Anda di halaman 1dari 22

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

“ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN OSTEOMALACIA”

OLEH :

FATMA SUSANTI (1811008)

YUDHATY ANDRA N (1811020)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS

STIKES PATRIA HUSADA BLITAR

TAHUN AJARAN 2020/2021


KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt. yang telah
melimpahkan rahmat, karunia dan hidayah-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA
KLIEN DENGAN OSTEOMALACIA” ini dengan baik. Makalah ini dibuat guna
memenuhi tugas dari mata kuliah keperawatan medikal bedah III.

Kami menyadari atas kekurangan kemampuan penulis dalam pembuatan


makalah ini, sehingga akan menjadi suatu kehormatan besar bagi kami apabila
mendapatkan kritikan dan saran yang membangun untuk menyempurnakan
makalah ini. Demikian akhir kata dari kami, semoga makalah ini bermanfaat bagi
semua pihak dan menambah wawasan bagi pembaca.

Blitar, 21 April 2020

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

COVER
KATA PENGANTAR .......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
A. Latar Belakang.............................................................................................1
B. Tujuan..........................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN KONSEP DASAR PENYAKIT .................................2
A. Definisi ........................................................................................................2
B. Etiologi ........................................................................................................2
C. Manifestasi Klinis........................................................................................3
D. Patofisiologi ................................................................................................5
E. Pemeriksaan Penunjang ..............................................................................5
F. Pathway ......................................................................................................6
G. Penatalaksanaan...........................................................................................7
BAB III KONSEP ASKEP ..................................................................................8
A. Pengkajian ...................................................................................................8
B. Diagnosa Keperawatan ...............................................................................9
C. Intervensi Keperawatan ..............................................................................9
BAB IV PENUTUP .............................................................................................15
A. Kesimpulan................................................................................................15
B. Saran ..........................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagaimana diketahui salah satu mineral utama dalam penyusun tulang
yaitu kalsium. Kurangnya konsumsi kalsium bisa mengakibatkan berkurangnya
kalsium yang terdapat dalam tulang, sehingga lama kelamaan akan terjadi
perubahan pada mikroarstektur tulang dan tulang menjadi lunak. Akibatnya tulang
menjadi kehilangan kepadatan dan kekuatannya, sehingga mudah retak atau patah.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan osteomalasia. Kekurangan


kalsium dan vitamin D terutama dimasa kecil dan remaja saat dimana terjadi
pemebentukan massa tulang yang maksimal, merupakan penyebab utama
ostomalasia. Konsumsi kalsium yang rendah atau menurunya dapat menyebabkan
osteomalasia, selain itu gangguan pada sindrom malabsorbsi usus, penyakit hati,
gagal ginjal kronis, dapat juga menyebab terjadi osteomalasia. Terjadinya
osteomalasia merupakan rangkaian awal terjadinya osteoporsis, pada saat
sekarang ini angka kejadian tersebut sangat meningkat tajam baik pada anak –
anak, dewasa ataupun orang tua.

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui
A. Definisi Osteomalasia
B. Etiologi Osteomalasia
C. Manifestasi klinis Osteomalasia
D. Patofisiologi Osteomalasia
E. Pemeriksaan Penunjang Osteomalasia
F. Pathway Osteomalasia
G. Penatalaksanaan Osteomalasia
2. Untuk mengetahui asuhan keperawatan klien dengan Osteomalasia

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Osteomalasia adalah penyakit metabolisme tulang yang
dikarakteristik oleh kurangnya mineral dari tulang (menyerupai panyakit
yang menyerang anak-anak yang disebut rickets) pada orang dewasa,
osteomalasia berlangsung kronis dan terjadi deformitas skeletal, terjadi
tidak separah degan yang menyerang anak-anak karena pada orang dewasa
pertumbuhan tulang sudah lengkap (komplit). (Smeltzer, 2002)
Osteomalasia adalah manifestasi difisiensi vitamin D. Perubahan
mendasar pada penyakit ini adalah gangguan mineralisasi tulang disertai
meningkatnya osteoid yang tidak mengalami mineralisasi. (Robins, 2007)
Osteomalasia adalah penyakit rakitis pada orang dewasa dan
sebagaimana penyakit rakitis, kelainan ini berkaitan dengan gangguan
kalsium pada matriks tulang (gangguan mineralisasi). (Muttaqin Arief,
2008)
B. Etiologi
Umumnya penyebab utama adalah tidak cukupnya mineralisasi
tulang terutama kekurangan vitamin D. Ada berbagai kasus osteomalasia
yang terjadi akibat gangguan umum metabolisme mineral, antara lain:
1. Adanya malnutrisi
Kekurangan vitamin D yang berhubungan dengan
asupan kalsium yang jelek, terutama makanan kurang
matang dan kurangnya pengetahuan mengenai nutrisi juga
merupakan salah satu faktor. Paling sering terjadi dimana
vitamin D tidak ditambahkan dalam makanan juga
kekurangan dalam diet dan jauh dari sinar matahari.
2. Faktor resiko berkaitan dengan penyakit patologis
Penyakit – penyakit patologik yang dapat memicu
terjadinya osteomalsia meliputi gagal ginjal kronik
sehingga proses eksresi atau pembuangan kalsium akan
meningkat. Dengan begitu proses mineralisasi akan

2
terhambat. Penyakit hati karena organ hatinya tidak mampu
memproses vitamin D sehingga fase mineralisasi tidak
terjadi, terapi antikonvulsan berkepanjangan (fenitoin
fenobarbital) dan gastrektomi. Osteomalasia dalam hal ini
terjadi sebagai akibat kegagalan absorpsi kalsium ataupun
kehilangan kalsium yang berlebihan dari tubuh.

C. Manifestasi Klinis
Secara umum terdapat tanda klinis utama dari osteomalasia yaitu:
1. Lemahnya tulang
2. Nyeri tulang
3. Nyeri tulang pelvis
4. Nyeri tulang belakang
5. Kelemahan otot
6. Hipokalsemia
7. Tulang vertebra mengalami tekanan
8. Fraktur, baik secara jumlah dan mudahnya patah tulang
Umunya gejala yang memperberat dari osteomalasia adalah:
1. Nyeri tulang dan kelamahan. Sebagai akibat dari defisiensi
kalsium, biasanya terdapat kelemahan otot, pasien
kemudian nampak terhuyung-huyung atau cara berjalan
loyo atau lemah. Nyeri tulang yang dirasakan menyebar,
terutama pada daerah pinggang dan paha.
2. Kemajuan penyakit, kaki terjadi bengkak (karena tinggi
badan dan kerapuhan tulang), vertebra menjadi tertekan,
pemendekan batang tubuh pasien dan kelainan bentuk
thoraks (kifosis).
3. Penurunan berat badan
4. Nyeri tulang dan nyeri tekan tulang
5. Sakrum terdorong kebawah dan depan, pelvis tertekan ke
lateral

D. Patofisiologi
3
Ada berbagai macam penyebab dari Osteomalasia yang umumnya
menyebabkan gangguan metabolisme mineral. Faktor yang berbahaya
untuk osteomalasia adalah kesalahan diet, malabsobrsi, gastrectomi, GGK,
terapi anticonvilsan jangka lama (phenyton, phenorbar bital) dan
insufisiensi vitamin D (diet sinar matahari). Tipe malnutrisi (defisiensi
vitamin D sering di golongkan dalam hal kekurangan kalsium) terutama
terjadi gangguan fungsi tetapi faktor dan kurangnya pengetahuan tentang
nutrisi juga dapat menjadi faktor pencetus hal itu terjadi dengan frekuensi
tersering dimana kandungan vitamin D dalam makanan kurang dan adanya
kesalahan diet serta kekurangan sinar matahari.
Defisiensi vitamin D menyebabkan penurunan kalsium serum,
yang merangsang pelepasan hormon paratiroid. Peningkatan hormon
paratiroid meningkatkan penguraian tulang dan ekskresi fosfat oleh ginjal.
Tanpa mineralisasi tulang yang adekuat, maka tulang menjadi tipis.
Terjadi penimbunan osteoid yang tidak terkristalisasi dalam jumlah
abnormal yang membungkus saluran-saluran tulang bagian dalam, hal ini
menimbulkan deformitas tulang. Diperkirakan defek primernya adalah
kekurangan vitamin D aktif yang memacu absorbsi kalsium dari traktus
gastrointestinal dan memfasilitasi mineralisasi tulang. Pasokan kalsium
dan fosfat dalam cairan ekstrasel rendah. Tanpa vitamin D yang
mencukupi, kalsium dan fosfat tidak dapat dimasukkan ke tempat
kalsifikasi tulang, sehingga mengakibatkan kegagalan mineralisasi, terjadi
perlunakan dan perlemahan kerangka tubuh.
E. Komplikasi
1. Kesemutan ditangan dan kaki
2. Kejang
3. Kram
4. Rasa berkedut dalam tubuh

F. Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan Diagnostik

4
Foto Rontgen, pada sinar-x jelas terlihat demineralisasi
tulang secara umum. Pemeriksaan vertebra memperlihatkan adanya
patah tulang kompresi tanpa batas vertebra yang jelas. Pada
radiogram, osteomalasia tampak sebagai pengurangan densitas
tulang, terutama pada tangan , tengkorak, tulang iga dan tulang
belakang.
2. Pemeriksaan laboratorium
Hasil lab memperlihatkan kadar kalsium serum dan fosfor
yang rendah dan peningkatan moderat kadar alkali fosfatase.
Ekskresi kreatininin dan kalsium urine rendah serta biopsi tulang
yang memnunjukan peningkatan jumlah osteoid.

G. Pathway

5
H. Penatalaksanaan
1. Diperlukan diet vitamin D disertai suplemen kalsium
2. Apabila osteomalasia atau rakitis disebabkan oleh penyakit lain,
maka penyakit tersebut akan memerlukan penanganan terlebih
dahulu
3. Pemajanan sinar matahari dianjurkan
4. Jika terjadi deformitas ortopedik persisten perlu penggunaan brace
atau korset atau dengan pembedahan

6
BAB III

KONSEP ASKEP

Pengkajian

Riwayat kesehatan meliputi infomasi tentang aktivitas hidup sehari-hari,pola


ambulasi, alat bantu yang digunakan (misalnya kursi roda,tongkat, walker), dan
nyeri (jika ada nyei tetapkan lokasi,derajat nyeri,lama, faktor yang
memperberat dan fakto pencetus) kram atau kelemahan.

Pengkajian perlu dilakukan secara sistematis,teliti dan terarah. Data yang


dikumpulkan meliputi data subjektif dan objektif dengan cara melakukan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan diasnotik.

a. Anamnesis

1. Data demografi : data ini meliputi nama,usia, jenis kelamin, tempat tinggal
orang yang dekat dengan klien.

2. Riwayat perkembangan : data ini untuk mengetahui tingkat perkembangan


pada neonatus,bayi,prasekolah,remaja,dewasa,tua.

3. Riwayat sosial : data ini meliputi pendidikan dan pekerjaan. Sseorang yang
terpapar terus-menerus dengan agens tertentu dalam pekerjaan status
kesehatan dapat dipengaruhi.

4. Riwayat penyakit keturunan : riwayat penyakit keluarga perlu diketahui


untuk menentukan hubungan genetik yang perlu diidentifikasi misalnya
(penyakit diabetes melitus yang merupakan predisposisi penyakit sendi
degeneratif,TBC,artritis,riketsia,osteomielitis dll).

5. Riwayat diet : identifikasi adanya kelebihan berat badan karena kondisi ini
dapat mengakibatkan stes pada sendi penyangga tubuh dan predisposisi
terjadi instabilitas ligamen,khsu pada punggung bagian bawah, kurangnya
asupan kalsium dapat menimbulkan fraktur karena adanya delkasifikasi.
Bagaimana menu makanan sehari-hari dan konsumsi vitamin A,D, kalsium,
serta protein yang merupakan zat untuk menjaga kondisi muskuloskeletal.

6. Aktivitas kegiatan sehari-hari : identifikasi pkerjaan pasien dan aktivitas


sehari-hari. Kebiasaan membawah benda-benda berat yang dapat
menimbulkan regangan otot dan trauma lainya. Kurangnya melakukan
aktivitas mengakibatkan tonus otot menurun. Fraktur atau trauma dapt
timbul pada olahraga sepak bola dan hoki, sedangkan nyeri sendi tengan
dapat timbul akibat olahraga tenis. Pemakaian hak sepatu yang terlalu
tinggi dapat menimbulkan kontraksi pada tendon achiles dan dapat terjadi

7
dislokasi. Perlu di kaji pula aktivitas hidup sehari-hari, saat ambulasi
apakah ada nyeri pada sendi, apakah menggunakan alat bantu (kursi
roda,tongkat ataupun walker).

7. Riwayat ksehatan masa lalu : data ini meliputi kondisi kesehatan


individu.Data tentang adanya efek langsung atau tidak langsung terhadap
muskulokeletal, misalnya riwayat trauma atau kerusakan tulang rawan,
riwaya artritis osteomielitis.

8. Riwayat kesehatan sekarang : sejak kapan timbul keluhan, apakah ada


riwayat trauma. Hal-hal yang menimbulkan gejala. Timbulnya gejala
mendadak atau berlahan. Timbulnya untuk pertamakalinya atau berulang.
Perlu ditanyakan pula tentang ada tidak gangguan pada sistem lainnya kaji
klien untuk mengungkapkan alasan klien emeriksa diri atau mengunjungi
fasilitas kesehatan, keluhan utama pasien dan ganngguan muskuloskeletal
meliputi :

a) Nyeri : identifikasi lokasi nyeri. Nyeri biasanya berkaitan dengan


pembuluh darah,sendi,fasia atau periosteum. Nyeri berdenyut biasanya
berkaitan dengan tulang dan sakit berkaitan dengan otot, sedangkan
nyeri yang menusuk berkaitan dengan fraktur atau infeksi tulang.
Identifikasi apakah nyeri timbul setelah diberi aktivitas atau gerakan.
Nyeri saat bergerak merupakan satu tanda masalah persendian.
Degenerasi panggul menimbulkan nyeri selama badan bertumpu pada
sendi tersebut. Degenerasi pada lutut menimbulkan nyeri selama dan
setelah berjalan. Nyeri pada osteoartritis makin meningkat pada suhu
dingin. Tanyakan kapan nyeri makin meningkat pada pagi atau malam
hari. Inflamasi pada bursa dan tendon makin meningkat pada malam
hari. Tanyakan apakah nyeri hilang saat istirahat. Apakah nyeri bisa
diatasi dengan obat tersebut.

b) Kekuatan sendi : tanyakan sendi mana yang mengalami kekakuan,


lamanya kekakuan tersebut dan apakah selalu terjadi kekakuan.
Beberapa kondisi seperti spondilitis ankilosis terjadi remisi kekakuan
beberapa kali sehari. Pada penyakit degenerasi sendi sering terjadi
kekakuan yang meningkat pada pagi setelah bangun tidur (inaktivitas).
Bagaimana dengan perubahan suhu dan aktivitas. Suhu dingin dan
kurang aktivitas biasanya meningkatkan kekakuan sendi. Suhu panas
biasanya menurunkan spasmen otot.

c) Bengkak : tanyakan berapa lama terjadi pembengkakan, apakah juga


disertai dengan nyeri, karena bengkak dan nyeri sering menyertai cedera
pada otot. Penyakit degenerasi sendi sering kali tidak timbul bengkak
pada awal serangan, tetepi muncul setelah beberapa minggu terjadi

8
nyeri. Dengan istirahat dan meninggikan bagian tubuh,ada yang
dipasang gips. Identifikasi apakah ada padas atau kemerahan karen
tanda tersebut menunjukan adanya inflamasi,infeksi atau cedera.

d) Derformitas dan imobilitas : tanyakan kapan terjadinya, apakah tiba-tiba


atau bertahap, apakah menimbulkan keterbatasan gerak. Apakah
semakin memburuk dengan aktivitas, apakah dengan posisi tertentu
makin memburuk. Apakah klien menggunakan alat bantu (kruk,tongkat
dll).

e) Perubahan sensori : tanyakan apakah ada penurunan rasa pada bagian


tubuh tertentu. Apakah menurutnya rasa atau sensasi tersebut berkaitan
dengan nyeri. Penekanan pada syaraf dan pembuluh darah akibat
bengkak,tumor atau fraktur dapat menyebabkan menurunnya sensasi.

b. Pemeriksaan fisik

1. Pengkajian skeletal tubuh

Hal-hal yang perlu dikaji pada skelet tubuh,yaitu :

a) Adanya derformitas dan ketidak sejajaran yang dapat disebabkan oleh


penyakit sendi

b) Pertumbuhan tulang abnormal. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya


tumor tulang

c) Pendekatan eksteremitas, aputasi dan bagian tubuh yang tidak sejajar


dengan anatomis

d) Angulasi abnormal pada tulang panjang. Gerakan pada titik buka sendi
teraba krepitus pada titik gerakan abnormal. Manunjukan adanya patah
tulang

2. Pengkajian tulang belakang

Deformitas tulang belakang yang sering terjadi perlu diperhatikan yaitu :

a) Skoliosis (deviasi kurvantura lateral tulang belakang)

1) Bahu tidak sama tinggi

2) Garis pinggang yang tidak simetris

3) Skapula yang menonjol

Skoliosis tidak diketahui penyebabnya (idiopatik),kelainan kongenital, atau


akibat kerusakan otat para-spinal,seperti poliomielitis

9
b) Kifosis (kenaikan kurvantura tulang belakang bagian dada). Sering
terjadi pada lansia dengan osteoporosis atau penyakit neuromuskular.

c) Lordosis (membbek, kurvantura tulang bagian pinggang yang


berlebihan lordosis biasa di temukan pada wanita hamil

Pada saat inspeksi tulang belakang sebaiknya baju pasien dilepaskan untuk
melihat seluruh punggung,bkng dan tungkai. Pemeriksaan kurvantura tulang
belakang dan kesimetrisan batang tubuh dilakukan dari pandangan
anterior,posterior,dan lateral. Dengan berdiri dibelakang pasien,perhatikan
setiab perbedaan tinggi bahu dan krista iliaka. Lipatan bokong normalnya
simetris. Kesimetrisan bahu,pinggul dan kelurusan tulang belakang diperiksa
pada posisi pasien berdiri tegak dan membungkuk ke depan.

c. Pengkajian sistem persendian

Pengkajian sistem persendian dengan pemeriksaan luas gerak sendi baik aktif
maupun pasif,deformitas ,stabilitas dan adanya benjolan. Pemeriksaan sendi
menggunakan alat goniometer. Yaitu busur derajat yang yang dirancang khusus
untuk evakuasi gerak sendi.

1. Jika sendi diekstensikan maksimal namun masih ada sisa fleksi, luas
grakan ini dianggap terbatas. Keterbatasan ini dapat disebabkan oleh
deformitas skeletal, patologi sendi, kontraktur otot dan tendon sekitar.

2. Jika gerakan sendi mengalami gangguan atau nyeri, harus dipaksa adanya
kelebihan cairan dalam kapsulnya (efusi) pembengkakan dan inflamasi.
Tempat yang sering terjadi efusi adalah pada lutut.

Palpasi sendi sambil sendi digerakkan secara pasif akan memberi informasi
mengenai inegritas sendi. Suara “gemeletuk” dapat menunjukan adanya
ligamen yang tergelncir di antara tonjolan tulang. Adanya krepitus karena
permukaan sendi yang tidak rata di temukan pada pasien artritis. Jaringan
sekitar sendi terdapat benjolan yang khas di temukan pada pasien :

1. Artritis reumatoid,benjolan lunak di dalam dan sepanjang tendon

2. Gout, benjolan keras di dalam dan di sebelah sendi

3. Osteoatritis,benjolan keras dan tidak nyeri merupakan pertumbuhantulang


akibat destruksi permukaan kartilago pada tulang kapsul sendi, biasanya
ditemukan pada lansia.

Kadang-kadang ukuran sendi menonjol akibat artrofi otot di proksimal dan


distal sendi sering terlihat pada artritis reumatoid sendi lutut.

10
d. Pengkajian sistem otot

Pengkajian sistem otot meliputi kemampuan mengubah pasisi, kekuatan dan


koordianasi otot,serta ukuran masing-masing otot. Kelemahan sekelompok otot
menunjukkan berbagai kondisi seperti polineuropati,gangguan
elektrolit,miastenia grafis,poliomielitis dan distrofi otot.

Palpasi otot dilakukan ketika ekstremitasi rileks dan di gerakkan secara


pasif. Perawat akan merasakan tonus otot. Kekuatan otot dapat dapat diukur
dengan minta pasien menggerakkan ekstremitasdengan atau tanpa tahanan.
Musalnya, otot bisep yang diuji dengan meminta klien mluruskan dengan
sepenuhnya kemudian fleksikan lengan melawan tahanan yang diberikan oleh
perawat. Tonis otot (konteksi ritmk otot)dapat dibangkitkan pada pergelangan
kaki dengan dorso-fleksi kaki mendadak dan kuat,dan tangan dengan ekstensi
pergelangan tangan.

Lingkaran ekstremitas harus diukur untuk membantu pertambhan ukuran akibat


edema atau perdarahan, penurunan akibat atrofi dan dibandingkan ekstremitas yang
sehat. Pengukuran otot dilakukan di lingkaran terbesar ektremitas pada lokasi yang
sama, pada posisi yang sama dan otot dalam keadaan istirahat.

Gradasi Ukuran Kekuatan Otot

0 (zero) Tidak ada kontraksi saat palpasi

1 (trace) Terasas adanya kontraksi otot, tetapi tidak ada gerakan

Dengan bantuan atau menyangga sendi dapat melakukan


2 (poor)
gerakan sendi (range of motion, ROM) secara penuh

Dapat melakukan gerakan sendi (ROM) secara penuh dengan


3 (fair)
melawan gravitasi, tetapi tidak dapat melawan tahanan

Dapat melakukan ROM secara penuh dan dapat melawan


4 (good)
tahanan tingkat sedang

5 Dapat melakukan gerakan sendi (ROM) secara penuh dan dapat


(normal) melawan gravitasi dan tahanan

e. Pengkajian Cara Berjalan

Pada pengkajian ini, pasien diminta berjalan. Perhatikan hal berikut :

1. Kehalusan dan irama berjalan, gerakan teratur atau tidak

2. Pincang dapat disebabkan oleh nyeri atau salah satu ekstrimitas pendek

3. Keterbatassan gerak sendi dapat memengaruhi cara berjalan


11
Abnormalitas neourologis yang berhubungan dengan cara berjalan. Misalnya,
pasien hemiparesis – stroke menunjukkan cara berjalan spesifik, pasien dengan
penyakit parkinson nmenunjukkan cara berjalan bergetar.

Masalah Keperawatan

1. Nyeri akut b.d agen pencedera fisik

2. Gangguan mobilitas fisik b.d kerusakan integritas struktur tulang

3. Risiko jatig d.d kekuatan otot

4. Gamgguan citra tubuh b.d perubahan fungsi tubuh

Intervensi

Dx SLKI Intervensi

I Setelah dilakukan tindakan Manajemen nyeri


keperawatan 3x24jam
diharapkan tingkat nyeri a. Observasi :
menurun dengan criteria 1. Identifikasi lokasi,
hasil: karakteristik,durasi, frekuensi,
1. Kemampuan kualitas, intensitas nyeri
menuntaskan 2. Identifikasi skala nyeri
aktivitas
meningkat (5) 3. Identifikasi respon nyeri non
verbal
2. Keluhan nyeri
menurun (5) 4. Identifikasi factor yang
memperberat dan
3. Meringis memperingan nyeri
menurun (5)
5. Identifikasi pengaruh nyeri
4. Gelisah terhadap kualitas hidup
menurun (5)
6. Monitor efek samping
5. Perasaan takut penggunaan analgesic
mengalami
cedera b. Terapeutik
berulang
1. Berikan tehnik non farmakologis
menurun (5)
untuk mengurangi nyeri

2. Control lingkungan yang


memperberat rasa nyeri

12
3. Fasilitasi istirahat dan tidur

4. Pertimbangkan jenis dan sumber


nyeri dalam pemilihan strategi
meredakan nyeri

c. Edukasi

1. Jelaskan penyebab, periode,


dan pemicu nyeri

2. Anjurkan strategi meredakan


nyeri

3. Anjurkan memonitor nyeri


secara mandiri

4. Anjurkan menggunakan
analgesic secara tepat

d. Kolaborasi

1. K
olaborasi pemberian analgesic
jika perlu

II Setelah dilakukan tindakan Dukungan Ambulasi


3x24jam diharapkan
mobilitas fisik meningkat a. Observasi
dengan criteria hasil : 1. Identifikasi adanya nyeri
1. Pergerakan ekskremitas atau keluhan fisik lainnya
meningkat (5) 2. Identifikasi toleransi fisik
2. Kekuatan otot melakukan ambulasi
meningkat (5) 3. Monitor frekuensi jantung
3. Rentang gerak dan tekanan darah sebelum
meningkat (5) memulai ambulasi

4. Nyeri menurun (5) 4. Monitor kondisi umum


selama ambulasi

b. Terapeutik

13
1. Fasilitasi aktivitas ambulasi
dengan alat bantu

2. Fasilitasi melakukan
mobilitas fisik, jika perlu

3. Libatkan keluarga untuk


membantu pasien dalam
meningkatkan ambulasi

c. Edukasi

1. Jelaskna tujuan dan


prosedur ambualasi

2. Anjurkan melakukan
ambulasi dini

3. Ajarkan ambulasi
sederhana yang harus
dilakukan

III Setelah dilakukan tindakan Pencegahan jatuh


3x24 jam tingkat jatuh
menurun dengan criteria a. Observasi
hasil: 1. Identifikasi factor resiko
1. Jatuh dari tempat tidur jatuh
menurun (5) 2. Identifikasi resiko jatuh
2. Jatuh saat berdiri (5) setidaknya sekali setiap
shift atau sesai dengan
3. Jatuh saat berjalan (5) kebijakan institusi

3. Identifikasi factor
lingkungan yang
meningkatkan resiko jatuh

4. Hitung resiko jatuh dengan


menggunakan skala

5. Monitor kemampuan
berpindah dari tempat tidur
ke kursi roda dan
sebaliknya

b. Terapeutik

14
1. Pastikan roda tempat tidur
dan kursi roda selalu dalam
kondisi terkunci

2. Pasang handrall tempat


tidur

3. Atur tempat tidur mekanis


pada kondisi terendah

4. Gunakan alat bantu


berjalan

c. Edukasi

1. Anjurkan memanggil
perawat jika membutuhkan
bantuan untuk berpindah

2. Anjurkan memakai alas


kaki yang tidak licin

3. Anjurkan berkonsentrasi
untuk menjaga
keseimbangan tubuh

4. Anjurkan melebarkan jarak


kedua kaki untuk
meningkatkan
keseimbangan saat berdiri

IV Setelah dilakukan tindakan Promosi citra tubuh


3x24 jam citra tubuh
meningkat dengan ktiteria a. Observasi
hasil: 1. Identifikasi hrapan citra
1. Verbalisasi kecacatan tubuh berdasarkan tahap
bagian tubuh perkembangan
membaik (5) 2. Identifikasi budaya, agama,
2. Verbalisasi perasaan jenis kelamin, dan umur
negative tentang terkait citra tubuh
perubahan tubuh (5) 3. Identifikasi perubahan citra
3. Verbalisasi tubuh yang mengakibatkan
kekhawatiran pada isolasi social

15
penolakan/ reaksi 4. Monitor frekuensi
orang lain menurun pernyataan kritik terhadap
(5) diri sendiri

5. Monitor apakah pasien bisa


melihat bagian tubuh yang
berubah

b. Terapeutik

1. Diskusikan perubahan
tubuh dan fungsinya

2. Diskusikan perbedaan
penampilan fisik terhadap
harga diri

3. Diskusikan kondisi stress


yang mempengaruhi citra
tubuh

4. Diskusikan cara
mengembangkan harapan
citra tubuh secara realistis

c. Edukasi

1. Jelaskan kepada keluarga


tentang perawatan
perubahan citra tubuh

2. Anjurkan mengungkapkan
gambran dirir terhadap
citra tubuh

3. Anjurkan menggunakan
alat bantu

4. Anjurkan mengikuti
kelompok pendukung

5. Latih fungsi tubuh yang


dimiliki

6. Latih peningkatan
penampilan diri

16
7. Latih pengungkapan
kemampuan diri kepda
orang lain maupun
kelompok

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan

17
Osteomalasia adalah penyakit yang ditandai oleh gagalnya pendepositan
kalsium kedalam tulang yang baru tumbuh. Penyebab utamanya adalah tidak
cukupnya mineralisasi tulang terutama kekurangan vitamin D. Tanda dan gejala
dari osteomalasia antara lain lemahnya tulang, nyeri tulang, nyeri pelvis, nyeri
tulang belakang
B. Saran
Pembaca sebaiknya jangan hanya membaca makalah ini saja karena masih
banyak literature yang dapat menambah wawasan Anda.

DAFTAR PUSTAKA

Robbins, Kumar. Buku Ajar Patofisiologi II. Edisi 4. Jakarta: EGC, 1995

18
Smeltezer & Brenda G. bare. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Vol III.
Edisi 8. Jakarta : EGC, 2002

19