Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN LENGKAP BIOLOGI DASAR

“Percobaan Lazzaro Spallanzani”

Nama : Irnawati

NIM : 1614040002

Kelas : Pendidikan Biologi B

Kelompok : III (Tiga)

Asisten : MN. Fadhil Fadli

PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2016
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Lengkap Biologi Dasar dengan judul “Percobaan Lazzaro


Spallanzani” disusun oleh:
nama : Irnawati
NIM : 1614040002
kelas : Pendidikan Biologi B
kelompok : III (tiga)
telah diperiksa dan dikonsultasikan oleh Asisten/ Koordinator Asisten, maka
dinyatakan diterima.

Koordinator Asisten, Asisten,

Djumarirmanto, S.Pd MN. Fadhil Fadli .


NIM. 1414140006
Makassar, 28 November 2016

Mengetahui,
Dosen Penanggug Jawab

Drs. H. Hamka L., M.S


NIP. 1962 1231 1987 02 1 005
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Alam semesta ini sangatlah luas dan sungguh penuh dengan ciptaan-
ciptaan yang mengagumkan. Mulai dari yang terkecil seperti sel hingga yang
terbesar seperti matahari, tetapi semuanya itu penuh dengan rahasia-rahasia
yang masih banyak belum terungkapkan hingga kini. Salah satunya mengenai
asal-usul kehidupan, yang hingga saat ini masih menjadi misteri. Tentu saja
kita sebagai makhluk hidup, utamanya sebagai manusia bertanya-tanya dari
mana sebenarnya kita berasal dan bagaimana pada awalnya makhluk hidup
terbentuk.
Pertanyaan “dari manakah asal kehidupan ini?” yang masih menjadi
misteri, membuat para ilmuwan/peneliti berusaha dengan keras untuk
mengetahui jawaban-jawaban dari setiap pertanyaan yang muncul seputar
asal-usul kehidupan. Meskipun sebenarnya pertanyaan ini sangat mudah
dijawab oleh kaum muslim, yaitu makhluk hidup berasal dari pencipta alam
semesta, Allah SWT. Bukan hanya kaum muslim, para penganut teori
penciptaan juga percaya bahwa kehidupan di planet diciptakan oleh Tuhan.
Sedangkan sebagian saintis berusaha membuktikan kepercayaan tersebut ke
dalam sesuatu yang nyata melalui penelitian-penelitian ilmiah.
Pertanyaan mengenai asal-usul kehidupan ini membuat para
ilmuwan/peneliti mengemukakan pendapat mereka masing-masing dengan
sudut pandang yang berbeda. Jika kita melihat dari sudut pandang agama,
banyak yang mengatakan manusia diciptakan oleh Allah SWT dari tanah,
tetapi beda pula jika kita melihat dari sudut pandang sejarah ataupun dari sisi
biologi, tentu akan lebih berbeda lagi.
Teori-teori yang muncul dari para ilmuwan/peneliti diantaranya
adalah teori Abiogenesis atau generatio spontanea, dimana teori ini
menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati. Pelopor teori
abiogenesis ini adalah Aristoteles, lalu teorinya ini mendapat dukungan dari
John Needam dan semakin diperkuat oleh Anthony Van Leeuwnhoek dengan
temuannya mikroskop sederhana. Namun ada pula yang menentang pendapat
itu dan mengatakan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup
sebelumnya, teori ini di sebut juga sebagai teori biogenesis. Tokoh dari teori
biogenesis ini adalah Francesco Redi, Lazzaro Spallanzani, dan Louis
Pasteur. Bagaimana pun, para ilmuwan itu hanya berusaha untuk
mengungkap kebenaran, terlepas dari terbukti atau pun tidak teori yang
mereka kemukakan. Seiring berkembangnya zaman, para ilmuwan pun akan
terus meneliti dan mencari tahu dari mana sebenarnya asal-usul kehidupan
itu.
Berdasarkan hal diatas yang menjadi penyebab mengapa dilakukan
praktikum, untuk membuktikan teori-teori yang digagas oleh para ilmuan
sebelumnya, salah satunya yang paling sederhana adalah “Percobaan Lazzaro
Spallanzani”. Selain itu, percobaan ini juga dilakukan agar mahasiswa,
utamanya sebagai mahasiswa biologi diharapkan mampu mengikuti jalan
pikiran para ilmuwan atau peneliti dalam memecahkan masalah-masalah
biologi, terutama memecahkan masalah ini.
B. Tujuan Praktikum
Memberi kesempatan kepada mahasiswa mengikuti jalan pemikiran dan
langkah-langkah yang pernah dilakukan para ilmuan/peneliti dalam
memecahkan masalah bilogi, khususnya menjawab pertanyaan “dari manakah
asal kehidupan?”.
C. Manfaat Praktikum
Mahasiswa dapat melakukan pengamatan sesuai dengan penelitian yang
telah dilakukan oleh para ilmuwan dalam memecahkan masalah biologi.
Selain itu, dapat membuktikan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk
hidup sebelumnya dengan melakukan percobaan yang dilakukan oleh Lazzaro
Spallanzani.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Masalah manusia adalah masalah yang senantiasa dikaji oleh manusia itu
sendiri. Para ahli banyak menyelidiki manusia dari berbagai segi yang
menghasilkan banyak macam ilmu pengetahuan mengenai manusia seperti
humanisme, psikolog, biologi, hukum, kesehatan, antropologi dan sebagainya.
Pada abad ke-20 banyak sekali penemuan baru dalam bidang biologi, fisika dan
kimia sehingga persoalan asal-usul kehidupan manusia selama ini di pikir dan di
analisa (Syafii, 2006).
Setelah bola bumi mengalami pendinginan dan terbentuknya benua, danau,
sungai dan lautan pada kira-kira 2250 juta tahun lalu, terbentuklah wahana bakal
biosfer, yaitu suatu tempat tinggal tempat makhluk hidup melangsungkan
kehidupannya. Dalam kehidupan makhluk hidup terbentuk sistem hubungan antar
makhluk hidup tersebut dengan materi dan energi yang mengelilingnya. Tempat
dan sistem itulah yang di sebut biosfer (Jasin, 2010).
Menurut Jasin (2010), suatu benda dinyatakan sebagai benda hidup atau
makhluk hidup jika memiliki ciri-ciri :
1. Melakukan pertukaran zat atau metabolisme.
2. Tumbuh, maksudnya bertambah besar karena dari dalam dan bergerak.
3. Melakukan reproduksi atau kembangbiak.
4. Memiliki irribilitas atau kepekaan terhadap rangsangan dan memberikan
reaksi terhadap rangsangan itu
5. Memiliki kemampuan mengadakan adaptasi terhadap lingkungan.
Menurut Jasin (2010), ada beberapa teori yang bisa menjawab pertanyaan-
pertanyaan seperti, dari mana dan bagaimana makhluk hidup itu menghuni bumi?
Yaitu antara lain:
1. Teori Cosmozoa, yang menyatakan makhluk hidup datang di bumi dari
bagian lain alam semesta ini. Diperkirakan bahwa suatu benda berat telah
menyebarkan benda hidup dan benda hidup itu merupakan partikel-partikel
kecil. Teori ini berdasarkan dua asumsi bahwa benda hidup itu ada atau telah
ada di suatu tempat dalam alam semesta ini dan hidup itu dapat dipertahankan
selama perjalanan antar benda angkasa ke bumi.
2. Teori Pfluger, yang menyatakan bahwa Bumi berasal dari suatu materi yang
sangat panas, kemudian dari bahan itu mengandung karbon dan nitrogen
terbentuk senyawa Cyanogen (CN). Senyawa tersebut dapat terjadi pada suhu
yang sangat tinggi dan selanjutnya terbentuk zat protein pembentuk
protoplasma yang akan menjadi makhluk hidup.
3. Teori Moore, yang menyatakan bahwa hidup dapat muncul dari kondisi yang
cocok dari bahan organik pada sampai bumi mengalami pendinginan melalui
suatu proses yang kompleks dalam larutan yang labil. Bila fase keadaan
kompleks itu tercapai akan muncullah hidup.
4. Teori Allen, yang menyatakan bahwa pada saat keadaan fisis bumi seperti
keadaan sekarang, beberapa reaksi terjadi yaitu energi yang datang dari sinar
matahari di serap oleh zat besi yang lembab dan menimbulkan pengaturan
atom dari materi-materi. Interaksi antara nitrogen, karbon, hidrogen, oksigen
dan sulfur dalam genangan air di muka bumi akan membentuk zat-zat yang
difus yang akhirnya membentuk protoplasma benda hidup.
5. Teori transendental, atau teori ciptaan yang merupakan jawaban secara religi
bahwa benda hidup itu diciptakan oleh Super Nature atau Tuhan Yang Maha
kuasa di luar jangkauan sains.
6. Konsep atau teori modern
Beberapa ahli Ilmu Alamiah dari Aristoteles sampai beberapa abad
kemudian berpendapat bahwa berdasarkan pengamatannya, benda-benda
hidup itu mungkin dapat timbul dari benda tidak hidup. Sebagai contoh,
dinyatakan bahwa cacing berasal dari lumpur; ulat berasal dari daging yang
membusuk; kutu pakaian berasal dari kotak-kotak penyimpanan pakaian;
tikus berasal dari pakaian-pakaian bekas yang tersimpan lama. Pendapat
demikian disebut Abiogenesis atau Generatio Spontanea (Jasin, 2010).
Pada abad ke-17 Francisco Redi menyatakan bahwa daging
dibebaskan dari pencemaran lalat tidak menghasilakan ulat (larva). Kemudian
antara tahun 1859-1981 Louis Pasteur menunjukan bahwa penguraikan
(pembusukan) bahan cairan kaldu dan peragian perasan cair dari buah anggur
disebabkan oleh mikroorganisme yang terbawa oleh udara. Hal ini sebagai
penegasan pendapat dari Spallanzani yang dikemukan oleh satu abad
sebelumnya. Percobaan Louis Pasteur menunjukan bahwa makhluk hidup
berasal dari makhluk hidup lainnya. Dan terkenal ucapannya Omne Vivo
Ex Ovo, Omne Ovo Ex Vivo. Namun pendapat ini tidak menjawab
pertanyaan bagaimana asal-usul benda hidup yang pertama (Jasin, 2010).
Pertanyaan bagaimana makhluk hidup pertama muncul dibumi,
Evolosionis menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan makhluk hidup
pertama adalah sel tunggal yang terbentuk dengan sendirinya dari benda mati
secara kebetulan. Menurut teori ini pada saat bumi masih terdiri atas
bebatuan, tanah, gas dan unsur lainnya suatu organisme hidup terbentuk
secara kebetulan akibat pengaruh angin, hujan dan halilintar. Tetapi
pernyataan evolusi ini bertentangan dengan salah satu prinsip paling
mendasar biologi; kehidupan hanya berasal dari kehidupan sebelumnya, yang
berarti benda mati tidak memunculkan kehidupan. Selain menggugurkan teori
evolusi, hukum “kehidupan muncul dari kehidupan sebelumnya” juga
menunjukkan bahwa makhluk hidup muncul di bumi dari kehidupan yang ada
sebelumnya, dan ini berarti ia diciptakan oleh Allah (Syafii, 2006).
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Hari/Tanggal : Senin/ 21 November 2016
Waktu : 10.50-12.00 WITA
Tempat : Laboratorium Biologi lantai 3 timur FMIPA UNM
B. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Tabung reaksi 3 buah
b. Klem kayu 3 buah
c. Pipet tetes 1 buah
d. Lampu spiritus 1 buah
e. Gelas ukur 10 ml 1 buah
f. Gelas plastik 1 buah
g. Silet 1 buah
h. Pinset 1 buah
i. Stopwatch 1 buah
2. Bahan
a. Air kaldu 30 ml
b. Lilin 1 potong
c. Korek api 1 buah
d. Sumbat gabus 2 buah
e. Label 3 buah
C. Prosedur Kerja
1. Tabung reaksi diberikan label tabung I, tabung II dan tabung III.
2. Air kaldu dimasukkan kedalam tiga tabung reaksi, masing-masing 10 ml.
3. Tabung I, disumbat dengan gabus dan ditetesi lilin cair di sela antara mulut
tabung.
4. Tabung II, air kaldu dipanaskan di atas api lampu spiritus selama 2 menit
dan dibiarkan terbuka tanpa tutup.
5. Tabung III, air kaldu dipanaskan di atas api lampu spiritus selama 2 menit
lalu segera ditutupi gabus dan ditetesi lilin cair di sela antara mulut tabung
dengan tutupnya.
6. Semua tabung percobaan di masukkan kedalam gelas plastik dan simpan di
tempat yang terhindar dari gangguan hewan, cahaya matahari langsung
dan sumber panas lainnya.
7. Pengamatan dan pencatatan dilakukan setiap hari selama lima hari.
1.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
Tabel hasil pengamatan.
TABUNG
HARI I II III
W B E W B E W B E
1. - - - - - - - - -
2. + - - + - + - - -
3. + - + ++ - ++ + + +
4. ++ - ++ +++ + +++ ++ + ++
5. +++ - +++ +++ + +++ ++ + ++

KKeterangan:
B = Bau
W = Warna
E = Endapan
- = Tidak ada perubahan
+ = Ada perubahan
++ = Perubahan meningkat
+++ = Perubahan semakin meingkat
B. Pembahasan
Terdapat tiga perlakuan yang diberikan kepada masing-masing tabung,
yaitu ditutup untuk mencegah mikroorganisme yang terbawa oleh udara
masuk kedalam tabung, selain itu dengan pemanasan selama 2 menit untuk
mematikan mikroorganisme yang terdapat di dalam kaldu.
Menurut Ali (2006), penggunaan suhu tinggi merupakan salah satu cara
yang efektif dan telah digunakan secara luas untuk mengendalikan mikrobia.
Umumnya untuk mematikan mikrobia lebih cepat pada suhu tinggi. Sebagai
contoh, endospora Bacillus anthracis rusak dalam waktu 15 menit dengan
menggunakan pemanasan lembab pada 1000 C
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan hasil yang diperoleh adalah
sebagai berikut :
1. Tabung pertama (tidak dipanasi tapi disumbat dengan gabus)
Hari ke-nol dilakukannya percobaan, air kaldu yang terdapat pada
tabung belum mengalami perubahan begitu pula pada hari pertama. Pada
hari kedua warna kaldu tidak berubah, tidak berbau dan tidak terdapat
endapan. Pada hari ketiga warnanya bening, tidak berbau dan mulai
terdapat endapan. Pada hari keempat warna mulai keruh, tidak berbau dan
terdapat endapan. Pada hari kelima warna kaldu sangat keruh, tidak berbau
dan terdapat banyak endapan. Endapan disini mungkin adalah lelehan lilin,
karena kaldu tidak berbau, sehingga kemungkinan besar yang membuat
kaldu menjadi keruh dan terdapat endapat itu adalahan lelehan lilin yang
masuk kedalam kaldu saat di berikan lelehan lilin pada penyumbat
gabusnya.
2. Tabung kedua (dipanasi tapi tidak tertutup)
Hari kenol dilakukannya praktikum, air kaldu pada tabung belum
mengalami perubahan. Pada hari kenol dan hari pertama warna pada
tabung masih belum mengalami perubahan, tapi pada hari kedua warnanya
sudah mulai keruh, tidak berbau dan mulai terdapat endapan. Pada hari
ketiga warnanya sudah keruh, tidak berbau dan terdapat endapan. Pada
hari keempat dan kelima warna kaldu sangat keruh, berbau dan terdapat
banyak endapan. Hal ini disebabkan karena kaldu dalam tabung walaupun
dipanaskan tetapi tidak di tutup dengan gabus, air kaldu tetap
terkontaminasi dengan mikroba yang berasal dari udara luar.
3. Tabung ketiga (dipanasi dan tertutup)
Hari kenol, hari pertama dan hari kedua dilakukannya praktikum,
warna pada air kaldu belum mengalami perubahan, air kaldu pada tabung
ketiga ini juga tidak mengalami perubahan pada bau dan endapan. Pada
hari ketiga warna, bau, dan endapan sudah mulai berubah. Pada hari
keempat dan kelima warna kaldu sudah keruh, berbau dan terdapat
endapan. Pada tabung ketiga ini tidak sesuai dengan percobaan Lazzaro
Spallanzani, dimana pada percobaan Spallanzani air kaldu yang sudah
dipanaskan dan ditutup dengan rapat tidak terdapat perubahan baik pada
warna, bau ataupun terjadi endapan. Hal ini disebabkan mungkin karena
sewaktu pemanasan kaldu di atas lampu spiritus tidak menyebabkan
mikroorganisme yang terdapat pada kaldu mati, karena hanya di panaskan
selama 2 menit, dan pada waktu tersebut kaldu belum mendidih, sehingga
kemungkinan besar didalam kaldu masih terdapat mikroorganisme. Selain
itu, setelah di panaskan air kaldu tersebut tidak cepat ditutup sehingga
memberi kesempatan kepada mikroorganisme yang ada diudara masuk ke
dalam kaldu.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan Lazzaro Spallanzani yang telah dilakukan dapat
disimpulkan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya
dan adanya perubahan dari air kaldu, baik itu perubahan warna ataupun bau
disebabkan karena adanya mikroorganisme yang berasal dari udara luar
ataupun dari dalam tabung itu sendiri apabila sebelumnya tabung tidak
dipanasi.
B. Saran
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, ada beberapa saran yang
mungkin akan bermanfaat untuk parktikum selanjutnya, yaitu saat akan
melakukan praktikum usahakan semua peralatan yang akan di gunakan
bersih, melakukan pemanasan pada kaldu dengan tepat dan menutup kaldu
yang telah dipanaskan dengan cepat agar mikroorganisme yang ada di udara
tidak masuk. Karena jika pemanasan kaldu dan penutupan tabung reaksi tidak
sesuai maka akan membuat hasil praktikum tidak sesuai dengan yang
dilakukan oleh Lazzaro Spallanzani.
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Alimuddin. 2006. Mikrobiologi Dasar. Makassar: Badan Penerbit Universitas


Negeri Makassar.

Jasin, Maskoeri. 2010. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Syafii, Ahmad. 2006. Kritik Islam atas Teori Evolusi Darwin. Jurnal Hunafa.
volume 3 (03): 263-274.
LAMPIRAN
JAWABAN PERTANYAAN

1. Apa yang menjadi penyebab terjadinya perubahan kaldu pada percobaan


tersebut di atas ?
Jawab: Perubahan kaldu terjadi karena adanya bakteri atau mikroba yang
tumbuh di dalam air kaldu dan berkontaminasi dengan udara luar.
2. Dari manakah datangnya makhluk hidup yang menyebabkan terjdinya
perubahan kaldu tersebut ?
Jawab: Makhluk hidup yang menyebabkan terjadinya perubahan kaldu
berasal dari udara yang membawa mikroba masuk ke dalam
tabung.
3. Perubahan kaldu pada percobaan tersebut di atas terjadi pada tabung yang
diperlakukan bagaimana? Mengapa bisa terjadi?
Jawab : Perubahan kaldu terjadi pada tabung yang tertutup rapat dan tidak
dipanaskan, karena air kaldu, tabung, dan sumbat gabus tidak
steril yang memungkinkan terdapat bakteri. Perubahan juga
terjadi pada kaldu yang di didihkan tapi dibiarkan terbuka karena
berhubungan langsung dengan udara luar yang membawa
mikroba dan bebas keluar masuk ke dalam tabung. Perubahan
juga terjadi pada kaldu yang tidak di didihkan tetapi dibiarkan
terbuka, karena selain tidak steril, juga berhubungan langsung
dengan udara luar yang membawa mikroba.
4. Pada tabung yang diperlakukan bagaimana yang kaldunya tidak
mengalami perubahan? Mengapa tidak terjadi perubahan warna dan bau?
Jawab: Kaldu pada tabung yang di didihkan dan di tutup rapat tidak
mengalami perubahan warna dan bau, karena kaldu sudah steril
dan tidak berhubungan dengan udara luar, sehingga tidak ada
mikroba yang tumbuh dan berkembang di dalamnya.
5. Mungkinkah dari bahan kaldu tidak ada muncul makhluk hidup baru jika
dalam kaldu tidak ada makhluk hidup hidup sebelumnya ?
Jawab: Jika hanya dari bahan air kaldu, tidak akan muncul makhluk hidup
baru jika di dalam kaldu tersebut tidak ada makhluk hidup
sebelumnya.
6. Hasil percobaan di atas dapatkah digunakan sebagai bukti yang kuat untuk
menyangkal pendapat Generatio Spontanea ?
Jawab: Percobaan di atas dapat di gunakan sebgai bukti yang kuat untuk
makhluk hidup yang ada di dalam tabung berasal dari mikroba
yang dibawa oleh udara atau angin, bukan muncul secara tiba-tiba
seperti yang di ungkapkan pendukung Generatio Spontanea.

Anda mungkin juga menyukai