Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

KELARUTAN DAN KOEFISIEN AKTIVITAS ELEKTROLIT KUAT

A. TUJUAN
1. Mengukur kelarutan barium iodat dalam larutan KCl dengan berbagai kekuatan
ion.
2. Menghitung kelarutan barium iodat ada I = 0 dengan jalan ekstrapolasi.
3. Menghitung koefisien aktivitas rata-rata barium iodat pada berbagai nilai I dan
menguji penggunaan hukum Debye-Huckle.

B. DASAR TEORI
Bronsted, Bjerrum dan other memperlihatkan bahwa laju reaksi ionik
bergantung pada kekuatan ionik dari larutan, karena kekuatan ionik dari larutan
dapat dirubah dengan penambahan garam ionic, ini dikenal sebagai efek garam
primer. Jika ion bermuatan sama (bermuatan positif), dan komplek teraktivasi
membentuk muatan rangkap positif. Molekul-molekul pelarut didekat ion
disebabkan oleh gaya elektrotatik kuat, yang membatasi kebebasan gerak
mereka. Efek ini disebut solver binding atau electrostriction, akibatnya
pengurangan dalam entropi. Jika ion muatan sama faktor frekwensi lebih kecil dari
pada normal.
Dalam suatu reaksi antara ion-ion berlawanan muatan, muatan terasosia
dengan komplek aktifasi menurun, akibatnya menurunkan elektrichor dan entropy
aktivasi positif (Budi Santosa, 2006).
Salah satu cara untuk menunjukkan hubungan antara kekuatan ion dan
aktvitas ion adalah mempelajari perubahan kelarutan elektrolit yang sedikit larut
(misalnya Ba (IO3)2) sebagai aikbat adanya penambahan elektrolit lain (bukan ion
senama, misalnya KCl). Agar hukum Debye-Huckel dapat diterapkan, konsentrasi
larutan elektrolit sedikit larut tersebut harus diukur dengan tepat walaupun
konsentrasinya rendah. Selain itu kelarutannya dalam air harus berada dalam
batas kisaran hukum Debye-Huckel, yaitu kelarutan ion<0,01 M untuk elektrolit 1-1
(uni-univalen).

Salah satu elektrolit yang memenuhi kriteria di atas adalah Ba(IO 3)2 yang
konsentrasinya dapat di tentukan dengan menggunakan metode volumetrik yang
sederhana. Dengan menganalisis data yang diperoleh akan didapat koefisien
ativitas rata-rata (γ±).
Aktivitas atau koefisien aktivitas suatu individu ion secara percobaan tidak
dapat ditentukan, karena itu di definisikan aktivitas rata-rata a±, dan koefisien
aktivitas rata –rata y ± yang untuk elektrolit 1-2 (uni-bivalen) didefinisikan sebagai
berikut:

a± = (a+ a-2)1/3………………………………………..(1)

γ ± = (γ + γ -2)1/3 ……………………………………..(2)

c± = (c+ c-2)1/3 ……………………………………….(3)

Bila nilai konsentrasi (c) dinyatakan dalam mol/liter, maka berdasarkan definisi
diatas di peroleh:

a± = γ ±.c± = Ka1/3 = konstan……………………………….(4)

Dalam hal ini, a adalah hasil kali aktivitas kelarutan yang dapat di turunkan
sebagai berikut:

Ba(IO3)2 Ba2+ + 2IO3-

Ka = aBa 2+ .a IO
2

3
(5)
……………………………..

Misalnya dalam larutan terdapat elektrolit lain yang tidak mengandung ion senama
dengan Ba(IO3)2 (misal KCl) dan anggap kelarutan Ba(IO 3)2 dalam air adalah s
mol/liter, maka c+ (konsentrasi ion Ba2+ dalam larutan) = s mol/liter dan c-
(konsentrasi ion IO3- dalam larutan)= 2s mol/liter.

Dari persamaan (3) akan diperoleh:

c± = 1,59 s …………………………………..(6)

Dengan menggabungkan persamaan (6) dengan persamaan (4) diperoleh

s γ ± = (Ka1/3/1,5) = konstanta = so…………………(7)


Dalam hal ini so adalah kelarutan teoritis bila y± mendekati 1 satu (=1) yaitu
pada keadaan dimana kekuatan ion sama dengan nol (I=0). Karena y± selalu
menurun dengan meningkatnya kekuatan ion, maka baik kelarutan dan hasil kali
kelarutan, Ksp (dinyatakan dalam konsentrasi, bukan dalam aktivitas) dari
elektrolit yang sedikit larut akan meningkat dengan adanya penambahan elektrolit
lain yang tidak mengandung ion senama. Jika nilai so dapat ditentukan dengan
jalan ekstrapolasi ke kekuatan ion sama dengan nol, maka y± pada berbagai
konsentrasi akan dapat dihitung (γ± = so/s).
Pada larutan elektrolit, s bergantung pada kekuatan ion yang didefinisikan
sebagai:
I =1 / 2∑ci Z i2
(8)
………………………….

Keterangan:
ci = konsentrasi ion ke-i dalam mol/liter
zi = muatan ion ke-i
Kekuatan ion (I) harus dihitung berdasarkan semua ion yang berada di
dalam larutan. Nilai I terendah yang dapat digunakan untuk mengukur kelarutan
dibatasi oleh kelarutan elektrolit dalam air. Ekstrapolasi ke kekuatan ion sama
dengan nol, dilakukan berdasarkan teori Debye-Huckle untuk elektrolit kuat.
Teori Debye-Huckle menyatakan bahwa untuk larutan dengan kekuatan ion
yang rendah (I<0,01) untuk eletrolit univalen (1-1), koefisien aktivitas rata-rata
suatu elektrolit yang berdisosiasi menjadi ion bermuatan Z+ dan Z- dapat dihitung
dengan menggunakan persamaan:
Log γ ± = -A|Z+.Z-| I )…………………..…(9)
A = tetapan dan untuk larutan dengan pelarut air pada suhu 25°C nilainya adalah
0,509. Gabungan persamaan (7) dan (9) untuk Ba(IO3)3 diperoleh:
Log s = log so + 2A I ……………………..(10)

Jadi, pada kekuatan ion yang rendah kurva log s sebagai fungsi I akan berupa
garis lurus.(Tim Dosen Kimia Fisika.2012)

C. ALAT DAN BAHAN


1. Alat:
1. Labu erlenmeyer 250 ml 4. Labu takar 250 ml
2. Buret 5. Labu takar 100 ml
3. Pipet 25 ml
2. Bahan
KCl 0,1 M
Ba(IO3)2 (dapat disiapkan dari pencampuran NaIO3 dan BaCl2)
Na2S2O3 0,01 M
HCl 1 M
KI 0,5 g/L
Kanji
D. CARA KERJA

E. HASIL DAN PEMBAHASAN


Percobaan Kelarutan Dan Koefisien Aktivitas Elektrolit Kuat ini memiliki
tujuan untuk mengukur kelarutan barium iodat dalam larutan KCl dengan berbagai
kekuatan ion, menghitung kelarutan barium iodat pada I = 0 dan menghitung
koefisien aktivitas rata-rata barium iodat pada berbagai I serta menguji
penggunakan hukum Debye-Huckle.
Berdasarkan dari teori Debye-Huckle Untuk menunjukkan antara kekuatan
ion dan aktivitas ion dapat dilihat dari perubahan kelarutan elektrolit yang sedikit
larut dalam air, dalam hal ini Ba(IO 3)2., dimana suatu diasumsikan bahwa suatu
electrolit kuat akan berdisosiasi secara sempurna mejadi ion-ionnya. Selain itu
juga diasumsikan bahwa pada konsenntrasi yang sangat encer interaksi yang
terjadi antara ion-ion yang terdapat dalam larutan hanya gaya tarik-menarik atau
gaya tolak-menolak.
Salah satu cara untuk melihat bagaimana ketergantungan aktivitas ion
pada kekuatan ion adalah dengan jalan mempelajari perubahan kelarutan elektrolit
yang sedikit larut,dimana pada percobaan ini digunakan larutan barium
iodat,sebagai akibat adanya penamabahn elektrolit lain. Elektrolit yang
ditambahkan disini bukanlah suatu elektrolit dengan ion senama dengan baiun
iodat, tapi pada percobaan ini digunakan larutan KCl. Agar hukum Debye-Huckle
konsentrasi barium iodat yang digunakan harus berada dalam konsentrasi yang
rendah,yaitu kelarutan ion < 0,01.
Untuk melihat dan mengukur kelarutan barium iodat (Ba(IO 3)2 dalam
larutan KCl dilakukan dalam prcobaan diamati kelarutan 7 buah labu barium iodat
pada penambahan KCl dengan konsentrasi 0,1; 0,05; 0,02; 0,01; 0,005; dan 0,002
masing-masing 25mL. Dan sebagai perbandingan diamati kelarutan barium iodat
jika larutan barium iodat tidak ditambahkan elektrolit lain,yaitu pada labu ketujuh
hanya ditambahkan air sebanyak 25mL. Kemudian pada masing masing labu ini
ditambahkan Barium Iodat secukupnya,yaitu penambahan dilakukan sedikit demi
sedikit dan penambahan dihentikan jika diamati larutan sudah tepat jenuh,dengan
catatan sealama penambahan larutan terus diaduk agar Barium Iodat yang
ditambahkan dapat larut dengan segera. Agar barium iodat tidak menguap maka
setelah penambahan barium iodat,labu harus segera ditutup. Setelah larutan
dipanaskan selama kurang lebih satu menit larutan kemudian didiamkan selama
satu hari dan setelah itu larutan disaring sehingga barium iodat yang tidak larut
tersaring oleh kertas saring. Kemudian masing masing labu diambil masing
masing 5ml larutan dan dilakukan titrasi terhadap laruatan tersebut menggunakan
larutan Natrium tiosulfat,Na2S2O3. Dan digunakan indikator kanji 1%, dan titik akhir
titrasi tercapai setelah warna biru hitam menghilang.
Dari percobaan yang telah dilakukan didapat hasil volume tiosulfat yang
digunakan untuk titrasi sebanyak 7,1; 8,3; 9,5; 10,0; 12,0; 13,8 dan 21 ml. Dari
data yang diperoleh ini dapat ditentukan konsentrasi dari ion IO3- , kelarutan dari
barium iodat(sebagaimana yang telah disebutkan), logaritma dari kelarutan (log
S),kurva log S, intensitas rata-rata,koefisien aktivitas rata-rata dan log dari
koefisien aktivitas rata-rata yang kemudian dapat dibuat kurva log γ+- sebagai
fungsi dari I ½ .
Nomor Konsentrasi Volume Konsentrasi Kelarutan Log s
Labu larutan KCl tiosulfat larutan (s)
Erlenmeyer (M) untuk jenuh IO3- Ba(IO3)2
titrasi (mL) (M) (M)
1 0,1 7.2 0.350 0.175 -0.75
2 0,05 8.3 0.150 0.075 -1.12
3 0,02 9.7 0.050 0.025 -1.60
4 0,01 10.5 0.026 0.013 -1.8
5 0,005 12.2 0.0099 0.045 -1.346
6 0,002 13.5 0.003 0.001 -3
7 0.001 8 - - -
Nomor Labu Kekuatan Ion so/s = γ± Log γ±
Erlenmeyer (I)
1 0.362 0.601 0.242 -0.616
2 0.160 0.4 0.386 -0.4134
3 0.057 0.238 0.562 -0.25
4 0.029 0.170 0.670 -0.17
5 0.010 0.1 0.764 -0.116
6 0.004 0.006 0.851 -0.070
7 - - - -
Dari data yang didapat ini dapat diketahui bahwa kelarutan barium iodat
dipengaruhi oleh banyaknya KCl yang ditambahkan, semakin besar konsentrasi
KCl yang dimasukkan maka semakin kecil kelarutan dari barium iodat. Dan
didapat kelarutan barium iodat yang paling besar adalah terdapat pada labu nomor
tujuh, yaitu pada labu dimana hanya barium iodat yang terdapat di dalam larutan
tanpa ada penambahan dari KCl.Setelah dilakkan analisis dan perhitungan pada
tersebut diperoleh hail seperti dalam table data pengamatan. Dari hasil tersebut
dapat diperoleh Kekuatan Ion dan Aktivitas Ion serta kelarutannya. Reaksi yang
terjadi pada saat titrasi adalah sebagai berikut.
IO3- + 8H+ + 6 H+ → 3 I3- + 3H2O
I3- + 2 S2O3- → S4O6- + 3 I-
Sebagai akibat penambahan elektrolit lain bukan senama KCl, dari hasil
perhitungan diperoleh grafik hubungan I terhadap kelarutan. Dapat dilihat
bahwa kelarutan akan naik dengan naiknya konsentrasi. Demikian juga
sebaliknya, dari grafik plot log s terhadap I diperoleh persamaan regresi linear y

= 1.650x – 1,125 yang sebanding dengan persamaan log s = 2A I + log so.


Dengan jalan ekstrapolasi (x = 0) diperoleh log s = 1,125 dan kelarutan (s) =
0,0749
Dari percobaaan yang telah dilakukan diperoleh grafik sebagai berikut:
Gambar 1. Grafik Log S vs

Gambar 2. Grafik Log (So/s) vs

Kelarutan pada larutan elektrolit bergantung pada kekuatan ion, dimana


kelarutan semakin meningkat dengan meningkatnya kekuatan ion. Teori Debye-
Huckle memprediksi bahwa logaritma koefisien ionik rata-rata adalah fungsi linear
dari akar pangkat dua kekuatan ionik dan slopenya bernilai negatif. Koefisien
aktivitas ionik hanya bergantung pada muatan ion dan konsentrasinya. Hubungan
antara keduanya dapat dilihat dari grafik yang diperoleh dari hasil perhitungan.
Sesuai grafik dapat dilihat bahwa koefisien aktivitas ionik rata-rata naik dengan
turunnya kekuatan ion.

F. KESIMPULAN DAN SARAN


1. Kesimpulan
a. Semakin kecil konsentrasi KCl akan semakin besar volume larutan Na2S2O3
yang dibutuhkan
b. Semakin besar konsentrasi KCl, semakin besar pula kekuatan ion.
c. Harga koefisien aktifitas rata-rata cenderung menurun dengan
meningkatnya kekuatan ion

2. Saran
a. Praktikan hendaknya melakukan persiapan secara matang.
b. Praktikan lebih teliti dalam melakukan pengamatam
c. Alat yang digunakan sesuai dengan standar.
d. Pada percobaan setelah dilakukan pelarutan barium iodat kedalam labu
erlenmeyer,maka labu erlenmeyer harus segera ditutup agar barium iodat
tidak menguap.

G. DAFTAR PUSTAKA
Budi Santosa, Nurwachid. 2006. KIMIA FISIKA II. Semarang: Jurusan Kimia
FMIPA UNNES
Tim Dosen Kimia Fisika. 2012. Petunjuk Praktikum Kimia Fisik. Semarang.
Jurusan Kimia FMIPA UNNES.

Mengetahui, Semarang, 21 November 2012


Dosen Pengampu Praktikan

Ir. Sri Wahyuni, M.Si Siti Nursiami


NIM 4301410002
H. JAWABAN PERTANYAAN
1. T = 25°C
Konstanta dielektrik = 78,5
e = 1,6. 10-19
NA = 6,02.10-23 mol
k = 1,381.10-23 J/mol
A = ......?
H2O H+ + OH-
I = ½ (10-7 + 10-7) = 10-7
1/ 2
e 3 Z1 • Z 2  2πN A 1 
ln γ ± = × 
[ KT ] 3 / 2  100 

= 9,5387.10-56.

2. I= ½ [ c+ ] [ c- ]2
0.01 = ½ c2
0.02 = c2
C = 0.141
c± = ( c+c-2)1/3
= ( 0.141x0.1412)1/3
= 0.141
Log γ ±= -A|Z+.Z-| I )
= -0.509| +1.-2|0.011/2)
= -0.1018
γ± = 0.791
a± = γ ±.c± = 0.791x0.141 = 0.11153
I. DATA PENGAMATAN
Nomor Konsentrasi Volume Konsentrasi Kelarutan (s) Log s
Labu larutan KCl tiosulfat untuk larutan jenuh IO3- Ba(IO3)2 (M)
Erlenmeyer (M) titrasi (mL) (M)
1 0,1 7.2 0.350 0.175 -0.75
2 0,05 8.3 0.150 0.075 -1.12
3 0,02 9.7 0.050 0.025 -1.60
4 0,01 10.5 0.026 0.013 -1.8
5 0,005 12.2 0.0099 0.045 -1.346
6 0,002 13.5 0.003 0.001 -3
7 0.001 8 - - -
Suhu larutan dalam erlenmeyer = 28 oC
Standarisasi tiosulfat = 5 ml larutan KIO3 (0,0769gram dalam 100 ml)
Memerlukan 2 ml tiosulfat untuk netralisasi.

Nomor Labu Kekuatan Ion so/s = γ± Log γ±


Erlenmeyer (I)
1 0.362 0.601 0.242 -0.616
2 0.160 0.4 0.386 -0.4134
3 0.057 0.238 0.562 -0.25
4 0.029 0.170 0.670 -0.17
5 0.010 0.1 0.764 -0.116
6 0.004 0.006 0.851 -0.070
7 - - - -

J. Analisa Data

A. Erlenmeyer 1
1. Konsentrasi larutan jenuh IO3-
V lar dlm Erleneyer = V1 = 25 ml
[ KCl ] = M1 = 0,1 M
V tiosulfat = V2 = 7,5 ml
V1.M1 = V2.M2
25 ml x 0.1 M = 7,1 ml x M2
M2 = 0,352 M
Jadi, konsentrasi larutan jenuh IO3- = 0,352 M
2. Kelarutan Ba(IO3)2
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
s s 2s
[ IO3- ] = 0.352 M = 2s
s = 0.352/2 = 0,176 M
Jadi, Kelarutan Ba(IO3)2 = s = 0.176 M
3. Log s
Log s = Log 0.176 = -0,754
4. Kekuatan ion (I)
KCl K+ + Cl-
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
I = ½ {[K+] + [Cl-] + [IO3-] +[Ba2+]}
= ½ ( 0.1 + 0.1 + 0.352 + 0.176 )
= 0,364
1/2
5. I = 0.3641/2 = 0,603
6. log so = log s - |2A- I |
= - 0,754 – ( 2 x 0.509 x 0.603)
= - 1,369
so = antilog -1,369
= 0,043
7. so/s = y± = 0,043 /0.176
= 0,243
8. log y± = log 0,26 = - 0,614
B. Erlenmeyer 2
1.Konsentrasi larutan jenuh IO3-
V lar dlm Erleneyer = V1 = 25 ml
[ KCl ] = M1 = 0.05 M
V tiosulfat = V2 = 8,3 ml
V1.M1 = V2.M2
25 ml x 0.05 M = 8,3 ml x M2
M2 = 0,151 M
Jadi, konsentrasi larutan jenuh IO3- = 0,151 M
2. Kelarutan Ba(IO3)2
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
s s 2s
[ IO3- ] = 0,151 M = 2s
s = 0,151/2 = 0,075 M
)
Jadi, Kelarutan Ba(IO 32 = s = 0,075 M
3. Log s
Log s = Log 0,075 = -1,123
4. Kekuatan ion (I)
KCl K+ + Cl-
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
I = ½ {[K+] + [Cl-] + [IO3-] +[Ba2+]}
= ½ ( 0,05 + 0,05 + 0,151+ 0,075 )
= 0,163
1/2
5. I = 0,161/2 = 0,404
6. log so = log s - |2A- I |
= - 1,12 – ( 2 x 0,509 x 0,404)
= -1,534
so = antilog -1,534
= 0,029
7. so/s = y± = 0,0292 / 0,075
= 0,388
8. log y± = log 0,388 = - 0,411
C. Erlenmeyer 3
1.Konsentrasi larutan jenuh IO3-
V lar dlm Erleneyer = V1 = 25 ml
[ KCl ] = M1 = 0,02 M
V tiosulfat = V2 = 9.5 ml
V1.M1 = V2.M2
25 ml x 0.02 M = 9. 5ml x M2
M2 = 0,053 M
Jadi, konsentrasi larutan jenuh IO3- = 0,053 M
2. Kelarutan Ba(IO3)2
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
s s 2s
[ IO3- ] = 0,053 M = 2s
s = 0,053/2 = 0,026 M
)2
Jadi, Kelarutan Ba(IO3 = s = 0,026 M
3. Log s
Log s = Log 0,026 = - 1,580
4. Kekuatan ion (I)
KCl K+ + Cl-
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
I = ½ {[K+] + [Cl-] + [IO3-] +[Ba2+]}
= ½ ( 0,02 + 0,02 + 0,053 + 0,026 )
= 0,059
5. I1/2 = 0,051/2 = 0,244
6. log so = log s - |2A- I |
= - 1,580 – ( 2 x 0.509 x 0,244)
= - 1,828
so = antilog -1,828
= 0,015
7. so/s = y± = 0,015/ 0,026
= 0,565
8. log y± = log 0,565= - 0,248
D. Erlenmeyer 4
1. Konsentrasi larutan jenuh IO3-
V lar dlm Erleneyer = V1 = 25 ml
[ KCl ] = M1 = 0.01 M
V tiosulfat = V2 = 10 ml
V1.M1 = V2.M2
25 ml x 0,01 M = 10 ml x M2
M2 = 0,025 M
Jadi, konsentrasi larutan jenuh IO3- = 0,025 M
2. Kelarutan Ba(IO3)2
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
s s 2s
[ IO3- ] = 0,025 M = 2s
s = 0,025/2 = 0,013 M
Jadi, Kelarutan Ba(IO3)2 = s = 0,013 M
3. Log s
Log s = Log 0,013 = -1.903
4. Kekuatan ion (I)
KCl K+ + Cl-
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
I = ½ {[K+] + [Cl-] + [IO3-] +[Ba2+]}
= ½ ( 0,01 + 0,01 + 0,025 + 0,013 )
= 0,029
5. I1/2 = 0,0291/2 = 0,170
6. log so = log s - |2A- I |
= - 2 – ( 2 x 0,509 x 0,170)
= - 2,076
so = antilog -2,076
= 0,008
7. so/s = y± =0,008/ 0,013
= 0,672
8. log y± = log 0,672= - 0,173
E. Erlenmeyer 5
1. Konsentrasi larutan jenuh IO3-
V lar dlm Erleneyer = V1 = 25 ml
[ KCl ] = M1 = 0.005 M
V tiosulfat = V2 = 12 ml
V1.M1 = V2.M2
25 ml x 0,005 M = 12 ml x M2
M2 = 0,010 M
Jadi, konsentrasi larutan jenuh IO3- = 0,010 M
2. Kelarutan Ba(IO3)2
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
s s 2s
[ IO3- ] = 0,01 M = 2s
s = 0,01/2 = 0,005 M
)
Jadi, Kelarutan Ba(IO 32 = s = 0,005 M
3. Log s
Log s = Log 0,005 = -2,283
4. Kekuatan ion (I)
KCl K+ + Cl-
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
I = ½ {[K+] + [Cl-] + [IO3-] +[Ba2+]}
= ½ ( 0,005 + 0,005 + 0,01 + 0,005 )
= 0,013
5. I1/2 = 0,0131/2 = 0,113
6. log so = log s - |2A- I |
= - 2,283 – ( 2 x 0,509 x 0,113)
= -2,399
so = antilog -2,399
= 0,004
7. so/s = y± =0,004 /0,005
= 0,767
8. log y± = log 0,767= - 0,115
F. Erlenmeyer 6
1. Konsentrasi larutan jenuh IO3-
V lar dlm Erleneyer = V1 = 25 ml
[ KCl ] = M1 = 0.002 M
V tiosulfat = V2 = 13,8ml
V1.M1 = V2.M2
25 ml x 0,002 M = 13,8 ml x M2
M2 = 0,004 M
Jadi, konsentrasi larutan jenuh IO3- = 0,004 M
2. Kelarutan Ba(IO3)2
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
s s 2s
[ IO3- ] = 0,004 M = 2s
s = 0,004/2 = 0,002 M
)
Jadi, Kelarutan Ba(IO 32 = s = 0,002 M
3. Log s
Log s = Log 0,002= - 2,83
4. Kekuatan ion (I)
KCl K+ + Cl-
Ba(IO3)2  Ba2+ + 2 IO3-
I = ½ {[K+] + [Cl-] + [IO3-] +[Ba2+]}
= ½ ( 0,002 + 0,002 + 0,004 + 0,002)
= 0,005
5. I1/2 = 0,0051/2 = 0,069
6. log so = log s - |2A- I |
= - 2,8 – ( 2 x 0,509 x 0,069)
= - 2,812
so = antilog -2,812
= 0,0015
7. so/s = y± = 0,002 / 0,0015
= 0,851
8. log y± = log 0,851 = - 0,070
G. Erlenmeyer 7
Air
Standarisasi Na.tiosulfat
5 ml larutan KIO3 ( 0.0769 gram dalam 100ml )
M = gr.1000/(Mr.V)
= 0.0769x1000/ (214x100)
= 0.00359 mol/lt
Titrasi dengan Na.tiosulfat
V1 = V KIO3 = 5ml
M1 = M KIO3 = 0.00359 mol/lt
V2 = V Na.tiosulfat = 2.1 ml ( dari titrasi )
M1 x V1 = M2 x V2
0.00359 M x 5 ml = M2 x 2.1 ml
M2 = 0.00855 mol/lt = konsentrasi Na.tiosulfat