Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

“Bahan Tambalan Amalgam”


MATA KULIAH
Bahan kedokteran Gigi (Dental material)

DISUSUN OLEH :
Nama : Dessy fitriyanti Tuharea
Nim : 7112402109005
Kelas : 1B
Dosen Pengampuh :
JEANA L. MARAMIS,SKM, M. Kes
NIP. 19690716 198802 2001

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MANADO

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul
MAKALAH AMALGAM.
Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena
itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna penyempurnaan
makalah ini.
Demikian yang dapat penulis sampaikan, kurang dan lebihnya kami mohon maaf. Atas
perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................ii
DAFTAR ISI................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.........................................................................................1
B. Tujuan ......................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN
A. AMALGAM ............................................................................................3
B. Alloy Amalgam........................................................................................4
C. Klasifikasi Alloy Amalgam......................................................................6
D. Reaksi Kimia Kimia Amalgam................................................................7
E. Tahapan Manipulasi dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi.................11
F. Macam Hg dan Higiene Hg (Biokompabilitas Hg)..................................14
G. Macam-macam Kegagalan Amalgam.....................................................14
H. Sifat Fisis, Mekanis, dn Klinis yang Penting..........................................16
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan............................................................................................19
B.     Saran......................................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Amalgam merupakan bahan yang banyak dipergunakan sebagai bahan tambalan untuk
gigi posterior di bidang kedokteran gigi (Craig, 2002).
Bahan restorasi merupakan salah satu bahan yang banyak dipakai dibidang kedokteran
gigi. Bahan restorasi berfungsi untuk memperbaiki dan merestorasi struktur gigi yang rusak.
Tujuan restorasi gigi tidak hanya membuang penyakit dan mencegah timbulnya kembali karies,
tetapi juga mengembalikan fungsinya Bahan-bahan restorasi gigi yang ideal pada saat ini masih
belum ada meskipun berkembang pesat. Untuk dapat diterima secara klinis, kita harus
mengetahui sifat-sifat bahan yang akan kita pakai sehingga jika bahan-bahan baru keluar di
pasaran, kita dapat segera mengenali kebaikan dan keburukan dibanding dengan bahan yang
lama. Dua sifat yang sangat penting yang harus dimiliki oleh bahan restorasi adalah harus mudah
digunakan dan tahan lama (Craig, 2002).
Dental Amalgam merupakan bahan ini semakin berkembang material yang digunakan
dalam restorasi gigi. Amalgam telah digunakan sebagai bahan tambalan bagi lesi karies sejak
abad ke-15 dan sampai ini amalgam yang Dewasa paling banyak digunakan oleh dokter gigi,
khususnya untuk tumpatan gigi posterior. Sejak pergantian abad ini, formulasinya tidak banyak
berubah, yang mencerminkan bahwa bahan tambalan lain tidak ada yang seideal amalgam.
Komponen utama amalgam terdiri dari liquid yaitu logam merkuri dan bubuk / powder yaitu
logam paduan yang kandungan utamanya terdiri dari perak, timah, dan tembaga (Craig, 2002).
Selain itu juga terkandung logam-logam lain dengan persentase yang lebih kecil. Kedua
komponen tersebut direaksikan membentuk tambalan amalgam yang akan mengeras, dengan warna
logam yang kontras dengan warna gigi. Namun, tidak jarang terjadi kesalahan dalam melakukan
restorasi amalgam yang menyebabkan lepas dan pecahnya tumpatan amalgam pada gigi posterior. Hal
ini menjadi masalah bagi dunia kedokteran gigi karena kesalahan bisa terjadi baik dari dokter maupun
dari bahan amalgam tersebut dan berakibat pada lepas dan pecahnya tumpatan amalgam. Penulisan
makalah ini akan membahas mengenai logam yang dipakai di bidang kedoteran gigi terutama alloy
amalgam (Koudi, 2007).
B. Tujuan
1.      Untuk memahami cara melakukan preparasi kavitas pada amalgam dengan tepat
2.      Untuk memahami cara manipulasi dan pengaplikasian amalgam pada kavitas
BAB I1
PEMBAHASAN

A. AMALGAM
1.      Definisi dan Indikasi
Amalgam kedokteran gigi (dental amalgam) dibuat dengan cara mencampurkan merkuri
cair dengan zat-zat padat yang merupakan perpaduan dari perak, timah, tembaha, dan kadang
seng, paladium, indium, dan selenium. Kombinasi dari logam padat tersebut disebut dengan
amalgam alloy. Sangat oenting untuk dapat membedakan antara amalgam kedokteran gigi dan
amalgam alloy (Restorative Dental Materials).
Amalgam kedokteran gigi merupakan alloy yang terdiri dari merkuri, perak, tembaga, dan
timah,dan mungkin juga bisa mengandung palladium, zinc, dan elemen-elemen lain untuk
meningkatkan karakteristik dan kinerja klinis amalgam itu sendiri. (Phillips’ Science of Dental
Materials)
Indikasi utama bahan restorasi amalgam adalah sebagai bahan tambal posterior. Restorasi
dental amalgam ini sangat baik karena secara teknik tidak sensitif, dapat mempertahankan
bentuk anatomi dari gigi, tidak mudah fraktur, dan tahan lama.
Bahan tambal amalgam dipergunakan sejak awal abad 19 dibuat dari campuran koin
perak spanyol/meksiko degan air raksa. Standardisasi amalgam merupakan standardisasi pertama
yang dibuat American Dental Association (ADA) tahun 1919, sehingga disebut ADA
Spefications No.1.

2.      Komposisi dan Fungsi Masing-Masing Komponen


Perak (Ag) 67-74%
a.       Elemen utama dalam reaksi
b.      Menaikkan setting expansion
c.       Menaikkan tarnish resistance dalam memproduksi amalgam
d.      Memperputih alloy
e.       Menaikkan strength
f.        menurunkan creep
Timah (Sn) 25-28%
a.       Mengontrol reaksi antara silver&mercury
b.      Mengurangi strength & hardness
c.       Mengurangi resistance terhadap tarnish & korosi
Tembaga (Cu) 0-6%
a.       Menaikkan hardness & strength
b.      Menaikkan setting expansion
Seng (Zn) 0-2%
a.       Dalam jumlah kecil, tidak memengaruhi setting reaction & sifat amalgam
b.      Zinc menyebabkan tertundanya ekspansi jika campuran amalgam terkontaminasi oleh uap
lembab selama manipulasi
c.       Mencegah masuknya O2 ketika terjadi fusi logam paduan
Air raksa (Hg) 0-3%
Kadang-kadang ditambahkan untuk menciptakan kondisi pre-amalgamisasi pada logam
paduan.
B. Alloy Amalgam
Amalgam adalah materi yang mengandung merkuri didalamnya. Karena merkuri berbentuk
cair pada suhu ruangan, merkuri dapat dicampur dengan bahan metal padat. Amalgamasi adalah
suatu proses pencampuran merkuri ( Hg ) dengan bahan bubuk campuran khusus dengan suatu
alat yang disebut amalgamator. Proses ini berlanjut dengan penekanan segmen segmen campuran
tersebut ke dinding gigi yang telah dipreparasi, dan pita matriks apabila diperlukan. Reaksi
pengerasan akan berlanjut sampai beberapa hari namun amalgam akan cukup keras menahan
dampak dari kegiatan mengunyah atau gigitan dalam satu jam.
Cara Pembuatan
Untuk membuat bubuk campuran “lathe cut” batangan bahan campuran dimasukan ke dalam
mesin penggilingan. Potongan hasil dari proses penggilingan tersebut berbentuk seperti jarum.
Beberapa perusahaan produsen bubuk campuran ini memperkecil bubuk potongan dengan “ball
milling”.
a.       Homogenizing anneal
Karena proses pendinginan yang cepat dari fase “as-cast” batang timah-perak mengandung
butir yang nonhomogenik dengan komposisi yang bervariasi. Proses pemanasan dilakukan untuk
membangun kembali hubungan fase equilibrium. Batang ditempatkan kedalam oven dan
dipanaskan untuk memungkinkan terjadinya difusi atom dan fase untuk mencapai equilibrium.
Waktu pemanasan bervariasi bergantung pada temperature oven yang digunakan dan besarnya
batangan. Pada akhir dari proses pemanasan batangan didinginkan pada temperature suhu ruang.
Cara batangan didinginkan mempengaruhi proporsi fase yang timbul setelah didinginkan.

b.      Perlakuan terhadap partikel


Setelah batangan digilign menjadi butiran butiran beberapa produsen melakukan memproses
permukaan dari partikel dengan merendamnya didalam asam. Proses ini tidak secara penuh
dimengerti tujuannya, diduga proses ini brtujuan untuk meleburkan komponen tertentu dari
bubuk campuran. Amalgam yang terbuat dari bubuk yang telah direndam asam akan bersifat
lebih reaktif dibandingkan dengan amalgam yang tidak direndam dengan asam.
c.       Bubuk yang di Atomisasi.
Bubuk yang diatomisasi dibuat dengan mencairkan bahan bahan yang didinginkan bersama-
sama. Logam cair ini dapat diatomisasi menjadi potongan potongan yang berbentuk “spherical”
atau seperti mata tombak. Butiran butiran ini dipanaskan untuk mengasarkan permukaannya dan
memperlambat reaksinya dengan merkuri. Bubuk ini juga direndam menggunakan asam.

d.      Ukuran Maximum Partikel


Ukuran maksimum dari partikel ditentukan oleh produsen. Ukuran rata rata yang digunakan pada
amalgam modern adalah 15-35 mikrometer. Hal yang paling penting berkaitan dengan bear
partikel adalal distribusi ukuran yang merata antara butiran yang besar dan kecil. Karena ukuran
ukuran partikel tersebut mempunyai fungsi yang mempengaruhi kualitas amalgam. Ukuran
partikel yang umumnya digunakan pada kedokteran gigi saat ini adalah partikel berukuran kecil-
sedang. Ukuran partikel seperti ini cenderung menghasilkan amalgam yang cepat mengeras
dengan kekuatan yang lebih baik pada masa pengerasan awal.
e.       Perbandingan bubuk yang diproduksi dengan cara penggilingan dan atomisasi
Amalgam yang dibentuk dari bubuk yang diproduksi dengan cara penggilingan dan amlgam
yang dibentuk dari campuran bubuk tersebut dengan bbuk yang diproduksi dengan cara
atomisasi cenderung lebih baik menahan kondensasi dibandingkan dengan amalgam yang
seluruhnya dibuat dari bubuk yang di atomisasi. Namun bubuk yang dibuat denan car atomisasi
memerlukan lebih sedikit merkuri karena ia memiliki luas permukaan yang lebih sedikit
disbanding bubuk yang dibuat dengan cara digiling. Amalgam yang dibuat dengan sedikit
merkuri bniasanya memilikiproperti yang lebih baik.

C. Klasifikasi Alloy Amalgam


Berdasarkan kandungan komponen alloy, amalgam dibedakan menjadi tiga, yaitu Biner,
Terner, dan Kuarterner. Biner menggunakan alloy dengan dua logam, terner menggunakan tiga
logam, dan kuarterner menggunakan alloy dengan empat logam.
Berdasarkan bentuk partikel alloy, amlgam dibedakan menjadi dua, yaitu Lathe cut dan
Spherical. Lathe cut memiliki bentuk partikel alloy tidak teratur. Batangan logam perak-timah
yang keras diletakkan di mesin giling. Hasilnya adalah serpihan-serpihan logam yang bentuknya
seperti jarum tidak teratur. Sedangkan spherical memiliki bentuk partikel alloy bulat-bulat seperti
bola. Dibentuk berdasarkan proses anatomisasi. Alloy cair dipercikkan pada temperatur ruangan
dengan gas inert. Jika droplet mengeras sebelum mengenai permukaan, maka bentuk partikel
spherical pun terbentuk.

D. Reaksi Kimia Amalgam


Reaksi amalgamasi (reaksi permukaan):

Hg + Ag3Sn è Ag3Sn + Ag2Hg3 + Sn7 .8Hg


γ γ γ’ γ2
tidak bereaksi BCC Heksagonal
Ketika bubuk dibasahi oleh Hg maka terjadi absorbsi, difusi Hg dalam partikal alloy
terbentuk fase γ’ dan γ2 yang terjadi pada daerah permukaan. Kristalisasi fase γ’ dan γ2 maka
pertumbuhannya bertambah dan amalgam mengeras.

Peranan unsur amalgam terhadap reaksi pengerasan dan struktur amalgam:


1.             Alloy konvensional
Ag dan Sn è Ag3Sn (fase ikatan intermetalik)
Mengandung : Ag 73 %, 15 % Sn sisanya
Ag : Ketahanan terhadap tranish, mempermudah amalgam
Sn : Mempermudah amalgamasi è bila berlebihan è kontraksi amalgam, menurunkan kekuatan dan
kekerasan
Cu : Kekuatan dan kekerasan dalam jumlah sedikit è menggantikan Ag
Zn : Oxygen è pemkan O2
2.             Mekanisme pengerasan
Selama dan sesudah pengadukan, fase γ larut dalam Hg.
Struktur massa mengeras terdiri dari:
-  inti γ yang tidak bereasi
-  matrik terdiri dari γ2 dan γ’
Proses tersebut membentuk jaringan yang kontinu setelah mengras, rekasi selanjutnya adalah
terjadinya dengan proses difusi.
3.             High cooper Alloy
Telah mengeras dan benar” bebas dari komponen γ2
Kombinasi alloy è reaksi campuran Ag3Sn (lathe cut) dan AgCu (buat) dengan Hg terjadi 2
tahap:
-      Seperti reaksi pada alloy konvesional. AgCu tidak ambil bagian Zn
-      Reaksi antara γ2 & AgCu (buat) è pembentukan gabungan CuSn dan γ’ besar
Sn7.8Hg (γ2 ) + AgCu è Cu6Sn5 + Ag2Hg3 (γ’)
Cu6Sn5 berada mengelilingi partikel AgCu
Pada pengerasan akhir:
Ag3Sn & AgCu (inti) dikelilingi Cu6Sn5 & γ’ (matrik)
Pada alloy dengan komposisi tunggal Cu6Sn5 berada dalam γ’ (tidak mengelilingi)
10% Au menggantikan sedikit Ag pada Alloy amalgam è amalgam bebas fase γ2
Jika fase γ2 tidak ada maka, maka:
-  Tidak ada korosi
-  Kekuatan meningkat
-  Sifat alir / creep menurun
-  Kekuatan pinggiran amalgam pada restorasi bertambah

1.1 Setting Reaction (Reaksi Pengerasan)\


a.             Pada logam berkandungan tembaga rendah, amalgamasi terjasi ketika raksa berkontak dengan
permukaan logam paduan
b.             Triturasi menyebabkan perak dan timah di bagian luar logam paduan larut dalam raksa
c.             Raksa berdifusi ke dalam paduan logam
d.             Raksa memiliki daya larut terbatas untuk perak dan timah, bila batas daya larut terlampaui,
kristal” dari 2 senyawa logam biner akan berpresipitasi dalam raksa
e.             Kedua senyawa itu (Ag2Hg3 è fase γ’ dan Sn7 .8Hg heksagonal è fase γ2 ) tersusun rapat
f.              Karena kelarutan perak dalam raksa lebih rendah daripada timah, maka fase γ1 akan
berpresipitasi terlebih dahulu daripada γ2
g.             Kristal γ2 dan γ’ akan bertumbuhan sehingga amalgam menjadi keras
h.             Kontraksi selanjutnya diabsorbsi Hg oleh sisa partikel amalgam
i.               Tidak ada Hg yang bebas saat final setting pada amalgam
Perubahan dimensi amalgam selama pengerasan:
-               Total perubahan dimensi setelah 24 jam hasilnya berkurang 20 mm (± 0.20 %)
-               Klinis è loss anatomi, postoperative pain (karena ekspansi), microleakage (karena kontraksi)
-               Proses pengerasan: kombinasi dari larutan dan kristalisasi (presipitasi)
-               Iritasi kontraksi dari absorb hg (difusi) oleh partikel alloy amalgam
-               Ekspansi berhubungan dengan pembentukan dan pertumbuhan γ1, γ2 dan fase cusn (matrik)
-               Kontraksi selanjutnya dari absorbsi hg oleh sisa pertikel alloy amalgam
-               Hg organometalik yang mengeras mengakibatkan bahaya dari uapnya

1.2 Delayed Expantion


Ekspansi tertunda terkait dengan seng dalam amalgam. Efeknya disebabkan
oleh reaksi seng dengan air dan yang tidak ada dalam amalgam nonzinc. Hal ini sudah jelas
didemonstrasikan bahwa zat pencemar adalah air. Hidrogen diproduksi oleh aksi
elektrolitik yang melibatkan seng dan air. Hidrogen tidak bergabung dengan amalgam,
melainkan berkumpul dalam restorasi, meningkatkan tekanan internal ke tingkat yang cukup
tinggi untuk menyebabkan amalgam creep, sehingga menghasilkan perluasan yang sedang
diamati. Kontaminasi amalgam dapat terjadi pada hampir setiap saat selama
manipulasi dan dimasukkan ke dalam rongga. Jika daerah operasi tidak  kering, amalgam dapat
menjadi terkontaminasi oleh uap air dari jarum suntik udara-air, dari kontak langsung
dengan tangan, atau dengan air liur selama kondensasi. Singkatnya, setiap
kontaminasi dari seng yang mengandung amalgam dengan kelembaban, apa pun sumbernya,
menyebabkan ekspansi tertunda. Perlu dicatat bahwa kontaminasi pasti terjadi selama triturasi atau
kondensasi. Setelah amalgam mengental, permukaan eksternal mungkin berkontak dengan air
liur tanpa terjadinya ekspansi tertunda.

1.3 Korosi
Korosi adalah penurunan kualitas permukaan / subsurface restorasi karena reaksi
kimia/elektrokimia. Fase g2 mudah mengalami korosi. Restorasi amalgam jika kontak dengan
restorasi emas akan menyebabkan amalgam korosi dan Hg akan masuk kedalam restorasi emas.
Daya tahan terhadap korosi akan meningkat bila amalgam dipoles benar-benar mengkilap,
hindari kontak dengan tambalan emas,karena akan terjadi korosi akibat akumulasi air raksa pada
restorasi emas.
Bila g2 mengalami korosi, akan terbentuk 2 produk :
1. Terbentuk ion Sn2+ dengan adanya saliva ® didapat produk korosi SnO2 & Sn(OH)2Cl
2. Terbentuk Hg ® dapat bereaksi dengan sisa Ag yang sebelumnya tidak bereaksi.
Korosi pada amalgam High Copper
-               Tidak terdapat fase g2
-               Yang paling rentan terhadap korosi adalah Cu6Sn5
-               Volume korosi lebih kecil dari amalgam konvensional
-               Tidak terbentuk Hg sebagai hasil korosi
Korosi aktif dari bahan tambal amalgam yang baru diaplikasikan biasanya terjadi pada
bagian tambalan yang bersinggungan dengan gigi. Produk korosi yang paling umum ditemukan
adalah oksida dan klorid dari timah. Korosi dapat pula disebabkan oleh perbedaan sifat
elektromagnetik antara 2 logam yang dijadikan tambalan, misalnya pada tambalan amalgam
yang bersinggungan dengan tambalan emas. Ini disebabkan karena terbentuknya listrik galvanis.

E. Tahapan Manipulasi dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi


1.1 Tahapan Manipulasi
1.                   Tirturasi
Proses pembuatan bahan tambal amalgam dimulai dengan tirturasi, yaitu mencampur
logam paduan dan air raksa yang dilakukan oleh dokter gigi atau perawat gigi. Setelah dicampur
akan didapat massa plastis yang mirip dengan kondisi logam antara temperatur cair dan padat.
Pencampuran logam paduan dan air raksa dapat dilakukan secara manual menggunakan lumping
alu atau dengan mesin yang disebut amalgator. Lumpang alu terbuat dari gelas, bagian dalam
lumping dan ujung alu dibuat kasar dengan cara menggosoknya menggunakan pasta
karborundum. Cara ini jarang digunakan lagi sejak adanya amalgator yang bekerja dengan cara
menggetarkan logam paduan dengan air raksa di dalam suatu kapsul yang berisi logam atau
plastik yang berbentuk silinder.
Sbeleum tirturasi, terlebih dahulu dilakukan pengukuran terhadap kedua bahan yang akan
dicampur tersebut. Pengukuran logam paduan dilakukan dengan penimbangan, sementara untuk
pengukuran air raksa selain dengan penimbangan juga dilakukan dengan menggunakan takaran
volume yang merupakan mulut dari dispenser/botol penyimpanan air raksa.
2.                   Kondensasi
Kondensasi adalah proses memasukkan amalgam ke dalam kavitas gigi yang telah
dipreparasi menggunakan stopper amalgam atau pistol amalgamsehingga tercapai kepadatan
maksimal dari amalgam. Pada saat kondensasi dilakukan penekanan untuk memadatkan
amalgam, besarnya tekanan yang ideal adalah 66,7 N tetapi penelitian menunjukkan rata-rata
besarnya tekanan yang dibuat oleh tangan operator rata-rata 13,3-17,8 N.
3.                   Pengukiran
Setelah kavitas terisi penuh, dilakukan pembentukan dan pengukiran dengan burnisher
sampai mendekati bentuk anatomi gigi ideal
4.                   Reaksi Pengerasan
Pada amalagam berkandungan tembaga rendah, amalagamisasi terjadi ketika air raksa
berkontak dengan permukaan logam paduan. Proses tirturasi menyebabkan perak dan timah di
bagian luar logam paduan larut dalam air raksa, dan pada saat yang bersamaan air raksa berdifusi
ke dalam paduan logam.
5.                   Pemolesan
Pemolesan dilakukan setelah 24 jam, untuk amalgam dengan Cu tinggi diperlukan waktu lebih
singkat lagi. Tujuan pemolesan adalah:
a)                   Mencegah menyangkutnya sisa makan
b)                   Mencegah infeksi gusi dan lidah
c)                   Untuk estetika
d)                   Mencegah tarnish dan korosi
Pemolesan dilakukan dengan menggunakan batu poles dan karet poles yang umumnya terdiri
dari dua macam yaitu yang berwarna merah dan hijau. Batu digunakan untuk memoles bagian
yang kasar, karet merah untuk memoles bagian yang halus, dan karet hijau untuk mengkilapkan

1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi


1.                   Toksisitas
Bagian berbahaya dari amalgam adalah air raksanya. Unsur ini akan mengalami proses
pelepasan atau penguapan pada saat tirturasi, kondensasi, dan pemolesan. Air raksa dalam
bentuk uap ini yang memiliki sifat yang sangat toksik.
2.                   Kekuatan
Kekuatan merupakan salah satu karakteristik penting yang harus dimiliki bahan tambal,
termasuk amalgam. Apabila bahan tambal kurang kuat akan mudah sekali utuk patah, terutama
di daerah tepi. Patahan ini akan mempercepat terjadinya korosi, karies sekunder, serta kegagalan
klinis yang lebih berat.
3.                   Daya alir atau creep
Menurut ADAS no.1 untuk bahan tambal amalgam dipersyaratkan mempunyai daya alir
dibawah 3%. Tingkatan daya alir menurut penelitian terbukti berhubungan dengan kerusakan
tepi amalgam, yaitu makin tinggi daya alir makin besar tingkat kerusakan tepinya.
4.                   Perubahan Dimensi
Idealnya amalgam tidak mengalami perubahan dimensi sama sekali, namun sayangnya
hal ini terjadi pada amalgam baik yang terlihat secara visual maupun yang berlangsug secara
mikroskopis. Secara visual perubahan dimensi dapat menyebabkan gagalnya tambalan amalgam
karena karies ekunder, patahnya tepi tambalan, atau pecahnya tambalan. Di tingkat mikroskopis,

perubahan dimensi menyebabkan korosi, tarnish, perubahan serta tekanan yang


berkaitan dengan daya kunyah.
5.                   Perambatan panas
Sebagai bahan logam, amalgam memiliki sifat yang baik sebagai penghantar panas. Pada
kondisi ekstrim sifat ini dapat mengganggu pulpa pada gigi bertambalan amalgam. Penggunaan
semen dasar adalah salah satu cara agar ada isolator yang mencegah perambatan panas dari
tambalan amalgam sampai ke pulpa.

F. Macam Hg dan Higiene Hg (Biokompabilitas Hg)


Biokompatibilitas menjadi salah satu factor pertimbangan dalam pemilihan material
bahan kedokteran gigi karena bahan-bahan tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap pasien
tetapi juga berpengaruh terhadap dokter gigi itu sendiri. Air raksa atau merkuri dipakai sebagai
bahan campuran tumpatan gigi geligi terutama gigi posterior yaitu amalgam. Amalgam masih
banyak dipergunakan, baik di dalam maupun diluar negri karena kelebihannya jika dibandingkan
dengan bahan tumpatan lain seperti : kekuatan menahan daya kunyah, ekonomis, masa
kadaluarsa yang panjang, dan teknik manipulasi yang mudah.
Namun, ada juga anggapan yang mengatakan bahwa amalgam berbahaya bagi kesehatan tubuh
pasien yang dibuktikan dengan berbagai kasus keracunan di Minamata. Merkuri dalam keadaan bebas
sangat berbahaya bagi kesehatan karena dapat meracuni tubuh oleh karena itu merkuri di dalam
amalgam di anggap berbahaya. Bahaya merkuri tidak hanya mengancam kesehatan pasien tetapi juga
dokter gigi itu sendiri, uap merkuri yang terhirup pada saat mengaduk amalgam dapat
menimbulkan efek toksik kumulati f. Tentu saja, amalgampada saat mengaduk  amalgam
dapat menimbulkan efek toksik kumulatif. Tentu saja, amalgam sebagai material yang
mengandung merkuri ti dak lepas dari kemungkinan untuk menimbulkan efek – efek negatif pada
pasien maupun dokter gigi.

G. Macam-macam Kegagalan Amalgam


Bentuk kegagalan tambalan amalgam diantaranya adalah karies sekunder, pecahnya tepi
tambalan, tarnish, serta kebocoran tepi. Kebocoran tepi adalah kegagalan yang paling sering
terjadi.
1.      Kebocoran Tepi
Kebocoran tepi pada tambalan amalgam dapat terdeteksi dengan adanya parit diantara
tambalan dengan dinding kavitas yang dapat berlanjut dengan pembentukan karies sekunder.
Pembentukan karies sekunder akan semakin cepat bila kebersihan mulut pasien tidak baik.
Penyebab pertama kebocoran tepi adalah karena bentuk preparasi yang kurang baik, ada email
yang dibiarkan menggantung tanpa tanpa dukungan di daerah tepi kavitas. Penyebab kedua
adalah kelebihan air raksa, sedangkan penyebab terakhir adaah keroposnya tambalan amalgam.
Kebocoran awal pada bagian marginal atau tepi suatu restorasi berbanding terbalik
dengan waktu; hal ini disebabkan karena terjadinya penyumbatan mikrofissure oleh hancuran
bahan korosi

2.      Tarnish dan Korosi


Terbetuknya tarnish dan korosi, oleh sebagian peneliti dianggap sebagai pengaruh
lingkungan rongga mulut. Amalgam konvensional yang telah mengeras susunan heterogennya
mengundang korosi. Korosi pada amalgam konvensional menurunkan sifat mekanik 30%. Korosi
aktif dari bahan tambal amalgam yang baru diaplikasikan biasanya terjadi pada bagian tambalan
yang bersinggungan dengan gigi. Produk korosi yang paling umum ditemukan pada amalgam
adalah oksida dan klorid dari timah, pada amalgam yang banyak mengandung tembaga produk
korosinya dalam bentuk tembaga.
Korosi dapat pula disebabkan oleh perbedaan sifat eektromagnetik antara 2 logam yang
dijadikan tambalan, misalnya pada tambalan amalgam yang bersinggungan dengan tambalan
emas. Ini disebabkan karena terbantuknya listrik galvanis.
Daya tahan terhadap korosi akan meningkat bila amalgam dipoles benar-benar mengkilap
hindari kontak degan tambalan emas, terjadi korosi akibat air raksa pada restorasi emas.
Korosi pada amalgam konvensional : bahan yang telah set adalah heterogen sehingga
dapat mengundang terjadinya korosi. Dari ketiga fase yang ada, fase γ2 adalah yang paling aktif
secara elektrokimia dan bertindak sebagai anodik terhadap fase γ dan γ1. Begitu γ2 mengalami
korosi, terbentuk dua produk sebagai berikut :
1.      Terbentuk ion Sn 2+ : dengan adanya saliva ditemui produk korosi seperti SnO2 dan Sn(OH)5Cl
2.      Terbentuh Hg yang dapat bereaksi dengan sisa fase γ yang sebelumnya bereaksi.
Daya tahan terhadap korosi meningkat apabila amalgam dipoles. Pemolesan menghilangkan
lubang-lubang kecil dan menghaluskan permukaan yang kasar yang membantu konsentrasi sel korosi.
Bila amalgam berkontak dengan suatu restorasi yang terbuat dari emas, dapat terbentuk suatu sel
elektrolit yang cenderung mendorong terjadinya korosi bahan amalgam dan penumpukan mercury pada
restorasi emas. Korosi yang terjadi pada amalgam konvensional dalam jangka lama dapat berpengaruh
terhadap sifat-sifat mekanisnya.

H. Sifat Fisis, Mekanis, dn Klinis yang Penting


1.1 Perubahan Dimensi
Amalgam dapat berkembang atau menyusut tergantung pada cara manipulasinya.
Idealnya, perubahan dimensi pada amalgam seharusnya kecil sekali atau tidak sama sekali.
Perubahan dimensi amalgam tergantung pada seberapa banyak amalgam yang tertekan selama
pengerasan dan waktu pengukuran dimulai.
ANSI/ADA Specification no. 1 menyebutkan bahwa amalgam tidak akan berkontraksi
dan berekspansi melebihi 20mm/cm, diukur pada suhu 37oC, antara 5 menit sampai 24 jam
setelah dimulainya triturasi, dengan alat-alat yang akurat sampai 0.5mm.
Secara visual, perubahan dimensi menyebabkan gagalnya tambalan amalgam karena
karies sekunder, patahnya tepi tambalan, atau pecahnya tambalan. Di tingkat struktur mikro,
perubahan dimensi yang terjadi adalah korosi, tarnish, perubahan γ1 menjadi β1 serta tekanan
yang berhubungan dengan daya kunyah.
1.2 Termal Ekspansi dan Termal Kontraksi
Salah satu bentuk perubahan dimensi yang sering terjadi adalah ekspansi. Ada beberapa
penyebab terjadinya ekspansi berlebih pada amalgam, yaitu rasio alloy / Hg yang tinggi, partikel
alloy yang besar, waktu tirturasi yang kurang / singkat, tekanan kondensasi yang dilakukan tidak
memadai, serta terkontaminasinya amalgam yang mengandung seng oleh kelembaban selama
proses tirturasi dan kondensasi. Kontaminasi H2O pada amalgam yang mengandung Zn (sebelum
mengeras) akan menyebabkan reaksi elektrolitik.
Ekspansi terjadi setelah hari ke-4 atau ke-5 setelah penambalan, bila sebelum hari itu
pasien mengeluh sakit pada gigi yang ditambalnya bisa dipastikan bukan akibat ekspansi. Pada
saat ekspansi terjadi, tambalan akan menekan dinding kavitas yang menjalar ke kamar pulpa
sehingga menimbulkan rasa sakit pada pasien. Bila dibiarkan, tambalan akan tampak menonjol
keluar dari kavitas, yang akan menyebabkan gigi sensitif setelah penumpatan.
Kontraksi akan menyebabkan terjadinya celah antara tumpatan dengan dinding kavitas.
Hal ini dapat menyebabkan kebocoran mikro dan karies sekunder.
1.3 Strength
Sangat dibutuhkan nilai strength yang tinggi bagi amalgam karena sering dipakai untuk
merestorasi gigi posterior Strength merupakan salah satu keraktersitik penting yang harus
dimiliki bahan tambal, termasuk amalgam. Bila bahan tambal kurang kuat akan mudah sekali
untuk patah terutama di daerah tepi dan mempercepat terjadinya korosi, karies sekunder, serta
kegagalan klinis yang lebih berat.
Tembaga merupakan salah satu unsur yang dapat memperkuat amalgam, amalgam
dengan kandungan tembaga yang tinggi akan lebih kuat dibandingkan dengan yang kandungan
tembaganya kecil.
1.4 Creep
Menurut ADAS No.1 untuk bahan amalgam dipersyaratkan mempunyai daya alir
dibawah 3%. Tingkatan daya alir menurut penelitian terbukti berhubungan dengan kerusakan
tepi amalgam, yaitu makin tinggi daya alir makin besar derajat kerusakan tepi.
Meskipun demikian untuk amalgam berkandungan tembaga tinggi, daya alir tidak bisa
dijadikan patokan dalam menentukan perkiraan terjadinya kerusakan tepi karena kebanyakan
amalgam jenis ini memiliki daya alir dibawah 0.4% atau lebih rendah. Sementara amalgam
dengan kandungan tembaga rendah daya alirnya berkisar antara 0.8-8%.
1.5 Brittleness
Dikarenakan amalgam sering digunakan untuk merestorasi bagian posterior maka
dipastikan bahwa amalgam ini akan sering mendapatan tekanan. Oleh karena itu amalgam yang
baik adalah amalgam yang mempunnyai tingkat brittleness yang rendah, atau tidak rapuh.
1.6 Hardness
Hardness dapat pula didefinisikan sbagai banyaknya energi deformasi elastik atau plastis
yang diperlukan untuk memeatahkan suatu bahan dan merupakan ukuran dari ketahanan
terhadap fraktur atau kepatahan. Oleh karena itu diperlukan hardness yang tinggi bagi amalgam
agar tidak mudah patah jika diberikan tekanan.
BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Amalgam adalah bahan restorasi dalam kedokteran gigi yang baik digunakan karena
bersifat kuat. Namun, kekuatan amalgam bergantung pada banyak faktor, seperti pemilihan
alloy, manipulasi maupun bentukan preparasi kavitas sangat berpengaruh terhadap kekuatan
amalgam.

B.     Saran
Seorang dokter gigi dalam memilih amalgam untuk digunakan dalam kedokteran gigi
harus memperhatikan indikasi maupun kontraindikasi penggunaan amalgam.
DAFTAR PUSTAKA

McCabe, John F. & Angus W.G. Walls. 2008. Applied Dental Materials. 9th edition. Oxford UK:
Blackwell Publishing Ltd.
O’Brian, William J. 2008. Dental Materials and Their Selection. 5th edition. Chicago:
Quintessence Publishing.
Craig, R. G., & Powers, J. M. (Eds.). (2002). Restorative Dental Material (7th ed.). Missouri: Mosby.
Anusavice, Keneth J. 2004. Phillips Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi. Jakarta : EGC.