Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI TUMBUHAN

PERCOBAAN II
SPECTRUM LIFE FROM

OLEH :

NAMA : LINA AULIA NURDIN


STAMBUK : F1D1 18 037
KELAS :A
DOSEN MATA KULIAH : Prof. Jamili, M.Si

PROGRAM STUDI BIOLOGI


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2020
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bentuk tumbuhan didasarkan pada penampakkan luar tumbuhan atau disebut

habitus, yang meliputi pohon, perdu, semak dan herba. Pengkajian struktur dan

fungsional tumbuhan dapat dilakukan dengan metode analisis vegetasi. Strukutur

tumbuhan memiliki variasi yang sangat beragam pada setiap daerah atau habitatnya.

Tumbuhan yang menempati suatu daerah turut menentukan kondisi atau keadaan

lingkungan sekitarnya. Kelimpahan tumbuhan pada suatu habitat juga mendapat

pengaruh dari faktor biotik maupun faktor fisik lingkungan.

Bentuk kehidupan (life form) merupakan keseluruhan proses hidup dan

muncul secara langsung sebagai respon atas lingkungan. Bentuk kehidupan (life

form) dikelompokkan atas dasar adaptasi organ kuncup untuk melalui kondisi yang

tidak menguntungkan bagi tumbuhan. Spektra dapat dibuat dari data berbagai tipe

komposisi. Kebanyakan kajian berkepentingan dengan spektra life form berdasarkan

pada sekedar daftar spesies tegakan (stand) yang berbeda atau area geografi berbeda.

Interpretasi spektra tipe life form dapat dibaca berdasarkan spekrtrum normal yang

dibuat Raunkier.

Spektrum normal untuk flora dunia berdasarkan pada 1000 spesies yang

dipilih secara acak dipakai sebagai pembanding. Persentase spesies dalam berbagai

kelas life form untuk spektrum normal. Raunkier membuat klasifikasi dunia

tumbuhan yang didasarkan atas letak kuncup pertumbuhan


terhadap permukaan tanah dan membagi dunia tumbuhan kedalam

lima golongan yaitu phanerophyta, hemicryptophyta, chameophyta,

crytophyta, dan therophyta. Berdasarkan dari uraian tersebut maka perlu dilakukan

praktikum Spectrum Life Form.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada praktikum ini adalah bagaimana mengetahui dan

menganalisis bentuk-bentuk pertumbuhan dalam suatu pertumbuhan (Spectrum Life

Form) ?

C. Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis bentuk

pertumbuhan dalam suatu petumbuhan (Spectrum Life Form).

D. Manfaat Praktikum

Manfaat dari praktikum ini adalah dapat mengetahui dan menganalisa bentuk-

bentuk pertumbuhan dalam pertumbuhan (Spectrum Life Form).


II. TINJAUAN PUSTAKA

Vegetasi yaitu kumpulan dari beberapa jenis tumbuhan yang tumbuh

bersama-sama pada satu tempat dimana antara individuindividu penyusunnya

terdapat interaksi yang erat, baik diantara tumbuh-tumbuhan maupun dengan hewan-

hewan yang hidup dalam vegetasi dan lingkungan tersebut. Dengan kata lain,

vegetasi tidak hanya kumpulan dari individu-individu tumbuhan melainkan

membentuk suatu kesatuan di mana individu-individunya saling tergantung satu

sama lain, yang disebut sebagai suatu komunitas tumbuh-tumbuhan. Analisis

vegetasi hutan merupakan studi yang bertujuan untuk mengetahui struktur dan

komposisi hutan (Cahyanto, dkk., 2014).

Komunitas tumbuhan atau vegetasi mempunyai peranan penting dalam

ekosistem. Kehadiran vegetasi pada suatu kawasan akan memberikan dampak positif

bagi keseimbangan ekosistem dalam skala lebih luas. Vegetasi berperan penting

dalam ekosistem terkait dengan pengaturan keseimbangan karbodioksida dan

oksigen dalam udara, perbaikan sifat fisik, kimia, biologis tanah dan pengaturan tata

air dalam tanah. Secara umum vegetasi memberikan dampak positif terhadap

ekosistem, tetapi pengaruhnya bervariasi tergantung pada struktur dan komposisi

vegetasi yang tumbuh pada setiap kawasan (Mufti, 2012).

Ukuran dan kenampakan umum sebuah tumbuhan menjadi ciri pengenal awal

tumbuhan untuk pengkajian aspek ekologi, morfologi, anatomi, fisiologi, taksonomi-


sistematik dan lain-lainnya. Kenampakan umum tumbuhan atau habitus tumbuhan

sering didasarkan pada ukuran relatif tumbuhan. Variasi habitus tumbuhan pada

umumnya dikenal sebagai tumbuhan pohon, perdu, semak, dan herba. Pembagian

tumbuhan secara sederhana menjadi terna (herba dan semak-semak), perdu dan

pohon tidak cukup memadai sehingga pembagian yang lebih rinci menjadi bentuk

hidup (life form) sering digunakan (Widodo, 2013).

Keanekaragaman tumbuhan ini juga punya konsekuensi pada bentuk

kehidupan (life form) tumbuhan penyusun vegetasi di Surakarta. Berbagai bentuk

kehidupan (life form) tumbuhan dari vegetasi dapat dibandingkan dengan bentuk

kehidupan (life form) standar Raunkiaer. Penggunaan kehidupan (life form) standar

Raunkiaer ini lazim digunakan ahli ekologi karena sistem Raunkiaer cukup simpel

dan merupakan klasifikasi berdasarkan bentuk kehidupan (life form) yang paling

memuaskan. tumbuhan dapat dikelompokkan menjadi 5 kelas utama life form yang

meliputi, Phanerophyte, Chamaephyte, Hemikriptophyte, Chryptophyte dan

Therophyte (Ariyanto, dkk., 2014).

Phanerofit (P), yaitu kelompok tumbuhtumbuhan dengan kuncup rehat

minimal 25 cm dari permukaan tanah. Kamaefit (Ch), yaitu kelompok tumbuh-

tumbuhan dengan kuncup rehat maksimal 25 cm di atas permukaan tanah.

Hemikriptofit (H), yaitu kelompok tumbuh-tumbuhan herba perenial yang memiliki

kuncup rehat pada permukaan tanah atau setengah tersebunyi di bawah permukaan

tanah. Kriptofit (Cr), yaitu kelompok tumbuh-tumbuhan dengan kuncup rehat

terkubur di dalam tanah atau di dalam air. Therofit (T), yaitu kelompok tumbuh-
tumbuhan yang berkecambah, berbuah, dan menghasilkan biji dalam daur lengkap

yang singkat (Wiharto, 2015).

III. METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 19 April 2020 pada

pukul 08.00-11.30 WITA. Bertempat di Kebun Raya Universitas Halu Oleo,

Kendari.

B. Bahan Praktikum

Bahan yang digunakan pada praktikum ini tercantum pada Tabel 1.

Tabel 1. Bahan dan kegunaan


No. Nama Bahan Kegunaan
1. Vegetasi hutan Sebagai tempat pengamatan

C. Alat Praktikum

Alat yang digunakan pada praktikum ini tercantum pada Tabel 2.

Tabel 2. Alat dan kegunaan


No. Nama Alat Kegunaan
1. Tali rafia Untuk menandai plot
2. Patok Kayu Untuk membuat plot
3. Meteran kain Untuk mengukur panjang plot yang akan dibuat
4. Alat tulis menulis Untuk mencatat hasil pengamatan
5. Parang Untuk memotong kayu
6. Gunting Untuk memotong tali rafiah

D. Prosedur Kerja

Prosedur kerja pada praktikum ini adalah sebagai berikut:


1. Mencari/daerah di lingkungan kampus UHO/lokasi lain yang akan dijadikan lokasi
praktikum, yang terdiri tiga lingkungan yang berbeda, yaitu daerah dengan naungan
pohon, daerah transisi dan daerah terdedah.
2. Meletakkan dua plot (kuadrat) dengan ukuran 10 x 10 m 2 secara subjektif pada
masing-masing daerah.
3. Mencatat semua jenis tumbuhan yang ada pada setiap plot, menghitung penutupan
masing-masing spesies.
4. Mengelompokkan jenis tumbuhan tersebut menurut sistem klasifikasi life form
Raunkier yaitu Phanerophyte, Chamaephyte, Hemicryptophyte, Cryptophyte
dan Therophyte.
5. Menggambarkan spektrum life form tersebut dalam bentuk grafik batang dan
membandingkan grafik life form antara satu daerah dengan daerah lainnya, dan
dengan spektrum life form normal.
IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

A.1. Daerah Setengah Ternaung/Transisi

Hasil pengamatan pada daerah transisi/setengah ternaung pada Plot 1


disajikan pada Tabel 3, plot 2 pada Tabel 4 dan plot 3 disajikan pada Tabel 5.

Tabel 3. Hasil pengamatan pada Daerah Transisi/setengah ternaung (plot 1)


No. Nama species Σ R (cm) Cover Spectrum life form
( πr2Σ) Ph Ch He Cr Th
1. Barringtonia asiatica 2 220 cm 303952 √
2. Hedietis sp 50 25 cm 98125 √
3. Mimosa pudica 40 9 cm 10173,6 √
4. Cassia inoculate 48 12 cm 21703,7 √
5. Ageratum conyzoides 80 13 cm 42452,8 √
6. Elephanthropus 30 18 cm 30520,8 √
scraber

Tabel 4. Hasil pengamatan pada Daerah Transisi/setengah ternaung (plot 2)


No. Nama species Σ R (cm) Cover Spectrum life form
( πr2Σ) Ph Ch He Cr Th
1. Barringtonia asiatica 2 200 cm 251200 √
2. Mimosa pudica 50 10 cm 15700 √
3. Crenatum sp 45 5 cm 353,25 √
4. Clilime sp 1 5 cm 78,5 √
5. Oplismenus burmanii 5 2 cm 62,8 √

Tabel 5. Hasil pengamatan pada Daerah Transisi/setengah ternaung (plot 3)


No. Nama species Σ R (cm) Cover Spectrum life form
( πr2Σ) Ph Ch He Cr Th
1. Tectona grandis 2 200 cm 251200 √
2. Coleus amboinicus 45 5 cm 353,25 √
3. Ageratum haostonium 1 5 cm 78,5 √
4. Mimosa pudica 50 10 cm 15700
5. Kyllinga monocepala 5 2 cm 62,8 √

Tabel 6. Rata–rata struktur life form daerah setengah ternaung ( Plot 1, 2 & 3)
No. Nama species Cover Spectrum life form
( πr2Σ) Ph Ch He Cr Th
1. Barringtonia 4
asiatica
2. Hedietis sp 50
3. Mimosa pudica 90
4. Cassia inoculate 48
5. Ageratum 80
conyzoides
6. Elephanthropus 30
scraber
7. Crenatum sp 45
8. Clilime sp 1
9. Oplismenus 5
burmanii
10. Tectona grandis 2
11. Coleus amboinicus 45
12. Ageratum 1
haostonium
13. Kyllinga 5
monocepala
Jumlah 6 360 40
Total = (6 + 360 + 40) = 406

Perhitungan Presentasi life form daerah transisi :

Phanerophyte (P) = 6/406 x 100% = 1,4%

Chamaephyte (Ch) = 360/406 x 100% = 88,6%

Hemicrytophyte (He) = 40/406 x 100% = 9,85%

Cryptophyte (Cr) = 0/406 x 100% = 0%

Therophyte (Th) = 0/406 x 100% = 0%


Jadi hasil perhitungan Spectrum Life Form pada daerah transisi/setengah ternaung
dilokasi praktikum seperti disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Spektrum life form pada daerah transisi/setengah ternaung


life form Ph Ch He Cr Th
Persentasi 1,4% 88,6% 9,85% 0 0

Apabila hasil spectrum life form pada daerah setengah ternaung dibandingkan dengan

spectrum life form Runkier tanpak seperti disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8. Spektrum life form pada daerah setengah ternaung dan Spektrum life form
normal Raunkier
Daerah pengamatan SLF Rata-rata
Ph Ch He Cr Th
Transisi 1,4% 88,6% 9,85% 0 0
Runkier 46% 9% 26% 6% 13%

Apabila spectrum life form pada daerah setengah ternaung dibandingkan dengan

spectrum life form Runkier disajikan dalam bentuk diagram batang, tampak seperti

disajikan pada Gambar 1.


Jumlah (%)
100

90

80

70

60

50 Transisi
Runkier2
40

30

20

10

0
Ph Ch He Cr Th

Gambar 1. Spectrum Life Form pada daerah setengah ternaung dan Spektrum life form
normal Raunkier

A.2. Daerah Terdedah

Hasil pengamatan pada daerah terdedah pada Plot 1 disajikan pada Tabel 9,
plot 2 pada Tabel 10 dan plot 3 disajikan pada Tabel 11.

Tabel 9. Hasil pengamatan pada Daerah Terdedah (plot 1)


No Nama Σ R (cm) Cover Spectrum life form
. species ( πr2Σ) Ph Ch He Cr Th
1. Pilantue sp 150 4 cm 7536 √
2. Pitex 10 12 cm 4521,6 √
obopatus
3. Mimosa 50 11 cm 18997 √
pudica
4. Hoplismen 100 1,2 cm 452,16 √
us sp
5. Ciperus sp 30 9 cm 7630,2 √
6. Oplismenu 4 28 cm 9847,1 √
s burmanii
Tabel 10. Hasil pengamatan pada Daerah Terdedah (plot 2)
No. Nama species Σ R (cm) Cover Spectrum life form
( πr2Σ) Ph Ch He Cr Th
1. Melastoma 30 6cm 3391,2 √
malabatikum
2. Skirpus sp 120 24 cm 217036,8 √
3. Boreria sp 5 510 cm 1570 √
4. Mimosa pudica 6 9 cm 15260,4 √
5. Ciperus sp 50 12 cm 22608 √

Tabel 11. Hasil pengamatan pada Daerah Terdedah (plot 3)


No. Nama species Σ R (cm) Cover Spectrum life form
( πr2Σ) Ph Ch He Cr Th
1. Leucana glauca 30 6cm 3391,2 √
2. Coleus 50 12 cm 22608 √
amboinicus
3. Ageratum 120 24 cm 217036,8 √
haostonium
4. Mimosa pudica 5 510 cm 1570 √
5. Elephantopus 6 9 cm 15260,4 √
scaber

Tabel 12. Rata–rata struktur life form daerah terdedah Plot 1, 2 & 3)
No. Nama species Cover Spectrum life form
( πr2Σ) Ph Ch He Cr Th
1. Pilantue sp 150
2. Pitex obopatus 10
3. Mimosa pudica 61
4. Hoplismenus sp 100
5. Ciperus sp 80
6. Oplismenus burmanii 4
7. Melastoma malabatikum 30
8. Skirpus sp 120
9. Boreria sp 5
10. Leucana glauca 30
11. Coleus amboinicus 50
12. Ageratum haostonium 120
13. Elephantopus scaber 6
Jumlah 576 190
Total = (576 + 190) = 766
Perhitungan Presentasi life form daerah Terdedah :

Phanerophyte (P) = 0/766 x 100% = 0%

Chamaephyte (Ch) = 576/766 x 100% = 75,19%

Hemicrytophyte (He) = 190/4766 x 100% = 24,80%

Cryptophyte (Cr) = 0/766 x 100% = 0%

Therophyte (Th) = 0/766 x 100% = 0%

Jadi hasil perhitungan Spectrum Life Form pada daerah terdedah dilokasi praktikum
seperti disajikan pada Tabel 13.

Tabel 13. Spektrum life form pada daerah terdedah


life form Ph Ch He Cr Th
Persentasi 0% 75,19% 24,80% 0 0

Apabila hasil spectrum life form pada daerah terdedah dibandingkan dengan spectrum

life form Runkier tanpak seperti disajikan pada Tabel 14.

Tabel 14. Spektrum life form pada daerah terdedah dan Spektrum life form normal
Raunkier
Daerah pengamatan SLF Rata-rata
Ph Ch He Cr Th
Terdedah 0% 75,19% 24,80% 0 0
Runkier 46% 9% 26% 6% 13%

Apabila spectrum life form pada daerah ternaung dibandingkan dengan spectrum life

form Runkier disajikan dalam bentuk diagram batang, tampak seperti disajikan pada

Gambar 2.
Jumlah (%)
80

70

60

50

40 Terdedah
Runkier
30

20

10

0
Ph Ch He Cr Th
Gambar 2. Spectrum Life Form pada daerah terdedah dan Spektrum life form normal
Raunkier

A.3. Daerah Ternaung

Hasil pengamatan pada daerah ternaung pada Plot 1 disajikan pada Tabel 15,
plot 2 pada Tabel 16 dan plot 3 disajikan pada Tabel 17.

Tabel 15. Hasil pengamatan pada daerah ternaung (plot 1)


No. Nama species Σ R (cm) Cover Spectrum life form
( πr2Σ) Ph Ch He Cr Th
1. Mimosa pudica 50 10 cm 15700 √
2. Jussiolea repens 2 4 cm 100,48 √
L
3. Lantana camara 5 300 cm 1413000 √
4. Metacarpus 25 12 cm 113040 √

Tabel 16. Hasil pengamatan pada daerah ternaung (plot 2)


No. Nama species Σ R (cm) Cover Spectrum life form
( πr2Σ) Ph Ch He Cr Th
1. Barringtonia 5 16 cm 4019,2 √
asiatica
2. Mimosa 50 13 cm 26533 √
pudica
3. Metacarpus 45 18 cm 45781,2 √
4. Ciperus sp 25 8 cm 321153,6 √

Tabel 17. Hasil pengamatan pada daerah ternaung (plot 3)


No. Nama species Σ R (cm) Cover Spectrum life form
( πr2Σ) Ph Ch He Cr Th
1. Araucaria 2 220 cm 303952 √
heterophylla
2. Acalypha 5 16 cm 4019,2 √
Siamensis
3. Mimosa 50 10 cm 15700 √
pudica
4. Metacarpus 45 18 cm 45781,2 √

Tabel 18. Rata–rata struktur life form daerah ternaung Plot 1, 2 & 3)
No. Nama species Cover Spectrum life form
( πr2Σ) Ph Ch He Cr Th
1. Mimosa pudica 150
2. Jussiolea repens L 2
3. Lantana camara 5
4. Metacarpus 115
5. Barringtonia asiatica 5
6. Ciperus sp 25
7. Araucaria heterophylla 2
8. Acalypha siamensis 5
Jumlah 12 272 25
Total = (12 + 272 + 25) = 309

Perhitungan Presentasi life form daerah Ternaung :

Phanerophyte (P) = 12/309 x 100% = 3,88%


Chamaephyte (Ch) = 272/309 x 100% = 88,02%

Hemicrytophyte (He) = 25/309 x 100% = 8,09%

Cryptophyte (Cr) = 0/309 x 100% = 0%

Therophyte (Th) = 0/309 x 100% = 0%

Jadi hasil perhitungan Spectrum Life Form pada daerah ternaung dilokasi praktikum
seperti disajikan pada Tabel 19.

Tabel 19. Spektrum life form pada daerah ternaung


life form Ph Ch He Cr Th
Persentasi 3,88% 88,02% 8,09% 0 0

Apabila hasil spectrum life form pada daerah ternaung dibandingkan dengan spectrum

life form Runkier tanpak seperti disajikan pada Tabel 20.

Tabel 20. Spektrum life form pada daerah ternaung dan Spektrum life form normal
Raunkier
Daerah pengamatan SLF Rata-rata
Ph Ch He Cr Th
Ternaung 3,88% 88,02% 8,09% 0 0
Runkier 46% 9% 26% 6% 13%
Apabila spectrum life form pada daerah ternaung dibandingkan dengan spectrum life

form Runkier disajikan dalam bentuk diagram batang, tampak seperti disajikan pada

Gambar 3.
Jumlah (%)

100

90

80

70

60

50 Ternaung
Runkier
40

30

20

10

0
Ph Ch He Cr Th

Gambar 3. Spectrum Life Form pada daerah ternaung dan Spektrum life form normal
Raunkier

B. Pembahasan

Bentuk kehidupan (life form) merupakan keseluruhan proses hidup dan

muncul secara langsung sebagai respon atas lingkungan. Bentuk kehidupan (life

form) dikelompokkan atas dasar adaptasi organ kuncup untuk melalui kondisi yang

tidak menguntungkan bagi tumbuhan. Raunkier mengelompokkan bentuk kehidupan

(life form) tumbuhan bersarakan posisi dan tingkat perlindungan tunas dalam untuk
memunculkan kembali tubuh tumbuhan pada musim yang sesuai. Sesuai dasar ini,

maka tumbuhan dapat dikelompokkan menjadi 5 kelas utama life form yang neliputi:

Phanerophyte, Chamaephyte, Hemikriptophyte, Chryptophyte dan Therophyte.

Pengamatan spectrum life form yang dilakukan pada komunitas tumbuhan.

Perlakuan diberikan pada kondisi daerah pengamatan yang dibagi menjadi tiga lokasi

pengamatan, yaitu daerah terdedah, daerah transisi dan daerah ternaung. Terlebih

dahulu menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan kemudian dilanjutkan

dengan menentukan tipe vegetasinya. Membuat plot pengamatan berukuran 10x10

m2, selanjutnya mengelompokkan tipe pertumbuhan, mengukur keliling atau ukuran

batang tumbuhan dan terakhir mencatat data-data yang telah diperoleh. Pengamatan

Spectrum Life From bertujuan untuk mengetahui persentase spesies kelas

berdasarkan pengelompokkan tumbuhan yang dilakukan oleh Raunkiaer.

Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh area vegetasi daerah transisi tingkat

persentase kelas tumbuhan yang paling tinggi adalah Chamaephyte (Ch) dengan

presentase sebesar 88,6% sedangkan persentase terendah adalah Cryptophyte (Cr)

dan Therophyte (Tr) yaitu sebesar 0 %. Daerah terdedah, diperoleh persentase kelas

tumbuhan yang paling tinggi ditempati oleh Chamaephyte (Ch) dengan presentase

sebesar 75,19%, sedangkan persentase yang terendah ditempati oleh Phanerophyte

(P), Cryptophyte (Cr) dan Therophyte (Tr) dengan presentase 0%. Daerah ternaung,

persentase yang tertinggi juga ditempati oleh Chamaephyte (Ch) sebesar 88,02%,

sedangkan presentase terendah pada Cryptophyte (Cr) dan Therophyte (Tr).


Keberagaman vegetasi-vegetasi tersebut juga ditunjang oleh faktor abiotik

yang terdapat pada daerah tersebut. Suhu tanah dan kelembaban tanah. Vegetasi-

vegetasi yang hidup adalah seperti yang terdapat pada hasil pengamatan dengan

berbagai Life form dan jenisnya. Tumbuhan dapat hidup dengan baik di lingkungan

tertentu jika lingkungan itu mampu menyediakan berbagai keperluan untuk

pertumbuhan dan melengkapi daur hidupnya. Faktor lingkungan tersebut sangat

banyak dan beranekaragam, semua itu tidak dapat dipisahkan satu dengan yang

lainnya.

V. PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik pada praktikum ini adalah bentuk-bentuk

pertumbuhan bentuk spectrum life form berdasarkan pengelompokkan tumbuhan

yang dilakukan oleh Raunkiaer didapatkan lima tipe tanaman yaitu phanerophyte (P)
yaitu merupakan kelompok tumbuhan yang mempunyai letak titik kuncup

pertumbuhan minimal 25 cm di atas permukaan tanah, chamaephyte (Ch) merupakan

tumbuhan berkayu, tetapi letak kuncup pertumbuhannya kurang dari 25 cm di atas

permukaan tanah. Hemycriptophyte (H) merupakan kelompok herba berdaun lebar

musiman, rerumputan dan tumbuhan roset. Criptophyte (Cr) merupakan tumbuhan

umbi, rimpang, tumbuhan perairan emergent, mengapung dan berakar pada air.

Therophyte (Tr) merupakan tumbuhan termasuk semua tumbuhan satu musim,

dimana pada kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan titik pertumbuhan

berupa embrio dalam biji.

B.Saran

Saran yang dapat diajukan pada praktikum adalah untuk praktikan agar lebih

semangat lagi dalam praktikum dan dibutuhkan kerjasama atau kekompakannya serta

diharapkan kepada asisten agar lebih mengontrol lagi praktikannya pada saat

praktikum berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA

Ariyanto, J., Widoretno, S., Nurmiyati. dan Agustina, P., 2014, Bentuk Kehidupan (Life
Form) Tumbuhan Penyusun Vegetasi di Kotamadya Surakarta, Bioedukasi, 7(2):
11-12

Cahyanto, T., Chairunnisa, D. dan Sudjarwo, T., 2014, Analisis Vegetasi Pohon Hutan
Alam Gunung Manglayang Kabupaten Bandung, Jurusan Biologi FST, UIN
Sunan Gunung Djati Bandung, 8(2): 146
Mufti, F., 2012, Analisis Vegetasi Di Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba
Nglanggeran Kabupaten Gunungkidul D.I. Yogyakarta, Skripsi, Program Studi
Biologi, Fakultas Sains Dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Widodo, 2013, Konsep Raunkiaer’s Life Form dan Habitus sebagai Komponen
Konstruksi Pemahaman Struktur Tumbuhan , Seminar Biologi, Fakultas Sains dan
Teknologi, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Wiharto, M., 2015, Pemograman R Untuk Penentuan Spektrum Bentuk Hidup Dalam
Kajian Ekologi Tumbuhan, Jurnal Bionature, 16(2): 78

Anda mungkin juga menyukai