Anda di halaman 1dari 18

CRITICAL JOURNAL REVIEW

TAKSONOMI ORGANISME TINGKAT RENDAH

Identifikasi Lichenes Di Brayeun Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar

Dosen Pengampu :

Dr. Ashar Hasairin, M.Si.

DISUSUN OLEH :

Safira Try Puspita (4191141001)

PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGATUHAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT. yang telah memberikan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas Critical
Journal Review tentang liken (lumut kerak).

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ashar Hasairin, M.Si. selaku
dosen pengampu mata kuliah Taksonomi Organisme Tingkat Rendah, atas arahan bimbingan
dan kesempatannya. Sehingga saya mampu menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya.

Saya sadar bahwa tugas yang saya selesaikan ini masih banyak kekurangan dan jauh
dari kata sempurna, baik dari segi penulisan maupun dari segi materi yang dituangkan pada
tugas ini, karena keterbatasan ilmu yang saya miliki, saya memohon maaf atas segala
kekurangan dari tugas yang saya perbuat ini.

Saya berharap mudah–mudahan dengan adanya pembuatan tugas ini dapat


memberikan manfaat berupa ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi saya sebagai penulis
maupun bagi pembaca.

Medan, 20 April 2020

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lichen merupakan tumbuhan yang bersimbiosis antara fungi dan alga. Lichen
memili habitat hidup di pepohonan, bebatuan, tanah, atau permukaan artifisial lainnya.
Lichen memiliki karakteristik morfologis yang unik yang berada diantara karakteristik
baik morfologis, anatomis dan reproduksi antara alga dan fungi. Lichen yang umumnya
ditemukan terbagi menjadi beberapa tipe yaitu berbentuk foliose, fruticose, crustose
serta squamulose. Reproduksi lichen terdiri dari aseksual dan seksual. Aseksual melalui
pembentukan soredia, isidia dan lobules sedangkan yang seksual adalah dengan
pembentukan spora askus (menyerupai Fungi Ascomycota dan Basidiomycota). Fitur
anatomis lichen meliputi korteks, lapisan alga, medulla, rhizines, cilia, Cyphellae,
Pseudocyphellae, Cephlodia, Photosymbiodemes.

Lichenes atau lumut kerak sering disebut sebagai tumbuhan perintis. Lichenes
hidup sebagai epifit pada pohon-pohonan tetapi dapat juga di atas tanah, terutama di
daerah tundra disekitar kutub utara. Lichenes tergolong ke dalam tumbuhan perintis
yang ikut berperan dalam pembuatan tanah. Lichenes dapat kita temukan di tepi pantai
sampai di atas gunung-gunung yang tinggi.

B. Tujuan
Adapun tujuan saya dalam membuat CJR ini adalah :
1. Menambah wawasan tentang penelitian lichen
2. Mengetahui dan memahami bagaimana cara mengkritik dan menyajikan hasil kritik
jurnal
3. Mengetahui identitas jurnal

C. Manfaat
Dalam melakukan Critical Journal Review, diharapkan dapat memberikan
manfaat bagi semua pembaca, khusunya pada mahasiswa. Selain itu, CJR ini juga dapat
bermanfaat sebagai bahan referensi untuk berdiskusi.
BAB II

RINGKASAN JURNAL

A. Identitas Jurnal

Judul Jurnal : Identifikasi Lichenes Di Brayeun Kecamatan Leupung Kabupaten


Aceh Besar

Nama Jurnal : Jurnal Prosiding Seminar Nasional Biotik

Penulis : Safiratul Fithri, Zuraidah, Eriawan

Tahun Terbit : 2018

ISBN : 978-602-60401-9-0

Halaman : 151-156

B. Ringkasan Jurnal

PENDAHULUAN
Lichenes (lumut kerak) adalah asosiasi simbiotik antara mikroorganisme fotosintetik
dan fungi. Salah satu faktor yang mempengaruhi bentuk thallus adalah substrat tumbuhnya.
Jenis Thallus crutose merupakan jenis paling sering dijumpai karena mampu melekat pada
berbagai substrat (Campbell , 2012). Lichenes atau (lumut kerak) adalah simbiosis antara jamur
dan alga, yang memiliki fungsi untuk memperoleh makanan dari hasil fotosintesis ganggang,
karena ganggang bersifat autotrof, sementara itu, jamur bersifat heterotrof yang menyediakan
air, mineral, serta melakukan pertukaran gas dan melindungi ganggang.
Manfaat lichenes bagi kehidupan yaitu dapat dijadikan obat seperti Usnea filipendula
(antibiotik), karena mengandung anti kanker, kemudian digunakan sebagai penambah rasa dan
aroma (masakan jepang), Rocella tinctoria yang menghasilkan pigmen yang dapat dibuat
kertas lakmus celup indikator pH serta lichenes dapat dijadikan bioindikator pencemaran
lingkungan, karena lichenes sangat peka terhadap polusi (Hasanuddin, 2014).
Lichenes (lumut kerak) menyebar sangat luas, bisa terdapat di batu, pohon dan daun
sebagai habitatnya, namun tidak semua tempat dapat kita jumpai karena habitat lichenes adalah
di tempat yang tingkat polusinya rendah, sehingga keberadaan lichenes dapat menjadi
bioindikator keadaan lingkungan sekitar.
TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis lichenes di Brayeun Aceh
Besar dan untuk mengetahui manfaat hasil penelitian lichenes di Brayeun Aceh Besar sebagai
referensi matakuliah yang berhubungan.

SUBJEK PENELITIAN
Subjek penelitian dari jurnal yang di tulis ini adalah Lichenes di Brayeun Kecamatan
Leupung Aceh Besar.

METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kombinasi antara Line Transek dan
Petak kuadrat dan pengambilan sampel secara purposive sampling.
Pengambilan sampel ditentukan 2 stasiun pengamatan, yakni di sebelah kanan sungai
dan di sebelah kiri sungai, dilakukan pengamatan pada sepanjang garis Transek sepanjang 100
m yang berpangkal dari kaki gunung tegak lurus sampai ke puncak gunung, masing-masing
stasiun dalam satu transek terdiri atas 3 plot ukuran (10 m x 10 m) guna untuk mengetahui
keberadaan jenis Lichenes yang terdapat di lokasi penelitian. Tinggi pohon yang diambil yaitu
setinggi dahan pertama atau 2 m dari tempat tumbuhnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Spesies Lichenes yang terdapat di Brayeun Kecamatan Leupung Aceh Besar
Hasil penelitian yang telah dilakukan di Brayeun Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh
Besar diperoleh 24 spesies dari 15 familia. Data spesies Lichenes dapat dilihat pada
Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Jenis Lichenes yang terdapat di Brayeun Kecamatan Leupung Aceh Besar

NO. Familia Jenis Lichenes ∑ Koloni


1 Arthoniaceae Cryptothecia striata 356
2 Bacidiaceae Bacidia schweinitzii 43
3 Bacidia viridi farinosa 55
4 Bacidia sp 30
5 Chrysotrichaeae Chrysothrix candelaris 47
6 Collemataceae Collema subflaccidum 30
7 Leptogium azureum 27
8 Graphidaceae Diorygma poitaei 30
9 Graphis scripta 96
10 Graphis elegans 73
11 Graphis subelegans 68
12 Hymeneliaceae Aspicilia calcarea 81
13 Lecanorceae Lecidella elaeochroma 45
14 Physciaceae Pyxine cocoes 16
15 Dirinaria confusa 27
16 Pyrenulaceae Pyrenula concatervanus 31
17 Roccellaceae Syncesia leprobola 52
18 Sterocaulaceae Lepraria incana 64
19 Lepraria umbricola 52
20 Trypetheliacea Trypethelium virens 63
21 Teloschistaceae Caloplaca sp 15
22 Phlyctidaceae Phlyctis argena 153
23 Phlyctis agelaea 56
24 Parmeliacea Usnea sp 25

JUMLAH 1545

Berdasarkan Tabel 4.2 diketahui bahwa spesies Lichenes yang terdapat di Brayeun
Kecamatan Leupung Aceh Besar pada seluruh lokasi penelitian adalah sebanyak 24 jenis dari
15 familia. Penyebaran familia terdiri dari Arthoniaceae 1 jenis, familia Bacidiaceae 2 jenis,
familia Chrysotrichaeae 1 jenis, familia Collemataceae 2 jenis, familia Graphidaceae 4 jenis,
familia Hymeneliaceae 1 jenis, familia Lecanoraceae 1 jenis, 1 jenis Parmeliaceae, familia
Physciaceace 2 jenis, familia Pyrenulaceae 1 jenis, familia Roccellaceae 1 jenis, familia
Stereocaulaceae 2 jenis, familia Trypetheliaceae 1 jenis, familia Teloschistaceae 1 jenis, dan
familia Phlyctidaceae 1 jenis. Jenis yang paling banyak dijumpai adalah Cryptothecia striata
dengan persentase 23%, dan jenis yang paling sedikit di jumpai adalah Pyxine cocoes 1%.
Umumnya lichen sensitif terhadap polutan walaupun ada jenis-jenis tertentu yang toleran
terhadap polutan. Cryptothecia striata adalah jenis yang paling banyak dijumpai dan juga
merupakan jenis yang tahan terhadap kehilangan air. Kemudian Pyxine cocoes merupakan
jenis yang terdapat dalam jumlah sedikit pada penelitian ini, namun jenis Lichenes ini sangat
toleran terhadap polutan, seperti yang tertera pada hasil penelitian.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa spesies Cryptothecia striata merupakan
jenis lichenes yang paling banyak ditemukan dan menjadi jenis yang paling mendominasi di
lokasi penelitian, jenis lichenes ini hampir dijumpai diseluruh stasiun, didukung dengan
pernyataan Anonymous dalam Ernilasari (2014) yang menyatakan bahwa jenis ini memiliki
distribusi yang luas di daerah tropis serta mampu hidup pada permukaan kulit baik yang
memiliki stuktur halus, kasar, maupun pecah-pecah serta memiliki daya toleransi yang tinggi
terhadap kualitas udara lingkungan.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa jenis lichenes yang paling sedikit di jumpai
adalah Pyxine cocoes, seperti yang tertera pada Tabel 4.1. Lichenes jenis ini sering tumbuh
pada kulit kayu, lumut atau batu, Jenis ini dijumpai pada kulit pohon belimbing (Averrhoa
carambola). Pyxine cocoes dijumpai dalam jumlah sedikit karena pada stasiun 2 tidak terlalu
banyak tumbuhan bahkan sebagian sudah dijadikan ladang bagi masyarakat setempat, namun
pada dasarnya spesies Pyxine cocoes tidak tergolong sensitif terhadap polusi. Pada stasiun dua
suhu udara mencapai 28-30°C, ini masih tergolong baik, kemudian pada stasiun dua tidak
banyak dijumpai pohon sehingga ada beberapa jenis lichen yang tidak sensitif terhadap polusi,
tidak bisa tumbuh karena kurangnya habitat atau substrat. Suhu pada penelitian ini masih
tergolong baik. Lichenes merupakan bioindikator lingkungan, semakin banyaknya lichenes di
suatu wilayah maka dapat dikatakan tingkat polusinya rendah dan sebaliknya jika semakin
sedikit lichenes di suatu wilayah maka daerah tersebut tingkat polusinya tinggi. Adanya
kuantitasi jumlah polutan di udara menyebabkan terhambatnya pertumbuhan lumut kerak dan
penurunan jumlah jenis. Sehingga jika di suatu wilayah dengan tingkat polutan tinggi atau
kualitas udara rendah maka keragaman lichenes menjadi sangat rendah dan tidak bervariasi.

Suhu merupakan faktor yang sangat penting bagi kehidupan lichenes, pada penelitian
ini diperoleh suhu 29°C-30°C didukung oleh penelitian Mursina, suhu optimal 154 bagi
pertumbuhan lichenes adalah < 40°C, Suhu udara 45°C dapat merusak klorofil pada lichenes,
sehingga aktivitas fotosintesis dapat terganggu. Suhu udara juga akan mempengaruhi aktifitas
lichenes dalam menyerap SO2 (Sulfur dioksida) di udara.

a b

Gambar 4.11. Cryptothechia striata (a) Gambar pembanding (b) Hasil Penelitian

a b

Gambar 4.21. Pyxine cocoes (a) Gambar pembanding (b) Hasil Penelitian

2. Pengamatan Lichenes di Brayeun Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar


Berdasarkan pengamatan dengan mikroskop pada pembesaran 100 x 100 dari hasil
penelitian lichenes di Brayeun Kecamatan Leupung Aceh Besar di ambil salah satu dari
spesiesnya yaitu Dirinaria confusa , kemudian disayat melintang untuk melihat berdasarkan
anatomi ,terdapat 4 bagian yaitu korteks atas, lapisan alga, medulla serta korteks bawah. Pada
jenis lichenes foliose terdapat 4 bagian tubuh yang lengkap dan memiliki masing-masing
fungsi, korteks atas dipenuhi oleh hifa-hifa jamurnya, sel ini saling mengisi dengan material
berupa gelatin yang berfungsi untuk perlindungan, kemudian lapisan alga merupakan lapisan
berwarna biru kehijauan terletak dibawah korteks atas, diantara hifa-hifanya terdapat sel
berwarna hijau yang berguna untuk fotosintesis. Medulla yang terdiri dari hifa-hifa jamur yang
terjalin dengan yang lainnya membentuk untaian pembuluh, dan korteks bawah merupakan
lapisan yang terdiri dari hifa-hifa yang sangat padat membentang secara vertikal dan berfungsi
sebagai pelindung juga.

Siklus hidup lichenes terdiri dari dua fase yaitu fase seksual dan aseksual. Bagian fungi
pada lichenes menyebabkan terjadinya siklus seksual secara normal. Ini akan membawa pada
proses pembentukan tubuh buah seperti apothecia, perithecia, pycnidia yang menghasilkan
spora. Spora ini akan berkecambah dan menghasilkan miselium baru, jika berkombinasi
dengan alga yang cocok akan menghasilkan thallus lichenes yang baru. Alga melakukan proses
reproduksi melalui pembelahan sel. Kebanyakan lichen bereproduksi secara aseksual. Fase
aseksual (perbanyakan secara vegetatif) dengan bantuan propagula (organ regenerasi) khusus
lichenes. Mereka menghasilkan propagula vegetatif seperti soredia, isidia, lobula dan fragmen–
fragmen. Setelah tumbuh, badan ini meninggalkan tubuh lichen dan berkembang menjadi
thallus baru.

Berdasarkan hasil penelitian mengenai anatomi Lichenes yang disayat secara melintang
pada pembesaran 100 x 100 dapat dilihat pada Gambar 4.2

a
b
ab c c
d
d

Gambar 4.2. Sayatan Melintang Dirinaria confusa

Irisan Thallus Dirinaria confusa sangat jelas terlihat korteks atas, alga, medulla dan
korteks bawah, Dirinaria confusa merupakan Lichenes berbentuk foliose yang mana bentuk
tersebut tergolong anatomi yang lengkap. (a) Korteks atas, (b) lapisan Alga, (c) Medulla, dan
(d) korteks bawah.
BAB III
PEMBAHASAN

A. Kelebihan Jurnal
Setelah membaca jurnal ini, reviewer menemukan kekuatan pada bagian
rujukan hasil penelitian. Setiap hasil penelitian yang di dapatkan di data dengan jelas.
Konsep yang dicantumkan di dalam jurnal bisa dijadikan sebagai bahan pembantu
untuk memahami lebih jelas tujuan penulisan yang dilakukan. Hal itu juga membantu
kita untuk menganalisis jurnal yang bersangkutan. Penulis jurnal juga menggunakan
bahasa yang sopan dan muda dimengerti oleh para pembaca, sehingga hal ini juga dapat
membantu para pembaca untuk lebih bisa cepat untuk memahami maksud dan tujuan
dari si penulis dalam menulis serta mempublikasikan jurnal tersebut. Serta tata cara
penulisan dan isi abstrak sudah baik.

B. Kelemahan Jurnal
Ada beberapa kata di dalam jurnal menggunakan bahasa yang ilmiah sehingga,
dapat menyulitkan pembaca untuk memahaminya.
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Spesies lichenes yang terdapat di Brayeun Kecamatan Leupung Aceh Besar
pada seluruh lokasi penelitian adalah sebanyak 24 jenis dari 15 familia. Spesies
Cryptothecia striata merupakan jenis lichenes yang paling banyak ditemukan dan
menjadi jenis yang paling mendominasi di lokasi penelitian, Hasil penelitian juga
menunjukkan bahwa jenis lichenes yang paling sedikit di jumpai adalah Pyxine cocoes.

B. Saran
Adapun saran dari peneliti ini adalah sebagai berikut: Hasil penelitian ini
disarankan supaya digunakan sebagai referensi baik dalam proses belajar maupun
dalam penelitian-penelitian lainnya yang berhubungan dengan Lichenes.
DAFTAR PUSTAKA

Fithri,Safiratul., Zuraidah., Eriawati. (2018). Identifikasi Lichenes Di Brayeun Kecamatan


Leupung Kabupaten Aceh Besar. Jurnal Prosiding Seminar Nasional Biotik. Hal : 151-156.
Prosiding Seminar Nasional Biotik 2018 ISBN: 978-602-60401-9-0

IDENTIFIKASI Lichenes DI BRAYEUN KECAMATAN LEUPUNG KABUPATEN ACEH


BESAR

Safiratul Fithri1), Zuraidah2), Eriawati3)


1-3)
Program Studi Pendidikan Biologi FTK UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Email: fithrisafiratul@gmail.com

ABSTRAK

Lichenes merupakan tumbuhan yang bersimbiosis antara fungi dan alga. Lichenes memiliki habitat
hidup di pepohonan, bebatuan, tanah, atau permukaan artifisial lainnya. Lichenes memang sudah
sering dibahas, namun referensi mengenai Lichenes sangat minim, sehingga perlu dilakukan
penelitian lebih lanjut mengenai Lichenes untuk menambah biodiversitas Lichenes. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis Lichenes di Brayeun Aceh Besar dan untuk
mengetahui manfaat hasil penelitian Lichenes di Brayeun Aceh Besar sebagai referensi matakuliah
yang berhubungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kombinasi Line
transek dan Petak kuadrat dengan pengambilan sampel secara Purposive sampling. Analisis data
secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian ditemukan sebanyak 1545 individu Lichenes yang
termasuk di dalamnya 24 spesies dari 15 Familia. Hasil penelitian ini dimanfaatkan dalam bentuk
buku saku, poster, dan herbarium.

Kata Kunci: Lichenes, Brayeun Aceh Besar dan Referensi.

PENDAHULUAN
ichenes (lumut kerak) adalah asosiasi dapat dijadikan bioindikator pencemaran
simbiotik antara mikroorganisme lingkungan, karena Lichenes sangat peka
fotosintetik dan fungi. Lichenes terhadap polusi (Hasanuddin, 2014).
tumbuh pada permukaan batu, batang kayu yang Habitat Lichenes adalah pepohonan di
membusuk, pepohonan, dan atap dalam Brayeun yang merupakan salah satu
berbagai bentuk. Salah satu faktor yang pegunungan yang terdapat di Kecamatan
mempengaruhi bentuk thallus adalah substrat Leupung, Aceh Besar yang memiliki lanskape
tumbuhnya. Jenis Thallus crutose merupakan sungai yang dikelilingi oleh hutan dan bukit-
jenis paling sering dijumpai karena mampu bukit yang masih alami, dan memiliki
melekat pada berbagai substrat (Campbell , bermacam jenis Lichenes yang belum
2012). teridentifikasi. Letak kawasan Brayeun yang
Lichenes atau (lumut kerak) adalah masih dikategorikan alami, maka dapat
simbiosis antara jamur dan alga, yang memiliki disimpulkan bahwa masih banyak terdapat
fungsi untuk memperoleh makanan dari hasil Lichenes (lumut kerak), walaupun lokasinya
fotosintesis ganggang, karena ganggang bersifat sebagian juga dimanfaatkan sebagai objek
autotrof, sementara itu, jamur bersifat heterotrof wisata. Data tersebut penting untuk diketahui,
yang menyediakan air, mineral, serta melakukan selain mendapatkan sumber data
pertukaran gas dan melindungi ganggang. keanekaragaman hayati suatu daerah juga dapat
Manfaat Lichenes bagi kehidupan yaitu dijadikan sebagai referensi yang bermanfaat
dapat dijadikan obat seperti Usnea filipendula bagi mahasiswa dan serta dijadikan panduan
(antibiotik), karena mengandung anti kanker, dalam mengidentifikasi spesies-spesies
kemudian digunakan sebagai penambah rasa Lichenes.
dan aroma (masakan jepang), Rocella tinctoria Lichenes (lumut kerak) menyebar sangat
yang menghasilkan pigmen yang dapat dibuat luas, bisa terdapat di batu, pohon dan daun
kertas lakmus celup indikator pH serta lichenes sebagai habitatnya, namun tidak semua tempat

151
Safiratul Fithri, dkk

dapat kita jumpai karena habitat Lichenes Pengambilan sampel ditentukan 2 stasiun
adalah di tempat yang tingkat polusinya rendah, pengamatan, yakni di sebelah kanan sungai dan di
sehingga keberadaan Lichenes dapat menjadi sebelah kiri sungai, dilakukan pengamatan pada
bioindikator keadaan lingkungan sekitar. sepanjang garis Transek sepanjang 100 m yang
berpangkal dari kaki gunung tegak lurus sampai
METODE PENELITIAN ke puncak gunung, masing-masing stasiun dalam
Penelitian ini dilakukan di Brayeun satu transek terdiri atas 3 plot ukuran (10 m x 10
Kecamatan Leupung Aceh Besar yang m) guna untuk mengetahui keberadaan jenis
berlangsung pada bulan November 2017. Metode Lichenes yang terdapat di lokasi penelitian. Tinggi
yang digunakan dalam penelitian ini adalah pohon yang diambil yaitu setinggi dahan pertama
kombinasi antara Line Transek dan Petak kuadrat. atau 2 m dari tempat tumbuhnya.
Pengambilan sampel secara purposive sampling.

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3.1:

Tabel 3.1 Alat yang Digunakan dalam Penelitian Identifikasi Lichenes di Brayeun Aceh Besar.

Nama Alat Fungsi


GPS (Global Position System) Untuk mengetahui koordinat posisi penelitian.
Camera Untuk mengambil gambar dan dokumentasi kegiatan penelitian.
Lux meter Untuk mengukur intensitas cahaya.
Hygrometer Untuk mengukur suhu dan kelembaban udara.
Soil tester Untuk mengukur pH dan kelembaban tanah.
Lup Untuk membantu dokumentasi.
Meteran tanah Untuk memudahkan dalam menentukan plot.
Penggaris Untuk mengukur spesimen.
Cutter Untuk membantu pengambilan spesimen.
Alat tulis Sebagai perlengkapan untuk melakukan pencatatan selama
kegiatan penelitian.
Botol sampel Untuk menyimpan spesimen.
Botol handspray Untuk menyemprot alkohol pada spesimen setelah pengambilan.
Sarung tangan Untuk keamanan pada saat pengambilan spesimen.
Alkohol 70% Untuk pengawetan spesimen.
Tabel pengamatan Untuk mencatat data primer penelitian.

Gambar Stasiun Penelitian Identifikasi Lichenes di Brayeun Aceh Besar.


Hasil penelitian yang telah dilakukan di
HASIL DAN PEMBAHASAN Brayeun Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh
1. Spesies Lichenes yang terdapat di Besar diperoleh 24 spesies dari 15 familia. Data
Brayeun Kecamatan Leupung Aceh Besar spesies Lichenes dapat dilihat pada Tabel 4.2.

152
Identifikasi Lichenes Di Brayeun Kecamatan ...

Tabel 4.2 Jenis Lichenes yang terdapat di Brayeun Kecamatan Leupung Aceh Besar

No. Familia Jenis lichenes ∑ Koloni


1 Arthoniaceae Cryptothecia striata 356
2 Bacidiaceae Bacidia schweinitzii 43
3 Bacidia viridi farinosa 55
4 Bacidia sp 30
5 Chrysotrichaeae Chrysothrix candelaris 47
6 Collemataceae Collema subflaccidum 30
7 Leptogium azureum 27
8 Graphidaceae Diorygma poitaei 30
9 Graphis scripta 96
10 Graphis elegans 73
11 Graphis subelegans 68
12 Hymeneliaceae Aspicilia calcarea 81
13 Lecanoraceae Lecidella elaeochroma 45
14 Physciaceace Pyxine cocoes 16
15 Dirinaria confusa 27
16 Pyrenulaceae Pyrenula concatervans 31
17 Roccellaceae Syncesia leprobola 52
18 Stereocaulaceae Lepraria incana 64
19 Lepraria umbricola 52
20 Trypetheliaceae Trypethelium virens 63
21 Teloschistaceae Caloplaca sp 15
22 Phlyctidaceae Phlyctis argena 153
23 Phlyctis agelaea 56
24 Parmeliaceae Usnea sp 25
JUMLAH 1545
Berdasarkan Tabel 4.2 diketahui bahwa tahan terhadap kehilangan air. Kemudian Pyxine
spesies Lichenes yang terdapat di Brayeun cocoes merupakan jenis yang terdapat dalam
Kecamatan Leupung Aceh Besar pada seluruh jumlah sedikit pada penelitian ini, namun jenis
lokasi penelitian adalah sebanyak 24 jenis dari Lichenes ini sangat toleran terhadap polutan,
15 familia. Penyebaran familia terdiri dari seperti yang tertera pada hasil penelitian Desi
Arthoniaceae 1 jenis, familia Bacidiaceae 2 Maria.
jenis, familia Chrysotrichaeae 1 jenis, familia Hasil penelitian ini juga menunjukkan
Collemataceae 2 jenis, familia Graphidaceae 4 bahwa spesies Cryptothecia striata merupakan
jenis, familia Hymeneliaceae 1 jenis, familia jenis Lichenes yang paling banyak ditemukan
Lecanoraceae 1 jenis, 1 jenis Parmeliaceae, dan menjadi jenis yang paling mendominasi di
familia Physciaceace 2 jenis, familia lokasi penelitian, jenis Lichenes ini hampir
Pyrenulaceae 1 jenis, familia Roccellaceae 1 dijumpai diseluruh stasiun, didukung dengan
jenis, familia Stereocaulaceae 2 jenis, familia pernyataan Anonymous dalam Ernilasari (2014)
Trypetheliaceae 1 jenis, familia Teloschistaceae yang menyatakan bahwa jenis ini memiliki
1 jenis, dan familia Phlyctidaceae 1 jenis. distribusi yang luas di daerah tropis serta
Jenis yang paling banyak dijumpai adalah mampu hidup pada permukaan kulit baik yang
Cryptothecia striata dengan persentase 23%, memiliki stuktur halus, kasar, maupun pecah-
dan jenis yang paling sedikit di jumpai adalah pecah serta memiliki daya toleransi yang tinggi
Pyxine cocoes 1%. Umumnya lichen sensitif terhadap kualitas udara lingkungan.
terhadap polutan walaupun ada jenis-jenis Suhu merupakan faktor yang sangat
tertentu yang toleran terhadap polutan. penting bagi kehidupan Lichenes, pada
Cryptothecia striata adalah jenis yang paling penelitian ini diperoleh suhu 29°C-30°C
banyak dijumpai dan juga merupakan jenis yang didukung oleh penelitian Mursina, suhu optimal

153
Safiratul Fithri, dkk

bagi pertumbuhan lichenes adalah < 40°C,


Suhu udara 45°C dapat merusak klorofil pada
lichenes, sehingga aktivitas fotosintesis dapat
terganggu. Suhu udara juga akan
a b
mempengaruhi aktifitas lichenes dalam
menyerap SO2 (Sulfur dioksida) di udara. Gambar 4.11. Cryptothechia striata (a) Gambar
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pembanding (b) Hasil Penelitian
jenis Lichenes yang paling sedikit di jumpai
adalah Pyxine cocoes, seperti yang tertera pada
Tabel 4.1. Lichenes jenis ini sering tumbuh pada
kulit kayu, lumut atau batu, Jenis ini dijumpai
pada kulit pohon belimbing (Averrhoa a b

carambola). Pyxine cocoes dijumpai dalam Gambar 4.21. Pyxine cocoes (a) Gambar
jumlah sedikit karena pada stasiun 2 tidak pembanding (b) Hasil Penelitian.
terlalu banyak tumbuhan bahkan sebagian sudah
dijadikan ladang bagi masyarakat setempat, 2. Pengamatan Lichenes di Brayeun
namun pada dasarnya spesies Pyxine cocoes Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh
tidak tergolong sensitif terhadap polusi. Pada Besar
stasiun dua suhu udara mencapai 28-30°C, ini Berdasarkan pengamatan dengan
masih tergolong baik, kemudian pada stasiun mikroskop pada pembesaran 100 x 100 dari
dua tidak banyak dijumpai pohon sehingga ada hasil penelitian Lichenes di Brayeun Kecamatan
beberapa jenis Lichen yang tidak sensitif Leupung Aceh Besar di ambil salah satu dari
terhadap polusi, tidak bisa tumbuh karena spesiesnya yaitu Dirinaria confusa , kemudian
kurangnya habitat atau substrat. Suhu pada disayat melintang untuk melihat berdasarkan
penelitian ini masih tergolong baik. Lichenes anatomi ,terdapat 4 bagian yaitu korteks atas,
merupakan bioindikator lingkungan, semakin lapisan alga, medulla serta korteks bawah. Pada
banyaknya Lichenes di suatu wilayah maka jenis Lichenes foliose terdapat 4 bagian tubuh
dapat dikatakan tingkat polusinya rendah dan yang lengkap dan memiliki masing-masing
sebaliknya jika semakin sedikit Lichenes di fungsi, korteks atas dipenuhi oleh hifa-hifa
suatu wilayah maka daerah tersebut tingkat jamurnya, sel ini saling mengisi dengan material
polusinya tinggi. Adanya kuantitasi jumlah berupa gelatin yang berfungsi untuk
polutan di udara menyebabkan terhambatnya perlindungan, kemudian lapisan alga merupakan
pertumbuhan lumut kerak dan penurunan lapisan berwarna biru kehijauan terletak
jumlah jenis. Sehingga jika di suatu wilayah dibawah korteks atas, diantara hifa-hifanya
dengan tingkat polutan tinggi atau kualitas terdapat sel berwarna hijau yang berguna untuk
udara rendah maka keragaman Lichenes fotosintesis. Medulla yang terdiri dari hifa-hifa
menjadi sangat rendah dan tidak bervariasi. jamur yang terjalin dengan yang lainnya
membentuk untaian pembuluh, dan korteks
bawah merupakan lapisan yang terdiri dari hifa-
hifa yang sangat padat membentang secara
vertikal dan berfungsi sebagai pelindung juga.
Siklus hidup Lichenes terdiri dari dua fase
yaitu fase seksual dan aseksual. Bagian fungi
pada lichenes menyebabkan terjadinya siklus
seksual secara normal. Ini akan membawa pada
proses pembentukan tubuh buah seperti
apothecia, perithecia, pycnidia yang

154
Identifikasi Lichenes Di Brayeun Kecamatan ...

menghasilkan spora. Spora ini akan seperti soredia, isidia, lobula dan fragmen–
berkecambah dan menghasilkan miselium baru, fragmen. Setelah tumbuh, badan ini
jika berkombinasi dengan alga yang cocok akan meninggalkan tubuh lichen dan berkembang
menghasilkan thallus Lichenes yang baru. Alga menjadi thallus baru.
melakukan proses reproduksi melalui Berdasarkan hasil penelitian mengenai
pembelahan sel. Kebanyakan lichen anatomi Lichenes yang disayat secara melintang
bereproduksi secara aseksual. Fase aseksual pada pembesaran 100 x 100 dapat dilihat pada
(perbanyakan secara vegetatif) dengan bantuan Gambar 4.2
propagula (organ regenerasi) khusus lichenes.
Mereka menghasilkan propagula vegetatif

b
a b c
c
d
d

Gambar 4.2. Sayatan Melintang Dirinaria confusa

Irisan Thallus Dirinaria confusa sangat ditemukan dan menjadi jenis yang paling
jelas terlihat korteks atas, alga, medulla dan mendominasi di lokasi penelitian, Hasil
korteks bawah, Dirinaria confusa merupakan penelitian juga menunjukkan bahwa jenis
Lichenes berbentuk foliose yang mana bentuk Lichenes yang paling sedikit di jumpai adalah
tersebut tergolong anatomi yang lengkap. (a) Pyxine cocoes.
Korteks atas, (b) lapisan Alga, (c) Medulla, dan
(d) korteks bawah. SARAN
Adapun saran dari peneliti ini adalah
KESIMPULAN sebagai berikut: Hasil penelitian ini disarankan
Spesies Lichenes yang terdapat di Brayeun supaya digunakan sebagai referensi baik dalam
Kecamatan Leupung Aceh Besar pada seluruh proses belajar maupun dalam penelitian-
lokasi penelitian adalah sebanyak 24 jenis dari penelitian lainnya yang berhubungan dengan
15 familia. Spesies Cryptothecia striata Lichenes.
merupakan jenis Lichenes yang paling banyak

DAFTAR PUSTAKA
Andi handoko, 2015, Keanekaragaman
Lumut Kerak sebagai Bioindikator .Efri roziaty, 2016, Kajian Lichen: Morfologi,
Kualitas Udara di Kawasan Asrama Habitat Dan Bioindikator Kualitas Udara
Internasional IPB, Artikel Oktober. Ambien Akibat Polusi Kendaraan
Bermotor Jurnal Bioeksperimen, Vol.2
Campbell , 2012, Biologi Jilid 2 Edisi No.1.
Kedelapan, Erlangga: Jakarta

155
Safiratul Fithri, dkk

Efry roziati, 2016, Identifikasi Lumut Kerak


(Lichen) Di Area Kampus Universitas
Muhammadiyah Surakarta, Proceeding
Biology Education Conference (ISSN:
2528-5742), Vol 13(1).

Ernilasari, 2014, Keanekaragaman Jenis


Lichenes di Gle Jaba Kecamatan Lhoong
Aceh Besar, (Skripsi).

Faisolhezim, 2014, Tingkat kepekaan Lichenes


terhadap Kepekaan Polutan Udara,
UNAIR.

Ferainti Fachrul, 2007, Metode Sampling


Bioekologi, Jakarta: PT Bumi Aksara.

Hasanuddin, 2014, Botani Tumbuhan Rendah,


Banda Aceh : UIN Ar- Raniry.

Jonh A.Elix, Pyxine 2001, (Sharnoff &


S.Sharnoff, Lichens of North
America), Article.

Murningsih, 2016, Jenis –Jenis Lichens Di


Kampus UNDIP Semarang, jurnal
Bioma, Vol. 18, No.1.

156