Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

PERDARAHAN SOLUSIO PLASENTA

Disusun Oleh:

Priya Suma

2018.03.0109

SEKOLAH TINGGI ILMU SEKEHATAN HUSADA JOMBANG

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

2020

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas hikmat
dan karuniaNya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan sebatas pengetahuan
dan kemampuan yang dimiliki.Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak sehingga makalah “Laporan Pendahuluan Perdarahan Solusio Plasenta” ini bisa
terselesaikan karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Drs. Hj. Soelijah Hadi, M.Kes, M.M., Selaku Ketua STIkes Husada Jombang.
2. Sylvie Puspita, S.kep.,Ns,M.Kep. Selaku Kaprodi S1 Keperawatan.
3. Elly Rustanti, S.Si.,M.Sc. Selaku Dosen Wali semester 4 S1 Keperawatan.
4. Dr. Najah Soraya Nia, S.Sos, MM. Selaku Pembimbing Akademi di STIKES Husada
Jombang.
5. Sylvie Puspita, S.Kep, Ns., M.Kep. Selaku Dosen Pengajar Keperawatan Maternitas II.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik
dan saran yang membangun kami harapkan. Akhirnya semoga makalah ini dapat bermanfaat dan
berguna bagi para pembaca pada umumnya.

Jombang, 06 April 2020

Hormat Saya

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................. 2

DAFTAR ISI ................................................................................................................................ 3

BAB I. LAPORAN PENDAHULUAN ...................................................................................... 4

1.1 Definisi ......................................................................................................................... 4

1.2 Etiologi ......................................................................................................................... 4

1.3 Patofisilogi ................................................................................................................... 6

1.4 Klasifikasi .................................................................................................................... 6

1.5 Menifestasi Klinik ........................................................................................................ 7

1.6 Pemeriksaan Penunjang ............................................................................................... 7

1.7 Komplikasi ................................................................................................................... 8

1.8 Prognosis .................................................................................................................... 10

BAB II. TINJAUAN KASUS .................................................................................................... 11

2.1 Pengkajian .................................................................................................................. 11

2.2 Analisa Data ............................................................................................................... 12

2.3 Diagnosa Keperawatan .............................................................................................. 14

2.4 Rencana Asuhan Keperawatan ................................................................................... 15

2.5 Implementasi dan Evaluasi SOAP dari Diagnosa Utama .......................................... 18

BAB III. PENUTUP ................................................................................................................... 20

3.1 Kesimpulan ............................................................................................................... 20


3.2 Saran ........................................................................................................................ 20

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................. 21

3
BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN

1.1 Definisi

Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya sebelum


janin lahir diberi beragam sebutan; abruption plasenta, accidental haemorage. Beberapa jenis
perdarahan akibat solusio plasenta biasanya merembes diantara selaput ketuban dan uterus
dan kemudian lolos keluar menyebabkan perdarahan eksternal. Yang lebih jarang, darah tidak
keluar dari tubuh tetapi tertahan diantara plasenta yang terlepas dn uterus serta menyebabkan
perdarahan yang tersembunyi. Solusio plasenta dapat total atau parsial.

1.2 Etiologi

Penyebab primer solusio plasenta belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa
faktor yang menjadi predisposisi :

1. Faktor kardiorenovaskuler

Glomerulonefritis kronik, hipertensi essensial, sindroma preeklamsia dan eklamsia.


Pada penelitian di Parkland, ditemukan bahwa terdapat hipertensi pada separuh kasus
solusio plasenta berat, dan separuh dari wanita yang hipertensi tersebut mempunyai
penyakit hipertensi kronik, sisanya hipertensi yang disebabkan oleh kehamilan. Dapat
terlihat solusio plasenta cenderung berhubungan dengan adanya hipertensi pada ibu

2. Faktor trauma

Trauma yang dapat terjadi antara lain:

a. Dekompresi uterus pada hidroamnion dan gemeli.


b. Tarikan pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin yang banyak/bebas, versi
luar atau tindakan pertolongan persalinan.
c. Trauma langsung, seperti jatuh, kena tendang, dan lain-lain.

3. Faktor paritas ibu

Lebih banyak dijumpai pada multipara dari pada primipara. Holmer mencatat
bahwa dari 83 kasus solusio plasenta yang diteliti dijumpai 45 kasus terjadi pada wanita
4
multipara dan 18 pada primipara. Pengalaman di RSUPNCM menunjukkan peningkatan
kejadian solusio plasenta pada ibu-ibu dengan paritas tinggi. Hal ini dapat diterangkan
karena makin tinggi paritas ibu makin kurang baik keadaan endometrium.

4. Faktor usia ibu

Dalam penelitian Prawirohardjo di RSIM dilaporkan bahwa terjadinya peningkatan


kejadian solusio plasenta sejalan dengan meningkatnya umur ibu. Hal ini dapat diterangkan
karena makin tua umur ibu, makin tinggi frekuensi hipertensi menahun.

5. Leiomioma uteri (uterine leiomyoma) yang hamil dapat menyebabkan solusio plasenta
apabila plasenta berimplantasi di atas bagian yang mengandung leiomioma.

6. Faktor pengunaan kokain

Penggunaan kokain mengakibatkan peninggian tekanan darah dan


peningkatan pelepasan katekolamin, yang mana bertanggung jawab atas terjadinya
vasospasme pembuluh darah uterus dan dapat berakibat terlepasnyaplasenta . Namun,
hipotesis ini belum terbukti secara definitif. Angka kejadian solusio plasenta pada ibu-ibu
penggunan kokain dilaporkan berkisar antara 13-35%.

7. Faktor kebiasaan merokok

Ibu yang perokok juga merupakan penyebab peningkatan kasus solusio plasenta
sampai dengan 25% pada ibu yang merokok ≤ 1 (satu) bungkus per hari. Ini dapat
diterangkan pada ibu yang perokok plasenta menjadi tipis, diameter lebih luas dan
beberapa abnormalitas pada mikrosirkulasinya. Deering dalam penelitiannya melaporkan
bahwa resiko terjadinya solusio plasenta meningkat 40% untuk setiap tahun ibu merokok
sampai terjadinya kehamilan.

8. Riwayat solusio plasenta sebelumnya

Hal yang sangat penting dan menentukan prognosis ibu dengan riwayat solusio
plasenta adalah bahwa resiko berulangnya kejadian ini pada kehamilan berikutnya jauh
lebih tinggi dibandingkan dengan ibu hamil lainnya yang tidak memiliki riwayat solusio
plasenta sebelumnya.

5
9. Pengaruh lain, seperti anemia, malnutrisi/defisiensi gizi, tekanan uterus pada vena cava
inferior dikarenakan pembesaran ukuran uterus oleh adanya kehamilan, dan lain-lain.

1.3 Patofisiologi

Solusio plasenta di awali perdarahan kedalam desidua basalis. Desidua kemudian


terpisah, meninggalkan satu lapisan tipis yang melekat ke endometrium. Akibatnya, proses
ini pada tahapnya yang paling awal memperlihatkan pembentukan hematom desidua yang
menyebabkan pemisahan, penekanan, dan akhirnya destruksi plasenta yang ada di dekatnya.
Pada tahap awal mungkin belum ada gejala klinis.

Pada beberapa kasus, arteri spiralis desidua mengalami rupture sehingga menyebabkan
hematom retroplasenta, yang sewaktu membesar semakin banyak pembuluh darah dan
plasenta yang terlepas. Bagian plasenta yang memisah dengan cepat meluas dan mencapai
tepi plasenta. Karena masih teregang oleh hasil konsepsi, uterus tidak dapat beronntraksi
untuk menjepit pembuluh darah yang robek yang memperdarahi tempat implantasi plasenta.
Darah yang keluar dapat memisahkan selaput ketuban dari dinding uterus dan akhirnya
muncul sebagai perdarahan eksternal, atau mungkin tetap tertahan dalam uterus.

1.4 Klasifikasi

a. Solusio plasenta ringan. Perdarahannya kurang dari 500 cc dengan lepasnya plasenta
kurang dari seperlima bagian. Perut ibu masih lemas sehingga bagian janin mudah di
raba. Tanda gawat janin belum tampak dan terdapat perdarahan hitam per vagina.
b. Solusio plasenta sedang. Lepasnya plasenta antara seperempat sampai dua pertiga bagian
dengan perdarahan sekitar 1000 cc. perut ibu mulai tegang dan bagian janin sulit di raba.
Janin sudah mengalami gawat janin berat sampai IUFD. Pemeriksaan dalam
menunjukkan ketuban tegang. Tanda persalinan telah ada dan dapat berlangsung cepat
sekitar 2 jam.
c. Solusio plasenta berat. Lepasnya plasenta sudah melebihi dari dua pertiga bagian. Perut
nyeri dan tegang dan bagian janin sulit diraba, perut seperti papan. Janin sudah
mengalami gawat janin berat sampai IUFD. Pemeriksaan dalam ditemukan ketuban
tampak tegang. Darah dapat masuk otot rahim, uterus Couvelaire yang menyebabkan

6
Antonia uteri serta perdarahan pascapartus. Terdapat gangguan pembekuan darah
fibribnogen kurang dari 100-150 mg%. pada saat ini gangguan ginjal mulai Nampak.

Cunningham dan Gasong masing-masing dalam bukunya mengklasifikasikan


solusio plasenta menurut tingkat gejala klinisnya, yaitu:

a. Ringan : perdarahan kurang 100-200 cc, uterus tidak tegang, belum ada tanda renjatan,
janin hidup, pelepasan plasenta kurang 1/6 bagian permukaan, kadar fibrinogen plasma
lebih 150 mg%.
b. Sedang : Perdarahan lebih 200 cc, uterus tegang, terdapat tanda pre renjatan, gawat janin
atau janin telah mati, pelepasan plasenta 1/4-2/3 bagian permukaan, kadar fibrinogen
plasma 120-150 mg%.
c. Berat : Uterus tegang dan berkontraksi tetanik, terdapat tanda renjatan, janin mati,
pelepasan plasenta dapat terjadi lebih 2/3 bagian atau keseluruhan.

1.5 Menifestasi Klinis

Solutio plasenta ringan Terjadi rupture sinus masrginalis. Bila terjadi perdarahan
pervaginam warna merah kehitaman, perut terasa agak sakit atau terus menerus agak tegang.
Tetapi bagian-bagian janin masih teraba Solution plasenta sedang plasenta telah terlepas
seperempat sampai duapertiga luas permukaan. Tanda dan gejala dapat timbul perlahan
seperti pada solution plasenta ringan atau mendadak dengan gejala sakit perut terus menerus,
nyeri tekan, bagian janin sukar di raba., BJA sukar di raba dengan stetoskop biasa. Sudah
dapat terjadi kelainan pembekuan darah atau ginjal. Solution plasenta berat plasenta telah
lepas lebih duapertiga luas permukaannya, terjadi tiba-tiba, ibu syok janin meningggal.
Uterus tegang seperti papan dan sangat nyeri. Perdarahan pervaginam tidak sesuai dengan
keadaan syok ibu. Besar kemungkinan telah terjadi gangguan pembekuan darah dan ginjal.

1.6 Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan laboratorium darah : hemoglobin, hemotokrit, trombosit, waktu protombin,


waktu pembekuan, waktu tromboplastin, parsial, kadar fibrinogen, dan elektrolit plasma.
b. Cardiotokografi untuk menilai kesejahteraan janin.
c. USG untuk menilai letak plasenta, usia gestasi dan keadaan janin.

7
1.7 Komplikasi

Komplikasi solusio plasenta pada ibu dan janin tergantung dari luasnya plasenta yang
terlepas, usia kehamilan dan lamanya solusio plasenta berlangsung. Komplikasi yang dapat
terjadi pada ibu :

1. Syok perdarahan

Pendarahan antepartum dan intrapartum pada solusio plasenta hampir tidak dapat
dicegah, kecuali dengan menyelesaikan persalinan segera. Bila persalinan telah diselesaikan,
penderita belum bebas dari perdarahan postpartum karena kontraksi uterus yang tidak kuat
untuk menghentikan perdarahan pada kala III persalinan dan adanya kelainan pada
pembekuan darah. Pada solusio plasenta berat keadaan syok sering tidak sesuai dengan
jumlah perdarahan yang terlihat.

Titik akhir dari hipotensi yang persisten adalah asfiksia, karena itu pengobatan segera
ialah pemulihan defisit volume intravaskuler secepat mungkin. Angka kesakitan dan
kematian ibu tertinggi terjadi pada solusio plasenta berat. Meskipun kematian dapat terjadi
akibat nekrosis hipofifis dan gagal ginjal, tapi mayoritas kematian disebabkan syok
perdarahan dan penimbunan cairan yang berlebihan. Tekanan darah tidak merupakan
petunjuk banyaknya perdarahan, karena vasospasme akibat perdarahan akan meninggikan
tekanan darah. Pemberian terapi cairan bertujuan mengembalikan stabilitas hemodinamik
dan mengkoreksi keadaan koagulopathi. Untuk tujuan ini pemberian darah segar adalah
pilihan yang ideal, karena pemberian darah segar selain dapat memberikan sel darah merah
juga dilengkapi oleh platelet dan faktor pembekuan.

2. Gagal ginjal

Gagal ginjal merupakan komplikasi yang sering terjadi pada penderita solusio
plasenta, pada dasarnya disebabkan oleh keadaan hipovolemia karena perdarahan yang
terjadi. Biasanya terjadi nekrosis tubuli ginjal yang mendadak, yang umumnya masih dapat
ditolong dengan penanganan yang baik. Perfusi ginjal akan terganggu karena syok dan
pembekuan intravaskuler. Oliguri dan proteinuri akan terjadi akibat nekrosis tubuli atau
nekrosis korteks ginjal mendadak. Oleh karena itu oliguria hanya dapat diketahui dengan
pengukuran pengeluaran urin yang harus secara rutin dilakukan pada solusio plasenta

8
berat. Pencegahan gagal ginjal meliputi penggantian darah yang hilang secukupnya,
pemberantasan infeksi, atasi hipovolemia, secepat mungkin menyelesaikan persalinan dan
mengatasi kelainan pembekuan darah.

3. Kelainan pembekuan darah

Kelainan pembekuan darah pada solusio plasenta biasanya disebabkan oleh


hipofibrinogenemia. Dari penelitian yang dilakukan oleh Wirjohadiwardojo di RSUPNCM
dilaporkan kelainan pembekuan darah terjadi pada 46% dari 134 kasus solusio plasenta
yang ditelitinya.

Kadar fibrinogen plasma normal pada wanita hamil cukup bulan ialah 450 mg%,
berkisar antara 300-700 mg%. Apabila kadar fibrinogen plasma kurang dari 100 mg%
maka akan terjadi gangguan pembekuan darah. Mekanisme gangguan pembekuan darah
terjadi melalui dua fase, yaitu:

a. Fase I

Pada pembuluh darah terminal (arteriole, kapiler, venule) terjadi pembekuan


darah, disebut disseminated intravasculer clotting. Akibatnya ialah peredaran darah
kapiler (mikrosirkulasi) terganggu. Jadi pada fase I, turunnya kadar fibrinogen
disebabkan karena pemakaian zat tersebut, maka fase I disebut juga coagulopathi
consumptive. Diduga bahwa hematom subkhorionik mengeluarkan tromboplastin yang
menyebabkan pembekuan intravaskuler tersebut. Akibat gangguan mikrosirkulasi dapat
mengakibatkan syok, kerusakan jaringan pada alat-alat yang penting karena hipoksia
dan kerusakan ginjal yang dapat menyebabkan oliguria/anuria.

b. Fase II

Fase ini sebetulnya fase regulasi reparatif, yaitu usaha tubuh untuk membuka
kembali peredaran darah kapiler yang tersumbat. Usaha ini dilaksanakan dengan
fibrinolisis. Fibrinolisis yang berlebihan malah berakibat lebih menurunkan lagi kadar
fibrinogen sehingga terjadi perdarahan patologis. Kecurigaan akan adanya kelainan
pembekuan darah harus dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium, namun di klinik
pengamatan pembekuan darah merupakan cara pemeriksaan yang terbaik karena

9
pemeriksaan laboratorium lainnya memerlukan waktu terlalu lama, sehingga hasilnya
tidak mencerminkan keadaan penderita saat itu.

4. Apoplexi uteroplacenta (Uterus couvelaire)

Pada solusio plasenta yang berat terjadi perdarahan dalam otot-otot rahim dan di
bawah perimetrium kadang-kadang juga dalam ligamentum latum. Perdarahan ini
menyebabkan gangguan kontraktilitas uterus dan warna uterus berubah menjadi biru atau
ungu yang biasa disebut Uterus couvelaire. Tapi apakah uterus ini harus diangkat atau
tidak, tergantung pada kesanggupannya dalam membantu menghentikan perdarahan.
Komplikasi yang dapat terjadi pada janin:

a. Fetal distress
b. Gangguan pertumbuhan/perkembangan
c. Hipoksia dan anemia
d. Kematian
Komplikasi juga bisa terjadi pada bayi, seperti:
1. Gangguan pertumbuhan karena tidak mendapatkan nutrisi yang cukup.
2. Lahir prematur.
3. Tidak mendapatkan oksigen yang cukup.
4. Meninggal saat dilahirkan.

1.8 Prognosis

Prognosis ibu tergantung luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus,
banyaknya perdarahan, ada atau tidak hipertensi menahun atau preeklamsia, tersembunyi
tidaknya perdarahan, dan selisih waktu terjadinya solusio plasenta sampai selesainya
persalinan. Angka kematian ibu pada kasus solusio plasenta berat berkisar antara 0,5-5%.
Sebagian besar kematian tersebut disebabkan oleh perdarahan, gagal jantung dan gagal
ginjal.

Hampir 100% janin pada kasus solusio plasenta berat mengalami kematian. Tetapi
ada literatur yang menyebutkan angka kematian pada kasus berat berkisar antara 50-80%.
Pada kasus solusio plasenta ringan sampai sedang, keadaan janin tergantung pada luasnya
plasenta yang lepas dari dinding uterus, lamanya solusio plasenta berlangsung dan usia

10
kehamilan. Perdarahan lebih dari 2000 ml biasanya menyebabkan kematian janin. Pada
kasus-kasus tertentu tindakan seksio sesaria dapat mengurangi angka kematian janin

11
BAB I1

TINJAUAN KASUS

Kasus:

Ny.M (45 tahun) datang ke RSI Muslimat bersama suaminya dengan membawa surat
rujukan dari bidan. Tertulis disurat status obstetri G6P4A1H37 mg dengan susp.solusio
plasenta. Saat wawancara, klien mengeluh mengalami perdarahan melalui vagina berwarna
kehitaman sejak tadi malam, disertai nyeri dan kram pada perut yang terus menerus serta janin
bergerak aktif. Klien berfikir akan segera melahirkan dan datang ke bidan dekat rumah
keesokan paginya, tapi klien justru dirujuk ke RS.

Klien menceritakan selama kehamilan ini baru memeriksakan kehamilannya sekali,


yaitu pada saat dinyatakan (+) hamil 12 mg oleh bidan. Setelah itu tidak pernah lagi
memeriksakan kehamilan karena ini bukan kehamilan yang pertama. Sebelum kehamilan ini,
klien mempunyai riwayat perdarahan dan mengalami keguguran pada usia kehamilan 16 mg.

Selama pemeriksaan fisik perawat mencatat TTV sebagai berikut : TD=80/55


mmHg, N=110x/Mnt, P= 28x/Mnt, S= 36℃, uterus keras , tegang, seperti papan, nyeri tekan
(+), TFU=36 cm, His (-), DJJ dan palpasi janin sulit. Klien terlihat pucat, lemah, tampak
kesakitan, kulit teraba dingin, konjungtiva anemis, pembalut penuh dengan darah berwarna
kehitaman.

Klien kemudian melakukan pemeriksaan USG dan terlihat solusio plasenta partialis
dengan hematoma, DJJ 82x/Mnt, aktifitas janin lemah, perdarahan aktif (+).

2.1 Pengkajian

1. Identitas

a. Identitas

Nama Ibu : Ny. M Nama suami : Tn. S

Umur : 45 Tahun Umur : 32 Tahun

12
Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMA Pendidikan : PT

Pekerjaan : IRT Pekerjaan : PNS/ Guru

Alamat : Perum Pepabri Alamat : Perum

Pepabri

No.Telp : - No. Telp : -

2. Keluhan Utama Saat Ini

klien mengeluh mengalami perdarahan melalui vagina berwarna kehitaman sejak


tadi malam, disertai nyeri dan kram pada perut yang terus menerus serta janin bergerak
aktif

3. Riwayat Penyalit Terdahulu

Klien mengatan tidak memiliki riwayat penyakit turunan atau mengidap penyakit
jantung, DM, Hipertensi,dll serta Klien juga pernah mengalami perdarahan (abortus) pada
kehamilan sebelumya.

4. Riwayat kesehatan keluarga

Klien mengatakan keluarga tidak memiliki riwayat penyakit keturunan atau


mengidap penyakit jantung, DM, hipertensi.

5. Reviw Of Sytem dan pemeriksaan Fisik

1. TD =80/55 mmHg

2. N=110x/Mnt

3. P= 28x/Mnt

4. S= 36℃

5. TFU=36 cm

13
uterus keras , tegang, seperti papan, nyeri tekan (+), , His (-), DJJ dan palpasi
janin sulit. Klien terlihat pucat, lemah, tampak kesakitan, kulit teraba dingin,
konjungtiva anemis, pembalut penuh dengan darah berwarna kehitaman.

2.2 Analisa Data

Data Masalah Etiologi


Data Subjektif Risiko Perdarahan Komplikasi Kehamilan
(solusio plasenta)
1. Klien mengeluh mengalami
perdarahan melalui vagina berwarna
kehitaman sejak tadi malam
2. Klien mengatakan mempunyai riwayat
perdarahan pada kehamilan
sebelumnya
Data Objektif
1. TTV : TD= 80/55 mmHg
Nadi : 110x/menit
RR : 28x/menit
Suhu: 36 oC
2. Klien terlihat pucat, lemah
3. Kulit klien teraba dingin
4. TFU = 36 cm
5. Konjungtiva anemis
6. Pembalut penuh dengan darah
berwarna kehitaman
7. Hasil pemeriksaan USG terlihat
solusio plasenta parsialis dengan
hematoma
8. Perdarahan aktif (+)
Data tambahan
1. Dari inspekulo, tampak darah mengalir
dari ostium berwarna merah

14
kehitaman
2. Hb (6,8 g/dL)
3. turunnya kadar fibrinogen (106 mg/L),
dan meningkatnya kadar D-dimer
(2,0 mg/L).
Data Subjektif Nyeri Akut Trauma jaringan

1. Klien mengeluhnyeri dan keram


pada perut yang terus-menerus
Data Objektif
1. Tertulis di surat status obstetric
G6P4A1H37 minggu (gestasi ke 6,
pastus 4 kali, abortus 1 kali dan
sekarang usia kehamilan 37 minggu)
dengan suspect solusio plasenta
2. TTV : nadi = 110 x/menit
RR = 28x/menit
3. Uterus keras
4. Uterus Tegang seperti papan
5. Nyeri tekan +
6. Klien tampak kesakitan
7. Hasil pemeriksaan USG terlihat
solusio plasenta parsialis dengan
hematoma
Data Subjektif Resiko cedera pada janin Disfungsi uterus akibat
Solusio plasenta
1. Klien mengeluh janin yang ada
didalam kandungannya bergerak
aktif
Data Objektif
1. Tertulis di surat status obstetric
G6P4A1H37 minggu (gestasi ke 6,
pastus 4 kali, abortus 1 kali dan

15
sekarang usia kehamilan 37 minggu)
dengan suspect solusio plasenta
2. Dari hasil pemeriksaan fisik : His (- ),
DJJ dan palpasi janin sulit
3. Dari hasil pemeriksaan USG : DJJ =
82 x /menit , Aktivitas janin lemah

2.3 Diagnosa Keperawatan

1. Resiko perdarahan dibuktikan dengan komplikasi kehamilan(solusio plasenta).


2. Nyeri Akut berhubungan dengan agen pencederaan fisik(misal trauma dll) dibuktikan
dengan frekwensi nadi meningkat, pola nafas berubah
3. Resiko cedera pada janin dibuktikan dengan disfungsi uterus akbiat (solusio plasenta),
nyeri pada abdomen.

16
2.4 Rencana Asuhan Keperawatan

Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional


Keperawatan Hasil
1.Resiko Tujuan :Setelah1. Monitor tanda dan 1. Perubahan output
Perdarahan dilakukan asuhan gejala perdarahan merupakan tanda
keperawatan 1 x 242. Monitor tanda vital adanya gangguan fungsi
jam tingkat perdarahan3. monitor koorgulasi ginjal.
menurun. fibronogen, degradasi 2. Perubahan tanda vital
fibrin terjadi bila perdarahan.
Kriteria Hasil :
Kolaborasi: semakin hebat.
1. Pemberian obat 4. Trauma meningkat
1. kelembaban kulit
pengontrol perdarahan terjadi perdarahan yang
meningkat
(bila perlu) lebih hebat, bila terjadi
2. Perdarahan vagina
2. Pemberian produk laserasi pada serviks
menurun
darah (bila perlu) perineumatau terdapat
3. frekwensi nadi3. Pemberian pelunak hematom
membaik. tinja (bila perlu) Kolaborasi
1. Merangsang kontraksi
uterus dan mengontrol
perdarahan.
2. Mencegah infeksi yang
mungkin terjadi.

3. Nyeri Akut Tujuan: Setelah1. berikann teknik1. mendorong relaksasi dan


dilakukan asuhan nonfarmakoligis untuk memberikan klien cara
keperawatan selama mengurangi nyeri mengatasi dan
2x24 jam diharapkan2. kontrol yang mengontrol tingkat nyeri.
tinkat nyeri menurun menperberat rasa nyeri. 2. relaksasi dapat membantu
3. pertimbangkan jenis menurunkan tegangan
Kriteria Hasil :
dan sumber nyeri dan rasa takut, yang
1. keluhan nyeri
dalam pemilihan memperberat nyeri.

17
menurun strategi penurunan rasa 3.meningkatkan relaksasi
2. Uterus teraba nyeri dan meningkatkan
membulat Kolaborasi kooping dan kontrol
menurun 1. pemberian analgetik klien.
3. Nyeri tekan (bila perlu) . 4.meningkatkan
menurun kenyamanan dengan
4. Klien tidak terlihat memblok impuls nyeri.
kesakitan
3.Resiko cedera Tujuan : Setelah1. periksa denyut jantung1. dengan periksaan DJJ
pada janin dilakukan asuhan janin selama 1 menit diharapkan mengetahui
keperaatan 3- 4 jam2. monitor denyut DJJ
diharapkan tingkat jantung janin 2. diharapkan dapat
cedera menurun 3. monitor tanda vital ibu memantau DJJ agar
stabil
Kriteria Hasil :
3. diharapkan dapat
1. perdarahan menurun
memantau TTV ibu agar
2. frekwensi nadi
stabil
membaik
3. frekwensi nafas
membaik
4. gerakan janin
normal.

18
2.5 Implementasi dan Evaluasi SOAP dari
Diagnosa Utama

Tanggal Diagnosa Implementasi Evaluasi


Keperawatan
Risiko 1. Memonitor intake dan output
19-01-2020 S: klien mengatakan
perdarahan. setiap 5-10 menit karena
perubahan output merupakan perdarahan yang keluar
tanda adanya gangguan fungsi
dari vagina sudah
ginjal
2. Memonitor tanda vital karena berkurang.
perubahan tanda vital terjadi
bila perdarahan semakin hebat O : TTV dalam batas
3. Membatasi pemeriksaan vagina normal
dan rectum karena
trauma meningkat terjadi A : masalah risiko
perdarahan yang lebih hebat, perdarahan teratasi
bila terjadi laserasi pada P : pengurangan
serviks / perineum atau terdapat perdarahan
hematom
Kolaborasi
1. memberikan obat pengontrol
perdarahan
2. memberikan produk darah (bila
perlu)
3. memberikan pelunak tinja (bila
perlu)

19-01-2020 Nyeri Akut 1. memberikan tenik frmakologis S: klien mengatan rasa


untuk mengurangi rasa nyeri nyeri berkurang
(mis: terpi pijat, kompres
O: klirn tidak
hangat, dll)
mersakan rasa sakit
2. mengontrol lingkungan yang
A: masalah nyeri akut
memperberat rasa nyeri (mis:
suhu rungan,perncahayaan,
19
kebisingan,,dll) teratasi
3. mempertimbangkan jenis dan P: pemgurangan rasa
sumber nyeri dlam memilih nyeri pada ibu
strategi meredahkan nyeri
19-01-2020 Risiko cedera 1. memonitor DJJ selama 1 mnt S: klien mengatan
janin janinnya mulai
2. memonitor DJJ
bergerak
3. memonitor TTV ibu
O: DJJ meningkat
A: masalah resiko
cedera pada janin
teratasi
P: DJJ janin membaik

20
BAB III

PENUTUP

3.2 Kesimpulan
Solusio plasenta adalah lepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri
pada janin lahir. Biasanya terjadi pada triwulan ke-3, walaupun dapat pula terjadi setiap saat
dalam kehamilan. Apabila terjadi pada kehamilan sebelum 20 minggu, mungkin akan dibuat
diagnose abortus imminent. Plasenta dapat terlepas sepenuhnya (solusio plasenta totalis),
atau plasenta terlepas sebagian (solusio plasenta paralisis) atau sebagian pinggir plasenta
(rubture sinus marginalis ).
3.3 Saran
Semoga dengan adanya makalah ini, pembaca dapat mudah memahami materi
tentang Solusio plasenta. Makalah ini jauh dari sempurna, maka dari itu kami mohon saran
yang dapat meningkatkan dan membangun dalam penyempurnaan makalah yang kami buat
ini.

21
DAFTAR PUSTAKA

Heller,Luz. 1991 . Gawat darurat ginekologi dan obstetri. Jakarta: EGC

Manuaba, Ida Bagus Gde. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC

Doengoes, Marilynn E, dkk,. 2001. Rencana perawatan maternal atau bayi. Edisi 2. Jakarta:
EGC

Cunningham FG, dkk,. 2001. Obstetrical haemorrhage. Wiliam obstetrics 21 th edition. Lange
USA: Prentice Hall International Inc Appleton.

Doengoes, Marilynn E, dkk,. 2001. Rencana perawatan maternal/bayi. Edisi 2. Jakarta: EGC

22