Anda di halaman 1dari 3

hubungan antara peran geomorfologi dan obyek rekayasa

7. Dinamika aliran sungai terhadap konstruksi jalan & jembatan


1) Lereng
 Pada daerah dengan tingkat kelerengan curam memiliki kecepatan aliran yang
cenderung cepat, sehingga dapat berbahaya terhadap konstruksi jalan dan
jembatan
 Bila pada daerah dengan lereng terjal dibangun sebuah jembatan, maka jembatan
tersebut harus memiliki pondasi yang kokoh agar tidak mudah terkikis oleh
derasnya aliran air
 Pada daerah dengan tingkst kelerengan yang landai memiliki kecepatan aliran
yang cenderung stabil, sehingga baik terhadap konstruksi jalan dan jembatan
 Bila pada daerah dengan lereng landai dibangun sebuah jembatan, maka
jembatan tersebut cenderung lebih bertahan lama dibandingkan pada daerah
yang terjal dikarenakan cepatnya aliran air yang mempengaruhi
2) Bentuk Lahan
 Jembatan yang dibangun pada bentuk lahan Fluvial berupa sungai yang berkelok
cenderung tidak bertahan lama dikarenakan pondasi jembatan tersebut bisa
tererosi oleh sungai sewaktu-waktu
 Konstruksi jalan yang dibangun pada bentuk lahan yang memiliki lereng yang
terjal seperti perbukitan dan tingkat kecepatan aliran yang cenderung cepat jika
tidak memperhatikan kemiringan dari lapisan batuan itu sendiri maka akan
mudah hancur jika terjadi longsor
 Konstruksi jalan yang dibangun pada bentuk lahan fluvial yaitu pantai cenderung
akan terkena dampak dari abrasi laut yang bisa mengikis jalanan itu sendiri
3) Litologi
 Daerah dengan litologi yang resisten biasanya terdapat di daerah dengan
kelerengan sedang-curam dengan kecepatan aliran yang cukup cepat. Daerah
dengan litologi yang resisten cenderung dapat menjadi pondasi yang kuat pada
jembatan atau jalan
 Daerah dengan litologi yang resistensinya rendah biasanya terdapat pada daerah
dengan kelerengan landai-sedang dengan kecepatan aliran yang relative stabil.
Jika dibangun konstruksi berupa jalan atau jembatan pada daerah dengan litologi
yang kurang resisten sifatnya kurang kokoh karena material lepas pada batuan
dengan resistensi kurang cenderung tidak stabil
4) Stratigrafi
 Pada daerah dengan kelerengan yang curam berbahaya jika dibangun jalan atau
jembatan. Pembangunan jalan atau jembatan pada daerah dengan kelerengan
yang curam harus memperhatikan kemiringan lapisannya supaya baik longsor
ataupun air hujan yang meresap ke tanah tidak mengakibatkan longsor ke jalanan
tersebut
 Pada daerah dengan satuan batuan berupa material lepas dapat berbahaya bila
dibangun jembatan atau jalan karena material-material ini cenderung tidak stabil
dan akan membuat jembatan goyah sewaktu-waktu
5) Struktur Geologi
 Konstruksi jalanan atau jembatan yang dibangun di atas struktur yang aktif
seperti sesar cenderung berbahaya. Apabila terjadi aktivitas tektonik maka
jalanan dan jembatan akan membentuk rekahan dimana rekahan ini bisa terisi
oleh air yang akan mengerosi jalanan maupun jembatan tersebut
6) Proses
 Proses geologi seperti aktivitas tektonik, pergerakan tanah, atau erosi akibat
aliran air yang terus menerus menggerus dapat mengakibatkan kerusakan pada
jalanan maupun jembatan
7) Hubungan Sekitar
 Jalanan atau jembatan yang perlahan-lahan menghilang atau keadaannya
cenderung tidak stabil dapat mengindikasikan bahwa daerah tersebut memiliki
tingkat erosi yang tinggi, terutama di daerah yang dekat dengan aliran sungai
 Jalanan di sekitar pantai yang terkikis mengindikasikan bahwa jalanan tersebut
terkena dampak dari abrasi
 Jalanan atau jembatan yang terdapat rekahan dan muncul arus liar secara tiba-
tiba mengindikasikan bahwa jalanan atau jembatan tersebut dibangun di atas
struktur yang aktif

8. Upaya penangan geoteknik di Jepang


1) Lereng
 Kondisi lereng diperlukan sebagai parameter untuk menentukan apakah di
daerah tersebut bisa didirikan suatu bangunan atau jalanan
 Jepang merupakan daerah dengan tektonik yang cukup aktif, apabila dibangun
sebuah bangunan atau jalanan pada lereng dengan kondisi yang tidak stabil maka
saat terjadi aktivitas tektonik bangunan akan mudah hancur
2) Bentuk lahan
 Pada bentuk lahan structural seperti perbukitan akan berbahaya bila dibuat suatu
bangunan karena dikarenakan berada pada lereng yang sedang-terjal, daerah ini
terbentuk akibat struktur dan jika terjadi aktivitas tektonik akan membuat
bangunan hancur
 Pada bentuk lahan fluvial seperti pantai dapat berbahaya dikarenakan jepang
sendiri rentan terkena tsunami akibat aktivitas tektoniknya
3) Litologi
 Litologi yang cocok digunakan sebagai parameter pembangunan suatu wilayah
adalah litologi ayng resisten. Dikarenakan litologi ini bisa tahan terhadap
guncangan
 Litologi yang kurang resisten cenderung disusun oleh material lepas yang mana
saat terjadi guncangan akan berbahaya karena bangunan atau jalanan yang
berada di atasnya cenderung memiliki sifat yang tidak stabil
4) Stratigrafi
 Satuan batuan dengan material lepas seperti lempung dan lanau cenderung tidak
resisten dan mengakibatkan bangunan di atasnya menjadi tidak stabil
 Satuan batuan yang resisten seperti breksi dan konglomerat cenderung kuat
apabila terdapat jalanan atau bangunan di atasnya dan cenderung stabil
5) Struktur Geologi
 Bangunan yang dibangun di atas struktur yang aktif cenderung berbahaya,
dimana struktur itu sendiri terbentuk karen aktivitas tektonik yang sering terjadi
di jepang
 Bangunan yang dibangun di atas struktur yang aktif harus memiliki pondasi yang
kuat agar tidak mudah hancur
6) Proses
 Proses geologi di negara Jepang seperti gempa bumi, tsunami, serta pergerakan
tanah dapat mengakibatkan hancurnya bangunan serta jalanan
7) Hubungan Sekitar
 Apabila terdapat retakan pada bangunan atau jalanan maka di bawahnya terdapat
struktur yang aktif yang sewaktu-waktu bisa menyebabkan bangunan atau
jalanan tersebut hancur
 Jika jalanan di sekitar pantai terkikis maka dapat mengindikasikan bahwa daerah
tersebut sering terkena abrasi atau bahkan tsunami

9. Bencana lingkungan korosif


1) Lereng
2) Bentuk lahan
3) Litologi
4) Stratigrafi
5) Struktur Geologi
6) Proses
7) Hubungan Sekitar