Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM

ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA


PEMERIKSAAN TAJAM PENGLIHATAN

DosenPengampu:
Dr. Retno Susilowati, M. Si

Disusun oleh:

Nama : Luthfia Ayu Kurniahadi


NIM/Kelas : 17620109
Tanggal Praktikum : Jum’at 10 April 2020
Asisten : Yumna Husna Anisa

PRODI BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2020
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
4.1.1. Hasil Pemeriksaan Tajam Penglihatan
No Probandus Tajam Penglihatan Keterangan
Kanan Kiri
1. Probandus A 3/60 6/60 Kanan : Low
vision nyata
Kiri : Low
vision berat
2. Probandus B 5/60 3/60 Kanan : Low
vision berat
Kiri : Low
vision nyata
3. Probandus C 6/40 6/50 Hampir normal
4. Probandus D 6//15 6/25 Normal
5. Probandus E 6/30 6/40 Hampir Normal
6. Probandus F 6/20 6/15 Normal

4.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil dari pemeriksaan tajam penglihatan (visus) pada 6 probandus.
Probandus harus membaca pada jarak 6 m, karena pada jarak ini mata akan melihat benda
dalam keadaan beristirahat dan tanpa akomodasi, pada jarak 6 m inilah mata normal mampu
menangkap bayangan benda agar jatuh tepat pada retina mata. Pemeriksaan tajam penglihatan
(visus) merupakan pemeriksaan fungsi mata. Untuk pemeriksaan tajam penglihatan bisa
menggunakan kartu snellen, apabila tidak bisa menggunakan kartu snellen bisa menggunakan
jari, dan apabila masih tidak bisa menggunakan jari bisa menggunakan sinar atau cahaya. Hal
ini juga didukung oleh Tamboto, dkk (2015) yang menyatakan bahwa visus adalah ketajaman
penglihatan. Pemeriksaan visus merupakan pemeriksaan untuk melihat ketajaman
penglihatan. Ketajaman penglihatan biasanya diukur dengan skala yang membandingkan
penglihatan seseorang pada jarak 6 meter dengan seseorang yang memiliki ketajaman penuh.
Visus 6/6 artinya seseorang melihat benda jarak 6 meter dengan tajam penuh.
Berdasarkan data hasil pemeriksaan ketajaman penglihatan terhadap 6 probandus A,
B, C, D, E, dan F terdapat 2 probandus dengan tajam penglihatan normal yaitu probandus D
dan F, 2 probandus dengan tajam penglihatan hampir normal yaitu pada probandus C dan E,
dan 2 probandus lagi dengan tajam penglihatan low vision nyata dan berat yaitu pada
probandus A dan B. Menurut Santosa dan Sundari (2018) Tajam penglihatan atau visus pada
penelitian ini dibedakan antara mata kanan (Okulo Dekstra / OD) dan mata kiri (Okulo
Sinistra / OS). Nilai tajam penglihatan pada penelitian ini diukur dengan menggunakan
Snellen Chart. Nilai tajam penglihatan yang dianggap normal 6/6; penurunan visus (Low
Vision) ringan adalah 6/9, 6/12, 6/15 dan 6/20; penurunan visus sedang adalah 6/30;
sedangkan nilai visus 6/60 atau lebih kecil termasuk penurunan visus berat.
Pada probandus D tajam penglihatan mata sebelah kanan yaitu 6/15, dimana jarak
probandus dengan kartu snellen adalah 6 meter dan 15 adalah jarak orang normal dapat
melihat objek pada snellen. Sedangkan tajam penglihatan mata sebelah kiri yaitu 6/25,
dimana jarak probandus dengan kartu snellen adalah 6 meter dan 25 disini adalah 25 meter
jarak orang normal dapat melihat objek pada snellen. Dan pada probandus F ketajaman
penglihatan pada mata sebelah kiri yaitu 6/20, dimana 6 adalah jarak probandus degan snellen
dan 20 adalah jarak orang normal dapat melihat objek pada snellen. Ketajam probandus F
pada mata sebelah kanan yaitu 6/15, dimana 6 adalah jarak probandus dengan snellen dan 15
adalah jarak orang normal dapat melihat objek pada snellen. Menurut Santosa dan Sundari
(2018) tajam penglihatan atau visus adalah suatu kemampuan mata atau daya refraksi mata
untuk melihat suatu objek. Tajam penglihatan normal adalah kemampuan mata atau daya
refraksi mata untuk membedakan dua titik secara terpisah dengan membentuk sudut satu
menit pada jarak enam meter. Umumnya tajam penglihatan diukur menggunakan kartu
standar seperti Snellen Chart yang dikerjakan pada orang dewasa atau anak-anak yang telah
dapat berkomunikasi dengan baik.
Pemeriksaan tajam penglihatan selanjutnya yaitu dengan hasil penglihatan hampir
normal pada probandus C dan E. Pada probandus C tajam penglihatan pada mata sebelah
kanan yaitu 6/40, yaitu jarak probandus dengan kartu snellen 6 meter dan angka 40 adalah
jarak pandang orang normal untuk dapat melihat objek pada kartu snellen, yaitu 40 meter.
Tajam penglihatan mata sebelah kiri pada probandus C yaitu 6/50, dimana jarak probandus
dengan kartu senellen adalah 6 meter dan 50 adalah jarak pandang orang normal untuk dapat
melihat kartu snellen yaitu 50 meter. Dan pada probandus E tajam penglihatan sebelah kiri
yaitu 6/30, dimana jarak probandus dengan snellen adalah 6 meter dan 30 adalah jarak orang
normal untuk dapat melihat objek pada snellen, yaitu 30 meter. Tajam penglihantan
probandus E yang sebelah kiri yaitu 6/40, dimana jarak probandus pada snellen yaitu 6 meter
dan 40 adalah jarak orang normal untuk melihat objek pada snellen, yaitu 40 meter. Untuk
arti penulisan 3/60 artinya adalah 3 meter ini jarak probandus dan 60 meter jarak orang
normal dapat melihatnya. Jika probandus tidak dapat melihat dalam ukuran huruf sampai 200
maka pakai hitungan jari. Jika sampai 1 meter tidak dapat melihat hitungan jari maka pakai
lambaian tangan dan penulisannya 1/300 dimana 1 jarak probandus dan 300 jarak orang
normal. Jika masih tidak dapat melihat lagi pakai sinar dengan jarak 1 meter. Dan
penulisanya 1/~. Menurut Santosa dan Sundari (2018) nilai tajam penglihatan yang dianggap
normal 6/6; penurunan visus (Low Vision) ringan adalah 6/9, 6/12, 6/15 dan 6/20; penurunan
visus sedang adalah 6/30; sedangkan nilai visus 6/60 atau lebih kecil termasuk penurunan
visus berat. Dan menurut Gama (2019) tajam penglihatan merupakan kemampuan dalam
melihat suatu objek.
Hasil pemeriksaan tajam penglihatan selanjutnya yaitu probandus dengan ketajaman
penglihatan low vision berat dan nyata, yaitu pada probandus A dan B. Pada probandus A
nilai ketajaman penglihatan pada mata mata sebelah kanan adalah 3/60 yang berarti low
vision nyata. Dalam hal ini angka 3 berati jarak probandus dengan snellen dan angka 60
adalah jara orang normal dapat membaca objek pada snellen. Dan pada mata sebelah kiri nilai
ketajamannya adalah 6/60 yang berarti low vision berat, dalam hal ini angka 6 merupakan
jarak probandus dengan snellen dan angka 60 adalah jarak orang normal mampu
melihat/membaca objek pada snellen. Dan pada probandus B nilai ketajaman penglihatan
mata sebelah kanan yaitu 5/60 yang berarti low vision berat. Angka 5 disini berarti jarak
probandus dengan snellen dan angka 60 adalah jarak orang normal mampu membaca objek
pada snellen. Dan nilai ketajaman mata sebelah kanan nilai ketajaman penglihatannya yaitu
3/60 yang berarti low nyata. Disini angka 3 berarti jarak probandus dengan snellen dan angka
60 berarti jarak orang normal dapat membaca/melihat objek pada snellen. Menurut Sutrisna,
dkk (2007) dalam klinis visus sentralis jauh tersebut diukur dengan menggunakan grafik
huruf Snellen yang dilihat pada jarak 20 feet atau sekitar 6 meter. Jika hasil pemeriksaan
tersebut visusnya 20/20 atau 6/6 maka tajam penglihatannya dikatakan normal dan jika visus
<20/20 atau <6/6 maka tajam penglihatanya dikatakan kurang. Penyebab penurunan tajam
peglihatan seseorang bermacam macam, salah satunya adalah refraksi anomaly/kelainan
pembiasan.
Menurut Saminan (2013) refraksi atau pembiasaan cahaya merupakan perubahan arah
yang terjadi pada berkas cahaya yang melintas secara miring melalui suatu medium dan
menuju ke medium yang lain yang memiliki indeks bias yang berbeda. Perubahan arah berkas
cahaya berasal dari perubahan kecepatan perambatan yang selanjutnya mengakibatkan
perubahan panjang gelombang. Refraksi cahaya inilah yang berperan dalam pembentukan
bayangan di mata dan lensa. Dan WHO (2009) menyatakan bahwa Keadaan ini kadang-
kadang sangat berat sehingga menyebabkan kerusakan berat pada penglihatan. Kelainan
refraksi merupakan salah satu penyebab penurunan tajam penglihatan (low vision) dan
penyebab kebutaan di dunia.
Bourne et.al (2015) menjelaskan di dalam jurnalnya bahwa definisi kebutaan
didasarkan pada ketajaman visual kurang dari 1/60 dan WHO menjelaskan lebih ketat bahwa
definisi penglihatan terbaik yaitu kurang dari 3/60 pada mata normal. Kemudian Dianawati
dan Sofiana (2015) menyebutkan definisi low vision menurut WHO pada tahun 1992,
berdasarkan definisi fungsional adalah seseorang yang memiliki kelainan fungsi visual,
bahkan setelah perawatan, seperti operasi atau standar koreksi bias (kacamata atau lensa
kontak) dengan ketajaman visual <6/18. Orang-orang dengan penglihatan rendah memiliki
karakteristik khusus, berbeda dari orang-orang dengan tunanetra kondisi buta. Low vision
tidak sama dengan buta, orang dengan low vision baru saja kehilangan sebagian
penglihatannya, dan masih memiliki beberapa penglihatan yang bermanfaat. Ciri-ciri umum
yang sering terlihat pada orang dengan penglihatan rendah, yaitu menulis atau membaca jarak
pendek, hanya bisa membaca huruf besar, menyipitkan mata atau mengerutkan kening saat
melihat di bawah terang ringan, terlihat tidak menatap lurus ke depan ketika melihat sesuatu.
Mata terlihat berbeda, misalnya putih di mata (katarak) atau bagian yang bening di depan
mata terlihat berkabut (masalah pada kornea).
DAFTAR PUSTAKA

Bourne, Rupert R.A., et.al. 2015. The National Blindness and Low Vision Prevalence Survey
of Bangladesh: Research Design, Eye Examination Methodology and Results of The
Pilot Study. Ophthalmic Epidemiology. Vol. 9 No. 2.

Dianawati, Tiur dan Liena Sofiana. 2015. Risk Factors of Low Vision in Children.
International Journal of Public Health Science. Vol.4, No.2

Gama, Arlina W. 2019. Skrining Pemeriksaan Tajam Penglihatan (Visus) pada Siswa-Siswi
Kelas V Sekolah Dasar di Lingkup Kerja Puskesmas Matirodeceng, Kabupaten
Pinrang, Sulawesi Selatan. Alami Journal. Vol 3 No. 2.

Saminan. 2013. Efek Penyimpangan Refraksi Cahaya Dalam Mata Terhadap Rabun Dekat
atau Jauh. Idea Nursing Journal. Vol. 4 No. 2.

Santosa, Nyoman A. dan Luh P. R. Sundari. 2018. Hubungan Antara Durasi Bermain Game
Online dengan Gangguan Tajam Penglihatan pada Anak Sekolah Menengah Pertama
(Smp) di Kota Denpasar. E-Jurnal Medika. Vol. 7 No.8.

Sutrisna, EM, dkk. 2007. Pelatihan Pemeriksaan Tajam Penglihatan pada Siswa Kelas 5 SD
Gedongan I, Colomadu, Karanganyar. Warta. Vol .10 No. 1.

Tamboto, Freelyn Ch. P., dkk. 2015. Gambaran Visus Mata pada Senat Mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Jurnal e-Biomedik. Vol. 3 No. 3.

Anda mungkin juga menyukai