Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN TUTORIAL

KEPERAWATAN KELUARGA
KASUS 2

Disusun oleh:
TUTOR H
Olivia Rizki Khaerani 220110160090
Ricky Simbolon 220110160091
Jihan Salimah 220110160092
Annisa Rahmafillah 220110160093
Aulia Nurhanifa 220110160094
Dylla Iztiazahra 220110160095
Via Fauziati 220110160096
Astriani Nur Afifah 220110160097
Luciana Tasya 220110160098
Naomi Sella Aprilia 220110160099
Andreas Leonando 220110160100
Ghilbran Fathurido 220110160101
Astrie Grace D’olivia N 220110160103
Lisa Noviana 220110160104

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
JATINANGOR
2018
LAPORAN TUTORIAL KEPERAWATAN KELUARGA
KASUS 2
Dalam kunjungan berikutnya, perawat Y juga menemukan informasi baru bahwa Tn. A
(Sunda) dan Ny. B (Aceh) memiliki masalah kesehatan yaitu hipertensi dan DM. Tn. A
bahkan tidak bisa bekerja jika DM dan hipertensinya kambuh. Perawat Y memulai tahapan
berikutnya setelah pengkajian selesai dilaksanakan. Perawat Y mempertimbangkan beban
keluarga dalam penentuan diagnosa keperawatan, prioritas dan rencana asuhan keperawatan
keluarga dengan mempertimbangkan budaya yang dimiliki keluarga. Partisipasi kelurga
dalam membantu anggota keluarga yang sakit dan masalah keluarga lainnya yang telah
teridentifikasi perlu dioptimalkan.

Step 1 Clarify unfamiliar terms

Tidak ada istilah asing yang dibingungkan.

Step 2 Define the problem (s)

1. Apa saja faktor penyebab DM dan hipertensi pada Tn. A?


2. Mengapa beban keluarga dan budaya menjadi faktor penentu asuhan keperawatan?
3. Apa yang menyebabkan partisipasi keluarga perlu dioptimalkan?
4. Apa saja pengkajian yang dilakukan perawat Y terhadap keluarga Tn. A?
5. Mengapa hipertensi dan DM menghambat pekerjaan Tn. A?
6. Apa saja yang termasuk beban keluarga?
7. Apa saja diagnosa keperawatan yang mungkin akan muncul?

Step 3 Brainstorm possible hypothesis oe explanation

1. Faktor penyebab DM dan hipertensi:


- Pola hidup (makanan dan olahraga)
- Pekerjaan
- Genetik
- Stress
2. Beban keluarga dan budaya menjadi faktor penentu asuhan keperawatan karena dalam
asuhana keperawatan ada pengkajian tentang budaya sehingga asuhan keperawatan
menyesuaikan budaya dan penyesuaian finansial Tn. A.
3. Partisipasi keluarga perlu ditingkatkan karena:
- Kehadiran anggota keluarga lain mempunyai pengaruh pada kondisi psikologis
- Keluarga berperan mengingatkan tentang penyakitnya
- Anggota keluarga sebagai support system
- Termasuk salah satu fungsi keluarga yaitu perawatan kesehatan
4. Pengkajian fisiologis, riawayat keluarga, dan berbagai aspek
5. Yang menyebabkan tidak bisa bekerja jika sudah kambuh yaitu karena penyakitnya
sudah parah
6. Yang termasuk beban keluarga:
- Keuangan
- Stress marital
- Jumlah anggota keluarga
- Tulang punggung keluarga tunggal
7. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul:
- Intoleransi aktivitas
- Resiko infeksi
- Ansietas
- Ketidakpatuhan
- Ketidakseimbangan nutrisi
- Nyeri akut
Step 4 Arrange explanation into a tentative solution

DIAGNOSA
PENGKAJIAN PLANNING

Analisa Data

ASUHAN KEPERAWATAN

EVALUASI INTERVENSI

Step 5 Define learning objective


1. Pengkajian pada keluarga
2. Diagnosa keperawatan keluarga
3. Menentukan skala prioritas
4. Rencana asuhan keperawatan
5. EBP
6. Peka budaya dalam pemberian asuhan keperawatan

Step 6 Self Study

Step 7 Reporting
Hasil Reporting berdasarkan Lerning Objective :
1. PENGKAJIAN
I. Data Umum
1. Kepala Keluarga (KK) : Tn. A
2. Alamat dan telepon : Jawa Barat & -
3. Pekerjaan KK :-
4. Pendidikan KK :-
5. Komposisi Keluarga :
NO Nama Jenis kelamin Umur Pendidikan Hub dgn
KK

1. Ny. B Perempuan 33 tahun - Istri

2. An. C Perempuan 15 tahun - Anak

3. An. E Laki-laki 8 tahun - Anak

4. An. F Laki-laki 7 tahun - Anak

5. An. D Perempuan 4 tahun - Anak

: Laki-laki

: Perempuan

--------: Tinggal serumah

6. Tipe Keluarga : Keluarga campuran (blended family) karena keluarga


ini terdiri dari suami, istri, anak-anak kandung serta anak-anak tiri.
7. Suku bangsa : Indonesia Sunda-Aceh
8. Agama :
9. Status Sosial Ekonomi : Keluarga mengalami kesulitan keungan hingga nutrisi
keluarga kurang. Hal ini bisa saja dipengaruhi karena Tn. A yang merupakan
tulang punggung keluarga tidak bisa bekerja jika DM dan hipertensinya kambuh.
10. Aktivitas rekreasi keluarga :
II. Riwayat dan Tahap Perkembangan
11. Tahap Perkembangan keluarga saat ini
Keluarga tersebut berada pada tahap kelima, yaitu keluarga dengan anak remaja.
Hal ini disebabkan oleh keluarga tersebut memiliki An. C yang berumur 15 tahun.
12. Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Tugas perkembangan yang belum terpenuhi adalah menyeimbangkan kebebasan
dengan tanggungjawab ketika dewasa semakin dewasa dan mandiri, hal ini tidak
berhasil dilakuakn kepada anggota keluarga karena masih ada anak yang sering
bolos sekolah. Selain itu juga ada tugas perkembangan berkomunikasi secara
terbuka antara orangtua dan anak terlihat masih kurang.
13. Riwayat kesehatan keluarga inti
Keluarga mengalami nutrisi keluarga kurang dan sering terjadinya penyakit infeksi
pada anak. Selain itu juga Tn. A dan Ny. B mengalami masalah kesehatan
hipertensidan DM. Tn. A bahkan tidak bisa bekerja jika DM dan hipertensinya
kambuh.
14. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya

III. Data Lingkungan


15. Karakteristik Rumah
a. Kepemilikan rumah :
b. Luas bangunan : m2
c. Jenis bangunan :
d. Sarana Kesehatan Lingkungan :
Sumur dan keadaan air :
WC :
Tempat sampah :
Pencahayaan :
Denah rumah

16. Karakteristik tetangga dan Komunitas


17. Mobilitas geografis Keluarga
18. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan masayarakat

IV. Struktur Keluarga


19. Pola Komunikasi Keluarga
Pola komunikasi yang ada di keluarga Tn. A termasuk ke dalam pola komunikasi
yang unik.
20. Struktur Peran Keluarga
Tn.A adalah kepala keluarga dan suami dari Ny. B. Dalam keluarga Tn. A, juga
sebagai pencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarganya dan sebagai
pengambil keputusan di dalam keluarganya serta membantu mengurus urusan
rumah tangga. Ny.B adalah ibu rumah tanggga dan istri dari Tn. A, peran Ny.B juga
sebagai pengasuh dan pendidik bagi anaknya, sebagai pengatur dalam urusan rumah
tangga dan pencari nafkah tambahan bagi keluarganya . Rumah Keluarga Tn. A
ditinggali 6 orang yaitu Tn. A, Ny. B, An. F, An. C, An. D, An. E.
21. Struktur Kekuatan keluarga
22. Nilai atau norma keluarga
Nilai dan norma yang ada di keluarga Tn. A mengikuti budaya dari suku asal dari
Tn. A dan Ny. B yakni suku Aceh dan suku Sunda.
23. Fungsi Keluarga
a. Fungsi afektif
Mungkin fungsi dari afektif keluarga perlu dioptimalkan, mengingat adanya
tugas perkembangan keluarga yang belum dipenuhi dan perlu untuk dipenuhi
demi kesejahteraan keluarga.
b. Fungsi sosialisasi
c. Fungsi reproduksi
Tn. K memiliki anak sebanyak 4 orang. Ny. B belum masuk dalam masa
menopouse.
d. Fungsi ekonomi
e. Fungsi perawatan kesehatan

V. Stress dan Koping Keluarga


24. Stress jangka pendek
Stress jangka pendek adalah hal-hal mengganggu yang dapat diselesaikan secara
tuntas. Seperti kesulitan keuangan, nutrisi keluarga kurang, anak sering bolos
sekolah, dan seringnya terjadi penykit infeksi pada anak.
25. Stress jangka panjang
Stres jangka panjang adalah hal-hal mengganggu yang tidak dapat diselesaikan
secera tuntas seperti Tn. A dan Ny. B mempunyai hipertensi dan DM.
26. Kekuatan keluarga
27. Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor
Keluarga terlihat kurang baik dalam menghadapi stressor karena permasalahan
pada keluarga tersebut saling berkaitan.
28. Strategi koping yang digunakan

VI. Pemeriksaan Kesehatan Tiap Individu

VII. Harapan Keluarga

2. DIAGNOSA
DO/DS Masalah Etiologi
DO : Kurangnya nutrisi Risiko infeksi / penularan
Berdasarkan Family keluarga  risiko infeksi b.d
Folder, anak sering terjadinya infeksi  ketidakseimbangan nutrisi
mengalami penyakit penularan penyakit ke kurang dari kebutuhan
infeksi dan nutrisi anggota keluarga lainnya
keluarga kurang.
DS : DM dan Hipertensi  Intoleransi aktivitas b.d
Klien mengatakan apabila Penurunan fungsi penurunan fungsi
hipertensi dan DM-nya fisiologis, spt: nyeri fisiologis akibat DM dan
kambuh, klien tidak bisa kepala dan luka sukar Hipertensi
bekerja sembuh  aktivitas
terganggu (Intoleransi
Aktivitas)
DO: Jenis keluarga Ketidakefektifan
- Anak sering reconstituted family  manajemen kesehatan
mengalami penyakit Struktur, peran, dan keluarga b.d. tidak
infeksi komunikasi anggota terpenuhinya fungsi
- Kurang terpenuhinya keluarga unik  tidak perawatan kesehatan
kebutuhan nutrisi terpenuhinya fungsi keluarga
keluarga keluarga: perawatan
- Partisipasi keluarga kesehatan  manajemen
dalam membantu kesehatan keluarga tidak
anggota keluarga yang efektif
sakit perlu
diotimalkan

Skoring dan Penentuan prioritas masalah


Skoring diagnosa digunakan apabila perawat merumuskan lebih dari satu diagnsoa.
Rumus yang digunakan adalah rumus Bailon dan Maglaya (1978). Proses skoring adalah
sebagai berikut.
1. Tentukan skor sesuai dengan kriteria yang dibuat perawat.
2. Selanjutnya skor dibagi dengan skor tertinggi dan dikalikan dengan bobot.
Skor yang diperoleh
x Bobot
Skor tertinggi
3. Jumlahkan skor untuk semua kriteria (skor maksimum sama dengan jumlah bobot, yaitu 5)

Risiko
No. KRITERIA SKOR BOBOT
1. Sifat masalah
terjadi
Skala : Ancaman kesehatan 2/3 x 1 =
1
2/3

2. Kemungkinan masalah dapat diatasi


Skala : Sebagian ½x2= 2
1
3. Potensial masalah untuk dicegah
Skala : Cukup 2/3 x 1 = 1
2/3
4. Menonjolnya masalah
Skala : Masalah berat, harus segera ditangani 2/2 x 1 = 1
1
Total 10/3
infeksi/penularan infeksi b.d Malnutrisi
Intoleransi aktifitas b.d Imobilitas

No. KRITERIA SKOR BOBOT


1. Sifat masalah
Skala : Ancaman Kesehatan 2/3 x 1 =
1
2/3

2. Kemungkinan masalah dapat diatasi


Skala : Sebagian ½x2=
2
1

3. Potensial masalah untuk dicegah


Skala : Rendah 1/3 x 1 =
1
1/3

4. Menonjolnya masalah
Skala : Masalah berat, harus segera ditangani 2/2 x 1 =
1
1

Total 9/3
Ketegangan pemberi asuhan b.d status kesehatan pemberi asuhan : DM dan Hipertensi

No. KRITERIA SKOR BOBOT


1. Sifat masalah
Skala : Ancaman Kesehatan 2/3 x 1 =
1
2/3

2. Kemungkinan masalah dapat diatasi 2/2 x 2 =


Skala : - Mudah 2
2

3. Potensial masalah untuk dicegah


Skala : Rendah 1/3 x 1 =
1
1/3

4. Menonjolnya masalah
2/2 x 1 =
Skala : -Masalah berat, harus segera ditangani 1
1
Total 8/3

Diagnosa Prioritas :
Risiko terjadi infeksi/penularan infeksi b.d Malnutrisi

DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI


1. Kebutuhan nutrisi pada 1. Manajemen nutrisi
keluarga terpenuhi - Berikan informasi kepada
2. Keluarga dapat keluarga tentang kebutuhan
mengidentifikasi nutrisi
kebutuhan nutrisi yang - Kaji apa bila ada alergi
tepat makanan
3. Keluarga bebas dari - Berikan rekomendasi makanan
Risiko terjadinya tanda dan gejala infeksi yang terpilih (sudah
infeksi 4. Keluarga menunjukkan dikonsultasikan dengan ahli
berhubungan kemampuan untuk gizi)
dengan malnutrisi mencegah timbulnya - Monitor jumlah nutrisi dan
infeksi kandungan kalori
5. Keluarga dapat - Monitor status nutrisidan BB
menunjukkan perilaku anggota keluarga
hidupsehat 2. Manajemen infeksi
6. Status nutrisi,imun, - Perhatikan tindakan aseptik
gastrointestinal, - Berikan pendidikan kesehatan
genitourinaria keluarga pada keluarga untuk
dalam batas normal meningkatkan kebersihan
terutama dalam pemilihan
makanan yang akan dikonsumsi
- Ajarkan keluarga untuk selalu
mencuci tangan sebelum makan

g.      

Intoleransi 1. Klien diharapkan 1. Monitoring keterbatasan


Aktivitas b.d dapat melakukan aktivitas, dan kelematan saat
imobilitas aktivitas sehari-hari aktivitas
2. Setelah dilakukan 2. Bantu klien dalam melakukan
intevensi dalam 1 aktivitas sehari-hari
minggu klien 3. Anjurkan untuk melakukan
diharapkan selalu ada aktivitas yang adekuat
perkembangan yang 4. melakukan peningkatan
membaik seperti latihan secara bertahap
dapat melakukan hal 5. melakukan terapi latihan :
yang sebelumnya kontrol otot
tidak bisa. 6. Anjurkan untuk istirahat
3. Klien diharapkan cukup
mematuhi aktivitas 7. Monitoring TTV
yang disarankan
Ketegangan 1. Pemberi asuhan 1. Mengkaji tanda peningkatan
pemberi asuhan b.d mampu secara aktif peran seperti adanya ketidak
status kesehatan menyelesaikan berdayaan, ataupun masalah
pemberi asuhan: masalah asuhan pada kesehatan personal
Ketidakmampuan pasien atau anggota 2. Mengukur tingkat
memnuehi harapan keluarganya pengetahuan pemberi asuhan
2. Pemberi asuhan dapat dan menentukan peran yang
melakukan strategi dapat diterima oleh pemberi
koping stress yang asuhan.
tepat untuk 3. Memberi pendidikan
menghadapi tekanan kesehatan baik bagi pasien
peran sebagai maupun keluarga terkait tata
pemberi asuhan kerja pemberian asuhan,
3. Pemberi asuhan dapat meliputi aspek fisik dan
mengidentifikasi dan mental.
menggunakan 4. Mengajarkan teknik koping
pelayanan dukungan strss kepada pemberi asuhan
yang tersedia. 5. Bantu pemberi asuhan
mengidentifikasi pelayanan
dukungan formal yang
tersedia seperti pekerja sosial,
rumah sakit, psikolog, klinik,
dll

3.INTERVENSI
4. EBP
1. Quality of life in Chinese family caregivers for elderly people with chronic diseases
(Hui Xie, 2016)
Hasil dari penelitian ini adalah SF-36 dan skor komponen fisik dan mental
adalah 66,14 ± 17,50, 70,06 ± 16,49, dan 62,22 ± 18,51, masing-masing. Skor
fungsi fisik pengasuh dan nyeri tubuh secara signifikan lebih tinggi, sementara
skor keterbatasan peran pengasuh karena masalah fisik, kesehatan umum,
vitalitas, fungsi sosial, kesehatan mental dan keterbatasan peran karena masalah
emosional secara signifikan lebih rendah. Usia pengasuh, komorbiditas, efek yang
dirasakan dari pengasuhan pada kehidupan sosial perawat dan usia individu
lansia, status perkawinan, dan nilai Aktivitas Kehidupan Sehari-hari secara
signifikan terkait dengan skor komponen fisik. Selain itu, usia pengasuh,
keterjangkauan biaya perawatan orang tua, efek yang dirasakan dari pengasuhan
pada kehidupan sosial pengasuh, dan status pernikahan orang tua dan skor ADL
secara signifikan terkait dengan skor komponen mental.
Kesimpulan: pengasuh keluarga untuk orang tua dengan penyakit kronis
menunjukkan kesehatan mental dan fisik yang lebih buruk. Faktor orang tua dan
pengasuh mereka mempengaruhi kualitas hidup pengasuh. Temuan ini menyoroti
pentingnya menangani kesehatan mental pengasuh keluarga, dan memberikan
dukungan ekonomi dan perawatan psikologis bagi mereka.

2. Family Support in The Control Of Hypertension (Rosana dos Santos Costa, 2008)
Adopsi tindakan efektif untuk menahan perkembangan hipertensi diperlukan
untuk mengurangi tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi karena penyakit
kardiovaskular. Kepatuhan terhadap pengobatan merupakan alat penting dalam
perjuangan ini. Namun, itu tergantung pada pasien, profesional kesehatan,
keluarga dan masyarakat untuk memberikan dukungan yang diperlukan untuk
partisipasi yang efektif dalam mencari kepatuhan.
Melalui penerapan teknik insiden kritis, dengan mempertimbangkan
karakternya yang fleksibel, beberapa aspek yang terkait dengan rutinitas pasien
hipertensi dapat dirasakan, yang berkontribusi untuk analisis keterlibatan anggota
keluarga dalam perawatan.
Subkategori "Keharmonisan dalam keluarga", "perbaikan keuangan dalam
keluarga", "kontrol hipertensi" dan "kesejahteraan" hanya mendapat referensi
positif, yang membuktikan pengaruh dinamika keluarga pada pengendalian
penyakit pada persepsi pasien tentang perawatan yang diperlukan untuk
perawatan hipertensi. “Kepedulian dengan anak-anak / cucu-cucu”, “Hubungan
dengan keluarga / teman”, “Perubahan kondisi kesehatan” dan “Pergantian
Emosional” adalah subkategori yang menunjukkan jumlah referensi negatif
tertinggi. Meskipun dengan pertimbangan positif, mereka terbukti keadaan
konflik dan tidak menyenangkan dalam rutinitas pasien ini dan sedikit
keterlibatan anggota keluarga dalam kaitannya dengan pengendalian penyakit.
Terlepas dari kenyataan bahwa keterlibatan keluarga sangat penting untuk
mengontrol tekanan darah pasien, dan kurangnya dukungan keluarga dapat
mengacaukan seluruh rencana perawatan, itu masih merupakan tantangan.
Dengan demikian, penelitian ini bermaksud untuk memberikan dukungan kepada
para profesional kesehatan, terutama perawat, untuk merefleksikan interaksi
keluarga dengan perawatan yang diperlukan untuk mengontrol hipertensi pasien,
menuju pembentukan strategi dengan anggota keluarga, sehingga kepatuhan
pasien terhadap pengobatan dapat ditingkatkan.

3. The Importance of Family support in pediatrics and its impact on healthcare


satisfaction (Anna Olafia Sigurdardottir RN, MSc., 2016)
Hasil pada penelitian ini selaras dengan penekanan dalam Model Intervensi
Keluarga Calgary (5) mengenai fokus intervensi perawat pada mempertahankan
atau meningkatkan fungsi keluarga, kualitas hidup keluarga dan / atau
kesejahteraan.
Dukungan keluarga yang dirasakan
Dukungan keluarga yang dirasakan dievaluasi menggunakan ICEFPSQ. Ketika
dirasakan dukungan keluarga dianalisis oleh variabel penyakit, ibu (i) dengan
seorang anak yang memiliki penyakit kronis, (ii) yang termasuk kelompok
pendukung yang terkait dengan penyakit anaknya atau (iii) yang telah menerima
informasi tentang penyakit anaknya memiliki skor total skor total ICE-FPSQ
secara signifikan lebih tinggi. Skor yang lebih tinggi mewakili persepsi dukungan
keluarga yang lebih besar dibandingkan dengan ibu yang anaknya tidak memiliki
penyakit kronis, yang tidak termasuk kelompok pendukung yang terkait dengan
penyakit anaknya atau yang tidak menerima informasi tentang penyakit anaknya,
masing-masing. Namun, untuk ayah, tidak ada perbedaan signifikan dalam skor
total skala total ICE-FPSQ yang terlihat ketika perbandingan dibuat antara
kelompok ayah mengenai salah satu dari tiga variabel penyakit ini

4. Hubungan Dukungan Sosial Keluarga Dengan Kepatuhan Diet Pasien Hipertensi Di


RSUD Toto Kabila Kabupaten Bone Bolango (Imran Tumenggung, 2013)
Hasil penelitian diperoleh bahwa dukungan sosial keluarga sebagian besar
berkategori baik (86,7%), dan kepatuhan diet pasien hipertensi sebagian besar
juga berkategori baik (80%). Uji statistik menunjukkan bahwa terdapat
hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan kapatuhan pasien hipertensi
dalam menjalankan diet, dengan nilai p = 0,001 pada α = 0,05.
Hasil dari penelitian ini adalah:
 Lebih dari setengah (86,7%) pasien hipertensi di RSUD Toto Kabila
Kabupaten Bone Bolango memiliki dukungan sosial keluarga dengan
kategori baik.
 Lebih dari setengah (80%) pasien hipertensi di RSUD Toto Kabila
Kabupaten Bone Bolango patuh dalam melaksanakan program diet.
 Terdapat hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan kepatuhan
pasien dalam melaksanakan program diet.

5. PEKA BUDAYA
Kultur merupakan pengetahuan yang dipelajari dan disebarkan mengenai
kultur tertentu dengan nilai, kepercayaan, aturan perilaku dan praktek gaya hidup
yang menjadi acuan bagi kelompok tertentu dalam berpikir dan bertindak dengan cara
yang terpola (Smelzer, 2001). Sebagai pengetahuan yang dipelajari dan disebarkan,
kultur menjadi suatu petunjuk bagi seseorang dalam berpikir, bersikap, dan bertindak
sehingga menjadi suatu pola yang mengekspresikan siapa mereka. Oleh karena itu,
perawat harus menyadari bahwa pasien akan bertindak dan berpeilaku dengan
berbagai cara berdasarkan latar belakang kulturalnya.

Asuhan Keperawatan Peka Budaya merupakan asuhan keperawatan yang


menggunakan kompetensi budaya dalam membantu pasien memenuhi kebutuhan
sesuai dengan kebutuhan budayanya (Leininger & McFarland, 2002a; Leininger &
McFarland, 2002b).
Asuhan keperawatan harus memperhatikan latar belakang kebudayaan, nilai-nilai,
keyakinan dan kebiasaan-kebiasaan yang memengaruhi kemampuan pasien dan
keluarganya. Perawat harus dapat membantu pasien mengatasi penyakit, dan
memberikan intervensi yang sesuai dengan kebudayaan mereka sehingga pasien dapat
beradaptasi dengan perubahan kebiasaan atau kebudayaan mereka apabila diperlukan
(Novieastari, Murtiwi, & Wiarsih, 2012).
Pemahaman perawat bahwa kepercayaan yang dimiliki oleh seseorang berkaitan
dengan etiologi dari suatu penyakit (illness) yang dideritanya akan membantu perawat
untuk dapat membantu pasien mengatasi penyakitnya. Andrews dan Boyle (2003)
menjelaskan bahwa sejumlah masalah kesehatan yang dialami oleh pasien dewasa
dipengaruhi oleh faktor budaya. Selain faktor penyebab penyakit, aspek-aspek yang
terkait perubahan kebiasaan, gaya hidup, dan sistem keluarga sebagai faktor-faktor
kebudayaan merupakan faktor penting dalam penanganan penyakit kronis.
Menurut Cross, T., Bazron, B. Dennis, K. dan Issac, M., terdapat lima element
budaya yang perlu diketahui dan mampu diimplemetasikan oleh seorang perawat
dalam intervensi keperawatan yaitu menilai keanekaragaman budaya, mempunyai
kapasitas untuk meng-assessment budaya, menyadari bahwa budaya bersifat dinamis
dan inherent ketika terjadinya interaksi budaya, mempunyai pengetahuan budaya
yang sudah dilembagakan, mempunyai adaptasi yang terus menerus dikembangkan
dalam upaya merefleksikan dan memamahami keanekaragaman budaya (Cross,
1989).
DAFTAR PUSTAKA

Lestari, S., Widodo, & Sumardino. (2014). Pendekatan Kultural dalam Praktek Keperawatan
Profesional di Rumah Sakit Jogja International Hospital. Jurnal KesMaDaSka, 1-8.

Novieastari, E., Gunawijaya, J., & Indracahyani, A. (2018). PELATIHAN ASUHAN


KEPERAWATAN PEKA BUDAYA EFEKTIF. Jurnal Keperawatan Indonesia, 21(1), 27–33.
https://doi.org/10.7454/jki.v21i1.484

Rosana, Lidya. (2008). Family Support In The Control Of Hypertension. Rev Latino-am
Enfermagem 2008 setembro-outbro; 16(5):871-6. www.eerp.usp.br/rlae