Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 8 No 1, Hal 45 - 52, Februari 2020 p-ISSN2338-2090

FIKKes Universitas Muhammadiyah Semarang bekerjasama dengan PPNI Jawa Tengah e-ISSN 2655-8106

PENERAPAN STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN JIWA NERS UNTUK


MENURUNKAN INTENSITAS WAHAM PASIEN SKIZOFRENIA
Fallon Victoryna1*, Ice Yulia Wardani1, Fauziah2
1
Program Studi Profesi Ners, Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, Pondok Cina, Kecamatan Beji,
Kota Depok, Jawa Barat, Indonesia 16424
2
Rumah Sakit Dr. Marzoeki Mahdi Bogor, Jl. DR. Sumeru No.114, Menteng, Kec. Bogor Bar., Kota Bogor,
Jawa Barat, Indonesia 16111
*fallonvictoryna@yahoo.co.id

ABSTRAK
Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang kompleks. Gejala yang paling sering ditemui adalah
waham. Waham dialami oleh 60% penderita skizofrenia dengan intensitas yang lebih berat
dibandingkan dengan gangguan jiwa yang lain. Pasien waham memiliki kecenderungan untuk
memunculkan reaksi agresif karena adanya upaya konfrontasi dari lingkungan terkait pemikiran dan
keyakinannya yang tidak realistis. Kecenderungan tersebut merupakan efek dari besarnya intensitas
waham yang dialami pasien. Salah satu cara untuk mengontrol perilaku agresif tersebut adalah melalui
latihan deeskalasi. Penanganan yang komprehensif perlu diberikan berdasarkan standar asuhan
keperawatan (SAK) jiwa dan pemberian latihan deeskalasi secara adekuat pada pasien dengan
gangguan proses pikir waham. Penulisan karya ilmiah akhir ners ini bertujuan untuk menggambarkan
penerapan asuhan keperawatan jiwa ners dan latihan deeskalasi terhadap agresifitas pasien untuk
menurunkan intensitas waham. Metode yang dilakukan adalah berupa analisis kasus pada pasien yang
dirawat di RS Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor, dengan diagnosis keperawatan gangguan proses pikir
waham kebesaran. Hasil dari pemberian intervensi selama 8 hari adalah pasien mengalami penurunan
intensitas waham dari skor 16 dengan kategori berat menjadi skor 11 dengan kategori sedang.
Kesimpulannya terdapat penurunan intensitas waham dengan menerapkan standar asuhan keperawatan
jiwa ners dan latihan deeskalasi terhadap agresifitas pada pasien skizofrenia.

Kata kunci: deeskalasi, skizofrenia, standar asuhan keperawatan, waham

APPLICATION OFPSYCHIATRIC NURSING CARE STANDARDS TO REDUCE THE


INTENSITY OF DELUTION SCHIZOPHRENIA

ABSTRACT
Schizophrenia is a complex mental disorder. The most common symptom is delusions. Estimated 60%
of schizophrenics have more severe intensity compared to other mental disorders with the same
diagnose. Patients with delusions tend to elicit aggressive reactions because of attempts at
confrontation from the environment related to unrealistic thoughts and beliefs. The tendency is the
effect of the amount of delusions experienced by patients. One way to control aggressive behavior is
through de-escalation exercises. Comprehensive treatment needs to be given based on psychiatric
nursing care standards and the provision of adequate de-escalation exercises to patients with
delusional thought processes. The writing of this final scientific work aims to illustrate the application
of nursing care and de-escalation exercises to the aggressiveness of patients to reduce the intensity of
delusions. The method used is a case analysis in patients treated at Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor,
with a nursing diagnosis of oversized thought processes. The result of giving generalist therapy for 8
days is that the patient experienced a decrease in delusions intensity from a score of 16 with a severe
category to a score of 11 with a moderate category. In conclusion, there is a decrease in the intensity
of delusions by applying psychiatric nursing care standards and de-escalation training on
aggressiveness in schizophrenic patients.

Keywords: de-escalation, delution, psychiatricnursing care, schizophrenia

PENDAHULUAN Banyak orang yang masih menganggap


Masalah kesehatan jiwa menjadi ancaman masalah kesehatan jiwa bukan sebagai
yang sangat berat karena adanya perbedaan penyakit, padahal kesehatan jiwa sama halnya
perspektif terutama dalam konteks kesehatan. dengan kesehatan fisik, jika tidak diatasi

45
Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 8 No 1 Hal 45 - 52, Februari 2020
FIKKes Universitas Muhammadiyah Semarang bekerjasama dengan PPNI Jawa Tengah

gangguan kejiwaan dapat mengancam Dalam beberapa penelitian dijelaskan bahwa


kehidupan seseorang. Menurut Our World in orientasi realita dapat meningkatkan fungsi
data of mental health pada tahun 2017 perilaku. Pasien perlu dikembalikan pada
diperkirakan terdapat 970 juta orang di seluruh realita bahwa hal-hal yang dikemukakan tidak
dunia mengalami gangguan jiwa, jumlah berdasarkan fakta dan belum dapat diterima
terbesar dengan masalah kecemasan sekitar orang lain dengan tidak mendukung ataupun
3,76%, depresi 3,44%, bipolar 0,6%, dan membantah waham (Keliat, Hamid, Putri,
skizofrenia 0,25% (Ritchie, Roser, 2019). Di Daulima, 2019; Patton, 2006). Tidak jarang
Indonesia, data Riskesdas (2018) menunjukkan dalam proses ini pasien mendapatkan
prevalensi rumah tangga dengan ART konfrontasi dari lingkungan terkait pemikiran
gangguan jiwa skizofrenia/psikosis sebesar dan keyakinannya yang tidak realistis (Dudley
7/1000 dengan cakupan pengobatan 84,9%. & John, 1997). Hal tersebut akan memicu
Sementara itu, prevalensi gangguan mental agresifitas pasien waham. Reaksi agresif ini
emosional pada penduduk berumur >15 tahun merupakan efek dari besarnya intensitas
sebesar 9,8%. Angka jni meningkat waham yang dialami pasien. Haddock (1999)
dibandingkan tahun 2013 yaitu sebesar 6% dalam Erawati, Keliat, dan Daulima (2014),
(Kemkes RI, 2019). menjelaskan intensitas waham
dimanifestasikan melalui respon kognitif,
Salah satu gangguan jiwa berat yang paling afektif dan perilaku. Respon kognitif terkait
banyak terjadi adalah skizofrenia. Skizofrenia dengan frekuensi pasien berfikir tentang
merupakan gangguan jiwa yang kompleks, waham, waktu dalam memikirkan waham, dan
karena penyakit ini mempengaruhi esensi tingkat keyakinan terhadap waham. Respon
identitas otak dan fungsi paling kompleks yang afektif meliputi jumlah respon berupa perasaan
dimediasi oleh otak (Weinberger & Harrison, ketidaknyamanan dari pemikiran waham dan
2011). Townsend (2015), menjelaskan bahwa intensitas dari respon tersebut. Respon perilaku
skizofrenia adalah gangguan neurobiologis berupa gangguan dalam kehidupan akibat dari
yang dapat mengakibatkan seseorang pemikiran waham tersebut (Erawati, 2013;
mengalami gangguan kognitif, persepsi, emosi, Shives, 2012).Salah satu cara untuk
perilaku dan sosialisasi. Perjalanan penyakit mengontrol perilaku agresif dari pasien waham
skizofrenia sangat heterogen. Pada fase akut, yaitu melampiaskan kemaraham dengan aman
gejala positif lebih dominan menonjol. Gejala melalui latihan deeskalasi secara verbal
yang paling sering ditemui itu adalah waham. maupun tertulis (Hallett & Dickens, 2017).
Hasil penelitian menunjukkan lebih dari 60%
penderita skizofrenia sering mengalami Teknik deeskalasi merupakan intervensi non-
kekambuhan waham atau memiliki waham spesifik yang direkomendasikan untuk
yang menetap dengan intensitas waham yang pengelolaan kekerasan dan agresi dalam
lebih berat dibandingkan dengan gangguan kesehatan jiwa. Teknik ini mengembangkan
jiwa yang lain. Meskipun setelah melewati fase teknik psikososial disaat perilaku pasien dalam
akut, kerentanan skizofrenia yang mengalami keadaan yang tidak tenang, dan
waham dapat terjadi secara menetap selama mengembalikan pasien menjadi lebih tenang
beberapa tahun (Harrow., Mac, Donald., atau memberikan umpan balik dengan harapan
Angus., et al, 1995). pasien kembali menjadi individu yang tenang
(Price, Baker, Bee, & Lovell, 2015).
Waham adalah keyakinan yang salah yang Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
didasarkan oleh kesimpulan yang salah tentang Indrono, W., Caturini (2012), yaitu
realita eksternal dan dipertahankan dengan implementasi teknik deeskalasi pada pasien
kuat (Keliat, B. A., Hamid, A. Y. S., Putri, Y. dengan perilaku kekerasan memberikan
S. E., Daulima, N. H. C., dkk, 2019). Waham pengaruh yang signifikan terhadap kontrol
merupakan gangguan dimana penderitanya emosi dan penurunan respon marah. Penelitian
memiliki rasa realita yang berkurang atau lain, menyebutkan metode ini dapat dijadikan
terdistorsi dan tidak dapat membedakan yang sebagai salah satu sarana katarsis dan media
nyata dan yang tidak nyata (Videbeck, 2011). self-help bagi pasien untuk mengekspresikan
Pemberian intervensi keperawatan jiwa pada emosi dan perasaan marahnya (Fikri, 2012).
pasien dengan waham berfokus pada orientasi
realita, menstabilkan proses pikir, dan Penanganan yang komprehensif perlu
keamanan (Townsend, 2015). dilakukan berupa pemberian tindakan
keperawatan berdasarkan standar asuhan
46
Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 8 No 1 Hal 45 - 52, Februari 2020
FIKKes Universitas Muhammadiyah Semarang bekerjasama dengan PPNI Jawa Tengah

keperawatan (SAK) jiwa dan penerapan latihan oleh keluarga karena saat dirumah pasien
deeskalasi terhadap agresifitas pasien dengan gelisah dan mengatakan hal-hal yang tidak
gangguan proses pikir waham. Tindakan rasional. Pasien juga marah-marah saat
keperawatan yang diberikan dengan adekuat dinasehati, bicara kasar dan tidak sesuai,
dapat meningkatkan kemampuan kognitif, menyerang orang lain, merusak alat-alat rumah
psikomotor dan afektif pasien secara lebih tangga dan sulit tidur. Pasien diketahui
baik, sehingga diharapkan intensitas waham mempunyai masalah kejiwaan sejak tahun
yang dialami pasien dapat menurun. 2011. Pasien pernah menjalani pengobatan di
Berdasarkan hal tersebut, maka penulis tertarik Medan, terakhir tahun 2014, putus obat dan
untuk memberikan intervensi asuhan tidak pernah kontrol lagi sejak ± 5 tahun.
keperawatan ners dan latihan deeskalasi pada Pasien mengatakan sudah sembuh dan tidak
pasien skizofrenia untuk mengetahui sejauh perlu minum obat lagi.
mana pengaruhnya terhadap penurunan
intensitas waham pasien di ruangan Srikandi Pengkajian pada 25 Oktober 2019, klien
RS. Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor. tampak bingung, sorot mata tajam, berjalan
mondar-mandir, saat diajak berinteraksi pasien
METODE tampak jengkel, nada suara tinggi dan bicara
Penelitian ini merupakan studi kasus untuk kasar. Pasien juga menyalahkan orang lain
menganalisis intervensi standar asuhan terhadap kondisi yang dialaminya, menyangkal
keperawatan jiwa dan latihan deeskalasi sakit dan mengungkapkan keinginan untuk
terhadap agresifitas pasien skizofrenia untuk pulang. Pasien mengatakan dalam dirinya
menurunkan intensitas waham di RS Dr. H. terdapat 3 jiwa dalam satu tubuh (tritunggal)
Marzoeki Mahdi Bogor. Intervensi ini yaitu Eva, Evi, dan Ipah. Masing-masing jiwa
diberikan selama delapan hari berturut-turut. ini melakukan tugas penting untuk
Evaluasi terhadap intensitas waham dilakukan mensejahterakan bangsa. Pasien juga
melalui wawancara dan observasi dengan mengatakan dalam dirinya terdapat kekuatan
menggunakan instrument Psychotic Symptom khusus karena dirinya adalah hasil reinkarnasi
Rating Scales (PSYRATS). Instrument ini dari roh-roh suci, dan mendapatkan kekuatan
terdiri dari 6 pernyataan meliputi kognitif, dari roh kudus untuk memberikan kebaikan
afektif, perilaku. Kognitif terkait dengan bagi umat manusia.
frekuensi pasien berfikir tentang waham,
waktu dalam memikirkan waham, serta tingkat Implementasi keperawatan telah dilakukan
keyakinan terhadap waham. Afektif meliputi sesuai dengan rencana keperawatan yang
jumlah respon berupa perasaan dibuat. Tindakan keperawatan diberikan
ketidaknyamanan dari pemikiran waham dan terhadap semua masalah keperawatan, dengan
intensitas dari respon tersebut dan perilaku masalah utama yaitu gangguan proses pikir:
berupa gangguan dalam kehidupan akibat dari waham kebesaran, yaitu : membina hubungan
pemikiran waham (E. Erawati, 2013; Shives, saling percaya, mengkaji perasaan yang
2012). Instrumen ini dikembangkan oleh muncul secara berulang dalam pikiran pasien,
Haddoch (1999). Dalam setiap item mengidentifikasi stressor pencetus waham,
pernyataan, disediakaan 5 pilihan jawaban, membantu pasien dalam mengidentifikasi
yang disesuaikan dengan tujuan yang akan wahamnya, membantu pasien mengidentifikasi
dinilai dari setiap item pernyataannya. Hasil konsekuensi dari wahamnya, membantu pasien
skoring berada dalam rentang skor antara 0-24 melakukan teknik distraksi dalam
dengan kategori: intensitas ringan (skor 0-6), menghentikan pikiran yang terpusat pada
intensitas sedang (skor 7-12), intensitas berat wahamnya, dan membantu pasien dalam
(skor 13-18), intensitas sangat berat (skor 19- memanfaatkan obat dengan baik. Implementasi
24). Hasil skoring bernilai baik jika semakin latihan deeskalasi dilakukan dalam
menurun nilai yang diperoleh yang berarti menurunkan agresifitas pasien.
semakin menurun intensitas waham yang
muncul pada pasien. HASIL
Pada analisis kasus ini, dilakukan evaluasi
Adapun ilustri kasus pada penelitan ini sebagai intensitas waham pada hari ke-1 dan ke-8
berikut: Ny. E yang berusia 40tahun. Pada perawatan.
tanggal 22 Oktober 2019 di bawa ke RSMM

47
Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 8 No 1 Hal 45 - 52, Februari 2020
FIKKes Universitas Muhammadiyah Semarang bekerjasama dengan PPNI Jawa Tengah

Tabel 1.
Penilaian intensitaswaham (n=16)
Intensitas waham Hari ke-1 Hari ke-8
Kognitif 8 6
Afektif 5 4
Perilaku 3 1
Kemampuan pasien dalam menurunkan Di usia dewasa seseorang juga dikatakan
intensitas waham cukup banyak perkembangan matang secara kognitif, emosi dan perilaku.
walaupun belum optimal. Evaluasi penilaian Jika terjadi kegagalan dalam tahap ini maka
intensitas waham dilakukan pada hari individu akan sulit menjalankan tuntutan
kedelapan. Intensitas waham mengalami perkembangan usia tersebut sehingga
perubahan, dari 6 pernyataan, terdapat 3 berdampak pada terjadinya gangguan jiwa
pernyataan yang mengalami perubahan (Stuart, 2013 ; Townsend, 2015).
signifikan, yaitu item no 2 dengan pernyataan
waktu berfikir tentang waham, awalnya pasien Pasien diketahui menjalani perawatan dan
mengatakan memikirkan keyakinan waham pengobatan terakhir tahun 2014, kemudian
selama kurang lebih 1 jam, namun setelah putus obat dan tidak pernah kontrol sejak ± 5
dilakukan intervensi berubah dengan tahun. Pasien merasa sudah sembuh dan
mengatakan memikirkan keyakinan tersebut mengatakan tidak perlu minum obat lagi. Hal
selama beberapa menit. Pernyataan selanjutnya ini disebabkan karena kemampuan pasien yang
adalah item no 3, di awal pasien mengatakan tidak baik dalam mengenali penyakit yang di
keyakinan terhadap wahamnya sangat kuat 50- deritanya, pasien juga tidak mampu dalam
99%, namun pada evaluasi akhir jawaban mengenal gejala dan dampak yang timbul dari
pasien berubah dengan mengungkapkan ada penyakit yang dialami terhadap kehidupannya.
keraguan antara yakin dan tidak 10-49%. Keadaaan ini lebih dikenal dengan istilah
Pernyataan lain yaitu item no 4, sebelum insight. Dalam penelitian yang dilakukan oleh
dilakukan intervensi kenyakinan waham yang Mohamed et al. (2009), dikatakan bahwa
dirasakan menyebabkan kondisi distress dan ketidakpatuhan dalam pengobatan dianggap
50-99% terjadi pada beberapa kesempatan bahwa pasien mempunyai insight yang buruk.
setiap keyakinan itu muncul. Namun setelah Pada kondisi seperti ini proses pengobatan
evaluasi akhir kondisi ini berkurang menjadi < akan sulit dilakukan, pasien akan menolak
50% terjadi pada beberapa untuk minum obat dan kontrol kepelayanan
kesempatan/kejadian sehari-hari. Kesimpulan kesehatan meskipun dilakukan dengan paksa.
evaluasi akhir didapatkan total skor 11, yang
berarti intensitas waham dalam kategori Mengkaji Perasaan yang Muncul Secara
sedang. Berdasarkan hal tersebut dapat Berulang dalam Pikiran Pasien
dikatakan bahwa intensitas waham pasien Pada intervensi ini difokuskan untuk
mengalami penurunan. mengidentifikasi tentang waham yang
dirasakan pasien yaitu meliputi tanda dan
PEMBAHASAN gejala yang dimunculkan, perasaan dan
Pasien berusia 40 tahun, diketahui mempunyai pemikiran waham. Pasien dapat menceritakan
riwayat gangguan jiwa sejak tahun 2011 atau pemikiran/ide-ide dan perasaan yang muncul
pada saat usia 32 tahun. Menurut Elvira, S. D., secara berulang dalam pikirannya. Pasien
Hadisukanto (2017), gejala penyakit mengatakan dalam dirinya ada 3 jiwa dalam
skizofrenia dapat muncul pada usia remaja satu tubuh (tritunggal) yaitu Eva, Evi, dan
akhir atau usia dewasa muda, awitan pada Ipah. Pasien mengungkapkan hal-hal yang
perempuan terjadi dalam rentang usia 25-35 tidak realistis, seperti “saya hasil reinkarnasi
tahun. Manfred Bleuler (1943) dalam dari roh-roh suci, dan mendapatkan kekuatan
Weinberger, D. R., Harrison (2011), dari roh kudus untuk mensejahterakan
menemukan bahwa 15-17% pasien skizofrenia bangsa”. Dalam kasus Ny. E, tanda dan gejala
memiliki onset setelah usia 40 tahun. Pada usia yang tampak yaitu pasien mudah tersinggung
tersebut pasien memasuki tahapan dan marah jika hal yang disampaikannya
perkembangan usia dewasa. Masa dewasa dibantah. Isi pembicaraan pasien lama-lama
adalah masa dimana seseorang memiliki inkoheren. Hal tesebut sesuai dengan
tuntutan terhadap pencapaian aktualisasi diri penjelasan Keliat, Hamid, Putri, Daulima,
baik dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan. (2019), terkait tanda dan gejala waham yaitu

48
Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 8 No 1 Hal 45 - 52, Februari 2020
FIKKes Universitas Muhammadiyah Semarang bekerjasama dengan PPNI Jawa Tengah

mudah tersinggung, marah, inkoheren, dan Membantu Pasien Melakukan Teknik


perilaku seperti isi wahamnya Distraksi dalam Menghentikan Pikiran
yang Terpusat pada Waham
Mengidentifikasi Stressor PencetusWaham Salah satu cara yang dilakukan dalam
Pasien menjelaskan tentang kejadian traumatis menghentikan pikiran terpusat pada waham
yang menimbulkan rasa takut, ansietas dan adalah membantu pasien dalam
perasaan tidak dihargai dalam kehidupannya. mengorientasikan realita secara bertahap.
Pasien juga mengungkapkan kebutuhan dan DalamVarcarolis (2014), dikatakan bahwa
harapannya yang belum terpenuhi. Selama penerapan orientasi realita memperhatikan
interaksi pasien juga banyak mengeluhkan hal- dimensi waktu, tempat dan orang. Dalam
hal tekait konsep dirinya. Salah satu stressor intervensi keperawatan yang diberikan
pencetus waham adalah harga diri rendah, hal orientasi realita difokuskan terhadap hal
tersebut didukung oleh penelitian yang tersebut. Keefektifan terhadap orientasi realita
dilakukan oleh Warman, Lysaker, Luedtke, & terkait dengan waktu yang konsisten (Stuart,
Martin, (2010), yang menyatakan individu 2013). Penelitian yang dilakukan oleh Patton
yang memiliki delusi yang tinggi memiliki (2006), menyebutkan bahwa terdapat
harga diri yang rendah. Dijelaskan bahwa peningkatan terhadap tingkat orientasi realita
terdapat hubungan yang signifikan antara pada tindakan yang dilakukan secara
harga diri yang rendah dan tingkat konsisten.
kepercayaan terkait dengan gangguan pikiran/
waham. Membantu Pasien dalam Memanfaatkan
Obat dengan Baik.
Membantu Pasien dalam Mengidentifikasi Pada intervensi ini diskusi dilakukan lebih
Waham lama, karena pasien menolak mengonsumsi
Pada awal proses identifikasi diketahui waham obat. Pasien mengatakan dirinya tidak sakit
yang dialami masih sangat kuat, dan pasien dan merasa tidak membutuhkan obat, pasien
belum mampu dalam mengatasinya. Pasien juga mengungkapkan perasaan curiga terhadap
juga belum mampu membedakan situasi nyata obat yang diberikan. Pendekatan yang
dan situasi yang dipersepsikan salah oleh dilakukan adalah menjelaskan mengenai
pasien. Hal tersebut terlihat dari hasil manfaat obat dan kerugian tidak minum obat,
pengukuran intensitas waham menggunakan pasien juga dijelaskan mengenai pengobatan
instrument PSYRATS dengan skor 16 yang dengan prinsip 8 benar (pasien, obat, dosis,
berarti intensitas waham dalam kategori berat. waktu, cara pemberian, dokumentasi, tanggal
Setelah dilakukan intervensi, intensitas waham kadaluarsa). Dinicola& Matteo (1992) dalam
berkurang menjadi skor 11 yang berada pada Pardede, Keliat & Wardani (2013)
kategori sedang. Berdasarkan instrumen menyebutkan ada beberapa cara untuk
PSYRATS semakin rendah skor intensitas menghadapi klien yang mengalami
waham menandakan hasil yang semakin baik ketidakpatuhan minum obat antara lain:
(Erawati, 2013). Perubahan intensitas waham menumbuhkan kepatuhan dengan
yang dialami pasien diidentifikasi melalui mengembangkan tujuan kepatuhan,
respon kognitif dimana frekuensi pasien mengembangkan strategi untuk merubah
berfikir tentang wahamnya setiap hari sekali, perilaku dan mempertahankannya,
waktu dalam memikirkan waham selama lebih mengembangkan kognitif, dan dukungan
kurang 1 jam, dan tingkat keyakinan terhadap sosial. Kepatuhan terkait dengan pemaksaan,
waham 50-99%; respon afektif meliputi jumlah kesesuaian atas ketidakpatuhan dan perawatan
respon berupa perasaan ketidaknyamanan dari diri untuk sebuah aliansi terapeutik dengan
pemikiran waham 50-99% terjadi dalam menyediakan interaksi terhadap klien
beberapa kesempatan setiap keyakinan itu (Pardede, Keliat, & Wardani, 2013).
muncul dan menimbulkan distress sedang;
respon perilaku berupa gangguan minimal Pada hari pertama rawatan, pasien tidak dapat
dalam kehidupan akibat dari pemikiran diarahkan, mengatakan dirinya mampu
waham, tetapi pasien masih mampu menjalin mensejahterakan bangsa, merasa tidak sakit
hubungan sosial serta mampu dan tidak perlu dirawat. Pasien tampak marah
mempertahankan kemandirian tanpa dukungan dan bersikap arogan, nada suara tinggi, mata
(Erawati, 2013) melotot dan tampak mengepalkan tangan.
Situasi tersebut menggambarkan tanda-tanda
risiko perilaku agresifitas pada pasien, sebagai

49
Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 8 No 1 Hal 45 - 52, Februari 2020
FIKKes Universitas Muhammadiyah Semarang bekerjasama dengan PPNI Jawa Tengah

dampak intensitas waham yang meningkat. Pemberian asuhan keperawatan pada Ny. E
Pada saat intensitas waham pasien dalam dilakukan sesuai standar asuhan keperawatan
kategori berat, terdapat konfrontasi dari jiwa, tetapi terdapat hambatan dalam
lingkungan (misalnya dari pasien lain) penatalaksanannya, yaitu ketika intensitas
terhadap waham pasien sehingga waham pasien yang dalam kategori berat,
menyebabkan munculnya perilaku agresifitas pasien memunculkan respon yang dominan
tersebut. Dalam Keliat, Hamid, Putri, Daulima marah. Perlu banyak waktu yang diperlukan
(2019), dijelaskan bahwa tidak boleh untuk menunggu pasien dalam kondisi yang
memunculkan konfrontasi atau membantah lebih tenang. Selain itu, pasien juga
waham. Dalam mengatasi situasi tersebut mempunyai keinginan pulang yang tinggi, hal
intervensi yang dilakukan adalah latihan tersebut dibuktikan dengan keputusan untuk
deeskalasi. pulang atas permintaan sendiri dan
melanjutkan pengobatan dengan kontrol ke
Beberapa teknik deeskalasi dilakukan yaitu poliklinik psikiatri. Hal tersebut juga
teknik komunikasi verbal seperti bicara dengan merupakan salah satu hambatan dimana belum
tenang, suara lembut dan menghindari optimalnya pemberian intervensi yang
pertentangan. Kemudian melakukan kontrol dilakukan. Pada evaluasi akhir sebelum pasien
lingkungan dengan membawa pasien pulang, penurunan tingkat intensitas waham
kekamarnya, ruangan yang stimulasi rendah, dalam kategori sedang sudah dicapai, tetapi hal
tenang/bebas dari kebisingan dan menyuruh tersebut tidak diikuti dengan peningkatan
pasien duduk. Selanjutnya melakukan kemampuan pasien dalam mengenali penyakit
eksplorasi terhadap perasaan pasien dan yang di deritanya, pasien masih
menjadi pendengar yang aktif hingga pasien mengungkapkan keraguannya terhadap
menjadi individu yang tenang dan agresifitas penyakit yang dialaminya. Hal ini dapat
menurun. Memfasilitasi pasien dalam menjadi ancaman karena dapat berpotensi
mencurahkan isi hati dan pikiran dalam bentuk pasien tidak mengikuti program terapi yang
cerita dapat dilakukan secara verbal maupun diberikan, ketidakpatuhan terhadap pengobatan
tertulis. Beberapa topik yang dibahas adalah terkait pada ketidakmampuan pasien dalam
mengenai keluarga, hobi/aktivitas yang mengenali penyakit yang dideritanya
disukai, aktifitas yang biasa dilakukan, harapan (Mohamed et al., 2009). Kemungkinan terjadi
dan keinginan realistis yang ingin dipenuhi. relapse dengan gejala lain yang lebihparah.
Latihan deeskalasi ini dilakukan setiap hari
dengan lama interaksi antara 30-40 menit. Alternatif dalam mengatasi masalah pasien
Hasil evaluasi yang didapat pasien mampu yang belum dapat diselesaikan adalah dengan
mengungkapkan ide-ide dan perasaan yang mengoptimalkan intervensi keperawatan
muncul secara asertif, pasien mampu keluarga, kelompok dan komunitas.
menyebutkan kejadian sesuai urutan waktu, Disebutkan dalam Dour et al (2014), bahwa
pasien mampu mengungkapkan harapan atau dukungan keluarga merupakan agen perubahan
kebutuhan realistis yaitu harapan bisa menjadi dalam proses penyembuhan. Sehingga dapat
ibu yang baik untuk anaknya, pasien mampu dikatakan intervensi yang diberikan pada
melakukan aktivitas sesuai dengan minatnya keluarga sangat penting dalam mendukung
yang dapat mengalihkan fokus pasien dari proses keberhasilan perawatan pasien selama
wahamnya seperti mengikuti kegiatan di rumah. Hasil penelitian tersebut dapat
rehabilitasi, kegiatan TAK, senam, kegiatan dijadikan acuan bagi perawat untuk melibatkan
seni/musik. Latihan deeskalasi dilakukan keluarga dalam proses keperawatan yang akan
sebagai intervensi tahap awal terhadap respon diberikan. Tindakan keperawatan yang dapat
emosional untuk mencegah perilaku agresi diberikan pada keluarga bertujuan agar
yang dimunculkan pasien (Hallett & Dickens, keluarga mampu merawat pasien di rumah.
2017). Intervensi latihan deeskalasi dijadikan Tindakan keperawatan yang dilakukan adalah
sebagai intervensi untuk membantu mengkaji mengenai masalah yang dirasakan
membangun aliansi terapeutik positif dengan keluarga dalam merawat pasien, mejelaskan
pasien, meningkatkan kolaborasi aktif pasien pengertian waham, tanda dan gejala waham,
dalam proses perawatan dan mengurangi serta proses terjadinya waham yang dialami
episode agresif pasien (Du et al., 2017). pasien. Mendiskusikan cara merawat pasien
waham dan memutuskan cara merawat yang
sesuai dengan kondisi pasien, menjelaskan
tanda dan gejala yang memerlukan rujukan
50
Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 8 No 1 Hal 45 - 52, Februari 2020
FIKKes Universitas Muhammadiyah Semarang bekerjasama dengan PPNI Jawa Tengah

segera serta melakukan follow up kepelayanan magelang. universitas indonesia.


kesehatan secara teratur (Keliat, Hamid, Putri,
Daulima, 2019). Elvira, S. D., Hadisukanto, G. (2017). Buku
Ajar Psikiatri (Vol. Edisi ketiga).
SIMPULAN Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Pasien Ny. E berusia 40 tahun dengan Kedokteran Universitas Indonesia
diagnosis keperawatan gangguan proses pikir
waham: kebesaran dengan karakteristik pasien Erawati, E., Keliat, B. A., & Daulima, N. H. C.
mengatakan bahwa dalam dirinya terdapat tiga (2014). The validation of the Indonesian
jiwa dalam satu tubuh yang merupakan hasil version of psychotic symptoms ratings
reinkarnasi jiwa-jiwa suci yang mampu scale ( PSYRATS ), the Indonesian
mensejahterakan bangsa. Intensitas waham version of cognitive bias questionnaire
berat berpotensi untuk menyebabkan for psychosis ( CBQP ) and
munculnya perilaku agresifitas, hal ini dapat metacognitive ability questionnaire (
distimulus oleh lingkungan sekitar pasien MAQ ), 3(2), 97–
(misalnya dari pasien lain). Tindakan 100.https://doi.org/10.14419/ijans.v3i2.3
keperawatan pada pasien waham, dilakukan 132
sesuai intensitas waham. Pada waham dengan
intensitas berat maka dilakukan tindakan Fikri, H. T. (2012). Pengaruh menulis
deeskalasi, sedangkan untuk waham dengan pengalaman emosional dalam terapi
intensitas sedang hingga tingan dapat ekspresif terhadap emosi marah pada
dilakukan dengan penerapan standar asuhan remaja. Humanitas, IX(2), 103–121.
keperawatan jiwa ners. Evaluasi dari Retrieved from
penerapan standar asuhan keperawatan jiwa https://media.neliti.com/media/publicati
dan latihan deeskalasi yang dilakukan selama ons/24580-ID-pengaruh-menulis-
delapan hari masa perawatan adalah terdapat pengalaman-emosional-dalam-terapi-
penurunan skor intensitas waham, dari skor 16 ekspresif-terhadap-emosi-mara.pdf
(kategori intensitas waham berat) menjadi 11
(kategori intensitas waham sedang). Hal Hallett, N., & Dickens, L. (2017). De-
tersebut menunjukkan respon yang baik escalation of aggressive behaviour in
terhadap intervensi yang diberikan. healthcare settings : Concept analysis.
International Journal of Nursing
DAFTAR PUSTAKA Studies, 75(June), 10–
Cheung, P., Schweitzer, I., Crowley, K., & 20.https://doi.org/10.1016/j.ijnurstu.201
Tuckwell, V. (1997). Violence in 7.07.003
schizophrenia : role of hallucinations
and delusions, 26, 181–190. Harrow., Mac, Donald., Angus., et al. (1995).
Vulnarability to delution over time in
Du, M., Wang, X., Yin, S., Shu, W., Hao, R., schizophrenia and affective disorder.
Zhao, S., Xia, J. (2017). De-escalation Schizophrenia Bulletin, 95-109.
techniques for psychosis-induced
Herdman, T. H., Kamitsuru, S. (2018).
aggression or agitation. Cochrane
NANDA-I Diagnosisi Keperawatan
Database ofSystematic Reviews 2017.
Definisi dan Klasifikasi 2018-2020.
China: Published by John Wiley &
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
Sons, Ltd. 2.
EGC.
https://doi.org/10.1002/14651858.CD00
9922.pub2.www.cochranelibrary.com
Indrono, W., Caturini, E. (2012).
Dudley, R. E. J., & John, C. H. (1997). The IMPLEMENTASI TEKNIK DE-
ESKALASI TERHADAP
effect of self-referent material on the
PENURUNAN RESPON MARAH
reasoning of people with delusions,
KLIEN DENGAN PERILAKU
575–584.
KEKERASAN Wahyu Indrono 1 ,
Erawati, E. (2013). pengaruh terapi Endang Caturini 2. Jurnal Terpadu Ilmu
metakognitif terhadap intensitas waham Kesehatan, 2, 77–83.
dan kemampuan metakognitif pada klien
skizofrenia di rsj prof. dr. soeroyo

51
Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 8 No 1 Hal 45 - 52, Februari 2020
FIKKes Universitas Muhammadiyah Semarang bekerjasama dengan PPNI Jawa Tengah

Keliat, B. A., Hamid, A. Y. S., Putri, Y. S. E., https://ourworldindata.org/mental-


Daulima, N. H. C., dkk. (2019). Asuhan health'
Keperawatan Jiwa. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Riskesdas. (2018). HASIL UTAMA
RISKESDAS 2018. Jakarta.
Kemkes RI. (2019, Maret 01). Perlu
Kepedulian untuk Kendalikan Masalah Shives, L. R. (2012). Basic Concepts of
Kesehatan Jiwa. Retrieved from Psychiatric-Mental Heatlth Nursing
Kementerian Kesehatan Republik (Eighth Edi). Philadelphia,: Lippincott
Indonesia:https://www.depkes.go.id/arti Williams & Wilkins. Copyright.
cle/view/19030400005/perlu-
kepedulian-untuk-kendalikan-masalah- Stuart, G. W. (2013). Principles and Pratice of
kesehatan-jiwa.html Psychiatric Nursing (10th Ed). St.
Louis, Missouri: Elsevier Mosby Inc.
Mohamed, S., Rosenheck, R., Mcevoy, J.,
Swartz, M., Stroup, S., & Lieberman, J. Townsend, M. C. (2015). Psychiatric Mental
A. (2009). Cross-sectional and Health Nursing Concepts of Care in
Longitudinal Relationships Between Evidence-Based Practice (Sixth Edit).
Insight and Attitudes Toward Philadelphia: F.A Davis Company.
Medication and Clinical Outcomes in
Chronic Schizophrenia, 35(2), 336–346. Videbeck, S. L. (2011). Psychiatric-Mental
https://doi.org/10.1093/schbul/sbn067 Health Nursing (Fifth Edit). Wolters
Kluwer Health | Lippincott Williams &
Patton, D. (2006). Reality orientation : its use Wilkins.
and effectiveness within older person
mental health care. Journal of Clinical Warman, D. M., Lysaker, P. H., Luedtke, B.,
Nursing, 15, 1440–1449. & Martin, J. M. (2010). Self-Esteem and
https://doi.org/10.1111/j.1365 Delusion Proneness. The Journal of
2702.2005.01450.x Nervous and Mental Disease, 198(6),
455457.https://doi.org/10.1097/NMD.0b
Price, O., Baker, J., Bee, P., & Lovell, K. 013e3181e086c5
(2015). Learning and performance
outcomes of mental health staff training Weinberger, D. R & Harrison, P. J. (2011).
in de-escalation techniques for the Schizophrenia (Third Edit). USA:
management of violence and aggression. Blackwell Publishing Ltd.
The British Journal of Psychiatry, 447–
455.https://doi.org/10.1192/bjp.bp.114.1 Yusuf, Ah., Fitryasari, R., Nihayati, H. E.
44576 (2015). Buku Ajar Keperawatan
Kesehatan Jiwa. Jakarta: Penerbit
Ritchie, H., Roser, M. (2019). Mental Health. Salemba Medika.
Retrieved from Published online at
OurWorldInData.org:

52