Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada zaman yang semakin maju ini, dengan perkembangan teknologi
khususnya komputer, masyarakat disuguhi begitu banyak fasilitas-fasilitas
yang memudahkan untuk melakukan segala hal. Dengan fasilitas komputer,
masyarakat dapat dengan mudah mengakses informasi di seluruh dunia, dapat
menciptakan karya-karya yang menakjubkan. Namun, tidak jarang atau
bahkan sering kali orang memanfaatkan kecanggihan teknologi komputer itu
untuk perbuatan yang ilegal ataupun melanggar hukum (aturan) yang berlaku.
Seperti halnya tindakan pembajakan hak cipta pada musik dan perfilman.
Di Indonesia begitu maraknya pengusaha yang bersaing memperdagangkan
karya-karya film dan musik yang ditiru (dibajak) dari yang aslinya tanpa izin
yang resmi. Di mall-mall ataupun pusat-pusat perbelanjaan tidak jarang
ditemui stan-stan yang berjejer menjejalkan CD, DVD, dan VCD baik film,
maupun musik. Dan pengusaha yang bergerak dibidang tersebut tidak dapat
dikatakan sedikit. Tentu perbuatan meniru, memperbanyak, serta
mengedarkan karya orang lain tanpa izin terlebih dahulu, merupakan
perbuatan melanggar hukum.
Di samping itu, yang menjadi masalah yakni pembajakan hak cipta
terhadap film dan musik belum juga teratasi secara menyeluruh. Hal tersebut
disebabkan terutama oleh pengusaha pembajak CD, VCD, DVD itu sendiri
dan konsumen, baik anak-anak, remaja, maupun orang tua masih membeli
film dan musik hasil bajakan, di mana semakin mendukung adanya
pembajakan film dan musik di Indonesia. Di lain pihak, perbuatan itu
merugikan baik pihak-pihak yang memiliki karya film atau musik, maupun
bagi negara.
Dari latar belakang di atas, maka penulis mengangkat tema pembajakan
hak cipta, yang dikhususkan pada pembajakan film dan musik di Indonesia, di

1
mana, menurut Direktur Jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual Departemen
Kehakiman dan HAM Abdul Bari Aze, bahwa aksi pembajakan yang paling
banyak terjadi adalah di bidang hak cipta industri musik dan film. Dan penulis
menggunakan judul PEMBUNUHAN KARYA ORISINIL FILM dan
MUSIK AKIBAT PEMBAJAKAN di INDONESIA, untuk dijadikan bahan
penelitian kemudian.

1.2 Perumusan Masalah


Dari latar belakang tersebut, maka penulis membuat perumusan masalah
sebagai berikut :
1. Apa yang menyebabkan terjadinya tindakan pembajakan terhadap film dan
musik?
2. Apakah dampak yang ditimbulkan dari pembajakan film dan musik di
Indonesia?
3. Bagaimanakah peran pemerintah dalam menyikapi pembajakan film dan
musik di Indonesia?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui penyebab terjadinya tindakan pembajakan terhadap
film dan musik.
2. Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari pembajakan film dan
musik di Indoneisa.
3. Untuk mengetahui peran pemerintah dalam menyikapi pembajakan film
dan musik di Indonesia.

1.4 Manfaat
1. Bagi penulis :
a. Dapat mengetahui dampak yang timbul dari pembajakan terhadap film
dan lagu.
b. Memberikan kesadaran bagi penulis untuk berpartisipasi menegakkan
hukum di Indonesia.

2
2. Bagi pemerintah :
a. Mendorong pemerintah untuk lebih mempertegas pelaksanaan hukum,
khususnya untuk tindak pembajakan hak cipta.
3. Bagi masyarakat :
a. Menyadarkan masyarakat untuk tidak mendukung adanya pembajakan.
b. Memberikan kesadaran akan hukum di Indonesia, dengan menaatinya.

1.5 Metode Penelitian


Metode penelitian yang digunakan oleh penulis yaitu dengan jenis data
kualitatif, yakni data yang dikumpulkan dalam bentuk konsep-konsep atas
realitas sosial yang diteliti. Selain itu, penulis juga menggunakan sumber data
sekunder, di mana data diambil dari data asli atau dari media tertentu, seperti
internet, surat kabar.
Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis yaitu studi
pustaka, di mana penulis mencari bahan-bahan yang akan dianalisa dari
internet dan surat kabar. Dari data-data tersebut, penulis menggunakan teknik
analisa data secara deskriptif, yakni melakukan pengkajian, menganalisa,
terhadap data-data yang ada, sehingga menghasilkan suatu kesimpulan
ataupun penjelasan dari data tersebut dalam bentuk penulisan ilmiah.

3
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Pembajakan


Pembajakan adalah kegiatan merampas barang atau hak orang lain.
Pembajakan umumnya di hubungkan dengan pembajakan kapal oleh bajak
laut, walaupun sering terjadi pembajakan pesawat, bus dan kereta api. Selain
itu ada juga pembajakan hak cipta yang berarti pemalsuan barang, merek, dan
sebagainya.

2.2 Hak Cipta


Hak cipta merupakan salah satu jenis hak kekayaan intelektual, namun hak
cipta berbeda secara mencolok dari hak kekayaan intelektual lainnya (seperti
paten, yang memberikan hak monopoli atas penggunaan invensi), karena hak
cipta bukan merupakan hak monopoli untuk melakukan sesuatu, melainkan
hak untuk mencegah orang lain yang melakukannya.
Hak cipta di Indonesia berlaku pada berbagai jenis karya seni atau karya
cipta atau "ciptaan". Ciptaan tersebut dapat mencakup puisi, drama, serta
karya tulis lainnya, film, karya-karya koreografis (tari, balet, dan sebagainya),
komposisi musik, rekaman suara, lukisan, gambar, patung, foto, pamflet, peta,
seni batik, ceramah, kuliah, pidato, perangkat lunak komputer, siaran radio
dan televisi, database, dan (dalam yurisdiksi tertentu) desain industri.
Hukum yang mengatur hak cipta biasanya hanya mencakup ciptaan yang
berupa perwujudan suatu gagasan tertentu dan tidak mencakup gagasan
umum, konsep, fakta, gaya, atau teknik yang mungkin terwujud atau terwakili
di dalam ciptaan tersebut. Sebagai contoh, hak cipta yang berkaitan dengan
tokoh kartun Miki Tikus melarang pihak yang tidak berhak menyebarkan
salinan kartun tersebut atau menciptakan karya yang meniru tokoh tikus
tertentu ciptaan Walt Disney tersebut, namun tidak melarang penciptaan atau
karya seni lain mengenai tokoh tikus secara umum.

4
2.2.1 Pengertian Hak Cipta
Hak cipta adalah hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta
untuk mengatur penggunaan hasil penuangan gagasan atau informasi
tertentu. Pada dasarnya, hak cipta merupakan "hak untuk menyalin suatu
ciptaan". Hak cipta dapat juga memungkinkan pemegang hak tersebut
untuk membatasi penggandaan tidak sah atas suatu ciptaan. Pada
umumnya pula, hak cipta memiliki masa berlaku tertentu yang terbatas.
Di Indonesia, masalah hak cipta diatur dalam Undang-undang Hak
Cipta, yaitu, yang berlaku saat ini, Undang-undang Nomor 19 Tahun
2002. Dalam undang-undang tersebut, pengertian hak cipta adalah "hak
eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau
memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak
mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-
undangan yang berlaku" (pasal 1 butir 1).

2.2.2 Hak-hak yang Tercakup dalam Hak Cipta


Hak Eksklusif
Yang dimaksud dengan "hak eksklusif" dalam hal ini adalah
bahwa hanya pemegang hak ciptalah yang bebas melaksanakan hak
cipta tersebut, sementara orang atau pihak lain dilarang
melaksanakan hak cipta tersebut tanpa persetujuan pemegang hak
cipta.
Beberapa hak eksklusif yang umumnya diberikan kepada pemegang
hak cipta adalah hak untuk:
1) membuat salinan atau reproduksi ciptaan dan menjual hasil
salinan tersebut (termasuk, pada umumnya, salinan elektronik),
2) mengimpor dan mengekspor ciptaan,
3) menciptakan karya turunan atau derivatif atas ciptaan
(mengadaptasi ciptaan),
4) menampilkan atau memamerkan ciptaan di depan umum,

5
5) menjual atau mengalihkan hak eksklusif tersebut kepada orang
atau pihak lain.
Konsep tersebut juga berlaku di Indonesia. Di Indonesia, hak
eksklusif pemegang hak cipta termasuk kegiatan menerjemahkan,
mengadaptasi, mengaransemen, mengalihwujudkan, menjual,
menyewakan, meminjamkan, mengimpor, memamerkan,
mempertunjukkan kepada publik, menyiarkan, merekam, dan
mengkomunikasikan ciptaan kepada publik melalui sarana apapun.
Selain itu, hak eksklusif yang dimiliki oleh pelaku karya seni
(yaitu pemusik, aktor, penari, dan sebagainya), produser rekaman
suara, dan lembaga penyiaran untuk mengatur pemanfaatan hasil
dokumentasi kegiatan seni yang dilakukan, direkam, atau disiarkan
oleh mereka masing-masing (UU 19/2002 pasal 1 butir 9–12 dan bab
VII). Sebagai contoh, seorang penyanyi berhak melarang pihak lain
memperbanyak rekaman suara nyanyiannya.
Hak-hak eksklusif yang tercakup dalam hak cipta tersebut dapat
dialihkan, misalnya dengan pewarisan atau perjanjian tertulis (UU
19/2002 pasal 3 dan 4). Pemilik hak cipta dapat pula mengizinkan
pihak lain melakukan hak eksklusifnya tersebut dengan lisensi, dan
persyaratan tertentu (UU 19/2002 bab V).
Hak Ekonomi dan Hak Moral
Banyak negara mengakui adanya hak moral yang dimiliki
pencipta suatu ciptaan. Secara umum, hak moral mencakup hak agar
ciptaan tidak diubah atau dirusak tanpa persetujuan, dan hak untuk
diakui sebagai pencipta ciptaan tersebut.
Hak cipta di Indonesia juga mengenal konsep "hak ekonomi"
dan "hak moral". Hak ekonomi adalah hak untuk mendapatkan
manfaat ekonomi atas ciptaan, sedangkan hak moral adalah hak yang
melekat pada diri pencipta atau pelaku (seni, rekaman, siaran) yang
tidak dapat dihilangkan dengan alasan apa pun, walaupun hak cipta
atau hak terkait telah dialihkan. Contoh pelaksanaan hak moral

6
adalah pencantuman nama pencipta pada ciptaan, walaupun misalnya
hak cipta atas ciptaan tersebut sudah dijual untuk dimanfaatkan pihak
lain. Hak moral diatur dalam pasal 24–26 Undang-undang Hak
Cipta.

7
BAB III

PEMBAHASAN

Dewasa ini, khususnya di Indonesia tidak jarang kita mendengar adanya


keluhan-keluhan dari para pemusik maupun aktor mengenai rendahnya penjualan
CD, VCD, maupun DVD film ataupun musik yang mereka hasilkan. Dan hal
tersebut disebabkan karena daya beli masyarakat, di mana lebih cenderung untuk
mengonsumsi film dan musik dari hasil bajakan.
Selama ini UU hanyalah sebuah rangkaian huruf-huruf yang tidak
mempunyai makna apa-apa, buktinya praktik pembajakan HaKI, terutama pada
film dan musik tetap saja tinggi. Pendek kata, kita masih menyaksikan berbagai
bentuk pelanggaran HaKI yang begitu gampangnya dilakukan oleh pihak-pihak
yang senang mencari keuntungan di atas hasil karya intelektual seseorang.
Pelanggaran HaKI yang saat ini terus meningkat dari waktu ke waktu,
misalnya pembajakan VCD, CD, baik berupa film maupun musik yang kemudian,
dibeli oleh masyarakat tanpa merasa bersalah atas perbuatannya itu. Hal tersebut
juga dipengaruhi oleh faktor lemahnya penegakan hukum di bidang HaKI yang
tidak dapat dipungkiri. Gampangnya masyarakat memperoleh barang bajakan
seperti VCD, CD, DVD. Di samping itu, kurangnya kemampuan para aparat
hukum dalam memahami dan mendalami perkara di bidang HaKI menyebabkan
kelompok jaringan pembajakan akan sulit tertangkap apalagi diadili.

3.1 Penyebab Terjadinya Pembajakan Film dan Musik


Pembajakan terhadap film dan musik bukan merupakan hal yang baru bagi
negara Indonesia. Kucing-kucingan antara pengusaha barang bajakan dengan
petugas razia merupakan hal yang biasa di tempat-tempat perbelanjaan.
Meskipun ada pengusaha barang bajakan yang ditangkap, namun begitu
terlewati beberapa minggu mereka berjualan lagi dengan terang-terangan dan
bebas.

8
Menurut data yang telah dikaji oleh penulis, penyebab utama tindakan
membajak film dan musik ialah karena masalah ekonomi. Adanya keinginan
untuk melepaskan diri dari impitan ekonomi dengan menggunakan cara yang
mudah, yakni melakukan pembajakan atas karya orang lain.
Secara lebih mendalam, dilihat dari pihak pembajak, motif pembajakan
adalah karena dari pembajakan tersebut dapat mengeruk keuntungan besar,
tetapi dengan resiko sanksi hukum yang "dapat diatur". Pembajak dapat
membuat produk CD, VCD atau DVD dengan harga yang jauh lebih murah
dengan kualitas yang sedikit di bawah produk aslinya. Dikatakan tindak
pidana Hak Cipta ini timbul karena ingin mendapatkan keuntungan secara
cepat, namun ada faktor lainnya yang secara tidak langsung mendukung
pembajakan hak cipta, yakni kurangnya penghargaan masyarakat terhadap
Hak Cipta yang disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat akan
hukum yang ada, kurangnya pengawasan dan pemantauan dari aparat
penegak hukum untuk mencegah dan menanggulangi terjadinya tindak pidana
Hak Cipta (lemahnya penegakan hukum), rendahnya kemampuan produksi
pabrik, dan budaya masyarakat yang lebih menyukai barang bajakan.
Di samping itu, dari pihak pembeli (konsumen) juga menjadi faktor
penentu tetap bertahannya penjualan barang bajakan. Dikatakan seperti itu,
karena pada dasarnya DVD bajakan diburu oleh pencinta film karena lebih
cepat menghadirkan film-film atau album musik terbaru. Film-film yang
belum diputar di bioskop pun sudah bisa dibeli di penjual barang bajakan.
Soal kualitas gambar dan suara, tergantung CD film atau musik yang didapat.
Jika melihat harga yang diterapkan oleh toko-toko penjualan VCD, CD, atau
DVD orisinil sungguh dapat membuat masyarakat berpikir dua kali untuk
memutuskan membeli atau tidak, dibandingkan dengan membeli VCD, CD,
atau DVD bajakan yang dijual di kaki lima. Ini untuk sebagian masyarakat
besar yang rata-rata 80% nya tingkat menengah kebawah dengan pendapatan
yang pas-pasan, menjadikannya sebagai sebuah hal yang bersifat sangat
luxurious di mata mereka, dimana menganggap bahwa hanya orang-orang
mampu yang dapat menikmatinya.

9
Tetapi seperti yang dijelaskan sebelumnya, harga film dan musik berkali-
kali lipat jika membeli yang orisinil, sementara orang-orang hanya
menikmatinya hanya sekali dan tentu dengan harga yang rata-rata Rp.60.000
ke atas yang akan menjadi suatu hal yang berat bagi masyarakat penikmat film
dan musik. Selain itu, dengan hukum yang masih belum pasti, akhirnya ada
yang mengambil celah untuk membuat atau mengopi ulang film-film tersebut.
Konsumen banyak memilih kaset, CD, VCD atau DVD bajakan. Apabila kita
melihat dari tingginya tingkat kemiskinan yang ada di Indonesia, membeli
bajakan merupakan solusi bagi mereka yang ingin menyaksikan berbagai idola
mereka, tetapi tidak mempunyai cukup uang untuk membeli barang yang
orisinil. Penetapan cukai oleh pemerintah semakin tinggi, tetapi pendapatan
mereka pun tetap seperti sebelumnya. Kesenjangan sosial di negara kita
sangatlah tinggi. Yang kaya akan semakin kaya, dan yang miskin akan
semakin terpuruk. Membeli bajakan sudahlah menjadi budaya bagi
masyarakat Indonesia. Semua kalangan lebih memilih membeli bajakan
daripada barang yang orisinil.
Kemajuan teknologi komputer juga mempunyai peranan yang sangat besar
dalam mendukung tindakan pembajakan film dan musik. Dengan
disebarluaskannya penggunaan floppy disk drive pada PC hingga alat yang
saat ini populer yaitu CD-RW dan DVD-RW membuat kasus pembajakan
semakin marak di seluruh dunia, khususnya di Indonesia. Pengetahuan
mengenai komputer serta tersedianya fasilitas-fasilitas software yang sangat
maju dan berkembang, memungkinkan manusia melakukan rekayasa.
Sekarang ini banyak Compact Disc (CD) dan Video Compact Disc (VCD)
bajakan yang mempunyai kualitas gambar dan suara lumayan baik. Masalah
suara bahkan bisa diakali dengan menggunakan piranti sistem tata suara yang
baik.

3.2 Dampak yang Timbul


Mungkin bagi sebagian besar orang masalah pembajakan adalah masalah
yang kecil, karena bagi sebagian besar masyarakat tidak ada dampaknya bagi

10
mereka bahkan mereka mendapat keuntungan dari itu semua. Padahal,
masalah pembajakan merupakan hal yang dapat mengakibatkan krimilitas,
ekonomi, budaya masyarakat Indonesia sendiri menjadi semakin terpuruk.
Membeli bajakan sama saja dengan menghancurkan negara Indonesia.
Karena pembangunan negara Indonesia pun akan semakin lambat dikarenakan
pendapatan pajak yang negara dapatkan akan semakin terus mengecil dan
bahkan mengalami kerugian. Merugikan kepentingan umum yaitu merugikan
kepentingan negara baik di bidang perpajakan, perindustrian, konsumen, serta
tatanan sosial, hukum dan ekonomi secara luas. Pembajakan yang makin
merajalela dari Sabang sampai Merauke itu berdampak pada pemasukan pajak
untuk pembangunan ekonomi negara menjadi sangat minim, sehingga pada
gilirannya membuat kreativitas bangsa akan mati. Industri musik, film, dan
akan bangkrut, kredibilitas Indonesia di mata bangsa-bangsa lain makin buruk,
dan ini jelas menjadi ancaman bagi masa depan bangsa. Industri perfilman
nasional hancur gara-gara supremasi hukum tidak berfungsi secara optimal.
Ekonomi masyarakat Indonesia sangatlah terpuruk oleh keadaan
pembajakan yang semakin marak dari waktu ke waktu. Negara kita dirugikan
kurang lebih sekitar Rp11 triliun per tahun dari sektor pajak akibat maraknya
pembajakan CD, VCD atau DVD di Indonesia. Hal ini sangatlah
mengkhawatirkan karena Rp11 triliun yang semestinya dapat kita gunakan
untuk memberikan subsidi-subsidi kepada rakyat kecil dan juga untuk
membangun berbagai sarana dan prasarana bagi negara kita. Kerugian yang
kita alami hanya akan terus menimbulkan masalah-masalah bagi masyarakat
dan juga pemerintah.
Dampak dari maraknya produk rekaman bajakan membuat sejumlah
perusahaan rekaman memilih untuk tutup alias stop berproduksi, sebab
penjualan album rekaman menjadi menurun, dikalahkan oleh barang bajakan.
Hal tersebut juga disebabkan tidak adanya kegiatan yang menyolok dari
pemerintah dan kepolisian dalam menangani masalah ini hingga sekarang.
Dan terjadinya perkembangan teknologi ponsel dan teknologi informasi yang
luar biasa. Ke depannya mungkin format menjual musik via ponsel akan lebih

11
efektif karena tidak memerlukan label untuk menjual musik nantinya. yang
kemudian mengakibatkan matinya budaya kreativitas dalam industri musik
Indonesia yang tidak bisa diukur nilainya.
Dampak yang ditimbulkan dari tindakan pembajakan tidak hanya berkisar
pada negara dan industri musik, tetapi juga pada masyarakat yang membeli
VCD atau DVD bajakan. Sebab terdapat banyak kasus seperti kualitas visual
maupun audio ternyata jauh daripada apa yang diharapkan. Kadang-kadang
ada yang memberikan garansi dan kadang juga tidak. Bahkan kadang-kadang
karena harga murah mutu kualitas fisik cakramnya pun tidak memenuhi
standar. Padahal hal ini justru bisa jadi merusak lensa player konsumen.
Dampak yang paling parah jika masalah pembajakan tidak segera
dihentikan, Indonesia bisa dikeluarkan dari keanggotaan WTO, sebab sebagai
anggota WTO, Indonesia terikat pada berbagai kesepakatan, yang salah
satunya harus mematuhi peraturan mengenai Hak atas Kekayaan Intelektual.

3.3 Peran Pemerintah


Dalam meyikapi kasus-kasus pembajakan hak cipta pada film dan musik,
pemerintah telah mengambil kebijakan untuk membebani piranti lunak dengan
cukai hal ini dimaksudkan untuk mencegah dan mengurangi maraknya
pembajakan produk kaset, CD, VCD atau DVD sekaligus menambah
penerimaan negara. Sebenarnya, hal itu akan makin menaikkan tingkat
pembajakan yang ada, karena otomatis harga terhadap produk tersebut akan
semakin tinggi, kebijakan pengenaan cukai tidak menjamin peningkatan
penerimaan pemerintah dan akan mengurangi kesejahteraan produsen serta
kesejahteraan konsumen, sehingga menimbulkan kerugian secara sosial.
Dengan kata lain, kebijakan tersebut makin memperburuk industri kaset, CD,
VCD atau DVD.
Pengenaan cukai akan membuat harga CD, VCD atau DVD bagi
konsumen menjadi lebih mahal dibandingkan jika tidak dikenakan cukai.
Akibatnya, konsumen akan cenderung mencari barang bajakan yang harganya
menjadi relatif murah, sepanjang konsumen bisa mendapatkan CD, VCD atau

12
DVD bajakan dengan mudah. Jadi, pengenaan cukai tanpa diikuti kebijakan
memutus jalur produksi dan pemasaran kaset, CD, VCD atau DVD bajakan,
malahan akan membuat maraknya pembajakan.
Untuk membuktikan keseriusannya dan untuk menanggulangi maraknya
pelanggaran HaKI, pemerintah telah menerbitkan Keppres No.4/2006 tentang
Pembentukan Tim Nasional Penanggulangan Pelanggaran Hak Kekayaan
Intelektual yang bertugas merumuskan kebijakan nasional, melakukan
koordinasi dan sosialisasi pendidikan di bidang HaKI, serta meningkatkan
kerjasama secara bilateral, regional maupun multilateral. Pemerintah juga
melalui Direktorat Jenderal HaKI giat menyampaikan peringatan kepada
pengelola pusat-pusat perbelanjaan atau mall yang menyewakan tempat
usahanya untuk pedagang yang menjual VCD, CD, DVD bajakan.
Usaha pemerintah menekan angka pembajakan dilakukan dengan
mengeluarkan Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta yang
mulai diberlakukan tanggal 29 Juli 2003. Hukum Hak Cipta tersebut
melindungi karya intelektual dan seni dalam bentuk ekspresi. Ekspresi yang
dimaksud seperti dalam bentuk tulisan seperti lirik lagu, puisi, artikel atau
buku, dalam bentuk gambar seperti foto, gambar arsitektur, peta, serta dalam
bentuk suara dan video seperti rekaman lagu, pidato, video pertunjukan, video
koreografi, dan lain-lain. Hukum Hak Cipta itu bertujuan melindungi hak
pembuat dalam mendistribusikan, menjual atau membuat turunan dari karya
tersebut. Perlindungan yang didapatkan oleh pembuat (author) adalah
perlindungan terhadap penjiplakan (plagiat) oleh orang lain. Bagi yang
melanggar sesuai pasal 72 ayat (2) UU No. 19 Tahun 2002 menyatakan,
bahwa “Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan,
mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil
pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait, sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)”.
Di lain sisi, pemerintah juga telah mengadakan aktivitas razia CD, VCD
atau DVD bajakan yang sering kali berlangsung seperti permainan kucing-

13
kucingan dengan aparat. Namun begitu rencana razia tercetus, entah
bagaimana, kabar tersebut bisa sampai dengan cepat ke kuping para pedagang.
Kios-kios CD, VCD atau DVD bajakan segera tutup, dan buka lagi begitu
keadaan tenang.
Meskipun begitu, para aparat penegak hukum hanya melakukan razia
terhadap para pedagang tetapi tidak terhadap sumber produk bajakan tersebut,
sehingga produksi barang bajakan terus berlanjut. Hal ini menunjukkan bahwa
pemerintah belum secara tuntas menyelesaikan masalah pembajakan, oleh
karena masih terdapat produsen yang memproduksi barang bajakan tersebut
yang belum tersentuh oleh aparat penegak hukum.
Untuk lebih menekankan kesadaran masyarkat, pemerintah mengadakan
acara peringatan Hari Hak Kekayaan Intelektual (HaKI). Juga disetiap karya
orisinil film telah disisipkan tampilan tentang larangan pembajakan, namun
semuanya kembali lagi pada masyarakat. Kesadaran masyarakat Indonesia
mengenai penghargaan terhadap karya orang lain sangatlah rendah.
Sementara itu, cara lainnya adalah penjualan lagu lewat situs bernama
iTunes. Situs iTunes ini merupakan milik perusahaan Apple yang khusus
menjual musik lewat internet bagi para pengguna iPod. Seperti yang telah
diketahui produk iPod hanya hanya dapat memutar mp3 orisinill yang
memiliki lisensi dari perusahaan Apple. Itu saja masih diberi tenggang waktu
untuk didengar yang biasanya hanya selama 1 bulan. Bila ingin menikmati
lagu tersebut lebih lama lagi, user harus membeli lisensi dari situs iTunes
guna memiliki hak dengar atas musik tersebut, Selain itu, tidak sembarang
musik bisa diputar di iPod karena dalam iPod sendiri sudah memiliki program
yang hanya bisa membaca file yang dienkripsi oleh perusahaan Apple.

14
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Pembajakan hak cipta di Indonesia sebagian besar terpusat pada film dan
musik. Tindakan tersebut didukung oleh perkembangan teknologi komputer
yang makin maju dari waktu ke waktu. Adanya fasilitas CD-RW dan DVD-
RW memudahkan manusia mengopi karya orang lain.
Para pengusaha barang bajakan melakukan pembajakan disebabkan oleh
faktor ekonomi, di mana mereka berusaha keluar dari impitan ekonomi
dengan cara yang mudah, yakni menjiplak karya orang lain tanpa izin. Selain
itu, perbuatan konsumen yang membeli barang bajakan khususnya film dan
musik, semakin mendorong para pengusaha memperbanyak produksi barang
bajakannya, serta mempertahankan usaha tersebut. Konsumen membeli
barang bajakan karena alasan film-film ataupun musik-musik yang baru,
sudah ada dijual di tempat penjualan barang bajakan, selain itu, harganya
murah, dapat dijangkau oleh semua kalangan masyarakat.
Dampak dari pembajakan sangat besar terhadap negara Indonesia, para
pemilik Ciptaan, industri musik, film, serta masyarakat. Negara menderita
kerugian, tidak adanya penghasilan dari pajak cukai terhadap film dan musik.
Sedangkan pemilik Ciptaan menjadi malas untuk berkarya, sebab karyanya
pada akhirnya dijiplak secara illegal. Industri musik juga dirugikan, biaya
produksi film dan musik tidak dapat tertutupi, diakibatkan menurunnya
jumlah penjualan film dan musik orisinil. Dan masyarakat, walaupun tidak
terlalu menjadi perhatian, namun konsumen yang membeli bajakan sangat
rawan mendapat film yang gambar ataupun suaranya tidak bagus, serta musik
yang tidak jernih bunyinya, yang pada akhirnya dapat merusak lensa alat optik
konsumen.
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menangani pembajakan
hak cipta dengan mengeluarkan Undang-Undang Hak Cipta, namun itu saja

15
belum cukup. Pemerintah juga telah membentuk Tim Nasional
Penanggulangan Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual, mengadakan acara
peringatan Hari Hak Kekayaan Intelektual, memperingati para pemilik pusat
perbelanjaan agar tidak memberi tempat bagi penjual barang bajakan, namun
itu semua tetap tidak dapat efektif memberantas pembajakan. Bahkan, razia
yang sering diadakan oleh pemerintah tidak dapat menyulut semangat para
pengusaha film dan musik bajakan untuk terus beroperasi.

4.2 Saran
Untuk mengurangi tindakan pembajakan dan daya beli masyarakat
terhadapnya, maka sebaiknya jumlah biaya produksi film dan musik
dikurangi. Dapat dilakukan dengan cara membuat kemasan yang bahannya
murah, tidak perlu yang terlalu mahal. Di samping itu, pemerintah juga
berperan dengan mengurangi atau menurunkan biaya cukai (pajak) yang
dikenakan pada industri film dan musik, sehingga harga yang dikenakan pada
film dan musik yang dijual ke konsumen dapat diturunkan. Dan tentu saja
dengan harga yang lebih murah diharapkan dapat dijangkau oleh semua
kalangan masyarakat, sehingga mengurangi tingkat pembelian film dan musik
bajakan.

16
DAFTAR PUSTAKA

http://yuli0.wordpress.com/2008/10/21/tugas-tik-xa-hak-cipta/
http://www.uufaq.co.cc/2008/05/di-balik-kota-kembang.html
http://library.usu.ac.id/index.php?
option=com_journal_review&id=4825&task=view
http://www.komisihukum.go.id/konten.php?
nama=Artikel&op=detail_artikel&id=102
http://www.kapanlagi.com/h/0000027735.html
http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/04/tgl/25/time/1
50129/idnews/929505/idkanal/399
http://ivanlesmana.multiply.com/journal/item/5/Industri_Musik_Indonesia_Kiama
t
http://www.antara.co.id/arc/2008/3/6/pembajakan-lagu-capai-500-juta-keping/
http://www.haki.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&1119229262
http://id.wikipedia.org/wiki/Hak_cipta
http://id.wikipedia.org/wiki/Pembajakan
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0308/04/opi02.html
Jawa Pos, Minggu, 7 Desember 2008. Halaman 36.

17