Anda di halaman 1dari 59

laporan pendahuluan dan askep menopause

 
 
 
 
MAKALAH
 “LAPORAN PENDAHULUAN
DAN ASUHAN KEPERAWATAN
Dengan Masalah Utama “Menopause ”
 

 
Disusun oleh:
Kelas 3D- Semester 5
 
1.      Evi nuriyanti        (05201011126)           
2.      Joko sulistyo        (05201011142)
3.      Mustika oeditia(05201011060)
4.      Surlimalianah      (05201011019)
5.      Yayuk                   (05201011066)
 
 
 
Program Studi S1 Keperawatan
STIKES BINA SEHAT PPNI
Jl. Raya Jabon KM.6 Gayaman, Mojokerto
Tahun pelajaran 2012-2013
 
 
 
 
 
 
 
 
 
KATA PENGANTAR
 
Puji serta syukur kami panjatkan Kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan kami nikmat sehat jasmani dan rohani sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas ini .
Rasa terima kasih juga kami ucapkan kepada Ibu Rina Nur Hidayati,
selakudosen mata kuliah Komunitas II yang telah memberikan kesempatan kepada
kami untuk menambah wawasan kami.
Dalam makalah ini berisikan tentang “LAPORAN PENDAHULUAN DAN
ASUHAN KEPERAWATAN Dengan Masalah Utama “Menopause ”, kami
mengharapkan kritik dan saran agar kami dapat lebih baik. Semoga makalah
inidapat berguna bagi  pembaca dan khususnya bagi penulis.
 
 
 
 
Mojokerto,12 November 2012
 
 
 
Tim penyusun
 
 
 
 
 
 
 
 
 
BAB I
PENDAHULUAN
 
A.  Latar Belakang
Wanita sehat secara normal akan mengalami suatu proses degenerasi yang
dinamakan menopause. Proses ini sering menimbulkan gejala-gejala yang
dirasakan tidak menyenangkan. Oleh karena itu sangatlah penting bagi setiap
wanita untuk benar-benar memahaminya. Sekitar separuh dari semua wanita
berhenti menstruasi antara usia 45 dan 50, sekitar seperempat berhenti sebelum
umur 45 tahun, dan seperempat lainnya terus menstruasi sampai melewati umur 50
tahun.
Selanjutnya, salah satu hal yang dapat dilakukan untuk membuat kehidupan
saat menopause ini sedikit lebih mudah adalah dengan diet menopause yang dapat
membantu untuk energi tubuh, mengendalikan berat badan dan mencegah
sejumlah kondisi yang dapat menjadi lebih terlihat pada saat proses penuaan terus
berlanjut. Terapi Sulih Estrogen (TSH) serta olahraga yang teratur juga dapat
mengurangi beban pada saat terjadinya proses menopause ini. Untuk lebih
jelasnya, akan dibahas pada pokok pembahasan.
B.   Tujuan
1        Tujuan Umum
            Mengetahui masalah menopause pada lansia
2        Tujuan Khusus
1.      Apa pengertian Menopause dan macam-macamnya?
2.        Apa penyebab dan gejala-gejala menopause?
3.      Bagaimana tahap- tahap menopause ?
4.      Apa saja jenis-jenis dari menopause?
5.      Apa saja gangguan menopause?
6.      Bagaimana cara mencegah pemunculan menopause?
7.        Bagaimana pengobatan menopause
 
 
 
 
C.  Manfaat
1.      Bagi mahasiswa
Merupakan sumber tambahan informasi dan pengetahuan tentang permasalahan
menopause pada masa usia lanjut sebagai acuan dalam memberikan pelayanan
keperawatan pada lansia
2.      Bagi institusi dan civitas akademika
Mengukur pengetahuan dan pengalaman mahasiswa dalam menyusun asuahan
keperawatan  pada lansia  dengan mengambil dari berbagai sumber literature.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
BAB II
TINJAUAN TEORI
 
 
A. DEFINISI MENOPAUSE
Kata menopouse berasal dari bahasa Yunani yang berarti “bulan” dan
“penghentian sementara”. Berdasarkan definisinya, kata monopouse itu berarti
masa istirahat. Sebenarnya secara linguistik, istilah yang lebih tepat adalah
menocease yang berarti berhentinya masa menstruasi.Monopause ialah haid
terakhir atau saat terjadinya haid terakhir. Diagnosis menopouse dibuat setelah
terdapat amenovera sekurang-kurangnya satu tahun. Berhentinya haid dapat
didahului oleh siklus haid yang lebih panjang dengan pendarahan yang berkurang.
Umur waktu terjadinya monopouse dipengaruhi oleh keturunan, kesehatan umum,
dan pola kehidupan.
Menopause berasal dari bahasa Yunani yaitu Men Dan Pauseis yang
menggambarkan berhentinya haid. Menurut kepustakaan abad 17 dan 18,
menopause dianggap tidak berguna dan tidak menarik lagi.
Webster’s Ninth New Collgiate Dictionary mendefinisikan menopause sebagai
periode berhentinya haid secara alamiah yang biasanya terjadi antara usia 40 – 50
tahun. Menopause kadang-kadang juga dinyatakan sebagai masa berhentinya haid
sama sekali. Dapat didiagnosa setelah 1 tahun tidak mengalami menstruasi. Masa
pancaroba ini disertai dengan gejala-gejala yang khas. Pada premenopause timbul
kelainan haid, sedangkan dalam postmenopause terjadi gangguan vegetatif seperti
panas, berkeringat dan palpitari, gangguan psikis berupa labilitas emosi dan
gangguan organis yang bersifat atrofi alat kandungan dan tulang.
Menopause didefinisikan secara klinis sebagai suatu periode ketika seorang
wanita tidak lagi mengalami menstruasi karena produksi hormonnya berkurang
atau berhenti. Menopause merupakan suatu fase dalam kehidupan seorang wanita
yang ditandai dengan berhentinya masa subur.
 
B. ETIOLOGI MENOPAUSE
Akibat dari kadar hormon esterogen, progerseteron dan hormon ovarium yang
berkurang akan menyebabkan perubahan fisik, psikologis dan seksual yang
menurun pada wanita pasca menopause (Hacker&Moore, 2001).
Seseorang disebut menopause jika tidak lagi menstruasi selama 12 bulan atau
satu tahun. Menopause umumnya terjadi ketika perempuan memasuki usia 48
hingga 52 tahun (Rachmawati, 2006).
Menurut Andra (2007), efek berkurangnya hormon estrogen mengakibatkan
penipisan pada dinding vagina, pembuluh darah kapiler di bawah permukaan kulit
juga akan terlihat. Akhirnya, karena epitel vagina menjadi atrofi dan tidak adanya
darah kapiler berakibat permukaan vagina menjadi pucat. Selain itu, rugae-rugae
(kerut) vagina akan jauh berkurang yang mengakibatkan permukaannya menjadi
licin, akibatnya sering sekali wanita mengeluhkan dispareunia (nyeri sewaktu
senggama), sehingga malas berhubungan seksual.

a.       Prematur Pembedahan
Jika kedua ovarium diangkat, menopause terjadi dengan segera. Gejala yang dialami
mungkin cukup parah walaupun hanya terjadi dalam waktu singkat. Terapi sulih hormon
diberikan tidak hanya untuk mencegah timbulnya gejala, tetapi juga untuk membantu
melindungi dari penyakit kardivaskuler dan osteoporosis. Histerektomi (yaitu dengan
mempertahankan salah satu atau kedua ovarium) terbukti dapat mempercepat usia
terjadinya menopause pada beberapa wanita (Siddle et al,,1987). Oleh karena itu, wanita
tidak perlu diberi penjelasan yang membuat mereka yakin bahwa ovarium mereka yang
tidak diangkat dapat tetap menjalankan fungsinya hingga usia normal menopause. Tenaga
kesehatan profesional sekarang harus mendengarkan dengan seksama keluhan wanita.

b.      Alami

Pada laki-laki, spermatogenesis terus berlanjut sampai tua, sedangkan pada wanita tidak
demikian. Oogenesis akan berakhir pada usia fetus 20 minggu dan yang tinggal hanya 7
juta oosit. Mulai usia 20 minggu sampai dengan saat lahir terjadi pengurangan jumlah
primordial folikel secara bermakna. Pada saat seorang anak wanita lahir, primordial folikel
tinggal 500.000 sampai 1.000.000 lagi, dan dalam perjalanan waktu akan terus berkurang
jumlahnya. Jumlah folikel yang masih tersedia sangat berbeda pada setiap wanita.
Sebagian wanita pada usia 35 tahun masih memiliki sebanyak 100.000 folikel, sedangkan
wanita yang lain pada usia yang sama hanya memiliki 10.000 folikel. Penyebab
berkurangnya jumlah folikel terletak pada folikel itu sendiri. Seperti sel-sel tubuh yang lain,
oosit juga dipengaruhi oleh stres biologik seperti radikal bebas, kerusakan permanen dari
DNA, dan bertumpuknya bahan kimia yang dihasilkan dari proses metabolisme tubuh.
karena oosit selalu mengalami kendali mutu yang ketat, oosit yang telah mengalami
kelainan akan melalui proses apoptosis (kematian sel  yang terprogram). Bila jumlah
primordial folikel mencapai jumlah yang kritis, akan terjadi gangguan sistem pengaturan
hormon, yang berakibat terjadinya insufisiensi korpus luteum, siklus haid anovulatorik,
dan pada akhirnya terjadi oligomenorea. Bila sudah tidak tersedia lagi folikel, berarti
wanita tersebut telah memasuki usia pascamenopause. Setiap wanita yang masih
mengalami haid, meskipun sudah tidak teratur, ovariumnya masih memiliki kurang lebih
1000 folikel dan kemungkinan hamil selalu ada.

c.       IATROGENIK

Menopause dini iatrogenik, yaitu disebabkan oleh pengaruh luar, seperti kemoterapi atau
radioterapi, dapat cukup traumatis, terutama jika wanita tersebut berhasil menghadapi
penyakit keganasan, tetapi harus menghadapi menopause dini akibat pengobatan
tersebut. Untuk memahami mengapa terjadi menopause, mengapa dan bagaimana
menopause itu mempengaruhi perempuan, pertama-tama kita harus memiliki pemahaman
dasar tentang sistem endokrin perempuan. Sistem endokrin adalah sistem yang mengatur
semua zat penting didalam tubuh perempuan yang dikenal sebagai hormon. Dua hormon
penting yang dihasilkan perempuan adalah esterogen dan progesteron. Salah satu bagian
tubuh perempuan yang menghasilkan hormon estrogen adalah indung telur. Keduanya
berfungsi dan diperlukan untuk pelepasan jaringan dinding rahim. Meskipun saling
berhubungan dan berkaitan satu sama lain, hormon-hormon ini berbeda.

Salah satu hal istimewa mengenai tubuh perempuan ialah jika salah satu
organ melemah maka organ yang lain akan membantu. Itu pula yang terjadi
dengan persediaan esterogen perempuan. Ketika indung telur, yang merupakan
bagian tubuh yang berhubungan erat dengan produksi esterogen, kehilangan sel-
selnya (sama halnya dengan bagian-bagian lain dari tubuh kita sejalan dengan
bertambahnya usia) maka kelenjar-kelenjar adrenalin akan mengambil alih
sebagian produksi. Oleh karenanya seorang perempuan yang mengalami
menopause bukan berarti otomatis/ langsung menurun gairah seksualnya.
Faktor Predisposisi
a.       Usia saat haid pertama kali ( menarche )
Jika seorang wanita pertama kali mengalami menstruasi terbilang dalam usia yang masih
belia, maka menopause yang akan terjadi semakin lama.
b.      Faktor psikis
Mereka para wanita yang belum menikah dan bekerja sangat mempengaruhi menopause itu
lebih cepat terjadi dibanding dengan mereka yang tidak menikah dan tidak bekerja. Hal ini
sangat mempengaruhi keadaan psikis wanita.
c.       Jumlah anak
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa wanita yang melahirkan banyak anak,
cenderung lebih mudah dan lebih cepat mengalami penuaan dini dan mereka makin dekat
dengan masa menopause.
d.      Usia melahirkan
Ketika seorang wanita melahirkan atau memilii seorang anak dalam usia yang cukup tua
misalnya memiliki anak di usia 35 tahun, maka semakin lama wanita tersebut memasuki
usia menopause. Hal ini disebabkan oleh ketika seorang dalam masa kehamilan dan
persalinan di usia yang cukup tua akan berpengaruh pada lambannya proses sistem kerja
dari organ reproduksi dan memperlambat proses penuaan dini
e.       Pemakaian kontrasepsi
Pemilihan dalam pemakaian alat kontrasepsi juga dapat mempengaruhi seorang wanita
mengalami keterlambatan dalam menopause.
f.       Merokok
Rokok memang menjadi salah satu penyebab dari banyak penyakit. Wanita yang suka
merokok cenderung lebih cepat mengalami masa menopause.
g.      Sosial ekonomi
Secara pasti faktor sosial ekonomi belum bisa dipastikan sebagai penyebab menopause.
Namun menurut sebuah buku karya DR. Faisal mengungkapkan bahwa menopause
dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi termasuk pendidikan dan pekerjaan.
 
 
C. TAHAP- TAHAP MENOPAUSE
Profil hormonal dalam siklus hidup wanita  (Bagus, ida. 1998. Memahami
kesehatan reproduksi wanita. Hal 192)
Masa hidup Fisiologis Gambaran klinis Patologi
normal
Menopause -   Ovarium tidak -   Menstruasi berhenti -   Gejala
50-55tahun berfungsi -   Dispareunia psikosomatik
-   Kadar estrogen makin
makin turun bertambah
-   Alat kelamin
dapat emngalami
kering
-   Pengecilan
ukuran rahim
Pasca -   Dua tahun stelah -   Kadar estrogen sangat -   Mulai adaptasi
menopause berhenti menstruasi rendah terhadap
keadaan
estrogen rendah
Senium 60 -   Beradaptasi -   Gejala psikosomatrik -   Gejala
tahun terhadap hidup menonjol osteoporosis
tanpa estrogen karena tulang
tipis dan keropos
-   Mudah terjadi
patah tulang
terutama tulang
paha
-   Gejala pada IQ:
-  Cepat lupa
-  Ingatan
berkurang
-  Tidak terasa
bila berkemih
atau BAB
-  Sulit
melakukan
aktivitas
kerja(di tempat
tidur)
 
Pada dasarnya menopause dibagi menjadi tiga tahap yaitu masa
pramenopause, menopause dan pasca menopause.
1.   Pramenopause
Pramenopause yaitu masa transisi antara masa ketika wanita mulai merasakan
gejala menopause (biasanya pada pertengahan atau akhir usia 40 tahun) dan pada
masa siklus haid benar-benar terhenti (rata-rata 51 tahun). Pada masa
pramenopause akan terjadi perubahan fisik yang berarti.
 Pada fase ini seorang wanita akan mengalami kekacauan opla menstruasi,
terjadi peubahan psikologis/ kejiwaan, terjadi perubahan fifik, berlangsung selama
antara 4-5 tahun. Terjadi pada usia antara 48-55 tahun.  (Bagus, ida.
1998. Memahami kesehatan reproduksi wanita. Hal 190)
2.   Menopause
Masa menopause menandakan haid terakhir. Penentuan masa menopause
hanya bisa dilakukan setelah seorang wanita tidak haid lagi selama 1 tahun penuh.
Terhentinya menstruasi. Perubahan dan keluhan psikologis dan fisik makin
menonjol  berlangsung sekitar 3-4 athun. Pada usia antara 56-60 tahun. (Bagus,
ida. 1998. Memahami kesehatan reproduksi wanita. Hal 190)
3.   Pascamenopause
Masa ini adalah masa setelah haid terakhir seorang wanita. Dengan kata lain,
pascamenopause terjadi setelah masa menopause. Biasanya, keadaan fisik dan
psikologisnya sudah dapat menyesuaikan dii dengan perubahan-perubahan
hormonalnya.
Terjadi pada usia diatas 60-65 tahun. Wanita dapat beradaptasi terhadap
perubahan psikologi/fisik. Keluhan makin berkurang. (Bagus, ida. 1998.Memahami
kesehatan reproduksi wanita. Hal 190)
C. GEJALA – GEJALA MENOPAUSE
Tanda Awal Menopause
1.      Perubahan kejiwaan
Perubahan yang dialami oleh wanita dengan menjelang menopause adalah :
merasa tua, mudah tersinggunga, mudah kaget sehingga jantung berdebar, takut
tidak bisa memenuhi kebutuhan seksual suami, rasa takut bahwa suami akan
menyeleweng. Keinginan seksual menurun dan sulit mencapai kepuasan
(orgasme),  dan juga merasa tidak berguna dan tidak menghasilkan sesuatu,
merasa memberatkan keluarga dan orang lain.
2.      Perubahan fisik
Pada perubahan fisik seorang wanita mengalami perubahan kulit. Lemak
bawah kulit menghilang sehingga kulit mengendor, sehingga jatuh dan lembek.
Kulit mudah terbakar sinar matahari dan menimbulkan pigmentasi dan menjadi
hitam.pada kulit tumbuh bintik hitam, kelenjar kulit kurang berfungsi sehingga
kulit menjadi kering dan keriput.
Karena menurunnya estrogen dapat menimbulkan perubahan kerja usus
menjadi lambat, dan mereabsorbsi sari makanan makin berkurang. Kerja usus
halus yang semakin berkurang maka akan menimbulkan gangguan buang air besar
berupa obstipasi.
Perubahan yang terjadi pada alat genetalia meliputi liang senggama terasa
kering, lapisan sel liang senggama menipis yang menyebabkan mudah terjadi
(infeksi kandung kemih dan liang senggama). Daerah sensitive makin sulit untuk
dirangsang. Saat berhubungan seksual dapat menjadi nyeri.Perubahan pada tulang
terjadi oleh karena kombinasi rendahnya hormon paratiroid. Tulang mengalami
pengapuran, artinya kalium menurun sehingga tulang keropos dan mudah terjadi
patah tulang terutama terjadi pada persendian paha. 
Gejala-gejala dari menopause disebabkan oleh perubahan kadar estrogen dan
progesteron. Karena fungsi ovarium berkurang, maka ovarium menghasilkan lebih
sedikit estrogen/progesteron dan tubuh memberikan reaksi. Beberapa wanita
hanya mengalami sedikit gejala, sedangkan wanita yang lain mengalami berbagai
gejala yang sifatnya ringan sampai berat. Hal ini adalah normal. Berkurangnya
kadar estrogen secara bertahap menyebabkan tubuh secara perlahan
menyesuaikan diri terhadap perubahan hormon, tetapi pada beberapa wanita
penurunan kadar estrogen ini terjadi secara tiba-tiba dan menyebabkan gejala-
gejala yang hebat.
Hal ini sering terjadi jika menopause disebabkan oleh pengangkatan ovarium. 
Perubahan hormonal pada tubuh tersebut berakibat munculnya gejala-gejala
seperti nyeri sendi & sakit pada punggung, pengeringan pada vagina (sehingga
sakit saat melakukan hubungan seksual), sulit menahan kencing, gangguan mood
& emosi tinggi sehingga menimbulkan stres, selain itu penurunan kadar estrogen
juga mengakibatkan kecenderungan peningkatan tekanan darah, pertambahan
berat badan & peningkatan kadar kolesterol.
Pada jangka panjang keluhan akibat menurunnya kadar estrogen ini dapat
menyebabkan osteoporosis, penyakit jantung koroner, dementia tipe Alzheimer,
stroke, kanker usus besar, gigi rontok & katarak.Adapun gejala lain yang terjadi
selama menopause yaitu :
a. Ketidakteraturan siklus haid
b. Gejolak rasa panas
d. Perubahan kulit
e. Keringat dimalam hari
f. Sulit tidur
g. Perubahan pada mulut
h. Kerapuhan tulang
j. Penyakit
Bagi kebanyakan wanita keluhan-keluhan tersebut terutama yang
bersinggungan dengan kehidupan sehari-hari dapat menimbulkan dampak negatif
pada kualitas hidup & rasa percaya diri. Untuk itu perlu penanganan menopause
yang tepat dalam menghadapinya. Saat ini pengobatan yang paling efektif untuk
mengobati gejala menopause & sekaligus sebagai pencegahan terhadap
osteoporosis adalah dengan terapi berbasis hormon estrogen yang bertujuan untuk
menggantikan penurunan estrogen yang terjadi saat menopause. Dan untuk wanita
menopause yang masih memiliki uterus (rahim) maka terapi tersebut
dikombinasikan dengan progestogen.
 
D.  JENIS-JENIS MENOPAUSE
Menopause dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu menopause alamiah dan
menopause prematur (dini).
1.      Menopause Alamiah
Menopause ini terjadi secara bertahap, biasanya antara usia 45-55 tahun.
Menopause alamiah terjadi pada wanita yang masih mempunyai indung telur.
Durasinya sekitar 5-10 tahun. Meskipun seluruh proses itu kadang-kadang
memerlukan waktu tiga belas tahun. Selama itu menstruasi mungkin akan berhenti
beberapa bulan kemudian akan kembali lagi. Menstruasi datang secara fluktuatif.
Lamanya, intensitasnya, dan alirannya mungkin bertambah atau berkurang.
Wanita yang mengalami menopause alamiah mungkin membutuhkan perawatan
atau mungkin tidak membutuhkan perawatan apapun. Hal ini karena kesehatan
mereka secara menyeluruh cukup baik. Selain itu proses menopause berjalan
sangat lambat sehingga tubuhnya dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-
perubahan yang terjadi pada saat menopause.
2.      Menopause Dini
Menurut dr. ali Baziad, Sp.O.G KFFR, staf pada Bagian Obstetri dan
Ginekologi, FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta “menopause dini adalah
berhentinya haid di bawah usia 40 tahun”. Kalau wanita itu sudah berusia di atas
40 tahun, misalnya pada usia di atas 40 tahun, misalnya usia 42 dan 43, ia tidak
dikategorikan sebagai wanita yang mengalami menopause dini. Demikian juga
pada wanita usia produktif yang tidak lagi haid karena pengangkatan rahim, ia
tidak dapat disebut sebagai penderita menopause dini. Ini disebabkan indung
telurnya masih ada dan masih memproduksi sel-sel telur serta mengeluarkan
hormon estrogen. Sementara itu, jika kedua indung telurnya di angkat, otomatis
produksi hormon estrogen terhenti pula. Otomatis tidak akan mengalami haid lagi
untuk seterusnya sehingga dapat disebut telah mengalami menopause dini.
Menopause ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, bisa karena
indung telurnya diangkat, misalnya karena menderita kanker indung telur. Kedua,
diduga karena gaya hidup, seperti merokok, kebiasaan minum minuman
beralkohol, makanan yang tidak sehat, dan kurang berolah raga. Ketiga bisa
karena pengaruh obat-obatan seperti obat pelangsing dan jamu-jamu yang tidak
jelas zat kimianya. Pada umumnya, obat-obatan pelangsing memang mengandung
zat kimia yang dapat menghambat produksi hormon.
Gejala menopause dini dengan menopause biasa tidak ada bedanya, walaupun
setiap orang mengalami gejala dalam waktu yang sama. Tetapi dari segi perubahan
fisik penderita menopause biasanya tampak lebih parah. Ini terlihat dari keluhan –
keluhan yang mereka alami, yaitu osteoporosis dan penyakit jantung koroner yang
datang lebih cepat. Oleh karena itu datangnya menopause dini perlu diwaspadai.
Kelainan hormonal dalam siklus hidup wan
 
E. GANGGUAN MENOPAUSE
Gangguan menopause ialah jadwal menopause
1        Menopause premature
  Terhentinya haid pada umur 40 tahun
 Terdapat gejala premenopause hot flushes, kenaikan gonadotropin
2        Menopause terlambat
Berhentinya haid setelah umur 55 tahun
Terdapat gejala menopause
 
a )    Menopause Memengaruhi Hubungan Wanita
Kehidupan seksual sesuadah menopause ternyata tidak mengalami perubahan
pada 60% perempuan. Dua puluh persen diantaranya mengalami peningkatan
keinginan seksual dan 20% lagi mengalami pengurangan. Karena tidak ada lagi
resiko kehamilan, banyak perempuan mempunyai keinginan seksual yang lebih
besar dan bahkan kadang memperbaiki hubungan antara pasangan. Memang,
dalam kenyataannya nafsu seksual tidak ada hubungannya dengan produksi
hormon pada saat atau sesudah menopause.
Penelitian di Amerika menunjukkan bahwa perempuan masih tetap mempunyai
nafsu seksual sampai pada usia yang lebih tua dibanding kaum laki-laki. Setiap
tujuh diantara 10 pasangan di Amerika masih tetap melakukan senggama sesudah
usia 60 tahun. Alasan utama berhentinya kegiatan seksual mereka biasanya
disebabkan oleh adanya gangguan kesehatan, yang biasanya terjadi pada pihak
laki-laki. Kendati demikian, sementara sebagian perempuan tidak mengalami
perubahan pada keinginannya untuk berhubungan seks, sebagian lainnya tidak
peduli jika ia tidak berhubungan dengan pasangannya selama berbulan-bulan.

b )   Menopause Pada Laki-Laki


Ternyata tidak hanya perempuan yang mengalami menopause tetapi laki-laki
juga mengalami menopause. Menopause pada laki-laki dinamakan “andropause”.
Istilah andropause pada pria memang memiliki banyak kemiripan dengan
menopause yang dialami wanita. Hanya saja, masalah seputar andropause yang
ramai dibicarakan 3 tahun belakangan ini, masih kontroversial. Pada wanita
menopause berarti berhenti haid karena ovulasi tak terjadi lagi akibat habisnya
persediaan sel telur. Pada pria, andropause tak identik dengan berhentinya
produksi sperma. Sebab, secara fisik, sampai usia tua pun, sperma masih akan
tetap di produksi.
c )    Kelainan Organic Pada Masa Menopause
Dengan rangsangan estrogen terus-menerus tanpa selingan progesterone
memberikan peluang terjadinya keadaan patologis organ tujuan estrogen dalam
bentuk :
1)      Perdarahan disfungsional semakin meningkat
2)      Terjadi perubahan alat genetalia menjadi tumor jinak ; mioma uteri,
3)      Polip endometrial, polip servikal
4)       Karsinoma korpus uteri
5)      Keganasan payudara

F. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik

Tanda-tanda dan gejala menopause cukup untuk mengatakan kebanyakan wanita telah mulai
melewati transisi menopause. Jika wanita mempunyai keluhan mengenai menstruasi tidak
teratur atau hot flashes dapat memeriksakan ke dokter. Pemeriksaan penunjang diagnostik
untuk menopause dapat dilakukan dengan cara memeriksa tingkat follicle-stimulating
hormone (FSH) dan estrogen (estradiol) dengan tes darah. Dikatakan menopause, jika hormon
FSH dan estradiol menunjukan tingkat penurunan. Dokter mungkin juga merekomendasikan
tes darah untuk menentukan tingkat kemampuan thyroid-stimulating hormone, karena
hypotiroidisme dapat menyebabkan gejala mirip dengan menopause
 
G. Komplikasi
a.       Gejala menopause
Gejala menopause cenderung lebih berat pada wanita yang mengalami menopause
mendadak, misalnya akibat pembedahan, dibandingkan pada wanita yang mengalami gagal
ovarium bertahap (Chakravati et al,,1977).
b.      Penyakit kardiovaskuler
Penelitian awal pada tahun 1950 an menunjukkan insiden penyakit jantung yang lebih tinggi
pada wanita yang mengalami menopause dini (Oliver dan Boyd,1959). Baru-baru ini, US
Nurses Study menunjukkan bahwa semakin muda usia terjadinya menopause, resiko infark
miokardium semakin meningkat dan bahwa ooferoktomi bilateral yang dilakukan pada
wanita dibawah usia 35 tahun meningkatkan resiko tersebut hingga tujuh kali lipat
dibandingkan pada wanita pramenopause (Rosenberg et al,,1981). Penelitian terbaru
menunjukkan bahwa wanita yang menjalani terapi sulih hormon oral setelah ooforektomi
tidak mengalami peningkatan resiko menderita penyakit kardiovaskuler (Colditz et al,,1987).
c.       Osteoporosis
Menopause prematur menyebabkan awitan dini osteoporosis. Kondisi ini dapat dicegah
dengan menggunakan terapi sulih hormon jangka panjang (Eastell,,1998). Selama beberapa
tahun pertama setelah menopause akan mengalami kehilangan kepadatan tulang dengan
cepat yang dapat meningkatkan risiko osteoporosis
H. MENCEGAH PEMUNCULAN MENOPAUSE        
Tidak semua perempuan yang mengalami menopause memerlukan terapi
estrogen pengganti, sebagian lagi hanya memerlukannya selama beberapa bulan,
karena tidak semua peremuan mengalami gejala menopause yang demikian
mengganggu sehingga memerlukan estrogen pengganti.Di masyarakat Asia pada
umumnya, gejala menopause tidak banyak dikeluhkan karena secara kultural
orang-orang yang menjadi lanjut usia justru mendapatkan kedudukan sosial yang
terhormat. Perempuan yang masih tetap aktif ketika memasuki masa menopause
juga tidak mengalami gejala menopause yang berarti. Adapun kegiatan-kegiatan
yang dapat mencegah pemunculan gejala-gejal menopause.
1.      Olahraga teratur menjelang menopause
Berolahraga secara teratur banyak manfaatnya. Berolahraga memungkinkan
untuk membakar lemak yang berlebih dengan lebih efisien. Dengan demikian,
olahraga mambantu mengandalikan berat badan. Selain itu olahraga mempunyai
manfaat sebagai berikut :
1)        Meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, serta kemampuan tubuh untuk
menjaga kadar gula darah.
2)        Menjaga kepadatan tulang.
3)        Menjaga massa otot.
4)        Membakar kalori lemak.
5)        Mengurangi stress
6)        Mengurangi gejala menopause misalnya meriang.
7)        Membantu menjaga fleksibilitas dan kelenturan sendi sejalan dengan
bertambahnya usia.
 

2.      Pola makan sehat menuju menopause


Menopause merupakan peristiwa alami dalam siklus kehidupan wanita. Untuk
mencegah berbagai keluhan yang mungkin terjadi di masa menopause yang
disebabkan oleh kekurangan hormon estrogen, pengaturan menu makanan yang
tepat sedini mungkin adalah salah satu jawaban yang tepat untuk mengatasi
kekurangan hormon estrogen pada tubuh. Hal ini merupakan alternatif alamiah,
yaitu dengan mengkonsumsi ekstra estrogen yang banyak terkandung pada
sejumlah bahan pangan.
Sebuah menopause diet adalah waktu yang baik untuk membatasi makanan
yang tidak begitu bagus untuk seorang wanita menuju masa menopause karena
ransel di kalori dapat lebih mudah selama fase kehidupan ini dan faktor risiko jenis
penyakit tertentu bisa naik. Tidak mengkonsumsi lemak berlebih dan tidak
mengkonsumsi minuman beralkohol juga minuman berkafein, akan memelihara
hati dan sistem kardiovaskular yang sehat dan membantu untuk mengurangi risiko
kondisi seperti kanker dan diabetes.
Ganti pilihan dengan pilihan yang lebih sehat seperti air mineral dan teh hijau
tanpa kafein. Sayuran dan buah-buahan segar selalu penting untuk disertakan
dalam setiap diet. Seorang wanita harus menjauhi makanan berlemak dan manis
serta yang mengandung kafein atau apa pun yang benar-benar tidak memiliki nilai
gizi.
Ada senyawa alamiah dalam tumbuh-tumbuhan dan kacang-kacangan yang
struktur kimianya mirip dengan hormon estrogen dan disinyalir akan
menghasilkan efek seperti kerja estrogen. Senyawa tersebut disebut fitoestrogen.
Bahan pangan yang kaya akan fitoestrogen adalah jenis kacang-kacangan terutama
kacang kedelai, serta dapat ditemukan pada hampir semua jenis serealm sayuran,
pepaya, dan tanaman lain yang kaya akan kalsium. Bahan pangan kaya
fitoestrogen yang cocok digunakan untuk minuman segar antara lain tahu sutera.
Bahan yang terbuat dari kacang kedelai ini memiliki tekstur yang sangat lembut,
seperti krim kental, dapat menjadi pengganti aneka produk dari daging sapi dan
minyak hewani.- Susu Kedelai. Susu yang terbuat dari kacang kedelai ini kaya zat
fitoetrogen, sangat fleksibel diolah menjadi dessert yang mengugah selera.
Dianjurkan pula mengkomsumsikan bengkuang, agar-agar rumput laut.
Mengkonsumsi Kalsium Perempuan, terutama menjelang usia-usia menopause,
sebaiknya mengkonsumsi kalsium sebanyak 1000-1500 gram seharinya. Sebagian
besar dapat diperoleh dari makanan, seperti susu, yoghurt, beberapa jenis sayuran
(antara lain brokoli). Kalau jumlah kalsium dari makanan kurang mencukupi,
dapat juga memakan tablet kalsium. Vitamin Tambahan Sebagian besar vitamin
yang diperlukan tubuh sudah diperoleh melalui makanan kita sehari-hari..
 
 
I.PENGOBATAN
Tidak semua wanita pasca menopause perlu menjalani Terapi Sulih Hormon
(TSH). Setiap wanita sebaiknya mendiskusikan resiko dan keuntungan yang
diperoleh dari TSH dengan dokter pribadinya.Banyak ahli yang menganjurkan
TSH dengan tujuan untuk :
         Mengurangi gejala menopause yang tidak diinginkan.
         Membantu mengurangi kekeringan pada vagina.
         Mencegah terjadinya osteoporosis.
Beberapa efek samping dari TSH :
         Perdarahan vagina
         Nyeri payudara
         Mual
         Muntah
         Perut kembung
         Kram rahim.
Untuk mengurangi resiko dari TSH dan tetap mendapatkan keuntungan dari
TSH, para ahli menganjurkan:
          Menambahkan progesteron terhadap estrogen.
         Menambahkan testosteron terhadap estrogen.
         Menggunakan dosis estrogen yang paling rendah.
         Melakukan pemeriksaan secara teratur, termasuk pemeriksan panggul,
dan Pap smear sehingga kelainan bisa ditemukan sedini mungkin.
Estrogen tersedia dalam bentuk alami dan sintetis (dibuat di laboratorium).
Estrogen sintetis ratusan kali lebih kuat dibandingkan estrogen alami sehingga
tidak secara rutin diberikan kepada wanita menopause. Untuk mencegah hot
flashes dan osteoporosis hanya diperlukan estrogen alami dalam dosis yang sangat
rendah. Dosis tinggi cenderung menimbulkan masalah, diantaranya sakit kepala,
migren. Estrogen bisa diberikan dalam bentuk tablet atau tempelan kulit (estrogen
transdermal).
Krim estrogen bisa dioleskan pada vagina untuk mencegah penipisan lapisan
vagina (sehingga mengurangi resiko terjadinya infeksi saluran kemih dan beser)
dan untuk mencegah timbulnya nyeri ketika melakukan hubungan seksual. Wanita
pasca menopause yang mengkonsumsi estrogen tanpa progesteron memiliki resiko
menderita kanker endometrium. Resiko ini berhubungan dengan dosis dan
lamanya pemakaian estrogen. Jika terjadi perdarahan abnormal dari vagina,
dilakukan biopsi lapisan rahim. Mengkonsumsi progesteron bersamaan dengan
estrogen dapat mengurangi resiko terjadinya kanker endometrium. Biasanya terapi
sulih hormon estrogen tidak dilakukan pada wanita yang menderita :
         Kanker payudara atau kanker endometrium stadium lanjut
         Perdarahan kelamin dengan penyebab yang tidak pasti
         Penyakit hati akut
         Penyakit pembekuan darah Porfiria intermiten akut.
Kepada wanita tersebut biasanya diberikan obat anti-cemas, progesteron atau
klonidin untuk mengurangi hot flashes. Untuk mengurangi depersi, kecemasan,
mudah tersinggung dan susah tidur bisa diberikan anti-depresi.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
BAB III
TINJAUAN KASUS
 
A.  GAMBARAN KASUS
Ny. A  usia 65 tahun Alamat. Desa Puri, Kec, Puri Kab. Mojokerto, pendidikan
terakhir PGSD,  dan sekarang sudah pensiun, kebangsaan Indonesia , Suku  Jawa,
Agama islam,    Ny A meminta pada anaknya untuk diantar ke Panti Werdha dan
yang bertanggung jawab di Panti adalah kedua anaknya. Ny A di panti sudah
sudah 5 bulan  pada saat pengkajian klien mengatakan semenjak suaminya
meninggal klien di rumah sering sendirian dan merasa bosan karena sering
ditinggal anak M nya yang sibuk dengan pekerjaan nya, meskipun dirumah Ny A
dengan kedua cucu nya tapi karena mereka juga sudah dewasa jarang dirumah
sibuk dengan kegiatan-kegiatan yang diikuti disekolahnya. Dan alasan itulah yang
menjadi Ny A ingin tinggal di Panti kareba beliau merasa di Panti akan mendapat
banyak teman dan tidak merasa sendirian lagi.
Selain itu Ny A mengatakan selama di Panti sering mengikuti kegiatan-
kegiatan yang diadakan oleh Panti misalnya senam pagi, berkebun, mengikuti
pengajian juga. salah satu perawat juga mengatkan bahwa beliau memang rajin
dan hidup bersih, selain sering mengikuti olahraga, Ny A tidak pernah telat
meminum susu dan makan makanan yang sehat yang selalu dibawakan anak nya
karena setiap 2 minggu sekali selalu menjenguk Ny A, dan anak sebenarnya ingin
ibunya kembali dirumah aja tetapi Ny A tetap menolak dan tetap tinggal di Panti.
Ny. A  mengatakan bahwa ia sudah tidak mendapatkan haid sejak 3 bulan
yang lalu,dan karena itu Ny A sering merasakan nyeri sendi. Selain itu seminggu
terakhir ini Ny A mengatakan sakit pada punggung, sulit menahan kencing, rasa
panas dan sulit tidur. Pada pemeriksaan didapatkan keadaan umum baik, keadaan
emosionalnya stabil dan  kesadarannya compos mentis. Tekanan darah 170/80
mmHg, denyut nadi 74 x/menit, pernafasan 21 x/menit dan suhu badan 36,5 0 C.
Tinggi badan 160 cm dengan berat badan 60 kg.
Hasil pemeriksaan fisik  rambut bersih dan rambut beruban, pada kepala tidak
ada benjolan, telinga bersih tidak kotoran, tidak ada oedema pada muka,
konjungtiva pink, sklera terlihat putih. Pada mulut dan bibir tidak ada sariawan
(stomatitis), lidah bersih, tidak ada pembengkakan dan perdarahan pada gusi, gigi
ada caries. Tidak ada pembesaran pada kelenjar thyroid dileher dan kelenjar getah
bening di axilla. Bentuk dadanya simetris dan tidak ada retraksi pada dadanya,
bunyi jantung ada bunyi mur-mur dan paru – paru tidak ada bunyi wheezing,
Pada punggung dan pinggang tidak ada kelainan, posisi tulang belakang lordosis,
tidak ada nyeri ketuk pada pinggang. Kulit kuning bersih, keriput tidak ada bekas
luka dan  tidak ada odema
B. Pengkajian Individu Pada Lansia
I            IDENTITAS
  Nama                                                            : Ny A
  Alamat                                              :Ds Puri,kec Puri, Kab Mojokerto
  Jenis kelamin                         : Perempuan
  Umur                                                 :65 tahun
  Agama                                              : Islam
  Suku                                                  : Jawa                         
  Pendidikan terakhir                          : SMP
  Lama tinggal dipanti                         :5 Bulan
  Sumber pendapatan                          : dari pensiunan guru
  Keluarga yang dapat dihubungi       : Anak M
  Riwayat pekerjaan                            :Guru SD  
 
II         RIWAYAT KESEHATAN
  Keluhan yang dirasakan saat ini
Ny A mengatakan tidak mengalami haid
  Keluhan yang dirasakan 3 bulan terakhir
Ny. A  mengatakan bahwa ia sudah tidak mendapatkan haid sejak 3 bulan
yang lalu.
  Penyakit saat ini
Ny A mengatakan sakit pada punggung, sulit menahan kencing, rasa panas dan
sulit tidur.
  Kejadian penyakit 3 bulan terakhir
Ny A sering merasakan nyeri sendi sejak 3 bulan terakhir
III      STATUS FISIOLOGIS
  Penampilan/ciri-ciri tubuh     :
Ny A di pipi sebelah kanan terlihat ada tahi lalat dan posisi tulang belakang
lordosis
  Ttv dan status gizi               
  Suhu              : 36,5 0 C.
  TD                 : 170/80 mmHg,
  Nadi              : 74x/mnt
  RR                : 21 x/mnt
  TB                 :160 cm
  BB                :60kg
IV      Pengkajian Head To Toe
a)      Kepala     
Rambut  bersih dan rambut beruban, pada kepala tidak ada benjolan,
telinga bersih tidak kotoran
b)      Mata
Tidak terdapat oedema pada muka, konjungtiva pink, sklera terlihat putih.
c)      Hidung
Hidung bersih,tidak terdapat benjolan pada hidung
d)     Mulut & Tenggorokan
Pada mulut dan bibir tidak ada sariawan (stomatitis), lidah bersih, tidak ada
pembengkakan dan perdarahan pada gusi, gigi ada caries..
e)      Telinga
Pada telinga tidak ada benjolan dalan liang telinga dan bersih
f)       Leher
Tidak ada pembesaran pada kelenjar thyroid dileher dan kelenjar getah
bening di axilla
g)      Dada
Bentuk dadanya simetris dan tidak ada retraksi pada dadanya, bunyi
jantung ada bunyi mur-mur dan paru – paru tidak ada bunyi wheezing
h)      Abdomen
Ny A sulit menahan kencing,  dan saat BAK terasa panas, tetapi tidak ada
odema pada abdomen
i)        Genetalia
Sudah tidak mendapatkan haid sejak 3 bulan yang lalu
j)        Ektremitas
Pada punggung dan pinggang tidak ada kelainan, posisi tulang belakang
lordosis, nyeri pada pinggang
k)      Integument
Kulit putih  bersih, keriput tidak ada bekas luka dan  tidak ada odema
V          PENGKAJIAN KESEIMBANGAN UNTUK LANSIA (Tinneti, ME, dan
Ginter, SF, 1998)
1.      Perubahan posisi atau gerakan keseimbangan

Bangun dari kursi (dimasukkan dalam analisis)*

Tidak bangun dari duduk dengan satu kali gerakan, tetapi mendorong
tubuhnya ke atas dengan tangan atau bergerak ke bagian depan kursi
terlebih dahulu, tidak stabil pada saat berdiri pertama kali.

Duduk ke kursi (dimasukkan dalam analisis)*

Menjatuhkan diri ke kursi, tidak duduk ditengah kursi

Keterangan ()* : kursi yang keras dan tanpa lengan

Menahan dorongan pada sternum (pemeriksa mendorong sternum perlahan-


lahan sebanyak 3 kali)

Menggerakkan kaki, memegang obyek untuk dukungan kaki tidak


menyentuh sisi-sisinya

Mata tertutup

Sama seperti diatas (periksa kepercayaan pasien tentang input penglihatan


untuk keseimbangannya)

Perputaran leher

Menggerakkan kaki, memegang obyek untuk dukungan, kaki tidak


menyentuh sisi-sisinya, keluhan vertigo, pusing, atau keadaan tidal stabil.

Gerakan menggapai sesuatu

Tidak mampu untuk menggapai sesuatu dengan bahu fleksi sepenuhnya


sementara berdiri pada ujung-ujung jari kaki, tidak stabil, memegang
sesuatu untuk dukungan.
 

Membungkuk

Tidak mampu untuk membungkuk, untuk mengambil obyek-obyek kecil


(misal: pulpen) dari lantai, memegang suatu obyek untuk bisa berdiri lagi,
memerlukan usaha-usaha multiple untuk bangun.

2.      Komponen gaya berjalan atau gerakan

Minta klien untuk berjalan pada tempat yang


ditentukan                      ragu-ragu, tersandung, memegang obyek untuk
dukungan.
Ketinggian langkah kaki (mengangkat kaki pada saat melangkah)
Kaki tidak naik dari lantai secara konsisten (menggeser atau menyeret kaki),
mengangkat kaki terlalu tinggi (> 2 inchi)
Kontinuitas langkah kaki (lebih baik diobservasi dari samping pasien)
Setelah langkah awal, tidak konsisten memulai mengangkat satu kaki
sementara kaki yang lain menyentuh  lantai.
Kesimetrisan langkah (lebih baik diobservasi dari samping klien)
Panjangnya langkah yang tidak sama (sisi yang patologis biasanya memiliki
langkah yang lebih panjang : masalah dapat terdapat pada pinggul, lutut,
pergelangan kaki, atau otot disekitarnya).
Penyimpangan jalur pada saat berjalan (lebih baik diobservasi dari belakang
klien)
Tidak berjalan dalam garis lurus, bergelombang dari sisi ke sisi.
Berbalik
Berhenti sebelum mulai berbalik, jalan sempoyongan memegang obyek
utnuk dukungan.
 
VI      PSIKOSOSIAL
  Konsep diri
  Emosi
Emosinya labil
  Adaptasi
Ny A dengan mudah adaptasi dengan teman sepanti
  Mekanisme koping
Ny A selalu mengisi dengan kegiatan positif dengan mengikuti kegiatan ketrampilan
dip anti
  Dukungan keluarga
Kedua anak dan cucu yang selalu menjenguk ke panti
  Hub dg keluarga
Hubungan dengan keluarga baik
  Hub dg OL
Hubungan Ny A dengan orang lain baik
  Kegiatan lansia
Mengikuti kegiatan yang positif dipanti
 
  Motivasi lansia
Ny A semangat dalam menghadapi usia tua nya
1.      Masalah emosional
Pertanyaan tahap 1
  Motivasi penghuni panti
1)   Apakah klien mengalami susah tidur?
Ny A mengalami ganggua pola tidur
2)   Apk banyak masalah atau banyak pikiran?
Memikirkan anaknya yang selalu sibuk dengan pekerjaannya
3)   Apakah klien murung atau menangis sendiri?
Ny A bila ada masalah selalu bercerita dengan temnnya
4)   Apakah klien sering was-was atau khawatir
Kadang Ny A berpikir was-was jika anaknya tidak kunjung daang untuk
menjenguk
 

 
 
 
 
                                                                          Lanjutkan pertanyaan
                                                                              Tahap 2 jika jawaban
                                                                              Iya 1 atau lebih
Pertanyaan tahap II
1)   Keluhan lebih dari 3 bulan atau > 1x dalam sebulan
Ny N mengalmi gannguan pola tidur
2)   Ada gangguan atau masalah dengan orang lain?
Ny A tidak pernah mempunyai masalah masalah dengan orang lain
3)   Menggunakan obat tidur atau penenang
Ny A sering menggunakan obat tidur, karena beliau merasa sedih tidak bisa
tidur
4)   Cenderung mengurung diri
Ny A  tidak pernah mengurung diri

Lebih dari 1 atau


                                                                                                Sama dengan 1
                                                                              Jawaban ya, maka
                                                                              Masalah emosional
                                                                              Ada atau ada
                                                                              gangguan emosional
                                                      Gangguan Emosinal
 
2.      Skala Depresi Getriatik(GDS)
NO Pertanyaan Ya Tidak
1 Apakah ibu telah meninggalkan banyak kegiatan Ya Tidak
akhir-akhir ini?
2 Apakah ibu sering merasa hampa/kosong di dalam Ya Tidak
hidup ini?
3 Apakah ibu sering merasa bosan? Ya Tidak
4 Apakah ibu merasa mempunyai harapan yang baik Ya Tidak
di masa depan?
5 Apakah ibu mempunyai pikiran jelek yang Ya Tidak
menggangu terus menerus?
6 Apakah ibu memiliki semangat yang baik setiap Ya Tidak
saat?
7 Apakah takut bahwa sesuatu yang buruk akan Ya Tidak
terjadi pada anda?
8 Apakah ibu merasa bahagia sebagian besar waktu? Ya Tidak
9 Apakah ibu merasa tidak mampu berbuat apa-apa? Ya Tidak
10 Apakah ibu sering merasa gelisah Ya Tidak
11 Apakah ibu lebih senang tinggal dirumah daripada Ya Tidak
keluar dan mengerjakan sesuatu?
12 Apakah ibu akir-akhir ini sering pelupa? Ya Tidak
13 Apakah ibu pikir bahwa hidup ibu sekarang Ya Tidak
menyenangkan?
14 Apakah ibu merasa serimg marah-marah? Ya Tidak
15 Apakah ibu sering menanggis? Ya Tidak
16 Apakah ibu merasa senang waktu bangun tidur? Ya Tidak
  Skore 13(Mild Depression) 7 6
Sumber. Burns. 1999. Assessment Scales in Old Age Psychiatry. Martin Dunitz Ltd.
London, P.2-3
  Tingkat kerusakan intelektual
3.      Tingkat kerusakan intelektual
Short Portable Mental Status Quesioner (SPMSQ), Pfeiffer E, 197
Benar Salah Nomor Pertanyaan
√   1 Tanggal berapa hari ni?
√   2 Hari apa sekarang?
√   3 Apa nama tempat ini?
√   4 Dimana alamat anda ?
√   5 Berapa umur anda?
√   6 Kapan anda lahir?
√   7 Siapa presiden Indonesia?
  √ 8 Siapa presiden Indonesia sebelumnya?
√   9 Siapa nama ibu anda?
  √ 10 Kurangi 3 dari 2 dan tetap pengurangan 3 dari setiap
angka baru, secara menurun
Interpretasi :( 2= fungsi intelelekrual utuh)
  Identifikasi aspek kognitif
4.      Mini Mental  State Examination(MMSE)
Skor Skor Orientasi
maksimum manula
5 5 Sekarang(hari),(tgl),(blan), (tahun), berapa dan (musim)
apa?
5 3 Sekarang kita berada dimana? (jalan), (no rumah), (kota),
(kabupaten), (propinsi)
    Regristrasi
3 3 Pewawancara menyebutkkan nma 3 buah benda, 1 detik
untuk tiap benda. Kemudian mintalah manula menggulang
ke 3 nama tersebut. Berikan satu angka untuk setiap
jawaban yang benar. Bila masih salah, ulanglah
penyebutan ke 3 nama benda tersebut, sampai
    Atensi  dan kalkukasi
5 5 Hitunglah berturut-turut selang 7 mulai dari 100 ke bawah
1 angka untuk tiap jawaban yang benar. Berhenti setelah 5
hitungan(93, 86, 79, 72, 65). Kemungkinan lain.: ejalah kata
“dunia” dari akhir ke awal (a-i-n-u-d)
    Mengingat kembali(recall)
3 3 Tanyalah kembali nama ke 3 benda yang telah disebutkan
di atas. Berikan 1 angka untk setiap jawaban yang benar
    Bahasa
9 8 a.    Apakah nama benda-benda ini? (perlihtkan pensil dan
arloji) (2angka)
b.    Ulanglah kalimat berikut” jika tidak atau
tapi”(1angka)
c.    Laksanakan 3 buah perintah ini. “peganglah selembar
kertas dengan tangan kananmu, lipatlah kertas itu pada
pertenghan dan letakanlah di lantai (3angka)
d.   Bacalah dan laksnakan perintah berikut:”PEJAMKAN
MATA ANDA”(1 ANGKA)
e.    Tulislah sebuah kalimat(1angka)
f.     Tirulah gambar ini (1 angka)
   

 
 
 
 
 
27 Probable gangguan kognitif

Skor total
 
VII   SPIRITUAL
  Pelaksanaan ibadah
Ny A sering mengikuti kegiatan keagamaan yang diadaeh pantkan oleh panti
  Keyakinan tentang kesehatan
Ny A selalu menjaga kesehatan dengan mengikuti olahraga senam setiap hari
jumat
  Sikap terhadap pelayanan kesehatan
Ny  A seminggu sekali selalu memeriksakan tekanan darah nya meskipun
beliau tidak mempunyai riwayat darah tinggi  
 
 
 
VIII                    PERILAKU KESEHATAN
  Merokok
Tidak pernah merokok
  Pola nutrisi metabolic
Selalu makan makanan yang penuh protein dan vitamin
  Pola istirahat tidur
Ny A mengalami gangguan tidur, frekuensi tidur malam hanya 2 jam karena
sering bangun dan kalau siang tidak pernah tidur siang
  Pola eliminasi BAB-BAK
Ny A tidak mengalami gangguan eliminasi
  Pola aktivitas
Ny Z sering mengikuti kegiatan-kegiatan yang selalu diadakan dipanti
misalnya,berkebun, mengikuti kegiatan ketrampilan seperti menyulam
 
IX      PENGKAJIAN LINGKUNGAN
  Pemukiman
  Sanitasi
Penyediaan air bersih(MCK):
( )PDAM                   ( √)Sumur         ( )Mata air                  ( )sungai
Penyediaan air minum
( )bersama                 ( √)beli aqua                ( )air biasa tanpa rebus
Pengelolaan jamban
(√)bersama                ( )kelompok                             ( )pribadi         ( )lainnya
Jenis jamban
( √)leher angsa          ( )Cemplung terbuka               ( )cemplung tertutup
Jarak dengan sumber air
( )< 10 meter             (√ )> 10 meter                        
Petugas sampah
( )√√ditimbun                       (√) dibakar      ( )daur ulang    ()dibuang sembarang
tempat
Polusi udara
( )pabrik                    ( )rumah tangga           (√ )industry     ( )lainnya
  Fasilitas
Luas bangunan          :
Bentuk bangunan      :
( ) Rumah        ( ) petak           (√ ) asrama      ( ) paviliun
Jenis bangunan
(√  ) permanen ( ) semi permanen        ( ) non permanen
Atap rumah
( ) genting        ( ) seng                        ( ) ijuk              ( ) kayu                        (√  ) asbes
Dinding
(√  ) tembok    ( ) kayu                        ( ) bambu         ( ) lainnya
Lantai
( ) semen          (√) tegel                       ( ) keramik       ( ) tanah           ( ) lainnya
Kebersihan lantai
(√) baik                        ( ) kurang
Ventilasi
( ) < 15% luas lantai                (√) 15 % luas latai
Pencahayaan
(√  ) baik                      ( ) kurang
Pengaturan penataan perabot
(√) baik                        ( ) kurang
Kelengkapan alat rumah tangga
(√  ) lengkap    ( ) tidak lengkap jelaskan, ..............
FAILITAS
Peternakan
( ) ada              (√  ) tidak        jenis.........
Perikanan
( ) ada              (√) tidak jenis, .............
Sarana olahraga
(√  ) ada                       () tidak jenis, ............
Taman
(√  ) ada                       ( ) tidak           luasnya, ........
Ruang pertemuan
(√) ada                         ( ) tidak           luasnya, .........
Sarana hiburan
(√) ada             ( ) tidak jenis, .......
Sarana ibadah
(√  ) ada                       ( ) tidak jenis
         Keamanan & transportasi
System keamanan lingkungan
Penangulangan bencana
Transportasi
Kondisi jalan masuk panti
(√) rata                  ( )tidak rata                 ( )licin                          ( )tidak licin
Jenis transportasi yang dimiliki
(√)mobil                ( ) sepeda motor                     
Komunikasi
Sarana komunikasi
(√ )ada                   ( )tidak ada
Jenis komunikasi yang digunakan dipanti
(√)telvon               ( )kotak surat               ( )fax
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
BAB IV
TERAPI MODALITAS
 
A.  Definisi konseling
Konseling adalah sustu hubungan saling membantu dimana dua orang, yaitu
seorang sebagai konselor dan seorang klien (dalam situasi saling tatap muka)
memutuskan. Prayitno dan Erman Amti (2004:105) menjelaskan Definisi
Konseling sebagai proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara
konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang
mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah
yang dihadapi klien.Konseling, menurut Division of Conseling Psychologi
merupakan suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan
perkembangn dirinya,dan untuk mencapai perkembangan yang optimal
kemampuan pribadi yang dimilikinya ,proses tersebuat dapat terjadi setiap
waktu. Konseling atau penyuluhan adalah proses pemberian bantuan yang
dilakukan oleh seorang ahli (disebut konselor/pembimbing) kepada individu yang
mengalami sesuatu masalah (disebut konsele) yang bermuara pada teratasinya
masalah yang dihadapi klien. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Frank Parsons
pada tahun 1908 saat ia melakukan konseling karier. Selanjutnya juga diadopsi
oleh Carl Rogers yang kemudian mengembangkan pendekatan terapi yang berpusat
pada klien (client centered).
Dibanding dengan psikoterapi, konseling lebih berurusan dengan klien
(konseling) yang mengalami masalah yang tidak terlalu berat sebagaimana halnya
yang mengalami psikopatologi,skizofrenia, maupun kelainan kepribadian.Umumnya
konseling berasal dari pendekatan humanistik dan berpusat pada klien. Konselor
juga berhubungan dengan permasalahan sosial, budaya, dan perkembangan selain
permasalahan yang berkaitan dengan fisik, emosi, dan kelainan mental. Dalam hal
ini, konseling melihat kliennya sebagai seseorang yang tidak mempunyai kelainan
secara patologis. Konseling merupakan pertemuan antara konselor dengan kliennya
yang memungkinkan terjadinya dialog dan bukannya pemberian terapi atau
perawatan (''treatment''). Konseling juga mendorong terjadinya penyelesaian
masalah oleh diri klien sendiri.Konseling bisa dilakukan dalam berbagai bidang
kehidupan, seperti di masyarakat, di dunia industri, membantu korban bencana
alam, maupun di lingkungan pendidikan. Khusus pada dunia pendidikan tingkat
dasar dan lanjutan di Indonesia, layanan ini biasa disebut bimbingan konseling
(konseling sekolah) dan dilakukan oleh guru pembimbing(konselor sekolah).
 
B.  Tipe-tipe Konseling
Sudah banyak ditulis orang mengenai pendekatan direktif, non direktif, dan
elektik dalam konseling. Dikenal pula adanya klasifikasi konseling sosial , pribadi,
pendidikan dan konseling karier. Namun tidak banyak dituturkan tipe-tipe
konseling dari segi  waktu penanganan, yaitu proses pemecahan masalah individu,
dimana mungkin diperlukan waktu segera atau relatif panjang. Dalam konteks ini
akan muncul tipe-tipe konseling krisis, fasilitatif, preventif atau developmental. Tipe-
tipekonseling:
1.      Konseling Krisis
Krisis dapat diartikan sebagai suatu keadaan disorganisasi dimana helping
menghadapi frustasi dalam upaya mencapai tujuan penting hidupnya atau
mengalami gangguan dalam perjalanan hidup dan hal itu ditanggapi dengan stress.
 Situasi-situasi demikian itu sering memerlukan respon-respon khusus dari
konselor guna membantu konseling yang tak berdaya. Belkin menguraikan beberapa
jenis masalah yang mengandung krisis. Ditulisnya bahwa semua kita dalam saat-saat
mengarungi kehidupan, pernah menyaksikan atau mengalami situasi-situasi krisis
kehilangan orang yang kita cintai, kecanduan yang mendatangkan krisis,
ketakmampuan mengatasi situasi-situasi hidup, adanya krisis keluarga, ketegangan
hidup pribadi, dengan orang tua kita cintai atau sahabat karib  dan lain-lain.
Jika suatu krisis mencapai taraf yang melumpuhkan kita atau menghambat kita
mengontrol diri secara sadar maka keadaan itu merupakan krisis yang butuh
bantuan penyembuhan. Lebih luas lagi, situasi-situasi krisis dapat bersangkutan
dengan masalah-masalah percobaan bunuh diri, kehamilan yang yang tak
dikehendaki, kematian orang yang dicintai, perceraian, saat obname dirumah sakit,
pemutasian jabatan, jadi anggota baru suatu keluarga, kehilangan
pekerjaan, kecanduan obat biusataumasalahkeuangan.
Berdasarkan sifat situasi krisis, konselor perlu menerima situasi dan
menciptakan keseimbangan pribadi dan penguasaan diri. Tipe sikap dasar
meyakinkan dari konselor seperti itu dapat meredakan kecemasan klien dan
konselor dapat menunjukan tanggungjawabnya terhadap klien. Melalui dukungan
dan ekspresi ada harapan terhadap klien, konselor dapat mengatasi situasi dan
selanjutnya dapat membantu klien dalam kancah developmental.
Aktifitas lain konselor dalam mengatasi situasi krisis adalah intervensi langsung
atau campur tangan, dukungan kadar tinggi dan konseling individual atau referral
atau lembaga layak.
 
2.      Konseling Fasilitatif
Konseling fasilitatif, menurut segi tinjauan bahasa ini adalah proses membantu
klien menjadi jelas permasalahannya: Selanjutnya bantuan dalam pemahaman dan
penerimaan diri, penemuan rencana tindakan dalam mengatasi masalah, dan
akhirnya melaksanakan semua itu atas tanggung jawab sendiri. Konseling tipe
fasilitatif kerap kali diistilahkan dengan remedial , seakan-akan seorang
disembuhkan akibat mempunyai tingkah laku salah atau yang tidak dikehendaki.
Konseling remedial sering ditafsirkan sebagai usaha membantu individu agar maju
dari suatu tahap kurang sempurna kesuatu tahap yang lebih sempurna atau yang
bermanfaat. Adapun konseling fasilitatif dapat mencakup hal itu dan lebih dari itu.
Kita cenderung memandang pendekatan ini dari pandangan positif.
 Dengan begitu, kita berpandangan, bahwa melalui konseling fasilitatif manusia
dapat bertumbuh kembang dari suatu tahap ketahap perkembanganya.Masalah-
masalah yang ditangani dengan konseling fasilitatif meliputi masalah memilih
jurusan atau matapelajaran pilihan, perencanaan karier, pergaulan dengan anggota
keluarga, masalah menganggur, atau masalah dengan teman sekelas, dan
pengidentifikasian kelebihan-kelebihan, minat-minat, dan bakat-bakat individu. 
3.      Konseling Preventif
Konseling Prefentif berbeda dari tiga tipe lainnya, konseling ini bersifat
progmatis sebagaimana program yang diperuntukan bagi konseren khusus.
Konseling Preventif dapat meliputi misalnya, program pendidikan seks di sekolah
dasar dengan niat mencegah kecemasan pada masa yang akan datang mengenai
seksualitas dan hubungan antara dua jenis kelamin. Pendekatan progmatis lainnya,
seperti dikerangkakan oleh Carkhuff dan Friel berfokus pada kesadaran diri dalam
pemilihan karier dan persiapan karier untuk masa akan datang. Dalam konseling
preventif, konselor dapat menyajikan informasi kepada suatu kelompok atau
membantu individu-individu mengarah ke program-program relevan baginya.
Dengan kata lain, aktivitas-aktivitas yang mungkin dilakukan koselor dalam kancah
konseling preventif ini adalah pemberian informasi, referral ke program-program
relevan dan konseling individual berdasarkan isi dan proses program.
4.      KonselingDevelopmental
Konseling developmental merupakan proses berkelanjutan yang dijalankan
dalam seluruh jangka kehidupan individu. Tipe konseling developmental
memfokuskan pada membantu para klien mencapai pertumbuhan pribadi yang
positif dalam berbagai tahap kehidupan mereka. Dynkmeyer dan Caldwell
melukiskan konseling developmental disekolah dasar dengan pernyataan bahwa
konseling developmental yang dapat dilawan dengant ipe krisis tidaklah selalu
problem oriented dalam arti anak memiliki sejumlah kesulitan. Melainkan
tujuannya adalah perkembangan pemahaman diri, kesadaran potensialitas pribadi
dan cara-cara memanfaatkan kapasitas pribadi. Konseling developmental  benar-
benar berpusat pada membantu individu-individu mengetahui, memahami, dan
menerima dirinya sendiri. Dengan demikian, konseling developmental adalah belajar
dalam pembentuk pribadi bukannya pengajaran mengindividu.
C.  Tahapan Konseling
a) Tahapan Awal
Tahap awal merupakan upaya untuk menjalin hubungan baik antara Konselor
dengan klien agar klien dapat terlibat langsung dalam proses konseling. Diharapkan dapat
memberikan arahan konseling secara tepat. Dalam tahap awal ada dua langkah yang harus
diperhatikan. Dalam membina hubungan baik antara Konselor dengan klien, adanya rasa
percaya antara keduanya, saling menerima dan bekerja sama dalam menyelesaikan
masalah. Klien percaya dan menerima Konselor untuk membantu masalah yang dihadapi,
klien mengungkakan masalahnya dengan terbuka, Konselor menerima bahwa masalah
klien bear-benar terjadi dan memberi bantuan dengan cara menciptakan rapport atau
menggunakan teknik konseling lain.
Batasan yang diberikan maksudnya Konselor berusaha mengarahkan masalah
yang terjadi pada klien seperti dari beberapa masalah yang dialami Konselor coba
memberikan proiritas pada masalah yang paling penting untuk diselesaikan.
b) Tahapan Inti
1. Eksplorasi kondisi klien
Usaha Konselor mengkondisikan keadaan klien dalam konseling, atau berusaha
mengadakan perubahan pada tingkah laku dan perasaan klien.
2. Identifikasi masalah dan penyebabnya
Mengadakan pendataan masalah dan mencari tahu latar belakang terjadinya masalah.
Identifikasi alternative pemecahan Memberikan beberapa pilihan penyelesaian dan
pemecahan masalah diharapkan klien sendiri yang memilih.
3. Pengujian dan penetapan alternative pemecahan
Meminta klien untuk merealisasikan dari pilihan / keputusan yang diambil. Evaluasi
alternative pemecahan Meninjau kembali pengujian alternative pamecahan masalah
serta hasil pemecahan masalah.
4. Implementasi alternative pemecahan
Menganjurkan untuk mengerjakan dari salah satu pemecahan masalah yang telah
berhasil.
c) Tahap Akhir
Tahap ini memberikan penilaian terhadap keefektifan proses bantuan konseling
yang telah dilakukan.
1. Analisis
Analisis adalah tahap pengumpulan data atau informasi tentang diri klien dan
lingkunganya, untuk lebih mengerti terhadap keadaan klien. Mulai dari fisik dan psikis,
keluarga, teman sebaya, nilai-nilai yang dianut serta aktivitas klien dengan data
pendukung yang didapat dari berbagai sumber.
2. Sintesis
Sintesis merupakan tahapan untuk merangkum dan mengorganisasikan data hasil
tahap analisis, sehingga dapat memberikan gambaran diri klien yang terdiri dari
kelemahan dan kelebihan yang dimiliki, serta kemampuan dan ketidakmampuannya
menyesuaikan diri. Dirumuskan secara spesifik, singkat dan padat juga sebagai
diagnosis awal.
3. Diagnosis
Diagnosis merupakan tahapan untuk menetapkan hakikat masalah yang dihadapi klien
beserta sebab-sebabnya dengan membuat perkiraan atau dugaan, kemungkinan yang
akan dihadapi klien berkaitan dengan masalahnya. Ada beberapa tahapan dalam
diagnosis yaitu :
a. Identifikasi masalah
Identifikasi masalah merupakan upaya menentukan hakikat masalah yang dihadapi
oleh klien. Penentuan ini dapat menggunakan klasifikasi masalah sebagai berikut :
Klasifikasi masalah menurut Bordin
a. Ketergantungan pada orang lain (dependence)
b. Kurang menguasai keterampilan (lack of skill)
c. Konflik diri (self conflict)
d. Kecemasan menentukan pilihan (choice anxiety)
e. Masalah yang tidak dapat diklasifikasikan (no problem)
Klasifikasi masalah menurut Pepinsky
 a. Kurang percaya diri (lack of assurance)
b. Kurang informasi (lack of information)
c. Kurang menguasai keterampilan yang diperlukan(lack of skill)
d. Bergantungan pada orang lain (dependence)
 e. Konflik diri (self conflict)
Dalam identifikasi masalah kita berusaha memahami apa yang dialami klien dan
mencari kesulitan masalah yang dihadapi klien. Diagnosa mengambil kesimpulan
untuk menentukan derita klien atau yang dirasakan klien. Dengan klasifikasi
masalah dalam disgnosis sebagai berikut :
- Faktor ketidakpercayaan diri
Ketergantungan pada oranglain, ketidaktahuan potensi yang ada, sulit
mengambil keputusan, kurang informasi.
- Faktor depresi atau konflik diri
Kecemasan(anxiety), gangguan pikiran, gangguan perasaan,dan gangguan
tingkah laku.
- Faktor miskomunikasi atau misunderstanding
Kurang informasi, kurang tanggap, kurang peka terhadap
b. Penemuan sebab-sebab masalah (etiologi)
Langkah ini merupakan upaya penentuan dari sumber penyebab timbulnya
masalah. Yakni diantaranya mencari hubungan antara masa lalu, sekarang dan
masa yang akan datang. Dengan melihat hasil identifikasi masalah dapat timbul
dari dalam diri dan luar diri klien. Penyebab yang berasal dari diri klien antara lain;
gangguan kesehatan, kebiasaan-kebiasaan buruk, sikap negatif, kurangnya
informasi, kemampuan intelektual yang rendah dan lain-lain. Penyebab yang
berasal dari luar diri klien antara lain; sikap orang tua/guru yang tidak menunjang
perkembangan klien, lingkungan rumah/sekolah yang tidak sesuai dengan
karakteristik klen, dan dukungan sosial ekonomi yang kurang menunjang, serta
masyarakat yang tidak kondusif.
c. Prognosis
Langkah ini merupakan usaha memprediksi apa yang akan terjadi pada diri klien
pada kemudian hari dengan memperhatikan masalah yang dialami klien. Dengan
memberikan informasi berkaitan dengan prediksi yang dilakukan pada proses
diagnosis klien dapat melakukan tindakan sebagai usaha penyelesaian
masalahnya.
d. Konseling / treatment (perlakuan)
Konseling merupakan proses tatap muka antara klien dengan konselor sebagai
usaha pemberian bantuan yang dilakukan secara komunikasi verbal. Dengan tujuan
agar klien memiliki kepercayaan dan dapat melakukan penyesuaian dirin dengan
optimal terhadap lingkungan kehidupannya.
Bentuk bantuannya dalam bentuk sebagai berikut :
1. Identifikasi alternatif masalah
Usaha membuta beberapa pilihan pemecahan masalah berdasarkan hasil diagnosis dan
sintesis baik untuk masalah yang berasal dari dalam diriklien atau masalah yang ber asal
dari luar diri klien.
2. Pengujian dan pemilihan alternatif pemecahan masalah
Merupakan tindakan yang kan memperjelas altenatif mana yang akan ilakukan sebagai
pemecahan masalah. Melaksanakan pemecahan masalah terpilih Setelah pemecahan
masalah dipilih maka konselor membantu klien dan menetapkan kapan akan direlisasikan.
Pemecahan masalah tentu akan melibatkan klien, konselor dan pihak terkait lain. Tujuan
konselor memberikan tugas ini adalah :
- Mengadakan perubahan pada lingkungan klien yang tidak menunjang perkembangannya.
- Mengubah sikap negatif klien baik terhadap dirinya dan lingkungannya sehingga klien
tidak mengalami masalah.
- Membantu klien menemukan lingkungan yang sesuai dengan dirinya.
- Membantu klien memperoleh keterampilan dan persyaratan yang diperlukan sehinggan
masalah dapat diatasi.
- Membantu klien menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapi.
3. Tindak lanjut (follow up)
Tindak lanjut berguna untuk melihat sejauh mana keberhasilan pemberian bantuan melalui
proses konseling yang telah berlangsung. Juga sebagai upaya pemeliharaan yang
dikembangkan oleh klien untuk mampu mengatasi masalahnya.
D.   Tujuan
Menurut teori ini tujuan konseling yaitu untuk membantu klien menjadi :
a.       Untuk membantu klien memperoleh kesadaran dari kejadian ke kejadian
pengalaman, dan untuk mengembangkan  kemampuan dalam membuat
pilihan-pilihan. Tujuannya maksudnya tidak pada analisis tapi lebih kepada
hubungan.
b.      Usaha membantu penyadaran klien-klien tentang apa yang dilakukan
c.       Membantu penyadaran tentang siapa-hambatan dirinya
d.      Membantu klien untuk menghilangkan hambatan dalam
pengembangan penyadaran.
 
 
E.  Proses konseling
            Konseling dapat diberikan secara individual, kelompok seperti suami-
istri, kelompok atau unit-unit masyarakat lainnya. Proses konseling menggunakan
pendekatan humanistic, yaitu individu mempunyai kebebasan untuk memilih atau
menentukan yang dianggapnya terbaik bagi dirinya sendiri. Peran konselor itu
sendiri berfungsi sebagai fasilitator yang mendorong diwujudkannya potensi yang
baik itu, serta menghargai klien sebagai seorang individu yang unik dan bebas serta
bertanggung jawab. Dan tugas konselor adalah membantu agar keputusan yang
diambik oleh klien adalah realistis dan dapat dilaksanakan dengan merangkul segala
aspek positif dan negative dari keputusannya.
  6 langkah konseling GATHER :
G – Greet (salam) : memberikan salam akan membuat klien merasa diterima,
membangun hubungan yang baik dan menimbulkan kepercayaan dalam diri
klien.
A – Ask (Tanya) : Tanya keluhan atau kebutuhan klien dan melihat apakah
keluhan atau kebutuhan sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
T – Tell (memberikan informasi) : konselor dapat member berbagai alternative
kepada klien
H – Help (membantu) : membantu klien mengambil keputusan yang tepat
E – Explaining : menjelaskan kepada klien apa yang harus dilakukan setelah
mengambil keputusan. 
R – Return : setelah selesai konselor mengundang klien kembali bila merasa
membutuhkannya.
F.   Prosedur
a.       Persiapan
b.      Proses konseling
         Tahap-tahap konseling Terapi Terpusat Pada Klien:
1.      Klien datang pada konselor atas kemauannya sendiri.
2.      Situasi konseling sejak awal harus menjadi tanggung jawab klien, untuk
itu konselor menyadarkan klien.
3.      Konselor memberanikan klien agar ia mampu mengemukakan
perasaannya.
4.      Konselor menerima perasaan klien serta memahaminya.
5.      Konselor berusaha agar klien dapat memahami dan menerima keadaan
dirinya.
6.      Klien menentukan pilihan sikap dan tindakan yang akan diambil.
7.      Klien merealisasikan pilihannya itu.
         Fase-Fase Konseling
1.      Fase I. Membentuk pola pertemuan terapeutik agar terjadi situasi yang
memungkinkan perubahan perilaku konseling
2.      Fase II. Pengawasan, yaitu usaha konselor untuk meyakinkan konseling
untuk mengikuti prosedur konseling.
3.      Fase III. Mendorong konseling untuk mengungkapkan perasaan-
perasaan dan kecemasannya. Di dalam fase ini diusahakan untuk
menemukan aspek-aspek kepribadian konseli yang hilang.
4.      Fase IV.(terakhir). Setelah terjadi pemahaman diri maka pada fase ini
konseling harus sudah memilki kepribadian yang integral sebagai
manusia individu yang unik.
c.       Evaluasi
1.      Verbal
2.      Non-Verbal
 
G. Contoh konseling (gather)
A. proses keperawatan
1.      Kondisi
Klien terlihat cemas dan gelisah dengan masalah yang dialaminya NyA menyatakan
bahwa ia sudah tidak mendapatkan haid sejak 3 bulan yang lalu,dan  klien juga
mengalami A sering merasakan nyeri sendi, sakit pada punggung, sulit menahan
kencing, rasa panas dan sulit tidur.
2.      Diagnose keperwatan
Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan struktur/ fungsi seksual
3.      Tujuan
a.       Membantu klien menanggapi masalah-masalah dalam kehidupan klien
b.      Mengurangi kekhawatiran dan penderitaan klien
c.       Dan meningkatkan kemampuan klien seoptimal mungkin
d.      Memberikan cara atau konsep alternatife untuk menyelesaikan masalah
4.      Tindakan keperawatan  
a.       Membina hubungan saling percaya
b.      Mengidentifikasi masalah yang sedang dihadapi klien
c.       Memberi informasi sesuai kebutuhan klien
d.      Memberikan cara alternative untuk menyelesaikan masalah
B. langkah  terapi konseling
1.      Orientasi
Selamat pagi bu? Bagaimana perasaannya hari ini? Seperti  janji saya kemarin.
“apakah yang ibu alami selama 3 bulan terakhir ini?
“bagaimana kalau kita bicarakan tentang masalah-masalah yang sering muncul pada
usia lanjut usia”
“bagaimana kalau kita bincang-bincangnya disini saja?”
“berapa lama bu? Bagaimana kalau 10menit ?”
2.      Kerja
“Kemarin ibu mengatakan kalau sudah 3 bulan tidak mengalami haid?
“Semua wanita berumur pasti mengalami menopause. Menopause menandakan
berakhirnya kesuburan dan berakhirnya menstruasi pada usia  >40 tahun.”
“menopause disebabkan oleh banyak faktor mungkin faktor umur yang sudah tidak
muda lagi, selain itu dapat juga disebabkan dari gaya hidup yang kurang sehat.”
“selain itu ibu juga mengtakan sering mengalami perubahan –perubahan pada
diri ibu”
“begini bu, supaya ibu tetap sehat. Ibu dapat melakukan dengan cara sering banyak
melakukan aktivitas misalnya  menyesuaikan pola makan misalnya (makan sayur-
ayuran dan buah), mempertahankan aktivitas fisik misalnya dengan berolahraga
latihan fisik setiap pagi.” 
“ bagaimana perasaan ibu setelah kita bercakap-cakap tentang cara untuk tetap
menjadi sehat?“coba ibu sebutkan apa saja cara untuk hiduptetap sehat?
“bagus, coba ibu lagi seperti yang saya sebutkan tadi.
3.      Terminasi
“ baiklah kita sudah bercakap-cakap selama 10 menit, kalau ibu merasa mengalami
kesusahan dalam melakukan cara-cara yang sudah saya sebutkan tadi, maka  ibu
jangan malu untuk meminta bantuan kepada saya atau perawat lain dan ibu bisa
menemui di ruang perawat sebelah.”
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menopause bukanlah suatu yang
menakutkan. Kedatangannya tidaklah menakutkan asalkan kita bisa mensikapinya
dengan bijaksana & apabila terjadi keluhan-keluhan, kunjungilah nakes untuk
mendapatkan terapinya.Pada tinjauan kasus di atas dapat disimpulkan bahwa Ny.
A telah mengalami menopause,Ny. A  merasakan nyeri sendi, sakit pada punggung,
sulit menahan kencing, rasa panas dan sulit tidur dan ia sudah tidak mendapatkan
haid sejak dua bulan yang lalu. Untuk mengurangi gejala menopause dapat dengan
Pengobatan supportif. Pengobatan supportif yang penting adalah mempertahankan
hidup sehat. Berhenti merokok akan sangat membantu, juga hindari minum
alkohol dan kopi (caffein) dan sering berolah raga untuk menurunkan berat badan,
misalnya berjalan kaki.
B. SARAN
Menjadi tua dan keriput memang hal yang sering ditakuti oleh para wanita.
Namun, hal ini bukan berarti wanita kehilangan identitas kewanitaannya. Justru
seharusnya sadar bahwa wanita yang mengalami masa menopause memulai fase
kehidupan baru sebagai wanita yang matang dalam berpikir. Namun, memang
tidak dapat dipungkiri bahwa saat memasuki masa menopause akan terjadi
perubahan fisik dan emosi. Oleh karena itu, masa menopause merupakan masa
yang membutuhkan penyesuaian diri dan pengertian dari berbagai pihak,
terutama keluarga. Selain hal tersebut penting diingat bahwa gaya hidup kita
semasa muda sangat mempengaruhi gejala menopause yang akan dirasakan kelak.
Berikut beberapa tips supaya tetap sehat saat memasuki masa menopause nanti,
yaitu :
1.      Tidak merokok (bila merokok cobalah untuk berhenti)
2.      Tidak minum alkohol,
3.      Sering berolah raga secara teratur
4.      Makan makanan yang sehat (terutama yang bersumber dari kacang
kedelai sebagai sumber fitoestrogen)
 
 
DAFTAR PUSTAKA
1.      Bagus, ida. 1998. Memahami kesehatan reproduksi wanita. Jakarta: arcan
2.      Darmojo, R Boedi dan Martono, H Hadi.2000.Geriatri ( ilmu kesehatan usia
lanjut ). Jakarta : FKUI
3.      Widyastuti, Yani dan Anita Rahmawati, Yuliasti, E. 2009. Kesehatan
Reproduksi. Yogyakarta. Fitramaya
4.      Modul Kesehatan Reproduksi. 2008. Departemen Kesehatan RI. Jakarta
5.      http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/07/17/masalah-seksual-lansia/
6.      http://www.smallcrab.com/lanjut-usia
7.      http://sehatnews.com/wlovesex/up-date/3999.html
8.      http://www.docstoc.com/docs/6600963/Masalah-Usia-Lanjut
askep klimakterium
1.      PENGERTIAN
Klimakterium merupakan peralihan masa reproduksi dan semium dimulai dari 6 tahun
sebelum menopause berakhir 6-7 tahun setelah menopause. (Sarwono, 2007). Sedangkan
menurut Chris Dolken (2008), klimakterium merupakan suatu periode dimana terjadi
penurunan aktivitas ovarium yang pada akhirnya berhenti. Klimakterium adalah proses
penuaan dari seorang wanita dari masa reproduktif ke masa nonreproduktif.
            Jadi, dapat disimpulkan bahwa klimakterium merupakan suatu proses penuaan yang
dialami oleh wanita yang ditandai dengan penurunan aktivitas ovarium pada saat 6 tahun
sebelum menopause sampai 6-7 tahun setelah menopause.
Klimakterium terbagi menjadi 3 fase:
·         Premenopause
Fase pertama klimakterim dimana terjadi penurunan fertilitas dan menstruasi tidak
teratur. Terjadi 4-5 tahun sebelum menopause.
·         Menopause
Fase dimana mennstruasi berhenti
·         Postmenopause
Fase 3-5 tahun setelah menopause. Ditandai dengan gejala vagina atrophy dan
osteoporosis yang dapt berkembang.

2.      ETIOLOGI
·         Terjadi perubahan dan penurunan fungsi pada ovarium, seperti sklerosis pembuluh darah
·         Berkurangnya jumlah folikel dan menurunnya sintesis steroid seks
·         Penurunan sekresi estrogen dan progesteron
·         Gangguan umpan balik pada hipofisis

3.      PATOFISIOLOGI
 

 
 
 

            mengakibatkan
                                                               
  

 
                                                                                                                        

4.      MANIFESTASI KLINIS
Gejala umum dari menopause :
·        Ketidakteraturan siklus haid
·         Hot flushes (panas pada kulit)
Rasa panas pad kulit diakibatkan penurunan hormon estrogen sehingga pembuluh darah
membesar, serta gangguan umpan balik pada hipotalamus. Munculnya hot flashes ini
sering diawali pada daerah dada, leher atau wajah, dan menjalar ke beberapa daerah
tubuh yang lain.
·         Berdebar-debar, karena terjadi peningkatan denyut jantung
·         Sakit kepala
·         Tangan dan kaki terasa dingin
·         Vertigo
·         Cemas
·         Gelisah
·         Insomnia
Insomnia sering terjadi pada waktu menopause, tetapi hal ini mungkin ada kaitannya
dengan rasa tegang akibat berkeringat malam hari, wajah memerah, dan perubahan yang
lain.
·         Keringat waktu malam
·         Pelupa
·         Tidak dapat konsentrasi
·         Lelah
·         Penambahan berat badan
Gejala yang paling sering :
·         Ketidakstabilan vasomotor yang manifestasi sebagai : hot flushes, v ertigo, keringat banyak, rasa
kedinginan
·         Tanda yang khas : kulit menjadi merah dan hangat, terutama pada kepala dan leher

Perubahan fisiologis pada masa klimakterium :


·         Peningkatan denyut jantung
·         Vasodilatsi perifer
·         Meningkatnya temperatur kulit
·         Pelepasan LH sedikit-sedikit
·         Kulit genitalia serta dinding vagina dan uretra menipis dan kering, sehingga mudah
terjadi iritasi, infeksi, dan dispareunia (rasa sakit saat melakukan hubungan seks)
Kekeringan vagina terjadi karena leher rahim sedikit sekali mensekresikan lendir.
Penyebabnya adalah kekurangan estrogen yang menyebabkan liang vagina menjadi lebih
tipis, lebih kering dan kurang elastis. Alat kelamin mulai mengerut, Liang senggama
kering sehingga menimbulkan nyeri pada saat senggama, keputihan, rasa sakit pada saat
kencing. Keadaan ini membuat hubungan seksual akan terasa sakit (dispareunia).
Keadaan ini sering kali menimbulkan keluhan pada wanita bahwa frekuensi buang air
kecilnya meningkat dan tidak dapat menahan kencing terutama pada saat batuk, bersin,
tertawa atau orgasme.
·         Labia, klitoris, uterus, dan ovarium mengecil.
·         Elastisitas kulit berkurang
Estrogen berperan dalam menjaga elastisitas kulit, ketika menstruasi berhenti maka kulit
akan terasa lebih tipis, kurang elastis terutama pada daerah sekitar wajah, leher dan
lengan. Kulit di bagian bawah mata menjadi mengembung seperti kantong, dan lingkaran
hitam dibagian ini menjadi lebih permanen dan jelas (Hurlock, 1992)
·         Osteoporosis
Rendahnya kadar estrogen merupakan penyebab proses osteoporosis(kerapuhan
tulang). Osteoporosis merupakan penyakit kerangka yang paling umum dan merupakan
persoalan bagi yang telah berumur (lansia), paling banyak menyerang wanita yang telah
menopause. Menurunnya kadar estrogen akan diikuti dengan penurunan penyerapan
kalsium yang terdapat dalam makanan. Kekurangan kalsium ini oleh tubuh diatasi
dengan menyerap kembali kalsium yang terdapat dalam tulang, dan akibatnya tulang
menjadi keropos dan rapuh. Serta terjadi penurunan massa tulang.
Gejala psikologis yang dapat terjadi :
·         Mudah Tersinggung
·         Ingatan Menurun (sering lupa)
·         Cemas
·         Stress
·         Depresi
·         Susah berkonsentrasi

5.      FAKTOR RESIKO
·         Genetik
Usia menarche (menstruasi pertama kali) mempengaruhi cepat lambatnya terjadi menopause. Semakin cepat seseorang
menarche maka kemungkinan semakin cepat pula terjadi menopause. Begitu juga pada ibu yang banyak anak (sering
melahirkan) akan lebih lambat dibandingkan ibu yang jumlah anaknya sedikit, karena sel telurnya akan disimpan
selama masa kehamilan.
·         Nutrisi (kalsium, kolesterol, fosfat, dan vitamin)
·         Kadar hormon estrogen
·         Kebiasaan/ pola hidup (olahraga, kopi, alkohol, perokok)
·         Tingkat pendidikan dan status ekonomi
·         Pengangkatan kedua ovarium

6.      PENATALAKSANAAN
1.      Mengubah gaya/pola hidup
·         Mengkonsumsi makanan yang kaya akan kalsium.
·         Mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin seperti buah-buahan dan sayuran.
·         Mengurangi konsumsi kopi, teh, minuman soda, dan alkohol.
·         Menghindari merokok.

2.      Olahraga
Olahraga akan meningkatkan kebugaran dan kesehatan seseorang, biasanya ini juga membawa dampak positif, seperti :
a. Menguatkan tulang
b. Meningkatkan kebugaran
c. Menstabilkan berat badan
d. Mengurangi keluhan menopause
e. Mengurangi stress akibat menopause
Olahraga bagi wanita yang mengalami menopause tentu saja berbeda dengan wanita yang masih dalam usia
reproduktif karena biasanya bebetapa organ tubuhnya sudah tidak berfungsi sempurna, selain itu bebeapa penyakit
sudah dideritanya. Jadi tujuan olahraga bagi wanita menopause adalah selain menjaga kebugaran juga untuk
mengurangi atau mengobati penyakit. Jenis-jenis olahraga yang bisa dilakukan untuk wanita usia menopause yaitu
jalan cepat, senam, dan berenang. (Kasdu, 2002)
2.      Terapi penggantian hormon (HRT)
Penggantian estrogen tunggal bisa dikombinasikan. HRT dapat menurunkan atau menghilangkan rasa panas, dapat
membantu pencegahan osteoporosis.
3.      Terapi komplementer : arklimakteriumterapi, yoga, homeopati
4.      Terapi sulih hormon (TSH)
Untuk mengurangi keluhan pada wanita dengan keluhan atau sindrklimakterium menopause dalam masa
premenopause dan postmenopause. Selain itu, TSH juga berguna untuk menjaga berbagai keluhan yang muncul akibat
menopause, seperti keluhan vasomotor, vagina yang kering, dan gangguan pada saluran kandung kemih. Penggunaan
TSH juga dapat mencegah perkembangan penyakit akibat dari kehilangan hormon estrogen, seperti osteoporosis dan
jantung koroner. Jadi, tujuan pemberian TSH adalah sebagai suatu usaha untuk mengganti hormon yang ada pada
keadaan normal untuk mempertahankan kesehatan wanita yang bertambah tua. (Kasdu, 2002)
Hal yang dapat dilakukan untuk mencegah /mengatasi kejengkelan fisik :
a.      Untuk mengatasi gatal-gatal dan ras terbakar pada vulva : bicarakan dengan pemberi perawatan kesehatan untuk
menyingkirkan abnormalitas dermatologis untuk mendapatkan resep krim pelumas/hormonal
b.      Untuk mencegah dispareunia (rasa sakit ketika berhubungan seksual) : gunakan lubrikan yang larut dalam air, seperti
jelly K-Y, krim hromon atau foam kontrasepsi
c.       Memperbaiki otot tonus perineal dan kontrol kandung kemih dengan mempraktikkan latihan Kegel’s setiap hari :
mengkontraksikan otot-otot perineal seperti ketika mnghentikan ketika berkemih, tahan 5-10 detik dan bebaskan.
d.      Untuk mencegah kekeringan kulit : gunakan krim dan lotion kulit
e.      Untuk mencegah osteoporosis : amati asupan kalsium dengan meminum suplemen kalsium dan susu yang dapt
membantu untuk memperlambat proses osteoporosis
f.        Untuk mencegah infeksi saluran kemih : minum 6-8 gelas air setiap hari dan vitamin C(500 mg) sebagai cara untuk
mengurangi infeksi saluran kemih yang berhubungan dengan atrofi uretra
g.      Aktivitas seksual yang sering dapat membantuuntuk mempertahankan elastisitas vagina ( Brunner & Suddarth, 2001)

7.      KOMPLIKASI
1.      Penyakit Jantung Koroner
Keluhan yang mempengaruhi fungsi jantung dan pembuluh darah meliputi : kulit terasa kering, keriput dan longgar
dari ototnya oleh karena turunnya sirkulasi menuju kulit, badan terasa panas termasuk wajah, terjadi perubahan
sirkulasi pada wajah yang dapat melebar ke tengkuk (hot flushes), mudah berdebar – debar terjadi tekanan darah tinggi
yang berlanjut ke penyakit jantung koroner. (Manuaba, 1999)
Adanya hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol menyebabkan meningkatkan faktor resiko terhadap terjadinya
aterosklerosis. Khususnya mengenai sklerosis primer koroner dan infark miocard akan terjadi 1-2 kali lebih sering
setelah kadar estrogen menurun.
2.      Masalah urogenital
-          Katidakmampuan mengendalikan buang air kecil (inkontinensia)
-          Infeksi saluran kemih
3.      Osteoporosis
Dengan turunnya kadar estrogen, maka proses osteoblast yang berfungsi membentuk tulang baru terhambat dan fungsi
osteoclast merusak tulang meningkat. Akibat tulang tua diserap dan dirusak osteoclast tetapi tidak dibentuk tulang baru
oleh osteoblast, sehingga tulang menjadi osteoporosis.
4.      Dimensia
Wanita pascamenopause biasanya kemampuan berfikir dan ingatnnya menurun hal ini merupakan pengaruh dari
menurunnya hormon estrogen, dimana hormon estrogen ini dapat mempengaruhi kerja dari degenerasi sel – sel saraf
dan sel – sel otak. ( Manuaba, 1999)

8.      ASUHAN KEPERAWATAN KLIMAKTERIUM


PENGKAJIAN
Pengkajian yang dilaksanakan pada pasien dengan gangguan masa klimakterium selain
pengkajian secara umum juga dilakukan pengkajian khusus yang ada hubungannya dengan
gangguan masa klimakterium yang meliputi :
1. Haid
a. Menarche
b. Lamanya
c. Banyaknya
d. Siklus
e. Dismenore
2. Riwayat penyakit keluarga
3. Riwayat obstetri
a. Kehamilan
b. Abortus
c. Pemakaian obat kontrasepsi
4. Riwayat perkawinan
5. Kebiasaan hidup sehari-hari
a. Istirahat (tidur)
b. Pola kegiatan
c. Diet
6. Penyakit yang pernah diderita

7. Pengetahuan pasien dan keluarga tentang masalah yang sedang dialami


8. Keluhan-keluhan yang sedang dialami

DIAGNOSA, INTERVENSI, DAN RASIONAL


1.      Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan struktur/fungsi seksual
Tujuan : Klien mengungkapkan disfungsi seksual teratasi setelah diberi tindakan
keperawatan
Dengan kriteria hasil : Nyeri berkurang/hilang saat berhubungan
Intervensi Rasional
Ciptakan lingkungan saling percaya dan kebanyakan klien kesulitan untuk berbicara
beri kesempatan kepada klien untuk tentang subjek sensitive, tapi dengan
menggambarkan masalahnya dalam kata- terciptanya rasa saling percaya dapat
kata sendiri. menentukan/mengetahui apa yang dirasakan
pasien yang menjadi kebutuhannya.
Beri informasi tentang kondisi individu informasi akan membantu klien memahami
situasinya sendiri
Anjurkan klien untuk berbagi komunikasi terbuka dapat mengidentifikasi
pikiran/masalah dengan pasangan/orang area penyesuaian atau masalah dan
dekat. meningkatkan diskusi dan resolusi.
Diskusikan dengan klien tentang mengurangi kekeringan vagina yang dapat
penggunaan cara/teknik khusus saat menimbulkan rasa sakit dan iritasi, sehingga
berhubungan (misalnya: penggunaan meningkatkan kenyamanan dalam
minyak vagina) berhubungan.

Kolaborasi dengan dokter. memulihkan atrofi genetalia, kekeringan


Beri obat sesuai indikasi vagina, uretra
Estrogen pengganti
2.      Gangguan pola tidur berhubungan dengan hot flash
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada klien, pola tidur klien normal.
Dengan kriteria hasil : - Klien tidak sering terbangun saat tidur
-   Palpebra tidak hitam
Intervensi Rasional
Mandiri :
Anjurkan klien untuk memakai pakaian Pakaian yang menyerap keringat
yang menyerap keringat mengurangi ketidaknyamanan akibat
keringat berlebih
Anjurkan klien untuk menghindari makanan Mengurangi rasa tidak nyaman
berbumbu, pedas, dan goreng-gorengan,
alkohol
Anjurkan klien untuk menghindari Menghindari trigger yang mencetuskan hot
beraktivitas di cuaca yang panas flash

Anjurkan klien untuk mencuci muka saat Mengurangi rasa panas dan keringat
hot flashes terjadi berlebih

Kolaborasi :
Pemberian estrogen Penambahan kadar hormon
3.      Kecemasan berhubungan dengan stres psikologis, perjalanan proses penyakit
Tujuan :  Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada klien, cemas berkurang atau hilang
Dengan kriteria hasil:
-            Klien merasa rileks
-            Klien dapat menerima dirinya apa adanya
Intervensi Rasional
Kaji tingkat ketakutan dengan cara Hubungan saling percaya mempermudah
pendekatan dan bina hubungan saling klien dalam megungkapkan perasaannya
percaya
Pertahankan lingkungan yang tenang Lingkungan yang nyaman dan aman dapat
dan aman serta menjauhkan benda- mencegah terjadi hal-hal yang tidak
benda berbahaya diinginkan
Libatkan klien dan keluarga dalam Klien dan keluarga harus dijadikan sebagai
prosedur pelaksanaan dan perawatan subjek, jangan dijadikan sebagi objek

Ajarkan penggunaan relaksasi Teknik relaksasi dapat menurunkan tingkat


kecemasan
Beritahu tentang penyakit klien dan Membantu klien dalam kegiatan mandiri
tindakan yang akan dilakukan secara
sederhana.
4.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
Tujuan:  klien mengungkapkan pengetahuannya bertambah dengan kriteria:
-        Klien tahu penyebab keadaan saat ini
-        Klien dapat menyesuaikan diri dengan keadaannya
-        Klien tidak bertanya-tanya tentang keadaannya
-        Klien tampak ceria
Intervensi Rasional
Kaji tingkat pengetahuan klien tentang menentukan sampai di mana tentang
keadaannya pengetahuan klien tentang keadaannya/proses
menopause
Beri penjelasan tentang proses memberi pengetahuan pada klien tentang
menopause, penyebab, gejala menopause
menopause.
Beri penjelasan pada klien tentang terapi pengganti estrogen tidak mengembalikan
proses pengobatan. siklus haid normal tapi dapat menurunkan/
menghilangkan gejala penyebab dari menopause
seperti: memulihkan atrofi genetalia dan
perubahan dinding uretra, menghilangkan hot
flushes, dll. Terapi progesterone dan estrogen
diberi secara siklik untuk meniru siklus
endometrium.
Diskusikan tentang perlunya meningkatkan kesehatan dan mencegah
pengaturan/diet makanan, penggunaan osteoporosis
suplemen.

EVALUASI
Menurut Doenges (1999), setelah dilakukan implementasi keperawatan maka evaluasi
yang di harapkan untuk pasien dengan klimakterium si antaranya sebagai berikut :
-          Pasien melaporkan perubahan dalam pola tidur/istirahat
-          Pasien mengungkapkan peningkatan rasa sejahtera atau segar
-          Pasien mamapu mempertahankan orientasi realita sehari – hari
-          Pasien mampu mengenali perubahan pola pemikiran dan tingkah laku
-          Pasien menyatakan nyeri berkurang/terkontrol
-          Pasien tampak rileks
-          Pasien mampu melakukan aktivitas
-          Pasien menyatakan masalah dan menunjukkan pemecahan masalah yang sehat
-          Pasien menyatakan penerimaan diri pada situasi dan adaptasi terhadap perubahan pada
citra tubuh
-          Pasien menyatakan pemahaman perubahan fungsi seksual
-          Pasien mampu mendiskusikan masalah tentang hasrat seksual pasangan dengan orang
terdekat
-          Pasien mampu mengidentifikasi kepuasan seksual yang diterima

DAFTAR PUSTAKA
Baziad, Ali. 2003. Menopause dan Andropause. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Pramihardjo
Brunner & Suddarth.2001.   Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
Cris Brooker. 2008. Ensiklopedia Keperawatan. Jakarta : EGC
Doenges, E, Marilyn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : EGC.
Kasdu, Dini. 2002. Kiat Sehat dan Bahagia di Usia Menopause. Jakarta : Puspa Swara
Mansjoer, Arief. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta: Media Aesculapius
Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
Manuaba, Ida Bagus Gde. 1999. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta : Arcan
Price, A. Silvia. 1995. Patofisiologi. Jakarta : EGC
Rebecca Fox-Spencer. 2007. Simple Guide Menopause. Jakarta : Erlangga

PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN PREMENOPAUSE
Premenopause adalah kondisi fisiologis pada wanita yang telah memasuki proses penuaan
(eging) yang ditandai dengan menurunnya kadar hormon estrogen ovarium yang sangat berperan
dalam hal sexualitas. Premenopause sering menimpa wanita yang berusia menjelang 40 tahun ke atas.
Menurut Depkes RI (1993) dan Levina (2002), Menopause adalah perdarahan terakhir dari uterus yang
masih dipengaruhi oleh hormone dari otak dan sel telur.
B.     TANDA DAN GEJALA PREMENOPAUSE
a.       Menstruasi menjadi tidak teratur.
b.      Hot flush (rasa panas di daerah dada, leher, yang menyebar ke wajah sampal kulit
kepala)
c.       Mengalami gangguan tidur, penurunan kesuburan, perubahan mood, perubahan
fungsi seksual, pengeroposan tulang, dan kadar LDL (Low Density Lipoprotein)
menjadi meningkat.
d.      Rasa tegang pada kedua buah dada di luar masa haid dan menurunnya libido
tanpa sebab jelas.
e.       Tubuh sering merasa letih tanpa sebab yang jelas.
f.       Mengeringnya liang sanggama yang berakibat rasa tidak menyenangkan pada
hubungan intim dengan suami.
g.      Lebih sering buang air kecil dibandingkan lima atau sepuluh tahun sebelumnya.
Wanita yang mendekati menopause, produksi hormone ekstrogen, hormon progesterone dan
hormone seks lainnya mulai menurun. Keadaan ini menyebabkan jarang terjadi ovulasi dan menstruasi
tidak teratur, sedikit dengan jarak yang panjang. Menopause berhubungan dengan perubahan hormonal
sehingga wanita mengalami perubahan status fisik dan emosional.
Ketika terjadi menopause akan menimbulkan gejala-gejala yang berbeda pada tiap orang,
meskipun demikian, dapatlah dikatakan bahwa gejala-gejala premenopause merupakan suatu gejala
yang biasa disebut sindrom menopause yang meliputi; ketidak teraturan siklus haid, gejolak panas (Hot
Flushes), keringat di malam hari (night sweat), kekeringan vagina (dryness vaginal), penurunan daya
ingat, kurang tidur (insomnia), rasa cemas (depresi).
Kematangan mental, kedewasaan berfikir, faktor ekonomi, budaya dan wawasan mengenai
menopause akan menentukan berat ringannya seseorang menghadapi kekuatiran saat memasuki masa
menopause. Bila seorang perempuan tidak siap mental menghadapi periode klimakterium atau fase
menjelang menopause dan lingkungan psikososial tidak memberikan dukungan positif akan berakibat
tidak baik. Perempuan itu akan menjadi kurang percaya diri, merasa tidak diperhatikan, tidak dihargai,
stress dan kuatir berkepanjangan tentang perubahan fisiknya, misalnya khawatir fisiknya tidak seindah
dan sesehat ketika muda.

C.    CARA MENGATASI PREMENOPAUSE


Untuk mengatasi gejala-gejala premenopause dan menghilangkan kecemasan dan
kekhawatiran pada saat memasuki masa premenopausea dalah dengan kenali gejala-gejalanya dan
diatasi dengan bijak, antara lain; Pada umumnya wanita mengalami gejala haid tidak teratur,
ketidakteraturan ini disebabkan oleh keadaan hormone yang tidak seimbang yang dapat berupa siklus
haid yang lebih pendek, jarak haid yang tidak teratur atau perdarahan yang banyak yang perlu
diwaspadai karena ada kemungkinan merupakan pertanda adanya suatu yang tidak beres pada tubuh,
misalnya adanya tumor, kanker atau jaringan fibroid yang sering muncul menjelang menopause. Segera
periksakan diri ke dokter untuk memastikan tidak adanya kelainan.
Munculnya gejala hot flushes dan berkeringat di malam hari dapat ditangani dengan menjalani
hidup sehat dan bebas stress. Hidup sehat dengan makan, minum, istirahat dan olah raga yang cukup
dan teratur. Bebas stress dilakukan dengan menjalani hidup penuh dengan ketenangan.
Saat kadar estrogen menurun, maka elastisitas vagina berkurang dan mongering. Melakukan
hubungan seks pun menjadi tidak  nyaman, dan vagina mudah terluka dan iritasi. Untuk mengatasinya
bukan berarti wanita sudah tidak dapat lagi berhubungan seks, justru melakukan hubungan seks
dengan frekuensi yang cukup dapat menghilangkan ketidaknyamanan. Misalnya; menggunakan jeli saat
berhubungan. Hindari pemakaian parfum, tissue, pembalut, sabun tertentu yang akan menambah
kekeringan vagina.
Menjalani hidup sehat dengan cara mengkonsumsi makanan, minuman yang sehat, olah raga
teratur serta istirahat yang cukup merupakan modal bagi masa menopause yang menyenangkan,
perubahan premenopause akan lebih cepat atau lambat dialami setiap orang tidak akan mengalami
kecemasan jika melaksanakan pola hidup sehat dan mengetahui perubahan yang akan terjadi bagi
seseorang yang mau menjalani pre dan post menopause.

D.    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPERCEPAT DATANGNYA PREMENOPAUSE


a.       Merokok
b.      Keturunan
c.       Tidak pernah melahirkan
d.      Pernah mendapatkan kemoterapi ketika masih anak-anak
e.       Melakukan histerektomiatau operasi pengangkatan kandungan (rahim, uterus)
f.       stres.
g.       
E.     PENCEGAHAN PREMENOPAUSE
Perimenopause bukan suatu penyakit yang harus dicegah, tetapi ada beberapa gejala
dan ketidaknyamanan yang dialami sehari-hari bisa dikurangi. Berikut ini adalah beberapa
gejala tersebut:
a.       Kita bisa mengonsumsi pil kontrasepsi (Progestin) untuk mengurangi hot flush
dan gangguan haid. Progestin juga bisa dikonsumsi untuk mengatur haid dan
ablasi endometrium serta mengurangi perdarahan. Untuk melakukan hal ini, kita
harus berkonsultasi dengan dokter.
b.      Menerapkan gaya hidup sehat dengan mengonsumsi makanan rendah lemak,
tinggi serat, tinggi kalsium, makanan yang tinggi kandungan fitoestrogennya,
seperti tempe, tahu, dan produk olahan kedelai lainnya, serta menghindari
konsumsi alkohol. Pola makan tersebut juga diikuti dengan pola hidup yang sehat
dengan melakukan olahraga secara teratur dan beradaptasi dengan stres.
c.       Menerima keadaan peremenopause sebagai suatu rahmat dari Tuhan dan sebagai
keadaan yang harus disyukuri dan bukan keadaan yang tidak disukai karena hal
tersebut akan memperparah gejala-gejala negatif akibat perimenopause ini.

BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
1.      Mengetahui Pengertian Premenopause.
2.      Mengetahui Gejala Premenopause.
3.      Mengetahui Cara Mengatasinya.
4.      Mengetahui Faktor yang Mempercepat datangnya Premenopause

B.     SARAN
1.      Bagi Tenaga Kesehatan
a.       Memberikan penyuluhan  kepada masyarakat tentang pramenopouse.
b.      Memberikan pendidikan kesehatan tentang gejala-gejala pramenopouse.
2.      Bagi Masyarakat
a.       Mengetahuin tentang pramenopause
b.      Mengetahui gejala-gejalanya.

DAFTAR PUSTAKA

Fatur.2010.http://file://pencegahan premenopause,html.
Hasaan,Gunawan.2009.http://file://premenopause-premenopause.html.

Hidayat.2009.http://file://PremenopauseWelcomeLuViLoVeLuluVikarLove29.htm.
Susiana,Pradita. http://www2.search sultsdirect.com.Tanda dan gejala.
Surwono.2010.http://file://Cara mengatasi.html.

SINDROME PERIMENOPAUSE
02/11/2011

BAB I

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG

Sudah merupakan hukum alam bahwa setiap makhluk di dunia ini mengalami proses penuaan. Pada
manusia proses penuaan itu sebenarnya terjadi sejak manusia dilahirkan dan berlangsung terus sampai
mati. Berbeda dengan kaum pria, proses penuaan pada wanita berlangsung lebih “dramatis”, terutama
karena adanya proses reproduksi dalam kehidupannya. Setelah kurang lebih 30 tahun lamanya indung
telur berfungsi menghasilkan telur dan hormon-hormonnya terutama estrogen dan progesteron, maka
pada usia sekitar 40-49 tahun fungsinya akan menurun.

Berkurangnya fungsi indung telur tersebut berlangsung secara berangsur-angsur antara 4-5 tahun. Pada
masa ini, indung telur tidak peka lagi terhadap rangsangan dari otak, sehingga telur tidak dapat
berkembang lagi hingga matang. Dengan demikian jarang terjadi ovulasi (pengeluaran telur) dan akhirnya
berhenti. Indung telur sendiri mengecil dan beratnya berkurang.
Produksi hormon wanita (estrogen) makin lama makin berkurang sehingga haidpun menjadi tidak teratur
dan akhirnya berhenti. Setelah usia 40 tahun seorang wanita memasuki fase klimakterium, yang berasal
dari kata climacter yang berarti tahun-tahun peralihan.
Klimakterium atau usia mapan, berlangsung dari saat premenopause (kira-kira umur 40 tahun) yaitu pada
masa dimana ovarium berangsur-angsur menurun fungsinya dan berakhir sekitar usia 55 tahun. Pada usia
sekitar 49 tahun terjadi menopause (mati haid). 1

Menopause merupakan salah satu fase dari kehidupan normal seorang wanita. Pada masa menopause
kapasitas reproduksi seorang wanita berhenti. Ovarium tidak lagi berfungsi, produksi hormon steroid dan
peptida berangsur-angsur hilang dan terjadi sejumlah perubahan fisiologik. Sebagian disebabkan oleh
berhentinya fungsi ovarium dan sebagian lagi disebabkan oleh proses penuaan. Banyak wanita yang
mengalami gejala dan keluhan akibat perubahan tersebut di atas. Gejala dan keluhan tersebut biasanya
berangsur-angsur menghilang. Walaupun tidak menyebabkan kematian, namun menimbulkan rasa tidak
nyaman dan kadang-kadang menyebabkan gangguan dalam pekerjaan sehari-hari.

Perubahan lain yang terjadi pada wanita menopause adalah perubahan yang terjadi pada sistem skeletal
(tulang) dan kardiovaskular berupa osteoporesis dan penyakit jantung dan pembuluh darah. Keadaan ini
merupakan salah satu hal yang harus ditanggulangi dalam program asuhan kesehatan wanita. 2,5

II.  DEFINISI

   Premenopause       :  masa antara usia 40 tahun dan dimulainya siklus haid yang tidak teratur.

   Perimenopause (klimakterium)  :           Masa     perubahan     antara     premenopause     dan menopause,


ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur dan disertai pula dengan perubahan-perubahan fisiologik,
termasuk juga masa 12 bulan setelah menopause.

   Menopause:      Haid terakhir yang masih dikendalikan oleh fungsi hormon ovarium.

Pasca menopause :  Amenorea 12 bulan (12 bulan setelah menopause) ditandai dengan kadar LH dan FSH
yang tinggi serta kadar estrogen dan progesteron yang rendah.

   Menopause Prekok :  Menopause sebelum usia 40 tahun.

 
III. FISIOLOGI

Dengan adanya perimenopause dan mengerti gejala-gejala yang menyertai periode ini, kualitas hidup
wanita perimenopause dapat diperbaiki dengan baik. Meskipun perimenopause mempunyai pengaruh
medis, perimenopause sendiri belum dapat dikenali secara keseluruhan. Sebagian besar wanita hanya
mengetahui tentang menopause saja. Ketika wanita mengeluh adanya gejala-gejala pada usia 40 tahunan
dengan haid yang masih teratur, mereka sering salah menginterpretasikan gejala-gejala tersebut.
Perubahan pada kondisi ini dimulai dengan meningkatnya populasi wanita usia 40-45 tahun. Sekitar 16
juta wanita di AS berumur antara 40-54 tahun dan dengan perubahan waktu jumlah ini akan mencapai 19
juta orang.

Diagnosa dan tersedianya penanganan yang sesuai untuk gejala-gejala perimenopause tidak hanya
memperbaiki kualitas hidup pasien selama beberapa tahun sebelum haidnya berhenti, tapi juga mereka
akan kelihatan menjadi lebih aktif dan akan setuju dengan terapi sulih hormon selama masa menopause.

Tidak seperti menopause yang secara tepat didefinisikan sebagai 12 bulan sesudah haid berakhir, waktu
untuk perimenopause masih belum jelas. Sama halnya dengan terjadinya peningkatan absolut dari FSH
dan penurunan dramatis dari estradiol didefinisikan sebagai menopause, sedangkan perimenopause
ditandai dengan fluktuasi dari hormon yang didefinisikan sebagai “irregularly irregular”.

Menurut WHO: definisi perimenopause adalah 2-8 tahun sebelum menopause dan 1 tahun setelah
berakhirnya haid. Definisi kerja yang lebih baik seperti yang dikatakan Dr. Bachman dkk pada suatu
seminar perimenopause, yaitu suatu fase sebelum menopause yang umumnya terjadi antara umur 40-50
tahun, dimana terjadi transisi dari siklus haid yang teratur menjadi suatu bentuk siklus yang tidak teratur
dan periode amenore yang berhubungan dengan perubahan hormonal.

Perimenopause merupakan hal yang terjadi individual. Tidak ada 2 orang wanita yang mempunyai
pengalaman atau waktu perimenopause yang sama. Tidak banyak penelitian yang dilakukan untuk
mengetahui variasi dari lamanya perimenopause, tetapi baik McKinlay maupun Trealor menyatakan
lamanya ± 4 tahun dengan durasi berkisar 2-8 tahun. Secara klinik durasinya bisa saja 10 tahun.
Perubahan dari masa ovarium sepanjang kehidupan secara keseluruhan dipengaruhi oleh umur dan
perubahan-perubahan ini telah diperlihatkan secara jelas dalam suatu penelitian oleh Tevilla, dimana telah
diautopsi 706 pasang ovarium. Tervilla menunjukkan bahwa berat ovarium meningkat secara perlahan
dalam awal perkembangannya, kemudian menurun secara tajam sesudah umur 35 tahun. Penurunan masa
ovarium ini menjadi lebih cepat setelah umur 45 tahun. Pengurangan folikel primer dari ovarium terjadi
secara terus-menerus mulai dari kehidupan fetus sampai periode menopause. Pemeriksaan histologi dari
ovarium wanita perimenopause menunjukkan sejumlah pengurangan dari folikel primer, jarang pada
folikel skunder atau folikel Graff maupun korpus luteum (gambar 2). Penelitian siklus haid selama
perimenopause menunjukkan bahwa interval intermenstruasi kurang berarti sebelum onset dari siklus haid
dengan jelas berhubunngan dengan stadium lanjut dari perimenopause. Dilaporkan terjadi pengurangan 3
hari dalam interval intermenstruasi seorang wanita. Percepatan folikulogenesis merupakan penyebab dari
proses ini. Dibandingkan dengan wanita muda, level FSH meningkat pada wanita perimenopause. Ini
dapat diartikan sebagai kompensasi akibat menurunnya folikel ovarium atau sebagai akibat menurunnya
sekresi dari inhibin.

Pengukuran FSH dan estradiol yang sangat bervariasi selama periode ini dan nilai kliniknya yang terbatas,
tidak begitu penting untuk proses diagnostik. Kadar LH yang bervariasi dan kurang bernilai dalam
mendiagnosis perimenopause. Kadar FSH dapat berguna dalam menilai fertilitias wanita perimenopause
yang ingin hamil. Kadar FSH diukur pada hari ke-3 dari siklus haid yang dapat memperkirakan fungsi dari
ovarium dan cadangan folikel. Jika kadar FSH <20 mIU/ml, kehamilan masih mungkin terjadi; jika
kadarnya antara 20-30 mIU/ml kecil kemungkinan terjadi kehamilan dan kadar FSH 30 mIU/ml
menunjukkan ovarium mengalami menopause dan tidak mungkin terjadi hamil.

Klimakterik merupakan terminologi umum untuk masa transisi dari usia reproduktif  ke masa
paskareproduktif dalam kehidupan seorang wanita. Menurut WHO definisi natural menopause sebagai
berhentinya haid secara permanen sesudah 12 bulan amenorea tanpa penyebab fisiologi atau patologi lain.
Berhentinya haid sebagai akibat dari berkurangnya cadangan folikel ovarium dan menurunnya fungsi dari
ovarium itu sendiri yang mengakibatkan produksi estrogen dan stimulasi lapisan endometrium berkurang.
Dari analisis data secara longitudinal menyatakan bahwa kemungkinan untuk haid spontan pada semua
wanita yang telah mengalami amenorea selama 12 bulan kurang dari 2%. Selama perimenopause ovulasi
terjadi secara tidak teratur karena fluktuasi hormon yang dipengaruhi aksis hipotalamus-pituitari-ovarium.
Sebagai contoh, pada wanita yang mengalami perimenopause dengan cepat, kadar inhibin B menurun
sehingga kadar FSH meningkat tanpa perubahan berarti  pada kadar inhibin A atau estradiol. Kadar FSH
dapat naik selama beberapa siklus tetapi kembali pada kadar premenopause pada siklus berikutnya. Sama
halnya juga konsentrasi estradiol juga dapat menurun atau kadang meningkat selama perimenopause.
Bervariasinya nilai hormonal ini menyulitkan interpretasi terhadap hasil dari satu uji laboratorium.

III. GEJALA-GEJALA PERIMENOPAUSE

Bentuk dari gejala-gejala merupakan dasar diagnosis perimenopause. Gejala-gejala yang ada sangat
bervariasi diantara wanita-wanita. Oleh karena itu diperlukan pendekatan secara individual dalam
penilaian dan pengobatan.

1. Gambaran ringkas dari gejala-gejala perimenopause.

A.  Perubahan pola haid

a.   Siklus menjadi pendek (2-7 hari) :

–  Siklus memanjang

–  Haid tak teratur

b.   Perubahan bentuk perdarahan

–  Mula-mula banyak (akibat siklus anovulatoar) kemudian menjadi

sedikit

–  Spotting

–  Perdarahan yang banyak, lama atau perdarahan intermenstrual

B.  Ketidakstabilan vasomotor

–     Hot flushes

–     Keringat malam

–     Gangguan tidur

C.  Gangguan psikologis/kognitive

–     Depresi

–     Irritabilitas

–     Perubahan mood

–     Kurang konsentrasi, pelupa.

D.  Gangguan seksual

–     Kejadian gangguan seksual pada wanita perimenopause bervariasi dan meningkat dengan
bertambahnya umur.

–     Gejala-gejala berupa; berkurangnya lubrikasi vagina, menurunnya libido, dispareuni dan vaginismus.
E.   Gejala-gejala somatik

–     Sakit kepala

–     Pembesaran mammae dan nyeri

–     Palpitasi

–     Pusing

A.     Perubahan pola haid

Gejala yang paling umum pada wanita perimenopause adalah perubahan dari pola haid. Lebih dari 90%
wanita perimenopause akan mengalami perubahan dalam siklus haid. Siklus yang memendek antara 2-7
hari sangatlah khas. Sebagai contoh, wanita dengan siklus haid yang teratur antara 25-35 hari selama usia
20-30 tahun akan mengalami siklus haid lebih sering terutama disebabkan oleh memendeknya fase folikel.
Siklus haid yang sebelumnya menetap tiap 28 hari akan menjadi siklus 25 atau 26 hari dan pada waktu
terjadi perimenopause kejadian oligomenore meningkat.

Perdarahan yang tidak teratur dapat terjadi karena tidak adekuatnya fase luteal atau sesudah puncak
estradiol yang tidak diikuti ovulasi dan pembentukan korpus luteum. Pemanjangan siklus mungkin juga
terjadi seperti halnya haid yang tidak teratur. Banyak juga wanita yang mengalami perubahan dalam
banyaknya perdarahan. Perdarahan biasanya lebih banyak pada awal perimenopause yang disebabkan oleh
siklus anovulasi. Kemudian menjadi lebih sedikit. Beberapa wanita dilaporkan mengalami spotting 1 atau 2
hari segera sebelum haid. Kombinasi dari spotting, siklus haid yang pendek dan perdarahan yang banyak
memberikan kesan secara subjektif wanita tersebut “selalu berdarah”. Meskipun perdarahan tidak teratur
sangat umum dan dianggap normal selama perimenopause, berat dan lamanya perdarahan atau
perdarahan diantara siklus haid bukanlah hal yang normal. Adanya perdarahan mengharuskan klinikus
untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, sepeti biopsi endometrium untuk menegakkan diagnosis,
terutama untuk penderita dengan faktor risiko yang lain untuk terjadinya karsinoma endometrium seperti
oligoovulatoar, obesitas atau riwayat infertilitas.

Untuk kasus-kasus yang dicurigai, sebelum melakukan biopsi, mungkin berharga bila ditanyakan pada
penderita riwayat perdarahan secara lengkap untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat mengenai
pola perdarahan. Tanda awal dari perimenopause adalah perubahan pada pola perdarahan haid. Keadaan
ini diakibatkan defisiensi atau berfluktuasinya estrogen dan progesteron. Didapatkan sekitar 33% dari
seluruh konsultasi ginekologi berhubungan dengan perdarahan abnormal, dan meningkat menjadi 69%
pada wanita perimenopause dan postmenopause. Penelitian klinik pada wanita perimenopause
menunjukkan bahwa lebih kurang 90% wanita selama perimenopause mengalami ketidakteraturan haid;
hanya 10-12% dari wanita premenopause yang mengalami amenore mandadak.

Insiden kelainan organik pada uterus mencapai puncaknya pada saat perimenopause. Oleh karena siklus
haid pada periode ini kemungkinan anovulatoar, risiko untuk terjadinya hiperplasi endometrium
akibat unopposed estrogen menjadi lebih tinggi.

B.     Ketidakstabilan vasomotor

Gangguan vasomotor merupakan gejala kedua pada wanita perimenopause. Lebih kurang 85% dari wanita
perimenopause mengalami hot flushes, keringat malam dan gangguan tidur yang merupakan gejala dari
ketidakstabilan vasomotor. Intensitas, lamanya serta frekuensi dari gejala tersebut sangat bervariasi.
Kadang kala seorang wanita mengalami 40 kali hot flushes setiap hari dan badan basah kuyub oleh
keringat malam, beberapa yang lain mengalami 1-2 kali perhari dan merasa sangat susah dan terganggu.
Hot flushes selama perimenopause, temperatur jari-jari mengalami peningkatan kira-kira 3,1     ± 0,30C
dan peningkatan ini menetap untuk selama lebih kurang 44 menit. Mekanisme terjadinya hot flushes ini
belum diketahui secara lengkap. Meskipun terjadi perubahan dalam termoregulasi, imunoreaktif
neurotensin, katekolamin dan LH semuanya ditemukan selama hot flushes, penurunan estradiol
merupakan faktor yang lebih dipercaya. Hot flashes merupakan sensasi mendadak terhadap rasa panas,
berkeringat dan kemerahan yang lebih sering terjadi pada muka,leher dan dada. Chill, clammines dan
ansietas juga sering menyertai hot flashes. Lamanya hot flashes umumnya 1-5 menit dan hanya 6% yang
mengalami >6 menit. Gejala ini lebih banyak dialami oleh wanita di Amerika Utara, Eropa dan Australia
sekitar 50-85% dan terjadi secara periodik selama 1-5 tahun. Hanya 10-20% wanita Indonesia dan 10-25%
wanita China yang mengalami hot flashes.

C.     Gangguan tidur

Beratnya gangguan tidur bervariasi dan sering dikeluhkan oleh wanita pada masa perimenopause.
Gangguan tidur bervariasi secara luas dan dapat menjadi kronik atau sementara. Beberapa pola umum
gangguan tidur diantaranya :

–     Susah untuk jatuh tidur

–     Terbangun tengah malam dan sukar untuk kembali tidur

–     Bangun pagi lebih awal dan tidak mampu untuk tidur kembali.

Kesulitan tidur dapat mempengaruhi kualitas hidup secara serius, mengakibatkan kelelahan, insomnia,
depresi, iritabilitas dan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi. Harus dapat dibedakan apakah gangguan
tidur tersebut skunder akibat hot flushes malam hari, berhubungan dengan depresi atau timbul karena
faktor lain, seperti:

–     Gangguan hipotalamus; hampir selalu menyebabkan tidur yang terlambat.

–     Kebiasaan sehari-hari seperti tidur sebentar atau jadwal tidur yang tidak teratur, sehingga
menyebabkan gangguan tidur tengah malam.

–     Stimulan seperti kafein, alkohol, nikotin dan beberapa obat; hal lain yang dapat mengakibatkan
gangguan tidur seperti sakit, ansietas dan gangguan emosional.

–     Gangguan fisik seperti nyeri artritis, mengakibatkan kesulitan memulai atau mempertahankan tidur.

–     Nokturia yang mengakibatkan sering terbangun.

Gangguan tidur yang sangat umum pada perimenopause adalah memanjangnya keterlambatan tidur (saat
mulai berbaring sampai benar-benar jatuh tertidur). Normalnya periode ini tidak lebih dari 10 menit.

D.     Gangguan seksual

(Obstet Gynecol) Selama masa transisi ke menopause, dimana kadar estrogen menurun, frekuensi
gangguan seksual dilaporkan meningkat. Kejadian gangguan ini cenderung meningkat sesuai dengan
bertambahnya umur.

Gejala-gejala dari gangguan seksual ini antara lain : berkurangnya lubrikasi vagina, menurunnya libido,
dispareuni dan vaginismus. Perubahan ini harus dijelaskan karena banyak dari para wanita tidak
mengetahui adanya pengaruh hormonal. Mereka harus diyakinkan dan belajar bahwa perubahan-
perubahan tersebut merupakan bagian normal pada masa transisi perimenopause.

1.   Kekeringan vagina (vaginal dryness)


Vaginal dryness kadang-kadang dialami akibat berkurangnya produksi estrogen selama perimenopause.
Keadaan ini dapat menyebabkan atropi urogenital dan perubahan dalam kuantitas dan komposisi sekresi
vagina. Perkiraan prevalensi           vaginal dryness diantara wanita perimenopause lanjut antara 18-21%.

2.   Keinginan seksual yang berubah

Dennerstein dkk melaporkan dalam penelitian di Australia, meskipun sebagian besar wanita tidak
menunjukkan perubahan dalam   sexual interest selama menopause, sebanyak 31% mengalami penurunan
seksual dan 7% sexual interest-nya meningkat. Hanya 6% dari wanita yang mengalami penurunan seksual
tersebut mengatakan menopause sebagai alasan. Penurunan ini mungkin disebabkan oleh faktor fisiologi
yang membuat hubungan seks menjadi sulit (seperti vaginal dryness, hot flashes, inkontinensia urine)
atau oleh faktor sosial dan lingkungan.
E.      Sindroma urogenital

Secara embrional uretra dan vagina sama-sama berasal dari sinus urogenital dan duktus Muller. Selain itu
pula, di uretra dan vagina banyak dijumpai reseptor estrogen, sehingga kedua organ tersebut mudah
mengalami gangguan begitu kadar estrogen serum mulai berkurang. Gangguan–gangguan tersebut dapat
berupa berkurangnya aliran darah, turgor dan jaringan kolagen. Kekurangan estrogen juga dapat
menyebabkan mitosis sel dan pemasukan asam amino ke dalam sel berkurang.

Pada vulva terjadi atropi sel, epitel vulva menipis. Dijumpai fluor dan perdarahan subepitelial (kolpitis
senilis), vagina menjadi kering, mudah terjadi iritasi dan infeksi.

Pada uretra sel-selnya juga mengalami atropi. Pada uretra tampak otot yang menonjol keluar seperti
prolaps yang kadang-kadang disalahartikan sebagai “prolaps uretra”. Stenosis uretra sering juga
ditemukan. Stenosis uretra, atropi sel-sel epitel kandung kemih dapat menimbulkan keluhan “Reizblase”
(iritabel vesika) atau sindroma uretra berupa polakisuria, disuria bahkan dapat timbul gangguan berkemih.

Di negara-negara barat pengaruh inkontinensia urine pada wanita usia pertengahan antara 26-55%. Kadar
estrogen yang rendah menyebabkan mukosa uretra dan trigonum menjadi atropi sehingga kontrol
berkemih menjadi lemah.

F.      Gangguan Psikologi/kognitif

Gejala-gejala psikologi dan kognitif seperti depresi, iritabilitas, perubahan mood, kurangnya konsentrasi
dan pelupa juga ditemukan pada banyak wanita perimenopause. Banyak wanita menggambarkan gangguan
ini sebagai “perimenopause berat”. Seperti diketahui bahwa kejadian depresi kira-kira 2 kali lebih sering
pada wanita dibandingkan pria. Risiko depresi mayor adalah 7-12% untuk pria dan 20-25% untuk wanita.
Usia rata-rata terjadinya depresi adalah 40 tahunan.

Data laboratorium menyatakan bahwa hormon ovarium sangat berkhasiat, dimana sinyal kimiawi perifer
secara umum mempengaruhi aktivitas neuronal. Perubahan level estrogen dan progesteron menunjukkan
sejumlah pengaruh neurotransmiter SSP seperti dopamin, norepinefrin, asetilkolin dan serotonin yang
kesemuanya diketahui sebagai modulator untuk mood, tidur, tingkah laku dan kesadaran.

Selama perimenopause, fluktuasi hormon terutama fluktuasi estrogen dapat mengubah level
neurotransmiter di SSP yang dapat

mempengaruhi tidur, daya ingat dan mood. Penting sekali untuk membedakan perubahan mood karena
pengaruh hormon dengan kelainan depresi mayor. Pada pasien tanpa riwayat depresi, terapi sulih hormon
harus dipertimbangkan.

G.     Gejala-gejala somatik

Beberapa gejala somatik yang sering terjadi selama perimenopause antara lain; sakit kepala, pusing,
palpitasi serta payudara yang membesar dan nyeri. Dari semua keluhan-keluhan di atas, harus diyakinkan
bahwa gejala-gejala tersebut umum terjadi dan bersifat fisiologis.

Pengobatan yang dilakukan bersamaan dengan pendidikan dan suportif harus dilakukan pada awal
timbulnya gejala. Sekarang ini terapi farmakologi dan nonfarmakologi sudah tersedia. Tidak ada alasan
untuk mengatakan bahwa tidak ada pengobatan bagi wanita pada masa perimenopause, sebab mereka
masih menghasilkan estrogen. Dalam banyak kasus, meyakinkan bahwa gejala-gejala tersebut adalah hal
yang nyata dan tidak mengancam kehidupan mungkin sudah cukup. Tetapi, jika dianggap penting,
pengobatan tidak harus ditunda.

H.     Fertilitas

Gambaran hormonal pada wanita perimenopause bervariasi dengan luasnya secara individual dan waktu.
Pilihan terapi hormonal pada perimenopause tergantung pada keadaan hormonal pasien. Banyak
penelitian mengatakan perlunya terapi kombinasi dengan estrogen dan progestogen pada perimenopause.
Wanita pada masa ini akan mengalami periode iregular dan interval amenorea, tetapi ovarium mereka
tetap menghasilkan estrogen. Sensitivitas hipotalamus menurun terhadap umpan balik negatif estrogen
ovarium karena penurunan yang progresif sejumlah folikel dan menurunnya sekresi inhibin yang
merupakan kontrol selektif untuk FSH. Masa ini juga ditandai oleh hormonal oscillation sehingga
seorang wanita mempunyai gejala-gejala menopause dalam 1 bulan dan bulan berikutnya dengan siklus
berovulasi dan menjadi risiko untuk terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan. Limapuluh persen wanita
berumur 40-an masih berpotensi untuk subur dan kehamilan pada kelompok umur ini disertai dengan
mortalitas ibu yang meningkat, abortus spontan, kelainan fetus dan mortalitas perinatal. Risiko kehamilan
kira-kira 10% pada umur 40-44 tahun, 2-3% untuk umur 45-49 tahun dan risiko tidak menjadi nol untuk
wanita lebih dari 50 tahun.

I.       Osteoporosis (Panduan menopause)

Kekurangan hormon estrogen akan dapat menyebabkan hilangnya massa tulang. Akibatnya dapat terjadi
osteoporosis yang akhirnya akan membuat tulang mudah patah. Osteoporosis adalah penyakit rapuh
tulang usia 50 tahun/lebih yang ditandai dengan berkurangnya densitas tulang. Pada wanita proses
penyusutan tulang lebih besar dibandingkan pria, karena tulang wanita sangat dipengaruhi oleh estrogen.
Penyusutan terjadi sekitar 3% pertahun dan akan berlangsung terus hingga 5-10 tahun pasca menopause.
Sepanjang hidup seorang wanita, total jarinngan tulang yang menyusut sekitar 40-50%, sedangkan pada
laki-laki hanya 20-30%. Selain digunakan sebagai pengobatan, estrogen juga dapat digunakan sebagai
pencegahan osteoporosis. Bagaimanapun pencegahan adalah lebih baik daripada pengobatan, karena biaya
pengobatan untuk osteoporosis cukup besar. Di Amerika Serikat biaya perawatan patah tulang akibat
osteoporosis pertahun mencapai 20-30 triliyun rupiah. Untuk dapat mencegah terjadinya osteoporosis,
maka estrogen diberikan begitu seorang wanita memasuki usia menopause dan terus berlanjut sampai 5-10
tahun pasca menopause.

J.       Kelainan kardiovaskular (Warren & Kulak)

Kelainan kardiovaskular menjadi penyebab utama kematian dan kesakitan pada wanita menopause.
Penyebab lain berturut-turut adalah patah tulang, kanker payudara dan kanker endometrium. Pada tahun
2000, 38% wanita di Amerika Serikat berumur 45 tahun atau lebih, pada tahun 2015 proporsi ini akan
meningkat menjadi 45%. Satu dari sembilan wanita berumur 45-64 tahun menderita berbagai macam
penyakit kardiovaskular dan setelah 65 tahun rasionya meningkat menjadi 1 banding 3. Kira-kira 40%
penyakit koroner pada wanita berakibat fatal dan 67% dari semua kematian mendadak yang terjadi pada
wanita tersebut tanpa riwayat penyakit jantung koroner. Mereka kehilangan daya tahan terhadap penyakit
jantung koroner akibat berkembangnya menopause, dan meningkatnya insiden penyakit ini bukan karena
perubahan gaya hidup atau faktor risiko tetapi karena perubahan lipoprotein yang terjadi pada menopause.

Pada wanita menopause HDL kolesterol adalah satu indikator untuk terjadinya penyakit jantung koroner,
dimana untuk setiap peningkatan 10 mg/dL risiko akan menurun sampai 50%. Trigeliserida juga
merupakan faktor risiko penting untuk penyakit jantung koroner, dimana terjadi peningkatan penyakit
jantung jika kadar trigeliserida meningkat dan kadar HDL yang rendah. Banyak bukti yang mengatakan
bahwa pengaruh kardioprotektif dari terapi pengganti estrogen adalah pada kadar lipid serum. Wanita
postmenopause yang mempunyai kadar HDL kolesterol kurang dari 46 mg/dL mempunyai risiko 6 kali
lipat untuk terjadi penyakit jantung koroner dibandingkan dengan wanita dengan kadar HDL kolesterol
lebih dari 67 mg/dL.

III. EVALUASI PERIMENOPAUSE

(JAMA) Penilaian dapat dibagi dalam 5 kategori dasar :

A.  Penilaian sendiri.

Harus ditanyakan kapan seorang wanita pertama kali merasakan adanya gejala-gejala menopause. Hal ini
harus berdasarkan persepsi mereka dengan adanya kekhawatiran akibat perubahan pada tubuh mereka.
Dalam suatu penelitian cross-sectional, Garamszegi dkk melaporkan bahwa menopause lebih berhubungan
dengan gejala-gejala dibandingkan dengan perubahan siklus haid.

B.  Gejala-gejala
Gejala klimakterik terutama merupakan keluhan vasomotor seperti hot flashes dan keringat malam. Gejala
lain adalah akibat berfluktuasinya kadar hormon estrogen dan progesteron seperti vaginal dryness,
keinginan seksual yang berubah, inkontinensia urine, depresi, ketegangan syaraf dan iritabilitas serta
gangguan tidur.

C.  Riwayat medis dan riwayat keluarga

1.   Usia menopause orang tua.

Faktor genetik tampaknya menjadi faktor predisposisi bagi wanita untuk mengalami menopause lebih
cepat. Torgerson dkk melaporkan terjadinya  premature menopause dan early menopause karena usia
menopause ibu yang lebih muda dibandingkan usia menopause ibu yang normal. Penelitian     case-
control oleh Cramer dkk di Boston menemukan bahwa wanita dengan riwayat keluarga (seperti ibu, kakak,
bibi, nenek) yang mengalami menopause sebelum usia 46 tahun berisiko tinggi untuk terjadi menopause
yang lebih cepat (early menopause).

2.   Merokok.

Telah dibuktikan bahwa merokok menyebabkan menopause terjadi 1- 2 tahun lebih cepat dibandingkan
tidak merokok. Beberapa penelitian mendukung bahwa assertion dan quittingmerokok secara signifikan
memperlambat menopause. Bukti lain mengatakan bahwa usia rata-rata menopause secara statistik tidak
berbeda antara yang tidak pernah merokok dengan eks-perokok. Sebagian besar penelitian terhadap rokok
dan menopause mengatakan adanya hubungan dosis-respon antara jumlah rokok yang dihisap dan usia
menopause.

3.   Status histerektomi

Sering diasumsikan bahwa wanita yang menjalani histerektomi dengan  conservation pada ovarium tidak
akan mengalami gejala menopause lebih cepat atau lebih berat akibat histerektomi tersebut. Nonetheless,
bukti-bukti menunjukkan bahwa wanita denganconservation ovarium pada histerektomi mengeluh
adanya gangguan vasomotor yang lebih banyak, vaginal dryness dan keluhan-keluhan lain dibandingkan
dengan wanita yang tidak menjalani histerektomi. Pada negara-negara maju, histerektomi merupakan
operasi yang sering dilakukan pada wanita dewasa; sepertiga wanita Amerika menjalani histerektomi pada
usia 65 tahun.

D.  Tanda-tanda Fisik.

1.   Indeks maturasi

Penilaian terhadap defisiensi estrogen vagina adalah evaluasi terhadap indeks pematangan epitel vagina.
Prosedur ini dilakukan dengan cara pengambilan sel pada batas atas dan sepertiga tengah dinding samping
vagina menggunakan sikat. Dibuat slide dan dilakukan pengecatan dengan tehnik Papanicolaou kemudian
persentase dari sel parabasal, intermediat dan superfisialis dihitung. Meskipun indeks maturasi berubah
secara bermakna setelah terapi pengganti estrogen, diagnosis tidak dapat membandingkan indeks maturasi
dengan karakteristik siklus haid.

2.   pH vagina

Beberapa peneliti mengatakan bahwa peningkatan pH vagina (6,0-7,5) dimana tidak ditemukan bakteri
patogen menjadi alasan adanya penurunan kadar estradiol serum. Uji ini dilakukan secara langsung
dengan kertas pH pada dinding lateral vagina. Perubahan pH dapat diakibatkan oleh berubahnya
komposisi dari sekresi vagina yang menyertai atropi.

3.   Ketebalan kulit

Estrogen menstimulasi pertumbuhan epidermal dan promotes pembentukan kolagen dan asam


hialuronik sehingga turgor dan vaskularisasi kulit bertambah. Selama klimakterik, berkurangnya kadar
estrogen mengakibatkan epidermis menjadi tipis dan atropi.

E.   Uji laboratorium


1.   Pengukuran FSH

Pengukuran kadar plasma FSH telah dilakukan untuk mencoba mengidentifikasi wanita perimenopause
dan postmenopause. Kadar FSH yang tinggi menunjukkan telah terjadi menopause yang terjadi pada
ovarium. Ketika ovarium menjadi kurang responsif terhadap stimulasi FSH dari kelenjar pituitari
(produksi estrogen sedikit), kelenjar pituitari meningkatkan produksi FSH untuk mencoba merangsang
ovarium menghasilkan estrogen lebih banyak. Bagaimanapun, banyak klinikus dan peneliti meragukan
nilai klinik dari pengukuran FSH pada wanita perimenopause dimana kadar FSH
berfluktuasi considerablysetiap bulan yang tergantung pada adanya ovulasi.

2.   Estradiol

Penelitian longitudinal akhir-akhir ini melaporkan bahwa wanita dengan  early perimenopause(perubahan


dalam frekuensi siklus) kadar estradiol premenopause terjaga sedangkan pada  perimenopause lanjut
(tidak haid dalam 3-11 bulan sebelumnya) dan wanita postmenopause  terjadi penurunan secara bermakna
dari kadar estradiol. Estradiol dapat diukur dari plasma, urine dan saliva. Seperti halnya FSH, kadar
estradiol mempunyai variasi yang tinggi selama perimenopause.

3.   Inhibin

Inhibin A dan inhibin B disekresikan oleh ovarium dan seperti estradiol, exert umpan balik negatif
terhadap kelenjar pituitari, menurunkan sekresi FSH dan LH. Kurangnya inhibin menyebabkan
peningkatan FSH yang terjadi pada ovarium senescence. Kadar inhibin B menurun pada perimenopause
sedangkan inhibin A tidak mengalami perubahan. Inhibin A akan menurun pada saat sekitar haid akan
berhenti. Kadar inhibin biasanya diukur dari plasma. Ovarium menghasilkan inhibin B lebih sedikit karena
hanya sedikit folikel yang menjadi matang dan sejumlah folikel berkurang karena umur.

IV. DIAGNOSA

•     Usia penderita 40-65 tahun

•     Tidak haid lebih dari 6 bulan

•     Keluhan klimakterik (+)

•     FSH >20 IU/mL

•     Estradiol <50pg/mL

•     Sitologi vagina

•     Densitometer

•     USG transdermal

V.  PENGOBATAN

Periode meno pause telah dikenal sebagai masa dimana terdapat perubahan fisiologis yang dramatis. Pada
periode ini faktor-faktor risiko penting dapat berkembang dengan percepatan penyakit seperti
osteoporesis. Gejala-gejala pada menopause seperti perdarahan uterus harus didiagnosa dan ditangani
secara tepat. Terdapat perbaikan kualitas hidup secara berarti dengan pengobatan terhadap gejala-gejala
perimenopause. Perbaikan pengobatan tersebut meliputi hot flashes, gangguan tidur, kelelahan
dan moodiness. Gejala dapat diobati sebelum haid berhenti; menunggu sampai haid berhenti baru
kemudian diobati tidak mempunyai dasar fisiologi. Jika penderita masih dalam siklus, estrogen dosis
rendah dengan progesteron dapat digunakan secara sinkron. Sebagai alternatif, kontrasepsi oral dosis
rendah dapat digunakan dan kadang-kadang estrogen dosis rendah tanpa progesteron dapat mengobati hot
flashes dengan efektif pada wanita yang tampak masih berovulasi.

Wanita dengan haid yang tak teratur harus dievaluasi adanya hiperplasia endometrium; ketidakteraturan
sering disebabkan oleh siklus anovulasi dan dapat diobati dengan progesteron untuk mnecegah perdarahan
yang memanjang. Kontrasepsi oral juga dapat mengobati masalah ini dengan efektif, meskipun kandungan
hormon pada pil ini lebih besar dari dosis hormon pengganti. Morbiditas utama selama perdarahan pada
masa perimenopause karena anovulasi atau adanya fibroid atau polip. Meskipun anovulasi akan berespon
terhadap pengobatan, lesi pada uterus seperti fibroid atau polip akan menjadi parah dengan terapi
hormonal. Masalah lain yang dapat diobati dengan efektif pada periode perimenopause adalah sakit kepala
migren. Gejala ini sering dicetuskan oleh menurunnya dan berfluktuasinya kadar estrogen terutama pada
perimenopause. Penggunaan estrogen dosis rendah yang ditempel dapat membantu mencegah fluktuasi
hormon pada periode ini.

Onset penyakit kronis seperti osteoporesis dimulai pada masa menopause. Terdapat kehilangan substansi
tulang sebelum menopause, disarankaan agar pasien yang berisiko harus diobati selama perimenopause.
Sebagai tambahan, periode transisi yang panjang menjadi faktor risiko untuk terjadinya osteoporesis.
Intervensi menjadi bentuk pengobatan untuk menjaga agar kadar estrogen normal, seperti digariskan di
atas. Wanita perimenopause juga kehilangan pengaruh kardioprotektif penting karena menurunnya kadar
estrogen. Terdapat pengaruh vasodilatasi pada arteri koronaria begitu juga pengaruh terhadap lipid. Terapi
sulih hormon merupakan suatu intervensi untuk pasien yang menderita angina dan palpitasi jantung.

Perimenopause telah dikenal lebih jauh sebagai bagian terpisah dalam proses menopause. Kenyataannya,
perimenopause mungkin lebih penting dalam hal gejala-gejalanya daripada periode postmenopause awal
ataupostmenopause lanjut. Kejadian fisiologis ini memberikan kesempatan pada klinikus untuk melakukan
pemeriksaan dalam program kesehatan pencegahan yang akan memelihara atau memperbaiki kualitas
hidup mereka.

SATUAN ACARA PENYULUHAN


(SAP)

        I.            IDENTIFIASI MASALAH


Pre menoupouse merupakan hal yang akan dilaui oleh seorang wanita sampai menuju masa
menoupouse. Dalam masa ini diharapkan wanita dapat mengenal dan mendetaksi dini
terhadap perubahan pada dirinya sendiri sehingga dalam mnjalani masa ini sesuai dengan
mestinya sehingga masa tua dapat dilalui dengan sehat dan bugar.
Mengingat  usia ibu yang sudah 44 tahun mungkin saja ibu sudah memasuki usia
menjelang menopouse atau disebut dengan pre menopouse. Periode ini dapat berlangsung
hingga 3 sampai 4 tahun sebelum menopouse terjadi. Perlu ibu ketahui bahwa menopouse itu
artinya menstruasi yang terakhir.Di masa ini biasanya kaum perempuan mengalami
gangguan-gangguan karena penurunan hormone kelamin dan usia
Pengetahuan keluarga  Ibu W yang kurag akan pentingnya sehat dan bugar pada masa
pre menoupouse berpengaruh terhadap kesehatan Ibu W sehingga diperlukan penyuluhan
tentang gejala dan cara mengatasi masalah di usia pre menoupouse.

    II.            PENGANTAR
Bidang Studi               : Kebidanan komunitas
Topik                           : Pre Menoupose
Sub Topik                    : Sehat dan Bugar di usia pre menoupose
Sasaran                        : Ibu W
Hari/Tanggal               : 27 Juni 2008
Jam                              : 14.30-15.00
Waktu                         : 30 menit
Tempat                        :Rumah Ibu W

  III.            TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM


Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan selama 30 menit, diharapkan ibu-ibu dapat
mengerti tentang tanda gejala dan pencegahannya di usia pre menoupouse.

  IV.            TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS


Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan selama 30 menit, diharapkan warga akan dapat
menjelaskan tentang :
1.      Pengertian pre menoupouse
2.      Penyebab pre menoupouse
3.      Permasalahan akibat pre menoupose
4.      Upaya pencegahan dan pengobatan pre menopause

V.            MATERI
    

Terlampir
 VI.            MEDIA

1.      Materi SAP
2.      Leaflet
VII.            METODE
1.         Penyuluhan
2.         Tanya jawab
VIII.            KEGIATAN PEMBELAJARAN

NO WAKTU KEGIATAN PENYULUHAN KEGIATAN PESERTA

1. 3 menit Pembukaan : Menjawab salam


mendengarkan dan
1.      Memberi salam
memperhatikan
2.      Menjelaskan tujuan penyuluhan
3.      Menyebukan materi/pokok
bahasan yang akan disampaikan

2. 15 menit Pelaksanaan : Menyimak dan


memperhatikan
Menjelaskan materi penyuluhan
Secara berurutan dan teratur.
Materi :
1.      Pengertian pre menoupouse
2.      Penyebab pre menoupouse
3.      Permasalahan akibat pre
menoupose
4.      Upaya pencegahan dan
pengobatan  pre menopause

3. 5 menit Evaluasi Menyimak dan


mendengarkan
  Menyimpulkan inti penyuluhan
  Menyampaikan secara singkat
materi penyuluhan
   Memberikan kesempatan
kepada responden untuk
bertanya
  Memberi kesempatan kepada
responden untuk
menjawabpertanyaan yang
dilontarkan

4. 5 menit Penutup Menjawab salam


  Menyimpulkan materi yang telah
disampaikan
  Menyampaikan terima kasih atas
perhatian dan waktu yang telah
diberikan kepada peserta
  Mengucapkan salam

  IX.            PENGESAHAN
Yogyakarta, 27 Juni 2008

Sasaran                                                                                    Pemberi Materi Penyuluhan


(Ibu W)                                                                                               (Rena Yunita)

                                                Mengetahui
                                                Pembimbing PKL
                       
                       

                                                (   Drs. Sugiyanto, M.Kes )

     X.            EVALUASI
Metode Evaluasi         : Diskusi dan ceramah
Jenis Pertanyaan          : Lisan
Jumlah soal                  : 2 soal

  XI.            LAMPIRAN MATERI
A.    Pengertian pre menoupouse
Sebelum menopouse terjadi (pre menopouse) biasanya didahului oleh
berbagai gejala seperti haid tidak teratur,gangguan vasomotor seperti sulit
tidur, mudah tersinggung, sakit kepala, berdebar dan lain-lain. Keadaan ini
akan semakin dirasakan pada saat menopouse telah terjadi hingga beberapa
tahun setelah menopause (post menopouse).
B.     Penyebab pre menoupouse
Pre menopause terjadi bila wanita mengalaminya kurang dari usia 47 tahun
atau bahkan kurang dari 40 tahun. Petras (1999) menyebutkan beberapa
penyebab biologis dari pre menopause  antara lain:
1.      kemoterapi (perawatan kanker)
2.      operasi ovarium (hysterectomy)
3.      konsumsi tamoxifen (bagian dari pengobatan kanker payudara)
4.      ketidakteraturan kromosom
5.      Penyebab lainnya adalah gaya hidup seperti konsumsi alkohol, rokok,
faktor stres dan faktor
C.     Permasalahan akibat pre menoupose
1.      Masalah Fisik
 Secara fisik biologis, keluhan yang sering diutarakan wanita menopause
adalah :
a.       semburan panas,
b.      sakit kepala,
c.       cepat lelah,
d.      rematik,
e.       sakit pinggang,
f.       sesak napas,
g.      susah tidur dan
h.      osteoporosis.
Keluhan lainnya (Tina NK, 1999) adalah :
a.       berkurangnya cairan vagina sehingga timbul iritasi dan rasa nyeri
saat berhubungan intim.
b.      Dengan bertambahnya usia, tubuh membutuhkan lebih sedikit
lemak dari sebelumnya.
Hal ini karena kemampuan tubuh untuk mengolah lemak berkurang
dan memerlukan waktu lebih lama untuk masuk dalam darah. Akibatnya,
wanita menopause berisiko kelebihan berat badan yang bisa berujung pada
penyakit jantung koroner dan penyempitan pembuluh darah. Namun, diet
bebas lemak bukan langkah yang tepat karena tubuh masih memerlukan
lemak jenis tertentu untuk membangun sel-sel baru, mengembangbiakkan
bakteri positif di pencernaan dan bahan pembentuk estrogen secara alami.
Resiko penyakit lainnya adalah kanker dengan berbagai jenis yaitu :
a.       endometrial,
b.      cervix,
c.       uterine dan
d.       payudara.
Faktor yang memicu kanker endometrial yaitu: tekanan darah tinggi,
kegemukan, diabetes dan nullparity atau tidak pernah melahirkan (Reitz
1979, 217).
Satu hal yang penting adalah sejarah pemakaian alat KB oleh wanita
menopause. Beberapa wanita menghubungkan cepatnya mengalami
menopause dan resiko perdarahan yang panjang dengan pemakaian IUD.
Sebagian wanita yang menggunakan alat KB suntik dan pil mengalami
masa haid yang tidak teratur. Akibatnya mereka ragu-ragu untuk
menggunakan kontrasepsi dan mereka menghadapi resiko kehamilan tidak
diinginkan.
2.      MasalahPsikis
Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa tekanan psikis yang timbul
dari nilai sosial mengenai wanita menopause memberikan kontribusi
terhadap gejala fisik selama periode pre dan pasca menopause. Gejala fisik
yang dirasakan dapat memicu munculnya masalah psikis. Perasaan yang
biasa muncul pada fase ini antara lain:
a.       rapuh,
b.      sedih
c.       tertekan
d.      depresi
e.       tidak konsentrasi bekerja dan
f.        mudah tersinggung.
 Namun, dalam masyarakat Bugis fase menopause dinilai sebagai
sesuatu yang positif karena wanita menopause merasa tubuhnya lebih
bersih dan dapat menjalankan ibadah dengan penuh.

D.    Upaya pencegahan dan pengobatan  pre menoupouse


Petras (1999) dalam bukunya menyatakan bahwa Hormon
Replacement Therapy (HRT) dalam jangka pendek memberi lebih banyak
manfaat bagi mereka yang mengalami menopause prematur. Pengobatan HRT
tersedia dalam berbagai bentuk, beberapa yang sudah ada yaitu secara oral
(pil, kapsul, tablet), koyo dan cream. Namun, Petras mengingatkan bahwa
pemakaian HRT harus didasarkan atas konsultasi dokter dan memperhatikan
sejarah kesehatan pasien. Ada beberapa orang yang tidak boleh melakukan
HRT antara lain:
a.       yang memiliki penyakit diabetes,
b.      lupus,
c.       tekanan darah tinggi,
d.      penyakit hati,
e.        kanker payudara dan
f.        endometriosis.
 Studi paling mutakhir dari JAMA (Journal of the American Medical
Association) dan WHI (Women Health Initiatives) menjelaskan bahwa HRT
meningkatkan risiko inkontensia, stroke, kanker payudara, penyakit hati dan
dementia. Keuntungan dari HRT yaitu mengurangi kemungkinan kanker colon
dan patah tulang (Napoli, 2005).Pencegahan yang dianggap ampuh justru
berasal dari nasehat turun temurun dan sangat murah dan mudah untuk
dilakukan. Beberapa di antaranya:
a.       Selalu berdiri, duduk dan berjalan dengan tegak.
b.      Mengurangi pemakaian garam untuk menghindari penumpukan air oleh
jaringan.
c.       Berolahraga, mulai dari berjalan jauh atau senam jantung. 
Mengkonsumsi beberapa jenis vitamin (A, B, C, E complex, D,
Bioflavonoid) dan kalsium atau jenis makanan yang mengandung
keduanya.
d.      Jangan merokok, minum alkohol dan minum banyak air putih. 
Memeriksakan kesehatan secara berkala (Petras, 1999).
e.       Rasa tidak nyaman atau nyeri pada saat berhubungan intim karena
kurangnya cairan vagina bisa diatasi dengan pemberian jelly atau
lubricant yang banyak dijual di apotek.
Hal lain yang perlu dipahami adalah pemahaman mengenai sistem
metabolisme tubuh manusia. Reitz (1979) menerangkan bahwa dengan
berhentinya menstruasi tidak berarti produksi estrogen juga berhenti. Tubuh
manusia adalah satu kesatuan, bila yang satu tidak dapat melakukan fungsinya
ada kemungkinan organ lain mengambil alih tugas itu, walau dengan jumlah
yang berbeda.
E.      PelayananKesehatanbagiWanitaMenopause
Hal ini dilakukan sebagai cara termudah dan teraman yang dapat
mereka usahakan Dalam menghadapi menopause, wanita perlu memeriksakan
tubuhnya. Untuk memeriksa penyakit arteriosklerosis dan osteoporosis
datanglah ke dokter penyakit dalam. Sementara untuk mengidentifikasi
kelainan pada alat reproduksi dan payudara bisa datang ke dokter kandungan.
Seorang psikolog juga dapat membantu mempersiapkan mental dalam
menghadapi perubahan kondisi tubuh. Tetapi memang tidak semua wanita
menopause mau mengkonsultasikan gangguan yang dialami kepada dokter
kandungan atau penyakit dalam. Alasannya bisa karena rasa malu, tidak
menganggap penting masalah kesehatan, diremehkan oleh dokter dan tidak
mempunyai biaya.
Samil (1988) mengatakan bahwa dalam masa menopause hendaknya
wanita memeriksakan dirinya secara berkala paling sedikit 6 bulan sekali.
Sementara Reitz menekankan bahwa lebih dari 90% kanker ditemukan oleh
wanita sendiri daripada oleh dokter. Dapat disimpulkan bahwa deteksi
kelainan secara dini menentukan kualitas kesehatan dan pengobatan efektif
bagi wanita menopause. Wanita menopause di Indonesia biasa menggunakan
ramuan tradisional dan obat yang dijual bebas (obat warung) sebagai bagian
dari pemeliharaan kesehatan mereka. Tindakan bagi tubuh mereka sendiri.

XII.            DAFTAR PUSTAKA
Wiknjosastro, Hanifa. 1997. Ilmu Kandungan.Jakarta : YBP-SP.
Bagian Obstetri dan Ginekologi. 1981. Ginekologi. Bandung : Elstar Offset.