Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Reformasi Rumah Sakit menjadi Badan Layanan Umum dilakukan


untuk mengikuti langkah langkah atau aktivitas yang dilakukan oleh sektor
swasta, dalam hal efisiensi, keefektifan, serta produktivitas, untuk
meningkatkan daya saing instansi. Instansi harus dikelola secara mandiri
dan terus melakukan inovasi, seperti layaknya institusi bisnis, dalam
rangka menunjang proses penciptaan value added.

Rumah sakit adalah sebuah institusi perawatan kesehatan


profesional yang pelayanannya disediakan oleh dokter, perawat, dan
tenaga ahli kesehatan lainnya. Perbandingan antara jumlah ranjang
rumah sakit dengan jumlah penduduk Indonesia masih sangat rendah.
Untuk 10 ribu penduduk cuma tersedia 6 ranjang rumah sakit.

Selama Abad pertengahan, rumah sakit juga melayani banyak


fungsi di luar rumah sakit yang kita kenal di zaman sekarang, misalnya
sebagai penampungan orang miskin atau persinggahan musafir. Istilah
hospital (rumah sakit) berasal dari kata Latin, hospes (tuan rumah), yang
juga menjadi akar kata hotel dan hospitality (keramahan). Beberapa
pasien bisa hanya datang untuk diagnosis atau terapi ringan untuk
kemudian meminta perawatan jalan, atau bisa pula meminta rawat inap
dalam hitungan hari, minggu, atau bulan. Rumah sakit dibedakan dari
institusi kesehatan lain dari kemampuannya memberikan diagnosa dan
perawatan medis secara menyeluruh kepada pasien. Rumah sakit
menurut WHO Expert Committee On Organization Of Medical Care: is an
integral part of social and medical organization, the function of which is to
provide for the population complete health care, both curative and
preventive and whose out patient service reach out to the family and its

1
home environment; the hospital is also a centre for the training of health
workers and for biosocial research

B. Tujuan dan Manfaat

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui peran


tenaga kesehatan dalam menangani korban kecelakaan atau pasien agar
memeberikan pelayanan kesehatan yang memadai dan melakukan
tindakan yang sesuai dengan prinsip pelayanan yang baik.

C. Perumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan pada latar belakang di atas, maka


permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah bagaimana
peran tenaga kesehatan dalam menangani atau memberikan pelayanan
yang bermutu sesuai dengan kebudayaan yang baik yang berlaku
ditengah masyarakat.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Kebudayaan Dan Rumah Sakit

a. Konsep Kebudayaan

Konsep budaya telah menjadi arus utama dalam bidang antropologi


sejak awal mula dan memperoleh perhatian dalam perkembangan awal
studi perilaku organisasi. Bagaimanapun juga, baru-baru ini saja konsep
budaya timbul ke permukaan sebagai suatu dimensi utama dalam
memahami perilaku organisasi (Hofstede 1986). Schein (1984)
mengungkapkan bahwa banyak karya akhir-akhir ini berpendapat tentang
peran kunci budaya organisasi untuk mencapai keunggulan organisasi.
Mengingat keberadaan budaya organisasi mulai diakui arti pentingnya,
maka telaah terhadap konsep ini perlu dilakukan terutama atas berbagai
isi yang dikandungnya.

Kata Kebudayaan atau budaya adalah kata yang sering dikaitkan


dengan Antropologi. Secara pasti, Antropologi tidak mempunyai hak
eksklusif untuk menggunakan istilah ini. Seniman seperti penari atau
pelukis dll juga memakai istilah ini atau diasosiasikan dengan istilah ini,
bahkan pemerintah juga mempunyai departemen untuk ini. Konsep ini
memang sangat sering digunakan oleh Antropologi dan telah tersebar
kemasyarakat luas bahwa Antropologi bekerja atau meneliti apa yang
sering disebut dengan kebudayaan. Seringnya istilah ini digunakan oleh
Antropologi dalam pekerjaan-pekerjaannya bukan berarti para ahli
Antropolgi mempunyai pengertian yang sama tentang istilah tersebut.
Seorang Ahli Antropologi yang mencoba mengumpulkan definisi yang
pernah dibuat mengatakan ada sekitar 160 defenisi kebudayaan yang
dibuat oleh para ahli Antropologi. Tetapi dari sekian banyak definisi

3
tersebut ada suatu persetujuan bersama diantara para ahli Antropologi
tentang arti dari istilah tersebut. Salah satu definisi kebudayaan dalam
Antropologi dibuat seorang ahli bernama Ralph Linton yang memberikan
defenisi kebudayaan yang berbeda dengan pengertian kebudayaan dalam
kehidupan sehari-hari: “Kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari
masyarakat dan tidak hanya mengenai sebagian tata cara hidup saja yang
dianggap lebih tinggi dan lebih diinginkan”. Jadi, kebudayaan menunjuk
pada berbagai aspek kehidupan. Istilah ini meliputi cara-cara berlaku,
kepercayaan-kepercayaan dan sikap-sikap, dan juga hasil dari kegiatan
manusia yang khas untuk suatu masyarakat atau kelompok penduduk
tertentu.

b. Pengertian Rumah Sakit

Rumah sakit adalah sebuah institusi perawatan kesehatan


profesional yang pelayanannya disediakan oleh dokter, perawat, dan
tenaga ahli kesehatan lainnya. Berikut ini ialah beberapa jenis-jenis rumah
sakit yang akan dijelaskan untuk memberikan gambaran mengenai
Kebudayaan rumah sakit umum.

⮚ Rumah Sakit Umum.

Rumah sakit umum biasanya merupakan fasilitas yang mudah


ditemui di suatu negara, dengan kapasitas rawat inap sangat besar untuk
perawatan intensif ataupun jangka panjang. Rumah sakit jenis ini juga
dilengkapi dengan fasilitas bedah, bedah plastik, ruang bersalin,
laboratorium, dan sebagainya. Tetapi kelengkapan fasilitas ini bisa saja
bervariasi sesuai kemampuan penyelenggaranya.

Rumah sakit yang sangat besar sering disebut Medical Center


(pusat kesehatan), biasanya melayani seluruh pengobatan modern.
Sebagian besar rumah sakit di Indonesia juga membuka pelayanan
kesehatan tanpa menginap (rawat jalan) bagi masyarakat umum (klinik).

4
Biasanya terdapat beberapa klinik/poliklinik di dalam suatu rumah sakit.

⮚ Rumah sakit terspesialisasi

Jenis ini mencakup trauma center, rumah sakit anak, rumah sakit
manula, atau rumah sakit yang melayani kepentingan khusus seperti
psychiatric (psychiatric hospital), penyakit pernapasan, dan lain-lain.
Rumah sakit bisa terdiri atas gabungan atau pun hanya satu bangunan.
Kebanyakan mempunyai afiliasi dengan universitas atau pusat riset medis
tertentu. Kebanyakan rumah sakit di dunia didirikan dengan tujuan nirlaba.

⮚ Rumah sakit penelitian/pendidikan

Rumah sakit penelitian/pendidikan adalah rumah sakit umum yang


terkait dengan kegiatan penelitian dan pendidikan di fakultas kedokteran
pada suatu universitas/lembaga pendidikan tinggi. Biasanya rumah sakit
ini dipakai untuk pelatihan dokter-dokter muda, uji coba berbagai macam
obat baru atau teknik pengobatan baru. Rumah sakit ini diselenggarakan
oleh pihak universitas/perguruan tinggi sebagai salah satu wujud
pengabdian masyararakat / Tri Dharma perguruan tinggi.

⮚ Rumah sakit lembaga/perusahaan

Rumah sakit yang didirikan oleh suatu lembaga/perusahaan untuk


melayani pasien-pasien yang merupakan anggota lembaga
tersebut/karyawan perusahaan tersebut. Alasan pendirian bisa karena
penyakit yang berkaitan dengan kegiatan lembaga tersebut (misalnya
rumah sakit militer, lapangan udara), bentuk jaminan sosial/pengobatan
gratis bagi karyawan, atau karena letak/lokasi perusahaan yang
terpencil/jauh dari rumah sakit umum. Biasanya rumah sakit
lembaga/perusahaan di Indonesia juga menerima pasien umum dan
menyediakan ruang gawat darurat untuk masyarakat umum.

5
⮚ Klinik

Fasilitas medis yang lebih kecil yang hanya melayani keluhan tertentu.
Biasanya dijalankan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat atau dokter-
dokter yang ingin menjalankan praktek pribadi. Klinik biasanya hanya
menerima rawat jalan. Bentuknya bisa pula berupa kumpulan klinik yang
disebut poliklinik.

B. Kebudayaan Rumah Sakit

Rumah sakit adalah suatu organisasi yang unik dan kompleks


karena ia merupakan institusi yang padat karya, mempunyai sifat-sifat dan
ciri-ciri serta fungsifungsi yang khusus dalam proses menghasilkan jasa
medik dan mempunyai berbagai kelompok profesi dalam pelayanan
penderita. Di samping melaksanakan fungsi pelayanan kesehatan
masyarakat, rumah sakit juga mempunyai fungsi pendidikan dan
penelitian (Boekitwetan 1997).

Rumah sakit di Indonesia pada awalnya dibangun oleh dua


institusi. Pertama adalah pemerintah dengan maksud untuk menyediakan
pelayanan kesehatan bagi masyarakat umum terutama yang tidak
mampu. Kedua adalah institusi keagamaan yang membangun rumah sakit
nirlaba untuk melayani masyarakat miskin dalam rangka penyebaran
agamanya. Hal yang menarik akhir-akhir ini adalah adanya perubahan
orientasi pemerintah tentang manajemen rumah sakit dimana kini rumah
sakit pemerintah digalakkan untuk mulai berorientasi ekonomis. Untuk itu,
lahirlah konsep Rumah Sakit Swadana dimana investasi dan gaji pegawai
ditanggung pemerintah namun biaya operasional rumah sakit harus
ditutupi dari kegiatan pelayanan kesehatannya (Rijadi 1994). Dengan
demikian, kini rumah sakit mulai memainkan peran ganda, yaitu tetap
melakukan pelayanan publik sekaligus memperoleh penghasilan (laba ?)
atas operasionalisasi pelayanan kesehatan yang diberikan kepada
masyarakat.

6
Mengingat adanya dinamika internal (perkembangan peran) dan
tuntutan eksternal yang semakin berkembang, rumah sakit dihadapkan
pada upaya penyesuaian diri untuk merespons dinamika eksternal dan
integrasi potensi-potensi internal dalam melaksanakan tugas yang
semakin kompleks. Upaya ini harus dilakukan jika organisasi ini hendak
mempertahankan kinerjanya (pelayanan kesehatan kepada masyarakat
sekaligus memperoleh dana yang memadai bagi kelangsungan hidup
organisasi). Untuk itu, ia tidak dapat mengabaikan sumber daya manusia
yang dimiliki termasuk perhatian atas kepuasan kerjanya. Pengabaian
atasnya dapat berdampak pada kinerja organisasi juga dapat berdampak
serius pada kualitas pelayanan kesehatan. Dalam konteks tersebut,
pemahaman atas budaya pada tingkat organisasi ini merupakan sarana
terbaik bagi penyesuaian diri anggota-anggotanya, bagi orang luar yang
terlibat (misalnya pasien dan keluarganya) dan yang berkepentingan
(seperti investor atau instansi pemerintah terkait) maupun bagi
pembentukan dan pengembangan budaya organisasi itu sendiri dalam
mengatasi berbagai masalah yang sedang dan akan dihadapi. Namun
sayangnya penelitian atau kajian khusus tentang persoalan ini belum
banyak diketahui, atau mungkin perhatian terhadap hal ini belum
memadai. Mengingat kondisi demikian, maka tulisan ini bertujuan untuk
menggambarkan berbagai aspek dan karakteristik budaya organisasi
rumah sakit sebagai lembaga pelayanan publik.

Seiring dengan membaiknya tingkat pendidikan, meningkatnya


keadaan sosial ekonomi masyarakat, serta adanya kemudahan dibidang
transportasi dan komunikasi, majunya IPTEK serta derasnya arus sistem
informasi mengakibatkan sistem nilai dalam masyarakat berubah.
Masyarakat cenderung menuntut pelayanan umum yang lebih bermutu
termasuk pelayanan kesehatan.

Pelayanan rumah sakit yang baik bergantung dari kompetensi dan


kemampuan para pengelola rumah sakit. Untuk meningkatkan
kemampuan para pengelola rumah sakit tersebut selain melalui program

7
pendidikan dan pelatihan, juga diperlukan pengaturan dan penegakan
disiplin sendiri dari para pengelola rumah sakit serta adanya yanggung
jawab secara moral dan hukum dari pimpinan rumah sakit untuk menjamin
terselenggaranya pelayanan yang baik.

Kepercayaan dan pengobatan berhubungan sangat erat. Institusi


yang spesifik untuk pengobatan pertama kali, ditemukan di India. Rumah
sakit Brahmanti pertama kali didirikan di Sri Lanka pada tahun 431 SM,
kemudian Raja Ashoka juga mendirikan 18 rumah sakit di Hindustan pada
230 SM dengan dilengkapi tenaga medis dan perawat yang dibiayai
anggaran kerajaan.

Perubahan rumah sakit menjadi lebih sekular di Eropa terjadi pada


abad 16 hingga 17. Tetapi baru pada abad 18 rumah sakit modern
pertama dibangun dengan hanya menyediakan pelayanan dan
pembedahan medis. Inggris pertama kali memperkenalkan konsep ini.
Guy's Hospital didirikan di London pada 1724 atas permintaan seorang
saudagar kaya Thomas Guy. Rumah sakit yang dibiayai swasta seperti ini
kemudian menjamur di seluruh Inggris Raya. Di koloni Inggris di Amerika
kemudian berdiri Pennsylvania General Hospital di Philadelphia pada
1751. setelah terkumpul sumbangan £2,000. Di Eropa Daratan biasanya
rumah sakit dibiayai dana publik. Namun secara umum pada pertengahan
abad 19 hampir seluruh negara di Eropa dan Amerika Utara telah memiliki
keberagaman rumah sakit.

Selain itu dalam perkembangan teknologi dan berbagai bidang


yang lainnya tercipta sebuah istilah yang menandakan sebagai suatu
Budaya dalam lingkup kesehatan istilah tersebut ialah Komite Etik Rumah
Sakit (KERS), dapat dikatakan sebagai suatu badan yang secara resmi
dibentuk dengan anggota dari berbagai disiplin perawatan kesehatan
dalam rumah sakit yang bertugas untuk menangani berbagai masalah etik
yang timbul dalam rumah sakit. KERS dapat menjadi sarana efektif dalam
mengusahakan saling pengertian antara berbagai pihak yang terlibat
seperti dokter, pasien, keluarga pasien dan masyarakat tentang berbagai

8
masalah etika hukum kedokteran yang muncul dalam perawatan
kesehatan di rumah sakit.

Ada tiga fungsi KERS ini yaitu pendidikan, penyusun kebijakan dan
pembahasan kasus. Jadi salah satu tugas KERS adalah menjalankan
fungsi pendidikan etika. Dalam rumah sakit ada kebutuhan akan
kemampuan memahami masalah etika, melakukan diskusi multidisiplin
tentang kasus mediko legal dan dilema etika biomedis dan proses
pengambilan keputusan yang terkait dengan permasalahan ini.

C. Karakteristik Kebudayaan Rumah Sakit (Organisasi)

Pertama, asumsi karyawan tentang keterkaitan lingkungan


organisasi yang menunjukkan bahwa organisasi mereka didominasi dan
sangat dipengaruhi oleh beberapa pihak eksternal, yaitu pemilik saham,
Departemen Kesehatan sebagai pembina teknis, dan masyarakat
pengguna jasa kesehatan sebagai konsumen. Peran masyarakat kini
begitu dirasakan sejak RS menjadi institusi yang harus mampu
menghidupi dirinya sendiri tanpa mengandalkan subsidi lagi dari PTPN XI.
Pada situasi seperti ini, karyawan menyadari betul fungsi yang harus
dimainkan ketika berhadapan dengan konsumen, yaitu mereka harus
memberikan pelayanan terbaik kepada pasien dan keluarganya, serta
para pengunjung lainnya.

Nilai-nilai yang sudah ditanamkan kepada karyawan dalam


memberikan pelayanan kepada konsumennya tadi dapat terungkap dari
pandangan mereka bahwa justru konsumenlah orang terpenting dalam
pekerjaan mereka. Pasien adalah raja yang mana semua karyawan
bergantung padanya bukan pasien yang bergantung pada karyawan.
Pasien bukanlah pengganggu pekerjaan karyawan namun merekalah
tujuan karyawan bekerja. Karyawan bekerja bukan untuk menolong
pasien, namun keberadaan pasienlah yang menolong karyawan karena
pasien tersebut telah memberikan peluang kepada karyawan untuk

9
memberikan pelayanan. Oleh karena itu jika terdapat perselisihan antara
karyawan dan pasien maka karyawan haruslah mengalah karena tidak
ada yang pernah menang dalam berselisih dengan konsumen. Dengan
melihat nilai yang ditanamkan pada setiap karyawan tersebut maka dapat
dijelaskan tentang berlakunya asumsi fungsi pelayanan di RS.

Kedua, tentang pandangan karyawan mengenai bagaimana


sesuatu itu dipandang sebagai fakta atau tidak (kriteria realitas) dan
bagaimana sesuatu itu ditentukan sebagai benar atau tidak (kriteria
kebenaran). Kriteria realitas yang dominant berlaku di RS X adalah
realitas sosial yang berarti bahwa sesuatu itu dapat diterima sebagai fakta
bila sesuai dengan kebiasaan yang telah ada atau opini umum yang
berkembang di lingkungan RS X. Sementara itu, karyawan RS X juga
berpandangan dominan bahwa kebenaran lebih ditentukan oleh
rasionalitas. Dengan kata lain, sesuatu itu dapat dipandang sebagai benar
bergantung pada rasioanalitas kolektif di lingkungan RS X dan bila telah
ditentukan melalui proses yang dapat diterima dalam saluran organisasi.

Ketiga, tentang pandangan karyawan berkenaan dengan hakikat


sifat dasar manusia. Sebagian besar karyawan rupanya berasumsi bahwa
manusia atau teman sekerja mereka itu memiliki sifat yang pada dasarnya
baik, yaitu rajin bekerja, sangat memperhatikan waktu kerja (masuk dan
pulang kerja tepat waktu), siap membantu pekerjaan rekan-rekan lainnya.
Namun demikian mereka juga berpandangan bahwa sifat ini tidak
selamanya berlaku konsisten. Akan ada selalu godaan atau kondisi yang
dapat mengubah sifat manusia. Mereka percaya betul bahwa tidak ada
sifat yang kekal, sifat baik dapat saja berubah menjadi buruk, begitu pula
sifat buruk bisa berubah menjadi baik.

Keempat, mengenai asumsi karyawan tentang hakikat aktivitas


manusia yang menunjukkan bahwa aktivitas manusia itu harmoni atau
selaras dengan aktivitas organisasi. Tidak hanya aktivitas manusia saja
yang mampu menentukan keberhasilan organisasi. Namun mereka juga
menolak bahwa aktivitas organisasi semata yang menentukan

10
keberhasilan organisasi karena mereka memandang bahwa aktivitasnya
juga memberikan kontribusi atas keberhasilan organisasi. Pada intinya,
mereka memandang bahwa aktivitasnya yang meliputi curahan waktu,
tenaga, dan pikiran harus selaras dengan aktivitas organisasi secara
keseluruhan yang berupa kinerja sumber daya manusia, keuangan, aktiva
tetap, infra dan supra struktur organisasi.

Kelima, berkenaan dengan asumsi hakikat hubungan manusia


yang hasilnya menunjukkan bahwa hubungan antar karyawan lebih
bersifat kekeluargaan. Kekeluargaan 10 tidak dipahami sebagai
nepotisme atau usaha keluarga, namun kekeluargaan dipahami sebagai
hubungan antar inidividu dalam suatu kelompok kerja sebagai suatu kerja
sama kelompok yang lebih berorientasi pada konsensus dan
kesejahteraan kelompok. Dalam suatu kelompok kerja seorang karyawan
terkadang tidak hanya menjalankan tugas hanya pada bidang tugas yang
tertera secara formal karena ia harus siap membantu bidang tugas yang
lain yang dapat ditanganinya. Seorang perawat di unit bedah dengan
tugas khusus sterilisasi tidak hanya menangani tugasnya saja. Ia harus
siap membantu karyawan lainnya untuk juga menangani instrumen dan
pulih sadar. Semua pekerjaan itu dilakukan sebagai suatu kerja sama
kolektif dalam mencapai efektivitas organisasi. Hubungan antar karyawan
tidak sebatas hubungan kerja, kerapkali mereka jauh lebih terikat secara
pribadi dan saling mengerti tentang karakteristik pribadi lainnya. Suasana
guyub terlihat dalam suasana saling membantu tidak hanya dalam
konteks kerja tetapi juga di luar pekerjaan.

11
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kombinasi karakteristik dari asumsi dasar memunculkan budaya


organisasi yang bersifat integral. Kombinasi ini bisa dikategorikan
sebagai budaya adaptif sehingga mampu mendukung organisasi
memenangkan adaptasi eksternal. Pada saat yang sama
konfigurasi atas asumsi dasar juga menunjukkan tipologi budaya
organisasi yang kuat. Dengan demikian memudahkan organisasi
mencapai integrasi internal jika terdapat kesesuaian antara
karakteristik budaya dengan praktek manajemen.

B. Saran

Pelayanan kesehatan yang baik dan bermutu serta berkualitas


penting dalam pembangunan karena akan menimbulkan pelayanan
kesehatan yang prima sehingga kepuasan dapat dirasakan oleh
setiap masyarakat olehnya itu pelayanan kesehatan harus dikelola
secara maksimal bukan saja oleh tenaga kesehatan tetapi seluruh
masyarakat.

12
DAFTAR PUSTAKA

Poerwanto, Helena dan Syaifullah. Hukum Perburuhan Bidang


Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Jakarta: Badan
Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2005.
Gibson & Ivanicevich & Donnely. (1996) Organisasi : Perilaku,
Struktur, Proses. Penerjemah Adiarni, N. Binarupa Aksara,
Jakarta.
Indonesia. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang
Keselamatan Kerja.
Indonesia. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan
Sosial Tenaga Kerja.
Manz, C.C. & Sims, H.P., Jr. (1990) Super Leadership : Leading
Others to Lead Themselves. Berkley Books, New York.
Rijadi, S. (1994) Tantangan industri rumah sakit Indonesia 2020.
Jurnal Administrasi Rumah Sakit. Volume 2, No.2, 11-18.
Silalahi, Bennett N.B. [dan] Silalahi,Rumondang.1991. Manajemen
keselamatan dan kesehatan kerja.[s.l]:Pustaka Binaman
Pressindo.
Suma'mur .1991. Higene perusahaan dan kesehatan kerja.
Jakarta :Haji Masagung
Suma'mur .1985. Keselamatan kerja dan pencegahan kecelakaan.
Jakarta :Gunung Agung, 1985, 1990. Upaya kesehatan
kerja sektor informal di Indonesia. [s.]:Direktorat Bina Peran
Masyarakat Depkes RT.

13