Anda di halaman 1dari 18

Volume 2 Issue 1, June 2017: pp. 38-42. Copyright ©2017 TALREV.

TALREV Faculty of Law Tadulako University, Palu, Central Sulawesi, Indonesia.


ISSN: 2527-2977 | e-ISSN: 2527-2985.
Open acces at: http://jurnal.untad.ac.id/index.php/TLR

PERANAN PERADILAN TATA USAHA NEGARA TERHADAP TINDAKAN


PEMERINTAH YANG MELANGGAR HAK WARGA NEGARA

THE ROLE OF JUDICIAL ADMINISTRATION OF THE GOVERNMENT


ACTION ARBITRARY OR VIOLATE RIGHTS CITIZENS

Aditia Syaprillah

Faculty Of Law Borneo Tarakan University


JL. Amal Lama No. 1 Tarakan, North Kalimantan, Indonesia
Telp./Fax: +62-551-2028655 Email: didit_syaprillah@yahoo.co.id

Submitted: Feb 27, 2017; Reviewed: Jun 05, 2016; Accepted: Jun 19, 2017

Abstrak
Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) dibentuk dalam rangka memberikan perlin-
dungan kepada masyarakat pencari keadilan, yang merasa dirinya dirugikan akibat
suatu keputusan Tata Usaha Negara (TUN). Segala tindakan pemerintah agar tidak
menimbulkan perbuatan yang sewenang-wenang dan menimbukan kerugian terhadap
warga-negaranya atas perbuatan yang dilakukan oleh pemerintah, maka dibutuhkan
sebuah sistem pengawasan (control system) yang dilakukan oleh Badan atau Pejabat
Pemerintah dan Kekuasaan Kehakiman.
Penulisan ini mencoba untuk mengkaji Bagaimana peranan PTUN untuk melindungi
setiap warga negara dari segala tindakan pemerintah yang sewenang-wenang. Metode
penulisan melalui pendekatan normatif dan pendekatan doktriner, yaitu atas esensi
Peraturan perundang-undangan atau pendekatan Peraturan perundang-undangan
(statute approach atau legislation regulation approach). Kewenangan pemerintah yang
diberikan oleh suatu peraturan perundang-undangan itu tidak dapat dijalankan
sebebas-bebasnya, malah pemerintah terikat kepada suatu peraturan perundang-
undangan tersebut untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah tertulis dalam suatu
peraturan perundang-undangan tersebut.

Kata Kunci: Kewenangan Pemerintah; Peradilan Tata Usaha Negara; Tindakan


Pemerintah

Abstract
The state of judicial administration is formed in order to provide protection for justice
seekers who felt indiscriminate with the decision made by judicial administration. Go-
vernment policies have released with careful consideration on the interest of citizen,
therefore district institutions have to be set up as a means for control system.
Goal of this study is to analyze the role of state judicial administration to provide pro-
tection from indiscrimination for all citizens. The research methods used in this study
are normative and doctrine approaches, which are statute approach and regulation ap-
proach. Government authority has taken by regulation cannot be operated freely.

Keywords: Government Authority; Government Policy; The State of Judicial Admin-


istration

□ 25
Tadulako Law Review | Vol. 2 Issue 1, June 2017

PENDAHULUAN
Bahwa negara Republik Indonesia 1. Penyalahgunaan kewenangan untuk
melakukan tindakan-tindakan yang
sebagai negara hukum yang berdasarkan
bertentangan dengan kepentingan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar umum atau untuk menguntungkan
kepentingan pribadi, kelompok atau
1945 bertujuan mewujudkan tata ke-
golongan;
hidupan negara dan bangsa yang sejahtera, 2. Penyalahgunaan kewenangan dalam
arti bahwa tindakan pejabat tersebut
aman, tenteram, serta tertib, yang menja-
adalah benar ditujukan untuk
min persamaan kedudukan warga kepentingan umum, tetapi menyim-
pang dari tujuan apa kewenangan
masyarakat dalam hukum, dan yang men-
tersebut diberikan oleh Undang-
jamin terpeliharanya hubungan yang Undang atau peraturan-peraturan
lain;
serasi, seimbang, serta selaras antara apa-
3. Penyalahgunaan kewenangan dalam
ratur dibidang Tata Usaha Negara (TUN) arti menyalahgunakan prosedur
yang seharusnya dipergunakan un-
dengan para warga masyarakat.1
tuk mencapai tujuan tertentu, tetapi
Dominasi peranan negara dalam hal telah menggunakan prosedur lain
agar terlaksana.
ini pemerintah, dalam melakukan segala
tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Untuk menghindari adanya penya-
badan atau Pejabat Pemerintah terutama lahgunaan kekuasaan dalam pemerintahan
tindakan tersebut langsung menimbulkan yang dapat merugikan rakyat dalam setiap
akibat hukum baik perbuatan hukum pub- keputusan-keputusan dari badan atau pe-
lik maupun privat kadang melampaui ba- jabat tata usaha negara, maka dibutuhkan
tasan-batasan kewenangan atau berten- suatu peradilan administrasi sebagai
tangan dengan asas-asas umum konsekuensi dari negara hukum modern
pemerintahan yang baik. (welfare state), sebagai alat kontrol ter-
Menurut JeanRivero danWaline, hadap tindakan badan atau pejabat tata
pengertian penyalahgunaan kewenangan usaha negara dan untuk mewujudkan
dalam Hukum Administrasi dapat di- kesejahteraan masyarakat.3
artikan dalam 3 wujud, yaitu:2
fbbf142fc22/arti-menyalahgunakan-wewenang-
dalam-tindak-pidana-korupsi.
1 3
Konsiderans Menimbang Undang-Undang Lihat Y. Sri Pudyatmoko dan W, Riawan
Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Tjandra.(1996), Peradilan Tata Usaha Negara
Usaha Negara. Sebagai Salah Satu Fungsi Kontrol Pemerinta-
2
Hukum Online.com, Arti “Menyelahgunakan han, Yogyakarta: Penerbit Universitas Atma
wewenang dalam Tindak Pidana Korupsi” da- jaya, hlm. 50. Lihat juga Penjelasan Umum
lam Paragraf 2 Undang-Undang Nomor 30 Tahun
http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt54 2014 tentang Administrasi Pemerintahan.

□ 26
Tadulako Law Review | Vol. 2 Issue 1, June 2017

Peradilan Tata Usaha Negara ciri-ciri negara hukum Pancasila yang


4
(PTUN) dibentuk dalam rangka mem- dirumuskan oleh Philipus M.Hadjon,
berikan perlindungan kepada masyarakat bertumpu pada falsafah Pancasila yang
pencari keadilan, yang merasa dirinya hakekatnya meletakkan keseimbangan
dirugikan akibat suatu Keputusan TUN. antara hak dan kewajiban, akan tercipta
Dalam hubungan ini perlu disadari, bahwa hubungan yang serasi antara pemerintah
di samping hak-hak individual dan rakyat. Akhirnya keserasian hubungan
(perseorangan), warga negara juga mem- itu akan melahirkan kerukunan antara
iliki hak-hak tertentu. Hak warga negara pemerintah dan rakyat.6 Dalam hal terjadi
ini didasarkan pada kepentingan bersama sengketa antara pemerintah dengan rakyat,
dari kelompok orang yang hidup dalam prinsip utama yang perlu dikedepankan
warga negara tersebut. Kepentingan- adalah prinsip penyelesaian sengketa
kepentingan ini tidak selalu sejalan dengan cara musyawarah melalui wadah
bahkan kadang-kadang saling ber- atau sarana upaya administratif, se-
benturan. Untuk menjamin penyelesaian dangkan penyelesaian melalui peradilan
yang seadil-adilnya terhadap benturan an- administrasi dijadikan sebagai sarana ter-
tara kepentingan yang berbeda ini, saluran akhir.7
hukum merupakan salah satu jalan terbaik Berdasarkan latar belakang diatas
dan sesuai dengan prinsip yang terkan- dapat dirumuskan beberapa identifikasi
dung dalam falsafah negara Republik In- masalah yaitu, pertama, bagaimanakah
donesia, yakni Pancasila.5 Elemen atau fungsi PTUN terhadap tindakan
pemerintah.kedua, bagaimanakah peranan
4 PTUN melindungi setiap warga negara
Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 tentang Peru- dari segala tindakan pemerintah yang
bahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha sewenang-wenang.
Negara, yang dimaksud Sengketa Tata Usaha
Negara adalah sengketa yang timbul dalam bi-
dang tata usaha negara antara orang atau badan METODE
hukum perdata dengan badan atau pejabat tata
usaha negara, baik di pusat maupun di daerah,
sebagai akibat dikeluarkannya keputusan tata
usaha negara, termasuk sengketa kepegawaian
berdasarkan peraturan perundang-undangan Cetakan Keempat, Yogyakarta: Penerbit Liber-
yang berlaku. Lihat juga Philipus M.Hadjon, ty, hlm. 57
6
1987, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di In- S.F. Marbun.(2011), Peradilan Administrasi
donesia, Surabaya, Penerbit : PT Bina Ilmu. Negara dan Upaya Administratif di Indonesia,
5
Muchsan.(2007), Sistem Pengawasan Ter- Cetakan Ketiga,Yogyakarta: FH UII Press,
hadap Perbuatan Aparat Pemerintah dan hlm. 88
7
Peradilan Tata Usaha Negara Di Indonesia, Ibid

□ 27
Tadulako Law Review | Vol. 2 Issue 1, June 2017

Penelitian ini menggunakan pen- tindak administrasi negara yang melang-


dekatan yuridis normatif, melalui pen- gar hukum yaitu pelaksanaan yang salah,
dekatan konseptual, pendekatan kasus dan padahal hukumnya benar dan berharga.
pendekatan perundang-undangan yang Sedangkan sikap tindakadministrasi yang
terkait dengan administrasi pemerintahan menurut hukum, bukanlah pelaksanaan
dan peradilan tata usaha negara.8Penulisan yang salah, melainkan hukum itu sendiri
ini menggunakan metode deskriptif ana- yang secara materiil tidak benar dan tidak
lisis, yaitu bahan hukum yang di- berharga.10Terkadang tindakan
pergunakan adalah pendekatan kualitatif pemerintahan dilegalkan oleh sebuah
terhadap bahan hukum primer (peraturan norma hukum yang sengaja dibuat hanya
perundang-undangan) dan bahan hukum untuk menguntungkan pemerintahan itu
sekunder (bahan pustaka).Deskriptif ter- sendiri, sehingga mengakibatkan kerugian
sebut meliputi isi. Struktur hukum positif terhadap hak warga negara.
yaitu suatu kegiatan yang dilakukan oleh Tindakan hukum TUN itu hanya
penulis untuk menentukan isi aturan dapat dilakukan dalam hal-hal atau
hukum yang dijadikan rujukan dalam keadaan-keadaan dan menurut cara-cara
penyelesaian permasalahan hukum yang yang ditentukan dalam dan dimungkinkan
menjadi obyek kajian. oleh suatu peraturan perundang-undangan.
Suatu tindakan hukum TUN itu dapat
PEMBAHASAN
mengikat warga masyarakat sekalipun
Tindakan Pemerintahatau Tindakan
yang bersangkutan itu tidak
Pejabat Tata Usaha Negara
menginginkannya.11Aspek lain dari tiap
Sikap-tindak administrasi negara
tindakan hukum TUN yang juga tidak
menurut hukum administrasi negara itu
boleh dilupakan adalah, bahwa tindakan
dapat berwujud trifungsi. Hal ini jangan
hukum TUN itu selalu bersifat
digaduhkan atau dihubungkan dengan te-
sepihak,karena dilakukan tidaknya suatu
ori trias politica dari Montesquie.9Sikap
tindakan hukum TUN yang memiliki
8 kekuatan hukum itu pada akhirnya tergan-
Peter Mahmud Marzuki,. (2008) Penelitian
Hukum, Cetakan Keempat, Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, Edisi Kesatu, hlm.93
9 10
Sjachran Basah, “Perlindungan Hukum Ter- Ibid, hlm. 11
11
hadap Sikap-Tindak Administrasi Negara”, Indroharto.(1993), Usaha Memahami Un-
Orasi Ilmiah Diucapkan pada Dies Natalis dang-Undang Tentang Peradilan Tata Usaha
XXIX Universitas Padjadjaran Pada Tanggal Negara, Buku I Beberapa Pengertian Dasar
24 September 1986, Penerbit Alumni, Ban- hukum Tata Usaha Negara, Edisi Revisi, Jakar-
dung, 1992, hlm 6. ta: Pustaka Sinar Harapan, hlm. 146

□ 28
Tadulako Law Review | Vol. 2 Issue 1, June 2017

tung kepada kehendak sepihak dari Badan Sistem pengawasan yang efektif
atau Jabatan TUN yang memiliki adalah pengawasan preventif rakyat se-
wewenang pemerintahan untuk berbuat bagai sarana terbaik untuk membuat sega-
demikian.12 la sesuatunya berjalan dengan baik dalam
Konsep Pengawasanterhadap Tindakan administrasi negara. Pengawasan represif
Pemerintah hanya berguna jika ; a) dilakukan secara
Dalam praktek di Indonesia tinda- komprehensif dan cukup intensif ; b)
kan pemerintah (administrasi nega- laporannya bersifat cukup obyektif dan
ra),Bagir Manan memandang kontrol se- analisis ; dan c) laporannya disampaikan
bagai, sebuah fungsi dan sekaligus hak, cukup cepat.15Terkait dengan pengawasan
sehingga lazim disebut fungsi kontrol, diatas, Prajudi Atmosudirdjo16 ber-
atau hak kontrol. Kontrol mengandung pendapat bahwa pengawasan adalah pros-
dimensi pengawasan dan pengendalian. es kegiatan-kegiatan yang membanding-
Pengawasan bertalian dengan pembatasan kan apa yang dijalankan, dilaksanakan,
dan pengendalian bertalian dengan arahan atau diselenggarakan itu dengan apa yang
(directive).13 dikehendaki, direncanakan, atau di-
Muchsan, berpendapat bahwa perintahkan.
“Pengawasan adalah kegiatan untuk Diana Halim Koentjoro,17ber-
menilai suatu pelaksanaan tugas secara de pendapat bahwa arti dan fungsi
facto, sedangkan tujuan pengawasan han- pengawasan dalam penyelenggaraan
ya terbatas pada percocokan apakah pemerintahan dari optik Hukum Admin-
kegiatan yang dilaksanakan telah sesuai istrasi Negara (HAN) adalah mencegah
dengan tolak ukur yang telah ditetapkan timbulnya segala bentuk penyimpangan
sebelumnya (dalam hal ini berujud suatu tugas pemerintahan dari apa yang telah
14
rencana / plan).” digariskan (preventif) dan menindak atau

15
Prajudi Atmosudirdjo.(1983), Hukum Admin-
istrasi Negara, Edisi Revisi, Jakarta: Ghalia
12
Ibid, hlm. 148 Indonesia, hlm. 80.
13 16
Bagir Manan, Peningkatan Fungsi Kontrol Ibid, hlm. 81.
17
Masyarakat Terhadap Lembaga Legislatif, Sjachran Basah, Tiga Tulisan Tentang
Eksekutif, dan Yudikatif, yang dikutip oleh Hukum, yang dikutip oleh Diana Halim Koent-
Ni’matul Huda, Ibid, hlm. 50. joro, Arti,Cara dan Fungsi Pengawasan Dalam
14
Muchsan.(2007), Sistem Pengawasan ter- Penyelenggaraan Pemerintahan Ditinjau Dari
hadap Perbuatan Aparat Pemerintahan dan Optik H.A.N,Dimensi-Dimensi Pemikiran
Peradilan Tata Usaha Negara di Indonesia, Hukum Administrasi Negara, (2001), Penyunt-
Cetakan keempat, Yogyakarta: Liberty, hlm. ing SF. Marbun et,al, Yogyakarta: FH UII
38. Press, hlm. 267

□ 29
Tadulako Law Review | Vol. 2 Issue 1, June 2017

memperbaiki penyimpangan yang terjadi bersifat korektif dan memulihkan


suatu tindakan yang keliru.
(represif). Pengawasan dari optik HAN
adalah terletak pada HAN itu sendiri, se- Pengawasan pada hakikatnya meru-
bagai landasan kerja atau pedoman bagi pakan tindakan membandingkan antara
administrasi negara dalam melakukan tu- hasil dalam kenyataan (das sein) dengan
gasnya menyelenggarakan pemerintahan. hasil yang diinginkan (das sollen).19 Hal
Pengawasan (control) terhadap ini disebabkan karena antara kedua hal
pemerintah, menurut Paulus Effendi tersebut sering terjadi penyimpangan.
Lotulung, adalah:18 Oleh karena itu, tugas pengawasan paling
Upaya untuk menghindari utama adalah melakukan koreksi atas
terjadinya kekeliruan-kekeliruan,
penyimpangan-penyimpangan tersebut.
baik sengaja maupun tidak disen-
gaja, sebagai usaha preventif, atau Dalam ilmu manajemen, pengawasan
juga untuk memperbaikinya apabi-
merupakan fungsi manajerial yang keem-
la sudah terjadi kekeliruan itu, se-
bagai usaha represif. Ditinjau dari pat setelah perencanaan, pengorgan-
segi saat / waktu dilaksanakannya
isasian, dan pengarahan. Sebagai salah
suatu kontrol pengawasan, kontrol
dapat dibedakan dalam dua jenis : satu fungsi manajemen, mekanisme
kontrol Apriori dan Kontrol Apos-
pengawasan di dalam suatu organisasi
teriori. Dikatakan sebagai Kontrol
Apriori, bilamana pengawasan itu memang mutlak diperlukan. Pelaksanaan
dilakukan sebelum dikeluarkannya
suatu rencana atau program tanpa diiringi
keputusan atau ketetapan
Pemerintah ataupun peraturan dengan suatu sistem pengawasan yang
lainnya yang pengeluarannya me-
baik dan berkesinambungan, jelas akan
mang manjadi wewenang
pemerintah. Sedangkan Kontrol mengakibatkan lambatnya atau bahkan
Aposteriori adalah bilamana
tidak tercapainya sasaran dan tujuan yang
pengawasan itu baru terjadi
sesudah terjadi tinda- telah ditentukan.20
kan/putusan/ketetapan pemerintah
Istilah pengawasan dikenal dan
atau sesudah terjadi tinda-
kan/perbuatan pemerintah. Dengan dikembangkan dalam ilmu manajemen,
kata lain, arti pengawasan disini
karena memang pengawasan ini merupa-
dititikberatkan pada tujuan yang
kan salah satu unsur dalam kegiatan

18
Paulus Effendi Lotulung, Beberapa Sistem
19
tentang Kontrol Segi Hukum Terhadap Jazim Hamidi & Mustafa Lutfi.(2011),
Pemerintah, seperti yang dikutip oleh seperti Dekonstruksi Hukum Pengawasan Pemerinta-
yang dikutip oleh Ni’matul Huda.(2009), han Daerah (The Turning Point of Local Au-
Otonomi Daerah Filosofi, Sejarah Perkem- tonomy), Malang: Universitas Brawijaya Press,
bangan dan Problematika, Cetakan Kedua, hlm. 82.
20
Yogjakarta: Pustaka Pelajar, hlm. 242-243. Ibid

□ 30
Tadulako Law Review | Vol. 2 Issue 1, June 2017

pengelolaan. Wajarlah apabila pengertian sif).Penulis mencoba untuk menyimpulkan


tentang istilah ini lebih banyak diberikan dari beberapa pandangan para ahli tentang
oleh ilmu manajemen daripada ilmu definisi pengawasan tersebut, pengawasan
hukum. dalam ilmu Hukum Administrasi, ialah
Menurut S.F. Marbun, pengawasan upaya dari perlindungan hukum yang dil-
dapat dilakukan melalui pengawasan ek- akukan oleh Badan atau Pejabat
stern dan pengawasan intern. Pengawasan Pemerintah dan Kekuasaan Kehakiman itu
ekstern dapat dilakukan antara lain me- sendiri, untuk menghindari tindakan dari
lalui pengawasan politik, pers, dan Badan atau Pejabat Pemerintah yang dapat
pengawasan hukum melalui pengadilan. menimbulkan kerugian atau terlanggarnya
Khusus dalam bidang administrasi, hak-hak dari warga negaranya,
pengawasan dapat dilakukan melalui pengawasan disini dapat berupa sebelum
Peradilan Administrasi. Sedangkan dan sesudah di keluarkannya sebuah kepu-
pengawasan intern dapat dilakukan me- tusan atau ketetapan dari sebuah Badan
lalui badan-badan dilingkungan atau Pejabat Pemerintah.
pemerintahan sendiri, baik melalui atasan Pengawasan terhadap larangan
yang mempunyai hubungan hierarkis penyelahgunaan wewenang yang dil-
maupun melalui suatu panitia yang terdiri akukan oleh Badan dan/atau Pejabat
dari beberapa orang ahli dalam bidang ter- Pemerintah dilakukan oleh aparat
tentu. Pengawasan intern ini ditinjau dari pengawasan intern pemerintah. Adapun
segi waktu dilakukannya pengawasan pengawasan aparat pengawasan intern
dapat pula disebut pengawasan preventif pemerintah, berupa : a) tidak terdapat
dan upaya administratif dapat disebut se- kesalahan; b) terdapat kesalahan admin-
bagai salah satu contoh. istratif; atau c) terdapat kesalahan admin-
Dari uraian diatas tersebut, dapatlah istratif yang menimbulkan kerugian keu-
disimpulkan bahwa pengertian angan negara.21
pengawasan adalah: suatu kegiatan untuk Pengawasan dari segi hukum meru-
menilai apakah sudah seperti yang di- pakan penilaian mengenai sah atau tid-
harapkan, direncanakan, dan ditetapkan, aknya suatu perbuatan pemerintah yang
agar dapat mencegah timbulnya penyim- menimbulkan akibat hukum, pengawasan
pangan (preventif) dan dapat segera
21
Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2) Undang-
menindak penyimpangan tersebut (repre- Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Admin-
istrasi Pemerintahan.

□ 31
Tadulako Law Review | Vol. 2 Issue 1, June 2017

tersebut hanya bisa dilakukan oleh badan Pengawasan yudisial oleh PTUN
peradilan adminitrasi yaitu PTUN. PTUN bersifat represif dan hal tersebut
menganut hukum acara yang berbeda sebenarnya sangat tergantung dari efek-
dengan hukum acara perdata dimana ha- tivitas internal kontrol (pengawasan inter-
kim perdata bersifat pasif, sedangkan ha- nal) dalam lingkungan administrasi itu
kim PTUN bersifat aktif karena dilandasi sendiri. Karakteristik represif dari
pertimbangan antara lain:22 Pengawasan meliputi pencabutan KTUN
1. Karena Keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan, pencabutan dan pen-
(KTUN) yang disengketakan meru-
erbitan KTUN baru atau penerbitan
pakan bagian dari hukum positif yang
harus sesuai dengan tertib hukum KTUN dalam hal sebelumnya tidak ada.23
yang berlaku dan sengketa berada da-
Sedangkan pengawasan PTUN bersifat
lam wilayah hukum publik;
2. Karena hakim dibebani tugas untuk preventif ialah pengawasan yang dil-
mencari kebenaran materiel; dan
akukan oleh pengawasan intern
3. Peran aktif hakim dimaksudkan untuk
mengimbangi kedudukan yang tidak pemerintah itu sendiri dalam meningkat-
seimbang antara penggugat dengan
kan profesionalisme dan memeriksa
tergugat, dimana kedudukan tergugat
jauh lebih kuat daripada kedudukan secara teliti keputusan yang akan
tergugat, baik berupa fasilitas dan
dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat
keuangan maupun kemampuan
pengetahuannya. Pemerintah itu sendiri.

Alasan yuridis diterimanya peranan Peradilan Tata Usaha Negara Berfungsi


hakim PTUN bersifat aktif ialah karena Sebagai Pengawasan Terhadap Tinda-
keputusan hakim PTUN bukan hanya kan Pemerintah
mengikat bagi para pihak akan tetapi Segala tindakan pemerintah agar
mengikat bagi publik. Hakim PTUN di- tidak menimbulkan perbuatan yang sew-
tuntut untuk menyempurnakan atau enang-wenang dan menimbulkan kerugian
melengkapi objek sengketa yang diajukan terhadap warga-negaranya atas perbuatan
oleh para pihak penggugat, karena hakim yang dilakukan oleh pemerintah, maka
PTUN tidak mungkin membiarkan dan dibutuhkan sebuah sistem pengawasan
mempertahankan tetap berlakunya suatu (control system) yang dilakukan oleh Ba-
KTUN yang nyata keliru dan bertentangan dan atau Pejabat Pemerintah dan
dengan undang-undang yang berlaku. Kekuasaan Kehakiman.

22
SF. Marbun, Peradilan Administrasi, Op Cit,
23
hlm 333-334 Pasal 97 ayat (9) UU No. 5 Tahun 1986

□ 32
Tadulako Law Review | Vol. 2 Issue 1, June 2017

Tindakan pemerintah yang sering rusaknya ekosistem sungai cikiing dan


menimbulkan kerugian bagi warga lahan pertanian di Desa Linggat Jelegong
negaranya, misalnya mengenai masalah Sukamulya dan Bojong Loa Kecamatan
pemberian izin oleh pemerintah kepada Rancaekek Kabupaten Bandung yang ru-
orang atau badan hukum perdata.Contoh sak parah, selain itu warga masyarakat di
kasus pemberian izin pembuangan limbah 4 (empat) desa mengalami kerugian mate-
cair ke sungai Cikijing di Sumedang Ban- ri hingga Rp 11 Triliun (nilai kerugian
dung yang diberikan kepada 3 (tiga) pe- materi itu berdasarkan hasil penghitungan
rusahaan tekstil di Sumedang, ketiga pe- Tim Gabungan dari akademisi dan instan-
rusahaan tersebut ialah PT Insan Sandang si terkait dari Tahun 1990 hingga saat
Internusa, PT Kahatex dan PT Five Star ini).24
Textile. sesuai dengan berkas perkara ber- Berdasarkan contoh kasus diatas ob-
nomor 178/G/2015/PTUN Bandung, Ob- jek pengawasan PTUN adalah KTUN,
jek sengketa Surat Keputusan Bupati Pasal 53 Undang-Undang Nomor 9 tahun
Sumedang Nomor 660.31/Kep.509- 2004 TentangPerubahan atas Undang-
IPLC/2014 tentang IPLC ke Sungai Ciki- Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang
jing bagi PT Kahatex tertanggal 7 Juli PTUN, berbunyi sebagai berikut :
2014, Surat Keputusan Nomor (1) Orang atau badan hukum
perdata yang merasa kepentingannya
660.31/Kep.784-IPLC/2014 tentang IPLC
dirugikan oleh suatu Keputusan TUN
bagi PT Five Star Texile Indonesia ter- dapat mengajukan gugatan tertulis
kepada pengadilan yang berwenang
tanggal 30 Januari 2014, dan Surat Kepu-
yang berisi tuntutan agar KTUN yang
tusan Nomor 660.31/Kep.198-IPLC/2013 disengketakan itu dinyatakan batal
atau tidak sah, dengan atau tanpa dis-
tentang IPLC ke Sungai Cikijing kepada
ertai tuntutan ganti rugi dan/atau
PT. Insan Sandang Internusa. yang berten- direhabilitasi.
(2) Alasan-alasan yang dapat
tangan dengan Undang-Undang Nomor 9
digunakan dalam gugatan sebagaima-
tahun 2004 TentangPerubahan atas Un- na dimaksud pada ayat (1) adalah:
a. KTUN yang
dang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 ten-
digugat itu bertentangan dengan
tang PTUN dan Pasal 39 Peraturan peraturan perundang-undangan
yang berlaku; dan
Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 ten-
tang Pengelolaan Kualitas Air dan Pen-
gendalian Pencemaran Air. Surat Kepu- 24
“PTUN Sidangkan Gugatan Limbah Pabrik”
dalam http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-
tusan Bupati Sumedang berdampak pada barat/2016/02/02/359438/ptun-sidangkan-
gugatan-limbah-pabrik

□ 33
Tadulako Law Review | Vol. 2 Issue 1, June 2017

b. KTUN yang melalui upaya administratif menjadi lebih


digugat itu bertentangan dengan
lengkap. Tetapi secara lengkap tersebut
asas-asas umum pemerintahan
yang baik. tidak termasuk pada prosedur banding.
Pada prosedur banding, badan TUN hanya
Dari ketentuan pasal diatas
melakukan penilaian dari segi hukumnya
diketahui bawah tolak ukur subjek
saja.25
sengketa TUN adalah orang (individu)
S.F. Marbun, pengawasan terhadap
atau badan hukum perdata disatu pihak
administrasi negara dimaksudkan untuk
dan badan atau pejabat TUN dipihak
menghindari adanya kekuasaan dan
lainnya.Dan tolak ukur sengketa adalah
kebebasan yang diberikan kepada admin-
akibat dikeluarkannya suatu KTUN. Pasal
istrasi negara untuk tidak disalahgunakan.
48 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
Perlindungan hukum melalui upaya ad-
tentang PTUN menyebutkan:
ministratif, dimaksudkan untuk mem-
(1) Dalam suatu badan atau pe-
jabat TUN diberi wewenang oleh atau berikan perlindungan bagi warga yang
berdasarkan peraturan perundang-
dirugikan akibat sikap-tindak administrasi
undangan untuk menyelesaikan secara
administratif sengketa TUN tertentu, negara, juga terhadap administrasi negara
maka sengketa TUN tersebut harus
sendiri yang dalam melaksanakan tugas
diselesaikan melalui upaya admin-
istratif yang tersedia; dan dan fungsinya secara benar sesuai dengan
(2) Pengadilan baru berwenang
hukum. Dengan demikian, administrasi
memeriksa, memutuskan, dan me-
nyelesaikan sengketa TUN se- negara tersebut dapat melaksanakan tugas
bagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dan fungsinya dengan tenang, tertib dan
jika seluruh upaya administratif yang
bersangkutan telah digunakan. memperoleh kepastian hukum.26
Berbagai cara dapat dilakukan un-
Perbedaan antara upaya administrat-
tuk melaksanakan pengawasan terhadap
if dan PTUN adalah, bahwa PTUN hanya-
administrasi negara, antara lain dengan
lah memeriksa dan menilai dari segi
constitutional control, political control,
hukumnya saja. Sedangkan penilaian dari
judicial and legal control, technical con-
segi kebijaksanaan bukan menjadi
wewenang PTUN. Pemeriksaan melalui
25
Indroharto, Usaha Memahami Undang-
upaya administratif, badan TUN selain Undang Tentang Peradilan Tata Usaha Nega-
ra Buku II yang dikutip oleh Zairin Harahahap.
berwenang menilai segi hukumnya, juga (2010), Hukum Acara Peradilan Tata Usaha
berwenang menilai segi kebijaksanaannya. Negara, Edisi Revisi, Jakarta: RajaGrafindo
Persada, hlm 85-86
26
Dengan demikian penyelesaian sengketa SF. Marbun, Peradilan Administrasi, Loc Cit,
hlm 85.

□ 34
Tadulako Law Review | Vol. 2 Issue 1, June 2017

trol, social control, dan administrative Demikian pula pengawasan khusus


27
control. H.W.R. Wade dalam bukunya yang dilakukan melalui peradilan admin-
Administrative Law sebagai berikut : istrasi merupakan bagian penting dalam
“ ...Administrative law deals Hukum Administrasi. E.C.S Wade and
with one aspect of the problem of
Philips dalam bukunya Constitutional Law
power. During the last hundred
years the conception of the mengatakan :28
truesphere of governmental activi-
“...Judicial control of the ex-
ty has been transformed. Instead of
ercise of powers by administrator
confining it self to defence, public
or by admistrative tribunals raises
order, the criminal law, and a few
some of the most difficult and fun-
other general matters, the modern
damental problem of administra-
state also provides elaborate so-
tive law...”
cial sservices and under takes the
(“... Pengawasan yudisial
regulation of much of the daily
terhadap pelaksanaan kekuasaan
business of mankind. The state has
oleh administrator atau oleh
seized the initiative, and has put
peradilan administrasi merupakan
upon it self all kinds of new duties.
bagian paling sulit dan sangat
Hand in hand with these new du-
mendasar dalam Hukum Admin-
ties must go new powers. In order
istrasi ...”)
do carry out so many schemes of
(“... Nevertheless, judicial
social service and control, power-
control is important in reconciling
ful engines of authority have to be
the existence of wide administra-
set in mation. To prevent them
tive powers with the principle of
running amok there must be con-
the rule of law...”)
stant control, political control
through Parliament and legal con-
Penerapan Pasal 53 Undang-Undang
trol through the courts. This legal
control provides much of the sub- Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan
stance of administrative law...”
atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun
(“.... Hukum Administrasi
berkaitan dengan salah satu aspek 1986 tentang PTUN, membawa dampak
masalah kekuasaan. Sejak beratus-
yang sangat positif bagi penyelenggaraan
ratus tahun terakhir konsepsi
mengenai keadaan yang benar dari pemerintahan.Dengan begitu Badan atau
kegiatan pemerintah telah berubah.
Pejabat Pemerintah dalam mengeluarkan
Kecuali membatasi dirinya untuk
mempertahankan ketertiban suatu KTUN dapat bertindak dengan ke-
umum, hukum pidana, dan bebera-
hati-hatian dan mempertimbangkan asas-
pa hal umum lainnya, negara mod-
ern juga melaksanakan pelayanan asas umum pemerintahan yang baik, agar
sosial dan mengupayakan
tercipta suatu penyelenggaraan
pengaturan kegiatan perdagangan
manusia ...”) pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

27 28
Ibid Ibid

□ 35
Tadulako Law Review | Vol. 2 Issue 1, June 2017

Peranan PTUNuntuk Melindungi Se- dapat dijalankan sebebas-bebasnya, malah


tiap Warga Negara dari Segala Tinda- pemerintah terikat kepada suatu peraturan
kan Pemerintah yang Sewenang- perundang-undangan tersebut untuk
wenang melaksanakan tugas-tugas yang telah ter-
Dalam negara hukum modern (wel- tulis dalam suatu peraturan perundang-
farestate) saat ini, setiap bangsa diseluruh undangan.
dunia berlomba-lomba untuk meningkat- Terkait dengan masalah
kan kesejahteraan setiap warga negaranya kewenangan pemerintah di
dalam segala aspek kehidupan dan pem- atas,Indroharto berpendapat bahwa:30
bangunan.Peranan pemerintah dalam wewenang yang dimiliki pa-
ra Badan atau Jabatan Tata Usaha
meningkatkan kesejahteraan setiap warga
Negara itu tidak boleh digunakan
negaranya sangat penting dan dibutuh- untuk lain-lain tujuan dari maksud
diberikan wewenang itu kepadan-
kan.Peranan pemerintah yang begitu besar
ya, terlebih tidak mungkin
tidak mungkin dapat dihindari akan ter- dibenarkan kalau wewenang itu
digunakan untuk memenuhi
jadinya penyimpangan-penyimpangan se-
kepentingan-kepentingan pribadi si
hingga cenderung melanggar hak asasi Pejabat yang memangku Jabatan
Tata Usaha Negara yang ber-
manusia dan terkadangkepentingan
sangkutan. Kalau sampai terjadi
umum.29 demikian, maka hal itu berarti te-
lah melanggar larangan
PTUN menjalankan peranan yang
de’tournement de pouvoir.
amat penting dalam melakukan fungsi
Pengadilan berwenang menerima,
kontrol terhadap tindakan Badan atau Pe-
memeriksa, dan memutuskan ada atau tid-
jabat Administrasi Negara agar tidak ber-
ak ada unsur penyalahgunaan wewenang
tindak sewenang-wenang kepada warga
yang dilakukan oleh Badan dan/atau Pe-
negaraya, namun sebaliknya pemerintah
jabat Pemerintah, selanjutnya Badan
harus bertindak sesuai dengan norma-
dan/atau Pejabat Pemerintah dapat
norma hukum secara tertulis maupun tidak
mengajukan permohonan kepada Pengadi-
tertulis (asas-asas umum pemerintahan
lan untuk menilai ada atau tidak ada unsur
yang baik/layak/patut). Kewenangan
penyalahgunaan wewenang dalam Kepu-
pemerintah yang diberikan oleh suatu per-
tusan dan/atau Tindakan.Pasal 21 Un-
aturan perundang-undangan itu tidak
dang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 ten-
29
Lihat Sjachran Basah, Eksistensi dan Tolak
Ukur Badan Peradilan Administrasi Di Indo-
30
nesia, Op Cit, hlm 222. Indroharto, Op Cit, hlm 98.

□ 36
Tadulako Law Review | Vol. 2 Issue 1, June 2017

tang Administrasi Pemerintahan, me- penggugat sekalipun ia telah


diberitahu dan diperingatkan;
nyebutkan:
c. Gugatan tersebut tidak
PTUN wajib memutus didasarkan pada alasan-alasan
permohonan yang diajukan oleh yang layak;
Badan dan/atau Pejabat d. apa yang dituntut dalam guga-
Pemerintah paling lama 21 (dua tan sebenarnya sudah terpenuhi
puluh satu) hari kerja sejak oleh KTUN yang digugat;
permohonan diajukan. Putusan e. gugatan diajukan sebelum
PTUN dapat diajukan banding ke waktunya atau lewat waktunya.
Pengadilan Tinggi TUN. Pengadi- (2) a. Penetapan sebagaimana dimak-
lan Tinggi TUNwajib memutus sud pada ayat (1) diucapkan dalam
permohonan banding paling lama rapat permusyawaratan sebelum
21 (dua puluh satu) hari sejak kerja hari persidangan ditentukan
permohonan banding diajukan. dengan memanggil kedua belah
Dan putusan Pengadilan Tinggi pihak untuk mendengarkannya;
TUN bersifat final dan mengikat. b. Pemanggilan kedua belah pihak
dilakukan dengan surat tercatat
Acara pemeriksaan di PTUN berkai- oleh panitera pengadilan atas
perintah ketua pengadilan.
tan dengan memutuskan permohonan
(3) a. Terhadap penetapan sebagaima-
dapat dilakukan dengan pemeriksaan na dimaksud dalam ayat (1) dapat
diajukan perlawanan kepada pen-
acara singkat, pemeriksaan acara cepat
gadilan dalam tenggang waktu 14
dan pemeriksaan acara biasa.yaitu: (empat belas) hari setelah diucap-
kan;
1. Pemeriksaan dengan acara singkat,
b. Perlawanan tersebut diajukan
pemeriksaan dengan acara singkat di
sesuai dengan ketentuan se-
PTUN dapat dilakukan apabila terjadi
bagaimana dimaksud dalam Pasal
perlawanan (verzet) atas penetapan
56.
yang diputuskan oleh Ketua Pengadi-
(4) Perlawanan sebagaimana dimak-
lan dalam rapat permusyawaratan. Da-
sud dalam ayat (3) diperiksa dan
lam Pasal 62 Undang-Undang PTUN,
diputus oleh pengadilan dengan
disebutkan:
acara singkat.
(1) Dalam rapat permusyawaratan,
(5) Dalam hal perlawanan tersebut
ketua pengadilan berwenang
dibenarkan oleh pengadilan, maka
memutuskan dengan suatu peneta-
penetapan sebagaimana dimaksud
pan yang dilengkapi dengan per-
dalam ayat (1) gugur demi hukum
timbangan-pertimbangan bahwa
dan pokok gugatan akan diperiksa,
gugatan yang diajukan itu dinya-
diputus dan diselesaikan menurut
takan tidak diterima atau tidak
acara biasa.
berdasar, dalam hal:
(6) Terhadap putusan mengenai per-
a. Pokok gugatan tersebut nyata-
lawanan itu tidak dapat digunakan
nyata tidak termasuk dalam
upaya hukum.
wewenang pengadilan;
2. Pemeriksaan dengan acara cepat diatur
b. Syarat-syarat gugatan se-
dalam Pasal 98 dan Pasal 99 Undang-
bagaimana dimaksud dalam
Undang PTUN, menyebutkan:
Pasal 56 tidak dipenuhi oleh

□ 37
Tadulako Law Review | Vol. 2 Issue 1, June 2017

(1) Apabila terdapat kepentingan tidak melebihi 14 (empat belas)


penggugat yang cukup mendesak hari.
yang harus disimpulkan dari 3. Pemeriksaan dengan acara biasa diatur
alasan-alasan permohonannya, dalam Pasal 68 sampai dengan Pasal
penggugat dalam gugatanna dapat 97 Undang-Undang PTUN. Pemerik-
memohon kepada pengadilan saan sengketa dengan acara biasa ada-
supaya pemeriksaan sengketa di- lah bahwa pemeriksaan dengan acara
percepat. biasa dilakukan dengan majelis hakim
(2) Ketua pengadilan dalam jangka (tiga orang hakim).Dalam hal
waktu 14 (empat belas) hari penggugat atau kuasanya tidak hadir
setelah diterimanya permohonan di persidangan hari pertama dan pada
sebagaimana dimaksud dalam ayat hari yang ditentutakan dalam panggi-
(1) mengeluarkan penetapan ten- lan yang kedua tanpa alasan yang
tang dikabulkan atau tidak dapat dipertanggungjawabkan, mes-
dikabulkannya permohonan terse- kipun setiap kali dipanggil dengan
but. patut, gugatan dinyatakan gugur dan
(3) Terhadap penetapan sebagaimana penggugat harus membayar biaya
dimaksud dalam ayat (2) tidak perkara. Terhadap penetapan ini
dapat digunakan upaya hukum. penggugat mempunyai kesempatan
Dalam penjelasannya disebutkan untuk memasukkan gugatanya sekali
bahwa kepentingan penggugat cukup lagi sesudah membayar uang muka
mendesak, apabila kepentingan itu biaya perkara, sepanjang tenggang
menyangkut KTUN yang berisikan waktu untuk mengajukan gugatan
misalnya perintah pembongkaran masih tersedia.
bangunan atau rumah yang ditempati Apabila tergugat atau kuasanya
penggugat.Sebagai kriteria dapat di- tidak hadir persidangan dua kali
pergunakan alasan-alasan pemohon, sidang berturut-turut dan atau tidak
yang memang dapat diterima yang di- menanggapi gugatan tanpa alasan
percepat bukan hanya pemeriksaannya yang dapat dipertanggungjawabkan,
melainkan juga pemutusannya. Apabila dalam jangka waktu 2 (dua)
Selanjutnya dalam Pasal 99 Un- bulan setelah surat tersebut dikirimkan
dang-Undang PTUN, menyebutkan: lewat surat tercata tidak diterima beri-
(1) Pemeriksanaan dengan acara cepat ta, maka hakim ketua sidang menetap-
dilakukan dengan hakim tunggal. kan hari sidang berikutnya dan
(2) Dalam hal permohonan se- pemeriksaan sengketa dilanjutkan
bagaimana dimaksud dalam Pasal menurut acara biasa, tanpa hadirnya
98 ayat (1) dikabulkan, Ketua tergugat.
Pengadilan dalam jangka waktu 7
(tujuh) hari setelah dikeluarkannya
Adapun prosedur hukum yang dapat
penetapan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 98 ayat (2) menen- dilakukan oleh orang dan/atau badan
tukan hari, tempat dan waktu
hukum perdata yang merasa kepent-
sidang tanpa melalui prosedur
pemeriksaan persiapan sebagaima- ingannya dirugikan atas adanya tindakan
na dimaksud dalam Pasa 63.
pemerintah, yaitu:
(3) Tenggang waktu untuk jawaban
dan pembuktian bagi kedua belah Pertama, Upaya administratif, pen-
pihak, masing-masing ditentukan jelasan Pasal 48 Undang-Undang Nomor

□ 38
Tadulako Law Review | Vol. 2 Issue 1, June 2017

5 Tahun 1986 tentang PTUN disebutkan PTUN ialah: upaya hukum biasa (perla-
upaya administratif adalah suatu prosedur wanan, banding dan kasasi) dan upaya
yang dapat ditempuh oleh seseorang atau hukum luar biasa (perlawanan pihak keti-
badan hukum perdata apabila ia tidak puas ga dan peninjauan kembali).
terhadap suatu KTUN. Prosedur itu dil- Perlawanan, merupakan upaya
aksanakan di lingkungan pemerintahan hukum terhadap penetapan yang diputus-
sendiri. Dalam hal penyelesaiannya itu kan oleh ketua pengadilan dalam rapat
harus dilakukan oleh instansi atasan atau permusyawaratan, perlawanan diajukan
instansi lain dari yang mengeluarkan oleh penggugat terhadap penetapan dis-
keputusan yang bersangkutan, maka missal tersebut pada dasarnya membantah
prosedur tersebut dinamakan banding ad- alasan-alasan yang digunakan oleh ketua
ministratif. Dalam hal penyelesaiannya pengadilan sebagaimana yang tertian da-
KTUN tersebut harus dilakukan sendiri lam Pasal 62 ayat (1) huruf a,b,c,d dan e
oleh badan atau pejabat TUN yang Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
mengeluarkan KTUN itu, maka prosedur tentang PTUN.
yang ditempuh tersebut disebut keberatan. Banding, Pasal 122 Undang-Undang
Kedua, Gugatanke PTUN, Pasal 53 Nomor 5 Tahun 1986 tentang PTUN, me-
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 nyebutkan bahwa terhadap putusan PTUN
tentang Perubahan atas Undang-Undang dapat dimintakan pemeriksanaan banding
Nomor 5 Tahun 1986 tentang PTUN. oleh penggugat atau tergugat kepada Pen-
orang atau badan hukum perdata yang gadilan Tinggi TUN.
kepentingannya terkena oleh akibat Kasasi, mengenai upaya hukum
hukum KTUN yang dikeluarkan dan ka- kasasi diatur dalam Pasal 131 Undang-
renanya yang bersangkutan merasa diru- Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang
gikan dibolehkan menggugat KTUN. PTUN, menyebutkan sebagai berikut: (1)
Gugatan yang diajukan disyaratkan dalam terhadap putusan tingkat terakhir pengadi-
bentuk tertulis karena gugatan itu akan lan dapat dimintakan pemeriksaan kasasi
menjadi pegangan pengadilan dan para kepada Mahkamah Agung; (2) acara
pihak selama pemeriksanaan. Orang yang pemeriksaan kasasi dilakukan sebagaima-
tidak pandai baca tulis dapat mengutara- na dimaksud pada ayat (1) dilakukan
kan keinginannya untuk menggugat kepa- menurut ketentuan sebagaimana dimaksud
da Panitera Pengadilan yang akan mem- dalam Pasal 55 ayat (1) Undang-Undang
bantu merumuskan gugatannya dalam Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah
bentuk tertulis. Adapun tuntutan di PTUN Agung.
terbatas pada 1 (satu) macam tuntutan Perlawanan Pihak Ketiga, ialah per-
pokok yang berupa tuntutan agar KTUN lawanan dari pihak ketiga yang belum
yang telah merugikan kepentingan pernah ikut serta atau diikutkan selama
penggugat itu dinyatakan batal atau tidak pemeriksaan sengketa menurut Pasal 83
sah.Tuntutan tambahan hanya dibolehkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
berutpa tuntutan ganti rugi dan hanya da- tentang PTUN dan khawatir kepent-
lam sengketa kepegawaian saja di- ingannya akan dirugikan dengan dil-
bolehkan adanya tuntutan tambahan aksanakannya putusan itu dapat
lainnya yang berupa tuntutan rehabilitasi. mengajukan perlawanan terhadap
Ketiga, Upaya hukum, dengan pelaksanaan putusan tersebut.
tersedianya upaya hukum, putusan yang Peninjauan Kembali, Pasal 132 Un-
telah dijatuhkan oleh hakim masih dang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 ten-
dimungkinkan untuk diperiksa ulang. tang PTUN, menyebutkan sebagai berikut:
Adapun 2 (dua) jenis upaya hukum dalam (1) terhadap putusan pengadilan yang te-

□ 39
Tadulako Law Review | Vol. 2 Issue 1, June 2017

lah memperoleh kekuatan hukum tetap Penjelasan Umum Undang-Undang


dapat diajukan permohoan peninjauan
Nomor 5 Tahun 1986 sebagaimana telah
kembali kepada Mahkamah Agung; (2)
Acara pemeriksaan peninjauan kembali diubah dengan Undang-Undang Nomor 9
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dil-
Tahun 2004 tentang Perubahan atas Un-
akukan menurut ketentuan sebagaiman
dimaksud dalam Pasal 77 ayat (1) Un- dang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 ten-
dang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 ten-
tang PTUNmenyebutkan :
tang Mahkamah Agung.
Bahwa pemerintah wajib secara ter-
Agar peradilan dapat berjalan us menerus membina, menyempurnakan,
dan menertibkan aparatur di bidang Tata
dengan efektif. Pengadilan Tinggi TUN
Usaha Negara agar mampu menjadi alat
diberi tugas pengawasan terhadap PTUN- yang efisien, efektif, bersih, serta ber-
wibawa dan yang dalam melaksanakan
di daerah hukumnya.Lebih meningkatkan
tugasnya selalu berdasarkan atas hukum
koordinasi antara PTUN di daerah dengan dilandasi semangat dan sikap
pengabdian untuk masyarakat.Menyadari
hukumnya.Lebih meningkatkan koordina-
sepenuhnya peran positif aktif Pemerintah
si antara PTUN di daerah hukum suatu dalam kehidupan masyarakat, maka
pemerintah perlu mempersiapkan langkah
Pengadilan Tinggi TUN yang bermanfaat
untuk menghadapi kemungkinan tim-
bagi rakyat pencari keadilan, karena bulnya perbenturan kepentingan, perse-
lisihan atau sengketa antara Badan atau
PTUN dalam melakukan pengawasan ter-
Pejabat Tata Usaha Negara dengan warga
sebut dapat memberi petunjuk, teguran masyarakat. Untuk penyelesaian sengketa
tersebut, dari segi hukum, perlu dibentuk
dan peringatan. Diharapkan melalui
Peradilan Tata Usaha Negara.
pengawasan dari Pengadilan Tinggi TUN
PTUN merupakan institusi untuk
terhadap PTUN dalam bentuk petunjuk,
menyelesaikan timbulnya sengketa TUN
teguran dan peringatan tersebut dapat
antara Badan atau Pejabat Pemerintah
tercapai misi yang diemban PTUN untuk
dengan orang dan/atau badan hukum
memberikan pengayoman kepada rakyat
perdata pencari keadilan sebagai implikasi
pencari keadilan. Prasyarat pokok yang
peran positif aktif pemerintah dalam ke-
harus tetap diingat oleh hakim PTUN ada-
hidupan masyarakat. Melalui kontrol
lah supaya asas kebebasan hakim dalam
yudisial yang dijalankan oleh Peradilan
memeriksa dan memutuskan sengketa Ta-
Tata Usaha Negara, secara tidak langsung,
ta Usaha Negara (Pasal 7 ayat 3 Undang-
juga dilakukan pembinaan terhadap apara-
Undang Nomor 5 Tahun 1986) secara
tur negara sebagai pelaku birokrasi. Badan
konsisten tetap di pertahankan dan semua
atau Pejabat Pemerintah akan bertindak
pihak harus mendukung terlaksananya
lebih cermat dan seksama sesuai dengan
asas tersebut.

□ 40
Tadulako Law Review | Vol. 2 Issue 1, June 2017

legalitas kewenangan yang dimilikinya negaranya dan sebuah institusi untuk


dalam mengeluarkan setiap bentuk kepu- menyelesaikan timbulnya sengketa
tusan yang memiliki dampak langsung TUN antara Badan atau Pejabat
(akibat hukum) terhadap warga masyara- Pemerintah dengan warga negara.
kat. Efektivitas fungsi birokrasi akan
dapat ditingkatkan dengan dukungan Berdasarkan kesimpulan itu, maka
pengawasan dari PTUN. penulis mengajukan saran yang diharap-
kan dapat memberi manfaat bagi perkem-
PENUTUP
Berdasarkan uraian diatas, penulis bangan Peradilan Tata Usaha Negara:

dapat menyimpulkan sebagai berikut : a. Perlunya sebuah lembaga

a. PTUN dibentuk dalam rangka mem- pengawasan internalyang independen,

berikan perlindungan kepada profesional, berintegritasdan kompe-

masyarakat pencari keadilan, yang tensi oleh Badan dan/atau Pejabat

merasa dirinya dirugikan akibat suatu Pemerintahan di dalam lingkungan

Keputusan TUN. Untuk menghindari administrasi pemeritahan itu sendiri.

adanya penyalahgunaan kekuasaan b. Perlunya menambahkan kewenangan

dalam pemerintahan yang dapat me- dari Peradilan TUN tersebut, bukan

rugikan rakyat dalam setiap kepu- hanya berwenang dalam memutus

tusan-keputusan dari badan atau pe- atau memeriksa sebuah Keputusan

jabat tata usaha negara, dibutuhkan Tata Usaha Negara, tetapi tindakan

suatu peradilan administrasi sebagai yang dilakukan oleh Badan atau Pe-

konsekuensi dari negara hukum mod- jabat Tata Usaha Negara secara nyata

ern (welfare state), sebagai alat atau faktual harus di muat dalam Un-

kontrol terhadap tindakan Badan atau dang-Undang Peradilan Tata Usaha

Pejabat Tata Usaha Negara dan untuk Negara.

mewujudkan kesejahteraan masyara-


BIBLIOGRAFI
kat.
b. Peranan PTUN amat penting dalam Literatur
Indroharto. (1993). Usaha Memahami
melakukan fungsi kontrol terhadap Undang-Undang Tentang Peradilan
tindakan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara Buku I Beberapa
Pengertian Dasar hukum Tata Usaha
Pemerintahan agar tidak bertindak Negara, Edisi Revisi. Jakarta:
sewenang-wenang kepada warga Pustaka Sinar Harapan

□ 41
Tadulako Law Review | Vol. 2 Issue 1, June 2017

Hamidi, Jazim dan Lutfi Mustafa. (2011). Pudyatmoko, Y. Sri dan Tjandra W. Ria-
Dekonstruksi Hukum Pengawasan wan. (1996).Peradilan Tata Usaha
Pemerintahan Daerah (The Turning Negara Sebagai Salah Satu Fungsi
Point of Local Autonomy). Malang: Kontrol Pemerintahan. Yogyakar-
Universitas Brawijaya Press. ta:Penerbit Universitas Atma jaya
Muchsan. (2007). Sistem Pengawasan Yogyakarta.
Terhadap Perbuatan Aparat Tjandra, W. Riawan. (2010).Teori &
Pemerintah dan Peradilan Tata Praktek Peradilan Tata Usaha
Usaha Negara Di Indonesia Cetakan Negara.Edisirevisi. Yogyakarta:
Keempat. Jogyakarta: Penerbit Lib- Penerbit Universitas Atma Jaya
erty. Yogyakarta.
Huda, Ni’mahtul. (2010). Problematika
Pembatalan Peraturan Daerah, Yog- Harahap, Zairin. (2010).Hukum Acara
jakarta: FH UII Press. Peradilan Tata Usaha Negara.edisi
revisi. Jakarta: PT RajaGrafindo
M.Hadjon, Philipus. (1987). Perlindungan Persada.
Hukum Bagi Rakyat di Indonesia
Sebuah Studi tentang Prinsip-
A. Peraturan Perundang-Undangan
Prinsipnya, Penanganannya Oleh
Pengadilan Dalam Lingkungan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Peradilan Umum dan Pembentukan
Indonesia Tahun 1945.
Peradilan Administrasi Negara. Su-
rabaya: PT Bina Ilmu. Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009
M.Hadjon, Philipus et,al. (2011). Pengan-
Tentang Kekuasaan Kehakiman
tar Hukum Administrasi Indonesia
Cetakan kesebelas. Yogyakarta: Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985
Gadjah Mada University Press.
tentang Mahkamah Agung.
Peter Mahmud Marzuki. (2008) Penelitian
Hukum, Cetakan Keempat, Jakarta: Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
Kencana Prenada Media Group,
tentang Peradilan Tata Usaha Nega-
Edisi Kesatu.
Basah, Sjachran. (1992). Perlindungan ra.
Hukum Terhadap Sikap-Tindak
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004
Administrasi Negara. Bandung:
tentang Perubahan Atas Undang-
Penerbit Alumi.
Undang Nomor 5 Tahun 1986 ten-
. (1997),Eksistensi dan Tolak Ukur Badan
tang Peradilan Tata Usaha Negara.
Peradilan Administrasi di Indone-
Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009
sia, Cetakan Ketiga,Bandung: Pen-
tentang Perubahan Kedua Atas Un-
erbit Alumni
dang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
Marbun. S.F. (2011),Peradilan Admin-
tentang Peradilan Tata Usaha Nega-
istrasi Negara dan Upaya Admin-
ra
istratif di Indonesia. Cetakan Keti-
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014
ga. Yogyakarta: FH UII Press.
tentang Administrasi Pemerintahan

***

□ 42