Anda di halaman 1dari 3

Indonesia adalah negara yang memiliki beragam suku dan daerah.

Setiap suku ataupun


daerah tentunya memiliki adat dan budaya yang berbeda beda,Tetapi setiap daerah juga
memiliki penciri khas daerah tersebut yaitu bahasa daerah. Bahasa daerah adalah
suatu bahasa yang dituturkan di suatu wilayah tertentu dalam sebuah negara kebangsaan.Baik
itu pada suatu daerah kecil, negara bagian federal atau provinsi, atau daerah yang lebih luas.
Sedangkan defenisi Bahasa Daerah dalam hukum Internasional yang termuat dalam
rumusan Piagam Eropa untuk Bahasa-Bahasa Regional atau Minoritas dapat diartikan bahwa
"bahasa-bahasa daerah atau minoritas" adalah bahasa-bahasa yang secara tradisional
digunakan dalam wilayah suatu negara, oleh warga negara dari negara tersebut, yang secara
numerik membentuk kelompok yang lebih kecil dari populasi lainnya di negara tersebut dan
berbeda dari bahasa resmi dari negara tersebut.

Seperti yang kita ketahui, banyak sekali bahasa daerah digunakan sebagai bahasa
berkomunikasi setiap harinya di masyarakat setempat. Hal ini dikarenakan tidak semua
masyarakat memahami penggunaan bahasa Indonesia yang baku. Selain itu masyarakat
merasa canggung menggunakan bahasa Indonesia yang baku di luar acara formal atau resmi.
Oleh karena itu, masyarakat lebih cenderung menggunakan bahasa Indonesia yang telah
terafiliasi oleh bahasa daerah, baik secara pengucapaan maupun arti bahasa tersebut.
Kebiasaan penggunaan bahasa daerah ini sedikit banyak akan berpengaruh terhadap
penggunaan bahasa Indonesia yang merupakan bahasa resmi negara Indonesia.

Kalau diperhatikan, bahasa paling popular sekarang ini adalah bahasa-bahasa gaul,
bahkan bahasa Indonesia sendiri sudah tidak begitu diperhatikan dalam pengucapannya,
terkadang sudah tidak baku lagi. Apalagi bahasa daerah, yang kebanyakan dianggap oleh
generasi muda tidak begitu penting untuk dipelajari, ini semua karena menjaga gengsi, takut
dianggap ketinggalan zaman, kampungan, dan lain-lain. Sehingga tanpa mereka sadari,
bahasa daerah akan punah seiring berkembangnya zaman. Memang, tidak seharusnya juga
kita menggunakan bahasa daerah didalam keseharian kita, namun setidaknya kita bisa tahu
tentang bahasa daerah kita sendiri ketika orang  menanyakannya pada kita. Sehingga, kita
harus memberikan pembinaan terhadap generasi muda untuk menyadarkan tentang
penggunaan dan fungsi bahasa daerah itu sendiri.

Keanekaragaman budaya dan bahasa daerah mempunyai peranan dan pengaruh


terhadap bahasa yang akan diperoleh seseorang pada tahapan berikutnya, khususnya bahasa
formal atau resmi yaitu bahasa Indonesia. Sebagai contoh, seorang anak memiliki ibu yang
berasal dari daerah Sekayu sedangkan ayahnya berasal dari daerah Pagaralam dan keluarga
ini hidup di lingkungan orang Palembang. Dalam mengucapkan sebuah kata misalnya
“mengapa”, sang ibu yang berasal dari Sekayu mengucapkannya ngape (e dibaca kuat)
sedangkan bapaknya yang dari Pagaralam mengucapkannya ngape (e dibaca lemah) dan di
lingkungannya kata “megapa” diucapkan ngapo. Ketika sang anak mulai bersekolah, ia
mendapat seorang teman yang berasal dari Jawa dan mengucapkan “mengapa” dengan
ngopo. Hal ini dapat menimbulkan kebinggungan bagi sang anak untuk memilih ucapan apa
yang akan digunakan.
Akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa keanekaragaman budaya dan bahasa daerah
merupakan keunikan tersendiri bangsa Indonesia dan merupakan kekayaan yang harus
dilestarikan. Dengan keanekaragaman ini akan mencirikan Indonesia sebagai negara yang
kaya akan kebudayaannya. Berbedannya bahasa di tiap-tiap daerah menandakan identitas dan
ciri khas masing-masing daerah. Masyarakat yang merantau ke ibukota Jakarta mungkin lebih
senang berkomunikasi dengan menggunakan bahasa daerah dengan orang berasal dari daerah
yang sama, salah satunya dikarenakan agar menambah keakraban diantara mereka. Tidak
jarang pula orang mempelajari sedikit atau hanya bisa-bisaan untuk berbahasa daerah yang
tidak dikuasainya agar terjadi suasana yang lebih akrab. Beberapa kata dari bahasa daerah
juga diserap menjadi Bahasa Indonesia yang baku, antara lain kata nyeri (Sunda) dan kiat
(Minangkabau).

Mengapa kita perlu memvitalkan kembali bahasa daerah di saat-saat sekarang ini. Di
tengah arus globalisasi yang mendunia ini, perlu secepatnya kita berbenah diri sebelum
terlambat. Dikarenakan kalau kita lambat dalam menghadapinya, maka yang terjadi justru
kita terbawa arus globalisasi tersebut. Maka dari itu, dari sisi bahasa perlu kiranya kita
menguatkan kembali peran dari bahasa lokal atau bahasa daerah dalam menghadapi arus
globalisasi tersebut. 

Contoh nyata saja yang sekarang kita alami, yaitu begitu derasnya arus Bahasa Inggris masuk
ke dalam setiap sendi kehidupan kita. Sadar atau tidak sadar, setiap yang kita lihat, dengar,
rasakan, hampir sebagian besar berbahasa Inggris selain juga bahasa yang lain – tetapi bahasa
Inggrislah yang sekarang sedang menguasai dunia.Selain itu bahasa seperti korea dan jepang
pun mulai menjajah bangsa ini mulai dari barang-barang yang kecil seperti pena, pensil,
sandal, sampai ke barang-barang yang besar seperti TV, Komputer, Mobil, dan lain-lain
hampir semuanya terpampang bahasa asing. Bahkan ada juga yang diproduksi oleh pabrik
Indonesia, tetapi menggunakan Bahasa Inggris baik di dalam kemasannya ataupun dalam hal
pemasarannya.

Dilihat dari sisi pendidikan pun sama, hampir di setiap sekolah terdapat pelajaran
bahasa Inggrisnya, bahkan tingkatan TK-SD pun sudah mengenal Bahasa Inggris. Lantas
apakah bahasa daerah atau bahkan bahasa nasional pun bisa berlaku demikian. Belum tentu.
Kita bisa tengok di dalam pendidikan kita, bahasa daerah hanya sebatas pelajaran muatan
lokal yang kadang merupakan pelajaran yang kurang disukai, kalah dengan pelajaran
matematika, IPA, atau Bahasa Indonesia. Bahkan mungkin juga dalam menerangkan
pelajaran muatan lokal tersebut menggunakan bahasa Indonesia. Apabila memang demikian,
perlu sekiranya kita rubah mulai dari sekarang.

Oleh karena itu, diperlukan usaha yang keras dari semua pihak dalam memvitalkan
kembali peran dari bahasa daerah sebagai bahasa asli daerah setempat. Tanggung jawab ini
tidak bisa hanya diserahkan begitu saja kepada pemerintah lewat dewan bahasa atau apapun.
Akan tetapi, semua pihak mulai dari lingkungan keluarga sampai dengan lingkungan daerah
setempat untuk bisa mempertahankan kearifan lokal berupa bahasa daerah tersebut.

Tentunya ini hanya sebagian kecil saja usaha yang perlu dilakukan dalam
memvitalkan kembali peran bahasa daerah. Masih terbuka luas kesempatan dan cara yang
lain agar bahasa daerah bisa menjadi kekuatan bagi bangsa Indonesia, khususnya bagi daerah
yang bersangkutan.

Bahasa daerah sebagai kedudukannya sendiri memiliki fungsi

1.      Sebagai lambang kebanggan daerah

2.      Lambang identitas daerah

3.      Alat penghubung di dalam keluarga dan masyarakat daerah

Beberapa pengaruh atau dampak penggunaan bahasa daerah terhadap bahasa Indonesia:

1.      Dampak Positif

a) Bahasa indonesia memiliki banyak kosakata


b) Sebagai kekayaan budaya bangsa indonesia
c) Sebagai identitas dan ciri khas suatu suku atau daerah
d) Menimbulkan keakraban dalam berkomunikasi

2. Dampak Negatif

a) Bahasanya sulit dipahami bahkan tidak dimengerti oleh daerah lain


b) Warga negara asing yang ingin belajar tentang bahasa indonesia jadi pusing karena
ada bahasa daerahnya yang banyak
c) Dapat menimbulkan kesalahpahaman

Contoh perbedaan arti bahasa :

a.         Suwek dalam bahasa Sekayu (Sumsel) bermakna tidak ada.


            Suwek dalam bahasa Jawa bermakna sobek.
b.         Kenek dalam bahasa Batak bermakna kernet (pembantu sopir).
            Kenek dalam bahasa Jawa bermakna kena.

Melalui beberapa contoh itu ternyata penggunaan bahasa daerah memiliki tafsiran yang
berbeda dengan bahasa lain. Jika hal tersebut digunakan dalam situasi formal seperti seminar,
lokakarya, simposium, proses belajar mengajar yang pesertanya beragam daerahnya akan
memiliki tafsiran makna yang beragam. Oleh karena itu, penggunaan bahasa daerah haruslah
pada waktu, tempat, situasi, dan kondisi yang tepat.