Anda di halaman 1dari 12

TUGAS

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR

Oleh

Nama : Atri Mulfatun

NIM/Semester : J1A119014/II (Dua)

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI
2020

10 macam penyakit menular, mekanisme penularan serta pencegahan

(primer, sekunder, dan tersier)

1. Diare
 Mekanisme penularan
Diare bisa menular melalui beberapa cara, yaitu:
Makanan dan minuman, yang sudah terkontaminasi oleh udara dan kumanyang berada
pada satu tempat atau sudah dihinggapi serangga dan tangan yang kotor, akan menjadi
penyebab penularan diare dari kuman yang menempel pada makanan tersebut.
 Pencegahan primer
Pencegahan primer penyakit diare dapat di tunjukan pada faktor penyebab, linkungan
dan faktor penjamu. Untuk faktor penyebab dilakukan bebagai upaya agar mikroorganisme
penyebab diare dihilangkan. Peningkatan air bersih dari sanitasi lingkungan, perbaikan
lingkungan biologis, dilakukan untuk memodifikasi lingkungan. Untuk meningkatkan
daya tahan tubuh dari pejamu maka dapat maka dapat dilakukan peningkatan status gizi
dan pemberian imunisasi.
 Pencegahan Sekunder
Pencegahan tingkat kedua ini ditujukan kepada si anak yang telah menderita diare
atau yang terancam akan menderita yaitu dengan menentukan diagnosa dini dan
pengobatan yang cepat dan tepat, serta untuk mencegah terjadinya akibat samping dan
komplikasi. Prinsip pengobatan diare adalah mencegah dehidrasi dengan pemberian oralit
(rehidrasi) dan mengatasi penyebab diare.
 Pencegahan Tersier
Pencegahan tingkat ketiga adalah penderita diare jangan sampai mengalami kecacatan
dan kematian akibat dehidrasi, jadi pada tahap ini penderita diare di usahakan
pengembalian funsi fisik, psikologis semaksimal mungkin. Pada tingkat ini juga dilakukan
usaha rehabilitasi untuk mencegah terjadinya akibat efek samping dari penyakit diare.
Usaha yang dapat dilakukan yaitu dengan terus mengkonsumsi makanan bergizi dan
menjaga keseimbangan cairan. Rehabilitasi dilakukan terhadap mental penderita dengan
tetap memberikan kesempatan dan ikut memberikan dukungan secara mental kepada anak.
2. Malaria
 Mekanisme penularan
Penyakit malari adalah suatu penyakit menular yang banyak di derita oleh penduduk
di daerah tropis dan subtropis. Penyakit tersebut semula banyak di temukan di daerah
rawa-rawa dan di kira di sebabkan oleh udara rawa yang buruk, sehingga dikenal sebagai
malaria (mal=jelek; aria=udara). Penyakit malaria di sebabkan oleh bibit penyakit yang
hidup di dalam darah manusia. Bibit penyakit tersebut termasuk binatang bersel satu
tergolong amoeba yang di sebut plasmodium.
Ada 4 macam plasmodium yang menyebabkan malaria: falciparum, peneyebab
penyakit malaria tropika. Jenis malaria ini bisa menimbulkan kematian. Vivax, penyebab
malaria tersiana. Penyakit ini sukar disembuhkan dan sulit kambuh. Malariae, penyebab
malaria quartana. Kerja plasmodium adalah merusak sel-sel darah merah. Dengan
perantara nyamuk anopheles, plasmodium masuk ke dalam darah manusia dan
berkembang biak dengan membelah diri. Penularan penyakit malaria dari orang yang sakit
kepada orang sehat, sebagai besr melalui gigitan nyamuk. Bibit penyakit malaria dalam
darah manusia dapat terhisap oleh nyamuk, dapat berkembang biak didalam tubuh nyamuk
dan ditularkan kembali kepada orang sehat yang di gigit nyamuk tersebut. Beberapa vektor
perantara malaria adalah , Anopheles sundaicus, nyamuk perantara malaria di daerah
pantai. Anopheles aconitus, nyamuk perantara malaria di daerah persawahan. Anopheles
maculatus, nyamuk perantara malaria di daerah perkebunan, kehutanan, dang
penggunungan. Penularan yang lain adalah melalui transfusi darah namun
kemungkinannya sangat kecil.
 Pencegahan primer
Adalah upaya untuk mempertahankan orang yang sehat tetap sehat atau mencegah
yang sehat menjadi sakit. Kegiatannya sederhana dan dapat dilakukan sebgain besar
masyarakat seperti:
a. Menghindari atau mengurangi gigitan nyamuk malaria denga cara tidur menggunakan
kelambu pada malam hari, tidak berada di luar, mengolesi badan dengan obta anti
gigitan nyamuk (repelen), memakai obat nyamuk bakar, memasang kawat kasah pada
jendela, dan menjauhkan kendang ternak dan rumah.
b. Membersihkan tempat sarang nyamuk dengan cara membersihkan semak-semak
disekitar rumah dan melipat kain-kain yang bergantungan, dan mengalirkan atau
menimbun genangan air serta tempat-tempat yang dapat menjadi tempat perindukan
nyamuk Anopheles.
c. Membunuh nyamuk dewasa dengan penyemprotan insektisida.
d. Membunuh jentik-jentik dengan menebarkan ikan pemakan jentik.
e. Membunuh jentik dengan menyemprot larvasida
 Pencegahan sekunder
Adalah upaya untuk mencegah orang yang telah sakit agar sembuh, menghambat
progresifitas penyakit dan menghindarkan komplikas. Kegiatannya meliputi: pencairan
penderita secara ativ melalui skrining dan secara pasif dengan melakukan pencacatan dan
pelaporan kunjungan penderita malaria, diagnosa dini dan pengobatan adekuat, dan
memperbaiki status gizi guna membantu proses penyembuhan. Seringkali diagnosa
malaria diperkirakan dan hanya terdapat satu specimen darah dalam laboratorim untuk
pemeriksaan. Meskipun demikian, satu sediaan atau satu spesimen tidak dapat dipercayai
disingkirkan. Pemeriksaan sediaan darah dilakukan dengan pulasan giemsa. Diagnosis
spesies yang akurat sangat penting dalam menentukan obat atau kombinasi obat yang akan
digunakan.
 Pencegahan tersier
Adalah upaya untuk mengurangi ketidak mampuan dan mengadakan rehabilitasi.
Kegiatannya meliputi: penangan lanjut akibat komplikasi malaria, dan rehabilitasi
mental/psikolog.
3. TBC
 Mekanisme penularan
Penularan TBC umumnya terjadi melalui udara. Ketika penderita TBC aktif
memercikan lendir atau dahak saat batuk atau bersin, bakteri TB akan ikut keluar melalui
tersebut dan terbawa ke udara. Selanjutnya, bakteri TB akan masuk ke tubuh orang lain
melalui udara yang dihirupnya. Penyakit TBC tidak menular melalui kontak fisik (seperti
berjabat tangan ) atau menyentuh peralatan yang telah terkontaminasi bakteri TB. Selain
itu, berbagi makanan atau minuman dengan penderita tuberkulosis juga tidak
menyebabkan seseorang tertular penyakit ini.Bakteri TB yang berada di udara bisa
bertahan berjam-jam, terutama jika ruangan gelap dan lembab, sebelumnya akhirnya
terhirup oleh orang lain. Umunya penularan terjadi dalam ruangan di mana percikan dahak
berada dalam waktu yang lama.
 Pencegahan primer
Dilakukan dengan penerapan hierarchy of control yang meliputi (eliminasi, subtitusi,
pengendalian teknik, pengendalian administratif, dan pemberian alat pelindung diri).
 Pencegahan sekunder
Dilakukan dengan skrining TB pada tenaga kerja
 Pencegahan tersier
Dilakukan dengan merujuk suspek TB pada puskesmas terdekat untuk dilakukan
pemeriksaan dan pengobatan apabila terdiagnosis TB.
4. DBD (Demam Berdarah)
 Mekanisme penularan
DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue. Sejauh ini yang diketahui,
DBD ditularkan oleh gigitan nyamuk. Ada dua jenis nyamuk penularan virus dengue
terhadap tubuh seorang manusia hingga menjadi penyakit DBD yaitu Aedes aegypty dan
Aedes albopictus. Ketika nyamuk biasa dari kedua jenis nyamuk perantara ini mengisap
darah pada pasien positif DBD, virus dengue tersebut juga ikut mengalir di dalam tubuh.
Sehingga sewaktu-waktu sat nyamuk tersebut menggigit orang yang sehat, virus dengue
yang ada di dalam tubuh nyamuk itu ikut di tinggalkan melalui air liur nyamuk.
 Pencegahan primer
Aktivitas perawat dalam menjaga kesehatan masyarakat sebelum terjangkit DBD. Hal
ini di mulai dengan mengkaji resiko tingkah laku dan menyediakan intervensi yang
relevan serta mengedukasi bagaimana mencegah tertular virus dengan kebiasaan sehat.
Pencegahan primer mencakup area penanganan yang sangat luaa, termasuk nutrisi,
kebersihan, sanitasi, vaksinasi, perlindungan lingkungan dan pendidikan kesehatan umum.
Pencegahan DBD dapat dilakukan fogging, atau memutuskan mata rantai pembiakan
Aedes Aegypti dengan abatisasi.
 Pencegahan sekunder
Peran sekunder adalah peran tahap selanjutnya, tidak hanya pengkajian tetapi juga
pengaturan obat. Kritik dan saran tentang DBD serta penjelasan lebih lanjut dalam
mengatasi DBD termasuk peran sekunder. Pencegahan sekunder adalah deteksi dini dan
pengobatan terhadap kondisi kesehatan yang merugikan. Pencegahan sekunder mungkin
saja berhasil mengatasi penyakit yang tidak dapat diobati pada tahap akhir, mencegah
komplikasi dan kecacatan, serta membatasi penyebaran penyakit menular.
 Pencegahan tersier
Peran tersier lebih berfokus kepada masyarakatnya, seperti edukasi kepada mencegah
resiko bahaya, observasi pengaturan obat, identifikasi organisasi masyarakat. Dukungan
keluarga korban juga termasuk dalam perantersier. Pencegahan tersier dilakukan jika
penyakit atau kondisi tertentu telah menyebabkan kerusakan pada individu. Tujuan
pencegahan tersier adalah membatasi kecacatan dan merahabilitasi atau meningkatkan
kemampuan masyarakat semaksimal mungkin.
5. Filariasis (kaki gajah)
 Mekanisme penularan
Penularan penyakit filariasis (penyakit kaki gajah) terjadi secara tidak langsung
karena melalui media vektor penyakit yaitu gigitan nyamuk. Penyakit kaki gajah
disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria yaitu Wucheria Bancrofti, Brugia Malayi, dan
Brugia Timori. Vektor utamanya adalah Anopheles Farauti dan Anopheles Punctulatus.
Penyakit kaki gajah disebabkan oleh infeksi cacing jenis filaria pada pembuluh getah
bening. Walaupun menyerang pembuluh getah bening, cacing filaria juga beredar
dipembuluh darah penderita kaki gajah. Jika penderita kaki gajah digigit oleh nyamuk,
cacing filaria dapat terbawa bersama darah dan masuk kedalam tubuh nyamuk. Lalu bila
nyamuk ini menggigit orang lain, cacing filaria ditubuh nyamuk akan masuk kedalam
pembuluh darah dan pembuluh getah bening orang tersebut. Cacing filaria kemudian akan
berkembang biak dipembuluh getah bening, hingga menyebabkan penyakit kaki gajah.
 Pencegahan primer
a. Promosi kesehatan
- Memberikan penyuluhan tentang filariasis baik melalui kader atau petugas
kesehatan.
- Sosialisasi tentang manfaat dan tujuan minum obat massal untuk mencegah
filariasis.
- Pemeriksaan darah jari setiap tahun sebelum dilaksanakan minum obat massal.
- Menciptakan rumah yang sehat (contoh: tidak menggantungkan pakaian yang
telah dipakai yang dapat menyebabkan tempat sarang nyamuk dan
membersihkan semak-semak disekitar rumah).
b. Perlindungan khusus
- Menggunakan kelambu saat tidur.
- Menggunakanobatantinyamuk.
- Menaburkanbubukabatepadatempatpenampunganairyangsulitterkuras.
 Pencegahan sekunder
a. Diagnosis dini dan pengobatan segera
- Usaha ini yaitu mencegah penyebaran penyakit agar penyakit filariasis tersebut
tidak menular. Usaha pencegahan tersebut yaitu pemeriksaan mikroskopis
darah.
- Pengobatan yang cepat dan tepat terhadap penyakit filariasis. Contoh usaha
pencegahan tersebut yaitu pemberian obat DEC untuk penderita yang baru
terjangkit.
b. Membatasi atau mengurangi kecacatan
Usaha pencegahan ini bertujuan untuk membatasi kecacatan bagi penderita
filariasis. Usaha pencegahan tersebut yaitu minum obat dengan teratur disertai
perawatan bagi bagian tubuh yang bengkak.
 Pencegahan tersier
a. Rehabilitasi
Penderita filariasis yang telah menjalani pengobatan dapat sembuh total.
Namun kondisi mereka tidak bisa pulih seperti sebelumnya. Artinya beberapa bagian
tubuh yang membesar tidak bisa kembali normal seperti sedia kala. Rehabilitasi tubuh
yang membesar tersebut dapat dilakukan dengan jalan operasi.
6. Campak
 Mekanismepenularan
Penyakit campak adalah penyakit endemic yang dialami banyak orang,
terutama menyerang bayi dan anak-anak. Penyakit campak ini merupakan penyakit
yang sangat menular yang disebabkan oleh virus rubeola atau morbili. Penyakit
campak dapat menyebar melalui kontak fisik dengan orang yang terinfeksi, berada
dideka torang yang terinfeksi ketika batuk atau bersin dan menyentuh permukaan
yang telah terinfeksi oleh tetesan lender kemudian memasukannya permukaan
tersebut kemulut atau menggosok hidung dan mata.
 Pencegahan primer
Pencegahan ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
 Mengenai lebih dalam seluk-beluk penyakit ini
 Menjaga kondisi fisik dan menghindari sterspsikis.
 Menjaga mutu gizi dan kondisi badan dengan baik
 Pencegahan dengan vaksin asi menggunakan virus hidup yang telah dilemahkan
pada usia 15 bulan setelah kelahiran
 Pencegahan sekunder
Pengobatan dengan antibiotic, tidak ada pengobatan khusus untuk campak. Anak
sebaiknya menjalani istirahat. Untuk menurunkan demam diberikan asetaminofen ibu
profen. Jika terjadi infeksi bakteri, diberikan antibiotic. Maka dari itu harus berjaga-jaga.
 Pencegahantersier
Para penderita campak untuk menghindari bertambah paranya campak atau
menghindari suatu kecacatan, penderita sebaiknya selama masih menderita penyakit
campak berdiam diri dirumah (dalam artian banyak-banyak istirahat).
7. Flu burung (H5N1)
 Mekanisme penularan
Virus yang awalnya berasal dari ungas ini dapat menyerang pada manusia.
Biasanya pada manusia akan menyerang pada system pernapasan dengan gejala awal
demam dan gejala lainnya yaitu pusing, sakit mata, radang tenggorokan, batuk atau sesak
napas, nyeri otot, bahkan menyebabkan kematian jika tidak ditangani. Dapat terjadi dari
hewan kehewan, dapat terjadi dari hewan kemanusia, melalui udara jika melalui kontak
langsung antara manusia unggas yang terinfeksi.
Manusia terinfeksi virus ini melalui kontak langsung membran emukosa dengan
sekrert atau ekskretain feksius dari unggas yang terinfeksi. Jalur masuk utama virus ini
yaitu saluran respiratorik dan konjungtiva. Infeksi melalui saluran pencernaan masih
belum diketahui.
 Pencegahan primer
 Pencemaran primer adalah pencegahan yang dilakukan pada orang-orang yang
berisiko terjangkit flu burung, dapat dilakukan dengan cara:
 Melakukan promosi kesehatan (promkes) terhadap masyarakat luas, terutama
mereka yang berisiko terjangkit flu burung seperti peternak unggas.
 Melakukan biosekuriti yaitu upaya untuk menghindari terjadinya kontak antara
hewan dengan mikroorganisme yang dalam hal ini adalah virus flu burung, seperti
dengan melakukan desinfeksi serta sterilisasi pada peralatan ternak yang bertujuan
untuk membunuh mikroorganisme pada peralatan ternak sehingga tidak
menjangkiti hewan
 Melakukan vaksinasi terhadap hewan ternak untuk meningkatkan kekebalannya.
Vaksinasi dilakukan dengan menggunakan HPAI (H5H2) inaktif dan vaksin
rekombinan cacar ayam atau fowlpox dengan memasukan gen virus avianin
fluenza H5 kedalam virus cacar.
 Menjauhkan kandang ternak unggas dengan tempat tinggal.
 Menggunakan alat pelindung diri seperti masker, topi, baju lengan panjang, celana
panjang dan sepatu boot saat memasuki kawasan peternakan.
 Memasak dengan matang daging sebelum dikonsumsi. Hal ini bertujuan untuk
membunuh virus yang terdapat dalam daging ayam, karena dari hasil penelitian
virus flu burung mati pada pemanasan 60°C selama 30 menit.
 Melakukan pemusnahan hewan secara massal pada peternakan yang positif
ditemukan virus flu burung pada ternak dalam jumlah yang banyak.
 Melakukan karantina terhadap orang-orang yang dicurigai maupun sedang positif
terjangkit flu burung.
 Melakukan survei lans dan monitoring yang bertujuan untuk mengumpulkan
laporan mengenai morbilitas dan mortalitas, laporan penyidikan lapangan, isolasi
dan identifikasi agen infeksi oleh laboratorium, efektifitas vaksinasi dalam
populasi, serta data lain yang gayut untuk kajian epedemiologi.
 Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder adalah pencegahan yang dilakukan dengan tujuan untuk
mencegah dan menghambat timbulnya penyakit dengan deteksi dini dan pengobatan tepat.
Dengan melakukan deteksi dini maka penanggulangan penyakit dapat diberikan lebih awal
sehingga mencegah komplikasi, menghambat perjalanannya, serta membatasi
ketidakmampuan yang dapat terjadi. Pencegahan ini dapat dilakukan pada fase
presimptomatis dan faseklinis. Pada flu burung pencegahan sekunder dilakukan dengan
melakukan screening yaitu upaya untuk menemukan penyakit secara aktif pada orang yang
belum menunjukkan gejala klinis. Screening terhadap flu burung misalnya dilakukan pada
bandara dengan memasang alat detektorpana stubuh sehingga orang yang dicurigai
terjangkit flu burung bias segera diobati dan dikarantina sehingga tidak menular pada
orang lain.
 Pencegahan tersier
Pencegahan tersier adalah segala usaha yang dilakukan untuk membatasi
ketidakmampuan. Pada flu burung upaya pencegahan tersier yang dapat dilakukan adalah
dengan melakukan pengobatan intensif dan rehabilitasi.
8. Kudis
 Mekanisme penularan
Kudis disebabkan oleh tungau Sarcoptesscabiel. Tungau tersebut membuat
lubng menyerupai terowongan pada kulit untuk dijadikansarang. Mereka bertahan hidup
dengan menjadi bennalu dikulit manusia, dan akan mati dalam beberapa hari tanpa
manusia.
Penularan tungau Sarcoptesscabiel terjadi melalui dua cara, yaitu:
 Kontak langsung, seperti melalui pelukan atau berhubungan seksual. Berjabat
tangan hanya memiliki potensi kecil menularkan tungau.
 Tdak langsung, misalnya berbagi penggunaan pakaian atau tempat tidur dengan
orang yang menderita kudis.
 Pencegahan primer
Pencegahan ini dilakukan pada kelompok orang sehat yang belum terkena
penyakit kudis dan memilki resiko tertular karena berada disekitar atau dekat dengan
penderita seperti keluarga penderita dan tetangga penderita, yaitu dengan memberikan
penyuluhan tentang kudis. Penyulluhan yang diberikan petugas kesehatan tentang
penyakit kudis adalah proses peningkatan kesehatan tentang penyakit kudis adalah proses
peningkatan pengetahuan, kemauan dan kemampuan masyarakat yang belum menderita
sakit sehingga dapat memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya dari
penyakit kudis.
 Pencegahan sekunder
Mencuci sprei tempat tidur, handuk dan pakaian yang dipakai dalam 2 hari
belakangan dengan air hangat dan deterjen.
 Pencegahan tersier
Penyakit kudis dapat tertular melalui kontak secara tidak langsung, misalnya
dari sprei, baju, handuk, atau benda apapun yang terkontak dengan kutu kudis
berkembang biak. Oleh karena itu, perlu isolasi bagi penderita kudis agar tidak
menularkannya keorang lain. Caranya dengan menjaga kebersihan terutama benda-benda
yang dipakai oleh penderita.
9. Cacar air
 Mekanisme penularan
Penyakit cacar air disebabkan oleh infeksi virus VZV (Varicella Zoster Virus).
Virus ini menyebar apa bila orang yang sedang menderita cacar air, mengalami bersin
atau batuk, dan terhirup oleh udara kearah kita. Virus masuk melalui jalan napas, virus
bereplikasi diseltubuh, masuk aliran darah, menemukan target disel kulit dan muncul
pertama kaliruam merah diwajah atau leher.Orang-orang yang terkena cacar air akan
rentan menularkan virusnya tersebut sejak beberapa hari sebelum ruam-ruam pada kulit
mereka muncul dan akan tetap rentan menularkan virusnya sampai luka mereka
mengering.
 Pencegahan primer
a. Promosi kesehatan
- Melakukan penyuluhan atau penyebaran leaflet tentang cacar air.
- Pengendalian lingkungan.
- Perlindungan khusus
- Hygiene perorangan
- Imunisasi
- Penanganan dari faktor resiko
- Pengendalian diri dari lingkungan
 Pencegahan sekunder
a. Diagnosis dini dan pengobatan segera
- Diagnosi speeriksaan laboratorium misalnya teknik PCR. Metode virology
dengan mendeteksi DNA virus atau protein virus digunakan sebagai salah satu
metode diagnosis infeksi VZV.
- Pemberian obatanl gesik (rasasakit)
- Memberikan anti virus seperti obat asiklovir, valasiklovir, dan famsiklovir
- Membatasi atau mengurangi kecacatan
- Pencegahan komplikasi
- Terapi lanjutan
- Tidak menyentuh dan menggaruk ruam
- Kompres basah, lotion kelamin, dan mandi dengan obat mealkoloid untuk
meringankan gatal.
 Pencegahan tersier
a. Rehabilitasi
- Istirahat yang cukup
- Mengikuti anjuran minum obat sesuai anjuran dokter
- Nutrisi ditingkatkan
- Memberikan dukungan moral
- Menjauhi tekanan dan stress
10. Anthrax

 Mekanisme penularan
Anthrax adalah penyakit hewan yang bersifat akut dan dapat menular pada
manusia serta terganggunya system pernapasan. Selain itu anthrax juga menimbulkan
bisul yang apabila pecah akan meninggalkan bekas, menular pada manusia ketika
manusia memakan daging hewan yang telah terkena penyakit anthrax. Kontak langsung
dengan hewan yang berpenyakit inipun menjadi kantertular.
 Pencegahan primer
- Perlindungan Khusus
- Penggunaan gizi teratur
- Perlindungan terhadap zat yang dapat menimbulkan kanker
- Menghindari zat-zat alergenik
 Pencegahan sekunder
- Diagnosis dini dan pengobatan segera
- Penemuan kasus, individu, dan masal
- Skrining
- Pemeriksaan Khusus dengan tujuan:
- Menyembuhkan dan mencegah penyakit berlanjut
- Mencegah penyebaran penyakit menular
- Mencegah komplikasi dan akibat lanjutan
- Memperpendek masa ketidakmampuan
 Pencegahan tersier
- Pembatasa ketidakmampuan
- Pengobatan yang cukup untuk menghentikan proses penyakit dan pencegahan
komplikasi
- Penyediaan fasilitas untuk membatasi ketidakmampuan dan mencegah kematian.