Anda di halaman 1dari 201

RUMAH SAKIT UMUM

SARAS IBNU SINA SUKOWATI


Jalan Jatayu RT 03 RW 02, Taman Agung, Nglorog, Sragen – Jawa
Tengah
Telp. (0271) 8852000 Email : ibnusinasukowati@gmail.com

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT SARAS IBNU SINA SUKOWATI


SRAGEN
Nomor :
TENTANG
PENETAPAN PANDUAN PRAKTIK KLINIS
RUMAH SAKIT SARAS IBNU SINA SUKOWATI SRAGEN

Direktur Rumah Sakit Saras Ibnu Sina Sukowati Sragen dengan ini :
Menimbang :
a. bahwa untuk penatalaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan di rumah sakit,maka di
pandang perlu adanya panduan dalam setiap kegiatan;
b. bahwa untuk itu perlu adanya penetapan Direktur tentang pemberlakuan panduan
sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan.
Mengingat :
1. Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Undang- Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
3. Permenkes Nomor 147/Menkes/Per/1/2010 tentang Perizinan Rumah Sakit
4. Anggaran Dasar...
5. Surat Keputusan Pembina
6. Surat Keputusan Pengurus
7. Surat Keputusan DP
8. Surat Keputusan direktur RS. Saras Ibnu Sina Sukowati Sragen Nomor :
Tentang Penetapan dan Pemberlakuan Bagan Struktur Organisasi Rumah Sakit Saras
Ibnu Sina Sukowati Sragen.

MEMUTUSKAN

Menetapkan : SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR NOMOR : ........ PANDUAN


PRAKTIK KLINIS
Pertama : Mencabut dan menyatakan tidak berlaku lagi surat Keputusan Direktur
RS Saras Ibnu Sina Sukowati Sragen Nomor : ....tentang Panduan
Praktik Klinis.
Kedua : Menetapkan dan memberlakukan Panduan Praktik Klinis seperti tersebut
dalam lampiran surat keputusan ini sebagai panduan Praktik Klinis
dalam di RS Saras Ibnu Sina Sukowati Sragen.
Ketiga : Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan atau sampai adanya
peraturan lain yang mengatur lebih lanjut.
Apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dlam surat keputusan ini
akan diadakan perubahan sebagaimana mestinya.
Ditetapkan di Sragen
Tanggal
Direktur RS Saras Ibnu Sina Sragen

dr. Agus Atmanto, MPH


LAMPIRAN KEPUTUSAN
DIREKTUR RUMAH
SAKIT UMUM SARAS
IBNU SINA SUKOWATI
SRAGEN
Nomor :
Tanggal :
Tentang : SK Panduan Praktek Klinis
RUMAH SAKIT UMUM
SARAS IBNU SINA SUKOWATI
Rumah Sakit Emanuel
Jalan Jatayu RT 03 RW 02, Taman Agung, Nglorog, Sragen – Jawa
Tengah
Telp. (0271) 8852000 Email : ibnusinasukowati@gmail.com

LEMBAR PENGESAHAN

DOKUMEN : Panduan Praktik Klinis

KOMITE : Komite Medis

NO DOKUMEN :

TANGGAL TERBIT DOKUMEN :

SAH UNTUK DITERBITKAN :

PENANGGUNG JAWAB
NAMA LENGKAP TANDA TANGAN
DOKUMEN

PEMBUAT DOKUMEN

PENGELOLA DOKUMEN
AKREDITASI

WAKIL DIREKTUR
YANMED DAN
KEPERAWATAN

DIREKTUR
RS EMANUEL

3
SURAT PENGESAHAN

Direktur RSU Saras Ibnu Sina Sukowati Sragen dengan ini mengesahkan dan
memberlakukan buku PANDUAN PRAKTEK KLINIS RUMAH SAKIT UMUM
SARAS IBNU SINA SUKOWATI SRAGEN untuk dapat dipergunakan, sebagai
Direktur RSU Saras Ibnu Sina Sukowati Sragen dengan ini mengesahkan dan
memberlakukan buku PANDUAN PRAKTEK KLINIS DI RUMAH SAKIT UMUM
SARAS IBNU SINA SUKOWATI SRAGEN

Demikian Panduan ini diterbitkan dan dikeluarkan untuk dapat dilaksanakan


sebagaimana mestinya.

Sragen, 2019
Direktur

(dr. Agus Atmanto, MPH)


KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas kasih-
Nya maka Panduan Praktek Klinis ini dapat diselesaikan sesuai dengan kebutuhan
pelayanan di Rumah Sakit Umum Saras Ibnu Sina Sukowati Sragen.

Panduan Praktek Klinis ini disusun sebagai upaya untuk meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Saras Ibnu Sina Sukowati Sragen dan
sebagai acuan pelayanan di Unit Kerja minimal dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun
sekali.

Dalam rangka peningkatan mutu pelayanan maka diperlukan suatu Panduan


yang dapat dijadikan acuan bagi unit kerja yang bersangkutan dan semua Sumber Daya
Manusia (pemberi layanan) yang terkait dalam melaksanakan kerja di Rumah Sakit
Umum Saras Ibnu Sina Sukowati Sragen sesuai dengan gugus tugas, fungsi dan standar
pelayanan yang benar.

Panduan ini akan dievaluasi kembali dan akan dilakukan perbaikan bila
ditemukan hal-hal yang tidak sesuai lagi dengan kondisi Rumah Sakit Umum Saras Ibnu
Sina Sukowati Sragen.

Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya


kepada Unit Kerja/Pokja/Tim/Komite yang dengan segala upayanya telah berhasil
menyusun Panduan Praktek Klinis yang merupakan hasil kerja sama yang baik dari
semua pihak yang telah terlibat di dalamnya.

Sragen, 2019

Direktur

(dr. Agus Atmanto, MPH)


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR RS EMANUEL ii
LEMBAR PENGESAHAN iii
SURAT PENGESAHAN iv
KATA PENGANTAR v
DAFTAR ISI vi
PPK DOKTER SPESIALIS BEDAH 1
PPK APENDISITIS 2
PPK HERNIA 4
PPK HEMORROID 6
PPK BPH 8
PPK STUMA 10
PPK FIBROADENOMA 12
PPK CHOLELITHIASIS 14
PPK BATU GINJAL 16
PPK BATU URETER 18
PPK BATU BULI 20
PPK DOKTER SPESIALIS OBSTETRI GYNEKOLOGI 22
PPK MIOMA UTERI 23
PPK KISTA OVARIUM 26
PPK SECTIO CAESARIA 28
PPK ABORTUS 30
PPK HIPEREMESIS GRAVIDARUM 34
PPK KETUBAN PECAH DINI 36
PPK PRE EKLAMPSIA 39
PPK CEPHALOPELVIC DISPROPOTION (CPD) 42
PPK PRESENTASI BOKONG 44
PPK KEHAMILAN NORMAL 46
PPK DOKTER SPESIALIS ANAK 49
PPK KEJANG DEMAM 50
PPK DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) 52
PPK GASTROENTERITIS 54
PPK TUBERKULOSIS PARU 56
PPK TYPHOID FEVER 59
PPK VARISELA 61
PPK MORBILI 63
PPK INFEKSI SALURAN KEMIH 65
PPK BRONKHITIS AKUT 69
PPK PNEUMONIA 73
PPK DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM 75
PPK TYPHOID FEVER 76
PPK ACUTE MYOCARDIAL INFARCTION UNSPECIFIED 79
PPK ASMA BRONKIAL 82
PPK HIPERTENSI ESENSIAL DAN KRISIS HIPERTENSI 85
PPK DIABETES MELITUS 88
PPK GASTRITIS 91
PPK DENGUE HAEMORAGIC FEVER 93
PPK HEPATITIS 95
PPK GAGAL GINJAL KRONIS 98
PPK BRONKHITIS AKUT 100
PPK PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK 103
PPK DOKTER SPESIALIS MATA 105
PPK KATARAK 106
PPK KONJUNGTIVITIS INFEKSI 108
KONJUNGTIVITIS ALERGI
PPK HIPERMETROPIA 110
PPK MIOPI RINGAN 113
PPK PRESBIOPIA 115

vii
PPK DOKTER SPESIALIS TELINGA, HIDUNG DAN 117
TENGGOROKAN
PPK TONSILITIS AKUT 118
TONSILITIS KRONIK
PPK OTITIS EKSTERNA 122
PPK OTITIS MEDIA AKUT 125
PPK RHINITIS ALERGIK 129
VASOMOTOR RHINITIS
PPK DOKTER SPESIALIS SYARAF 136
PPK STROKE HAEMORAGIC 137
PPK STROKE NON HAEMORAGIC 140
PPK MENINGITIS 142
PPK VERTIGO 144
PPK ARTRITIS REUMATOID 149
PPK DOKTER SPESIALIS KULIT DAN KELAMIN 152
PPK STEVEN JOHNSON 153
PPK DERMATITIS ATOPIK 156
PPK DERMATITIS NUMULARIS 159
PPK DERMATITIS KONTAK ALERGIK (DKA) 162
PPK HERPES ZOSTER 165
PPK DOKTER SPESIALIS ANESTESI 167
PPK DOKTER SPESIALIS RADIOLOGI 187
PANDUAN PRAKTIK KLINIS

Panduan Praktek Klinis 1


Rumah Sakit Emanuel
DOKTER SPESIALIS BEDAH

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)


TATA LAKSANA KASUS

APENDISITIS (ICD X : K36.6)


1. Pengertian (Definisi) Peradangan dari appendix vermiformis disebabkan
penyumbatan lumen appendix oleh hyperplasia folikel
limfoid, benda asing, striktur akibat fibrosis sebelumnya
dan neoplasma.

2. Anamnesis  Nyeri perut kanan bawah yang menetap berasal dari


nyeri epigastrium
 Gejala mual, muntah
 Demam
 Anoreksia
 Gejala GIT lainnya

3. Pemeriksaan Fisik 1. Status Generalis : suhu febris 37,5 - 38°C.


2. Status Lokalis :
 Inspeksi : tampak normal, cembung dan tegang.
 Plapasi : nyeri tekan area Mc. Burney, teraba rasa
area Mc. Burney dan defans muscular
 Perkusi : tidak spesifik
 Angkultasi : tidak spesifik kecuali untuk
appendik perforasi dengan perlengketan (ileus
obstruktif)  BU meningkat
 Untuk yang peritonitis : BU menurun

4. Kriteria Diagnosis 1. Nyeri perut kanan bawah yang menetap


2. Demam, suhu > 38 °C
3. Nyeri tekan area MC. Burney

5. Diagnosis Kerja Apendisitis (ICD X : K36.6)

6. Diagnosis Banding  Batu traktus urinarius kanan : ginjal di ureter


 Kasus-kasus kebidanan yang menyangkut organ-
organ kebidanan kanan

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Darah rutin (Leukositosis)


2. Urinalisa : untuk DD batu ginjal ureter kanan
3. USG : untuk appendiksitis infiltrate maupun abses.
4. BNA 2 posisi : untuk appendiksitis perforasi dengan
Panduan Praktek Klinis 2
Rumah Sakit Emanuel
perlengketan (manifestasi ileus obstruktif)

8. Terapi 1. Appendiktomi sayatan Mc. Burney untuk yang :


 Appendiksitis akut
 Appendiksitis kronis
2. Laparatomy Eksplorasi yang :
 Appendisitis perforasi dengan manifestasi ileus
obstruktif dan peritonitis
 Apendisitis abces / infiltrat

9. Edukasi Informed consent kepada pasien dan keluarga rencana


(Hospital Health penatalaksanaan kasus lanjut.
Promotion)
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter spesialis bedah, Mitra Bestari

14. Indikator Medis Infeksi luka operasi (ILO)

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah
Umum Indonesia Edisi ke 1 Th 2002
3. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

HERNIA (ICD X : K40.9)


1. Pengertian (Definisi) Penonjolan isi perut dari rongga abdomen melalui defek
pada dinding perut yang normal tidak ada.

2. Anamnesis 1. Penonjolan pada lipat paha, pusat yang bisa hilang


dengan penekanan
2. Penonjolan yang sama seperti diatas yang bisa hilang
tetapi pada akhirnya tidak bisa hilang lagi.
3. Disertai perut kembung, tidak bisa BAB dan flatus
atau rasa nyeri yang berat.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan umum dan tanda-tanda vital, bisa normal,


bisa berat jika inkarserata atau strangulate.
2. Status lokalis :
 Hernia Inguinalis dan femoralis :
Region lipat paha dan scrotum
Inspkesi : tampak benjolan jika pasien mengedan
atau batuk dan dapat dimasukkan kembali,
benjolan sampai ke kantong kemaluan. Untuk
yang inkarserata, Irreponibilis dan strangulata
benjolan tidak dapat dimasukkan kembali disertai
tidak bisa flatus.
Palpasi : dapat dimasukkan kembali atau tidak
dapat dimasukkan.
 Hernia Umbilikalis :
Regio Umbilikal (pusat)
Inspeksi : tampak benjolan yang bisa hilang
dengan penekanan.
Palpasi : dapat dimasukkan kembali atau tidak
dapat dimasukkan kembali.

4. Kriteria Diagnosis 1. Ada benjolan yang bisa dimasukkan kembali atau


tidak yang terdapat di lipat paha, scrotum atau
umbilikalis
2. Dapat disertai rasa sakit atau perut kembung, tidak
bisa flatus

5. Diagnosis Kerja Hernia (ICD X : K40.9)


6. Pemeriksaan Penunjang 1. Darah rutin (Hb, Leukosit, CT, BT, Trombosit)
2. Kimia klinik (ureum, kreatinin) untuk usia > 40 Th.
3. Thorax foto dan ECG : untuk usia > 40 Th.
Tujuannya untuk melihat resiko operasi.

7. Terapi  IVFD
 Pemberian antibiotik
 Herniorraphy
 Elektif untuk hernia reponibilis dan irreponibilis,
segera untuk hernia inkarserata dan strangulate.

8. Edukasi Informed consent kepada pasien dan keluarga rencana


(Hospital Health penatalaksanaan kasus lanjut.
Promotion)
9. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam

10. Tingkat Evidens I/II/III/IV

11. Tingkat Rekomendasi A/B/C

12. Penelaah Kritis dokter spesialis bedah, mitra bestari

13. Indikator Medis Infeksi luka operasi (ILO)

14. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah
Umum Indonesia Edisi ke 1 Th 2002
3. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

HEMORROID (ICD X : I84.9)


1. Pengertian (Definisi) Pelebaran varises vena-vena hemorroidales.

2. Anamnesis 1. Perdarahan per anus (darah segar)


2. Ada benjolan keluar dari anus saat BAB

3. Pemeriksaan Fisik  Status Generalis : tidak spesifik


 Status Lokalis :
 Regio anal (posisi Lithotomi)
 Inspeksi : tampak pendarahan dari anal
 Tampak benjolan
 Palpasi : tidak spesifik
 Rectal Toucher/RT : teraba massa, ada darah

4. Kriteria Diagnosis Grade I  manifestasi hanya perdarahan


Grade II  penonjolan keluar jika mengedan dan masuk
sendiri
Grade III  penonjolan jika mengedan dan dimasukkan
manual
Grade IV  penonjolan yang tidak bisa dimasukkan
lagi

5. Diagnosis Kerja Hemorroid (ICD X : I84.9)

6. Diagnosis Banding -

7. Pemeriksaan Penunjang Anoskopi

8. Terapi  IVFD
 Grade I dan II : konservatif terapi pemberian
pencahar, pemberian obat-obat vaso presi.
 Grade III dan IV : Hemorroidektomi.

9. Edukasi Informed consent kepada pasien dan keluarga


(Hospital Health Grade I dan II diet tinggi serat
Promotion) Grade III dan IV informed consent dilakukan tindakan
operasi.

10. Tingkat Evidens I/II/III/IV


11. Tingkat Rekomendasi A/B/C

12. Penelaah Kritis Dokter spesialis bedah, mitra bestari

13. Indikator Medis Bebas nyeri pasca operasi

14. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah
Umum Indonesia Edisi ke 1 Th 2002
3. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

BPH (ICD X : N40)


1. Pengertian (Definisi) Pembesaran kelenjar peri urethra yang mendesak
jaringan fibrosa yang berakibat terganggunya aliran
miksi.

2. Anamnesis 1. BAK macet (tidak bisa BAK)


2. Usia > 50 Th.

3. Pemeriksaan Fisik  Regia Supra Pubik - tampak bulging.


 RT (pemeriksaan colok dubur) – teraba peri urethra
membesar
4. Kriteria Diagnosis  RT (pemeriksaan colok dubur)
 Ultrasonografi

5. Diagnosis Kerja BPH (ICD X : N40)

6. Diagnosis Banding  Batu Buli


 Ca Prostat
7. Pemeriksaan Penunjang  Cek Laboratorium : HB, Leukosit, Trombosit,
CT/BT, Creatinin.
 USG – syarat menentukan tentang besar kecilnya
protat.

8. Terapi  Pasang IVFD, pemberian antibiotik


 Kateterisasi pada saat retensio urine
 Cystotomi – jika kateterisasi gagal
 Open prostatektomi

9. Edukasi Informed consent kepada pasien dan keluarga rencana


(Hospital Health tindakan operasi/open prostatektomi.
Promotion)
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C


13. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah
Umum Indonesia Edisi ke 1 Th 2002
3. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

STRUMA (ICD X : E04.9)


1. Pengertian (Definisi) Perbesaran kelenjar tiroid yang menyebabkan
pembengkakan di bagian depan leher.

2. Anamnesis - Benjolan di leher


- Suara menjadi serak

3. Pemeriksaan Fisik Benjolan/massa di trigonum koli anterior sebelah bawah


ikut bergerak keatas bila penderita melakukan gerakan
menelan. Bentuk bisa difus, uninoduler atau multi
nodule. Bisa disertai gejala hipertiroidi (badan tambah
kurus, gelisah, jantung berdebar, sering keringatan, sulit
tidur, diare) atau gejala hipotiroidi (malas, mudah capek,
ngantuk, tambah gemuk, obstipasi, mata sembab).
Curiga ganas bila tumbuhnya cepat, sesak (+), disfagi
(+), suara parau, benjolan keras, fixed, ada pembesaran
kgb leher.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan laboratorium darah lengkap (sysmex),
APTT/PPT, GDS
4. Pemeriksaan radiologi : USG Thyroid

5. Diagnosis Kerja Struma (ICD X : E04.9)

6. Diagnosis Banding -

7. Pemeriksaan Penunjang  Laboratorium : darah lengkap (sysmex), APTT/PPT,


GDS
 Radiologi :
 Thorax foto (atas indikasi/ usia > 40 Th)
 USG Thyroid
 EKG (atas indikasi / usia > 40 Th).

8. Terapi Operasi Thyroidectomy :


 Pemberian cairan (jenis) dan jumlah tetesan RL /
6 jam / kolf.
 Pemberian obat pre operasi : antibiotik cefotaxim
2 gr.
 Pemberian obat post operasi : antibiotik cefotaxim 1
gr 3x1 gr IV, Analgetik (bila sakit) ketorolac 30 1
ampul I.V

9. Edukasi Informed consent kepada pasien dan keluarga rencana


(Hospital Health tindakan operasi Thyroidectomy.
Promotion)
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Bedah, Mitra Bestari

14. Indikator Medis Bebas sesak dan serak

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah
Umum Indonesia Edisi ke 1 Th 2002
3. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

FIBROADENOMA MAMAE (ICD X : D24)


1. Pengertian (Definisi) Tumor jinak payudara yang sering ditemukan pada usia
reproduksi yang disebabkan oleh beberapa kemungkinan
yaitu akibat sensitivitas jaringan setempat yang
berlebihan terhadap esterogen sehingga kelainan ini
sering digolongkan asimptomatik pada 25 % wanita dan
sering terjadi pada usia awal reproduksi dan puncaknya
adalah antara usia 15 Th sampai 35 Th.

2. Anamnesis Benjolan di payudara

3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan palpasi pada daerah payudara

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan laboratorium : darah lengkap (sysmex),
APTT/PPT, GDS
4. USG Mammae

5. Diagnosis Kerja Fibroadenoma Mamae (ICD X : D24)

6. Diagnosis Banding  Kanker payudara


 Kiste payudara
 Fibroadenosis

7. Pemeriksaan Penunjang  Pemeriksaan laboratorium :


 darah lengkap (sysmex)
 APTT / PPT
 GDS
 Pemeriksaan Radiologi :
 Thorak Foto (atas indikasi / usia > 40 Th
 USG Mammae
 Pemeriksaan EKG (atas indikasi / usia > 40 Th)

8. Terapi Operasi Herniotomy :


 Pemberian cairan (jenis) dan jumlah tetesan RL /
6 jam / kolf.
 Pemberian obat pre operasi : antibiotik cefotaxim
2 gr.
 Pemberian obat post operasi : antibiotik cefotaxim 1
gr 3x1 gr IV, Analgetik (bila sakit) ketorolac 30 1
ampul I.V

9. Edukasi Informed consent kepada pasien dan keluarga rencana


(Hospital Health tindakan operasi
Promotion)
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Bedah, mitra bestari

14. Indikator Medis Bebas nyeri pasca operasi

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah
Umum Indonesia Edisi ke 1 Th 2002
3. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

CHOLELITHIASIS (ICD X : K81.9)


1. Pengertian (Definisi) Batu yang terbentuk didalam kantong empedu atau
didalam saluran empedu. Sebagian besar batu tersusun
dari pigmen-pigmen empedu dan kolesterol, selain itu
juga tersusun oleh bilirubin, kalsium dan protein.

2. Anamnesis 1. Rasa nyeri (kolik empedu) yang menetap


2. Mual dan muntah
3. Febris (38,5°C)
3. Pemeriksaan Fisik 1. Nyeri tekan pada hipokondrium kanan
2. Terdapat tanda peritonitis lokal (defans muskuler
(+)), pertanda Murphy‟s positif.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan laboratorium : darah lengkap (sysmex),
APTT/PPT, GDS, Bilirubin, SGPT.
4. USG Abdomen

5. Diagnosis Kerja Cholelithiasis (ICD X : K80)

6. Diagnosis Banding  Proses peradangan pada organ-organ di daerah


hipokondrium
 Hepatitis
 Abses hepar
 Pankreatitis
 Kholangitis
 Ulkus peptikum
7. Pemeriksaan Penunjang  Pemeriksaan laboratorium : darah lengkap (sysmex),
APTT/PPT, GDS
 USG Abdomen
 Foto Throrak (atas indikasi / > 40 Th)
 EKG (atas indikasi / > 40 Th)
8. Terapi Operasi Cholesistektomy :
 Pemberian cairan (jenis) dan jumlah tetesan RL /
6 jam / kolf.
 Pemberian obat pre operasi : antibiotik cefotaxim
2 gr.
 Pemberian obat post operasi : antibiotik cefotaxim 1
gr 3x1 gr IV, Analgetik (bila sakit) ketorolac 30 1
ampul I.V

9. Edukasi Informed consent kepada pasien dan keluarga rencana


(Hospital Health tindakan operasi Cholesistektomy
Promotion)
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Bedah, mitra bestari

14. Indikator Medis Infeksi luka operasi (ILO)

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah
Umum Indonesia Edisi ke 1 Th 2002
3. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

BATU GINJAL (ICD X : N20.0)


1. Pengertian (Definisi) Adanya batu (urolith) atau Kristal-kristal pada ginjal

2. Anamnesis Pegal dan kolik pada daerah sudut kostovertebralis


(CVA)

3. Pemeriksaan Fisik Nyeri tekan dan nyeri ketok CVA.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Sesuai kriteria pemeriksaan penunjang

5. Diagnosis Kerja Batu Ginjal (ICD X : N20.0)

6. Diagnosis Banding Tumor ginjal

7. Pemeriksaan Penunjang  Pemeriksaan laboratorium darah lengkap (sysmex)


 APTT/PPT
 GDS
 Rontgen Thorak (atas indikasi/>40 Th)
 EKG (atas indikasi / > 40 Th)
 USG Urologi
 BNO kalo perlu IVP

8. Terapi Operasi Nephrolithotomy :


 Pemberian cairan (jenis) dan jumlah tetesan RL / 6
jam / kolf.
 Pemberian obat pre operasi : antibiotik cefotaxim 2
gr.
 Pemberian obat post operasi : antibiotik cefotaxim 1
gr 3x1 gr IV, Analgetik (bila sakit) ketorolac 30 1
ampul I.V

9. Edukasi Informed consent kepada pasien dan keluarga rencana


(Hospital Health tindakan operasi
Promotion)
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV


12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter spesialis bedah, mitra bestari

14. Indikator Medis Urine cukup dan jernih

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

BATU URETER (ICD X : N20.1)


1. Pengertian (Definisi) Batu yang terbentuk di dalam ureter

2. Anamnesis 1. Nyeri punggung atau kolik renalis (nyeri kolik yang


hebat).
2. Nyeri hebat yang hilang timbul biasanya didaerah
antara tulang rusuk dan tulang punggung yang
menjalar ke perut, daerah kemaluan dan paha
sebelah dalam.
3. Mual, muntah
4. Perut mengelembung
5. Demam
6. Menggigil
7. Darah didalam air kemih

3. Pemeriksaan Fisik 1. Nyeri tekan dan nyerik ketok CVA


2. Spasme otot-otot abdomen

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik

5. Diagnosis Kerja Batu Ureter (ICD X : N20.1)

6. Diagnosis Banding  Apendicitis akut


 Colitis

7. Pemeriksaan Penunjang  Pemeriksaan laboratorium :


 darah lengkap (sysmex)
 APTT / PPT
 GDS
 Pemeriksaan Radiologi :
 Thorak Foto (atas indikasi / usia > 40 Th
 USG Urologi
 Pemeriksaan EKG (atas indikasi / usia > 40 Th)

8. Terapi Operasi Ureterotomy :


 Pemberian cairan (jenis) dan jumlah tetesan RL / 6
jam / kolf.
 Pemberian obat pre operasi : antibiotik cefotaxim
2 gr.
 Pemberian obat post operasi : antibiotik cefotaxim 1
gr 3x1 gr IV, Analgetik (bila sakit) ketorolac 30 1
ampul I.V

9. Edukasi Informed consent kepada pasien dan keluarga rencana


(Hospital Health tindakan operasi
Promotion)
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter spesialis bedah, mitra bestari

14. Indikator Medis Urin cukup dan jernih

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah
Umum Indonesia Edisi ke 1 Th 2002
3. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

BATU BULI (ICD X : N21.0)


1. Pengertian (Definisi) Batu di dalam vesica urinaria

2. Anamnesis Nyeri buang air kecil

3. Pemeriksaan Fisik Nyeri tekan simptomatik

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Sesuai kriteria pemeriksaan penunjang

5. Diagnosis Kerja Batu Buli (ICD X : N21.0)

6. Diagnosis Banding  Tumor Buli


 BPH

7. Pemeriksaan Penunjang  Pemeriksaan laboratorium : darah lengkap (sysmex)


 APTT/PPT
 GDS
 Thorax Foto (atas indikasi/ > 40 Th).
 EKG (atas indikasi / > 40 Th).
 USG
 BNO

8. Terapi Operasi Sectio Alta :


 Pemberian cairan (jenis) dan jumlah tetesan RL / 6
jam / kolf.
 Pemberian obat pre operasi : antibiotik cefotaxim 2
gr.
 Pemberian obat post operasi : antibiotik cefotaxim 1
gr 3x1 gr IV, Analgetik (bila sakit) ketorolac 30 1
ampul I.V
9. Edukasi Informed consent kepada pasien dan keluarga rencana
(Hospital Health tindakan operasi Sectio Alta
Promotion)
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV


12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter spesialis bedah, mitra bestari

14. Indikator Medis Urin cukup dan jenuh

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah
Umum Indonesia Edisi ke 1 Th 2002
3. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK DOKTER
SPESIALIS OBSTETRI
GYNEKOLOGI
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

MIOMA UTERI (ICD X : D25.9)


1. Pengertian (Definisi) Tumor jinak lapisan miometrium rahim dengan sifat
konsistensi padat kenyal, berbatas jelas dan memiliki
pseudokapsul bisa soliter atau multiple. Letak tumor bisa
: Submukus, intramural,subserus.
2. Anamnesis 1. Rasa penuh atau berat di perut bagian bawah atau
benjolan yang padat dan kenyal.
2. Gangguan haid atau perdarahan abnormal uterus
(30%) : menoragi, metroragi, dismenore
3. Gangguan akibat penekanan tumor :
disuria/polakisuri, retensio urine, overflow
4. incontinence,konstipasi, varices, edema tungkai

3. Pemeriksaan Fisik 1. Gejala klinis :


 bisa tanpa gejala
 rasa penuh atau berat di perut bagian bawah atau
benjolan yang padat dan kenyal.
 gangguan haid atau perdarahan abnormal uterus
(30%) : menoragi, metroragi, dismenore
 gangguan akibat penekanan tumor :
disuria/polakisuri, retensio urine, overflow
 incontinence,konstipasi, varices, edema tungkai
2. Palpasi Abdomen : tumor daerah atas pubis atau
badomen bagian bawah padat kenyal, berdungkul,
tidak nyeri, terbatas jelas mobil bila tidak ada
perlekatan.
3. Pemeriksaan bimanual bisa menyatu atau
berhubungan dengan rahim

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Hasil pemeriksaan USG
4. Hasil pemeriksaan laboratorium

5. Diagnosis Kerja Mioma Uteri (ICD X : D25.9)

6. Diagnosis Banding 1. Kehamilan


2. Neoplasma ovarium
3. Endometriosis
4. Kanker Uterus
5. Kelainan bawaan rahim

7. Pemeriksaan Penunjang 1. USG pada kasus terpilih


2. Kuret dan pemeriksaan PA pada kasus perdarahan
3. D/K bertingkat pada penderita disertai dengan
pendarahan untuk menyingkirkan patologi lain pada
endometrium (hiperplasia endometrium atau
adenokarsinoma Endometrium)
4. Tes kehamilan

8. Terapi Tergantung : ukuran tumor, keluhan atau komplikasi ,


umur dan paritas
1. Ukuran myoma kurang dari 12 minggu :
a) Tanpa keluhan : observasi 3-6 bulan, bila
membesar atau komplikasi pertimbangkan operasi
b) Dengan keluhan perdarahan ;
 koreksi anemi dengan tranfusi bila Hb< 8 gr%
 kuret bila Hb> 8gr% kecuali perdarahan
profus
 tujuan kuret : menghentikan perdarahan,
pemeriksaan PA menyingkirkankemungkinan
keganasan atau penyakit lain, bila tidak ganas
tergantung umur dan paritas
 umur< 35th, ingin anak terapi konservatif, bila
gagal operasi
 umur >35th , anak>2 dilakukan operasi
2. Ukuran myoma lebih 12 minggu
OPERATIF :
 Bila perdarahan kuret PA dulu setelah aneminya
dikoreksi
 Antibiotika bila ada infeksi
KONSERVATIF :
 bila anemi beri tablet zat besi tiap 8 jam /hari
 pemberian kombinasi vit sehari sekali
 Diit TKTP
 pengawasan besar tumor dan keluhannya 3-6
bulan
 Dipertimbangkan obat untuk mengurangi kadar
estrogen dan progesteron dalaM darah misal
GnRH
OPERATIF
 Bila masih ingin anak : miomektomi
 Usia 35-45 th histerektomi dan unilateral
salfingooophorektomi
 Usia >45 th histerektomi dan bilateral
salfingooophorektomi
9. Edukasi  Penjelasan tentang penyakit
(Hospital Health  Nutrisi dan cairan
Promotion)  Penjelasan tentang operasi
Miomektomi/Histerektomi.
 Penjelasan tentang obat-obatan

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam :,dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Obstetri Gynekologi, Mitra Bestari

14. Indikator Medis Tidak terjadi perdarahan pervaginam

15. Kepustakaan  PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
 Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi
yang disusun oleh Perkumpulan Obstetri Ginekologi
Indonesia Th. 2006
 SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
 Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

KISTA OVARIUM (ICD X : N83.2)


1. Pengertian (Definisi) Pembesaran ovarium yang bersifat fungsional, berupa
kistik, padat atau campuran kistik padat dan dapat
bersifat neoplastik maupun non neoplastik.

2. Anamnesis Gejala yang timbul tergantung besar tumor, lokasi dan


adanya komplikasi. Umumnya tidak menimbulkan
gejala.
Gejala yang timbulk dan patognomonik adalah :
 Penekanan terhadap vesika atau rektum
 Perut terasa penuh
 Pembesaran perut
 Perdarahan (jarang)
 Nyeri (pada putaran tangkai/kista pecah)
 Sesak napas, oedena tungkai (pada tumor yang
sangat besar).

3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik /recto vaginal toucher (RVTI)

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik/recto vaginal
toucher (RTV)
3. Pemeriksaan USG
4. Laparoskopi

5. Diagnosis Kerja Kista Ovarium (ICD X : N83.2 )

6. Diagnosis Banding -

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan USG


2. Laparoskopi
3. Laboratorium : pemeriksaan lengkap

8. Terapi - Perlu ditentukan apakah merupakan kista fungsional


atau bukan.
- Perlu ditentukan apakah termasuk golongan
neoplastik atau non neoplastik.
- Pengangkatan kista/ovarium tergantung jenis kista
dan besar kista.
- Pengangkatan kista dapat dilakukan dengan
laparoskopi atau laparotomi.

9. Edukasi  Penjelasan tentang penyakit


(Hospital Health  Nutrisi dan cairan
Promotion)  Penjelasan tentang operasi Laparoskopi/Laparatomi.
 Penjelasan tentang obat-obatan

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam :,dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Obstetri Gynekologi, Mitra Bestari

14. Indikator Medis Bebas nyeri pasca operasi

15. Kepustakaan  PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
 Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi
yang disusun oleh Perkumpulan Obstetri Ginekologi
Indonesia Th. 2006
 SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
 Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

SECTIO CAESARIA (ICD IX : 74.4)


1. Pengertian (Definisi) Persalinan atau kelahiran pada pasien dengan riwayat
kelahiran bayi melalui insisi perut (laparotomi) dan
insisi uterus (histerotomi). Luka sayat di perut dapat
transversal (Pfannenstiel) maupun vertikal (mediana);
sedangkan di uterus dapat transversal (SC
Transperitonealis Profunda) maupun insisi vertikal (SC
klasik / corporal).

2. Anamnesis Kehamilan dengan indikasi :


1. Plasenta Previa
2. Vasa Previa
3. CPD / FPD
4. Panggul patologik
5. Presentasi Abnormal
6. Kelainan letak
7. Posterm dengan skor pelvik rendah
8. 2 kali section caesaria
9. Penyembuhan luka operasi yang lalu buruk
10. Operasi yang lalu kolporal/klasik

4. Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan umum


2. Tekanan darah

5. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Hasil pemeriksaan USG
4. Hasil pemeriksaan laobratorium

5. Diagnosis Kerja Sectio Caesaria (ICD IX : 74.4)

6. Diagnosis Banding -

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan USG : perbandingan besar volume


lingkar kepala / lingkar bahu/lingkar perut janin.
2. Pemeriksaan laboratorium lengkap

8. Terapi - RL 1000 cc
- D5% 500 cc
- Sefasolin 1 gram
- Metronidasol infus 500 mg
- Tramadol injeksi
- Antasid oral 3 x 10 cc

9. Edukasi  Penjelasan tentang alasan dilakukan tindakan


(Hospital Health operasi section caesaria
Promotion)  Penjelasan tentang operasi section caesaria
 Nutrisi dan cairan
 Penjelasan tentang obat-obatan

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Obstetri Gynekologi, mitra bestari

14. Indikator Medis Decision to Delivery kurang dari 1 jam

15. Kepustakaan  PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
 Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi
yang disusun oleh Perkumpulan Obstetri Ginekologi
Indonesia Th. 2006
 SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
 Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

ABORTUS (ICD X : 006.4 )


1. Pengertian (Definisi) Adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi
sebelum janin dapat hidup diluar kandungan, dan
sebagai batasan digunakan kehamilan kurang dari 20
minggu atau berat badan anak kurang dari 500 gram.
Abortus komplit:
Adalah seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum
uteri pada kehamilan kurang dari 20 minggu.
Abortus inkomplit:
Adalah sebagian konsepsi telah keluar dari vakum uteri,
sebagian lagi masih tertinggal.
Abortus insipiens:
Adalah abortus yang sedang mengancam dimana serviks
telah mendatar dan ostium uteri telah membuka, akan
tetapi hasil konsepsi masih di dalam kavum uteri.
Abortus imminens:
Adalah abortus tingkat permulaan, dimana terjadi
pendarahan per vaginam ostium masih tertutup dan hasil
konsepsi masih baik dalam kandungan.

2. Anamnesis Abortus Imminens


1. Riwayat terlambat haid dengan hasil BHcg (+)
dengan usia kehamilan dibawah 20 minggu
2. Perdarahan pervaginam yang tidak terlalu banyak,
berwarna kecoklatan dan bercampur lendir
3. Tidak disertai nyeri atau kram

Abortus insipiens
1. Perdarahan bertambah banyak, berwarna merah
segar disertai terbukanya serviks
2. Perut nyeri ringan atau spasme (seperti kontraksi saat
persalinan )

Abortus Inkomplit
1. Perdarahan aktif
2. Nyeri perut hebat seperti kontraksi saat persalinan
3. Pengeluaran sebagian hasil konsepsi
4. Mulut rahim terbuka dengan sebagian sisa konsepsi
tertinggal
5. Terkadang pasien datang dalam keadaan syok akibat
perdarahan

Abortus komplit
1. Perdarahan sedikit
2. Nyeri perut atau kram ringan
3. Mulut sudah tertutup
4. Pengeluaran seluruh hasil konsepsi
3. Pemeriksaan Fisik 1. Penilaian tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi,
suhu)
2. Penilaian tanda-tanda syok
3. Periksa konjungtiva untuk tanda anemia
4. Mencari ada tidaknya massa abdomen
5. Tanda-tanda akut abdomen dan defans musculer
6. Pemeriksaan ginekologi, ditemukan:
Abortus iminens :
 Osteum uteri masih menutup
 Perdarahan berwarna kecoklatan disertai lendir
 Ukuran uterus sesuai dengan usia kehamilan
 Detak jantung janin masih ditemukan

Abortus insipiens :
 Osteum uteri terbuka, dengan terdapat
penonjolan kantong dan didalamnya berisi cairan
ketuban
 Perdarahan berwarna merah segar
 Ukuran uterus sesuai dengan usia kehamilan
 Detak jantung janin masih ditemukan

Abortus inkomplit :
 Osteum uteri terbuka, dengan terdapat sebagian
sisa konsepsi
 Perdarahan aktif
 Ukuran uterus sesuai usia kehamilan

Abortus komplit :
 Osteum uteri tertutup
 Perdarahan sedikit
 Ukuran uterus lebih kecil usia kehamilan
4. Kriteria Diagnosis 1. Ada terlambat haid atau amenorea kurang dari 20
minggu . Pendarahan pervaginam, mungkin disertai
jaringan hasil konsepsi.
2. Rasa sakit atau keram perut di daerah atas simpisis.
3. Diagnosis abortus imminems ditentukankarena pada
wanita hamil.
5. Diagnosis Kerja Abortus (ICD X : 006.4 )

6. Diagnosis Banding 1. Kehamilan ektopik


2. Mola hidatidosa
3. Missed Abortion

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan USG.


2. Pemeriksaan tes kehamilan (BHCG): biasanya masih
positif sampai 7-10 hari setelah abortus.
3. Pemeriksaan darah perifer lengkap

8. Terapi Abortus imminens terdiri atas :


1. Istirahat tirah baring.
2. Tablet penambah darah
3. Vitamin ibu hamil diteruskan

Abortus insipiens :
1. Observasi tanda vital
2. Bila kondisi stabil rujuk ke fasilitas pelayanan
kesehatan yang lebih lengkap untuk rencana
pengeluran hasil konsepsi
3. Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilaksanakan
dengan kuret vakum atau dengan cunam abortus,
disusul dengan kerokan

Abortus inkomplit :
1. Observasi tanda vital (tensi, nadi, suhu, respirasi)
2. Evaluasi tanda-tanda syok, bila terjadi syok karena
perdarahan, pasang IV line (bila perlu 2 jalur) segera
berikan infus cairan NaCl fisiologis atau cairan
ringer laktat disusul dengan darah.
3. Setelah syok teratasi rujuk ke fasilitas selnjutnya
untuk dilakukan kerokan (D/C). Pasca tindakan
berikan ergometrin IM.

Abortus komplit :
Tidak memerlukan pengobatan khusus, hanya apabila
menderita anemia perlu diberikan sulfas ferosus dan
dianjurkan supaya makanannya mengandung banyak
protein, vitamin dan mineral.

9. Edukasi 1. Melakukan konseling untuk memberikan dukungan


(Hospital Health emosional
Promotion) 2. Menganjurkan penggunaan kontrasepsi pasca
keguguran karena kesuburan dapat kembali kira-kira
14 hari setelah keguguran. Untuk mencegah
kehamilan, Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
umumnya dapat dipasang secara aman setelah aborsi
spontan atau diinduksi. Kontraindikasi pemasangan
AKDR pasca keguguran antara lain adalah infeksi
pelvik, abortus septik, atau komplikasi serius lain
dari abortus.
3. Follow up dilakukan setelah 2 minggu.

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam :,dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C


13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Obstetri Gynekologi, Mitra Bestari

14. Indikator Medis Kotrasepsi pasca kuretase

15. Kepustakaan  PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
 Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi
yang disusun oleh Perkumpulan Obstetri Ginekologi
Indonesia Th. 2006
 SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
 Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

HIPEREMESIS GRAVIDARUM (ICD X : 021.0)


1. Pengertian (Definisi) Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi
pada awal kehamilan sampai umur kehamilan 20
minggu.

2. Anamnesis Mual muntah hebat

3. Pemeriksaan Fisik 1. Pemeriksaan tanda vital: nadi meningkat 100x/mnt,


tekanan darah menurun (pada keadaan berat),
subfebris, dan gangguan kesadaran (pada keadaan
berat).
2. Pemeriksaan tanda-tanda dehidrasi : mata cekung,
bibir kering, turgor berkurang.
3. Pemeriksaan generalis: kulit pucat, sianosis, berat
badan turun > 5% dari berat badan sebelum hamil,
uterus besar sesuai usia kehamilan, pada pemeriksaan
inspekulo tampak serviks yang berwarna biru.

4. Kriteria Diagnosis 1. Muntah-muntah yang sering sekali


2. Perasaan tenggorokan kering dan halus
3. Kulit dapat menjadi kering ( tanda dehidrasi)
4. Berat badan turun dengan cepat
5. Pada keadaan yang berat timbul ikterus dan
gangguan saraf.

5. Diagnosis Kerja Hiperemesis Gravidarum (ICD X : 021.0)

6. Diagnosis Banding 1. Ulkus peptikum


2. Apendisitis akut
3. Inflammatory bowel syndrome
4. Acute Fatty Liver
5. Diare akut

7. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium :


1. Darah : kenaikan relatif hemoglobin dan hematokrit.
2. Urinalisa : warna pekat, berat jenis meningkat,
adanya ketonuria, dan proteinuria.
8. Terapi 1. Mengusahakan kecukupan nutrisi ibu dengan
menganjurkan makan makanan yang banyak
mengandung gula
2. Makan porsi kecil, tetapi lebih sering
3. Menghindari makanan yang berminyak dan berbau
lemak.
4. Istirahat cukup
5. Defekasi yang teratur
6. Farmakologis:
Penanganan awal diberikan :

1) H2 Blocker per oral/IV.


2) Piridoksin 10 mg per oral tiap 8 jam.
3) Anti emetik IV.
4) Berikan cairan intravena sesuai derajat
dehidrasi.
5) Berikan suplemen multivitamin (B kompleks)
IV

9. Edukasi 1. Memberikan informasi kepada pasien, suami, dan


(Hospital Health keluarga mengenai kehamilan dan persalinan suatu
Promotion) proses fisiologik.
2. Memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-
kadang muntah merupakan gejala fisiologik pada
kehamilan muda dan akan hilang setelah usia
kehamilan 4 bulan.
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam :,dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Obstetri Gynekologi, Mitra Bestari

14. Indikator Medis Status rehidrasi baik, urin cukup.

15. Kepustakaan  PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
 Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi
yang disusun oleh Perkumpulan Obstetri Ginekologi
Indonesia Th. 2006
 SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
 Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

KETUBAN PECAH DINI (ICD X : O42.9)


1. Pengertian (Definisi) Pecahnya selaput ketuban (amnion dan khorion) tanpa
diikuti persalinan pada kehamilan aterm atau pecahnya
ketuban pada kehamilan preterm.

2. Anamnesis 1. Umur kehamilan lebih dari 20 minggu


2. Keluar cairan jernih dari Vagina

3. Pemeriksaan Fisik 1. Pada pemeriksaan fisik : suhu normal bila tidak


infeksi
2. Pada pemeriksaan obstetrik bunyi jantung janin
biasanya normal.
3. Pemeriksaan inspekulo: Terlihat cairan keluar dari
ostium uteri eksternum
4. Kertas Nitrazin merah akan jadi biru.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Hasil pemeriksaan Laboratorium : leukosit darah,
bila > 15.000/mm³ mungkin ada infeksi.
4. USG : membantu menentukan usia kehamilan, letak
janin, berat janin, letak plasenta, gradasi plasenta
serta jumlah air ketuban.
5. Nilai bunyi jantung janin dengan stetoskop Lacnee
atau dengan fetal phone atau dengan CTG. Bila ada
infeksi intra uteri atau peningkatan suhu bunyi
jantung janin akan meningkat.

5. Diagnosis Kerja Ketuban Pecah Dini (ICD X : O42.9)

6. Diagnosis Banding 1. Fistula vesiko vaginal dengan kehamilan


2. Stress inkontinensia

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan laboratorium : Leukosit darah


2. Pemeriksaan USG
3. Nitrazine tes (Lakmus Tes).

8. Terapi Harus dirawat di rumah sakit sampai air ketuban


berhenti atau setelah perawatan dari tindakan terminasi
kehamilan selesai
A. Konservatif :
 Rawat di RS
 Antibiotika kalau ketuban pecah < 6 jam
(ampisilin atau eritromicin bila tidak tahan
ampisilin).
 Umur kehamilan < 32-34 minggu, dirawat
selama air ketuban masih keluar, atau sampai air
ketuban tidak keluar lagi.
 Bila sudah 32-34 minggu masih keluar, maka
pada usia kehamilan 35 minggu pertimbangan
untuk terminasi kehamilan sangat tergantung
pada kemampuan perawatan. Pada usia
kehamilan 34 minggu berikan steroid selama 7
hari, untuk memacu kematangan paru janin dan
kalau mungkin diperiksakan kadar lesitin dan
spingomeilin tiap minggu.

B. Aktif:
 Kehamilan : 36 minggu, bila 6 jam belum terjadi
persalinan induksi dengan oksitosin,
 bila gagal à seksio sesarea.
 Pada keadaan CPD, letak lintang seksio sesarea
 Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika
dosis tinggi dan persalinan diakhiri.
 Bila pelvik skor < 5, diakhiri persalinan dengan
seksio sesarea.
 Bila pelvik skor >5, induksi persalinan, partus
per vaginam.

9. Edukasi  Penjelasan tentang penyakit


(Hospital Health  Nutrisi dan cairan
Promotion)  Penjelasan tentang obat-obatan

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam :,dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Obstetri Gynekologi, Mitra Bestari

14. Indikator Medis Penggunaan antibiotik


15. Kepustakaan  PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
 Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi
yang disusun oleh Perkumpulan Obstetri Ginekologi
Indonesia Th. 2006
 SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
 Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

PRE EKLAMPSIA (ICD X : O14.9)


1. Pengertian (Definisi) Pre-eklampsia merupakan kondisi spesifik pada
kehamilan di atas 20 minggu yang ditandai dengan
adanya disfungsi plasenta dan respon maternal terhadap
adanya inflamasi spesifik dengan aktivasi endotel dan
koagulasi. Tanda utama penyakit ini adanya hipertensi
dan proteinuria.

2. Anamnesis 1. Gejala yang timbul pada Pre-eklampsia ialah edema.


2. Timbulnya hipertensi dan proteinuria merupakan
gejala yang paling penting, namun penderita
seringkali tidak merasakan perubahan ini.
3. Biasanya pasien datang dengan gejala pada kondisi
yang sudah cukup lanjut atau pre-eklampsia berat,
seperti gangguan penglihatan, sakit kepala hebat,
nyeri perut bagian atas.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Pada pre-eklampsia ringan: ditandai adanya


peningkatan tekanan darah ≥ 140/90 mmHg.
2. Pada pre-eklampsia berat : tekanan darah > 160/110
mmHg, edema, pandangan kabur, nyeri di
epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan atas
abdomen (akibat teregangnya kapsula glisson),
sianosis, adanya pertumbuhan janin yang terhambat.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Pre Eklampsia ringan : hipertensi : sistolik/diastolik
140/90 mmHg
Pre Eklampsia berat : hipertensi : sistolik/diastolik ≥
160/110 mmHg
4. Hasil pemeriksaan laboratorium : pemeriksaan
protein urina :
Pre Eklampsia ringan : ≥ 300 mg/24 jam atau ≥ 1 +
dipstik
Pre Eklampsia berat : 5 gr/24 jam atau 2 + dalam
pemeriksaan kualitatif

5. Diagnosis Kerja Pre Eklampsia (ICD X : O14.9)


6. Diagnosis Banding Hipertensi gestasional

7. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium :


 Proteinuria
 Darah rutin
 Fungsi liver
 Fungsi Ginjal

8. Terapi 1. Tata laksana pre-eklampsia ringan.


1) Pantau keadaan klinis ibu tiap kunjungan
antenatal: tekanan darah, berat badan, tinggi
badan, indeks masa tubuh, ukuran uterus dan
gerakan janin.
2) Rawat jalan (ambulatoir)
 Ibu hamil banyak istirahat (berbaring/tidur
miring)
 Konsumsi susu dan air buah
 Obat antihipertensi
Indikasi utama pemberian antihipertensi pada
kehamilan adalah untuk keselamatan ibu
dalam mencegah penyakit serebrovaskular.
Meskipun demikian, penurunan tekanan darah
dilakukan secara bertahap tidak lebih dari
25% penurunan dalam waktu 1 jam. Hal ini
untuk mencegah terjadinya penurunan aliran
darah uteroplasenter.
Obat antihipertensi yang dapat diberikan :
a. Metildopa, biasanya dimulai pada dosis
250-500 mg per oral 2 atau 3 kali sehari,
dengan dosis maksimum 3 g per hari, atau
b. Nifedipin 10 mg kapsul per oral, diulang
tiap 15-30 menit, dengan dosis maksimal
30 mg.
 Tidak perlu diberikan obat-obatan seperti:
diuretik, dan sedatif.
2. Tata laksana pre-eklampsia berat.
Pemberian MgSO4 dosis awal dengan cara: ambil 4
mg MgSO4 (10 ml larutan MgSO4 40%) dan larutkan
dalam 10 ml aquades. Berikan secara perlahan IV
selama 20 menit. Jika akses IV sulit berikan masing-
masing 5 mg MgSO4 ( 12,5 ml larutan MgSO4 40%)
IM di bokong kiri dan kanan.

9. Edukasi  Penjelasan tentang penyakit


(Hospital Health  Nutrisi dan cairan
Promotion)  Penjelasan tentang obat-obatan

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam :,dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C/D

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Obstetri Gynekologi, Mitra bestari

14. Indikator Medis Tensi terkontrol

15. Kepustakaan  PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
 Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi
yang disusun oleh Perkumpulan Obstetri Ginekologi
Indonesia Th. 2006
 SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
 Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

Cephalopelvic Disproportion/CPD (ICD X : O33.9)


1. Pengertian (Definisi) Disproporsi sefalopelvik terjadi karena janin besar atau
panggul ibu kecil sehingga partus macet.

2. Anamnesis 1. Pembukaan serviks dan turunnya bagian janin yang


dipresentasikan tidak maju
2. His baik.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Pemeriksaan fisik / obstetri.


2. Pelvimetri

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan darah lengkap (sysmex)
4. USG

5. Diagnosis Kerja Cephalopelvic Disproportion/CPD (ICD X : O33.9)

6. Diagnosis Banding -

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan Laboratorium : pemeriksaan darah


lengkap
2. USG

8. Terapi Jika ditegakkan CPD/DKP janin hidup dilakukan Sectio


Caesaria
9. Edukasi  Penjelasan tentang penyakit
(Hospital Health  Nutrisi dan cairan
Promotion)  Penjelasan tentang obat-obatan
 Informed consent pasien dan keluarga tentang
rencana tindakan operasi Sectio Caesaria

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C/D


13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Obstetri Gynekologi, Mitra Bestari

14. Indikator Medis Sectio Caesaria

15. Kepustakaan  PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
 Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi
yang disusun oleh Perkumpulan Obstetri Ginekologi
Indonesia Th. 2006
 SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
 Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

PRESENTASI BOKONG (ICD X : O64.8)


1. Pengertian (Definisi) Apabila janin terlihat membujur dalam rahim dengan
bokong pada
bagian bawah.

2. Anamnesis Hasil USG

3. Pemeriksaan Fisik Palpasi


 Leopold I : kepala /‖ballotement‖ di fundus.
 Leopold II : teraba punggung disatu sisi, bagian-
bagian kecil disisi lain. Leopold III
 dan IV: bokong teraba dibagian bawah rahim.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan darah lengkap (sysmex)
4. USG
5. X-Foto (bila perlu)

5. Diagnosis Kerja Presentasi Bokong (ICD X : O64.8)

6. Diagnosis Banding -

7. Pemeriksaan Penunjang  Ultrasonografi


Dipertahankan untuk :
 konfirmasi letak janin apabila pemeriksaan fisik
tidak jelas.
 menentukan letak plasenta.
 menentukan kemungkinan adanya cacat bawaan.
 X-foto ( bila perlu )
 menentukan posisi tungkai bawah /Frank Breech
 konfirmasi letak janin.
 menentukan habitus kepala janin.
 menentukan kemungkinan adanya kelainan
bawaan anak ( Hidrosefalus, Anensefalus ).

8. Terapi Jika ditegakkan Presentasi Bokong janin hidup


dilakukan Sectio Caesaria

9. Edukasi  Penjelasan tentang penyakit


(Hospital Health  Nutrisi dan cairan
Promotion)  Penjelasan tentang obat-obatan
 Informed consent pasien dan keluarga tentang
rencana tindakan operasi Sectio Caesaria
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Obstetri Gynekologi, Mitra Bestari

14. Indikator Medis Sectio Caesaria

15. Kepustakaan  PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
 Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi
yang disusun oleh Perkumpulan Obstetri Ginekologi
Indonesia Th. 2006
 SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
 Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

KEHAMILAN NORMAL (ICD X : O80.9)


1. Pengertian (Definisi) Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahir.
Lama kehamilan normal 40 minggu dihitung dari hari
pertama haid terahir (HPHT)

2. Anamnesis Berhenti menstruasi dengan disertai tanda-tanda tidak


pasti kehamilan seperti:
a. mual dan muntah pada pagi hari
b. pengerasan dan pembesaran mammae

3. Pemeriksaan Fisik 1. Periksa tanda vital ibu (tekanan darah, nadi, suhu,
frekuensi nafas)
2. Ukur berat badan
3. Tinggi badan
4. Lingkar lengan atas (LLA) pada setiap kedatangan.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Tes kehamilan menunjukkan HCG (+)
4. Pemeriksaan darah : Golongan darah ABO dan
Rhesus pada trimester 1, Hb dilakukan pada
trimester 1 dan 3, kecuali bila tampak adanya tanda-
tanda anemia berat.
5. Pemeriksaan lain: kadar glukosa darah dan protein
urin sesuai indikasi.
6. Pada ibu hamil dengan faktor risiko, dianjurkan
untuk dilakukan pemeriksaan: BTA, TORCH
(toxoplasma, rubella, cytomegalo virus, herpes and
others), sifilis, malaria danHIV dilakukan pada
trimester 1 terutama untuk daerah endemik untuk
skrining faktor risiko.
7. USG sesuai indikasi.

5. Diagnosis Kerja Kehamilan Normal (ICD X : O80.9)

6. Diagnosis Banding -

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Tes kehamilan menunjukkan HCG (+)


2. Pemeriksaan darah : Golongan darah ABO dan
Rhesus pada trimester 1, Hb dilakukan pada
trimester 1 dan 3, kecuali bila tampak adanya tanda-
tanda anemia berat.
3. Pemeriksaan lain: kadar glukosa darah dan protein
urin sesuai indikasi.
4. Pada ibu hamil dengan faktor risiko, dianjurkan
untuk dilakukan pemeriksaan: BTA, TORCH
(toxoplasma, rubella, cytomegalo virus, herpes and
others), sifilis, malaria danHIV dilakukan pada
trimester 1 terutama untuk daerah endemik untuk
skrining faktor risiko.
5. USG sesuai indikasi.

8. Terapi 1. Petugas kesehatan harus menyadari, menghormati


dan mengantisipasi bahwa ibu hamil memiliki latar
belakang budaya, kebiasaan dan kepercayaan yang
berbeda yang memungkinkan adanya mitos dan
kebiasaan yang dapat mempengaruhi kesehatan ibu
dan janin, dan bayi baru lahir nanti.
2. Memberikan zat besi dan asam folat (besi 60 mg/hari
dan folat 250 mikogram 1-2 x/hari), bila Hb < 7,0
gr/dl dosis ditingkatkan menjadi dua kali. Apabila
dalam follow up selama 1 bulan tidak ada perbaikan,
dapat dipikirkan kemungkinan penyakit lain
(talasemia, infeksi cacing tambang, penyakit kronis
TBC)
3. Memberikan imunisasi TT (Tetanus Toxoid) apabila
pasien memiliki risiko terjadinya tetanus pada proses
melahirkan dan buku catatan kehamilan

9. Edukasi 1. Penjelasan tentang kahamilan dan persiapan


(Hospital Health persalinan
Promotion) 2. Nutrisi dan cairan yang dibutuhkan untuk ibu hamil
3. Tanda-tanda bahaya yang perlu diwaspadai: sakit
kepala lebih dari biasa, perdarahan per vaginam,
gangguan penglihatan, pembengkakan pada
wajah/tangan, nyeri abdomen (epigastrium), mual
dan muntah berlebihan, demam, janin tidak bergerak
sebanyak biasanya.

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV


12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Obstetri Gynekologi, Mitra Bestari

14. Indikator Medis Pemberian Zat besi dan asam folat

15. Kepustakaan  PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
 Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi
yang disusun oleh Perkumpulan Obstetri Ginekologi
Indonesia Th. 2006
 SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
 Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS
DOKTER SPESIALIS ANAK
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

KEJANG DEMAM (ICD X : R56.0 )


1. Pengertian (Definisi) Kejang Demam (KD) adalah bangkitan kejang yang
terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal > 38°C)
akibat dari suatu proses ekstra kranial. Kejang
berhubungan dengan demam, tetapi tidak terbukti
adanya infeksi intrakranial atau penyebab lain

2. Anamnesis 1. Kejang
2. Demam
3. Riwayat perjalanan penyakit sampai terjadinya
kejang.
4. Kemudian mencari kemungkinan adanya faktor
pencetus atau penyebab kejang.
5. Umumnya kejang demam pada anak dan
berlangsung pada permulaan demam akut, berupa
serangan kejang klonik umum atau tonik klonik,
singkat dan tidak ada tanda-tanda neurologi post
iktal.
6. Penting untuk ditanyakan riwayat kejang
sebelumnya, kondisi medis yang berhubungan, obat-
obatan, trauma, gejala infeksi, keluhan neurologis,
nyeri atau cedera akibat kejang

5. Pemeriksaan Fisik 1. Pemeriksaan tanda-tanda vital, mencari tanda-tanda


trauma akut kepala, dan adanya kelainan sistemik,
terpapar zat toksik, infeksi, atau adanya kelainan
neurologis fokal.
2. Bila terjadi penurunan kesadaran diperlukan
pemeriksaan lanjutan untuk mencari faktor
penyebab.

6. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik

5. Diagnosis Kerja Kejang Demam (ICD X : R56.0 )

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Darah rutin lengkap


2. Gula darah
3. Elektroliti
8. Terapi 1. Parasetamol 3 x ... mg atau Ibuprofen 3 x ....mg
2. Diazepam/luminal 2 x ...mg
3. IVFD

9. Edukasi 1. Penjelasan penyakit


(Hospital Health 2. Gizi bagi pasien.
Promotion) 3. Risiko kekambuhan penyakit yang sama di masa
depan.

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam :,dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Anak, Mitra Bestari

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak
Indonesia Edisi III Th 2011
3. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak Edisi 1
Th 2004, Ikatan Dokter Anak Indonesia
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) (ICD X : A91)


1. Pengertian (Definisi) Infeksi virus dengue merupakan suatu penyakit demam
akut yang disebabkan oleh virus genus Flavavirus,
Family Flaviviridae, mempunyai 4 jenis serotype yaitu
DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4, melalui perantara
nyamuk Aedes Aegypti atau Aedes Albopictus.

2. Anamnesis 1. Demam mendadak tinggi 2-7, tanpa sebab yang jelas


2. Lesu, tidak mau makan dan muntah
3. Nyeri kepala, nyeri otot dan nyeri perut
4. Diare kadang-kadang ditemukan
5. Perdarahan paling sering ditemukan adalah
perdarahan kulit dan mimisan

3. Pemeriksaan Fisik Tanda Patognomonis untuk demam berdarah dengue :


1. Suhu > 37,5 derajat celcius
2. Ptekie, ekimosis, purpura
3. Perdarahan mukosa
4. Rumple Leed (+)
5. Hepatomegali
6. Splenomegali
7. Untuk mengetahui terjadi kebocoran plasma,
diperiksa tanda-tanda efusi pleura dan asites.
8. Hematemesis atau melena

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Hasil pemeriksaan Laboratorium

5. Diagnosis Kerja Demam Berdarah Dengue (ICD X :A91 )

6. Diagnosis Banding 1. Demam karena infeksi virus ( influenza ,


chikungunya, dan lain-lain)
2. Demam tifoid

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Darah rutin lengkap


2. Foto rontgen Thorak RLD
3. AT
4. HMT
5. IgG
6. IgM dengue

8. Terapi 1. Paracetamol
2. IVFD

9. Edukasi 1. Penjelasan penyakit


(Hospital Health 2. Banyak minum
Promotion) 3. Monitor perdarahan

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam :,dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Anak, Mitra bestari

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak
Indonesia Edisi III Th 2011
3. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak Edisi 1
Th 2004, Ikatan Dokter Anak Indonesia.
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

GASTROENTERITIS (ICD X : A09 )


1. Pengertian (Definisi) Peradangan mukosa lambung dan usus halus yang
ditandai dengan diare, yaitu buang air besar lembek atau
cair, dapat bercampur darah atau lender, dengan
frekuensi 3 kali atau lebih dalam waktu 24 jam, dan
disertai dengan muntah, demam, rasa tidak enak di perut
dan menurunnya nafsu makan. Apabila diare > 30 hari
disebut kronis.

2. Anamnesis 1. Buang air besar (BAB) lembek atau cair, dapat


bercampur darah atau lendir, dengan frekuensi 3 kali
atau lebih dalam waktu 24 jam.
2. Dapat disertai rasa tidak nyaman di perut (nyeri atau
kembung)
3. Mual
4. Muntah
5. Tenesmus.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Menentukan tingkat/derajat dehidrasi akibat diare.


2. Tanda-tanda dehidrasi yang perlu diperhatikan
adalah turgor kulit perut menurun, akral dingin,
penurunan tekanan darah, peningkatan denyut nadi,
tangan keriput, mata cekung tidak, penurunan
kesadaran (syok hipovolemik).
3. Nyeri tekan abdomen
4. Kualitas bising usus hiperperistaltik.
5. Cekung ubun-ubun kepala.
6. Pada tanda vital lain dapat ditemukan suhu tubuh
yang tinggi (hiperpireksi), nadi dan pernapasan
cepat.
7. Kering atau tidaknya mukosa mulut, bibir dan lidah.
8. Menimbang berat badan
9. Penilaian derajat dehidrasi :
 Tanpa dehidrasi (kehilangan cairan < 5 % berat
badan)
 Dehidrasi ringan sedang (kehilangan cairan 5-10
% berat badan
 Dehidrasi berat (kehilangan > 10 % berat badan)

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik

5. Diagnosis Kerja Gastroenteritis (ICD X : A09 )

6. Diagnosis Banding 1. Demam tifoid


2. Kriptosporidia (pada penderita HIV)
3. Kolitis pseudomembran

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Darah rutin (lekosit) untuk memastikan adanya


infeksi.
2. Feses lengkap (termasuk analisa mikrobiologi) untuk
menentukan penyebab.

8. Terapi 1. Zink
2. Probiotic
3. Oralit

9. Edukasi 1. Upayakan ASI tetap diberikan


(Hospital Health 2. Kebersihan perorangan, cuci tangan sebelum makan
Promotion) 3. Kebersihan lingkungan, buang air besar di jamban
4. Imunisasi campak
5. Memberikan makanan penyapihan yang benar
6. Penyediaan air minuman yang bersih
7. Selalu memasak makanan.

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam :,dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV


12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Anak, Mitra Bestari

14. Indikator Medis


15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak
Indonesia Edisi III Th 2011
3. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak Edisi 1
Th 2004, Ikatan Dokter Anak Indonesia
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

TUBERKULOSIS PARU (ICD X : A15)


1. Pengertian (Definisi) Penyakit akibat infeksi Mycobacterium tuberculosis.
Penyakit ini bersifat sistematik sehingga dapat mengenai
hamper semua organ yubuh dengan lokasi terbanyak di
paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer.

2. Anamnesis 1. Nafsu makan kurang


2. Berat badan yang sulit naik, menetap atau malah
turun
3. Demam berkepanjangan
4. Batuk kronik lebih dari 3 minggu
5. Pembesaran kelenjar superfisial di daerah leher,
aksial, inguinal atau tempat lain.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Demam (pada umumnya subfebris, walaupun bisa


juga tinggi sekali)
2. Respirasi meningkat
3. Berat badan menurun (BMI pada umumnya <18,5).
4. Pada auskultasi terdengar suara napas
bronkhial/amforik/ ronkhi basah/suara napas
melemah di apex paru, tergantung luas lesi dan
kondisi pasien.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Hasil pemeriksaan laboratorium : Tes Mantoux
positif (+)
4. Hasil foto rontgen toraks : pembesaran kelenjar hilus
atau paratrakeal, konsolidasi segmen/lobus paru,
gambaran milier, kavitas, efusi pleura, atelektasis
atau kalsifikasi.
5. Pemeriksaan mikrobiologik dari bahan sputum.

5. Diagnosis Kerja Tuberkulosis Paru (ICD X : A15)

6. Diagnosis Banding -

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Darah: limfositosis/ monositosis, LED meningkat,


Hb turun.
2. Pemeriksaan mikroskopis kuman TB (Bakteri Tahan
Asam/ BTA) atau kultur kuman dari specimen
sputum/ dahak sewaktu-pagi-sewaktu.
3. Tes tuberkulin (Mantoux test). Pemeriksaan ini
merupakan penunjang utama untuk membantu
menegakkan Diagnosis TB pada anak.
4. Radiologi dengan foto toraks PA-Lateral/ top
lordotik.

8. Terapi 1. Obat TB Paru diberikan secara harian baik pada fase


intensif maupun fase lanjutan
2. OAT KDT pada Anak :
 Berat badan 5 – 9 Kg 2 bulan tiap hari 3 KDT
anak RHZ (75/50/150) 1 tablet, 4 bulan tiap hari
2 KDT anak RH (75/59) 1 tablet
 Berat badan 10 – 14 Kg 2 bulan tiap hari 3 KDT
anak RHZ (75/50/150) 2 tablet, 4 bulan tiap hari
2 KDT anak RH (75/59) 2 tablet
 Berat Berat badan 15 – 19 Kg 2 bulan tiap hari 3
KDT anak RHZ (75/50/150) 3 tablet, 4 bulan
tiap hari 2 KDT anak RH (75/59) 3 tablet
 Berat badan 20 – 32 Kg 2 bulan tiap hari 3 KDT
anak RHZ (75/50/150) 4 tablet, 4 bulan tiap hari
2 KDT anak RH (75/59) 4 tablet
3. Evaluasi foto Rontgen Toraks setelah pengobatan 2
bulan dan 6 bulan.

9. Edukasi 1. Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga


(Hospital Health mengenai seluk beluk penyakit dan pentingnya
Promotion) pengawasan dari salah seorang keluarga untuk
ketaatan konsumsi obat pasien.
2. Kontrol secara teratur.
3. Pola hidup sehat.

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam :,dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Anak, Mitra Bestari

14. Indikator Medis


15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak
Indonesia Edisi III Th 2011
3. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak Edisi 1
Th 2004, Ikatan Dokter Anak Indonesia
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

TYPHOID FEVER (ICD X : A01.0 )


1. Pengertian (Definisi) Penyakit yang disebabkan oleh infeksi sistemik
Salmonella typhi.
2. Anamnesis 1. Demam naik secara bertahap tiap hari
2. Sering mengingau
3. Malaise
4. Letargi
5. Anoreksia
6. Nyeri kepala
7. Nyeri perut
8. Diare atau konstipasi
9. Muntah
10. Perut kembung.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Suhu tinggi.


2. Bau mulut karena demam lama.
3. Bibir kering dan kadang pecah-pecah.
4. Lidah kotor dan ditutup selaput putih (coated
tongue), jarang ditemukan pada anak.
5. Ujung dan tepi lidah kemerahan dan tremor.
6. Nyeri tekan regio epigastrik (nyeri ulu hati).
7. Hepatosplenomegali.
8. Bradikardia relatif (peningkatan suhu tubuh yang
tidak diikuti oleh peningkatan frekuensi nadi).

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Hasil pemeriksaan laboratorium :
 Darah perifer lengkap
Hitung lekosit total menunjukkan leukopeni
(<5000 per mm3), limfositosis relatif,
monositosis, aneosinofilia dan trombositopenia
ringan. Pada minggu ketiga dan keempat dapat
terjadi penurunan hemaglobin akibat perdarahan
hebat dalam abdomen.
 Pemeriksaan serologi Widal
Dengan titer O 1/320 diduga kuat diagnosisnya
adalah demam tifoid. Reaksi widal negatif tidak
menyingkirkan diagnosis tifoid. Diagnosis
demam tifoid dianggap pasti bila didapatkan
kenaikan titer 4 kali lipat pada pemeriksaan ulang
dengan interval 5-7 hari.

5. Diagnosis Kerja Typhoid Fever (ICF X : A01.0)

6. Diagnosis Banding 1. Demam berdarah dengue.


2. Malaria.
3. Leptospirosis.

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Darah rutin lengkap


2. Widal
Dengan titer O 1/320 diduga kuat diagnosisnya
adalah demam tifoid. Reaksi widal negatif tidak
menyingkirkan diagnosis tifoid. Diagnosis demam
tifoid dianggap pasti bila didapatkan kenaikan titer 4
kali lipat pada pemeriksaan ulang dengan interval 5-
7 hari.

8. Terapi Kloramfenikol 50 – 100 mg/kgbb/hari, oral atau IV, 4 x


sehari.
9. Edukasi 1. Penjelasan penyakit
(Hospital Health 2. Gizi
Promotion)
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam :,dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Anak, Mitra bestari

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak
Indonesia Edisi III Th 2011
3. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak Edisi 1 Th
2004, Ikatan Dokter Anak Indonesia
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

VARISELA (ICD X : B01.9)


1. Pengertian (Definisi) Infeksi akut primer oleh virus Varicellazoster yang
menyerang kulit dan mukosa, klinis terdapat gejala
konstitusi, kelainan kulit polimorf, terutama berlokasi di
bagian sentral tubuh.Masa inkubasi 14-21 hari.
Penularan melalui udara (air-borne) dan kontak
langsung

2. Anamnesis 1. Demam
2. Malaise
3. Nyeri kepala.
4. Timbulnya lesi kulit berupa papul eritem yang dalam
waktu beberapa jam berubah menjadi vesikel.
Biasanya disertai rasa gatal yang umumnya muncul
pertama kali di kulit kepala, muka dan dada.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Ruam mula-mula papuler berubah menjadi vesikuler


kemudian menjadi keruh dan dalam waktu 3-5 hari
menjadi krusta.
2. Pada satu saat dapat ditemukan berbagai macam
stadium lesi.
3. Penyebaran terjadi secara sentrifugal, serta dapat
menyerang selaput lendir mata, mulut, dan saluran
napas atas.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik

5. Diagnosis Kerja Varisela (ICD X : B01.9)

6. Diagnosis Banding 1. Variola.


2. Herpes simpleks disseminata.
3. Coxsackievirus.
4. Rickettsialpox.

7. Pemeriksaan Penunjang -

8. Terapi 1. Gesekan kulit perlu dihindari agar tidak


mengakibatkan pecahnya vesikel. Selain itu,
dilakukan pemberian nutrisi TKTP, istirahat dan
mencegah kontak dengan orang lain.
2. Losio kelamin dapat diberikan untuk mengurangi
gatal.
3. Pengobatan antivirus oral, antara lain: Asiklovir: 4 x
20 mg/kgBB (dosis maksimal 800 mg)
4. Pemberian obat tersebut selama 7-10 hari dan efektif
diberikan pada 24 jam pertama setelah timbul lesi

9. Edukasi 1. Edukasi bahwa varisella merupakan penyakit yang


(Hospital Health self-limiting pada anak yang imunokompeten.
Promotion) 2. Komplikasi yang ringan dapat berupa infeksi bakteri
sekunder.
3. Oleh karena itu, pasien sebaiknya menjaga
kebersihan tubuh. Penderita sebaiknya dikarantina
untuk mencegah penularan

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam :,dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Anak< mitra bestari

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak
Indonesia Edisi III Th 2011
3. Standar Pelayanan Media Kesehatan Anak Edisi 1
Th 2004, Ikatan Dokter Anak Indonesia
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

MORBILI (ICD X : B05.9)


1. Pengertian (Definisi) Penyakit virus akut yang disebabkan oleh virus campak.
Penyakit ini sangat infeksius, dapat menular sejak awal
masa prodromal sampai lebih kurang 4 hari setelah
munculnya ruam.

2. Anamnesis 1. Demam tinggi terus menerus 38,5°C atau lebih


2. Batuk
3. Pilek
4. Nyeri telan
5. Mata merah dan silau bila kena cahaya (fotofobia)
6. Pada hari ke 4-5 demam timbul ruam kulit didahului
oleh suhu yang meningkat lebih tinggi dari semula.
7. Diare
8. Sesak nafas atau dehidrasi

3. Pemeriksaan Fisik 1. Demam, konjungtivitis, limfadenopati general.


2. Pada orofaring ditemukan koplik spot sebelum
munculnya eksantem.
3. Gejala eksantem berupa lesi makula dan papula
eritem, dimulai pada kepala pada daerah perbatasan
dahi rambut, di belakang telinga, dan menyebar
secara sentrifugal dan ke bawah hingga muka,
badan, ekstremitas, dan mencapai kaki pada hari
ketiga.
4. Lesi ini perlahan-lahan menghilang dengan urutan
sesuai urutan muncul, dengan warna sisa coklat
kekuningan atau deskuamasi ringan.
5. Eksantem hilang dalam 4-6 hari.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik

5. Diagnosis Kerja Morbili (ICD X : B05.9)

6. Diagnosis Banding 1. Erupsi obat


2. Eksantem virus yang lain (rubella, eksantem
subitum)
3. Demam skarlatina
4. Infectious mononucleosis
5. Infeksi M. pneumoniae.

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Darah rutin lengkap


2. Rontgen thorak

8. Terapi 1. Paracetamol
2. Vitamin A 100.000 IU
3. Talk Salisilik

9. Edukasi 1. Penjelasan penyakit


(Hospital Health 2. Gizi
Promotion)
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam :,dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Anak, Mitra bestari

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak
Indonesia Edisi III Th 2011
3. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak Edisi 1
Th 2004, Ikatan Dokter Anak Indonesia
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

INFEKSI SALURAN KEMIH (ICD X : N39.0)


1. Pengertian (Definisi) Infeksi saluranb kemih karena adanya pertumbuhan
bakteri di dalam saluran kemih, meliputi infeksi di
parenkim ginjal sampai infeksi di kandung kemih.

2. Anamnesis Pada neonatus sampai usia 2 bulan gejalanya menyerupai


gejala sepsis, berupa :
1. Demam
2. Apatis
3. Berat badan tidak naik
4. Muntah
5. Mencret
6. Anoreksia
7. Ikterus
8. Problem minum
9. Sianosis

Pada bayi gejalanya berupa :


1. Demam
2. Berat badan sukar naik atau anoreksia

Pada anak besar gejalanya lebih khas :


1. Sakit waktu miksi
2. Frekuensi miksi meningkat
3. Nyeri perut/pinggang
4. Mengompol
5. Polakisuria atau urin yang berbau menyengat

3. Pemeriksaan Fisik 1. Demam


2. Nyeri ketok sudut kosto – vertebral
3. Nyeri tekan supra simfisis
4. Kelainan pada genetalia eksterna seperti fimosis,
sinekia vulva, hipospadia, epispadia
5. Kelainan pada tulang belakang seperti spina bifida.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan laboratorium : pemeriksaan urinalisis
dapat ditemukan proteinuria, leukosituria (leukosit >
5/LPB), hematuria (eritrosit > 5/LPB).
4. Pemeriksaan USG, foto polos perut
5. Pemeriksaan ureum dan kreatinin serum dilakukan
untuk menilai fungsi ginjal.

6. Diagnosis Kerja Infeksi Saluran Kemih (ICD X : N39.0)

7. Diagnosis Banding 1. Recurrent cystitis


2. Urethritis
3. Pyelonefritis
4. Infeksi Saluran Kemih berkomplikasi
5. Bacterial asymptomatic
6. ISK rekuren

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan laboratorium : pemeriksaan urinalisis


dapat ditemukan proteinuria, leukosituria (leukosit >
5/LPB), hematuria (eritrosit > 5/LPB).
2. Pemeriksaan USG, foto polos perut
3. Pemeriksaan ureum dan kreatinin serum dilakukan
untuk menilai fungsi ginjal.

8. Terapi Antibiotik diberikan secara empirik selama 7 – 10 hari


untuk eradikasi infeksi akut. Dengan jenis dan dosis,
sebagai berikut :
Obat Dosis Frekuensi/
mg/kgBB/hari (umur bayi)
Parenteral
Ampisillin 100 Tiap 12 jam
(bayi <1
minggu)
Tiap 6-8 jam
(bayi >1 minggu
Sefotaksim 150 Dibagi setiap 6
jam
Gentamisin 5 Tiap 12 jam
(bayi <1
minggu)
Tiap 8 jam (bayi
>1 minggu
Seftriakson 75 Sekali sehari
Seftazidim 150 Dibagi setiap 6
jam
Sefazolin 50 Dibagi setiap 8
jam
Tobramisin 5 Dibagi setiap 8
jam
Ticarsilin 100 Dibagi setiap 6
jam
(B) Oral
Rawat jalan, antibiotik oral (pengobatan standar)
Amoksisilin 20-40 q8h
mg/kg/hari
Ampisilin 50 –100 q6h
mg/kg/hari
Augmentin 50 mg/kg/hari q8h
Sefaleksin 50 mg/kg/hari q6-8h (C) Terapi
Profilaksis
Sefiksim 4 mg/kg/hari 1 x malam hari
Nitrofurantoin 6-7 mg/kg/hari 1-2 mg/kg
Sulfisoksazole 120-150 50 mg/kg
Trimetoprim 6-12 mg/kg 2 mg/kg
Sulfametoksazole 30-60 mg/kg 10 mg/kg

Selain pemberian antibiotic, penderita ISK perlu mendapat


asupan cairan yang cukup, perawatan hygiene daerah
perineum dan periuretra, pencegahan kostipasi.

9. Edukasi Keluarga diberikan pemahaman tentang infeksi saluran


(Hospital Health kemih dan hal-hal yang perlu diperhatikan, antara lain:
Promotion) 1. Edukasi tentang usaha preventif adalah tidak menahan
kencing, pemakaian lampin sekali pakai, dan menjaga
hygiene periuretra dan perineum.
2. Waspada terhadap tanda-tanda infeksi saluran kemih
dan pentingnya untuk kontrol kembali.

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Anak, Mitra Bestari

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak
Indonesia Edisi III Th 2011
3. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak Edisi 1 Th
2004, Ikatan Dokter Anak Indonesia
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

BRONKITIS AKUT (ICD X : J20.9)


1. Pengertian (Definisi) Peradangan pada bronkus yang disebabkan oleh infeksi
saluran napas yang ditandai dengan batuk (berdahak
maupun tidak berdahak) dan berlangsung hingga 3
minggu.
Bronkitis akut dapat disebabkan oleh beberapa hal,
yaitu: infeksi virus, yang paling umum influenza A dan
B, parainfluenza, RSV, adenovirus, rhinovirus dan
coronavirus; infeksi bakteri, seperti yang disebabkan
oleh Mycoplasma spesies, Chlamydia pneumoniae,
Streptococcus pneumoniae, Moraxella catarrhalis, dan
Haemophilus influenza.

2. Anamnesis 1. Batuk (berdahak maupun tidak berdahak) selama 2-3


minggu.
2. Dahak dapat berwarna jernih, putih, kekuning-
kuningan atau kehijauan.
3. Keluhan disertai demam (biasanya ringan), rasa berat
dan tidak nyaman di dada.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Demam


2. Batuk (berdahak maupun tidak berdahak)
3. Pada pemeriksaan paru dapat ditemukan:
 Pasien tampak kurus dengan barrel shape chest
(diameter anteroposterior dada meningkat).
 Fremitus taktil dada tidak ada atau berkurang.
 Perkusi dada hipersonor, peranjakan hati
mengecil, batas paru hati lebih rendah, tukak
jantung berkurang.
 Suara nafas berkurang dengan ekpirasi panjang,
terdapat ronki basah kasar yang tidak tetap (dapat
hilang atau pindah setelah batuk), wheezing
dengan berbagai gradasi (perpanjangan ekspirasi
hingga ngik-ngik) dan krepitasi.
4. Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan sputum dengan pengecatan Gram
akan banyak didapat leukosit PMN dan mungkin
pula bakteri.
 Foto thoraks pada bronkitis kronis
memperlihatkan tubular shadow berupa
bayangan garis-garis yang paralel keluar dari
hilus menuju apex paru dan corakan paru yang
bertambah.
 Tes fungsi paru dapat memperlihatkan obstruksi
jalan napas yang reversibel dengan menggunakan
bronkodilator.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Sesuai kriteria pemeriksaan penunjang

5. Diagnosis Kerja Bronkitis Akut (ICD X : J20.9)

6. Diagnosis Banding 1. Epiglotitis


2. Bronkiolitis
3. Influenza.
4. Sinusitis
5. PPOK.
6. Faringitis
7. Asma
8. Bronkiektasis

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan sputum dengan pengecatan Gram akan


banyak didapat leukosit PMN dan mungkin pula
bakteri.
2. Foto thoraks pada bronkitis kronis memperlihatkan
tubular shadow berupa bayangan garis-garis yang
paralel keluar dari hilus menuju apex paru dan
corakan paru yang bertambah.
3. Tes fungsi paru dapat memperlihatkan obstruksi
jalan napas yang reversibel dengan menggunakan
bronkodilator.

8. Terapi 1. Oksigenasi pasien harus memadai.


2. Istirahat yang cukup.
3. Pemberian obat antitusif (penekan batuk): DMP
(dekstromethorfan) 15 mg, diminum 2-3 kali sehari.
Kodein (obat Doveri) dapat diberikan 10 mg,
diminum 3 x/hari, bekerja dengan menekan batuk
pada pusat batuk di otak. Antitusif tidak dianjurkan
pada kehamilan, ibu menyusui dan anak usia 6 tahun
ke bawah. Pada penderita bronkitis akut yang disertai
sesak napas, pemberian antitusif perlu umpan balik
dari penderita. Jika penderita merasa tambah sesak,
maka antitusif dihentikan.
4. Pemberian ekspektoran (obat batuk pengencer
dahak) yang lazim digunakan di antaranya: GG
(Glyceryl Guaiacolate), bromheksin, ambroksol, dan
lain-lain.
5. Antipiretik (pereda panas): parasetamol
(asetaminofen), dan sejenisnya, digunakan jika
penderita demam.
6. Bronkodilator (melonggarkan napas), diantaranya:
salbutamol, terbutalin sulfat, teofilin, aminofilin, dan
lain-lain. Obat-obat ini digunakan pada penderita
yang disertai sesak napas atau rasa berat bernapas,
sehingga obat ini tidak hanya untuk obat asma, tetapi
dapat juga untukbronkitis. Efek samping obat
bronkodilator perlu diketahui pasien, yakni:
berdebar, lemas, gemetar dan keringat dingin.
7. Antibiotika hanya digunakan jika dijumpai tanda-
tanda infeksi oleh kuman berdasarkan pemeriksaan
dokter. Antibiotik yang dapat diberikan antara lain:
ampisilin, eritromisin, atau spiramisin, 3 x 500
mg/hari.
8. Terapi lanjutan: jika terapi antiinflamasi sudah
dimulai, lanjutkan terapi hingga gejala menghilang
paling sedikit 1 minggu. Bronkodilator juga dapat
diberikan jika diperlukan.

9. Edukasi 1. Mendukung perbaikan penderita dalam aktivitas


(Hospital Health sehari-hari sesuai dengan pola kehidupannya.
Promotion) 2. Memotivasi keluarga pasien untuk tidak merokok
dalam lingkungan rumah, menghindari iritan lainnya
yang dapat terhirup, mengontrol suhu dan
kelembaban lingkungan, nutrisi yang baik, dan
cairan yang adekuat.
3. Mengidentifikasi gejala efek samping obat, seperti
bronkodilator dapat menimbulkan berdebar, lemas,
gemetar dan keringat dingin.
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam :,dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Anak, mitra bestari


14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak
Indonesia Edisi III Th 2011
3. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak Edisi 1 Th
2004, Ikatan Dokter Anak Indonesia
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

PNEUMONIA (ICD X : J18.9)


1. Pengertian (Definisi) suatu peradangan/ inflamasi parenkim paru, distal dari
bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus
respiratorius dan alveoli, sertamenimbulkan konsolidasi
jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat.
Pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri,
virus, jamur, parasit). Pneumonia yang dimaksud di sini
tidak termasuk dengan pneumonia yang disebabkan oleh
Mycobacteriumtuberculosis.

2. Anamnesis 1. Demam tinggi


2. Batuk
3. Gelisah
4. Rewel dan sesak nafas.
5. Pada bayi, gejalanya tidak khas, seringkali tanpa
demam dan batuk.
6. Pada anak besar kadang mengeluh nyeri kepala, nyeri
abdomen disertai muntah.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Pada Neonatus sering dijumpai : takipneu, retraksi


dinding dada, grunting dan sianosis.
2. Bayi-bayi yang lebih tua jarang ditemukan grunting.
Gejala yang sering terlihat adalah takipneu, retraksi,
sianosis, batuk, panas dan iritabel.
3. Pada anak pra sekolah, gejala yang sering terjadi
adalah : demam, batuk (non produktif/produktif),
takipneu dan dispneu yang ditandai dengan retraksi
dinding dada.
4. Pada anak sekolah dan remaja, dapat dijumpai panas,
batuk (non produktif/produktif), nyeri dada, nyeri
kepala, dehidrasi dan letargi. Dull (redup) pada
perkusi, vocal fremitus menurun, suara napas
menurun dan tyerdengar fine crackles (ronki basah
halus) di daerah yang terkena.
5. Pada semua kelompok umur, akan dijumpai adanya
napas cuping hidung.
6. Foto rontgen toraks proyeksi posterior-anterior
merupakan dasar diagnosis
7. Pemeriksaan laboratorium darah lengkap.
4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Sesuai hasil pemeriksaan penunjang : laboratorium
lengkap dan foto rentegn toraks.

5. Diagnosis Kerja Pneumonia (ICD X : J18.9)

6. Diagnosis Banding 1. Bronkitis Akut


2. Pleuritis eksudatif karena TB
3. Ca paru
4. Infark paru

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Darah Rutin Lengkap


2. Rontgen Thorak

8. Terapi 1. Ampisilin 4 x ....mg


2. Kloramphenicol 4 x ....mg

9. Edukasi 1. Penjelasan Penyakit


(Hospital Health 2. Gizi
Promotion)
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam :,dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Anak, Mitra Bestari

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak
Indonesia Edisi III Th 2011
3. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak Edisi 1 Th
2004, Ikatan Dokter Anak Indonesia
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th
PANDUAN PRAKTIK KLINIS
DOKTER SPESIALIS PENYAKIT
DALAM
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

TYPOID FEVER (ICD X : A01.0)


1. Pengertian (Definisi) Penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan kuman
salmonella typhy.
2. Anamnesis 1. Demam turun naik terutama sore dan malam hari
lebih dari 1 minggu
2. Sakit kepala (pusing-pusing) yang sering dirasakan
di area frontal
3. Nyeri otot
4. Pegal-pegal
5. Insomnia
6. Anoreksia
7. Mual, muntah
8. Gangguan gastrointestinal berupa konstipasi dan
meteorismus atau diare
9. Nyeri abdomen
10. BAB berdarah

3. Pemeriksaan Fisik 1. Suhu tinggi.


1. Bau mulut karena demam lama.
2. Bibir kering dan kadang pecah-pecah.
3. Lidah kotor dan ditutup selaput putih (coated
tongue), jarang ditemukan pada anak.
4. Ujung dan tepi lidah kemerahan dan tremor.
5. Nyeri tekan regio epigastrik (nyeri ulu hati).
6. Hepatosplenomegali.
7. Bradikardia relatif (peningkatan suhu tubuh yang
tidak diikuti oleh peningkatan frekuensi nadi).

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik.
3. Hasil pemeriksaan laboratorium :
 Darah perifer lengkap
Hitung lekosit total menunjukkan leukopeni
(<5000 per mm3), limfositosis relatif,
monositosis, aneosinofilia dan trombositopenia
ringan. Pada minggu ketiga dan keempat dapat
terjadi penurunan hemaglobin akibat perdarahan
hebat dalam abdomen.
 Pemeriksaan serologi Widal
Dengan titer O 1/320 diduga kuat diagnosisnya
adalah demam tifoid. Reaksi widal negatif tidak
menyingkirkan diagnosis tifoid. Diagnosis
demam tifoid dianggap pasti bila didapatkan
kenaikan titer 4 kali lipat pada pemeriksaan ulang
dengan interval 5-7 hari.

5. Diagnosis Kerja Typhoid Fever (ICD X : A01.0)

6. Diagnosis Banding 1. Demam berdarah dengue (ICD X : A90)


2. Malaria (ICD X : B54)
3. Leptospirosis (ICD X : A27.9)

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Darah perifer lengkap (ICD IX CM : 90.59)


Hitung lekosit total menunjukkan leukopeni (<5000
per mm3), limfositosis relatif, monositosis,
aneosinofilia dan trombositopenia ringan. Pada
minggu ketiga dan keempat dapat terjadi penurunan
hemaglobin akibat perdarahan hebat dalam abdomen.
2. Pemeriksaan serologi widal (ICD IX CM : 90.59)
Dengan titer O 1/320 diduga kuat diagnosisnya
adalah demam tifoid. Reaksi widal negatif tidak
menyingkirkan diagnosis tifoid. Diagnosis demam
tifoid dianggap pasti bila didapatkan kenaikan titer 4
kali lipat pada pemeriksaan ulang dengan interval 5-
7 hari. Laboratorium darah perifer lengkap,
pemeriksaan serologi widal

8. Terapi 1. Istirahat tirah baring dan mengatur tahapan


mobilisasi.
2. Diet tinggi kalori dan tinggi protein.
3. Konsumsi obat-obatan secara rutin dan tuntas.
4. Kontrol dan monitor tanda vital (tekanan darah, nadi,
suhu, kesadaran), kemudian dicatat dengan baik di
rekam medik pasien.
5. Terapi simptomatik untuk menurunkan demam
(antipiretik) dan mengurangi keluhan
gastrointestinal.
6. Terapi definitif dengan pemberian antibiotik.
Antibiotik lini pertama untuk demam tifoid adalah
kloramfenikol, ampisilin atau amoksisilin (aman
untuk penderita yang sedang hamil), atau
trimetroprim-sulfametoxazole (kotrimoksazol).
7. Kasus yang berat bisa memakai sefalosporin generasi
ke 3.
9. Edukasi 1. Pengobatan dan perawatan serta aspek lain dari
(Hospital Health demam tifoid yang harus diketahui pasien dan
Promotion) keluarganya.
2. Diet, pentahapan mobilisasi, dan konsumsi obat
sebaiknya diperhatikan atau dilihat langsung oleh
dokter, dan keluarga pasien telah memahami serta
mampu melaksanakan.
3. Tanda-tanda kegawatan harus diberitahu kepada
pasien dan keluarga supaya bisa segera dibawa ke
rumah sakit terdekat untuk perawatan

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam :,dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis dr. Spesialis Penyakit Dalam, Mitra Bestari

14. Indikator Medis Bebas demam 24 jam.

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

ACUTE MYOCARDIAL INFARCTION, UNSPECIFIED (ICD X : I21.9)


1. Pengertian (Definisi) Perkembangan yang cepat dari nekrosis otot jantung
yang disebabkan oleh ketidakseimbangan yang kritis
antara suplai oksigen dan kebutuhan miokardium. Ini
biasanya merupakan hasil dari ruptur plak dengan
trombus dalam pembuluh darah koroner, mengakibatkan
kekurangan suplai darah ke miokardium.

2. Anamnesis 1. Nyeri dada retrosternum seperti tertekan atau


tertindih benda berat.
2. Nyeri menjalar ke dagu, leher, tangan, punggung, dan
epigastrium. Penjalaran ke tangan kiri lebih sering
terjadi.
3. Disertai gejala tambahan berupa sesak, mual muntah,
nyeri epigastrium, keringat dingin, dan anxietas.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Pasien biasanya terbaring dengan gelisah dan


kelihatan pucat
2. Hipertensi/hipotensi
3. Dapat terdengar suara murmur dan gallop S3
4. Ronki basah disertai peningkatan vena jugularis
dapat ditemukan pada AMI yang disertai edema paru
5. Sering ditemukan aritmia

4. Kriteria Diagnosis 1. Klinis : nyeri dada khas angina.


2. EKG : ST elevasi atau ST depresi atau T inverted.
3. Laboratorium : peningkatan enzim jantung.

5. Diagnosis Kerja Acute Myocardial Infarction, Unspecified


(ICD X : 121.9)

6. Diagnosis Banding 1. Angina pectoris prinzmetal


2. Unstable angina pectoris
3. Ansietas
4. Diseksi aorta
5. Dispepsia
6. Miokarditis
7. Pneumothoraks
8. Emboli paru
7. Pemeriksaan Penunjang EKG:
1. Pada STEMI, terdapat elevasi segmen ST diikuti
dengan perubahan sampai inversi gelombang T,
kemudian muncul peningkatan gelombang Q
minimal di dua sadapan.
2. Pada NSTEMI, EKG yang ditemukan dapat berupa
depresi segmen ST dan inversi gelombang T, atau
EKG yang normal.

Laboratorium (dilakukan di layanan rujukan):


Peningkatan kadar enzim atau isoenzim merupakan
indikator spesifik infark miokard akut, CKMB.

8. Terapi - Tata Laksana pemberian MONACO:


M : Morfin, 2,5-5 mg IV
O : Oksigen 2-4 L/m
N : Nitrat, bisa diberikan nitrogliserin infus dengan
dosis mulai
dari 5 mcg/m (titrasi) atau ISDN 5-10 mg
sublingual
maksimal 3 kali
A : Aspirin, dosis awal 160-320 mg dilanjutkan dosis
Pemeliharaan 1 x 160 mg
CO : Clopidogrel, dosis awal 300-600 mg,
dilanjutkan dosis
Pemeliharaan 1 x 75 mg
- infus dan oksigen
- Antikoagulan: Heparin 20.000-40.000 U/24 jam IV
tiap 4-6 jam
- Streptokinase/trombolisis
- PCI (Percutaneous coronary intervention)  refer.
- Pemeriksaan Penunjang Lanjutan (bila diperlukan):
EKG serial

9. Edukasi Edukasi untuk mengendalikan faktor risiko, teratur


(Hospital Health kontrol ke dokter untuk terapi lanjutan.
Promotion)
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C


13. Penelaah Kritis dr. Spesialis Penyakit Dalam, Mitra Bestari

14. Indikator Medis Aspirin on arrival

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

ASMA BRONKIAL (ICD X : J 45)


1. Pengertian (Definisi) Gangguan inflamasikronik saluran napas yang
melibatkan banyak sel inflamasi dan mediator.
Inflamasikronik menyebabkan peningkatan
hiperesponsif jalan napas terhadap bermacam-macam
stimulus dan penyempitan jalan napas yang
menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi,
sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama
pada malam dan atau dini hari. Derajat penyempitan
bervariasi yang dapat membaik secara spontan dengan
pengobatan.

2. Anamnesis 1. Sesak napas yang episodik.


2. Batuk-batuk berdahak yang sering memburuk pada
malamdan pagi hari menjelang subuh. Batuk
biasanya terjadi kronik.
3. Mengi.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Sesak napas.


2. Mengi pada auskultasi.
3. Pada serangan berat digunakan otot bantu napas
(retraksi supraklavikula, interkostal, dan
epigastrium).

4. Kriteria Diagnosis 1. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan penunjang, yaitu terdapat kenaikan≥15
% rasio APE sebelum dan sesudah pemberian
inhalasi salbutamol.

5. Diagnosis Kerja ASMA BRONKIAL (ICD X : J 45)

6. Diagnosis Banding 1. Obstruksi jalan napas.


2. Bronkitis kronik.
3. Bronkiektasis.

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Arus Puncak Ekspirasi (APE) menggunakan Peak


Flowmeter
2. Pemeriksaan darah (eosinofil dalam darah)
3. Fototoraks
4. Uji sensitifitas kulit
5. Spirometri
6. Uji Provokasi Bronkus

8. Terapi 1. Oksigen
2. Bronkodilator
 Adrenalin atau golongan beta 2 agonis, dapat
dikombinasi dengan golongan xantin (aminofilin)
 Golongan antikolinergik (untuk asma kronik)
 Kortikosteroid injeksi untuk serangan akut, tablet
atau inhalasi untuk asma kronik
 Sodium kromoglikat (jika pencetus diketahui),
untuk pencegahan serangan.
3. Antibiotik, mukolitik, ekspektoran atas indikasi
4. Fisioterapi
5. Catatan :
 B₂ agonis dan kortikosteroid inhalasi merupakan
pilihan utama
 Obat oral digunakan bila obat inhalasi tidak dapat
dipakai pada hal-hal tertentu
 Adrenalin sebaiknya tidak diberikan pada orang
tua atau kelainan jantung
9. Edukasi 1. Memberikan informasi kepada individu dan keluarga
(Hospital Health mengenai seluk beluk penyakit, sifatpenyakit,
Promotion) perubahan penyakit (apakah membaik atau
memburuk), jenis dan mekanisme kerja obat-obatan
dan mengetahui kapan harus meminta pertolongan
dokter.
2. Kontrol secara teratur antara lain untuk menilai dan
monitor berat asma secara berkala (asthma control
test/ ACT)
3. Pola hidup sehat.
4. Menjelaskan pentingnya melakukan pencegahan
dengan:
 Menghindari setiap pencetus.
 Menggunakan bronkodilator/steroid inhalasi
sebelum melakukan exercise untuk mencegah
exercise induced asthma.

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV


12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis dokter spesialis penyakit dalam, Mitra Bestari

14. Indikator Medis B₂ agonis dan kortikosteroid inhaler

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

HIPERTENSI ESENSIAL DAN KRISIS HIPERTENSI (ICD X : I10)


1. Pengertian (Definisi) Kondisi terjadinya peningkatan tekanan darah sistolik
lebih dari ≥ 140 mmHg dan atau diastolik ≥ 90 mmHg.

2. Anamnesis 1. Sakit/nyeri kepala


2. Gelisah
3. Jantung berdebar-debar
4. Pusing
5. Leher kaku
6. Penglihatan kabur
7. Rasa sakit di dada.
8. Keluhan tidak spesifik antara lain tidak nyaman
kepala, mudah lelah dan impotensi.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan umum tampak sehat, dapat terlihat sakit


ringan-berat.
2. Tekanan darah meningkat (sesuai kriteria JNC VII).
3. Nadi tidak normal.
4. Pada pasien dengan hipertensi, wajib diperiksa status
neurologis, akral, dan pemeriksaan fisik jantungnya
(JVP, batas jantung, dan rochi).

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Urinalisis (proteinuri atau albuminuria)
4. Tes gula darah
5. Tes kolesterol (profil lipid)
6. Ureum kreatinin
7. Funduskopi
8. EKG
9. Foto thoraks

5. Diagnosis Kerja Hipertensi Esensial dan Krisis Hipertensi (ICD X : I10)

6. Diagnosis Banding 1. Proses akibat white coat hypertension.


2. Proses akibat obat.
3. Nyeri akibat tekanan intraserebral.
4. Ensefalitis.
7. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan Laboratorium : Urinalisis (proteinuri
atau albuminuria), tes gula darah, tes kolesterol
(profil lipid), ureum kreatinin
2. Funduskopi
3. EKG
4. Foto thoraks.

8. Terapi Hipertensi tanpa compelling indication


1. Hipertensi stage-1 dapat diberikan diuretik (HCT
12.5-50 mg/hari, furosemid 2x20-80 mg/hari), atau
pemberian penghambat ACE (captopril 2x25-100
mg/hari atau enalapril 1-2 x 2,5-40 mg/hari),
penyekat reseptor beta (atenolol 25-100mg/hari dosis
tunggal),
2. Penghambat kalsium (diltiazem extended
release1x180-420 mg/hari, amlodipin 1x2,5-10
mg/hari, atau nifedipin long acting30-60 mg/hari)
atau kombinasi.
Hipertensi stage-2.
1. Bila target terapi tidak tercapai setelah observasi
selama 2 minggu,dapat diberikan kombinasi 2 obat,
biasanya golongan diuretik, tiaziddan penghambat
ACE atau antagonis reseptor AII (losartan1-2 x 25-
100 mg/hari) atau penyekat reseptor beta atau
penghambat kalsium.
2. Pemilihan anti hipertensi didasarkan ada tidaknya
kontraindikasidari masing-masing antihipertensi
diatas.Sebaiknya pilih obathipertensi yang diminum
sekali sehari atau maksimum 2 kali sehari.
Hipertensi compelling indication (lihat tabel) Bila target
tidak tercapai maka dilakukan optimalisasi dosis atau
ditambahkan obat lain sampai target tekanan darah
tercapai(kondisi untuk merujuk ke Spesialis).

Hipertensi Emergensi/Urgensi
Hipertensi Emergensi/ krisis ditarget tensi turun pada 1-2
jam pertama dengan target penurunan 20-40 mmHg.
Hipertensi Urgensi ditarget tensi turun pada 24 jam
pertama dengan target penurunan 20-40 mmHg
Obat yang bisa menjadi pilihan :
1. Nitrat (IV)
2. CCB (IV)
3. ACE inhibitor/ ARB
4. Diuretik : Tiazid
5. Beta blocker
6. Calcium channel blocker
7. Alpha blocker
8. Central blocker
9. MRA
10. Vasodilator direk
9. Edukasi 1. Edukasi individu dan keluarga tentang pola hidup
(Hospital Health sehat untuk mencegah dan mengontrol hipertensi
Promotion) seperti:
 Gizi seimbang dan pembatasan gula, garam dan
lemak (Dietary Approaches To Stop
Hypertension).
 Mempertahankan berat badan dan lingkar
pinggang ideal.
 Gaya hidup aktif/olah raga teratur.
 Stop merokok.
 Membatasi konsumsi alkohol (bagi yang minum).

2. Edukasi tentang cara minum obat di rumah,


perbedaan antara obat-obatan yang harus diminum
untuk jangka panjang (misalnya untuk mengontrol
tekanan darah) dan pemakaian jangka pendek untuk
menghilangkan gejala (misalnya untuk mengatasi
mengi), cara kerja tiap-tiap obat, dosis yang
digunakan untuk tiap obat dan berapa kali minum
sehari.
3. Penjelasan penting lainnya adalah tentang pentingnya
menjaga kecukupan pasokan obat-obatan dan minum
obat teratur seperti yang disarankan meskipun tak
ada gejala.
10. Kontra Prognosis Prognosis umumnya bonam apabila terkontrol

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Mitra Bestari

14. Indikator Medis 1. Stop smoking education


2. Dietary education
15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

DIABETES MELITUS (ICD X : E11)


1. Pengertian (Definisi) Gangguan metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia
akibat efek pada kerja insulin (resistensi insulin) dan
sekresi insulin atau kedua-duanya.

2. Anamnesis 1. Polifagia
2. Poliuri
3. Polidpsi
4. Penurunan berat badan yang tidaj jelas sebabnya
5. Lemah
6. Kesemutan (rasa baal di ujung-ujung ekstremitas
7. Gatal
8. Mata kabur
9. Disfungsi ereksi pada pria
10. Pruritus vulvae pada wanita
11. Luka yang sulit sembuh

3. Pemeriksaan Fisik 1. Penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya


2. Faktor Predisposisi
a. Usia > 45 tahun
b. Diet tinggi kalori dan lemak
c. Aktifitas fisik yang kurang
d. Hipertensi ( TD ≥ 140/90 mmHg )
e. Riwayat toleransi glukosa terganggu (TGT) atau
glukosa darah puasa terganggu (GDPT)
f. Penderita penyakit jantung koroner, tuberkulosis,
hipertiroidisme
g. Dislipidemia

4. Kriteria Diagnosis 1. Gejala klasik DM (poliuria, polidipsia, polifagi) +


glukosa plasma sewaktu ≥ 200 mg/dL (11.1
mmol/L). Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil
pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa
memperhatikan waktu makan terakhir. ATAU
2. Gejala Klasik DM+ Kadar glukosa plasma puasa ≥
126 mg/dl. Puasa diartikan pasien tidak mendapat
kalori tambahan sedikitnya 8 jam ATAU
3. Kadar glukosa plasma 2 jam pada tes toleransi
glukosa terganggu (TTGO) > 200 mg/dL (11.1
mmol/L) TTGO dilakukan dengan standard WHO,
menggunakan beban glukosa anhidrus 75 gram yang
dilarutkan dalam air.

5. Diagnosis Kerja Diabetes Melitus (ICD X : E11)

6. Diagnosis Banding Diabetes insipidus pada ibu hamil


7. Pemeriksaan Penunjang 1. Gula Darah Puasa
2. Gula Darah 2 jam Post Prandial

8. Terapi 1. Terapi untuk Diabetes Melitus dilakukan dengan


modifikasi gaya hidup dan pengobatan (algoritma
pengelolaan DM tipe 2)
2. Penatalaksanaan DMG sebaiknya dilaksanakan
secara terpadu oleh spesialis penyakit dalam,
spesialis obstetri ginekologis, ahli diet, dan spesialis
anak. Tujuan penatalaksanaan adalah menurunkan
angka kesakitan dan kematian ibu, kesakitan dan
kematian perinatal. Ini hanya dapat dicapai apabila
keadaan normoglikemia dapat dipertahankan selama
kehamilan sampai persalinan.
3. Sasaran normoglikemia DMG adalah kadar GDP ≤
95 mg/dl dan 2 jam sesudah makan ≤ 120 mg/dl.
Apabila sasaran glukosa darah tidak tercapai dengan
pengaturan makan dan latihan jasmani, langsung
diberikan insulin.
4. Ibu hamil dengan DMG perlu dilakukan skrining DM
pada 6-12 minggu pasca melahirkan dan skrining
DM lanjutan untuk melihat perkembangan ke arah
DM atau pre-diabetes.
5. Cara Pemberian OHO, terdiri dari:
a. OHO dimulai dengan dosis kecil dan
ditingkatkan secara bertahapsesuai respons kadar
glukosa darah, dapat diberikansampai dosis
optimal.
b. Sulfonilurea: 15 –30 menit sebelum makan.
c. Repaglinid, Nateglinid: sesaat sebelum makan.
d. Metformin : sebelum/pada saat/sesudah makan.
e. Penghambat glukosidase (Acarbose): bersama
makan suapan pertama.
f. Tiazolidindion: tidak bergantung pada jadwal
makan.
g. DPP-IV inhibitor dapat diberikan bersama makan
dan atau sebelum makan.
9. Edukasi 1. Pemahaman tentang penyakit DM.
(Hospital Health 2. Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan
Promotion) DM.
3. Penyulit DM.
4. Intervensi farmakologis.
5. Hipoglikemia.
6. Masalah khusus yang dihadapi.
7. Cara mengembangkan sistem pendukung dan
mengajarkan keterampilan.
8. Cara mempergunakan fasilitas perawatan kesehatan.
9. Pemberian obat jangka panjang dengan kontrol
teratur setiap 2 minggu/1 bulan.

10. Kontra Prognosis Ad Vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam : dubia ad malam
Ad Fungsionam : dubia ad malam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Mitra Bestari

14. Indikator Medis Edukasi kondisi hipoglikemia

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

GASTRITIS (ICD X : K29.7)


1. Pengertian (Definisi) Proses inflamasi/peradangan pada lapisan mukosa dan
submukosa lambung sebagai mekanisme proteksi
mukosa apabila terdapat akumulasi bakteri atau bahan
iritan lain. Proses inflamasi dapat bersifat akut, kronis,
difus, atau lokal.

2. Anamnesis 1. Rasa nyeri dan panas seperti terbakar pada perut


bagian atas.
2. Mual
3. Muntah
4. Kembung.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Nyeri tekan epigastrium dan bising usus meningkat.


2. Bila terjadi proses inflamasi berat, dapat ditemukan
pendarahan saluran cerna berupa hematemesis dan
melena.
3. Biasanya pada pasien dengan gastritis kronis,
konjungtiva tampak anemis.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai dengan kriteria anamnesis


2. Sesuai dengan kriteria pemeriksaan fisik

5. Diagnosis Kerja Gastritis (ICD X : K29.7)

6. Diagnosis Banding 1. Kolesistitis


2. Kolelitiasis
3. Chron disease
4. Kanker lambung
5. Gastroenteritis
6. Limfoma
7. Ulkus peptikum
8. Sarkoidosis
9. GERD

7. Pemeriksaan Penunjang Tidak diperlukan, kecuali pada gastritis kronis dengan


melakukan pemeriksaan:
1. Darah rutin.
2. Untuk mengetahui infeksi Helicobacter pylori:
pemeriksaan breathe test dan feses.
3. Rontgen dengan barium enema.
4. Endoskkopi

8. Terapi 1. H2 Bloker2 x/hari (Ranitidin 150 mg/kali, Famotidin


20 mg/kali, Simetidin 400-800 mg/kali)
2. PPI 2x/hari (Omeprazole 20 mg/kali, Lansoprazole
30 mg/kali)
3. Antasida dosis 3 x 500-1000 mg/hr.
9. Edukasi 1. Menginformasikan kepada pasien untuk menghindari
(Hospital Health pemicu terjadinya keluhan, antara lain dengan makan
Promotion) tepat waktu, makan sering dengan porsi kecil dan
hindari dari makanan yang meningkatkan asam
lambung atau perut kembung seperti kopi, the,
makanan pedas dan kol
2. Menginformasikan pasien dan keluarga mengenai
faktor risiko terjadinya gastritis.

10. Kontra Prognosis Ad Vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam : dubia ad malam
Ad Fungsionam : dubia ad malam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis dokter spesialis penyakit dalam, Mitra Bestari

14. Indikator Medis Pemberian H₂ Bloker atau PPI

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

DENGUE HAEMORRAGIC FEVER (ICD X : A91)


1. Pengertian (Definisi) Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus Dengue.

2. Anamnesis 1. Demam bifasik akut 2-7 hari


2. Nyeri kepala
3. Nyeri retroorbital
4. Mialgia/atralgia
5. Ruam
6. Gusi berdarah
7. Mimisan
8. Nyeri perut
9. Mual/muntah
10. Hematemesis
11. Dan dapat juga melena.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Suhu > 37,5 derajat celcius


2. Ptekie, ekimosis, purpura
3. Perdarahan mukosa
4. Rumple Leed (+)
5. Hepatomegali
6. Splenomegali
7. Untuk mengetahui terjadi kebocoran plasma,
diperiksa tanda-tanda efusi pleura dan asites.
8. Hematemesis atau melena

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai dengan kriteria anamnesis


2. Sesuai dengan kriteria pemeriksaan fisik
3. Trombositopenia (Trombosit <100.000/ml)
ditemukan pada Demam Berdarah Dengue

5. Diagnosis Kerja Dengue Haemorragic Fever (ICD X : A91)

6. Diagnosis Banding 1. Demam karena infeksi virus ( influenza ,


chikungunya, dan lain-lain)
2. Demam tifoid

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan Laboratorium :


 DL
 SGOT/SGPT
 Urinalisa
 Igg/IGM
2. USG

8. Terapi 1. Cairan NaCl 0,9 %/RL


2. Paracetamol 3 x 500 mg oral
3. Paracetamol 1000 mg infus
4. Ranitidine 150 mg 2x1 ampul IV
5. Ondansentron 4 mg 2x1 ampul IV
6. Metoclopramide 10 mg 3x1 tablet
7. Curcuma 3x1 tablet oral

9. Edukasi 1. Prinsip konseling pada demam berdarah dengue


(Hospital Health adalah memberikan pengertian kepada pasien dan
Promotion) keluarganya tentang perjalanan penyakit dan tata
laksananya, sehingga pasien dapat mengerti bahwa
tidak ada obat/medikamentosa untuk penanganan
DBD, terapi hanya bersifat suportif dan mencegah
perburukan penyakit. Penyakit akan sembuh sesuai
dengan perjalanan alamiah penyakit.
2. Modifikasi gaya hidup
 Melakukan kegiatan 3M menguras, mengubur,
menutup.
 Meningkatkan daya tahan tubuh dengan
mengkonsumsi makanan bergizi dan melakukan
olahraga secara rutin.

10. Kontra Prognosis Ad Vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam : dubia ad malam
Ad Fungsionam : dubia ad malam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis dokter spesialis penyakit dalam, Mitra Bestari

14. Indikator Medis Trombosit > 100.000 setelah hari ke 6

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

HEPATITIS (ICD X : K75.9)


1. Pengertian (Definisi) Adalah sebuah kondisi penyakit infeksi akut di liver
yang disebabkan oleh sebuah virus RNA yang
disebarkan melalui rute fecal oral. Periode inkubasi rata-
rata 28 hari (15 – 50 hari). Lebih dari 75% orang
dewasasimtomatik, sedangkanpadaanak < 6 tahun 70%
asimtomatik.

2. Anamnesis 1. Demam
2. Mata dan kulit kuning
3. Penurunan nafsu makan
4. Nyeri otot dan sendi
5. Lemah, letih, lesu.
6. Mual, muntah
7. Warna urine seperti teh
8. Tinja seperti dempul

3. Pemeriksaan Fisik 1. Febris,


2. Sclera ikterik, jaundice,
3. Hepatomegali,
4. Warna urine seperti teh
5. Tinja seperti dempul.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai dengan kriteria anamnesis


2. Sesuai dengan kriteria pemeriksaan fisik
3. Peningkatan kadar bilirubin dalam darah, kadar
SGOT dan SGPT ≥ 2x nilai normal tertinggi
4. Petanda Hepatitis Virus seperti IgM anti HAV untuk
Hepatitis Virus A, HBs Ag. IgM anti HBc untuk
hepatitis virus B. Anti HVC untuk Hepatitis C

5. Diagnosis Kerja Hepatitis (ICD X : K75.9)

6. Diagnosis Banding 1. Kolesistitis


2. Abseshepar
3. Sirrosishepar
4. Hepatitis virus lainnya

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Tes laboratorium urin (bilirubin di dalam urin)


2. Pemeriksaan darah : peningkatan kadar bilirubin
dalam darah, kadar SGOT dan SGPT ≥ 2x nilai
normal tertinggi.
3. Petanda Hepatitis Virus seperti IgM anti HAV untuk
Hepatitis Virus A, HBs Ag. IgM anti HBc untuk
hepatitis virus B. Anti HVC untuk Hepatitis C

8. Terapi 1. Asupan kalori dan cairan yang adekuat


2. Tirah baring
3. Tata laksana Farmakologi sesuai dengan gejala yang
dirasakan oleh pasien:
Antipiretik bila demam; ibuprofen 2x400mg/hari.
Apabila ada keluhan gastrointestinal, seperti:
 Mual : Antiemetik seperti Metoklopropamid
3x10 mg/hari atau Domperidon 3x10mg/hari.
 Perut perih dan kembung : H2 Bloker (Simetidin
3x200 mg/hari atau Ranitidin 2x 150mg/hari)
atau Proton Pump Inhibitor (Omeprazol 1 x 20
mg/hari).

9. Edukasi 1. Sanitasi dan higiene mampu mencegah penularan


(Hospital Health virus.
Promotion) 2. Vaksinasi Hepatitis A diberikan kepada orang-orang
yang berisiko tinggi terinfeksi.
3. Keluarga ikut menjaga asupankaloridancairan yang
adekuat, dan membatasi aktivitasfisik pasien selama
fase akut.
4. Pada hepatitis B kronis karena pengobatan cukup
lama, keluarga ikut mendukung pasien agar teratur
minum obat.
5. Pada fase akut, keluarga ikut menjaga
asupankaloridancairan yang adekuat, dan membatasi
aktivitasfisik pasien.
6. Pencegahan penularan pada anggota keluarga dengan
modifikasi pola hidup untuk pencegahan transmisi,
dan imunisasi.
10. Kontra Prognosis Ad Vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad malam
Ad Fungsionam : dubia ad malam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Mitra Bestari


14. Indikator Medis Hilangnya mual muntah

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

GAGAL GINJAL KRONIS (ICD X : K75.9)


1. Pengertian (Definisi) Kerusakan pada ginjal yang terus berlangsung dan tidak
dapat diperbaiki, ini disebabkan oleh sejumlah kondisi
dan akan menimbulkan gangguan multisystem.

2. Anamnesis 1. Lemas
2. Mual
3. Muntah
4. Sesak nafas
5. Pucat
6. BAK berkurang
7. Sesak nafas

3. Pemeriksaan Fisik

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai dengan kriteria anamnesis


2. Sesuai dengan kriteria pemeriksaan fisik
3. Peningkatan kadar bilirubin dalam darah, kadar
SGOT dan SGPT ≥ 2x nilai normal tertinggi
4. Petanda Hepatitis Virus seperti IgM anti HAV untuk
Hepatitis Virus A, HBs Ag. IgM anti HBc untuk
hepatitis virus B. Anti HVC untuk Hepatitis C

5. Diagnosis Kerja Hepatitis (ICD X : K75.9)

6. Diagnosis Banding 1. Kolesistitis


2. Abseshepar
3. Sirrosishepar
4. Hepatitis virus lainnya

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Tes laboratorium urin (bilirubin di dalam urin)


2. Pemeriksaan darah : peningkatan kadar bilirubin
dalam darah, kadar SGOT dan SGPT ≥ 2x nilai
normal tertinggi.
3. Petanda Hepatitis Virus seperti IgM anti HAV untuk
Hepatitis Virus A, HBs Ag. IgM anti HBc untuk
hepatitis virus B. Anti HVC untuk Hepatitis C
8. Terapi 1. Asupan kalori dan cairan yang adekuat
2. Tirah baring
3. Tata laksana Farmakologi sesuai dengan gejala yang
dirasakan oleh pasien:
Antipiretik bila demam; ibuprofen 2x400mg/hari.
Apabila ada keluhan gastrointestinal, seperti:
 Mual : Antiemetik seperti Metoklopropamid
3x10 mg/hari atau Domperidon 3x10mg/hari.
 Perut perih dan kembung : H2 Bloker (Simetidin
3x200 mg/hari atau Ranitidin 2x 150mg/hari)
atau Proton Pump Inhibitor (Omeprazol 1 x 20
mg/hari).
9. Edukasi 1. Sanitasi dan higiene mampu mencegah penularan
(Hospital Health virus.
Promotion) 2. Vaksinasi Hepatitis A diberikan kepada orang-orang
yang berisiko tinggi terinfeksi.
3. Keluarga ikut menjaga asupankaloridancairan yang
adekuat, dan membatasi aktivitasfisik pasien selama
fase akut.
4. Pada hepatitis B kronis karena pengobatan cukup
lama, keluarga ikut mendukung pasien agar teratur
minum obat.
5. Pada fase akut, keluarga ikut menjaga
asupankaloridancairan yang adekuat, dan membatasi
aktivitasfisik pasien.
6. Pencegahan penularan pada anggota keluarga dengan
modifikasi pola hidup untuk pencegahan transmisi,
dan imunisasi.
10. Kontra Prognosis Ad Vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad malam
Ad Fungsionam : dubia ad malam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Mitra Bestari

14. Indikator Medis HD rutin 10 jam/minggu

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

BRONKITIS AKUT (ICD X : J20.9)


1. Pengertian (Definisi) Peradangan pada bronkus yang disebabkan oleh infeksi
saluran napas yang ditandai dengan batuk (berdahak
maupun tidak berdahak) dan berlangsung hingga 3
minggu.

2. Anamnesis 1. Batuk (berdahak maupun tidak berdahak) selama 2-3


minggu. Dahak dapat berwarna jernih, putih,
kekuning-kuningan atau kehijauan.
2. Demam (biasanya ringan)
3. Rasa berat dan tidak nyaman di dada.

3. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan paru dapat ditemukan:


1. Pasien tampak kurus dengan barrel shape chest
(diameter anteroposterior dada meningkat).
2. Fremitus taktil dada tidak ada atau berkurang.
3. Perkusi dada hipersonor, peranjakan hati mengecil,
batas paru hati lebih rendah, tukak jantung
berkurang.
4. Suara nafas berkurang dengan ekpirasi panjang,
terdapat ronki basah kasar yang tidak tetap (dapat
hilang atau pindah setelah batuk), wheezing dengan
berbagai gradasi (perpanjangan ekspirasi hingga
ngik-ngik) dan krepitasi.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai dengan kriteria anamnesis


2. Sesuai dengan kriteria pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan sputum dengan pengecatan Gram akan
banyak didapat leukosit PMN dan mungkin pula
bakteri.
4. Foto thoraks pada bronkitis kronis memperlihatkan
tubular shadow berupa bayangan garis-garis yang
paralel keluar dari hilus menuju apex paru dan
corakan paru yang bertambah.
5. Tes fungsi paru dapat memperlihatkan obstruksi
jalan napas yang reversibel dengan menggunakan
bronkodilator.

Panduan Praktek Klinis 100


Rumah Sakit Emanuel 1001
5. Diagnosis Kerja Brokitis Akut (ICD X : I20.9)

6. Diagnosis Banding 1. Epiglotitis.


2. Bronkiolitis.
3. Influenza.
4. Sinusitis
5. PPOK
6. Faringitis
7. Asma.
8. Bronkiektasis.
7. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan sputum dengan pengecatan Gram akan
banyak didapat leukosit PMN dan mungkin pula
bakteri.
2. Foto thoraks pada bronkitis kronis memperlihatkan
tubular shadow berupa bayangan garis-garis yang
paralel keluar dari hilus menuju apex paru dan
corakan paru yang bertambah.
3. Tes fungsi paru dapat memperlihatkan obstruksi
jalan napas yang reversibel dengan menggunakan
bronkodilator
8. Terapi 1. Memperbaiki kemampuan penderita mengatasi
gejala-gejala tidak hanya pada fase akut, tapi juga
pada fase kronik, serta dalam melaksanakan aktivitas
sehari-hari sesuai dengan pola kehidupannya.
2. Mengurangi laju perkembangan penyakit apabila
dapat dideteksi lebih awal.
3. Oksigenasi pasien harus memadai.
4. Istirahat yang cukup.
5. Pemberian obat antitusif (penekan batuk): DMP
(dekstromethorfan) 15 mg, diminum 2-3 kali sehari.
Kodein (obat Doveri) dapat diberikan 10 mg,
diminum 3 x/hari, bekerja dengan menekan batuk
pada pusat batuk di otak. Antitusif tidak dianjurkan
pada kehamilan, ibu menyusui dan anak usia 6 tahun
ke bawah. Pada penderita bronkitis akut yang
disertai sesak napas, pemberian antitusif perlu
umpan balik dari penderita. Jika penderita merasa
tambah sesak, maka antitusif dihentikan.
6. Pemberian ekspektoran (obat batuk pengencer
dahak) yang lazim digunakan di antaranya: GG
(Glyceryl Guaiacolate), bromheksin, ambroksol, dan
lain-lain.
7. Antipiretik (pereda panas): parasetamol
(asetaminofen), dan sejenisnya, digunakan jika
penderita demam.
8. Bronkodilator (melonggarkan napas), diantaranya:
salbutamol, terbutalin sulfat, teofilin, aminofilin, dan
lain-lain. Obat-obat ini digunakan pada penderita
yang disertai sesak napas atau rasa berat bernapas,
sehingga obat ini tidak hanya untuk obat asma, tetapi
dapat juga untukbronkitis. Efek samping obat
bronkodilator perlu diketahui pasien, yakni:
berdebar, lemas, gemetar dan keringat dingin.
9. Antibiotika hanya digunakan jika dijumpai tanda-
tanda infeksi oleh kuman berdasarkan pemeriksaan
dokter. Antibiotik yang dapat diberikan antara lain:
ampisilin, eritromisin, atau spiramisin, 3 x 500
mg/hari.
10. Terapi lanjutan: jika terapi antiinflamasi sudah
dimulai, lanjutkan terapi hingga gejala menghilang
paling sedikit 1 minggu. Bronkodilator juga dapat
diberikan jika diperlukan.
9. Edukasi Memberikan saran agar keluarga dapat:
(Hospital Health 1. Mendukung perbaikan kemampuan penderita dalam
Promotion) melaksanakan aktivitas sehari-hari sesuai dengan
pola kehidupannya.
2. Memotivasi pasien untuk menghindari merokok,
menghindari iritan lainnya yang dapat terhirup,
mengontrol suhu dan kelembaban lingkungan, nutrisi
yang baik, dan cairan yang adekuat.
3. Mengidentifikasi gejala efek samping obat, seperti
bronkodilator dapat menimbulkan berdebar, lemas,
gemetar dan keringat dingin.
10. Kontra Prognosis Ad Vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad malam
Ad Fungsionam : dubia ad malam
11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Mitra Bestari

14. Indikator Medis Bronkodilator oral

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS (PPOK) (ICD X : J44.9)


1. Pengertian (Definisi) Penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran
udara di saluran napas yang bersifat progressif non
reversible atau resersibel parsial

2. Anamnesis 1. Batuk berulang dengan atau tanpa dahak


2. Sesak dengan atau tanpa bunyi mengi
3. Riwayat terpapar asap rokok atau zat iritan

4. Pemeriksaan Fisik 1. Respiratror rate meningkat


2. Penggunaan otot bantu nafas
3. Pelebaran sela iga
4. Barrel chest
5. Fremitus melemah
6. Perkusi hipersonor
7. Suara ekspirasi memanjang
8. Bunyi jantung terdengar jauh
9. Terdapat rhonki atau mengi pada ekspirasi paksa

5. Kriteria Diagnosis Kriteria klinis :


1. Batuk berulang
2. Sesak
3. Riwayat terpapar asap rokok atau zat iritan.

6. Diagnosis Kerja PPOK (ICD X : J44.9)

7. Diagnosis Banding 1. Asma Bronkial.


2. SOPT (Sindroma Obstruksi Pasca Tuberculosis).
3. Gagal Jantung kronis.
4. Bronkiektasis

8. Pemeriksaan Penunjang 1. Rontgen Thorax.


2. Darah lengkap
3. Test faal paru (spirometri)
4. Analisa gas darah
5. Uji provokasi bronkus

9. Terapi 1. Oksigen
2. Antikolinergik
3. Beta 2 agonis
4. Xantin
5. Antibiotik
6. Mukolitik.
10. Edukasi 1. Hindari asap rokok
(Hospital Health 2. Menghindari pencetus
Promotion) 4. Menyesuaikan aktivitas.

11. Kontra Prognosis Ad Vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam : dubia ad malam
Ad Fungsionam : dubia ad malam

16. Tingkat Evidens I/II/III/IV

17. Tingkat Rekomendasi A/B/C

18. Penelaah Kritis dokter spesialis penyakit dalam, Mitra Bestari

19. Indikator Medis Klinis dan laboratorium

20. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS
DOKTER SPESIALIS MATA
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

KATARAK (ICD X : H26,9)


1. Pengertian (Definisi) Kekeruhan pada lensa yang menyebabkan penurunan
tajam penglihatan (visus) yang paling sering berkaitan
dengan proses degenerasi lensa pada pasien usia di atas
40 tahun (katarak senilis). Penyebab lain katarak adalah
glaukoma, uveitis, trauma mata, serta kelainan sistemik
seperti Diabetes Mellitus, riwayat pemakaian obat steroid
dan lain-lain. Katarak biasanya terjadi bilateral, namun
dapat juga pada satu mata (monokular).

2. Anamnesis 1. Penglihatan menurun secara perlahan seperti tertutup


asap/kabut.
2. Ukuran kacamata semakin bertambah
3. Silau dan sulit membaca.

3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik Oftalmologis :


1. Visus menurun.
2. Refleks pupil dan Tekanan Intra Okular normal.
3. Tidak ditemukan kekeruhan kornea.
4. Terdapat kekeruhan lensa yang tampak lebih jelas
setelah dilakukan dilatasi pupil dengan tetes mata
tropikamid 0.5%.
5. Pemeriksaan iris shadow test positif.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik oftalmologis.

5. Diagnosis Kerja Katarak (ICD X : H26,9)

6. Diagnosis Banding Kelainan refraksi

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Laboratorium : darah lengkap


2. EKG (atas indikasi / usia ≥ 40 Th.
3. Foto rontgen thorak (atas indikasi / usia ≥ 40 Th)

8. Terapi …………………………………………..

9. Edukasi 1. Memberitahu keluarga bahwa katarak adalah


(Hospital Health gangguan penglihatan yang dapat diperbaiki.
Promotion) 2. Memberitahu keluarga untuk kontrol teratur jika
sudah didiagnosis katarak agar tidak terjadi
komplikasi.

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam :,dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C/D

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Mata, Mitra Bestari

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di fasilitas pelayanan Kesehatan
Primer.
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 th. 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

KONJUNGTIVITIS INFEKSI (ICD X : H10.9)


KONJUNGTIVITIS ALERGI (ICD X : H10.1)
1. Pengertian (Definisi) Radang konjungtiva yang dapat disebabkan oleh
mikroorganisme (virus, bakteri), iritasi atau reaksi
alergi. Konjungtivitis ditularkan melalui kontak
langsung dengan sumber infeksi. Penyakit ini dapat
menyerang semua umur.

2. Anamnesis 1. Pasien datang dengan keluhan mata merah, rasa


mengganjal, gatal dan berair, kadang disertai sekret.
2. Umumnya tanpa disertai penurunan tajam
penglihatan

3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik Oftalmologi :


1. Tajam penglihatan normal
2. Injeksi konjungtiva
3. Dapat disertai edema kelopak, kemosis
4. Eksudasi; eksudat dapat serous, mukopurulen atau
purulen tergantung penyebab.
5. Pada konjungtiva tarsal dapat ditemukan folikel,
papil atau papil raksasa, flikten, membran dan
pseudomembran.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik oftalmologis.

5. Diagnosis Kerja Konjungtivitis Infeksi (ICD X : H10.9), Konjungtivitis


Alergi (ICD X : H10.1)

6. Diagnosis Banding -

7. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Penunjang (bila diperlukan) :


1. Sediaan langsung swab konjungtiva dengan
perwarnaan Gram atau Giemsa
2. Pemeriksaan sekret dengan perwarnaan metilen blue
pada kasus konjungtivitis gonore

8. Terapi 1. Usahakan untuk tidak menyentuh mata yang sehat


sesudah menangani mata yang sakit
2. Sekret mata dibersihkan.
3. Pemberian obat mata topikal
4. Pada infeksi bakteri: Kloramfenikol tetes sebanyak 1
tetes 6 kali sehari atau salep mata 3 kali sehari
selama 3 hari.
5. Pada alergi diberikan flumetolon tetes mata dua kali
sehari selama 2 minggu.
6. Pada konjungtivitis gonore diberikan kloramfenikol
tetes mata 0,5-1%sebanyak 1 tetes tiap jam dan
suntikan pada bayi diberikan 50.000 U/kgBB tiap
hari sampai tidak ditemukan kuman GO pada
sediaan apus selama 3 hari berturut-turut.
7. Konjungtivitis viral diberikan salep Acyclovir 3%
lima kali sehari selama 10 hari.

9. Edukasi 1. Konjungtivitis mudah menular, karena itu sebelum


(Hospital Health dan sesudah membersihkan atau mengoleskan obat,
Promotion) penderita harus mencuci tangannya bersih-bersih.
2. Jangan menggunakan handuk atau lap bersama-
sama dengan penghuni rumah lainnya.
3. Menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitar.

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam :,dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C/D

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Mata, Mitra Bestari

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di fasilitas pelayanan Kesehatan
Primer.
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 th. 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

HIPERMETROPIA (ICD x : H52.0)


1. Pengertian (Definisi) Hipermetropia merupakan keadaan gangguan kekuatan
pembiasan mata dimana sinar sejajar jauh tidak cukup
kuat dibiaskan sehingga titik fokusnya terletak di
belakang retina. Kelainan ini menyebar merata di
berbagai geografis, etnis, usia dan jenis kelamin.
Hipermetrop pada anak-anak tidak perlu dikoreksi
kecuali bila disertai dengan gangguan motor sensorik
ataupun keluhan astenopia.
Sinonim: rabun dekat

2. Anamnesis 1. Pasien datang dengan keluhan melihat dekat dan


jauh kabur.
2. Gejala penglihatan dekat, kabur lebih awal, terutama
bila lelah dan penerangan kurang.
3. Sakit kepala terutama daerah frontal dan makin kuat
pada penggunaan mata yang lama dan membaca
dekat. Penglihatan tidak enak (asthenopia
akomodatif = eye strain) terutama bila melihat pada
jarak yang tetap dan diperlukan penglihatan jelas
pada jangka waktu yang lama, misalnya menonton
TV dan lain-lain.
4. Mata sensitif terhadap sinar.
5. Spasme akomodasi yang dapat menimbulkan
pseudomiopia. Mata juling dapat terjadi karena
akomodasi yang berlebihan akan diikuti konvergensi
yang berlebihan pula.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Pemeriksaan refraksi subjektif :


 Penderita duduk menghadap kartu snellen pada
jarak 6 meter.
 Pada mata dipasang bingkai percobaan. Satu
mata ditutup, biasanya mata kiri ditutup terlebih
dahulu untuk memeriksa mata kanan.
 Penderita disuruh membaca kartu snellen mulai
huruf terbesar (teratas) dan diteruskan pada baris
bawahnya sampai pada huruf terkecil yang masih
dapat dibaca. Lensa positif terkecil ditambah
pada mata yang diperiksadan bila tampak lebih
jelas oleh penderita lensa positif tersebut

Panduan Praktek Klinis 110


Rumah Sakit Emanuel 1101
ditambah kekuatannya perlahan–lahan dan
disuruh membaca huruf-huruf pada baris yang
lebih bawah. Ditambah kekuatan lensa sampai
terbaca huruf-huruf pada baris 6/6. Ditambah
lensa positif +0.25 lagi dan ditanyakan apakah
masih dapat melihat huruf-huruf di atas.
 Mata yang lain diperiksa dengan cara yang sama.
 Penilaian: bila dengan S +2.00 tajam penglihatan
6/6, kemudian dengan S +2.25 tajam penglihatan
6/6 sedang dengan S +2.50 tajam penglihatan
6/6-2 maka pada keadaan ini derajat
hipermetropia yang diperiksa S +2.25 dan
kacamata dengan ukuran ini diberikan pada
penderita. Pada penderita hipermetropia selama
diberikan lensa sferis positif terbesar yang
memberikan tajam penglihatan terbaik.
2. Pada pasien dengan daya akomodasi yang masih
sangat kuat atau pada anak-anak, sebaiknya
pemeriksaan dilakukan dengan pemberian siklopegik
atau melumpuhkan otot akomodasi.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan refraksi subjektif.

5. Diagnosis Kerja Hipermetropia (ICD X : H52.0)

6. Diagnosis Banding -

7. Pemeriksaan Penunjang -

8. Terapi Koreksi dengan lensa sferis positif terkuat yang


menghasilkan tajam penglihatan terbaik.

9. Edukasi Memberitahu keluarga jika penyakit ini harus dikoreksi


(Hospital Health dengan bantuan kaca mata. Karena jika tidak, maka mata
Promotion) akan berakomodasi terus menerus dan menyebabkan
komplikasi.

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam :,dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C/D


13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Mata, Mitra Bestari

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di fasilitas pelayanan Kesehatan
Primer.
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 th. 2002
3. Hsrrisons Principles Of Internal Medicine 16 th
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

MIOPI RINGAN (ICD X : H52.1)


1. Pengertian (Definisi) Kelainan refraksi dimana sinar sejajar yang masuk ke
mata dalam keadaan istirahat (tanpa akomodasi) akan
dibiaskan membentuk bayangan di depan retina. Dapat
dikoreksi dengan lensa sferis negative S – 0.25 sampai S
– 3.00 D

2. Anamnesis 1. Penglihatan kabur bila melihat jauh


2. Mata cepat lelah
3. Pusing
4. Mengantuk
5. Cenderung memicingkan mata bila melihat jauh.
6. Tidak terdapat riwayat kelainan sistemik seperti;
diabetes mellitus, hipertensi; serta buta senja

3. Pemeriksaan Fisik Refraksi Subjektif:


1. Penderita duduk menghadap kartu snellen pada jarak
6 meter.
2. Pada mata dipasang bingkai percobaan. Satu mata
ditutup, biasanya mata kiri ditutup terlebih dahulu
untuk memeriksa mata kanan.
3. Penderita diminta membaca kartu snellen mulai
huruf terbesar (teratas) dan diteruskan pada baris
bawahnya sampai pada huruf terkecil yang masih
dapat dibaca. Lensa positif terkecil ditambah pada
mata yang diperiksa dan bila bertambah kabur lensa
positif tersebut diganti dengan lensa negatif.
Kemudian kekuatan lensa negatif ditambah
perlahan-lahan dan diminta membaca huruf-huruf
pada baris yang lebih bawah sampai jelas terbaca
pada baris ke 6.
4. Mata yang lain diperiksa dengan cara yang sama.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan refraksi subjektif.

5. Diagnosis Kerja Miopi Ringan (ICD X : H52.1)

6. Diagnosis Banding -
7. Pemeriksaan Penunjang -

8. Terapi Koreksi dengan kacamata lensa sferis negatif terlemah


yang menghasilkan tajam penglihatan terbaik

9. Edukasi 1. Membaca dalam cahaya yang cukup dan tidak jarak


(Hospital Health dekat.
Promotion) 2. Kontrol untuk pemeriksaan visus bila ada keluhan.

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam :,dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C/D

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Mata, mitra bestari

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di fasilitas pelayanan Kesehatan
Primer.
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 th. 2002
3. Hsrrisons Principles Of Internal Medicine 16 th
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

PRESBIOPIA (ICD X : H52.4)


1. Pengertian (Definisi) Suatu kondisi yang berhubungan dengan usia dimana
penglihatan kabur ketika melihat objek berjarak dekat.
Presbiopia merupakan proses degeneratif mata yang
pada umumnya dimulai sekitar usia 40 tahun. Kelainan
ini terjadi karena lensa mata mengalami kehilangan
elastisitas dan kemampuan untuk berubah bentuk.

2. Anamnesis 1. Pasien datang dengan keluhan penglihatan kabur


ketika melihat dekat.
2. Setelah membaca mata terasa lelah, berair, dan
sering terasa perih.
3. Membaca dilakukan dengan menjauhkan kertas yang
dibaca.
4. Terdapat gangguan pekerjaan terutama pada malam
hari dan perlu sinar lebih terang untuk membaca

3. Pemeriksaan Fisik 1. Pemeriksaan refraksi subjektif dengan menggunakan


kartu Jaeger.
2. Pasien diminta untuk menyebutkan kalimat hingga
kalimat terkecil yang terbaca pada kartu.
3. Target koreksi sebesar 20/30.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan oftalmologi

5. Diagnosis Kerja Presbiopia (ICD X : H52.4)

6. Diagnosis Banding -

7. Pemeriksaan Penunjang -

8. Terapi 1. Koreksi kacamata lensa positif


2. Koreksi lensa positif disesuaikan usia :
 Usia 40 Th koreksi lensa + 1,0 D
 Usia 45 Th koreksi lenmsa +1,5 D
 Usia 50 Th koreksi lensa + 2,0 D
 Usia 55 Th koreksi lensa + 2,5 D
 Usia 60 Th koreksi lensa + 3,0 D
9. Edukasi Memberitahu keluarga bahwa presbiopia merupakan
(Hospital Health penyakit degeneratif dan dapat dikoreksi dengan
Promotion) kacamata

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad sanationam :,dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad malam
11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C/D

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Mata, mitra bestari

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di fasilitas pelayanan Kesehatan
Primer.
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 th. 2002
3. Hsrrisons Principles Of Internal Medicine 16 th
PANDUAN PRAKTIK KLINIS
DOKTER SPESIALIS TELINGGA,
HIDUNG DAN TENGGOROKAN
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

TONSILITIS AKUT (ICD X : JO3) TONSILITIS KRONIK (ICD X : J35.0)


1. Pengertian (Definisi) Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang
merupakan bagian dari cincin Waldeyer. Cincin
Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang
terdapat di dalam rongga mulut yaitu: tonsil faringeal
(adenoid), tonsil palatina (tonsil faucial), tonsil lingual
(tonsil pangkal lidah), tonsil tuba Eustachius (lateral
band dinding faring/ Gerlach’s tonsil).

2. Anamnesis 1. Tonsilitis akut :


- Awalnya mengeluh rasa kering di tenggorokan
- Kemudian berubah menjadi rasa nyeri di
tenggorokan dan nyeri saat menelan.
- Rasa nyeri semakin lama semakin bertambah
sehingga menjadi tidak mau makan.
- Nyeri hebat ini dapat menyebar sebagai referred
pain ke sendi-sendi dan telinga. Nyeri pada
telinga (otalgia) tersebut tersebar melalui nervus
glossofaringeus (IX).
- Keluhan lainnya berupa demam yang dapat
sangat tinggi sampai menimbulkan kejang pada
bayi dan anak-anak.
- Rasa nyeri kepala, badan lesu dan nafsu makan
berkurang sering menyertai pasien tonsilitis akut.
- Suara pasien terdengar seperti orang yang
mulutnya penuh terisi makanan panas. Keadaan
ini disebut plummy voice/ hot potato voice. Mulut
berbau (foetor ex ore) dan ludah menumpuk
dalam kavum oris akibat nyeri telan yang hebat
(ptialismus). Tonsilitis viral lebih menyerupai
common cold yang disertai rasa nyeri
tenggorokan.

2. Tonsilitis kronik :
Pada tonsilitis kronik, pasien mengeluh ada
penghalang/ mengganjal di tenggorokan,
tenggorokan terasa kering dan pernafasan berbau
(halitosis).
3. Pemeriksaan Fisik 1. Tonsilitis akut: pada pemeriksaan ditemukan tonsil
yang udem (ukuran membesar), hiperemis dan
terdapat detritus yang memenuhi permukaan tonsil
baik berbentuk folikel, lakuna, atau pseudomembran.
Bentuk tonsillitis akut dengan detritus yang jelas
disebut tonsilitis folikularis, bila bercak-bercak
detritus ini menjadi satu, membentuk alur alur maka
akan terjadi tonsilitis lakunaris. Bercak detritus ini
dapat melebar sehingga terbentuk membran semu
(pseudomembran) yang menutupi ruang antara kedua
tonsil sehingga tampak menyempit. Palatum mole,
arkus anterior dan arkus posterior juga tampak udem
dan hiperemis. Kelenjar submandibula yang terletak
di belakang angulus mandibula terlihat membesar
dan ada nyeri tekan.
2. Tonsilitis kronik: pada pemeriksaan fisik ditemukan
tampak tonsil membesar dengan permukaan yang
tidak rata, kriptus melebar, dan kriptus berisi detritus.
Tanda klinis pada Tonsilitis Kronis yang sering
muncul adalah kripta yang melebar, pembesaran
kelenjar limfe submandibula dan tonsil yang
mengalami perlengketan. Tanda klinis tidak harus
ada seluruhnya, minimal ada kripta yang melebar dan
pembesaran kelenjar limfe submandibular.

7. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Hasil pemeriksaan penunjang

5. Diagnosis Kerja Tonsilitis Akut (ICD X : JO3) Tonsilitis Kronik (ICD X :


J35.0)
6. Diagnosis Banding 1. Faringitis.
2. Tumor tonsil.

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Darah lengkap


2. Usap tonsil untuk pemeriksaan mikroskop dengan
pewarnaan gram

8. Terapi  Istirahat cukup


 Makan makanan lunak dan menghindari makan
makanan yang mengiritasi
 Menjaga kebersihan mulut
 Pemberian obat topikal dapat berupa obat kumur
antiseptik
 Pemberian obat oral sistemik :
1) Pada tonsilitis viral istirahat, minum cukup,
analgetika, antivirus diberikan bila gejala berat.
Antivirus metisoprinol (isoprenosine)diberikan
pada infeksi virus dengan dosis 60-100mg/kgBB
dibagi dalam 4-6 kali pemberian/hari pada orang
dewasa dan pada anak <5tahun diberikan
50mg/kgBB dibagi dalam 4-6 kali
pemberian/hari.
2) Tonsilitis akibat bakteri terutama bila diduga
penyebabnya streptococcus group A, diberikan
antibiotik yaitu Penicillin G Benzatin 50.000
U/kgBB/IM dosis tunggal atau Amoksisilin 50
mg/ kgBB dosis dibagi 3 kali/ hari selama 10 hari
dan pada dewasa 3x500 mg selama 6-10 hari atau
eritromisin 4x500 mg/hari. Selain antibiotik juga
diberikan kortikosteroid karena steroid telah
menunjukkan perbaikan klinis yang dapat
menekan reaksi inflamasi. Steroid yang dapat
diberikan berupa deksametason 3x0,5 mg pada
dewasa selama 3 hari dan pada anak-anak 0,01
mg/kgBB/hari dibagi 3 kali pemberian selama 3
hari.
3) Pada tonsilitis difteri, Anti Difteri Serum
diberikan segera tanpa menunggu hasil kultur,
dengan dosis 20.000-100.000 unit tergantung
umur dan jenis kelamin. Antibiotik penisilin atau
eritromisin 25-50 mg/kgBB/hari. Antipiretik
untuk simptomatis dan pasien harus diisolasi.
Perawatan harus istirahat di tempat tidur selama
2-3 minggu.
4) Pada Angina Plaut Vincent (Stomatitis
ulseromembranosa) diberikan antibiotik spektrum
luas selama 1 minggu, dan pemberian vitamin C
serta vitamin B kompleks.

Pengobatan tonsilitis kronik:


1) Diberikan obat-obatan simptomatik dan obat kumur
yang mengandung desinfektan.
2) Indikasi tonsilektomi.

9. Edukasi Memberitahu individu dan keluarga untuk:


(Hospital Health 1. Melakukan pengobatan yang adekuat karena risiko
Promotion) kekambuhan cukup tinggi.
2. Menjaga daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi
makan bergizi dan olahraga teratur.

Panduan Praktek Klinis 120


Rumah Sakit Emanuel 1201
3. Berhenti merokok.
4. Selalu menjaga kebersihan mulut.
5. Mencuci tangan secara teratur.
6. Menghindari makanan dan minuman yang
mengiritasi.

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad fungsionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter spesialis THT, Mitra Bestari

14. Indikator Medis  Pengobatan adekuat


 Kebersihan mulut baik

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

OTITIS EKSTERNA (ICD X : H60.9)


1. Pengertian (Definisi) Otitis eksterna adalah radang liang telinga akut maupun
kronis disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur, dan virus.
Penyakit ini sering dijumpai pada daerah-daerah yang
panas dan lembab dan jarang pada iklim-iklim sejuk dan
kering

2. Anamnesis 1. Pasien datang dengan keluhan rasa sakit pada telinga,


terutama bila daun telinga disentuh dan waktu
mengunyah.
2. Namun pada pasien dengan otomikosis biasanya
datang dengan keluhan rasa gatal yang hebat dan rasa
penuh pada liang telinga.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Nyeri tekan pada tragus


2. Nyeri tarik daun telinga
3. Kelenjar getah bening regional dapat membesar dan
nyeri
4. Pada pemeriksaan liang telinga:
 Pada otitis eksterna sirkumskripta dapat terlihat
furunkel atau bisul serta liang telinga sempit;
 Pada otitis eksterna difusa liang telinga sempit,
kulit liang telinga terlihat hiperemis dan udem
yang batasnya tidak jelas serta sekret yang
sedikit.
 Pada otomikosis dapat terlihat jamur seperti
serabut kapas dengan warna yang bervariasi
(putih kekuningan)
 Pada herpes zoster otikus tampak lesi kulit
vesikuler di sekitar liang telinga.
5. Pada pemeriksaan penala kadang didapatkan tuli
konduktif.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Hasil pemeriksaan penunjang

5. Diagnosis Kerja Otitis Eksterna (ICD X :H60.9)

6. Diagnosis Banding 1. Otitis eksternanekrotik


2. Perikondritis yang berulang
3. Kondritis
4. Dermatitis, seperti psoriasis dan dermatitis seboroika.

7. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan sediaan langsung jamur dengan KOH untuk


otomikosis

8. Terapi 1. Membersihkan liang telinga dengan pengisap atau


kapas dengan berhati-hati.
2. Selama pengobatan sebaiknya pasien tidak berenang
dan tidak mengorek telinga.
3. Farmakologi:
1. Topikal
 Otitis eksterna sirkumskripta pada stadium
infiltrat diberikan salep ikhtiol atau antibiotik
dalam bentuk salep seperti polymixin B atau
basitrasin.
 Pada otitis eksterna difus dengan
memasukkan tampon yang mengandung
antibiotik ke liang telinga supaya terdapat
kontak yang baik antara obat dengan kulit
yang meradang. Pilihan antibiotika yang
dipakai adalah campuran polimiksin B,
neomisin, hidrokortison dan anestesi topikal.
 Pada otomikosis dilakukan pembersihan liang
telinga dari plak jamur dilanjutkan dengan
mencuci liang telinga dengan larutan asam
asetat 2% dalam alkohol 70% setiap hari
selama 2 minggu. Irigasi ringan ini harus
diikuti dengan pengeringan. Tetes telinga siap
beli dapat digunakan seperti asetat-
nonakueous 2% dan m-kresilasetat.
2. Oral sistemik
 Antibiotika sistemik diberikan dengan
pertimbangan infeksi yang cukup berat.
 Analgetik paracetamol atau ibuprofen dapat
diberikan.
 Pengobatan herpes zoster otikus sesuai
dengan tatalaksana Herpes Zoster.
3. Bila otitis eksterna sudah terjadi abses, diaspirasi
secara steril untuk mengeluarkan nanah.

9. Edukasi Pasien dan keluarga perlu diberitahu tentang:


(Hospital Health 1. Tidak mengorek telinga baik dengan cotton bud atau
Promotion) lainnya.
2. Selama pengobatan pasien tidak boleh berenang.
3. Penyakit dapat berulang sehingga harus menjaga
liang telinga agar dalam kondisi kering dan tidak
lembab
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis THT, Mitra Bestari

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

OTITIS MEDIA AKUT (ICD X : H66.0)


1. Pengertian (Definisi) Otitis media akut (OMA) adalah peradangan sebagian
atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius,
antrum mastoid, dan sel-sel mastoid yang terjadi dalam
waktu kurang dari 3 minggu.

2. Anamnesis Pasien datang dengan keluhan yang bergantung pada


stadium OMA yang terjadi.
 Pada anak, keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam
telinga dan demam serta ada riwayat batuk pilek
sebelumnya. Anak juga gelisah, sulit tidur, tiba-tiba
menjerit waktu tidur, bila demam tinggi sering diikuti
diare dan kejang-kejang. Kadang-kadang anak
memegang telinga yang sakit.
 Pada stadium supurasi pasien tampak sangat sakit, dan
demam, serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat.
Bila terjadi ruptur membran timpani, maka sekret
mengalir ke liang telinga, suhu tubuh turun, dan anak
tertidur tenang.
 Pada anak yang lebih besar atau dewasa, selain rasa
nyeri terdapat pula gangguan pendengaran dan rasa
penuh dalam telinga.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Dapat ditemukan demam


2. Pemeriksaan dengan otoskopi untuk melihat membran
timpani:
1) Pada stadium oklusi tuba Eustachius terdapat
gambaran retraksi membran timpani, warna
membran timpani suram dengan reflex cahaya
tidak terlihat.
2) Pada stadium hiperemis membran timpani tampak
hiperemis serta edema.
3) Pada stadium supurasi membran timpani menonjol
ke arah luar (bulging) berwarna kekuningan.
4) Pada stadium perforasi terjadi ruptur membran
timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga
tengah ke liang telinga luar.
5) Pada stadium resolusi bila membran timpani tetap
utuh, maka perlahan-lahan akan normal
kembali.Bila telah terjadi perforasi, maka sekret
akan berkurang dan mengering.
3. Pada pemeriksaan penala yang dilakukan pada anak
yang lebih besar dapat ditemukan tuli konduktif

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik

5. Diagnosis Kerja Otitis Media Akut (ICD X :H66.0)

6. Diagnosis Banding 1. Otitis media serosa akut


2. Otitis eksterna

7. Pemeriksaan Penunjang -

8. Terapi 1. Asupan gizi yang baik untuk meningkatkan daya


tahan tubuh
2. Pemberian farmakoterapi dengan:
1. Topikal
 Pada stadium oklusi, tujuan terapi dikhususkan
untuk membuka kembali tuba eustachius. Obat
tetes hidung HCl efedrin 0,5% (atau
oksimetazolin 0,025%) diberikan dalam
larutan fisiologik untuk anak kurang dari 12
tahun dan HCl efedrin 1% (atau oksimetazolin
0,05%) dalam larutan fisiologik untuk anak
yang berumur lebih dari 12 tahun atau dewasa.
 Pada stadium perforasi, diberikan obat cuci
telinga H2O2 3% selama 3-5 hari, dilanjutkan
antibiotik adekuat yang tidak ototoksik seperti
ofloxacin tetes telinga sampai 3 minggu.
2. Oral sistemik
 Dapat diberikan antihistamin bila ada tanda-
tanda alergi.
 Antipiretik seperti paracetamol sesuai dosis
anak.
 Antibiotik yang diberikan pada stadium oklusi
dan hiperemis ialah penisilin atau eritromisin,
selama 10-14 hari:
a) Ampisilin : Dewasa 500 mg 4 x sehari;
Anak 25 mg/KgBB 4 x sehari atau
b) Amoksisilin: Dewasa 500 mg 3 x sehari;
Anak 10 mg/KgBB 3 x sehari atau
c) Eritromisin : Dewasa 500 mg 4 x sehari;
Anak 10 mg/KgBB 4 x sehari
d) Jika terdapat resistensi, dapat diberikan
kombinasi dengan asam klavulanat atau
sefalosporin.
• Pada stadium supurasi dilakukan miringotomi
(kasus rujukan) dan pemberian antibiotik.
Antibiotik yang diberikan:
a) Amoxyciline: Dewasa 3x500 mg/hari.
Pada bayi/anak 50mg/kgBB/hari; atau
b) Erythromycine: Dewasa/ anak sama
dengan dosis amoxyciline;atau
c) Cotrimoxazole: (kombinasi trimethroprim
80 mg dan sulfamethoxazole 400 mg
tablet) untuk dewasa 2x2 tablet, anak
(trimethroprim 40 mg dan
sulfamethoxazole 200 mg) suspensi 2x5
ml.
d) Jika kuman sudah resisten (infeksi
berulang): kombinasi amoxyciline dan
asam klavulanat, dewasa 3x625 mg/hari.
Pada bayi/anak, dosis disesuaikan dengan
BB dan usia.
3. Miringotomi (kasus rujukan)
Indikasi miringotomi pada anak dengan OMA adalah
nyeri berat, demam, komplikasi OMA seperti paresis
nervus fasialis, mastoiditis, labirinitis, dan infeksi
sistem saraf pusat. Miringotomi merupakan terapi
third-line pada pasien yang mengalami kegagalan
terhadap dua kali terapi antibiotik pada satu episode
OMA.

9. Edukasi 1. Memberitahu keluarga bahwa pengobatan harus


(Hospital Health adekuat agar membran timpani dapat kembali normal.
Promotion) 2. Memberitahu keluarga untuk mencegah infeksi
saluran napas atas (ISPA) pada bayi dan anak-anak,
menangani ISPA denganpengobatan adekuat.
3. Memberitahu keluarga untuk menganjurkan
pemberian ASI minimal enam bulan sampai dengan 2
tahun.
4. Menghindarkan pajanan terhadap lingkungan
merokok dan lain-lain.
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV


12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter spesialis THT, mitra bestari

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

RHINITIS ALERGIK (ICPC II : R97), VASOMOTOR RHINITIS (ICD X :J30.0)


1. Pengertian (Definisi) Penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi
pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi
oleh alergen yang sama serta dilepaskan suatu mediator
kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen
spesifik tersebut.

2. Anamnesis 1. Pasien datang dengan keluhan keluarnya ingus encer


dari hidung (rinorea), bersin, hidung tersumbat dan
rasa gatal pada hidung (trias alergi).
2. Bersin merupakan gejala khas, biasanya terjadi
berulang, terutama pada pagi hari. Bersin lebih dari
lima kali sudah dianggap patologik dan perlu
dicurigai adanya rhinitis alergi dan ini menandakan
reaksi alergi fase cepat.
3. Gejala lain berupa mata gatal dan banyak air mata.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Perhatikan adanya allergic salute, yaitu gerakan


pasien menggosok hidung dengan tangannya karena
gatal.
2. Wajah :
1) Allergic shiners yaitu dark circles di sekitar mata
dan berhubungan dengan vasodilatasi atau
obstruksi hidung.
2) Nasal crease yaitu lipatan horizontal (horizontal
crease) yang melalui setengah bagian bawah
hidung akibat kebiasaan menggosok hidung
keatas dengan tangan.
3) Mulut sering terbuka dengan lengkung langit-
langit yang tinggi, sehingga akan menyebabkan
gangguan pertumbuhan gigi-geligi (facies
adenoid).
3. Pada pemeriksaan faring: dinding posterior faring
tampak granuler dan edema (cobblestone
appearance), serta dinding lateral faring menebal.
Lidah tampak seperti gambaran peta (geographic
tongue).
4. Pada pemeriksaan rinoskopi:
1) Mukosa edema, basah, berwarna pucat atau
kebiruan (livide), disertai adanya sekret encer,
tipis dan banyak. Jika kental dan purulen biasanya
berhubungan dengan sinusitis.
2) Pada rhinitis alergi kronis atau penyakit
granulomatous, dapat terlihat adanya deviasi atau
perforasi septum.
3) Pada rongga hidung dapat ditemukan massa
seperti polip dan tumor, atau dapat juga
ditemukan pembesaran konka inferior yang dapat
berupa edema atau hipertropik. Dengan
dekongestan topikal, polip dan hipertrofi konka
tidak akan menyusut, sedangkan edema konka
akan menyusut.
5. Pada kulit kemungkinan terdapat dermatitis atopi.
4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik

5. Diagnosis Kerja Rhinitis Alergik (ICPC II : R97), Vasomotor Rhinitis


(ICD X : J30.0)
6. Diagnosis Banding 1. Rhinitis vasomotor
2. Rhinitis akut

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Uji kulit atau Prick Test, digunakan untuk


menentukan alergen penyebab rhinitis alergi pada
pasien.
2. Pemeriksaan radiologi dengan foto sinus paranasal.

8. Terapi 1. Menghindari alergen spesifik


2. Pemeliharaan dan peningkatan kebugaran jasmani
telah diketahui berkhasiat dalam menurunkan gejala
alergis
3. Terapi topikal dapat dengan dekongestan hidung
topikal melalui semprot hidung. Obat yang biasa
digunakan adalah oxymetazolin atau xylometazolin,
namun hanya bila hidung sangat tersumbat dan
dipakai beberapa hari (< 2 minggu) untuk
menghindari rhinitis medikamentosa.
4. Preparat kortikosteroid dipilih bila gejala sumbatan
hidung akibat respons fase lambat tidak dapat diatasi
dengan obat lain. Obat yang sering dipakai adalah
kortikosteroid topikal: beklometason, budesonid,
flunisolid, flutikason, mometason furoat dan
triamsinolon.
5. Preparat antikolinergik topikal adalah ipratropium
bromida yang bermanfaat untuk mengatasi
rinoreakarena aktivitas inhibisi reseptor kolinergik

Panduan Praktek Klinis 130


Rumah Sakit Emanuel 1301
pada permukaan sel efektor.
6. Terapi oral sistemik :
1. Antihistamin
 Anti histamin generasi 1:
difenhidramin,klorfeniramin, siproheptadin.
 Anti histamin generasi 2: loratadin, cetirizine
2. Preparat simpatomimetik golongan agonis alfa dapat
dipakai sebagai dekongestan hidung oral dengan atau
tanpa kombinasi antihistamin. Dekongestan oral:
pseudoefedrin, fenilpropanolamin, fenilefrin.
7. Terapi lainnya dapat berupa operasi terutama bila
terdapat kelainan anatomi, selain itu dapat juga
dengan imunoterapi

9. Edukasi Memberitahu individu dan keluarga untuk:


(Hospital Health 1. Menyingkirkan faktor penyebab yang dicurigai
Promotion) (alergen).
2. Menghindari suhu ekstrim panas maupun ekstrim
dingin.
3. Selalu menjaga kesehatan dan kebugaran jasmani.
Hal ini dapat menurunkan gejala alergi.

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad fungsionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter spesialis THT, Mitra Bestari

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

FARINGITIS (ICD X : J02.9)


1. Pengertian (Definisi) Faringitis merupakan peradangan dinding faring yang
disebabkan oleh virus (40-60%), bakteri (5-40%), alergi,
trauma, iritan, dan lain-lain.

2. Anamnesis 1. Pasien datang dengan keluhan nyeri tenggorokan,


sakit jika menelan dan batuk.
2. Gejala dan tanda yang ditimbulkan faringitis
tergantung pada mikroorganisme yang menginfeksi.
3. Secara garis besar faringitis menunjukkan tanda dan
gejala umum seperti lemas, anorexia, demam, suara
serak, kaku dan sakit pada otot leher.
4. Gejala khas berdasarkan jenisnya, yaitu:
1. Faringitis viral (umumnya oleh Rhinovirus):
diawali dengan gejala rhinitis dan beberapa hari
kemudian timbul faringitis. Gejala lain demam
disertai rinorea dan mual.
2. Faringitis bakterial: nyeri kepala hebat, muntah,
kadang disertai demam dengan suhu yang tinggi,
jarang disertai batuk.
3. Faringitis fungal: terutama nyeri tenggorok dan
nyeri menelan.
4. Faringitis kronik hiperplastik: mula-mula
tenggorok kering, gatal dan akhirnya batuk yang
berdahak.
5. Faringitis kronik atrofi: umumnya tenggorokan
kering dan tebal serta mulut berbau.
6. Faringitis tuberkulosis: nyeri hebat pada faring
dan tidak berespon dengan pengobatan bakterial
non spesifik.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Faringitis viral, pada pemeriksaan tampak faring dan


tonsil hiperemis, eksudat (virus influenza,
coxsachievirus, cytomegalovirus tidak menghasilkan
eksudat). Pada coxsachievirus dapat menimbulkan
lesi vesikular di orofaring dan lesi kulit berupa
maculopapular rash.
2. Faringitis bakterial, pada pemeriksaan tampak tonsil
membesar, faring dan tonsil hiperemis dan terdapat
eksudat di permukaannya. Beberapa hari kemudian
timbul bercak petechiae pada palatum dan faring.
Kadang ditemukan kelenjar limfa leher anterior
membesar, kenyal dan nyeri pada penekanan.
3. Faringitis fungal, pada pemeriksaan tampak plak
putih diorofaring dan pangkal lidah, sedangkan
mukosa faring lainnya hiperemis.
4. Faringitis kronik hiperplastik, pada pemeriksaan
tampak kelenjar limfa di bawah mukosa faring dan
lateral lateral band hiperplasi. Pada pemeriksaan
tampak mukosa dinding posterior tidak rata dan
bergranular (cobble stone).
5. Faringitis kronik atrofi, pada pemeriksaan tampak
mukosa faring ditutupi oleh lendir yang kental dan
bila diangkat tampak mukosa kering.
6. Faringitis tuberkulosis, pada pemeriksaan tampak
granuloma perkejuan pada mukosa faring dan laring.
7. Faringitis luetika tergantung stadium penyakit:
1) Stadium primer
Pada lidah palatum mole, tonsil, dan dinding
posterior faring berbentuk bercak keputihan. Bila
infeksi berlanjut timbul ulkus pada daerah faring
seperti ulkus pada genitalia yaitu tidak nyeri.
Juga didapatkan pembesaran kelenjar mandibular
2) Stadium sekunder
Stadium ini jarang ditemukan. Pada dinding
faring terdapat eritema yang menjalar ke arah
laring.
3. Stadium tersier
Terdapat guma. Predileksi pada tonsil dan palatum.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik

5. Diagnosis Kerja Faringitis (ICD X :J02.9)

6. Diagnosis Banding -

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan darah lengkap.


2. Terinfeksi jamur, menggunakan slide dengan
pewarnaan KOH.
3. Pemeriksaan mikroskop dengan pewarnaan gram.

8. Terapi 1. Istirahat cukup


2. Minum air putih yang cukup
3. Berkumur dengan air yang hangat dan berkumur
dengan obat kumur antiseptik untuk menjaga
kebersihan mulut. Pada faringitis fungal diberikan
Nystatin 100.000-400.000 IU, 2 x/hari. Untuk
faringitis kronik hiperplastik terapi lokal dengan
melakukan kaustik faring dengan memakai zat kimia
larutan nitras argentin 25%.
4. Untuk infeksi virus, dapat diberikan anti virus
metisoprinol (isoprenosine) dengan dosis 60-100
mg/kgBB dibagi dalam 4-6 x/hari pada orang dewasa
dan pada anak <5 tahun diberikan 50 mg/kgBB
dibagi dalam 4-6 x/hari.
5. Untuk faringitis akibat bakteri terutama bila diduga
penyebabnya streptococcus group A, diberikan
antibiotik Penicillin G Benzatin 50.000 U/kgBB/IM
dosis tunggal bila pasien tidak alergi penisilin, atau
Amoksisilin 50 mg/kgBB dosis dibagi 3 x/hari
selama 10 hari dan pada dewasa 3 x 500 mg selama
6-10 hari, atau Eritromisin 4 x 500 mg/hari.
6. Pada faringitis gonorea, dapat diberikan sefalosporin
generasi ke-3, seperti Ceftriakson 2 gr IV/IM single
dose.
7. Pada faringitis kronik hiperplastik, penyakit hidung
dan sinus paranasal harus diobati. Pada faringitis
kronik atrofi pengobatan ditujukan pada rhinitis
atrofi. Sedangkan, pada faringitis kronik hiperplastik
dilakukan kaustik 1 x/hari selama 3-5 hari.
8. Jika diperlukan dapat diberikan obat batuk antitusif
atau ekspektoran.
9. Selain antibiotik, kortikosteroid juga diberikan untuk
menekan reaksi inflamasi sehingga mempercepat
perbaikan klinis. Steroid yang diberikan dapat
berupa deksametason 3 x 0,5 mg pada dewasa
selama 3 hari dan pada anak-anak 0,01
mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 x/hari selama 3 hari.

9. Edukasi Memberitahu pasien dan keluarga untuk:


(Hospital Health 1. Menjaga daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi
Promotion) makan bergizi dan olahraga teratur.
2. Berhenti merokok bagi anggota keluarga yang
merokok.
3. Menghindari makan makanan yang dapat mengiritasi
tenggorokan.
4. Selalu menjaga kebersihan mulut
5. Mencuci tangan secara teratur
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter spesialis THT, mitra bestari

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS
DOKTER SPESIALIS SYARAF
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

STROKE HAEMORAGIC (ICD X : I64)


1. Pengertian (Definisi) Stroke adalah defisit neurologis fokal yang terjadi
mendadak, lebih dari 24 jam dan disebabkan oleh faktor
vaskuler. Stroke haemorragic yaitu stroke yang
disebabkan pecahnya pembuluh darah otak.

2. Anamnesis Keluhan mendadak berupa:


1. Sakit kepala hebat
2. Muntah
3. Penurunan kesadaran
4. Kelumpuhan anggota gerak satu sisi (hemiparesis)
5. Gangguan sensorik satu sisi tubuh
6. Hemianopia (buta mendadak)
7. Diplopia
8. Vertigo
9. Afasia
10. Disfagia
11. Disarthria
12. Ataksia

3. Pemeriksaan Fisik 1. Pemeriksaan tanda vital :


1) Pernapasan
2) Nadi
3) Suhu
4) Tekanan darah harus diukur kanan dan kiri
2. Pemeriksaaan jantung paru
3. Pemeriksaan bruitkarotis
4. Pemeriksaan abdomen
5. Pemeriksaan ekstremitas
6. Pemeriksaan neurologis :
1) Kesadaran : kualitatif dan kuantitatif (Glassgow
Coma Scale = GCS)
2) Tanda rangsang meningeal : kaku kuduk,
lasseque, kernig, brudzinsky
3) Saraf kranialis: sering mengenai nervus VII, XII,
IX walaupun nervus kranialis lain bisa terkena
4) Motorik : kekuatan, tonus, refleks fisiologis,
refleks patologis
5) Sensorik
6) Pemeriksaan fungsi luhur
7) Pada pasien dengan kesadaran menurun, perlu
dilakukan pemeriksaan refleks batang otak:
 Refleks kornea
 Refleks pupil terhadap cahaya
 Refleks okulo sefalik
 Keadaan refleks respirasi

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Hasil Foto Ct Scan

5. Diagnosis Kerja Stroke Haemoragic (ICD X : I64)

6. Diagnosis Banding Stroke Iskemik

7. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Foto Ct Scan

8. Terapi 1. Stabilisasi pasien dengan tindakan ABC.


2. Pertimbangkan intubasi jika kesadaran stupor atau
koma atau gagal nafas.
3. Pasang jalur infus IV dengan larutan NaCl 0,9%
dengan kecepatan 20 ml/jam (jangan memakai cairan
hipotonis seperti dekstrosa 5% dalam air dan SALIN
0,45% karena dapat memperhebat edema otak).
4. Berikan O2: 2-4 liter/menit via kanul hidung.
5. Jangan memberikan makanan atau minuman lewat
mulut.
6. Menurunkan tekanan darah untuk mencegah
perdarahan ulang pada orang yang dasarnya
normotensif (tensi normal) diturunkan sampai
sistolik 160 mmHg, pada orang dengan hipertensi
sedikit lebih tinggi.
7. Tekanan dalam rongga tengkorak diturunkan dengan
cara meninggikan posisi kepala 15-30% (satu bantal)
sejajar dengan bahu
9. Edukasi 1. Mengedukasi keluarga agar membantu pasien untuk
(Hospital Health tidak terjadinya serangan kedua.
Promotion) 2. Mengawasi agar pasien teratur minum obat.
3. Membantu pasien menghindari faktor risiko.

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad fungsionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV


12. Tingkat Rekomendasi A/B/C/D

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Syaraf, Mitra Bestari

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

STROKE NON HAEMORAGIC (ICD X : I63.9)


1. Pengertian (Definisi) Gangguan fungsi syaraf yang disebabkan oleh gangguan
aliran darah dalam otak yang dapat timbul secara
mendadak atau secara cepat.

2. Anamnesis Keluhan mendadak berupa:


1. Kelumpuhan anggota gerak satu sisi (hemiparesis)
2. Gangguan sensorik satu sisi tubuh
3. Hemianopia (buta mendadak)
4. Diplopia
5. Vertigo
6. Afasia
7. Disfagia
8. Disarthria
9. Ataksia

3. Pemeriksaan Fisik 1. Pemeriksaan tanda vital :


1) Pernapasan
2) Nadi
3) Suhu
4) Tekanan darah harus diukur kanan dan kiri
2. Pemeriksaaan jantung paru
3. Pemeriksaan bruitkarotis
4. Pemeriksaan abdomen
5. Pemeriksaan ekstremitas
6. Pemeriksaan neurologis :
1. Kesadaran : kualitatif dan kuantitatif (Glassgow
Coma Scale = GCS)
2. Tanda rangsang meningeal : kaku kuduk,
lasseque, kernig, brudzinsky
3. Saraf kranialis: sering mengenai nervus VII, XII,
IX walaupun nervus kranialis lain bisa terkena
4. Motorik : kekuatan, tonus, refleks fisiologis,
refleks patologis
5. Sensorik
6. Pemeriksaan fungsi luhur

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Hasil Foto Ct Scan

Panduan Praktek Klinis 140


Rumah Sakit Emanuel 1401
5. Diagnosis Kerja Stroke Non Haemorragic (ICD X : I63.9 )

6. Diagnosis Banding Stroke Haemorragic


7. Pemeriksaan Penunjang 3. Pemeriksan laboratorium lengkap
4. Hasil foto Ct Scan

8. Terapi 1. Stabilisasi pasien dengan tindakan ABC.


2. Pertimbangkan intubasi jika kesadaran stupor atau
koma atau gagal nafas.
3. Pasang jalur infus IV dengan larutan NaCl 0,9%
dengan kecepatan 20 ml/jam (jangan memakai cairan
hipotonis seperti dekstrosa 5% dalam air dan SALIN
0,45% karena dapat memperhebat edema otak).
4. Berikan O2: 2-4 liter/menit via kanul hidung.
5. Jangan memberikan makanan atau minuman lewat
mulut.
6. Diberikan obat-obat antiplatelet: asetosal,
klopidogrel

9. Edukasi 1. Mengedukasi keluarga agar membantu pasien untuk


(Hospital Health tidak terjadinya serangan kedua.
Promotion) 2. Mengawasi agar pasien teratur minum obat.
3. Membantu pasien menghindari faktor risiko.

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad fungsionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C/D

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Syaraf, mitra bestari

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

MENINGITIS (ICD X : G03.9)


1. Pengertian (Definisi) Radang umum pada araknoid dan piamater, disebabkan
oleh bakteri, virus, riketsia atau protozoa, yang dapat
terjadi secara akut dan kronis.

2. Anamnesis 1. Nyeri kepala.


2. Rasa nyeri menjalar ke tengkuk dan punggung.
3. Tengkuk menjadi kaku.
4. Kaku kuduk disebabkan oleh mengejangnya otot-otot
ekstensor tengkuk.
5. Kesadaran menurun.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Kaku kuduk


2. Suhu badan naik turun kadang-kadang suhu malah
merendah
3. Nadi sangat labil, lebih sering dijumpai nadi yang
lambat.
4. Abdomen tampak mencekung.
5. Apatis
6. Refleks pupil yang lambat
7. Refleks-refleks tendo yang lemah

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan laboratorium : Hb, Leukosit, LED,
kadar glukosa puasa, kadar ureum, elektrolit.
4. Pemeriksaan radiologi : Rontgen dada, Ct Scan
kepala.

5. Diagnosis Kerja Meningitis (ICD X : G30.9)

6. Diagnosis Banding -

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan laboratorium : Hb, Leukosit, LED,


kadar glukosa puasa, kadar ureum, elektrolit.
2. Pemeriksaan radiologi : Rontgen dada, Ct Scan
kepala.

8. Terapi 1. Rejimen terapi : 2HRZE – 7 RH


a. 2 bulan pertama
 INH : 1 x 400 mg/hari,oral
 Rifampisin : 1 x 600 mg/hari, oral
 Pirazinamid : 15-30 mg/kg/hari, oral
 Streptomisin : 15 mg/kg/hari, oral atau
 Etambutol : 15-20 mg/kg/hari, oral
b. 7-12 bulan berikutnya
 INH : 1 x 400 mg/hari, oral
 Rifampisin : 1 x 600 mg/hari,oral
2. Steroid
Dekametason 10 mg bolus intravena, kemudian 4 kali
5 mg intravena selama 2 – 3 minggu selanjutnya
turunkan perlahan selama 1 bulan.

9. Edukasi -
(Hospital Health
Promotion)
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C/D

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Syaraf, mitra bestari

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

VERTIGO (ICD X : R42)


1. Pengertian (Definisi) Persepsi yang salah dari gerakan seseorang atau
lingkungan sekitarnya. Persepsi gerakan bisa berupa:
a. Vertigo vestibular adalah rasa berputar yang timbul
pada gangguan vestibular.
b. Vertigo non vestibular adalah rasa goyang, melayang,
mengambang yang timbul pada gangguan sistem
proprioseptif atau sistem visual

2. Anamnesis Vertigo vestibular


Menimbulkan sensasi berputar, timbulnya episodik,
diprovokasi oleh gerakan kepala, bisa disertai rasa mual
atau muntah.
1. Vertigo vestibular perifer timbulnya lebih mendadak
setelah perubahan posisi kepala dengan rasa berputar
yang berat, disertai mual atau muntah dan keringat
dingin. Bisa disertai gangguan pendengaran berupa
tinitus, atau ketulian, dan tidak disertai gejala
neurologik fokal seperti hemiparesis, diplopia,
perioralparestesia, paresis fasialis.
2. Vertigo vestibular sentral timbulnya lebih lambat,
tidak terpengaruh oleh gerakan kepala. Rasa
berputarnya ringan, jarang disertai rasa mual dan
muntah, tidak disertai gangguan pendengaran.
Keluhan dapat disertai dengan gejala neurologik fokal
seperti hemiparesis, diplopia, perioralparestesia,
paresis fasialis.

Vertigo non vestibular


Sensasi bukan berputar, melainkan rasa melayang,
goyang, berlangsung konstan atau kontinu, tidak disertai
rasa mual dan muntah, serangan biasanya dicetuskan oleh
gerakan objek sekitarnya seperti di tempat keramaian
misalnya lalu lintas macet.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Pemeriksaan umum


2. Pemeriksaan system kardiovaskuler yang meliputi
pemeriksaan tekanan darah pada saat baring, duduk
dan berdiri dengan perbedaan lebih dari 30 mmHg.
3. Pemeriksaan neurologis :
a. Kesadaran : kesadaran baik untuk vertigo
vestibuler perifer dan vertigo non vestibuler,
namun dapat menurun pada vertigo vestibuler
sentral.
b. Nervus kranialis : pada vertigo vestibularis sentral
dapat mengalami gangguan pada nervus kranialis
III, IV, VI, V sensorik, VII, VIII, IX, X, XI, XII.
c. Motorik : kelumpuhan satu sisi (hemiparesis).
d. Sensorik : gangguan sensorik pada satu
sisi(hemihipestesi).
e. Keseimbangan (pemeriksaan khusus neuro-
otologi) :
 Tes nistagmus:
Nistagmus disebutkan berdasarkan komponen
cepat, sedangkan komponen lambat
menunjukkan lokasi lesi: unilateral, perifer,
bidireksional, sentral.
 Tes rhomberg:
Jika pada keadaan mata terbuka pasien jatuh,
kemungkinan kelainan pada serebelum. Jika
pada mata tertutup pasien cenderung jatuh ke
satu sisi, kemungkinan kelainan pada system
vestibuler atau proprioseptif.
 Tes rhomberg dipertajam (Sharpen
Rhomberg):
Jika pada keadaan mata terbuka pasien jatuh,
kemungkinan kelainan pada serebelum. Jika
pada mata tertutup pasien cenderung jatuh ke
satu sisi, kemungkinan kelainan pada system
vestibuler atau proprioseptif.
 Tes jalan tandem: pada kelainan serebelar,
pasien tidak dapat melakukan jalan tandem
dan jatuh ke satu sisi. Pada kelaianan
vestibuler, pasien akan mengalami deviasi.
 Tes Fukuda, dianggap abnormal jika deviasi
ke satu sisi lebih dari 30 derajat atau maju
mundur lebih dari satu meter.
 Tes past pointing, pada kelainan vestibuler
ketika mata tertutup maka jari pasien akan
deviasi ke arah lesi. Pada kelainan serebelar
akan terjadi hipermetri atau hipometri.
4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Hasil pemeriksaan Neurologis
5. Diagnosis Kerja Vertigo (ICD X : R42)

6. Diagnosis Banding 1. Penyakit Meniere


2. Neuritis Vestibularis
3. Labirhinitis
4. Superior canal dehi-scence syndrome
5. Vertigo pasca trauma
6. Migraine associated dizziness
7. Insufisiensi vertebrobasiler
8. Penyakit demielinisasi
9. Lesi susunan saraf pusat
10. Kecemasan
11. Ganguan panic
12. Vertigo sernikogenik
13. Efek samping obat
14. Hipotensi postural

7. Pemeriksaan Penunjang -

8. Terapi 1. Pasien dilakukan latihan vestibular (vestibular


exercise) dengan metode brandDaroff.
2. Pasien duduk tegak di pinggir tempat tidur dengan
kedua tungkai tergantung, dengan kedua mata
tertutup baringkan tubuh dengan cepat ke salah satu
sisi, pertahankan selama 30 detik. Setelah itu duduk
kembali. Setelah 30 detik, baringkan dengan cepat ke
sisi lain. Pertahankan selama 30 detik, lalu duduk
kembali. Lakukan latihan ini 3 kali pada pagi, siang
dan malam hari masing-masing diulang 5 kali serta
dilakukan selama 2 minggu atau 3 minggu dengan
latihan pagi dan sore hari.
3. Karena penyebab vertigo beragam, sementara
penderita sering kali merasa sangat terganggu dengan
keluhan vertigo tersebut, seringkali menggunakan
pengobatan simptomatik. Lamanya pengobatan
bervariasi. Sebagian besar kasus terapi dapat
dihentikan setelah beberapa minggu. Beberapa
golongan yang sering digunakan:
1) Antihistamin (dimenhidrinat, difenhidramin,
meksilin, siklisin)
 Dimenhidrinat lama kerja obat ini ialah 4 – 6
jam. Obat dapat diberi per oral atau parenteral
(suntikan intramuskular dan intravena),
dengan dosis 25 mg – 50 mg (1 tablet), 4 kali
sehari.
 Difenhidramin HCl. Lama aktivitas obat ini
ialah 4 – 6 jam, diberikan dengan dosis 25 mg
(1 kapsul) – 50 mg, 4 kali sehari per oral.
 Senyawa Betahistin (suatu analog histamin):
 Betahistin Mesylate dengan dosis 12 mg,
3 kali sehari per oral.
 Betahistin HCl dengan dosis 8-24 mg, 3
kali sehari. Maksimum 6 tablet dibagi
dalam beberapa dosis.
2) Kalsium Antagonis
Cinnarizine, mempunyai khasiat menekan fungsi
vestibular dan dapat mengurangi respons terhadap
akselerasi angular dan linier. Dosis biasanya ialah
15-30 mg, 3 kali sehari atau 1x75 mg sehari.

Terapi BPPV:
1. Komunikasi dan informasi:
Karena gejala yang timbul hebat, pasien menjadi
cemas dan khawatir akan adanya penyakit berat
seperti stroke atau tumor otak. Oleh karena itu, pasien
perlu diberikan penjelasan bahwa BPPV bukan
sesuatu yang berbahaya dan prognosisnya baik serta
hilang spontan setelah beberapa waktu, namun
kadang-kadang dapat berlangsung lama dan dapat
kambuh kembali.
2. Obat antivertigo seringkali tidak diperlukan namun
apabila terjadi dis-ekuilibrium pasca BPPV,
pemberian betahistin akan berguna untuk
mempercepat kompensasi.

Terapi BPPV kanal posterior:


1. Manuver Epley
2. Prosedur Semont
3. Metode Brand Daroff

9. Edukasi 1. Keluarga turut mendukung dengan memotivasi pasien


(Hospital Health dalam mencari penyebab vertigo dan mengobatinya
Promotion) sesuai penyebab.
2. Mendorong pasien untuk teratur melakukan latihan
vestibular.
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV


12. Tingkat Rekomendasi A/B/C/D

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Syaraf, mitra bestari

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

ARTRITIS REUMATOID (ICD X : M53.3)


1. Pengertian (Definisi) Penyakit autoimun yang ditandai dengan terdapatnya
sinovitis erosif simetrik yang walaupun terutama
mengenai jaringan persendian, seringkali juga melibatkan
organ tubuh lainnya.

2. Anamnesis 1. Gejala pada awal onset


2. Gejala prodromal: lelah (malaise), anoreksia, seluruh
tubuh terasa lemah yang berlangsung berminggu-
minggu atau berbulan-bulan.
3. Gejala spesifik pada beberapa sendi (poliartrikular)
secara simetris, terutama sendi PIP (proximal
interphalangeal), sendi MCP (metacarpophalangeal),
pergelangan tangan, lutut, dan kaki.
4. Gejala sinovitis pada sendi yang terkena: bengkak,
nyeri yang diperburuk dengan gerakan sehingga
gerakan menjadi terbatas, kekakuan pada pagi hari >
1 jam.
5. Gejala ekstraartikular: mata (episkleritis), saluran
nafas atas (nyeri tenggorok, nyeri menelan atau
disfonia yang terasa lebih berat pada pagi hari),
kardiovaskular (nyeri dada pada perikarditis),
hematologi (anemia).

3. Pemeriksaan Fisik Manifestasi artikular:


Pada lebih dari 3 sendi (poliartritis) terutama di sendi
tangan, simetris, immobilisasi sendi, pemendekan otot
seperti pada vertebra servikalis, gambaran deformitas
sendi tangan (swan neck, boutonniere).
Manifestasi ekstraartikular:
1. Kulit: terdapat nodul rheumatoid pada daerah yg
banyak menerima penekanan, vaskulitis.
2. Soft tissue rheumatism, seperti carpal tunnel
syndrome atau frozen shoulder.
3. Mata dapat ditemukan kerato-konjungtivitis sicca
yang merupakan manifestasi sindrom Sjorgen,
episkleritis/ skleritis. Konjungtiva tampak anemia
akibat penyakit kronik.
4. Sistem respiratorik dapat ditemukan adanya radang
sendi krikoaritenoid, pneumonitis interstitial, efusi
pleura, atau fibrosis paru luas.
5. Sistem kardiovaskuler dapat ditemukan perikarditis
konstriktif, disfungsi katup, fenomena embolisasi,
gangguan konduksi, aortritis, kardiomiopati.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Hasil pemeriksaan radiologi
5. Diagnosis Kerja Artritis Reumatoid (ICD X : M53.3)

6. Diagnosis Banding 1. Penyebab arthritis lainnya


2. Spondiloartropati seronegatif
3. Lupus eritematosus sistemik
4. Sindrom Sjogren
7. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan laboratorium : LED
2. Faktor reumatoid (RF) serum.
3. Radiologi tangan dan kaki. Gambaran dini berupa
pembengkakan jaringan lunak, diikuti oleh
osteoporosis juxta-articular dan erosi pada bare area
tulang. Keadaan lanjut terlihat penyempitan celah
sendi, osteoporosis difus, erosi meluas sampai daerah
subkondral.
4. ACPA (anti-cyclic citrullinated peptide antibody) /
anti-CCP.
5. CRP.
6. Analisis cairan sendi.
7. Biopsi sinovium/ nodul rheumatoid.

8. Terapi 1. Pasien diberikan informasi untuk memproteksi sendi,


terutama pada stadium akut dengan menggunakan
decker.
2. Pemberian obat anti inflamasi non-steroid, seperti:
diklofenak 50-100 mg 2x/hari, meloksikam 7,5–15
mg/hari, celecoxib 200-400 mg/sehari.
3. Pemberian golongan steroid, seperti: prednison atau
metil prednisolon dosis rendah (sebagai bridging
therapy).
4. Fisioterapi, tatalaksana okupasi, bila perlu dapat
diberikan ortosis.
9. Edukasi -
(Hospital Health
Promotion)
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam

Panduan Praktek Klinis 150


Rumah Sakit Emanuel 1501
11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C/D

13. Penelaah Kritis Dokter Spesialis Syaraf, mitra bestari

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS
DOKTER SPESIALIS KULIT DAN
KELAMIN
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

STEVEN JOHNSON (ICD X :L51.1)


1. Pengertian (Definisi) Sindrom kelainan kulit berupa eritema, vesikel/bula
dapat disertai purpura yang mengenai kulit, selaput
lendir orifisium dan mata dengan keadaan umum
bervariasi dari baik sampai buruk.

2. Anamnesis 1. Demam tinggi


2. Malaise
3. Nyeri kepala
4. Batuk
5. Pilek
6. Nyeri tenggorokan
7. Kelainan kulit berupa eritema dan bula yang
kemudian memecah sehingga terjadi erosi yang luas.
8. Kelainan selaput lendir orifisium , yang tersering
ialah pada mukosa mulut (100 %), orifisium genital
eksterna (50%), lubang hidung (8 %), dan anus
(4%).
9. Kelainan mata (80%), yang tersering konjungtivitas
kataralis.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan umum


2. Kelainan kulit berupa eritema, vesikel dan bula yang
kemudian memecah sehingga terjadi erosi yang luas.
Purapura dapat terjadi dan prognosisnya menjadi
lebih buruk. Pada keadaan berat kelainannya
generalisata.
3. Kelainan selaput lendir orifisium, yang tersering
ialah pada mukosa mulut (100%), orifisium genital
eksterna (50%), lubang hidung (8%), dan anus (4%).
Lesi awal berupa vesikel di bibir, lidah dan mukosa
bukal yang kemudian pecah membentuk erosi,
ekskoriasi, eksudasi, krusta kehitaman dan
pembentukan pseudomembran. Biasanya juga
terjadi hipersalivasi dan lesi dapat berulserasi. Di
bibir kelainan yang sering tampak ialah krusta
berwarna hitam yang tebal akibat ekskoriasi.
Kelainan di mukosa terdapat di faring, saluran nafas
bagian atas, dan esophagus. Kelainan di mulut yang
hebat dan terbentuknya pseudomembran berwarna
putih atau keabuan di faring dapat menyebabkan
kesulitan menelan, sedangkan kelainan di saluran
pernapasan bagian atas dapat menyebabkan keluhan
sukar bernafas.
4. Kelainan mata (80%), yang tersering konjungtivitis
kataralis. Dapat terjadi konjungtivitis purulent,
perdarahan, simblefaron, ulkus kornea, iritis dan
iridosiklitis.
5. Kelainan lain misalnya nefritis dan onikolisis.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Hasil pemeriksaan laboratorium
4. Hasil pemeriksaan Biopsi
5. Pemeriksaan histopatologi

5. Diagnosis Kerja Steven Johnson (ICD X : L51.1)

6. Diagnosis Banding 1. Eksantema fikstum multiple generalisata


2. Nekrolisis epidermal toksik

7. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan Laboratorium :


2. Pemeriksaan Biopsi
3. Pemeriksaan histopatologi

8. Terapi - Prednison 30-40 mg sehari


- Kortikosteroid (life saving)
- Deksametason intravena dosis permulaan 4-6 x 5 mg
sehari
- Antibiotic gentamisin dosis 2 x 80 mg.
- Infus glukosa 5 % dan larutan Darrow
- Transfusi darah sebanyak 300 cc sela,a 2 hari
berturut-turut
- Vitamin C 500 mg atau 1000 mg intravena sehari
dan hemostatik

9. Edukasi Pasien dan keluarga mewaspadai obat-obat yang dapat


(Hospital Health memicu alergi
Promotion)
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad Sanationam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV


12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter spesialis kulit, mitra bestari

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ke 3 Jilid ke 2
Penerbit Media Aesculapius Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia Th 2000
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

DERMATITIS ATOPIK (ICD X : L20)


1. Pengertian (Definisi) Peradangan kulit berulang dan kronis dengan disertai
gatal. Pada umumnya terjadi selama masa bayi dan anak-
anak dan sering berhubungan dengan peningkatan kadar
IgE dalam serum serta riwayat atopi pada keluarga atau
penderita.

2. Anamnesis 1. Pasien datang dengan keluhan gatal yang bervariasi


lokasinya tergantung pada jenis dermatitis atopik
(lihat klasifikasi).
2. Gejala utama DA adalah pruritus (gatal), dapat
hilang timbul sepanjang hari, tetapi umumnya lebih
hebat pada malam hari. Akibatnya penderita akan
menggaruk.
3. Pasien biasanya mempunyai riwayat juga sering
merasa cemas, egois, frustasi, agresif, atau merasa
tertekan.

3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan FisikPatognomonis


Kulit penderita DA :
1. Perabaan Kering,
2. Pucat/redup,
3. Jari tangan teraba dingin.
4. Terdapat papul, likenifikasi, eritema, erosi, eksoriasi,
eksudasi dan krusta pada lokasi predileksi.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik

5. Diagnosis Kerja Dermatitis Atopik (ICD X : L20)

6. Diagnosis Banding 1. Dermatitis seboroik (terutama pada bayi),


2. Dermatitis kontak,
3. Dermatitis numularis,
4. Skabies,
5. Iktiosis,
6. Psoriasis (terutama di daerah palmoplantar),
7. Sindrom Sezary,
8. Dermatitis herpetiformis.
7. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Laboratorium : pemeriksaan IgE serum

8. Terapi 1. Topikal (2x sehari)


 Pada lesi di kulit kepala, diberikan kortikosteroid
topikal, seperti: Desonid krim 0.05% (catatan:
bila tidak tersedia dapat digunakan fluosinolon
asetonidkrim 0.025%) selama maksimal 2
minggu.
 Pada kasus dengan manifestasi klinis likenifikasi
dan hiperpigmentasi, dapat diberikan golongan
betametason valerat krim 0.1% atau mometason
furoat krim 0.1%).
 Pada kasus infeksi sekunder, perlu
dipertimbangkan pemberian antibiotik topikal
atau sistemik bila lesi meluas.
2. Oral sistemik
 Antihistamin sedatif yaitu: hidroksisin (2 x 1
tablet) selama maksimal 2 minggu, atau
 Loratadine 1x10 mg/ hari atau antihistamin non
sedatif lainnya selama maksimal 2 minggu

9. Edukasi 1. Penyakit bersifat kronis dan berulang sehingga perlu


(Hospital Health diberi pengertian kepada seluruh anggota keluarga
Promotion) untuk menghindari faktor risiko dan melakukan
perawatan kulit secara benar.
2. Memberikan informasi kepada keluarga bahwa
prinsip pengobatan adalah menghindari gatal,
menekan proses peradangan, dan menjaga hidrasi
kulit.
3. Menekankan kepada seluruh anggota keluarga bahwa
modifikasi gaya hidup tidak hanya berlaku pada
pasien, juga harus menjadi kebiasaan keluarga secara
keseluruhan.
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad Sanationam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter spesialis kulit, mitra bestari

14. Indikator Medis


15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ke 3 Jilid ke 2
Penerbit Media Aesculapius Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia Th 2000
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

DERMATITIS NUMULARIS (ICD X : L20.8)


1. Pengertian (Definisi) Dermatitis berbentuk lesi mata uang (koin) atau lonjong,
berbatas tegas, dengan efloresensi berupa papulovesikel,
biasanya mudah pecah sehingga basah
(oozing/madidans).

2. Anamnesis 1. Bercak merah yang basah pada predileksi tertentu


dan sangat gatal.
2. Keluhan hilang timbul dan sering kambuh.

3. Pemeriksaan Fisik Tanda Patognomonis :


1. Lesi akut berupa vesikel dan papulo vesikel (0.3 –
1.0 cm), berbentuk uang logam, eritematosa, sedikit
edema, dan berbatas tegas.
2. Tanda eksudasi, karena vesikel mudah pecah,
kemudian mengering menjadi krusta kekuningan.
3. Jumlah lesi dapat satu, dapat pula banyak dan
tersebar, bilateral, atau simetris, dengan ukuran yang
bervariasi.
4. Tempat predileksi terutama di tungkai bawah, badan,
lengan, termasuk punggung tangan.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik

5. Diagnosis Kerja Dermatitis Numularis (ICD X : L20.8)

6. Diagnosis Banding 1. Dermatitis kontak.


2. Dermatitis atopi.
3. Neurodermatitis sirkumskripta.
4. Dermatomikosis.

7. Pemeriksaan Penunjang -

8. Terapi 1. Pasien disarankan untuk menghindari faktor yang


mungkin memprovokasi seperti stres dan fokus
infeksi di organ lain.
2. Farmakoterapi yang dapat diberikan, yaitu:
1) Topikal (2x sehari)
 Kompres terbuka dengan larutan PK
(Permanganas Kalikus) 1/10.000,
menggunakan 3 lapis kasa bersih, selama
masing-masing 15-20 menit/kali kompres
(untuk lesi madidans/basah) sampai lesi
mengering.
 Kemudian terapi dilanjutkan dengan
kortikosteroid topikal: Desonid krim 0.05%
(catatan: bila tidak tersedia dapat digunakan
fluosinolon asetonid krim 0.025%) selama
maksimal 2 minggu.
 Pada kasus dengan manifestasi klinis
likenifikasi dan hiperpigmentasi, dapat
diberikan golongan betametason valerat krim
0.1% atau mometason furoat krim 0.1%).
 Pada kasus infeksi sekunder, perlu
dipertimbangkan pemberian antibiotik topikal
atau sistemik bila lesi meluas.
 Pada kasus infeksi sekunder, perlu
dipertimbangkan pemberian antibiotik topical
atau sistemik bila lesi meluas.
2) Oral sistemik :
 Antihistamin sedatif yaitu : hidroksisin (2 x 1
tablet) selama maksimal 2 minggu atau
 Loratadine 1 x 10 mg/hari selama maksimal 2
minggu.
3) Jika ada infeksi bakterial, diberikan antibiotik
topikal atau sistemik bila lesi luas.

9. Edukasi 1. Memberikan edukasi bahwa kelainan bersifat kronis


(Hospital Health danberulang, sehingga penting untuk pemberian obat
Promotion) topikal rumatan.
2. Menjaga terjadinya infeksi sebagai faktor risiko
terjadinya relaps.
10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad Sanationam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C/D

13. Penelaah Kritis Dokter spesialis kulit, mitra bestari

14. Indikator Medis

Panduan Praktek Klinis 160


Rumah Sakit Emanuel 1601
15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ke 3 Jilid ke 2
Penerbit Media Aesculapius Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia Th 2000
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

DERMATITIS KONTAK ALERGIK (DKA) (ICD X : L23)


1. Pengertian (Definisi) Reaksi peradangan kulit imunologik karena reaksi
hipersensitivitas. Kerusakan kulit terjadi didahului oleh
proses sensitisasi berupa alergen (fase sensitisasi) yang
umumnya berlangsung 2-3 minggu. Bila terjadi pajanan
ulang dengan allergen yang sama atau serupa, periode
hingga terjadinya gejala klinis umumnya 24-48 jam (fase
elisitasi). Alergen paling sering berupa bahan kimia
dengan berat molekul kurang dari 500-1000 Da. DKA
terjadi dipengaruhi oleh adanya sensitisasi alergen derajat
pajananm dan luasnya penetrasi di kulit.

2. Anamnesis 1. Keluhan kelainan kulit berupa gatal.


2. Kelainan kulit bergantung pada keparahan dermatitis.
3. Keluhan dapat disertai timbulnya bercak kemerahan.
4. Hal yang penting ditanyakan adalah riwayat kontak
dengan bahan-bahan yang berhubungan dengan
riwayat pekerjaan, hobi, obat topikal yang pernah
digunakan, obat sistemik, kosmetik, bahan-bahan
yang dapat menimbulkan alergi, serta riwayat alergi
di keluarga

3. Pemeriksaan Fisik Tanda Patognomonis


1. Ada tanda-tanda radang akut, terutama pruritus
2. Kenaikan suhu
3. Kemerahan, edema atau pembengkakan dan
gangguan fungsi kulit tergantung pada kondisi akut
atau kronis.
4. Lokasi dan pola kelainan kulit penting diketahui
untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebabnya,
seperti di ketiak oleh deodorant, di pergelangan
tangan oleh jam tangan, dan seterusnya.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik

5. Diagnosis Kerja Dermatitis kontak alergik (DKA) (ICD X : L23)

6. Diagnosis Banding Dermatitis kontak iritan.


7. Pemeriksaan Penunjang -

8. Terapi 1. Keluhan diberikan farmakoterapi berupa:


1) Topikal (2x sehari)
 Pelembab krim hidrofilik urea 10%.
 Kortikosteroid
Desonid krim 0.05% (catatan: bila tidak
tersedia dapat digunakan fluosinolon asetonid
krim 0.025%).
 Pada kasus dengan manifestasi klinis
likenifikasi dan hiperpigmentasi, dapat
diberikan golongan betametason valerat krim
0.1% atau mometason furoat krim 0.1%).
 Pada kasus infeksi sekunder, perlu
dipertimbangkan pemberian antibiotik topikal.
2) Oral sistemik
 Antihistamin hidroksisin (2 x 1 tablet) selama
maksimal 2 minggu, atau
 Loratadine 1x10 mg/ hari selama maksimal 2
minggu.
2. Pasien perlu mengidentifikasi factor resiko,
menghindari bahan-bahan yang bersifat allergen, baik
yang bersifat kimia, mekanis dan fisis, memakai
sabun dengan Ph netral dan mengandung pelembab
serta memakai alat pelindung diri untuk menghindari
kontak allergen saat bekerja.

9. Edukasi 1. Konseling untuk menghindari bahan alergendi rumah


(Hospital Health saat mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Promotion) 2. Edukasi menggunakan alat pelindung diri seperti
sarung tangan dan sepatu boot.
3. Memodifikasi lingkungan tempat bekerja.

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad Sanationam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter spesialis kulit, mitra bestari

14. Indikator Medis


15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ke 3 Jilid ke 2
Penerbit Media Aesculapius Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia Th 2000
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TATA LAKSANA KASUS

HERPES ZOSTER (ICD X : B02.9)


1. Pengertian (Definisi) infeksi kulit dan mukosa yang disebabkan oleh virus
varisela-zoster. Infeksi ini merupakan reaktivasi virus
yang terjadi setelah infeksi primer.

2. Anamnesis 1. Nyeri radikular dan gatal terjadi sebelum erupsi.


2. Keluhan dapat disertai dengan gejala prodromal
sistemik berupa demam, pusing, dan malaise.
3. Setelah itu timbul gejala kulit kemerahan yang dalam
waktu singkat menjadi vesikel berkelompok dengan
dasar eritem dan edema.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Sekelompok vesikel dengan dasar eritem yang


terletak unilateral sepanjang distribusi saraf spinal
atau kranial
2. Lesi bilateral jarang ditemui, namun seringkali,
erupsi juga terjadi pada dermatom di dekatnya.

4. Kriteria Diagnosis 1. Sesuai kriteria anamnesis


2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik

5. Diagnosis Kerja Herpes Zoster (ICD X : B02.9)

6. Diagnosis Banding 1. Herpes simpleks


2. Dermatitis venenata
3. Pada saat nyeri prodromal: diagnosis dapat
menyerupai migrain, nyeri pleuritik, infark miokard,
atau apendisitis.

7. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan mikroskopis dengan menemukan sel


Tzanck yaitu sel datia berinti banyak; meskipun
pemeriksaan ini tidak spesifik.

8. Terapi 1. Terapi suportif dilakukan dengan menghindari


gesekan kulit yang mengakibatkan pecahnya vesikel.
2. Pemberian nutrisi TKTP, dan istirahat dan mencegah
kontak dengan orang lain.
3. Gejala prodromal diatasi sesuai dengan indikasi.
Aspirin dihindari oleh karena dapat menyebabkan
Reye’s syndrome.
Topikal :
Stadium vesikel : bedak salisil 2% atau bedak kocok
kalamin agar vesikel tidak pecah.
Apabila erosif, diberikan kompres terbuka, apabila
terjadi ulserasi, dapat dipertimbangkan pemberian
salep antibiotik.
4. Pengobatan antivirus oral, antara lain dengan:
1) Asiklovir: dewasa 5 x 800 mg/hari, anak-anak 4
x 20 mg/kgBB (dosis maksimal 800 mg), atau
2) Valasiklovir: dewasa 3 x 1000 mg/hari.
Pemberian obat tersebut selama 7-10 hari dan efektif
diberikan pada 24 jam pertama setelah timbul lesi.

9. Edukasi 1. Edukasi tentang perjalanan penyakit Herpes Zoster.


(Hospital Health 2. Edukasi bahwa lesi biasanya membaik dalam 2-3
Promotion) minggu pada individu imunokompeten.
3. Edukasi mengenai seringnya komplikasi neuralgia
pasca-herpetik.

10. Kontra Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam


Ad Sanationam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV

12. Tingkat Rekomendasi A/B/C

13. Penelaah Kritis Dokter spesialis kulit, mitra bestari

14. Indikator Medis

15. Kepustakaan 1. PerMenKes No. 5 Th 2014 tentang Panduan Praktik


Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer
2. SPM IDI Edisi ke 3 cetakan ke 2 Th 2002
3. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ke 3 Jilid ke 2
Penerbit Media Aesculapius Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia Th 2000
4. Harrisons Principles Of Internal Medicine 16 th.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS
DOKTER SPESIALIS ANESTESI
I. TIM ANESTESI (TA)

Di Rumah sakit Emanuel jumlah ketenagaan minimal untuk TIM ANESTESI


(TA) adalah :
A. KETUA : Dokter anestesi „on site‟ atau dokter anestesi „on call‟ , atau dokter
lain dengan pengetahuan anestesi yang cukup, minimal 1 orang dokter.
B. ANGGOTA : Perawat anestesi / perawat dengan pelatihan anestesi, minimal 3
orang.
C. Tenaga Administrasi anestesi : minimal satu orang , bisa dirangkap oleh
perawat anestesi atau perawat lain seperti pada nomor dua.
Dalam melaksanakan tugas melakukan anestesi maupun sedasi diatur sistim
ketenagaan sebagai berikut :
1. Pasien ASA 3, 4 dan 5 : dilakukan oleh dokter anestesi dan minimal satu
anggota TA
2. Pasien ASA 1 dan 2 : dilakukan oleh minimal satu anggota TA dengan
asisten perawat umum/perawat anestesi/perawat kamar operasi, dengan
sebelumnya melaporkan ke ketua TA.
3. Pasien emergensi : dilakukan oleh minimal satu anggota TA dengan asisten
perawat umum/perawat anestesi/perawat kamar operasi, dengan sebelumnya
melaporkan ke ketua TA.

Panduan Praktek Klinis 168


Rumah Sakit Emanuel 1681
II. PELIMPAHAN TUGAS DAN WEWENANG TINDAKAN MEDIS
ANESTESI

Pengertian:
Pelimpahan tugas dan wewenang anestesi adalah pelimpahan tindakan medis
anestesi di RS Emanuel, kepada perawat anestesi dan atau dokter bedah, untuk
melakukan pembiusan pada pasien yang akan menjalani operasi ketika dokter
anestesi tidak dapat melakukan sendiri tindakan medis anestesi karena suatu hal.
1) Jika dokter spesialis anestesi masih berada di lingkungan RS Emanuel atau
dalam jarak kurang dari 5 KM dari kamar bedah, maka dapat dimintakan
instruksi lesan/tertulis serta dicatat instruksinya di rekam medis pasien. Tugas
dan wewenang tindakan medis anestesi dilaksanakan oleh perawat anestesi
dibantu oleh seorang perawat umum/perawat kamar operasi. Tanggung jawab
medis anestesi ada pada dokter anestesi.
2) Jika dokter spesialis anestesi tidak ada di RS Emanuel atau jarak lebih dari 5
KM, tetapi masih dapat dijangkau baik lewat telepon maupun SMS atau e-
mail atau sarana elektronik yang lain, maka daesi ada pada dokternpat
dimintakan instruksi secara lisan lewat telepon atau tertulis lewat SMS atau e-
mail. Instruksi ini ditulis di RM pasien dan dibubuhi paraf perawat anestesi
yang menerima pesan. Tugas dan wewenang tindakan anestesi dilakukan oleh
perawat anestesi, dibantu oleh seorang perawat umum/perawat kamar operasi.
Dokter anestesi bertanggung jawab terhadap proses anestesi sepanjang
pelaksanaan anestesi sesuai sarannya dan sesuai protap yang ada.
3) Jika dokter anestesi sedang cuti atau bertugas luar sehingga tidak dapat
dihubungi dengan cara diatas no 2, maka perawat anestesi dapat mengerjakan
tindakan medis anestesi sesuai dengan prosedur tetap yang ada atas perintah
tertulis dari dokter yang melakukan pembedahan. Tanggung jawab anestesi
berada pada dokter yang melakukan pembedahan.
4) Dokter anestesi tidak bertanggung jawab bila instruksi tidak dijalankan
sebagaimana mestinya. Dokter anestesi hanya bertanggung jawab atas
instruksi yang diberikan olehnya, dan tidak bertanggung jawab terhadap
tindakan medis diluar instruksinya.

III. PELAYANAN ANESTESI UMUM


Definisi : Anestesi umum adalah merupakan tindakan medis dengan memberikan
obat-obatan yang mengakibatkan penderita tidak sadar yang bersifat sementara.
Menghilangkan rasa nyeri untuk memfasilitasi tindakan pembedahan.
Dikerjakan oleh tim anestesi meliputi :
1. Melakukan tindakan anestesi pada pasien yang akan dilakukan operasi di
ruang instalasi bedah sentral baik elektif / terencana maupun darurat.
2. Tindakan perawatan dari persiapan hingga melakukan pengawasan selama
pasien belum sadar secara penuh.
3. Memberikan obat-obatan anestesi bila diperlukan baik dalam persiapan,
selama maupun pasca pembedahan.

A. PERSIAPAN OPERASI

Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam anamnesa :


1. Identifikasi pasien , misal: nama,umur, alamat, pekerjaan dll
2. Pernyataan persetujuan untuk anestesi yang ditandatangani oleh pasien
atau wali
3. Riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita yang mungkin dapat
menjadi penyulit dalam anestesi, antara lain : penyakit alergi, penyakit
paru-paru kronik ( asma bronkial, bronkitis ), penyakit jantung, hipertensi,
penyakit hati dan penyakit ginjal.
4. Riwayat obat-obat yang sedang atau telah digunakan yang mungkin
menimbulkan interaksi dengan obat-obat anestesi.

Panduan Praktek Klinis 170


Rumah Sakit Emanuel 1701
5. Riwayat operasi dan anestesi yang pernah dialami pada waktu yang lalu,
berapa kali dan selang waktu. Apakah saat itu mengalami komplikasi,
seperti: lama pulih sadar, memerlukan perawatan intensif pasca bedah, dll.
6. Kebiasaan buruk sehari-hari yang mungkin dapat mempengaruhi jalannya
anestesi, seperti : merokok, minum minuman beralkohol, pemakai
narkoba.

B. PEMERIKSAAN FISIK
 Pemeriksaan tanda vital dan fisik rutin
 Dilakukan penilaian kondisi jalan nafas yang dapat menimbulkan
kesulitan intubasi

C. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Standar minimal laboratorium pada pasien yang akan menjalani anestesi baik
umum, regional maupun blokade syaraf adalah : Sysmex, PT, APPT
Berdasar indikasi dapat dilakukan pemeriksaan penunjang sebagai berikut:
a. Darah: Golongan darah.
b. Urine : protein, reduksi, sedimen
c. Foto thorak : terutama untuk bedah mayor
d. EKG : rutin untuk umur > 40 tahun
e. Elekrolit ( Na, K, Cl ) pada operasi mayor atau diperkirakan perdarahan
banyak
f. Faal fungsi hati ( bilirubin, urobilin, SGOT, SGPT, HBsAg ) bila
dicurigai adanya gangguan fungsi hati
g. Faal fungsi ginjal (ureum, kreatinin ) bila dicurigai adanya gangguan
fungsi ginjal.
h. Pemeriksaan faal fungsi Tiroid (TSH dan free T4) bila ada kecurigaan
hipertiroid atau hipotiroid klinis.
D. RINGKASAN/KESIMPULAN PEMERIKSAAN
Ringkasan pemeriksaan dirumuskan sebagai status fisik (klasifikasi American
Society
Of Anesthesiologist) sebagai berikut :
Status fisik ASA 1 :
Pasien-pasien yang tidka mempunyai penyakit sistemik atau kelainan yang
perlu pembedahannya terlokalisir.
Contoh :Seorang laki-laki sehat menjalani herniotomi.

Status fisik ASA 2 :


Pasien-pasien yang menderita penyakit sistemik ringan atau sedang, karean
alasan medik atau kelainan yang perlu pembedahan.
Contoh : pasien diabetes dengan pengobatan oral, tetapi tidak ada penyulit
organ lain.

Status fisik ASA 3 :


Pasien-pasien yang menderita penyakit sistemik yang membatasi aktivitasnya.
Contoh : pasien dengan infark jantung, dengan angina pectoris yang harus
dikelola dengan perawatan medis.

Status fisik ASA 4 :


Pasien-pasien dengan penyakit yang mengancam jiwa.
Contoh : pasien gagal jantung berat yang hanya dapat berjalan beberapa
meter.

Status fisik ASA 5 :


Pasien-pasien "moribund" yang 50% akan meninggal dalam 24 jam, dengan
atau
tanpa pembedahan.
Contoh : pasien ileus strangulasi dengan anuria, coma, tekanan darah 70/40
dengan pemberian infus dopamine. Untuk pasien pembedahan darurat
ditambahkan kode "D" atau “E”.

E. PERSIAPAN DI HARI OPERASI


1) Pengosongan lambung, penting untuk mencegah aspirasi isi lambung
karena regurgitasi / muntah. Untuk dewasa dipuasakan 6-8 jam sebelum
operasi , sedang anak : makanan padat atau susu formula 6 jam sebelum
operasi, ASI 4 jam sebelum operasi, air putih atau teh manis 2 jam
sebelum operasi dalam jumlah yang tak terlalu banyak.
2) Pemasangan dan pemberian cairan infus sesuai kondisi pasien,
menggunakan iv catheter ukuran minimal 18 atau menyesuaikan keadaan
pasien dimana dipilih ukuran yang paling maksimal bisa dipasang.
3) Gigi palsu / protese lain harus ditanggalkan
4) Perhiasan dan kosmetik harus dilepas /dihapus
5) Pasien masuk kamar bedah dengan tanda identitas yang jelas, memakai
pakaian khusus, bersih dan longgar dan mudah dilepas
6) Mintakan ijin operasi dari pasien atau keluarganya
7) Jika pasien gelisah /cemas diberikan premedikasi

F. OPERASI DARURAT ( EMERGENCY )


1. Dilakukan perbaikan keadaan umum seoptimal mungkin sepanjang
tersedia waktu.
2. Dilakukan pemeriksaan laboratorium standard atau pemeriksaan
penunjang yang masih mungkin dapat dilakukan.
3. Pada operasi darurat, dimana tidak dimungkinkan untuk menunggu sekian
lama, maka pengosongan lambung dilakukan lebih aktif dengan cara
memberi obat prokinetik atau memasang pipa nasogastrik.
4. Perlu pula dilakukan pemberian obat yang menurunkan tingkat keasaman
lambung
5. Persiapan harus ditujukan untuk resusitasi dan stabilisasi fungsi vital
tubuh pasien agar pembedahan/terapi definitif dapat segera dilakukan

G. OBAT OBAT PREMEDIKASI


Obat premedikasi diberikan beberapa jam sampai beberapa saat sebelum
dilakukan anestesi umum.
Obat yang bisa digunakan :
a. Meredakan kecemasan : golongan benzodiasepin oral pada elektif dan
injeksi pada emergensi. Contoh : Alprazolam tablet 0,5 mg atau
Midazolam injeksi dosis sesuai respon pasien.
b. Mengurangi sekresi saluran nafas : Sulfas Atropin 0,25-0,5 mg injeksi.
c. Mengurangi sekresi lambung : Ranitidine, Omeprazol, Lansoprazol bisa
injeksi maupun oral tergantung kondisi pasien.
d. Mempercepat pengosongan lambung : Metoklopramid bisa injeksi
maupun oral tergantung kondisi pasien.
e. Mengurangi nyeri : Bisa menggunakan NSAID seperti ketorolak, maupun
Opioid seperti Morfin, Petidine, maupun Fentanyl injeksi.

H. OBAT INDUKSI ANESTESI


Obat obat yang bisa digunakan untuk induksi anestesi di RS Emanuel :
1. Propofol : dosis 2-3 mg per kg BB intra vena, titrasi sesuai respon
2. Sedacum : dosis 0,2-0,6 mg per kg BB, inra vena, titrasi sesuai respon
3. Ketalar : dosis 1-2 mg per kg BB, intra vena, titrasi sesuai respon
4. Sevoflurane inhalasi : dosis 2-8% volume, inhalasi via masker, titrasi
sesuai respon
Obat induksi dan agen inhalasi, dapat dipergunakan sebagai obat
pemeliharaan anestesi
I. OBAT PELUMPUH OTOT / FASILITAS INTUBASI
Obat pelumpuh otot dan obat fasilitas intubasi yang dipakai di RS Emanuel :
1. Rocuronium : dosis 0,4-1,2 mg per kg BB
2. Atracurium : dosis 0,5 mg per kb BB
3. Suksinilkolin : dosis 1-1,5 mg per kg BB

J. OBAT ANALGETIK DURANTE ANESTESI DAN PASCA


PEMBEDAHAN
Obat analgetik durante operasi yang dipakai di RS Emanuel meliputi :
1. Fentanyl : dosis 2-6 mikro per kg BB, intra vena, titrasi sesuai respon
2. Petidine : dosis 1-2 mg per kg BB, intra vena, titrasi sesuai respon
3. Morfin : dosis 0,1-0,2 mg per kg BB, intra vena, titrasi sesuai respon

Obat analgetik pasca operasi yang digunakan pasca pembedahan di RS


Emanuel :
1. Ketorolac : dosis 3 x 30 mg iv
2. Tramadol : 50-100 mg intra vena, diencerkan disuntikkan pelan pelan
3. Obat opioid seperti obat analgetik durante operasi, dosis titrasi

K. OBAT REVERSAL
Obat reversal yang digunakan di RS Emanuel :
1. Reversal opioid : Naloxon injeksi intra vena, dosis 0,05 mg, titrasi sesuai
respon
2. Reversal obat pelumpuh otot non depolarisasi : Neostigmin 0,5-2 mg
injeksi intra vena, titrasi sesuai respon.

L. STANDAR MONITORING DI KAMAR OPERASI


Monitoring anestesi selama pembedahan dilakukan secara kontinyu yanng
meliputi:
1. Oksimetri/Saturasi oksigen perifer
2. Tensimeter elektrik, dengan pengukuran tiap 3 menit
3. Monitor EKG 3 leads
4. Termometer pada pasien pediatrik dengan operasi berdurasi diatas 2 jam
5. Stetoskop precordial

IV. PELAYANAN SEDASI DI LUAR KAMAR OPERASI


Definisi :
Sedasi minimal : Sering disebut sebagai ansiolitik. Suatu kondisi yang
dipengaruhi obat dimana pasien masih merespon perintah verbal secara normal.
Fungsi kognitif dan kordinasi mungkin terganggu. Fungsi kardiovaskuler dan
ventilasi tidak terpengaruh.
Sedasi moderat : Suatu kondisi kesadaran yang terdepresi karena pengaruh obat,
dimana pasien merespon perintah verbal dan atau stimulus nyeri ringan, dengan
bertujuan. Tidak perlu intervensi untuk mempertahankan patensi jalan nafas.
Ventilasi spontan adekuat. Fungsi kardiovaskuler secara umum masih terjaga.
Sedasi dalam : Suatu kondisi kesadaran yang terdepresi karena obat, dimana
pasien tidak bisa dibangunkan dengan mudah, tetapi memberikan respon
bertujuann bila distimulasi berulang atau bila distimulasi nyeri. Independensi
ventilasi mungkin terganggu. Pasien kadang membutuhkan bantuan untuk
menjaga patensi jalan nafas. Ventilasi spontan mungkin tidak adekuat. Fungsi
kardiovaskuler biasanya tetap terjaga.
Anestesi umum : Kondisi hilangnya kesadaran karena pengaruh obat, dimana
pasien tidak dapat dibangunkan, meskipun dengan stimulus nyeri. Kemampuan
untuk mempertahankan nafas secara independen sering terganggu. Bantuan sering
dibutuhkan untuk mempertahankan patensi jalan nafas. Ventilasi tekanan positif
mungkin dibutuhkan karena ventilasi nafas spontan terdepresi atau karena depresi
neuromuskuler karena obat. Fungsi kardiovaskuler mungkin terganggu.
A. STANDAR KUALIFIKASI PERSONIL YANG MELAKUKAN SEDASI
Standar kualifikasi personil :
1. Sedasi ringan bisa dilakukan oleh semua dokter yang memiliki SIP dan
penunjukan klinis mengelola pasien
2. Sedasi moderat dapat dilakukan oleh dokter pada no 1, dengan tambahan
sudah pernah mengikuti ACLS dan atau ACLS.
3. Dokter anestesi dapat melakukan semua level sedasi. Sedasi dalam dan
anestesi umum harus dalam pengawasan dokter anestesi.
4. Personil yang bertugas melakukan sedasi tidak boleh merangkap menjadi
pelaksana prosedur tindakan lain.

Obat yang digunakan pada sedasi

DOSIS UMUM BUAT DEWASA OBAT


NAMA OBAT
REVERSAL

Opioids

Meperidine  Dosis inisial : 25-50 mg intra  Naloxone


(Demerol/Pethidine) vena
 Dosis tambahan: 25 mg tiap
2-5 menit sampai sedasi yang
adekuat tercapai
 Onset aksi : 3-6 min
 Efek Puncak : 6-7 menit
 Masa kerja: 60-180 menit

Fentanyl  Dosis inisial : 25 mcg intra  Naloxone


(Sublimaze) vena
 Dosis tambahan: 25 mcg tiap
2-5 menit sampai sedasi yang
adekuat tercapai
 Onset kerja : 1-2 min
 Efek Puncak : 3-5 menit
 Masa kerja: 30-60 menit

Benzodiazepines

Diazepam  Dosis inisial: 5-10 mg  Flumazenil


(Valium)  Onset kerja : 2-3 menit
 Efek puncak : 3-5 menit
 Masa kerja : 360 menit

Midazolam  Dosis inisial : 1-2 mg  Flumazenil


(Versed)  Dosis tambahan : 1 mg tiap 1-
2 menit.
 Onset kerja: 1-2 menit
 Efek puncak : 3-4 menit
 Masa kerja : 15-80 menit

Obat reversal

Naloxone  Dosis awal : 0.1-0.2 mg


(Narcan)  Dosis tambahan : 0.2-0.4 mg
intra vena setiap 2-3 menit
tercapai efek yang
diharapkan. Dosis suplemen
mungkin diperlukan setelah
20-30 menit
 Onset kerja : 1-2 menit
 Efek puncak : 5 menit
 Masa kerja : 30-45 menit

Panduan Praktek Klinis 178


Rumah Sakit Emanuel 1781
Flumazenil  Dosis awal : 0.2 mg intravena
(Romazicon) selama lebih dari 15 detik
 Dosis tambahan : Jika
kesadaran belum tercapai
dalam 45 detik, 4 kali
tamabahan dengan dosis yang
sama dapat diberikan dengan
interval 60 detik.
 Onset kerja: 1-2 menit
 Efek puncak : 3 menit
 Masa kerja : 10-15 menit
 Terapi ulangan : jika resedasi
muncul, dosis ulangan dapat
diberikan dalam intervas 20
menit. Tidak lebih dari 1 mg
dalam satu kali pemberian .
Dalam satu jam tidak lebih
dari 3 mg.

Obat anestesi

Propofol  Dosis awal: 10-40 mg


(Diprivan) intravena
 Dosis tambahan : 25-75
mcg/kg intravena per menit;
atau tambahan dosis bolus 10-
20 mg per menit
 Onset kerja : kurang dari 1
menit
 Efek puncak : 1-2 menit
 Masa Kerja : 4-8 menit

Obat lain :

Ketamine  Dosis inisial : 0.5 mg/kg


(Ketalar) intravena
 Dosis tambahan : dititrasi
sesuai efek
 Mula kerja : kurang dari 1
menit
 Efek puncak : 1 menit
 Masa kerja : 10-15 menit

Diphenhydramine  Dosis awal : 25-50 mg,


(Benadryl Injection) kadang bisa sampai 100 mg
 Mula kerja : 2-3 menit
 Efek puncak : 60-90 menit
 Masa kerja : lebih dari 240
menit

Droperidol  Dosis awal : 1,25-2,5 mg iv


(Inapsine) atau im
 Diberikan sampai efek yang
diinginkan tercapai.
 Mula kerja : 3-10 menit
 Efek puncak : 30 menit
 Masa kerja : 120-240 menit

Atropine  Dosis awal : 0,4-0,6 mg


(Atropine Sulfate)  Dosis tambahan : 0.4-0.6 mg
 Mula kerja : 40-60 detik.

Panduan Praktek Klinis 180


Rumah Sakit Emanuel 1801
 Efek puncak : 2 menit
 Masa kerja: 1- 2 jam

B. STANDAR MONITORING SEDASI DI LUAR KAMAR OPERASI


Standar monitoring yang harus ada :
1. Stetoskop precordial
2. Pulse oksimetri
3. Tensimeter

C. SKOR SEDASI
Kriteria Skor
1. Pasien cemas dan gelisah atau tidak tenang, atau keduanya
2. Pasien kooperatif, berorientasi, dan tenang
3. Pasien merespon saat diperintah
4. Pasien menunjukkan respon cepat, untuk sentuhan ringan di glabellar
atau stimulus pendengaran keras
5. Pasien menunjukkan respon yang lambat untuk sentuhan ringan di
glabellar atau stimulus pendengaran keras
6. Pasien menunjukkan tidak ada respon

Penilaian skor :
Skor sedasi untuk dilakukan tindakan antara 4-6
Skor sedasi untuk pemulihan dari obat sedasi antara 1-4
V. PELAYANAN ANESTESI REGIONAL, SPINAL DAN ANESTESI

Anestesi spinal (anestesi lumbal, blok sub arachnoid) dihasilkan bila kita
menyuntikkan obat analgesic local ke dalam ruang sub-arachnoid di daerah antara
vertebra L2-L3 atau L3-L4 atau L4-L5
Indikasi:
1. Bedah ekstremitas bawah
2. Bedah panggul
3. Tindakan sekitar rektum perineum
4. Bedah obstetrik-ginekologi
5. Bedah urologi
6. Bedah abdomen bawah
7. Pada bedah abdomen atas dan bawah pediatric biasanya dikombinasikan
dengan anesthesia umum ringan

Kontra indikasi absolute:


1. Pasien menolak
2. Infeksi pada tempat suntikan
3. Hipovolemia berat, syok
4. Koagulapatia atau mendapat terapi koagulan
5. Tekanan intracranial meningkat
6. Fasilitas resusitasi minim
7. Kurang pengalaman tanpa didampingi konsulen anestesi.
8. Mitral stenosis berat dan Aorta stenosis berat

Kontra indikasi relative:


1. Infeksi sistemik
2. Infeksi sekitar tempat suntikan
3. Kelainan neurologis
4. Kelainan psikis

Panduan Praktek Klinis 182


Rumah Sakit Emanuel 1821
5. Bedah lama
6. Penyakit jantung
7. Hipovolemia ringan
8. Nyeri punggung kronik

Kontra indikasi kontroversi :


1. Riwayat pembedahan pada tempat suntikan
2. Kesulitan komunikasi dengan pasien
3. Pembedahan komplikatif dan lama
4. Perdarahan mayor
5. Manuver yang membahayakan respirasi

Persiapan analgesia spinal


Pada dasarnya persiapan untuk analgesia spinal seperti persiapan pada anastesia
umum. Daerah sekitar tempat tusukan diteliti apakah akan menimbulkan
kesulitan,misalnya ada kelainan anatomis tulang punggung atau pasien gemuk
sekali sehingga tak teraba tonjolan prosesus spinosus. Selain itu perlu diperhatikan
hal-hal di bawah ini:
1. Informed consent
2. Pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan laboratorium minimal : Sysmex, PT, APTT

Peralatan analgesia spinal


1. Peralatan monitor: minimal tekanan darah, pulse oximetri
2. Peralatan resusitasi
3. Jarum spinal
Jarum spinal dengan ujung tajam (ujung bamboo runcing, quinckebacock) atau
jarum spinal dengan ujung pinsil (pencil point whitecare)
Teknik analgesia spinal
Posisi duduk atau posisi tidur lateral dekubitus dengan tusukan pada garis tengah
ialah posisi yang paling sering dikerjakan. Biasanya dikerjakan di atas meja operasi
tanpa dipindah lagi dan hanya diperlukan sedikit perubahan posisi pasien.
Perubahan posisi berlebihan dalam 30 menit pertama akan menyebabkan
menyebarnya obat.
1. Setelah dimonitor,tidurkan pasien misalkan dalam posisi lateral dekubitus. Beri
bantal kepala,selain enak untuk pasien juga supaya tulang belakang stabil. Buat
pasien membungkuk maximal agar processus spinosus mudah teraba. Posisi lain
adalah duduk.
2. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua garis Krista iliaka,missal
L2-L3, L3-L4, L4-L5. Tusukan pada L1-L2 atau diatasnya berisiko trauma
terhadap medulla spinalis.
3. Sterilkan tempat tusukan dengan betadine atau alcohol.
4. Cara tusukan median atau paramedian.
Untuk jarum spinal besar 22G,23G,25G dapat langsung digunakan. Sedangkan
untuk yang kecil 27G atau 29G dianjurkan menggunakan penuntun jarum yaitu
jarum suntik biasa semprit 10cc
5. Posisi duduk sering dikerjakan untuk bedah perineal misalnya bedah hemoroid
(wasir) dengan anestetik hiperbarik. Jarak kulit-ligamentum flavum dewasa ±
6cm.

Komplikasi anestesia spinal


Komplikasi analgesia spinal dibagi menjadi komplikasi dini dan komplikasi
delayed. Komplikasi berupa gangguan pada sirkulasi,respirasi dan gastrointestinal.

Komplikasi sirkulasi:
Hipotensi terjadi karena vasodilatasi, akibat blok simpatis, makin tinggi blok makin
berat hipotensi. Pencegahan hipotensi dilakukan dengan memberikan infuse cairan
kristaloid(NaCl,Ringer laktat) secara cepat sebanyak 10-15ml/kgbb dlm 10 menit
segera setelah penyuntikan anesthesia spinal. Bila dengan cairan infuscepat tersebut
masih terjadi hipotensi harus diobati dengan vasopressor seperti efedrin intravena
sebanyak 10 mg diulang setiap 3-4menit sampai mencapai tekanan darah yang
dikehendaki.
Bradikardia dapat terjadi karena aliran darah balik berkurang atau karena blok
simpatis,dapat diatasi dengan sulfas atropine 1/8-1/4 mg IV.

Komplikasi gastrointestinal:
Nausea dan muntah karena hipotensi,hipoksia,tonus parasimpatis
berlebihan,pemakaian obat narkotik,reflek karena traksi pada traktus
gastrointestinal serta komplikasi delayed,pusing kepala pasca pungsi
lumbalmerupakan nyeri kepala dengan cirri khasterasa lebih berat pada perubahan
posisi dari tidur ke posisi tegak. Mulai terasa pada 24-48jam pasca pungsi
lumbal,dengan kekerapan yang bervariasi. Pada orang tua lebih jarang dan pada
kehamilan meningkat.

Pencegahan:
1. Pakailah jarum lumbal yang lebih halus
2. Posisi jarum lumbal dengan bevel sejajar serat duramater
3. Hidrasi adekuat,minum/infuse 3L selama 3 hari

Pengobatan:
1. Posisi berbaring terlentang minimal 24 jam
2. Hidrasi adekuat
3. Hindari mengejan
4. Bila cara diatas tidak berhasil berikan epidural blood patch yakni penyuntikan
darah pasien sendiri 5-10ml ke dalam ruang epidural.
Retentio urine
Fungsi kandung kencing merupakan bagian yang fungsinya kembali paling akhir
pada analgesia spinal, umumnya berlangsung selama 24 jam. Kerusakan saraf
permanen merupakan komplikasi yang sangat jarang terjadi.
Anastetik local untuk analgesia spinal
1. Bupivakain hiperbarik 5% atau lidokain 2-5 %

Anestesi Epidural
Secara umum sama dengan anestesi Spinal, hanya ada beberapa perbedaan :
1. Dosis obat anestesi lebih tinggi, dipakai Bupivakain isobarik 5% dalam jumlah
20-30 cc
2. Suntikan di rongga Epidural yang ditandai dengan “loss of resistence”
3. Sifat blok segmental, sehingga bisa dilakukan dari vertebra Cervical sampai
vertebra Lumbal.
4. Menggunakan set jarum Epidural, dengan atau tanpa kateter epidural.
5. Kekuatan analgetik lebih rendah dan onset lebih lama dibandingkan dengan
spinal.
6. Dengan kateter bisa ditambahkan Bupivakain sebagai pemeliharaan dengan
dosis yang lebih rendah.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS
DOKTER SPESIALIS RADIOLOGI
Pemberian Kontras Pada Pemeriksaan Radiologi

Indikasi :

1. Pemeriksaan radiologi dengan dugaan tumor yang mengarah ke keganasan

2. Neuroradiologi : myeloradiculography, cysternography, dan ventrikulography

3. Angiography : cerebral arteriography, coronary arteriography, thoracic


aortagraphy, abdominal aortagraphy, angiocardiography, selective
visceral arteriography, peripheral arteriography, venography, digital
subtraction angiography (DSA), DSA arteri cerebral

4. Urography : IVP

5. CT scan abdomen ( kecuali pemeriksaan CT abdomen yang bertujuan untuk


menemukan batu pada saluran kencing/ginjal cukup dengan CT abdomen polos)

Kontraindikasi :

1. Alergi

2. Creatinin >1

Bila creatinin >1 disarankan untuk tidak dilakukan IVP, bila diagnosa mengarah
ke batu saluran kencing maka disarankan untuk dilakukan CT scan abdomen
polos dengan slice tipis

Peringatan :

1. Reaksi anafilaksis

Gejala : mual, muntah, eritema, sakit kepala, edema laringeal, demam,


berkeringat, asthenia, dizziness, pallor, dispnoeu, dan hipotensi moderat.

Reaksi kulit : bermacam-macam rash

Reaksi berat melibatkan sistem kardiovaskuler sperti vasodilatasi perifer dengan


hipotensi berat, takikardi, dyspnoea,agitasi, sianosis, dan penurunan kesadaran.
Penggunaan kontras iopamiro harus diminimalkan pada pasien dengan gangguan
kardiovaskuler, gangguan hati dan ginjal.

Pada saat penyuntikan kontras berlangsung harus disediakan : ambu bag, tabung
oksigen, antihistamin, vasopressor, dan steroid.

2. Wanita hamil

3. Pasien hipertiroid

Dosis kontras secara garis besar : iopamiro 1 cc/ kg BB (1 botol iopamiro : 30 cc)

Contoh : pasien dengan BB 50 kg memerlukan dosis iopamiro 50 cc

Pasien dengan BB 40 kg memerlukan dosis iopamiro 40 cc (dapat diberikan 30 cc


dengan pertimbangan 1 botol iopamiro 30 cc)
Lampiran

Dosis iopamiro

1. Neuroradiologi

Konsentrasi (mg/ml) Dosis yang


direkomendasikan (ml)

Myeloradiculography 200-300 5-15

Cisternography dan 200-300 5-15


ventrikulography

2. Angiography

Konsentrasi (mg/ml) Dosis yang


direkomendasikan (ml)

Cerebral arteriography 300 5-10

Coronary arteriography 370 8-15

Thoracic arteriography 370 1-1.2

Abdominal arteriography 370 1-1.2

Angiocardiography 370 1-1.2

Selective visceral 300-370


arteriography
300-370 40-50
Peripheral arteriography
150-370
Digital subtraction
300 30-50
arteriography

Venography

Panduan Praktek Klinis 190


Rumah Sakit Emanuel 1901
PEMBERIAN INFORMASI DAN PERSETUJUAN TINDAKAN KEDOKTERAN
PEMERIKSAAN RADIOLOGI DENGAN PENYUNTIKAN MEDIA KONTRAS

PEMBERIAN INFORMASI

DPJP pasien

Dokter pemberi informasi

Penerima informasi

Jenis informasi Isi Informasi Tandai (v)

1. Diagnosis

2. Dasar diagnosis

3. Tindakan radiologi CT scan abdomen / CT thorak / IVP / colon


in loop/ HSG /......*

4. Indikasi Suspek tumor yang mengarah keganasan /


batu saluran kencing/ada tidaknya sumbatan
dan lokasinya pada salah satu atau kedua
saluran telur (Tuba falopii) dan melihat
bentuk rahim/.....*
5. Resiko Iodium “mumps” (pembengkakan kelenjar
saliva) dan gejala polyarthropathy dapat
terjadi pada pasien dengan disfungsi ginjal

Pada pasien disfungsi ginjal yang


mengkonsumsi metformin akan
meningkatkan resiko asidosis laktat

Memperberat fungsi ginjal

6. Komplikasi Reaksi alergi : kemerahan dan gatal di kulit,


sakit kepala, muntah, diare, asma
rhinokonjungtivitis

Syok anafilaktik: penurunan kesadaran,


penurunan tekanan darah, status asmatis,
henti napas, henti jantung
Reaksi vagal: hipotensi, bradikardi

7. Prognosis Tergantung dasar penyakit

Dengan ini menyatakan bahwa saya telah menerangkan hal-hal di atas


secara benar dan jelas dan memberikan kesempatan untuk bertanya dan tandatangan
berdiskusi

Dengan ini menyatakan bahwa saya telah menerima informasi dari dokter tandatangan
sebagaimana di atas dan telah memahaminya

Bila pasien tidak kompeten atau tidak mau menerima informasi, maka penerima
informasi adalah wali atau keluarga terdekat

*Pilih salah satu

Panduan Praktek Klinis 192


Rumah Sakit Emanuel