Anda di halaman 1dari 19

1

UPAYA HUKUM PERLAWANAN PIHAK KETIGA


(DERDEN VERZET) TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN
YANG BERKEKUATAN HUKUM TETAP DALAM
PERKARA PERDATA

Oleh :

Bendesa Made Cintia Buana, S.H., M.H.


E-mail: cintiabuana@yahoo.com

Abstract
In any civil activity always bore legal consequences for the parties concerned. But
there are times when the parties are not able to carry out the legal consequences. So that
there arises a civil case that later settled in the district court where the legal events that
occurred. Starting from the existence of a lawsuit filed by the plaintiff, then the plaintiff and
defendant mutually upfront faced trial. From this civil proceedings conducted until the final
stage of the court decision.

Keywords : Remedies, Resistance third party, Civil Case.

JURNAL RECHTENS, Vol. 3, No. 2, Desember 2014


2

PENDAHULUAN atau hukumnya saja, melainkan juga


realisasi atau pelaksanaannya (eksekusinya)
Pada setiap kegiatan dalam bidang secara paksa. Kekuatan mengikat saja dari
keperdataan selalu melahirkan akibat hukum suatu pengadilan belum cukup dan tidak
bagi para pihak yang berkepentingan. berarti apabila putusan itu tidak dapat
Namun adakalanya para pihak tidak mampu direalisir atau dilaksanakan. Oleh karena
melaksanakan akibat hukum tersebut, putusan itu menetapkan dengan tegas hak
contoh ketika terjadi kredit macet sebagai atau hukumnya untuk kemudian direalisir,
suatu keadaan dimana nasabah tidak mampu maka putusan hakim mempunyai kekuatan
membayar lunas kredit bank tepat pada eksekutorial, yaitu kekuatan untuk
waktunya. Untuk itu timbul suatu perkara dilaksanakannya apa yang ditetapkan dalam
perdata yang kemudian diselesaikan pada putusan itu secara paksa oleh alat-alat
pengadilan negeri dimana peristiwa hukum Negara.1
itu terjadi. Setelah putusan tersebut inkrach, pada
Dimulai dari adanya gugatan yang tenggang waktu yang telah ditentukan dalam
diajukan oleh penggugat (kreditur), undang-undang, terdapat kesempatan bagi
kemudian pihak penggugat dan tergugat pihak yang merasa dirugikan untuk
saling dihadapkan dimuka persidangan. Dari mengajukan upaya hukum. Namun hal ini
sini proses beracara perdata dilaksanakan tidak hanya melibatkan para pihak yang
sampai pada tahap final putusan pengadilan. berperkara, bisa saja dan dimungkinkan
Putusan hakim lazimnya merupakan pada putusan pengadilan tersebut juga
finalitas dari suatu perkara perdata, demi menimbulkan akibat hukum pada pihak lain
memberikan kepastian hukum dan keadilan yang tidak ikut berperkara atau lebih dikenal
para pihak. Sebagaimana Undang-Undang dengan pihak ketiga. Sehingga pihak ketiga
kekuasaan kehakiman menyatakan bahwa dapat mengajukan upaya hukum perlawanan
hakim wajib menggali, mengikuti, dan (verzet).
memahami nilai-nilai hukum dan rasa Perlawanan (Verzet) merupakan upaya
keadilan yang hidup dalam masyarakat. hukum terhadap putusan yang dijatuhkan
Sejalan dengan hal tersebut Sudikno diluar hadirnya tergugat (Pasal 125 ayat 3
Mertokusumo berpendapat bahwa suatu jo. 129 HIR, 149 ayat 3 jo. 153 RBg). Pada
putusan dimaksudkan untuk menyelesaikan asasnya perlawanan ini disediakan bagi
suatu persoalan atau sengketa dan pihak tergugat yang (pada umumnya)
menetapkan hak atau hukumnya. Ini tidak
1 Sudikno Mertokusumo, 2006, Hukum Acara
berarti semata-mata hanya menetapkan hak Perdata Indonesia, Liberty, Yogyakarta. hal. 219

JURNAL RECHTENS, Vol. 3, No. 2, Desember 2014


3

dikalahkan. Pada asasnya suatu putusan itu Berdasarkan latar belakang yang
hanyalah mengikat para pihak yang telah diuraikan, maka permasalahan
berperkara dan tidak dapat mengikat pihak dirumuskan sebagai berikut :
ketiga (Pasal 1917 BW). Akan tetapi bila 1. Apakah putusan pengadilan yang
pihak ketiga hak-haknya dirugikan oleh berkekuatan hukum tetap selalu dapat
suatu putusan maka ia dapat mengajukan dieksekusi?
perlawanan terhadap putusan tersebut 2. Apakah yang menjadi prinsip hukum
(Pasal 378 RV). bagi pihak ketiga dalam melakukan
Perlawanan ini diajukan pada Hakim upaya hukum perlawanan terhadap
yang menjatuhkan putusan yang dilawan itu putusan yang berkekuatan hukum tetap?
dengan menggugat para pihak yang 3. Apakah pihak ketiga dapat menjadi
bersangkutan dengan acara biasa (Pasal 379 pelawan atas putusan pengadilan
RV). Pihak ketiga yang hendak mengajukan berkekuatan hukum tetap terhadap
perlawanan terhadap suatu putusan tidak perkara perdata ?
cukup hanya mempunyai kepentingan saja,
Metode Penelitian
tetapi harus nyata-nyata telah dirugikan hak-
haknya. Penelitian merupakan suatu sarana
Apabila perlawanannya itu dikabulkan pokok dalam pengembangan ilmu
maka putusan yang dilawan itu diperbaiki pengetahuan maupun teknologi. Penelitian
sepanjang merugikan pihak ketiga ( Pasal memiliki tujuan untuk mengungkapkan
382 RV). Istilah asli yang dipergunakan kebenaran secara sistematis, metodologis
dalam HIR atau Rv adalah ”verzet”. Apabila dan konsisten, termasuk penelitian hukum.
yang mengajukan pihak ketiga, dia Penelitian hukum berbeda dengan penelitian
dirangkai menjadi istilah ”Derden Verzet”. sosial karena hukum tidak termasuk kategori
Begitu juga dalam asli yang dirumuskan ilmu sosial. Ilmu hukum adalah sui generis2
dalam Pasal 195 ayat (6) HIR dipergunakan artinya hukum merupakan ilmu yang
istilah ”verzet”. Jika yang mengajukan salah mempunyai karakter sendiri.
satu pihak yang bersengketa itu sendiri, Metode pendekatan masalah yang
dirangkai menjadi ”Partai Verzet”. Akan digunakan, adalah pendekatan Perundang-
tetapi perangkaian dimaksud hanya untuk undangan (statute approach), yaitu suatu
membedakan kapasitas atau kedudukan pendekatan yang dilakukan dengan segala
pihak yang mengajukan perlawanan. Sedang
dalam praktek, secara umum disebut saja 2 Philipus M. Hadjon, Tatik Sri Djatmiati, 2005,
Argumentasi Hukum, GajahMadaUniversity
verzet. Press, Yogyakarta, hal. 1.

JURNAL RECHTENS, Vol. 3, No. 2, Desember 2014


4

peraturan perundang-undangan yang terkait merupakan kewajiban moral yang mengikat


dengan isu-isu hukum yang diteliti. para anggota dari suatu masyarakat. Plato
Pendekatan Konsep (conceptual approach) dalam bukunya Republic mengemukakan
yaitu beranjak dari padangan sarjana dan adanya 4 kebajikan pokok, yakni:4
doktrin-doktrin hukum yang terkait dengan 1. Kearifan (wisdom)
isu-isu hukum. Pendekatan kasus (case 2. Ketabahan (courage)
approach) yaitu dilakukan dengan menelaah 3. Pengendali-dirian (discipline)
yurisprudensi / putusan pengadilan yang 4. Dan keadilan (justice)
telah berkekuatan hukum tetap. Dari Plato kemudian Aristoteles yang
merupakan murid dari plato
PEMBAHASAN mengembangkan tentang rumusan keadilan
yang membagi keadilan dalam 2 jenis yaitu
Putusan Hakim Yang Berkekuatan justitia correctiva (keadilan korektif/
Hukum Tetap Selalu Dapat Dieksekusi memperbaiki) dan justitia distributiva
(keadilan disteributif/membagi).5
Penegakan hukum dalam tataran
Sedangkan konsep keadilan John Rawls
masyarakat sebagai hal yang diutamakan
dalam pandangannya, keadilan diartikan
dan harus diwujudkan secara konkrit.
sebagai fairness yang mengandung asas-
Sebagaimana tujuan hukum adalah
asas, bahwa orang-orang yang merdeka dan
mencapai ketertiban, keadilan dan kepastian
rasional yang berkehendak untuk
hukum. Hukum selalu berkaitan dengan
mengembangkan kepentingan-kepentingan-
keadilan,3 sebagaimana yang pernah
nya hendaknya memperoleh suatu
dikatakan oleh Cicero” tidaklah mungkin
kedudukan yang sama pada saat akan
mengingkari karakter hukum sebagai hukum
memulainya dan itu merupakan syarat yang
yang tidak adil, sebab hukum seharusnya
fundamental bagi mereka untuk memasuki
adil”. Jadi walaupun tujuan hukum adalah
perhimpunan yang mereka kehendaki.6
kepastian hukum dan kemanfaatan hukum,
John Rawls berpendapat bahwa perlu
tetapi tujuan hukum yang paling subtantif
adanya keseimbangan, kesebandingan, dan
adalah keadilan.
keselarasan (harmoni) antara kepentingan
Konsep keadilan pertama kali
pribadi dengan kepentingan bersama atau
dicetuskan oleh Plato seorang filsuf asal
yunani. Dalam konsep ini keadilan
4 The Liang Gie,1979, Teori-Teori Keadilan,
Penerbit Super, Yogyakarta, hal. 8
3 Dominikus Rato,2010, Filsafat Hukum: Mencari, 5 Dominikus Rato, Opcit, hal 64
Menemukan, dan Memahami Hukum, Laksbang 6 Satjipto Rahardjo,2006, Ilmu Hukum, Citra Aditya
Justitia, Surabaya,hal 58-59 Bakti, Bandung, hal 163-165

JURNAL RECHTENS, Vol. 3, No. 2, Desember 2014


5

kepentingan masyarakat, termasuk juga di sendiri. Setelah semua proses dalam


dalamnya adalah Negara7. Konsep keadilan peradilan perdata dilalui, tentunya para
John Rawls dipusatkan pada susunan/ pihak yang terlibat sengketa menginginkan
struktur dasar masyarakat yang meliputi suatu kepastian hukum, yaitu putusan
semua institusi dan pranata sosial, politik, hakim.
hukum, budaya, dan ekonomi seperti Putusan adalah hasil akhir dari suatu
konstitusi, pemilikan pribadi atas sarana pemeriksaan perkara, yang terdiri atas
produksi, pasar kompetitif dan susunan duduk perkara, analisa fakta, analisa hukum
keluarga monogami.8 dan kesimpulan dari hakim, sehingga suatu
Untuk mencapai keadilan, hukum telah putusan juga mencerminkan tingkat
memberikan sarana bagi masyarakat yang intelektual bahkan tingkat moralitas dari
terlibat sengketa. Ada dua alternatif jalur hakim yang memutuskan perkara itu.
penyelesaian sengketa yang dapat ditempuh, Adalah tidak berlebihan bila kemudian
pertama, jalur litigasi yaitu penyelesaian orang menyatakan bahwa putusan adalah
sengketa dilakukan oleh lembaga peradilan mahkotanya hakim.
(in court dispute setlement). Kedua, jalur Dari segi keperluan praktek, maka
non litigasi yaitu penyelesaian sengketa putusan tersebut adalah akhir dari suatu
dilakukan di luar lembaga peradilan (out acara persidangan dan dilain pihak putusan
court dispute setlement). Pada penyelesaian merupakan titik tumpu dari suatu eksekusi.9
sengketa melalui lembaga peradilan, Prinsip lain yang mesti terpenuhi, putusan
biasanya dilakukan oleh seseorang yang tersebut memuat amar condemnatoir. Hanya
merasa dirugikan haknya dengan putusan yang bersifat condemnatoir yang
mengajukan tututan hak atau dikenal dengan dapat dieksekusi, yaitu putusan yang amar
gugatan ke pengadilan. atau diktumnya mengandung unsur
Proses di pengadilan tersebut meliputi “penghukuman”. Putusan yang amar atau
pengajuan tuntutan hak, pemeriksaan, diktumnya tidak mengandung unsur
putusan dan sampai pada pelaksanaan penghukuman, tidak dapat dieksekusi atau
putusan, yang keseluruhannya tunduk pada “nonekesekutabel”.
hukum acara perdata. Sebagaimana kita Sehubungan dengan prinsip ini, perlu
ketahui penyelesaian sengketa melalui diketahui adanya dua sifat yang terkandung
pengadilan adalah tindakan yang bijaksana dalam putusan :
dan menghindarkan diri dari main hakim a. Putusan yang Bersifat Condemnatoir

7 Dominikus Rato,Op.cit, hal 78 9 Mahkamah Agung RI, 2005, Bunga Rampai


8 Ibid, hal 81 Makalah Hukum Acara Perdata, hal 98

JURNAL RECHTENS, Vol. 3, No. 2, Desember 2014


6

Putusan yang bersifat condemnatoir Kebalikan dari putusan yang bersifat


ialah putusan yang mengandung tindakan condemnatoir ialah putusan “declaratoir”
“penghukuman” terhadap diri tergugat. Pada (declaratoir voniis).Pada putusan yang
umumnya putusan yang bersifat bersifat declaratoir, amar atau dictum
condemnatoir terwujud dalam perkara yang putusan, hanya mengandung “pernyataan”
berbentuk kontentiosa (Contentiosa). hukum, tanpa dibarengi dengan
Perkara yang disebut berbentuk kontentiosa penghukuman.
(contentieuse rechtspraak, contentious Putusan declaratoir pada umumnya
jurisdiction) sebagai berikut : terdapat dalam perkara yang berbentuk
1) Berupa sengketa atau perkara yang “volunter” (voluntair), yakni perkara yang
bersifat partai (party). berbentuk “permohonan” secara sepihak.
2) Ada pihak penggugat yang bertindak Pada bentuk perkara volunter, seseorang
mengajukan gugatan terhadap pihak mengajukan permohonan ke pengadilan
tergugat, dan secara sepihak. Dalam permohonan itu :
3) Proses pemeriksaannya berlangsung 1) Pemohon mengajukan permintaan ke
secara kontradiktor (contradictoir), pengadilan, agar pemohon ditetapkan
yakni pihak penggugat dan tergugat mempunyai kedudukan tertentu
mempunyai hak untuk sanggah- terhadap keadaan tertentu;
menyanggah berdasarkan asas audi et 2) Permohonan tidak mengandung
alteram partem. sengketa dengan pihak lain, oleh
Demikian ciri pokok bentuk perkara karena itu pada perkara yang
kontentiosa. Pada umumnya, putusan yang berbentuk volunter tidak ada pihak
mengandung amar condemnatoir hanya yang digugat (tidak ada pihak
dijumpai dalam putusan perkara yang tergugat), dan proses pemeriksaannya
berbentuk kontentiosa. Namun demikian, berbentuk ex parte ;
asas umum tersebut tidak mengurangi 3) Putusan volunter yang bersifat
kemungkian bahwa dalam gugatan yang declaratoir hanya mempunyai
berbentuk kontentiosa tidak mengandung kekuatan hukum mengikat pada diri
amar condemnatoir. Bisa saja amar atau pemohon sendiri. Itu sebabnya perkara
diktumnya hanya mengandung “pernyataan” volunter tidak mengandung kekuatan
hukum, yang disebut amar yang bersifat hukum eksekutorial.
“declaratoir” (declaratoir). c. Ciri Putusan Condemnatoir
Secara umum, putusan dapat dianggap
b. Putusan yang Bersifat Declaratoir bersifat condemnatoir apabila amar atau

JURNAL RECHTENS, Vol. 3, No. 2, Desember 2014


7

dictum putusan mengandung unsur putusan terdapat perintah yang menghukum


“penghukuman”. Amar putusan pihak yang kalah, yang dirumuskan dalam
menjatuhkan hukuman kepada pihak kalimat:
tergugat, dan hukuman yang dijatuhkan itu 1) Menghukum atau memerintahkan
berupa hubungan atau tindakan hukum yang menyerahkan suatu barang.
mesti ditaati dan dijalankan dan dipenuhi 2) Menghukum atau memerintahkan
tergugat (pihak yang dikalahkan). pengosongan sebidang tanah atau
Untuk memudahkan pengertian rumah.
memahami putusan yang bersifat 3) Menghukum atau memerintahkan
condemnatoir, ada baiknya diajukan acuan melakukan suatu perbuatan tertentu.
yang menjadi ciri putusan condemnatoir. 4) Menghukum atau memerintahkan
Dari acuan ciri tersebut akan segera dapat penghentian suatu perbuatan atau
diketahui, apakah suatu putusan bersifat keadaan.
condemnatoir atau declaratoir. Apabila 5) Menghukum atau memerintahkan
salah satu ciri dimaksud terdapat dalam melakukan pembayaran sejumlah
amar atau dictum putusan, berarti putusan uang.
yang bersangkutan bersifat condemnatoir Itulah karakteristik yang dapat dijadikan
dan pada dirinya melekat kekuatan pedoman acuan dalam menentukan ciri
eksekutorial. putusan pengadilan yang bersifat
Hal ini sesuai dengan asas bahwa pada condemnatoir. Jika salah satu ciri tersebut
setiap keputusan yang bersifat terdapat dalam amar putusan, putusan itu
condemnatoir, dengan sendirinya melekat bersifat condemnatoir. Misalnya, dalam
kekuatan eksekutorial. Oleh karena itu, pada amar putusan terdapat salah satu dictum
putusan yang bersifat condemnatoir, yang menghukum atau memerintahkan
putusan tersebut dapat dieksekusi apabila tergugat untuk menyerahkan suatu barang,
tergugat tidak mau menjalankan putusan maka amar yang demikian telah
secara sukarela. Ada beberapa ciri yang mengandung ciri condemnatoir, dan
dapat dipergunakan sebagai indikasi putusan menjadikan putusan tersebut mempunyai
condemnatoir. Apabila salah satu ciri kekuatan eksekutorial.
terdapat dalam suatu putusan, putusan yang Apabila tergugat tidak menaati dan
bersangkutan bersifat condemnatoir. menjalankan pengosongan secara sukarela,
Adapun ciri-ciri yang dapat dijadikan pengosongan dapat dilakukan secara paksa
indikator menentukan suatu putusan bersifat melalui upaya hukum eksekusi. Demikian
condemnatoir, dalam amar atau dictum juga putusan yang mengandung amar yang

JURNAL RECHTENS, Vol. 3, No. 2, Desember 2014


8

menghukum atau memerintahkan para pihak merupakan putusan yang mempunyai


untuk melakukan pembagian harta warisan, kekuatan hukum tetap, kedua belah pihak
adalah putusan yang mengadung ciri kehilangan hak untuk menggunakan upaya
condemnatoir yang dapat dieksekusi secara hukum.
paksa apabila para pihak atau salah satu Namun pada umumnya terhadap setiap
pihak tidak menjalankan pembagian secara keputusan pengadilan terdapat pranata
sukarela. Atau putusan yang mengandung upaya hukum yang dapat ditempuh
amar menghukum tergugat untuk membayar apabila yang bersangkutan mendapati
utang (sejumlah uang). Amar yang demikian bahwa penetapan atau putusan itu tidak
berciri condemnatoir, yang dapat dieksekusi mencerminkan keadilan. Sesuai dengan
apabila tergugat enggan memenuhi ketentuan Pasal 178 HIR, Pasal 189 RBG,
pembayaran secara sukarela. apabila pemeriksaan perkara selesai, majelis
hakim karena jabatannya melakukan
Prinsip Hukum Pihak Ketiga ( Derden musyawarah untuk mengambil putusan yang
Verzet ) terhadap Putusan Hakim Yang akan dijatuhkan.
Berkekuatan Hukum Tetap
Proses pemeriksaan dianggap selesai,
apabila telah menempuh tahap jawaban dari
Produk dari hasil pemeriksaan
tergugat yang dibarengi dengan replik dari
perkara di persidangan ada tiga macam
penggugat maupun duplik dari tergugat dan
yaitu: putusan, penetapan dan akta
dilanjutkan dengan proses tahapan
perdamaian. Putusan merupakan pernyataan
pembuktian dan konklusi (Vide Pasal 121
hakim yang dituangkan dalam bentuk
HIR, Pasal 113 dan Pasal 115 Rv).
tertulis dan diucapkan oleh hakim dalam
Asas sebuah putusan pengadilan harus
sidang terbuka untuk umum, sebagai
memenuhi hal-hal sebagi berikut (Vide
hasil dari pemeriksaan perkara gugatan
Pasal 178 HIR, Pasal 189 RBG dan UU No.
(kontentius). penetapan ialah pernyataan
4 Tahun 2004):10 Hakim sebagai manusia
hakim yang dituangkan dalam bentuk
biasa di dalam menjatuhkan putusan
tertulis dan diucapkan oleh hakim dalam
pengadilan tidak luput dari kekeliruan atau
sidang terbuka untuk umum, sebagai hasil
keberpihakan pada salah satu pihak
dari pemeriksaan perkara permohonan
(subjektif), sehingga putusannya tidak
(voluntair). Sedangkan akta perdamaian
mencerminkan rasa keadilan, yang
ialah akta yang dibuat para hibah /
penggugat dan tergugat. Putusan
10 Putusan (Hukum Perdata), http://po-
perdamaian dibuat oleh hakim dan box2000.blogspot.com/2010/12/putusan-hukum-
acara-perdata.html

JURNAL RECHTENS, Vol. 3, No. 2, Desember 2014


9

menyebabkan ada yang merasa tidak puas a. Karena tindakan itu tidak sesuai
atas putusan tersebut. Oleh karenanya demi dengan hukum pada hal sesuai
keadilan setiap putusan pengadilan dengan prinsip rule of law semua
hendaknya dapat dilakukan pemeriksaan tindakan Hakim mesti sesuai dengan
ulang sehingga kekeliruan terhadap putusan hukum (accordance with the law).
atau putusan yang memihak (subjektif) b. Tindakan hakim yang mengabulkan
dapat diperbaiki sehingga dapat memenuhi melebihi dari yang dituntut, nyata-
rasa keadilan para pihak pencari keadilan.11 nyata melampui batas wewenang
Pada prinsipnya setiap putusan yang diberikan Pasal 178 ayat (3)
pengadilan tidak diperkenankan HIR kepadanya, pada hal sesuai
mengabulkan melebihi tuntutan yang dengan prinsip rule of law siapa pun
dikemukakan dalam gugatan. Larangan ini tidak boleh melakukan tindakan yang
disebut ultra petitum partium. Hakim yang melampui batas wewenangnya.13
mengabulkan melebihi posita maupun
petitum gugatan, dianggap telah melampui Putusan judex facti yang didasarkan
batas wewenang atau ultra vires yakni pada petitum subsidair yang berbentuk ex
bertindak melampui wewenangnya. Apabila aequo et bono dapat dibenarkan asal masih
putusan mengandung ultra petitum harus dalam kerangka yang sesuai masing-masing
dinyatakan cacat (invalid) meskipun hal itu dirinci satu persatu, tindakan hakim yang
dilakukan hakim dengan itikad baik (good mengabulkan sebagian petitum primair
faith) maupun sesuai dengan kepentingan dianggap tindakan yang melampui batas
umum (public interest).12 wewenang maka dari itu tidak dibenarkan.
Mengadili dengan cara mengabulkan Hakim tidak dibenarkan menggunakan
melebihi dari apa yang digugat, dapat kebebasan cara mengadili dengan jalan
dipersamakan dengan tindakan yang tidak mengabulkan petitum premair atau
sah (ilegal) meskipun dilakukan dengan mengambil sebagian dari petitum subsidair.
itikad baik. Oleh karena itu hakim yang Apalagi mengabulkan sesuatu yang sama
melanggar prinsip ultra petitum sama sekali tidak diajukan dalam petitum nyata-
dengan pelanggaran terhadap prinsip rule of nyata melanggar asas ultra petitum oleh
law : karena itu harus dibatalkan.

11 Tim Pengajar Hukum Acara Perdata, Fakultas


Oleh karena itu di dalam Hukum Acara
Hukum Universitas Udayana, 2007, Hukum Perdata bagi Tergugat yang dijatuhkan
Acara Perdata, hal. 91-92
12 Frances Russell Dan Christine Loche, English
Law And Language, Cassel, London, 1992, Hlm. 13 Himpunan Kaidah Hukum Keputusan MA RI,
30 1962-1991, hlm.25

JURNAL RECHTENS, Vol. 3, No. 2, Desember 2014


10

putusan dengan putusan verstek oleh hakim, hadirnya tergugat14. Verzet dilakukan oleh
para pihak dan pihak lain yang pihak yang kalah dalam gugatan biasanya
berkepentingan diberikan kesempatan untuk adalah si Tergugat. Dengan kata lain verzet
mengajukan upaya hukum. Dalam hal ini dalam Hukum Acara Perdata merupakan
Tergugat akan mengajukan upaya hukum suatu upaya hukum terhadap putusan
perlawanan (verzet). Adapun alasan verstek (putusan yang dijatuhkan diluar
diajukannya verzet ini antara lain, misalnya hadirnya Tergugat). Untuk menjatuhkan
karena Pengadilan Negeri tidak putusan verstek, Hakim harus
memperhatikan ketentuan Pasal 122 HIR memperhatikan ketentuan Pasal 125 HIR
tentang tenggang waktu pemanggilan hari terlebih dahulu. Sedangkan dasar hukum
sidang yaitu yang ditegaskan tidak boleh Verzet adalah Pasal 125 ayat 3 jo 129 HIR
lebih dari 3 hari kerja. dan 149 ayat 3 jo 153 RBg. Dalam Pasal
Dengan ditemukan adanya kekeliruan 125 ayat 3 / 149 ayat 3 RBg dinyatakan
dan kehilafan yang dilakukan oleh pihak bahwa : Jika gugatan diterima maka atas
Pengadilan Negeri, maka diharapkan hakim perintah ketua diberitahukan putusan itu
yang memeriksa perkara ini dapat kepada pihak yang dikalahkan serta
memperbaikinya dan menerima upaya diterangkan kepadanya bahwa ia berhak
hukum perlawanan (verzet) dari pihak mengajukan perlawanan terhadap putusan
Tergugat. Hal ini sangatlah berguna untuk tidak hadir itu kepada pengadilan negeri itu
melindungi pihak Tergugat yang beritikad dalam tempo dan dengan cara yang
baik (jujur) yang selalu ingin mewujudkan ditentukan dalam Pasal 153 RBg/ 129 HIR.
kebenaran dan keadilan dari upaya hukum Substansi dari Pasal 153 RBg / 129 HIR
yang telah diajukannya. Dengan demikian adalah mengenai tatacara perlawanan atau
diharapkan dengan diajukannya upaya verzet terhadap putusan verstek yaitu:
hukum perlawanan (verzet) ini hakim dapat a. Tergugat yang dikalahkan dengan
memperbaiki putusan tersebut dengan putusan verstek dan tidak menerima
seadil-adilnya. putusan itu dapat mengajukan
Secara umum istilah verzet diartikan perlawanan (verzet) terhadap putusan
perlawanan yang merupakan salah satu itu.
upaya hukum terhadap putusan. Verzet atau b. Jika putusan itu diberitahukan kepada
perlawanan merupakan upaya hukum tergugat sendiri, maka perlawanan
terhadap putusan yang dijatuhkan di luar (verzet) dapat diterima dalam 14 hari

14 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata,


2002, Liberty, Yogyakarta, hal 224

JURNAL RECHTENS, Vol. 3, No. 2, Desember 2014


11

16
sesudah pemberitahuan. Jika putusan termuat dalam Pasal 1917 KUHPdt .
itu tidak diberitahukan kepada tergugat Namun tidak tertutup kemungkinan ada
sendiri maka perlawan (verzet) masih pihak ketiga yang dirugikan oleh suatu
diterima pada hari ke -8 sesudah putusan pengadilan.
peneguran seperti yang tersebut dalam Tergugat sering mengajukan keberatan
Pasal 207 RBg/196HIR atau dalam hal atas penyitaan yang diletakkan terhadap
tidak hadir sesudah dipanggil dengan harta kekayaannya dengan dalih, barang
patut sampai pada hari ke -14 (RBg) yang disita adalah milik pihak ketiga. Dalil
atau ke 8 (HIR) sesudah dijalankan dan keberatan itu kebanyakan tidak
surat perintah seperti tersebut dalam dihiraukan pengadilan atas alasan, sekiranya
Pasal 208 RBg/197 HIR. barang itu benar milik pihak ketiga, dia
c. Perlawanan (verzet terhadap verstek dapat mengajukan keberatan melalui upaya
diajukan dan diperiksa putusan dengan derden verzet. Terhadap putusan tersebut,
cara biasa sama halnya dengan pihak yang dirugikan dapat mengajukan
gugatan perkara perdata). perlawanan (derden verzet) kepada Hakim
d. Ketika perlawanan telah diajukan Pengadilan Negeri yang memutus perkara
kepada ketua pengadilan negeri maka tersebut.
tertundalah pekerjaan menjalankan Pihak ketiga yang merasa dirugikan,
putusan verstek kecuali kalau telah menggugat para pihak yang berperkara
diperintahkan bahwa putusan itu dapat (Pasal 379 Rv). Apabila perlawanan tersebut
dijalankan walaupun ada perlawanan. dikabulkan maka terhadap putusan yang
e. Jika telah dijatuhkan putusan verstek merugikan pihak ketiga tersebut haruslah
untuk kedua kalinya maka diperbaiki (Pasal 382 Rv). Terhadap putusan
perlawannan selanjutnya yang perlawanan yang dijatuhkan oleh Hakim
diajukan oleh tergugat tidak dapat Pengadilan Negeri, dapat diajukan upaya
diterima. hukum banding, kasasi, dan peninjauan
Sedangkan yang dimaksud derden kembali.
verzet (Perlawanan Pihak Ketiga) Perlawanan dari pihak ketiga pada
merupakan upaya hukum atas penyitaan umumnya didasarkan atas hak milik. Yakni
milik pihak ketiga15. Memang pada azasnya barang yang disita itu sesungguhnya adalah
putusan pengadilan hanya mengikat para milik orang lain, dalam hal ini pihak ketiga
pihak yang berperkara sebagaimana yang tersebut. Mengenai hak milik diatur dalam

15 Yahya harahap, hukum acara perdata, Sinar


Grafika: 2009. Jakarta hal 299 16 Sudikno Ibid hal 237

JURNAL RECHTENS, Vol. 3, No. 2, Desember 2014


12

Pasal 570 BW menyatakan, bahwa: "Hak merupakan badan pribadi pertama-tama


milik adalah hak untuk menikmati kegunaan ialah orang juga badan hukum.Terhadap
suatu kebendaan dengan leluasa, dan untuk benda sama halnya yang merupakan benda
berbuat bebas terhadap kebendaan itu pertama-tama ialah barang berwujud yang
dengan kedaulatan sepenuhnya, asal tidak dapat ditangkap dengan panca indra tapi
bersalahan dengan undang – undang atau barang yang tak berwujud.
peraturan umum yang ditetapkan oleh suatu
kekuasaan yang berhak menetapkannya, Perlawanan Pihak Ketiga (Derden
dan tidak mengganggu hak – hak orang Verzet) Terhadap Putusan

lain; kesemuanya itu dengan tidak


Penyelesaian perkara perdata pada
mengurangi kemungkinan akan pencabutan
umumnya dilakukan melalui jalur litigasi,
hak itu demi kepentingan umum berdasar
dengan mendayagunakan lembaga peradilan
atas ketentuan undang –undang dan dengan
yang ada, yakni Pengadilan Negeri. Sampai
pembayaran ganti rugi."
sekarang masyarakat masih memandang
Disamping itu juga, Pasal 20 Undang-
keberadaan peradilan sebagai pelaksana
Undang Pokok Agraria juga menyatakan
kekuasaan kehakiman tetap dibutuhkan.
bahwa:
Tempat dan kedudukan peradilan dalam
1. Hak milik adalah hak turun-
negara hukum dan masyarakat demokrasi
menurun, terkuat dan terpenuh yang
masih dapat diandalkan, antara lain berperan
dapat dipunyai orang atas tanah,
sebagai berikut M. Yahya Harahap, dalam
dengan mengingat ketentuan dalam
Suyud Margono:
pasal 6.
1. Peradilan berperan sebagai katup
2. Hak milik dapat beralih dan
penekan atau pressure valve atas
dialihkan kepada pihak lain.
segala pelanggaran hukum, ketertiban
masyarakat dan pelanggaran
Adapun perlawanan pihak ketiga adalah
ketertiban umum.
perlawanan pihak ketiga terhadap sita
2. Peradilan masih tetap diharapkan
eksekutorial, perlawanan pihak ketiga
berperan sebagai the last resort atau
terhadap sita jaminan dan perlawanan dari
tempat terakhir mencari kebenaran
orang yang kena sita pada terhadap
dan keadilan sehingga peradilan masih
penyitaan. Karena pada prinsipnya pihak
tetap diandalkan sebagai badan yang
ketiga mengajukan perlawanan adalah hak
berfungsi menegakkan kebenaran dan
kepemilikan barang yang dipunyai oleh
pihak ketiga dijadikan jaminan. Yang

JURNAL RECHTENS, Vol. 3, No. 2, Desember 2014


13

keadilan (to enforce the truth and memuat alasan-alasan putusan yang
enforce justice). dijadikan dasar untuk mengadili.
Dalam praktek, penyelesaian dengan Salah satu hal yang perlu diperhatikan
litigasi ini dilakukan dengan pengajuan dalam proses perkara ini adalah kehandalan
gugatan atau langsung eksekusi kepada para pihak atau kuasanya dalam
lembaga Pengadilan Negeri. Penanganan memformulasikan gugatan sehingga baik
perkara perdata di Pengadilan Negeri dapat subjek, objek, posita, maupun petitum
ditempuh dengan beberapa cara, antara lain gugatan sudah sesuai dengan hukum acara
melalui gugatan biasa sampai permohonan perdata yang berlaku. Dengan demikian,
eksekusi. adanya cacat formal dalam gugatan dapat
Bermula pada pengajuan gugatan biasa, dihindari sedini mungkin.
untuk mencapai suatu eksekusi atas putusan Yang tidak kalah pentingnya adalah
hakim dalam proses gugatan biasa pokok perkara itu sendiri. Pengadilan akan
diperlukan tiga tingkatan peradilan, yaitu : menilai pokok permasalahan tersebut secara
a) Tingkat Pertama / Pengadilan menyeluruh. Sebaliknya, jika penggugat
Negeri; dapat membuktikan dalil-dalil gugatannya
b) Tingkat Banding / Pengadilan yang mengakibatkan gugatannya
Tinggi, dan dikabulkan, masalah yang akan dihadapi
c) Tingkat Kasasi/Mahkamah Agung adalah upaya-upaya hukum banding, kasasi,
bahkan peninjauan kembali akan ditempuh
Proses perkara perdata di Pengadilan oleh tergugat.
Negeri dilakukan secara terbuka dan kedua Selanjutnya, jika putusan atas gugatan
belah pihak diperlakukan sama dan tidak tersebut mempunyai kekuatan hukum yang
memihak. Kedua belah pihak diberi tetap, atas permohonannya dapat dimintakan
kesempatan untuk memberi pendapatnya pelaksanaan eksekusi kepada Ketua
dan didengar keterangannya. Namun, setiap Pengadilan Negeri. Dalam tahapan eksekusi
argumen yang dikemukakan oleh para pihak jaminan atau harta kekayaan tergugat ini,
mengenai pokok sengketa tentunya harus tidak tertutup kemungkinan adanya
didukung oleh alat bukti yang ditentukan perlawanan dari tergugat sendiri atau pihak
menurut hukum acara perdata yang berlaku. ketiga.
Pada akhirnya setelah cukup proses jawab- Eksekusi putusan pengadilan pada
menjawab antara para pihak yang didukung hakikatnya merupakan tugas penguasa,
oleh bukti-bukti yang diajukannya, maka namun pada pihak lain menghendaki bahwa
pengadilan menjatuhkan putusan dengan aparatur negara (pengadilan) baru akan

JURNAL RECHTENS, Vol. 3, No. 2, Desember 2014


14

melaksanakan eksekusi setelah ada Apabila perlawanan tersebut


permohonan dari pihak yang menang (yang dikabulkan, maka putusan pengadilan yang
mempunyai title) menurut putusan tersebut. terbukti telah merugikan pihak ketiga
Hal ini berarti kepentingan umum tersebut harus diperbaiki. Pihak ketiga yang
menghendaki agar putusan-putusan hakim mengajukan perlawanan disebut “Pelawan”,
Negara tidak merupakan putusan sia-sia sedangkan penggugat semula yang
belaka karena tidak dapat dilaksanakan, memohonkan agar sita tersebut, disebut
tetapi di samping itu harus ada inisiatif dari sebagai “Terlawan Penyita”, dan pihak
pihak yang menang (perdata) untuk terguggat yang disita disebut “terlawan
menggerakkan mekanisme eksekusi tersita”, perkara yang diajukan disebut
tersebut. Dengan demikian, eksekusi bantahan atau perlawanan pihak ketiga
putusan hakim yang dilaksanakan sesuai derden verzet atau verzet door derden).17
ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang Perlawanan terhadap sita dalam hal ini
harus diajukan oleh orang yang mempunyai objek sengketa yang diajukan adalah milik
hak berdasarkan putusan atau akta tersebut. pihak ketiga yang harus dibuktikan. Dalam
Adakalanya suatu putusan hal Pembuktian diperlukan dalam suatu
berkekuatan hukum tetap mendapatkan perkara yang mengadili suatu sengketa di
perlawanan dari pihak ketiga yang disebut muka pengadilan (juridicto Contentiosa)
sebagai Derden Verzet. Pihak ketiga maupun dalam perkara-perkara permohonan
tersebut bukan bagian dari para pihak yang yang menghasilkan suatu penetapan
berperkara atau tidak memiliki sangkut paut (juridicto voluntair). Dalam suatu proses
terhadap perkara sebelumnya. Justru pihak perdata, salah satu tugas hakim adalah untuk
ketiga hadir dikarenakan terkena dampak menyelidiki apakah suatu hubungan hukum
dari pelaksanaan putusan tersebut, maka yang menjadi dasar gugatan benar-benar ada
diajukanlah perlawanan terhadapnya. atau tidak. Adanya hubungan hukum inilah
Syarat untuk mengajukan perlawanan yang harus terbukti apabila penggugat
adalah putusan hakim yang secara nyata menginginkan kemenangan dalam suatu
telah merugikan pihak ketiga. Ada sejumlah perkara. Apabila penggugat tidak berhasil
unsur penting yang harus diperhatikan untuk membuktikan dalil-dalil yang menjadi
dalam mengajukan Derden Verzet, yaitu : dasar gugatannya, maka gugatannya tersebut
a). Adanya kepentingan dari pihak akan ditolak, namun apabila sebaliknya
ketiga itu.
b). Secara nyata hak pihak ketiga 17 Tim Pengajar Fakultas Hukum Universitas Sam
Ratulangi, Manado, Praktek Peradilan Perdata,
dirugikan. 2011

JURNAL RECHTENS, Vol. 3, No. 2, Desember 2014


15

maka gugatannya tersebut akan 2. Teori pembuktian negatif


dikabulkan.18 Sebaliknya pada teori ini,
Pasal 283 RBg/163 HIR menyatakan :“ mengharuskan adanya ketentuan-
Barangsiapa mengatakan mempunyai suatu ketentuan yang mengikat yang
hak atau mengemukakan suatu perbuatan bersifat negatif, yaitu ketentuan yang
untuk meneguhkan haknya itu, atau untuk harus membatasi pada larangan
membantah hak orang lain, haruslah kepada hakim untuk melakukan
membuktikan adanya perbuatan itu.” sesuatu yang berhubungan dengan
Pada hal pembuktian tidak selalu pembuktian. Jadi disini hakim
pihak penggugat saja yang harus dilarang dengan pengecualian (Pasal
membuktikan dalilnya. Hakim yang 169 HIR, 308 RBg. 1905 BW).
memeriksa perkara tersebut yang akan 3. Teori pembuktian positif
menentukan siapa diantara pihak-pihak yang Di samping adanya larangan, teori
berperkara yang diwajibkan memberikan ini menghendaki adanya perintah
bukti, apakah pihak penggugat atau pihak kepada hakim. Di sini hakim
tergugat. Dengan perkataan lain hakim diwajibkan tetapi dengan syarat
sendiri yang menentukan pihak yang mana (Pasal 165 HIR, 285 RBg, 1870
akan memikul beban pembuktian. Hakim BW).
berwenang membebankan kepada para Dari ketiga teori yang ditawarkan,
pihak untuk mengajukan suatu pembuktian hanya satu teori pembuktian bebas yang
dengan cara yang seadil-adilnya. memberi kewenangan mutlak pada hakim,
Hakim dalam melakukan penilaian untuk berkehendak bebas dalam melakukan
terhadap pembuktian dalam perkara perdata, penilaian pada pembuktian. Karena memang
dapat menggunakan teori sebagai berikut: seyogyanya hakim bukanlah sebagai corong
1. Teori pembuktian bebas Undang-Undang semata, tetapi hakim juga
Teori menghendaki kebebasan melakukan penemuan hukum yang
hakim untuk menentukan dan didasarkan pada keyakinan hakim, bukan
melakukan penilaian terhadap berdasarkan peraturan perundang-undangan
pembuktian, dengan kata lain tidak semata.
ada ketentuan yang mengikat hakim. Pada proses pemeriksaan perkara di
pengadilan berjalan seimbang. Azas Audi et
18 Retnowulan Sutantio dan Iskandar Alteram Partem yang artinya
Oeripkartawinata, Hukum Acara Perdata dalam
Teori dan Praktek, Alumni, Bandung, 1983, hlm. “Mendengarkan dua belah pihak” atau
53
mendengarkan juga pendapat atau

JURNAL RECHTENS, Vol. 3, No. 2, Desember 2014


16

argumentasi pihak yang lainnya sebelum Pasal 282 sampai dengan Pasal 314; Stb.
hakim menjatuhkan putusan. Seorang 1867 No. 29 tentang kekuatan pembuktian
Hakim wajib untuk mendengarkan akta di bawah tangan; dan BW (Burgerlijk
pembelaan dari pihak yang disangka atau Wetboek) atau KUHPerdata Buku IV Pasal
didakwa melakukan suatu tindakan yang 1865 sampai dengan Pasal 1945.
melanggar hukum guna menemukan Pasal 1865 KUHPdt :“Setiap orang yang
kebenaran materiel dalam suatu perkara mengaku mempunyai suatu hak, atau
yang diadilinya. Hak untuk didengar menunjuk suatu peristiwa untuk
pendapatnya sebagai perwujudan asas audi meneguhkan haknya itu atau untuk
et alteram partem ini juga adalah membantah suatu hak orang lain, wajib
merupakan suatu hak yang dijamin dan membuktikan adanya hak itu atau kejadian
dilindungi oleh UUD 1945, yaitu hak untuk yang dikemukakan itu.”
didengar dan dipertimbangkan, baik Pasal 1866 KUHPdt : “Alat pembuktian
argumen maupun alat bukti yang diajukan di meliputi, bukti tertulis, bukti saksi,
depan suatu badan peradilan yang mandiri persangkaan, pengakuan, sumpah.
dan imparsial dan setara untuk setiap Semuanya tunduk pada aturan-aturan yang
individu.19 tercantum dalam bab-bab berikut.”
Dalam melakukan pembuktian seperti
yang telah disebutkan di atas, para pihak PENUTUP
yang berperkara dan hakim yang memimpin Kesimpulan
pemeriksaan perkara di persidangan harus 1. Pada prinsipnya setiap putusan yang
mengindahkan ketentuan-ketentuan dalam telah mempunyai kekuatan hukum tetap
hukum pembuktian yang mengatur tentang dapat di eksekusi baik secara sukarela
cara pembuktian, beban pembuktian, maupun secara paksa. Dalam hal ini
macam-macam alat bukti serta kekuatan hanya putusan yang bersifat
alat-alat bukti tersebut, dan sebagainya. kondemnatoir yang bisa dieksekusi
Hukum pembuktian ini termuat dalam yaitu putusan yang amar atau
HIR (Herziene Indonesische Reglement) diktumnya mengandung unsur
yang berlaku di wilayah Jawa dan Madura, penghukum. Putusan yang amar atau
Pasal 162 sampai dengan Pasal 177 RBg dictum yang tidak mengandung unsur
(Rechtsreglement voor de Buitengewesten) penghukum tidak dapat dieksekusi atau
berlaku diluar wilayah Jawa dan Madura, “nonexecutable”.
2. Prinsip hukum pihak ketiga bahwa
19http://hukum.kompasiana.com/2012/03/12/asas-
audi-et-alteram-partem-441940.html pihak ketiga tidak terikat putusan

JURNAL RECHTENS, Vol. 3, No. 2, Desember 2014


17

kecuali para pihak yang bersengketa. yang dibebankan oleh pengadilan


Akan tetapi pihak ketiga mempunyai melalui putusannya.
hak untuk mengajukan perlawanan b. Bahwa perlawanan bagi pihak ketiga
terhadap kerugian yang diderita dalam dapat dilakukan dengan upaya hukum
hal ini memiliki hak milik atas benda biasa pada asasnya terbuka untuk setiap
yang hendak dilakukan sita eksekusi putusan selama tenggang waktu yang
terhadapnya. ditentukan oleh undang-undang.
3. Bahwa perlawanan bisa dilakukan Dimana upaya hukum biasa bersifat
dengan cara melakukan gugatan biasa menghentikan pelaksanaan putusan
yang diajukan di pengadilan negeri sementara. Upaya hukum biasa ialah
yang selanjutnya atas perintah Ketua perlawanan, banding dan kasasi. Jadi
Pengadilan Negeri dan terhadap pihak pihak ketiga dapat menggunakan upaya
pelawan dapat melakukan perlawanan hukum biasa dalam menghadapi upaya
atas eksekusi terhadap objek sengketa, hukum perlawanan.
asalkan dapat membuktikan bahwa c. Bahwa pihak ketiga dapat melakukan
objek tersebut adalah miliknya. perlawanan terhadap putusan yang
Sebagaimana Azas Audi et Alteram berkekuatan hukum tetap apabila,
Partem yang mana para pihak berhak ternyata barang yang dijadikan obyek
mendalilkan apa yang akan dibuktikan sengketa adalah miliknya dan dapat
dan Hakim mendengarkan serta membuktikan hak miliknya itu. Pihak
memperhatikannya. ketiga (Derden Verzet) dapat
melakukan perlawanan terhadap
Saran perkara perdata. Untuk itu dibutuhkan
a. Putusan pengadilan yang memerlukan suau kejujuran dalam proses penegakan
pelaksanaan adalah putusan yang hukum khususnya pada perkara derden
bersifat menghukum (kondemmatoir). verzet.
Pelaksanaan tersebut memerlukan
bantuan dari pihak yang kalah perkara,
yang artinya pihak yang bersangkutan
harus dengan sukarela melaksanakan
putusan pengadilan. Melaksanakan
putusan pengadilan artinya bersedia
memenuhi kewajiban untuk berprestasi

JURNAL RECHTENS, Vol. 3, No. 2, Desember 2014


18

DAFTAR PUSTAKA Mahkamah Agung Republik Indonesia,


Pedoman Pelaksanaa Tugas dan
A. BUKU TEKS Administrasi Pengadilan Dalam Empat
Lingkungan Peradilan, Buku II, Edisi
Abdulkadir Muhammad, Hukum Acara 2007, 2009
Perdata Indonesia, Bandung, PT. Citra
Aditya Bakti,2000. Munir Fuady, Hukum Perkreditan
Kontemporer, PT. Citra Aditya,
Ahmad Yani dan Gunawan, Hukum Bandung, 1996
Arbitrase, Cetakan Kedua, Rajawali
Pers, Jakarta, 2001 Mohammad Amin, Praktek Peradilan
Perdata dan Pidana di Pengadilan
Bunga Rampai Makalah Hukum Acara Negeri, Malang : Fakultas Hukum
Perdata, Mahkamah Agung RI, 2005 Universitas Brawijaya, 1985
Dikutip dari Thomas Suyatno dkk, M. Nur Rasaid, Hukum Acara Perdata,
Kelembagaan Perbankan, Cet. I, Jakarta: Sinar Grafika, 1999
Jakarta, Perbanas; 1988
Nasrun Tamin, Kiat Menghindari Kredit
Darwin Prinst, Strategi Menyudun dan Macet, Dian Rakyat, Jakarta, 2012
Menangani Gugatan Perdata, Bandung
: PT. Citra Aditya Bakti, 1996 Pendidikan dan Pelatihan Calon Hakim,
Upaya Hukum Perdata, Mahkamah
Herowati Poesoko, Parate Executie (Obyek Agung, 2009.
Hak Tanggungan), Cetakan Pertama,
Yogyakarta : Laksbaang Pressindo, Philipus M. Hadjon, Tatik Sri Djatmiati,
2007 Argumentasi Hukum, Gajah Mada
University Press, Yogyakarta, 2005.
H.R. Daeng Naja, Hukum Kredit dan bank
Garansi, The Bakers Hand Book, PT. Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu
Citra Aditya Bhakti, Bandung, 2005 Hukum, Kencana Pranada Media
Group, Jakarta
Ivilda Dewi Amrih Sucidan Herowati
Poesoko, Hak Kreditor Separatis Riduan Syahrani,Hukum Acara Perdata di
Dalam Mengeksekusi Benda Jaminan Lingkungan Peradilan Umum, Pustaka
Debitor Pailit, LaksBang Pressindo, Kartini, Jakarta, 1988.
Yogyakarta, 2009
Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara
Krisna Harahap¸ Hukum Acara Perdata, Perdata Indonesia Yogyakarta, Liberty,
Bandung : PT. Grafitri Bandung,2007. 2006.

Lilik Mulyadi.Hukum Acara Perdata Tim Pengajar Hukum Acara Perdata, Bahan
Menurut Teori dan Pratek Peradilan Ajar Hukum Acara Perdata, Denpasar,
Indonesia. Fakultas Hukum Universitas Udayana,
2007
Mgs. Edy Putra The’aman, Kredit
Perbankan suatu Tinjauan Yuridis, Tim Pengajar Fakultas Hukum Universitas
Liberty, Yogyakarta, 1986. Sam Ratulangi Manado, Praktek
Peradilan Perdata, Manado, 2011
Mahkamah Agung Republik Indonesia,
Bunga Rampai Makalah Hukum Acara Victor M. Situmorangdan Cormentyna
Perdata, 2005 Sitanggang, Grosse Akta Dalam

JURNAL RECHTENS, Vol. 3, No. 2, Desember 2014


19

Pembuktian dan Eksekusi, Rineka Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974


Cipta, Jakarta, 1993 tentang Perkawinan
Wildan Suyuthi Mustofa, Praktek Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009
Kejurusitaan Pengadilan, Cet. Ke-6, tentang Kekuasaan Kehakiman
Mahkamah Agung RI, 2006.
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009
Yahya Harahap, Ruang Lingkup tentang Mahkamah Agung
Permasalahan Eksekusi Bidang
Perdata, Edisi Kedua, Penerbit Sinar Surat Edaran Mahkamah AgungNomor 3
Grafika, Jakarta, 2010. tahun 2000 Tentang Putusan sertamerta
(uitvoerbaar bij vooraad) dan
Provisionil.
B. JURNAL ILMIAH
Diktat Fakultas Hukum Universitas
Indonesia, Catatan Hukum Acara
Perdata, 2008.
Syamsul Bahri Borut, Upaya Hukum Dalam
Proses Perkara Perdata. Makalah. BIODATA SINGKAT PENULIS
2009
Yurisprudensi Mahkamah Agung Bendesa Made Cintia Buana, S.H., M.H.
Menyelesaikan pendidikan Master dan
C. INTERNET memperoleh Gelar Magister Hukum (M.H.)

4Za, Putusan Hukum Acara Perdata, pada Program Magister Ilmu Hukum
http://hukum.unsrat.ac.id/uu/RBg.pdf Fakultas Hukum Universitas Jember.
http://hukum.unsrat.ac.id/uu/ hir.pdf
http://po-box2000. blogspot.com /2010/
12/ putusan-hukum-acara-perdata.html

D. PERATURAN PERUNDANG-
UNDANGAN

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata


HIR (Herziene Inlandsch Reglement)
RBg (Rechtsreglement voor de
Buitengewesten)
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970
tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan
Kehakiman

JURNAL RECHTENS, Vol. 3, No. 2, Desember 2014