Anda di halaman 1dari 17

I.

Konsep Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian
1. Aktivitas
Gejala : merasa kesulitan untuk melakukan aktivitas karena
kelemahan, kehilangan sensasi atau paralisi (hemiplegia)
Tanda :
a. gangguan tonus otot (flaksis, spastic), paralitik (hemiplegia), dan
terjadi kelemahan umum.
b. Gangguan penglihatan
c. Gangguan tingkat kesadaran
2. Sirkulasi
Gejala : adanya penyakit jantung (MI, reumatik, GJK, endokarditis
bacterial), polisitemia riwayat hipotensi postural
Tanda :
a. Hipertensi arterial (dapat ditemukan/terjadi pada CSV) sehubungan
degan adanya embolisme/malformasi vaskuler
b. Nadi : frekuensi dapat bervariasi (karena ketidakstabilan fungsi
jantung/kondisi jantung, obat – obatan, efek stroke pada pusat
vasomotor)
c. Disritmia, perubahan EKG
d. Desiran pada karotis, femoralis, dan arteri iliaka/ aorta yang
abnormal
3. Integritas Ego
Gejala : perasaan tidak berdaya, perasaan putus asa
Tanda :
a. Emosi yang labil dan ketidaksiapan untuk marah, sedih dan
gembira
b. Kesulitan untuk mengekspresikan diri
4. Eliminasi
Gejala :
a. perubahan pola berkemih seperti inkontinensia urine, anuria.
b. Distensi abdomen (distensi kandung kemih berlebihan), bising usus
negative (ileus paralitik)
5. Makanan/cairan
Gejala :
a. napsu makan hilang
b. mual muntah selama fase akut (peningkatan TIK)
c. kehilangan sensasi ( rasa kecap) pada lidah, pipi, tenggorokan,
disfagia
d. adanya riwayat diabetes, peningkatan lemak dalam darah.

Tanda : kesulitan menelan (gangguan pada reflek palatum dan


faringeal), obesitas (factor resiko)

6. neurosensori
gejala :
a. sinkope/pusing (sebelum serangan CVS/TIA)
b. sakit kepala ; akan sangat berat dengan adanya perdarahan
intraserebral atau subarachnoid.
c. Kelemahan/kesemutan/kebas (biasanya terjadi selama serangan
TIA, yang ditemukan dalam berbagai derajat pada stroke jenis
yang lain) ; sisi yang terkena terlihat seperti mati/lumpuh,
penglihatan menurun, kehilangan daya ingat sebagian, penglihatan
ganda (diplopia)
d. Sentuhan ; hilangnya rangsang sensorik kontralatral (pada sisi
tubuh yang berlawanan) pada ekstremitas dan kadang – kadang
pada ipsi lateral pada wajah
e. Gangguan rasa pengecapan dan penciuman

Tanda :

a. Status mental/tingkat kesadaran : biasanya terjadi koma pada awal


hemoragis, gangguan tingkah laku seperti letargi, apatis,
menyerang, gangguan fungsi kognitif seperti penurunan memori,
pemecahan masalah. Ekstremitas : kelemahan/paralisis
(kotralateral pada semua jenis stroke), genggaman tidak sama,
reflek tendon melemah secara kontralateral.
b. Pada wajah terjadi paralisis
c. Afasia (kehilangan fungsi bahasa), reseptif (afasia sensorik), afasia
global.
d. Kehilangan kemampuan untuk mengenali/menghayati, masuknya
rangsang visual, pendengaran, taktil, gangguan persepsi
e. Kehilangan kemampuan mengguanakan motorik saat pasien ingin
menggerakkannya (apraksia)
f. Ukuran/reaksi pupil tidak sama, dilatasi atau miosis pupil
ipsilateral (perdarahan/herniasi)
7. Nyeri/kenyamanan
Gejala : sakit kepala dengan intensitas yang berbeda
Tanda : tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan pada
otot
8. Pernafasan
Gejala : merokok (factor resiko)
Tanda :
a. ketidakmampuan menelan, batuk, hambatan jalan nafas.
b. Timbulnya pernafasan sulit dan atau tidak teratur
c. Suara nafas ronki

B. Diagnosa
1. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan interupsi
aliran darah, gangguan oklusif, hemoragi, vasospasme serebral, edema
serebral.
2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan keterlibatan
neuromuskuler, kelemahan, parestesia, flaksid/paralisis hipotonik
(awal), paralisis spastis.
3. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan kerusakan sirkulasi
serebral, kerusakan neuromuskuler, kehilangan tonus/kontrol otot
fasial atau oral, kelemahan/kelelahan umum.
4. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan persepsi
sensori, transmisi, integrasi (trauma neurologis atau defisit).
5. Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler,
penurunan kekuatan dan ketahanan, kehilangan kontrol/koordinasi
otot, kerusakan perseptual/kognitif.
6. Gangguan harga diri rendah berhubungan dengan perubahan biofisik,
psikososial, perseptual kognitif.
7. Resiko tinggi terhadap kerusakan menelan berhubungan dengan
kerusakan neuromuskuler atau perseptual.
8. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan pengobatan serta perawatan.

C. Perencanaan
1. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan interupsi
aliran darah, gangguan oklusif, hemoragi, vasospasme serebral, edema
serebral.
Kriteria evalusi pasien akan :
a. mempertahankan tingkat kesadaran biasa atau perbaikan,
kognisidan fungsi motorik atau sensori.
b. mendemostrasikan tanda-tanda vital stabil dan tidak adanya tanda-
tanda peningkatan Tekanan Intrakranial (TIK).

Intervensi :

a. Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan keadaan tertentu


atau yang menyebabkan koma atau penurunan perfusi jaringan otak
dan potensial peningkatan TIK.
Rasional : Mempengaruhi penetapan intervensi. Kerusakan atau
kemunduran tanda atau kemunduran tanda atau gejala neurologis
atau kegagalan memperbaikinya setelah fase awal memerlukan
pembendahan dan atau pasien harus di pindahkan ke ruang
perawatan kritis (ICU).
b. Pantau atau catat status neurologis sesering mungkin dan
bandingkan dengan keadaan normalnya atau standar
Rasional : Mengetahui kecenderungan tingkat kesadaran dan
potensial peningkatan TIK dan mengetahui lokasi, luas dan
kemajuan/resolusi kerusakan Sistem Saraf Pusat (SSP). Dapat
menunjukan Transient Ischemic Attack (TIA).
c. Kaji fungsi-fungsi yang lebih tinggi, seperti fungsi bicara jika
pasien sadar.
Rasional : Perubahan dalam isi kognitif dan bicara merupakan
indikator dari lokasi/derajat gangguan serebral dan mungkin
mengidentifikasikan dengan penurunan/peningkatan TIK.
d. Pertahankan keadaan tirah baring; ciptakan lingkungan yang
tenang; batasi pengunjung/aktivitas pasien sesuai indikasi. Berikan
istirahat secara periodik antara aktivitas perawatan, batasi lamanya
setiap prosedur.
Rasional : Aktivitas/stimulasi yang kontinu dapat meningkatkan
TIK. Istirahat total dan ketenangan mungkin diperlukan untuk
pencegahan terhadap perdarahan dalam kasus stroke hemoragi
e. Pentau tanda-tanda vital seperti adanya hipertensi/hipotensi,
bandingkan tekanan darah yang terbaca pada kedua lengan.
Rasional : Hipotensi postural dapat menjadi faktor pencetus.
Hipotensi dapat terjadi karena syok (kolaps sirkulasi vaskuler).
Peningkatan TIK dapat terjadi karena edema, adanya formasi
bekuan darah. Tersumbatnya arteri subklavia dapat dinyatakan
dengan adanya perbedaan tekanan pada kedua lengan.
f. Evaluasi keadaan pupil, catat ukuran, ketajaman, kesamaan antara
kiri dan kanan, dan reaksinya terhadap cahaya.
Rasional : Reaksi pupil diatur oleh saraf kranial okulomotor (III)
dan berguna dalam menentukan apakah batang otak tersebut masih
baik. Ukuran dan kesamaaan pupil ditentukan oleh keseimbangan
antara persarafan simpatis dan parasimpatis yang mempersarafinya.
g. Kaji perubahan pada penglihatan, seperti adanya penglihatan yang
kabur, ganda, lapang pandang menyempit dan kedalaman persepsi.
Rasional : Gangguan penglihatan yang telah spesifik
mencerminkan daerah otak yang terkena mengindikasikan
keamanan yang harus mendapat perhatian dan mempengaruhi
intervensi yang harus dilakukan.
h. Pantau pemasukan dan pengeluaran.
Rasional : Keseimbangan harus dipertahankan untuk menjamin
hidrasi untuk mengencerkan sekresi pada saat yang sama mencegah
hipovolemia yang meningkatkan TIK
i. Pertahankan kepala atau leher pada posisi tengah atau posisi netral,
sokong dengan gulungan handuk kecil atau bantal kecil. Hindari
pemakaian bantal besar pada kepala.
Rasional : Menurunkan tekanan arteri dengan meningkatkan
drainase dan meningkatkan sirklasi atau perfusi serebral
j. Kolaborasi dalam analisa gas darah dan pemberian terapi medis.
Rasional : Hipoksia dapat menyebabkan vasodilatasi serebral dan
terbentuknya edema

2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan keterlibatan


neuromuskuler, kelemahan, flaksid/paralisis hipotonik, paralisis
spastis.
Kriteria evaluasi pasien akan :
a. mempertahankan posisi yang optimal yang dibuktikan oleh tidak
adanya kontraktur.
b. mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dari fungsi bagian
tubuh yang terkena.
c. mendemonstrasikan perilaku yang memungkinkan melakukan
aktivitas, serta mempertahankan integritas kulit.

Intervensi :

a. Kaji kemampuan secara fungsional/luasnya kerusakan awal dengan


cara yang teratur. Klasifikasikan melalui skala 0-4.
b. 0 = pasien tidak tergantung pada orang lain
1 = pasien butuh sedikit bantuan
2 = pasien butuh bantuan/pangawasan/bimbingan sederhana
3 = pasien butuh bantuan/peralatan yang banyak
4 = pasien sangat tergantung pada pemberian pelayanan
Rasional : Mengidentifikasi kekuatan/kelemahan dan dapat
memberikan informasi mengenai pemulihan. Bantu dalam
pemilihan terhadap intervensi sebab teknik yang berbeda
digunakan untuk paralisis spastik dengan flaksid.
c. Ubah posisi minimal tiap dua jam (miring, telentang).
Rasional : Menurunkan resiko terjadinya trauma/iskemia jaringan.
Daerah yang terkena mengalami perburukan/sirkulasi yang lebih
jelek dan menurunkan sensasi dan lebih besar menimbulkan
kerusakan pada kulit/dekubitus
d. Lakukan latihan gerak aktif dan pasif pada semua ekstremitas (bila
memungkinkan). Sokong ekstermitas dalam posisi fungsionalnya,
gunakan papan kaki selama periode paralisis.
Rasional : Meminimalkan atrofi otot, menurunkan sirkulasi,
membantu mencegah kontraktur menurunkan resiko terjadinya
hiperkalsiuria dan osteoporosis jika masalah utamanya adalah
perdarahan.
e. Gunakan penyangga lengan ketika klien berada dalam posisi tegak,
sesuai indikasi.
Rasional : Selama paralisis flaksid, penggunaan penyangga dapat
menurunkan resiko terjadinya subluksasio lengan dan “sindrom
bahu-lengan”.
f. Posisikan lutut dan panggul dalam posisi ekstensi
Rasional : Mempertahankan posisi fungsional.
g. Bantu untuk mengembangkan keseimbangan duduk (seperti
meninggikan bagian kepala) tempat tidur, bantu untuk duduk disisi
tempat tidur.
Rasional : Membantu dalam melatih kembali fungsi saraf,
meningkatkan respon proprioseptik dan motorik.
h. Alasi kursi duduk dengan busa atau balon air dan bantu pasien
untuk memindahkan berat badan dalam interval yang teratur.
Rasional : Mencegah/menurunkan tekanan koksigeal atau
kerusakan kulit.
i. Observasi daerah yang terkena termasuk warna, edema atau tanda
lain dari gangguan sirkulasi.
Rasional : Jaringan yang mengalami edema lebih mudah
mengalami trauma dan penyembuhannya lambat.
j. Lakukan massase pada daerah kemerahan dan beri alat bantu
seperti bantalan lunak kulit sesuai kebutuhan.
Rasional : Titik-titik takanan pada daerah yang menonjol paling
beresiko untuk terjadinya penurunan perfusi/iskemia. Stimulasi
sirkulasi dan memberikan bantalan membantu mencegah kerusakan
kulit dan berkembangnya dekubitus.
k. Susun tujuan dengan klien atau orang terdekat untuk berpartisipasi
dalam latihan dan mengubah posisi.
Rasional : Meningkatkan harapan terhadap perkembangan atau
peningkatan dan memeberikan perasaan kontrol atau kemandirian.
l. Anjurkan klien untuk membantu pergerakan dan latihan dengan
menggunakan ekstremitas yang tidak sakit untuk
menyokong/menggerakkan daerah tubuh yang mengalami
kelemahan.
Rasional : Dapat berespon dengan baik jika daerah yang sakit tidak
menjadi lebih terganggu dan memerlukan dorongan serta latihan
aktif untuk menyatukan kembali sebagai bagian dari tubuhnya
sendiri.
m. Kolaborasikan dengan ahli fisioterapi dan obat-obatan medis dalam
membantu pemulihan kondisi.
Rasional : Program yang khusus dapat dikembangkan untuk
menemukan kebutuhan yang berarti/menjaga kekurangan tersebut
dalam keseimbangan, koordinasi, dan kekuatan.
3. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan kerusakan sirulasi
serebral, kerusakan neuromuskuler, kehilangan tonus otot fasia/oral.
Kriteria hasil pasien akan :
mengidentifikasi pemahaman tentang masalah komunikasi, membuat
metode komunikasi dimana kebutuhan dapat diekspresikan,
menggunakan sumber-sumber dengan tepat.
Intervensi :
a. Kaji derajat disfungsi, seperti klien mengalami kesulitan berbicara
atau membuat pengertian sendiri.
Rasional : Membantu menentukan daerah atau derajat kerusakan
serebral yang terjadi dan kesulitan pasien dalam beberapa atau
seluruh tahap proses komunikasi.
b. Perhatikan kesalahan dalam komunikasi dan berikan umpan balik.
Rasional : Pasien mungkin kehilangan kemampuan untuk
memantau ucapan yang keluar dan tidak menyadari bahwa
komunikasi yang diucapkan tidak nyata. Umpan balik membantu
pasien merealisasikan kenapa pemberi asuhan tidak mengerti atau
berespon sesuai dan memberikan kesempatan untuk
mengklarifikasi isi atau makna yang terkandung.
c. Tunjukkan objek dan minta klien untuk menunjukkan nama dari
objek tersebut.
Rasional : Melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan
motorik (afasia motorik) seperti pasien mungkin mengenalinya
tetapi tidak dapat menyebutkannya.
d. Minta klien untuk menggucapkan suara sederhana seperti “Sh”
atau “Pus”.
Rasional : Mengidentifikasi adanya disartria sesuai komponen
motorik dari bicara (seperti : lidah, gerakan bibir, kontrol nafas)
yang dapat mempengaruhi artikulasi.
e. Minta klien untuk menulis nama atau kalimat pendek.
Rasional : Menilai kemampuan menulis (agrafia) dan kekurangan
dalam membaca yang benar (aleksia) yang juga merupakan bagian
dari afasia sensori dan afasia motorik.
f. Bicara dengan nada normal dan hindari percakapan yang cepat.
Berikan pasien jatak waktu untuk merespons. Bicaralah tanpa
tekanan pada sebuah respons.
Rasional : Perawat tidak perlu merusak pendengaran dan
meninggikan suara dapat menimbulkan pasien marah. Mefokuskan
respons dapat mengakibatkan frustasi dan mungkin menyebabkan
pasien terpaksa untuk bicara otomatis seperti : memutarbalikkan
kata.
g. Anjurkan kepada orang terdekat untuk tetap memelihara
komunikasi dengan klien.
Rasional : Mengurangi isolasi sosial pasien dan meningkatkan
penciptaan komunikasi yang efektif.

4. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan persepsi


sensori, trasmisi, integrasi (trauma neurologis).
Kriteria evaluasi pasien akan :
mempertahankan tingkat kesadaran dan fungsi perceptual, mengakui
perubahan dalam kemampuan dan adanya keterbatasan residual,
mendemonstrasikan perilaku untuk mengkompensasikan
terhadap/defisit hasil.
Intervensi :
a. Kaji kesadaran sensorik seperti membedakan panas/dingin,
tajam/tumpul.
Rasional : Penurunan kesadaran terhadap sensorik dan kerusakan
perasaan kinetik berpengaruh buruk terhadap keseimbangan/posisi
tubuh dan kesesuaian dari gerakan yang menggangu ambulasi,
meningkatkan resiko terjadinya trauma.
b. Dekati pasien dari daerah penglihatan yang normal. Biarkan lampu
menyala, letakkan banda dalam jangkauan lapang penglihatan yang
normal. Tutup mata yang sakit jika perlu.
Rasional : Pemberian pengenalan terhadap adanya orang/benda
dapat membantu masalah persepsi, mencegah pasien dari terkejut.
Penutupan mata mungkin dapat menurunkan kebingungan karena
adanya pandangan ganda.
c. Ciptakan lingkungan yang sederhana, pindahkan perabotan yang
membahayakan.
Rasional : Menurunkan/membatasi jumlah stimulasi penglihatan
yang mungkin dapat menimbulkan kebingungan terhadap
interprestasi lingkungan, menurunkan resiko terjadinya kecelakaan
d. Lindungi pasien dari suhu yang berlebih, kaji adanya lingkungan
yang membahayakan. Rekomendasikan pemeriksaan terhadap suhu
air dengan tangan yang normal.
Rasional : Meningkatkan keamanan pasien dan menurunkan resiko
terjadinya trauma.
e. Hindari kebisingan/stimulasi eksternal yang berlebih sesuai
kebutuhan.
Rasional : Menurunkan ansietas dan respons emosi yang
berlebihan/kebingungan yang berhubungan dengan sensori
berlebihan.
f. Lakukan validasi terhadap persepsi pasien. Orientasikan kembali
pasien secara teratur pada lingkungannya, staf dan tindakan yang
akan dilakukan.
Rasional : Membantu klien untuk mengidentifikasi ketidak-
konsistenan dari persepsi dan integritas stimulasi dan mungkin
menurunkan distorsi persepsi pada realitas.

5. Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler,


penurunan kekuatan dan ketahanan, kehilangan kontrol atau koordinasi
otot.
Kriteria evaluasi pasien akan :
mendemonstrasikan teknik/perubahan gaya hidup yang memenuhi
kebutuhan perawatan diri, melakukan akativitas perawatan diri dalam
tingkat kemampuan sendiri, mengidentifikasi sumber
pribadi/komunitas memberikan bantuan sesuai kebutuhan.
Intervensi :
a. Kaji kemampuan dan tingkat kekurangan (dengan menggunakan
skala 0-4) untuk melakukan kebutuhan sehari-hari.
0 = pasien tidak tergantung pada orang lain.
1 = pasien butuh sedikit bantuan.
2 = pasien butuh bantuan/pangawasan/bimbingan sederhana.
3 = pasien butuh bantuan/peralatan yang banyak.
4 = pasien sangat tergantung pada pemberian pelayanan.
Rasional : Mambantu dalam mangantisipasi/merencanakan
pemenuhan kebutuhan secara individual.
b. Hindari melakukan sesuatu untuk pasien yang dapat dilakukan
pasien sendiri, tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan.
Rasional : Pasien ini mungkin menjadi sangat ketakutan dan sangat
tergantung dan meskipun bantuan yang diberikan bermanfaat
dalam mencegah frustasi, adalah penting bagi pasien untuk
melakukan sebanyak mungkin untuk diri sendiri untuk
mempertahankan harga diri dan meningkatkan pemulihan.
c. Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang
dilakukan atau keberhasilannya.
Rasional : Meningkatkan perasaan makna diri. Meningkatkan
kemandirian, dan mendorong pasien untuk berusaha secara
kontinu.
d. Pertahankan dukungan, sikap yang tegas, beri pasien waktu yang
cukup untuk mengerjakan tugasnya.
Rasional : Pasien akan memerlukan empati tapi perlu untuk
mengetahui pemberi asuhan yang akan membantu pasien secara
konsisten
6. Gangguan harga diri rendah berhubungan dengan perubahan biofisik,
psikososial, perseptual kognitif.
Kriteria evaluasi pasien akan :
Berkomunikasi dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan
yang telah terjadi, mengungkapkan penerimaan pada diri sendiri dalam
situasi, mengenali dan menggabungkan perubahan dalam konsep diri
dalam cara yang akurat tanpa menimbulkan harga diri negatif.
Intervensi :
a. Kaji luasnya gangguan peresepsi dan hubungkan dengan derajat
ketidakmampuannya.
Rasional : Penentuan faktor-faktor secara individu membantu
dalam mengembangkan perencanaan asuhan/pilihan intervensi.
b. Anjurkan pasien untuk mengekpresikan perasaannya termasuk rasa
bermusuhan dan perasaan marah.
Rasional : Mendemonstrasikan penerimaan/membantu pasien
untuk mengenal dan mulai mamahami perasaan ini.
c. Tekankan keberhasilan yang kecil sekali pun baik mengenai
penyembuhan fungsi tubuh ataupun kemandirian pasien.
Rasional : Mengkonsolidasikan keberhasilan membantu
menurunkan perasaan marah dan ketidakberdayaan dan
menimbulkan perasaan adanya perkembangan.
d. Bantu dorong kebiasaan berpakaian dan berdandan yang baik.
Rasional : Membantu meningkatkan perasaan harga diri dan
kontrol atas salah satu bagian kehidupan.
e. Dorong orang terdekat agar memberikan kesempatan pada klien
untuk melakukan sebanyak mungkin untuk dirinya sendiri.
Rasional : Membangun kembali rasa kemandirian dan menerima
kebanggaan diri dan meningkatkan proses rehabilitasi.
f. Berikan dukungan terhadap perilaku/usaha seperti meningkatkan
minat/pertisipasi pasien dalam kegiatan rehabilitatif.
Rasional : Mengisyaratkan kemungkinan adaptasi untuk mengubah
dan memahami tentang peran diri sendiri dalam kehidupan
selanjutnya.

7. Resiko tinggi terhadap kerusakan menelan berhubungan dengan


kerusakan neuromuskuler atau perseptual.
Kriteria evaluasi pasien akan :
mendemostrasikan metode makan tepat untuk situasi individual
dengan aspirasi tercegah, mempertahankan berat badan yang
diinginkan
Intervensi :
a. Kaji ulang kemampuan menalan pasien secara individual, catat
luasnya paralisis fasial, gangguan lidah, kemampuan untuk
melindungi jalan nafas. Timbang berat badan secara periodik
sesuai kebutuhan.
Rasional : Identifikasi kemampuan menelan pasien untuk
menentukan pemilihan intervensi yang tepat.
b. Berikan makan dengan perlahan pada lingkungan yang tenang.
Rasional : Pasien dapat berkonsentrasi pada mekanisme makan
tanpa adanya distraksi/gangguan dari luar.
c. Mulai berikan makan per oral setengah cair, makanan lunak ketika
pasien dapat menelan air. Pilih/Bantu pasien untuk memilih
makanan yang kecil atau tidak perlu mengunyah dan mudah
ditelan, contohnya : telur, agar-agar, makanan kecil yang lunak
lainnya.
Rasional : Makanan lunak/cair kental lebih muda untuk
mengendalikannya di dalam mulut, menurunkan resiko terjadinya
aspirasi.
d. Anjurkan pasien menggunakan sedotan untuk meminum cairan.
Rasional : Menguatkan otot fasialis dan otot menelan dan
menurunkan resiko terjadinya tersedak.
e. Pertahankan masukan dan haluan dengan akurat, catat jumlah
kalori yang masuk.
Rasional : Jika usaha menelan tidak mamadai untuk memenuhi
kebutuhan cairan dan makanan harus dicarikan metode alternatif
untuk makan.
f. Berikan cairan melalui IV dan/atau makanan melalui selang.
Rasional : Mungkin diperlukan untuk memberikan cairan
pengganti dan juga makanan jika pasien tidak mampu untuk
memasukkan segala sesuatu melalui mulut.

8. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan pengobatan serta perawatan.


Kriteria evalusi pasien akan :
berpartisipasi dalam proses belajar, mengungkapkan pemahaman
tentang kondisi/prognosis dan aturan terapeutik, memulai perubahan
gaya hidup yang diperlukan.
Intervensi :
a. Tinjau ulang keterbatasan saat ini dan diskusikan
rencana/kemungkinan melakukan kembali aktifitas.
Rasional : Meningkatkan pemahaman, memberikan harapan pada
masa. Datang dan menimbulkan harapan dari keterabatasan hidup
secara “normal”.
b. Tinjau ulang/pertegas kembali pengobatan yang diberikan.
Identifikasi cara meneruskan program setelah pulang.
Rasional : Aktvitas yang dianjurkan, pembatasan dan kebutuhan
obat/terapi dibuat pada dasar pendekatan interdisipliner
terkoordinasi. Mengikuti cara tersebut merupakan suatu hal yang
penting pada kemajuan pemulihan/pencegahan komplikasi.
c. Sarankan menurunkan/membatasi stimulasi lingkungan terutama
selama kegiatan berpikir.
Rasional : Stimulasi yang beragam dapat memperbesar gangguan
proses berfikir.
d. Identifikasi sumber-sumber yang ada dimasyarakat, seperti
perkumpulan stroke, atau program pendukung lainnya.
Rasional : Meningkatkan kemampuan koping dan meningkatkan
penanganan di rumah dan penyelesaian terhadap kerusakan.

D. Evaluasi
Evaluasi adalah hasil yang didapatkan dengan menyebutkan item-item
atau perilaku yang dapat diamati dan dipantau untuk menentukan apakah
hasilnya sudah tercapai atau belum dalam jangka waktu yang telah
ditentukan (Doenges et al, 2000).
Evaluasi mencakup tiga pertimbangan yang berbeda (Carpenito, 2000)
yaitu :
1. Evaluasi mengenai status klien
2. Evaluasi tentang kemajuan klien kearah pencapaian sasaran.
3. Evaluasi mengenai status dan kejadian rencana perawatan.
Hasil yang diharapkan sebagai indikator evaluasi asuhan keperawatan
pada penderita stroke yang tertuang dalam tujuan pemulangan (Doenges et
al, 2000) adalah :
1. Fungsi serebral membaik/meningkat, penurunan fungsi neurologis
diminimalkan atau dapat stabil.
2. Komplikasi dapat dicegah atau diminimalkan.
3. Kebutuhan pasien sehari-hari dapat dipenuhi oleh pasien sendiri atau
dengan bantuan yang minimal dari orang lain.
4. Mampu melakukan koping dengan cara yang positif, perencanaan
untuk masa depan.
5. Proses dan prognosis penyakit dan pengobatanya dapat dipahami.