Anda di halaman 1dari 4

STR

HUBU
BEN STR UKT
LIT NGA
N PERAN LER TUK ATI UR PRO
OLO N 1.
O GEOMORFOLOGI ENG LAH GRA GEO SES
GI SEKIT
AN FI LOG
AR
I
Kerusakan konstruksi
1 bangunan akibat 1 2 3 4 5 6 7
bencana geologi
2 Material konstruksi 8 9 10 11 12 13 14
3 Penetuan as bendungan 15 16 17 18 19 20 21
Perencanaan
4 pembangunan bandara 22 23 24 25 26 27 28
dan pelabuhan
5 Pengembangan wilayah 29 30 31 32 33 34 35
Perencanaan
pembangunan
keterlintasan jalan dan
6 36 37 38 39 40 41 42
jembatan yang aman
dari berbagai bencana
geologi
Dinamika aliran sungai
7 thd konstruksi jalan dan 43 44 45 46 47 48 49
jembatan
Upaya penanganan
8 50 51 52 53 54 55 56
geoteknik di Jepang
Bencana lingkungan
9 57 58 59 60 61 62 63
korosif
10
Hubungan antara kerusakan konstruksi bangunan akibat bencana geologi dan
lereng
a. Apabila lereng terbentuk dengan kemiringan curam (misalnya >30o), dan tersusun
oleh perlapisan batuan yang miring mengarah ke arah luar lereng, dengan
kemiringan perlapisan lebih landai dari kemiringan lereng (misalnya 20o), dan
batuan tersebut terpotong-potong oleh bidang-bidang kekar yang juga miring ke
arah luar lereng, maka lereng tersebut berada pada kondisi batas kestabilan kritis.
b. Apabila suatu saat lereng tersebut mengalami gangguan kestabilan, baik oleh
proses yang berasal dari luar lereng ataupun dari dalam lereng, maka kestabilan
lereng akan berkurang sehingga kondisi kestabilan tersebut berada di bawah batas
kritis, dan akhirnya lereng ini bergerak longsor. Gangguan kestabilan yang
berasal dari luar lereng dapat terjadi misalnya akibat infiltrasi air hujan,
pembebanan yang berlebihan ataupun terjadi pemotongan pada kaki lereng,
sedangkan gangguan yang berasal dari dalam lereng dapat berupa guncangan
gempa bumi atau kenaikan tekanan air dalam tanah.

2. Hubungan antara kerusakan konstruksi bangunan akibat bencana geologi


dan bentuk lahan
a. Bentuklahan yang berupa perbukitan dengan kelerengan agak curam- amat
sangat curam akan sangat beresiko saat terkena getaran dari gempabumi.
b. Pada bentuk lahan struktural jika terjadi bencana geologi lebih memberikan
kerusakan yang berarti karena pengaruh sesar-sesar aktif.
c. Bentuk lahan vulkanik ketika terjadi bencana geologi akan memberikan
kerusakan yang berarti karena pengaruh dari aktivitas vulkanisme.

3. Hubungan antara kerusakan konstruksi bangunan akibat bencana geologi


dan litologi
a. Satuan batuan beku maka potensi bencana geologi gempa lebih kecil karena
pengaruh kristalin yang kuat maka gelombang tidak akan mengoyak kuat.
b. Satuan berbutir halus akan memberikan potensi bencana geologi lebih besar
seperti gempa dan tsunami akan memberikan dampak yang cukup serius.

4. Hubungan antara kerusakan konstruksi bangunan akibat bencana geologi


dan stratigrafi
a. Kontak antara batuan tersebut merupakan zona lemah yang memperbesar
kejadian longsor, akan lebih besar lagi jika kemiringan lapisan searah dengan
slope, hal ini dapat mengakibatkan bangunan yang ada di sepanjang jalur
tersebut rusak.
b. Apabila suatu bangunan di bangun di dataran dengan material lepas akan
menunjukkan rekahan pada batuan dasarnya.

5. Hubungan antara kerusakan konstruksi bangunan akibat bencana geologi


dan struktur geologi
a. Sesar-sesar aktif berpotensi bergerak dan menghasilkan bencana geologi berupa
gempa.
b. Kerusakan bencana geologi terutama gempa bumi di sekitar konstruksi perlu
memperhatikan tatanan struktur daerah sekitar. Hal ini bertujuan untuk
memperkirakan adanya sesar-sesar minor yang menjadi penyebab adanya gempa
susulan.

6. Hubungan antara kerusakan konstruksi bangunan akibat bencana geologi


dan proses
a. Misalnya pada pembangunan terowongan, pada daerah pasca bencana maka,
akan terjadi retakan-retakan dan dapat menimbulkan ketahanan batuan di
bawahnya menjadi berkurang, sehingga dinding-dinding terowongan dapat retak
dan berbahaya.

7. Hubungan antara kerusakan konstruksi bangunan akibat bencana geologi


dan hubungan sekitar
a. Kerusakan bencana geologi terutama gempa bumi di sekitar konstruksi
berhubungan dengan potensi bencana selanjutnya seperti kelongsoran lereng,
gempa-gempa susulan dan litologi sekitar. Hal ini bertujuan untuk
mengantisipasi bencana susulan dan mitigasi bencana.

8. Hubungan antara material konstruksi dan lereng


a. Pada lereng yang terjal menggunakan material kontruksi yang kuat karena pada
lereng terjal terjadi pelapukan secara intens.
b. Pada lereng landai dapat menggunakan material kontruksi sesuai dengan
kebutuhan karena pada lereng landai tidak ada masalah yang berarti.

9. Hubungan antara material konstruksi dan bentuk lahan


a. Bahan material kontruksi semen yang bahan bakunya merupakan batugamping
maka akan sangat mudah ditemukan dalam bentukasal karst.
b. Pada bentuk lahan vulkanik, material hasil vulkanisme seperti batuan beku atau
piroklastik yang digunakan sebagai bahan baku mudah didapat.
c. Pada bentuk lahan aeolian maka material pasir sebagai bahan baku material
konstruksi lebih mudah dicari.

10. Hubungan antara material konstruksi dan litologi


11. Hubungan antara material konstruksi dan stratigrafi
12. Hubungan antara material konstruksi dan struktur geologi
13. Hubungan antara material konstruksi dan proses
14. Hubungan antara material konstruksi dan hubungan sekitar

15. Hubungan antara penentuan as bendungan dan lereng


a. Pergerakan lereng dengan tipe keruntuhan lereng pada umumnya terjadi akibat
kurang tepatnya perencanaan maupun pelaksanaan konstruksi lereng.
b. Potensi lereng merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam
perencanaan pembangunan bendungan, karena potensi ini mempengaruhi adanya
gerakan tanah atau potensi longsor pada lereng tempat pembangunan bendungan,
sehingga nilai keamanan lereng harus memiliki nilai yang stabil.
c. Semakin tinggi kemiringan suatu lereng akan semakin besar gaya penggerak
massa tanah penyusun lereng tersebut.

16. Hubungan antara penentuan as bendungan dan bentuklahan


a. Bentuk lahan karst dalam pembuatan bendungan harus diperhatikan karena karst
merupakan kawasan sulit air.
b. Dibangun di atas suatu dataran yang umumnya karena proses fluvial dan
denudasional.

17. Hubungan antara penentuan as bendungan dan litologi


a. Tersusun atas litologi sedimen dengan butiran yang bervariasi. Umumnya
perselingan antara pasir, lanau, dan lempung.
b. Dapat juga dibangun di atas batuan sedimen berbutir kasar seperti breksi.

18. Hubungan antara penentuan as bendungan dan stratigrafi


a. Tersusun atas batuan sedimen klastika berbutir halus seperti perselingan antara
pasir lanau dan lempung dengan keberadaan lapisan berbutir halus di atasnya.
b. Pada umumnya dibangun di satuan batuan tak terkonsolidasi.

19. Hubungan antara penentuan as bendungan dan struktur geologi


a. Pembangunan bendungan umumnya tidak dibangun diatas suatu jalur sesar aktif
karena dapat mengancam umur dari bendungan itu sendiri.
b. Sebaiknya dibangun jauh atau tidak berada di kawasan yang pernah di lewati
jalur sesar.

20. Hubungan antara penentuan as bendungan dan proses


a. Pada prosesnya, proses tektonik dan pelapukan mempengaruhi bangungan pada
bendungan.

21. Hubungan antara penentuan as bendungan dan hubungan sekitar


a. Berhubungan dengan daerah perbukitan, karena salah satu tujuan bendungan
untuk irigasi.
b. Biasanya berdekatan dengan area perkebunan atau persawahan dengan luasan
yang cukup besar.

22. Hubungan antara perencanaan pembangunan bandara dan pelabuhan


dengan lereng
a. Dalam membuat perencanaan pembangunan, kemiringan maksimal lahan yang
bisa didirikan konstruksi di atasnya adalah dengan sudut kemiringan 30° atau
kelerengan yang Curam.

23. Hubungan antara perencanaan pembangunan bandara dan pelabuhan


dengan bentuklahan
a. Pada bentuk lahan struktural harus memperhatikan zona-zona patahan agar tetap
aman dari longsor.
b. Pelabuhan biasanya dibangun di bentuklahan marine. Tidak menutup
kemungkinan pula bandara dapat dibangun di atas bentuk lahan marine.

24. Hubungan antara perencanaan pembangunan bandara dan pelabuhan


dengan litologi
a. Satuan berbutir kasar maka bagus sebagai pondasi untuk dibangunnya objek
vital.

25. Hubungan antara perencanaan pembangunan bandara dan pelabuhan


dengan stratigrafi
a. Susunan batuan berupa batugamping, batupasir, maupun batuan beku sebagai
litodem.

26. Hubungan antara perencanaan pembangunan bandara dan pelabuhan


dengan struktur geologi
a. Dibangun jauh atau tidak berada di kawasan yang pernah di lewati jalur sesar.

27. Hubungan antara perencanaan pembangunan bandara dan pelabuhan


dengan proses
a. Proses rekayasa bangunan adalah penerapan prinsip-prinsip rekayasa dan
teknologi untuk perancangan dan kontruksi bangunan.

28. Hubungan antara perencanaan pembangunan bandara dan pelabuhan


dengan hubungan sekitar
a. Bandara biasanya dekat dengan tubuh sungai.
b. Pelabuhan akan saling berasosiasi dengan bentuklahan asal marine.