Anda di halaman 1dari 19

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 3

“MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN OSTEOSARCOMA”

Disusun Oleh:

Annisa Marini (1811002)


Delvia Aisyah Supriadi (1811004)

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN NERS


STIKes PATRIA HUSADA BLITAR
2020
KATA PENGANTAR

Segala Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan
judul “Asuhan Keperawatan Osteosarcoma” yang diajukan untuk memenuhi
tugas Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah 3.
Makalah ini berisi tentang definisi, etiologi, patofisiologi, pathway,
klasifikasi, manifestasi klinis, komplikasi, pemeriksaan penunjang, dan
penatalaksaan tentang osteosarcoma.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, kritik dan
saran dari semua pihak yang bersifat membangun kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga
Allah SWT senantiasa meridhai usaha kita.

Blitar, 28 April 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
A. Definisi 3
B. Etiologi 3
C. Patofisiologi 4
D. Pathway 4
E. Klasifikasi 5
F. Manifestasi Klinis 6
G. Komplikasi 7
H. Pemeriksaan Penunjang 7
I. Penatalaksanaan 7
BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 9
A. Pengkajian 9
B. Diagnosa 12
C. Intervensi 12
BAB IV PENUTUP 15
A. Kesimpulan 15
B. Saran 15
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sarkoma osteogenik (Osteosarkoma) merupakan neoplasma tulang primer
yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh di bagian metafisis tulang. Tempat yang
paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama
lutut (Price,1962:1213). Menurut badan kesehatan dunia (World Health
Oganization) setiap tahun jumlah penderita kanker ± 6.25 juta orang. Di
Indonesia diperkirakan terdapat 100 penderita kanker diantara 100.000
penduduk per tahun. Dengan jumlah penduduk 220 juta jiwa terdapat sekitar
11.000 anak yang menderita kanker per tahun. Di Jakarta dan sekitarnya dengan
jumlah penduduk 12 juta jiwa, diperkirakan terdapat 650 anak yang menderita
kanker per tahun. Menurut Errol untung huta galung, seorang guru besar dalam
Ilmu Bedah Orthopedy Universitas Indonesia, dalam kurun waktu 10 tahun
(1995-2004) tercatat 455 kasus tumor tulang yang terdiri dari 327 kasus tumor
tulang ganas (72%) dan 128 kasus tumor tulang jinak (28%). Di RSCM jenis
tumor tulang osteosarkoma merupakan tumor ganas yang sering didapati yakni
22% dari seluruh jenis tumor tulang dan 31 % dari seluruh tumor tulang ganas.
Dari jumlah seluruh kasus tumor tulang 90% kasus datang dalam stadium lanjut.
Angka harapan hidup penderita kanker tulang mencapai 60% jika belum terjadi
penyebaran ke paru-paru. Sekitar 75% penderita bertahan hidup sampai 5 tahun
setelah penyakitnya terdiagnosis. Sayangnya penderita kanker tulang kerap
dating dalam keadaan sudah lanjut sehingga penanganannya menjadi lebih sulit.
Jika tidak segera ditangani maka tumor dapat menyebar ke organ lain, sementara
penyembuhannya sangat menyakitkan karena terkadang memerlukan
pembedahan radikal diikuti kemotherapy. Kanker tulang (osteosarkoma) lebih
sering menyerang kelompok usia 15–25 tahun (pada usia pertumbuhan)
(Smeltzer. 2001: 2347). Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun.
Angka kejadian pada anak laki-laki sama dengan anak perempuan. Tetapi pada
akhir masa remaja penyakit ini lebih banyak di temukan pada anak laki-laki.
Sampai sekarang penyebab pasti belum diketahui.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi osteosarcoma?
2. Apa etiologi osteosarcoma?
3. Bagaimana patofisiologi osteosarcoma?
4. Bagaimana pathway osteosarcoma?
5. Apa saja klasifikasi dari osteosarcoma?
6. Bagaimana manifestasi klinis osteosarcoma?
7. Apa saja komplikasi osteosarcoma?
8. Apa saja pemeriksaan penunjang osteosarcoma?
9. Bagaimana penatalaksanaan osteosarcoma?

1
C. Tujuan
1. Agar dapat mengerti pengertian dan bentuk-bentuk osteosarcoma.
2. Agar dapat mengetahui etiologi dan patofisiologi serta pathway dari
osteosarcoma.
3. Agar dapat mengetahui penyebab gejala dan sistem pengobatan yang dapat
dilakukan kepada penderita osteosarcoma.
4. Agar dapat mengetahui konsep pemberian asuhan keperawatan kepada
penderita osteosarcoma mulai dari pengkajian, diagnosa, sampai intervensi.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Osteosarkoma atau sarcoma osteogenik adalah suatu pertumbuhan yang
cepat pada tumor maligna tulang (kanker tulang yang tidak diketahui
penyebabnya). Keganasan sel pada mulanya berlokasi pada sumsum tulang
(miolema) dari jaringan sel tulang (sarcoma) atau tumor tulang (karsinoma).
Pada tahap leih lanjut, sel-sel tulang akan berada pada nodul-nodul limfe, hati,
serta limfe, dan ginjal. Akibatnya adanya pengaruh aktivitas hematopoietic
sumsum tulang yang cepat pada tulang, sel-sel plasma yang belum atau tidak
matang akan terus membelah. Akibatnya terjadi penambahan jumlah sel yang
tidak terkontrol lagi. Sarkoma osteogenik sering terdapat pada pria dengan usia
10-25 tahun, terutama pada pasien yang menderita penyakit Paget.

B. Etiologi
Penyebab pasti terjadinya tumor tulang tidak diketahui. Akhir-akhir ini,
penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suatu zat dalam tubuh yaitu C-Fos
dapat meningkatkan kejadian tumor tulang. Radiasi sinar radioaktif dosis tinggi,
keturunan, beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya seperti penyakit paget
(akibat pajanan radiasi ) (Smeltzer. 2001).
Adapun faktor predisposisi yang dapat menyebabkan osteosarcoma antara
lain :
1. Trauma.
Osteosarcoma dapat terjadi beberapa bulan atau beberapa tahun setelah
terjadinya injuri. Walaupun demikian trauma ini tidak dapat dianggap sebagai
penyebab utama karena tulang yang fraktur akibat trauma ringan maupun
parah jarang menyebabkan osteosarcoma.
2. Ekstrinsik karsinogenik.
Penggunaan substansi radioaktif dalam jangka waktu lama dan melebihi dosis
juga diduga merupakan penyebab terjadinya osteosarcoma ini. Salah satu
contoh adalah radium. Radiasi yang diberikan untuk penyakit tulang seperti
kista tulang aneurismal, fibrous displasia, setelah 3-40 tahun dapat
mengakibatkan osteosarcoma.
3. Karsinogenik kimia.
Ada dugaan bahwa penggunaan thorium untuk penderita tuberculosis
mengakibatkan 14 dari 53 pasien berkembang menjadi osteosarcoma.
4. Virus.
Penelitian tentang virus yang dapat menyebabkan osteosarcoma baru,
dilakukan pada hewan, sedangkan sejumlah usaha untuk menemukan
oncogenik virus pada osteosarcoma manusia tidak berhasil. Walaupun
beberapa laporan menyatakan adanya partikel seperti virus pada sel
osteosarcoma dalam kultur jaringan. Bahan kimia, virus, radiasi, dan faktor
trauma. Pertumbuhan yang cepat dan besarnya ukuran tubuh dapat juga
menyebabkan terjadinya osteosarcoma selama masa pubertas. Hal ini

3
menunjukkan bahwa hormon sex penting walaupun belum jelas bagaimana
hormon dapat mempengaruhi perkembanagan osteosarcoma.
5. Keturunan (genetik).

C. Patofisiologi
Osteosarkoma merupakan tumor ganas yang penyebab pastinya tidak
diketahui. Ada beberapa factor resiko yang dapat menyebabkan
osteosarkoma.Sel berdiferensiasi dengan pertumbuhan yang abnormal dan cepat
padatulang panjang akan menyebabkan munculnya neoplasma (osteosarkoma).
Penampakan luar dari osteosarkoma adalah bervariasi. Bisa berupa :
1. Osteolitik dimana tulang telah mengalami perusakan dan jaringan lunak
diinvasi oleh tumor.
2. Osteoblastik sebagai akibat pembentukan tulang sklerotik yang baru.
Periosteum tulang yang baru dapat tertimbun dekat tempat lesi, dan pada
hasil pemeriksaan radiografi menunjukkan adanya suatu bangunan yang
berbentuk segitiga. Walaupun gambaran ini juga dapat terlihat pada berbagai
bentuk keganasan tulang yang lain, tetapi bersifat khas untuk osteosarkoma;
tumor itu sendiri dapat menghasilkan suatu pertumbuhan tulang yang bersifat
abortif. Gambaran seperti ini pada radiogram akan terlihat sebagai suatu
“sunburst” (pancaran sinar matahari).

D. Pathway

4
P
E. Klasifikasi
1. Menurut kemampuan infiltrasinya :
a. Local osteosarcom.
Kanker sel belum tersebar di luar tulang atau dekat jaringan di mana
kanker berasal.
b. Metastatic osteosarcoma.
Kanker sel telah menyebar dari tulang yang kanker berasal, ke bagian
tubuh yang lain. Kanker yang paling sering menyebar ke paru-paru.
Mungkin juga menyebar ke tulang lain.
c. Berulang.
Berarti kanker telah datang kembali (recurred) setelah dirawat. Hal itu
dapat datang kembali dalam jaringan dimana pertama kali atau mungkin
datang kembali di bagian lain dari tubuh. Osteosarkoma paling sering
terjadi dalam paru-paru. Ketika osteosarkoma ditemukan, biasanya dalam
waktu 2 sampai 3 tahun setelah perawatan selesai. Nanti kambuh lagi
adalah mungkin terjadi, tetapi langka.
2. Menurut sifatnya :
a. Osteokondroma.
Osteokondroma (eksostosis Osteokartilagionous) merupakan tumor tulang
jinak yang paling sering ditemukan. Biasanya menyerang usia 10-20
tahun. Tumor ini tumbuh pada permukaan tulang sebagai benjolan yang
keras. Penderita dapat memiliki satu atau beberapa benjolan. 10% dari
penderita yang memiliki beberapa osteokondroma, tetapi penderita yang
hanya memiliki satu osteokondroma, tidak akan menderita
kondrosarkoma.
b. Kondroma Jinak.
Kondroma jinak biasanya terjadi pada usia 10-30 tahun, timbul di bagian
tengah tulang. Beberapa jenis kondroma menyebabkan nyeri. Jika tidak
menimbulkan nyeri, tidak perlu diangkat atau diobati. Untuk memantau
perkembangannya, dilakukan foto rontgen. Jika tumor tidak dapat di
diagnosis melalui foto rontgen atau jika menyebabkan nyeri, mungkin
perlu dilakukan biopsy untuk menentukan apakah tumor tersebut bisa
berkembang menjadi kanker atau tidak.
c. Kondroblastoma.
Kondroblastoma merupakan tumor yang jarang terjadi, yang tumbuh pada
ujung tulang. Biasanya timbul pada usia 10-20 tahun. Tumor ini dapat
menimbulkan nyeri, yang merupakan petunjuk adanya penyakit ini.
Pengobatan terdiri dari pengangkatan melalui pembedahan ; kadang
setelah dilakukan pembedahan, tumor bisa tumbuh kembali.
d. Fibroma Kondromiksoid.

5
Fibroma kondromiksoid merupakan tumor yang sangat jarang, yang terjadi
pada usia kurang dari 30 tahun. Nyeri merupakan gejala yang biasa
dikeluhkan. Tumor ini akan memberikan gambaran yang khas pada foto
rontgen. Pengobatannya adalah pengangkatan melalui pembedahan.

e. Osteoid Osteoma.
Tumor yang sangat kecil, yang biasanya tumbuh di lengan atau tungkai,
tetapi dapat terjadi pada semua tulang. Biasanya akan menimbulkan nyeri
yang memburuk pada malam hari dan berkurang dengan pemberian aspirin
dosis rendah. Kadang otot disekitar tumor akan mengecil (atrofi) dan
keadaan ini akan membaik setelah tumor diangkat. Scaning tulang
menggunakan pelacak radioaktif bisa membantu menentukan lokasi yang
tepatdari tumor tersebut. Kadang-kadang tumor sulit ditentukan lokasinya
dan perlu dilakukan pemeriksaan tambahan seperti CT-scan dan foto
rontgen dengan tehnik yang khusus. Pengangkatan tumor melalui
pembedahan merupakan satu-satunya cara untuk mengurangi nyeri secara
permanen.
f. Tumor sel raksasa.
Biasanya terjadi pada usia 20 dan 30 tahun. Tumor ini umumnya tumbuh
di ujung tulang dan dapat meluas ke jaringan disekitarnya. Biasanya
menimbulkan nyeri. Pengobatan tergantung dari ukuran tumor. Tumor
dapat diangkat melalui pembedahan dan lubang yang terbentuk bisa diisi
dengan cangkokan tulang atau semen tulang buatan agar struktur tulang
tetap terjaga. Pada tumor yang sangat luas kadang perlu dilakukan
pengangkatan satu segmen tulang yang terkena. Sekitar 10% tumor akan
muncul kembali setelah pembedahan. Walaupun jarang, tumor ini biasa
tumbuh menjadi kanker.

F. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis pada pasien dengan Osteosarkoma menurut Smeltzer
Suzanne C (2001) adalah sebagai berikut :
1. Nyeri pada ekstremitas yang terkena (biasanya menjadi semakin parah pada
malam hari dan meningkat sesuai dengan progresivitas penyakit).
2. Pembekakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang
terbatas.
3. Keterbatasan gerak.
4. Kehilangan berat badan (dianggap sebagai temuan yang mengerikan).
5. Masa tulang dapat teraba, nyeri tekan, dan tidak bisa di gerakan, dengan
peningkatan suhu kulit diatas masa dan ketegangan vena.
6. Kelelahan, anoreksi dan anemia.
7. Lesi primer dapat mengenai semua tulang, namun tempat yang paling sering
adalah distal femur, proksimal tibia, dan proksimal humerus
8. Gejala penyakit metastatik meliputi nyeri dada, batuk, demam, berat badan
menurun dan malaise

6
G. Komplikasi
Komplikasi yang dapat timbul, antara lain gangguan produksi anti-bodi,
infeksi yang biasa disebabkan oleh kerusakan sumsum tulang yang luas dan
merupakan juga efek dari kemoterapi, radioterapi, dan steroid yang dapat
menyokong terjadinya leucopenia dan fraktur patologis, gangguan ginjal dan
system hematologis, serta hilangnya anggota ekstremitas. Komplikasi lebih
lanjut adalah adanya tanda-tanda apatis dan kelemahan.

H. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan radiologis menyatakan adanya segitiga codman dan destruksi
tulang.
2. CT scan dada untuk melihat adanya penyebaran ke paru-paru.
3. Biopsi terbuka menentukan jenis malignansi tumor tulang, meliputi tindakan
insisi, eksisi, biopsi jarum, dan lesi- lesi yang dicurigai.
4. Skening tulang untuk melihat penyebaran tumor.
5. Pemeriksaan darah biasanya menunjukkan adanya peningkatan alkalin
fosfatase.
6. MRI digunakan untuk menentukan distribusi tumor pada tulang dan
penyebaran pada jaringan lunak sekitarnya.
7. Scintigrafi untuk dapat dilakukan mendeteksi adanya “skip lesion” (Rasjad.
2003).

I. Penatalaksanaan
a. Tindakan Medis
a. Pembedahan secara menyeluruh atau amputasi. Amputasi dapat dilakukan
melalui tulang daerah proksimal tumor atau sendi proksimal dari pada
tumor.
b. Kemoterapi.
Merupakan senyawa kimia untuk membunuh sel kanker. Efektif pada
kanker yang sudah metastase. Dapat merusak sel normal. Regimen standar
kemoterapi yang dipergunakan dalam pengobatan osteosarkamo adalah
kemoterapi preoperative (preoperative chemotherapy) yang disebut juga
dengan induction chemotherapy atau neoadjuvant chemotherapy dan
kemoterapi postoperative (postoperative chemotherapy) yang disebut juga
dengan adjuvant chemotherapy.
Kemoterapi preoperatif merangsang terjadinya nekrosis pada tumor
primernya, sehingga tumor akan mengecil. Selain itu akan memberikan
pengobatan secara dini terhadap terjadinya mikro-metastase. Keadaan ini
akan membantu mempermudah melakukan operasi reseksi secara luas dari
tumor dan sekaligus masih dapat mempertahankan ekstrimnya. Pemberian

7
kemoterapi posperatif paling baik dilakukan secepat mungkin sebelum 3
minggu setelah operasi.
Obat-obat kemoterapi yang mempunyai hasil cukup efektif untuk
osteosarkoma adalah : doxorubicin (Andriamycin), cisplatin (Platinol),
ifosfamide (Ifex), mesna (Rheumatrex). Protocol standar yang digunakan
adalah doxorubicin dan cisplatin dengan atau tanpa methotrexate dosis
tinggi, baik sebagai terapi induksi (neoadjuvant) atau terai adjuvant.
Kadang-kadang dapat ditambah dengan ifosfamide. Dengan menggunakan
pengobatan multi-agent ini, dengan dosis yang intensif, terbukti
memberikan perbaikan terhadap survival rate 60-80%.
c. Radiasi.
Efek lanjut dari radiasi dosis tinggi adalah timbulnya fibrosis. Apabila
fibrosis ini timbul di sekitar pleksus saraf maka bisa timbul nyeri di daerah
yang dipersarafinya. Nyeri di sini sering disertai parestesia. Kadang-
kadang akibat fibrosis ini terjadi pula limfedema di daerah distal dari
prosesfibrosis tersebut. Misalnya fibrosis dari pleksus lumbosakral akan
menghasilkan nyeri disertai perubahan motorik dan sensorik serta
limfedema di kedua tungkai.
d. Analgesik atau tranquiser.
Analgesik non narkotik, sedativa, psikoterapi serta bila perlu narkotika.
e. Diet tinggi protein tinggi kalori.

2. Tindakan Keperawatan
a. Manajemen nyeri.
Teknik manajemen nyeri secara psikologik (teknik relaksasi napas dalam,
visualisasi, dan bimbingan imajinasi) dan farmakologi (pemberian
analgetika).
b. Mengajarkan mekanisme koping yang efektif.
Motivasi klien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan mereka, dan
berikan dukungan secara moril serta anjurkan keluarga untuk berkonsultasi
ke ahli psikologi atau rohaniawan.
c. Memberikan nutrisi yang adekuat.
Berkurangnya nafsu makan, mual, muntah sering terjadi sebagai efek
samping kemoterapi dan radiasi, sehingga perlu diberikan nutrisi yang
adekuat. Antiemetika dan teknik relaksasi dapat mengurangi reaksi
gastrointestinal. Pemberian nutrisi parenteral dapat dilakukan sesuai
dengan indikasi dokter.
d. Pendidikan kesehatan.
Pasien dan keluarga diberikan pendidikan kesehatan tentang kemungkinan
terjadinya komplikasi, program terapi, dan teknik perawatan luka di
rumah.

8
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Pengumpulan data.
a. Identitas.
Identitas merupakan langkah pertama dari proses keperawatan dengan
mengumpulkan data-data yang akurat dari klien sehingga akan diketahui
berbagai permasalahan yang ada :
1) Identitas klien : nama, umur,jenis kelamin, agama,
pendidikan,pekerjaan, tanggal masuk RS, tanggal operasi, tanggal
pengkajian, nomor rekam medik, diagnosa medis, alamat.
2) Identitas penanggung jawab : nama, umur, pendidikan,
pekerjaan,hubungan dengan klien, alamat.
2. Riwayat Kesehatan.
a. Keluhan Utama.
Keluhan utama adalah keluhan yang paling dirasakan klien sehingga
mendorong pasien untuk mencari pertolongan medis. Keluhan utama pada
pasien Osteosarkoma adalah nyeri.
b. Riwayat Kesehatan sekarang.
Riwayat penyakit apa saja adalah satu-satunya faktor yang terpenting bagi
petugas kesehatan dalam menegakan diagnosis atau menentukan
kebutuhan pasien dengan menggunakan konsep PQRST (Smeltzer & Bere,
2012).
1) P : (Paliatif / provokatif), apakah yang menyebabkan keluhan dan
memperingan serta memberatkan keluhan.
2) Q : (Quality / Kwantity), seberapa berat keluhan dan bagaimana
rasanya serta berapa sering keluhan itu muncul.
3) R : (Region / Radiation), lokasi keluhan dirasakan dan juga arah
penyebaran keluhan sejauh mana.
4) S : (Scala / Severity), intensitas keluhan dirasakan, apakah sampai
mengganggu atau tidak.
5) T : (Timming), kapan keluhan dirasakan, seberapa sering, apakah
berulang-ulang, dimana hal ini menentukan waktu dan durasi.
c. Riwayat Kesehatan Dahulu.
Perlu diketahui apakah ada penyakit dahulu yang pernah dialami klien
yang memungkinkan akan berpengaruh pada kesehatan sekarang,
misalnya hipertensi, diabetes melitus, asma.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga.
Perlu diketahui apakah anggota keluarga yang mempunyai penyakit serupa
dengan klien atau penyakit keturunan lain, karena klien Osteosarkoma
penyebabnya bisa dari riwayat keturunan (genetik).

9
3. Keadaan Umum.
a. Penampilan.
Meliputi kemampuan fisik klien secara umum biasanya terlihat lemah dan
lesu ketika banyak bergerak dan beraktivitas.
b. Kesadaran.
Tingkat kesadaran klien apakah compos mentis (sadar sepenuhnya)
dengan GCS 15-14, apatis (acuh tak acuh) dengan GCS 13-12, samnolen
(keadaan keasadaran yang mau tidur saja) dengan GCS 11-10, delirium
(keadaan kacau motorik) dengan GCS 9-7, sopor (keadaan kesadaran yang
menyerupai koma) dengan GCS 9-7, coma (keadaan kesadaran yang
hilang sama sekali) dengan GCS<7).
c. Berat badan dan tinggi badan.
Meliputi berat badan dan tinggi badan sebelum sakit dan sesudah sakit.
d. Tanda-tanda vital.
Tanda-tanda vital terdiri atas empat pemeriksaan, yaitu :
1) Tekanan darah.
2) Pemeriksaan denyut nadi.
3) Pemeriksaan respirasi.
4) Pemeriksaan suhu.
5) Pemeriksaan Fisik :
a) Sistem pernafasan.
Perlu dikaji mulai dari bentuk hidung, ada tidaknya secret pada
lubang hidung, pergerakan cuping hidung waktu bernapas,
auskultasi bunyi napas apakah bersih atau ronchi, serta frekuensi
napas.
b) Sistem kardiovaskuler.
Terjadinya peningkatan denyut nadi dan tekanan darah, tetapi
keadaan tersebut tergantung dari nyeri yang dirasakan individu.
c) Sistem pencernaan.
Kaji keadaan mulut, gigi, bibir, kaji abdomen untuk mengetahui
peristaltik usus.
d) Sistem persyarafan.
Sistem neurosensori yang dikaji adalah fungsi cerebral,
fungsikranial, dan fungsi sensori mengkaji : Nyeri superfisial,
sensasi suhu, sensasi posisi (Fransisca, 2008).
e) Sistem penginderaan.
Pada sistem penginderaan kemungkinan tidak ada gangguan pada
klien Osteosarkoma.
f) Sistem muskuloskeletal.
Rentang sendi yang menunjukan kemampuan luas gerakpersendian
tertentu, mulai dari kepala sampai anggota gerakbawah,
ketidaknyamanan atau nyeri yang dikatakan klien waktu bergerak,
observasi adanya luka, adanya kelemahan dan penurunan toleransi
terhadap aktifitas. Pengkajian system motorik keseimbangan

10
koordinasi gerakan adalah, cepat, berselang-selang, dan ataksia
(Fransisca, 2008).
g) Sistem integumen.
Kaji keadaan kulit, tekstur, kelembaban, turgor, warna, dan fungsi
perabaan. Kaji keadaan luka. Pada klien Osteosarkoma terdapat luka
dengan panjang tergantung dari luas luka, terdapat kemerahan dan
terjadi pembesaran pada daerah luka.
h) Sistem endokrin.
Dikaji adanya nyeri tekan atau tidak, adanya oedeme atau tidak pada
kelenjar getah bening, ada riwayat alergi atau tidak. Biasanya tidak
ada masalah pada sistem endokrin.
i) Sistem perkemihan.
Kaji adanya nyeri pada saat berkemih, adanya nyeri tekan dan
benjolan.
6) Pola Aktivitas.
Pada klien Osteosarkoma biasanya aktivitas sehari-harinya terganggu
begitu juga pada status personal hygiene akan mengalami perubahan
sehingga personal hygiene klien dibantu oleh keluarga atau perawat di
ruangan.
7) Data Penunjang :
a) Data psikologi.
Emosi klien, konsentrasi klien pada saat diajukan pertanyaan oleh
perawat. Menurut Smeltzer (2012) Koping Efektif. Pasien dan
keluarganya didorong untuk mengungkapkan rasa takut, keprihatian
dan perasaan mereka. Mereka membutuhkan dukungan dan
perasaan diterima agar mereka mampu dampak tumor maligna.
Perasaan terkejut, putus asa, dan sedih pasti akan terjadi, maka
rujukan ke perawat psikiatri, ahli psikologi, konselor atau
rohaniawan perlu diindikasikan untuk bantuan psikologik khusus.
b) Data sosial.
Perlu dikaji tentang tidak tanggapnya aktifitas disekitarnya baik
ketika dirumah atau dirumah sakit. Biasanya ada perubahan tingkah
laku karena menahan nyeri luka operasi yang dirasakan klien.
c) Data spiritual.
Hal yang perlu dikaji yaitu bagaimana pelaksanaan ibadah selama
sakit. Perlu pula dikaji keyakinan klien tentang kesembuhannya
dihubungkan dengan agama yang dianut klien dan bagaimana
persepsi klien tentang penyakitnya. Aktivitas ibadah klien
Osteosarkoma biasanya terganggu.
d) Data ekonomi.
Menurut Smiltzer (2012) kemandirian versus ketergantungan
merupakan isu pada klien yang menderita keganasan. Gaya hidup
akan berubah secara drastis, keluarga harus didukung dalam
menjalankan penyesuaian yang harus dilakukan.

11
8) Analisa Data.
Analisa data merupakan proses berfikir secara ilmiah berdasarkan teori-
teori yang dihubungkan dengan data-data yang ditemukan saat
pengkajian. Menginterprestasikan data atau membandingkan dengan
standar fisiologi setelah dianalisa, maka akan didapat penyebab
terjadinya masalah pada klien (Nursalam, 2008).

B. Diagnosa
1. Nyeri Akut b.d. Agen pencedera fisik (mis. Abses, amputasi, terbakar,
terpotong, mengangkat berat, prosedur operasi, trauma, latihan fisik
berlebihan) d.d. Mengeluh nyeri
2. Gangguan Citra Tubuh b.d. Efek tindakan/pengobatan (mis. Pembedahan,
kemoterapi, terapi, radiasi) d.d. Kehilangan bagian tubuh
3. Gangguan Mobilitas Fisik b.d. Kerusakan struktur tulang d.d. Rentang gerak
(ROM) menurun
4. Risiko Cedera b.d. kegagalan mekanisme pertahanan tubuh

C. Intervensi
Dx LUARAN INTERVENSI

1. Setelah dilakukan tindakan Manajemen Nyeri


keperawatan 2x24 jam Observasi
diharapkan Tingkat Nyeri
menurun dengan kriteria hasil : a. Identifikasi lokasi, karakteristik,
durasi, frekuensi, kualifikasi,
a. Keluhan nyeri intensitas nyeri
menurun b. Identifikasi skala nyeri
b. Gelisan cukup menurun c. Identifikasi factor yang
c. Kesulitan tidur menurun memperberat dan memperingan
nyeri
Terapeutik
a. Berikan teknik nonfarmakologis
untuk mengurangi rasa nyeri
b. Fasilitasi istirahat tidur
c. Pertimbangkan jenis dan sumber
nyeri dalam pemilihan strategi
meredakan nyeri
Edukasi
a. Jelaskan penyebab, periode,dan
pemicu nyeri
b. Jelaskan strategi meredakan nyeri
c. Anjurkan memonitor nyeri secara
mandiri
Kolabrasi
a. Kolaborasi pemberian analgesic,
jika perlu
2. Setelah dilakukan tindakan Promosi Citra Tubuh
keperawatan 2x24 jam Obseravasi

12
diharapkan tingkat Citra Tubuh a. Identifikasi harapan citra tubuh
membaik dengan kriteria hasil : berdasarkan tahap perkembangan
b. Identifikasi perubahan citra tubuh
a. Melihat bagian tubuh yang mengakibatkan isolasi social
membaik c. Monitor frekuensi pernyataan
b. Verbalisasi perasaan negative kritik terhadap diri sendiri
tentang perubahan tubuh Terapeutik
menurun a. Diskusikan perubahan tubuh dan
c. Verbalisasi kekhawatiran fungsinya
pada penolakan/reaksi orang b. Diskusikan perbedaan
lain menurun penampilan fisik terhadap harga
diri
c. Diskusikan kondisi stress yang
mempengaruhi citra tubuh
Edukasi
a. Jelaskan kepada keluarga tentang
perawatan perubahan citra tubuh
b. Latih fungsi tubuh yang dimiliki
c. Latih peningkatan penampilan
diri
3. Setelah dilakukan tindakan Dukungan Mobilisasi
keperawatan 2x24 jam Observasi
diharapkan tingkat Mobilitas
Fisik meningkat dengan kriteria a. Identifikasi adanya nyeri atau
hasil : keluhan fisik lainnya
a. Pergerakan ekstermitas b. Identifikasi toleransi fisik
meningkat melakukan pergerakan
b. Kekuatan otot meningkat c. Monitor kondisi umum selama
c. Rentang gerak (ROM) melakukan mobilisasi
meningkat Terapeutik
a. Fasilitasi aktivitas mobilisasi
dengan alat bantu
b. Fasilitasi melakukan pergerakan,
jika perlu
c. Libatkan keluarga untuk mebantu
pasien dalam meningkatkan
pergerakan
Edukasi
a. Jelaskan tujuan dan prosedur
mobilisasi
b. Anjurkan melakukan mobilisasi
diri
c. Ajarkan mobilisasi sederhana
yang harus dilakukan
4. Setelah dilakukan tindakan Pencegahan Cedera
keperawatan 2x24 jam Observasi
diharapkan Tingkat Cedera a. Identifikasi area lingkungan yang
menurun dengan kriteria hasil : berpotensi menyebabkan cedera
b. Identifikasi obat yang
a. Toleransi aktivitas menyebabkan cedera
meningkat c. Identifikasi kesesuaian alas kaki

13
b. Kejadian cedera menurun atau stoking elastis pada
c. Luka/lecet menurun ekstremitas bawah
Terapeutik
a. Diskusikan mengenai latihan dan
terapi fisik yang diperlukan
b. Diskusikan mengenai alat bantu
mobilitas yang sesuai
c. Diskusikan bersama anggota
keluarga yang dapat mendampingi
pasien
Edukasi
a. Jelaskan alasan intervensi
pencegahan jatuh ke pasien dan
keluarga
b. Anjurkan berganti posisi secara
perlahan dan duduk selama
beberapa menit sebelum berdiri

14
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Osteosarkoma (sarkoma osteogenik) adalah tumor tulang ganas, yang
biasanya berhubungan dengan periode kecepatan pertumbuhan pada masa
remaja. Osteosarkoma merupakan tumor ganas yang paling sering ditemukan
pada anak-anak. Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun. Angka
kejadian pada anak laki-laki dan anak perempuan adalah sama, tetepi pada akhir
masa remaja penyakit ini lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki.
Penyebab yang pasti tidak diketahui. Bukti-bukti mendukung bahwa
osteosarkoma merupakan penyakit yang diturunkan. Pasien dengan tumor tulang
datang dengan masalah yang berhubungan dengan tumor tulang yang sangat
bervariasi. Dapat tanpa gejala atau dapat juga nyeri (ringan dan kadang-kadang
sampai konstan dan berat). Kecacatan yang bervariasi, dan pada suatu saat
adanya pertumbuhan tulang yang jelas. Kehilangan berat badan, malise, demam
dapat terjadi. Tumor kadang baru terdiagnosis saat terjadinya patah tulang
patologik.

B. Saran
Setelah membaca makalah ini, mungkin komentar yang timbul adalah
rasanya masih banyak hal yang belum di jawab secara tuntas dan menyeluruh
serta mengenai penyakit tulang osteosarcoma, makalah ini jauh dari sempurna,
umtuk itu kami menerima keritik, usul, dan saran.

15
DAFTAR PUSTAKA

https://id.scribd.com/doc/168720911/Laporan-Pendahuluan-Osteosarcoma
https://www.academia.edu/30004007/ASKEP_OSTEOSARKOMA.docx
DPP PPNI.2016.Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.Jakarta:DPP PPNI.
DPP PPNI.2018.Standar Intervensi Keperawatan Indonesia.Jakarta:DPP PPNI.
DPP PPNI.2018.Standar Luaran Keperawatan Indonesia.Jakarta:DPP PPNI.
Smeltzer & Brenda G. bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Vol
III. Edisi 8.Jakarta : EGC.