Anda di halaman 1dari 24

Pelaksanaan Penyelenggaraan Jenazah

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok

Mata Kuliah: Materi PAI SMA/SMK

Dosen Pengampu: Drs. Abd Halim Nasution, M.Ag

Disusun oleh: Kelompok XIV

Sem. IV/PAI-1

Emmi Yusrah Hasibuan (0301181045)

Fitri Zakiyah Sagala (0301181053)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN SUMATERA UTARA MEDAN

2020
Pelaksanaan Penyelenggaraan Jenazah

Disusun oleh: Emmi Yusrah Hasibuan dan Fitri Zakiyah Sagala

ABSTRAK

Setiap orang yang bernyawa pasti akan merasakan mati, dan setiap muslim memiliki
kewajiban terhadap saudaranya yang meninggal dunia yaitu memandikan, mengkafani,
menshalatkan dan menguburkannya. Penyelenggaraan jenazah sebagaimana kita ketahui
hukumnya adalah fardhu kifayah.
Semua di dunia ini adalah milik Allah Swt dan akan kembali kepada-Nya. Hal ini
tertuang dalam firman Allah Swt dalam QS. Al-Baqarah ayat 56 “Sesungguhnya kami milik
Allah dan kepada-Nya lah kami kembali,”(QS. L-baqarah/2:156).
Materi ini mengajarkan kita sebagai manusia untuk mengingat Allah kapan pun dan
dimanapun. Jika dilihat dari peserta didik di zaman sekarang pasti hanya beberapa
mengetahui penyelenggaraan jenazah.
Maka dari itu, tujuan yang ingin dicapai dari pembelajaran kali ini, yakni
mengenalkan kepada peserta didik untuk selalu mengingat Allah, bagaimana kewajiban
seorang muslim terhadap orang yang meninggal dunia dan lain sebagainya.

Kata Kunci: Pelaksanaan Penyelenggaraan Jenazah

2
PENDAHULUAN

Pembelajaran pelaksanaan penyelenggaraan jenazah. Ini merupakan materi


Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMA/SMK kelas XI kurikulum 2013 yang tertera
pada Permendikmud Tahun 2018 yaitu KD 3.7 menganalisis pelaksanaan penyelenggaraan
jenazah.
Dalam ketentuan hukum jika seorang muslim meninggal maka hukumnya fardhu
kifayah atas orang-orang muslim yang masih hidup untuk menyelenggarakan 4 perkara, yakni
memandikan, mengkafani, menshalati, dan menguburkan. Dalam materi ini terdapat beberapa
sub pembahasan diantaranya, kewajiban umat Islam terhadap jenazah, dalil yang berkaitan
dengan pelaksanaan penyelenggaraan jenazah, penyelenggaraan perawatan jenazah
(memandikan, mengkafani, menshalati dan menguburkan). Hal ini perlu untuk dikembangkan
dalam diri peserta didik khususnya dalam bermasyarakat.
Oleh karna itu dalam materi pelaksanaan penyelenggaraan jenazah ini sangat
bermanfaat baik itu dalam keluarga maupun dimasyarakat. Berdasarkan uraian pengantar dan
latar belakang penulisan makalah di atas yang menjadi pokok permasalahannya ialah:
1. Apa definisi dari penyelenggaraan jenazah menurut syariat Islam?
2. Bagaimana ketentuan dalam pelaksanaan penyelenggaraan jenazah?
3. Bagaimana sikap seorang muslim dalam penyelenggaraan jenazah di masyarakat?

3
PEMBAHASAN

Standar
Kompetens Kompetensi Dasar Tujuan Pembelajaran
i (Fikih)
14.Meghaya 14.1. Meyakini Siswa dapat :
ti dan meng- syariat Islam 1. Menjelaskan kewajiban umat Islam terhadap orang
amalkan tentang kewajiban yang meninggal.
ajaran penyelenggaraan
agama yang jenazah.
dianut-nya.
14.2. Menjelaskan 2. Menjelaskan tata cara memandikan jenazah dengan
tata cara benar.
pengurusan jenazah 3. Menjelaskan tata cara mengkafani dengan benar.
dan hikmahnya. 4. Menjelaskan tata cara menshalati dengan benar.
5. Menjelaskan tata cara menguburkan dengan benar.

14.3. Memperagakan 6. Memperagakan tata cara penyelenggaraan jenazah


tata cara dengan baik dan benar
penyelenggaraan
jenazah.

A. KD dan KI 3 dan 4
Kompetensi Inti:
KI-3 Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu
pengetahuan, tekonologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian,
serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

4
KI-4 Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu
menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.
Kompetensi Dasar:
3.7 Menganalisis pelaksanaan penyelenggaraan jenazah.
B. Indikator Pencapaian Kompetensi KD KI 3
3.7.1 Mematuhi ketentuan syariat Islam dalam penyelenggaraan jenazah
3.7.2 Berakhlak mulia dengan tanggung jawab dan kerja sama dalam penyelenggaraan
perawatan jenazah di masyarakat.
3.7.3 Menerangkan ketentuan hukum Islam dalam penyeleggaraan jenazah.
Menerangkan hukum dalam penyeleggaraan jenazah.
Melakukan tata cara dalam penyelenggaraan jenazah.
3.7.4 Mendomenstrasikan tata cara penyelenggaraan jenazah.
Menunjukkan bacaan/do’a dalam penyelenggaraan jenazah.
C. Materi Pokok/Sub Pokok Pembelajaran
1. Kewajiban umat Islam terhadap jenazah
2. Dalil yang berkaitan dengan penyelenggaraan jenazah
3. Penyelenggaraan perawatan jenazah
a. Memandikan jenazah
b. Mengkafani jenazah
c. Menyalati jenazah
d. Menguburkan jenazah

D. Uraian Materi
1. Kewajiban Islam terhadap jenazah
Bila berita kematian diterima, seseorang harus mengulangi kata-kata Inna
lillahi wa inna ilaihi raji’un. Permohonan ampun bagi seseorang yang meninggal
adalah tugas seorang muslim satu sama lain. Dan ini dilakukan dengan melakukan
shalat jenazah pada waktu kematiannya.

Rincian dan tugas-tugas bagi orang yang hidup terhadap orang yang
menghadapi sakaratul maut yang disebutkan di dalam hadis;

a. Mengunjungi orang sakit adalah suatu tugas yang dibebankan kepada seorang
muslim.

5
b. Kalau menyaksikan ada tanda-tanda mendekatnya kematian pada seseorang,
maka al-Qur’an suci bisa dibacakan disamping tempat tidurnya.kesedihan
karena seseorang yang meninggal itu alamiah, akan tetapi meratapi, memukul-
mukul pipi, merobek-robek pakaian dan sebagainya itu diharamkan.
c. Mendoakannya dan menutup matanya, dalam mengurus jenazah hendaklah
berkata yang baik dan berdo’a, sebab malaikat mengaminkan apa yang sedang
kita baca. Rasulullah Saw bersabda, dari Ummi Salamah,berkata Nabi Saw:
“jangan lah kamu berdo’a atas dirimu melainkan do’a kebaikan karena
sesungguhnya malaikat mengaminkan apa yang kamu ucapkan.”1
d. Memberitahukan berita kematian. Hal itu bertujuan untuk memberitahukan
pihak keluarga jenazah, kerabat, sahabat-sahabatnya dan orang-orang yang
sudah selayaknya diberi tahu. Dengan harapan semua elemen masyarakat
tersebut dapat membantu dalam mengurus jenazah.
e. Menyelesaikan hutang orang yang meninggal, adapun yang berkewajiban
melunasinya adalah pihak keluarga dn kerabat terdekat. Pelunasannya diambil
dari harta si mayit, atau iuran dari pihak keluarga si mayit tidak meninggalkan
harta sedikit pun. Karena Rasulullah Saw telah memberikan bahwa seorang
jenazah tidak dapat masuk ke dalam surga karena dirinya memiliki hutang.2
f. Jasad yang meninggal harus dimandikan dan dibersihkan dari segala kotoran
dan kemudian dibungkus dengan kain kafan yang bersih.
g. Mengikuti pemakan jenazah itu perbuatan yang besar pahalanya, kaum wanita
tidak dianjurkan untuk mengikuti pemakaman jenazah tetapi tidak ada
larangan untuk itu.3
2. Dalil yang berkaitan dengan penyelenggaraan jenazah
Mengurus jenazah merupakan bagian dari adab Islam yang ditentukan Nabi
Saw kepada umatnya. Hal ini sebagaimana dalam hadis riwayat Bukhari Muslim dan
Abu Daud dari Abu Hurairah sebagai berikut:

َ ‫ح‬ َ َ ‫حق الْمسلم عَلَى الْمسلم ست اذ َالَقيته فَسلِّم ع َلَيه واذ َادع َا‬
‫ك‬ َ ‫ص‬َ ْ ‫ستَن‬
ْ ‫ه َواِذ َا‬ ِ ‫ك فَأ‬
ُ ْ ‫جب‬ َ َِ ِ ْ ْ َ ُ َ ْ ِ ِ ٌّ ِ ِ ِ ْ ُ ِ ِ ْ ُ ُّ َ
ُ ْ‫ات فَتْبَع‬
‫ه‬ َ ‫م‬َ ‫ض فَعُدْه ُ وَاِذ َا‬َ ِ‫مر‬
َ ‫ه وَاِذ َا‬
,ُ ْ ‫مت‬
ِ ‫س‬ َ َّ ‫مد َ الل‬
َ َ‫ه ف‬ ِ ‫ح‬ َ َ ‫ه وَاِذ َا ع َط‬
َ َ‫س ف‬ ُ ‫ح‬ َ ْ ‫فَان‬
ْ ‫ص‬

1
Sri Sumaryoto, Tuntunan Menjenguk Orang Sakit Meliputi Jenaza dan Surat Yasin
2
Sudarto, Ilmu Fikih, (Yogyakart:Depublish, 2018). Hal.223
3
Maulana Muhammad Ali, Kitab Hadis Pegangan, (Jakarta:Darul Kutubi Islamiyah, 2016). Hal.170

6
“Hak orang muslim terhadapa muslim lainnya ada enam, yaitu apabila kamu
bertemu dengannya hendaknya mengucapkan salam kepadanya, apabila ia
mengundang penuhilah undangannya, apabila ia meminta nasehat mu maka
nasehatilah, setelah mengalami kematian, seseorang akan menjalani hidupnya di
akhirat, pada kahir nanti setiap amal perbuatan manusia akan mendapat balasan.
Adapun kewajiban seorang muslim terhadap orang yang meninggal, yakni ada
empat:memandikan, mengkafani, menshalatkan dan menguburkan. Para ulama fikih
sepakat bahwa hukum memandikan, mengkafani, mensahalatkan dan menguburkan
adalah fardhu kifayah.

“Talkinilah orang yang akan wafat di antara kalian dengan La Ilaha Ilaallah, siapa
yang menjelang wafatnya mengucapkan: ‘La Illaha Illallah, maka kelak ia akan masuk surga
kendatipun sebelum itu akan mengalami musibah yang mungkin meninmpanya.”
Rasulullah dalam hadisnya ia bersabda,
َ َ ‫من مات وهُويعل‬
‫ة‬ َ ْ ‫ل ال‬
َ َّ ‫جن‬ َ ‫خ‬ ُ َّ ‫ه إِالَّالل‬
َ َ‫ه د‬ َ َ ‫ه الَا ِل‬
ُ َّ ‫م أن‬
ُ ََْ َ َ َ ْ َ
“Siapa saja yang meninggal dunia sedang ia meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah,
maka ia masuk surga.”
Memandikan adalah kewajiban pertama yang harus dilakukan terhadap jenazah sebagai
upaya untuk mensucikannya. Dalam memandikan jenazah, yang pertama adalah
menyediakan air dengan sabun atau wangi-wangian. Kemudian menyimramkannya
keseluruh tubuh jenazah. Penggunaan wangi-wangian dianjurkan oleh Rasulullah,
sebagaimana sabdanya dalam hadis riwayat Bukhari-Muslim berikut:

ِ‫ل اللَّه‬ ُ ْ ‫سو‬ َ ‫اس قَا‬


ُ ‫ل َر‬ ٍ َّ ‫ع َب‬ ‫ن‬
ِ ْ ‫َن ب‬
ِ ‫ع‬
ِ‫جنَا َزيْه‬ ُ ْ‫ت فَيَقُو‬
َ ‫م‬ ُ ْ ‫مو‬
ُ َ ‫سلِم ٍ ي‬
ْ ‫م‬
ُ ‫ل‬
ٍ ‫ج‬
ُ ‫ن ر‬
ْ ‫م‬
ِ ‫ما‬ ُ ْ‫صلعم يَقُو‬
َ ‫ل‬ ً ‫جال‬
ُ ‫َر‬ َ ْ‫ا َ ْربَعُو‬
‫ن‬
ُ َّ ‫م الل‬
ِ‫ه فِيْه‬ ُ ُ‫ن بِاللَّهِ شَ يْئًا اِال َّ شَ فَّعَه‬
َ ْ‫سرِكُو‬
ْ ُ ‫الَي‬

Dari Ibnu Abbas ia berkata: Tidaklah meninggal dunia seorang muslim


kemudian disolati 40 orang dan dia tidak mempersekutukan Allah
dengan segala sesuatu kecuali Allah akan memberikan pertolongan pada
kematiannya.

3. Pelaksanaan Pengurusan Jenazah


Mengurus jenazah merupakan kewajiban yang hukumnya fardu kifayah, yaitu
apabila salah seorang di antara kita ada yang mengurus jenazah, maka yang lain tidak
berdosa. Kewajiban mengurus jenazah tergantung pada jenazahnya itu sendiri seperti:
a) Jenazah Orang Muslim

7
Muslim yang bukan syahid. Adapun kewajiban yang harus dilakukan
Kepadanya adalah:
1. Memandikan.
2. Mengafani.
3. Menshalati.
4. Memakamkan.
b) Muslim yang syahid dunia (yakni orang yang mati dalam peperangan dengan
niat mencari kehidupan dunia) atau syahid dunia-akhirat (yakni orang yang
meninggal dalam peperangan dengan niat untuk menegakkan agama Allah
swt.), mayatnya haram dimandikan dan dishalati, sehingga kewajiban
merawatnya hanya meliputi:
Menyempurnakan kafannya jika pakaian yang dipakainya tidak cukup untuk
menutup seluruh tubuhnya. Memakamkan.
c) Jenazah muslim yang sedang ihram (melakukan haji dan belum tahalul).
Jenazah yang satu ini, tetap dimandikan, dikafani, dishalati, dan dimakamkan.
Hanya saja ia dimandikan dengan tidak menggunakan wewangian, begitu juga
tidak dengan kapur barus ataupun sabun. Kemudian ia dikafani dengan
pakaian ihramnya dan tidak ditutup kepalanya (kecuali jika perempuan).
Bayi yang terlahir sebelum usia 6 bulan (Siqtu):
Dalam kitab-kitab ulama dikenal tiga macam kondisi bayi, yakni;
1) Lahir dalam keadaan hidup. Perawatannya sama dengan perawatan
jenazah muslim dewasa.
2) Berbentuk manusia sempurna, tapi tidak tampak tanda-tanda
kehidupan. Hal-hal yang harus dilakukan sama dengan kewajiban
terhadap jenazah muslim dewasa, selain menshalati.
3) Belum berbentuk manusia sempurna. Bayi yang demikian, tidak ada
kewajiban apa pun dalam perawatannya, akan tetapi disunahkan
membungkus dan memakamkannya.
4) Adapun bayi yang lahir pada usia 6 bulan lebih, baik terlahir dalam
keadaan hidup ataupun mati, kewajiban perawatannya sama dengan
orang dewasa.
5) Orang Kafir Dalam hal ini orang kafir dibedakan menjadi dua:
a. Kafir dzimmi (termasuk kafir muaman dan mu'ahad).

8
Hukum menshalati jenazah kafir adalah haram, adapun hal yang
harus dilakukan pada mayat kafir dzimmi adalah mengafani dan
memakamkan.
b. Kafir harbi dan orang murtad
Pada dasarnya tidak ada kewajiban apa pun atas perawatan
keduanya, hanya saja diperbolehkan untuk mengafani dan
memakamkannya.
Penanganan pertama terhadap jenazah
1) Memejamkan kelopak matanya
Diriwayatkan oleh Ummu Salamah, bahwa pada suatu hari Rasulullah saw,
mendatangi jenazah Abi Salamah. Sabda Rasulullah saw.,"Sesungguhnya mata akan
mengikuti roh ketika dicabut." Karena pandangan mata akan mengikuti keluarnya roh,
maka wajar saja jika awalnya mata jenazah terlihat melotot. Dan jika tidak
dipejamkan akan terkesan menakutkan.
2) Mengikat rahangnya
Yang kedua, sediakan kain yang lembut dan sedikit lebar serta agak panjang untuk
mengikat rahang jenazah. Lalu lingkarkan kain itu dari sisi kepala sebelah kanan - ke
bawah mencangkup rahangnya - hingga sisi kepala bagian kiri, kemudian diikatkan di
atas kepalanya. Mengikat rahang jenazah juga diperlukan, karena jika tidak dilakukan,
mulut jenazah akan selalu terbuka. Padahal terkadang ada hewan-hewan kecil yang
suka masuk ke dalamnya.
3) Melemaskan persendian jenazah
Selanjutnya, tulang-tulang persendian jenazah seperti pergelangan tangan, leher, lutut,
jari-jari tangan dan kaki, serta pinggang harus segera dilemaskan dengan cara
digoyang-goyangkan. Jelasnya dengan melipat tangan ke siku, lutut ke paha dan paha
ke perut. Setelah itu dibujurkan kembali dan jari-jari tangannya dilemaskan. Bila agak
terlambat sehingga tubuhnya kaku, maka boleh menggunakan minyak atau yang
lainnya untuk melemaskan sendi-sendi tulang jenazah. Faedah dari pelemasan ini
adalah mempermudahkan proses memandikan dan mengafani. Jika melemaskannya
setelah jenazah terdiam lama, persendian-persendian tersebut sudah kaku dan
menyulitkan proses dimandikan serta dikafaninya.
4) Melepaskan pakaian yang dipakainya
Melepas pakaian secara perlahan, kemudian menggantinya dengan kain tipis yang
dapat menutup seluruh tubuhnya, yang ujungnya diselipkan di bawah kepala dan
9
kedua kakinya. Karena terkadang pakaian banyak keringat dan menjadikan jenazah
cepat berbau busuk. Kecuali apabila ia sedang melaksanakan ihram, maka kepalanya
harus dibiarkan terbuka.
5) Memindah jenazah
Jenazah juga harus dipindahkan ke tempat yang layak dan jauh dari jangkauan
binatang serta dialasi papan atau sejenisnya. Atau meletakkan jenazah di tempat yang
agak tinggi agar tidak tersentuh kelembapan tanah yang bisa mempercepat rusaknya
badan.
6) Menindih perutnya
Untuk keperluan ini, letakkan benda seberat dua puluh dirham (20x2,75 gr - 54,300
gr) atau secukupnya di atas perut jenazah dengan dibujurkan dan dikat agar perutnya
tidak membesar.
7) Menutup badan jenazah
Setelah enam perkara di atas terlaksana, lalu untuk sementara tutuplah seluruh badan
jenazah dengan kain, sembari menunggu persiapan pemandiannya.
8) Membebaskan segala tanggungan hutang dan lainnya
Rasulullah saw.bersabda, "Jiwa seorang mukmin itu bergantung pada hutang-
hutangnya hingga dilunasinya." (HR. Abu Hurairah)
9) Segera diurusinya
Diriwayatkan dari shabat Ali bin Ai Thalib ra. bahwa Rasulullah saw.pernah
bersabda, "Ada tiga hal yang tidak boleh ditunda, yaitu shalat (bila sudah masuk
waktunya), jenazah, dan menikah jika telah menemukan wanita sekufu
(sederajat)nya."
1. Memandikan Jenazah
Layaknya orang hidup, orang mati juga perlu mandi, namun ia tidak bisa mandi sendiri,
maka harus dimandikan oleh orang lain.
Persiapan memandikan jenazah
 Cari tempat yang tertutup.
 Siapkan air yang suci dan menyucikan, air sabun, dan air yang telah dicampur kapur
barus.
 Siapkan Gulungan kain untuk menyumpal duburnya sehingga kotoran tidak keluar
lagi saat selesai dimandikan.

10
 Persiapkan bangku panjang dan 3 orang semahram (bukan orang yang membatalkan
wudhunya jenazah) duduk di atasnya untuk memangku jenazah saat dimandikan.
Atau jika tidak dipangku siapkan batang pohon pisang (debok, Jawa), dan jumlahnya
sesuaikan dengan panjang atau tinggi jenazah.
Bersamaan dengan itu kain kafan disiapkan
Agar jenazah tidak menunggu lama usai dimandikannya, maka sebaiknya ketika
jenazah dimandikan kain kafan sudah mulai disiapkan, Di antara persiapannya adalah;
menggelar sehelai tikar, kain kafan, dengan ukuran dan jumlah yang akan diterangkan
di bawah nanti. Dan siapkan pula gunting untuk keperluan potong-memotong kain.3.
Cara Memandikan Janazah
a. Menyirami badan jenazah menggunakan air yang suci dan menyucikan/air murni.
~ Mulailah dari anggota wudhu.
~ Mulailah dari anggota badan yang kanan
~ Meratakan siraman ke seluruh tubuh,
b. Menggunakan air sabun.
Air sabun ini digunakan untuk menyabuni seluruh tubuh jenazah sampai qubul dan
duburnya (alat kelamin dan anus) pula.
c. Gunakan kembali air murni untuk membilasbekas air sabun tadi.
d. Akhiri permandian dengan menggunakan air yang dicampur bubuk kapur barus dan
sedikit wewangian.
e. Badan Jenazah dikeringkan dengan handuk yang lembut
f. Setelah kering, jenazah diangkat, diletakkan di atas kain kafan yang sudah
disiapkan sebelumnya. Kemudian bungkuslah jenazah dengan kain kafan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan saat memandikan jenazah
Di antara hal yang perlu digarisbawahi saatkita memandikan jenazah adalah sebagai
berikut:
 Niat memandikan (itu tidak wajib tetapi sunah).
 Lokasi/tempat memandikan itu diberi satir atau kain penutup serta di atasnya diberi
atap(dengan kain atau yang lainnya).

 Jenazah dalam keadaan tertutup (dalam arti bahwa auratnya tertutupi). Sebaiknya
jenazah ditutup dengan kain agak tipis dan mengguyurkan airnya dari atas permukaan
kain. maka air akan menembus pori- pori kain penutup ke tubuh jenazah. Tangan

11
yang menggunakan sarung tangan karet menggosok seluruh tubuh jenazah usahakan
tanpa melihat aurat jenazahnya.
 Ketika memandikan mayit sebaiknya dipangku oleh tiga orang yang semahram. Dan
posisi ketiga orang yang memangku itu menghadap ke Timur. Dengan formasi dua
orang yang menjadi tumpuan sebelah atas badan jenazah (antara kepala dan perut)
merapatkan badan dan merapatkan kedua kakinya, tujuannya adalah agar si mayit
dengan mudah bisa dibersihkan serta sisa kotoran dalam perut mudah dibersihkan
dengan cara mengurut-ngurut perut si mayit secara perlahan-lahan. Sedangkan orang
yang ketiga berada di posisi bawah dengan letak kedua kakinya menjadi tumpuan
antara tumit dan betis jenazah.
 Tempat jatuhnya air itu usahakan miring agar air segera mengalir.
 Orang yang memandikan hendaknya menggunakan sarung tangan.
 Setiap lekukan-lekukan badan jenazah juga dibersihkan pelan-pelan termasuk pada
kuku jenazah. Giginya juga dibersihkan dengan kain ataupun sarung tangan (semua
benda yang halus) secara perlahan lahan agar tidak menyakiti atau melukai jenazah
sebagaimana dalam hadis bahwa jenazah juga masih bisa merasakan sakit seperti
orang yang masih hidup. Jumhur ulama tidak menganjurkankuku yang panjang
dipotong. (Fiqhus Sunnah 1/266)
 Kepala jenazah dibersihkan pula dengan sampo.
 Untuk kehati-hatian, memandikan jenazah menggunakan selang, atau menggunakan
apa saja yang penting air yang digunakan tidak musta'mal (tidak terkena percikan air
yang telah digunakan untuk memandikan).
 Jika persediaan air lebih dari cukup, sebaiknya pemandian diulang-ulang dengan
hitungan ganjil.

12
Cara memandikan jenazah seperti gambar diatas 4

2. Mengkafani jenazah
Persiapan
Harap dipersiapkan terlebih dahulu kain putih yang kuat bahannya, paling tidak
selembar kain yang sekiranya cukup menutupi seluruh badan mayat. Namun yang
lebih mendekati sunah adalah;
1) Bagi laki-laki, terdiri dari tiga lapis/lembar, dengan perincian:
 Bagian terdalam, kain lepas penutup pusar sampai lutut.
 Kain baju yang menutup bahu sampai separuh paha, lebih utama lagi sampai
separuh betis, Sebagai lapisan kedua
 Lapisan terakhir adalah kain penutup seluruh bagian badan (kain pocong).
 Atau tapa pakai baju, di mana lapisan terakhir adalah dua lapis kain lembaran.
2) Bagian perempuan, sebaiknya 5 lapis/lembar dengan perincian:
 Lapisan terdalam adalah kain basahan yang menutup bagian antara pusar
sampai lutut.
 Lapisan kedua meliputi kain kerudung dan baju kurung, yakni kain yang
menutup bahu sampai kaki (minimal sampai batas paha).
 Lapisan terakhir adalah tiga lembar kain atau tiga pembungkus yang menutup
seluruh bacaam. Di samping itu, harus dipersiapkan pula kain putih pengikat
4
Ahmad Fathoni El kayshi, Panduan praktis shalat jenazah dan perawatan jenazah.Medpress
digital(jakarta:2004) hlm.26-37

13
(tall), minimal lima lembar dan kapuk kapas untuk menutup lubang-lubang
tubuh sebelum dibungkus kain kafan. Yang jelas banyaknya lapisan kain
disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan yang bersangkutan. Adapun
jika dilihat dari segi mazhab fiqh, menurut Imam Syafi'i dan Imam Ahmad
menetapkan, sesuai atsar Nabi dan Sahabat, bagi mayat laki-laki terdiri dari
tiga lembar dan bagi perempuan lima lembar. Sedangkan menurut Imam
Hanafi, Bagi perempuan kain kafan yang harus adalah tiga lapis, dan sunahnya
lima lembar.
Perlengkapan Mengafani Jenazah
1. Bila yang wafat dewasa hendaknya disediakan kain kafan 11 meter berwarna putih.
2. Kapas kurang lebih 1/4 kg atau secukupnya.
3. 2(dua) ons kapur barus halus atau secukupnya.
4. Minyak wangi.
5. Gunting untuk memotong.
Syarat Kain Kafan
Syaratnya hampir sama seperti pakaian penutup dalam shalat.
1. Kain tersebut harus suci dari najis, kecuali najis yang dimaafkan. yaitu:
 Darah yang keluar dari luka, bisul atau penyakit lain yang keluarnya tidak bisa
dihindariatau dicegah,
 Bukan darah yang berasal dari selain tubuh si mayat.
 Najisnya merupaikan najis mukhaffafah
2. Tidak boleh terdapat unsur sutera atau emas.
Berasal dari barang dan usaha yang halal Diupayakan bahan kain kafan itu tidak boleh
terbuat dari binatang.
Cara Memotong Kain untuk Jenazah Laki-laki
 Potong kain kafan sepanjang tubuh jenazah ditambah 0,5 m atau 2,5 jengkal sebanyak
2 lembar sebagai lembar pertama.
 Potong kain kurang lebih 160 cm/ satu depa sebagai lembar kedua untuk menutup
jenazah dari dada sampai lutut.
 Potong kain kafan sepanjang 160 cm/ satu depan sebagai lembar ketiga untuk
menutup jenazah dari pinggang sampai ujung kaki.
 Potong kain sepanjang 160 cm/ satu depa dari potongan ini kita potong selebar 5 cm
sebayak 4 lembar (untuk tali) dan satu lembar kita potong untuk menjadi dua.

14
 Sisa potongan dari kain 160 cm ini bisa dipakai untuk perca/ sobekan untuk
memersihkan dubur dan kemaluan, juga bisa dipakai untuk pampers/cawat atau bisa
dipakai untuk menutup aurat jenazah ketika memandikan.

Cara Memotong Kain untuk Jenazah Wanita


 Potong kain kafan separjang tubuh jenazah ditambah 0,5 m atau 2,5 jengkal,
sebanyak 2 lembar sebagai lembar pertama.
 Potong kain kafan separjang 75 cm/3,5 jengkal digunakan untuk kerudung,
 Potong kain kafan separyang 160 cm/ satu depa untuk baju kurung
 Potong kain kafan sepanjang 160 cm/satu depa untuk sarung/ kain basahan yang
berfungsi untuk menutup badan jenazah dari perut sampai mata kaki.
 Potong kain kafan dengan parjang 150 cm lebar 70 cm kalau kain kafan lebarnya
90 cm dikurangi 70 cm maka sisanya 20 cm, sisa tersebut digunakan untuk tali
dengan memotong 5 cm sebayak 4 lembar dan yang satu kita potong menjadi dua.
 Bila jenazah wanita, maka dikafani dengan lima lembar kain kafan yang terdiri
atas:
- Lembar pertama, lembar yang paling panjang dan paling lebar.
- Lembar kedua: untuk kerudung.
-Lembar ketiga: untuk baju kurung
- Lembar keempat: untuk sarung digunakan untuk menutup badan jenazah dan
perut sampai mata kaki.
-Lembar kelima: untuk menutup badan jenazah dari pusar sampai paha.
 Mengafani jenazah dengan lima lembar kain kafan ini berdasarkan hadis: "Laila
binti Qonif berkata: Aku turut memandikan Umntu Kulstam binti Rasulullah saw.
ketika Wafatnya, Nabi memberi kami kain, Lalu baju kurung, lalu kerudung,
kemudian selubung, kemudian oleh Rasul dimasukkannya kain lainnya.5
Cara mengafani jenazah
Adapun cara mengkafani mayat dengan baik dan praktis adalah seperti berikut:
 Letakkan tali-tali pengikat kain kafan sebanyak 7 helai, dengan perkiraan yang
akan ditali adalah:
1) bagian atas kepala
2) bagian bawah dagu

5
K. H Muhammad sholikhin, panduan lengkap perawatan jenazah. Mutiara media (Yogyakarta:2009)
hlm. 76-86

15
3) bagian bawah tangan yang sudah disedekapkan
4) bagian pantat
5) bagian lutut
6) bagian betis
7) bagian bawah telapak kaki.
 Bentangkan kain kafan dengan susunan antara lapis pertama dengan lapis
lainnya tidak tertumpuk sejajar, tetapi tumpangkan sebagian saja, sedangkan
lapis ketiga bentangkan di tengah-tengah.
 Taburkan pada kain kafan itu kapus barus yang sudah dihaluskan.
 Letakkan kain surban atau kerudung yang berbentuk segitiga dengan bagian
alas di sebelah atas. Letak kerudung ini diperkirakan di bagian kepala mayit.
 Bentangkan kain baju yang sudah disiapkan. Lubang yang berbentuk belah
ketupat untuk leher mayit. Bagian sisi yang digunting dihamparkan ke atas.
 Bentangkan kain sarung di tengah-tengah kain kafan. Letak kain sarung ini
diperkirakan pada bagian pantat mayit.
g. Bujurkan kain cawat di bagian tengah untuk menutup alat vital mayit.
 Lalu letakkan mayit membujur di atas kain kafan dalam tempat tertutup dan
terselubung kain.
 Sisirlah rambut mayat tersebut ke belakang.
 Pasang cawat dan talikan pada bagian atas.
 Tutuplah lubang hidung dan lubang telinga dengan kapas yang bulat.
 Sedekapkan kedua tangan mayait dengan tangan kanan di atas tangan kirinya.
 Tutuplah persendian mayit dengan kapas-kapas yang telah ditaburi kapur
barus dan cendana yang dihaluskan, seperti sendi jari kaki, mata kaki bagian
dalam dan luar, lingkaran lutut kaki, sendi jari-jari tangan, pergelangan tangan,
siku, pangkal lengan dan ketiak, leher, dan wajah/muka.
 Lipatlah kain sarung yang sudah disiapkan.
 Kenakan baju yang sudah disiapkan dengan cara bagian sisi yang telah
digunting diletakkan di atas dada dan tangan mayit.
 Ikatkan surban yang berbentuk segitiga dengan ikatan di bawah dagu.
 Lipatkan kain kafan melingkar ke seluruh tubuh mayit selapis demi selapis
sambil ditarik ujung atas kepala dan ujung bawah kaki.
 Kemudian talikan dengan tali-tali yang sudah disiapkan.

16
3. Menshalatkan jenazah
Shalat jenazah adalah shalat yang dilakukan untuk mendoakan jenazah (mayat)
seorang Muslim. Dalam berbagai haditsnya Nabi Muhammad Saw. memerintahkan
kepada kita agar melakukan shalat jenazah ini jika di antara saudara kita yang Muslim
meninggal dunia. Dari hadits-hadits itu jelaslah bahwa shalat jenazah itu sangat
dianjurkan, meskipun anjuran untuk shalat jenazah ini tidak sampai wajib atau fardlu
‘ain. Hukum menshalatkan jenazah hanyalah fardlu kifayah.
Adapun yang diwajibkan untuk dishalatkan adalah jenazah orang Islam yang tidak
mati syahid (mati dalam peperangan melawan musuh Islam). Terkait dengan hal ini
Nabi bersabda: “Shalatkanlah olehmu orang yang mengucapkan ”la Ilaha illallah’
(Muslim)” (HR. ad-Daruquthni). Dalam hadits yang diriwayatkan dari Jabir, ia
berkata: “Bahwa Nabi Saw. telah memerintahkan kepada para shahabat sehubungan
dengan orang-orang yang mati dalam peperangan Uhud, supaya mereka dikuburkan
beserta darah mereka, tidak perlu dimandikan dan tidak pula dishalatkan”. (HR. al-
Bukhari).
Hukum menshalatkan mayat adalah fardlu kifayah sebagaimana memandikan dan
mengkafaninya. Menshalatkan mayat memiliki keutamaan yang besar, baik bagi yang
menshalatkan maupun bagi mayat yang dishalatkan. Keutamaan bagi yang
menshalatkan mayat dinyatakan oleh Nabi Saw. dalam salah satu haditsnya:“Barang
siapa menyaksikan jenazah sehingga dishalatkan, maka ia memperoleh pahala satu
qirath. Dan barang siapa menyaksikannya sampai dikubur, maka ia memperoleh
pahala dua qirath. Ditanyakan: “Berapakah dua qirath itu?” Jawab Nabi: “Seperti dua
bukit yang besar” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah).

17
Untuk shalat jenazah, perlu diperhatikan syarat-syarat tertentu. Syarat ini berlaku di
luar pelaksanaan shalat. Syarat-syaratnya seperti berikut:
a. Syarat-syarat yang berlaku untuk shalat berlaku untuk shalat jenazah.
b. Mayat terlebih dahulu harus dimandikan dan dikafani.
c. Menaruh mayat hadir di muka orang yang menshalatkannya.
Adapun rukun shalat jenazah (yang berlangsung selama pelaksanaan shalat jenazah)
adalah sebagai berikut:
a. Niat melakukan shalat jenazah semata-mata karena Allah.
b. Berdiri bagi orang yang mampu.
c. Takbir (membaca Allahu Akbar) empat kali.
d. Membaca surat al-Fatihah setelah takbir pertama.
e. Membaca doa shalawat atas Nabi setelah takbir kedua.
f. Berdoa untuk mayat dua kali setelah takbir ketiga dan keempat.
g. Salam.
Dari rukun shalat jenazah di atas, maka cara melakukan shalat jenazah dapat
dijelaskan
Sebagai berikut:
 Setelah memenuhi semua persyaratan untuk shalat, maka segeralah berdiri dan
berniat untuk shalat jenazah dengan ikhlas semata-mata karena Allah.
Adapun lafaz niat shalat jenazah :
‫أصلى على هذا الميت اربع تكبيرات فرض الكفاية إماما مأ موما هلل تعالى‬
Artinya: “Saya berniat shalat atas mayat ini dengan empat takbir sebagai
fardlu kifayah, menjadi imam/ma’mum karena Allah Ta’ala. Jika
jenazahnya perempuan, maka kata ‘hadzal mayyiti’ diganti dengan kata
‘hadzihil mayyitati’. Dan jika jenzahnya ghaib, maka ditambahkan setelah
‘hadzal mayyiti’ kata ‘ghaiban’ atau setelah ‘hadzihil mayyitati’ kata
‘ghaibatan’.
 Setelah itu bertakbir dengan membaca Allahu Akbar.
 Setelah takbir pertama lalu membaca surat al-Fatihah yang kemudian disusul
dengan takbir kedua.
 Setelah takbir kedua lalu membaca shalawat atas Nabi Muhammad Saw.
seperti:

18
Allahumma sholli 'alaa muhammad wa 'ala aali muhammad. Kamaa sholaita
'ala ibroohim wa 'ala aali ibroohim. Wa baarik 'ala muhammad wa 'ala aali
muhammad. Kamaa baarokta 'ala ibroohim wa 'ala aali ibroohim. Fil
'aalamiina Innaka hamiidum majiid.
 Setelah itu takbir yang ketiga dan membaca doa. Lafazh doanya:
Doa pada takbir ketiga versi panjang.
Allohummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu
wawassi’ mudkholahu waghsilhu bil maa-i wats tsalji wal barod. Wa naqqihi
minal khothooyaa kamaa naqqoit ats tsaubal abyadhu minad danas. Wa
abdilhu daaron khoiron min daarihi wa ahlan khoiron min ahlihi wa zaujan
khoiron min zaujihi wa adkhilhul jannata wa a’idzhu min ‘adzaabin qobri au
min ‘adzaabin naar.
Yang artinya: "Ya Allah, ampunilah din, belas kasihanilah dia, hapuskanlah
dan ampunilah dosa-dosanya, muliakan tempatnya (ialah surga) dan
luaskanlah kuburannya. Basuhkanlah kesalahan-kesalahannya sampai bersih
sebagaimana bersihnya kain putih dari kotoran. Gantikanlah rumah lebih baik
daripada rumahnya yang dulu, keluarganya lebih baik daripada keluarganya
yang dulit; dan masukkanlah ia ke dalam surga dan jauhkanlah ia dari siksa
kubur dan siksa api neraka."
Doa pada takbir ketiga versi pendek.
Allohummaghfirlahu warhamhu wa'aafihi wa'fu 'anhu Yang artinya: "Ya
Allah, ampunilah din, belas kasihanilah dia, hapuskanlah dan ampunilah dosa-
dosanya. "
Apabila jenazahnya perempuan cukup mengganti lafadz “hu” menjadi “haa“,
seperti contoh berikut. "Allaahummagh firlahu war hamhu wa'aafihu wa'fu
'anhu wa akrim nuzulahu"
Diganti menjadi berikut:
"Allaahummagh firlahaa war hamhaa wa'aafihaa wa'fu 'anhaa wa akrim
nuzulahaa"
 Setelah itu takbir yang keempat dan membaca doa lagi. Lafazh doanya:
Allohumma laa tahrimnaa ajrohu wa laa taftinnaa ba'dahu waghfirlanaa
walahu

19
Yang artinya: "Ya Allah, janganlah engkau menutup-nutupi pahala mayit ini
kepada kami dan janganlah diberikan fitnah kepada kami setelah kami
meninggalkan mayit tersebut, ampunilah kami dan ampunilah dia."
Jika jenazahnya perempuan, maka “hu” diganti “haa” menjadi:
“Allahumma laa tahrrimna aj-rahaa walaa taftinnaa ba’dahaa wagh firlanaa
walahaa”
Dalam takbir ke- empat ini apabila jenazahnya belum baligh seperti balita dan
anak-anak maka diganti doa sebagai berikut.
"Allaahummaj 'alhu farothon wa dzukhron liwaalidaihi, wa syafii'an
mujaaban. Allaahumma tsaqqil bihi mawaaziinahumaa wa a'zhim bihi
ujuurohumaa, wa alhiqhu bishoolihil mu’miniin, waj 'alhu fii kafaalati
ibroohiim, wa qihi birohmatika 'adzaabal jahiim, wa abdilhu daaron khoiron
min daarihi, wa ahlan khoiron min ahlihi. Allaahummaghfir li-aslaafinaa, wa
afroothinaa wa man sabaqonaa bil iimaan."
Yang artinya: "Ya Allah, jadikanlah kematian anak ini sebagai pahala yang
didahulukan, simpanan bagi kedua orang tuanya dan pemberi syafaat yang
dikabulkan doanya. Ya Allah, dengan musibah ini, beratkanlah timbangan
perbuatan mereka dan berilah pahala yang agung. Anak ini kumpulkan dengan
orang-orang yang shalih dan jadikanlah dia dipelihara oleh Nabi Ibrahim.
Peliharalah dia dengan rahmat-Mu dari siksaan Neraka Jahim. Berilah rumah
yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (di Surga) yang
lebih baik daripada keluarganya (di dunia). Ya Allah, ampunilah pendahulu-
pendahulu kami, anak-anak kami, dan orang-orang yang mendahului kami
dalam keimanan."
 Setelah itu mengucapkan salam dua kali sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam rangka pelaksanaan shalat
jenazah di antaranya sebagai berikut:
Tempat berdirinya imam pada arah kepala mayat jika mayat itu laki-laki dan
pada arah pantatnya (di tengah) jika perempuan.
Mayat yang jumlahnya lebih dari satu dapat dishalatkan bersama-sama
sekaligus dengan meletakkan mayat laki-laki dekat imam dan mayat
perempuan dekat arah kiblat.
Semakin banyak yang menshalatkan jenazah semakin besar terkabulnya
permohonan ampun bagi si mayat. Nabi Saw. bersabda: “Tiada seorang laki-
20
laki Muslim yang mati lalu berdiri menshalatkan jenazahnya empat puluh
orang laki-laki yang tidak mensekutukan Allah kepada sesuatu, melainkan
Allah menerima syafaat mereka kepada si mayat” (HR. Ahmad, Muslim, dan
Abu Daud, dari Ibnu Abbas).
Sebaiknya jama’ah shalat disusun paling tidak menjadi tiga baris.
Mayat yang dishalatkan adalah mayat Muslim atau Muslimah selain yang mati
syahid dan anak-anak.
Bagi yang tidak dapat menshalatkan jenazah dengan hadir, maka dapat
menshalatkannya dengan ghaib.
Shalat jenazah dilakukan tanpa azan dan iqamah.
4. Menguburkan jenazah
Mengubur jenazah merupakan prosesi terakhir dari perawatan jenazah.
Hukumnya juga fardlu kifayah seperti tiga perawatan sebelumnya. Waktunya boleh
siang dan boleh malam, asal tidak pas waktu matahari terbit, matahari terbenam, atau
matahari tepat di atas kita (tengah hari).
Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam rangka mengubur mayat adalah
sebagai berikut:
a. Memperdalam galian lobang kubur agar tidak tercium bau si mayat dan
tidak dapat dimakan oleh burung atau binatang pemahan bangkai.
b. Cara menaruh mayat di kubur ada yang ditaruh di tepi lubang sebelah kiblat
kemudian di atasnya ditaruh papan kayu atau yang semacamnya dengan posisi
agak condong agar tidak langsung tertimpa tanah ketika mayat ditimbuni
tanah. Bisa juga dengan cara lain dengan prinsip yang hampir sama, misalnya
dengan menggali di tengah-tengah dasar lobang kubur, kemudian mayit
ditaruh di dalam lobang itu, lalu di atasnya ditaruh semacam bata atau papan
dari semen dalam posisi mendatar untuk penahan tanah timbunan. Cara ini
dilakukan bila tanahnya gembur. Cara lain adalah dengan menaruh mayit
dalam peti dan menanam peti itu dalam kubur.
c. Cara memasukkan mayat ke kubur yang terbaik adalah dengan
mendahulukan memasukkan kepala mayat dari arah kaki kubur.
d. Mayat diletakkan miring ke kanan menghadap ke arah kiblat dengan
menyandarkan tubuh sebelah kiri ke dinding kubur supaya tidak terlentang
kembali.

21
e. Para ulama menganjurkan supaya ditaruh tanah di bawah pipi mayat sebelah
kanan setelah dibukakan kain kafannya dari pipi itu dan ditempelkan langsung
ke tanah. Simpul tali yang mengikat kain kafan
supaya dilepas.
f. Waktu memasukkan mayat ke liang kubur dan meletakkannya dianjurkan
membaca doa seperti:
‫بسم هللا و على ملة رسول هللا‬
Artinya: “Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah” (HR. at-Tirmidzi
dan Abu Daud).
g. Untuk mayat perempuan, dianjurkan membentangkan kain di atas kuburnya
pada waktu dimasukkan ke liang kubur. Sedang untuk mayat laki-laki tidak
dianjurkan.
h. Orang yang turun ke lobang kubur mayit perempuan untuk mengurusnya
sebaiknya orang-orang yang semalamnya tidak mensetubuhi isteri mereka.
i. Setelah mayat sudah diletakkan di liang kubur, dianjurkan untuk
mencurahinya dengan tanah tiga kali dengan tangannya dari arah kepala mayit
lalu ditimbuni tanah.
j. Di atas kubur boleh dipasang nisan sebagai tanda. Yang dianjurkan, nisan ini
tidak perlu ditulisi.
k. Setelah selesai mengubur, dianjurkan untuk mendoakan mayat agar
diampuni dosanya dan diteguhkan dalam menghadapi pertanyaan malaikat.
l. Dalam keadaan darurat boleh mengubur mayat lebih dari satu dalam satu
lubang kubur.
m. Mayat yang berada di tengah laut boleh dikubur di laut dengan cara
dilempar ke tengah laut setelah selesai dilakukan perawatan sebelumnya.
n. Beberapa larangan yang perlu diperhatikan terkait dengan mengubur
jenazah di antaranya adalah:
1) Jangan membuat bangunan di atas kubur
2) Jangan mengapuri dan menulisi di atas kubur
3) Jangan menjadikan tempat shalat di atas kubur
4) Jangan duduk di atas kubur dan jangan berjalan di sela-sela kubur
dengan memakai alas kaki
5) Jangan menyembelih binatang di sisi kubur
6) Jangan melakukan perbuatan-perbuatan di sekitar kubur yang
22
didasari oleh sisa kepercayaan-kepercayaan lama yang tidak ada
kebenarannya dalam Islam6

Cara mengkubur jenazah.

KESIMPULAN

Dari uraian materi di atas dapat disimpulkan, bahwasanya manusia sebagai makhluk
yang mulia disis Allah Swt dan untuk menghormati kemuliaannya itu perlu mendapat
perhatian khsusus dalam hal penyelenggaraan jenazahnya. Di mana penyelenggaraan jenazah
hukumnya adalah fardhu kifayah, artinya kewajiban ini dibebankan kepada seluruh
mukallafdi tempat itu, tetapi jika telah dilakukan oleh sebagian orang maka gugurlah
kewajiban seluruh mukallaf.

Adapu hikmah yang dapat diambil dari tata cara pengurusan jenazah diantaranya
ialah, memperoleh pahala yang besar. Menunjukkan solidaritas yang tinggi diantara sesame
muslim. Membantu meringankan beban keluarga jenazah, dan sebagai ungkapan
belasungkawa atas musibah yang dideritanya. Mengingatkan dan menyadarkan manusia
bahwa setiap manusia akan mati. Sebagai bukti bahwa manusia adalah makhluk yang paling
mulia, sehingga apabila salah seorang manusia meninggal dihormati dan diurus sebaik-
baiknya menurut atura Allah Swt dan Rasul-Nya.

6
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-bani, Tata cara mengurus jenazah lengkap, Qisthi press.
(Jakarta:2015) hlm. 4-10

23
DAFTAR PUSTAKA

El Kayshi,Ahmad Fathoni.2009. Panduan praktis shalat jenazah dan perawatan


jenazah.Medpress digit

Muhammad Ali, Maulana. 2016. Kitab Hadis Pegangan. Jakarta:Darul Kutubi


Islamiyah
Nashiruddin Al-bani,Muhammad. 2015. Tata cara mengurus jenazah lengkap,
Jakarta: Qisthi press.
sholikhin, Muhammad. 2009. panduan lengkap perawatan jenazah.
Yogyakarta:Mutimedia

Sumaryoto, Sri. Tuntunan Menjenguk Orang Sakit Meliputi Jenaza dan Surat Yasin
Sudarto. 2018. Ilmu Fikih. Yogyakart:Depublish

24