Anda di halaman 1dari 16

Contoh Kasus Kebijakan Lingkungan Internasional

1. Balada Kemacetan Kota Bangkok


Angka jumlah penduduk di Bangkok, Thailand lumayan cukup banyak
yaitu kurang lebih sekitar 10 juta jiwa. Hal ini berarti melebihi penduduk di
Jakarta yang berjumlah kurang lebih 8 juta jiwa. Angka jumlah penduduk di
kota tersebut memang sering berubah seiring berjalannya waktu.

Gambar Kemacetan di Bangkok, Thailand

Tahun 1993, berdasarkan penelitian UNEP (United Nations Environment


Programme) Bangkok masuk sebagai kota yang tingkat pencemaran udaranya
terburuk kedua setelah Mexico city. Setelah predikat runner up dalam hal
pencemaran udara disandang sebagai julukan kota ini muncul diantaranya
Bangkok phobia dan Bangkok is the victim of success. Kedua julukan tersebut
seakan memberi warning pada kota-kota lain di Asia untuk tidak mengikuti
langkah Bangkok. Bangkok itu dunia lain yang jauh meninggalkan kota-kota
dan daerah lain di Thailand di luar Bangkok. Sebenarnya hal itu menyindir
Bangkok sebagai kota metropolis yang secara fisik gemerlap tetapi rapuh
dalam merajut ikatan sosial warganya. Singkatnya, Bangkok itu ganas, kejam,
dan tidak manusiawi dimata penduduk pedesaan Thailand.
Namun Pemerintah Kota Bangkok sadar akan situasi yang membelit
kotanya. Mereka bergerak cepat untuk menangani kemelut kemacetan. Tahun
1999 mulai diresmikan sky train yang disebut sebagai Bangkok Transit System
(BTS) yang baru mampu melayani 20 % area dan melingkar disekitar pusat
kota mulai dari Mochi disisi utara sampai On Nut disisi timur. Kemudian dua
tahun yang akan datang jalur bandara diharapkan rampung dan akan sangat
menolong pengunjung kota Bangkok.
Sky train sangat membantu bagi mereka yang tinggal dan bekerja di
sekitar pusat kota dalam arti lebih cepat dan efisien daripada perjalanan darat,
dengan sky train hanya memerlukan waktu 10 sampai 20 menit. Sky train
mampu mengurangi volume kendaraan di jalur darat. Banyak masyarakat
Bangkok yang hijrah dari kendaraan pribadi mencapai 30%.

Gambar Sky Train di Bangkok, Thailand

Bangkok memang all out dalam mengantisipasi persoalan transportasinya.


Sambil terus memperluas jaringan jalur sky train, tahun 2004 meluncurkan
kereta api bawah tanah yang disebut metro atau underground public
transportation system. Disamping itu, sungai-sungai yang melintas diseantero
kota didayagunakan sebagai sarana transportasi mengangkut penumpang.
Ditengah belantara kemacetan di kota Bangkok, jalur sungai serasa menjadi
katup pelepas kemacetan. Hanya air sungainya saja yang berwarna keruh
kehitaman cukup mengganggu.1
2. Pemanasan Global
Pemanasan global (global warming) terus menghantui umat manusia di
bumi. Kerusakan sistem cuaca akibat gas rumah kaca telah mengubah pola
curah hujan, meningkatkan kekuatan badai, kekeringan, banjir, dan kelangkaan
air bersih. Peningkatan temperatur yang berkisar antara 1 sampai 30 C
diperkirakan akan menimpa seluruh kawasan benua di bumi. Skenario paling
rendah dari kenaikan rata-rata permukaan air laut berkisar antara 18 sampai 38
cm. Hal ini bisa terjadi karena sejak revolusi industri abad ke-18 atmosfer
dimanfaatkan sebagai kawasan buangan asap atas kegiatan industri,
transportasi, dan kegiatan manusia lainnya.
1
Sudharto, Hadi, Bunga Rampai Manajemen Lingkungan, (Yohyakarta: Thalia Media, 2014),
hal 123-126.
Konsentrasi gas rumah kaca saat ini mencapai sekitar 350 ppmv. Efek
rumah kaca disebabkan oleh emisi lebih dari 20 gas ke atmosfer. Penyumbang
terbesar adalah karbon dioksida (CO2), ozone, metana (CH4), nitrus oksida
(N2O) dan CFC yang makin banyak jumlahnya di atmosfer. Gas-gas tersebut
memiliki sifat seperti kaca yang meneruskan radiasi gelombang pendek yang
dipancarkan bumi yang bersifat panas, sehingga suhu atmosfer bumi makin
meningkat. Sumber paling besar gas rumah kaca berasal dari pembakaran
energi fosil seperti minyak, gas alam, dan batu bara.

Gambar Pemanasan Global dan Efek


Rumah Kaca

Upaya untuk mengurangi efek rumah kaca telah dilakukan oleh para
Kepala Pemerintahan yang tertuang dalam Protokol Kyoto Jepang yang
berkomitmen mengurangi emisinya sebesar 6%. Negara-negara Uni Eropa
menargetkan pengurangan emisi sebesar 8%. Amerika Serikat penyumbang
emisi terbesar yang belum bersedia turut dalam Protokol Kyoto diharapkan
mengurangi jumlah emisinya sebesar 7%. Upaya lain yang dilakukan oleh
Forum Energi dan Lingkungan Berkelanjutan di Asia Pasifik yang diprakarsai
Kyoto University. Forum tersebut mendorong peningkatan penggunaan energi
baru terbarukan seperti energi air, angin, panas bumi, surya, bio-massa. Target
yang dicanangkan sampai dengan tahun 2030 sebesar 50%.
Target dipandang sangat ambisius mengingat hampir semua negara yang
menandantangani Protokol Kyoto menyandarkan energinya pada sumber-
sumber konvensional yang beremisi tinggi yang makin menipis ketersediannya.
Jepang masih mengandalkan 70% dari gas alam yang diimpor. Thailand
bergantung 80% energinya dari gas alam. India menggantungkan batu bara
yang mencapai 70%. Indonesia baru bisa memanfaatkan energi terbarukan
seperti air, panas bumi dan sumber lain sebesar 4,4%. Selebihnya bergantung
pada sumber minyak bumi, gas alam dan batu bara.
Upaya efisiensi energi memiliki manfaat ganda yakni menghemat uang
dan penggunaan energi konvesional yang makin menipis jumlahnya.
Pengurangan gas rumah kaca akan lebih signifikan jika secara simultan diikuti
dengan langkah lain misalnya mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
Secara teoritis efisiensi energi relatif lebih mudah dilakukan daripada
mengembangkan energi baru seperti pembangkit tenaga surya dan angin yang
biaya instalasinya masih mahal. Keikutsertaan negara berkembang dalam
mitigasi gas rumah kaca juga terkait dengan ulah kita yang meskipum dalam
skala global masih terbilang kecil tetapu memberikan kontribusi terhadap gas
rumah kaca dan membuat sengsara masyarakat. Catatan terakhir menunjukkan
bahwa kebakaran hutan di Indonesia menyumbang 7% emisi gas rumah kaca.2
3. Kebakaran Hutan di Indonesia
Indonesia merupakan negara yang melimpah akan sumber daya alam dan
lingkungan dan merupakan salah satu negara di dunia yang mempunyai hutan
tropis terluas setelah hutan amazon. Indonesia sering mengalami kejadian
kebakaran hutan yang menimbulkan banyak dampak antara lain seperti
perncemaran lingkungan karena asap, kesehatan terganggu, perekonomian
terganggu bahkan bisa menyebabkan terganggunya hubungan diplomatik antar
negara.
Pencemaran udara akibat kebakaran hutan saat ini sudah sampai pada
tingkat pencemaran yang bersifat lintas batas dan hal ini juga menjadi salah
satu masalah di ranah internasional. Peristiwa pencemaran udara yang
melampaui lintas batas dengan segala konsekuensinya harus disikapi secara
serius oleh pihak dalam tingkatan lokal, regional, maupun internasional. Semua
pihak seharusnya bisa melaksanakan sebuah perundingan untuk memecahkan
2
Sudharto, Hadi, Bunga Rampai Manajemen Lingkungan, (Yogyakarta: Thalia Media, 2014),
hal 221-226.
permasalahan ini. Masalah pencemaran udara yang berdampak kepada semua
pihak termasuk negara lain maupum masyarakat adalah suatu kecemasan yang
dihadi masyarakat saat ini. Masalah pencemaran lingkungan ini telah menjadi
perhatian dalam kawasan ASEAN.

Gambar Kebakaran Hutan

Salah satu permasalahan yang sedang dihadapi lingkungan global saat ini
adalah kebakaran hutan. Indonesia dianggap perusak hutan terbesar di dunia
karena tingkat kerusakan hutan yang sangat tinggi. Penyebab kerusakan hutan
yang ada di Indonesia dapat di golongan kedalam beberapa factor yaitu
pembakaran liar, konsensi lahan untuk looging dan perkebunan, penebangan
liar, konsensi hutan untuk pertambangan, perambahan hutan oleh masyarakat
sekitar.
Kebijakan lingkungan internasional terdapat dalam perjanjian-perjanjian
internasional. Secara umum negara bertanggung jawab dala hukum
internasional untuk pembuatan atau tindakan yang bertentangan dengan
kewajiban internasional negara tersebut. Komisi hukum internasional telah
membahas soal penanggung jawab negara ini sejak 1956 namun baru tahun
2001 berhasil merumuskan rancangan undang-undang tentang pemuatan yang
dipersalahkan menurut hukum internasional yang kemudian diedarkan oleh
majlis umum PBB.
Pencemaran lintas batas akibat kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia
untuk saat ini memang belum menimbulkan sengketa antara negara-negara
ASEAN, terutama antara negara yang di dalam wilayahnya terjadi kebakaran
hutan dengan negara yang menderita akibat dampak dari kebakaran hutan.
Peristiwa kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia merupakan bentuk-bentuk
perwujudan prinsip tanggung jawab negara dalam ASEAN Agreement on the
Conservation of Nature and Natural Resources, dapat dikatakan belum
dijalankan sebagaimana mestinya karena dilihat dari aspek penegakan hukum
dengan segala sanksinya, aspek kelembagaan yang tidak permanen dan
profesional, tidak tersedianya peralatan dan teknologi kebakaran hutan dan
lahan yang memadai.
Dalam ASEAN Agreement Transboundarry Haze Pollution dituliskan
pada Pasal 27 bahwa untuk menyelesaikan sengketa pencemaran lintas batas
akibat kebakaran hutan wajib diselesaikan secara damai melalui konsultasi dan
perundingan. Menurut Pasal 30 ayat (1) Undang-Undang Pengelolaan
Lingkungan Hidup yang selanjutnya disebut dengan UUPPLH menyatakan
bahwa sengketa lingkungan hidup dapat ditempuh melalui pengadilan ataupun
diluar pengadilan berdasarkan pihak yang bersengketa kebakaran hutan yang
terjadi di Provinsi Riau menjadi perhatian dunia saat ini.
Kebijakan lingkungan global-internasional terdapat dalam kesepakatan-
kesepakatan internasional mengenai lingkungan, baik yang sifatnya multilateral
maupun bilateral. Kesepakatan internasional ini dapat berbentuk deklarasi,
konvensi, agenda, dan atau perjanjian internasional di bidang lingkungan.
Indeks standar polusi (PSI) pernah mencapai level kritis, yakni 400, yang
berpotensi mengancam nyawa orang-orang sakit dan lanjut usia. Di Malaysia,
khususnya di negara bagian Johor, ratusan sekolah ditutup karena kabut asap
dari Indonesia. Pemerintah di kedua negara tetangga itu pun mengeluarkan
protes. Pasalnya, terindikasi bahwa perusahaan Malaysialah yang membakar
hutan untuk membuka massif. Kedua, terjadinya penyingkiran terhadap
masyarakat lokal dan adat dalam pengelolaan dan pemanfaatan hasil hutan.
Banyak kawasan tanah ulayat dirampas paksa oleh perusahaan.
Dengan demikian, dalam kasus Kebijakan kehutanan itu bertolak belakang
dengan pasal 33 UUD 1945. Jika benar seperti itu maka citra kedua negara
yang menjadi buruk di mata internasional. Kebakaran hutan yang terjadi di
Indonesia sampai sejauh ini tidak pernah diselesaikan melalui pengadilan oleh
negara-negara korban dari pencemaran lintas batas akibat kebakaran hutan,
karena negara-negara ASEAN tersebut menganut prinsip penyelesaian
sengketa secara damai seperti yang terkandung dalam AATHP (ASEAN
Agreement Transboundarry Haze Pollution).
Pencemaran lintas batas akibat kebakaran hutan yang terjadi di indonesia
untuk saat ini memang belum menimbulkan sengketa antara negara-negara
ASEAN , namun Indonesia bertanggungjawab terhadap kebakaran hutan yang
terjadi di dalam wilayahnya, karena tanggungjawab negara dalam hukum
Internasional adalah untuk mencegah terjadinya sengketa antar negara,
disamping juga bertujuan memberikan perlindungan hukum dan prinsip
tanggungjawab negara merupakan salah satu prinsip yang penting dalam
hukum Internasional, peristiwa kebakaran hutan di indonesia merupakan
perwujudan prinsip tanggungjawab negara dalam ASEAN Agreement on the
Conservation of Nature and Natural Resourse.3
4. Penipisan Lapisan Ozon
Atmosfer terdiri atas beberapa lapisan (layer) yang berbeda-beda dan
setiap lapisan memiliki fungsi tertentu. Para pakar membagi lapisan-lapisan
tersebut berdasarkan ketinggian dari permukaan bumi. Menurut para pakar,
lapisan atmosfer terbagi dalam lima lapisan berikut: (i) troposphere, (ii)
stratosphere, (iii) mesosphere, (iv) thermosphere, dan (v) exosphere. Untuk
jelasnya, dapat dilihat pada chart berikut ini.

Gambar Lapisan Atmosfer

Perlu diketahui bahwa lapisan ozon (ozone layer) terletak pada bagian
bawah lapisan stratosfer atau pada ketinggian antara 20-30 km dari permukaan
laut, tergantung variabilitas dari geografi alam disekitarnya. Lapisan bawah

3
Shafa Fatiy Al-Adawiyah, KEBIJAKAN HUKUM LINGKUNGAN INTERNASIONAL ATAS
PERISTIWA KEBAKARAN HUTAN DI INDONESIA, Universitas Darussalam Gontor, hal 1-8.
stratofer ditemukan banyak senyawa ozon (O3) sehingga lapisan ini di sebut
lapisan ozon. Menurut para ahli, senyawa ozon dapat menyerap radiasi jahat
dari sinar matahari sehingga ketika mencapai bumi, sinar matahari tersebut
tidak lagi berbahaya bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.
Penipisan lapisan ozon menjadi masalah penting karena setiap penipisan
lapisan ozon sebesar 10% akan menyebabkan kenaikan intensitas sinar
ultraviolet (UV) B sebesar 20%. Hasil penelitian para ahli menunjukkan bahwa
tingginya UV-B bisa menimbulkan katarak mata, kanker kulit, penurunan
kekebalan tubuh, memusnahkan plankton dan menghambat pertumbuhan
tanaman.
Syukur, akibat kontrol yang ketat atas perdagangan dan produksi bahan-
bahan kimia di atas dan ditemukannya bahan-bahan kimia yang lebih ramah
dengan lingkungan, maka “lubang ozon” yang dulunya besar dan luas,
sekarang sedikit demi sedikit telah tertutup. ‘Keberhasilan’ ini menunjukkan
bahwa jika masyarakat internasional, pemerintah dan dunia usaha bersungguh-
sungguh untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan global pasti bisa
dilaksanakan. Oleh karena itu, keberhasilan ini selalu dijadikan contoh
keberhasilan rezim hukum internasional dalam menanggulangi permasalahan
lingkungan global.4
5. Permasalahan Pengrusakan Hutan (Deforestasi) di Lingkungan Global
Isu lingkungan global mulai muncul dalam berberapa dekade belakangan
ini. Kesadaran manusia akan lingkungannya yang telah rusak membuat isu
lingkungan ini mencuat. Isu yang paling penting dalam lingkungan adalah
mengenai pemanasan global akibat pemanasan global yang disebabkan oleh
efek rumah kaca yaitu bertambahnya jumlah gas-gas rumah kaca (GRK) di
atmosfir yang menyebabkan energi panas yang seharusnya dilepas ke luar
atmosfir bumi dipantulkan kembali ke permukaan dan menyebabkan
temperature permukaan bumi menjadi lebih panas.
Di seluruh dunia, hutan-hutan alami sedang dalam krisis. Tumbuhan dan
binatang yang hidup didalamnya terancam punah. Dan banyak manusia dan
kebudayaan yang menggantungkan hidupnya dari hutan juga sedang terancam.

4
Laode M. Syarif, Kadek Sarna, Hukum Lingkungan, (USAID: Amerika, 2014), hal 19-21.
Tapi tidak semuanya merupakan kabar buruk. Masih ada harapan untuk
menyelamatkan hutan-hutan ini dan menyelamatkan mereka yang hidup dari
hutan. Hutan purba dunia sangat beragam. Hutan-hutan ini meliputi hutan
boreal-jenis hutan pinus yang ada di Amerika Utara, hutan hujan tropis, hutan
sub tropis dan hutan mangrove. Bersama, mereka menjaga sistem lingkungan
yang penting bagi kehidupan di bumi. Mereka mempengaruhi cuaca dengan
mengontrol curah hujan dan penguapan air dari tanah. Mereka membantu
menstabilkan iklim dunia dengan menyimpan karbon dalam jumlah besar yang
jika tidak tersimpan akan berkontribusi pada perubahan iklim.

Gambar Pengrusakan (Deforestasi) Hutan

Deforestasi tahunan tercepat di dunia adalah Indonesia. Dengan 1,8 juta


hektare hutan hancur per tahun antara tahun 2000 hingga 2005. Tingkat
kehancuran hutan sebesar 2% setiap tahunnya atau setara 51 kilometer persegi
per hari. Total hutan Indonesia mencapai 120,35 juta hektare dari wilayah
seluas 1.919.440 kilometer persegi. Negara kita di mata internasional dianggap
sebagai salah satu negara yang menyumbang kerusakan alam global terbesar.
Keadaan ini tidak boleh dibiarkan terus menerus. Pemerintah diharapkan dapat
lebih bijak dalam menggunakan sumber daya alam, khususnya yang
berpengaruh dengan lingkungan global, seperti hutan lindung. Masalah-
masalah seperti pembalakan liar harus disikapi dengan tegas.
Upaya untuk perlindungan hutan telah dilakukan di beberapa negara
misalnya konservasi hutan yang dilakukan di kanada oleh Boreal Canada’s atau
perusahan raksasa multinasional seperti DEkap dan Unilever yang telah
mengubah kebijakan eksploitasi minyak sawit untuk membantu melindungi
hutan-hutan Indonesia dan Peatlands. Akan tetapi, sebagian besar perusahan
justru berperan secara signifikan merusak hutan. Hilangnya hutan di sebagian
besar negara di dunia dapat mempunyai dampak buruk bagi yang lain; kerugian
hutan di Amazonia dan Afrika Pusat sangat mengurangi curah hujan di AS
bagian Midwest.
Greenpeace mempunyai kantor regional dan nasional pada 41 negara-
negara di seluruh dunia, yang semuanya berhubungan dengan pusat
Greenpeace Internasional di Amsterdam. Organisasi global ini menerima
pendanaan melalui kontribusi langsung dari individu yang diperkirakan
mencapai 2,8 juta para pendukung keuangan, dan juga dari dana dari yayasan
amal, tetapi tidak menerima pendanaan dari pemerintah atau korporasi.
Greenpeace sedang berkampanye untuk penebangan hutan secara serentak
sampai tahun 2020.
Greenpeace berusaha untuk melobi pemilik kuasa politis untuk mengambil
kebijakan internasional yang co-ordinated dan tindakan politis lokal itu
diperlukan untuk melindungi hutan dunia. Mereka bekerja bersama masyarakat
dunia untuk menanggulangi perusakan hutan di Amazon, Kongo, Indonesia
dan menyelidiki, dokumen, menyingkapkan dan mulai bertindak melawan
terhadap pembinasaan hutan. Dengan bantuan beratus ribu para pendukung,
Greenpeace telah membuktikan kinerjanya dengan memenangkan kasus
Penebangan hutan di Amazon.
Siklus terjadinya kebakaran hutan terus menerus serta pengrusakan hutan
di Indonesia harus mulai dianggap sebagai masalah global karena negara kita
merupakan penyumbang besar terhadap perubahan iklim dunia. Pemerintah
harus mengambil langkah lebih berani untuk mencegah masalah ini dengan
pertama-tama mendeklarasikan moratorium atas penghancuran dan konversi
hutan gambut secara nasional.
Di lingkungan internasional sebenarnya telah terdapat Deklarasi Rio de
Jenerio yang merupakan konferensi PBB mengenai lingkungan hidup yang
kedua setelah konfererensi PBB mengenai lingkungan hidup yang pertama di
Stockholm Swedia tahun 1972. Hasil konferensi Deklarasi Rio de Jenerio
menetapkan serangkaian pedoman pembangunan. Ada dua hal penting dalam
deklarasi ini yaitu program agenda 21 dan prinsip-prinsip tentang kehutanan.
a. Program agenda 21
Bagian II dari agenda 21 ini menyangkut konservasi dan manajemen
Sumber Daya Alam untuk pembangunan yang memuat ikhtiar sebagai
berikut : (a) menanggulangi masalah-masalah lingkungan udara, sumber
daya tanah, penggundulan hutan, desertifikasi dan kegersangan, erosi, lautan
dan pantai dan air tawar, (b) pengelolaan limbah beracun dan berbahaya, (c)
pengembangan pertanian dan pelestarian sumber alam hayati. Di samping
itu, dalam agenda 21 juga disepakati program mengenai deforestasi yang
menyangkut empat bidang yaitu fungsi hutan, peningkatan perlindungan,
pemanfaatan dan konservasi hutan, efisiensi pemanfaatan dan telaahan
mengenai nilai dan jas hasil hutan, serta peningkatan kemampuan
perencanaan, monitor, dan evaluasi.
b. Prinsip-prinsip tentang Kehutanan
Prinsip-prinsip tentang kehutanan telah berhasil disepakati dalam
dokumen Non-legally Binding Authoritative Statement of principles for
Global Concensus on the management, Conservation and sustainable
Development on all types of forest, berisikan 15 prinsip yang berkaitan
dengan masalah pengelolaan hutan. Dokumen ini juga memuat pedoman
yang tidak bersifat mengikat dan berlaku beerlaku untuk semua jenis hutan,
terdapat pula prinsip-prinsip lainnya yaitu menyangkut perdagangan kayu,
penghapusan hambatan-hambatan tarif, dan perbaikan akses ke pasaran.5
6. Sengketa Lingkungan Internasional
Peristiwa ekologis berupa pencemaran udara yang terjadi di Kanada dapat
muncul di Amerika Serikat maupun belahan dunia lainnya. Semua negara
menghadapi tingkat pencemaran ingkungan dan krisis penyediaan sumber daya
energi yang cukup gawat yang berlangsung begitu cepat. Hal pertama yang
terpikirkan tentang manusia modern yang membenarkan keyakinannya
mengenai "api neraka" adalah peningkatan pencemaran atmostir yang bermula
sejak Revolusi Industri di Inggris pada akhir abad ke-18 yang kemudian
5
Anggraeni Arif, Analisis Yuridis Pengrusakan Hutan (Deforestasi) dan Degradasi Hutan
terhadap Lingkungan, Jurispridentie Volume 3 Nomor 1, hal 33-41.
menyebar ke hampir seluruh pelosok Bumi. Kegiatan industri telah
menggerogoti sarang manusia sendiri dan memberi ancaman kepada totalitas
kehidupan yang kian mengkhawatirkan.
Yang paling mengkhawatirkan dari kesemena-menaan manusia terhadap
Iingkungan adalah pencemaran udara, tanah, sungai-sungai dan laut dengan
bahan-bahan yang berbahaya dan bahkan mematikan. Semakin penting untuk
menyadari dan mengantisipasi mencuatnya permasalahan sengketa lingkungan
internasional yang disebabkan pencemaran udara lintas batas. Kasus Trail
Smelter dan Kebakaran Hutan merupakan bukti realistik yang mendasari
betapa urgensinya memberikan perhatian khusus terhadap tema "penyelesaian
sengketa Iingkungan internasional" atas terjadinya "sengketa lingkungan
internasional akibat pencemarah udara lintas batas". sengketa lingkungan
internasional timbul ketika adanya suatu konflik kepentingan antara dua negara
atau lebih mengenai perubahan situasi dan kondisi (baik kualitatif maupun
kuantitatif) lingkungan.
Esensi dan elemen utama sengketa lingkungan internasional terletak pada
perubahan lingkungan (udara) yang dapat mengganggu negara lain atau orang-
orang (warga negara) suatu negara. Dalam kasus Nuclear Test tahun 1974,
tindakan Perancis melakukan uji coba senjata nuklir di wilayah Kepulauan
Pasifik telah digugat Australia dan Selandia Baru dengan alasan telah
mengakibatkan perubahan lingkungan di kedua negara akibat uji coba nuklir
tersebut. Nuclear Test menyebabkan bertebaran dan jatuhnya debu zat-zat
radioaktif yang sangat berisiko tinggi pada udara di wilayah Australia dan
Selandia Baru.Tragedi lingkungan lainnya yang menyangkut adanya perubahan
kualitas lingkungan terjadi pula dalam Lac Lanoux Case tahun 1959 antara
Spanyol dengan Perancis. Perubahan arus sungai Perancis dapat mengubah
komposisi kimiawi dan temperatur (suhu) air atau sifat-sifat lainnya yang amat
merugikan kepentingan Spanyol.
Oleh karena itu secara prinsip sengketa lingkungan internasional terjadi
karena terjadinya konflik di antara para pihak. Pencemaran lingkungan yang
terpapar dalam suatu negara berkemungkinan (potensial) menimbulkan
kerugian pada negara lain. Situasi tersebut tentu dapat memicu dan
memperluas timbulnya sengketa Iingkungan antar negara apabila tidak segera
diselesaikan.Terjadinya sengketa Iingkungan internasional salah satunya
adalah akibat dari pencemaran udara lintas batas diperkirakan tidak
terhindarkan dengan jangkauan konsekuensi hukum yang semakin kompleks.
Diperlukanlah "international procedures and mechanisms of environmental
disputes resolution",mengingat suatu sengketa Iingkungan internasional secara
yuridis tidak selalu cukup diselesaikan dengan kata "maaf" seperti dalam Kasus
Kebakaran Hutan di Indonesia tahun 1997.
Bentuk-bentuk Penyelesaian Sengketa Lingkungan Internasional
Ada beberapa bentuk penyelesaian sengketa lingkungan internasional, yaitu
sebagai berikut:
1. Negosiasi
Mekanisme penyelesaian sengketa lingkungan internasional tidaklah
ditentukan secara berurutan berdasarkan pada prioritas dengan negosiasi
sebagai yang pertama. Namun, negosiasi adalah merupakan sarana utama.
Kenyataan praktis menunjukkan bahwa negosiasi lebih sering digunakan
daripada semua cara lainnya. Pada saat digunakan cara lain sekalipun,
negosiasi tidak diabaikan, melainkan diarahkan pada masalah-masalah
instrumental, batasan referensi bagi penyelidikan, konsiliasi, mediasi,
ataupun arbitrasi. Negosiasi mempunyai peran penting dalam setiap tahapan
penyelesaian sengketa internasional.
Negosiasi diterapkan sebagai bentuk penyelesaian yang primer dalam
sengketa lingkungan internasional. Disamping itu, bahwa negosiasi
antarnegara yang bersengketa dilakukan melalui saluran diplomatik normal
dengan cara pejabat urusan luar negeri membawa delegasi dari beberapa
departemen pemerintahan yang berkepentingan. Setelah pokok sengketa
sudah dipastikan, negosiasi dilakukan oleh departemen yang berwenang dari
masing-masing pihak. Prosesi negosiasi dapat menggunakan summit
discussion atau pertemuan puncak antar kepala negara maupun kepala
pemerintahan.
2. Mediasi
Mediasi merupakan "negosiasi tambahan" dengan mediator sebagai
pihak yang aktif menawarkan proposal penyelesaian kepada para pihak yang
bersengketa. Mediasi dapat dilakukan oleh organisasi internasional, negara
maupun individu. Mediasi mempunyai daya tarik tersendiri bagi
negaranegara yang berkonflik untuk mengetahui suatu sengketa
(Iingkungan) diselesaikan secara damai.
Konvensi internasional yang secara tegas mengakomodasi mediasi
sebagai sarana penyelesaian sengketa pencemaran udara lintas batas adalah
Vienna Convention. Pasal 11 ayat 2 Vienna Convention menyatakan: "If the
Parties concerned cannot reach agreement by negotiation, they may jointly
seek the good offices of, or request mediation by, athird party".
Prospek keberhasilan penyelesaian sengketa lingkungan internasional
melalui mediasi tergantung pada kemauan para pihak untuk membuat
konsensus yang perlu. Mediator memainkan peranan penting dalam
mengupayakan pencapaian kesepakatan. Sengketa lingkungan yang pelik
dapat mengakibatkan para pihak enggan membicarakan berdasarkan alasan
posisi mereka yang "sulit dirundingkan". Terhadap situasi demikian solusi
yang dikembangkan adalah penyelidikan ("inquiry").
3. Penyelidikan
Penyelidikan secara luas menunjuk pada proses "settlement of disputes"
yang dilakukan institusi otoritatif mengenai fakta sengketa. Penyelidikan
menjadi komponen utama konsiliasi, arbitrasi, dan tindakan pihak ketiga
lainnya (organisasi internasional). Penyelidikan diterima pula sebagai
institusi peradilan internasional tertentu yang dikenal dengan nama
"Commission-of-lnquiry'259 atau "Inquiry Commission'26o yang
diperkenalkan melalui "The Hague Convention for Peaceful Settlement"
tahun 1899 dan 1907,261 Hasil kerja "Commission-ofInquiry" berupa
laporan, bukan putusan.
4. Konsiliasi
Konsiliasi dapat diartikan secara luas`dan sempit. Dalam arti luas,
konsiliasi adalah merupakan metode penyelesaian sengketa Internasional
secara damai dengan bantuan negara lain atau badan yang tidak memihak.
Sedangkan dalam arti sempit konsiliasi adalah pengajuan sengketa kepada
suatu komisi untuk membuat laporan mengenai usul penyelesaian sengketa
bagi para pihak yang tidak mengikat.
Konsiliasi telah mendapat posisi tersendiri di antara prosedur
penyelesaian sengketa lingkungan internasional. Konsiliasi sanggup
memenuhi kebutuhan yang dapat diterima para pihak dan memperlihatkan
kelebihan yang berasal dari struktur keterlibatan pihak ketiga dalam
menyelesaikan sengketa. Namun, dalam realitasnya konsiliasi tidak banyak
dipakai. Kecenderungan yang menggejala adalah mencuatnya aktivitas
penyelesaian sengketa internasional yang lebih fleksibel dengan
menerapkan lebih dari satu metode: negosiasi, mediasi, inquiry, konsiliasi,
dan jasa-jasa baik secara kombinasi.
5. Arbitrasi
Arbitrasi internasional adalah lembaga yang sudah tua meskipun sejarah
modernnya baru diakui sejak dicetuskannya Traktat Antara Amerika Serikat
dan Inggris tahun 1794 yang menetapkan pembentukan komisi untuk
mengatur sengketa yang tidak dapat diselesaikan selama perundingan.
Perkembangan yang amat penting terjadi tahun 1899 ketika Konferensi Den
Haag mengkodifikasikan arbitrasi dan menetapkan The Permanent Court of
Arbitration.
The Permanent Court of Arbitration digunakan sebagai lembaga
penyelesaian sengketa lingkungan internasional yang telah berhasil
membentuk hukum dan praktik arbitrasi dalam berbagai traktat multilateral
maupun bilateral serta persetujuan-persetujuan ad hoc. Pada hakikatnya
arbitrasi internasional merupakan prosedur konsensual untuk menghasilkan
penyelesaian sengketa atas pilihan yang berlandaskan persetujuan: negara
yang berseteru tidak dapat dipaksa agar menyelesaikan sengketa secara
arbitrasi, kecuali mereka menyetujuinya.
Arbitrasi telah menjadi institusi utama hukum lingkungan internasional.
Sengketa-sengketa lingkungan mengenai penafsiran atau penerapan
ketentuah perjanjian internasional dapat diserahkan kepada badan arbitrasi
untuk diselesaikan.Penyelesaian sengketa lingkungan internasional secara
arbitrasi berarti terdapat penyerahan penyelesaian kepada arbitrator
(individual atau institusional) yang dipilih secara bebas oleh para pihak.
Sengketa lingkungan pencemaran udara lintas batas yang monumental
dan penyelesaiannya menggunakan jalur arbitrasi adalah "Trail Smelter
Case" (United States of America v. Canada). Prosedur arbitrasi internasional
dapat dipadukan dengan proses "fact finding" yang tersedia dalam negosiasi,
jasajasa baik, "inquiry", konsiliasi dan mediasi. Setiap sengketa lingkungan
internasional selalu ada tempat bagi arbitrasi yang efektivitasnya tergantung
pada tingkah laku yang bertanggung jawab dari negara yang berkonflik
dalam koridor "the relations of nations". Arbitrasi (internasional) digagas
lebih tepat daripada penyelesaian yudisial.6

SUMBER
Hadi Sudharto. 2014. Bunga Rampai Manajemen Lingkungan. Yogyakarta:
Thalia Media
Al-Adawiyah, Shafa Fatiy, KEBIJAKAN HUKUM LINGKUNGAN
INTERNASIONAL ATAS PERISTIWA KEBAKARAN HUTAN DI
INDONESIA, Universitas Darussalam Gontor
Syarif, Laode M., Kadek Sarna. 2014. Hukum Lingkungan. Amerika: USAID
Arif, Anggraeni. 2016. Analisis Yuridis Pengrusakan Hutan (Deforestasi) dan
Degradasi Hutan terhadap Lingkungan. Jurispridentie Volume 3 Nomor 1
Fadli, Moh., Mukhlish, Mustafa Lutfi. 2016. Hukum dan Kebijakan Lingkungan.
Malang: UB Press

6
Moh. Fadli, Mukhlish, Mustafa Lutfi, Hukum dan Kebijakan Lingkungan, (Malang: UB
Press, 2016), hal 123-132.