Anda di halaman 1dari 15

Farmaka

Volume 15 Nomor 1
4
ARTIKEL TINJAUAN: TEKNIK MENINGKATKAN KELARUTAN OBAT
Alicia Ima Dara Patihul Husni
Program Studi Profesi Apoteker, Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran
Jalan Raya Bandung Sumedang KM 21 Jatinangor 45363
aliciaimadara@gmail.com

ABSTRAK
Kelarutan merupakan salah satu parameter penting untuk mencapai konsentrasi terapetik obat
dalam sirkulasi sistemik, sehingga menghasilkan respon farmakologis yang diinginkan. Obat
dengan kelarutan rendah adalah masalah utama yang dihadapi dalam pengembangan formulasi
obat baru. Lebih dari 40% senyawa baru yang dikembangkan di industri farmasi memiliki
kelarutan yang buruk dalam air, padahal untuk dapat terabsorpsi obat harus dapat melarut terlebih
dahulu. Artikel ini berisi ulasan mengenai berbagai teknik yang digunakan untuk meningkatkan
kelarutan obat melalui modifikasi obat secara fisik dan kimia seperti pengurangan ukuran
partikel, kristalisasi, pembentukan garam, dispersi padat, nanosuspensi, dan kriogenik. Berbagai
teknik yang dijelaskan dapat digunakan secara kombinasi untuk meningkatkan kelarutan obat.
Pemilihan teknik peningkatan kelarutan yang tepat adalah kunci untuk memastikan tujuan dari
formulasi.

Kata kunci : kelarutan, obat, kristalisasi, dispersi, nanosuspensi.

ABSTRACT
Solubility is one of the important parameters for achieving therapeutic concentrations of the
drug in the systemic circulation, thus producing the desired pharmacological response. Drugs
with low solubility are the main problems faced in the development of new drug formulations.
More than 40% of new compounds developed in the pharmaceutical industry have a poor
solubility in water, whereas to be absorbed the drug should be able to dissolve first. This article
contains reviews on techniques used to improve drug solubility through physical and chemical
modification of drugs including other methods such as particle size reduction, crystallization,
salt formation, solid dispersion, nanosuspensions, and cryogenic. The various techniques
described can be used in combination to improve drug solubility. The selection of appropriate
techniques is the key to ensuring the purpose of the formulation.
Keywords: solubility, drug, crystallization, dispersion, nanosuspension

Pendahuluan
banyak perusahaan obat generik cenderung
Pemberian obat secara oral adalah rute
lebih banyak memproduksi produk obat oral
pemberian obat yang paling mudah dan
bioekuivalen. Namun, tantangan utama
biasa digunakan karena kemudahan
pemberian sediaan oral terletak pada
pemberiannya, kepatuhan pasien yang
kekurangan bioavailabilitasnya.
tinggi, dan efektivitas biaya. Akibatnya,
Bioavabilitas sediaan oral tergantung pada

Diserahkan: 1 Desember 2017, Diterima 31 Desember 2017


Farmaka
Volume 15 Nomor 2
4
beberapa faktor termasuk kelarutan dalam bioavabilitas obat dalam tubuh (Sharma,
air, permeabilitas obat, tingkat disolusi, dan 2009).
metabolisme jalur pertama (Vieth et al., Semua obat telah dibagi menjadi
2004; Wenlock et al., 2003). empat kelas: kelas I-memiliki kelarutan dan
Penyebab paling umum permeabilitias yang tinggi, kelas II-kelarutan
bioavailabilitas oral rendah dikaitkan dengan rendah dan permeabilitas tinggi, kelas III-
kelarutan yang buruk dan permeabilitas kelarutan rendah dan permeabilitas tinggi
rendah (Vieth et al., 2004). Kelarutan adalah dan kelas IV-kelarutan dan permeabilitas
sifat zat kimia padat, cair, atau gas yang rendah (Wagh, 2012).
disebut zat terlarut untuk dilarutkan dalam Khusus untuk obat yang termasuk
pelarut padat, cair, atau gas untuk Biopharmaceutics Classification System
membentuk larutan homogen zat terlarut (BCS) kelas II (kelarutan rendah dan
dalam pelarut (Merisko et al., 2003). permeabilitas tinggi), bioavailabilitas dapat
Kelarutan merupakan salah satu ditingkatkan dengan meningkatkan kelarutan
parameter penting untuk mencapai dan tingkat disolusi obat dalam cairan
konsentrasi obat yang diinginkan dalam gastrointestinal. Pembatas untuk obat
sirkulasi sistemik untuk mencapai kebutuhan golongan BCS kelas II adalah pelepasan
respon farmakologis (Edward, 2008). Obat- obat dari bentuk sediaan dan kelarutannya
obatan yang memiliki kelarutan buruk akan pada cairan lambung, sehingga
memerlukan dosis tinggi untuk mencapai meningkatkan kelarutan zat akan
konsentrasi plasma terapeutik setelah meningkatkan bioavailabilitas obat BCS
pemberian oral. kelas II (Yelella, 2010).
Kelarutan yang rendah adalah Teknologi partikel di bidang
masalah utama yang dihadapi pada farmasetik adalah teknik untuk
pengembangan obat baru. Sebagian besar memodifikasi sifat fisikokimia, mikrometri
obat merupakan asam lemah atau basa lemah dan biofarmasi dari obat-obatan yang
yang memiliki kelarutan yang buruk memiliki kelarutan buruk, sehingga
(Vemul, 2014). Lebih dari 40% senyawa meningkatkan kelarutannya. Di antara
baru yang dikembangkan di industri farmasi berbagai teknik untuk peningkatan kelarutan,
praktis tidak larut air. Obat-obatan yang modifikasi secara fisika produk obat seperti
memiliki kelarutan rendah akan lebih pegurangan ukuran partikel dan modifikasi
lambat diserap, menyebabkan rendahnya karakteristik kristal merupakan pendekatan

umum untuk meningkatkan kelarutan obat (Savjani, 2012).


Farmaka
Volume 15 Nomor 3
4
kelarutan obat. Dapat digunakan satu metode
Metode atau kombinasi metode (metode fisika ,kimia
Dalam review ini peneliti ataupun teknik lain) untuk mencapai
menggunakan sumber data primer yang formulasi yang lebih baik.
dikumpulkan peneliti. Pencarian data Penurunan ukuran partikel
menggunakan instrumen pencarian online Kelarutan obat sangat erat kaitannya
melalui berbagai terbitan jurnal internasional dengan ukuran partikel. Dimana ketika
dan nasional. Artikel didapat dari database ukuran partikel lebih kecil, maka luas
elektronik seperti Elsavier Journal, Research permukaan akan meningkat. Permukaan
Gate, Pubmed, Portal Garuda, dan Google yang lebih besar memungkinkan interaksi
Scholar. Pencarian menggunakan kata kunci yang lebih besar dengan pelarut dan
: increase dissolution ; BCS class II; menyebabkan peningkatan kelarutan.
solubility ; bioavability; kelarutan ; dan Metode pengurangan ukuran partikel
bioavabilitas. Penelusuran lebih lanjut memungkinkan terjadinya peningkatan
dilakukan secara manual berdasarkan daftar kelarutan yang efisien, dapat direproduksi,
pustaka yang relevan. Pustaka diinklusi dan dan ekonomis (Savjani et al., 2012).
ekslusi berdasarkan kriteria jurnal nasional Salah satu teknik pengurangan
menurut DIKTI yang mengacu pada ukuran partikel adalah melalui mikronisasi
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional yang merupakan teknik merubah karakter
Nomor 22 tahun 2011 tentang Terbitan serbuk menjadi berukuran 2-5 μm dan
Berkala dan Peraturan Diektur Jendral hanya sebagian kecil partikel yang berada di
Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan bawah ukuran 1 μm. Mikronisasi tidak
Nasional Nomor 9/DIKTI/Kep/2011 tentang meningkat kelarutan ekuilibrium dari obat
Pedoman Akredistasi Terbitan Berkala itu sendiri tetapi meningkatkan laju disolusi
dengan meningkatkan luas permukaan
Hasil dimana bahan aktif dapat larut atau berdifusi
Kelarutan obat merupakan salah satu dari partikel obat (Blagden et al., 2007).
tahapan penting dalam absorpsi obat di Dispersi solid
dalam saluran pencernaan. Berbagai teknik Dispersi solid merupakan teknik
dapat digunakan untuk meningkatkan farmasi yang berguna untuk meningkatkan
kelarutan, penyerapan, dan efikasi
terapeutik obat. Dispersi padat merupakan

terdiri dari dua komponen yang berbeda, umumnya matriks hidrofilik dan obat
Farmaka
Volume 15 Nomor 4
4
hidrofobik (Wang et al., 2006.) Pembawa ukuran partikel melalui proses cairan
hidrofilik yang paling umum digunakan superkritis atau Supercritical fluid (SCF).
untuk dispersi padat meliputi Cairan superkritis adalah cairan yang suhu
polivinilpirolidon (Povidone, PVP), dan tekanannya lebih besar dari suhu
polietilena glikol (PEG), Plasdone-S630. kritisnya dan tekanan kritis, yang
Surfaktan seperti Tween-80, sodium dokosa, memungkinkannya untuk mengasumsikan
Myrj-52, Pluronic-F68, dan sodium lauryl sifat cairan dan gas. Pada suhu yang sangat
sulfate (SLS) juga sering digunakan dalam kritis, SCF, sangat kompresibel sehingga
formulasi dispersi padat (Savjani et al., memungkinkan perubahan tekanan untuk
2012). mengubah karakteristik kepadatan dan
Nanosuspensi massa fluida yang sangat menentukan
Teknologi nanosuspensi telah kelarutan zat. Setelah partikel obat
dikembangkan sebagai metode yang dilarutkan dalam SCF (biasanya karbon
menjanjikan sebagai teknik penghantaran dioksida), partikel dapat direkristalisasi
obat hidrofobik yang efisien. Teknologi ini dengan ukuran partikel yang lebih kecil.
diterapkan pada obat-obatan terlarut yang Proses SCF saat ini telah menunjukkan
tidak larut dalam air dan minyak. kemampuan untuk membuat suspensi
Nanosuspensi adalah sistem yang terdiri dari nanopartikel partikel berdiameter 5-2.000
partikel obat berukuran nano yang nm (Manna et al., 2007).
distabilkan oleh surfaktan untuk penggunaan Teknik Kriogenik
oral, topikal, pemberian parenteral, dan Teknik kriogenik telah
pulmonal. Distribusi ukuran partikel partikel dikembangkan untuk meningkatkan tingkat
padat dalam nanosuspension biasanya disolusi obat dengan membuat partikel obat
kurang dari satu mikron dengan ukuran amorf berstruktur nano dengan tingkat
partikel rata-rata berkisar antara 200 dan 600 porositas tinggi pada kondisi tertentu.
nm (Muller et al., 2000). Komposisi cairan kriogenik yang dapat
Supercritical fluid digunakan diantaranya hidrofluoroalkana,
Teknologi nanosisasi dan solubilisasi N2, Ar, O2, dan pelarut organik. Setelah
lain yang aplikasinya telah meningkat dalam pengolahan kriogenik, serbuk dapat
beberapa tahun terakhir adalah pengurangan diperoleh dengan berbagai proses
pengeringan seperti spray freeze drying,
atmospheric freeze drying, vacuum freeze

drying, and lipolisasi. (Leuenberger et al., 2002).


Farmaka
Volume 15 Nomor 5
4
Rekayasa Bentuk Kristal mempengaruhi kelarutan, laju disolusi dan
Merupakan metode kristalisasi kompresibilitas (Zaini et al., 2011).
dimana terjadi interaksi nonkovalen antara Pembentukan Garam
komponen molekuler atau ionik yang berada Metode yang paling mudah dan
dalam keadaan solid-state dan menunjukkan paling umum untuk dilakukan adalah obat
sifat listrik, magnetik, dan optik yang yang memiliki sifat asam atau basa diubah
tertentu. Teknologi ini dapat diterapkan menjadi bentuk garamnya sehingga
pada senyawa farmasetik untuk kelarutannya dan laju disolusinya dapat
meningkatkan kelarutan obat melalui proses meningkat seperti aspirin, teofilin dan
kristalisasi seperti dengan pembentukan barbiturate (Patil and Sahoo, 2010).
kristal, polimorf metastabil, bentuk amorf Hidrotrofi
energi tinggi dan partikel berukuran Hidrotrofi adalah proses pelarutan,
ultrafine. Teknologi nanokristal memiliki dimana penambahan sejumlah besar zat
kelebihan untuk meningkatkan kelarutan terlarut kedua, zat hidrotomatik akan
yang membantu penyerapan dan onset kerja menghasilkan peningkatan kelarutan zat
terjadi lebih cepat. terlarut. Agen hidrotropik adalah garam
Teknologi ini memungkinkan organik ionik, terdiri dari garam logam alkali
formulasi dikembangkan tanpa penggunaan dari berbagai asam organik. Hidrotrofi
surfaktan, yang terkadang menguntungkan menunjukkan peningkatan kelarutan dalam
dalam mengurangi efek yang tidak air karena adanya sejumlah besar aditif.
diinginkan dari beberapa eksipien Mekanisme yang meningkatkan kelarutan
(Rasenack, 2004). lebih erat kaitannya dengan kompleksasi
Kokristal merupakan senyawa padat yang melibatkan interaksi lemah antara zat
yang terdiri atas dua atau lebih komponen hidrotrofik seperti natrium benzoat, natrium
padat yang membentuk satu kisi kristal yang asetat, natrium alginat, urea, dengan obat
berbeda dan dihubungkan dengan adanya (Sevlani et al., 2012).
ikatan antar molekul seperti ikatan hydrogen Solid Lipid Nanopartikel
dan Van der Waals. Metode kokristal Solid lipid nanopartikel (SLN)
memiliki berbagai keuntungan yaitu tidak adalah sistem pembawa obat koloid yang
akan mempengaruhi farmakologi dan hanya seperti nanoemulsi, tetapi berbeda dalam
sifat lipid dimana bagian lipid cair dari
emulsi digantikan oleh lipid padat pada suhu

kamar seperti gliserida atau lilin dengan titik lebur yang tinggi. Pengembangan teknologi
Farmaka
Volume 15 Nomor 6
4
terhadap SLN sebagai teknologi partikel koloid, seperti emulsi, liposom,
baru meningkat karena potensinya sebagai mikroorganisme polimer dan nanopartikel,
sistem pembawa alternatif bagi pembawa serta memiliki kemungkinan untuk
digunakan pada berbagai rute pemberian
(Yener et al., 2007).

Tabel 1. Teknik yang Digunakan Meningkatkan Disolusi Berbagai Macam Obat


Teknik Metode Contoh Referensi
Ibuprofen
Mikronisasi Jet milling
Cilostazol (Vogt et al., 2008)
Meloxicam
(Blagden et al., 2007)
Solid dispersi Evaporasi solvent Naproxen
Celecoxib (Gupta et al., 2004)
Ritonavir (Sinha et al., 2010)
(Merisko-Liversidge
Presipitasi Naproxen et al., 2003)
(Langguth et al.,
Nanosuspensi Spironolakton 2005)
Homogenisasi
Budenoside (Jacobs and M¨uller,
bertekanan tinggi
Omeprazole 2002)
(M¨oschwitzer, 2004)
Supercritical
Supercritical fluid Furosemide (Zordi et al., 2012)
antisolvent
(Johnston et al.,
Teknik Kriogenik Freeze drying Carbamazepine
2003)
Perubahan sifat Kloramfenikol
polimorfisme
Perubahan karakter Perubahan menjadi Teofilin
kristal bentuk anhidrat (Sevlani et al., 2012)

Perubahan menjadi Eritromisin


bentuk dihidrat
Kokristal Carbamazepin
Solid Lipid Solvent
Nanoapartikel emulsification- Asam retinoat (Hu et al., 2004)
evaporation
(Patil dan Sahoo,
Perubahan sifat Pembentukan garam Aspirin
kimia 2010)
Simpulan mempengaruhi penyerapan obat di
Kelarutan obat adalah salah satu gastrointestinal. Berbagai teknik yang
tahap yang dapat mempengaruhi penyerapan dijelaskan dapat digunakan secara kombinasi
obat yang diberikan secara oral karena akan ataupun tidak untuk meningkatkan kelarutan
Farmaka
Volume 15 Nomor 7
4
obat. Pemilihan teknik peningkatan E Merisko-Liversidge, GG Liversidge, and
kelarutan yang tepat adalah kunci untuk ER Cooper. 2003. Nanosizing: a
formulation approach for poorly-water-
memastikan tujuan dari formulasi seperti soluble compounds. European Journal
bioavailabilitas oral yang baik, mengurangi of Pharmaceutical Sciences. 2: 113–
120.
frekuensi pemberian dosis dan kepatuhan
pasien yang lebih baik dengan biaya H Leuenberger. 2002. Spray freeze-drying—
the process of choice for low water
produksi yang rendah. soluble drugs. Journal of Nanoparticle
Research. 4(1):11–119.
Daftar Pustaka Hu J., Johnston KP, Williams RO. 2003.
C Jacobs and RH M¨uller. 2002. Production Spray freezing into liquid
and characterization of a budesonide (SFL) particle engineering technology to
nanosuspension for pulmonary enhance dissolution of poorly water
administration. soluble drugs: organic solvent versus
organic/aqueous co-solvent systems.
Pharmaceutical Research. 19(2). 189– Eur J Pharm Sci. 20: 295-303.
194.
Hu L., Tang X., Cui F. 2004. Solid lipid
nanoparticles (SLNs) to improve oral
D Sharma, M Soni, S Kumar, and GD bioavailability of poorly soluble drugs.
Gupta. 2009. Solubility enhancement— J Pharm Pharmacol 56:1527-1535.
eminent role in poorly soluble drugs.
Research Journal of Pharmacy and J M¨oschwitzer, G Achleitner, H Pomper,
Technology. 2(2) : 220–224. and RH M¨uller. 2004. Development of
an intravenously injectable chemically
D Zordi, M Moneghini, I Kikic, M Grassi, D stable aqueous omeprazole formulation
R Castillo, E Solinas, and MB Bolger. using nanosuspension technology.
2012. Applications of supercritical European Journal of Pharmaceutics
fluids to enhance the dissolution and Biopharmaceutics. 58(3) : 615–
behaviors of Furosemide by generation 619.
of microparticles and solid dispersions.
Europian Journal Pharmaceutical. KH Edward and D Li. 2008. Drug Like
81(1):131-141 Properties:Concept, Structure, Design
and Methods, from ADME to Toxicity
Optimization. Elsevier. 1:56-65

L Manna, M Banchero, D Sola, A Ferri, S


Ronchetti, and S Sicardi. 2007.
Impregnation of PVP microparticles
with ketoprofen in the presence of
supercritical CO2. Journal of
Supercritical Fluids. 42(3): 378–384.
N Blagden, M de Matas, PT Gavan, and P 617–630.
York. 2007. Crystal engineering of
active pharmaceutical ingredients to M Vogt, K Kunath, and JB Dressman. 2008.
improve solubility and dissolution rates. Dissolution enhancement of fenofibrate
Advanced Drug Delivery Reviews. 9(7): by micronization, cogrinding and spray-
Farmaka
Volume 15 Nomor 8
4
drying: comparison with commercial bioavailability of poorly soluble drugs.
preparations. European Journal of Journal of Bioequivalence &
Pharmaceutics and Biopharmaceutics. Bioavailability. 2(2) : 28–36.
68(2) : 283–288
S Sinha, M Ali, S Baboota, A Ahuja, A
P Langguth, A Hanafy, D Frenzel et al., Kumar, and J Ali. 2010. Solid
2005. Nanosuspension formulations for dispersion as an approach for
low-soluble drugs: pharmacokinetic bioavailability enhancement of poorly
evaluation using spironolactone water-soluble drug ritonavir. AAPS
asmodel compound. Drug Development Pharm-SciTech. 11(2): 518–527.
and Industrial Pharmacy. 31(3):319–
329. Savjani KT, Gajjar AK, Savjani JK. 2012.
Drug solubility: importance and
P Gupta, VK Kakumanu, and AK Bansal. enhancement techniques. ISRN Pharm.
2004. Stability and solubility of 1:1-10.
celecoxib-PVP amorphous dispersions:
a molecular perspective. U¨ ner M, Yener G. 2007. Importance of
Pharmaceutical Research. 21(10) : solid lipid nanoparticles (SLN) in
1762–1769. various administration routes and future
perspectives. Int Journal Nanomed.
Patil SV, dan Sahoo SK. 2010. 2:289-300.
Pharmaceutical Overview of Spherical
Crystallization. Der Pharmacia VR Vemula, V Lagishetty, and S Lingala,
Letter.2(1) : 421-426. 2010. Solubility enhancement
techniques. International Journal of
RH Muller, C Jacobs, and O Kayer, 2000. Pharmaceutical Sciences Review and
Nanosuspensions for the formulation of Research. 5(1): 41–51.
poorly soluble drugs. New York :
Marcel Dekker. Vieth M., Siegel MG, Higgs RE, Watson IA,
Robertson DH, et al. 2004.
Rasenack N, Muller BW. 2004. Micron-size Characteristic physical properties and
drug particles: common and novel structural fragments of marketed oral
micronization techniques. Pharm Dev drugs. Journal Medical Chem. 47: 224-
Technol 9:1-13. 232.
SRK Yellela. 2010. Pharmaceutical Wagh MP, and Patel J. S. 2010.
technologies for enhancing oral Biopharmaceutical classification
system: scientific basis for biowaiver
extensions. International Journal
Pharmaceutical Science. 2:12-19.

Wang L, Cui F. D., Sunada H. 2006.


Preparation and evaluation of solid
dispersions of nitrendipine prepared
with fine silica particles using the melt-
mixing method. Chem Pharm Bull 54:
37-43.
Wenlock MC, Austin RP, Barton
P, Davis AM, Leeson PD.
2003. A comparison of
physiochemical property
profiles of development and
marketed oral drugs. J Med
Chem 46: 1250-1256.
TEKNIK MENINGKATKAN KELARUTAN OBAT

DI SUSUN OLEH :

NAMA : SAMHARIRA

NIM : F201902013

KELAS : C5NR

PROGRAM STUDI S-1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI KESEHATAN MANDALA WALUYA
KENDARI
2020
TEKNIK MENINGKATKAN KELARUTAN OBAT
Seperti yang kita ketahui bahwa pada pemberian obat pada pasien ada beberapa cara

salah satunya adalah pemberian obat secara oral. Yang dimana pada pemberian obat

secara oral ini sangatlah mudah bagi pasien yang aman untuk mengkomsumsi obat secara

oral karena kepatuhan pasien yang tinggi serta efektifitas biaya.

Pada pemberian peroral harus dipertimbangkan adanya kontra indikasi obat seperti

resiko dimuntahkan atau diare, zat aktif yang rusak dengan kondisi pencernaan, adanya

interaksi dengan flora usus, juga adanya first pass effect dan klirens hepatik yang

menyebabkan inaktifasi pada zat aktif. Bentuk sediaan obat bukan sekedar bentuk estetika,

melainkan merupakan kesatuan struktur sediaan yang sangat berpengaruh pada

kesediaan hayati.

Akan tetapi pada pemberian obat yang sediaan oral tersebut memiliki kekurangan pada

bioavailabilitasnya. Dimana bioavaibilitas sediaan oral tersebut tergantung pada beberapa

faktor termasuk adalah kelarutan dalam air, permeabilitas obat, tingkat disolusi, dan

metabolisme jalur pertama. Selain sediaan obat oral semua obat telah dibagi menjadi

empat kelas antara lain :

1) Kelas I : memiliki kelarutan dan permeabilitas yang tinggi

2) Kelas II : kelarutan rendah dan permeabilitas tinggi

3) Kelas III : kelarutan rendah dan permeabilitas tinggi

4) Kelas IV : kelarutan dan permeabilitas rendah

Diketahui bahwa kelarutan obat sangatlah erat kaitannya dengan ukuran partikel,

dimana ketika ukuran partikel lebih kecil, maka luas permukaan akan meningkat. Dimana

permukaan yang lebih besar memungkinkan interaksi yang lebih besar dengan pelarut dan
menyebabkan peningkatan kelarutan.

Dalam suatu sediaan farmasi salah satunya adalah sediaan obat, tentunya dalam

proses pembuatan sediaan tersebut diperlukan ketelitian dan metode – metode yang tepat

agar proses pembuatan sediaan obat tersebut dapat memperoleh hasil yang baik dan

sesuai dengan standar yang telah ditentukan.

Salah satu yang harus diperhatikan adalah kelarutan obat. Dikarenakan kelarutan obat

salah satu tahapan yang penting dalam absorpsi obat didalam saluran pencernaan.

Berbagai teknik yang dapat digunakan untuk meningkatkan kelarutan obat, seperti

menggunakan satu metode atau kombinasi metode (metode fisika, kimia, ataupun teknik

lain) untuk mencapai formulasi yang lebih baik. Ada beberapa macam teknik farmasi yang

dapat dilakukan untuk meningkatkan kelarutan yaitu :

Dispersi solid ini berguna untuk meningkatkan kelarutan, penyerapan, dan efikasi

terateutik obat.

Nanosuspensi dibeberapa tahun terakhir ini dikembangkan pendekatan lain untuk

meningkatkan kelarutan dan kecepatan senyawa aktif farmasi yaitu dengan mereduksi

ukuran partikel senyawa aktif farmasi sampai ke ukuran yang ada dalam rentang nano

meter atau sub mikron.

Kriogenik pada teknik kriogenik ini terjadi proses untuk meningkatkan tingkat disolusi

obat dengan membuat partikel obat amorf berstruktur nano dengan tingkat porositas

tinggi pada kondisi terntentu

Rekayasa Bentuk Kristal metodi dapat diterapkan pada senyawa farmasetik untuk

meningkatkan kelarutan suatu obat melalui proses kristalisasi seperti dengan

pembentukan Kristal, polimorf metastabil, bentuk amorf energi tinggi dan partikel

berukuran ultrafine. Rekayasa bentuk Kristal sama halnya dengan metode kristalisasi
dimana pada metode ini terjadi interaksi menkovalen antara komponen molekuler atau

ionik yang berada dalam keadaan solid-state dan menunjukan sifat listrik, magnetik,

dan optik yang tertentu. Metode ini dikembangkan dengan harapan memungkinkan

formulasi dapat dikembangkan tanpa penggunaan surfaktan yang terkadang

menguntungkan dalam mengurangi efek yang tidak diinginkan dari beberapa eksifien.

Pembentukan Garam metode ini adalah metode yang paling umum dan sangat

mudah dilakukan dimana obat yang memiliki sifat asam atau basah diubah menjadi

bentuk garamnya sehingga kelarutannya dan laju disolusinya dapat meningkat.

Hidrotrofi ini menunjukkan peningkatan kelarutan dalam air dikarenakan adanya

sejumlah besar aditif. Diketahui bahwa bahan aditif merupakan bahan selain zat aktif

yang ditambahkan dalam formulasi suatu sediaan untuk berbagi tujuan atau fungsi,

dimana bahan aditif dibutuhkan untuk menutupi kekurangan sediaan farmasi, karena

dizaman sekarang ini sediaan farmasi sudah semakin berkembang dari bentuk serta

cara pemakaiannya. Sediaan farmasi juga harus dibuat semenarik mungkin dari segi

rasa dan aroma agar mudah dikonsumsi oleh pasien.

Solid Lipid Nanopartikel (SLN) salah satu pendekatan nanoteknologi dibidang

farmasi adalah lemak padat nanopartikel, SLN ini dikembangkan dengan tujuan

sebagai system pembawa alternatif untuk emulsi, liposom, dan nanopartikel polimer,

SLN ini diperkenalkan sebagai system pengiriman nanopartikulat baru yang dihasilkan

dari lipid padat dimana SLN ini diketahui menggabungkan keuntungan dari system

tradisional tetapi menghindari beberapa kelemahan utama mereka.


Keterangan :

Fasa Biofarmasi atau Farmasetika adalah fase yang meliputi waktu mulai penggunaan obat

melalui mulut sampai pelepasan zat aktifnya didalam cairan tubuh. Fase ini berhubungan

dengan ketersediaan farmasi dari zat aktifnya dimana obat siap diabsorpsi.

Fasa Farmakokinetika adalah fase yang meliputi semua proses yang dilakukan tubuh,

setelah obat dilepas dari bentuk sediaannya yang terdiri dari absorpsi, distribusi,

metabolism dan ekskresi (atma)

Fasa Farmakodinamika adalah fase dimana obat telah berinteraksi dengan sisi reseptor

dan siap berinteraksi dengan sisi reseptor dan siap untuk memberikan efek.
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa kelarutan suatu obat adalah salah

satu tahap yang dapat mempengaruhi penyerapan obat yang diberikan secara oral karena

akan mempengaruhi penyerapan obat digastrointestinal. Dan berbagai teknik yang

dijelaskan dapat digunakan secara kombinasi ataupun tidak untuk meningkatkan kelarutan

obat. Dimana pemilihan teknik peningkatan kelarutan yang tepat adalah kunci untuk

memastikan tujuan dari formulasi seperti bioavailabilitas oral yang baik, mengurangi

frekuensi pemberian dosis dan kepatuhan pasien yang lebih baik dengan biaya produksi

yang rendah.