Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Tekanan darah merupakan faktor yang amat penting pada sistem sirkulasi.
Peningkatan atau penurunan tekanan darah akan mempengaruhi homeostatsis di
dalam tubuh. Terdapat dua macam kelainan tekanan darah, antara lain yang
dikenal sebagai hipertensi atau tekanan darah tinggi dan hipotensi atau tekanan
darah rendah. Hipertensi telah menjadi penyakit yang menjadi perhatian di banyak
Negara di dunia, karena hipertensi seringkali menjadi penyakit tidak menular
nomor satu di banyak negara (Anggara et al, 2013).
Jumlah penderita hipertensi diseluruh dunia mencapai 972 juta jiwa pada
tahun 2011. Sebanyak 330 juta, sisanya kurang dari 600 juta berada di Negara
yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Data WHO tahun 2010 dari 50%
penderita hipertensi yang diketahui hanya 255 mendapatkan pengobatan, dan
hanya 12,5% yang diobati dengan baik.. Di bagian Asia tercatat 38,4 juta
penderita hipertensi pada tahun 2000 dan diprediksi akan menjadi 67,4 juta orang
pada tahun 2025 (Prakoso, 2014).
Menurut Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007 Kementerian Kesehatan
RI, prevalensi hipertensi di Indonesia pada usia diatas 18 tahun mencapai 29,8%.
Prevalensi ini semakin bertambah seiring dengan bertambahnya usia. Prevalensi
hipertensi pada golongan umur 55-64 tahun, 65-74 tahun dan >75 tahun, masing-
masing mencapai 53,7%, 63,5%, dan 67,3%. Riset ini juga menunjukkan bahwa
sebanyak 76% kasus hipertensi dalam masyarakat belum terdiagnosis
(Dharmeizar, 2012).
Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah pada tahun 2013
jumlah kasus lama hipertensi sebanyak 40.975 jiwa dan kasus baru 37.615 jiwa. .
Total penderita hipertensi di provinsi Sulawesi Tengah pada tahun 2013 adalah
78.589 jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa hipertensi merupakan salah satu
penyakit yang prevalensinya cukup tinggi. Sedangkan pada tahun 2014 di
kabupaten Sigi terdapat kasus lama sebanyak 4.560 jiwa dan kasus baru sebanyak

1
2.618 jiwa, sedangkan angka kematian karena penyakit hipertensi adalah 33 orang
(Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah, 2015). Di kecamatan Lindu jumlah kasus
hipertensi sebanyak 405 orang pada tahun 2013, dengan jumlah kasus hipertensi
untuk pralansia dan lansia sebanyak 124 orang (Dinkes Sigi, 2015)
Banyak faktor yang berperan untuk terjadinya hipertensi meliputi resiko yang
tidak dapat dikendalikan (mayor) dan faktor resiko yang dapat dikendalikan
(minor). Faktor resiko yang tidak dapat dikendalikan (mayor) seperti keturunan,
jenis kelamin, ras dan usia. Sedangkan faktor resiko yang dapat dikendalikan
(minor) yaitu obesitas, kurang olah raga atau aktivitas, merokok, minum kopi,
sensitivitas natrium, kadar kalium rendah, alkoholisme, stress, pekerjaan,
pendidikan dan pola makan. Hipertensi dapat dicegah dengan menghindari faktor
penyebab terjadinya hipertensi dengan pengaturan pola makan, gaya hidup yang
benar, hindari kopi, merokok dan alkohol, mengurangi konsumsi garam yang
berlebihan dan aktivitas yang cukup seperti olahraga yang teratur (Andria,2013).
Di Amerika, diperkirakan 1 dari 4 orang dewasa menderita hipertensi. Apabila
penyakit ini tidak terkontrol, akan menyerang target organ, dan dapat
menyebabkan serangan jantung, stroke, gangguan ginjal, serta kebutaan. Dari
beberapa penelitian dilaporkan bahwa penyakit hipertensi yang tidak terkontrol
dapat menyebabkan peluang 7 kali lebih besar terkena stroke, 6 kali lebih besar
terkena congestive heart failure, dan 3 kali lebih besar terkena serangan jantung
(Rahajeng, 2009).
Hipertensi yang tidak tertangani dengan baik, secara bermakna akan
mengurangi harapan hidup karena terjadi kerusakan pada jantung, otak, dan ginjal.
Pria dengan tekanan darah 150/100 mmHg memiliki resiko kematian dua sampai
tiga kali lebih besar dari pada mereka dengan tekanan darah 110/70 mmHg.
Bahkan peningkatan tekanan darah di atas 82 mmHg mempunyai korelasi dengan
peningkatan mortalitas, terutama wanita kelompok umur 15–40 tahun (Samara,
2001)
Pada penelitian ini, peneliti tertarik meneliti kejadian hipertensi di kecamatan
Lindu karena angka kejadiannya cukup tinggi dan di daerah tersebut merupakan
daerah endemik Shistosomiasis. Peneliti mengharapkan adanya penelitian lanjutan

2
di daerah lain yang bukan daerah endemik schistosomiasis mengenai hipertensi
untuk menilai apakah penyakit schistosomiasis memberi pengaruh terhadap
peningkatan kejadian penyakit lain seperti hipertensi. Selain itu peneliti ingin
mengetahui apakah pola makan dan gaya hidup masyarakat berpengaruh terhadap
hipertensi, dimana pada masyarakat perkotaan lebih cenderung terkena penyakit
tersebut karena terlalu banyak makanan cepat saji dan gaya hidup yang lebih
moderen dibandingkan di daerah pedesaan.
Oleh karena itu dilakukan penelitian mengenai hubungan pola makan dan
gaya hidup terhadap kejadian hipertensi pada pralansia dan lansia di Desa Tomado
kecamatan Lindu kabupaten Sigi tahun 2015.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah pada penelitian ini
adalah ”Apakah ada hubungan antara pola makan dan gaya hidup dengan
hipertensi pada pralansia dan lansia di Kecamatan Lindu Kabupaten Sigi tahun
2013 ?”

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan hubungan antara pola makan dan gaya hidup
dengan kejadian hipertensi pada pralansia dan lansia di Desa Tomado
kecamatan Lindu kabupaten Sigi tahun 2015.
2. Tujuan Khusus :
a. Mengetahui prevalensi kejadian hipertensi pada pada pralansia dan lansia
di kecamatan Lindu kabupaten Sigi tahun 2015.
b. Mengetahui hubungan antara karakteristik (usia, jenis kelamin dan
genetik) dengan kejadian hipertensi.
c. Mengetahui hubungan antara pola makan (konsumsi natrium, konsumsi
lemak dan konsumsi kalium) dengan kejadian hipertensi.
d. Mengetahui hubungan antara gaya hidup (kebiasaan minum kopi,
aktivitas fisik, kebiasaan merokok dan stress) dengan kejadian hipertensi.

3
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat bagi pemerintah
Sebagai bahan informasi bagi pemerintah dalam rangka meningkatkan
fasilitas serta upaya pelayanan terhadap penderita hipertensi.
2. Manfaat bagi masyarakat
Sebagai sumber informasi bagi masyarakat mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi kejadian hipertensi.
3. Manfaat bagi penelitian selanjutnya
Sebagai bahan referensi bagi peneliti lain yang ingin mengadakan penelitian
lebih lanjut mengenai hipertensi.
4. Manfaat bagi peneliti
Sebagai sumber pengetahuan dan pengalaman bagi peneliti dalam meneliti
hubungan pola makan dan gaya hidup dengan hipertensi.
5. Manfaat bagi pendidikan
Menambah perbendaharaan referensi mengenai faktor-faktor yang berkaitan
dengan hipertensi di Sulawesi Tengah khususnya di kecamatan Lindu

E. Keaslian Penelitian
Penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan penelitian yang akan
dilakukan :

N PENELITI JUDUL VARIABEL DESAIN HASIL


O PENELITIAN PENELITIAN
1 Emerita Hubungan Pola 1. Hipertensi Kuantitatif, 1. Terdapat
. Stefhany Makan, Gaya 2. Karakteristik observasional hubungan positif
(2012) Hidup Dan Indeks (umur, jenis analitik antara riwayat
Massa Tubuh kelamin, Cross sectional hipertensi,
Dengan genetik) kebiasaan
Hipertensi Pada 3. Pola makan konsumsi natrium
Pralansia Dan 4. Gaya hidup dengan hipertensi
Lansia Di 5. Indeks Massa 2. Responden yang
Kelurahan Depok Tubuh obesitas lebih
Jaya 2012 cenderung
menderita
hipertensi
dibandingkan yang

4
tidak obesitas
2 Siti Hubungan antara 1. Faktor yang Kuantitatif, 1. Pola makanan
. Widyaning- konsumsi tidak bisa observasional pencegah
rum (2012) makanan dengan diubah (umur, analitik hipertensi
kejadian jenis kelamin, Cross sectional berhubungan
hipertensi pada genetik) secara signifikan
lansia (Studi di 2. Faktor yang dengan kejadian
UPT Pelayanan bisa di ubah hipertensi
Sosial Lanjut Usia (kegemukan, diantaranya tomat,
Jember) asupan garam, sawi, brokoli,
konsumsi bayam dll. Selain
karbohidrat dan itu, pola makan
lemak, pemicu hipertensi
konsumsi serat) yang berhubungan
secara signifikan
dengan hipertensi
diantaranya daging
atau kulit ayam,
keripik dll.
2. Ada 3 konsumsi
gizi yang
berhubungan
secara signifikan
dengan kejadian
hipertensi yaitu :
variabel
lemak,natrium dan
serat sedangkan
variabel
karbohidrat tidak
berhubungan
secara signifikan
dengan kejadian
hipertensi
3 Hesti Faktor resiko 1.Umur, jenis Kuantitatif, 1. Terdapat hubungan
Rahayu hipertennsi pada kelamin, riwayat observasional antara umur dan
(2012) RW 01 hpertensi analitik obesitas terhadap
skrengseng 2.kebiasaan Cross sectional kejadian hipetensi
Sawah, konsumsi 2. Ada hubungan
Kecamatan makanan asin antara faktor resiko
Jagakarsa Kota dan makanan jenis kelamin,
Jakarta Selatan lemak jenuh riwayat keluarga,
3.kebiasaan kebiasaan
merokok dan konsumsi makanan
olahraga rutin, asin dan lemak
stress, obesitas jenuh, stress
obesitas merokok
dan kebiasaan
olahraga rutin
dengan kejadian

5
hipertensi.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka
1. Defenisi hipertensi
Hipertensi adalah keadaan tekanan darah pasien yang telah diukur
menggunakan tensimeter dan diperoleh hasil tekanan sistolik diatas 140
mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Hipertensi tidak dapat
disembuhkan namun hanya dapat dikendalikan melalui kontrol kesehatan
secara rutin, melakukan diet rendah garam dan mengonsumsi obat secara
teratur untuk mengurangi risiko komplikasi pada kardiovaskular dan organ
lain yang ada pada diri pasien (Evadewi, 2013).
Hipertensi menyebabkan kelainan serius. Jika resistensi yang harus
dihadapi ventrikel kiri ketika memompa darah (afterload) meningkat untuk
jangka waktu yang lama, otot jantung akan mengalami hipertensi (Ganong,
2008).

2. Epidemiologi
Menurut data WHO, di seluruh dunia, sekitar 972 juta orang atau 26,4%
penghuni bumi mengidap hipertensi, angka ini kemungkinan akan meningkat
menjadi 29,2% di tahun 2025. Dari 972 juta pengidap hipertensi, 333 juta
berada di Negara maju dan 639 sisanya berada di Negara sedang berkembang,
termasuk Indonesia (Anggara et al, 2013)
Menurut penelitian yang dilakukan Boedi Darmojo pada tahun 2011 di
Indonesia diperoleh terjadi peningkatan lansia yang menderita hipertensi
sekitar 50%, di jawa sekitar 42,6% (Kenia dkk, 2013). Menurut data Dinas
Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah pada tahun 2013 jumlah kasus lama
hipertensi sebanyak 40.975 jiwa dan kasus baru 37.615 jiwa. . Total penderita
hipertensi di provinsi Sulawesi Tengah pada tahun 2013 adalah 78.589 jiwa.
Hal ini menunjukkan bahwa hipertensi merupakan salah satu penyakit yang

6
prevalensinya cukup tinggi. Sedangkan pada tahun 2014 di kabupaten Sigi
terdapat kasus lama sebanyak 4.560 jiwa dan kasus baru sebanyak 2.618 jiwa,
sedangkan angka kematian karena penyakit hipertensi adalah 33 orang
(Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah, 2015). Di kecamatan Lindu jumlah kasus
hipertensi sebanyak 405 orang pada tahun 2013, dengan jumlah kasus
hipertensi untuk pralansia dan lansia sebanyak 124 orang (Dinkes Sigi, 2015)

3. Etiologi
Berdasarkan penyebabnya ada 2 jenis hipertensi yaitu :
a. Hipertensi primer
Hipertensi primer adalah suatu kategori umum untuk peningkatan
tekanan darah yang disebabkan oleh beragam penyebab yang tidak
diketahui dan bukan suatu entitas tunggal (Sherwood, 2011).
Beberapa penyebab hipertensi primer adalah sebagai berikut :
1. Gangguan penanganan garam oleh ginjal
Gangguan fungsi ginjal untuk menimbulkan tanda-tanda penyakit
ginjal menyebabkan akumulasi perlahan garam dan air dalam tubuh,
yang mengakibatkan peningkatan progresi tekanan darah (Sherwood,
2011)
2. Asupan garam berlebihan
Konsumsi garam memiliki efek langsung terhadap tekanan darah.
Telah ditunjukkan bahwa peningkatan tekanan darah ketika semakin
tua, yang terjadi pada semua masyarakat, merupakan akibat dari
garam yang kita konsumsi (Beevers, 2002).
Karena garam secara osmosis menahan air, dan karenanya
meningkatkan volume darah dan berperan dalam kontrol jangka
panjang tekanan darah, maka asupan garam berlebihan secara teoritis
dapat menyebabkan hipertensi (Sherwood, 2011)
3. Diet
Menurut DASH (Dietary Approach to Stop Hypertention) bahwa
diet buah-buahan , sayuran dan bahan rendah lemak, akan mengurangi

7
kejenuhan dan lemak total. Diet ini didukung oleh National Heart,
Lung and Blood Institute and the American Heart Association, dan
bentuk dasar untuk United States Departement of Agriculture’s
newest food pyramid. Hal ini dihubungkan dengan pengurangan
tekanan darah sistolik sekitar 8-14 mmHg, dan dapat membantu
mengurangi dan mengontrol berat badan dan asupan natrium (Martin,
2009).
4. Variasi dalam gen yang menyandi angiotensinogen
Angiotensinogen adalah bagian dari jalur hormon yang
menghasilkan vasokonstriktor kuat angiotensinogen II serta
mendorong retensi garam dan air. Salah satu varian gen pada manusia
tampaknya berkaitan dengan peningkatan insidensi hipertensi
(Sherwood, 2011)
b. Hipertensi sekunder
Kausa pasti hipertensi hanya dapat ditemukan pada 10% kasus.
Hipertensi yang terjadi akibat masalah primer lain disebut hipertensi
sekunder. (Sherwood, 2011).
Berikut beberapa contoh hipertensi sekunder :
1. Hipertensi renovaskular
Hipertensi renovaskular dapat didefinisikan sebagai peningkatan
tekanan diastolik dan sistolik disertai dengan oklusi arteri renalis.
Keadaan ini pasti mengakibatkan pengurangan aliran darah total
renalis, yang menyebabkan aparatus jukstaglomerularis
mensekresikan renin. Yang termasuk faktor resiko hipertensi
renovaskular adalah (i) tekanan darah diastolik yang lebih dari 95 mm
Hg pada pasien yang sudah tidak dapat diatasi lagi dengan tiga jenis
obat hipertensi; (ii) hipertensi akselerasi; (iii) kehilangan tiba-tiba dari
kontrol hipertensi sebelumnya; (iv) fungsi renal yang rusak akibat
terapi dengan kaptopril; (v) atau bruit abdominal (Samara, 2001)
2. Hipertensi endokrin

8
Sebagai contoh, feokromasitoma adalah suatu tumor yang tumbuh
di dalam kelenjar adrenal, hanya 10% kelenjar adrenal
(paraganglioma). Tumor dapat mensekresi bermacam-macam
hormon, terutama noreepinefrin, epinefrin, dopamin, dengan pola-pola
tertentu yang berbeda pada tiap-tiap pasien. Beberapa paraganglioma
juga dapat memproduksi epinefrin. Manifestasi klinis yang
berhubungan dengan overproduksi katekolamin seperti sakit kepala,
berkeringat, berdebar-debar dan dikenal sebagai triad. Hipertensi yang
terjadi karena feokromasitoma dapat terjadi labil (66%) atau menetap
(3%), sehingga sering salah diagnosis sebagai hipertensi primer
(Sudoyo, 2007)
3. Hipertensi neurogenik
Salah satu contoh adalah hipertensi yang disebabkan oleh
kesalahan kontrol tekanan darah karena defek pada kardiovaskular
(Sherwood, 2011).

4. Klasifikasi tekanan darah


The Joint National Committee on prevention, detection, evaluation and
treatment of high blood pressure (JNC) 7membuat klasifikasi membagi
tekanan darah menjadi 4 kategori yaitu :

Tabel 2.1. Klasifikasi Tekanan Darah

Klasifikasi tekanan darah Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)


Normal <120 Dan <80
Prehipertensi 120-139 Atau 80-89
Hipertensi tahap 1 140-159 Atau 90-99
Hipertensi tahap 2 ≥160 or ≥100
(Sumber: Martin Jeffery. Hypertension Guidelines.2008;3;3;91-96)

5. Patogenesis
Hipertensi esensial bisa disebabkan oleh pertambahan volume darah
(misalnya karena berkurangnya ekskresi natrium ke dalam urine) atau oleh

9
peningkatan tahanan tepi (misalnya karena bertambahnya pelepasan zat-zat
vasokonstriktor, meningkatnya sentivitas sel otot polos vaskuler atau karena
faktor neurogenik), atau disebabkan oleh keduanya. Kelainan pada regulasi
tekanan darah renal dapat turut menyebabkan hipertensi esensial dengan
mempengaruhi salah satu dari dua sistem ini :
a. Sistem renin-angiotensi (misalnya hipertensi pada individu dengan
varian genetik angiotensinogen yang spesifik; angiotensinogen
merupakan substrat fisiologik untuk renin)
b. Homeostasis natrium
Meskipun kelainan gen yang tunggal dapat (meskipun jarang)
menyebabkan hipertensi yang berat, namun kecil kemungkinan bahwa mutasi
pada lokus gen yang tunggal merupakan sumber utama hipertensi esensial
pada populasi masyarakat luas. Kemungkinan yang jauh lebih besar adalah
bahwa hipertensi esensial merupakan kelainan yang bersifat heterogen dan
multifaktor, yaitu kombinasi efek mutasi atau polimorfisme pada beberapa
lokus gen mempengaruhi tekanan darah lewat kerjasamanya dengan lebih dari
satu variabel nongenetik. Jadi, faktor lingkungan (misalnya stres, asupan
garam) dapat juga turut memberikan konstribusi, tetapi hal ini biasanya
terjadi pada individu yang secara genetik sudah memiliki predisposisi
(Mitchell et al, 2008).
Ginjal berfungsi untuk mengatur tekanan arteri melalui perubahan volume
cairan ekstrasel dan memiliki mekanisme lainnya untuk mengatur tekanan.
Mekanisme ini adalah sistem renin-angiotensin. Renin adalah suatu enzim
protein yang dilepaskan oleh ginjal bila tekanan arteri turun sangat rendah.
Kemudian, enzim ini meningkatkan tekanan arteri melalui beberapa cara.
Renin disintesis dan disimpan dalam bentuk inaktif yang disebut prorenin di
dalam sel-sel jukstaglomerular (sel JG) di ginjal. Sel JG merupakan
modifikasi dari sel-sel otot polos yang terletak di dinding arteriol aferen, tepat
di proksimal glomeruli. Bila tekanan arteri turun, reaksi intrinsik di dalam
ginjal untuk bersirkulasi ke seluruh tubuh. Walaupun demikian, sejumlah

10
kecil renin tetap berada dalam cairan lokal ginjal dan memicu beberapa fungsi
intrarenal (Guyton & Hall, 2007).

6. Manifestasi klinis hipertensi


Telah diketahui bahwa tekanan darah tinggi adalah penyakit yang
berbahaya, karena dapat mempersingkat masa hidup seseorang dan
meningkatkan kemungkinan terkena serangan jantung, stroke, gangguan
penglihatan, kerusakan fungsi ginjal, dan pembengkakan arteri terbesar di
tubuh. Gejalanya berupa sakit kepala, nyeri atau sesak pada dada, pusing,
gangguan tidur, terengah-engah saat beraktifitas, jantung berdebar-debar,
mimisan, kebal atau kesemutan, gelisah dan mudah marah, keringat
berlebihan, kram otot, badan lesu, pembengkakan di bawah mata pada pagi
hari (Kenia dkk, 2013).
Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Kerusakan organ-organ target yang umum
ditemui pada pasien hipertensi adalah 1)Jantung: hipertrofi ventrikel kiri,
angina atau infark miokardium dan gagal jantung. 2)Otak: strok atau
transient ischemic attack. 3)Penyakit ginjal kronis. 4)Retinopati. Beberapa
penelitian menemukan bahwa penyebab langsung dari kenaikan tekanan
darah pada organ, atau karena efek tidak langsung, antara lain adanya
autoantibodi terhadap reseptor angiotensin II, stres oksidatif, down
regulation, dari ekspresi nitric oxide synthase, dan lainlain. Penelitian lain
juga membuktikan bahwa diet tinggi garam dan sensitifitas terhadap garam
berperan besar dalam timbulnya kerusakan organ terget, misalnya kerusakan
pembuluh darah akibat meningkatnya ekspresi transforming growth factor-β
(TGF- β) (Sudoyo, 2009).

7. Faktor resiko yang berhubungan dengan hipertensi


a. Faktor resiko yang tidak dapat diubah
1. Usia

11
Salah satu faktor yang berperan dalam hipertensi adalah usia
pasien, dimana usia 45 tahun hingga 59 tahun dianggap mengalami
kecenderungan hipertensi karena pada usia middle age merupakan
usia dimana kondisi tubuh mulai menurun dan rentan mengalami
penyakit kronis (Evadewi dkk, 2013)
Baik tekanan darah sistolik maupun tekanan darah diastolik
meningkat sesuai dengan meningkatnya umur. Tekanan darah
sistolik meningkat secara progresif sampai umur 70-80 tahun,
sedangkan tekanan darah diastolik meningkat sampai umur 50-60
tahun dan kemudian cenderung menetap atau sedikit menurun.
Kombinasi perubahan ini sangat mungkin mencerminkan adanya
kekakuan pembuluh darah dan penurunan kelenturan arteri dan ini
mengakibatkan peningkatan tekanan nadi sesuai dengan umur.
Penurunan elastisitas pembuluh darah tersebut menyebabkan
peningkatan resistensi vaskuler perifer. Sensitivitas baroreseptor juga
berubah sesuai dengan umur (Firtsyani, 2011).
2. Ras
Orang-orang Afro-Karibia yang hidup di masyarakat Barat
mengalami hipertensi secara merata yang lebih tinggi dari pada
orang berkulit putih. Hal ini kemungkinan disebabkan karena tubuh
orang-orang Afro-Karibia mengolah garam secara berbeda. Namun,
penelitian terhadap kaum imigran menunjukkan meskipun asal-usul
ras merupakan salah satu faktor, sebenarnya faktor pola makan dan
gaya hidup merupakan faktor yang lebih berarti. Seseorang yang
hidup di sebuah negara Barat yang lebih makmur lebih mudah
menderita hipertensi dari pada mereka yang hidup di negara lebih
miskin (Beevers, 2002).
3. Jenis Kelamin
Salah satu faktor yang tidak dapat diubah yaitu jenis kelamin.
Dimana laki-laki dianggap lebih rentan mengalami hipertensi
dibandingkan perempuan. Hal ini dikarenakan gaya hidup yang lebih

12
buruk dan tingkat stres yang lebih besar pada laki-laki dibanding
perempuan (Evadewi dkk, 2013)
Secara keseluruhan, resiko aterosklerosis koroner lebih besar
pada laki-laki dari pada perempuan. Perempuan agaknya relatif kebal
terhadap penyakit ini sampai usia setelah menopause dan kemudian
menjadi sama rentannya seperti pada laki-laki. Efek perlindungan
esterogen dianggap menjelaskan adanya imunitas wanita pada usia
sebelum menopause, tetapi pada kedua jenis kelamin dalam usia 60
hingga 70-an. Frekuensi infark miokardium menjadi setara (Price,
2005).
4. Keturunan (genetik)
Faktor genetik jelas berperan dalam menentukan besar
tekanan, seperti dibuktikan oleh penelitian yang membandingkan
kembar monozigot dan dizigot dan oleh penelitian yang meneliti
penyebaran hipertensi dalam keluarga. Selain itu, beberapa penyakit
gen-tunggal yang mempengaruhi jalur spesifik yang mengendalikan
tekanan darah normal dapat menyebabkan hipertensi (walaupun
jarang). Selain itu mutasi di gen tertentu yang tidak secara langsung
berperan dalam pengendalian tekanan darah juga dibuktikan terjadi
pada pasien hipertensi esensial. Mutasi ini mencakup mutasi di gen
untuk protein sitoskeleton α-adducin dan polimorfisme pada subunit
β3 protein G heterotrimetrik. Dicurigai bahwa a-adducin mengatur
pemindahan natrium di tubulus ginjal dan bahwa protein G mungkin
merupakan jalur sinyal yang mempertahankan homeostasis natrium
(Kumar dkk, 2007).
b. Faktor resiko yang dapat diubah
1. Asupan garam
Terdapat bukti bahwa penyebab hubungan antara konsumsi
garam dan tekanan darah dan konsumsi garam berlebih mungkin
berkontribusi dalam hipertensi yang resisten. Mekanisme hubungan
asupan garam dan peningkatan tekanan darah bukan hanya

13
meningkatkan volume ekstraseluler tetapi juga resistensi pembuluh
perifer, yang merupakan bagian dari aktivasi simpatis. Biasanya
asupan garam antara 9- 12 g/hari di banyak negara dan itu
menunjukkan bahwa pengurangan sekitar 5 g/hari berefek pada
penurunan tekanan darah sistolik secara moderat (1-2 mmHg) pada
individu yang normotensi dan agaknya efeknya lebih terungkap pada
individu yang hipertensi (1-4 mmHg) (Mancia, 2013).
Mengurangi konsumsi garam dapat membantu menurunkan
tekanan darah. Konsumsi garam yang tingg selama bertahun-tahun
kemungkinan meningkatankan tekanan darah karena meningkatkan
sodium dalam sel-sel otot polos pada dinding arteriol. Kadar sodium
yang tinggi ini memudahkan masuknya kalsium ke dalam sel-sel
tersebut. Hal ini kemudian menyebabkan arteriol berkontraksi dan
mengalami penyempitan pada lumennya (Beevers, 2002).
2. Berat badan dan Obesitas
Obesitas merupakan faktor risiko utama dari beberapa
penyakit degeneratif dan metabolik, salah satunya adalah penyakit
hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi. Hipertensi merupakan
suatu keadaan ketika tekanan darah meningkat melebihi batas
normal yaitu 120/80 mmHg (Sihombing, 2010).

Tabel2.2KlasifikasiPengukuranIndeks Massa Tubuh (IMT)


pada orang Dewasa Asia.(Klasifikasi WHO)

Klasifikasi IMT (kg/m2)


Underweight <18.5

Normal 18.5-22.9

Overweight ≥23.0

Beresiko 23.0-24.9

Obes I 25.0-29.9

Obes II ≥30.0

14
(Sumber: Aru W. Sudoyo.Buku Ajar IlmuPenyakitDalamJilid II Edisi
V. 2009)
Peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT) erat kaitannya
dengan penyakit hipertensi baik pada laki-laki maupun pada
perempuan. Kenaikan berat badan (BB) sangat berpengaruh pada
mekanisme timbulnya kejadian hipertensi pada orang yang obes
akan tetapi mekanisme terjadinya hal tersebut belum dipahami
secara jelas namun diduga pada orang yang obes terjadi peningkatan
volume plasma dan curah jantung yang akan meningkatkan tekanan
darah (Sihombing, 2010).
3. Konsumsi alkohol
Hubungan antara konsumsi alkohol, level tekanan darah dan
kejadian hipertensi adalah linear. Pengaturan alkohol digunakan
untuk pengobatan pasien hipertensi. Ketika mengkonsumsi alkohol
dalam tingkat moderat/ sedang mungkin tidaklah merugikan,
perubahan dari moderat menjadi peminum yang belebihan
berhubungan dengan peningkatan tekanan darah dan peningkatan
resiko stroke. The Prevention And Treatment of Hypertention Study
(PATHS) menyelidiki efek pengurangan konsumsi alkohol terhadap
tekanan darah. Dari penelitian tersebut didapatkan bahwa kelompok
perlakuan mengalami penurunan tekanan darah 1.2/0.7 mmHg lebih
besar dibandingkan dengan kelompok kontrol selama 6 bulan
penelitian. Laki-laki hipertensi yang meminum alkohol seharusnya
mempertimbangkan keterbatasan mereka mengkonsumsi alkohol
yaitu tidak lebih dari 20-30g, dan perempuan tidak lebih dari 10-20g
etanol perhari. Total konsumsi alkohol seharusnya tidak melebihi
140g per minggu untuk pria dan 80 g per minggu untuk wanita
(Mancia et al, 2015).
4. Konsumsi kopi
Pengaruh kopi terhadap tekanan darah akan menimbulkan dampak
pada kesehatan masyarakat, karena kopi dikonsumsi secara luas di

15
masyarakat. Kopi mengandung kafein yang memiliki efek yang
antagonis kompetitif terhadap reseptor adenosin. Adenosin
merupakan neuromodulator yang mempengaruhi sejumlah fungsi
pada susunan saraf pusat. Hal ini berdampak pada vasokontriksi dan
meningkatkan total resistensi perifer, yang akan menyebabkan
tekanan darah naik (Martiani, 2012).
Penelitian di Amerika yang dilakukan oleh Cuno Uiterwaal pada
tahun 2007 menunjukkan bahwa subjek yang tidak terbiasa minum
kopi memiliki tekanan darah lebih rendah jika dibandingkan dengan
subjek yang mengkonsumsi kopi 1-3 cangkir per hari. Pria yang
mengonsumsi kopi 3-6 cangkir per hari memliki tekanan darah yang
lebih tinggi jika dibandingkan dengan yang mengonsumsi kopi 1-3
cangkir perhari. Pria yang mengonsumsi kopi >6 cangkir per hari
justru memiliki tekanan darah yang lebih rendah jika dibandingkan
dengan subjek yang mengonsumsi kopi 3-6 cangkir per hari
(Martiani, 2012).
5. Stress
Pasien hipertensi sering mengeluhkan gejala seperti pusing,
jantung berdebar-debar, sakit kepala, dan juga kegelisahan. Serangan
panik sudah biasa dialami bagi masyarakat umum tetapi jumlahnya
lebih banyak ditemukan pada pasien hipertensi yang diharapkan
dapat berubah. Selama serangan ini terjadi peningkatan akut dari
tekanan darah dan denyut jantung (Izzo et al, 2008).
Peranan stress kronik dalam kontribusi perkembangan
hipertensi kurang baik, sebagian karena stress kronik susah untuk
diukur. Persepsi mengenai stress juga sangat subjektif dan mungkin
membingungan. Salah satu model penelitian terbaik dari paparan
stress kronk adalah pekerjaan menegangkan (Job Strain), yang
digambarkan oleh sebuah kombinasi tingginya tuntutan dan
rendahnya kontrol atau keputusan bebas untuk bekerja. Laki-laki
yang bekerja pada job strain yang lama mempunyai tekanan darah

16
yang tinggi, tidak hanya selama bekerja, tetapi juga saat dirumah dan
selama tidur, menunjukkan bahwa stress kronik dapat mengulang
riwayat tekanan darah siang hari pada tingkat yang tinggi (Izzo et al,
2008).
6. Potasium dan Kalsium
Konsumsi makanan yang mengandung potasium, seperti
buah-buahan dan sayuran baik untuk menjaga agar tekanan darah
menjadi rendah. Terdapat bukti kuat bahwa mereka yang
mengonsumsi sedikit potasium memiliki tekanan darah yang lebih
tinggi, sedangkan mereka yang mengkonsumsi banyak buah-buahan
dan sayuran memiliki tekanan darah lebih rendah dan beresiko
rendah mengalami stroke. Hal ini disebabkan oleh karena respon sel-
sel tubuh terhadap kandungan potasium yang tinggi dengan
membuang sodium yang terkandung dalam garam (Beevers,2002).
7. Aktivitas fisik
Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana
akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah
ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari juga berbeda,
paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur
malam hari (Sigarlaki, 2006)
Tekanan darah sistolik akan meningkat dengan peningkatan
kerja dinamik sebagai hasil peningkatan curah jantung, dimana
tekanan diastolik biasanya tetap sama atau mengalami penurunan
moderat. Nilai maksimum normal tekanan darah sistolik untuk laki-
laki digambarankan dan dikaitkan langsung dengan umur.
Bagaimanapun, nilai normal ini tidak dianggap sebagai fakta
peningkatan tekanan darah karena peningkatan umur. Jika nilai
normal untuk tekanan darah sistolik latihan adalah faktor dasar yang
berhubungan dengan persentil dari tekanan darah sistolik istirahat
yaitu 140 mmHg, maka batas atas umur-independen dapat diambil
(Brien, 2003).

17
8. Merokok
Merokok adalah faktor resiko mayor terhadap kejadian
aterosklerotik. Merokok menyebabkan peningkatan akut tekanan
darah dan denyut jantung, yang berlangsung lebih dari 15 menit
setelah mengisap 1 batang rokok, sebagai akibatnya akan
menstimulasi sistem saraf simpatis pada tingkat pusat. Perubahan
yang sama terjadi dalam katekolamin plasma dan tekanan darah,
disertai dengan kerusakan refleks baroreseptor yang diakibatkan oleh
rokok. Selain dampak terhadap tekanan darah, merokok juga
merupakan faktor resiko terhadap kardiovaskular dan penghentian
rokok sangat efektif untuk mencegah penyakit kardivaskular seperti
stroke, infark miokardium dan penyakit vaskular perifer (Mancia et
al, 2015).
Resiko merokok berkaitan dengan jumlah dengan jumlah
rokok yang dihisap per hari, dan bukan pada lama meroko.
Seseorang yang merokok lebih dari satu pak rokok sehari menjadi
dua kali lebih rentan terhadap penyakit aterosklerotik koroner dari
pada mereka yang tidak merokok. Yang diduga menjadi penyebab
adalah pengaruh nikotin terhadap pelepasan katekolamin oleh sistem
saraf otonom. Namun efek nikotin tidak bersifat kumulatif, mantan
perokok tampaknya beresiko rendah seperti pada bukan perokok
(Price, 2005).
9. Konsumsi lemak
Lemak tidak larut dalam plasma sehingga membutuhkan
mekanisme transpor yang khusus. Mekanisme ini diperantarai oleh
kompleks protein-lipid yang dikenal sebagai lipoprotein, dimana
protein pada setiap individu dikenal sebagai apolipoprotein, yang
tujuannya berbeda dengan lipoprotein. Low-density lipoprotein
(LDL) merupakan lipoprotein utama yang terlibat dalam transpor

18
kolesterol. Lipoprotein A adalah lipoprotein protrombosis yang
merupakan partikular yang terlibat dalam penyakit koroner, dimana
tingginya kadar high-density lipoprotein (HDL) merupakan faktor
protektif (Russ, 2006).
Efek antihipertensi potensial dari minyak ikan yang berasal
dari asam lemak tak jenuh untuk menstimulasi pembentukan
prostaglandin vasodilatasi. Minyak ikan sering diresepkan sebagai
kapsul yang mengandung 1 ml minyak murni atau minyak hati ikan
mentah. Dosis besar dari minyak ikan ( 30-45 ml perhari) secara
jelas menurunkan level tekanan darah pada pasien hipertensi tetapi
intervensi percobaannya sedang, sejumlah penelitian lain
menyatakan bahwa minyak ikan mempunyai sifat yang tidak tetap.
(Izzo, 2008).

8. Defenisi Pralansia dan lansia


Batasan lansia Menurut Undang-Undang No. 13 tahun 1998 tentang
kesejahteraan lansia di Indonesia dalam Simanullang (2011) dikatakan lansia
adalah seseorang yang telah mencapai usia diatas 60 tahun. Namun menurut
WHO, batasan lansia dibagi atas: usia pertengahan (middle age) yaitu antara
45-59 tahun, lanjut usia (elderly) yaitu 60-74 tahun, lanjut usia tua (old) 75-
90 tahun, dan usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun (Hadywinoto, 1999;
Maryam, 2008 dalam Simanullang 2011). Dalam penelitian ini batasan umur
lansia yang digunakan adalah batasan umur lansia menurut Depkes (2008)
yang juga dipakai untuk pencatatan Kartu Menuju Sehat (KMS) lansia di
Puskesmas yaitu: usia pra senilis 45-59 tahun, lanjut usia (lansia) 60-69 tahun
dan usia lanjut resiko tinggi yaitu usia 70 tahun atau lebih (Simanullang,
2011).

19
B. Kerangka Teori
Kerangka teori merupakan penyederhanaan dari teori (Stefhany, 2010).
Berdasarkan teori yang telah disusun maka dapat disusun kerangka teri
sebagai berikut :

KARARTERISTIK

- Usia
- Jenis kelamin
- Ras
- Genetik
-
POLA MAKAN

- Lemak
- Natrium
- Kalium
- Kalsium

HIPERTENSI

GAYA HIDUP

- Kebiasaan minum
kopi
- Kebiasaan minum
alkohol
- Kebiasaan merokok
- Aktivitas fisik
- stress

Indeks Massa Tubuh

20
C. Kerangka konsep

KARARTERISTIK

- Usia
- Jenis kelamin
- Genetik

POLA MAKAN

- Lemak HIPERTENSI
- Natrium
- Kalium

GAYA HIDUP

- Kebiasaan minum
kopi
- Kebiasaan merokok
- Aktivitas fisik
- stress

Keterangan :

variabel bebas

variabel terikat

21
D. Hipotesis
Berdasarkan tujuan penelitian dan kerangka konseptual di atas, maka
hipoteisis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
H0 :Tidak ada hubungan antara pola makan (konsumsi natrium,
konsumsi kalium, konsumsi lemak) dan gaya hidup (kebiaasaan
konsumsi kopi, kebiasaan merokok, aktivitas fisik dan stress)
dengan kejadian hipertensi pada pralansia dan lansia di kecamatan
Lindu kabupaten Sigi tahun 2013.
H1: Ada hubungan antara pola makan (konsumsi natrium, konsumsi
kalium, konsumsi lemak) dan gaya hidup (kebiaasaan konsumsi
kopi, kebiasaan merokok, aktivitas fisik dan stress) dengan
kejadian hipertensi pada pralansia dan lansia di kecamatan Lindu
kabupaten Sigi tahun 2013.

22
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian observasional analitik.
Penelitian analitik adalah penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan
mengapa fenomena kesehatan itu terjadi. Rancangan penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian cross sectional.
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif yang bertujuan untuk
menganalisis pola makan dan gaya hidup yang berhubungan dengan kejadian
hipertensi pada pralansia dan lansia di kecamatan Lindu Kabupaten Sigi tahun
2013. Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan
sekunder.

B. Tempat dan Waktu Penelitian


1. Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Kecamatan Lindu. Pemilihan lokasi ini atas dasar
pertimbangan bahwa di Kecamatan Lindu tersedia data penderita hipertensi
yang merupakan urutan ke 3 penyakit terbesar pada tahun 2013. Selain itu
belum pernah diadakan penelitian mengenai hipertensi di daerah tersebut.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan mulai bulan September sampai November tahun
2015.

C. Populasi dan Sampel


1. Populasi
Populasi kasus dalam penelitian ini adalah seluruh pralansia dan lansia
mulai dari bulan Januari sampai Desember tahun 2013 yang tercatat dalam

23
rekam medis Puskesmas Lindu, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah
sebanyak 124 orang.

2. Sampel
Sampel penelitian adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek
yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Sampel di dapatkan
berdasarkan rumus Slovin yaitu:
N
n=
1+ N e 2

Keterangan

n : Besar sampel

N : Besar populasi

e : Tingkat kesalahan (peneliti menggunakan e = 0,1 atau 10%)

Besar populasi penderita hipertensi adalah 124 orang, jadi sampel


minimal yang dibutuhkan adalah sebagai berikut.

N
n=
1+ N e 2

124
n=
1+124 ¿¿

124 124
n= n=
1+124 (0,01) 1+1,24

124
n=
2,24

n=55,4n=55

Berdasarkan rumus diatas didapatkan sampel minimal 55 orang.

24
a. Kriteria Inklusi
i. Pralansia dan lansia yang terdaftar dalam rekam medis
Puskesmas Kulawi tahun 2013
ii. Bersedia menjadi responden dalam penelitian.
iii. Responden yang rumahnya bisa dijangkau oleh kendaraan.
b. Kriteria Ekslusi
i. Responden yang pindah tempat saat dilaksanakan penelitian
ii. Responden yang tidak bersedia untuk berpartisipasi dalam
penelitian
iii. Responden yang sakit
iv. Responden yang memiliki kemunduran daya ingat (pikun)
v. Responden yang tidak lengkap datanya dalam rekam medis

D. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah perangkat atau alat yang digunakan untuk
pengumpulan data. Adapun instrumen yang digunakan adalah meliputi:
1. Rekam Medik
Rekam medik di Puskesmas Kulawi, Sigi berupa buku pasien untuk
mengumpulkan data tentang identitas, alamat dan diagnosis pasien
hipertensi.
2. Sphygmomanometer dan stetoskop untuk pengukuran tekanan darah.
3. Formulir isian untuk memperoleh data mengenai pola makan dan gaya
hidup.
4. From Food Frequency Questioner (FFQ).

E. Teknik pengambilan sampel


Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik simple random
sampling sehingga masing-masing anggota dari populasi mempunyai
kesempatan yang sama untuk menjadi sampel penelitian (Azwar dkk, 2003)

F. Variabel penelitian

25
Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang
dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang suatu konsep pengertian
tertentu
1. Variabel Bebas
Variabel bebas pada penelitian ini adalah karakteristik pralansia dan
lansia (umur, jenis kelamin , genetik), pola makan (konsumsi natrium,
konsumsi kalium, konsumsi lemak) dan gaya hidup (aktivitas fisik,
kebiasaan minum kopi, kebiasaan merokok, stres).
2. Variabel Terikat
Variabel terikat pada penelitian ini adalah kejadian hipertensi pada
pralansia dan lansia di kecamatan Lindu kabupaten Sigi tahun 2013.

G. Defenisi Operasional
Definisi operasional diperlukan untuk mengukur variabel-variabel yang akan
diteliti. Tabel defenisi operasional merupakan modifikasi dari defenisi
operasional Emerita Stefhany (2012) sebagai berikut :

N Variabel Definisi Cara Alat Hasil ukur Skala


o operasional ukur ukur ukur

Variabel Dependen
1. Hipertensi Tekanan darah 1. Hipertensi (sistolik
sistolik yang ≥ 140 >140 atau diastolik
Sphygmomanometer dan stetoskop

mmHg atau tekanan >90)


darah diastolik ≥ Hipertensi tahap I
Mengukur tekanan darah

90 mmHg Hipertensi tahap II


2. Tidak hipertensi (jika
tekanan sistolik < 140
Ordinal

mmHg dan atau


tekanan diastolik < 90
mmHg)
(Martin, 2008)

Variabel Independent

26
1. Usia Lama hidup 1. Pralansia (umur 45-59
seseorang dalam tahun)
tahun, diukur dari 2.Lansia (umur >60

wawancara

Kuesioner

Ordinal
hari kelahiran tahun)
sampai pengambilan - Lansia (60-69 tahun)
data - Lansia resiko tinggi ( ≥
70 tahun)
Depkes 2008 dalam
Simanullang 2011.
2. Jenis Status gender 1. Perempuan

Wawancara
kelamin berdasarkan ciri 2. Laki-laki

Kuesioner

Nominal
fisik yang dibagi
menjadi laki-laki
atau perempuan

3. Genetik Sejarah penyakit Wawancara 1. Ada riwayat


hipertensi yang 2. Tidak ada riwayat
Kuesioner

Ordinal
diturunkan dari
orang tua

4. Kebiasaan Kebiasaan 1. Sering jika skor ≥


Wawancara

konsumsi mengkonsumsi mean/ median

Ordinal
FFQ

lemak makanan yang tinggi 2. Tidak sering jika skor <


lemak dalam tiga mean/ median
bulan terakhir
5. Kebiasaan Kebiasaan 1. Sering jika skor ≥
Wawancara

konsumsi mengkonsumsi mean/ median

Ordinal
natrium makanan yang tinggi 2. Tidak sering jika skor <
FFQ

natrium dalam tiga mean/ median


bulan terakhir

6. Kebiasaan Kebiasaan 1. Sering jika skor ≥


konsumsi mengkonsumsi mean/ median
Wawancara

Ordinal

kalium makanan yang tinggi 2. Tidak sering jika skor <


FFQ

kalium dalam tiga mean/ median


bulan terakhir

7. Kebiasaan Kebiasaan 1. Merokok tiap hari


Wawancara

Kuesioner

merokok menghisap rokok 2. Kadang-kadang


Ordinal

yang akan dinilai 1 3. Mantan perokok


bulan terakhir 4. Tidak pernah merokok
(Sihombing, 2010).
8. Stress Stress adalah suatu 1. Stress, jika skor > 300
Wawancara

Kuesioner

Ordinal

kondisi yang 2. Tidak stress, jika skor ≤


disebabkan oleh 300
kejadian tidak
menyenangkan

27
9. Aktivitas Aktivitas fisik akan 1. Ringan, jika indeks <

Wawancara

Kuesioner

Ordinal
fisik dinilai dengan 5,6
melihat beberapa 2. Sedang, jika indeks 5,6-
indeks yaitu 7,9
aktivitas 3. Berat, jika indeks > 7,9

H. Metode Pengumpulan dan Pengolahan Data


1. Pengumpulan data
Data dari penelitian akan dikumpulkan dengan cara sebagai berikut :
a. Data sekunder berupa rekam medis untuk mengetahui identitas dan
alamat responden
b. Wawancara
Data primer yang terdiri dari karakteristik lansia (umur, jenis
kelamin, genetik), pola makan (kebiasaan konsumsi lemak, kebiasaan
konsumsi natrium, kebiasaan konsumsi kalium), gaya hidup
(kebiasaan minum kopi, kebiasaan merokok, stress, aktivitas fisik).
Wawancara adalah suatu metode yang digunakan untuk
mengumpulkan data, dimana peneliti mendapatkan keterangan secara
lisan dari seseorang sasaran penelitian atau bercakap-cakap
berhadapan muka dengan orang tersebut (face to face) (Notoatmodjo,
2005). Wawancara akan dilakukan secara terpimpin yaitu dengan
menggunakan bantuan kuesioner.
c. Pengukuran
Pengukuran tekanan darah dilakukan oleh peneliti dengan
menggunakan sphygmomanometer dan stetoskop.
2. Pengolahan data
a. Karakteristik responden
1. Usia
Usia dibagi menjadi dua yaitu pralansia (45-59 tahun) dan
lansia (≥ 60 tahun)
2. Jenis kelamin
Terbagi atas dua yaitu laki-laki dan perempuan
3. Genetik

28
Data didapatkan berdasarkan jawaban dari pertanyaan
kuesioner, riwayat hipertensi dikategorikan menjadi 1. Ada
riwayat, jika salah satu dari kedua orang tua responden mengalami
hipertensi. 2. Tidak ada riwayat, jika tidak ada satupun orang tua
responden yang mengalami hipertensi
b. Kebiasaan konsumsi lemak
Data kebiasaan konsumsi lemak diperoleh melalui wawancara
mengenai kebiasaan mengkonsumsi jenis bahan makanan tinggi lemak
yang terdapat dalam daftar FFQ.
Cara skoring frekuensi konsumsi makanan tinggi lemak
menggunakan metode Emerita Stefhany dalam penelitiannya (2012)
adalah sebagai berikut :
a. > 3 kali/ hari (skor 8)
b. 2-3 kali/ hari (skor 7)
c. 1 kali/ hari (skor 6)
d. 4-6 kali/ minggu (skor 5)
e. 2-3 kali/ minggu (skor 4)
f. 1 kali/ minggu (skor 3)
g. 2-3 kali/ bulan (skor 2)
h. 1 kali/ bulan (skor 1)
i. Tidak pernah (skor 0)
Setelah itu, semua skor per item makanan yang tinggi lemak
dijumlahkan. Pada saat uji bivariat chi-square, kebiasaan konsumsi
lemak dikategorikan menjadi 2 yaitu “sering” dan “tidak sering”.
Adapun batasan skor kebiasaan konsumsi lemak didapatkan dengan
menggunakan nilai median/ mean. Jika skor ≥ median/ mean maka
dikatakan “sering”, sedangkan skor < media/mean dikatakan “ tidak
sering”.
c. Kebiasaan konsumsi natrium

29
Data kebiasaan konsumsi natrium diperoleh melalui wawancara
mengenai kebiasaan mengkonsumsi jenis bahan makanan tinggi
natrium yang terdapat dalam daftar FFQ.
Cara skoring frekuensi konsumsi makanan tinggi natrium
menggunakan metode Emerita Stefhany dalam penelitiannya (2012)
adalah sebagai berikut :
a. > 3 kali/ hari (skor 8)
b. 2-3 kali/ hari (skor 7)
c. 1 kali/ hari (skor 6)
d. 4-6 kali/ minggu (skor 5)
e. 2-3 kali/ minggu (skor 4)
f. 1 kali/ minggu (skor 3)
g. 2-3 kali/ bulan (skor 2)
h. 1 kali/ bulan (skor 1)
i. Tidak pernah (skor 0)
Setelah itu, semua skor per item makanan yang tinggi natrium
dijumlahkan. Pada saat uji bivariat chi-square, kebiasaan konsumsi
natrium dikategorikan menjadi 2 yaitu “sering” dan “tidak sering”.
Adapun batasan skor kebiasaan konsumsi natrium didapatkan dengan
menggunakan nilai median/ mean. Jika skor ≥ median/ mean maka
dikatakan “sering”, sedangkan skor < media/mean dikatakan “ tidak
sering”.
d. Kebiasaan konsumsi kalium
Data kebiasaan konsumsi kalium diperoleh melalui wawancara
mengenai kebiasaan mengkonsumsi jenis bahan makanan tinggi
kalium yang terdapat dalam daftar FFQ.
Cara skoring frekuensi konsumsi makanan tinggi kalium
menggunakan metode Emerita Stefhany dalam penelitiannya (2012)
adalah sebagai berikut :
a. > 3 kali/ hari (skor 8)
b. 2-3 kali/ hari (skor 7)

30
c. 1 kali/ hari (skor 6)
d. 4-6 kali/ minggu (skor 5)
e. 2-3 kali/ minggu (skor 4)
f. 1 kali/ minggu (skor 3)
g. 2-3 kali/ bulan (skor 2)
h. 1 kali/ bulan (skor 1)
i. Tidak pernah (skor 0)
Setelah itu, semua skor per item makanan yang tinggi kalium
dijumlahkan. Pada saat uji bivariat chi-square, kebiasaan konsumsi
kalium dikategorikan menjadi 2 yaitu “sering” dan “tidak sering”.
Adapun batasan skor kebiasaan konsumsi kalium didapatkan dengan
menggunakan nilai median/ mean. Jika skor ≥ median/ mean maka
dikatakan “sering”, sedangkan skor < media/mean dikatakan “ tidak
sering”.
e. Kebiasaan meminum kopi
Berdasarkan pertanyaan pada kuesioner, kebiasaan minum kopi
dibagi menjadi dua yaitu 1.≥ 3 cangkir/ hari 2. < 3 cangkir/ hari.
f. Kebiasaan merokok
Data kebiasaan merokok diperoleh dari pertanyaan kuesioner yang
dikategorikan menjadi empat 1. Merokok tiap hari, 2. Kadang-kadang,
3.Mantan Perokok (berhenti merokok minimal 6 bulan), dan 4. Tidak
pernah merokok.
g. Stress
Berdasarkan pertanyaan pada kuisioner, tingkat stress diukur
menggunakan metode Holmes and Rahe (1967) dalam Stefhany, 2012
dengan penilaian sebagai berikut :
Tabel 3.1. Penilaian Tingkat Stress

Tingkat stress Skor


Tidak ada masalah signifikan 0-149
Stress tingkat ringan 150-199
Stress tingkat sedang 200-299

31
Stress tingkat berat, beresiko mengalami penyakit >300
Berdasarkan pertanyaan pada kuesioner, penilaian tingkat stress
dibagi menjadi dua yaitu 1. Stres, skor >300, 2. Tidak stres ≤ 300.
h. Aktivitas Fisik
Menurut Baecke (1982) dalam Stefhany (2012) untuk
mengukur tingkat aktivitas fisik seseorang diperlukan beberapa
kriteria meliputi indeks bekerja, indeks berolahraga, dan indeks waktu
luang. Untuk cara penilaiannya akan dijelaskan sebagai berikut :
1. Indeks pekerjaan

Tabel 3.2. Skor Berdasarkan Jenis Pekerjaan

Jenis pekerjaan Contoh Poin / skor


Pekerjaan yang ringan Pekerja kantoran, guru, 1
dosen, penjaga tokoh,
pekerja medis, ibu rumah
tangga
Pekerjaan yang sedang Buruh pabrik, tukang pipa, 3
tukang kayu
Pekerjaan yang berat Kulih bangunan, atlit 5

Indeks bekerja dihitung dengan cara berikut ini:


[ ( 6−( skor untuk duduk ) ) + Ƹ ( skor7 parameter lainnya ) ]
8

¿[ ( 6−( skor no .2 ) ) + Ƹ ( skor no .1+no .2+no .3+ no .4+no .5+ no .6+no .7 ) ]


8
2. Indeks olahraga
Menurut Baecke (1987) dalam Stefhany (2012) jenis olahraga
dibagi menjadi beberapa seperti berikut ini:

Tabel 3.3. Skor Berdasarkan Intensitas Olahraga

Tingkat Olahraga Jenis Olahraga Skor

32
Olahraga ringan Biliard, bowling, golf, dll 0,76
Olahraga sedang Bulu tangkis, bersepeda, 1,26
menari, bermain tenis dll
Olahraga berat Tinju, basket sepak bola, dll 1,76

Tabel 3.4. Skor Berdasarkan Lamanya Berolahraga dalam Satu


Minggu

Lamanya Berolahraga Skor


<1 jam 0,5
1-2 jam 1,5
2-3 jam 2,5
3-4 jam 3,5
> 4 jam 4,5

Tabel 3.5. Skor Berdasarkan Proporsi Berolahraga Dalam Satu


Tahun

Lamanya Berolahraga Skor


<1 bulan 0,04
1-3 bulan 0,17
4-6 bulan 0,42
7-9 bulan 0,67
>9 bulan 0,92

Skor no. 10 = Ƹ Itensitas x waktu x proporsi


Jumlah ke−4 parameter
Indeks olahraga =
4
Skor no . 10+11+12+13
=
4
3. Indeks waktu luang

Tabel 3.6. Skor Berdasarkan waktu bersepeda/ berjalan saat


berpergian

33
Lamanya Bersepeda/ berjalan Skor
<5 menit 1
5-15menit 2
15-30 menit 3
30-45 menit 4
>45 menit 5
Indeks waktu luang dihitung dengan cara berikut ini.
= [(6-poin menonton televisi)]+ Ƹ (poin berjalan, bermain sepeda
dan bersepeda/berjalan saat berpergian
= [(6-(skor no.14)]+Ƹ (skor no.15 + skor no. 16 + skor no.17)

Aktivitas Fisik = indeks bekerja + indeks olahraga +indeks waktu luang


Aktifitas fisik dikategorikan menjadi 3 kelompok yaitu ringan (jika
indeks < 5,6), sedang (jika indeks 5,6-7,9), dan berat (jika indeks > 7,9).

I. Teknik penyajian dan Analisis Data


1. Penyajian data
a. Editing
Editing adalah tahap pemeriksaan data sebelum diolah yang bertujuan
untuk memastikan bahwa data yang diperoleh sudah sesuai dengan yang
diharapkan
b. Coding
Untuk mempermudah pengolahan dan analisis data perlu dilakukan
penyederhanaan atas jawaban atau data yang diperoleh dengan cara
pengkodean atau pemberian simbol.
c. Entry data
Tahap ini merupakan tahap memasukkan data dari kuesioner ke dalam
komputer dengan menggunakan program pengolahan data yaitu SPSS.
d. Tabulating
Tabulating merupakan proses pengelompokan data-data ke dalam tabel
menurut sifat-sifat yang dimilikinya.
2. Analisis data

34
Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan menganalisis secara
univariat dan bivariat.
a. Analisis Univariat
Analisis univariat digunakan untuk melihat frekuensi dan
persentase dari variabel dependen yaitu hipertensi dan variabel
independen yaitu usia, jenis kelamin, riwayat hipertensi,pola makan
(kebiasaan konsumsi lemak, natrium, kalium) dan gaya hidup (aktivitas
fisik, kebiasan merokok, kebiasaan minum kopi dan stress)
b. Analisis bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara
variabel dependen dan independen. Dalam penelitian ini digunakan
analisis dengan uji Chi-Square (x2) dengan menggunakan α = 0,05 dan
Confidence Interval (CI) sebesar 95% estimasi besar sampel dihitung
dengan menggunakan rumus besar sampel untuk melihat hubungan dua
variabel yaitu independen dan dependen. Dalam penelitian ini, uji statistik
yang digunakan adalah Chi-Square karena untuk mengetahui hubungan
variabel kategorik dengan kategorik.
Aturan pengambilan keputusan:
1. Jika p value ≥ α (0,05) maka Ho diterima
2. Jika p value< α (0,05) maka Ho ditolak

J. Alur Penelitian

Survei pendahuluan dan pengupulan data awal

Menetukan dan merumuskan masalah

Pengumpulan data populasi yang akan diteliti

Penentuan sampel penelitian secara simple random

Pengumpulan data

1. Wawancara karakteristik responden pola makan dan gaya hidup dengan


35
menggunakan kuesioner dan food frequency quitionare (FFQ)
2. Pengukuran tekanan darah dengan sphymomanometer
Mengolah dan menganalisi data

Pengujian data

Hasil

Kesimpulan dan saran


K. Etika Penelitian
1. Informed Consent
Persetujuan etik harus diperoleh sebelum pelaksanaan penelitian yaitu
dengan meminta infomed consent kepada responden setelah diberi penjelasan.
2. Confidentialy
Penelitian juga harus menghormati privasi dan menjaga kerahasiaan subjek
penelitian. Dalam aplikasinya peneliti tidak boleh menampilkan informasi
mengenai identitas baik nama maupun alamat asal subyek dalam kuesioner
dan alat ukur apapun untuk menjaga kerahasiaan identitas subyek. Peneliti
dapat menggunakan koding untuk mengganti identitas responden.
3. Balancing harm and benefits
Penelti melaksanakan penelitian sesuai prosedur penelitian guna
mendapatkan hasil yang bermanfaat semaksimal mungkin bagi subyek
penelitian dan meminimalisasi dampak yang merugikan bagi subyek. Apabila
intervensi penelitian berpotensi mengakibatkan cedera atau stress tambahan
maka subyek dikeluarkan dari kegiatan untuk mencegah terjadinya stress,
cedera, kesakitan maupun kematian subyek penelitian.

L. Keterbatasan Penelitian

36
1. Lokasi penelitian yang cukup jauh sehingga membutuhkan waktu untuk
menjangkaunya.
2. Penelitian ini menggunakan data primer sehingga harus mewawancari
responden satu-satu yang jarak rumahnya berjauhan.

DAFTAR PUSTAKA

Andria, Kiki M. 2013. Hubungan Antara Perilaku Olahraga, Streess dan Pola
Makan dengan Tingkat Hipertensi pada Ginjal Usia di Posyandu Lansia
Kelurahan Gebang Putih Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya. Jurnal
Promkes, 1(2):111-117.

Anggara, F.H.D., Prayitno, N. 2013. Faktor-fakktor yang Berhubungan dengan


Tekanan Darah di Puskesmas Telaga Murni, Cikarang Barat Tahun 2012.
Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5 (1).[diakses 11 Mei 2015].

Azwar, Azrul, dkk. 2003. Metodologi Penelitian. Binapura Akzara : Jakarta.

Beevers, D.G. 2002. Tekanan Darah. Dian Rakyat : Jakarta.

Brien, Eoin O’., et al. 2003. European Society of Hypertention Recommendations


for Convential, Ambulatory and Home Blood Pressure Measurement. Journal
of Hypertention, 21(5). [cited 2015 May 12].

Dharmeizar. 2012. Hiperteni. Medicinus, 25(1).[diakses 12 Mei 2015].

Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah. 2015. Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi


Tengah tahun 2013. Sulawesi Tengah: DinkesProvinsi Sulawesi Tengah.

37
Dinkes Kabupaten Sigi. 2015. Profil Kesehatan Kabupaten Sigi tahun 2013.Sigi:
Dinkes Kabupaten Sigi: Sulawesi Tengah.

Evadewi, P.K.R., S. Sukmayanti, L.M.K. 2013. Kepatuhan Mengonsumsi Obat


Pasien Hipertensi di Denpasar Ditinjau Dari Kepribadian Tipe A dan Tipe
B. Jurnal Psikologi Udayana, 1(1): 32-42. [diakses 13 Mei 2015].

Firtsyani, M.L.R. 2011. Hubungan Antara Derajat Hipertensi dan Elongasi Aorta
pada Pemeriksaan Foto Toraks. Jurnal Kedokteran Indon, 2(1).[ dikases 14
Mei 2015].

Ganong, W.F. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC: Jakarta.

Guyton and Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. EGC: Jakarta.

Izzo, J.L., Sica, D.A., Black, H.R. 2008. Hypertention Primer Fourth Edition The
Essentials of High Blood Pressure. Council for High Blood Pressure
Research, American Heart Association : Dallas texas.

Kenia, Ni Made., Tariyanda, D. 2013. Pengaruh Relaksasi (Aroma terapi Mawar)


Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Lansia Hipertensi. Jurnal
STIKES, 6(1). [diakses 12 Mei 2015].

Kumar, V., Cotran, R.S., Robbins, S.L. 2007.Buku Ajar Patologi Robbins Volume
2 Edisi 7.EGC:Jakarta.

Mancia, G., et al. 2013. ESH/ESC Euidelines for the Management of Arterial
Hypertention : The Task Force for the Management of Arterial Hypertention
of thr European Society of Hypertention (ESH) and of the European Society
of Cardiology (ESC). European Heart Journal, 34:2159-2219. [cited 2015
May 12].

Martin, Jeffery. 2008. HypertentionGuidelines : Revisiting The JNC 7


Recommendations. The Journal of Lancaster General Hospital, 3(3).[cited
2015 May 14].

38
Martiani, Ayu. 2012. Faktor Resiko Hipertensi Ditinjau dari Kebiasaan Minum
Kopi. Fk Undip : 6-7.[diakses 12 Mei 2015].

Mitchell, N. et al. 2008. BukuSakuDasarPatologisPenyakit. EGC : Jakarta.

Prakoso, Agung., dkk. 2014. Pengaruh Pemberian Jus Mentimun Terhadap


Tekanan Darah Pada Lansia dengan Hipertensi di Posyandu di Kabupaten
Demak. Prosiding Konferensi Nasional II PPNI: Jawa Tengah.

Price, Sylvia., Wilson, L.M. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses


Penyakit. EGC: Jakarta.

Rahajeng, Ekowati.,Tuminah, S. 2009. Prevalensi Hipertensi dan Determinannya


di Indonesia. MajKedoktIndon, 59(12). [diakses 12 Mei 2015].

Russ, R.R. 2002. Cardiovascular System. Mosby El Sevier : Philadelphia.

Samara, Diana. 2001. Penatalaksanaan Hipertensi Sekunder Akibat Perbedaan


Kelainan Anatomi Renovaskuler pada Usia Muda dan Tua. Jurnal Kedokter
Trisakti, 20(1): 12-15. [diakses 16Mei 2015].

Sigarlaki, Herke J.O. 2006. Karakteristikdan Factor yang Berhubungan Dengan


Hipertensi di Desa Bocor, Kecamatan Bulus Pesantren, Kabupaten
Kebumen, Jawa Tengah tahun 2006. Makara Kesehatan, 10(2):78-88.
[diakses 16 Mei 2015].

Sherwood, Lauralee. 2011. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 6. EGC:
Jakarta.

Sihombing, Marice. 2010. HubunganPerilakuMerokok, KonsumsiMakanan/


MinumandanAktivitasFisikdenganPenyakitHipertensipadaRespondenObesUs
iaDewasa di Indonesia. KedoktIndon, 60(9): 23-26. [diakses 12 Mei 2015].

Simanullang, Poniyah., et al. 2011. Pengaruh Gaya Hidup Terhadap Status


Kesehatan Lanjut Usia (Lansia) di Wilayah Kerja Puskesmas Darusalam
Medan. Jurnal USU: 1-3. [diakses 12 Mei 2015].

39
Stefhany, E. 2012. Hubungan Pola Makan, Gaya Hidup dan Indeks Massa Tubuh
dengan Hipertensi pada Pralansia dan Lansia di Posbindu Kelurahan Depok
Jaya Tahun 2012.Skripsi, Depok. : FakultasKesehatanMasyarakatUniversitas
Indonesia.[serial online].

Sudoyo, Aru.W., et al. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi V.
Interna Publishing: Jakarta.

40