya. Baik politik anggaran surplus
dilaksanakan ketika perekoomian pada kondisi ekspansi yang mulai memanas (overheating)
untuk menurunkan tekanan permintaan, pada saat munculnya ezpansionary gap.
Expansionary gap adalah suatu kondisi dimana output potensial (Yf) lebih kecil
dibandingkan dengan output actual (Y1). Adapun mekanismen peurunan pengeluaran
pemerintahan (G) ataupun kenaikan pajak (T) terhadap output (Y) adalah sebagai berikut,
secara grafik kebijakan fiscal kontraktif diagram sebagai berikut.

Pada gambar 2.2 dapat dijelaskan bahwa disaat pengeluaran pemerintah (∆G) turun atau selisih
pajak (∆T) naik maka akan menggeser kurva pengeluaran agregat kebawah sehingga Pendapatan
akan turun dari (Y1) menjadi (Yf).
Instrumen kebijakan fiskal adalah penerimaan dan pengeluaran pemerintah yang berhubungan
erat dengan pajak. Dari sisi pajak jelas jika mengubah tarif pajak yang berlaku akan berpengaruh
pada ekonomi. Jika pajak diturunkan maka kemampuan daya beli masyarakat akan meningkat
dan industri akan dapat meningkatkan jumlah output. Dan sebaliknya kenaikan pajak akan
menurunkan daya beli masyarakat serta menurunkan output industri secara umum.

iii. Kekayaan masyarakat mendadak bertambah


Grafik diatas menunjukan tingkat kegiatan ekonomi yang melebihi tingkat konsumsi tenaga kerja
penuh dan berlaku inflasi. Pengeluaran agregat yang wujud adalah melebihi kemampuan dari
perekonomian itu untuk memproduksikan barang barang dan jasa jasa. Kelebihan permintaan
tersebut akan menimbulkan kenaikan harga harga yang dicerminkan oleh nilai Y yang lebih
besar daripada Y. dalam keadaan yang sebenarnyapendapatan nasional rill yang wujud tidak
dapat melebihi Yf. Maka keadaan dimana Y > Yf hanya mungkin terjadi apabila harga harga
telah mengalami kenaikan, yang menyebabkan sejumah barang tertentu sekarang mempunyai
nilai nilai yang lebih tinggi darpada sewaktu kenaikan harga harga yang berlaku. Perbedaan AE
dan AEf ini dinamakan jurang inflasi.
KUANTITATIF
1. Diketahui =
 Fungsi Konsumsi : C = 200 + 0,75 Yd
 Pajak Pemerintah : T = 20% dari Pendapatan Nasional
 Pengeluaran Pemerintah ; G = 500
 Investasi Perusahaan : I = 300
Ditanya =
a. Hitung Pendapatan Nasional pada keseimbangan

Yd = Y – T
= Y – 0.2
= 0.8 Y
Pendapatan Nasional (Y)
Y =C+I+G
Y = 200 + 0.75 Yd + 300 + 500
Y = 1000 + 0.75(0.8 Y)
Y = 1000 + 0.6 Y
Y – 0.6 Y = 1000
0.4 Y = 1000
Y = 2500
Jadi, pendapatan Nasional pada keseimbangan adalah 2500

b. Bagaimana anggaran belanja pemerintah( yaitu surplus, deficit atau seimbang)?


Pajak = 20% dari Pendapatan Nasional
= 20% x 2500
= 500
Pengeluaran Pemerintah = 500

Jadi, anggaran belanja pemerintah adalah seimbang karena Pajak (T) sama
dengan Pengeluaran Pemerintah (G) yaitu sebesar 500

c. Apabila Pendapatan Nasional pada tingkat konsumsi tenaga penuh adalah 3000
masalah apakah yang dihadapi oleh perekonomian tersebut

Tingkat konsumsi sebelum naik


C = 200 + 0.75 Yd
= 200 + 0.75 ( Y – T)
= 200 + 0.75 (2500 – 500)
= 200 + 0.75 ( 2000 )
= 200 + 1500
= 1700
Pada saat Tingkat konsumsi 1700 maka Pendapatan Nasional nya adalah sebesar
2500
Jika C = 3000, maka pendapatan Nasionalnya adalah
Y =C+I+G
= 3000 + 300 + 500
= 3800
Jika konsumsi pada tingkat tenaga kerja penuh adalah 3000. Hal yang terjadi
adalah pendapatan nasional meningkat dari 2500 menjadi 3800.

d. Dengan menggunakan pendekatan (i) penawaran agregat-permintaan agregat,


dan (ii) suntikan-bocoran, lukiskan keadaan keseimbangan ekonomi
(II) Suntikan bocoran
S+T =I+G
Yd – C + T = I=G
2000 – 1700 + 500 = 300 + 500
300 + 500 = 300 + 500
800 = 800
Permintaan Agregat - Penawaran Agregat
Suntikan Bocoran

2. Diketahui : Pendapatan Nasional sebenarnya = 2000


Pendapatan Nasional tingkat konsumsi tenaga kerja penuh = 2250
Fungsi Konsumsi Rumah Tangga : C = 100 + 0.8 Yd
Ditanya :
a. Apabila pengeluaran pemerintah sama dengan investasi perusahaan, berapakah
besarnya masing masing pengeluaran tersebut

G=I
Y=C+I
I=Y–C
= 2000 – 2250
= - 250
Jadi, besarnya Investasi Perusahaan dan Pengeluaran Pemerintah adalah sebesar – 250

b. Adakah anggaran belanja pemerintah tersebut mengalami deficit? Buktikan


jawaban dengan perhitungan

Y =C+I+G
= 100 + 0.8 Yd + (-250) + (-250)
= 100 + 0.8 Yd – 500
= - 400 + 0.8Yd
0.8 Yd = - 400
Yd = -500

Berdasarkan perhitungan, anggaran belanja pemerintah mengalami deficit sebesar – 500


c. Berapakah jurang deflasi ? apabila jurang deflasi ini diatasi dengan menaikan
pengeluaran pemerintah , adakah anggaran belanja pemerintah mengalami
deficit atau surplus ?

Jurang deflasi = S – I
S=Y–C
= -800 – (100 + 0.8 (-500))
= -800 – (-300)
= - 800 + 300
= - 500
Jurang Deflasi = S – I
= -500 – (- 250 )
= -250
Jadi jurang deflasinya adalah sebesar -250, dan anggaran pemerintah mengalami deficit

3. Diketahui :
Fungsi Konsumsi ; C = 400 + 0.75Yd
Investasi ; I = 600
Ditanya :
a. Tentukan Pendapatan Nasional pada keseimbangan. Apakah yang akan berlaku
apabila perubahan perubahan memproduksikan barang dengan nilai 4500

C = 400 + 0.75 Yd
= 400 + 0.75 ( Y – 0.2 Y)
= 400 + 0.75 (0.8 Y)
= 400 + 0.6 Y
Pendapatan Nasional pada Keseimbangan

Y =C+I
Y = 400 + 0.6 Y + 600
Y = 1000 + 0.6 Y
Y – 0.6 Y = 1000
0.4 Y = 1000
Y = 2500

Jadi, Pendapatan Nasional pada saat keseimbangan adalah 2500

b. Misalkan perekonomian diubah menjadi 3 sektor dimana


G = 800
T = 0,2 Y
Berapakah pendapatan Nasional dan bagaimana anggaran belanja pemerintah
Y =C+I+G
Y = 400 + 0.75 Yd + 600 + 800
Y = 400 + 0.75 ( Y – 0.2 Y) + 600 + 800
Y = 1800 + 0.75 (0.8 Y)
Y = 1800 + 0.6 Y
Y – 0.6 Y = 1800
0.4 Y = 1800
Y = 4500
Jadi pendapatan nasionalnya adalah sebesar 4500

Pajak (T) = 0.2 (4500)


= 900
Pengeluaran Pemerintah (G) = 800

Jadi, anggaran pemerintah mengalami surplus karena Pajak lebih besar dari pada
Pengeluaran Pemerintah

c. Bandingkan keseimbangan perekonomian 2 sektor dan 3 sektor


SOAL TAMBAHAN
Dalam perekonomian tiga sektor diketahui:
- Persamaan fungsi konsumsi C = 100 + 0,75Yd
- Persamaan fungsi pajak T = -200 + 1/3 Y
- Investasi = Pengeluaran Agrerat I = G = 100
- Pajak Tetap T = 100
Tentukan :
1. Pengeluaran keseluruhan ( AE ) pada saat T = -200 + 1/3 Y dan pada saat Pajak T = 100
2. Dalam sumbu yang sama gambarkan kondisi tersebut.
3. Diasumsikan data dalam suatu perekonomian sebagai berikut.
- C = 100 + 0,75Yd
- I = 100
- T = 100
- G = 150
( semua angka dalam miliaran dollar )

Y T Yd C S I G AE Keadaan Perekonomian
300 100 200 250 -50 100 150 500 EKSPANSI
500 100 400 400 0 100 150 650 EKSPANSI
700 100 600 550 50 100 150 800 EKSPANSI
900 100 800 700 100 100 150 950 EKSPANSI
1100 100 1000 850 150 100 150 1100 SEIMBANG
1300 100 1200 1000 200 100 150 1250 KONTRAKSI

Berdasarkan data diatas


a. Isilah kolom pada tabel tersebut disertai perhitungannya
Jawab : untuk T,I dan G sudah ada pada keterangan
 Menghitung Yd = Y – T
Yd = 300 – 100 = 200
Yd = 500 – 100 = 400
Yd = 700 – 100 = 600
Yd = 900 – 100 = 800
Yd = 1100 – 100 = 1000
Yd = 1300 – 100 = 1200

 Menghitung C = 100 + 0,75Yd


C = 100 + 0,75 (200) = 250
C = 100 + 0,75 (400) = 400
C = 100 + 0,75 (600) = 550
C = 100 + 0,75 (800) = 700
C = 100 + 0,75 (1000) = 850
C = 100 + 0,75 (1200) = 1000
 Menghitung S = Yd – C
S = 200 – 250 = -50
S = 400 – 400 = 0
S = 600 – 550 = 50
S = 800 – 700 = 100
S = 1000 – 850 = 150
S = 1200 – 1000 = 200
 Menghitung AE = C + I + G
AE = 250 + 100 + 150 = 450
AE = 400 + 100 + 150 = 650
AE = 550 + 100 + 150 = 800
AE = 700 + 100 + 150 = 950
AE = 850 + 100 + 150 = 1100
AE = 1000 + 100 + 150 = 1450

b. Hitunglah besarnya perubahan persediaan yang tidak direncanakan.


Perubahan Pesediaan Tidak Direncanakan = Y – ( C + I + G )

1. 300 – ( 250 + 150 + 50 ) = - 50


2. 500 – ( 400 + 100 + 100 ) = - 100
3. 700 – ( 550 + 100 + 100 ) = - 50
4. 900 – ( 700 + 100 + 100 ) = 0
5. 1100 – ( 850 + 100 + 100 ) = 50
6. 1300 – (1000 + 100 + 100 ) = 100

c. Berdasarkan tabel tersebut jelaskan bagaimana kondisi perekonomiannya.


Kondisi perekonomian pada data table diatas yaitu, data pengeluaran agregat didapati
bahwa pendapatan nasional kurang dari Y = 1100 Triliun Rupiah maka pengeluaran
agregat melebihi pendaptan nasional ( AE > Y ) dan hal ini menyebabkan ekspansi dalam
keadaan ekonominya. Keseimbangan pendapatan Nasional dicapai apabila Y = 1100
Triliun Rupiah. Karena, pada tingkat ini pengeluaran agregat sama dengan pendapatan
Nasional maka keadaan ekonominya seimbang. Pada saat pendapatan nasional lebih dari
Y = 1100 Triliun Rupiah maka Pengeluaran agregat kurang dari Pendaptan Nasional ( AE
< Y ) dan hal ini menyebabkan kontraksi dalam keadaan ekonomi.
d. Pada sumbu yang sama gambarkan , fungsi konsumsi, fungsi tabungan, fungsi
investasi dan Fungsi C + I

Anda mungkin juga menyukai