Anda di halaman 1dari 26

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 3

“ASUHAN KEPERAWATAN OSTEOPOROSIS”

Disusun Oleh :

Eva Kartika Putri (1811007)

Shinta Maudi Herista (1811017)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS

STIKES PATRIA HUSADA BLITAR

2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah
memberikan kekuatan dan kemampuan sehingga makalah yang berjudul
“ASUHAN KEPERAWATAN OSTEOPOROSIS” bisa terselesaikan dengan
baik, adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas
dari mata kuliah “Keperawatan Medikal Bedah III”.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu dan mendukung dalam penyusunan makalah ini.
Penulis sadar makalah ini belum sempurna dan memerlukan berbagai
perbaikan,oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan
oleh penulis demi kesempurnaan penyusun makalah nanti.
Akhir kata,semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca

BLITAR,20 APRIL 2020

PENULIS

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1


1.2 Rumusan masalah 2
1.3 Tujuan 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3
2.1 Definisi 3
2.2 Etiologi 3
2.3 Klasifikasi 7
2.4 Patofisiologi 8
2.5 Pathway 10
2.6 Manifestasi Klinis 11
2.7 Penatalaksanaan 12
2.8 Komplikasi 16
2.9 Pemeriksaan diagnostic 16
BAB III KONSEP ASKEP 17
3.1 Pengkajian 17
3.2 Diagnosa keperawatan 19
3.3 Intervensi keperawatan 20
BAB IV PENUTUP 22
4.1 Kesimpulan 22
4.2 Saran 22
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dengan meningkatnya usia harapan hidup, maka berbagai penyakit
degeneratif dan metabolik, termasuk osteoporosis akan menjadi problem
muskolokeletal yang memerlukan perhatian khusus,terutama dinegara
berkembang, termasuk indonesia. Pada tahun 1990, ternyata jumlah penduduk
yangberusia 55 tahun atau lebih mencapai 9,2%, meningkat 50%
dibandingkan survey tahun 1971. Dengandemikian, kasus osteoporosis dengan
berbagai akibatnya, terutama fraktur diperkirakan juga akan meningkat
(Sodoyo, 2009).
Penelitian Roeshadi di Jawa Timur, mendapatkan bahwa puncak massa
tulang dicapai pada usia30-34 tahun dan rata-rata kehilangan massa tulang
pasca menopause adalah 1,4% tahun. Penelitianyang dilakukan di klinik
Reumatologi RSCM mendapatkan faktor resiko osteoporosis yang meliputi
umur,lamanya menopause dan kadar estrogen yang rendah, sedangkan faktor
proteksinya adalah kadarestrogen yang tinggi, riwayat berat badan
lebih/obesitas dan latihan yang teratur (Sudoyo, 2009).
Ada beberapa faktor risiko osteoporosis daiantaranya genetic, jenis
kelamin dan masalahkesehatan kronis, defisiensi hormone, kurang olah raga,
serta rendahnya asupan kalsium, Bila dalamsuatu keluarga mempunyai
riwayat osteoporosis maka kemungkinan peluang anak mengalami hal
yangsama adalah 60-80%. Dilihat dari jenis kelamin 80% wanita mengidap
osteoporosis. Risiko osteoporosis juga akan meningkat apabila mengidap
penyakit kronis. Sedangkan hubunga antara perempuanosteoporosis karena
menaupose akibat penurunan hormone esterogen , (Siswono, 2003).
Osteoporosis atau dikenal sebagai tulang keropos. Pada osteoporosis
massa yang membentuktulang sudah berkurang, sehingga tulang dapat
dikatakan keropos. Struktur pengisi tulang antara lainberupa senyawa-
senyawa kolagen disamping juga kalsium, berfungsi bagaikan semen cor-an
nya tulang. Ketika massa ini menjadi berkurang maka tulang menjadi kurang
padat sehingga tak kuat menahanbenturan ringan sekalipun yang

1
mengenainya, resikonya patah tulang gampang terjadi.Di luar darimudahnya
tulang yang keropos itu mengalami fraktur, tulang yang keropos hampir tak
bergejala sama sekali, silent disease. Jadi Keduanya memang dekat dengan
wanita usia post menopause dikarenakan proses metabolisme di tulang
memang membutuhkan pengaruh dari hormone estrogen yang lazimnya
menurun saat wanita post menopause.

1.2 RUMUSAN MASALAH


a. Dapat menjelaskan tentang definisi Osteoporosis
b. Dapat menjelaskan tentang etiologi Osteoporosis
c. Dapat menjelaskan tentang klasifikasi Osteoporosis
d. Dapat menjelaskan tentang manifestasi klinis Osteoporosis
e. Dapat menjelaskan tentang penatalaksanaan Osteoporosis
f. Dapat menjelaskan tentang komplikasi Osteoporosis

1.3 TUJUAN
a. Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tentang Osteoporosis
b. Agar mahasiswa dapat melaksanakan dan memahami makalah asuhan
keperawatan tentang Osteoporosis

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI
Osteoporosis adalah suatu kondisi berkurangnya massa tulang secara
nyata yang berakibat pada rendahnya kepadatan tulang, sehingga tulang
menjadi keropos dan rapuh.“Osto” berarti tulang, sedangkan “porosis” berarti
keropos. Tulang yang mudah patah akibat Osteoporosis adalah tulang
belakang, tulang paha, dan tulang pergelangan tangan(Endang Purwoastuti :
2009).
Osteoporosis yang dikenal dengan keropos tulang menurut WHO
adalah penyakitskeletal sistemik dengan karakteristik massa tulang yang
rendah dan perubahanmikroarsitektur dari jaringan tulang dengan akibat
meningkatnya fragilitas tulang danmeningkatnya kerentanan terhadap tulang
patah. Osteoporosis adalah kelainan dimanaterjadi penurunan massa tulang
total (Lukman, Nurma Ningsih : 2009).
Osteoporosis adalah kelainan di mana terjadi penurunan massa tulang
total.Terdapat perubahan pergantian tulang homeostasis normal, kecepatan
resorpsi tulanglebih besar dari kecepatan pembentukan tulang, pengakibatkan
penurunan masa tulangtotal. Tulang secara progresif menjadi porus, rapuh
dan mudah patah; tulang menjadimudah fraktur dengan stres yang tidak akan
menimbulkan pengaruh pada tulang normal (Brunner&Suddarth, 2000).

2.2 ETIOLOGI
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengurangan massa tulang pada usia
lanjut:
1. Determinan Massa Tulang
a. Faktor genetic
Perbedaan genetik mempunyai pengaruh terhadap derajat kepadatan
tulang. Beberapa orangmempunyai tulang yang cukup besar dan yang
lain kecil. Sebagai contoh, orang kulit hitam padaumumnya mempunyai
struktur tulang lebih kuat/berat dari pada bangsa Kaukasia. Jadi

3
seseorang yangmempunyai tulang kuat (terutama kulit Hitam Amerika),
relatif imun terhadap fraktur karenaosteoporosis.
b. Faktor mekanis
Beban mekanis berpengaruh terhadap massa tulang di samping faktor
genetik. Bertambahnya beban akan menambah massa tulang dan
berkurangnya beban akan mengakibatkan berkurangnyamassa tulang.
Kedua hal tersebut menunjukkan respons terhadap kerja mekanik beban
mekanik yangberat akan mengakibatkan massa otot besar dan juga
massa tulang yang besar. Sebagai contoh adalahpemain tenis atau
pengayuh becak, akan dijumpai adanya hipertrofi baik pada otot
maupun tulangnyaterutama pada lengan atau tungkainya, sebaliknya
atrofi baik pada otot maupun tulangnya akandijumpai pada pasien yang
harus istirahat di tempat tidur dalam waktu yang lama, poliomielitis
ataupada penerbangan luar angkasa. Walaupun demikian belum
diketahui dengan pasti berapa besar bebanmekanis yang diperlukan dan
berapa lama untuk meningkatkan massa tulang di samping faktor
genetik.
c. Faktor makanan dan hormone
Pada seseorang dengan pertumbuhan hormon dengan nutrisi yang
cukup (protein dan mineral),pertumbuhan tulang akan mencapai
maksimal sesuai dengan pengaruh genetik yang
bersangkutan.Pemberian makanan yang berlebih (misalnya kalsium) di
atas kebutuhan maksimal selama masa pertumbuhan, disangsikan dapat
menghasilkan massa tulang yang melebihi kemampuan
pertumbuhantulang yang bersangkutan sesuai dengan kemampuan
genetiknya.

2. Determinan penurunan Massa Tulang


a. Faktor genetic
Pada seseorang dengan tulang yang kecil akan lebih mudah mendapat
risiko fraktur dari padaseseorang dengan tulang yang besar. Sampai saat
ini tidak ada ukuran universal yang dapat dipakaisebagai ukuran tulang

4
normal. Setiap individu mempunyai ketentuan normal sesuai dengan
sitatgenetiknya serta beban mekanis dan besar badannya. Apabila
individu dengan tulang yang besar,kemudian terjadi proses penurunan
massa tulang (osteoporosis) sehubungan dengan lanjutnya usia,maka
individu tersebut relatif masih mempunyai tulang lebih banyak dari
pada individu yangmempunyai tulang kecil pada usia yang sama.
b. Faktor mekanis
Faktor mekanis mungkin merupakan yang terpenting dalarn proses
penurunan massa tulangschubungan dengan lanjutnya usia. Walaupun
demikian telah terbukti bahwa ada interaksi pantingantara faktor
mekanis dengan faktor nutrisi hormonal. Pada umumnya aktivitas fisis
akan menurundengan bertambahnya usia; dan karena massa tulang
merupakan fungsi beban mekanis, massa tulangtersebut pasti akan
menurun dengan bertambahnya usia.
c. Kalsium
Faktor makanan ternyata memegang peranan penting dalam proses
penurunan massa tulangsehubungan dengan bertambahnya usia,
terutama pada wanita post menopause. Kalsium, merupakannutrisi yang
sangat penting. Wanita-wanita pada masa peri menopause, dengan
masukan kalsiumnya rendah dan absorbsinya tidak bak, akan
mengakibatkan keseimbangan kalsiumnya menjadi negatif,sedang
mereka yang masukan kalsiumnya baik dan absorbsinya juga baik,
menunjukkan keseimbangan kalsium positif. Dari keadaan ini jelas,
bahwa pada wanita masa menopause ada hubungan yang eratantara
masukan kalsium dengan keseimbangan kalsium dalam tubuhnya. Pada
wanita dalam masamenopause keseimbangan kalsiumnya akan
terganggu akibat masukan serta absorbsinya kurang sertaekskresi
melalui urin yang bertambah. Hasil akhir kekurangan/kehilangan
estrogen pada masamenopause adalah pergeseran keseimbangan
kalsium yang negatif, sejumiah 25 mg kalsium sehari.

5
d. Protein
Protein juga merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi
penurunan massa tulang.Makanan yang kaya protein akan
mengakibatkan ekskresi asam amino yang mengandung sulfat
melaluiurin, hal ini akan meningkatkan ekskresi kalsium. Pada
umumnya protein tidak dimakan secaratersendiri, tetapi bersama
makanan lain. Apabila makanan tersebut mengandung fosfor, maka
fosfortersebut akan mengurangi ekskresi kalsium melalui urin.
Sayangnya fosfor tersebut akan mengubahpengeluaran kalsium melalui
tinja. Hasil akhir dari makanan yang mengandung protein berlebihan
akanmengakibatkan kecenderungan untuk terjadi keseimbangan
kalsium yang negative.
e. Estrogen
Berkurangnya/hilangnya estrogen dari dalam tubuh akan
mengakibatkan terjadinya gangguankeseimbangan kalsium. Hal ini
disebabkan oleh karena menurunnya efisiensi absorbsi kalsium
darimakanan dan juga menurunnya konservasi kalsium di ginjal.
f. Rokok dan kopi
Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak cenderung akan
mengakibatkan penurunanmassa tulang, lebih-lebih bila disertai
masukan kalsium yang rendah. Mekanisme pengaruh merokokterhadap
penurunan massa tulang tidak diketahui, akan tetapi kafein dapat
memperbanyak ekskresikalsium melalui urin maupun tinja.
g. Alkohol
Alkoholisme akhir-akhir ini merupakan masalah yang sering
ditemukan. Individu denganalkoholisme mempunyai kecenderungan
masukan kalsium rendah, disertai dengan ekskresi lewat urinyang
meningkat. Mekanisme yang jelas belum diketahui dengan pasti.

Beberapa penyebab osteoporosis dalam (Junaidi, 2007), yaitu:


1. Osteoporosis pascamenopause terjadi karena kurngnya hormon estrogen
(hormon utama padawanita), yang membantu mengatur pengangkutan
kalsium kedalam tulang. Biasanya gejala timbul padaperempuan yang

6
berusia antara 51-75 tahun, tetapi dapat muncul lebih cepat atau lebih
lambat.Hormon estrogen produksinya menurun 2-3 tahun sebelum
menopause dan terus berlangsung 3-4tahun setelah menopause. Hal ini
berakibat menurunnya massa tulang sebanyak 1-3% dalam waktu 5-7tahun
pertama setelah menopause.
2. Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan
kalsium yang berhubungandengan usia dan ketidak seimbangan antara
kecepatan hancurnya tulang (osteoklas) dan pembentukantulang
baru(osteoblast). Senilis berati bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia
lanjut. Penyakit inibiasanya terjadi pada orang-orang berusia diatas 70
tahun dan 2 kali lebih sering wanita. Wanita seringkali menderita
osteoporosis senilis dan pasca menopause.
3. Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis
sekunder yang disebakan olehkeadaan medis lain atau obat-obatan.
Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan
kelainanhormonal (terutama tiroid, paratiroid, dan adrenal) serta obat-
obatan (mislnya kortikosteroid,barbiturat, anti kejang, dan hormon tiroid
yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dapatmemperburuk
keadaan ini.
4. Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang
penyebabnya tidak diketahui. Halini terjadi pada anak-anak dan dewasa
muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadarvitamin
yang normal, dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya
tulang.

2.3 KLASIFIKASI
Osteoporosis dibagi 2 kelompok, yaitu :
1. Osteoporosis Primer
Osteoporosis primer berhubungan dengan kelainan pada tulang, yang
menyebabkanpeningkatan proses resorpsi di tulang trabekula sehingga
meningkatkan resiko fraktur vertebra dan Colles. Pada usia decade awal
pasca menopause, wanita lebih sering terkena dari pada pria

7
denganperbandingan 68:1 pada usia rata-rata 53-57 tahun. Osteoporosis
primer adalah kehilangan massa tulangyang terjadi sesuai dengan proses
penuaan, sedangkan osteoporisis sekunder didefinisikan sebagaikehilangan
massa tulang akibat hal hal tertentu. Sampai saat ini osteoporosis primer
masih mendudukitempat utama karena lebih banyak ditemukan dibanding
dengan osteoporosis sekunder. Proses ketuaanpada wanita menopause dan
usia lanjut merupakan contoh dari osteoporosis primer.
2. Osteoporosis Sekunder
Osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit atau sebab lain
diluar tulang. Osteoporisissekunder mungkin berhubungan dengan
kelainan patologis tertentu termasuk kelainan endokrin, epeksamping obat
obatan, immobilisasi, Pada osteoporosis sekunder, terjadi penurunan
densitas tulang yangcukup berat untuk menimbulkan fraktur traumatik
akibat faktor ekstrinsik seperti kelebihan steroid,artritis reumatoid,
kelainan hati/ginjal kronis, sindrom malabsorbsi, mastositosis
sistemik,hiperparatiroidisme, hipertiroidisme, varian status hipogonade,
dan lain-lain.

2.4 PATOFISIOLOGI
Osteoporosis terjadi karena adanya interaksi yang menahun antara
faktor genetic dan faktorlingkungan. Faktor genetic meliputi, usia, jenis
kelamin, ras keluarga, bentuk tubuh, tidak pernah melahirkan. Faktor
mekanis meliputi, merokok, alkohol, kopi, defisiensi vitamin dan gizi,
gaya hidup,mobilitas, anoreksia nervosa dan pemakaian obat-obatan.
Kedua faktor diatas akan menyebabkanmelemahnya daya serap sel
terhadap kalsium dari darah ke tulang, peningkatan pengeluaran
kalsiumbersama urin, tidak tercapainya masa tulang yang maksimal
dengan resobsi tulang menjadi lebih cepatyang selanjutnya menimbulkan
penyerapan tulang lebih banyak dari pada pembentukan tulang
barusehingga terjadi penurunan massa tulang total yang disebut
osteoporosis.

8
Dalam massa pertumbuhan tulang, sesudah terjadi penutupan
epifisis, pertumbuhan tulangakan sampai pada periode yang disebut
dengan peride konsolidasi. Pada periode ini terjadi prosespenambahan
kepadatan tulang atau penurunan porositas tulang pada bagian korteks.
Proses konsolidasisecara maksimal akan dicapai pada usia kuarang lebih
antara 30-45 tahun untuk tulang bagian korteksdan mungkin keadaan
serupa akan terjadi lebih dini pada tulang bagian trabekula.
Sesudah manusia mencapai umur antara 45-50 tahun, baik wanita
maupun pria akan mengalamiproses penipisan tulang bagian korteks
sebesar 0,3-0,5% setiap tahun, sedangkan tulang bagiantrabekula akan
mengalami proses serupa pada usia lebih muda. Pada wanita, proses
berkurangnyamassa tulang tersebut pada awalnya sama dengan pria, akan
tetapi pada wanita sesudah menopause,proses ini akan berlangsung lebiuh
cepat. Pada pria seusia wanita menopause massa tulang akanmenurun
berkisar antara 20-30%, sedang pada wanita penurunan massa tulang
berkisar antara 40-50%.Pengurangan massa tulang ini berbagai bagian
tubuh ternyata tidak sama.
Dengan teknik pemeriksaan tertentu dapat dibuktikan bahwa
penurunan massa tulang tersebutlebih cepat terjadi pada bagian-bagian
tubuh seperti berikut: metacarpal, kolum femoris serta korpusvertebra,
sedang pada bagian tubuh yang lain, misalnya : tulang paha bagian tengah,
tibia dan panggul,mengalami proses tersebut secara lambat. Dengan teknik
pemeriksaan tertentu dapat dibuktikan bahwa penurunan massa tulang
tersebutlebih cepat terjadi pada bagian-bagian tubuh seperti berikut:
metacarpal, kolum femoris serta korpusvertebra, sedang pada bagian tubuh
yang lain, misalnya : tulang paha bagian tengah, tibia dan
panggul,mengalami proses tersebut secara lambat.

9
2.5 PATHWAY

Factor genetik Factor mekanik Factor makanan & hormon

Melemahnya daya serap sel terhadap


kalsium dari darah ke tulang

Kompresi pencernaan ileus


Pengeluaran kalsium bersama urin paralitik

Tidak tercapainya massa tulang Feses mengeras dan


susah BAB

Penyerapan tulang lebih banyak dari


pada pembentukan tulang baru
KONSTIPASI
Ketidakseimbangan tubuh
Fraktur
RISIKO CEDERA
Reseptor nyeri

NYERI AKUT

Keterbatasan gerak

Kemampuan memenuhi ADL


menurun

Lemah, letih

INTOLERANSI
AKTIVITAS

10
2.6 MANIFESTASI KLINIS
Osteoporosis merupakan silent disease. Penderita osteoporosis umumnya
tidak mempunyaikeluhan sama sekali sampai orang tersebut mengalami
fraktur. Osteoporosis mengenai tulang seluruhtubuh, tetapi paling sering
menimbulkan gejala pada daerah-daerah yang menyanggah berat badan atau
pada daerah yang mendapat tekanan (tulang vertebra dan kolumna femoris).
Korpus vertebramenunjukan adanya perubahan bentuk, pemendekan dan
fraktur kompresi. Hal ini mengakibatkan beratbadan pasien menurun dan
terdapat lengkung vertebra abnormal (kiposis). Osteoporosis pada
kolumnafemoris sering merupakan predisposisi terjadinya fraktur patologik
(yaitu fraktur akibat trauma ringan), yang sering terjadi pada pasien usia
lanjut.
Masa total tulang yang terkena mengalami penurunaan dan menunjukan
penipisan korteksserta trabekula. Pada kasus ringan, diagnosis sulit ditegakkan
karena adanya variasi ketebalan trabecular pada individu ”normal” yang
berbeda. Diagnosis mungkin dapat ditegakkan dengan radiologis maupun
histologist jika osteoporosisdalam keadaan berat. Struktur tulang, seperti yang
ditentukan secara analisis kimia dari abu tulang tidakmenunjukan adanya
kelainan. Pasien osteoporosis mempunyai kalsium, fosfat, dan alkali fosfatase
yangnormal dalam serum.
Manifestasi osteoporosis :
1. Nyeri dengan atau tanpa fraktur yang nyata.
2. Rasa sakit oleh karena adanya fraktur pada anggota gerak.
3. Nyeri timbul mendadak.
4. Sakit hebat dan terlokalisasi pada vertebra yg terserang. Bagian-bagian
tubuh yang sering frakturadalah pergelangan tangan, panggul dan
vertebra.
5. Nyeri berkurang pada saat istirahat di tempat tidur.
6. Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan akan bertambah jika
melakukan aktivitas atau karenasuatu pergerakan yang salah.
7. Deformitas vertebra thorakalis menyebabkan penurunan tinggi badan,
Hal ini terjadi oleh karenaadanya kompresi fraktur yang asimtomatis
pada vertebra.

11
Tulang lainnya bisa patah, yang sering kali disebabkan oleh tekanan yang
ringan atau karena jatuh. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah
patah tulang panggul. Selain itu, yang juga seringterjadi karena adalah patah
tulang lengan di daerah persambungannya dengan pergelangan tangan, yang
disebut fraktur Colles, Pada penderita osteoporosis, patah tulang cenderung
mengalami secara perlahan.
Kepadatan tulang berkurang secara perlahan, sehingga pada awalnya
osteoporosistidak menimbulkan gejala pada beberapa penderita. Jika
kepadatan tulang sangat berkurang yang menyebabkan tulang menjadi kolaps
atau hancur, maka akan timbul nyeritulang dan kelainan bentuk. Tulang-
tulang yang terutama terpengaruh pada osteoporosisadalah radius distal,
korpus vertebra terutama mengenai T8-L4, dan kollum femoris(Lukman,
Nurma Ningsih : 2009).
Kolaps tulang belakang menyebabkan nyeri punggung menahun. Tulang
belakangyang rapuh bisa mengalami kolaps secara spontan atau karena cedera
ringan. Biasanyanyeri timbul secara tiba-tiba dan dirasakan di daerah tertentu
dari pungung yang akan bertambah nyeri jika penderita berdiri atau berjalan.
Jika disentuh, daerah tersebut akanterasa sakit, tetapi biasanya rasa sakit ini
akan menghilang secara bertahap setelah beberapa minggu atau beberapa
bulan. Jika beberapa tulang belakang hancur, maka akanterbentuk
kelengkungan yang abnormal dari tulang belakang (punuk), yang
menyebabkanterjadinya ketegangan otot dan rasa sakit (Lukman, Nurma
Ningsih : 2009).

2.7 PENATALAKSANAAN
Pengobatan osteoporosis yang telah lama digunakan yaitu terapi medis
yang lebihmenekankan pada pengurangan atau meredakan rasa sakit akibat
patah tualng. Selain itu, juga dilakukan terapi hormone pengganti (THP) atau
hormone replacement therapy(HRT) yaitu menggunakan estrogen dan
progresteron. Terapi lainnya yaitu terapi nonhormonal antara lain suplemen
kalsium dan vitamin D.
1. Terapi medis

12
Sebenarnya belum ada terapi yang secara khusus dapat
mengembalikan efekdari osteoporosis. Hal yang dapat dilakukan adalah
upaya-upaya untuk menekan atau memperlambat menurunnya massa
tulang serta mengurangi rasa sakit.
a. Obat pereda sakit
Pada tahap awal setelah terjadinya patah tulang, biasanya
diperlukan obat pereda sakit yang kuat, seperti turunan morfin. Namun,
obat tersebut memberikanefek samping seperti mengantuk, sembelit dan
linglung. Bagi yang mengalamirasa sakit yang sangat dan tidak dapat
diredakan dengan obat pereda sakit, dapatdiberikan suntikan hormone
kalsitonin.Bila rasa sakit mulai mereda, tablet pereda rasa sakit seperti
paracetamolatau codein ataupun kombinasi keduanya seperti co-
dydramol, co- codramol, atauco-proxamol bagi banyak pasien cukup
memadai untuk menghilangkan rasa sakitsehingga pasien dapat
melakukan aktivitas sehari-hari.
2. Terapi hormone pada wanita
Osteoporosis memang tidak dapat disembuhkan, semua upaya
pengobatanhanya dimaksudkan untuk mencegah kehilangan massa tulang
yang lebih besar. Namun, demikian, pengobatan masih perlu dilakukan
pada kasus osteoporosis beratuntuk mencegah terjadinya patah tulang.
Obat-obat untuk mencegah penurunan massatulang biasanya bekerja
lambat dan efeknya kurang terasa sehingga banyak pasien penderita
osteoporosis merasa putus asa dan menghentikan pengobatan. Hal
tersebutsangat tidak baik karena pengobatan jangka panjang diperlukan
untuk dapat secaramaksimal menekan laju penurunan massa tulang dan
patah tulang. Terapi hormone pada wanita diberikan pada masa
pramenopause. Lamanya pemberian terapi hormone sulit ditentukan. Yang
jelas jika ingin terhindar dariosteoporosis, terapi hormone dapat terus
dilakukan. Sebagian dokter menganjurkan untuk dilakukan terapi hormone
seumur hidup semenjak menopause pada wanitayang mengalami
osteoporosis. Namun, sebagian juga berpendapat bahwa penggunaanterapi

13
hormone sebaiknya dihentikan setelah penggunaan selama 5-10 tahun
untukmenghindari kemungkinan terjadinya kanker.
a) Hormone Replacement Theraphy (HRT)
Hormone Replacement Theraphy (HRT) atau terapi hormone
pengganti(THP) menggunakan hormone estrogen atau kombinasi
estrogen dan progesterone. Hormone-hormon tersebut sebenarnya
secara alamiah diproduksioleh indung telur, tetapi produksinya
semakin menurun selama menopausesehingga perlu dilakukan HRT.
b) Kalsitonin
Selain hormone estrogen dan progesterone, hormone lain yang
biasadigunakan dalam pencegahan dan pengobatan osteoporosis adalah
kalsitonin.Kalsitonin turut menjaga kestabilan struktur tulang dengan
mengaktifkan kerja selosteoblast dan menekan kinerja sel
osteoclast.Kalsitonin juga berperan dalam mengurangi rasa sakit yang
mungkintimbul pada keadaan patah tulang. Hormone ini secara normal
dihasilkan olehkelenjar tiroid yang memiliki sifat meredakan rasa sakit
yang cukup ampuh.Kalsitonin biasanya diberikan dalam bentuk
suntikan yang diberikan setiap hariatau dua hari sekali selama dua atau
tiga minggu. Hormone ini juga dapatmenimbulkan efek samping
berupa rasa mual dan muka merah, mungkin pulaterjadi muntah dan
diare serta rasa sakit pada bekas suntikan.
c) Testosterone
Testosterone adalah hormone yang biasa dihasilkan oleh tubuh
pria.Penggunaan hormone testosterone pada wanita dengan
osteoporosis pascamenopause mampu menghambat kehilangan massa
tulang. Namun, dapat munculefek maskulinasi seperti penambahan
rambut secara berlebihan di dada, kaki,tangan, timbulnya jerawat
dimuka dan pembesaran suara seperti yang biasa terjadi pada pria.

3. Terapi non-hormonal
Terapi hormone selama ini memang dianggap sebagai jalan yang
paling baikuntuk mengobati osteoporosis. Namun, karena banyaknya efek

14
samping yang dapatditimbulkan dan tidak dapat diterapkan pada semua
pasien osteoporosis, makasekarang mulai dikembangkan terapi non-
hormonal.
a) Bisfosfonat
Bisfosfonat merupakan golongan obat sintetis yang saat ini sangat
dikenaldalam pengobatan osteoporosis non-hormonal. Efek utama dari
obat ini adalahmenonaktifkan sel-sel penghancur tulang (osteoclast)
sehingga penurunan massatulang dapat dihindari. Obat-obat yang
termasuk golongan bisfosfonat adalahetidronat dan alendronate.
b) Etidronat
Etidronat adalah obat golongan bisfosfonat pertama yang biasa
digunakandalam pengobatan osteoporosis. Obat ini diberikan dalam
bentuk tablet dengandosis satu kali sehari selama dua minggu.
Penggunaan obat ini harusdikombinasikan dengan konsumsi suplemen
kalsium. Namun, perlu diperhatikanagar konsumsi suplemen kalsium
harus dihindari dalam waktu dua jam sebelumdan sesudah
mengkonsumsi etidronat karena dapat mengganggu
penyerapannya.Kadang kala konsumsi etidronat memberikan efek
samping,tetapi relative kecil.Misalnya timbul mual, diare, ruam kulit
dan lain-lain.
c) Alendronat
Alendornat mempunyai fungsi dan peran yang serupa dengan
etidronat, perbedaannya adalah pada penggunaannya tidak perlu
dikombinasikan dengankonsumsi suplemen kalsium, tetapi bila asupan
kalsium masih rendah, pemberiankalsium tetap dianjurkan. Efek
samping yang mungkin ditimbulkan padakonsumsi alendronat adalah
timbulnya diare, rasa sakit dan kembung pada perut,serta gangguan
pada tenggorokan.
4. Terapi alamiah
Terapi alamiah adalah terapi yang diterapkan untuk mengobati
osteoporosistanpa menggunakan obat-obatan atau hormone. Terapi ini
berhubungan dengan gayahidup dan pola konsumsi. Beberapa pencegahan

15
yang dapat diberikan yaitu dengan berolahraga secara teratur, hindari
merokok, hindari minuman beralkohol danmenjaga pola makan yang baik.

2.8 KOMPLIKASI
Osteoporosis mengakibatkan tulang secara progresif menjadi panas, rapuh
dan mudah patah.Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur. Bisa terjadi
fraktur kompresi vertebra torakalis danlumbalis, fraktur daerah kolum femoris
dan daerah trokhanter, dan fraktur colles pada pergelangantangan.

2.9 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK


a. Radiologis
Gejala radiologis yang khas adalah densitas atau masa tulang yang
menurun yang dapat dilihatpada vertebra spinalis. Dinding dekat korpus
vertebra biasanya merupakan lokasi yang paling berat.Penipisa korteks dan
hilangnya trabekula transfersal merupakan kelainan yang sering
ditemukan. Lemahnya korpus vertebra menyebabkan penonjolan yang
menggelembung dari nukleus pulposus kedalam ruang intervertebral dan
menyebabkan deformitas bikonkaf.
b. CT-Scan
CT-Scan dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang
mempunyao nilai pentingdalam diagnostik dan terapi follow up. Mineral
vertebra diatas 110 mg/cm3 baisanya tidak menimbulkanfraktur vetebra
atau penonjolan, sedangkan mineral vertebra dibawah 65 mg/cm3 ada pada
hampirsemua klien yang mengalami fraktur.
c. Pemeriksaan Laboratoriuma
- Kadar Ca, P, Fosfatase alkali tidak menunjukkan kelainan yang nyatab.
- Kadar HPT (pada pascamenoupouse kadar HPT meningkat) dan Ct
(terapi ekstrogen merangsangpembentukkan Ct).
- Kadar 1,25-(OH)2-D3 absorbsi Ca menurund.
- Eksresi fosfat dan hidroksipolin terganggu sehingga meningkat
kadarnya.

16
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
1. Anamnese
a. Identitas
a) Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku/bangsa, agama,
pendidikan, pekerjaan, tanggal masuk, tanggal pengkajian, nomor
register, diagnosa medik, alamat, semua data mengenai identitaas
klien tersebut untuk menentukan tindakan selanjutnya.
b) Identitas penanggung jawab
Identitas penanggung jawab ini sangat perlu untuk memudahkan
dan jadi penanggung jawab klien selama perawatan, data yang
terkumpul meliputi nama, umur, pendidikan, pekerjaan, hubungan
dengan klien dan alamat.
b. Riwayat Kesehatan
Dalam pengkajian riwayat kesehatan, perawat perlu mengidentifikasi
adanya:
a) Rasa nyeri atau sakit tulang punggung (bagian bawah),
leher,dan pinggang
b) Berat badan menurun
c) Biasanya diatas 45 tahun
d) Jenis kelamin sering pada wanita
e) Pola latihan dan aktivitas
c. Pola aktivitas sehari-hari
Pola aktivitas dan latihan biasanya berhubungan dengan olahraga,
pengisian waktu luang dan rekreasi, berpakaian, makan, mandi, dan
toilet. Olahraga dapat membentuk pribadi yang baik dan individu akan
merasa lebih baik. Selain itu, olahraga dapat mempertahankan tonus
otot dan gerakan sendi. Lansia memerlukan aktifitas yang adekuat
untuk mempertahankan fungsi tubuh. Aktifitas tubuh memerlukan

17
interaksi yang kompleks antara saraf dan muskuloskeletal.Beberapa
perubahan yang terjadi sehubungan dengan menurunnya gerak
persendian adalah agility ( kemampuan gerak cepat dan lancar )
menurun, dan stamina menurun.

2. Pemeriksaan Fisik
a. B1 (Breathing)
1) Inspeksi : Ditemukan ketidaksimetrisan rongga dada dan
tulang belakang
2) Palpasi : Taktil fremitus seimbang kanan dan kiri
3) Perkusi : Cuaca resonan pada seluruh lapang paru
4) Auskultasi : Pada kasus lanjut usia, biasanya didapatkan suara ronki
b. B2 ( Blood)
Pengisian kapiler kurang dari 1 detik, sering terjadi keringat dingin dan
pusing. Adanya pulsus perifer memberi makna terjadi gangguan
pembuluh darah atau edema yang berkaitan dengan efek obat.
c. B3 ( Brain)
Kesadaran biasanya kompos mentis. Pada kasus yang lebih parah, klien
dapat mengeluh pusing dan gelisah.
1) Kepala dan wajah : ada sianosis
2) Mata : Sklera biasanya tidak ikterik, konjungtiva tidak
anemis
3) Leher : Biasanya JVP dalam normal
Nyeri punggung yang disertai pembatasan pergerakan spinal yang
disadari dan halus merupakan indikasi adanya satu fraktur atau lebih,
fraktur kompresi vertebra
d. B4 (Bladder)
Produksi urine biasanya dalam batas normal dan tidak ada keluhan pada
sistem perkemihan.
e. B5 ( Bowel)
Untuk kasus osteoporosis, tidak ada gangguan eliminasi namun perlu di
kaji frekuensi, konsistensi, warna, serta bau feses.

18
f. B6 ( Bone)
Pada inspeksi dan palpasi daerah kolumna vertebralis. Klien
osteoporosis sering menunjukan kifosis atau gibbus (dowager’s hump)
dan penurunan tinggi badan dan berat badan. Ada perubahan gaya
berjalan, deformitas tulang, leg-length inequality dan nyeri spinal.
Lokasi fraktur yang sering terjadi adalah antara vertebra torakalis 8 dan
lumbalis 3.

3. Pemeriksaan penunjang
a. Radiologi
Gejala radiologi yang khas adalah densitas atau massa tulang yang
menurun yang dapat dilihat pada vertebra spinalis. Dinding dekat
korpus vertebra biasanya merupakan lokasi yang paling berat.
Penipisan korteks dan hilangnya trabekula transversal merupakan
kelainan yang sering ditemukan. Lemahnya korpus vertebrae
menyebabkan penonjolan yang menggelembung dari nucleus pulposus
kedalam ruang intervertebral dan menyebabkan deformitas bikonkaf.
b. CT-Scan
Dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang mempunyai
nilai penting dalam diagnostik dan terapi follow up. Mineral vertebra
diatas 110 mg/cm3 biasanya tidak menimbulkan fraktur vertebra atau
penonjolan, sedangkan mineral vertebra dibawah 65 mg/cm3  ada pada
hampir semua klien yang mengalami fraktur.

3.2 Diagnosa
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis.
2. Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas gastrointestinal.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
4. Risiko cedera berhubungan dengan perubahan fungsi psikomotor.

19
3.3 Intervensi

Dx Luaran Intervensi

1. Setelah dilakukan tindakan Manajemen Nyeri


keperawatan selama 2x24 Observasi
jam tingkat nyeri menurun  Identifikasi lokasi, karakterisitik,
durasi, frekuensi, kualitas, intensitas
dengan kriteria hasil:
nyeri
1. Keluhan nyeri menurun  Identifikasi skala nyeri
(5)  Identifikasi factor yang memperberat
2. Meringis menurun (5) dan memperingan nyeri
Terapeutik
 Berikan teknik non farmakologis untuk
meredakan nyeri
 Fasilitasi istirahat tidur
Edukasi
 Jelaskan penyebab, periode, dan
pemicu nyeri
 Jelaskan strategi meredakan nyeri
 Jelaskan memonitor nyeri secara
mandiri
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu
2. Setelah dilakukan Manajemen eliminasi fekal
intervensi keperawatan Observasi
2x24 jam maka eliminasi  Identifikasi masalah usus dan
penggunaan obat pencahar
fekal membaik dengan
 Identifikasi pengobatan yang berefek
kriteria hasil : pada kondisi gastrointestinal
1. Control pengeluaran  Monitor buang air besar
feses meningkat (5) Terapeutik
2. urgency menurun (5)  Berikan air hangat setelah makan
3. peristaltic usus  Jadwalkan waktu defikasi bersama
membaik (5) pasien
 Sediakan makanan tinggi serat
Edukasi
 Jelaskan jenis makanan yang
membantu meningkatkan keteraturan
peristaltic usus
 Anjurkan mengonsumsi makanan yang
mengandung tinggi serat
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian obat supositria anal, jika
perlu
3. Setelah dilakukan Terapi Aktifitas
tindakan keperawatan Observasi
selama 2x24 jam maka  Identifikasi deficit tingkat aktifitas

20
toleransi aktivitas  Identifikasi sumber daya untuk
meningkat dengan aktifitas yang diinginkan
kriteria hasil : Terapeutik
1. Kemudahan dalam  Fasilitasi memilih aktitas dan tetapkan
melakukan aktivitas tujuan aktitas yang konsisten yang
meningkat (5) sesuai kemampuan fisik, psikologis,
2. Keluhan Lelah dan social
menurun (5)  Koordinasikan pemilihan aktifitas
3. Perasaan lemah sesuai usia
menurun (5) Edukasi
 Jelaskan metode aktivitas fisik sehari-
hari, jika perlu
 Ajarkan cara melakukan aktifitas yang
dipilih
Kolaborasi
Kolaborasi dengan terapis okupasi dalam
merencanakan dan memonitor program
aktifitas, jika sesuai
4. Setelah dilakukan tindakan Pencegahan cedera
keperawatan selama 2x24 Observasi
jam tingkat cedera  Identifikasi area lingkungan yang
berpotensi menyebabkan cedera
menurun dengan kriteria
 Identifikasi obat yang berpotensi
hasil: mneyebabkan cedera
1. Toleransi aktivitas  Identifikasi kesesuaian alas kaki pada
meningkat (5) ekstremitas bawah
2. Fraktur menurun (5) Terapeutik
3. Gangguan mobilitas  Sediakan pencahayaan yang memadai
menurun (5)  Sosialiasasikan pasien dan keluarga
dengan lingkungan ruang rawat
 Pastikan bel panggilan atau telepon
mudah dijangkaugunakan pengaman
tempat tidur sesuai dengan kebijakan
fasilitas pelayanan kesehatan
Edukasi
 Jelaskan alasan intervensi pencegahan
jatuh pasien, sesuai kebutuhan
 Anjurkan berganti posisi secara
perlahan dan duduk selama beberapa
menit sebelum berdiri

21
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Dengan meningkatnya usia harapan hidup, maka berbagai penyakit
degeneratif dan metabolik, termasuk osteoporosis akan menjadi problem
muskolokeletal yang memerlukan perhatian khusus. Faktor-faktor yang
mempengaruhi pengurangan massa tulang pada usia lanjut yaitu : determinan
massa tulang, determinan penurunan massa tulang osteoforosis terjadi karena
adanya interaksi yang menahun antara faktor genetic dan faktor lingkungan.
Faktor genetic meliputi, usia jenis kelamin, ras keluarga, bentuk tubuh, tidak
pernah melahirkan. Faktor lingkungan meliputi, merokok, alkohol, kopi,
defisiensi vitamin dan gizi, gaya hidup, mobilitas, anoreksianervosa dan
pemakaian obat-obatan. Kedua faktor diatas akan menyebabkan melemahnya
daya serapsel terhadap kalsium dari darah ke tulang, peningkatan pengeluaran
kalsium bersama urin, tidak tercapainya masa tulang yang maksimal dengan
resobsi tulang menjadi lebih cepat yang selanjut nyamenimbulkan penyerapan
tulang lebih banyak dari pada pembentukan tulang baru sehingga terjadi
penurunan massa tulang total yang disebut osteoporosis.

4.2 SARAN
Bagi orang yang mengalami osteoporosis sebaiknya melakukan diet
kaya kalsium dan vitamin D yangmencukupi dan seimbang sepanjang hidup,
dengan pengingkatan asupan kalsium pada permulaan umurpertengahan dapat
melindungi terhadap demineralisasi skeletal. Terdiri dari 3 gelas vitamin D
susu skimatau susu penuh atau makanan lain yang tinggi kalsium (mis keju
swis, brokoli kukus, salmon kalengdengan tulangnya) setiap hari. Untuk
meyakinkan asupan kalsium yang mencukupi perlu diresepkanpreparat
kalsium (kalsium karbonat), sering berolahraga dan pola hidup sehat. Dalam
pembuatan makalah ini kelompok masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu
kelompok memintakritik dan saran yang membangun dari pembaca. Semoga
makalah yang kelompok buat dapatbermanfaat bagi pembaca.

22
DAFTAR PUSTAKA

Lukman, Ningsih Nurma. 2012. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN


DENGANGANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL.Jakarta : Salemba
Medika
Junaidi, I, 2007. Osteoporosis - Seri Kesehatan Populer. Cetakan Kedua :
Penerbit PTBhuana Ilmu Populer
Sudoyo, Aru dkk. 2009. Buku Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 3 Edisi 5. Jakarta :
Internal Publishing
Tandra, H, 2009. Segala Sesuatu Yang Harus Anda Ketahui Tentang
Osteoporosis Mengenal,Mengatasi dan Mencegah Tulang Keropos.
Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

23