Anda di halaman 1dari 13

TUGAS GEOMORFO TERAPAN

MUHAMMAD ILHAM RIZQO/111.180.056

TABEL

N PERAN LER BEN LIT STR STR PRO HUBU


O GEOMORFOLOGI ENG TUK OLO ATI UKT SES NGAN
LAH GI GRA UR SEKIT
AN FI GEO AR
LOG
I
1 Kerusakan konstruksi 1 2 3 4 5 6 7
bangunan akibat bencana
geologi
2 Material konstruksi 8 9 10 11 12 13 14
3 Penetuan as bendungan 15 16 17 18 19 20 21
4 Perencanaan 22 23 24 25 26 27 28
pembangunan bandara dan
pelabuhan
5 Pengembangan wilayah 1 2 3 4 5 6 7
6 Perencanaan 1 2 3 4 5 6 7
pembangunan
keterlintasan jalan dan
jembatan yang aman dari
berbagai bencana geologi
7 Dinamika aliran sungai 1 2 3 4 5 6 7
thd konstruksi jalan dan
jembatan
8 Upaya penanganan 1 2 3 4 5 6 7
geoteknik di Jepang
9 Bencana lingkungan 1 2 3 4 5 6 7
korosif
10

1.Kerusakan konstruksi bangunan akibat bencana geologi


1. Hubungan antara kerusakan konstruksi bangunan akibat bencana geologi dan lereng
Apabila lereng terbentuk dengan kemiringan curam (misalnya >30o), dan tersusun
oleh perlapisan batuan yang miring mengarah ke arah luar lereng, dengan kemiringan
perlapisan lebih landai dari kemiringan lereng (misalnya 20o), dan batuan tersebut
terpotong-potong oleh bidang-bidang kekar yang juga miring ke arah luar lereng,
maka lereng tersebut berada pada kondisi batas kestabilan kritis.Apabila suatu saat
lereng tersebut mengalami gangguan kestabilan, baik oleh proses yang berasal dari
luar lereng ataupun dari dalam lereng, maka kestabilan lereng akan berkurang
sehingga kondisi kestabilan tersebut berada di bawah batas kritis, dan akhirnya lereng
ini bergerak longsor. Gangguan kestabilan yang berasal dari luar lereng dapat terjadi
misalnya akibat infiltrasi air hujan, pembebanan yang berlebihan ataupun terjadi
pemotongan pada kaki lereng, sedangkan gangguan yang berasal dari dalam lereng
dapat berupa guncangan gempa bumi atau kenaikan tekanan air dalam tanah.Salah
satu contohnya adalah bangunan yang berada di lereng bukit yang curam seperti di
daerah banjarnegara silam,yang terkena bencana tanah longsor.Jika ditinjau dari
lerengnya daerah tersebut memiliki lereng yang curam seta dibarengi dengan lereng
yang kurang ditanami pepohonan serta rumah di daerah tersebut yang kurang
memahami tentang berbahayanya lereng bukit tersebut.Sehingga dapat disimpulkan
bahwa semakin curam lereng maka semakin tinggi resikonya.Sehingga perlu solusi
yang dilakukan:
1.Melakukan Reboisasi
2.Meninjau batas beban lereng agar dapat menghindari resiko terburuk jika
mendirikan bangunan di daerah lereng
3.Memberi zonasi daerah yang memiliki ancaman bahaya akibat lereng yang curam
4.Merubah sawah di daerah lereng menjadi terasering,agar air mengalir tanpa merusak
lahan sekitar.
5.Membuat bendung lereng dengan bebatuan yang dibarengi dengan sirkulasi air yang
baik
2. Hubungan antara kerusakan konstruksi bangunan akibat bencana geologi dan bentuk
lahan

Bentuk lahan yang ada di bumi memiliki banyak jenisnya,sehingga perlu


diperhatikan analisis tiap bentuk lahan yang ada sehingga konstruksi bangunan yang
akan dibangun harus mengambil point penting dari aspek bentuk lahan
tersebut.Contoh:

o Bentuklahan asal proses volkanik (V): bentuk lahan yang berasal dari aktivitas
vulkanisme. contoh: kaldera, kawah, laccolith.Sehingga di daerah ini yang
perlu diperhatikan untuk mendirikan bangunan adalah kecuraman lereng dan
ancaman material letusan gunung api.
o Bentuklahan asal proses struktural (S): bentuk lahan yang berasal dari proses
geologi. contoh: bukit, patahan, lipatan sinkilin dan antiklin.Dari kondisi
bentuk lahan tersebut maka harus diperhatikan control struktur yang
ada,kerusakan yang bisa dideteksi sejak dini adalah rekah rekah jalan atau
bangunan yang ada,sehingga bisa dideteksi sejak dini.
o Bentuklahan asal fluvial: bentuk lahan akibat pengerjaan sungai. contoh:
meander, gosong pasir, dataran banjir (flood plain), point bar.Ancaman yang
paling besar pada daerah ini adalah berasal dari banjir,sehingga pendirian
bangunan haruslah didirikan di zona aliran sungai yang tidak tepat di lekuk
sungai bagian luar,karena arusnya yang langsung mengenai daerah tersebut.
o Bentuklahan asal solusional: bentuk lahan akibat proses pelarutan pada batuan
yang mudah larut. contoh: bentukan di daerah karst yaitu stalagnit, stalaktit,
dolina.Pada bentuk lahan ini yang paling berpengaruh adalah zona litologi
yang sangat riskan dengan pelarutan sehingga akan banyak timbul sink hole
dan itu berbahaya.
o Bentuklahan asal denudasional: bentuk lahan akibat proses erosi dan
degradasi. contoh: bukit sisa, lembah sungai, lahan kritis.Karena
denundasional adalah bentuk lahan hasil erosi sehingga dari dasarnya sudah
sangat riskan akan resiko erosi.
3. Hubungan antara kerusakan konstruksi bangunan akibat bencana geologi dan litologi
 Litologi dan satuan batuan yang berada di suatu daerah dapat berpengaruh dengan
konstruksi bangunan yang akan di bangun di daerah tersebut.
 Seperti contohnya adalah pendirian bangunan di lahan gambut yang memilki
bentuk litologi yang sangat buruk untuk mendirikan bangunan karena ancaman
amblesan yang dapat mengancam bangunan tersebut,sehingga perlu dilaksanakan
pengujian sample log litologi karena agar bisa diketahui setebal apa litologi yang
rawan ambles dan dari situ dapat dilakuakan analisis beban bangunan maksimal
yang tidak boleh dilewati.
 Selain itu bangunan yang berada di daerah yang porositasnya tinggi maka akan
lebih terancam mengalami pergerakan tanah,terutama daerah yang berada di
daerah lereng sehingga kedepanya dapat dihindari daerah tersebut.

4. Hubungan antara kerusakan konstruksi bangunan akibat bencana geologi dan


stratigrafi
 Stratigrafi meruoakan susunan dari litologi dalam kurun masa dan waktu yang
tertentu sehingga dapat diketahui berbagai lapisan tersebut dalam suatu formasi
tertentu,yang sesuai dengan fasies yang ada.Kaitan antara Stratigrafi dengan
Kerusakan bangunan akibat bencana geologi adalah,dimana bangunan tersebut
berdiri maka dapat dipastikan dibawahnya adalah satuan stratigrafi dan formasi
pada daerah masing-masing.
 Bangunan yang berada dia atas batuan vulkanik akan berbeda dengan bangunan
yang ada di daerah alluvial sehingga dapat diteliti bahanya yang ditimbulkan
akibat stratigrafi,dimana semakin kompak batuan dalam stratigrafi tertentu maka
akan semakin kecil resiko kerusakan pada bangunanya.Begitupula sebaliknya.

5. Hubungan antara kerusakan konstruksi bangunan akibat bencana geologi dan struktur
geologi
 Sesar-sesar aktif berpotensi bergerak dan menghasilkan bencana geologi
berupa gempa.
 Kerusakan bencana geologi terutama gempa bumi di sekitar konstruksi perlu
memperhatikan tatanan struktur daerah sekitar. Hal ini bertujuan untuk
memperkirakan adanya sesar-sesar minor yang menjadi penyebab adanya
gempa susulan.

6. Hubungan antara kerusakan konstruksi bangunan akibat bencana geologi dan proses
 Kaitan dengan proses adalah dimana proses dalam geologi ini memiliki
banyak waktu dan aspek yang dibutuhkan salah satunya adalah proses
denudasional,dimana proses ini memerlukan media air/angina/es sehingga
dapat mengerosis dan merusak batuan aslinya,selain itu juga terdapat banyak
poses lainya seperti pelarutan pada batuan karbonat dan terbentuknya pori
yang lebih besar akibat adanya hal tersebut.
 Sehingga perlu ketelitian mendirikan bangunan di daerah mana,harus
dipertimbangkan kerusakan yang akan terjadi kelak,seperti mendirikan
bangunan di area oksidasi tinggi tentunya akan lebih asam air dan lingkungan
sekitar sehingga pemilihan material dan penggunaan bahan rumah tangga
menjadi sangat penting dalam hal ini.

7. Hubungan antara kerusakan konstruksi bangunan akibat bencana geologi dan


hubungan sekitar
 Hubungan sekitar memegang andil yang sangat besar terhadap ancaman yang
terdapat di daerah bangunan yang ada,dikarenakan hubungan sekitar memiliki
banyak aspek yang berpengaruh terhadap bangunan tersebut,selain itu juga
banyak faktor masalah yang akan ditimbulkan dari hubungan sekitar.
 Contohnya adalah saat mendirikan bangunan di daerah yang berada di
pegunungan dimana memiliki banyak hubungan sekitarnya.Salah satunya
dengan adanya kemiringan oada lereng yang mengancam adanya longsor dan
merusak bangunan,selain itu pemanfaatan lahan sekitar yang kurang baik
menjadikan kurangnya daerah serapan di ketinggian oleh karenanya daerah
tinggian yang diharapkan menjadi sumber hulu air juga akan terancam
ditambah lagi dengan curah hujan yang berada di daerah dataran tinggi yang
lebih tinggi juga akan memperlancar erosi yang terjadi sehingga faktor faktor
tersebut yang harus sangat difahami mengenai pendirian bangunan dan analisis
kerusakan bangunan.

2.Material konstruksi

8. Hubungan antara material konstruksi dan lereng

 Pembangunan bangunan di daerah yang memiliki kelerengan curam berbeda dengan


pembangunan di daerah berlereng landau.Baik dari segi material serta cara
membangun bangunanya,karena disini terdapat bahaya yang perlu dianalisis secara
mendalam untuk keselamatan yang nomor satu.
 Penggunaan material bangunan yang berada di daerah dengan kelerengan curam
biasanya dibangun di atas pondasi yang miring sehingga diperlukan material yang
tingkat kohesi yang tinggi salah satu penggunaanya adalah pasir kuarsa,ia sangat baik
digunakan karena bentuk butirnya yang runcing akan cenderung mudah mengikat satu
sama lainya,serta konstruksi pondasi miring yang memerlukan cakar bumi yang lebih
banyak.
 Aspek lainya adalah penggunaan material yang ringan,karena saat menggunakan
material yang ringan maka gaya tekan gravitasi kebawah akan berkurang sehingga
mengurangi resiko pergerakan tanah akibat gaya yang ditimbulkan oleh beban
bangunanya.
9. Hubungan antara material konstruksi dan Bentuk Lahan

 Bentuklahan asal proses volkanik (V): bentuk lahan yang berasal dari aktivitas
vulkanisme. contoh: kaldera, kawah, laccolith.Sehingga di daerah ini yang perlu
diperhatikan untuk mendirikan bangunan adalah kecuraman lereng dan ancaman
material letusan gunung api.Sehingga materialnya harus kuat dan tahan panas serta
ringan karena berada di zona kelerengan.Jika perlu didirikan tempat perlindungan
seperti bunker.

 Bentuklahan asal proses struktural (S): bentuk lahan yang berasal dari proses geologi.
contoh: bukit, patahan, lipatan sinkilin dan antiklin.Dari kondisi bentuk lahan tersebut
maka harus diperhatikan control struktur yang ada,kerusakan yang bisa dideteksi
sejak dini adalah rekah rekah jalan atau bangunan yang ada,sehingga bisa dideteksi
sejak dini.Daerah dengan control struktur ini biasanya menggunakan material yang
ringan serta menghindari adanya tembok karena bangunan yang berada dizona ini
harus memiliki tingkat elastisitas yang tinggi sehingga saat terjadi pergerakan struktur
akan terhindar dari kerobohan.

 Bentuklahan asal fluvial: bentuk lahan akibat pengerjaan sungai. contoh: meander,
gosong pasir, dataran banjir (flood plain), point bar.Ancaman yang paling besar pada
daerah ini adalah berasal dari banjir,sehingga pendirian bangunan haruslah didirikan
di zona aliran sungai yang tidak tepat di lekuk sungai bagian luar,karena arusnya yang
langsung mengenai daerah tersebut.Material yang cocok adalah mengguanakan
material yang kuat dan berat karena dalam etimologinya air memiliki masa jenis yang
besar sehingga untuk menghalau dari banjir kita harus memiliki bahan yang lebih
besar masa jenisnya.Seperti penggunaan beton di bangunan samping sungai.

 Bentuklahan asal solusional: bentuk lahan akibat proses pelarutan pada batuan yang
mudah larut. contoh: bentukan di daerah karst yaitu stalagnit, stalaktit, dolina.Pada
bentuk lahan ini yang paling berpengaruh adalah zona litologi yang sangat riskan
dengan pelarutan sehingga akan banyak timbul sink hole dan itu berbahaya.

 Bentuklahan asal denudasional: bentuk lahan akibat proses erosi dan degradasi.
contoh: bukit sisa, lembah sungai, lahan kritis.Karena denundasional adalah bentuk
lahan hasil erosi sehingga dari dasarnya sudah sangat riskan akan resiko erosi.

10. Hubungan antara material konstruksi dan Litologi

 Bangunan yang didirikan diatas batuan breksi vulkanik dengan bangunan yang
didirikan di daerah karst serta bangunan yang didirikan di daerah lahan gambut
memiliki perbedaan konstruksi yang harus dibangun,karena bangunan berada di atas
litologi tersebut.
 Daerah yang memiliki litologi yang keras dan padat cenderung kebih kokoh untuk
mendirikan bangunan,seperti di daerah dataran rendah material apa saja dapat cocok
digunakan di daerah yang aslinya sudah kokoh
 Yang harus diperhatikan adalah pendirian bangunan di litologi yang memiliki
porositas yang tinggi dimana tingkat erosional dan juga tingkat ambles yang
diakibatkan karena pembebanan material sangat tinggi,sehingg perlu dibuat pondasi
diatas litologi yang lebih luas serta ringan,karena semakin luas pondasinya akan
semakin tahan sesuai dengan gaya grafitasi dan hukum F=m.g
11. Hubungan antara material konstruksi dan Stratigrafi

 Stratigrafi merupakan susunan dari litologi dalam kurun masa dan waktu yang
tertentu sehingga dapat diketahui berbagai lapisan tersebut dalam suatu formasi
tertentu,yang sesuai dengan fasies yang ada.Kaitan antara Stratigrafi dengan
Kerusakan bangunan akibat bencana geologi adalah,dimana bangunan tersebut berdiri
maka dapat dipastikan dibawahnya adalah satuan stratigrafi dan formasi pada daerah
masing-masing.Yang artinya pemilihan material yang berbeda beda.
 Bangunan yang berada dia atas batuan vulkanik akan berbeda dengan bangunan yang
ada di daerah alluvial sehingga dapat diteliti bahanya yang ditimbulkan akibat
stratigrafi,dimana semakin kompak batuan dalam stratigrafi tertentu maka akan
semakin kecil resiko kerusakan pada bangunanya.Begitupula sebaliknya.Sehingga
pemilihan material di batuan vulkanik cenderung lebih aman dengan material yang
tahan akan kemiringan lereng dan antisipasi material letusan gunung api,serta di
daerah yang rendah cenderung memiliki material yang dingin dan banyak sirkulasi
udara karena hawanya yang panas.
12. Hubungan antara material konstruksi dan Struktur Geologi
 Sesar-sesar aktif berpotensi bergerak dan menghasilkan bencana geologi berupa
gempa.
 Kerusakan bencana geologi terutama gempa bumi di sekitar konstruksi perlu
memperhatikan tatanan struktur daerah sekitar. Hal ini bertujuan untuk
memperkirakan adanya sesar-sesar minor yang menjadi penyebab adanya gempa
susulan.

13. Hubungan antara material konstruksi dan Proses

 Kaitan dengan proses adalah dimana proses dalam geologi ini memiliki banyak waktu
dan aspek yang dibutuhkan salah satunya adalah proses denudasional,dimana proses
ini memerlukan media air/angina/es sehingga dapat mengerosis dan merusak batuan
aslinya,selain itu juga terdapat banyak poses lainya seperti pelarutan pada batuan
karbonat dan terbentuknya pori yang lebih besar akibat adanya hal tersebut.Pemilihan
material di daerah karbonat ini tentu memiliki konsep yang berdeda dengan lainya
dimana bentuk konstruksi bangunan harus meminimalisir masuknya air kedalam
permukaan tanah sehingga menghindari adanya pelarutan yang tepat berada di bawah
bangunan tersebut.
 Sehingga perlu ketelitian mendirikan bangunan di daerah mana,harus
dipertimbangkan kerusakan yang akan terjadi kelak,seperti mendirikan bangunan di
area oksidasi tinggi tentunya akan lebih asam air dan lingkungan sekitar sehingga
pemilihan material dan penggunaan bahan rumah tangga menjadi sangat penting
dalam hal ini.
14. Hubungan antara material konstruksi dan Hubungan Sekitar
 Pemilihan material yang baik adalah pemilihan material yang cocok dengan daerah
yang akan dibangun bangunan tersebut,serta perlu analisis yang sangat mendalam
mengenai daerah tersebut dan kaitanya dengan hubungan sekitarnya.
 Seperti contoh kasusnya adalah di daerah rawan letusan gunung api yang memiliki
hubungan sekitar yang kompleks seperti ancaman material vulkanik,banjir lahar
dingin serta hawa yang dingin di daerah tersebut tentu memiliki material bangunan
yang berbeda dengan bangunan yang berada di daerah dataran rendah yang memiliki
jenis bentuk lahan alluvial.
 Bangunan daerah vulkanik tersebut memiliki material bangunan yang kompak serta
pemilihan genteng yang harus tahan akan hembusan material vulkanik,di daerah ini
juga mempertimbangkan banyaknya jumlah ventilasi dan perapian di bangunan
tersebut karena memiliki hawa yang lebih dingin.Tentu terbeda dengan bangunan
yang berada di daerah dataran rendah.

3.Penentuan as Bendungan
15. Hubungan antara penentuan as bendungan dan lereng
 Pergerakan lereng dengan tipe keruntuhan lereng pada umumnya terjadi akibat kurang
tepatnya perencanaan maupun pelaksanaan konstruksi lereng.
 Potensi lereng merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam perencanaan
pembangunan bendungan, karena potensi ini mempengaruhi adanya gerakan tanah atau
potensi longsor pada lereng tempat pembangunan bendungan, sehingga nilai keamanan
lereng harus memiliki nilai yang stabil.
 Semakin tinggi kemiringan suatu lereng akan semakin besar gaya penggerak massa
tanah penyusun lereng tersebut.
16. Hubungan antara penentuan as bendungan dan bentuklahan
 Bentuk lahan karst dalam pembuatan bendungan harus diperhatikan karena karst
merupakan kawasan sulit air.
 Dibangun di atas suatu dataran yang umumnya karena proses fluvial dan denudasional.
17. Hubungan antara penentuan as bendungan dan litologi
 Tersusun atas litologi sedimen dengan butiran yang bervariasi. Umumnya perselingan
antara pasir, lanau, dan lempung.
 Dapat juga dibangun di atas batuan sedimen berbutir kasar seperti breksi.
18. Hubungan antara penentuan as bendungan dan stratigrafi
 Tersusun atas batuan sedimen klastika berbutir halus seperti perselingan antara pasir
lanau dan lempung dengan keberadaan lapisan berbutir halus di atasnya.
 Pada umumnya dibangun di satuan batuan tak terkonsolidasi.
19. Hubungan antara penentuan as bendungan dan struktur geologi
 Pembangunan bendungan umumnya tidak dibangun diatas suatu jalur sesar aktif karena
dapat mengancam umur dari bendungan itu sendiri.
 Sebaiknya dibangun jauh atau tidak berada di kawasan yang pernah di lewati jalur
sesar.
20. Hubungan antara penentuan as bendungan dan proses
 Pada prosesnya, proses tektonik dan pelapukan mempengaruhi bangungan pada
bendungan.
21. Hubungan antara penentuan as bendungan dan hubungan sekitar
 Berhubungan dengan daerah perbukitan, karena salah satu tujuan bendungan untuk
irigasi.
 Biasanya berdekatan dengan area perkebunan atau persawahan dengan luasan yang
cukup besar.
4.Perencanaan pembangunan bandara
22. Hubungan antara perencanaan pembangunan bandara dan pelabuhan dengan lereng
 Dalam membuat perencanaan pembangunan, kemiringan maksimal lahan yang bisa
didirikan konstruksi di atasnya adalah dengan sudut kemiringan 30° atau kelerengan
yang Curam.
23. Hubungan antara perencanaan pembangunan bandara dan pelabuhan dengan
bentuklahan
 Pada bentuk lahan struktural harus memperhatikan zona-zona patahan agar tetap aman
dari longsor.
 Pelabuhan biasanya dibangun di bentuklahan marine. Tidak menutup kemungkinan pula
bandara dapat dibangun di atas bentuk lahan marine.
24.Hubungan antara perencanaan pembangunan bandara dan pelabuhan dengan litologi
 Satuan berbutir kasar maka bagus sebagai pondasi untuk dibangunnya objek vital.
25.Hubungan antara perencanaan pembangunan bandara dan pelabuhan dengan stratigrafi
 Susunan batuan berupa batugamping, batupasir, maupun batuan beku sebagai litodem.
26.Hubungan antara perencanaan pembangunan bandara dan pelabuhan dengan struktur
geologi
 Dibangun jauh atau tidak berada di kawasan yang pernah di lewati jalur sesar.
27.Hubungan antara perencanaan pembangunan bandara dan pelabuhan dengan proses
 Proses rekayasa bangunan adalah penerapan prinsip-prinsip rekayasa dan teknologi
untuk perancangan dan kontruksi bangunan.
28.Hubungan antara perencanaan pembangunan bandara dan pelabuhan dengan hubungan
sekitar
 Bandara biasanya dekat dengan tubuh sungai.
 Pelabuhan akan saling berasosiasi dengan bentuklahan asal marine.
5.Pengembangan wilayah
1. Hubungan Antara pengembangan wilayah dan lereng
Lereng yang terjal kurang cocok untuk pembukaan wilayah baru sperti
perumahan dan kawasan industry,Ancaman longsor pada daerah sekitar lereng
menjadi pertimbangan dalam pengembangan wilayah baru.Jika pengembangan
wilayah tetap di lakukan di daerah yang berlereng curam tentu akan memerlukan
perencanaan dan biaya yang besar.
2. Hubungan Antara pengembangan wilayah dengan bentuk lahan
Pngembangan wilayah tidak mungkin dilakukan pada daerah dataran limpahan
banjir.Pengembangan wilayah untuk pertanian cocok diterapkan pada bentuk lahan
fluvial.Pada daerah karst bisa dijadikan sebagai wilayah wisata.
3. Hubungan Antara pengembangan wilayah dan litologi
Pembangunan bandara harus berada pada litologi yang kompak dank eras
4. Hubungan Antara pengembangan wilayah dengan stratigrafi
Pengembagan wilayah bada daerah dengan umur lapisan batuan yang sudah
tua akan lebih bagus
5. Hubugan Antara pengembangan wilayah dengan struktur geologi
Adanya struktur geologi seperti sesar aktif harus diwaspadai saat
pembangunan wilayah.Pemindahan ibukota atau rencana strategis lain seperti
perkotaan sebaiknya menghindari daerah dengan struktu geologi aktif
6. Hubungan Antara pengembangan wilayah dengan proses
Pengembangan wilayah disekitar pantai perlu memerhatikan adanya abrasi
7. Pengembangan wilayah dengan hubungan sekitar
Daerah dengan dekat gunung api aktif perlu mewaspadai ancaman erupsi.Jika
dekat dengan danau atau sungai besr dapat menjadi sumber air.Adanya hutan juga
penting dalam pengembangan wilyah yaitu untuk menjaga kualitas udara pada
perkotaan

6. Perencanaan pembangunan
1. Hubungan Antara Perencanaan pembangunan terhadap kontruksi jalan dan jembatan
dengan lereng
Berdasarkan klasifikasi kemiringan lereng tersebut, menerangkan bahwa :
1) Kemiringan lereng antara 0 – 8 % merupakan daerah datar sehingga memiliki daya
dukung lahan yang tinggi bagi pengembangan segala aktifitas kota.
2) Kemiringan lereng antara 8 – 15 merupakan daerah datar yang memiliki daya
dukung lahan tinggi bagi pengembangan kota.
3) Kemiringan lereng 15 – 25 % merupakan daerah landai dengan daya dukung lahan
sedang bagi pengembangan.
4) Kemiringan lereng 25 – 40 %merupakan daerah yang curang dengan daya dukung
lahan rendah, tidak cocok untuk daerah perkotaan.
5) Kemiringan lereng >40 % merupakan daerah sangat curam daerah dengan daya
dukung lahan yang sangat rendah dan tidak cocok untuk di alokasikan sebagai daerah
perkotaan.

2. Hubungan Antara Perencanaan pembangunan terhadap kontruksi jalan dan jembatan


dengan Bentuk Lahan
Pembangunan suatu bangunan teknik baik bendungan, jalan raya, landasan
pewat terbang, terowongan sampai gedung bertingkat tidak lepas dari penelitian
geologi pada awalnya. Sebab semua ini menyangkut pengetahuan tentang batuan
dasar, sifat dan kestabilannya, pengaruh struktur ataupun masalah yang mendasar
lainnya. Terowongan Simplon di Alpina – Eropa, terowongan yang menghubungkan
Inggris dan Prancis dan terowongan – terowongan bawah laut yang menghubungkan
antar pulau di Jepang adalah contoh bangunan teknik yang dibangun dengan dasar
pengetahuan geologi yang akurat serta teknologi yang canggih. Bukan tidak mungkin
Indonesia dapat mengikuti bila geologi dihargai dan ditempatka pada proporsi yang
wajar
3. Hubungan Antara Perencanaan pembangunan terhadap kontruksi jalan dan jembatan
dengan litologi
Pengembangan wilayah pertanian atau lahan pertanian berhubungan dengan
peningkatan produksi. Hal ini memerlukan penentukan lokasi, sarana penunjang
seperti bendungan, jenis tanaman dan tanahnya secara seksama. Aspek geologi
muncul sebagai pemberi informasi yang akurat. Sebab tanah merupakan hasil
pelapukan batuan, sehingga jenis batuan menentukan kondisi dan sifat tanah. Sektor
pertanian seperti kehutanan, juga memerlukan data informasi geologi bagi pengadaan
hutan atau pelestarian hutan.
4. Hubungan Antara Perencanaan pembangunan terhadap kontruksi jalan dan jembatan
dengan Stratigrafi
5. Hubungan Antara Perencanaan pembangunan terhadap kontruksi jalan dan jembatan
dengan Struktur Geologi
Air sebagai kebutuhan hidup yang pokok, selalu menjadi problem dalam
kehudupan. Lebih – lebih bagi daerah yang gersang. Penelitian geologi untuk
pengadaan air tanah ternyata membawa hasil yang gemilang. Dari lapisan batuan yang
beragam di bawah permukaan tanah ternyata terkandung air tanah dengan volume
yang besar sehingga tinggal bagaimana menentukan lapisan batuan yang banyak
mengandung air. Bahkan batugamping yang dipermukaan tampak kering kerontang,
ternyata di dalamnya terkandung potensi air yang besar. Banyaknya rekahan ditambah
adanya proses kimiawi memungkinkan curah hujan yang meresap / masuk
terakumulasi membentuk sungai di bawah permukaan tanah
6. Hubungan Antara Perencanaan pembangunan terhadap kontruksi jalan dan jembatan
dengan Proses
Tidak perlu diragukan lagi bahwa sumber kekayaan alam sebagian besar
tersimpan di perut bumi. Segala jenis bahan galian yang bernilai ekonomis menuntut
manusia untuk memanfaatkan dengan sebaik – baiknya. Bahkan dewasa ini timbulnya
krisis energi semakin membuat upaya bertambah. Prospek batubara kian ditingkatkan
sebagai sumber energi penunjang. Eksplorasi dan eksploitasi minyak bumi bukan
haya di darat saja tetapi juga di daerah lepas pantai. Belum lagi bahan tambang; emas,
timah, tembaga dan lain – lain, yang sangat penting bagi devisa negara. Ini semua
memerlukan pengetahuan geologi yang memadai. Dengan demikian jelaslah bahwa
semakin baik persepsi geologi dalam penerapannya, semakin terbukalah kekayaan
yang terkandung di perut bumi
7. Hubungan Antara Perencanaan pembangunan terhadap kontruksi jalan dan jembatan
dengan Hubungan Sekitar
Di dunia ini, lebih – lebih di Indonesia, masalah pemukiman merupakan kasus
besar yang menyangkut jutaan jiwa manusia. Bagaimana dan dimana dapat diperoleh
tempat yang layak, sehat dan bebas dari bencana, di suatu daerah yang akan
direncanakan untuk dibangun suatu pemukiman. Geologi disini memainkan peranan
dalam masalah pengarahan tata letak yang baik, pengadaan bahan bangunan serta
pengadaan kebutuhan lain yang menunjang. Sekaligus juga turut menentukan mutu
lingkungan hidup dimana salah satunya adalah kesehatan lingkungan. Sebab ternyata
ada kondisi atau faktor – faktor geologi tertentu yang langsung maupun tidak
langsung mengendalikan dan berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Contoh klasik
hubungan keadaan geologi dengan kekurangan kadar unsur yodium pada air tanah di
suatu daerah, yang dapat menimbulkan penyakit gondok. Seperti di daerah Gunung
Kidul Yogyakarta.

7. Dinamika aliran sungai terhadap konstruksi jalan & jembatan


1) Lereng
 Pada daerah dengan tingkat kelerengan curam memiliki kecepatan aliran yang
cenderung cepat, sehingga dapat berbahaya terhadap konstruksi jalan dan
jembatan
 Bila pada daerah dengan lereng terjal dibangun sebuah jembatan, maka jembatan
tersebut harus memiliki pondasi yang kokoh agar tidak mudah terkikis oleh
derasnya aliran air
 Pada daerah dengan tingkst kelerengan yang landai memiliki kecepatan aliran
yang cenderung stabil, sehingga baik terhadap konstruksi jalan dan jembatan
 Bila pada daerah dengan lereng landai dibangun sebuah jembatan, maka
jembatan tersebut cenderung lebih bertahan lama dibandingkan pada daerah
yang terjal dikarenakan cepatnya aliran air yang mempengaruhi
2) Bentuk Lahan
 Jembatan yang dibangun pada bentuk lahan Fluvial berupa sungai yang berkelok
cenderung tidak bertahan lama dikarenakan pondasi jembatan tersebut bisa
tererosi oleh sungai sewaktu-waktu
 Konstruksi jalan yang dibangun pada bentuk lahan yang memiliki lereng yang
terjal seperti perbukitan dan tingkat kecepatan aliran yang cenderung cepat jika
tidak memperhatikan kemiringan dari lapisan batuan itu sendiri maka akan
mudah hancur jika terjadi longsor
 Konstruksi jalan yang dibangun pada bentuk lahan fluvial yaitu pantai cenderung
akan terkena dampak dari abrasi laut yang bisa mengikis jalanan itu sendiri
3) Litologi
 Daerah dengan litologi yang resisten biasanya terdapat di daerah dengan
kelerengan sedang-curam dengan kecepatan aliran yang cukup cepat. Daerah
dengan litologi yang resisten cenderung dapat menjadi pondasi yang kuat pada
jembatan atau jalan
 Daerah dengan litologi yang resistensinya rendah biasanya terdapat pada daerah
dengan kelerengan landai-sedang dengan kecepatan aliran yang relative stabil.
Jika dibangun konstruksi berupa jalan atau jembatan pada daerah dengan litologi
yang kurang resisten sifatnya kurang kokoh karena material lepas pada batuan
dengan resistensi kurang cenderung tidak stabil
4) Stratigrafi
 Pada daerah dengan kelerengan yang curam berbahaya jika dibangun jalan atau
jembatan. Pembangunan jalan atau jembatan pada daerah dengan kelerengan
yang curam harus memperhatikan kemiringan lapisannya supaya baik longsor
ataupun air hujan yang meresap ke tanah tidak mengakibatkan longsor ke jalanan
tersebut
 Pada daerah dengan satuan batuan berupa material lepas dapat berbahaya bila
dibangun jembatan atau jalan karena material-material ini cenderung tidak stabil
dan akan membuat jembatan goyah sewaktu-waktu
5) Struktur Geologi
 Konstruksi jalanan atau jembatan yang dibangun di atas struktur yang aktif
seperti sesar cenderung berbahaya. Apabila terjadi aktivitas tektonik maka
jalanan dan jembatan akan membentuk rekahan dimana rekahan ini bisa terisi
oleh air yang akan mengerosi jalanan maupun jembatan tersebut
6) Proses
 Proses geologi seperti aktivitas tektonik, pergerakan tanah, atau erosi akibat
aliran air yang terus menerus menggerus dapat mengakibatkan kerusakan pada
jalanan maupun jembatan
7) Hubungan Sekitar
 Jalanan atau jembatan yang perlahan-lahan menghilang atau keadaannya
cenderung tidak stabil dapat mengindikasikan bahwa daerah tersebut memiliki
tingkat erosi yang tinggi, terutama di daerah yang dekat dengan aliran sungai
 Jalanan di sekitar pantai yang terkikis mengindikasikan bahwa jalanan tersebut
terkena dampak dari abrasi
 Jalanan atau jembatan yang terdapat rekahan dan muncul arus liar secara tiba-
tiba mengindikasikan bahwa jalanan atau jembatan tersebut dibangun di atas
struktur yang aktif

8. Upaya penangan geoteknik di Jepang


1) Lereng
 Kondisi lereng diperlukan sebagai parameter untuk menentukan apakah di
daerah tersebut bisa didirikan suatu bangunan atau jalanan
 Jepang merupakan daerah dengan tektonik yang cukup aktif, apabila dibangun
sebuah bangunan atau jalanan pada lereng dengan kondisi yang tidak stabil maka
saat terjadi aktivitas tektonik bangunan akan mudah hancur
2) Bentuk lahan
 Pada bentuk lahan structural seperti perbukitan akan berbahaya bila dibuat suatu
bangunan karena dikarenakan berada pada lereng yang sedang-terjal, daerah ini
terbentuk akibat struktur dan jika terjadi aktivitas tektonik akan membuat
bangunan hancur
 Pada bentuk lahan fluvial seperti pantai dapat berbahaya dikarenakan jepang
sendiri rentan terkena tsunami akibat aktivitas tektoniknya
3) Litologi
 Litologi yang cocok digunakan sebagai parameter pembangunan suatu wilayah
adalah litologi ayng resisten. Dikarenakan litologi ini bisa tahan terhadap
guncangan
 Litologi yang kurang resisten cenderung disusun oleh material lepas yang mana
saat terjadi guncangan akan berbahaya karena bangunan atau jalanan yang
berada di atasnya cenderung memiliki sifat yang tidak stabil
4) Stratigrafi
 Satuan batuan dengan material lepas seperti lempung dan lanau cenderung tidak
resisten dan mengakibatkan bangunan di atasnya menjadi tidak stabil
 Satuan batuan yang resisten seperti breksi dan konglomerat cenderung kuat
apabila terdapat jalanan atau bangunan di atasnya dan cenderung stabil
5) Struktur Geologi
 Bangunan yang dibangun di atas struktur yang aktif cenderung berbahaya,
dimana struktur itu sendiri terbentuk karen aktivitas tektonik yang sering terjadi
di jepang
 Bangunan yang dibangun di atas struktur yang aktif harus memiliki pondasi yang
kuat agar tidak mudah hancur
6) Proses
 Proses geologi di negara Jepang seperti gempa bumi, tsunami, serta pergerakan
tanah dapat mengakibatkan hancurnya bangunan serta jalanan
7) Hubungan Sekitar
 Apabila terdapat retakan pada bangunan atau jalanan maka di bawahnya terdapat
struktur yang aktif yang sewaktu-waktu bisa menyebabkan bangunan atau
jalanan tersebut hancur
 Jika jalanan di sekitar pantai terkikis maka dapat mengindikasikan bahwa daerah
tersebut sering terkena abrasi atau bahkan tsunami